• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Pemikiran

Agrondustri perikanan laut merupakan salah satu jenis industri yang sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat potensi sumber daya ikan dari perairan laut nasional sangat besar. Digunakannya istilah agroindustri perikanan laut untuk menunjukkan pentingnya penanganan sektor perikanan berbasis industri yang tetap terkait dengan dengan pengertian pertanian dalam arti luas, dimana agroindustri sebagai subsistem agribisnis yang berbasis komoditas atau sumber daya terbaharukan. Namun demikian terdapat sejumlah persoalan meng- hambat pengembangan agroindustri perikanan laut, baik aspek produksi bahan baku (industri penangkapan) maupun aspek pengolahan produk (agroindustri).

Persoalan yang dihadapi oleh industri penangkapan, diantaranya penangkapan berlebihan (overfishing) khususnya di Wilayah Pengelolaan Perikanan Laut Jawa dan Selat Makasar, jarak penangkapan (fishing ground) yang semakin jauh, kasus pencurian ikan (illegal fishing) kapal asing dan pendaratan ikan (fish landing) kapal Indonesia di negara lain. Persoalan terkait lainnya yang menyangkut produksi adalah dari sisi permodalan untuk pengembangan industri penangkapan, baik dari sisi investasi atau modal operasional melaut, teknologi penanganan ikan di atas kapal (seperti penerapan rantai dingin) yang belum diterapkan secara benar, serta sarana pendaratan ikan yang belum memadai. Permasalahan ini secara langsung akan mempengaruhi industri pengolahan, seperti volume, mutu dan harga bahan baku.

Agroindustri perikanan laut yang berkembang di Indonesia, secara umum dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu agroindustri perikanan tradisional dan agroindustri perikanan modern. Ciri umum agroindustri perikanan tradisional adalah bersifat padat karya, penanganan komoditas perikanan menggunakan teknologi pasca panen sederhana, skala usaha kecil dan pasar yang menjadi target utama adalah pasar lokal. Kendala umum pengembangan jenis agroindustri ini adalah permodalan dan kemampuan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya. Agroindustri perikanan modern memiliki ciri umum padat modal,

(2)

penanganan komoditas perikanan menggunakan mesin-mesin berteknologi relatif tinggi, skala usaha menengah atau besar, serta pasar target adalah regional atau internasional. Kelompok agroindustri ini dalam pengembangannya juga memiliki kendala umum seperti kesinambungan bahan baku (jumlah dan mutu), permodalan, kebijakan pemerintah dan kondisi pasar global.

Saat ini industri pengolahan perikanan laut mampu bertahan ditengah kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya pulih dikarenakan kandungan masukan lokal (local input) produksi tinggi. Namun, apabila berbagai persoalan yang dapat menghambat kinerja pengembangan agroindustri perikanan laut diatas tidak ditangani secara komprehensif pada akhirnya akan memperlemah daya saing produk yang dihasilkan. Sebagai contoh, banyak pelaku usaha agroindustri perikanan laut yang usahanya realistis dikembangkan (feasible), tetapi tidak dapat memanfaatkan kredit karena dianggap tidak layak mengakses perbankan (unbankable) akibat tidak adanya agunan dan persepsi bahwa industri perikanan beresiko tinggi. Ketidakmampuan memperoleh kredit dapat menyebab- kan pelaku usaha tidak mampu mengembangkan usahanya sesuai dengan tuntutan pasar, seperti menyediakan produk dengan mutu tinggi, aman dan harga murah.

Keadaan umum yang dikemukakan diatas dijadikan pintu masuk (entry point) dalam pengembangan sistem agroindustri perikanan laut, sehingga dapat dirumuskan prioritas strategi pengembangan dengan memanfaatkan peluang sebagai bangsa yang dikaruniai keunggulan potensi sumber daya bahari. Pengembangan sistem agroindustri perikanan laut dimulai dengan melihat potensi sumber daya dari masing-masing wilayah. Kepemilikan potensi yang berbeda-beda untuk tiap daerah mengakibatkan adanya ragam pengelolaan terhadap hasil perikanan laut tersebut. Daerah yang memiliki kemiripan potensi dan dalam wilayah yang berdekatan dapat dikelompokkan dalam suatu wilayah pengem-bangan, sehingga diantaranya dapat dilakukan efisiensi dan efektifitas pemanfa-atan potensi bahan baku, pemanfapemanfa-atan sarana dan prasarana, pengupemanfa-atan nilai tawar terhadap investor dalam mengeksploitasi potensi wilayah, pemasaran produk yang dihasilkan, serta proses pembinaan untuk pengembangan agroindustri tersebut.

