• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD FAIRUZ IDRIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD FAIRUZ IDRIS"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKATAN BERPIKIR TAKSONOMI BLOOM PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BUNGORO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

MUHAMMAD FAIRUZ IDRIS 10536511315

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2022

(2)
(3)
(4)

iv

SURAT PERNYATAAN

Nama : Muhammad Fairuz Idris

Nim : 10536511315

Program Studi : Pendidikan Matematika

Judul Skripsi : Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim dan penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Januari 2022 Yang Membuat Pernyataan

Muhammad Fairuz Idris NIM: 10536511315

(5)

v

SURAT PERJANJIAN

Nama : Muhammad Fairuz Idris

Nim : 10536511315

Program Studi : Pendidikan Matematika

Judul Skripsi : Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai dengan skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri ( tidak dibuatkan oleh siapapun ).

2. Dalam penyusunan skripsi ini saya selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penciplakan (plagiat) dalam pnyusunan skripsi ini.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang ada.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran

Makassar, Januari 2022 Yang Membuat Pernyataan

Muhammad Fairuz Idris NIM: 10536511315

(6)

vi

Apa yang kau tanam hari ini, itu yang kau petik di kemudian hari.

“You’ll Never Walk Alone”

“Lakukan apa yang bisa di lakukan, hidup hanya sekali, maka nikmatilah, tapi ingat satu hal sederhana, jauhi larangan-Nya”.

Kupersembahkan sebuah karya sederhana untuk Bapak, ibu, istri serta saudara kandungku

yang selalu memberikan dukungan moral maupun materil tanpa meminta pamrih sedikitpun

Serta saudara-saudara seperantauanku yang menemani dari awal menginjakkan kaki di jenjang Universitas hingga menjadi orang yang berguna suatu saat nanti, Amiin.

(7)

vii ABSTRAK

Muhammad Fairuz Idris. 2022. Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro, Skripsi.

Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Baharullah. dan Pembimbing II Ilhamuddin.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan taksonomi bloom level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro. Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan memecahkan masalah dengan berpikir kritis dan kreatif untuk menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan pemecahan masalah yang baru. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dirancang untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang. Subjek yang dipilih pada penelitian ini berjumlah 3 siswa, teknik pemilihannya menggunakan teknik purposive sampling, yang terdiri dari 1 siswa dari kelompok siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa dari kelompok siswa berkemampuan sedang dan 1 siswa dari kelompok siswa berkemampuan rendah. Pengelompokan siswa berdasarkan hasil soal tes kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal bangun ruang yang diselesaikan siswa, maka 3 subjek terpilih kemudian diwawancarai untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir siswa dalam tahap menganalisis, yaitu ketiga subjek dapat memenuhi indikator dalam tahap menganalisis dengan baik. Sedangkan pada tahap mengevaluasi subjek pada siswa berkemampuan tinggi mampu memenuhi indikator mengevaluasi dengan baik, sedangkan pada subjek siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan rendah belum memenuhi indikator mengevaluasi. Hal tersebut disebabkan karena tidak dapat membuat hipotesis dan melakukan pengujian dalam menyelesaikan soal. Sedangkan, pada tahap mencipta, subjek dari siswa berkemampuan tinggi dapat memenuhi indikator mencipta dengan baik, sedangkan untuk subjek berkemampuan sedang dan rendah belum memenuhi indikator mencipta. Karena kedua subjek tidak dapat menciptakan penyelesaian soal.

Kata Kunci: Kemampuan berpikir tingkat tinggi, Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom, Bangun Ruang.

(8)

viii

melimpahkan rahmat-Nya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Analisis Kemampuan Berpiikir Tingkat Tinggi dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Tingaktan Berpikir Taksonomi Bloom pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro” dengan baik, Salawat serta salam juga semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam. kepada sahabat, keluarga, serta umat yang istiqamah di jalannya.

Penyusunan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban sebagai salah satu persyaratan guna menempuh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan motivasi dari banyak pihak, maka skripsi ini tidak dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dengan segala ketulusan dan kerendahan hati serta penghargaan yang setingi-tingginya kepada:

1. Kedua Orang tua yang saya hormati, Bapak Muhammad Idris Latief, S.E dan Ibu Rahmawati yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik penulis dalam pencarian ilmu, dan juga kepada Bapak Mustari Safa dan Ibu Dra. Mesrawati, M.Pd. selaku mertua yang telah mempercayai penulis selama ini.

