SKRIPSI
Oleh :
Aprilia Putri Susanti
0611010063/ FE/ IE
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SKRIPSI
Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Ilmu Ekonomi
Oleh :
Aprilia Putri Susanti
0611010063/ FE/ IE
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
serta hidayahnya yang telah dilimpahkan sehingga penulis bisa menyelesaikan
skripsi ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban mahasiswa
untuk memenuhi tugas dan syarat akhir akademis di Perguruan Tinggi Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Fakultas Ekonomi khususnya
Jurusan Ekonomi Pembangunan. Dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil
judul “ Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI
Dan PMA Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Jakarta
Tahun 1999-2008 ”.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa didalam penyusunan skripsi ini
masih banyak kekurangannya. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya
kemampuan dan pengetahuan yang ada. Walaupun demikian berkat bantuan dan
bimbingan yang diterima dari Prof.Dr.Djohan Mashudi,SE,MS. Selaku Dosen
Pembimbing Utama yang dengan penuh kesabaran telah mengarahkan dari awal
untuk memberikan bimbingan kepada peneliti, sehingga skripsi ini dapat tersusun
dan terselesaikan dengan baik.
Atas terselesainya skripsi ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.
Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa Timur.
2.
Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa Timur.
Jawa Timur.
4.
Bapak Prof.Dr.Djohan Mashudi,SE,MS selaku Dosen Pembimbing
Utama yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan
dan masukan-masukan yang berarti bagi penulis.
5.
Segenap staf pengajar dan staf kantor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur. Yang telah dengan iklas memberikan
ilmu dan pelayanan akademik bagi penulis dan semua mahasiswa
UPN.
6.
Ayah dan Ibu yang telah sabar mendidik dan membesarkan dengan
penuh kasih sayang baik moral, material, maupun spiritual atas support
dan kesabarannya hingga terselesainya skripsi ini, serta teman yang
telah menemani dan selalu membantu.
Akhir kata yang dapat terucapkan semoga penyusunan skripsi ini
dapat berguna bagi pembaca dan pihak-pihak lain yang membutuhkan,
semoga Allah SWT memberikan balasan setimpal.
Wassallamualaikum Wr.Wb
Surabaya, Maret 2010
Penulis
KATA PENGANTAR………i
DAFTAR ISI ...iii
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR TABEL...viii
DAFTAR LAMPIRAN...ix
ABSTRAKSI...x
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah ...
1
1.2
Perumusan Masalah ...
4
1.3
Tujuan Penelitian ...
7
1.4
Manfaat Penelitian ...
8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Hasil Penelitian Terdahulu...
10
2.2
Landasan Teori ...
13
2.2.1
Nilai Tukar (Kurs) ...
13
2.1.1.1
Pengertian Nilai Tukar...
13
2.1.1.2
Penentuan Nilai tukar...
17
2.1.1.3
Sistem Kurs Mata Uang...
17
2.2.2
Tingkat Suku Bunga ...
21
2.2.2.1
Teori Klasik Tentang Suku Bunga ...
22
2.2.2.2
Teori Keynes Tentang Suku Bunga...
26
2.2.3
Sertifikat Bank Indonesia...
30
2.2.3.1
Pengertian Sertifikat Bank Indonesia ...
30
2.2.3.2
Tujuan Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia ...
30
2.2.3.3
Dasar hukum Sertifikat Bank Indonesia ...
31
2.2.3.4
Karakteristik Sertifikat Bank Indonesia...
31
2.2.4
Penanaman Modal Asing (PMA)...
32
2.2.4.1 Definisi Penanaman Modal Asing (PMA)...
32
2.2.4.2 Keputusan Untuk Menanamkan Modal... ...
34
2.2.5
Indeks Harga Saham...
35
2.3
Kerangka Pikir ...
38
2.4
Hipotesis ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel...
42
3.2
Teknik Penentuan Sampel ...
44
3.3 Metode Pengumpulan Data...
44
3.4 Metode Analisis Data Dan Uji Hipotesis...
45
3.4.1 Model Dan Teknik Analisis data ...
45
3.1.1
Analisis Regresi ...
52
3.1.2
Penentuan Koefisien Determinasi (Adjusted R2) ...
52
3.1.3
Koefisien Korelasi Parsial (r
2) ... 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian... 55
4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ... 55
4.1.1.1 Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia ... 55
4.1.1.2 Visi dan Misi Bursa efek Indonesia ... 58
4.1.1.3 Tujuan Penggabungan BES-BEJ Menjadi Bursa Efek
Indonesia ... 60
4.2 Deskripsi Variabel Penelitian ... 60
4.2.1 Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan ... 60
4.2.2 Perkembangan Kurs Valuta Asing... 61
4.2.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga SBI ... 62
4.2.4 Perkembangan Penanaman Modal Asing ... 62
4.3 Analisis Data ... 63
4.3.1 Hasil Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE/Best Linier
Unbiased Estimator) ... 63
4.3.2 Analisis dan Pengujian Hipotesis... 68
4.3.3 Pengujian Hipotesis ... 69
4.3.4 Pembahasan... 75
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 77
5.2. Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Gambar 1 : Kurva Permintaan Akan Uang...24
Gambar 2 : Kurva Penawaran Dana Investasi...25
Gambar 3 : Kerangka Pikir………....…40
Gambar 4 : Kurva Statistik d Durbin-Watson………...50
Gambar 5 : Kurva Statistik Durbin Watson...65
Gambar 6 : Kurva Distribusi Kriteria Penerimaan/Penolakan Hipotesis
Secara Simultan atau Keseluruhan...70
Gambar 7 : Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Faktor Kurs
Valas(X
1) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan(Y)...72
Gambar 8 : Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Faktor
Tingkat Suku Bunga SBI (X
2) ...73
Gambar 9 : Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Penanaman
Modal Asing (X
3)……….………...……..74
Tabel 1 : Ringkasan Penelitian Terdahulu...12
Tabel 2 : Persamaan Dan Perbedaan Penelitian Dengan penelitian…..12
Tabel 3 : Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan Tahun
1999-2008...61
Tabel 4 : Perkembangan Kurs Valuta Asing Tahun 1999-2008 ...61
Tabel 5 : Perkembangan Suku Bunga SBI Tahun 1999-2008...62
Tabel 6 : Perkembangan Penanaman Modal Asing Tahun 1999-2 ...63
Tabel 7 : Tes Multikolinier………....66
Tabel 8 : Tes Heterokedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman
Korelasi……….67
Tabel 9 : Analisis Varian(ANOVA)………...………..69
Tabel 10 : Hasil Analisis Variabel...71
Lampiran 2 : Tabel Variables Entered / Removed
bTabel Model Summaryb
Tabel ANOVA
bLampiran 3 :
Tabel Coefficients
aTabel Collinearity Diagnostics
aLampiran 4 : Tabel Residuals Statistics
aTabel
Correlations
Lampiran 5 : Tabel Pengujian Nilai F
Lampiran 6 : Tabel Pengujian Nilai Durbin-Watson
Lampiran 7 : Tabel Pengujian Nilai t
x
Oleh :
Aprilia Putri Susanti
ABSTRAKSI
Di era globalisasi ini, hampir semua negara menaruh perhatian besar
terhadap pasar modal karena memiliki peranan strategis bagi penguatan ketahanan
ekonomi suatu negara. Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang
sedang berkembang yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi
makroekonomi secara umum.
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang
diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur yang diambil selama
kurun waktu 10 tahun mulai dari tahun 1999-2008. Untuk analisis data
menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistic Program For
Social Scienci) versi 13.0. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
regresi linier berganda dan uji hipotesis yang digunakan adalah uji-t dan uji-F
statistik.
Setelah dilakukan uji statistik untuk mengetahui pengaruh secara simultan
antara variabel bebas Kurs Valas (X
1), Tingkat Suku Bunga SBI (X
2), dan
Penanaman Modal Asing (X
3), dan terhadap variabel terikatnya Indeks Harga
Saham Gabungan(Y) secara keseluruhan faktor-faktor variabel bebas berpengaruh
secara simultan dan nyata terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Pengujian
secara parsial atau individu Kurs Valas (X
1) terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (Y). Diketahui hasil perhitungan secara parsial tidak berpengaruh
secara nyata dan negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y). Pengujian
secara parsial atau individu Tingkat Suku Bunga SBI (X
2) terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (Y). Diketahui hasil perhitungan secara parsial tidak
berpengaruh secara nyata negative terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y).