Mengingat komoditas ikan dan perlakuan pengolahan produk perikanan beragam, maka diperlukan rumusan dalam penentuan produk unggulan sehingga

(3)

pengembangan dapat lebih fokus, tentunya tanpa mematikan potensi lainnya. Sebagai model, produk unggulan dari masing-masing wilayah dilakukan analisis terhadap kelayakan finansialnya.

Prioritas strategi dan elemen kunci dalam pengembangan ditetapkan agar perumusan kebijakan untuk pencapaian tujuan pengembangan agroindustri perikanan laut didasarkan pada realitas masa kini dan probabilitas di masa mendatang. Mengingat komponen atau faktor yang terkait dalam pengembangan agroindustri perikanan laut bersifat kompleks dan mempunyai karakteristik dinamis sesuai dengan perubahan waktu, maka digunakan pendekatan sistem dan diformulasikan dalam model sistem penunjang keputusan. Dengan demikian, diharapkan keputusan yang diambil dalam pengembangan agroindustri perikanan laut menjadi lebih terarah, terencana, operasional dan berkesinambungan.

B. Metode Penelitian 1. Tahapan Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka pelaksanaan penelitian ini melalui tahapan (1) Identifikasi elemen sistem pengembangan agroindustri perikanan laut, (2) Permodelan sistem pengembangan agroindustri perikanan laut, (3) Pengumpulan data, dan (4) Perancangan sistem penunjang keputusan berbasis komputer.

Identifikasi elemen sistem pengembangan dimaksudkan untuk mendapatkan elemen-elemen penting sistem yang digunakan untuk perancangan model pengembangan agroindustri perikanan laut. Permodelan sistem digunakan untuk merumuskan hubungan antara masukan dan keluaran dan memprediksi hasil yang dimungkinkan. Pengumpulan data digunakan untuk melakukan verifikasi model, yaitu di Provinsi Jawa Tengah. Perancangan sistem pengambilan keputusan berbasis komputer dimaksudkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang rasional dalam pengembangan agroindustri perikanan laut secara cepat dan efektif.

(4)

2. Metode Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaan penelitian, data dikumpulkan melalui studi pustaka dan survei lapang untuk mendapatkan data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari beberapa literatur dan instansi terkait, baik di daerah maupun di tingkat pusat. Data primer diperoleh melalui survei lapang dan wawancara mendalam (in-depth interview) atau dengan bantuan kuesioner terhadap pihak terkait, seperti nelayan, pelaku usaha agroindustri, tenaga kerja industri, pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Teknik pengambilan contoh (expert survey) dilakukan dengan teknik pengambilan contoh purposif (purposive sampling) dengan kriteria mewakili setiap bidang keahlian sesuai bidang kajian.

3. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan terhadap data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan dengan menggunakan berbagai metode yang tercakup dalam Model AGRIPAL. Konfigurasi Model AGRIPAL terdiri dari Sub Model Kawasan, Sub Model Pemilihan, Sub Model Kelayakan, Sub Model Strategi, Sub Model Kelembagaan dan Sistem Informasi AIPL Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Oktober 2002 dengan tahapan pengolahan data seperti pada Gambar 6.

Kajian Potensi Hasil Perikanan Laut. Analisis pengembangan agroindustri perikanan laut diawali dengan studi keadaan umum dan potensi perikanan untuk nasional, khususnya di seluruh Wilayah Jawa Tengah, dan selanjutnya dirinci pada setiap kabupaten, terutama yang berhubungan dengan potensi bahan baku dari komoditi perikanan laut dan kesinambungan suplai, gambaran agroindustri yang telah berkembang, dan teknologi pasca panen yang digunakan. Dalam Model AGRIPAL, data yang terkait dengan agroindustri perikanan laut di Provinsi Jawa Tengah tersebut dikemas dalam Sistem Informasi Jawa Tengah.

