IMPLEMENTASI METODE AHP - PROMETHEE DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF SOLUSI TERBAIK
PADA PROYEK PENINGKATAN SISTEM PENCUCIAN KOMPRESOR
PADA TURBIN GAS DI PT XYZ
Ilham Kurniawan1) dan Udisubakti Ciptomulyono2) 1)
Magister Manajemen Teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jalan Cokroaminoto 12A, Surabaya, 60264
e-mail: [email protected] 2)
Magister Manajemen Teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ABSTRAK
Karena berpotensi memicu kegagalan dan tidak memberikan hasil yang efektif, sistem pencucian kompresor yang ada di PT XYZ dihentikan penggunaannya. Karena pentingnya sistem ini, sebuah proyek digagas untuk meningkatkan sistem pencucian kompresor agar dapat digunakan kembali. Proyek tersebut sudah memasuki tahap pengembangan dan pemilihan alternatif solusi terbaik. Beberapa alternatif sudah dibuat dan selanjutnya dibutuhkan proses pemilihan alternatif terbaik. Untuk memilih alternatif terbaik, kriteria dan sub-kriteria ditentukan terlebih dahulu dengan metode FGD. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan bobot kriteria dan sub-kriteria dengan metode AHP. Hasil dari pembobotan kemudian akan digunakan untuk menentukan alternatif sistem pencucian kompresor terbaik dengan menggunakan metode PROMETHEE. Dari penelitian ini, diperoleh 3 kriteria yaitu desain & kontruksi (0.53), manajemen proyek (0.14) dan operasi (0.33) dan 8 sub-kriteria yaitu pendekatan desain (0.28), keterlibatan tenaga kerja sendiri (0.09), waktu proyek (0.16), kinerja pemasok (0.10), biaya modal (0.03), kehandalan (0.21), kemudahan operasi dan perawatan (0.03) dan biaya operasi (0.08). Dengan masukan dari bobot sub-kriteria tersebut,
diperoleh alternatif solusi terbaik adalah alternatif 4 (kombinasi), dimana kedua sistem online
dan offline wash diganti dengan jenis non-clasify, dipasang pada skid permanen, satu skid
dapat melayani 3 unit, dengan tipe kontrak EPC dan kontraktor yang akan melakukan panawaran adalah PT BBB.
Kata Kunci: AHP, PROMETHEE, Sistem Pencucian Kompresor, Turbin gas.
PENDAHULUAN
Pengotoran sudu kompresor akan mengurangi kecepatan udara yang masuk, sehingga mengurangi efisiensi kompresor (EPRI, 2005). Hasil akhirnya adalah penurunan efisiensi dan produksi turbin gas karena 50% sampai 60% hasil kerja turbin akan digunakan untuk memutar kompresor (Boyce, 2012). Sistem pencucian kompresor adalah salah satu cara untuk untuk memperlambat penurunan kinerja akibat pengotoran pada sudu kompresor selain
sistem penyaringan udara (inlet air filter system) (Kurz & Burn, 2011). Sistem ini dibutuhkan
untuk mengembalikan kondisi penurunan kinerja terkontrol (controlleable losses) karena
pengotoran pada sudu-sudu awal kompresor (compressor fouling) yang merupakan 70-85%
Sistem pencucian kompresor berguna untuk membersihkan beberapa baris sudu kompresor terdepan baik sudu yang berputar maupun sudu diam (Ogbonnaya, 2011). Di PT XYZ, sistem pencucian kompresor digunakan dalam dua kondisi, yaitu proses pencucian
ketika turbin gas beroperasi (online wash) dan proses pencucian ketika turbin gas tidak
beroperasi (offline wash). Sejalan dengan waktu, kinerja sistem pencucian kompresor tersebut
menimbulkan masalah. Hal ini karena setelah penggunaan sistem pencucian kompresor ini, ditemukan banyak sisa kotoran pada bagian awal sudu kompresor seperti terlihat pada Gambar 1 dan terdapat erosi seperti yang terjadi pada pengguna lain seperti di Gambar 2.
