BAB I PENDAHULUAN. Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Temanggung

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

United Nation Development Program (UNDP) pada tanggal 24 Juli 2014 di Tokyo Jepang untuk pertama kalinya mempublikasikan Laporan pembangunan Manusia Tahun 2014 dengan tema “Mempertahankan Kemajuan Manusia: Mengurangi Kerentanan dan Membangun Ketahanan” (The 2014 Human Development Report ‘Sustaining Human Progress: Reducing Vulnerabilities and Building Resilience’). Dalam beberapa waktu ini, dunia telah mengalami berbagai kemajuan dalam pembangunan manusia. Namun ternyata kemajuan ini terancam oleh ketidakpastian, ketidaksetaraan dan perubahan iklim. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mempertahankan kemajuan yang telah diperoleh.

UNDP merekomendasikan akses terhadap pelayanan sosial dasar terutama pendidikan dan kesehatan, perlindungan sosial yang kuat serta komitmen untuk bekerja keras sebagai upaya untuk mencapai masyarakat dunia yang kuat menghadapi guncangan.

Dalam laporan tersebut, UNDP kembali menuliskan bahwa pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia (”a process of enlarging peoples’s choices”). Artinya fokus pembangunan suatu negara adalah manusia sebagai aset negara yang sangat berharga dan merupakan tujuan akhir pembangunan itu sendiri. Pembangunan manusia merupakan perwujudan tujuan jangka panjang dari suatu masyarakat, dan meletakkan pembangunan di sekeliling manusia, bukan manusia di sekeliling pembangunan. Paradigma ini berbeda dengan pembangunan yang sekedar mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan menggunakan manusia sebagai alat pembangunan.

Semangat otonomi daerah yang digulirkan dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan telah direvisi dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 yang direvisi dengan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah memungkinkan

(2)

pencapaian hasil pembangunan antar daerah berbeda-beda. Daerah yang memiliki sumber daya fisik/alam dan sumber daya manusia yang lebih besar berpotensi untuk maju jauh lebih cepat dibandingkan dengan daerah lainnya. Namun pembangunan yang bertumpu pada sumber daya alam saja sangat jarang bisa berkembang dan tumbuh secara berkesinambungan. Pembangunan manusia atau peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting. Penekananan terhadap pentingnya peningkatan SDM dalam pembangunan menjadi suatu kebutuhan. Kualitas manusia (SDM yang tangguh) disuatu wilayah memiliki andil besar dalam menentukan keberhasilan pengelolaan pembangunan. SDM yang memiliki kemampuan, kreatifitas dan produktifitas akan menjadi agen - agen pertumbuhan yang efektif.

Perencanaan pembangunan yang baik didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, perencanaan yang sistematis dan komprehensif hanya dapat diwujudkan apabila setiap tahapan perencanaan dilengkapi dengan data yang akurat. Demikian halnya dengan perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah, akan memerlukan data statistik sebagai dasar penentuan strategi, pengambilan keputusan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Kebijakan dan strategi yang telah dilakukan perlu dimonitor dan dilihat hasilnya, sehingga data statistik tersebut sangat diperlukan. Untuk itu dibutuhkan ketersediaan data mengenai pembangunan manusia yang representatif dalam menggambarkan kondisi sosial ekonomi Kabupaten Temanggung, khususnya terkait dengan masalah pembangunan manusia. Pada masa lalu alat ukur keberhasilan pembangunan adalah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedangkan saat ini mulai digunakan alat ukur lain yang diantaranya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan salah satu indikator yang dapat mewakili keterbandingan hasil pembangunan manusia antar daerah. IPM mengukur tingkat pencapaian keseluruhan dari suatu wilayah negara/ propinsi/kabupaten/kota dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan suatu standar hidup yang layak. Ketiganya diukur dengan angka harapan hidup, pencapaian pendidikan dan pendapatan perkapita yang telah disesuaikan menjadi

(3)

paritas daya beli. (UNDP : Human Development Report 2001). UNDP menyatakan bahwa IPM adalah suatu ringkasan dan bukan suatu ukuran komprehensif dari pembangunan manusia. IPM memang dirancang untuk mengukur tingkat kemajuan sosial ekonomi. Angka IPM hanya memberi indikasi saja, tetapi dengan menghitung IPM merupakan langkah yang jauh lebih maju dari pada langkah terdahulu yang hanya terkonsentrasi pada tingkat pendapatan saja.

Oleh karena itu penerbitan publikasi Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Temanggung dipandang perlu sebagai sumber informasi penyusunan perencanaan yang terkait dengan pembangunan manusia di Kabupaten Temanggung. Selain itu, dengan adanya publikasi ini diharapkan Pemerintah maupun masyarakat luas dapat melakukan monitoring dan evaluasi atas pembangunan yang telah dilakukan, sekaligus dapat mengidentifikasi kebutuhan daerah bagi pembangunan di masa yang akan datang.

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan publikasi “Analisis Situsasi Pembangunan Manusia Kabupaten Temanggung Tahun 2014 ” secara umum adalah untuk mendeskripsikan perkembangan pembangunan manusia hingga tahun 2013. Publikasi ini memberikan gambaran capaian pembangunan manusia di Kabupaten Temanggung dan perubahan-perubahan komponen penting penghitungan IPM. Sedangkan tujuan secara khusus adalah :

1. Menggambarkan situasi pembangunan manusia khususnya pada bidang kependudukan, pendidikan, kesehatan dan ekonomi di Kabupaten Temanggung selama tahun 2009 - 2013

2. Mengamati perkembangan IPM Kabupaten Temanggung dan masing-masing komponen IPM selama tahun 2009 – 2013

3. Mengetahui posisi relatif capaian percepatan pembangunan manusia Kabupaten Temanggung terhadap capaian IPM Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/Kota sekitarnya dengan menggunakan indikator IPM

(4)

1.3. Sumber Data

Data yang digunakan dalam analisis ini bersumber dari :

1. Data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan oleh BPS setiap tahun.

2. Data Hasil Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) yang diselenggarakan setiap tahun

3. Data publikasi BPS yang berasal dari hasil survei-survei lainnya.

4. Data sekunder yang berasal dari instansi/dinas/lembaga lain yang diperlukan.

1.4. Sistematika Penulisan

Publikasi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Menyajikan tentang pendahuluan yaitu meliputi latar belakang penulisan analisis pembangunan manusia Kabupaten Temanggung, tujuan penulisan, sumber data yang digunakan, serta sistematika penulisan

Bab II Menyajikan tentang metodologi meliputi konsep tentang pembangunan manusia dan metode penghitungan IPM.

Bab III Menyajikan analisis dan pembahasan yang meliputi perkembangan pembangunan di Kabupaten Temanggung dalam beberapa dimensi, perkembangan Indeks Pembangunan Kabupaten Temanggung, IPM dan pertumbuhan ekonomi serta IPM dan kemiskinan.

(5)

BAB II METODOLOGI

2.1. Konsep Pembangunan Manusia

Pembangunan adalah suatu proses yang didalamnya anggota masyarakat bisa meningkatkan kemampuan pribadi dan kelembagaan mereka, untuk mengerahkan dan mengelola sumber-sumber yang tersedia, demi menciptakan perbaikan-perbaikan mutu kehidupan mereka secara berkesinambungan dan adil, sesuai dengan aspirasi-aspirasi mereka sendiri.

David Korten menekankan bahwa pembangunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, pembangunan juga merupakan tanggung jawab individu, anggota masyarakat dan juga lembaga-lembaga yang ada. Ditekankan pula bahwa pembangunan bukanlah soal pertumbuhan atau peningkatan hasil, melainkan transformasi yang merujuk pada keadilan, kesinambungan, dan inklusifitas sebagai kebutuhan pokok bagi masyakat global.1

Konsep pembangunan dengan pendekatan konvensional lebih menekankan pertumbuhan ekonomi dan pembentukan modal. Model pertumbuhan ekonomi lebih menekankan pada pentingnya PDRB daripada memperbaiki kualitas hidup manusia. Pembangunan sumber daya manusia cenderung untuk memperlakukan manusia sebagai input bagi proses produksi sebagai alat, bukannya sebagai tujuan akhir. Pendekatan kesejahteraan melihat manusia sebagai penerima dan bukan sebagai agen dari perubahan dalam proses pembangunan. Adapun pendekatan kebutuhan dasar terfokus pada penyediaan barang-barang dan jasa-jasa untuk kelompok masyarakat tertinggal, bukannya memperluas pilihan yang dimiliki manusia disegala bidang.