Pengujian secara parsial atau individu Penanaman Modal Asing (X
3) terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (Y). Diketahui hasil perhitungan secara parsial
berpengaruh secara nyata positif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y).
1
1.1. Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini, hampir semua negara menaruh perhatian besar terhadap pasar modal karena memiliki peranan strategis bagi penguatan ketahanan ekonomi suatu negara. Terjadinya pelarian modal ke luar negeri (capital flight) bukan hanya merupakan dampak merosotnya nilai rupiah atau tingginya inflasi dan rendahnya suku bunga di suatu negara, tetapi karena tidak tersedianya alternatif investasi yang menguntungkan di negara tersebut, atau pada saat yang sama, investasi portofolio di bursa negara lain menjanjikan keuntungan yang jauh lebih tinggi. Keadaan ini terjadi sebagai konsekuensi dari terbukanya pasar saham terhadap investor asing.
AS sebesar 500 % mengakibatkan hampir semua kegiatan ekonomi terganggu.
Dampak lain dari menurunnya kepercayaan masyarakat berimbas sampai ke pasar modal. Harga-harga saham menurun secara tajam sehingga menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi investor.
Namun, bila melihat indikator ekonomi beberapa tahun terakhir ini, gejala pemulihan kepercayaan masyarakat mulai tampak. Pada September 2004, IHSG mencapai 820,1 dan sampai Desember 2005 telah mencapai 1162,63. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan mengingat IHSG pada tahun 2001, 2002, dan 2003 baru mencapai 392,03, 424,94, dan 679,3.
Kemudian sepanjang periode bulan Januari-Juli 2006, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) terus menerus berupaya menciptakan pasar yang semakin likuid, wajar, teratur dan transparan. Sepanjang periode di atas, bursa telah menunjukkan prestasi yang sangat menggembirakan. Salah satunya ditunjukkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEJ yang berhasil mencatat rekor tertinggi pada tanggal 11 Mei 2006 di level 1.553,062 (www.jsx.co.id).
kondisi pasar modal sedang bearish. Untuk itu, seorang investor harus memahami pola perilaku harga saham di pasar modal.
Dalam penelitiannya, Lee (1992) telah ditemukan bahwa perubahan tingkat bunga (interest rate) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap indeks harga saham. Sementara itu dalam artikel yang ditulis oleh Moradoglu, et al. (2000), dikemukakan bahwa penelitian tentang perilaku harga saham telah banyakdilakukan, terutama dalam kaitannya dengan variabel makroekonomi, diantaranya Chen et al. (1986), Geske and Roll (1983), dan Fama (1981). Hasil penelitian mereka mengatakan bahwa harga saham dipengaruhi oleh fluktuasi makroekonomi. Beberapa variabel makroekonomi yang digunakan antara lain; tingkat inflasi, tingkat bunga, nilai tukar, indeks produksi industri, dan harga minyak.
Selanjutnya Gupta (2000) yang mengadakan penelitian di Indonesia dengan menggunakan data periode 1993-1997 menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan kausalitas antara tingkat bunga, nilai tukar, dan harga saham. Hasil ini bertolak belakang dengan Sitinjak dan Kurniasari (2003) yang menemukan bahwa nilai tukar dan tingkat bunga SBI berpengaruh terhadap IHSG. Namun Sa’adah dan Panjaitan (2006) kembali menunjukkan bahwa tidak ada interaksi dinamis yang signifikan antara harga saham dan nilai tukar. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dimana masih menunjukkan hasil yang kontradiktif, maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai variabel makro ekonomi apakah yang sebenarnya berpengaruh terhadap IHSG dari perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta. Oleh karena itu, dalam skripsi peneliti mengambil judul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI Dan PMA Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Jakarta Tahun 1999-2008”
1.2. Perumusan Masalah
Dimana dalam penelitian ini, nilai tukar Rupiah/US$, tingkat suku bunga SBI dan PMA sebagai variabel independen dan IHSG sebagai variabel dependen.
Peneliti menggunakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, dengan alasan bahwa selama ini Dolar AS merupakan mata uang internasional (paling stabil) di dunia. Selain itu, Dolar AS merupakan mata uang internasional yang terkuat, sehingga banyak negara ataupun perusahaan yang melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang ini (Dolar AS). Meskipun mulai tahun 1999 muncul mata uang baru yaitu Euro, yang merupakan mata uang tunggal Eropa, tetap keberadaan belum bisa menggeser dominasi Dolar AS. Dan untuk kalangan Indonesia sendiri, Euro saat ini juga belum begitu popular, walaupun dengan terjadinya invasi AS ke Irak yang ternyata cukup menggoyahkan stabilitas Dolar AS (bahkan sempat melemah dibanding dengan Euro), tetapi keberadaan Euro belum bisa menggeser kedudukan Dolar AS sebagai mata uang internasional yang paling stabil, yang juga digunakan oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang ada di Negara ini dalam melakukan transaksi. Jadi dengan kondisi seperti ini, peneliti lebih memfokuskan materi penelitiannya terhadap Dolar AS dari pada mata uang lain (termasuk Euro).
mempengaruhi kegiatan perdagangan di lantai bursa yang tercermin dari besaran IHSG.
Variabel independen ketiga yaitu PMA. PMA di indonesia menunjukkan data yang berfluktuatif dari tahun ke tahun. indonesia saat ini dihimbau untuk lebih memperhatikan kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Guna mendorong peningkatan perekonomian yang lebih baik lagi. Bagaimanapun juga kebijakan – kebijakan investasi tersebut akan terkait langsung dengan penanaman modal asing pada sektor – sektor ekonomi di Indonesia.
IHSG sendiri merupakan salah satu indikator pasar modal yang sering kali dijadikan acuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kegiatan di bursa efek, untuk mengetahui apakah bursa dalam kondisi yang bullish atau bearish. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dari penelitian yang penulis ambil adalah sebagai berikut: 1. Apakah variabel-variabel independen Nilai Tukar Rupiah/US$,
Tingkat Suku Bunga SBI dan PMA secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta ?
3. Apakah variabel independen Tingkat Suku Bunga SBI secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta ?
4. Apakah variable independen PMA secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta ?
1.3. Tujuan Penelitian
Bertolak pada latar belakang permasalahan diatas maka tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel-variabel independen Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI dan PMA secara bersama-sama terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta tahun 1999-2008.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen Nilai Tukar Rupiah/US$ secara parsial terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta tahun 1999-2008. 3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen Tingkat
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen PMA SBI secara parsial terhadap variabel dependen Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta tahun 1999-2008.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan terutama investor sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Secara terperinci manfaat penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bagi Investor dan Emiten
Bagi investor dan emiten yang tercatat di BEJ, hasil dari penelitian ini dapat membantu mereka dalam menentukan apakah akan menjual, membeli, ataukah menahan saham yang mereka miliki berkenaan dengan perubahan kurs rupiah terhadap dollar AS dan tingkat suku bunga SBI. Karena kesalahan dalam menentukan dan menerapkan strategi perdagangan di pasar modal, akan berakibat buruk bagi perusahaan atau investor sehingga dapat mengalami kerugian apabila kurs rupiah/US$, tingkat suku bunga SBI dan PMA memang benar-benar berpengaruh terhadap IHSG.
2. Bagi Pemerintah
tingkat suku bunga SBI sehingga pengaruh yang telah atau akan terjadi dapat diantisipasi dan ditangani dengan sebaik-baiknya.
3. Bagi Peneliti dan Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat membuka cakrawala baru. Bahwa faktor-faktor ekonomi makro juga berpotensi mempengaruhi kinerja bursa saham, jadi tidak hanya faktor-faktor internal bursa itu sendiri saja.
10 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu akan diuraikan secara ringkas
karena penelitiaan ini mengacu pada beberapa penelitiaan sebelumnya.
