• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan teori

1. Remaja

Remaja adalah masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, dengan rentang usia 10-19 tahun (WHO, 2018). Di Indonesia pengertian remaja diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, diartikan sebagai penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun (Kemenkes RI, 2014), sedangkan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2016) rentang usia remaja adalah 10- 24 tahun dan belum menikah. Menurut WHO populasi remaja di dunia diperkirakan 1.2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia, sedangkan di Indonesia diketahui jumlah kelompok usia 10-19 tahun menurut sensus penduduk 2010 sebanyak 43.5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk Indonesia (Infodatin, 2014).

Menurut Santrock tahun 1993, 2001 dalam Mwale tahun 2012, masa remaja merupakan periode transisi perkembangan remaja antara masa kanak- kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan biologis, kognitif dan sosial. Dalam konteks tersebut, perubahan biologis termasuk pertumbuhan dan perkembangan fisik; perubahan kognitif termasuk cara berfikir, kecerdasan, dan bahasa; dan perubahan sosial termasuk hubungan interpersonal, kepribadian dan konteks sosial.

Masa remaja dimulai dengan mulainya periode pubertas dan berakhir saat identitas dan perilaku orang dewasa diterima, periode ini antara usia 10 dan 19 tahun (Diane, 2003), sesuai dengan definisi WHO dalam Infodatin: Pusat Data Informasi Kementerian Kesehatan RI tahun 2014 yaitu remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga

(2)

Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah.

Berdasarkan batasan umur remaja, WHO tahun 2010 membagi menjadi remaja awal (10-15 tahun), remaja pertengahan (14-17 tahun), dan remaja akhir (16-19 tahun). Sedangkan, Sinclair tahun 2010 membagi fase perkembangan masa remaja berdasarkan batasan usia yaitu remaja awal (11- 15 tahun), remaja pertengahan (14-18 tahun), dan remaja akhir (17-20 tahun).

a. Masa remaja awal

Pada masa ini, karakteristik seksual mulai muncul dan terjadi puncak pertumbuhan yang pesat. Pada masa ini pula seseorang mulai menggunakan pemikiran konkret dan adanya pemikiran tidak mengerti bagaimana sebuah tindakan berujung pada masa depan. Pada masa ini remaja seringkali terjadi perubahan mood. Labilnya masa ini seringkali membuat remaja tidak taat (WHO, 2010).

b. Masa remaja pertengahan

Pada masa ini, karakteristik seksual sekunder meningkat. Pertumbuhan melambat dan telah mencapai sekitar 95% pertumbuhan orang dewasa.

Pertumbuhan otak terjadi pada masa ini sehingga berpengaruh pada keterampilan sosial dan pemecahan masalah. Pada masa ini, remaja menciptakan tentang citra tubuh mereka, berpikir banyak tentang mimpiyang tidak praktis atau tidak mungkin. Tumbuh rasa persahabatan yang kuat kepada teman sebaya (WHO, 2010).

c. Masa remaja akhir

Pada masa remaja akhir, remaja sudah matang secara fisik. Kebanyakan pemikiran adalah abstrak dan lebih memikirkan tentang masa depan.

Memahami bagaimana pilihan dan keputusan sekarang mempengaruhi masa depan. Remaja cenderung untuk merencanakan dan mengikuti tujuan jangka panjang. Biasanya nyaman dengan sitra tubuh sendiri. Memahami benar dari yang salah (secara moral dan etis). Remaja pada masa ini juga cenderung lebih senang untuk berhubungan dengan orang-orang dewasa yang lebih setara (WHO, 2010).

(3)

Pertumbuhan yang pesat, perubahan psikologis yang dramatis serta peningkatan aktivitas yang menjadi karakteristik masa remaja, menyebabkan peningkatan kebutuhan zat gizi, dan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi status gizi (Sayogo, 2006). Remaja seringkali mengalami kekurangan zat besi yang menyebabkan remaja mengalami anemia. Terutama remaja putri (Hassan, 2017).

Terjadinya percepatan pertumbuhan pada remaja yang membuat kebutuhan akan nutrisi meningkat dan ditambah juga dengan siklus menstruasi setiap bulannya pada remaja putri dan tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang adekuat membuat remaja putri lebih banyak mengalami anemia dibanding remaja laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh WHO, sejak saat anak perempuan memasuki menasrche sampai menopause, wanita beresiko tinggi kekurangan zat besi, karena kehilangan darah menstruasi, disertai pertumbuhan yang cepat dengan perluasan massa sel darah merah dan peningkatan kebutuhan besi jaringan, membuat mereka sangat rentan terhadap kekurangan zat besi dibandingkan rekan pria mereka (WHO, 2016). Remaja putri seringkali mengalami ketidakpuasan citra tubuh dan keinginan menjadi lebih kurus merupakan faktor yang berhubungan dengan alasan remaja melakukan diet, sehingga dapat mengakibatkan kekurangan zat gizi yang penting untuk tubuhnya (Kartika, 2017).

2. Anemia

a. Pengertian anemia

Anemia di masyarakat dikenal juga sebagai kurang darah yang merupakan suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal (WHO, 2014). Sebagian masyarakat Indonesia menganggap anemia sebagai keadaan tekanan darah rendah. Tetapi kedua keadaan tersebut berbeda (Depkes 2005). Keadaan ini biasanya ditandai dengan rendahnya konsentrasi hemoglobin (Hb) atau hematokrit dari nilai ambang batas yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah (eritrosit) dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit atau kehilangan darah yang berlebihan. Seseorang dikatakan menderita anemia bila kadar Hb <11.5g/dL pada laki-laki dan

(4)

<12g/dL pada perempuan (Almatsier, 2003). Kadar Hb normal pada remaja putri adalah >12 g/dL. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb <12 g/dL (Proverawati, 2011).

b. Hemoglobin (Hb)

Hemoglobin merupakan komponen penting dalam darah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh sel tubuh, sedangkan miglobin mengangkut dan menyimpan oksigen untuk sel-sel otot. Besi yang ada dalam tubuh berasal dari tiga sumber yaitu besi yang diperoleh dari hasil perusakan sel-sel darah merah (hemolisis), besi yang diambil dari penyimpanan dalam tubuh dan besi yang diserap dari saluran pencernaan (Olivia, 2004).

Seperti yang diketahui, hemoglobin merupakan komponen dalam darah yang berfungsi penting khususnya dikalangan remaja dalam proses pertumbuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar Hemoglobin remaja putri antara lain kehilangan darah akibat menstruasi, kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, penyakit yang kronis, pola hidup remaja putri yang berubah, ketidakseimbangan antara asupan gizi dan aktifitas yang dilakukan. Kurangnya hemoglobin dapat menyebabkan metabolisme tubuh dan sel-sel saraf tidak bekerja secara optimal, menyebabkan pula penurunan percepatan inpuls saraf, mengacaukan system reseptor dopamine (Wijanarko, 2012).

c. Penyebab anemia

Pada umumnya anemia disebabkan karena adanya penurunan kuantitas atau kualitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi, gangguan pembekuan sel darah merah, peningkatan sel darah merah melalui perdarahan kronik atau mendadak atau lisis (destruksi) sel darah merah yang berlebihan (Elizabeth, 2001).