Gambar 1. Kompresor yang Kotor Akibat Kotoran yang Lolos dari Proses Penyaringan
Gambar 2. Gambaran Umum Kondisi Sudu Terdepan dari Kompresor yang Mengalami Erosi (Molloy, 2012)
Hasil investigasi ditemukan bahwa penyebab terjadinya isu ini adalah ketidaksempurnaan sistem pencucian kompresor yang ada pada saat ini. Pada sistem pencucian kompresor yang ini ditemukan bahwa ukuran butir air yang dihasilkan ketika proses pembersihan terlalu besar, arahnya terbatas dan ada proses manual yang mengandalkan
intuisi operator ketika online wash dilakukan. Dan rekomendasi dari tim investigasi
menyebutkan bahwa penggunaan sistem pencucian kompresor yang ada dihentikan.
Penghentian penggunaan sistem pencucian kompresor ini akan mempertahankan nilai kehandalan namun akan menurunkan nilai ketersediaan dan pada akhirnya akan menurunkan produksi listrik. Dengan proses ini, berdasarkan data yang ada dalam rentang waktu 2 tahun, diperoleh bahwa penurunan laju produksi mencapai 63 kW/hari dengan
rentang offline wash sekitar 77 hari.
Proyek peningkatan sistem pencucian kompresor merupakan langkah lanjutan dari tindakan penghentian penggunaan sistem pencucian kompresor. Saat ini, proyek berada pada tahap kedua berdasarkan proses baku proyek di PT XYZ, dimana dalam tahap ini dilakukan pembangunan pilihan alternatif solusi dan pemilihan alternatif solusi. Sejauh ini, tahap kedua sudah berjalan hingga pembangunan alternatif solusi. Pembangunan alternatif solusi dibuat oleh tim proyek seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Pilihan Solusi Proyek Peningkatan Sistem Pencucian Kompresor
Dari beberapa alternatif yang sudah dibangun di atas, selanjutnya perlu ditentukan kriteria dan sub-kriteria beserta bobot untuk proses pemilihan alternatif terbaik dan ditentukan alternatif terbaik yang akan dipilih untuk kelangsungan proyek peningkatan sistem pencucian kompresor agar laju penurunan produksi akan lebih kecil dari 63 kW per hari dan rentang
offline wash lebih besar dari 77 hari. Sehingga pada akhirnya tingkat kehandalan, ketersediaan
dan produksi PT XYZ dapat meningkat.
METODE
Dalam penelitian ini digunakan metode integrasi FGD, AHP dan PROMETHEE seperti yang terlihat pada Gambar 4.
C (PROMETHEE)
Penentuan Fungsi Preferensi dan Parameternya
Perhitungan nilai indeks preferensi
Perhitungan nilai leaving flow, entering flow dan net flow pada masing-masing alternatif solusi
Alternatif Solusi Terbaik Diperoleh Perumusan Masalah
A (FGD)
Penentuan Kriteria dan Sub-Kriteria
Kriteria dan Sub-Kriteria Diperoleh
Perbandingan Berpasangan (Kriteria dan Sub-Kriteria)
Perhitungan Bobot Kriteria dan Sub-Kriteria
Pengecekan Konsistensi
CR < 10% ?
Penentuan Bobot untuk Tiap Kriteria Pemilihan Pembentukan Model Hirarki
B (AHP)
Bobot Kriteria dan Sub-Kriteria
Diperoleh YES
Selesai
Mulai Data Alternatif
Solusi
No
Tujuan : Menghasilkan kriteria dan sub-kriteria pemilihan
Tujuan : Memberi bobot kriteria dan sub-kriteria pemilihan
Tujuan : Memberikan alternatif solusi terbaik untuk permasalahan yang
dibahas
Gambar 4. Model Integrasi FGD, AHP, dan PROMETHEE
Penentuan Kriteria dan Sub-Kriteria dengan Metode FGD
Di Bagian A, proses diawali dengan perumusan masalah, dimana dijelaskan latar belakangnya, dan sejauh mana proyek sudah berlangsung, termasuk status bahwa alternatif
solusi yang sudah dikembangkan untuk masalah tersebut. Untuk menentukan alternatif solusi terbaik, maka diperlukan kriteria dan atau sub-kriteria. Penentuan kriteria dan sub-kriteria
dengan menggunakan metode FGD (Focus Group Discussion).