Meskipun ruang lingkup hamper sama tetapi karena obyek dan periode
waktu yang digunakan berbeda maka terdapat banyak hal yang tidak
sama sehingga dapat dijadikan sebagai referensi untuk saling
melengkapi.
Berikut ringkasan beberapa penelitiaan terdahulu:
1. Lee (1992)
Lee (1992) telah menemukan bahwa perubahan tingkat bunga
(interest rate) mempenyai pengaruh yang signifikan terhadap indeks
harga saham.
2. Ajayi dan Mougoue (1996)
Mereka meneliti hubungan dinamis antara harga saham dan nilai
tukar pada “Delapan Besar” pasar saham. Yaitu Kanada, Perancis,
Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat dengan
menggunakan bivariate error correction model. Hasil penelitian mereka
menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua pasar tersebut
3. Gupta (2000)
Gupta (2000) yang mengadakan penelitian di Indonesia dengan
menggunakan data periode 1993-1997 menyimpulkan bahwa tidak ada
hubungan kausalitas antara tingkat bunga, nilai tukar, dan harga saham.
4. Sudjono (2002)
Dengan menggunakan metode VAR (Vector Auto Regression) dan
ECM (Error Correction Model) ditemukan bahwa variabel ekonomi
makro yang direfleksikan dengan nilai rupiah mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap indeks harga saham.
5. Sitinjak dan Kurniasari (2003)
Mereka menyimpulkan bahwa jika krus (nilai tukar dollar terhadap
rupiah) naik satu satuan berarti akan terjadi penurunan indikator pasar
(IHSG) saham sebesar satu satuan. Terutama sekali pada saat kondisi
pasar sedang bearish. Sedangkan pada pasar sedang bullish, indikator
pasar saham dan indikator pasar uang secara bersama-sama
berpengaruh positif. Terutama pada indikator pasar uang SBI,
signifikan positif untuk mempengaruhi pasar saham.
6. Sa’adah dan Panjaitan (2006)
Berdasarkan hasil penelitian dengan metode VAR (Vector Auto
Regression) menunjukan bahwa tidak ada interaksi dinamis yang
signifikan antara harga saham dengan nilai tukar.
Berdasarkan uraian di atas ringkasan dari penelitian terdahulu tersebut
Tabel 1.
Ringkasan Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Tahu n Variabel Sampel/Model Penelitian Hasil Penelitian Lee 1992 -Return Saham
-Tingkat bunga -Inflansi
-Indeks Harga Saham
Regresi Tingkat Bunga
berpengaruh signifikan terhadap indeks harga saham.
Ajayi dan Mougoue
1996 -Nilai Tukar -Harga Saham
Hubungan dinamis antara harga saham dan nilai tukar di 8 negara maju
Ada hubungan yang signifikan anatara pasar modal dan pasar uang.
Gupta 2000 -Tingkat Bunga -Nilai Tukar
-Harga Saham
Regresi Tidak ada kausalitas
antara ketiga variabel tersebut.
Sudjono 2002 -IHSG -Tingkat bunga deposito -SBI
-Jumlah uang Beredar -Nilai Tukar Rupiah -Inflasi
VAR (Vector Auto
Regression) dan ECM
(Error Correction
Model)
Nilai tukar Rupiah Berpengaruh Signifikan terdap indeks harga saham. Sitinjak dan Kurniasar i 2003 -SBI -IHK -Kurs -Pasar Saham Non-Linear Combination Kurs berpengaruh signifikan negative dan SBI Berpengaruh signifikan positif terhadap pasar saham
Sa’adah dan Panjaitan
2006 -IHSG -Nilai Tukar
VAR(Vector Auto
Regression)
Tidak ada interaksidinamis antara
harga saham dan nilai tukar
Sumber: data sekunder yang telah diolah
Adapun persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah
Tabel 2
Persamaan dan perbedaan penelitian Dengan penelitian terdahulu
Persamaan Perbedaan
Variabel yang digunakan berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu antara variabel-variabel makroekonomi (nilai tukar rupiah/US$ dan tingkat suku bunga SBI) dengan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Teknik analisis regresi linear berganda (multiple regression
analysis model)dengan persamaan
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Nilai Tukar (Kurs)
2.2.1.1. Pengertian Nilai Tukar
Kurs atau Nilai tukar adalah jumlah atau harga mata uang
domestik dari mata uang luar negeri (asing) atau Rasio antara satu unit
(satuan) mata uang dan jumlah mata uang yang lain pada waktu
tertentu. (Salvatore, 1994 : 140).
Perbedaan tingkat kurs timbul karena beberapa hal :
a. Perbedaan antara kurs beli dan jual oleh para pedagang valuta asing
selisih kurs tersebut merupakan keuntungan bagi para pedagang.
b. Perbedaan kurs yang di akibatkan oleh perdagangan dalam waktu
pembayarannya.
c. Perbedaan dalam tingkat keamanan dalam penerimaan hak
Pembayaran.
Sifat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar, apabila
transaksi jual beli valuta asing dapat di lakukan secara bebas di pasar,
maka kurs valuta asing akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan
permintaan dan penawarannya. Apabila pemerintah menjalankan
kebijaksanaan stabilisasi kurs, tetapi tdak dengan mempengaruhi
transaksi swasta, maka kurs ini hanya akan berubah-ubah dalam batas
yang kecil, meskipun batas-batas ini dapat di ubah dari waktu ke waktu,
Dalam hal ini kurs tidak lagi dipengaruhi oleh permintaan dan
penawaran. Sistem ini disebut exchange control. Didalam sistem
moneter standar emas kurs valuta asing relatif tetap atau hanya
berubah-ubah dalam batas-batas yang ditentukan oleh ongkos angkut
emas. (Nopirin, 1992: 172). Adapun sistem kurs valuta asing ada
beberapa macam, antara lain:
1. Sistem Kurs Berubah-ubah
Dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa
faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing,
bahwa permintaan valuta asing di perlukan guna melakukan transaksi
pembayaran ke luar negeri (Impor). Dan permintaan valuta asing di
turunkan dari transaksi Debit (Importir) dalam neraca pembayaran
internasional, sedangkan penawaran valuta asing berasal dari ekspotir
dan berasal dari transksi kredit pembayaran nasional. (Nopirin, 1995 :
173).
2. Sistem Kurs Stabil
Pada dasarnya kurs stabil berasal dari kebijakan pemerintah
yang berusaha menstabilkan kurs, karena kurs bebas yang dapat
menimbulkan berbagai tindakan spekulasi yang tak menentu di dalam
perekonomian. Kurs Stabil dapat di timbulkan karena :
Aktif : stabilization funds
Yaitu Pemerintah menyediakan dana untuk tujuan Stabilisasi
1. Pemerintah membeli valuta asing di pasar valuta asing, apabila
tendensi kurs valuta akan turun (yaitu dengan menaikkan
permintaan Pemerintah sehingga turunnya kurs dapat di cegah).
2. Pemerintah akan menjual valuta asing ke pasar valuta asing, apabila
tendensi kurs valuta asing naik (yaitu dengan menaikkan penawaran
valuta asing sehingga meningkatnya kurs dapat di cegah).
Pasif : gold standard
Yaitu dimana suatu negara menggunakan standard emas sebagai
patokan terhadap kurs yang di pakai, dengan catatan :
Nilai mata uangnya di jaminkan dengan nilai seberat emas tertentu.
Setiap orang boleh membuat serta melebur uang emas.
Pemerintah sanggup membeli atau menjual emas dalam jumlah yang
tidak terbatas pada harga tertentu (yang sudah di tetapkan
Pemerintah). (Nopirin, 1995 : 175 - 177).
Pengawasan Devisa(Exchange Control)
Dalam sistem ini Pemerintah memonopoli seluruh transaksi
valuta asing, dengan tujuan untuk mencegah adanya aliran modal
keluar dan melindungi pengaruh depresi dari negara lain,
terutama dalam hal negara tersebut menghadapi keterbatasan
cadangan valuta asing di bandingkan dengan permintaanya.
Karena kondisi yang demikian maka pemerintah melakukan
cadangan valuta asing tersebut untuk tujuan-tujuan yang sesuai
dengan program Pemerintah.