Di negara Indonesia penyebab terbesar anemia adalah defesiensi zat besi.

Hal itu dipengaruhi secara langsung oleh konsumsi makanan sehari-hari yang kurang mengandung zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Anemia terjadi dikarenakan peningkatan kebutuhan akan zat besi pada tubuh seseorang seperti pada saat menstruasi, kehamilan, melahirkan,

(5)

sementara zat besi yang masuk kedalam tubuh hanya sedikit sehingga tidak ada keseimbangan antara yang keluar dan yang masuk (DepKes RI,2004).

Selama periode menstruasi normal seseorang wanita mengeluarkan darah dengan jumlah berkisar antara 25 ml sampai 60 ml. Pada konsentrasi hemoglobin (Hb) normal yaitu 14 g/dL dan konsentrasi besi Hb 3.4 mg/g, volume darah ini mengandung besi sekitar 12 sampai 29 mg dan mencerminkan pengeluaran darah ekuivalen dengan 0.4 sampai 1.0 mg besi setiap hari selama siklus, atau dari 150 sampai 400 mg per tahun. Karena jumlah besi yang diserap dari makanan biasanya cukup terbatas, maka pengeluaran besi yang tampaknya tidak berarti ini menjadi penting karena ikut menurunkan cadangan besi yang pada sebagian besar wanita sudah rendah (Cunningham, 2006).

Selain itu anemia dapat disebabkan oleh kekurangan zat gizi esensial (zat besi, asam folat, B12) yang berguna dalam pembentukan sel-sel darah merah (Powers et al, 2015) . Anemia bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit malaria, infeksi cacing tambang (WHO, 2003).

Dari beberapa penyebab anemia tersebut, penyebab utama anemia gizi pada remaja putri adalah kurangnya asupan zat gizi makanan, sementara kebutuhan zat besi relatif tinggi untuk kebutuhan remaja sehari-hari dan menstruasi (Gupta, 2014). Remaja dapat kehilangan zat besi dengan jumlah yang banyak saat mengalami mentruasi terutama pada remaja yang memiliki menstruasi dengan pola haid yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang (Krummer, 2006). Penyebab lain karena remaja putri seringkali menjaga penampilan, keinginan untuk tetap langsing atau kurus sehingga remaja melakukan diet dan mengurangi makan. Diet yang tidak seimbang dengan kebutuhan zat gizi tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi yang penting seperti zat besi (Arisman, 2010).

d. Faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia

Kejadian anemia yang tinggi di Indonesia dapat dipengaruhi oleh faktor- faktor. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia antara lain status gizi seseorang, hal ini dipengaruhi oleh pola makan, sosial ekonomi

(6)

keluarga, lingkungan dan status kesehatan (Sukmawati, 2003). Meskipun anemia disebabkan oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50% kasus anemia terbesar diseluruh dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dalam makanan yang dikonsumsi oleh individu (Shah, 2016).

Faktor-faktor lain yang dapat mendukung kejadian anemia antara lain pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia, tingkat konsumsi gizi, pola menstruasi, dan kejadian infeksi pada remaja putri (Wati, 2010).

Secara umum, konsumsi makanan berkaitan erat dengan status gizi seseorang. Bila makanan yang dikonsumsi mempunyai nilai gizi yang baik, maka status gizi juga baik, dan sebaliknya (Joshi, 2013). Maka dari itu kekurangan gizi dapat berdampak pada kejadian anemia. Seorang remaja dengan status gizi yang tinggi maka risiko tekena anemia semakin rendah, dan sebaliknya (Thompson, 2010). Keadaan status gizi yang baik akan dapat dicapai dengan cara mengkonsumsi makanan yang seimbang setiap harinya.

Remaja di anjurkan mengkonsumsi tablet yang mengandung zat besi atau makanan yang mengandung zat besi seperti hati bayam dan sebagainya (Hapzah, 2011).

Pengetahuan seseorang dapat mempengaruhi perilaku yang apabila dikaitkan dengan kesehatan sehari-hari dapat mempengaruhi perilaku dalam pola hidup dan kebiasaan makan. Kurangnya pengetahuan remaja tentang pengertian, tanda-tanda, dampak, dan pencegahannya anemia mengakibatkan remaja mengonsumsi makanan yang kandungan zat besinya sedikit sehingga asupan zat besi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi.

Teori yang di kemukakan Gunatmaningsih (2007) menyatakan bahwa seorang ibu yang berpendidikan rendah akan bertindak kurang memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya dan kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan gizi seimbang dalam makanan yang disajikan dirumah. Dalam keluarga yang tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima informasi kesehatan khususnya bidang gizi, sehingga dapat menambah pengetahuannya dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari Hal

(7)

tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan ibu dapat berhubungan dengan kejadian anemia remaja. Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting karena dapat menentukan menu keluarga yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga termasuk kejadian anemia pada remaja (Gunatmaningsih, 2007).

e. Tanda-tanda anemia

Seseorang yang mengalami anemia baik secara kasat mata ataupun tidak dapat dibedakan dengan beberapa tanda. Tanda umum seseorang menderita anemia antara lain kepucatan, takikardi, kardiomegali, bising jantung sistolik khususnya pada apeks (Sasidharannair, 2019). Tanda yang spesifik dikaitkan dengan jenis anemia tertentu, misalnya koilonikia dengan defisiensi besi, ikterus dengan anemia hemolitik atau megaloblastik, ulkus tungkai dengan talasemia mayor dan anemia hemolitik kongenital lain yang berat (Hoffbrand, 2005). Secara sederhana tanda yang dapat ditemukan apabila seseorang mengalami anemia antara lain kulit pucat, rasa lelah, napas pendek, kuku mudah pecah, kurang selera makan, dan sakit kepala sebelah depan. Namun, terkadang tidak ada keluhan bila pasien mengalami anemia ringan (DepKes, 2007).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schrier (2011) menyebutkan bahwa penyebab tingginya prevalensi anemia pada remaja putri yaitu disebabkan pada setiap bulan remaja putri mengalami menstruasi dan mengalami status gizi kurang. Status gizi kurang yang dialami oleh remaja putri disebabkan oleh karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi (Devi, 2013). Apabla remaja putri mengalami kekurangan zat gizi makro, secara tidak lngsung zat gizi mikro juga akan berkurang. Salat satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh remaja putri adalah zat besi. Zat besi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan pada remaja putri (Saragih, 2016). Kurangnya asupan zat besi akan menyebabkan remaja putri mudah lelah, menurunkan konsentrasi belajar, dan juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh (Sompie, 2015).

(8)

f. Macam-macam anemia

1) Anemia pasca perdarahan, keadaan ini terjadi akibat perdarahan yang seperti kecelakaan, luka operasi, persalinan.

2) Anemia hemolitik, terjadi karena penghancuran (hemolisis) sel darah merah yang berlebihan.

3) Anemia defisiensi, anemia yang disebabkan kekurangan faktor pematangan eritrosit.

4) Anemia aplastik, anemia ini terjadi karena terjadinya pembuatan sel darah merah oleh sumsum tulang (Simatupang, 2011).

