• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN SURAT DAKWAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERUBAHAN SURAT DAKWAAN"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN

PERUBAHAN SURAT DAKWAAN

OLEH :

I KETUT SUDJANA, SH. MH

FAKULTAS HUMUM UNIVERSITAS UDAYANA

NOVEMBER 2018

(2)

Kata Pengantar

Puji dan syukur saya panjatkan kehadapan Ide Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmatnyalah penelitian ini dapat diselesaikan. Hal ini merupakan salah satu bagian tugas dari dosen untuk mengemban tugas tri darma perguruan tinggi. Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari kesemurnaan, untuk itu besar harapan kami untuk memberi masukan untuk kesempurnaan penelitian ini. Pada kesempatan ini ijinkan kami mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada :

1. Dekan Fakultas Humuk Universitas Udayana 2. Wakil Dekan I II dan III

3. Ketua bagian Hukum Acara

4. Bapak dan ibu semua yang tidak sempat peneliti sebut satu persatu telah membantu memberi arahan dan bimbingan untuk kesempurnaan penelitian ini, semoga Tuhan yang Maha Kuasa/ Ide Sang Hyang Widi Wasa membalas budi baik bapak.

Peneliti

I Ketut Sudjana

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

BAB I PENDAHULUAN ... 3

1.1. Latar Belakang Masalah ... 3

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Methoda Penelitian ... 6

a. Jenis Penelitian ... 6

b. Jenis Pendekatan ... 6

c. Sifat Penelitian ... 6

d. Sumber Data ... 6

e. Teknik Pengumpulan Data ... 11

f. Teknik Analisa Bahan Hukum ... 11

BAB II PEMBAHASAN TINJAUAN UMUM TENTANG SURAT DAKWAAN ... 13

2,1. Pengertian dan Dasar Hukum Keberadaan Surat Dakwaan ... 13

2.2 Fungsi Surat Dakwaan ... 16

2.3 Syarat Penyusunan Surat Dakwaan ... 20

2.4 Bentuk – Bentuk Surat Dakwaan ... 24

BAB III PERUBAHAN SURAT DAKWAAN ... 28

3.1. Batasan Materi Perubahan Surat Dakwaan ... 28

3.2.Kendala Dalam Perubahan Surat Dakwaan ... 33

BAB IV AKIBAT HUKUM PELANGGARAN PERUBAHAN SURAT DAKWAAN ... 37

BAB V PENUTUP ... 46

2. 1 Simpulan ... 46

3. 2. Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kejaksaan adalah salah satu lembaga yang mendapat sorotan tajam darikalangan masyarakat sebab pada lembaga inilah nasib seseorang ditentukan apakah akan diperiksa dipengadilan atau tidak, jaksa pula yang berwenang menentukan apakah seorang tersangka dapat dituntut atau tidak melalui kualitas surat dakwaan dan tuntutan yang dibuatnya. Sedemikian penting posisi Jaksa bagi proses penegakan hukum sehingga lembaga ini harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas tinggi yang mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia juga mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada pada posisi sentral dengan peran strategic dalam pemantapan ketahanan bangsa. Dengan keberadaan lembaga Kejaksaan di poros dan menjadi filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan, sehingga, Lembaga Kejaksaan merupakan pengendali proses perkara (Dominus Litis), alasan dikatakan demikian karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana.

(5)

Jaksa penuntut umum selalu mengemban tugas yang berkaitan dengan keberadaan surat dakwaan yang menempati posisi sentral dalam pemeriksaan perkara pidana di pengadilan, maka konsekuensinya penuntut umum dituntut memilki kemampuan atau kemahiran dalam menyusun surat dakwaan. Kegagalan penuntut umum dalam membuktikan dakwaannya pada umumnya bermula pada kekurang cermatan penuntut umum dalam pembuatan surat dakwaan sehingga berdampak pada terhambatnya pencapaian akan kebenaran materiil dari suatu perkara pidana. Dalam menanggapi hal tersebut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disingkat KUHAP sebagai pedoman dalam beracara atau hukum formil perkara pidana di persidangan memberikan kesempatan bagi penuntut umum untuk melakukan perubahan surat dakwaan. Dasar hukum bagi penuntut umum dalam hal melakukan perubahan surat dakwaan tercantum dalam Pasal 144 KUHAP dengan tujuan agar penuntut umum dapat menyempurnakan dakwaaannya dan atau tidak melanjutkan penuntutannya.

Makna surat dakwaan sempurna dalam hal ini berarti surat dakwaan yang dipakai secara cermat, jelas dan lengkap sehingga memudahkan bagi penuntut umum ketika surat dakwaan tersebut di pakai sebagai dasar pemeriksaaan perkara di persidangan. Keberadaan surat dakwaan juga di anggap penting salah satunya dengan mempertimbangkan bahwa kepentingan korban tindak pidana telah diwakili oleh alat-alat negara yakni polisi dan jaksa sebagai penyelidik, penyidik, penuntut umum, sehingga nasib kepentingan korban salah satunya berada dalam jaksa melalui mater

(6)

yang di dakwakan dalam surat dakwaannya. Jika surat dakwaannya bermasalah tentunya hal tersebut akan cenderung merugikan korban kejahatan.

Dalam pengaturan yang ada di dalamnya, walaupun telah memberikan dasar hukum bagi penuntut umum dalam merubah surat dakwaan, tetapi disisi lain ternyata Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ( selanjutnya disingkat KUHAP ) belum memberikan pengaturan yang jelas dan tegas mengenai perubahan surat dakwaan, sehingga dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut diprediksi akan menimbulkan kekosongan hukum dalam penerapannya. Dengan adanya kekosongan hukum dalam proses pelaksanaan perubahan surat dakwaan memungkinkan timbulnya pelanggaran HAM bagi tersangka atau terdakwa juga, dan jika hal itu terjadi tentunya akan bertolak belakang dengan tujuan dibuatnya KUHAP.

Kehadiran KUHAP selain memberikan perlindungan terhadap korban melainkan juga sekaligus memberikan terhadap tersangka dan atau terdakwa dalam menjalani proses pemeriksaan perkara pidana.

1.2 Rumusan Masalah :

1. Batasan bagi penuntut umum dalam merubah isi surat dakwaan 2. Akibat hukum yang terjadi terhadap pelanggaran ketentuan Pasal 144

KUHAP dalam perkara pidana

(7)

1.3 Metode Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini dilakukan oleh peneliti adalah penelitian normative yang kerap dikenal dengan penelitian hukum doktriner, yaitu penelitian yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.

b. Jenis Pendekatan

Dalam penelitian ini dipergunakan pendekatan perundang – undang pendekatan kasus dan pendekatan konseptual.

c. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang tedapat dalam penulisan ini adalah penelitian yang bersifat Deskriptif Analitis. Penelitian bersifat deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat invidu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu atau untuk menentukan penyebaran suatu, gejala, atau untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan sutu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.1 Khusus enelitian ini maka penulis akan mencoba mendeskriptipkan pengaruh perubahan surat dakwaan terhadap eksistensi surat dakwaan dan terhadap perlindungan hak asasi manusia terdakwa dan atau korban dalam suatu pemeriksaan perkara pidana.

d. Sumber Data

Penelitian ini membagi data yang diperoleh dalam 3 macam yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum skunder, bahan hukum tersier.

(8)

Bahan hukum primer adalah bahan yang sifat mengikat dan mendasari bahan hukum lainnya. Adapun bahan hukum primer yang digunakana dalam penelitian ini adalah :

1. Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP).