Sedangkan berdasarkan waktunya kurs valuta asing di bagi
menjadi dua bagian besar yaitu :
A. Kurs Tukar untuk masa mendatang (forward exchanged rate)
Yaitu karena kurs untuk mata uang yang sama dapat berbeda antara
saat ini dengan saat yang akan datang, sehingga timbul adanya kliring,
Hedging dan spekulasi.
B. Kurs Tukar saat ini (spot exchange rate)
Di dasari oleh permintaan dan penawaran akan valuta asing untuk
menentukan nilai tukar valuta asing, maka ada dua sistem yang
menjelaskan ada dan tidaknya intervensi Pemerintah terhadap kurs
tukar valuta asing, yaitu :
1. Standard Kurs Tetap (fixed exchange standard)
Dimana para pejabat (Penguasa Bank sentral) berusaha untuk
mempertahankan agar kurs tukar pada dasarnya tetap meskipun apabila
kurs yang mereka pilih menyimpang dari kurs keseimbangan yang
berlaku. (Kindleberger, 1982 : 279).
2. Standard Kurs Mengambang (floating exchange standard)
Yaitu sistem tanpa campur tangan pemerintah atau penguasa bank
2.2.1.2. Penentuan Nilai Tukar
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu
(Madura, 1993):
1. Faktor Fundamental
Faktor Fundamental berkaitan dengan indicator-indikator
ekonomi seperti inflasi, suku bunga, perbedaan relatif pendapatan antar
Negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank Sentral.
2. Faktor Teknis
Factor Teknis berkaitan dengan kondisi penawaran dan
permintaan devisa pada saat saat tertentu. Apabila ada kelebihan
permintaan, sementara penawaran tetap, maka harga valas akan naik
dan sebaliknya.
3. Sentimen Pasar
Sentimen pasar lebih banyak disebabkan oleh rumor atau
berita-berita politik yang bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga
valas naik atau turun secara tajam dalam jangka pendek. Apabila rumor
atau berita-berita sudah berlalu, maka nilai tukar akan kembali normal.
2.2.1.3. Sistem Kurs Mata Uang
Menurut Kuncoro (2001: 26-31), ada beberapa system kurs
mata uang yang berlaku di perekonomian Internasional, yaitu:
1. System kurs mengambang (floating exchange rate), system kurs ini
oleh otoritas moneter. Di dalam system kurs mengambang dikenal
dua macam kurs mengambang yaitu:
a. Mengambang bebas (murni) dimana kurs mata uang ditentukan
sepenuhnya oleh mekanisme pasar tanpa ada campur tangan
pemerintah. System ini sering disebut clean floating exchange rate,
di dalam system ini cadangan devisa tidak diperluakan karena
otoritas moneter tidak berupaya untuk menetapkan atau
memanipulasi kurs.
b. Mengambang terkendali (managed or dirty floating exchange rate)
dimana otoritas moneter berperan aktif dalam menstabilkan kurs
pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, cadangan devisa biasanya
dibutuhkan karena otoritas moneter perlu membeli atau menjual
valas untuk mempengaruhi pergerakan kurs.
2. System kurs tertambat (pages exchange rate). Dalam system ini,
suatu Negara mengkaitkan nilai mata uangnya dengan suatu mata
uang Negara lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya
merupakan mata uang Negara partner dagang yang utama
“Menambatkan” ke suatu mata uang berarti nilai mata uang tersebut
bergerak mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya. Jadi
sebenarnya mata uang yang ditambatkan tidak mengalami fluktasi
tetapi hanya berfluktasi terhadap mata uang lain mengikuti mata
3. System kurs tertambat merangkak (crawling pegs). Dalam system
ini, suatu Negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai mata
uangnya secara periodic dengan tujuan untuk bergerak menuju nilai
tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama system ini
adalah suatu Negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam
periode yang lebih lama dibanding system kurs tertambat. Oleh
karena itu, system ini dapat menghindari kejutan-kejutan terhadap
perekonomian akibat revaluasi atau devaluasi yang tiba-tiba dan
tajam.
4. System sekeranjang mata uang (basket of currencies). Banyak
Negara terutama Negara sedang berkembang menetapkan niali mata
uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Keuntungan dari
system ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu Negara
karena pergerakan mata uang yang disebar dalam sekeranjang mata
uang. Seleksi mata uang yang dimasukkan dalam “keranjang”
umumnya ditentukan oleh peranannya dalam membiayai
perdagangan Negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot
yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap Negara tersebut.
Jadi sekeranjang mata uang bagi suatu Negara dapat terdiri dari
beberapa mata uang yang berbeda dengan bobot yang berbeda.
5. System kurs tetap (fixed exchange rate). Dalam system ini, suatu
Negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama uangnya dan
valas dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya
tetap atau diperbolehkan berfluktasi dalam batas yang sempit.
2.2.1.4. Sejarah Perkembangan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia
Sejak tahun 1970, Negara Indonesia telah menerapkan tiga system
nilai tukar, yaitu:
1. Sistem Kurs Tetap (1970-1978)
Sesuai dengan undang-undang No.32 Tahun 1964, Indonesia
menganut system nilai tukar kurs resmi Rp 250/US$, sementara kurs
uang yang lainnya dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap
US$. Untuk menjaga kestabilan nilai tukar pada tingkat yang
ditentukan, Bank Indonesia melakukan intervensi aktif di pasar valuta
asing.
2. Sistem Mengambang Terkendali (1978-Juli 1997)
Pada masa ini, nilai tukar rupiah didasarkan pada system
sekeranjang mata uang (basket of currencies). Kebijakan ini diterapkan
bersama dengan dilakukannya devaluasi rupiah pada tahun 1978.
Dengan system ini, pemerintah menetapkan kurs indikasi (pembatas)
dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread tertentu.
Pemerintah hanya melakukan intervensi bila kurs bergejolak melebihi
3. Sistem Kurs Mengambang (14 Agustus 1997-sekarang)
Sejak pertengahan Juli 1997, nilai tukar rupiah terhadap US$
semakin melemah. Sehubungan dengan hal tersebut dan dalam rangka
mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang maka pemerintah
memutuskan untuk menghapus rentang intervensi (system nilai tukar
mengambang terkendali) dan mulai menganut system nilai tukar
mengambang bebas (free floating exchange rate) pada tanggal 14
Agustus 1997. Penghapusan rentang intervensi ini juga dimaksudkan
untuk mengurangi kegiatan intervensi pemerintah terhadap rupiah dan
memantapkan pelaksanaan kebijakan moneter dalam negeri.
2.2.2. Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang atau
dana untuk jangka waktu tertentu atau bisa juga dipandang sebagai
sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. (Boediono,
1998:75).
Seperti harga-harga lainnya apabila jumlah yang ditawarkan
lebih kecil dari yang diminta, maka tingkat harga cenderung naik.
Demikian sebaliknya barang yang dipertukarkan dalam hal ini adalah
kredit atau pemakaian uang untuk suatu periode tertentu. Tingkat bunga
berkaitan sekali dengan kurun waktu didalam kegiatan-kegiatan
sebagai harga yang harus dibayar apabila terjadi pertukaran antara satu
rupiah sekarang dan satu rupiah diwaktu yang akan datang.
Arti suku bunga yang lain adalah harga yang dibayarkan atas
penggunaan uang sampai pada saat ini. Apabila bank kekurangan dana
masyarakat maka pertama kali yang dipinjam adalah suku bunga, jadi
dapat dikatakan bahwa para peminjam bersedia membayarkan sejumlah
tingkat bunga kepada pemilik uang, karena dengan uang yang
dipinjamkannya orang tersebut dapat menciptakan pendapatan atau
secara singkat suku bunga adalah harga daripada uang price of money.
(Boediono, 1998 : 75 ).
Tingkat bunga sebagai indikator moneter, merupakan variabel
yang memberikan informasi apakah sasaran yang diinginkan
merupakan alat bagi pemerintah untuk mencapai sasaran kebijaksanaan
berupa stabilitas ekonomi makro. Pemerintah mempunyai peranan yang
besar dalam menetapkan tinggi rendahnya tingkat guna meskipun tidak
mutlak. Penjelasan diatas memberikan masukan bagi kita bahwa tingkat
bunga merupakan suatu alat yang penting untuk mengendalikan
berbagai masalah dalam bidang perbankan yang akhirnya ditunjukkan
oleh kemakmuran masyarakat kita.