5) Dampak anemia

Secara umum anemia dapat menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dan dibawa hemoglobin berkurang, sehingga keadaan ini tidak dapat memenuhi keperluan jaringan (Gupta, 2014). Pada keadaan normal beberapa organ dan proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. Apabila jumlah oksigen yang diberikan berkurang maka kinerja organ tersebut akan menurun sedangkan kelancaran proses tertentu akan terganggu. Dalam keadaan anemia berbagai organ tubuh menyesuaikan diri dengan menyesuaikan fungsi dengan keadaan yang tidak optimum tersebut termasuk otak. Akibatnya kinerja otak akan berkurang sesuai dengan jumlah oksigen yang diperolehnya (Sadikin, 2001).

Pada masa remaja anemia dapat memberikan dampak yang cukup berat yaitu menurunkan kemampuan konsetrasi belajar, menggangu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak optimal, tubuh pada masa pertumbuhan mengalami infeksi, menurunkan kemampuan fisik, kesegaran tubuh berkurang, muka pucat, calon ibu dalam keadaan beresiko tinggi dan nyeri haid berlebihan. Selain itu daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah terserang penyakit. Bagi mereka yang memiliki aktivitas tinggi, karena gangguan anemia sering merasa pusing, lelah, letih dan lesu, akibatnya produktivitasnya menurun (Wahyurini, 2003).

Dampak yang akan timbul apabila remaja putri mengalami anemia yaitu menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit, menurunnya kebugaran sehingga menghambat prestasi belajar, aktifitas dan

(9)

produktifis dan akhirnya berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (Balci, 2012).

Selain itu, anemia pada remaja putri juga mempengaruhi kondisi fisiknya sebagai calon ibu. Bila dibiarkan berkelanjutan dapat menimbulkan anemia kronis pada waktu mereka hamil dengan segala risikonya seperti bayi yang dilahirkan dengan berat badan rendah, perdarahan pasca persalinan dan infeksi pada masa nifas (DepKes RI, 2003).

Secara khusus dampak anemia dapat dibagi sesuai dengan usia penderita anemia, yaitu sebagai berikut :

1) Anak

a) Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.

b) Menghambat pertumbuhan fisik dan kecerdasan otak.

c) Meningkatkan risiko menderita infeksi karena daya tahan tubuh menurun.

2) Wanita

a) Menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit.

b) Menurunkan produktivitas kerja bagi pekerja wanita.

c) Menurunkan kebugaran.

3) Remaja putri

a) Menurunkan semangat, konsentrasi dan prestasi belajar.

b) Mengganggu pertumbuhan sehingga tidak bisa mencapai tinggi badan optimal.

c) Menurunkan prestasi olahraga (Dinkes Popinsi Jawa Timur, 2010).

Seorang remaja putri yang mengalami anemia dan kondisi kesehatan yang kurang dapat meningkatkan kesulitan belajar (Rousham, 2013). Hal itu disebabkan remaja akan merasa mudah lelah, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu, dan dapat berdampak pada kurangnya penerimaan dan respons pelajaran, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal memproses, mengelolah, mengintrepetasikan dan mengorganisasi bahan pelajaran melalu inderanya. Perintah dari otak yang langsung kepada saraf motorik yang berupa ucapan, tulisan hasil pemikiran

(10)

atau lukisan menjadi lemah juga, maka seorang guru atau petugas diagnostik harus meneliti kadar gizi makanan dari anak (Ahmadi, 2010).

4) Cara penanggulangan anemia

Apabila sudah terlihat jelas dampak besar yang akan ditimbulkan apabila remaja mengalami anemia, dirasa perlu untuk melakukan upaya-upaya agar generasi penerus bangsa dan calon ibu terhindar dari anemia. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan selama ini hanya difokuskan pada ibu hamil, sedangkan remaja putri secara dini belum terlalu diperhatikan. Agar anemia bisa dicegah atau diatasi maka harus banyak mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi (Haryono, 2015). Selain itu penanggulangan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan pencegahan infeksi cacing dan pemberian tablet Fe yang dikombinasikan dengan vitamin C (Arisman, 2009).

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi anemia selain cara pemberian tablet zat besi yaitu dengan pemberian pendidikan pada remaja yang ada kaitannya dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanan, pengawasan penyakit infeksi dan fortifikasi makanan pokok dengan zat besi (DepKes, 2003; Dongre, 2011).

Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan upaya peningkatan kesehatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019, menitikberatkan pada penguatan promotif, preventif dan pemberdayaan masyarakat (Kemenkes, 2014). Upaya yang dilakukan dengan memberikan kesadaran remaja putri akan pentingnya dan dampak dari konsumsi tablet tambah darah secara rutin dan patuh.

Upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan anemia yaitu (Sari, 2017):

1) Suplementasi tabet Fe

2) Fortifikasi makanan dengan besi

3) Mengubah kebiasaan pola makanan dengan menambahkan konsumsi pangan yang memudahkan absorbsi besi seperti menambahkan vitamin C

(11)

4) Penurunan kehilangan besi dengan pemberantasan cacing. Dalam upaya mencegah dan menanggulangi anemia adalah dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai penelitian bahwa suplementasi, zat besi dapat meningkatkan kadar Hemoglobin.

5) Pengobatan Anemia Defisiensi Besi

Sejak tahun 1997 pemerintah telah merintis langkah baru dalam mencegah dan menanggulangi anemia, salah satu pilihannya adalah mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai peneltian bahwa suplemen zat besi dapat meningkatkan hemoglobin

Tindakan penting yang dilakukan untuk mencegah kekurangan besi antara lain:

1) Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang cukup secara rutin pada usia remaja.

2) Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan, unggas, makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C (asam askorbat) untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau mengurangi minum kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat dan minum susu pada saat makan atau setelah mengkonsumsi tablet besi.

3) Suplementasi besi. Merupakan cara untuk menanggulangi ADB di daerah dengan prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1 mg/KgBB/hari (Widhiyastuti, 2016).

4) Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi bersama susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat, multivitamin yang mengandung phosphate dan kalsium.

5) Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih merupakan pilihan untuk skrining anemia defisiensi besi (Lubis, 2008).

3. Tingkat Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah

Kepatuhan dapat dideskripsikan sebagai compliance, adherence, dan persistence. Compliance adalah secara pasif mengikuti saran dan perintah dokter untuk melakukan terapi yang sedang dilakukan. Adherence adalah

(12)

sejauh mana pengambilan obat yang diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan. Tingkat kepatuhan (adherence) untuk pasien biasanya dilaporkan sebagai persentase dari dosis resep obat yang benar-benar diambil oleh pasien selama periode yang ditentukan (Osterberg & Blaschke dalam Nurina, 2012).

Pada beberapa tahun ini pemerintah Indonesia bersama dengan dinas kesehatan provinsi dan tenaga kesehatan mulai bergerak dalam menanggulangi anemia remaja. Masalah anemia tidak hanya dianggap berbahaya bagi ibu hamil, tetapi juga dikalangan remaja. Program pemberian tablet tambah darah pun juga mulai diberikan kepada remaja putri yang memiliki risiko anemia sejak dini. Dalam program ini remaja putri diberikan 1 tablet tambah darah dalam seminggu. Hal ini diharapkan dapat mengurangi angka kejadian anemia di kalangan remaja putri. Salah satu masalah yang menghadang dalam program pemberian tablet tambah darah adalah kurangnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (Bowman, 2001).