2. Undang – undang No 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

3. Yurisprudesni Makamah Agung yang di akses melalui http://putusan.mahkamahagung.go.id, di akses pada tanggal 1 september 2010.

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder terdiri atas :

1. Buku-buku mengenai Hukum Acara Pidana, Praktik Penuntutan, Surat Dakwaan, Sistem Peradilan Pidana, Psikologi Hukum.

2. Makalah atau artikel yang terkait dengan pelaksanaan perubahan Surat dakwaan yang diakses melalui situs :

a. http://wayanpwiajayakusuma.blogspot.com/2009/11/sistem- peradilan -pidanaindonesia,html, di akses pada tanggal 24 april 2010.

b. htts://digilib.unnes,ac.id/sdl/collect/skrissi/archives/HASH0lb5/

cd548e24.di r/doc.pdf, di akses pada tanggal 15 Oktober 2010.

(9)

Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun menjelaskan terhadap bahan hukum primer dan skunder yaitu ; Kamus Bahasa Indonesia..

e. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik secara studi kepustakaan berupa studi dokumen dan teknik pendukung lainnya yaitu wawancara. Studi dokumen dilakukan dengan cara mengaakan penelitian dan pemahaman terhadap literature-literatur yang bersifat ilmiah serta peraturan perundang-undangan yang relevan sebagai penunjang teori dalam proses penuntutan dan pembahasan hasil dari penelitian.

f. Teknik Analisis Bahan Hukum.

Metode yang digunakan setelah semua data terkumpul, maka penulis akan menggunakan analisa deskripsi yang merupakan suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas pada masa sekarang.

Dalam metode deskriptif, peneliti membandingkan fenomena-fenomenan tertentu sehingga merupakan studi komparatif adakalanya peneliti mengadakan klafisikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau norma tertentu, sehingga banyak ahli menamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor denga

(10)

faktor yang lainnya. Karenanya metode ini juga dinamakan studi kasus (kasus study).

Metode deskriptif juga ingin memperlajari norma-norma atau standar - standar sehingga penelitian ini juga di sebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama- sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antara fenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskriptif. Perspektif waktu yang di jangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan informan.2

2 Bambang Sugono, 2009, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers. Jakarta, h. 71.

(11)

BAB II

TINJAUAN UMUM SURAT DAKWAAN

2.1 Dasar Hukum Keberadaan Surat Dakwaan Dan Pengertian Surat Dakwaan.

No. 8 tahun 1981 atau Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terdapat satu pasal yang merupakan dasar hukum keberadaan surat dakwaan itu, yaitu Pasal 143 ayat (2) KUHAP sebagai berikut :

Ayat 2 : Penuntut umum membuat surat dakwaan yang di beri tanggal dan di tanda tangani serta berisi :

a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, pekerjaan tersangka.

b. Uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak-tindak pidana yang di dakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat di ketahui bahwa dalam hukum acara pidana yang lama dasar hukum surat dakwaan di atur dalam Pasal 250 HIR, sedangkan dalam KUHAP. surat dakwaan di atur dalam Pasal 143 ayat 2 Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentangKUHAP.

(12)

2.2 Pengertian Surat Dakwaan

Kalimat surat dakwaan terdiri dari 2 kata surat dan dakwaan. Surat adalah berasal dari kata benda yang berarti kertas yang bertuliskan, untuk di kirim ke orang lain, berbagai-bagai tulisan di secarik kertas untuk suatu tujuan, sedangkan dakwaan berarti tuntutan perkara, tuduhan. Tuntutan mempunyai arti sesuatu yang di tuntut (seperti permintaan keras), gugatan, dakwaan. Pengertian perkara itu sendiri adalah hal, urusan (yang harus di kejakan), pokok (pembicaraan perselisihan), perbuatan pelanggaran, kejahatan) yang ada sangkut pautnya dengan hukum atau yang diadili di pengadilan, sengketa.3 Dengan demikian dari segi bahasa Indonesia, surat dakwaan bermakna pemberitahuan atau akta atau kertas yang memuat rumusan tindak pidana yang di dakwakan.

Dalam Modul Penuntutan yang di rangkum oleh Tim Modul PUSDIKLAT Kejaksaan Agung R. I, yang menyebutkan bahwa :

Surat dakwaan adalah suatu tuduhan tertulis dengan menyatakan di dalamnya semua keadaan yang mendahului, menyertai dan mengikuti perbuatan tersebut, yang dapat meringankan atau memberatkan kesalahan terdakwa dan sesudah pemeriksaan persidangan selesai maka musyawarah tentang kesalahan terdakwa di dasarkan atas surat tuduhan tersebut (I.R – 1848 ).4

3Departemen Pendidikan Nasional 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke - 3, Balai Pustaka. Jakarta, h. 1227.

4 Kejaksaan Agung R. I, 2007, Modul Penuntun, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, h. 5

(13)

Bahwa Undang – Undang no. 8 tahun 1981 (KUHAP) sendiri yang merupakan pedoman dalam beracara untuk perkara-perkara pidana, ternyata di dalamnya tidak terdapat satu ketentuanpun yang memberikan definisi secara tegas dan jelas tentang surat dakwaaan, karena KUHAP hanya mengatur tentang cara membuat surat dakwaan. Pengertian surat dakwaan menurut KUHAP oleh karena tidak secara jelas dan tegas, maka ada baiknya penulis kemukakan pengertian tersebut dari beberapa pendapat para sarjana :

Harun Husein, S.H, yang menyatakan bahwa pengertian daripada Surat dakwaan adalah :

Surat dakwaan adalah suatu surat yang diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum, yang memuat uraian tentang identitas lengkap terdakwa, perumusan tindak pidana yang didakwakan yang dipadukan dengan unsur-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan pidana yang bersangkutan, disertai uraian tentang waktu dan tempat tindak pidana dilakukan oleh terdakwa, surat mana menjadi dasar dan batas ruang lingkup pemeriksaan di sidang pengadilan.5

Menurut pendapat M. Yahya Harahap, S.H juga memberikan pendapat sebagai berikut :

“Surat dakwaan adalah surat atau akta yang memuat rumusan tindak pidana yang di dakwakan kepada terdakwa yang di simpulkan dan di tarik

5 Ibid, h. 43

(14)

dari hasil pemeriksaan penyidikan, dan merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan di muka sidang pengadilan.”6

Dari uraian di atas, peneliti dapat mengasumsikan tentang pengertian surat dakwaan adalah surat atau yang di buat atau di siapkan oleh penuntut umum, yang di lampirkan pada waktu melimpahkan berkas perkara ke pengadilan, yang memuat nama dan identitas pelaku perbuatan pidana, kapan dan di mana perbuatan di lakukan, serta uraian cermat, jelas dan lengkap mengenai perbuatan tersebut yang di dakwakan telah di lakukan oleh terdakwa yang memenuhi unsur-unsur pasal-pasal tertentu dari undang- undang tertentu berdasarkan hasil penyidikan pula yang nantinya merupakan dasar dan titik tolak pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan untuk di buktikan apakah benar perbuatan yang didakwakan itu betul di lakukan dan apakah betul terdakwa adalah pelakunya yang dapat di pertanggungjawabkan untuk perbuatan tersebut.

2.3 Fungsi Surat Dakwaan

Fungsi surat dakwaan bagi proses penyelesaian perkara pidana dalam persidangan merupakan hal yang sangat sentral bahkan surat dakwaan merupakan symbol bentuk perlindungan bagi korban kejahatan. Berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia No: 5E-004/JA/11/1993 menyatakan bahwa peranan surat dakwaan jika ditinjau dari berbagai

6 Harahap, M. Yahya, 2006 Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Edisi Kedua, Cetakan Ke-8, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, h. 386.