FGD adalah diskusi yang terstruktur dengan sejumlah orang dalam suatu grup,
dijalankan oleh seorang fasilitator untuk menghasilkan data kualitatif terhadap suatu masalah
dengan menggunakan sejumlah pertanyaan terbuka (Masadeh A, 2012). Proses FGD diawali dengan persiapan dan penetapan aturan (Campbell, 2008). Selanjutnya dilakukan perkenalan peserta, dilanjutkan dengan topik pembukaan berupa bahasan yang umum mengenai isu yang akan dibahas dan setelah suasana cukup aktif, masuk ke diskusi mengenai topik utama. Interaksi antara peserta FGD diharapkan karena akan memberikan hasil diskusi yang berkualitas (Liamputtong, 2011).
Hasil dari FGD ini adalah kriteria dan sub-kriteria yang akan membantu pemilihan alternatif solusi untuk proyek peningkatan sistem pencucian kompresor pada turbin gas di PT XYZ. Hasil ini akan menjadi masukan untuk proses selanjutnya di bagian B.
Penentuan Bobot Kriteria dan Sub-Kriteria dengan Metode AHP
Proses pengambilan keputusan dipenuhi keterbatasan sehingga keputusan diarahkan
pada konsep keputusan dengan rasional terbatas (bounded rationality). Salah satu representasi
model dan teknik keputusan yang mendasarkan pada konsep rasional terbatas ini adalah
metode MCDM (Multicriteria Decision Making) (Ciptomulyono, 2010). MCDM adalah suatu
metode pengambilan keputusan untuk menetapkan pilihan terbaik dari sejumlah pilihan berdasarkan beberapa kriteria tertentu (Tzeng & Huang, 2011).
Metode AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan salah satu bagian dari metode
MCDM yang dipopulerkan oleh Saaty pada pertengahan tahun 1970. Dalam menyelesaikan masalah MCDM, metode AHP digunakan untuk memperoleh prioritas berdasarkan penilaian
pembuat keputusan dengan teknik perbandingan berpasangan (pair wise comparison) yang
mewakili kemampuan hakiki manusia untuk menyusun persepsinya secara bertingkat, membandingkan sepasang solusi setara terhadap kriteria yang diberikan (Ciptomulyono, 2008).
Dalam penelitian ini, pembobotan kriteria dan sub-kriteria dilakukan dengan bantuan
metode AHP dan digunakan perangkat lunak Super Decision untuk membantu proses
perhitungan AHP. Metodologi dalam mengimplementasikan metode AHP dilakukan ringkas sebagai berikut (Saaty, 2008):
1. Buat struktur model keputusan.
2. Bentuk matriks perbandingan berpasangan.
3. Gunakan prioritas dari perbandingan untuk memberi bobot prioritas pada level
dibawahnya, lakukan untuk masing-masing elemen.
4. Pastikan konsistensi dari perbandingan (CR) < 0,1 dan ulangi jika tidak tercapai.
Hasil perhitungan bobot kriteria dan sub-kriteria dapat digunakan di bagian C.
Penentuan Alternatif Solusi Terbaik dengan Metode AHP PROMETHEE
Setelah diketahui pembobotan masing-masing kriteria dan sub-kriteria, selanjutnya dilakukan perangkingan pilihan yang ada dengan menggunakan metode PROMETHEE II. Metode PROMETHEE dikembangkan oleh Professor Jean-Pierre Brans sejak tahun 1982 (Deshmukh, 2013). Metode PROMETHEE merupakan suatu metode penentuan urutan (prioritas) dalam analisis multikriteria. Dalam penelitian ini, digunakan perangkat lunak
Metodologi dalam mengimplementasikan PROMETHEE (Ciptomulyono & Adiprama, 2012) dilakukan sebagai berikut:
1. Pengumpulan data nilai/ukuran relatif kriteria
2. Pemilihan dan penentuan tipe fungsi preferensi kriteria beserta parameternya
3. Perhitungan nilai indeks preferensi
4. Perhitungan nilai leaving flow, entering flow, dan net flow pada masing-masing alternatif
5. Menentukan ranking pada Promethee I (Partial Ranking) dan Promethee II (Complete
Ranking).
