• Tidak ada hasil yang ditemukan

KADAR PROTEIN, LEMAK, NILAI ph DAN MUTU HEDONIK KEJU COTTAGE DENGAN BAHAN DASAR SUSU KAMBING DAN SUSU SAPI SKIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KADAR PROTEIN, LEMAK, NILAI ph DAN MUTU HEDONIK KEJU COTTAGE DENGAN BAHAN DASAR SUSU KAMBING DAN SUSU SAPI SKIM"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KADAR PROTEIN, LEMAK, NILAI pH DAN MUTU HEDONIK KEJU

“COTTAGE” DENGAN BAHAN DASAR SUSU KAMBING DAN

SUSU SAPI SKIM

ANANG M. LEGOWO, NURWANTORO, A. N. ALBAARRI, RENI CHAIRANI dan CONNIDA PURBASARI

Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang

ABSTRACT

Protein Fat Content, p H Value And Hedonic Quality of Cottage Cheese Using Oat Milk and Skim Cows as a Basic Materials Utilization of goat milk as processed food is still limited. The study was conducted to evaluate the protein content, fat content, pH value, and hedonic quality of cottage cheese prepared from the mixture of goat milk and skim cow’s milk. Results indicated that the proportion of goat milk and skim cow’s milk significantly influenced the fat content, pH value, and hedonic quality of cottage cheese (P<0.05), but not significantly influenced the protein content of 47.35-55.09% (P>0.05). The cottage cheese from 100% of skim cow’s milk had low fat content of 1.30% with yellowish white color and normal aroma. The fat content increased as the proportion of goat milk in the mixture of goat milk and skim cow’s milk increasing. The cheese from 100% goat milk had the highest fat content of 36.22% slight yellowish white color and goat aroma. The highest score of texture was found on cheese prepared by the mixture of 75% goat milk and 25% skim cow’s milk, although this cheese had a slight goat aroma.

Key words: Cottage cheese, goat milk, cow’s milk skim, hedonic quality

PENDAHULUAN

Susu dapat diolah menjadi berbagai produk olahan susu antara lain sebagai keju. Produk keju dibuat dengan cara mengkoagulasikan kasein susu dengan menggunakan enzim atau dengan meningkatkan keasaman susu melalui fermentasi asam laktat atau dengan kombinasi kedua teknik tersebut. Salah satu jenis keju yang tergolong sebagai keju bertekstur lunak adalah keju “cottage”.

Keju “cottage” pada umumnya dibuat dengan mengasamkan susu sapi skim, rekonstitusi konsentrat susu skim atau susu kering tanpa lemak dengan menggunakan starter atau starter d an rennet. Pembuatan keju “cottage” dari susu kambing belum lazim di Indonesia, karena susu kambing mempunyai aroma spesifik yang sangat tajam. Pembuatan keju dengan kombinasi antara susu sapi dan susu kambing kemungkinan akan mempengaruhi komposisi dan sifat-sifat keju yang dihasilkan serta dapat mengurangi aroma tajam dari susu kambing. Pada penelitian ini diuji pengaruh kombinasi susu sapi dan susu kambing sebagai bahan dasar terhadap kadar protein, kadar lemak, nilai pH dan sifat organoleptik keju “cottage”.

MATERI DAN METODE

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu sapi skim, susu kambing segar, rennet domba,

(NaCl), serta beberapa bahan kimia. Bahan untuk pembuatan kultur kerja adalah de Man Rogosa Sharpe (MRS) broth, jus tomat, pepton dan gliserol.

Ekstraksi rennet

Rennet di ekstrak dari abomasum anak domba yang berumur 5 bulan. Abomasum dipotong kecil - kecil, kemudian ditambahkan bufer asetat sebanyak kurang lebih 5 kali bobot abomasum. Campuran tersebut diaduk selama 12 jam pada kondisi dingin. Setelah diaduk kemudian dilakukan penyaringan dengan kain kasa steril. Rennet yang dihasilkan disimpan dalam “freezer”.