(15)

kepentingan yang berkaitan dengan pemeriksaan perkara pidana, dapat di bedakan menjadi 3 macam :7

a. Bagi pengadilan, atau hakim, surat dakwaan merupakan dasar sekaligus membatasi ruang lingkup, pemeriksaan, dasar petimbangan dalam penjatuhan keputusan;

b. Bagi penuntut umum, surat dakwaan merupakan dasar pembuktian atau analisis yuridis, tuntutan pidana dan penggunaan upaya hukum;

c. Bagi terdakwa atau penasihat hukum, surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan.

Leden Marpaung yang menyatakan bahwa terdapat 5 macam peranan surat dakwaan dalam proses penyelesaian perkara pidan di pengadilan yaitu :

"Dasar pemeriksaan di sidang pengadilan, Dasar tuntutan pidana (requistoir), Dasar pembelaan terdakwa dan/atau pembela, Dasar bagi hakim untuk menjatuhkan putusan, Dasar pemeriksaan peradilan selanjutnya (banding, kasasi, bahkan Peninjauan Kembali dalam kepentingan hukum)".8

Bahwa selain surat dakwaan mempunyai peranan, ternyata di sisi lainnya surat dakwaan juga mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang berkaitan dengan berjalannya proses pemeriksaan perkara pidana di persidangan.

Menurut Pasal 6 ayat ke 2 Undang-Undang no 48 tahun 2009 tentang, Kekuasaan Kehakiman yang menyebutkan bahwa :

7 http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01b5/cd548e24.dir/doc.

pdf, diakses pada tanggal 15 Oktober 2010.

8 Marpaung Leden, 1992, Proses Penanganan Perkara Pidana: Bagian Kedua di Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Upaya Hukum dan Eksekusi, Sinar Grafika, Jakarta hal. 78.

(16)

“Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa undang-undang, yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya."

Pasal 193 ayat 1 (KUHAP) menyebutkan bahwa :

"Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang di dakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana".

Menurut Osman Simanjuntak menyatakan bahwa fungsi surat dakwaan bagi para pihak yang terlibat dalam proses pemeriksaan persidangan yaitu :9

a. Bagi terdakwa adalah berfungsi untuk mengetahui sejauh mana terdakwa terlibat dalam suatu pemeriksaan perkara persidangan.

b. Bagi Hakim adalah berfungsi sebagai bahan (obyek) pemeriksaan di persidangan yang memberi corak dan atau warna terhadap keputusan pengadilan yang akan di jatuhkan. Karena surat dakwaan menjadi bahan pemeriksaan di persidangan, sehingga sudah sewajarnyalah bilamana hakim wajib meneliti setiap kata demi kata ataupun kalimat demi kalimat yang ada dalam surat dakwaan.

c. Bagi penuntut umum adalah berfungsi sebagai dasar tuntutan pidana (requisitor). Sesudah pemeriksaan sidang pengadilan di nyatakan di

9 Osman, Simanjuntak, 2005, Teknik Penuntutan dan Upaya Hukum, Rineka Cipta, Cet ke IX, Jakarta, h. 39 – 40.

(17)

selesai (tutup), maka penuntut umum akan membuat kesimpulan bagian- bagian mana dan pasal-pasal mana dari dakwan yang terbukti.

Menurut Putusan Makamah Agung No.2105 K / Pid / 2006 yang di keluarkan pada tanggal 18 Juni 2007, maka majelis hakim dalam pertimbangan putusannya mempertimbangkan bahwa fungsi surat dakwaan adalah sebagai berikut10 :

a. Fungsi surat dakwaan bagi Hakim

Surat dakwaan bagi Hakim merupakan dasar pemeriksaan, dasar pertimbangan dan dasar pengambilan putusan tentang bersalah tidaknya terdakwa dalam tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

b. Fungsi surat dakwaan bagi Terdakwa atau Penasehat Hukum

Bagi Terdakwa atau Penasehat Hukum surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan dan oleh karena itu surat dakwaan harus disusun secara cermat, jelas dan lengkap surat dakwaan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut, akan merugikan hak pembelaan Terdakwa dan oleh karenanya dapat dinsyatakan tidak dapat diterima.

Dari uraian di atas, peneliti dapat mengasumsikan bahwa surat dakwaan mempunyai peranan sesuai dengan kepentingan para pihak yang terlibat dengan pemeriksaan perkara pidana bersangkutan seperti terdakwa terkait persiapan pembuatan pledoi, penuntut umum terkait persiapan pembuatan tuntutan pidana atau requisitor, dan bagi majelis hakim terkait dasar pemeriksaan di persidangan serta sebagai dasar pertimbangan dan dasar

10 http://putusan.mahkamahagung.go.id, diakses pada tanggal 1 September 2010.

(18)

pengambilan putusan tentang bersalah tidaknya terdakwa. Sedangkan perihal fungsi daripada surat dakwaan itu sendiri adalah sebagai dasar pembuktian bersalah atau tidaknya terdakwa dalam proses persidangan.

2.4 Syarat Penyusunan Surat Dakwaan

Bahwa penyusunan surat dakwaan sebagaimana di atur dalam (KUHAP) Pasal 143 ayat 2 huruf b harus memenuhi hal – hal sebagai berikut:

Ayat 2 Penuntut umum membuat surat dakwaan yang di beri tanggal dan di tanda tangani serta berisi :

a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan peker aan tersangka (terdakwa).

b. Uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang di dakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu di lakukan.

Bahwa pengertian cermat, jelas, dan lengkap jika di kaji dari kamus bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

Kata cermat dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti seksama, berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu.11

Kata jelas dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti terang, nyata.

Kata lengkap dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti utuh, sempurna, tidak kurang sedikitpun, genap.

11 Tim Prima Pena, 2006, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Gita Media Pers, Jakarta, h.

89.

(19)

Adapun pengertian cermat, jelas, dan lengkap menurut pendapat beberapa para sarjana adalah sebagai berikut :

Suharto RM, S.H, memberikan pengertian mengenai pengertian uraian cermat, jelas, dan lengkap sebagai berikut :12

Uraian secara cermat, seksama, teliti, jadi di sini cara menguraikan harus teliti tidak ada satu unsurpun ketinggalan, semua perbuatan materiil yang terdapat dalam berita acara yang berkaitan dengan unsure tindak pidana dan yang mendukung atas pembuktiail tidak boleh ada satu pun di tinggalkan termasuk locus dan tempos delictinya.

Yang dimaksud jelas ialah terang, gamblang yang berarti uraian harus menyebutkan unsur tindak pidana yang di lakukan, fakta dari perbuatan materiil yang mendukung setiap unsur delik, cara perbuatan materiil di lakukan".

Yang dimaksud lengkap ialah bahwa dakwaan harus di bunt sedemikian rupa di mana semua harus di uraikan, baik unsur tindak pidana yang di dakwakan, perbuatan materiil, waktu dan tempat di mana tindak pidana di lakukan sehingga tidak satu pun yang di perlukan dalam rangka usaha pembuktian di dalam pengadilan yang ketinggalan.

Menurut Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia (SE - 004/J.A/11/1993) tertanggal 16 November tahun 1993 tentang Pembuatan

12 Suharto RM, 2006,Penuntutan Dalam Praktek Peradilan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 55.

(20)

Surat Dakwaan, maka pengertian uraian cermat, jelas, dan lengkap sebagai berikut13 :

Cermat adalah uraian yang di dasarkan pada ketentuan pidana terkait tanpa adanya kekurangan atau kekeliruan yang menyebabkan surat dakwaan batal demi hukum atau dapat di batalkan atau di nyatakan tidak dapat di terima (niet onvanlijk verklaard ). Dalam hal ini di tuntut sikap yang korek terhadap keseluruhan materi dakwaan.