Salah satu teori yang mengembangkan model perubahan perilaku yaitu, Lawrence Green, yang mengatakan bahwa kesehatan individu/masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor perilaku, dan faktor dari luar (non- perilaku) (Noorkasiani, 2009).

Perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

a. Faktor predisposisi (predisposing factors)

Mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial, dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat (Handayani, 2018).

b. Faktor pendukung (enabling factors)

Tersedianya sarana pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya.

c. Faktor pendorong (reinforcing factors)

Dukungan sosial didefinisikan oleh Gotlieb (1983), dalam Tumanggor 2010, sebagai informasi verbal atau nonverbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalamlingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat

(13)

memberikan manfaat emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.

Dukungan sosial diartikan sebagai kesenangan, bantuan, yang diterima seseorang melalui hubungan formal dan informal dengan yang lain atau kelompok. Dukungan sosial meliputi empat aspek, yaitu: (1) Dukungan emosional. Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap individu sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai dan diperhatikan. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. (2) Dukungan penghargaan. Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain. (3). Dukungan instrumental. Bentuk dukungan ini melibatkan bantuan langsung, misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugastugas tertentu. (4) Dukungan informasi. Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran, pengarahan dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan (Kumalasari, 2012).

Dalam penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa dukungan dapat berperan penting dalam kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah. Dukungan yang baik akan menghasilkan sikap dan perilaku yang baik pula sedangkan dukungan yang kurang akan membuat seseorang cenderung untuk tidak patuh dan tidak termotivasi untuk mengkonsumsi tablet tambah darah.

4. Pencegahan Anemia terhadap Program Pemberian Tablet Tambah Darah

Dalam tubuh remaja sebagian besar zat besi terikat dalam hemoglobin yang berfungsi khusus, yaitu mengangkut oksigen untuk keperluan metabolisme dalam jaringan-jaringan. Apabila dalam sehari-hari remaja memiliki kebiasaan kurang dalam mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi dan setiap minggunya tidak patuh dalam konsumsi tablet Fe akan mengganggu fungsi zat besi dalam proses metabolisme di tubuh remaja. Hal tersebut juga yang akan mengakibatkan remaja mengalami anemia (Johnson, 2011).

(14)

Kesehatan remaja sangat menentukan keberhasilan dari pembangunan kesehatan, terutama dalam upaya mencetak kualitas generasi penerus bangsa di masa depan. mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil danmelahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR) (Dieny, 2014).

Oleh karena itu Pemerintah Indonesia berupaya untuk mengatasi hal tersebut yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 yaitu pada sasaran pokok yang pertama berupa meningkatnya status kesehatan ibu dan Anak. Usaha yang dilakukan pemerintah indonesia yaitu melalui usaha kesehatan sekolah dan remaja (Indonesia KKRI, 2015).

Salah satu program pemerintah yaitu pemberian Tabet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri. Berdasarkan hasil Riskesdas (2018) bahwa Remaja puteri yang mendapatkan tablet tambah darah (TTD) sebesar 76,2% yang terdiri dari sebanyak 80,9% diantaranya mendapatkan TTD di sekolah dan 19,1% menyatakan tidak didapatkan dari sekolah. Sedangkan yang tidak mendapatkan TTD sama sekali yaitu sebesar 23,8%. Tingkat konsumsi TTD yang <52 butir sebesar 98,6% dan yang mengkonsumsi ≥52 butir sebesar 1,4%.

Pemberian tablet tambah darah merupakan salah satu upaya program Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui Dinas Kesehatan lalu akan di distribusikan ke puskesmas dan selanjutnya puskesmas melakukan pendistribusian tablet tambah darah melalui kegiatan UKS secara bertahap, kegiatan pemberian tablet tambah darah dilaksanakan 1 kali seminggu dan kemudian dilaksanakan monitoring secara berkala terkait keberhasilan program.

Status gizi merupakan salah satu faktor untuk menetapkan diagnosis anemia seseorang. Status gizi dibagi menjadi dua yakni status gizi antropometri dan status gizi besi. Subjek dengan status gizi yang baik cenderung memiliki status kesehatan yang baik, fungsi dalam tubuh normal sehingga produksi hemoglobin juga akan lebih meningkat saat konsumsi

(15)

tambah darah juga meningkat (Mahan, 2017). Hal tersebut menunjukkan bahwa program pemberian tablet tambah darah mampu mempengaruhi asupan gizi pencegah anemia pada remaja putri.

Remajaputri diharuskan untuk mengkonsumsi TTD karena mengalami menstruasi setiap bulan. TTD jugaberguna untuk mengganti zat besi yang hilang karena menstruasi dan untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang belum tercukupi dari makanan. Zat besi pada remaja putri juga bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi belajar, menjaga kebugaran dan mencegah terjadinya anemia pada calon ibu di masa mendatang (Dieny, 2014).

Kepatuhan dalam konsumsi obat akan mempengaruhi tercapainya suatu tujuan kesehatan. Hal itu sebanding lurus dengan kepatuhan dalam konsumsi tablet tambah darah akan mempengaruhi status gizi seorang remaja (Haryono, 2015). Kepatuhan yang rendah dalam konsumsi tablet tambah darah akan menyebabkan remaja mengeluhkan lemah, lemas, sering pusing dan susah konsentrasi. Hal tersebut secara bertahap akan mengurangi produktivitas remaja sebagai pelajar dan akan menurunkan prestasi sekolah seorang remaja.

Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan prestasi dan kinerja masa depannya. Remaja juga lah yang akan menjadi sosok ibu dalam keluarga, apabila kesehatan remaja tidak diperhatikan sejak dini akan berakibat buruk dengan keturunannya (Kabir, 2010).

Salah satu penyebab status gizi yang buruk adalah kejadian anemia remaja yang secara tidak langsung merupakan dampak sikap dan perilaku seorang remaja yang tidak patuh mengkonsumsi tablet tambah darah secara rutin.

Tablet tambah darah merupakan suplemen zat besi yang dibutuhkan dalam tubuh, apabila seorang remaja dengan pola makan yang rendah kandungan zat besi dan memiliki sikap kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah yang kurang akan sangat berdampak bagi kesehatannya dan mengakibatkan remaja mengalami anemia (Lopez, 2016).

Kepatuhan konsumsi tablet Fe sesuai perintah tenaga kesehatan, dapat di ukur dari jumlah tablet yang dikonsumsi yang berpengaruh pada kecukupan jumlah besi dalam metabolisme tubuh, ketepatan cara mengkonsumsi tablet

(16)

zat besi yang dapat mempengaruhi absorbsi dalam tubuh, frekuensi konsumsi perhari dapat mencegah hemodilusi dan kebutuhan zat besi dalam tubuh tercukupi (Hidayah, 2012).

Pemberian tablet tambah darah merupakan salah satu upaya penting dalam pencegahan dan penanggulangan anemia defisiensi besi karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat sehingga juga dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat (Dirjen Binkesmas, 2005).

Tablet tambah darah diproduksi bertujuan untuk menggantikan komponen zat besi yang setiap harinya hilang melalui feses atau darah saat mentruasi.