(5)

MUL AI Potensi & Kondisi AIPL

Jateng Identifikasi Faktor dg

OWA Operator

Jarak antar daerah, peraturan pemda, tingkat investasi, bahan baku, pasar, biaya produksi, konflik sosial, tenaga kerj a, sumber air, sumber energi, transportasi, komunikasi

Pengelompokan kawasan pengembangan dan pusat pertumbuhan dengan Cluster Anal ysis

Kawasan Pengembangan & Pusat Pertumbuhan

Faktor-Faktor Pengembangan

Kuantitas, kontinuitas, kualitas, nilai ekonomis, peluang diversifi kasi, keterpusatan pendaratan

Pemilihan komoditas potensial dengan IPE kaidah FGDM T idak Ya Komoditas Potensial T erpilih Faktor, T uj uan, Alternatif Strategi Analisis Prioritas Strategi dg AHP

Prioritas Strategi AIPL

Pelaku, kebutuhan, kendala, tolok ukur, aktivitas Analisis Kelembagaan dengan ISM Struktur Kelembagaan AIPL Verifi kasi Ok? T idak Ya T idak Ya T idak Ya Ya T idak

A

B

Verifi kasi Ok? Verifi kasi Ok? Verifi kasi Ok? Verifi kasi Ok? Sistem Informasi AIPL Jawa T engah

(6)

Keterangan :

AIPL : Agroindustri Perikanan Laut NPV : Net Pr esent Val ue OWA : Or der ed Weighted Aver aging IRR : Internal Rate of Return IPE : Independent Pr efer ence Eval uation B/C : Benefit Cost Ratio FGDM : Fuzzy Gr oup Decision Making PBP : Pay Back Per iod AHP : Anal ytical Hi er ar chy Pr ocess BEP : Break Even Point ISM : Inter pr etati ve Str uctur al Model l ing

Gambar 6. Diagram alir tahapan penelitian pengembangan agroindustri perikanan laut

SELESAI

Bahan baku, nilai tambah, teknologi, pasar, tng kerj a, modal, dampak ganda, sarana prasarana, kebij akan pemda, lingkungan

Pemilihan produk unggulan dengan IPE kaidah FGDM

Produk Unggulan T erpilih

Verifi kasi Ok?

Investasi, biaya tetap, biaya variabel

Analisis Kelayakan Finansial NPV, IRR, B/C,PBP,BEP Agroindustri PL Layak Dikembangkan Verifi kasi Ok? T idak Ya Ya T idak

A

B

Rekomendasi Kebijakan Pengembangan AIPL

(7)

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan agroindustri perikanan laut diidentifikasi melalui pendapat pakar dan dianalisis melalui metode Ordered Weighted Averaging (OWA) Operator.

Perumusan Cara Pengelompokan Kawasan Pengembangan dan Penentuan Pusat Pertumbuhan. Pengelompokan kawasan pengembangan menggunakan Analisis Klaster (Cluster Analysis) yang didasarkan pada kedekatan jarak antar Kabupaten/Kota yang memiliki potensi perikanan laut. Pada tiap-tiap kawasan pengembangan selanjutnya dipilih pusat pertumbuhan. Kriteria yang dibutuhkan dalam penentuan pusat pertumbuhan diantaranya kebijakan/peraturan pemerintah daerah, tingkat investasi, kedekatan bahan baku dan pasar, biaya produksi, tingkat konflik sosial, ketersediaan tenaga kerja, aksesibilitas, dan sarana pendukung lainnya. Pembobotan kriteria dilakukan dengan OWA Operator, sedangkan penentuan pusat pertumbuhan ditentukan dengan mengelompokkan tiap wilayah melalui Analisis Klaster, yaitu wilayah kurang potensial, potensial dan sangat potensial.

Perumusan Cara Pemilihan Prioritas Komoditas Potensial dan Produk Unggulan Agroindustri Perikanan Laut. Penentuan prioritas komoditas potensial merupakan proses yang sangat penting mengingat kontinuitas ketersediaan bahan baku dapat menjadi penentu keberlangsungan agroindustri. Di dalam penentuan jenis komoditas potensial untuk agroindustri hasil perikanan laut yang dikembangkan di tiap-tiap kawasan pengembangan didasarkan pada beberapa kriteria. Kriteria yang diperlukan dalam pemilihan komoditi potensial yang akan dikembangkan, diantaranya berupa volume produksi, kontinyuitas, mutu dan nilai ekonomis bahan baku, peluang diversifikasi produk dan keterpusatan lokasi pendaratan ikan.