Pembuatan kultur stok bakteri Streptococcus lactis

Isolat starter dari amp ul ditetesi NaCl fisiologis (0,9%) dan dilakukan homogenisasi. Selanjutnya starter dimasukkan dalam MRS broth yang sudah ditambah dengan 15% jus tomat steril, kemudian diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 370C. Setelah diinkubasi, starter disentrifus (3500 rpm, 10 menit). Ditambah dengan pepton 0,1% sebanyak 3-5 ml, dan disentrifus lagi untuk memisahkan cairannya. Selanjutnya padatan starter ditambah gliserol 20% dan susu skim 10% (1:1) dan starter yang sudah jadi dimasukkan dalam eppendorf.

(2)

_____________________________________________________________________________________________

Pembuatan kultur kerja

Stok dari eppendorf sebanyak 1 ose dimasukkan dalam 5 ml MRS broth kemudian diinkubasi 370C selama 48 jam. Setelah inkubasi, campuran disentrifus (3500 rpm, 10 menit). MRS broth dibuang kemudian ditambah susu skim cair 10% sebanyak 5 ml dan diaduk dengan vortek kurang lebih selama 30 detik. Setelah tercampur dimasukkan dalam MRS broth 5 ml, kemudian diinkubasi 8 jam dengan suhu 370C dan kultur kerja siap digunakan.

Pembuatan keju “Cottage”

Pembuatan keju “Cottage” dengan bahan dasar kombinasi susu sapi dan susu kambing terdiri dari 5 perlakuan, yaitu:

T0 (100% susu sapi skim dan 0% susu kambing), T1 (75% susu sapi skim dan 25% susu kambing), T2 (50% susu sapi skim dan 50% susu kambing), T3 (25% susu sapi skim dan 75% susu kambing), T4 (100% susu kambing).

Prinsip pembuatan keju “Cottage” menggunakan metode modifikasi menurut MUCHTADI dan WARDANI (1996). Campuran susu sesuai dengan masing-masing perlakuan diaduk merata dan dipasteurisasi (650C, 30 menit), kemudian didinginkan hingga suhu 370C, ditambah CaCl2 0,2% (b/b), dan akhirnya ditambah

kultur kerja 1% (v/v). setelah didiamkan 30 menit, campuran tersebut diberi rennet 0,02% (v/v) dan

diinkubasi selama 18 jam pada suhu 370C.

Jendalan/dadih yang terbentuk dimasak (650C, 10 menit), sambil ditambah garam 1% (b/b) dan selanjutnya disaring sehingga diperoleh keju “Cottage”.

Pengujian variabel dan analisis data

Variabel yang diuji meliputi kadar lemak dan protein (SUDARMADJI et al., 1997), nilai pH, serta sifat organoleptik untuk mutu hedonik warna, aroma, dan tekstur keju (KARTIKA et al., 1988). Data dianalisis

ragam dan diuji lanjut dengan Duncan untuk kadar lemak, kadar protein, dan pH (SRIGANDONO, 1987), serta uji Beda Nyata Jujur untuk mutu hedonik (KARTIKAet al., 1988)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kombinasi Susu Kambing dan Susu Sapi pada Pembuatan Keju “Cottage” Terhadap Kadar Protein Keju “Cottage”

Kadar protein keju cottage menunjukkan adanya perbedaan yang tidak nyata, hal ini dapat diartikan bahwa perlakuan kombinasi susu kambing dan susu sapi tidak berpengaruh secara nyata pada kadar protein keju “cottage”. Hal ini disebabkan jumlah “rennet” dan Streptococcus lactis yang ditambahkan sama pada setiap perlakuan. Kadar protein keju dapat berbeda-beda tergantung antara lain pada jumlah rennet serta macam dan jumlah starter (FOX, 1989).