Selain itu tablet tambah darah dikemas secara sederhana sehingga dapat meningkatkan kadar hemoglobin seorang remaja (Matayane, 2014).

Peningkatan hemoglobin terjadi ketika tablet tambah darah diberikan secara mingguan dan selama menstruasi (Februhartanty, 2002; Bani, 2014).

Tablet tambah darah diberikan mingguan pada wanita menstruasi telah diusulkan sebagai alternatif intervensi yang efektif dibandingkan suplementasi harian dalam menanggulangi anemia. Hal ini dapat terjadi karena turn over sel usus setiap 5-6 hari, serta sel usus mempunyai keterbatasan kapasitas absorpsi zat besi. Suplementasi besi secara intermittent lebih efisien dalam penyerapan zat besi (Wright & Southon 1990; Viteri, 1995).

Peningkatan kepatuhan remaja dalam konsumsi tablet tambah darah dapat dilakukan dengan peningkatan pegetahuan remaja tentang anemia, pemberian informasi-informasi kesehatan pada remaja. Dengan peningkatan pengetahuan remaja tentang anemia akan menimbulkan kesadaran remaja dan merubah sikap remaja dalam pencegahan dan penanggulangan anemia remaja. Sikap yang dijelaskan tersebut adalah sikap kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi tablet tambah darah selama menstruasi (Alam, 2010).

Ditemukannya kenaikan kadar hemoglobin dapat dilihat dalam waktu satu minggu setelah pemberian tablet tambah darah. Penyerapan preparat besi hanya sebesar 18% besi yang mampu diserap melalui usus. Maka dari itu, untuk mencapai nilai hemoglobin yang diharapkan dibutuhkan waktu rata-rata 1 hingga 2 bulan (Seri, 2014). Meningkatnya kadar hemoglobin remaja sangat

(17)

dipengaruhi oleh kepatuhan seorang remaja dalam konsumsi tablet besi yang diberikan. Apabila remaja tidak patuh dalam mengonsumsi tablet tambah darah akan memperlihatkan seberapa besar kemungkinan remaja untuk terserang anemia.

5. Asupan Gizi Pencegahan Anemia

Asupan gizi yang cukup merupakan hal yang sangat diperlukan oleh setiap orang, sejak masih di dalam kandungan, setelah lahir (bayi), anak-anak, remaja, orang dewasa dan lansia. Tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pengetahuan tentang gizi, sehingga tidak terasa seseorang akan menderita sakit karena salah makan. Asupan gizi memang bisa membuat seseorang menjadi sehat tetapi juga bisa menjadikan seseorang menjadi sakit, hal ini tergantung pada pola makan dan makanan yang dikonsumsi orang tersebut. Masalah gizi yang paling sering di temukan di dunia adalah anemia defisiensi besi. Masalah ini terutama menjangkiti para wanita dalm usia produktif dan anakanak dikawasan tropis dan subtropics.

Di indonesia prevalensi anemia defisiensi besi menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2009 menyatakan bahwa privalensi anemia defisiensi besi pada ibu hamil 56,5%. Pada remaja putri usia 10-18 tahun 61,1%, dan usia 19-45 tahun 36,5%. Pada tahun 2011 anemia defisiensi besi pada remaja putri yaitu 31,1%. Meski ada penurunan pada tahun 2011 namun hal ini menyatakan bahwa dari semua kelompok umur tersebut, wanita mempunyai resiko paling tinggi untuk menderita anemia terutama remaja putri (Depkes RI, 2011).

Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, zat gizi terbagi menjadi dua golongan yaitu zat gizi makro yang terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein, serta zat gizi mikro yaitu mineral dan vitamin (Susilowati, 2016).

Asupan zat gizi remaja dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan pola konsumsinya. Kebiasaan makan remaja sendiri akan berdampak pada kesehatannya diperiode kehidupan selanjutnya (Arisman, 2010). Makanan yang dikonsumsi merupakan gambaran dari berbagai faktor diantaranya

(18)

kebiasaan makan keluarga, teman sebaya dan adanya iklan pada media sosial serta ketersediaan pangan (Andriani, 2014).

Remaja putri pada umumnya memiliki karakteristik kebiasaan makan tidak sehat. Antara lain kebiasaan tidak makan pagi, malas minum air putih, diet tidak sehat karena ingin langsing (mengabaikan sumber protein, karbohidrat, vitamin dan mineral), kebiasaan ngemil makanan rendah gizi dan makan makanan siap saji. Sehingga remaja tidak mampu memenuhi keanekaragaman zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk proses sintesis pembentukan hemoglobin (Hb). Bila hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kadar Hb terus berkurang dan menimbulkan anemia (Brown, 2004).

Asupan gizi memberikan gambaran mengenai frekuensi, macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari. Asupan gizi yang dianjurkan adalah makanan gizi seimbang bagi remaja yang terdiri atas sumber zat tenaga misalnya roti, tepung-tepungan, sumber zat pembangun misalnya ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sumber zat pengatur seperti sayur-sayuran dan buah-buahan (Panat, 2013).

6. Lingkungan Gizi Sekolah

Sekolah adalah tempat utama individu mengikuti proses pendidikan formal untuk manambah pengetahuan dan mengasah keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Lingkungan sekolah berperan penting dalam pendidikan dan melindungi peserta didik dan staf sekolah dari kecelakaan maupun penyakit serta dapat meningkatkan kegiatan pencegahan dan mengembangkan sikap terhadap faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit (Depkes 2008). Menurut CDC (2009) bahwa sekolah adalah tempat yang ideal untuk mengajarkan generasi muda bagaimana cara harus menerapkan dan mempertahankan gaya hidup sehat dan aktif. Selain hal itu, sekolah juga membantu anak belajar bagaimana cara menjadi aktif secara fisik seumur hidup.

Lingkungan gizi sekolah mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan makanan. Dalam kaitannya dengan makanan, kebijakan lingkungan meliputi

(19)

kebijakan gizi dan peraturan di sekolah yang berhubungan dengan makanan.

Pada tingkat makro, kebijakan lingkungan mengacu pada kebijakan pangan dan gizi pemerintah, peraturan, dan undang-undang, serta kebijakan dan standar industri makanan (WHO, 2012). Story tahun 2009, menyatakan bahwa kebijakan kuat diperlukan untuk menyediakan makanan sehat bagi siswa di sekolah yaitu dengan membatasi akses mereka ke makanan rendah gizi dan makanan padat energi selama hari sekolah.

Menurut Briefel tahun 2009, remaja cenderung mengkonsumsi makanan sekitar 35-47% dari asupan makanan harian saat berada di sekolah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ayu tahun 2020, terdapat hubungan antara lingkungan sekolah dengan perilaku makan pada remaja putri dengan p- value sebesar 0.019 (p≤0.05). Makanan atau jajanan di sekolah seringkali menjual makanan yang tidak sehat seperti makanan cepat saji (Ayu, 2020).

7. Faktor Intrapersonal dan Sosial

Faktor intrapersonal berarti faktor yang berhubungan dengan diri sendiri atau individu, kemampuan diri sendiri atau individu untuk berpikir, melakukan penalaran, menganalisis dan merenung terhadap suatu objek yang diamatinya.