Pembobotan untuk masing-masing kriteria menggunakan metode OWA Operator. Pemilihan prioritas alternatif ditentukan dengan metode Evaluasi Pilihan Bebas (Independent Preference Evaluation/IPE) dengan kaidah Fuzzy Group Decision Making (FGDM). Sebagai alternatif, akan

(8)

dipilih delapan belas jenis ikan berdasarkan rataan volume produksi selama sepuluh tahun terakhir. Responden menilai setiap kriteria atau alternatif dengan skala Sangat Rendah (SR), Rendah (R), (Sedang (S), Tinggi (T) dan Sangat Tinggi (ST).

Pemilihan produk agroindustri perikanan laut berpedoman pada pilihan parameter-parameter dari setiap kriteria penentuan produk unggulan, diantaranya berdasarkan kontinuitas ketersediaan bahan baku, kualitas bahan baku, ketersediaan dan tingkat kemudahan teknologi, nilai tambah produk, peluang pasar, penyerapan tenaga kerja, dampak ganda terhadap sektor lain, dampak terhadap lingkungan, dan kondisi produk agroindustri saat sekarang.

Pembobotan untuk masing-masing kriteria menggunakan metode OWA Operator. Pemilihan prioritas alternatif digunakan metode Evaluasi Pilihan Bebas/IPE dengan kaidah FGDM. Responden menilai setiap kriteria atau alternatif dengan skala Sangat Rendah (SR), Rendah (R), (Sedang (S), Tinggi (T) dan Sangat Tinggi (ST).

Alternatif produk merupakan kombinasi antara 3 jenis komoditas perikanan laut yang potensial di tiap-tiap kawasan pengembangan dan 12 jenis perlakuan pascapanen hasil perikanan laut. Dengan demikian terdapat 36 alternatif produk agroindustri perikanan laut di tiap-tiap kawasan pengembangan.

Perumusan Kelayakan Finansial Agroindustri. Pengambilan keputusan untuk pengembangan agroindustri perikanan laut diantaranya dilakukan melalui perhitungan kelayakan finansial menurut kriteria-kriteria kelayakan seperti biaya investasi, biaya tetap, biaya variabel, penyusutan dan penerimaan. Analisis kelayakan finansial menggunakan formulasi NPV, IRR, NetB/C, PBP, dan BEP.

Perumusan Analisis Strategi Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut. Strategi pengembangan agroindustri perikanan laut dirumuskan dengan teknik pengambilan keputusan Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode AHP digunakan untuk memodelkan prioritas

(9)

alternatif strategi pengembangan agroindustri perikanan laut. Penyusunan strategi pada penelitian dapat dilakukan di tahap awal (fase identifikasi) atau di akhir (fase setelah kelayakan) dalam pengembangan agroindustri perikanan laut. Dengan kata lain penyusunan strategi dapat bersifat kualitatif maupun deskriptif analitik.

Fokus hirarki ini adalah Strategi Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut. Hirarki berikutnya merupakan faktor yang berpengaruh dalam pengembangan, yaitu (1) Sumber Daya Ikan (SDI); (2) Sumber Daya Manusia (SDM); (3) Teknologi; (4) Permodalan; (5) Pasar; (6) Kebijakan Pemerintah; (7) Sarana dan Prasarana; (8) Informasi; dan (9) Kelembagaan.

Struktur dibawahnya adalah Tujuan Pengembangan, yaitu (1) Peningkatan Nilai Tambah; (2) Perluasan Lapangan Kerja; (3) Perluasan Kesempatan Berusaha; (4) Peningkatan Pendapatan Daerah; (5) Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi; dan (6) Peningkatan Konsumsi Ikan. Alternatif Strategi yang ditawarkan dalam pengembangan agroindustri perikanan laut adalah (1) Mendorong Pertumbuhan Agroindustri Baru; (2) Memperkuat Agroindustri yang Ada; dan (3) Optimalisasi Penangkapan.