2.2.2.1. Teori Klasik Tentang Suku Bunga
Menrut para ahli ekonomi aliran klasik, Tabungan merupakan
keinginan masyarakat untuk menabung. Artinya, pada tingkat bunga
yang lebih tinggi masyarakat akan lebih terdorong untuk
mengorbankan/mengurangi pengeluaran untuk konsumsi guna
menambah tabungan. (Nopirin, 1992:70).
Sedangkan pendapat aliran klasik yang lain bunga merupakan
harga dari penggunaan atau dana yang tersedia untuk dipinjamkan
(loanable funds), ataupun terjemahan bebasnya kita gunakan istilah
“Dana Investasi“ sebab menurut teori klasik bunga adalah harga yang
terjadi di pasar dana investasi. ( Boediono, 1998 : 76 ).
Pasar dana investasi adalah pasar tempat pertemuan antara
orang-orang yang berlebihan dan orang yang membutuhkan dana.
Orang-orang yang mempunyai kelebihan dana adalah masyarakat yang
menerima pendapatan melebihi apa yang mereka perlukan untuk
kebutuhan konsumsinya. Mereka ini adalah kelompok penabung dan
seluruh tabungan mereka membentuk penawaran akan loanable funds.
Pada golongan kedua terdapat masyarakat yang membutuhkan dana dan
disebut sebagai masyarakat yang mungkin ingin berkonsumsi melebihi
dari pendapatan yang diterimanya atau bisa juga mereka ingin
melakukan investasi dan memperluas usahannya. Mereka inilah yang
disebut dengan investor dan jumlah dari seluruh kebutuhan mereka
akan dana membentuk permintaan akan loanable funds.
Dalam perekonomian modern kedua pihak ini bertransaksi
merupakan harga yang disepakati oleh para penabung dan permintaan
(investor) untuk sejumlah dana yang dapat dipinjamkan tersebut. Hal
[image:36.612.244.484.217.372.2]ini dapat dilihat pada kurva permintaan di bawah ini :
Gambar 1 : Kurva Permintaan akan Uang
Tingkat Bunga (%) Jumlah Uang
Io
Liquidity Preference
0 Jumlah Uang dan
Permintaan Uang
Sumber : Nopirin, 1992, Ekonomi Moneter, edisi 4, penerbit BPFE, Yogyakarta (hal 92).
Permintaan akan uang, yang oleh Keynes disebut dengan
liquidity preference (permintaan uang) tergantung daripada tingkat
Bunga. Dalam gambar 1 sumbu horizontal mengukur jumlah dan
permintaan uang dengan sumbu vertikal untuk tingkat bunga.
Permintaan akan uang mempeunyai hubungan negatif dengan
tingkat bunga. Hubungan negatif antara permintaan uang dengan
tingkat bunga dapatlah dijelaskan sebagai berikut. Pertama, Keynes
menyatakan bahwa masyarakat mempunyai keyakinan adanya suatu
tingkat bunga yang normal. Apabila tingkat bunga turun dibawah
tingkat normal, makin banyak orang yakin bahwa tingkat bunga akan
waktu tingkat bunga naik mereka akan menderita kerugian (capital
loss). Mereka akan menghindari kerugian ini dengan cara mengurangi
surat berharga yang dipegangnya dan dengan sendirinya menambah
uang kas yang dipegang, pada waktu tingkat bunga naik. Sedangkan
[image:37.612.259.470.267.426.2]untuk kurva Penawaran yaitu sebagai berikut :
Gambar 2 : Kurva Penawaran Dana Investasi
Tingkat Bunga (%)
S
Io
0 I Dana Investasi (Loanable funds)
Sumber : Boediono, 1998, Ekonomi Moneter;seri sinopsis, Pengantar
Ilmu Ekonomi, edisi 3, penerbit BPFE, Yogyakarta (hal
77).
Kurva penawaran dana invetasi (S) berlereng positif seiring
dengan perilaku manusia yang selalu berupaya memaksimumkan
utilitas (kegunaan). Apabila suku bunga diatas Io, jumlah melebihi
keinginan pengusaha untuk melakukan investasi para penabung akan
saling bersaing untuk meminjamkan dananya dan persaingan ini akan
menekan suku bunga akan turun balik ke posisi Io. Sebaliknya apabila
suku bunga di bawah Io, pengusaha akan saling bersaing untuk
Akan mendorong tingkat bunga naik lagi ke posisi Io. (Boediono, 1998
: 77).
2.2.2.2.Teori Keynes Tentang Suku Bunga
Pandangan Keynes tentang suku bunga adalah suku bunga
merupakan suatu fenomena moneter artinya ditentukan oleh penawaran
dan permintaan yang terjadi dipasar uang. (Nopirin, 1992 : 90).
Akan halnya teori Keynes yang berhubungan dengan
permintaan uang adalah teori liquidity preference. Teori ini disebut
liquidity preference karena teori ini mengatakan bahwa kurva hasil
selalu mempunyai slope positif, artinya tingkat bunga pertahun untuk
deposito yang berjangka lebih lama selalu lebih tinggi daripada tingkat
bunga pertahun untuk deposito berjangka lebih pendek. Apabila
masyarakat memperoleh tingkat bunga yang sama, misalnya 18 %
setahun untuk deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan atau 24
bulan di bank, maka menurut teori ini masyarakat akan memilih
menempatkan uang mereka untuk deposito 1 bulan, hal ini disebabkan
masyarakat merasa lebih liquid dengan deposito 1 bulan daripada
deposito 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan atau 24 bulan.
Teori Keynes menekankan adanya hubungan langsung antara kesediaan
orang membayar harga uang tersebut (tingkat bunga) dengan unsur
permintaan uang untuk tujuan spekulasi. Permintaan uang untuk tujuan
suku bunga maka makin rendah keinginan akan kas untuk tujuan
spekulasi, alasan pertama apabila suku bunga naik berarti ongkos
memegang uang kas makin tinggi, sehingga keinginan
masyarakat akan uang kas kecil, begitu sebaliknya.
Untuk menyederhanakan modelnya, Keynes hanya membagi
susunan/komponen kekayaan dalam dua bentuk yakni uang kas dan
surat berharga (obligasi). Keuntungan apabila kekayaan diwujudkan
dalam bentuk uang kas adalah kemudahan dalam melakukan transaksi
sebab uang kas merupakan alat pembayaran yang paling likuid. Likuid
diukur dengan kecepatan menukar kekayaan dalam bentuk alat
pembayar (untuk transaksi) tanpa adanya kerugian nilai. Jadi, uang
tidak ada resiko capital gain atau loss seperti halnya pada bentuk
kekayaan yang lain. Tetapi bentuk kekayaan dalam uang kas tidak
dapat memberikan penghasilan (misalnya berupa bunga). Sebaliknya
kekayaan dalam bentuk surat berharga, dimana harganya dapat naik
turun tergantung dari tingkat bunga (apabila tingkat bunga naik harga
surat berharga turun dan sebaliknya), sehingga ada kemungkinan
pemegang surat berharga akan menderita capital loss atau gain.
Namun demikian, surat berharga mendatangkan pendapatan
yang berupa bunga, dengan anggapan bahwa masyarakat itu tidak suka
resiko (risk averters) maka mereka akan mau memegang bentuk
kekayaan yang resikonya tinggi (surat berharga) apabila didorong
dalam susunan kekayaan, resikonya juga semakin tinggi. Oleh karena
itu harus didorong dengan tingkat bunga yang lebih tinggi pula. Tingkat
bunga disini adalah tingkat bunga “Rata-rata” dari segala macam surat
berharga yang beredar dalam masyarakat. (Nopirin, 1992 : 91).
Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Suku bunga nominal adalah suku bunga dalam nilai uang. Suku bunga
ini merupakan nilai yang dapat dibaca secara umum. Suku bunga ini
menunjukkan sejumlah rupiah untuk setiap satu rupiah yang
diinvestasikan.
2. Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami koreksi
akibat inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga nominal dikurangi
laju inflasi.
Dalam Kamus Akuntansi (1996:69), disebutkan bahwa interest
(bunga, kepentingan, hak) merupakan: [1] beban atas penggunaan uang
dalam suatu periode, dan [2] suatu pemilikan atau bagian kenyataan
dalam suatu perusahaan, usaha dagang, sumber daya.
Unsur-unsur di dalam tingkat suku bunga, meliputi:
1. Syarat jatuh tempo
Berbagai pinjaman mempunyai syarat atau jatuh tempo.
Pinjaman terpendek adalah pinjaman satu malam. Surat-surat berharga
jangka pendek. Jangka pendek biasanya mempunyai periode sampai
memberikan suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan jangka
pendek.
2. Risiko
Ada pinjaman yang pada hakikatnya tidak memiliki risiko,
sementara lainnya sangat bersifat spekulatif. Obligasi-obligasi dan
tagihan-tagihan pemerintah di dukung dengan penuh kepercayaan, oleh
kredit dan kekuatan pajak dari pemerintah. Unsur-unsur ini dapat di
percaya karena bunga pinjaman pemerintah akan Benar-benar di bayar.
Risiko menengah terdapat pada pinjaman atas kredit-kredit perusahaan
yang kondisinya baik. Sedangkan investasi yang berisiko mempunyai
peluang gagal atau tidak di bayar yang sangat tinggi yaitu termasuk
investasi pada perusahaan yang hamper bangkrut.
3. Likuiditas
Aktiva akan di sebut “likuid” apabila dapat di tukarkan dengan
kas secara cepat dan hanya menimbulkan kerugian nilai yang sedikit.
Sebagai besar surat berharga, termasuk saham biasa , obligasi
perusahaan dan pemerintah, dapat di ukur dengan kas secara cepat
mendekati nilai sekarangnya. Aktiva-aktiva tidak likuid termasuk
aktiva-aktiva unik yang tidak memiliki pasar yang berkembang baik.
4. Biaya-biaya administrasi, waktu serta ketelitian yang di perlukan
untuk administrasi berbagai jenis pinjaman, sangatlah berbeda.
bunga 5 sampai 10 persen per tahun lebih besar dari tingkat bunga
lainnya.
2.2.3. Sertifikat Bank Indonesia
Sebagaimana tercantum dalam UU No.13 tahun 1968 tentang
Bank Sentral, salah satu tugas Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas
moneter adalah membantu pemerintah dalam mengatur, menjaga, dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Dalam melaksanakan tugasnya, BI
menggunakan beberapa piranti moneter yang terdiri dari Giro Wajib
Minimum (Reserve Requirement), fasilitas diskonto, Himbauan moral
dan Operasi Pasar Terbuka BI dapat melakukan transaksi jual beli surat
berharga termasuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
2.2.3.1. Pengertian Sertifikat bank Indonesia
Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No.8/13/DPM
tentang penerbitan Sertifikat Bank Indonesia melalui lelang, Sertifikat
Bank Indonesia yang selanjutnya disebut SBI adalah surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai
pengakuan utang berjangka waktu pendek.
2.2.3.2. Tujuan Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia
Sebagai otoritas moneter, BI berkewajiban memelihara
primer (uang kartal+uang giral di BI) yang berlebihan dapat
mengurangi kestabilan nilai rupiah. SBI diterbitkan dan dijual oleh BI
untuk mengurangi kelebihan uang primer tersebut.
2.2.3.3. Dasar hukum Sertifikat Bank Indonesia
Dasar hukum penerbitan SBI adalah UU No.13 tahun 1968
tentang Bank Sentral, surat keputusan direksi Bank Indonesia No.
31/67/KEP/DIR tanggal 23 juli 1998 tentang penerbitan dan
perdagangan serifikat Bank Indonesia serta intervensi Rupiah, dan
peraturan Bank Indonesia No. 6/2/PBI/2004 tanggal 16 februari 2004
tentang Bank Indonesia –Scripless Securities Settlement System.
2.2.3.4. Karakteristik sertifikat Bank Indonesia
SBI memiliki karakterisrik sebagai berikut (www.bi.go.id):
1. Jangka waktu maksimum 12 bulan dan sementara waktu hanya
diterbitkan untuk jangka waktu 1 dan 3 bulan.
2. Denominasi: dari yang terendah RP 50 Juta sampai dengan tertinggi
RP 100 Milyar.
3. Pembelian SBI oleh masyarakat minimal Rp 100 juta dan selebihnya
dengan kelipatan RP 50 juta.
4. Pembelian SBI didasarkan pada nilai tunai berdasarkan diskonto
murni (true discount) yang diperoleh dari rumusan berikut ini:
)} {(
360
360 min
kaWaktu kontoxJang
TingkatDis
alx NilaiNo
NilaiTunai
5. Pembelian SBI memperoleh hasil berupa diskonto yang dibayar
dimuka.
6. Nilai diskonto = nilai nominal - nilai tunai
7.Pajak Penghasilan (PPh) atas diskonto dikenakan secara final sebesar
15%,.
8. SBI diterbitkan tanpa waktu (Screept plus)
9. SBI dapat diperdagangkan dipasar sekunder
2.2.4 Penanaman Modal Asing (PMA)
2.2.4.1 Definisi Penanaman Modal Asing (PMA)
Penanaman Modal Asing adalah investasi yang dilaksanakan oleh
pemilik modal asing di dalam negeri kita untuk mendapatkan
keuntungan dari usaha yang dilaksanakan itu. (Suparmoko, 1992 :
294).
Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman
Modal Asing (PMA) pada Pasal 1 menyebutkan bahwa pengertian
Penanaman Modal Asing di dalam undang-undang ini hanyalah
meliputi Penanaman Modal Asing secara langsung yang dilakukan
menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang ini dan
yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dalam arti
bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari
Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman
Modal Asing (PMA) pada pasal 2, pengertian Penanaman Modal Asing
adalah :
a. Alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari
kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan pemerintah
digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia.
b. Alat-alat untuk pembayaran, termasuk penemuan-penemuan baru milik
orang asing dan bahan-bahan yang dimasukkan dari luar ke dalam
wilayah Indonesia, selama alat-alat tersebut tidak dibiayai dari
kekayaan devisa Indonesia.
c. Bagian dari hasil perusahaan yang berdasar Undang-undang ini
diperkenankan di transfer tapi dipergunakan untuk membiayai
perusahaan di Indonesia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengeluaran atau
perbelanjaan yang dilakukan pemilik modal asing di dalam negeri
untuk membeli barang modal dan perlengkapan produksi untuk
menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan.
Dalam prakteknya, yang digolongkan sebagai investasi (atau
pembentukan modal atau penanaman modal) meliputi pengeluaran atau
perbelanjaan sebagai berikut :
a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan
b. Perbelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, kantor, pabrik
dan lain-lainnya.
c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan
mentah dan barang yang masih dalam proses produksi. (Sukirno, 1995
: 107).
2.2.4.2 Keputusan untuk Menanamkan Modal
Orang akan menanamkan modal dalam modal fisik yang baru
seperti mesin-mesin peralatan, toko dan gudang atau tidak tergantung
pada soal adalah tingkat keuangan yang diharapkan terhadap investasi
baru itu lebih besar ataukah lebih kecil dari suku bunga yang harus
dibayar terhadap dana-dana yang perlu dipinjam untuk memperoleh
aset-aset ini. Sekalipun dana itu siap untuk digunakan harus juga
diambil keputusan antara alternatif-alternatif menggunakan dana itu
membeli aset fisik yang baru atau meminjamkan dana itu kepada orang
lain, barang kali dengan jalan membeli saham.
Dengan investasi baru dalam modal fisik ada dua perbedaan :
1. Hasil pengembalian yang diharapkan dari tahun ke tahun mungkin
berbeda-beda sepanjang umur aset itu.
2. Hasil pengembalian itu hanyalah berupa pikiran menurut terkaan
terbaik pada saat diambilnya keputusan untuk menanam modal itu. Pada
kenyataannya bahwa harus diadakan penyesuaian untuk berbagai hasil
2.2.5 Indeks Harga Saham
Saat ini bursa efek Jakarta (BEJ) terdapat (7) jenis indeks,
sebagai berikut (www.jsx.co.id):
1. Indeks Harga Saham Individual (IHSI), merupakan indeks untuk
masing-masing saham yang didasarkan pada harga dasarnya.