Paradigma pembangunan menempatkan manusia (penduduk) sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumber daya (pendapatan untuk mencapai hidup layak), peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi

1

(6)

dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi). Paradigma pembangunan manusia mengandung empat komponen utama:

1. Produktifitas

Manusia harus berkemampuan untuk meningkatkan produktifitasnya dan berpartisipasi penuh dalam proses mencari penghasilan dan lapangan kerja. Oleh karenanya, pertumbuhan ekonomi merupakan bagian dari model pembangunan manusia.

2. Pemerataan

Setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapuskan sehingga semua orang dapat berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dari peluang yang tersedia.

3. Keberlanjutan

Akses terhadap peluang/kesempatan harus tersedia bukan hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Semua bentuk sumber daya fisik harus dapat diperbaharui.

4. Pemberdayaan

Pembangunan harus dilakukan oleh semua orang, bukannya semata-mata (dilakukan) untuk semua orang. Semua orang harus berpartisipasi penuh dalam pengambilan keputusan dan proses yang mempengaruhi kehidupan mereka.

UNDP dalam Human Development Report yang pertama (1990) menyatakan bahwa sasaran-sasaran pokok pembangunan adalah untuk menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan rakyat menikmati kehidupan yang panjang, sehat dan kreatif. UNDP sangat menekankan arti pentingnya pembangunan yang berpusat pada manusia yang menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, dan bukan sebagai alat bagi pembangunan. Pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki manusia. Pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, untuk berilmu pengetahuan dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak. Semakin tinggi pendidikan

(7)

semakin banyak peluang-peluang yang bisa diraih. Manusia bisa menentukan pilihannya dalam sistem pasar yang berfungsi dengan baik. Pembangunan manusia juga merupakan perwujudan tujuan jangka panjang dari suatu masyarakat, dan meletakkan pembangunan di sekeliling manusia, bukan manusia di sekeliling pembangunan.

2.2. Metode Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia

Secara operasional, IPM mencakup tiga komponen dasar yang merefleksikan upaya pembangunan manusia yaitu peluang hidup (longevity), pengetahuan (knowledge) dan hidup layak (decent living).

Gambar 2.1. Komponen IPM

Sumber : BPS (2011)

Rumus penghitungan IPM sebagaimana dituliskan oleh Ahnaf, dkk (1998) adalah sebagai berikut:

IPM= 1/3 (Indeks X

1

+ Indeks X

2

+ Indeks X

3

)

Dimana :

X1 = indeks harapan hidup

(8)

X21 = rata-rata lamanya sekolah penduduk usia 15 tahun keatas X22 = angka melek huruf penduduk usia 15 tahun keatas X3 = indeks tingkat kehidupan yang layak

Penghitungan indeks dari msing-masing indikator tersebut adalah :

X(i) = indikator ke-i (i=1,2,3) X(i-min) = nilai minimum dari Xi X(I-max) = nilai maximum dari Xi

Tabel 2.1

Nilai Maksimum dan Minimum dari Setiap Komponen IPM

Komponen IPM Nilai

Maksimum

Nilai

Minimum Keterangan

(1) (2) (3) (4)

Angka Harapan Hidup (e0) 85 25 Standar UNDP

Angka Melek Huruf 100 0 Standar UNDP

Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 15 0 UNDP menggunakan

combined gross enrollment ratio

Daya beli 732.720a) 300.000b)

360.000b)

UNDP menggunakan PDB per kapita riil yang disesuaikan

Sumber : dimodifikasi dari UNFIRS (2000) Catatan

a) Proyeksi pengeluaran riil/unit/tahun untuk provinsi yang memiliki angka tertinggi (Jakarta)

pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula Atkinson. Proyeksi mengasumsikan kenaikan 6,5 persen per tahun selama kurun 1996 - 2018

b) sama dengan dua kali garis kemiskinan di provinsi yang memiliki tingkat konsumsi per kapita terendah pada tahun 1990 (daerah pedesaan di Sulawesi Selatan). Untuk 1999, nilai minumun disesuaikan menjadi Rp 360.000,00. Penyesuaian ini dulakukan karena krisis ekonomi telah menurunkan daya beli masyarakat secara drastis. Penambahan Rp 60.000 didasarkan pada perbedaan antara garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan baru yang jumlahnya Rp 5000 per bulan atau Rp 60.000 per tahun

(9)

2.2.1.

Lamanya Hidup (

Longevity

)

Kemampuan untuk bertahan hidup lebih lama diukur dengan indikator harapan hidup pada saat lahir- Life Expectancy at Birth (℮0). Variabel ℮0 mencerminkan lama hidup dan hidup sehat. Angka ℮0 merupakan hasil estimasi dari olahan hasil Sensus Penduduk, Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) dan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Variabel yang digunakan untuk menghitunga angka harapan hidup adalah rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak masih hidup yang dicatat dari tiap wanita pernah kawin usia 15 – 49 tahun, dengan menggunakan metode tidak langsung. Program yang digunakan adalah program Mortpack.

2.2.2.

Tingkat Pendidikan

Pendidikan dan pengetahuan diakui secara luas sebagai unsur dasar dari pembangunan manusia. Dalam menyusun IPM pengetahuan diukur dengan indikator melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Angka melek huruf adalah persentase dari penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya, terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun atau lebih. Indikator rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel secara simultan yaitu jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani.Lama sekolah dihitung berdasarkan formula berikut:

YS = tahun konversi+kelas tertinggi yang pernah diduduki – 1

Dimana YS menyatakan years school atau jumlah tahun yang digunakan untuk sekolah. Tahun konversi dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah sebagai berikut:

(10)

Tabel 2.2.

Tahun Konversi Lama Sekolah

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan

Tahun konversi

(1) (2)

Tidak pernah sekolah 0

Sekolah dasar 6 SLTP 9 SLTA/SMU 12 Diploma I 14 Diploma II 15 Akademi/Diploma III 16 Diploma IV/Sarjana 16 Magister (S2) 18 Doktor (S3) 21

Sumber : Badan Pusat Statistik

Dalam penghitungannya, indeks pendidikan menggabungkan indeks melek huruf dan indeks rata-rata lama sekolah dengan bobot yang berbeda yaitu bobot indeks melek huruf dua kali lebih besar dibanding indeks rata-rata lama sekolah atau dapat dirumuskan sbb.:

IP = ⅔ Indeks LIT + ⅓ Indeks MYS

2.2.3.

Paritas Daya Beli /

Purchasing Power Parity

(PPP)

Untuk indeks tingkat kehidupan layak, penghitungan didekati dengan menggunakan pengeluaran riil per kapita (PPP) yang telah disesuaikan. Untuk menjamin keterbandingan antar daerah dan antar waktu, dilakukan penyesuaian sebagai berikut:

1. Menghitung pengeluaran per kapita dari data modul SUSENAS (Y).

2. Menaikkan nilai Y sebesar 20% (=Y1), karena diperkirakan berdasarkan studi bahwa data dari SUSENAS lebih rendah sekitar 20%.

3. Menghitung nilai riil Y1 dengan mendeflasi Y1 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) (=Y2).

4. Menghitung nilai daya beli- Purchasing Power Parity (PPP) –untuk tiap daerah yang merupakan harga suatu kelompok barang, relatif terhadap

(11)

harga kelompok barang yang sama di daerah yang ditetapkan sebagai standar, yaitu Jakarta Selatan.

Penghitungan PPP menggunakan formula sebagai berikut :

Dimana :

= pengeluaran untuk komoditi j di daerah i

= Harga komoditi j di Jakarta Selatan

= volume komoditi j (unit) yang dikonsumsi di daerah j

5. Membagi Y2 dengan PPP untuk memperoleh nilai rupiah yang sudah disetarakan antar daerah (=Y3).

6. Mengurangi nilai Y3 dengan menggunakan formula Atkinson untuk mendapatkan estimasi daya beli (=Y4). Langkah ini ditempuh berdasarkan prinsip penurunan manfaat marginal dari pendapatan.