Analisis Kelembagaan Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut. Untuk mengkaji keterkaitan/hubungan kontekstual antar elemen dan sub elemen dalam pengembangan agroindustri perikanan laut digunakan metode Interpretative Structural Modelling (ISM). Elemen sistem pengembangan mencakup pelaku/lembaga yang berperan dalam pengembangan, kebutuhan untuk pelaksanaan program, kendala program, tolok ukur untuk menilai setiap tujuan, dan aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan.

C. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem merupakan suatu metodologi pemecahan masalah yang diawali dengan identifikasi serangkaian kebutuhan dan menghasilkan sistem operasional yang efektif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan

(10)

sistem ini meliputi analisis kebutuhan, formulasi permasalahan, dan identifikasi sistem. Pendekatan sistem dicirikan oleh adanya suatu metodologi perencanaan atau pengelolaan, bersifat multidisiplin terorganisir, adanya penggunaan model matematika, berfikir secara kuantitatif, optimasi dan dapat diaplikasikan dengan teknik simulasi serta dapat direkayasa dengan bantuan komputer. Pendekatan sistem menggunakan abstraksi keadaan nyata ataupun penyederhanaan sistem nyata untuk pengkajian suatu masalah.

1. Analisis Kebutuhan

Dalam pengembangan sistem agroindustri perikanan laut melibatkan berbagai pihak (pelaku), baik yang secara langsung maupun yang tidak langsung terkait dalam sistem. Maing-masing pelaku/lembaga memiliki kebutuhan. Analisis kebutuhan masing-masing pihak merupakan permulaan pengkajian dari suatu sistem. Dalam tahap ini dicari secara selektif apa saja yang dibutuhkan dalam analisis sistem. Sistem pengembangan agroindustri dalam operasionalisasinya harus diupayakan dapat memenuhi kebutuhan pelaku/lembaga yang terlibat secara optimal. Keterkaitan kebutuhan antar pelaku diantaranya menyangkut permodalan, teknologi, pemasaran, sarana prasarana, dan kebijakan. Inventarisasi pelaku dan kebutuhan dari masing-masing pelaku tersebut dimuat pada Tabel 8.

Dari tabel tersebut terlihat adanya kebutuhan yang bersifat melemahkan atau menguatkan. Kebutuhan yang bersifat melemahkan seperti harga perlu diharmonisasikan untuk menjaga keberlangsungan usaha. Kebutuhan yang bersifat menguatkan perlu dioptimalkan melalui kerjasama yang saling menguntungkan. Rekayasa sistem harus diupayakan dapat mensinkronkan kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi satu kesatuan kebutuhan sistem yang sinergis dalam mencapai tujuan yang dikehendaki.

(11)

Tabel 8. Inventarisasi kebutuhan pelaku dalam sistem pengembangan agroindustri perikanan laut

2. Formulasi Permasalahan

Keberhasilan dalam pengembangan agroindustri perikanan laut memerlukan perencanaan yang baik, pengalaman, pengetahuan serta intuisi yang tepat dari pengambil keputusan. Sinergi kepentingan antar pelaku dalam sistem diharapkan akan mengoptimalkan pencapaian tujuan pengembangan agroindustri perikanan laut, yaitu pemanfataan secara optimal sumber daya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi para pelaku, seperti Aktor Rincian Kebutuhan

Nelayan • Harga jual ikan layak dan stabil

• Pemasaran terjamin

• Pendapatan meningkat

• Bantuan modal & teknologi

• Biaya produksi rendah

• Produktivitas tinggi Pelaku usaha

agroindustri •• Harga ikan rendah Ketersediaan ikan kontinyu

• Biaya produksi (alsin, energi, sarana produksi, kredit, pajak, dan upah) rendah

• Kesempatan berusaha meningkat

• Bantuan modal, teknologi dan manajemen usaha

• Margin profit tinggi

• Limbah minimum

• Pengembalian kredit lancer

• Pemasaran terjamin Tenaga kerja • Upah tinggi

• Perluasan lapangan kerja • Kesejahteraan meningkat Pemerintah

Daerah/Pusat • Meningkat Pendapatan daerah/negara

• Optimalisasi pemanfaatan potensi SDA

• Terbukanya lapangan kerja

• Lingkungan hidup terjaga

• Pembangunan sarana & prasarana

Perbankan/Lembaga

Keuangan • Jumlah nasabah meningkat • Pengembalian kredit lancar Pedagang • Margin profit tinggi • Usaha berkesinambungan Pengusaha

penunjang produksi • Kesempatan berusaha meningkat • Margin profit tinggi Konsumen • Harga layak