Jelas adalah uraian yang jelas dan mudah di mengerti dengan cara menyusun redaksi yang mempertemukan fakta - fakta perbuatan dan unsur- unsur tindak pidana yang di dakwakan sehingga terdakwa yang mendengar atau membacanya akan mengerti dan mendapat gambaran tentang : siapa yang melakukan tindak pidana, tindak pidana yang di lakukan, apa akibat yang di timbulkan dan mengapa terdakwa melakukan tindak pidana tersebut.

Uraian komponen itu harus di susun secara sistematis dan kronologis dengan bahasa yang sederhana dan lengkap.

Lengkap adalah uraian yang bulat dan utuh yang mampu menggambarkan unsur-unsur tindak pidana yang di dakwakan beserta waktu dan tempat tindak pidana di lakukan.

Secara keseluruhan cara penyusunan surat dakwaan secara cermat, jelas dan lengkap sesuai dengan Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia ( SE - 004/J.A/11/ 1993) adalah dengan cara :14

13 Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung Indonesia, Jakarta, 2009, Himpunan Tata Naskah dan Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Pidana Umum Kejaksaaan Republik Indonesia, Jakarta, h. 403 - 405.

(21)

- Merumuskan terlebih dahulu unsur-unsur tindak pidana yang di dakwakan yang kemudian di susul dengan uraian fakta-fakta perbuatan terdakwa yang telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana.

- Unsur-unsur tindak pidana dan fakta fakta perbuatan secara langsung dan bertautan satu sama lain sehingga tergambar bahwa unsure tindak pidana tersebut terpenuhi oleh fakta perbuatan terdakwa.

- Mempertimbangkan ketentuan mengenai residicive (pasal 486 - 488 Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), pembuktian alibi terdakwa pada saat tindak pidana itu terjadi, batas usia (untuk menentukan terdakwa sudah dewasa atau belum), keadaan-keadaan yang memberatkan (misalnya pasal 363 Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), dapat tidaknya terdakwa dapat di pidana (keadaan perang dalam pasal 123 Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), berhubungan dengan kompetensi relative pengadilan (pasal 137, 148 dan 84 Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP)), ruang lingkup berlakunya undang-undang, pidana (pasal 2 – 9 Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) ), dan unsure-unsur delik yang tercakup dalam ketentuan undang-undang.

2.5 Bentuk - Bentuk Surat dakwaan

Adapun bentuk-bentuk surat dakwaan menurut pendapat beberapa sarjana adalah sebagai berikut:

14 Ibid, h. 406

(22)

HMA Kuffal menyatakan terdapat 5 bentuk surat dakwaan yaitu sebagai berikut:15

1. Dakwaan Tunggal

Dalam surat dakwaan tunggal terhadap terdakwa hanya di dakwakan melakukan satu tindak pidana, misalnya hanya tindak pidanan

"pencurian" ( Pasal 362 KUIHP) atau hanya tiniudak pidana "penipuan"

(Pasal 378 KUHP) atau hanya tindak pidana "penggelapan" (Pasal 372 KUHP).

2. Dakwaan Subsidair

Dalam surat dakwaan subsidair di dalamnya di rumuskan atau di susun beberapa tindak pidana atau delik secara berlapis atau bertingkat mulai dari delik paling berat ancaman pidananya sampai dengan yang paling ringan. Akan tetapi yang sunguh di dakwakan terhadap terdakwa dan harus di buktikan di depan sidang pengadilan hanya "satu" dakwaan.

3. Dakwaan Alternatif

Dalam surat dakwaan yang berbentuk alternative rumusan atau penyusunannya mirip dengan bentuk surat dakwaan subsidair yaitu yang di dakwakan adalah beberapa delik, tetapi sesungguhnya dakwaan yang di tuju dan yang harus di buktika hanya sate tindak pidana atau dakwaan.

4. Dakwaan Kumulatif.

15 HMA Kuffal, 2007, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, UMM Press – Universitas Muhamadiyah Malang, Malang, h. 212-214.

(23)

Dalam surat dakwaan kumulatif di dakwakan secara serempak beberapa delik atau dakwaan yang masing-masing delik berdiri sendiri (samenloop/concurcus/perbarengan).

5. Dakwaaan Kombinasi

Dalam surat dakwaan kombinasi di dakwakan beberapa delik atau dakwaan secara kumulatif yang terdiri dan dakwaan subsidair dan dakwakan alternative secara serempak atau sekaligus.

Lilik Mulyadi menyatakan terdapat 4 bentuk surat dakwaan yaitu.

sebagai berikut : 16 1. Dakwaan tunggal

Di tinjau dari segi pembuatannya, dakwaan ini merupakan dakwaan yang sifatnya sederhana, mudah di buat karena di rumuskan satu tindak pidana saja di dalamnya, misalnya melakukan tindak pidana perkosaan (pasal 285 KUHP), atau melarikan perempuan di bawah umur (pasal 332 KUHP), dan atau dapat berupa tindak pidana penadahan (pasal 480 KUHP), dan sebagainya.

4. Dakwaan ALternatif

Dalam praktik peradilan, sering dakwaan alternatife disebut dengan istilah dakwaan saling "mengecualikan" atau dakwaan relative atau berupa dakwaan pilihan "(keuze tenlastelgging)". Pada dakwaan alternatife hakim dapat langsung memilih untuk menentukan dakwaan mana yang sekiranya cocok serta sesuai dengan hasil pembuktian di

16 Mulyadi Lilik, 2007, Hukum Acara Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 85- 103.

(24)

persidangan. Ciri utama dari dakwaan alternatife adalah adanya kata hubung "atau" antara dakwaan satu dengan dakwaan lainnya sehingga dakwaan ini sifatnya adalah alternative accusation atau alternative tent astelegging, misalnya terdakwa di dakwa : kesatu melanggar Pasal 480 ke- 1e KUHP atau kedua melanggar Pasal 14 ayat (1) jo. Pasal 18 ayat (4) huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1985.

5. Dakwaan Kumulatif

Dakwaan kumulatif di bunt oleh jaksa atau penuntut umum apabila sesorang atau terlebih terdakwa melakukan lebih dari satu tindak pidana, yakni perbuatan tersebut harus di anggap berdiri sendiri atau juga dapat di katakan tidak ada kaftan satu dengan lainnya. Ciri utama dakwaan jenis ini adalah dengan mempergunakan istilah dakwaan kesatu, kedua, ketiga dan seterusnya.

4. Dakwaan Subsidairitas (Bersusun lapis)

Ciri utama dakwaan ini adalah di susun secara berlapis-lapis, yaitu di mulai dari dakwaan terberat sampai yang ringan, berupa susunan secara primer, subsider, lebih subsider, lebih-lebih subsider, dan seterusnya atau dapat pula di susun dengan istilah terutama, penggantinya, penggantinya lagi dan seterusnya.

(25)

BAB III

PERUBAHAN SURAT DAKWAAN 3.1 Materi Perubahan Surat Dakwaan

Perubahan surat dakwaan di atur dalam Pasal 144 (KUHAP) yang menyatakan sebagai berikut :

Ayat (1) Penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum pengadilan menetapkan hari siding, baik dengan tujuan untuk menyempurnakan maupun untuk tidak melanjutkan penuntutannya.