Menurut catatan di berbagai jurnal ilmiah, penelitian yang dilakukan saat ini belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. Penelitian yang dilakukan kebanyakan fokus pada kinerja sistem pencucian kompresor seperti yang dibahas oleh (Ogbonnaya, 2011), (Stadler, 2000) atau mengenai kinerja kompresor seperti yang dibahas oleh (EPRI, 2005) dan (Kurz & Burn, 2011). Sejauh ini, belum terdapat penelitian yang mengarah ke proses pemilihan sistem pencucian kompresor. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan kepada pemilihan usulan alternatif pada proyek peningkatan sistem pencucian kompresor dengan menggunakan kombinasi metode MCDM, yaitu AHP dan PROMETHEE. Sementara untuk membantu proses penentuan kriteria, perbandingan berpasangan dan penentuan preferensi serta evaluasinya, digunakan metode FGD.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Kriteria dan Sub-Kriteria
Tahapan dalam proses penentuan kriteria dan sub-kriteria pemilihan sistem pencucian kompresor menggunakan metode FGD. Hal ini untuk lebih mempertajam kriteria karena bisa saling dikoreksi atau diperkaya ketika diskusi dibandingkan dengan penggunaan kuisioner. Peserta FGD ini terdiri dari 7 orang termasuk seorang fasilitator dan seorang pengamat. Tim yang menjadi peserta FGD ini adalah perwakilan dari beragam tim, yaitu tim rekayasa dan
tim proyek, tim konstruksi, tim operasi, tim perawatan dan tim supply chain. Tim ini juga
melakukan proses FGD untuk proses perbandingan berpasangan pada AHP dan penentuan fungsi preferensi, parameter dan evaluasi pada proses PROMETHEE. Setelah berlangsung selama 1,5 jam, akhirnya diperoleh kriteria dan sub kriteria pemilihan untuk proyek peningkatan sistem pencucian kompresor seperti yang pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Pemilihan untuk Proyek Peningkatan Sistem Pencucian Kompresor Kriteria Kode kriteria Sub-Kriteria Kode Sub- kriteria Desain dan Konstruksi A
Pendekatan Desain A.1
Keterlibatan Tenaga Kerja Sendiri A.2
Waktu Proyek A.3
Manajemen Proyek B Kinerja Pemasok B.1 Biaya Modal B.2 Operasi C Kehandalan C.1
Kemudahan Operasi dan Perawatan C.2
Biaya Operasi C.3
Penentuan Bobot Kriteria dan Sub-Kriteria
Pembobotan kriteria dan sub-kriteria dimulai dengan membuat struktur model hirarki
Best Water Compressor Wash Improvement Alternative
Design and Construction Project Management Operational
Internal Resource Involvement Project Timeline Supplier
Performance CAPEX Cost
Operability & Maintainability
Reliability OPEX Cost
Design Approach
Alternative 5 Alternative 1 Alternative 2 Alternative 3 Alternative 4
`
Gambar 5. Struktur Model Hirarki AHP
Kemudian proses pembobotan ini dimulai dengan melakukan perbandingan berpasangan penentuan bobot kriteria seperti yang terlihat di Gambar 6.
Gambar 6. Perbandingan Berpasangan Penentuan Bobot Kriteria
Karena Consistency Ratio (CR) = 0.05156, CR < 0.1, matriks perbandingan
berpasangan penentuan bobot antar kriteria konsisten. Sehingga proses dapat dilanjutkan dengan proses selanjutnya yaitu proses perbandingan berpasangan untuk penentuan bobot kriteria. Proses perbandingan berpasangan yang sama dilakukan terhadap semua
sub-kriteria di masing-masing sub-kriteria. Dengan data semua Consistency Ratio (CR) selalu lebih
kecil dari 0.1, hasilnya diperoleh dan diringkas di Tabel 2.