• Mutu produk terjamin •• Adanya diversifikasi produk Konsumsi ikan meningkat Perguruan Tinggi/

Lembaga Riset •• Ketrampilan SDM meningkat Mutu produk meningkat •• Adopsi teknologi meningkat Manajemen industri meningkat

Koperasi • Kesejahteraan anggota

Meningkat • Iuran anggota lancar Asosiasi Produsen • Posisi tawar tinggi • Daya saing meningkat

(12)

peningkatan daya saing, keuntungan usaha, pendapatan daerah, lapangan kerja, dan konsumsi ikan.

Permasalahan yang paling mendasar dalam pengembangan agroindustri perikanan laut adalah menjaga kontinuitas bahan baku, dalam hal ini jenis, volume dan mutu ikan hasil tangkapan. Volume hasil tangkapan nelayan berfluktuatif dengan mutu yang juga tidak konsisten, sementara agroindustri selalu menginginkan kapasitas produksinya konstan dengan mutu yang prima, sehingga diperoleh harga jual yang tinggi.

Kurangnya kemampuan SDM dalam mengadopsi teknologi pengolahan produk perikanan menyebabkan produk hasil olahan (tradisional) mempunyai nilai tambah relatif kecil dengan pangsa pasar relatif terbatas di pasar domestik. Sementara itu, kemampuan penanganan hasil perikanan sesuai dengan standar mutu internasional juga masih rendah. Hal ini sering memperlemah daya saing produk di pasar internasional.

Keterbatasan mutu SDM juga memperlemah proses manajerial untuk mengelola usaha secara professional, sehingga hal ini memperlemah kemampuan untuk mengakses modal untuk pengembangan usaha. Hal lain yang terkait hal ini adalah lemahnya kemampuan mempresentasikan potensi bisnis agroindustri perikanan laut di hadapan investor atau pemodal untuk menghilangkan persepsi bahwa bisnis perikanan beresiko tinggi.

Kurangnya dukungan yang memadai dalam penyediaan infrastruktur ataupun industri penunjang lain untuk pengembangan agroindustri. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya koordinasi dan kerjasama antar pelaku, sehingga akan memperlemah struktur industri.

3. Identifikasi Sistem

Identifikasi sistem merupakan suatu mata rantai hubungan antara pernyataan-pernyataan kebutuhan komponen aktor dalam sistem dengan permasalahan-permasalahan yang telah diformulasikan. Identifikasi sistem dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebab akibat dan diagram input-output. Dalam diagram sebab akibat digambarkan hubungan antar komponen

(13)

sistem yang terkait seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Melalui diagram lingkar sebab akibat sebagai suatu tahapan dalam konseptualisasi sistem pengembangan agroindustri perikanan laut dapat ditunjukkan prediksi dan hipotesis tentang dinamika dan perilaku sistem.

Gambar 7. Diagram lingkar sebab akibat sistem pengembangan agroindutri perikanan laut

Tujuan pengembangan agroindustri perikanan laut dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, permodalan, teknologi, sarana prasarana dan potensi bahan baku yang berkesinambungan. Sebaliknya, berkembangnya agroindustri perikanan laut akan memberi manfaat balik untuk pemenuhan kebutuhan bagi para pelaku, baik pelaku usaha agroindustri, pelaku usaha industri pendukung, masyarakat, maupun

= Agr oi ndus tr i P er i k anan L aut Industri Penangkapan Sarana Prasarana Pendapatan Nelayan Industri Lain Pendapatan Masyarakat Kesej ahteraan Masyarakat Paj ak Pendapatan Daerah Ekspor Devisa Pendapatan Negara SDM/T enaga Kerj a

Manaj emen & T eknologi Modal Pembangunan Wilayah Perbankan/ Lembaga permodalan + + + + + + + . + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Koperasi . Konsumsi ikan + + + + + + . - - + + + + +

(14)

pemerintah. Kendala-kendala yang menyertai dalam proses tersebut harus dipecahkan secara menyeluruh.