Ayat (2) Pengubahan surat dakwaan tersebut dapat dilakukan hanya satu kali selambat-lambatnya tujuh hari sebelum siding dimulai.

AYat (3) Dalam hal penuntut umum mengubah surat dakwaan ia menyampaikan turunannya kepada tersangka atau penasihat hukum dan penyidik.

Jaksa Penuntut Umum dalam menjalankan tugasnya terkait dalam perubahan surat dakwaan, memerlukan pedoman yang jelas dan tegas mengenai apa saja yang harus ia lakukan agar semuanya berjalan dengan baik. Dalam pengaturan perubahan surat dakwaan yang terdapat dalam Undang-Undang no 8 tahun 1981 atau tentang KUHAP, adalah tidak jelas dan tegas mengenai batasan materi daripada perubahan surat dakwaan. Hal tersebut sangatlah berbeda dengan pengaturan batasan materi perubahan surat dakwaan yang terdapat dalam hukum acara pidana yang lama yaitu HIR (Herzien Inlandsch Reglement). Pada HIR (Herzien Inlandsch Reglement)

(26)

pengaturan mengenai surat dakwaan ini di atur dalam pasal 282 yang menyatakan sebagai berikut: 17

Ayat (1) Jika karena pemeriksaan itu dapat di ketahui beberapa hal, yang tiada di sebut dalam surat penyerahan, tetapi menurut undang- undang boleh mengadakan alasan akan memberatkan hukuman, maka berkuasalah Ketua akan menambahkan tuduhan dengan hal itu.

Ayat (2) Jika di luar hal yang tersebut pada ayat di atas ini menimbang bahwa tuduhan patut di ubah, maka berkuasalah ia mengubah tuduhan itu, meskipun karena ubahan itu perbuatan yang di salahkan tetapi tiada patut di hukum, menjadi perbuatan yang dapat di hukum, akan tetapi ubahan, yang menjadi tuduhan itu tiada lagi mengandung perbuatan itu juga, menurut arti pasal 76 HIR, tidak boleh di lakukan.

Ayat (5) Ubahan lain daripada yang di izinkan menurut pasal ini pada tuduhan itu, di anggap seperti tidak di buat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 282 ayat 1, 2 dan 5 HIR (Herzien Inlandseh Reglement) yang menyatakan bahwa batasan perubahan surat dakwaan meliputi penambahan unsure-unsure dakwaan yang dapat mengakibatkan suatu perbuatan yang semula tidak dapat di hukum menjadi perbuatan yang dapat di hukum. Selain itu juga terdapat larangan tegas yang melarang perubahan surat dakwaan yang bisa mengakibatkan perubahan

17 Mr. R. Tresna, 2001, Komentar HIR, Cet. 17, Pradnya Paramitha, Jakarta, h. 231

(27)

materiel felt. Perubahan dakwaan tidak boleh mengakibatkan sesuatu yang

merupakan tindak pidana, menjadi tindak pidana yang lain.

Dengan tidak adanya batasan materi perubahan surat dakwaan yang di atur dalam Undang-Undang No 8 tahun 1981, maka jika pelaksanaan perubahan surat dakwaan tetap di jalankan dengan hanya berpedoman pada KUHAP, tentunya hal tersebut menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya.

Kemungkinan akan timbulnya masalah juga telah di prediksi oleh seorang sarana atau ahli hukum yaitu Andi Hamzah yang berpendapat bahwa:

"Sama sekali tidak di sebut-sebut tentang apa yang boleh di ubah dan apa yang tidak. Di sini akan terjadi kesenjangan." 18

Dalam kondisi seperti itu maka aparat penegak hukum perlu mencari sumber hukum lainnya untuk mengisi kekosongan hukum tersebut.

Mengenai pedoman yang dapat dipakai oleh penuntut umum dalam melakukan perubahan surat dakwaan pendapat para sarjana a l :

Karim A. Nasution, S.H,:

Segala perubahan surat dakwaan dapat di lakukan, malahan juga perubahan menyebabkan suatu perubahan yang tidak dapat di hukum menjadi tindak pidana, umpamanya, penamaan suatu elemen (unsure) yang telah di lupakan dalam suatu tindak pidana. Hanya satu hal yang tidak boleh terjadi, yaitu bahwa perubahan tersebut berakibat tuduhan tidak lagi

18Hamzah, Andi, 2008, Hukum Acara Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, h. 180.

(28)

membuat perbuatan yang sama dengan di tuduhkan dalam arti pawl 76 KUHP"19.

Harun M Husein menyatakan bahwa perubahan surat dakwaan meliputi hal-hal sebagai berikut :20

a) Perubahan dengan maksud untuk menyempurnakan perumusan yang menyangkut syarat formil, umpamanya memperbaiki kesalahan dalam merumuskan nama dan identitas lengkap terdakwa;

b) Perubahan dengan maksud untuk melengkapi uraian yang berhubungan syarat materiil, yaitu uraian tentang tindak pidana yang di dakwakan beserta waktu dan tempatnya. Misalnya saja dalam merumuskan tindak pidana tersebut salah satu unsurnya terlupakan untuk mencantumkannya dalam surat dakwaan.

c) Perubahan dengan tujuan dengan maksud untuk menyempurnakan surat dakwaan, maksudnya ialah penyempurnaan pada kalimat-kalimat yang memuat uraian syarat formil ataupun materiil agar redaksi surat dakwaan tersebut menjadi cermat, jelas dan lengkap serta mudah di pahami oleh terdakwa. Dengan perubahan itu di harapkan terdakwa dapat dengan mudah memahami perbuatan apa yang di dakwakan kepadanya, agar is dapat mempersiapkan pembelaan diri;

d) Perubahan pada bentuk atau sistematik surat dakwaan, umpanya saja surat dakwaan yang pada mulanya di susun dalam bentuk alternatife di ubah menjadi dakwaan berbentuk kumulatif.

19 Ibid

20 Harun M. Husein, 1994, Surat Dakwaan. Teknik Menyusun, Fungsi dan Permasalahannya, Renica Cipta, Jakarta, h. 121.

(29)

e) Bahwa perubahan tersebut tidak boleh mengakibatkan timbulnya rumusan tindak pidana baru yang sebelumnya tidak pernah di dakwakan.

Dengan perkataan lain, meskipun teriadi perubahan, perbuatan yang di dakwakan harus tetap sama dengan perbuatan yang semula di dakwakan.

Perbuatan yang sama di sini berarti dalam arti perbuatan yang sama menurut pasal 76 KUHP.21

M. Yahya Harahap , mengatakan bahwa :

Baik Pasal 144 KUHAP maupun penjelasannya, tidak mengatur sampai di mana perubahan surat dakwaan itu dapat di lakukan. Oleh karena itu dapat sebagai bahan perbandingan dan orientasi ada baiknya kita lihat ketentuan - ketentuan yang di atur dalam HIR. Pada Pasal 76 HIR, tegas-tegas melarang perubahan surat dakwaan yang bisa mengakibatkan perubahan materiil feit. Perubahan surat dakwaan tidak boleh mengakibatkan sesuatu yang semula merupakan tindak pidana menjadi tindak pidana yang lain. Atau perubahan surat dakwaan tidak boleh menimbulkan terjadinya perubahan materiil feit yang satu menjadi tindak pidana yang lain.22

Dalam Himpunan Tata Naskah Dan Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Pidana Umum Kejaksaan Agung Republik Indonesia, hal-hal yang menyangkut mengenai perubahan surat dakwaan adalah sebagai berikut :

21 Harun M. Husein, Op cit h. 21

22 M. Yahya Harahap, Op Cit, h. 481

(30)

"Undang-undang tidak membatasi ruang lingkup substansi perubahan surat dakwaan, yang di batasi hanyalah waktu untuk melaksanakan perubahan. Dengan demikian perubahan tersebut dapat mengenai syarat materiil penggantian tindak pidana yang di dakwakan, penyempurnaan redaksional dan bentuk surat dakwaan".23

3.2 Kendala dalam Perubahan Surat Dakwaan

Adapun selama persiapan melakukan proses penuntutan, terkadang Jaksa penuntut umum akan melewati tahap perubahan surat dakwaan.