Sedangkan formula atkinson yang digunakan untuk menyesuaikan nilai Y3 adalah :

C (I) = C (i) Jika C(i) < Z

= Z + 2(C(i) – Z)1/2 Jika Z < C(i) < 2Z

= Z + 2(Z)1/2 + 3(C(i) – 2Z)1/3 Jika 2Z < C(i) < 3Z

= Z + 2(Z)1/2 + 3(Z)1/3 + 4(C(i) – 3Z)1/4 Jika 3Z < C(i) < 4Z

Dimana

C(i) = PPP dari nilai riil pengeluaran per kapita

Z = Batas tingkat pengeluaran yang ditetapkan secara arbiter sebesar Rp. 549.500 per kapita per tahun atau Rp. 1.500 per kapita per hari

(12)

2.3. Intepretasi Nilai IPM

Pencapaian pembangunan manusia dilihat dari 2 segi yaitu :

1. Terjadi kenaikan IPM secara nilai absolut, yang di ukur dengan nilai positif dari reduksi shortfall tahunan. Reduksi shortfall merupakan peningkatan nilai IPM dalam suatu periode relatif terhadap nilai IPM awal terhadap jarak nilai IPM awal ke IPM sasaran ( = 100 ) atau bisa dikatakan sebagai rasio pencapaian kesenjangan antara jarak yang telah di tempuh dengan jarak yang harus di tempuh dalam mencapai kondisi ideal.

Reduksi shortfall juga mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu. Semakin tinggi nilai reduksi shortfall berarti semakincepat peningkatan IPM. Secara formulasi reduksi shortfall (r) adalah (BPS, 2012):

r = reduksi shortfall

t = tahun

n = selisih tahun antar IPM IPMideal = 100

2. Meningkatkan status pembangunan manusia berdasarkan klasifikasi dari UNDP sebagai berikut:

Nilai IPM Status Pembangunan

Manusia < 50 50 ≤ IPM < 66 66 ≤ IPM < 80 ≥ 80 Rendah Menengah bawah Menengah atas Tinggi

(13)

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1. Pembangunan Manusia di Kabupaten Temanggung 3.1.1.Dimensi Kependudukan

Penduduk atau masyarakat yang berkualitas merupakan komponen sentral dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Penduduk yang berkualitas memungkinkan untuk mengolah dan mengelola sumber daya alam dengan baik, tepat, efisien dan optimal dengan tetap menjaga kepentingan generasi yang akan datang. Penduduk yang berkualitas akan menjaga keseimbangan antara jumlah penduduk dengan kapasitas daya dukung alam dan lingkungan. Sebaliknya penduduk yang besar dengan kualitas yang rendah justru akan menjadi beban bagi pembangunan itu sendiri.

Gambar 3.1

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Temanggung, 2009 – 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Penduduk Kabupaten Temanggung mempunyai ciri-ciri demografis seperti ciri-ciri demografis penduduk Indonesia pada umumnya, yaitu jumlahnya besar, berusia muda, tingkat pertumbuhan tinggi serta penyebaran penduduk tidak

71 5 07 2 72 1 67 9 7 2 7 1 8 4 73 3 41 8 739873 0,93 0,92 0,76 0,86 0,88 0,50 0,55 0,60 0,65 0,70 0,75 0,80 0,85 0,90 0,95 1,00 700 000 705 000 710 000 715 000 720 000 725 000 730 000 735 000 740 000 745 000 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah Pertumbuhan (%)

(14)

merata. Pada tahun 2013, jumlah penduduk Kabupaten Temanggung mencapai 739 878 jiwa atau meliputi 2, 27 persen dari seluruh penduduk Provinsi Jawa Tengah. Sepanjang 5 (lima) tahun terakhir, jumlah penduduk di Kabupaten Temanggung selalu mengalami peningkatan. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2013 mencapai 0,88 persen, sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan penduduk tahun 2012 yang mencapai 0,86 persen.

Gambar 3.2

Distribusi Penduduk Kabupaten Temanggung Menurut Kecamatan, 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Penduduk Kabupaten Temanggung belum terdistribusi secara merata. Lebih 41 persen penduduk terkumpul pada 5 kecamatan, yaitu di Kecamatan Temanggung sebanyak 11,56 persen, di Kecamatan Kedu sebanyak 8,11 persen, di Kecamatan Ngadirejo sebanyak 7,58 persen, di Kecamatan Parakan sebanyak 7,43 persen dan di Kecamatan Pringsurat sebanyak 7,04 Persen. Selebihnya sebanyak 58,28 persen penduduk tersebar di 15 kecamatan lainnya.

Jika dibandingkan dengan luas wilayahnya, kepadatan penduduk di Kabupaten Temanggung pada tahun 2013 mencapai 850 orang per km2. Kecamatan Temanggung dan Kecamatan Parakan merupakan kecamatan yang paling padat penduduknya, yaitu masing-masing sebesar 2 384 orang per km2 dan

(15)

2 301 orang per km2. Sedangkan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Bejen, yaitu hanya 285 orang per km2.

Gambar 3. 3.

Kepadatan Penduduk Kabupaten Temanggung Menurut Kecamatan, 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Daerah yang padat penduduknya cenderung memiliki permasalahan yang lebih kompleks terutama terkait masalah perumahan, kesehatan dan keamanan. Salah satu faktor penyebab tingginya penduduk di Kecamatan Parakan dan Kecamatan Temanggung adalah tingginya perpindahan penduduk yang umum terjadi baik dari pedesaan ke perkotaan maupun dari daerah miskin ke daerah yang lebih kaya. Karena itu diperlukan upaya menciptakan pembangunan yang merata di setiap daerah baik penyediaan sarana kebutuhan dasar maupun penciptaan lapangan kerja dengan memperhatikan potensi yang dimiliki masing-masing daerah.

Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat ditampilkan dengan menggunakan piramida penduduk. Piramida penduduk memberikan informasi antara lain jumlah penduduk usia kerja, rasio ketergantungan dan jumlah wanita usia subur. Infomasi tersebut sangat berguna untuk dasar pelayanan kebutuhan dasar, potensi tenaga kerja maupun kebutuhan lapangan perkerjaan.

(16)

Gambar 3.4

Piramida Penduduk Kabupaten Temanggung, 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Karakteristik penduduk Kabupaten Temanggung menurut jenis kelamin ditandai dengan angka sex rasio yang berada diatas 100 sepanjang tahun 2009 – 2013. Pada tahun 2013, sex rasio mencapai 101, artinya diantara 100 orang perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki. Hal ini berbeda dengan karakteristik penduduk Provinsi Jawa Tengah pada umumnya dimana lebih banyak penduduk perempuan dibanding penduduk laki-laki dengan sex rsio pada tahun 2013 mencapai 98,42. 40000 30000 20000 10000 0 10000 20000 30000 40000 0 - 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 - 69 70 - 74 75 + laki-laki Perempuan

(17)

Gambar 3.5.

Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Salah satu ukuran kependudukan yang dapat dilihat dari piramida penduduk adalah rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan (dependency ratio) merupakan perbandingan antara penduduk usia non produktif (usia < 15 tahun dan usia > 65 tahun) terhadap penduduk usia produktif (15 – 64 tahun).

Gambar 3.6

Rasio ketergantungan Penduduk Kabupaten Temanggung, 2009 – 2013

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS RI (sementara)

Sepanjang lima tahun terakhir, rasio beban ketergantungan di Kabupaten Temanggung berada dibawah 50 persen, dan mengalami kecenderungan dengan

345 000 350 000 355 000 360 000 365 000 370 000 375 000 2009 2010 2011 2012 2013 Laki-laki Perempuan 49,07 48,95 48,93 47,41 46,45 45 45,5 46 46,5 47 47,5 48 48,5 49 49,5 2009 2010 2011 2012 2013

(18)

angka terendah pada tahun 2013 sebesar 46,45 persen. Berdasarkan rasio ketergantungan tersebut, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Temanggung sedang menuju tahapan bonus demografi dalam proses transisi demografi. Inilah yang disebut sebagai window of opportunity, yaitu jika jumlah penduduk produktif yang lebih besar dapat dioptimalkan untuk mengakumulasi pertumbuhan dan kesejahteraan secara ekonomi. Sebaliknya jika window of opportunity tersebut tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, maka hal tersebut bisa menjadi window of disaster, yaitu apabila jumlah penduduk usia produktif yang banyak tidak bisa dimanfaatkan akibat kurangnya lapangan pekerjaan. Window of opportunity merupakan momentum untuk saving di masa depan sehingga saving tersebut bisa dimanfaatkan ketika jumlah penduduk usia non produktif kembali meningkat. (Isa, 2009). Ada 4 (empat) prasyarat utama agar bonus demografi bisa diwujudkan yaitu kualitas pendidikan, kualitas kesehatan, tersedianya lapangan pekerjaan dan pengendalian laju pertumbuhan. (Hadna, 2014)

Menurut Adioetomo (2005) periode emas transisi demografi dimana rasio ketergantungan biasanya dibawah 50 persen, maka daerah tersebut memiliki peluang untuk meraih bonus demografi. Bonus demografi merupakan keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya rasio ketergantungan sebagai hasil dari menurunnya fertilitas dalam jangka panjang. Dengan bergesernya distribusi penduduk dari usia non produktif ke penduduk usia produktif, maka investasi yang sebelumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok penduduk termuda dalam populasi dapat dialihkan untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan keluarga.