Koagulasi dadih (pendadihan), dapat menyebabkan terpisahnya zat gizi pada susu; air dan bahan larut air membentuk air dadih (whey), sedangkan protein serta lemak (bahan padat susu) membentuk dadih. Pendadihan selama 18 jam, memberi kesempatan pada

Streptococcus lactis dan rennet untuk

mengkoagulasikan protein, sehingga kadar protein keju cottage yang dihasilkan untuk setiap perlakuan kombinasi susu tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.

Pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi pada pembuatan keju “cottage” terhadap kadar lemak keju “cottage

Tabel 1 memperlihatkan bahwa rerata kadar lemak terendah pada perlakuan T0 dan terjadi peningkatan rerata pada perlakuan T1, T2, T3 dan T4. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi dengan rasio yang berbeda terjadi perbedaan kadar lemak pada keju “cottage” yang dihasilkan.

Tabel 1. Rerata nilai pH, kadar protein, kadar lemak, keju “cottage” dengan perlakuan kombinasi susu kambing dan susu sapi Perlakuan Rerata nilai pH Rerata kadar protein (%BK) Rerata kadar lemak (% BK)

T0 4,27a 55,09a 1,30a

T1 4,77b 50,27b 16,25b

T2 4,73bc 50,83bc 21,32bc

T3 4,63cd 47,35cd 29,76cd

T4 4,95d 48, 61d 36,22d

(3)

Menurut TRESSLER dan SULTAN (1975) kadar lemak keju “cottage” berkisar antara 0,4–19%, sedangkan kadar lemak berdasarkan hasil yang didapat dari kombinasi susu kambing dan susu sapi untuk kadar lemak terendah (T0) 1,30% BK atau 0,31% dan (T1) 16,25% BK atau 6,13%, sedangkan untuk T2 sampai T4 berkisar antara 21,32–36,22% BK atau 10,22–14,01%. Kadar lemak T0 dibawah kadar lemak menurut TRESSLER dan SULTAN (1975) yaitu berkisar antara 0,4–19%, sedangkan untuk T1 sampai T4 masih dalam kisaran menurut TRESSLER dan SULTAN (1975).

Perbedaan kadar lemak semakin meningkat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain bahan baku yang digunakan. T0 (100% susu skim) dengan kadar lemak dari hasil analisis yaitu 3,10% BK atau 0,40% sedangka n untuk perlakuan selanjutnya dengan kombinasi susu kambing yang mempunyai kadar lemak 52,25% BK atau 7,77%. Kadar lemak susu yang digunakan relatif lebih tinggi dari kadar lemak untuk susu skim menurut DAULAY (1991) 0,1–0,2% dan kadar

lemak susu skim menurut DAVENDRA dan BURNS

(1994) sebesar 4,21%.

Perbedaan kadar lemak susu kambing dan susu sapi (skim) relatif besar sehingga kombinasi dengan rasio yang berbeda akan menghasilkan kadar lemak yang berbeda, terlihat dengan hasil kadar lemak T0 yaitu 1,30% BK atau 0,31% sedangkan T1 mempunyai kadar lemak 16,25% BK atau 6,31% dan semakin meningkat dengan semakin banyak susu kambing yang ditambahkan. Menurut DAULAY (1991) susu sebagai bahan dasar keju perlu distandarisasi karena dadih terbentuk terutama oleh lemak, protein dan air maka rasio antara protein (khususnya komplek kasein) dengan lemak merupakan hal yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa susu sebagai bahan baku merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar lemak.

Kombinasi dengan rasio yang berbeda mempunyai perbedaan kadar lemak pada setiap perlakuan dengan asumsi kadar lemak tinggi akan dihasilkan dari kombinasi susu kambing yang lebih besar proporsinya. Kadar lemak pada keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi mempunyai perbedaan yang nyata terutama pada T0 dan T1, sedangkan pada T2, T3 dan T4 tidak terdapat perbedaan yang besar.

Pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi pada pembuatan keju “cottage” terhadap pH keju “cottage”

Hasil (Tabel 1) menunjukkan bahwa nilai pH awal susu sapi skim 6,6 dan nilai pH susu kambing 6,7 kemudian menurun menjadi kisaran 4-5 pada produk akhir keju “cottage”. Hal ini menurut DEMAN (1989) disebabkan karena proses pemanasan dapat mengubah kesetimbangan garam dalam susu sehingga menurunkan nilai pH, sedangkan “rennet” dan Streptococcus lactis yang ditambahkan dapat mengendalikan produksi asam

lakatat dalam susu dan “curd”. SCOTT (1981)

berpendapat bahwa fase pertumbuhan Streptococcus lactis sangat penting dalam penurunan nilai pH. Pertumbuhan Streptococcus lactis akan lambat dalam memproduksi asam laktat pada tahapan awal pembuatan keju “cottage” tetapi kemudian kecepatan memproduksi asam laktat akan bertambah dengan adanya “rennet”.

Perlakuan kombinasi susu kambing dan susu sapi skim dapat menyebabkan perbedaan komposisi zat gizi (laktosa, protein, lemak, vitamin, dan mineral) pada setiap perlakuan karena terjadinya pencampuran. Jumlah laktosa, protein dan komponen bahan padat lainnya dapat mempengaruhi nilai pH pada setiap perlakuan. Perlakuan T0 mempunyai nilai pH 4,27, lebih rendah dibandingkan perlakuan T1, T2, T3, dan T4. Hal ini disebabkan kandungan laktosa susu sapi skim lebih besar dibandingkan susu kambing sebingga Streptococcus lactis yang digunakan sebagai “starter culture” menghasilkan jumlah asam laktat lebih tinggi dan dapat menyebabkan nilai pH keju “cottage” pada perlakuan To lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat BUCKLE et al. (1987) bahwa bakteri asam laktat mampu menurunkan nilai pH.

Pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi terhadap warna keju “cottage

Penilaian mutu hedonik terhadap warna keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi menggunakan skor terendah 1 (putih) dan skor tertinggi 5 (putih amat sangat kekuningan ). Data hasil penelitian terhadap warna susu kambing dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rerata skor dan kriteria warna keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi

Perlakuan Rerata skor warna Kriteria warna

T0 3,16a Putih kekuningan – putih sangat kekuningan

T1 2,24b Putih sedikit kekuningan – putih kekuningan

T2 2,08b Putih sedikit kekuningan – putih kekuningan

T3 1,88b Putih - putih sedikit kekuningan

T4 1,56c Putih - putih sedikit kekuningan

(4)

_____________________________________________________________________________________________

Warna keju dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Pada T4 mempunyai warna paling putih bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain hal ini disebabkan karena T4 menggunakan 100% susu kambing. Menurut SOEPARNO (1992) susu kambing hampir selalu berwarna putih karena kandungan pigmen karotennya hanya sedikit. Globula lemak susu kambing lebih kecil (2 mikron) dari susu sapi (BLAKELY dan BADE, 1998) ditambahkan oleh RAHMAN et al. (1992) globula lemak yang kecil tidak menyerap sinar dengan baik seperti halnya pada globula lemak yang lebih besar. Globula lemak yang kecil akan merefleksikan sinar dengan baik yang akan menyebabkan penampakan warna lebih putih. T3 hampir mempunyai warna seperti T4 yaitu putih sampai putih sedikit kekuningan hal ini disebabkan masih dominannya susu kambing dibandingkan dengan susu sapi.

T2 dan T1 mempunyai warna putih sedikit kekuningan sampai putih kekuningan, warna kuning berasal dari susu sapi yang mengandung karoten yang lebih dominan dibandingkan susu kambing. T0 mempunyai warna paling putih sangat kekuningan dibanding yang lain karena tidak ada kombinasi susu kambing sehingga karoten yang ada pada susu sapi tampak jelas. RAHMAN et al. (1992) menyatakan bahwa warna keju dipengaruhi oleh warna susu yang digunakan, ditambahkan bahwa keju yang dibuat dari susu sapi tanpa pewarna akan menghasilkan keju yang berwarna putih kekuningan. Warna kuning tersebut berasal dari pigmen karoten yang larut di dalam lemak (BUCKLEet al., 1987).