Tabel 2. Bobot kriteria dan Sub-kriteria Hasil Perbandingan Berpasangan
Kriteria Bobot Sub-Kriteria Bobot
Lokal Global Rangking
Desain dan
Konstruksi A 0.5278
Pendekatan Desain A.1 0.5397 0.2848 1
Keterlibatan Tenaga
Kerja Sendiri A.2 0.1634 0.0863 5
Waktu Proyek A.3 0.2970 0.1567 3
Manajemen Proyek B 0.1397 Kinerja Pemasok B.1 0.7500 0.1047 4 Biaya Modal B.2 0.2500 0.0349 8 Operasi C 0.3325 Kehandalan C.1 0.6370 0.2118 2 Kemudahan Operasi dan Perawatan C.2 0.1047 0.0348 7 Biaya Operasi C.3 0.2583 0.0859 6
Dari hasil perhitungan dengan metode AHP, diperoleh bahwa 3 besar nilai bobot yang paling tinggi adalah untuk sub-kriteria pendekatan desain, kehandalan dan waktu proyek. Hal ini sangat wajar karena alasan adanya proyek ini salah satunya adalah karena ketidaksempurnaan desain dari sistem pencucian kompresor sebelumnya dan juga keinginan untuk memiliki sistem yang handal. Waktu proyek masuk dalam 3 besar karena waktu penyelesaian merupakan salah satu yang diutamakan dalam proyek.
Peringkat keempat adakah kinerja pemasok. Ini wajar karena beberapa pengalaman di PT XYZ menunjukkan kinerja pemasok yang tidak baik menghambat jalannya proyek. Hal yang menarik adalah sub-kriteria keterlibatan tenaga kerja sendiri masuk ke dalam lima besar kriteria yang berpengaruh. Berdasarkan pengalaman, keterlibatan tenaga kerja sendiri dapat menghambat jalannya proyek terutama ketika fase konstruksi. Pemasok atau kontraktor seharusnya sudah dapat melakukan pekerjaan dengan tenaga kerjanya sendiri tanpa melibatkan tenaga kerja dari PT XYZ terlalu berlebihan.
Peringkat keenam adalah biaya operasi, ini dianggap lebih penting dari biaya modal yang menduduki peringkat kedelapan. Hal ini wajar karena biaya operasi walaupun relatif kecil, jika terakumulasi akan menjadi besar. Peringkat ketujuh adalah kemudahan operasi dan perawatan. Sub-kriteria ini dianggap tidak cukup penting kemungkinan karena walaupun ada kesulitan, dengan adanya rencana solusi seperti pelatihan dapat mengurangi kesulitan tersebut.
Penentuan Alternatif Solusi Terbaik dengan Metode PROMETHEE
Setelah diketahui bobot sub-kriteria, selanjutnya dilakukan pemilihan alternatif solusi terbaik dengan menggunakan metode PROMETHEE II. Proses pemilihan alternatif solusi terbaik dimulai dengan pemilihan dan penentuan tipe preferensi kriteria dan paramaternya. Proses penentuan fungsi preferensi dan parameternya dilakukan dengan menggunakan FGD
juga. Nilai preference threshold dan indifference threshold ditentukan berdasarkan kondisi
proyek dan juga kondisi pilihan alternatif solusi yang ada. Data hasil FGD tim ini terkait fungsi preferensi dan parameternya dapat seperti pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Fungsi Preferensi dan Parameternya Sub-Kriteria Bobot Min/
Max Fungsi Preferensi Preference Threshold (p) Indifference Threshold (q)
Pendekatan Desain 0.28485 Max Level 1 3
Keterlibatan Tenaga
Kerja Sendiri 0.08626 Min Usual - -
Waktu Proyek 0.15675 Min V-Shape 4 -
Kinerja Pemasok 0.10474 Max Level 1 3
Biaya Modal 0.03491 Min V-Shape 1000 -
Kehandalan 0.21181 Max Usual - -
Kemudahan Operasi
dan Perawatan 0.03482 Max Usual - -
Biaya Operasi 0.08588 Min V-Shape 45 -
Setelah diperoleh fungsi preferensi dan parameternya, kemudian FGD dilanjutkan dengan pelaksanaan evaluasi perbandingan masing-masing alternatif terhadap masing-masing kriteria. Data hasil evaluasi dan data fungsi preferensi serta parameternya dimasukkan langsung ke dalam perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan perhitungan menggunakan metode PROMETHEE seperti yang terlihat di Gambar 7. Perhitungan yang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ini adalah perhitungan nilai indeks preferensi,
sehingga nanti bisa diperoleh nilai leaving flow, entering flow dan net. Dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, diperoleh hasil perangkingan berdasarkan perhitungan PROMETHEE I dan PROMETHEE II seperti pada Gambar 8.