3.1.2. Dimensi Pendidikan

Pemerintah Kabupaten Temanggung menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu fundamental pembangunan jangka panjang di Kabupaten Temanggung. Arah pembangunan bidang pendidikan sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) kabupaten Temanggung 2005 – 2025 antara lain :

- Pembangunan pendidikan diarahkan pada peningkatan, pemerataan dan perluasan kesempatan memeperoleh pendidikan yang bermutu dan terjangkau

(19)

- Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas - Peningkatan penuntasan buta huruf dan wajib belajar

Pada saat ini Kabupaten Temanggung telah menyelesaikan tahap pembangunan lima tahunan untuk periode 2008 – 2013 dan sedang memasuki tahap pembangunan lima tahun berikutnya yaitu 2013 – 2018. Beberapa target kinerja pada urusan pendidikan yang dicantumkan dalam dokumen RPJMD 2008 – 2013 halaman V-9 antara lain: meningkatnya angka melek huruf, meningkatkan APK dan APM PAUD, SD, SMP dan sekolah menengah, menurunnya angka putus sekolah SD, SMP dan Sekolah Menengah dan meningkatnya angka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan arah kebijakan dalam urusan pendidikan yang dicantumkan dalam dokumen RPJMD 2013 – 2018 antara lain:

- Meningkatkan aksesbilitas pendidikan anak usia dini melalui pengembangan pelayanan pendidikan terhadap anak usia 0 – 6 tahun - Meningkatkan aksesbilitas pendidikan dasar melalui pengembangan

pelayanan pendidikan dasar dan pemberian beasiswa

- Meningkatkan aksesbilitas pendidikan menengah melalui pengembangan pelayanan pendidikan menengah dan pemberian beasiswa serta penyediaan unit sekolah menengah

- Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini (TK/RA) sesuai dengan kebutuhan

- Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) sesuai dengan kebutuhan

- Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) sesuai dengan kebutuhan

Pada sub bab berikut ini akan diuraikan capaian pembangunan pendidikan di Kabupaten Temanggung sejak tahun 2009 hingga 2013. Analisis ini diperlukan untuk melihat sejauh mana target pembangunan lima tahunan 2008 – 2013 tercapai serta melihat kondisi yang ada saat ini sebagai dasar pembangunan menengah periode 2013 – 2018 selanjutnya.

(20)

Pendidikan di Indonesia pada saat ini diatur melaluiUndang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam bab IV pasal 6 ayat 1 undang-undang tersebut disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pasal 11 ayat 2 disebutkan juga bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lim belas tahun. Hal ini berarti bahwa sudah sepatutnya sudah tidak ada lagi anak usia 7 – 15 tahun yang tidak bersekolah atau seharusnya tingkat partisipasi sekolahnya 100 persen.

Gambar. 3.7.

Angka Partisipasi Sekolah menurut Kelompok Pendidikan di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Sumber : Susenas (BPS Kabupaten Temanggung)

Berdasarkan undang-undang diatas, pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Hingga tahun 2013, capaian wajib belajar 9 tahun belum mencapai 100 persen. Pencapaian APS untuk jenjang SMP (penduduk usia 13 – 15 tahun) lebih rendah dibanding APS untuk jenjang SD. APS SD pada tahun 2013 sudah mencapai 99,79 persen sedangkan APS untuk jenjang SMP baru mencapai 89,26 persen. Keberadaan fasilitas pendidikan SD sederajat sudah cukup merata di seluruh desa/kelurahan. Berdasarkan Pendataan Potensi Desa

99,67 98,92 99,15 98,43 99,79 79,78 87,65 82,95 86,76 89,26 43,00 43,95 43,24 43,52 47,09 2,43 1,04 5,76 3,07 14,06 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 2009 2010 2011 2012 2013 7 - 12 13 - 15 16 - 18 19 - 24

(21)

(PODES) 2014, dari 289 desa/kelurahan yang ada, hanya 3 desa yang belum memiliki fasilitas pendidikan SD sederajat, yaitu Desa Canggal Kecamatan Kledung, Desa Putat Kecamatan Bulu dan Desa Kebon Agung Kecamatan Selopampang. Fasilitas SMP sederajat di Kabupaten Temanggung ada sebanyak 110 unit sekolah, yang tersebar di seluruh kecamatan. Meskipun fasilitas sekolah cukup memadai, belum terpenuhinya wajib belajar 9 tahun ini mungkin disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat khususnya di pedesaan untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lanjutan dan memilih untuk mempersiapkan bahkan menerjunkan anak-anaknya ke dunia kerja. Capaian ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi stakeholder terkait agar pada tahun berikutnya capaian wajib belajar 9 tahun semakin meningkat dan angka partisipasinya mencapai 100 persen.

Angka partisipasi sekolah untuk jenjang SLTA meskipun masih sangat rendah namun menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2013, APS untuk jenjang SLTA mencapai 47,09 persen. Selain kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan lanjutan atas, rendahnya APS jenjang SLTA di Kabupaten Temanggung ini antara lain juga disebabkan oleh ketersediaan pelayanan pendidikan menengah yang belum menjangkau seluruh kecamatan. Beberapa kecamatan di Kabupaten Temanggung hingga tahun 2013 masih belum memiliki fasilitas pendidikan SLTA sederajat yaitu Kecamatan Kledung, Kecamatan Tologomulyo, Kecamatan Gemawang, Kecamatan Tretep dan Kecamatan Wonoboyo. Selain itu meningkatnya opportunity cost juga sangat berpengaruh pada rendahnya partisipasi pendidikan menengah. Lulusan SLTP sederajat yang sebagian besar sudah berusia lebih dari 15 tahun ke atas sudah berhak untuk bekerja sehingga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi belum menjadi pilihan utama.

Dengan melihat kecenderungan menurunnya partisipasi pendidikan dengan meningkatnya jenjang pendidikan, dapat dipastikan partisipasi pendidikan jenjang pendidikan tinggi jauh lebih rendah lagi. Pada tahun ajaran 2013 APS jenjang pendidikan tinggi mencapai 14,06 persen, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 3,07 persen. Tingginya biaya untuk dapat belajar di

(22)

perguruan tinggi yang mencakup biaya langsung dan tidak langsung merupakan faktor utama rendahnya partisipasi pada jenjang tersebut.

Selain APS, tingkat kesertaan penduduk dalam pendidikan formal juga diukur dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APK dapat dibaca sebagai tingkat partisipasi penduduk sekolah pada jenjang pendidikan tertentu tanpa memperhatikan umur tersebut sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut atau tidak. Sedangkan APM adalah tingkat partisipasi penduduk sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dan sesuai dengan kelompok umur jenjang pendidikan tersebut.

Tabel 3.1.

Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan, 2009 – 2013 Jenjang Pendidikan APK APM 2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 SD 112,62 108,55 102,71 107,68 112,58 99,01 94,97 93,37 93,14 96,63 SMP 72,67 89,65 92,87 82,28 81,01 67,59 75,92 67,06 68,69 68,38 SMA 44,72 45,91 48,70 49,26 48,55 35,31 36,63 36,71 39,35 38,12 PT 1,88 3,35 7,75 3,94 13,54 1,88 1,04 3,57 2,09 13,25

Sumber : Susenas (BPS Kabupaten Temanggung)

Angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang pendidikan SD sederajat pada tahun 2013 sebesar 112,58 persen. Sepanjang lima ahun terakhir, angka ini merupakan APK tertinggi kedua setelah capaian tahun 2009. Angka APK yang nilainya diatas 100 persen disebabkan banyaknya penduduk yang usianya bukan kelompok usia 7-12 tahun (kelompok usia SD) yang bersekolah di SD.