Selanjutnya objek tersebut mengalami proses perkembangan dalam pikiran individu setelah memperoleh rangsangan dari panca indera yang dimilikinya.

Hasil dari proses yang berlangsung sebelumnya setelah dievaluasi akan memberi pengaruh pada pengetahuan, sikap dan perilaku individu. Setiap individu memilih hal yang ingin dialaminya. Mereka menggunakan konsep yang dimilikinya dalam menafsirkan sesuatu yag diamatinya, konsep tersebut digunakan untuk mempertimbangkan mana yang paling cocok pada situasi tertentu (Mulyana, 2009).

Faktor sosial terdiri dari kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status.

Kelompok acuan, kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap, perilaku dan konsep seseorang. Kelompok acuan menciptakan tekanan untuk mengikuti kebiasaan kelompok yang mungkin mempengaruhi perilaku seseorang. Keluarga, anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer

(20)

yang paling berpengaruh. Pengaruh yang lebih langsung terhadap sikap, perilaku dan konsep seseorang dalam mengahadapi suatu permasalahan. Peran dan status, peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseoang, masing-masing peran menghasilkan status (Kotler, 2005).

8. Teori Health Belief Model

Teori Health Belief Model (HBM) merupakan sebuah teori psikologi yang menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan dengan memusatkan perhatian kepada keyakinan (belief) individu tentang kesehatan dan perilaku kesehatan. Karena merupakan sebuah teori psikologi, Health Belief Model menggunakan konstruk pada level individu sebagai prediktator perilaku kesehatan, meliputi persepsi kerentanan seseorang, persepsi keseriusan penyakit, persepsi manfaat melakukan perilaku sehat, dan persepsi hambatan untuk melakukan perilaku sehat. Sebuah konsep lainnya telah ditambahkan, yakni stimulus bertindak (cues to action) akan mengkativasi kesiapan tersebut dan merangsang (menstimulasi) perilaku yang tampak (overt behavior).

Dibelakang hari sebuah konsep ditambahkan ke dalam Health Belief Model, yaitu efikasi diri (self-efficacy), yaitu kepercayaan diri individu tentang kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan (perilaku) dengan berhasil (Murti, 2018).

Model kepercayaan kesehatan (Health Belief Model, HBM) adalah salah satu model perilaku kesehatan pertama dan tertua, tetapi masih relevan untuk membahas perilaku kesehatan (Glanz, 2010). HBM dikembangkan dalam upaya memahami kegagalan luas perilaku individu untuk menerima pencegahan penyakit atau tes skrining untuk deteksi dini penyakit tanpa gejala. Kemudian diterapkan pada respons pasien terhadap gejala, dan untuk memenuhi rejimen medis yang ditentukan. HBM dijadikan sebagai model yang menjelaskan pertimbangan seseorang sebelum berperilaku sehat. Oleh karena itu, HBM memiliki fungsi sebagai model preventif (Murti, 2018).

a. Persepsi Kerentanan (perceived susceptibility)

Persepsi kerentanan adalah keyakinan seseorang tentang risikonya untuk mengalami penyakit atau masalah kesehatan. Sesuai dengan latar belakang

(21)

masing-masing, orang memiliki variasi dalam keyakinan atau persepsi tentang kerentanan dirinya untuk mengalami suatu penyakit atau masalah kesehatan.

(Lizewski & Macguire, 2010). Health belief model memprediksi, seorang yang memiliki persepsi bahwa dia rentan untuk mengalami suatu penyakit akan memiliki kemungkinan yang lebih besar melakukan tindakan pencegahan terjadinya penyakit tersebut. Sebaliknya seseorang yang memiliki persepsi kerentanan yang rendah untuk mengalami penyakit memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Individu tersebut lebih besar kemungkinan akan melakukan perilaku yang tidak sehat alias perilaku berisiko (Murti, 2018).

Kerentanan yang dirasakan mengacu penilaian subjektif dari risiko berkembangnya masalah kesehatan (Murti, 2018). Prediksi HBM, bahwa seseorang yang merasa dirinya rentan terhadap suatu penyakit, maka seseorang tersebut akan merubah perilakunya untuk menghindari risiko tersebut. Namun, jika seseorang merasa dirinya tidak rentan terhadap suatu masalah kesehatan, biasanya akan ada persepsi penolakan atau anggapan bahwa dirinya tidak akan berisiko terhadap suatu paparan penyakit.

Pengetahuan sangat berpengaruh terhadap persepsi kerentanan yang dirasakan oleh seseorang (Sulaeman, 2016).

Dari HBM, gabungan antara persepsi kerentanan dan persepsi keseriusan (keparahan) tentang suatu penyakit disebut persepsi ancaman (perceived threat). Health Belief Model memprediksi, seseorang yang memiliki persepsi kuat tentang kerentanan dan keseriusan tentang suatu penyakitmemiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan perilaku sehat. Persepsi kerentanan dan keseriusan tentang penyakit tergantung dari pengetahuan tentang penyakit tersebut (Murti, 2018).

b. Persepsi Keseriusan (perceived seriousness)

Persepsi keseriusan merupakan suatu pemikiran seseorang terhadap penyakit atau masalah kesehatan yang dideritanya(Sulaeman, 2016). Konstruksi keseriusan yang dirasakan menyangkut kepercayaan individu tentang keseriusan atau keparahan penyakit. Sementara itu, persepsi keseriusan sering

(22)

didasarkan pada informasi medis atau pengetahuan, juga dapat berasal dari keyakinan seseorang bahwa ia akan mendapat kesulitan akibat penyakit dan akan berefek kepada kehidupannya (Sulaeman, 2016). Persepsi keparahan (perceivedseverity) atau persepsi keseriusan (perceived seriousness) merujuk kepada penilaian subjektif seseorang tentang tingkat keparahan suatu penyakit atau masalah kesehatan, serta potensi akibat yang ditimbulkan, jika tidak dicegah atau dibiarkan tidak diobati. Health belief model mengemukakan, seseorang yang memiliki persepsi bahwa penyakit dan akibat yang ditimbulkan adalah serius, memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit itu, atau mengurangi tingkat keparahannya (Murti, 2018)

c. Persepsi Manfaat (perceived benefits)

Persepsi keuntungan atau manfaat yaitu seseorang yang merasakan keuntungan yang didapat saat membayar untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan jika dibandingkan dengan risiko penyakitnya (Sulaeman, 2016). Health belief model mengemukakan, perilaku terkait kesehatan juga dipengaruhi oleh persepsi seorang tentang manfaat melakukan tindakan atau perilaku yang sehat (Murti, 2018). Manfaat yang dirasakan merujuk pada penilaian individu dari nilai atau kemanjuran keterlibatan dalam mempromosikan perilaku kesehatan untuk mengurangi risiko penyakit. Jika seseorang individu percaya bahwa tindakan tertentu akan mengurangi kerentanan terhadap masalah kesehatan atau menurunkan keseriusan, maka ia cenderung terlibat dalam perilaku terlepas dari fakta-fakta objektif mengenai efektivitas tindakan (Sulaeman, 2016). Terdapat perbedaan antara peran persepsi kerentanan dan persepsi keparahan di satu sisi, dan persepsi manfaat di sisi lain. Menurut Rosenstock, gabungan antara persepsi kerentanan dan persepsi keparahan menunjukkan energi atau daya untuk melakukan perilaku sehat. Sedang persepsi manfaat dan persepsi hambatan menunjukkan cara yang disukai untuk melakukan perilaku sehat (Glanz, 2010).