Kombinasi susu kambing dan susu sapi pada rasio yang berbeda ternyata berpengaruh terhadap warna keju “cottage” yang dihasilkan. Pada T3 hampir mempunyai warna seperti T4 yaitu putih sampai putih sedikit kekuningan hal ini disebabkan masih dominannya susu kambing dibandingkan dengan susu sapi, sedangkan T2 dan T1 mempunyai warna putih sedikit kekuningan sampai putih kekuningan sedangkan T0 mempunyai warna putih sangat kekuningan dibanding yang lain karena tidak ada kombinasi susu kambing.

Pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi terhadap aroma keju “cottage

Penilaian mutu hedonik terhadap aroma keju “cottage” dengan kisaran nilai tertinggi 5 (amat sangat “prengus”) dan terendah 1 (tidak “prengus”). Rata – rata penilaian panelis terhadap keju “cottage” menunjukan hasil pada Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa rerata penilaian panelis terhadap aroma “prengus” keju “cottage” mulai dari terendah T0, T3, T2, T1 dan T4; 2,21 (sedikit tidak “prengus” - “prengus”); 3,21; 3,28; 3,44; 3,72 (“prengus” – sangat “prengus”). Aroma keju ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bahan baku dan tingkat kombinasinya. Bahan baku yang digunakan adalah susu sapi dan susu kambing dengan tingkat kombinasi yang berbeda ternyata menghasilkan aroma yang berbeda pada keju “cottage” yang dihasilkan. Menurut DAULAY (1991) aroma keju muncul terutama disebabkan oleh komponen volatile yang terbentuk selama proses pemeraman. Komponen – komponen tersebut terdiri dari ester, asam lemak, nitrogen sulfida dan ammonia dalam hal ini aldehid, keton dan alkohol merupakan senyawa yang penting.

Perbedaan nyata terjadi pada T0 sedangkan T1 sampai dengan T4 terdapat persamaan yaitu “prengus”. Pada perlakuan T0 (tanpa kombinasi susu kambing) menghasilkan aroma sedikit tidak “prengus” bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain dengan kombinasi susu kambing. Hal ini disebabkan karena kandungan lemak pada susu yang digunakan rendah, sedangkan pada perlakuan T4 dihasilkan rerata tertinggi yang menunjukkan bahwa aroma “prengus” yang dihasilkan paling menyengat bila dibandingkan dengan

yang lain. Menurut DAULAY (1991) lemak susu

merupakan salah satu komponen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan cita rasa, rasa, aroma dan tekstur dari keju.

Aroma “prengus” pada keju “cottage” dipengaruhi oleh kadar lemak susu yang digunakan, semakin dominan kombinasi susu kambing maka aroma “prengus” semakin tajam. Bau khas kambing sangat dipengaruhi oleh kandungan lemak susu (ECKLESet al., 1994) ditegaskan oleh SOEPARNO (1992) bahwa lemak susu kambing mengandung kira – kira dua kali lebih banyak asam – asam kaproat, kaprilat dan kaprat dari pada susu sapi, yang memberikan karakteristik bau dan “flavor”. Globula lemak susu kambing lebih kecil dari susu sapi sehingga lebih mudah menyerap bau yang ada disekitarnya. Menurut BLAKELY dan BADE (1998) globula lemak susu kambing lebih kecil (2 mikron) bila dibandingkan dengan susu sapi.

Aroma keju “cottage” dipengaruhi oleh kombinasi susu kambing dan susu sapi dengan rasio yang berbeda, T1 sampai dengan T4 terdapat persamaan yaitu “prengus” karena adanya kombinasi susu kambing yang mempunyai aroma lebih dominan dibanding susu sapi sedangkan T0 menghasilkan aroma sedikit tidak “prengus” bila dibandingkan perlakuan yang lain.