Perkembangan APK untuk jenjang pendidikan SLTP sederajat bergerak secara fluktuatif sepanjang 2009 – 2013. Pada tahun 2011, APK SLTP mencapai 92,87 kemudian dua tahun berturut-turut mengalami penurunan menjadi 82,28 pada 2012 dan menjadi 81,01 pada 2013.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih halus lagi dari angka partisipasi sekolah menurut usia sekolah dibuatlah Angka Partisipasi Murni (APM). APM merupakan proporsi penduduk usia sekolah yang sedang sekolah dengan penduduk usia sekolah. APM SD tahun 2013 sebesar 96,63 persen. Angka ini

(23)

dapat dibaca bahwa ada sekitar 96 ,63 persen penduduk usia 7-12 tahun yang sedang sekolah di jenjang pendidikan sekolah dasar.

Begitu juga dengan APM untuk SLTP pada tahun 2013 sedikit turun dibanding tahun 2012, yaitu menjadi 68,38. Sepanjang lima tahun terakhir, APM untuk jenjang SLTP paling tinggi dicapai pada tahun 2010, yaitu mencapai 75, 92. Demikian juga APM untuk jenjang SLTA pada tahun 2013 sedikit menurun dibanding 2012 yaitu mencapai 38,12. APM untuk jenjang perguruan tinggi pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang sangat menggembirakan, yaitu dari 2,09 persen pada tahun 2012 menjadi 13,25 persen pada 2013.

3.1.3. Dimensi Kesehatan

Undang-Undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan merupakan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Dalam pasal 5 disebutkan pula bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan serta memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Pembangunan kesehatan merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga mendukung pembangunan secara menyeluruh. Dalam RPJPD Kabupaten Temanggung 2005-2025 disebutkan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan peningkatan mutu atau kualitas pelayanan kesehatan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia kesehatan, penambahan sarana dan prasarana kesehatan, peningkatan sistem pembiayaan dan jaminan kesehatan masyarakat, peningkatan upaya kesehatan, peningkatan kualitas dan akses semua anggota masyarakat (terutama keluarga miskin) terhadap pelayanan kesehatan, peningkatan perilaku hidup sehat, mencegah dan menanggulangi berbagai penyakit menular, penanggulangan kekurangan energi protein, dan perbaikan manajemen kesehatan.

Misi kelima dari pemerintah Kabupaten Temanggung dalam periode 2013 - 2018 adalah mewujudkan peningkatan budaya sehat dan aksesibilitas kesehatan masyarakat. Untuk mewujudkan misi tersebut, beberapa kebijakan umum yang dicanangkan antara lain meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan yang bermutu, meningkatkan gizi masyarakat melalui perbaikan gizi

(24)

masyarakat terutama balita dan penduduk miskin, meningkatkan lingkungan sehat melalui pengembangan akses yang berkelanjutan terhadap sanitasi dasar di perkotaan dan pedesaan, akses terhadap air bersih, dan penggunaan jamban keluarga, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pembinaan kesejahteraan keluarga, dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui meningkatnya aksesibilitas masyarakat atas pelayanan keluarga berencana. Agar misi di bidang kesehatan ini dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan gambaran yang lebih rinci mengenai kesehatan masyarakat Kabupaten Temanggung saat ini agar program pembangunan lebih efektif dan efisien.

Fasilitas kesehatan bermutu yang dimaksud dalam publikasi ini adalah rumah sakit, rumah sakit bersalin, puskesmas dengan/tanpa rawat inap, puskesmas pembantu, poliklinik/balai pengobatan, tempat praktek doketr, tempat praktek bidan, poskesdes dan polindes. Hampir seluruh desa/kelurahan di Kabupaten Temanggung telah memiliki setidaknya satu fasilitas kesehatan bermutu yang dimaksud tersebut. Berdasarkan Survei Potensi Desa (PODES 2014), hanya ada dua desa yang belum memiliki satupun fasilitas kesehatan yang dimaksud diatas, yaitu Desa Kebon Agung Kecamatan Selopampang dan Desa Ngipik Kecamatan Pringsurat. Meskipun demikian, seluruh desa/kelurahan sudah memiliki pos pelayanan terpadu (posyandu) sebagai akses kesehatan yang paling mudah bagi masyarakat.

Kelompok yang paling rentan yang memerlukan pelayanan maksimal dari petugas kesehatan adalah ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, angka kematian ibu (AKI) digunakan sebagai salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Berbagai pihak terkait seperti tenaga profesional, pelayanan kesehatan, partisipasi masyarakat setempat dan lainnya bersama-sama bekerja untuk meningkatkan partisipasi dan menyediakan fasilitas yang baik bagi pertolongan persalinan. Setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinannya. Dengan kata lain, 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan (WHO, 2005). Kematian ibu sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kehidupan anak-anak yang ditinggalkannya. Jika seorang ibu meninggal, maka anak-anak yang

(25)

ditinggalkannya kemungkinan tiga hingga sepuluh kali lebih besar untuk meninggal dalam waktu dua tahun dibanding mereka yang masih mempunyai kedua orang tua (Li, X.F et al dalam Outlook volume 16). Disamping itu, kematian ibu juga akan berdampak luas terhadap kesehatan dan pendidikan yang dibutuhkan seiring pertumbuhan anak yang ditinggalkannya.

Berbagai upaya terus diusahakan dalam rangka menurunkan angka ke-matian ibu. Salah satunya adalah mengimplementasikan program Safe Motherhood. Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan menerima perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. Program itu terdiri dari empat pilar yaitu keluarga berencana, pelayanan antenatal, persalinan yang aman, dan pelayanan obstetri esensial.

2009

2010

2011

2012

2013

Dokter

8.43

18.40

10.98

13.81

16.23

Bidan

66.62

69.50

79.49

76.61

77.43

Dukun

23.94

11.30

8.56

10.18

6.00

Famili dan lainnya

1.01

0.80

0.97

0.00

0.34

Jumlah

100.00 100.00 100.00 100.00

100

Sumber : Susenas (BPS Kabupaten Temanggung)

Tahun

Tabel 3.2.

Presentase Balita Menurut Penolong Persalinan Terakhir

di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Penolong Persalinan

Indikator proses yang penting dalam program Safe Motherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan penolong kelahirannya, sebagian besar balita di Kabupaten Temanggung ditangani oleh bidan yaitu sebanyak 77,43 persen pada tahun 2013, dan yang ditangani oleh dokter sebanyak 16, 23 persen. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar persalinan perempuan di Kabupaten Temanggung ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih. Dari Tabel diatas juga diketahui bahwa persentase balita yang persalinannya ditolong oleh non medis yaitu dukun, famili dan lainnya semakin menurun. Beberapa alasan yang mendasari naiknya penolong kelahiran oleh petugas medis diantaranya adalah semakin meningkatnya kesadaran tentang arti pentingnya kesehatan, kondisi

(26)

perekonomian masyarakat yang semakin membaik, akses yang semakin mudah (tersedianya trasportasi yang sudah menjangkau sampai ke desa-desa), semakin didekatkannya petugas medis ke tempat tinggal penduduk (yaitu dengan disebarkannya petugas bidan desa), tersedianya puskesmas di tiap-tiap kecamatan yang ada dan semakin murahnya biaya berobat.

Selain keselamatan ibu melahirkan, derajat kesehatan masyarakat, terutama generasi yang akan datang sangat ditentukan dengan bagaimana pemberian Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Pemberian ASI sangat bermanfaat bagi anak, ibu maupun masyarakat umum. . Bagi anak, menyusui mendukung pembangunan yang optimal dan melindungi terhadap penyakit akut dan kronis. Bagi ibu, menyusui membantu pemulihan dari kehamilan dan persalinannya serta memberikan keuntungan kesehatan seumur hidup. Bagi masyarakat, menyusui memberikan keuntungan ekonomis dan ramah lingkungan. Usia 0 – 24 bulan merupakan periode emas untuk tumbuh kembang yang optimal. Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal, WHO merekomendasikan empat hal penting yaitu:

- memberikan ASI kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir

- memberikan hanya ASI saja atau ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 6 bulan

- memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 tahun

- meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih

Kesadaran untuk memberikan ASI bagi anaknya di Kabupaten Temanggung semakin meningkat. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa semakin banyak balita yang pernah disusui ibunya. Pada tahun 2013, hanya 2,21 persen balita yang sama sekali tidak pernah disusui ibunya. Bukan hanya pemberian ASI yang semakin meningkat, namun semakin banyak pula balita yang memperoleh ASI hingga 24 bulan atau lebih. Berdasarkan Susenas 2013, rata-rata lama pemberian ASI balita usia 2 hingga 4 tahun mencapai 21,88 bulan.