Tahapan perubahan surat dakwaan akan di lewati oleh Jaksa penuntut umum, apabila terjadi kekeliraan selama proses penyusunan syarat formil dan materill surat dakwaan baik itu di sengaja ataupun secara tidak sengaja.

Apabila kekeliruan penyusunan syarat formil dan materill surat dakwaan tetap di biarkan begitu saja, maka akan menyebabkan surat dakwaan akan di batalkan atau vernietigbaar (voidable) dan atau dapat mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum (van rechtswege nietig atau null and void).

Apabila terjadi pembatalan surat dakwaan maka hal tersebut merupakan celah bagi penasehat hukum terdakwa atau advokat untuk mematahkan dalil- dalil dakwan yang di kemukakan oleh jaksa penuntut umum sehingga jaksa penuntut umum terkesan sebagai aparat penegak hukum yang kurang professional. Demi mengatasi hal tersebut, maka kesempatan yang di berikan oleh undang – undang kepada penuntut umum melalui ketentuan Pasal 144 (KUHAP), serta Himpunan Tata Naskah Dan Petunjuk Teknis Penyelesaian

23 Kejaksaan Agung Indonesia, Op Cit, h. 411

(31)

Perkara Pidana Umum Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang diterbitkan pada tahun 2009 dapat melakukan perubahan surat dakwaan dengan tujuan untuk menyempurnakan dakwaannya. Setelah perkara di limpahkan dan sebelum menetapkan hari sedang di keluarkan dan atau 7 hari sebelum pemeriksaan hari siding di mulai, penuntut umum wajib melakukan pemberitahuan tertulis kepada ketua majelis atau hakim yang bersangkutan.

Berdasarkan ketentuan pasal 14 Undang-undang No. 8 tahun 1981 adalah sebagai berikut :

a) Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu;

b) mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik;

c) Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik;

d) Membuat surat dakwaan;

e) Melimpahkan perkara ke pengadilan;

f) Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;

(32)

g) Melakukan penuntutan;

h) Menutup perkara demi kepentingan hukum;

i) Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini;

j) Melaksanakan penetapan hakim.

Setelah jaksa penuntut umum selesai melakukan perubahan surat dakwaan, maka dalam tenggang waktu tujuh hari sebelum sidang surat dakwaan yang telah mengalami penyempurnaan lalu di kirimkan kepada ketua pengadilan dan atau ketua majelis hakim yang bersangkutan yang akan menggantikan surat dakwaan yang sebelumnya terlampir pada pelimpahan perkara.24 Secara logika, tindakan penuntut umum ini adalah benar karena ketika penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri di sertai surat pelimpahan perkara dan berkas perkara yang berisi surat dakwaan, berkas perkara itu sendiri, dan permintaan agar pengadilan negeri segera mengadili perkara tersebut. Turunan surat pelimpahan berkas perkara harus di sampaikan penuntut umum kepada tersangka atau penasehat hukumnya dan juga penyidik bersamaan waktunya dengan penyampaian pelimpahan berkas perkara ke pengadilan. Jadi ketika penuntut umum juga telah selesai melakukan perubahan surat dakwaan, maka surat dakwaan yang telah di rubah juga harus di sampaikan kepada tersangka atau penasehat hukumnya dan ke ketua pengadilan.

24 Kejaksaan Agung Indonesia, Loc Cit.

(33)

Berdasarkan pada uraian-uraian yang telah penulis kemukakan di atas, maka penulis dapat berasumsi bahwa hambatan utama jaksa penuntut umum dalam melakukan perubahan surat dakwaan adalah sedikitnya tenggang waktu yang di miliki untuk melakukan perubahan surat dakwaan.

Dalam tenggang waktu yang sedikit tersebut penuntut umum di bebani dengan jumlah perkara yang cukup banyak dengan jenis tahapan penanganan yang berbeda-beda serta kewenangan lain yang di miliki oleh penuntut umum yang harus ia jalankan pada saat yang bersamaan.

(34)

BAB IV

AKIBAT HUKUM PELANGGARAN PERUBAHAN SURAT DAKWAAN

Menurut R. Soeroso perbuatan hukum adalah setiap perbuatan subjek hukum (manusia dan badan hukum) yang akibatnya diatur oleh hukum, karena akibat itu bisa di anggap sebagai kehendak dari yang melakukan hukum. Akibat hukum ialah akibat suatu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang di kehendaki oleh pelaku dan di atur oleh hukum.25

Selain itu R. Soeroso juga berpendapat bahwa akibat hukum itu sendiri dapat berwujud : 26

a. Lahirnya, berubahnya atau lenyapnya suatu keadaan hukum.

Contoh:

- Usia menjadi 21 tahun, akibat hukumnya berubah dari tidak cakap hukum menjadi cakap hukum, atau

- Dengan adanya pengampuan, lenyapnya kecakapan melakukan tindakan hukum.

b. Lahirnya, berubahnya atau lenyapnya suatu hubungan hukum, antara dua atau lebih subjek hukum, dimana hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kwajiban pihak yang lain.

Contoh :

25 Soeroso, R, 1996, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 292 – 293

26 Ibid, 294

(35)

A mengadakan perjanjian jual beli dengan B, maka lahirlah hubungan hukum antara A dan B. Sesudah di bayar lunas hubungan hukum tersebut menjadi lenyap.

c. Lahirnya sanksi apabila di lakukan tindakan yang melawan hukum.

Contohnya :

- Seorang pencuri di beri sanksi hukuman adalah suatu akibat hukum dari perbuatan si pencuri tersebut ialah mengambil barang orang lain tanpa hak secara melawan hukum.

Apabila kita kaitkan hal-hal di atas dengan ketentuan yang terkandung berkaitan satu sama lainnya. Tindakan penuntut umum terkait perubahan surat dakwaan dapat di katakan sebagai tindakan atau perbuatan hukum karena tindakannya sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam pasal 144 KUHAP. hal tersebut berarti apabila tindakannya telah di atur oleh hukum berarti seharusnya hukum itu sendiri juga tentu telah mengatur akibat hukum yang timbul apabila penuntut umum melakukan pelanggaran terhadap pasal 144 tsb.

Dalam pasal 144 KUHAP. kita dapat mengetahui terdapat 4 hal penting yang harus di perhatikan terkait proses perubahan surat dakwaan yaitu perihal tenggang waktu perubahan surat dakwaan, tujuan dari perubahan surat dakwaan, berapa kali surat dakwaan dapat di rubah, adanya kewajiban bagi penuntut umum untuk memberikan tembusan surat dakwaan yang telah di rubah kepada penasehat hukum dan atau terdakwa. Selain daripada keempat hal yang telah di sebutkan di atas, di sisi lain juga terdapat satu hal yang perlu mendapat perhatian yaitu perihal batasan materi dalam perubahan surat dakwaan, batasan materi ini di perlukan

(36)

untuk mencegah penuntut umum melakukan tindakan sewenang-wenang dalam merubah surat dakwaan.