2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau juga dikenal dengan
Jakarta Composite Index (JSI), mencakup pergerakan harga seluruh
saham biasa dan saham Preferen yang tercatat di BEI.
3. Indeks Sektoral, menggunakan semua saham yang masuk dalam
setiap sector. Semua perusahaan yang tercatat di BEI
diklasifikasikan kedalam 9 (Sembilan) sector yang didasarkan pada
klasifikasi industry yang ditetapkan oleh BEJ yang disebut
JASICA(Jakarta Stock Exchange Industrial Classification).
4. Indeks LQ-45, terdiri dari 45 saham yang dipilih setelah melalui
beberapa criteria sehingga indeks ini terdiri dari saham-saham yang
mempunyai likuiditas yang tinggi dan juga mempertimbangkan
kapitalisasi pasar dari saham-saham tersebut.
5. Jakarta Islamic Indeks (JII), terdiri dari 30 saham yang sesuai
dengan syariah islam. Dewan pengawasan syariah PT.DIM
(danareksa Investment Management) terlibat dalam menetapkan
6. Indeks Papan Utama (Main Board Index/ MBX), diperuntukkan
bagi perusahaan dengan track record yang baik.
7. Indeks papan pengembang (Development Board Index/DBM),
untuk mengakomodasi perusahaan-perusahaan yang belum bisa
memenuhi persyaratan papan Utama, tetapi masuk pada kategori
perusahaan berprospek. Disamping itu, papan pengembang
diperuntukkan bagi perusahaan yang mengalami restrukturisasi atau
pemulihan performa.
Dari berbagai jenis indeks harga saham tersebut , dalam
penelitian ini hanya menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) sebagai obyek penelitian karena IHSG merupakan proyeksi dari
pergerakan dari seluruh saham biasa dan saham preference yang
tercatat di BEJ.
Indeks Harga Saham Gabungan pertama kali diperkenalkan
pada tanggal 1 April 1983 sebagai indicator pergerakan harga semua
saham yang tercatat di bursa efek Jakarta baik saham biasa maupun
saham preference.
Anoraga dan Panji (2001: 100-104) mengatakan, secara
sederhana yang disebut dengan indeks harga adalah suatu angka yang
di gunakan untuk membandingkan suatu peristiwa dengan peristiwa
lainnya. Demikian juga dengan indeks harga saham, indeks di sini akan
suatu harga saham mengalami penurunan atau kenaikan di bandingkan
dengan suatu waktu tertentu.
Seperti dalam penentuan indeks lainnya, dalam pengukuran
indeks harga saham kita memerlukan juga dua macam waktu, yaitu
waktu dasar dan waktu yang berlaku. Waktu dasar akan di pakai
sebagai dasar perbandingan, sedangkan waktu berlaku merupakan
waktu dimana kegiatan akan di perbandingkan dengan waktu dasar.
Pergerakan nilai indeks akan menunjukkan perubahan situasi
pasar yang terjadi. Pasar yang sedang bergairah atau terjadi transaksi
yang aktif, di tunjukan dengan indeks harga saham yang mengalami
kenaikan. Kondisi inilah yang biasanya menujukkan keadaan yang
diinginkan. Keadaan stabil ditunjukkan dengan indeks harga saham
yang tetap, sedangkan yang lesu ditunjukkan dengan indeks harga
saham yang mengalami penurunan.
Untuk mengetahui besarnya Indeks Harga Saham Gabungan,
digunakan rumus sebagai berikut (Anoraga dan Pakarti, 2001: 102)
100
x Ho Ht IHSG
Dimana :
Σ Ht : Total harga semua saham pada waktu yang berlaku
Ada beberapa jenis Teknik Analisis Saham, antara lain :
1. Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harga saham di periode yang lalu, dan upaya untuk menentukan kapan investor harus membeli, menjual atau mempertahankan sahamnya dengan menggunakan indikator-indikator teknis atau menggunakan analisis grafik. Indikator teknis yang digunakan adalah moving average, volume perdagangan, dan
short-interest ratio. Sedangkan analisis grafik diharapkan dapat
mengidentifikasi berbagai pola seperti key reserval, head and
shoulders, dan sebagainya.Analisis ini menggunakan data pasar dari
saham, seperti harga dan volume transaksi penjualan saham untuk menentukan nilai saham.
2. Analisis Fundamental
Analisis fundamental ini menyatakan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik. Analisis ini mencoba untuk menghitung nilai intrinsik dari suatu saham dengan menggunakan data fundamental yaitu Laporan Keuangan Perusahaan, seperti laba, dividen, penjualan, struktur modal, resiko dan sebagainya. Analisis ini akan membandingkan nilai intrinsik dengan harga pasarnya untuk menentukan apakah harga saham pasar sudah mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum.
2.3. Kerangka Pikir
Dalam penelitian ini, dilakukan terhadap 3 (tiga) Variabel
makroekonomi yang diduga berpengaruh terhadap Indeks Harga
Saham (IHSG) di bursa efek Jakarta. Adapun variabel makroekonomi
yang diprediksikan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) adalah nilai tukar Rupiah/US$, tingkat suku bunga
Berdasarkan uraian diatas, hubungan masing-masimg Variabel
independen (Variabel makroekonomi) terhadap IHSG dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Hubungan Nilai Tukar Rupiah/US$ Terhadap IHSG
Apabila masyarakat menduga akan terjadi devaluasi / depresiasi
maka kepercayaan masyarakat akan terhadap mata uang akan turun,
maka dalam keadaan yang demikian pemodal cenderung mengalihkan
dana nya kedalam valas. Apabila investor yang telah berinvestasi
dalam bentuk saham melakukan demikian maka dapat berpengaruh
pada turunnya harga saham di pasar modal, jika terjadi penurunan kurs
valas akan terjadi sebaliknya. (Sudana, 1994:22)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan terjadinya
fluktasi kurs valas baik meningkat atau menurun dapat mempengaruhi
sikap dan ekspektasi investor terhadap pergerakan harga saham di
masa yang akan datang, yang selanjutnya akan berpengaruh pula
terhadap IHSG.
2. Hubungan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap IHSG
Pengaruh tingkat bunga terhadap harga saham adalah tingkat bunga
berpengaruh terhadap fluktasi harga saham, kalau tingkat bunga tinggi
dan menarik, investor tentu lebih suka menaruh uangnya di Bank.
Sebaliknya jika tingkat bunga rendah daripada hasil investasinya di
pasar modal, investor akan lebih suka berinvestasi di pasar modal.
3. Hubungan Penanaman Modal Asing Terhadap IHSG
Hubungan antara Penanaman Modal Asing dengan IHSG adalah naiknya Penanaman Modal Asing dapat meningkatkan IHSG karena Penanaman Modal Asing merupakan indikator yang menggambarkan bentuk dari kegiatan perusahaan dalam pemilikan saham. (Waluya, 1995:35)
Atas dasar analisis tersebut maka pengaruh dari masing-masing
variabel tersebut terhadap IHSG dapat digambarkan dalam model
[image:52.612.140.549.401.582.2]paradigma seperti ditunjukkan dalam gambar 3.
Gambar 3.
Model Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku
Bunga SBI Dan PMA Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
Di Bursa Efek Jakarta
Berdasarkan model pada Gambar 3. tersebut menunjukkan
bahwa variabel independen terdiri dari Nilai Tukar Rupiah/US$ (X1),
Tingkat Suku Bunga SBI (X2), PMA (X3) dan variabel dependennya
IHSG (Y).
Nilai Tukar Rupiah/US$
Tingkat Suku Bunga SBI
PMA Perusahaan Go
Public Asing Keputusan Investasi Nilai Mata Uang
2.4. Hipotesis
Istilah hipotesis berasal dari bahasa yunani, yaitu hupo dan
thesis. Hupo berarti lemah, kurang atau dibawah dan thesis berarti teori,
proposisi, atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti. Jadi, hipotesis
dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah
kebenarannya dan perlu di buktikan atau dugaan yang sifatnya masih
sementara (Hasan, 2003:140).