(27)

2009

2010

2011

2012

2013

Balita yang pernah disusui

97.04

96.20

95.98

97.52

97.79

Lamanya disusui :

< 24 bulan

69.26

68.20

65.17

64.19

42.02

24 bulan lebih

30.74

31.80

34.83

35.81

57.98

Sumber : Susenas (BPS Kabupaten Temanggung)

Tabel 3.3.

Persentase Pemberian ASI pada Anak usia 2 - 4 tahun

di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Uraian

Tahun

Status gizi merupakan salah satu penentu kualitas hidup manusia. Keterlambatan pelayanan gizi dan kekurangan gizi akan berakibat pada menurunnya kecerdasan, produktifitas, prestasi dan akan meningkatkan angka kesakitan, angka kematian dan angka kemiskinan. Jika tidak dikelola dengan baik, gizi buruk dalam fase yang akut dalam jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya generasi penerus bangsa.

Tabel 3.4. Persentase Balita Menurut Status Gizi di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Tahun Prevalensi Status Gizi (%) Buruk Kurang Baik Lebih 2009 1.36 13.89 83.20 1.55 2010 1.30 14.40 83.00 1.30 2011 0.68 14.61 83.59 1.12 2012 1.30 11.20 85.90 1.50 2013 0.93 13.47 83.75 1.85

Sumber: Temanggung Dalam Angka 2014

Secara umum, status gizi balita sepanjang 2009 – 2013 menunjukkan bahwa sebagian besar balita di Kabupaten Temanggung berstatus gizi baik/lebih yaitu mencapai lebih dari 85 persen pada 2013. Sebaliknya balita yang berstatus gizi buruk/kurang menunjukkan kecenderungan menurun yaitu dari 15,25 persen pada 2009 menjadi 14,40 persen pada tahun 2013. Capaian ini harus semakin

(28)

ditingkatkan karena status gizi yang baik pada saat ini merupakan investasi pembangunan pada masa yang akan datang.

Dalam konteks pembangunan, sanitasi yang memadai merupakan dasar pembangunan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan sanitasi sebagai salah satu target pembangunan milenium (MDGs). Pada 2015, MDGs menargetkan pengurangan 50 persen penduduk dunia yang hidup tanpa akses terhadap sanitasi yang baik. Dampak sanitasi yang buruk berpengaruh langsung terhadap kesehatan anak-anak seperti ancaman diare, polio, penyakit kulit, dan penyakit merugikan lainnya. Sebaliknya, pengelolaan air minum dan sanitasi yang baik akan berdampak pada peningkatan ekonomi, meningkatkan kehadiran murid di sekolah dasar, mengurangi prevalensi penyakit, meningkatkan produktifitas orang dewasa, serta mengurangi polusi dari sumber air. Parameter sanitasi berfokus pada setiap usaha daerah melakukan perubahan sanitasi masyarakat dari kondisi sanitasi buruk menuju sanitasi sehat. Aktivitas menuju sanitasi sehat tidak menyandarkan pada usaha masyarakat semata. Namun, lebih pada upaya-upaya daerah (pemda) mendorong perubahan perilaku sanitasi masyarakat dan pencapaian sanitasi total.

Tabel 3.5.

Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum yang Digunakan di Kabupaten Temanggung, 2011 – 2013

sumber air minum 2011 2012 2013

air dalam kemasan 0.12 0.25 0.55

air isi ulang 0.10 0.61 0.31

leding 10.42 14.35 18.02

sumur bor pompa 6.22 7.66 9.25

sumur terlindung 35.13 28.77 22.24

sumur tak terlindung 5.20 4.62 3.45

mata air terlindung 38.85 41.57 44.52 mata air tak terlindung 3.72 2.16 1.53

air sungai 0.23 0.00 0.13

air hujan 0.00 0.00 0.00

lainnya 0.00 0.00 0.00

jumlah 100.00 100.00 100.00

(29)

Rumah tangga termasuk pengguna air bersih bila rumah tangga tersebut menggunakan air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur atau mata air terlindung. Data Susenas menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Temanggung menggunakan mata air terlindung sebagai sumber air minum utamanya, kemudian diikuti oleh sumr terlindung. Secara agregat, persentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum sehat mengalami peningkatan yaitu dari 93,21 persen pada tahun 2011, 94,89 persen pada tahun 2012 dan 94,89 persen pada tahun 2013. Artinya masih ada 5,11 persen rumah tangga pada tahun 2013 yang masih menggunakan sumber air minum tidak sehat (sumur tidak terlindung, mata air tidak terlindung, air hujan, air sungai) dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pembangunan berikutnya.

3.1.4. Dimensi Ketenagakerjaan

Ketenagakerjaan merupakan salah satu bidang yang sangat esensial dalam usaha memajukan perekonomian suatu daerah. Tenaga kerja yang memadai dari segi kuantitas dan kualitas menjadi aspek penting dalam pembangunan ekonomi, yaitu sebagai sumber daya untuk menjalankan proses produksi dan distribusi barang dan jasa, serta sebagai sasaran untuk menciptakan dan mengembangkan pasar. Permasalahan paling pokok dalam ketenagakerjaan terletak pada kesempatan kerja. Ketidakseimbangan antara peningkatan penduduk usia kerja dengan kesempatan kerja yang tersedia akibat lemahnya penyerapan tenaga kerja akan menimbulkan pengangguran yang akan berdampak pada ketidakstabilan ekonomi dan bidang kehidupan lainnya. Apabila perekonomian tidak dapat menyerap pertumbuhan tenaga kerja yang ada, maka tentu saja akan terjadi peningkatan pengangguran yang selanjutnya dapat mengakibatkan masalah-masalah sosial.

Dalam RPJPD Kabupaten Temanggung 2005 – 2025 disebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan diarahkan pada perluasan lapangan kerja dan kesempatan kerja, peningkatan kualitas, peningkatan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan peningkatan kemandirian yang berwawasan wirausaha sehingga mampu bersaing. Dalam RPJMD 2013 – 2018, masalah ketenagakerjaan termasuk dalam misi kedua pemerintahan daerah Kabupaten Temanggung yaitu

(30)

mewujudkan peningkatan masyarakat pedesaan dan perkotaan yang agamis, berbudaya dan sejahtera. Beberapa strategi yang akan diterapkan menyangkut ketenagakerjaan antara lain ;

- Peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja

- Peningkatan kesempatan kerja dan menurunkan tingkat pengangguran - Peningkatan perlindungan tenaga kerja dan pengembangan lembaga

Keadaan ketenagakerjaan di Kabupaten Temanggung diwarnai dengan perubahan beberapa indikator yang cukup signifikan ke arah yang lebih baik. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) konsisten mengalami peningkatan hingga tahun 2010 yaitu dari 73,39 persen pada 2009 menjadi 77,57 persen pada 2010. Namun pada tahun 2011, TPAK menurun cukup signifikan menjadi 72,07 persen namun kembali naik cukup tajam menjadi 77,41 persen pada 2012. Pada 2013, TPAK sedikit menurun menjadi 76,74 persen. Semakin tinggi TPAK menunjukkan semakin banyak penduduk yang aktif secara ekonomi.

Gambar 3.8.

Perkembangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Temanggung,

2009 - 2013

Sumber : Sakernas (BPS Kabupaten Temanggung)

Seperti halnya TPAK, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga mengalami fluktuasi. Tingkat pengangguran yang paling tinggi terjadi pada tahun

73,39 77,57 72,07 77,41 76,74 4,24 3,60 5,24 3,40 4,86 0 1 2 3 4 5 6 71,00 72,00 73,00 74,00 75,00 76,00 77,00 78,00 2009 2010 2011 2012 2013 TP T (% ) TP A K (% ) TPAK TPT

(31)

2009 yaitu mencapai 4,24 persen, kemudian pada 2010 turun menjadi 3,60 persen. Selanjutnya TPT mengalami fluktuasi namun tidak ekstrim yaitu naik menjadi 5,24 persen pada 2011, turun kembali menjadi 3,40 persen dan pada tahun 2013 naik kembali menjadi 4,86 persen. Tingginya pengangguran merupakan indikasi perlunya peningkatan penyerapan tenaga kerja, salah satunya dengan penciptaan lapangan kerja. Tingginya angka pengangguran tidak hanya menimbulkan masalah-masalah di bidang ekonomi melainkan juga menimbulkan berbagai masalah di bidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial.

Tabel 3.6.