Gambar 7. Data Hasil Evaluasi Beserta Data Fungsi Preferensi dan Parameternya dalam Perangkat Lunak
Gambar 8. Hasil Perhitungan PROMETHEE I dan II dalam Bentuk Grafik
Dari hasil perhitungan net flow diperoleh bahwa alternatif 4 adalah alternatif terbaik,
diikuti alternatif 5, alternatif 3 kemudian alternatif 1 dan terakhir alternatif 2. Dengan kondisi seperti ini, maka alternatif 4 adalah alternatif solusi terbaik untuk proyek peningkatan sistem pencucian kompresor pada turbin gas di PT XYZ.
Analisa sensitivitas dilakukan pada kriteria-kriteria pemilihan dengan menggunakan perangkat lunak PROMETHEE dapat diringkas seperti pada Tabel 4.
Tabel 4. Ringkasan dan Pengolahan Data Analisa Sensitivitas Kriteria Bobot Awal Rentang Space to Left Space to Right Rentang Min Max Pendekatan Desain 28.485% 7.59% 34.53% 20.89% 6.05% 26.94% Keterlibatan Tenaga Kerja Sendiri 8.626% 0.00% 10.41% 8.63% 1.78% 10.41% Waktu Proyek 15.675% 14.46% 30.24% 1.21% 14.57% 15.78% Kinerja Pemasok 10.474% 7.63% 31.01% 2.84% 20.54% 23.38% Biaya Modal 3.491% 1.40% 15.61% 2.09% 12.12% 14.21% Kehandalan 21.181% 5.08% 22.96% 16.10% 1.78% 17.88%
Kemudahan Operasi dan
Perawatan 3.482% 2.02% 4.96% 1.46% 1.48% 2.94%
Biaya Operasi 8.588% 6.06% 22.70% 2.53% 14.11% 16.64%
Jika dilihat dari data di atas dan hasil simulasi dengan menggunakan perangkat lunak
Visual PROMETHEE Academic dan diasumsikan bahwa batas sensitif perubahan bobot
adalah 5%, maka sub-kriteria pendekatan desain, keterlibatan tenaga kerja sendiri dan kinerja pemasok tidak sensitif. Sementara sub-kriteria lain termasuk kategori sensitif terhadap perubahan akan merubah alternatif terbaik jika terjadi perubahan bobot lebih dari 2.6%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat 8 sub-kriteria yang terbagi dalam 3 kriteria utama yang mempengaruhi proses
pemilihan alternatif solusi terbaik sistem pencucian kompresor pada turbin gas ini. Kriteria pertama adalah desain & kontruksi yang terdapat sub-kriteria pendekatan desain, keterlibatan tenaga kerja sendiri, dan waktu proyek. Kriteria kedua adalah manajemen proyek yang terdapat sub-kriteria kinerja pemasok dan biaya modal. Kriteria ketiga adalah operasi yang terdapat sub-kriteria kehandalan, kemudahan operasi dan perawatan dan biaya operasi.
2. Urutan bobot kriteria yang diperoleh dari perhitungan metode AHP adalah : desain &
kontruksi (0.53), operasi (0.33) dan manajemen proyek (0.14). Dan urutan bobot sub-kriteria yang dijadikan data masukan untuk metode PROMETHEE adalah pendekatan desain (0.28), kehandalan (0.21), waktu proyek (0.16), kinerja pemasok (0.10), keterlibatan tenaga kerja sendiri (0.09), biaya operasi (0.08), kemudahan operasi dan perawatan (0.03) dan biaya modal (0.03).