Alternatif pemecahan masalah dalam pengembangan agroindustri diantaranya masing-masing wilayah mampu mengidentifikasi secara baik potensi yang dimiliki dan mampu membuat prioritas dalam pencapaian tujuan. Penetapan sistem pengembangan agroindustri perikanan laut sebagai suatu sistem tertutup memberikan fasilitas adanya mekanisme pengendalian (kontrol) terhadap timbulnya suatu output sistem yang tidak dikehendaki. Visualisasi diagram input-output sistem pengembangan agroindustri perikanan laut ditunjukkan Gambar 8.

Diagram input-output menggambarkan masukan (input) dan luaran (output) dari model yang dikembangkan. Input terdiri dari dua golongan, yaitu yang berasal dari luar sistem (eksogen) atau input eksternal dan overt input yang berasal dari dalam sistem (endogen) atau input internal. Input

eksternal merupakan masukan yang mempengaruhi sistem, akan tetapi tidak dipengaruhi oleh sistem. Dalam sistem pengembangan agroindustri yang termasuk jenis input ini adalah globalisasi perekonomian, kebijakan negara tujuan ekspor, populasi penduduk, dan nilai tukar uang. Input internal yang berasal dari dalam sistem ini merupakan peubah yang sangat perlu bagi sistem untuk melaksanakan fungsinya yang dikehendaki. Input internal yang berasal dari dalam sistem ini terdiri dari input yang terkendali dan input yang tak terkendali. Input internal tak terkendali dalam sistem ini adalah kebijakan pemerintah, potensi sumber daya perikanan laut, fluktuasi harga, dan permintaan pasar. Input yang terkendali dapat bervariasi selama pengoperasian sistem untuk menghasilkan kinerja sistem yang dikehendaki atau untuk menghasilkan output yang dikehendaki. Peran input ini sangat penting dalam mengubah kinerja sistem selama pengoperasian. Termasuk dalan jenis input ini adalah kawasan pengembangan, teknologi pengolahan, modal usaha, upah dan tenaga kerja, serta volume produksi.

(15)

Gambar 8 Diagram input-output sistem pengembangan agroindustri perikanan laut

Output terdiri dari dua, yaitu output yang dikehendaki dan output tak dikehendaki. Output yang dikehendaki merupakan respon dari sistem terhadap kebutuhan yang telah ditetapkan secara spesifik dalam analisis kebutuhan; dan output yang tidak dikehendaki merupakan hasil sampingan atau dampak yang ditimbulkan bersama-sama dengan output yang dikehendaki. Output sistem yang dikehendaki adalah peningkatan volume produksi, peningkatan volume dan nilai ekspor, peningkatan PAD dan PDB, peningkatan konsumsi ikan, peningkatan kesempatan kerja, peningkatan jumlah unit usaha dan meratanya distribusi pendapatan masyarakat. Sedangkan output yang tidak dikehendaki merupakan kebalikannya. Manajemen pengendali merupakan faktor pengendalian terhadap

INPUT EKSTERNAL

Globalisasi perekonomian Populasi penduduk Nilai tukar uang Otonomi daerah INPUT INTERNAL TAK TERKENDALI Potensi perikanan Fluktuasi harga Permintaan pasar OUTPUT DIKEHENDAKI

Peningkatan volume produksi Peningkatan volume & nilai ekspor Peningkatan PAD & PDB

Peningkatan konsumsi ikan Peningkatan kesempatan kerja Peningkatan jumlah unit usaha

Meratanya distribusi pendapatan masyarakat Berkembangnya industri/lembaga pendukung

Perkembangan pusat pertumbuhan & pengembangan

INPUT INTERNAL TERKENDALI

Kawasan pengembangan Teknologi pengolahan Modal usaha

Upah dan tenaga kerja/nelayan Volume produksi

OUTPUT TAK DIKEHENDAKI

Pengangguran dan kemiskinan tinggi Usaha tidak menguntungkan

Kredit bermasalah

Kontribusi PAD/PDB rendah Konsumsi ikan per kapita rendah

SISTEM PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PERIKANAN LAUT

(16)

pengoperasian sistem dalam menghasilkan keluaran yang dikehendaki dan berusaha meminimumkan output tidak dikehendaki dengan input terkendali. D. Konfigurasi Model