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

2009 2011 2013 Pertanian 45,00 46,06 46,28 Perdagangan 15,00 14,74 19,04 Industri 17,40 21,59 15,20 Jasa 13,70 9,03 12,46 Lainnya 8,90 8,57 7,02 Jumlah 100,00 99,99 100,00

Sumber : Sakernas (BPS Kabupaten Temanggung)

Tahun Sektor

Banyaknya penduduk yang bekerja di Kabupaten Temanggung menurut lapangan usaha dapat memberikan informasi awal tentang potensi ekonomi penduduk Temanggung. Semakin banyak orang yang bekerja di suatu sektor, maka semakin tinggi pula potensi ekonomi sektor tersebut. Sebagian besar penduduk yang bekerja di Kabupaten Temanggung bekerja pada sektor pertanian. Dilihat perkembangan tahun 2009 sampai dengan 2013, sumbangan sektor pertanian terhadap penyerapan kerja mengalami kenaikan dari 45,00 persen pada 2009 menjadi 46,06 persen tahun 2011, dan kembali meningkat pada tahun 2013 menjadi 46,28 persen. Tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian tersebut terkait erat dengan tingginya potensi agraris yang sangat tinggi di Kabupaten Temanggung. Selain itu, sektor pertanian relatif lebih akomodatif, karena tidak membutuhkan SDM tingkat pendidikan yang lebih tinggi, keahlian khusus serta kemampuan modal untuk usaha yang rendah. Oleh karenanya tidak mudah bagi tenaga kerja di sektor pertanian untuk berpindah ke sektor lainnya.

(32)

Setelah sektor pertanian, sektor yang banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan industri. Kedua sektor ini bergerak secara dinamis dalam menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2009, sektor industri mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak yaitu sebesar 17,40 persen dibanding sektor perdagangan yang baru mencapai 15,00 persen. Seiring dengan dinamika kegiatan ekonomi, pada tahun 2013 sektor perdagangan justru menyerap tenaga kerja yang lebih banyak yaitu 19,04 persen dan sektor industri menyerap tenaga kerja sebesar 15,20 persen. Dalam kerangka keterkaitan antar sektor, sektor industri diangap sebagai leading sektor karena sektor ini mempunyai keterkaitan ke belakang dengan sektor primer sebagai penyedia input dan juga memiliki keterkaitan ke depan dengan sektor lain sebagai pengguna output-nya. Oleh karena itu, pengembangan sektor industri akan memberikan multiplier yang lebih besar baik terhadap penyerapan tenaga kerja maupun terhadap peningkatan output.

Penduduk bekerja menurut status pekerjaan utama menggambarkan perkembangan tenaga kerja terhadap tingkat kemandirian dan tingkat kebutuhannya terhadap tenaga orang lain. Status pekerjaan juga dapat digunakan untuk membedakan tenaga kerja formal dan informal.

Hal itu dimungkinkan karena penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan utama dalam analisanya meliputi penduduk yang bekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu dengan buruh tidak tetap, bekerja dengan dibantu buruh tetap, pekerja berstatus pekerja dibayar/buruh/karyawan dan pekerja tidak dibayar. Status pekerjaan berusaha dibantu dengan buruh tetap dan buruh/karyawan dipakai sebagai proksi pekerja sektor formal sedangkan status pekerjaan sebagai berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, pekerja bebas dan pekerja tidak dibayar digunakan sebagai proksi pekerja sektor informal.

(33)

Tabel 3.7.

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan di Kabupaten Temanggung, 2011 – 2013

status pekerjaan 2011 2012 2013

berusaha sendiri 10.22 12.46 13.20

berusaha dibantu buruh tidak tetap 26.71 25.73 28.38 berusaha dibantu buruh tetap 1.60 1.26 2.25

buruh/karyawan 18.94 16.44 23.92

pekerja bebas di pertanian 3.63 3.84 5.03 pekerja bebas di non pertanian 5.62 7.43 4.09

pekerja tak dibayar 33.29 32.84 23.12

jumlah 100.00 100.00 100.00

Sumber : Sakernas (BPS Kabupaten Temanggung)

Gambaran sektor formal-informal juga dapat menjadi sinyal perekonomian negara. Semakin maju perekonomian, semakin besar peranan sektor formal. Sampai dengan Agustus 2013 sektor informal masih mendominasi kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Temanggung dengan kontribusi sekitar 73,82 persen. Sebagian orang menyebut sektor informal sebagai sektor penyelamat. Elastisitas sektor informal dalam menyerap tenaga kerja menjadikan sektor ini selalu bergairah meskipun nilai tambah yang diciptakannya mungkin tidak sebesar nilai tambah sektor formal.

3.1.5. Dimensi Ekonomi

Pembangunan manusia memerlukan pertumbuhan ekonomi. Tanpa pertumbuhan, pembangunan manusia tidak dapat berlanjut. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi juga tidak dapat berlanjut tanpa pembangunan manusia. Dalam paradigma pembangunan, pendapatan merupakan alat untuk menguasai sumber daya agar dapat hidup dengan layak. Semakin besar pendapatan/ produksi regional, maka semakin besar pula jumlah barang dan jasa yang tersedia untuk mendukung standar hidup yang layak. Sumber daya atau barang dan jasa itu sendiri harus pula dilihat sebagai wahana untuk meningkatkan kemampuan individu dari segi pendidikan, ketrampilan, kesehatan, dan lain-lain.

Pertumbuhan ekonomi mempengaruhi pembangunan manusia melalui dua jalur yaitu kegiatan rumah tangga dan kebijakan pemerintah. Pemanfaatan

(34)

pendapatan rumah tangga untuk konsumsi makanan yang sehat, obat-obatan, buku pelajaran dan lain-lain akan meningkatkan kemampuan anggota rumah tangga. Sumber daya manusia yang berkualitas akan meningkatkan produktifitas ekonomi. Sedangkan kebijakan pemerintah untuk mendorong lapangan kerja akan meningkatkan permintaan pasar terhadap sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah juga dapat mendorong pembangunan manusia melalui pengeluaran pemerintah. Semakin kaya suatu negara maka semakin besar pula dana yang tersedia bagi pemerintah untuk pembangunan manusia. Dengan kata lain, pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan dua arah yang saling timbak balik. Untuk mengukur tingkat perkembangan ekonomi suatu daerah yang merupakan pencerminan tingkat kesejahteraan masyarakat diperlukan suatu indikator pengukuran yakni dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Gambar 3.9.

Perkembangan Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan di Kabupaten Temanggung, 2009 – 2013 (triliun rupiah)

Sumber : BPS Kabupaten Temanggung

Sepanjang tahun 2009 – 2013, besaran PDRB Kabupaten Temanggung, baik atas dasar harga konstan dan atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan. Pada tahun 2013, nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai 6,92 milyar rupiah sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai 2,78 milyar rupiah. 4.50 5.07 5.60 6.20 6.92 2.31 2.41 2.52 2.65 2.78 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 2009 2010 2011 2012 2013

(35)

Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan. Pertumbuhan ekonomi ini merupakan perbandingan pencapaian kinerja ekonomi suatu daerah pada periode waktu tertentu terhadap periode sebelumnya. Sepanjang tahun 2009 hingga 2013, kinerja perekonomian Kabupaten Temanggung selalu tumbuh positif diatas 4 persen. Pertumbuhan paling tinggi dicapai pada tahun 2012 yaitu mencapai 5,04 persen, dan pada tahun 2013 sedikit melambat dengan laju sebesar 5,02 persen.

Keberhasilan pembangunan manusia dapat dinilai secara parsial dengan melihat permasalahan mendasar dalam masyarakat dapat teratasi, diantaranya pengentasan kemiskinan. Idealnya pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan berkurangnya kemiskinan sebagai dampak peningkatan pendapatan per kapita. Penanggulangan kemiskinan merupakan tujuan pertama dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai pada tahun 2015.