(5)

Tabel 3. Rerata skor aroma keju “Cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi

Perlakuan Rerata skor aroma Kategori aroma

T0 2,21b Sedikit tidak “prengus” - “prengus”

T1 3,44a “Prengus” – sangat “prengus”

T2 3,28a “Prengus” – sangat “prengus”

T3 3,21a “Prengus” – sangat “prengus”

T4 3,72a “Prengus” – sangat “prengus”

Superskrip berbeda pada rerata menunjukan perbedaan nyata (P<0,05)

Pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi terhadap tekstur keju “cottage”

Penilaian mutu hedonik terhadap tekstur keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi menggunakan skor terendah 1 (tidak lunak) dan skor tertinggi 5 (amat lunak). Data hasil penelitian terhadap tekstur keju “cottage” seperti pada Tabel 4.

Tekstur keju yang didapat beragam T0 mempunyai tekstur berkisar antara lunak sampai sangat lunak demikian juga dengan T1 dan T2, sedangkan T3 dan T4 mempunyai tekstur berkisar antara lunak sampai sedikit lunak. Kombinasi susu kambing dan susu sapi dapat mempengaruhi tekstur keju yang dihasilkan. Pada T0, T1 dan T2 mempunyai tekstur cenderung lunak dan sangat lunak hal ini menurut RAHMAN et al. (1992) disebabkan karena kandungan lemak susu lebih sedikit dibanding kandungan protein susu sehingga tekstur yang dihasilkan cenderung sangat lunak.

Tabel 4. Rerata skor dan kriteria tekstur keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi Perlakuan Rerata skor tekstur Kriteria tekstur T0 3,96a Lunak – sangat lunak T1 3,28b Lunak – sangat lunak T2 3,32b Lunak – sangat lunak T3 2,72b Sedikit lunak – lunak T4 2,08c Sedikit lunak – lunak Superskrip berbeda pada rerata menunjukan perbedaan nyata (P<0,05)

Perbandingan protein dan lemak susu mempengaruhi tekstur dari keju yang dihasilkan. Menurut DAULAY (1991) lemak susu merupakan salah satu komponen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan cita rasa, rasa, aroma dan tekstur dari keju. Keju yang dibuat susu tanpa lemak biasanya tidak membentuk tekstur yang keras dan tidak membentuk cita rasa tipikal keju yang diharapkan, dijelaskan lebih lanjut bahwa hidrolisis protein dan lemak berpengaruh terhadap tekstur keju yang dihasilkan.

Tekstur keju “cottage” yang dihasilkan beragam T0 mempunyai tekstur berkisar antara lunak sampai sangat

dan T4 mempunyai tekstur berkisar antara lunak sampai sedikit lunak. Terdapat pengaruh kombinasi susu kambing dan susu sapi terhadap tekstur pada rasio yang berbeda.

KESIMPULAN

Penelitian tentang pengaruh kombinasi susu sapi dan susu kambing pada pembuatan keju “Cottage” menunjukkan bahwa proporsi susu kambing dan susu sapi skim berpengaruh nyata terhadap kadar lemak, nilai pH dan mutu hedonik, tetapi tidak signifikan terhadap kadar protein yang berkisar antara 47,35- 55,09%. Keju “cottage” dari susu sapi skim 100% mempunyai kadar lemak terendah yaitu 1,30%, berwarna putih sangat kekuningan dan mempunyai aroma normal. Kadar lemak meningkat dengan bertambahnya proporsi susu kambing pada campuran susu kambing dan susu sapi. Keju “cottage” dari susu kambing 100% mempunyai kadar lemak tertinggi yaitu 36,22%, berwarna putih sedikit kekuningan dan beraroma “prengus”. Skor tekstur tertinggi ada pada keju “cottage” campuran susu kambing 75% dan susu sapi 25%, meskipun aroma keju ini sedikit “prengus”.