2. Ayahanda Prof. Dr. H. Ambo Asse., M.Ag. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

ix

4. Ayahanda Dr. Mukhlis, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ayahanda Ma’rup, S.Pd., M.Pd. selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

6. Ayahanda Dr. Nasrun, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah menjadi sosok orang tua selama penulis berada dilingkungan kampus

7. Ayahanda Dr. Baharullah, M.Pd. selaku Pembimbing I dan Kakanda Ilhamuddin, S.Pd., M.Pd. selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya dalam membimbing penulis serta memberikan saran dan masukannya selama ini.

8. Kakanda Ilhamuddin, S.Pd., M.Pd. selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya dalam membimbing penulis serta memberikan saran dan masukannya selama ini.

9. Ayahanda Amri, S.Pd., M.M. dan kakanda Ahmad Syamsuadi, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Validasi Instrument yang telah memberikan bimbingan dalam rangka menyelesaikan dan penyempurnaan instrument.

(10)

x

selama penuls menimba ilmu di Program Studi Matematika.

11. Bapak Kepala SMP Negeri 1 Bungoro yang telah memberi izin kepada penulis dalam melaksanakan penelitian

12. Ibu Guru Bidang Studi Pendidikan Matematika yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian

13. Adik-adik siswa Kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro yang telah berpatisipasi dalam penelitian ini

14. Kakanda Fathrul Arriah, S.Pd., M.Pd. Kakanda Safar, S.Pd. Kakanda Maulana Yusron, S.Pd. Kakanda Suyuti, S.Pd. Kakanda Ibas, S.Pd.

Kakanda Surya Dharma, S.Pd. Kakanda Andi, S.Pd. Kakanda Nur Halim Yunus, S.Pd. Kakanda Asyhabul Kahfi, S.Pd. Kakanda Muammar Ashari Abuspin, S.Pd. Kakanda Hikmatturrahman S.Pd.

yang telah membantu dan menjadi sosok yang memberikan saran kepada penulis selama menimba ilmu selama ini, baik dalam dunia akademis maupun organisasi.

15. Kakanda dan Teman-teman seperjuangan dalam HMJ Pendidikan Matematika FKIP Unismuh Makassar Periode 2016-2017 dan HMJ Pendidikan Matematika FKIP Unismuh Makassar Periode 2017-2018 16. Saudara-saudaraku, Abidin, Ippang, Nas, Suki, Epeng, Wahid, Ibe,

Ewing, Cimai, Umming, Ipul, Jawa, Tono, Emo, Nasir yang telah menjadi saudara seperjuangan dan seperantauan selama menjadi seorang mahasiswa.

(11)

xi

18. Kakanda dan saudari-saudaraku di HMJ Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar

19. Saudara-saudariku Geometri 15 mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika angkatan 2015, terkhusus Kelas Geometri 15D yang telah berjuang bersama-sama dalam menimba ilmu dibangku perkuliahan.

20. Wanita bernama Lovia Astrisahri Nur Mustari, yang telah menemani penulis dalam menyelesaikan studi, baik sebagai teman, sahabat, saudara dan bersedia menjadi istri guna menemani dalam setiap langkah kehidupan.

21. Serta segala pihak yang belum sempat dituliskan satu persatu, atas segala perannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang dapat menyempurnakan skripsi ini sangat penulis harapkan. Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amiin.

Makassar, Januari 2022 Penulis

(12)

xii

SAMPUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ...xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Batasan Istilah ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Analisis ... 9

B. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi ... 10

C. Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom ... 14

D. Bangun Ruang ... 24

E. Penelitian Yang Relevan ... 26

F. Kerangka Pikir ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 30

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 30

C. Fokus Penelitian ... 34

D. Prosedur Penelitian... 34

(13)

xiii

G. Keabsahan Data ... 37 H. Teknik Analisis Data ... 38 BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Level Menganalisis (C4) ... 42 B. Deskripsi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa dalam

Menyelesaiakn Soal Bangun RuangLevel Mengevaluasi (C5) ... 50 C. Deskripsi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa dalam

Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Level Mencipta (C6) ... 55 D. Pembahasan ... 61 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 67 B. Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA ... 70 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(14)

xiv

Tabel Halaman

1.1 Hasil Ulangan Harian Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro ...3

2.1 Perbedaan Taksonomi Bloom Sebelum dan Sesudah Revisi ...19

2.2 Dimensi Proses Kognitif ...20

2.3 Indikator Ukuran Kemampuan Tingkat Tinggi...23

3.1 Hasil Perhitungan Standar Deviasi (SD) ...32

3.2 Kategori Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa ...32

3.3 Subjek Terpilih serta Pengkodean ...34

4.1 Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Taksonmi Bloom Dari Ketiga Subjek...66

(15)

xv

4.1. Jawaban ST soal nomor 1 level menganalisis (C4) ...43

4.2 Jawaban SS soal nomor 1 level mengenalaisis (C4) ...46

4.3 Jawaban SR soal nomor 1 level menganalisis (C4) ...48

4.4 Jawaban ST soal nomor 2 level mengevaluasi (C5) ...50

4.5 Jawaban SS soal nomor 2 level mengevaluasi (C5)...52

4.6 Jawaban SR soal nomor 2 level mengevaluasi (C5) ...53

4.7 Jawaban ST soal nomor 3 level mencipta (C6) ...55

4.4 Jawaban SS soal nomor 3 level mencipta (C6) ...57

4.4 Jawaban SR soal nomor 3 level mencipta (C6) ...58

(16)

xvi Lampiran A

1. Daftar nama peserta tes 2. Hasil Tes Kemampuan 3. Instrumen Penelitian 4. Alternatif Penyelesaian 5. Pedoman Wawancara Lampiran B

1. Jadwal Pelaksanaan Pengumpulan Data

2. Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi 3. Transkip Hasil Wawancara

4. Dokumentasi Lampiran C Persuratan Power Point Riwayat Hidup

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu bidang pendidikan yang paling penting dalam kehidupan adalah pendidikan matematika.

Matematika merupakan suatu pembelajaran yang sangat penting, serta ilmu yang ada di setiap jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Melalui pembelajaran matematika diharapkan siswa dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari serta dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Menyadari pentingnya pembelajaran matematika, perlu adanya peningkatan potensi siswa. Salah satu potensi siswa yang perlu ditingkatkan adalah kecerdasan. Kecerdasan peserta didik dapat ditingkatkan diantaranya dengan cara mengembangkan kemampuan berpikir dalam menyelesaikan soal matematika sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Namun seperti yang kita ketahui bahwa sampai sekarang kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran matematika relatif rendah.

(18)

Dalam kehidupan, berpikir merupakan suatu kegiatan yang dialami oleh individu ketika mereka dihadapkan dalam suatu masalah ataupun situasi yang perlu di pecahkan. Berpikir sebagai salah satu akivitas untuk membantu menyelesaikan masalah, menuntaskan hasrat keingintahuan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang individu memutuskan dan menyesaikan suatu masalah, maka individu tersebut akan melakukan aktivitas berpikir.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi sangatlah penting untuk menyelesaikan soal matematika terkhususnya pada materi bangun ruang.

Pembelajaran bertipe HOTS merupakan pembelajaran yang diterapkan untuk pengembangan kecapakan siswa dalam memecahkan masalah matematika, namun kenyataannya proses belajar mengajar disekolah masih menggunakan sistem pembelajaran yang kurang dalam melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa itu sendiri.

Terdapat perbedaan pada proses pembelajaran, dimana adanya perbedaan antara siswa yang lebih fasih pada hafalan dengan siswa yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan penerapan pembelajaran tipe HOTS membuat siswa tidak hanya sekedar dalam menghafal informasi yang ada, siswa juga dapat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi yakni kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi dan juga mencipta. Maka dari itu, pentingnya mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa agar tidak sekedar mengingat, akan tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi dan mencipta serta dapat menerapkan kedalam permasalahan yang baru.

(19)

Dikarenakan Pandemi Virus Covid-19 yang terjadi saat ini, maka Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan kebijakan dengan merubah proses pembelajaran yang semula pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran daring (E-Learning). Dalam hal ini, terdapat 2 cara dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah, yaitu pembelajaran daring (E-Learning) dan juga pembalajaran konvensional dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kesulitan siswa dalam proses pembelajaran di masa pandemi ini susahnya siswa paham dalam pembelajaran dan juga kurangnya intreaksi antara guru dan siswa.