Dalam KUHAP. tidak mengatur akibat hukum yang timbul atas pelanggaran ketentuan Pasal 144, sehingga terkesan penuntut umum dapat melakukan tindakan sewenang-wenang terkait perubahan surat dakwaan karena ada kekosongan hukum tersebut. Berdasarkan adanya kekosongan hukum tersebut, maka penulis mencoba untuk mencari jawabannya melalui pendapat para sariana dan para informans erta responden yang berkompeten dalam bidang ini yaitu sebagai berikut :

Menurut Lilik Mulyadi SH, M.H yang menyatakan bahwa :

Apabila penuntut umum tetap mengubah surat dakwaan melebihi waktu tujuh hari, surat dakwaan yang telah di rubah tersebut bukanlah batal demi hukum (van rechtswege nietig atau null and void), melainkan menjadi tidak sah karena sebelum melakukan perubahan terhadap surat dakwaan itu penuntut umum tidak mengajukan permohonan izin terlebih dahulu kepada ketua pengadilan negeri, padahal permohonan izin tersebut merupakan aspek yang principal karena setelah perkara di limpahkan ke pengadilan negeri, tanggung jawab atas perkara sudah beralih kepada ketua pengadilan negeri. Apabila perubahan surat dakwaan di sampaikan kepada hakim pengadilan negeri dalam tenggang waktu yang di tentukan (tujuh hari), tetapi turunan perubahan di sampaikan kepada terdakwa atau penasihat hukum telah melewati tenggang waktu tujuh hari, walaupun tidak

(37)

di ajukan keberatan (eksepsi), hakim Karena jabatan (ex officio) dapat menyebutkan surat dakwaan tersebut batal demi hukum.27

Drs. Adami Chazawi S.H, berpendapat bahwa :

"Apabila penuntut umum tetap mengubah surat dakwaan melebihi waktu tujuh hari, perubahan yang di lakukan oleh penuntut umum tidak sah dan majelis hakim akan meneruskan persidangan dengan memeriksa surat dakwaan yang semula yang tidak di lakukan perubahan."28

Pasal 144 KUHAP. merupakan ketentuan yang bersifat tetap dan tidak boleh di simpangi, sehingga ketentuan tersebut wajib di patuhi oleh penuntut umum. Jika di kemudian hari penuntut umum melanggar ketentuan pasal tersebut maka surat dakwaan yang telah mengalami perubahan tersebut bersifat batal demi hukum karena bersifat tidak sah sehingga surat dakwaan tersebut tidak akan di terima untuk digunakan dalam persidangan.

Dalam yurisprudensi juga telah terdapat putusan yang berisi tentang akibat tentang hukum yang timbul akibat pelanggaran terhadap Pasal 144 Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, dapat kita temukan pada putusan Makamah Agung No. 2105 K / Pid / 2006 tanggal 18 Juni 2007 atas pemiohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa Ir. Wahyu Hartanto, BS. Adapun kronologis kejadian yang menyebabkan terdakwa mengajukan kasasi terhadap Makamah Agung yaitu:

Pada pemeriksaan tingkat pertama (Pengadilan Negeri) atas terdakwa, penuntut umum melakukan pelanggaran sebagai berikut :

27 Mulyadi Lilik, Opcit, h. 84 – 85

28 Adami Chazawi, 2010, Kemahiran dan Ketrampilan Praktik Hukum Pidana. Membuat Surat-surat Penting dalam Perkara Pidana dan Menjalankan Persidangan Perkara Pidana Tingkat Pertama, Bayu Media, Malang, h. 99-100.

(38)

1) Adanya perubahan surat dakwaan yaitu surat dakwaan yang kesatu No.PDM- 88 / JK tanggal 20 Januari 2005 yang diterima Penasehat Hukum Terdakwa bersamaan saatnya pada waktu perkara Terdakwa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, kemudian surat dakwaan yang kedua dengan Register perkara Reg.Perk.88/ Jakarta Pusat / 01 / 2005.

2) Terjadinya perubahan dakwaan yang kedua tersebut terjadi pada persidangan tanggal 3 Februari 2005 dan diterima dipersidangan dirubah dengan dakwaan kedua.

Atas sikap penuntut umum tersebut, penasehat hukum terdakwa mengajukan eksepsi dan eksepsinya di tolak oleh majelis hakim dengan alasan bahwa perubahan surat dakwaan tersebut tidak terbukti, sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan selanya menyatakan tidak dapat menerima Eksepsi Penasehat Hukum. Selanjutnya setelah penasehat hukum terdakwa menerima putusan akhir dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, maka terdakwa mengajukan banding atas putusan akhir dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ke Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat, namun putusannya menguatkan Putusan Sela Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 143 / Pid.B/2005/PN/Jkt.Pst. Pada tingkat kasasinya terdakwa mengajukan perkaranya tersebut ke Mahkamah Agung dan setelah mempertimbangkan dalil-dalil yang di ajukan oleh penasehat hukum terdakwa, maka Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi, dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat tanggal 24 April 2006 No.

09/ PID / 2006 / PT. DKI, dan memerintahkan agar perkara tersebut di periksa

(39)

dari ulang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Adapun dasar pertimbangan atas putusan tersebut adalah sebagai berikut :

Bahwa keberatan yang di ajukan oleh penasehat hukum tersebut dapat dibenarkan, oleh karena Judex Facti salah menerapkan hukum berdasarkan alasan- alasan sebagai berikut29 :

1. Bahwa secara tegas Pasal 144 ayat 1 dan ayat 2 menentukan :

(1) Penuntut Umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum Pengadilan menetapkan hari sidang, baik dengan tujuan untuk menyempurnakan maupun untuk tidak melanjutkan penuntutannya;

(2) Perubahan surat dakwaan tersebut dapat dilakukan hanya satu kali selambat-lambatnya tujuh hari sebelum sidang dimulai.

2. Bahwa Penuntut Umum telah mengubah surat dakwaan a quo tidak menurut cara dan waktu yang secara tegas ditentukan oleh Pasal 144 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP, karena :

a. Perubahan surat dakwaan kesatu tertanggal 20 Januari 2005 No.PDM/88/

Jk. Surat dakwaan ini diterima Penasehat Hukum Terdakwa bersamaan saatnya pada waktu perkara Terdakwa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, kemudian diterima tanggal 3 Pebruari 2005 dengan Register Perkara Reg.Perk 88 / Jakarta Pusat / 01 / 2005;

b. Bahwa terjadinya perubahan dakwaan yang kedua tersebut terjadi pada persidangan tanggal 3 Pebruari 2005 dan diterima dipersidangan dirubah dengan dakwaan kedua.

29 http://putusan.mahkamahagung.go.id, di akses pada tanggal 1 September 2010.