(23)

d. Persepsi Hambatan

Persepsi hambatan mengacu pada evaluasi individu terhadap rintangan dalam mengadopsi perilaku baru. Dari semua konstruk, hambatan yang paling signifikan dalam menentukan perubahan perilaku seseorang. Agar perilaku baru dapat diterapkan maka seseorang perlu mempercayai bahwa manfaat dari perilaku baru lebih besar dari pada konsekuensinya. Hal ini memungkinkan hambatan dapat diatasi dan perilaku baru dapat diadobsi (Kholid, 2016).

e. Persepsi Ancaman

Pertama, persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit (perceived susceptibility). Mereka yang merasa dapat terkena penyakit tersebut akan lebih cepat merasa terancam. Kedua, pandangan individu tentang beratnya penyakit tersebut (perceived seriousness), yaitu risiko dan kesulitan apa saja yang akan dialaminya dari penyakit itu. Makin berat risiko suatu penyakit, dan makin besar kemungkinannya bahwa individu itu terserang penyakit penyakit tersebut. Ketiga, makin dirasakan besar ancamannya (perceived threats). Ancaman ini mendorong individu untuk melakukan tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit. Namun ancaman yang terlalu besar malah menimbulkan rasa takut dalam diri individu yang justru menghambatnya untuk melakukan tindakan karena individu itu merasa tidak berdaya melawan ancaman tersebut. Guna mengurangi rasa terancam itu, ditawarkanlah suatu alternatif tindakan oleh petugas kesehatan.

Apakah individu akan menyetujui alternatif yang diajukan petugas itu, tergantung pada pandangannya tentang manfaat dan hambatan dari pelaksanaan alternatif tersebut. Individu akan mempertimbangkan, apakah alternatif itu memang dapat mengurangi ancaman penyakit dan akibatnya yang merugikan. Namun sebaliknya, konsekuensi negatif dari tindakan yang dianjurkan itu (biaya yang mahal, rasa malu, takut akan rasa sakit, dsb) seringkali menimbulkan keinginan individu untuk justru menghindari alternatif yang dianjurkan petugas kesehatan. Keempat, menunjukkan perceived benefits dan barriers dari tindakan yang dianjurkan. Untuk akhirnya memutuskan menerima atau menolak alternatif tindakan (Murti, 2018).

(24)

f. Isyarat Untuk Bertindak (cues to action)

HBM menunjukkan bahwa perilaku juga dipengaruhi oleh isyarat untuk bertindak (cues to action). Isyarat untuk bertindak adalah peristiwa, orang, atau hal-hal yang menggerakkan untuk merubah perilaku (Sulaeman, 2016).

Stimulus untuk bertindak (cues to action) merupakan rangsangan yang diperlukan untuk memicu proses pengambilan keputusan agar terjadi perilaku kesehatan (Murti, 2018). Cues to action mengukur pengaruh sosial dan lingkungan yang merangsang (menstimulasi) keinginan seseorang untuk melakukan tindakan terkait kesehatan. Tetapi, “cues to action” tidak hanya berasal dari luar/eksternal (misalnya, komunikasi media massa, interaksi personal, informasi dari petugas kesehatan), melainkan bisa juga berasal dari dalam/internal (misalnya, gejala-gejala penyakit) (Sulaeman, 2016).

g. Efikasi Diri (self-efficacy)

Efikasi diri adalah kepercayaan pada kemampuan sendiri untuk melakukan sesuatu (Sulaeman, 2016). Efikasi diri mengacu pada persepsi individu atau kompetensi untuk berhasil melakukan perilaku (Murti, 2018). Efikasi diri dapat dipandang sebagai keyakinan seorang tentang sejauh mana dirinya mampu mengendalikan motivasi, perilaku, dan lingkungan sosialnya, yang diperlukan untuk menghasilkan suatu perilaku. Pengembangan model mengakui bahwa kepercayaan pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perubahan dalam hasil (yaitu efikasi diri) adalah komponen kunci dari perubahan perilaku kesehatan (Sulaeman, 2016). Seseorang umumnya tidak mencoba untuk melakukan sesuatu yang baru kecuali mereka bisa melakukannya. Jika seseorang percaya suatu perilaku baru berguna (manfaat dirasakan), tetapi berpikir dia tidak mampu melakukan (hambatan dirasakan), kemungkinan dia tidak akan melakukan suatu perilaku. Variasi dari model ini merupakan nilai yang dirasakan serta intervensi yang ditentuukan sebagai keyakinan utama. Konstruksi dari faktor mediasi kemudian menjadi penghubung berbagai jenis persepsi dengan perilaku kesehatan di masyarakat (Murti, 2018).

(25)

Faktor lain yang juga mempengaruhi persepsi antara lain: Variabel demografi: umur, jenis, kelamin, ras/etnis, pekerjaan; Variabel sosiopsikologi: ekonomi, kepribadian, sosial-psikologi variabel (seperti status sosial ekonomi, kepribadian, strategi coping); Persepsi efikasi (penilaian diri dalam hal kemampuan untuk berhasil mengadopsi perilaku yang diinginkan);

Isyarat untuk bertindak (pengaruh eksternal dalam mempromosikan perilaku yang diinginkan, termasuk informasi yang diberikan atau dicari, kemudian persuasif, dan pengalaman pribadi); Motivasi kesehatan (individu terdorong untuk tetap pada keadaan sehat); Kontrol perasaan (ukuran tingkat efikasi diri); Ancaman (termasuk bahaya yang muncul tanpa melakukan tindakan kesehatan); Prediksi dari model tersebut merupakan kemungkinan yang dilakukan individu untuk mengambil tindakan kesehatan yang direkomendasikan(Sulaeman,2016)

9. Kontekstual Sekolah

Remaja putri menghabiskan banyak waktunya di dalam dan di sekitar sekolah, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan dilakukan di dalam sekolah. Pengaruh kontekstual sekolah dalam asupan gizi pencegahan anemia pada remaja putri mampu mempengaruhi status giziremaja putri. Kekurangan zat besi dapat mempengaruhi perkembangan mental dan kemampuan kognitif remaja, terutama remaja putri. Remaja putri usia sekolah yang kelaparan dan bergizi buruk memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah, kemampuan kognitif yang hilang pada usia ini bisa lebih besar daripada kemampuan kognitif yang hilang yang diakibatkan oleh kekurangan gizi dan kesehatan yang buruk yang dialami selama masa usia dini.

Penyakit anemia yang memberikan dampak pada remaja putri dapat dihindari atau diobati. Untuk menjangkau remaja putri tersebut, dapat menggunakan prasarana yang telah tersedia, yaitu sekolah, melalui intervensi program pemberian tablet tambah darah. Program pemberian tablet tambah darah difasilitasi oleh puskesmas yang bekerja sama dengan pihak sekolah terkait dan akan dilaksanakan melalui kegiatan UKS. Tujuan dari UKS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi belajar siswa dengan: (1)

(26)

meningkatkan keterampilan hidup sehat bagi para siswa; (2) menciptakan lingkungan sekolah yang sehat; dan (3) meningkatkan pengetahuan, mengubah tingkah laku siswa dan merawat kesehatan dengan mencegah dan mengobati penyakit. Tujuan ini direfleksikan dalam ketiga pilar program- pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan di sekolah dan lingkungan sekolah yang sehat.