Adapun hipotesis yang di ajukan dalam penelitiaan ini adalah
sebagai berikut:
1 : Diduga bahwa variabel-variabel independen Nilai Tukar
Rupiah/US$ (X1), Tingkat Suku Bunga SBI (X2) dan
PMA (X3) secara bersama-sama mempunyai pengaruh
signifikan terhadap IHSG (Y) di bursa efek Jakarta.
2 : Diduga bahwa variabel independen Nilai Tukar
Rupiah/US$ (X1) secara parsial mempunyai pengaruh
signifikan terhadap IHSG (Y) di bursa efek Jakarta.
3 : Diduga bahwa variabel independen Tingkat Suku Bunga
SBI (X2) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan
terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek Jakarta.
4 : Diduga bahwa variabel independen PMA (X3) secara
parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y)
42
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini terdapat 4 (empat) variable yang terdiri
dari 1 (satu) variable dependen dan 3 (tiga) variabel independen.
Variable dependen dalam penelitian ini yaitu IHSG (Y), sedangkan
variable independen terdiri atas nilai tukar rupiah/US$ (X1), Tingkat
Suku Bunga SBI (X2) dan PMA (X3). Hubungan antara ketiga variable
tersebut adalah naik turunnya variable dependent yang dipengaruhi oleh
perilaku variable independen yang artinya apabila salah satu variable
independen berubah maka akan mengakibatkan variable dependent juga
berubah.
Masing-masing variable dalam penelitian ini secara
operasional dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Nilai Tukar Rupiah/US$
Nilai tukar rupiah/US$ menunjukkan nilai dari mata uang Dolar AS
yang ditranslasikan dengan mata uang Rupiah. Sebagai contoh, US$ 1
= Rp 9.000,- artinya apabila 1 Dolar AS dihitung dengan menggunakan
Rupiah maka nilainya adalah sebesar Rp 9000,-. Data yang diambil
adalah nilai tukar Rupiah/US$ mulai bulan Januari 1999-Desember
2. Tingkat Suku Bunga SBI
Tingkat suku bunga SBI adalah ukuran keuntungan investasi berupa
sertifikat bank Indonesia yang dapat diperoleh pemodal dan juga biaya
modal yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menggunakan dana
dari pemodal. Pengukuran yang digunakan adalah satuan persentase
dan data yang diambil adalah tingkat suku bunga SBI mulai bulan
Januari 1999-Desember 2008. ( Dengan satuan % ).
3. Indeks Harga Saham Gabungan
IHSG adalah indeks yang diperoleh dari seluruh saham yang
tercatat di BEJ dalam waktu tertentu. Pengukuran yang digunakan
adalah dalam satu satuan poin, dan data yang diperoleh merupakan data
IHSG sejak Januari 1999-Desember 2008. ( Dengan satuan Poin).
4. Penanaman Modal Asing
Penanaman Modal Asing adalah investasi yang dilaksanakan oleh
pemilik modal asing di dalam negeri kita untuk mendapatkan keuntungan
dari usaha yang dilaksanakan itu. Pengukuran yang digunakan adalah dalam
rupiah. Dan data yang diambil adalah PMA mulai bulan Januari
3.2. Teknik Penentuan Sampel
Penelitian ini dilakukan untuk meneliti apakah kurs rupiah/US$
dan tingkat suku bunga SBI berpengaruh secara signifikan terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa efek Jakarta (BEJ).
Karena yang menjadi obyek penelitian adalah IHSG, maka yang
menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Indeks Harga seluruh
saham yang ada di BEJ yang terdaftar dari 1 Januari 1999 sampai 31
Desember 2008.
Data yang digunakan adalah berupa data berkala (Time Series Data)
yaitu data tahunan yang diambil dalam kurun waktu 10 tahun, periode
tahun 1999 sampai dengan akhir tahun 2008. Dalam penelitian ini yang
akan diamati mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dalam kaitannya
dengan seluruh variabel bebas diatas.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitiaan ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara
dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data yang tertulis dan
berhubungan dengan masalah penelitiaan baik dari sumber dokumen
atau buku-buku, Koran, majalah, internet dan lain-lain.
Selain itu pengumpulan data dilakukan secara studi pustaka,
yaitu metode pengumpulan data untuk memperoleh informasi dengan
fenomena-fenomena yang dibaca dari sumber tertentu (Marzuki, 2000: 58-62).
Dalam studi pustaka penelitiaan ini dilakukan dengan membaca dan
mencatat referensi yang ada di Perpustakaan “Universitas
Pembangunan Nasional UPN Jawa Timur”
3.4. Metode Analisis Data Dan Uji Hipotesis
3.4.1. Model Dan Teknik Analisis Data
Untuk menguji hipotesis tentang kekuataan variable independen
(Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI dan PMA)
terhadap IHSG, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi
linear berganda (multiple regression analysis model) dengan persamaan
kuadrat terkecil (Ordinariy Least Square) dengan model dasar sebagai
berikut:
Dimana:
Y = IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
α = Konstanta
X1 = Nilai Tukar Rupiah/US$
X2 = Tingkat Suku Bunga SBI
X3 = PMA
β1, β2, β3 = Koefisien regresi parsial untuk X1, X2, X3
ε = Disturbance error (factor pengganggu/residual)
3.4.2. Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk menguji hipotesis yang
telah dirumuskan di muka dengan menggunakan alat bantu Statistic
Package for Social Science 13.0 (SPSS 13.0). pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui pengaruh kurs rupiah/US$, tingkat suku bunga SBI
dan PMA terhadap IHSG di BEJ periode tahun 1999-2008.
Pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Pengujian Hipotesis 1 dengan Uji F, digunakan untuk mengetahui
apakah variable-variabel independen Nilai Tukar Rupiah/US$ (X1),
Tingkat Suku Bunga SBI (X2) dan PMA (X3) secara bersama-sama
mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek
Jakarta tahun 1999-2008.
2. Pengujian Hipotesis 2 dengan Uji t, digunakan untuk mengetahui
parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa
Efek Jakarta tahun 1999-2008.
3. Pengujian Hipotesis 3 dengan Uji t, digunakan untuk mengetahui
apakah variable independen Tingkat Suku Bunga SBI (X2) secara
parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa
Efek Jakarta tahun 1999-2008.
4. Pengujian Hipotesis 4 dengan Uji t, digunakan untuk mengetahui
apakah variable independen PMA (X3) secara parsial mempunyai
pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek Jakarta tahun
1999-2008.
A. Uji F
Pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh dari seluruh
variable independen secara bersama-sama terhadap variable dependen.
Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
H0; µ = 0 : Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI dan
PMA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IHSG
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H1; µ ≠ 0 : Nilai Tukar Rupiah/US$, Tingkat Suku Bunga SBI dan
PMA berpengaruh secara signifikan terhadap IHSG
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
3. Membuat keputusan
Jika Fhitung≥ Ftabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
4. Membuat kesimpulan
B. Uji t
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari
tiap-tiap variable independen (Nilai Tukar Rupiah/US$ dan Tingkat Suku
Bunga SBI) terhadap IHSG di BEJ untuk periode 1999-2008.
Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
H0; µ = 0 : Nilai Tukar Rupiah/US$ tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap IHSG perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H2; µ ≠ 0 : Nilai Tukar Rupiah/US$ berpengaruh secara signifikan
terhadap IHSG perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H0; µ = 0 : Tingkat Suku Bunga SBI tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap IHSG perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H3; µ ≠0 : Tingkat Suku Bunga SBI berpengaruh secara
signifikan terhadap IHSG perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H0; µ ≠ 0 : PMA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
IHSG perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
H0; µ ≠ 0 : PMA berpengaruh secara signifikan terhadap IHSG
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
thitung =
) ( Se i
i
(Sudrajat, 1988 : 79)
Dimana :
i = Koefisien Regresi
i = Variabel bebas ke i sampai j
Se (i) = Standart error / simpangan baku
3. Menentukan tingkat signifikasi (α) yang digunakan, α = 5%
4. Membuat keputusan
Jika thitung≥