Sistem pengembangan agroindustri perikanan laut dirancang dalam suatu program komputer yang dinamakan AGRIPAL. Paket program dirancang dengan menggunakan bahasa pemograman Microsoft Visual Basic Versi 6.0 yang terdiri dari tiga sistem utama, yaitu Sistem Manajemen Dialog, Sistem Manajemen Basis Data dan Sistem Manajemen Basis Model. Konfigurasi Model Sistem Penunjang Keputusan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Konfigurasi Model Sistem Pengambilan Keputusan Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut

SISTEM MANAJEMEN BASIS DATA

Data Keterkaitan Kelembagaan AIPL

Data Strategi Pengembangan AIPL

Data Struktur Biaya Usaha AIPL Data Produk Unggulan AIPL Data Komoditas Potensial AIPL

Data Wilayah dan Potensinya

SISTEM MANAJEMEN BASIS MODEL

Sub Model Kelembagaan Sub Model Strategi Sub Model Kelayakan

Sub Model Pemilihan Sub Model Kawasan Sistem Informasi AIPL

Jawa Tengah SISTEM PENGOLAHAN TERPUSAT SISTEM MANAJEMEN DIALOG PENGGUNA

(17)

1. Sistem Manajemen Dialog

Sistem Manajemen Dialog merupakan rancangan pengaturan interaksi antara model (program komputer) dengan pengguna (user) yang memuat input

dari pengguna berupa parameter, data dari pilihan skenario dan luaran yang diberikan dalam tabel atau pernyataan yang mudah dipahami.

Dialog dengan pengguna dipandu dengan adanya pilihan atau pertanyaan-pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban-jawaban singkat.

Input dari pengguna dapat berupa angka, pertanyaan-pertanyaan, atau berupa skenario. Output yang diberikan oleh program komputer berupa keterangan, tabel, atau grafik yang mudah dipahami.

2. Sistem Manajemen Basis Data

Dalam suatu analisis, data merupakan komponen yang mutlak ada. Oleh karena itu, data harus dikelola dan dikendalikan dalam suatu sistem manajemen basis data. Pemeliharaan data ini dilakukan melalui fasilitas menu data, menampilkan, menghapus dan mengganti data. Dalam konfigurasi paket program yang akan dikembangkan dalam sistem diantaranya adalah Data Kawasan, Data Komoditas, Data Produk, Data Struktur Pembiayaan, Data Strategi dan Data Kelembagaan.

3. Sistem Manajemen Basis Model

Sistem Manajemen Basis Model terdiri dari lima sub model utama, yaitu Sub Model Kawasan, Sub Model Pemilihan, Sub Model Kelayakan, Sub Model Strategi, Sub Model Kelembagaan. Masing-masing sub model tersebut sebagai sub-sub sistem yang pada akhirnya membentuk suatu sistem pengembangan agroindustri perikanan laut.

Gambar

Gambar 6.  Diagram alir tahapan penelitian pengembangan agroindustri perikanan  laut
Tabel 8. Inventarisasi kebutuhan pelaku dalam sistem pengembangan agroindustri  perikanan laut
Gambar 7. Diagram lingkar sebab akibat sistem pengembangan agroindutri  perikanan laut
Gambar 8   Diagram input-output sistem pengembangan agroindustri perikanan  laut
+2

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahu 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Guebrnur Jawa Tengah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi

dikemukakan oleh Husaini Usman dan Akbar Setia Purnomo (2011: 146), yaitu jumlah yang menjawab sangat baik + baik yaitu 35,78% berada pada renntang 25,01% ± 50% menunjukkan Tidak

 Model RAD (Rapid Application Development)  Model RUP (Rational Unified Process).. See

H O 2 Tidak terdapat perbezaan yang signifikan dalam peningkatan ujian pencapaian pelajar di antara kumpulan rawatan dan kumpulan kawalan dalam kalangan pelajar

Rasio profitabilitas (profitability ratio) , rasio ini menunjukkan keberhasilan perusahaan di dalam menghasilkan laba (keuntungan).. 1) Return on investment (ROI) adalah

Berkaitan dengan produk wisata menurut Marrioti (dalam Yoeti, 1996) manfaat dan kepuasan berwisata ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan, yaitu

[r]

[r]