DAFTAR PUSTAKA

APRIYANTONO, A., D. FARDIAZ., N. L. PUSPITASARI, SOEDARNAWATI dan S. BUDIYANTO. 1989. Petunjuk Laboratorium: Analisis Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB, Bogor. BLAKELY, J dan D.H. BADE. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono).

BUCKLE, K. A, R. A. EDWARD, G. H. FLEET dan M. WOOTON. 1987. Ilmu Pangan. UI Press, Jakarta. (Diterjemahkan oleh Hadi Purnomo dan Adiono ).

DAULAY, D. 1991. Fermentasi Keju. PAU Pangan dan Gizi, IPB, Bogor.

DAVENDRA, C dan M. BURNS. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit ITB, Bandung. (Diterjemahkan oleh I. D. K. Harya Putra).

(6)

_____________________________________________________________________________________________

DEMAN, J. M. 1997. Kimia Makanan . Penerbit ITB, Bandung

(Diterjemahkan oleh Padmawinata dan Sutomo). FOX, F.P. 1989. Functional Milk Proteins. Applied Science

Ltd., London.

ECKLES, C. H, W. B. COMBS dan H. MACY. 1994. Milk and

Milk Products 4th Edition. Tata McGraw – Hill Publishing Co. Ltd, New Delhi.

KARTIKA, B., P. HASTUTI dan W. SUPARTONO, 1988. Pedoman Uji Idrawi Bahan Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta.

MUCHTADI, D. dan B. WARDHANI. 1996. Pembuatan keju “Cottage”. Buletin Teknologi dan Industri Pangan Vol VII hal 49–52. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.

RAHMAN, A, SRIKANDI F, WINIATI P.R. dan C.C. NURWITRI. 1992. Teknologi Fermentasi Susu. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi PAU Pangan dan Gizi IPB , Bogor.

SCOTT. R. 1981. Cheese Making Practice. Applied Science

Publisher, Ltd., London.

SOEPARNO. 1992. Prinsip Kimia dan Teknologi Susu. PAU Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. SRIGANDONO, B. 1987. Rancangan Percobaan. Universitas

Diponegoro, Semarang (Tidak dipublikasikan).

SUDARMADJI, S, B. HARYONO dan SUHARDI. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty kerjasama dengan PAU Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

TRESSLER, K. D and J W. SULTAN. 1975. Cereals, Baked Goods, Dairy and Egg Products. The Avi Publishing Company, Inc. Wesport Connecticut.

WINARNO, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gambar

Tabel 1 memperlihatkan bahwa rerata kadar lemak  terendah pada perlakuan T0 dan terjadi peningkatan  rerata pada perlakuan T1, T2, T3 dan T4
Tabel 2. Rerata skor dan kriteria warna keju “cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi
Tabel 3. Rerata skor aroma keju “Cottage” dengan kombinasi susu kambing dan susu sapi

Referensi

Dokumen terkait

Based on the research that has been done can be concluded that the use of laboratory-based inquiry learning model can significantly improve students' critical

Pengolahan Skor Mentah Menjadi T-Skor .... Uji Normalitas

Quraish Shihab sangat banyak jumlahnya, bahkan tidak dapat keberadaan kaidah tafsir tidak dapat dibatasi, Kaidah dapat muncul dari saat ke saat dari pengamatan

dan dengan adanya aplikasi ini dapat mempermudah pihak kampus dalam.

Permendiknas RI Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Karja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan.. Permendiknas RI Nomor 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan

b.  bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan  dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (3) Undang­Undang No. 7  Tahun 

Dilihat dari segi air limbah dan sistem drainase masih terdapat beberapa kekurangan karena walaupun sudah ada septiktank, kondisi septiktank yang belum sesuai dengan standar dan

Pada penelitian ini penulis melakukan evaluasi penghitungan pada bendaharawan pemerintah Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah saat melakukan pemotongan atau