Gambar 3.10

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Sumber : BPS Kabupaten Temanggung

Kemiskinan di Kabupaten Temanggung bergerak secara dinamis namun menunjukkan perkembangan yang baik. Dari tahun 2004-2005, jumlah dan persentase penduduk miskin menunjukkan penurunan. Dampak kenaikan BBM pada tahun 2005 menyebabkan kemiskinan di Kabupaten Temanggung meningkat secara signifikan. Pada tahun 2006, persentase jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 2,12 persen menjadi 16,2 persen. Tingginya kenaikan

(36)

persentase penduduk miskin tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak penduduk Kabupaten Temanggung yang berada dalam kelompok hampir miskin. Kelompok penduduk ini sangat sensitif terhadap guncangan perekonomian. Hingga tahun 2008, kemiskinan di Kabupaten Temanggung masih tetap tinggi. Hal ini disebabakan kemiskinan memiliki kelembaman yang tingi yang ditunjukkan dengan kelambatannya pulih setelah terkena dampak kenaikan harga BBM 2005. Kemiskinan baru menunjukkan penurunan secara perlahan sejak tahun 2009 hingga tahun 2012. Namun demikian, pada tahun 2013, tingkat kemiskinan mengalami sedikit peningkatan yang ditunjukkan dengan meningkatnya persentase penduduk miskin dari 12,32 persen pada 2012 menjadi 12,42 persen pada 2013.

Gambar 3.11

Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Temanggung , 2004 - 2013 1 0 7 .2 1 0 0 .8 114 .9 115 1 1 4 .7 1 0 5 .8 9 5 .4 9 4 .9 8 9 .5 9 1 .1 15.22 14.5 16.62 16.55 16.39 15.05 13.46 13.38 12.32 12.42 12 12.5 13 13.5 14 14.5 15 15.5 16 16.5 17 0 20 40 60 80 100 120 140 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 P 0 ( p e rs e n ) Ju m la h P e n d u d u k M is k in (0 0 0 )

jumlah penduduk misin (000) P0 (persentase penduduk miskin)

Sumber : Susenas (BPS Kabupaten Temanggung)

Penanggulangan kemiskinan merupakan permasalahan pembangunan yang komplek dan mempunyai dimensi tantangan daerah, nasional dan global. Selain menjadi salah satu tujuan MDGs, penanggulangan kemiskinan juga merupakan salah satu syarat dari pembangunan berkelajutan yang disepakati oleh bangsa-bangsa di dunia yang tertuang dalam dokumen Johanesburg pada tahun 2002.

(37)

Tabel 3.9. Perkembangan Pentahapan Kelurga Sejahtera di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013

Tahun Jumlah Pra Sejahtera I Sejahtera II Sejahtera IIISejahtera III Jumlah

(%) sejahtera plus Total

2009 jumlah 60 898 20 786 43 366 82 943 3 212 211 205 % 28.83 9.84 20.53 39.27 1.52 100.00 2010 jumlah 53 744 20 919 46 075 86 300 2 893 209 931 % 25.60 9.96 21.95 41.11 1.38 100.00 2011 jumlah 50 752 19 147 46 952 97 362 3 504 217 717 % 23.31 8.79 21.57 44.72 1.61 100.00 2012 jumlah 51 172 24 891 36 505 100 518 4 598 217 684 % 23.51 11.43 16.77 46.18 2.11 100.00 2013 jumlah 48 044 23 207 41 070 101 512 5 765 219 598 % 21.88 10.57 18.70 46.23 2.63 100.00

Sumber : Temanggung Dalam Angka 2013

Kemiskinan juga dapat diukur berdasarkan pentahapan kesejahteraan keluarga yang di menjadi 5 kelompok yaitu keluarga pra sejahtera, keluarga sejahtera I, keluarga sejahtera II, keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera III plus. Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus secara keseluruhan. Pembangunan keluarga sejahtera diarahkan pada terwujudnya keluarga sebagai wahana persmian nilai-nilai luhur budaya bangsa guna meningkatkan kesejahteraan keluarga serta membina ketahanan keluarga agar mampu mendukung kegiatan pembangunan.

Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB. Keluarga sejahtera I adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secaa minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan transportasi. Keluarga Sejahtera II adalah keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi. Keluarga Sejahtera III adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang

(38)

teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Keluarga sejahtera III plus adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial, psikologis dan perkembangan keluarganya serta telah dapat memberikan sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan atau memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Berdasarkan pengelompokkan ini juga dapat diketahui bahwa insiden kemiskinan di Kabupaten Temanggung mengalami kecenderungan menurun sepanjang 2009 – 2013 sebagaiman ditunjukkan dengan menurunnya persentase keluarga pra sejahtera Pada tahun 2012 persentase keluarga pra sejahtera sedikit mengalami kenaikan, yaitu dari 23,31 persen pada 2011 menjadi 23,51 persen pada 2012. Namun pada tahun 2013, persentase keluarga pra sejahtera menurun cukup tajam yaitu menjadi 21,88 persen. Peningkatan kesejahteraan keluarga ditunjukkan dengan semakin banyaknya keluarga yang berada dalam tahap keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera III plus. Pada tahun 2009, persentase keluarga yang telah mencapai tahap sejahtera III dan sejahtera III plus adalah 40,79 persen kemudian semakin meningkat pada tahun berikutnya dan pada 2013 mencapai 48,86 persen. Artinya hampir separuh keluarga di Kabupaten Temanggung pada tahun 2013 mampu memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangan keluarganya, bahkan sebagian diantaranya mampu berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

3.2. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Temanggung 2009 – 2013

Secara geografis, Kabupaten Temanggung terletak tepat di tengah-tengah Provinsi Jawa Tengah sehingga menjadi jalur strategis untuk melintasi antar kabupaten. Kabupaten Temanggung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat tinggi. Dengan posisi yang strategis dan kekayaan alam tersebut, Temanggung memiliki potensi yang besar untuk menjadi kabupaten yang maju sesuai visi panjang Kabupaten Temanggung. Permasalahan terbesar terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang dimiliki Kabupaten Temanggung dalam menjawab tantangan tersebut. Bila pertumbuhaan serta perkembangan kualitasnya lambat atau cenderung di bawah kabupaten lain, niscaya kita akan tersisih dan

(39)

pada akhirnya penduduk Temanggung hanya akan menjadi penonton roda pembangunan yang berputar disekelilingnya.

Oleh karena itu sudah seharusnya Kabupaten Temanggung menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat agar tercapai pemerataan hasil-hasil pembangunan secara lebih berkeadilan, sehingga tercipta sumber daya manusia yang tangguh dan kompetitif. Peningkatan Sumber Daya manusia (SDM) yang handal menjadi solusi dan salah satu modal utama dalam proses pembangunan dewasa ini. Upaya peningkatan kualitas SDM dalam skala luas disebut sebagai pembangunan manusia.

Visi Kabupaten Temanggung dalam jangka panjang sebagaimana tercantum dalam RPJP Kabupaten Temanggung 2005 – 2025 adalah “Temanggung Makin Maju, Mandiri, Aman, Adil dan Sejahtera”. Konsep maju dapat diartikan bergerak dan meningkat serta menjadi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kemajuan suatu masyarakat dapat dinilai dari : aspek ekonomi yang berpusat pada peningkatan pendapatan dan kemakmuran, aspek sosial yang berpusat pada peningkatan kualitas dan intelektualitas sumber daya manusia, dan aspek kependudukan yang berpusat pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk. Muara dari suatu kemajuan adalah daerah dan masyarakat yang memiliki tingkat produktifitas yang tinggi. Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan daerah adalah laju pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran, kemampuan keuangan daerah, infrastruktur daerah dan Indeks Pembangunan Manusia.(RPJP Kabupaten Temanggung 2005 – 2025). Angka IPM mengindikasikan tingkat pencapaian pembangunan manusia sebagai dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakukan. Indikasi peningkatan atau penurunan kinerja pembangunan manusia setiap tahunnya dapat diamati dari perkembangan angka IPM dari tahun ke tahun. Keterbandingan angka IPM kabupaten dengan kabupaten/kota lain, angka IPM provinsi bahkan angka IPM nasional menentukan posisi relatif capaian IPM sekaligus mengukur relevansi pembangunan manusia di kabupaten itu dengan tingkat pemerintahan di atasnya.

Untuk mewujudkan rencana jangka panjang tersebut, Kabupaten Temanggung telah melalui dua tahap pembangunan jangka menengah, yaitu

Figur

Gambar 2.1.  Komponen IPM

Gambar 2.1.

Komponen IPM p.7
Tabel 3.4.  Persentase Balita Menurut Status Gizi di  Kabupaten Temanggung, 2009 - 201 3

Tabel 3.4.

Persentase Balita Menurut Status Gizi di Kabupaten Temanggung, 2009 - 201 3 p.27
Tabel 3.9. Perkembangan Pentahapan Kelurga Sejahtera di Kabupaten  Temanggung, 2009 - 2013

Tabel 3.9.

Perkembangan Pentahapan Kelurga Sejahtera di Kabupaten Temanggung, 2009 - 2013 p.37
Related subjects :