B. Kerangka Berpikir

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir C. Hipotesis

1. Program pemberian tablet tambah darah efektif dalam meningkatkan asupan gizi pencegahan anemia pada remaja putri

2. Terdapat pengaruh positif faktor intrapersonal dan sosial terhadap asupan gizi pencegahan anemia pada remaja putri

Persepsi Keseriusan

Persepsi Kerentanan

Persepsi Ancaman Cues to

Action

Persepsi Manfaat

Asupan Gizi Pencegahan

Anemia

Efikasi Diri Persepsi

Hambatan

Kontekstual Sekolah Pendidikan

Orangtua

Program Pemberian Tablet Tambah

Darah Pendapatan

Orangtua

(27)

3. Konstruk (variabel) Health Belief Model berpengaruh positif terhadap asupan gizi pencegahan anemia pada remaja putri (persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi ancaman, persepsi manfaat, persepsi ancaman, persepsi hambatan, cues to action dan efikasi diri)

4. Terdapat pengaruh positif kontekstual sekolah terhadap asupan pencegahan anemia pada remaja putri.

D. Penelitian Relevan

1. Pengaruh Pemberian Makanan Jajanan, Pendidikan Gizi, Dan Suplementasi Besi Terhadap Status Gizi, Pengetahuan Gizi, Dan Status Anemia Pada Siswa Sekolah Dasar (Aji A, 2014).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan jajanan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap status gizi (p>0.05).

Pendidikan gizi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan gizi (p<0.05), sedangkan pemberian suplemen besi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap status gizi (p<0.05). Persamaan pada penelitian ini yaitu pada variabel suplementasi besi terhadap status gizi, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu pada variabel pendidikan gizi, pengetahuan gizi dan status anemia.

2. Analisis Pola Makan dan Anemia Gizi Besi Pada Remaja Putri Kota Bengkulu (Suryani D, 2015).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 951 remaja putri dengan pola makan tidak baik menderita anemia sebesar 44.2% dan tidak menderita anemia sebesar 55.8%. persamaan pada penelitian ini yaitu pada desain penelitian Cross Sectional, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu tidak dilakukan pemeriksaan hemoglobin darah.

3. Faktor Risiko Anemia Pada Remaja Putri Peserta Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB) di Kota Bekasi. (Arumsari, 2008).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri yang berstatus gizi kurus cenderung mengalami anemia 8.83 kali lebih besar dibandingkan remaja putri yang berstatus gizi gemuk (p=0.006). Persamaan pada penelitian ini yaitu pada

(28)

desain penelitian Cross Sectional dan variabel dependen Program pencegahan anemia, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu tidak dilakukan pemeriksaan hemoglobin darah.

4. Intermittent Iron Supplementation for Reducing Anaemia and Its associated Impairments in Adolescent and Adult Menstruating Women

(Fernandes GAC, 2019).

Hasil penelitian menunjukkan suplementasi zat besi intermiten dapat mengurangi anemia dan dapat meningkatkan cadangan zat besi di kalangan wanita yang sedang menstruasi pada populasi dengan latar belakang anemia dan malaria yang berbeda (RR 0.65, 95% CI 0.49). Persamaan pada penelitian ini yaitu variabel dependen, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu subjek penelitian wanita sedang menstruasi diluar menarche dan sebelum menopause dan variabel independen.

5. Efektivitas Program Suplementasi Zat Besi pada Remaja Putri di Kota Bogor (Permatasari T, 2018).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 172 remaja putri yang diberikan 4 bulan intervensi program suplementasi zat besi memiliki prevalensi (hb <12 g/dL) sebelum program 20.7% dan menurun menjadi 15.2%, hal tersebut menunjukkan bahwa suplementasi zat besi dapat mempengaruhi kadar Hb pada remaja putri (p<0.05). Persamaan pada penelitian ini yaitu variabel independen, sedangkan perbedaan pada peneltian ini yaitu desain penelitian quasi experimen dan lokasi penelitian.

6. Efektivitas Program Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Disertai Penyuluhan Dalam Upaya Menurunkan Anemia Pada Remaja Putri (Rematri) 13-18 Tahun Di Wilayah UPTD Puskesmas Garawangi Kabupaten Kuningan Jawa Barat (Antares, 2020)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 224 remaja putri yang diberikan intervensi program pemberian tablet tambah darah dan penyuluhan mampu menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri (p<0.005).

Persamaan pada penelitian ini yaitu variabel independen; program pemberian

(29)

tablet tambah darah, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu pada variabel depanden.

7. Perbedaan Status Anemia Gizi Besi Remaja Putri yang Bersekolah di SMA Program dan Non-Program Suplementasi Tablet Tambah Darah (Rahmadi A, 2018).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang terpapar program suplementasi tablet tambah darah memiliki prevalensi anemia sebesar 24.0%

sedangkan sekolah yang tidak terpapar program suplementasi tablet tambah darah memiliki prevalensi anemia ssebesar 43.1%. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara prevalensi anemia di sekolah yang terpapar program dan tidak terpapar program suplementasi tablet tambah darah (p=0.023). Persamaan pada penelitian ini yaitu sampel diambil dari sekolah yang terpapar program dan tidak terpapar program suplementasi tablet tambah darah, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu pada tempat penelitian.

8. Hubungan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Kelas XI di SMA Negeri 1 Sentolo Kulon Progo Tahun 2019 (Ruqoiyah S, 2019).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubugan yang bermakna antara kepatuhan konsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas XI di SMA Negeri 1 Sentolo tahun 2019 (p<0,005). Persamaan pada penelitian ini yaitu pada variabel independen program pemberian tablet tambah darah, sedangkan perbedaan pada penelitian ini yaitu pada variabel dependen.

Referensi

Dokumen terkait

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dari aset keuangan ini disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasi sebagai keuntungan (kerugian)

Di Indonesia, desentralisasi hutan lindung dimulai sejak Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan, Pengelolaan hutan lindung diserahkan

Untuk membantu mengontrol diperlukan bantuan teknologi mikrokontroler yang dapat mengukur dan mengatur variabel yang ada dalam syarat tumbuh tanaman kacang hijau, sensor

Tahun  2007  R. Meningkatkan mutu lulusan dalam memasuki dunia kerja  4,5 

Kinerja dibagi menjadi tiga golongan, yaitu kinerja individu, proses, dan organisasi. Telah banyak penelitian yang mencoba mengkaji kinerja, terutama kinerja pada

Berdasarkan hasil penelitian Sikap Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiwates Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang tahun 2015,

Dari gambar di atas dapat di lihat pada kedalaman 0-1,25 m pada jarak 5-15 m dan jarak 60-70 m terdapat penyebaran lapisan batuan yang memiliki nilai resistivitas yang

Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan program studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitar Sumatera Utara dengan