3. Alternatif solusi terbaik untuk proyek peningkatan sistem pencucian kompresor pada
turbin gas di PT XYZ adalah alternatif 4 (pilihan kombinasi), dimana kedua sistem
online dan offlinewash diganti, dengan jenis non-clasify, dipasang pada skid permanen,
satu skid dapat melayani 3 unit, dengan tipe kontrak EPC dan kontraktor yang akan
melakukan panawaran adalah PT BBB.
Adapun saran-saran yang diberikan untuk perbaikan lebih lanjut:
1. Untuk mempersingkat proses, proses pembentukan kriteria dapat dilakukan hanya
dalam satu level saja.
2. Jika dapat dibuktikan bahwa ada kemungkinan ketergantungan satu sub-kriteria dengan
sub-kriteria lainnya, proses penentuan bobot kriteria dan sub-kriteria dapat menggunakan metode ANP.
3. Sub-kriteria kinerja pemasok dapat lebih dikembangkan lagi sehingga menjadi beberapa sub-kriteria lain karena data yang dilihat untuk proses penilaiannya cukup kompleks.
DAFTAR PUSTAKA
Adiprama, T. R., & Ciptomulyono, U. (2012). Audit Energi dengan pendekatan Metode MCDM-PROMETHEE untuk Konservasi serta Efisiensi Listrik di Rumah Sakit Haji
Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 1, A465-A469.
Boyce, P. M. (2012). Gas Turbine Engineering Handbook, 4th Edition. Oxford, UK, Texas,
USA: Butterworth-Heinemann Publishing Company.
Campbell, R. (2008). Guide to Focus Group Discussions. Washington: United State Agency
for International Development.
Ciptomulyono, U. (2008). Fuzzy Goal Programming Approach for Deriving Priority Weights
in the Analytical Hierarchy Process (AHP) Method. Journal of Applied Sciences
Research, 4(2), 171-177.
Ciptomulyono, U. (2010, January 20). Paradigma Pengambilan Keputusan Multikriteria Dalam Perspektif Pengembangan Proyek dan Industri Berwawasan Lingkungan.
Pidato Pengukuhan Guru Besar FTI ITS. Surabaya, Indonesia.
Deshmukh, S. (2013, November). Preference Ranking Organization Method of Enrichment
Evaluation (Promethee). International Journal of Engineering Science Invention,
2(11), 28-34.
EPRI. (2005). Axial Compressor Performance Maintenance Guide Update. Palo Alto, CA:
EPRI.
Kurz, R., & Burn, K. (2011, Junr 6-11). Fouling Mechanism in Axial Compressor. ASME
Turbo Expo 2011.
Liamputtong, P. (2011). Focus Group Methodology: Principle and Practice (1st ed.).
London: SAGE Publication Inc.
Masadeh A, M. (2012). Focus Group: Review and Practices. International Journal of Applied
Science and Technology, 2(10), 63-68.
Meher-Homji, B. C., & Bromley, A. (2004). Gas Turbine Axial Compressor Fouling and
Washing. 33th Turbomachinary Symposium (pp. 163-192). Houston: Texas A&M
University. Retrieved April 17, 2014, from http://turbolab.tamu.edu/proc/turboproc/T33/t33-18.pdf
Molloy, J. (2012). Combine Cycle Journal. Retrieved April 17, 2015, from
http://www.ccj-online.com/4q-2012/gas-turbine-compressors/
Ogbonnaya, E. A. (2011, May). Gas Turbine Performance Optimization Using Online Water
Wash Technique. Scientific Research, 3, 500-507. doi:10.4236/eng.2011.35058
Saaty, T. L. (2008). Decision making With the Analytic Hierarchy Process. Int. J. Services,
1(1), 83-98.
Stadler, J.-P. (2000). Gas Turbine Compressor Washing State of Art: Field Experience.
Journal of Engineering for Gas Turbines and Power, 123(2), 363-370.
doi:10.1115/1.1361108
Tzeng, G.-H., & Huang, J.-J. (2011). Multiple Attribute Decision Making: Methods and