(40)

3. Bahwa Judex Facti telah salah menerapkan hukum (cq. Pasal 144 KUHAP), karena walaupun in casu tidak ada penegasan tentang sanksi apabila ketentuan tersebut dilanggar, tetapi Judex Facti wajib mentaati ketentuan tersebut, yaitu dengan keharusan Judex Facti memperhatikan hak Terdakwa dari sudut pandang Terdakwa bukan berdasarkan penilaian hukum tetapi harus mengambil tolak ukur keberatan yang diajukan Terdakwa dalam Eksepsinya;

Hal ini mengingat :

a. Fungsi surat dakwaan bagi Hakim,

Surat dakwaan bagi Hakim merupakan dasar pemeriksaan, dasar pertimbangan dan dasar pengambilan putusan tentang bersalah tidaknya Terdakwa dalam tindak pidana yang didakwakan kepadanya;

b. Fungsi surat dakwaan bagi Terdakwa / Penasehat Hukum,

Bagi Terdakwa / Penasehat Hukum surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan dan oleh karena itu surat dakwaan harus disusun secara cermat, jelas dan lengkap surat dakwaan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut, akan merugikan hak pembelaan Terdakwa dan oleh karenanya dapat dinyatakan tidak dapat diterima;

4. Bahwa yang harus menjadi perhatian Judex Facti setelah adanya dua kali perobahan surat dakwaan dengan cara yang tidak sesuai dengan Pasal 144 ayat 1 dan 2 Terdakwa / Penasehat Hukum berpendapat dakwaan tersebut kabur (Obscuur Libel) dan pendapat ini tetap dipertahankan sampai perkara diperiksa dalam tingkat kasasi;

5. Bahwa memperhatikan alasan-alasan dalam butir 1 sampai dengan butir 4

(41)

tersebut, Judex Fach seharusnya menolak perobahan surat dakwaan yang cara perobahan tidak sesuai dengan Undang-Undang, dan menyatakan dakwaan tidak diterima. Berdasarkan putusan a quo bagi Penuntut Umum masih terbuka untuk melakukan kembali penuntutan setelah diadakan penyempurnaan pada surat dakwaan;

Berdasarkan pada uraian-uraian yang telah peneliti kemukakan di atas, maka penulis mempunyai pendapat mengenai akibat hukum yang terjadi terhadap pelanggaran Pasal 144 KUHAP yaitu tidak sahnya surat dakwaan tersebut sehingga menjadi batal demi hukum yang berakibat pada tidak diterimanya surat dakwaan yang telah dirubah tersebut. Walaupun secara in case tidak ada penegasan tentang sanksi apabila ketentuan Pasal 144 KUHAP. dilanggar, tetapi Judex Facti wajib mentaati ketentuan tersebut, yaitu dengan keharusan Judex Facti memperhatikan hak Terdakwa dari sudut pandang terdakwa bukan berdasarkan penilaian hukum, hal ini sesuai dengan salah tujuan daripada Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana yaitu adanya perlindungan terhadap hak asasi terdakwa sebagai subjek pemeriksaaan, di mana hal tersebut yang membedakannya dengan hukum acara pidana yang lama (HIR) yang menempatkan terdakwa di tempatkan sebagai objek pemeriksaaan.

(42)

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas peneliti dapat disimpukan : 1. Batasan materi perubahan surat dakwaan meliputi perbaikan dan atau

penyempumaan pencantuman syarat formil dan materill dari pada surat dakwaan itu sendiri. Perubahan surat dakwaan bertujuan untuk menyempumakan pencantuman locus delicti dan atau tempos delicti, serta pada penulisan redaksi surat dakwaan. Hal pokok yang menjadi perhatian dalam perubahan surat dakwaan adalah adanya larangan bagi jaksa penuntut umum untuk mengubah surat dakwaan menjadi 180 derajat berbeda dengan dakwaan yang sebelumnya.

2. Akibat hukum yang terjadi terhadap pelanggaran Pasal 144 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yaitu tidak sahnya surat dakwaan tersebut sehingga menjadi batal demi hukum yang berakibat pada tidak diterimanya surat dakwaan yang telah dirubah tersebut, hal ini sebagai bentuk perlindungan Hak Asasi Manusia bagi terdakwa.

5.2 Saran

Berdasarkan dari kesimpulan yang telah di uraikan sebelumnya, peneliti memberikan saran bagi penuntut umum yaitu agar dalam menyusun surat dakwaan agar secara cermat, jelas dan singkat guna menghindari tejadinya pelanggaran terhadap Pasal 144 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

(43)

DAFTAR BACAAN BUKU-BUKU

1. Adami Chazawi, 2010, Kemahiran dan Ketrampilan Praktik Hukum Pidana. Membuat Surat-Surat Penting dalam Perkara Pidana dan Menjalankan Persidangan Perkara Pidana Tingkat Pertama, Bayu Media, Malang.

2. Andi Hamzah, 2008, Hukum Acara Pidana, Sinar Grafika,. Jakarta.

3. Bambang Sugono, 2009, Methodelogi Penelitian Hukum, Rajawali Pers Jakarta

4. Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2009, Buku Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar.

5. Harun M, Husein,1994, Surat Dakwaan Teknik Penyusunan, Fungsi dan Permasalahannya, Rineka Cipta, Jakarta.

6. Harahap M Yahya, 2006, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta

7. HMH Kuffa, 2007, Penerapan KUHAP Dalam Praktek, UMM Malang 8. Marpaung Leden, 1992, Proses Penanganan Perkara Pidana: Bagian

Kedua Di Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Upaya Hukum dan Eksekusi, Sinar Grafika,. Jakarta

9. Lilik Mulyadi, 2007, Hukum Acara Pidana, PT Aditya Citra Bakti, Bandung,

10. Osman Simanjuntak, 2005, Teknik Penuntutan dan Upaya Hukum, Konika Jakarta.

11. Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Penada Media Group. Jakar

12. Suharto RM, 2006, Penuntutan Dalam Praktek Peradilan, Sinar Grafika Jkt

13. Soeroso R, 1996, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika , Jakarta.

(44)

PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN.

1. UU No 8/1981 Tentang KUHAP 2. HIR

3. UU No. 16/ 2004, UU Tentang Kejaksaan RI.

4. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung Indonesia, 2009, Himpunan Tata Naskah dan Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Pidana Umum Kejaksaaan Republik Indonesia, Kejaksaan Agung R.1, Jakarta.

5. Kejaksaan Agung R. 1,2007, Modul Penuntutan, Pusat Pmdidikan dan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia, Kejaksaan Agung R.I, Jakarta.

INTERNET

http://wayanpwlajayakusuma.blogspot.com/2009/11/sistem-peradilan-pidana- indonesia,html, di akses pada tanggal 24 april 2010.

http://digillb.unnes.ac.id/csdl/collect/skripsi/archives/HASHOlb5/ed548e24.dir/

doc.pdf, di akses pada tanggal 15 Oktober 2010.

http://putusan.mahkamahagung.go.id, di akses pada tanggal 1 september 2010.

(45)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menunjukkan bahwa re- spek merupakan alasan yang paling berper- an dalam menciptakan kedekatan, jika tidak ada respek dalam hubungan antara remaja dengan ibu

Dalam hal memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan, permintaan ganti kerugian

Nilai ini didapat dari komposisi campuran AC-WC yang terdiri dari 4 fraksi yaitu agregat kasar, medium, abu batu dan filler.Persen pemakaian agregat tersebut

Demikian jelaslah bahwa pelaksanaan program diklat dan pengalaman kerja karyawan mempunyai peranan yang sangat penting bagi rumah sakit, karena dapat mempengaruhi tinggi

Analisis perubahan kebijakan kredit pada pembahasan ini hanya mengulas pada perubahan kebijakan kredit dengan memberikan cash discount saja, sedangkan pada perubahan

Peningkatan pemakain air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) khususnya bagi pelanggan dari golongan rumah tangga yang merupakan pelanggan terbesar Perusahaan Daerah

atau melakukan usaha tertentu dengan harapan mendapat imbalan di jalan, trotoar, jalur hijau, taman atau tempat umum kecuali diizinkan Bupati atau pejabat yang ditunjuk.

Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan 3 tentang Pelanggaran Berat dan Pelanggaran Hukum dan Kebiasaan Perang dari Konven- si Jenewa 1949 yang menyatakan bahwa:.