Materi bangun ruang adalah salah satu materi yang cukup sulit dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi dan wawancara peneliti dengan salah seorang guru bidang studi matematika kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro pada bulan Oktober 2021 yang menunjukkan bahwa hingga saat ini masih kurangnya keterampilan siswa dalam mengerjakan soal matematika, khususnya kemampuan menyelesaikan soal-soal HOTS pada materi bangun ruang.

Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian matematika materi bangun ruang siswa kelas VIII D SMP negeri 1 Bungoro sebagai berikut:

Tabel 1.1 Hasil Ulangan Harian Siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro

KELAS NILAI SISWA ( 𝑥 )

JUMLAH 𝑥 < 70 𝑥 > 70

VIII D 18 12 30

(20)

Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa hanya 40% dari 30 siswa yang memenuhi nilai KKM. Karenanya, peneliti simpulkan dari hasil observasi dan wawancara dengan salah seorang guru mata pelajaran matematika tersebut. Kurangnya keterampilan dan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal khususnya soal-soal berbentuk HOTS di akibatkan oleh sebagian siswa belum mengenal bentuk-bentuk soal yang berbentuk soal kemampuan berpikir berpikir tingkat tinggi, terlebih lagi buku paket dan LKS yang digunakan hanya berisikan materi, contoh soal yang tidak melibatkan proses berfikir aktif dan kreatif secara maksimal.

Hal tersebut mengakibatkan siswa tidak mampu mengerjakan soal matematika terkhususnya soal matematika yang membutuhkan kemampuan berfikir tingkat tinggi. Sedangkan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran matematika, perlu adanya soal-soal yang berkualitas, bentuk- bentuk soal yang tidak hanya meliputi indikator mengingat, memahami serta mengaplikasi, tapi juga perlu adanya indikator analisis, evaluasi dan mencipta.

Oleh karena itu, dalam penilitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru dalam dunia pendidikan agar penerapan strategi, model dan metode pembelajaran tidak hanya meliputi indikator mengingat, memahami serta mengaplikasi, tapi juga perlu adanya indikator analisis, evaluasi dan mencipta, untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik.

(21)

Lewis dan Smith (Hamidah, 2018: 89) mendefinisikan kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai kemampuan berpikir yang terjadi ketika mengambil informasi baru dan informasi yang sudah tersimpan dalam ingatan, selanjutnya menghubungkan informasi tersebut dan menyampaikannya untuk mencapai tujuan dan jawaban yang dibutuhkan.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat membuat siswa menafsirkan, menganalisis dan memanipulasi informasi terkait matematika. Dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat mengolah informasi, hal ini akan berguna saat siswa mengerjakan soal matematika. Dalam proses berpikir terdapat tingkatan rendah sampai tinggi, hal tersebut dijabarkan pada Taksonomi Bloom.

Taksonomi Bloom merupakan struktur hierarkhi yang mengidentifikasi keterampilan siswa dalam mengerjakan soal matematika.

Tingkatan berpikir menurut Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut: (C1) mengingat, (C2) memahami, (C3) menerapkan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi, dan (C6) menciptakan.

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

(22)

Bagaimana kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk Siswa

Siswa dapat mengetahui seberapa besar kemampuannya dalam proses berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal pokok bahasan bangun ruang, sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan soal.

2. Untuk Guru

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, terkhusus epada materi bangun ruang.

(23)

3. Untuk Sekolah

Memberikan sumbangan pemikiran mengenai kemampuan peserta didik sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

4. Untuk Peneliti

Menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran matematika

E. Batasan Istilah

Agar tidak ada kesalahpahaman terhadap istilah yang ada serta perbedaan persepsi dan juga kesalahpahaman, maka perlu adanya beberapa penjelasan sebagai berikut:

1. Analisis adalah suatu proses menguraikan sesuatu ke dalam komponen- komponen yang saling terhubung satu dan sama lain

2. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ialah kemampuan dalam menganalisis, mengevaluasi dan juga mencipta tentang pengetahuan dalam mencari suatu ide atau solusi baru terhadap permasalahan- permasalahan yang ada. Kemampuan ini diperoleh dari kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika melalui soal tes kemampuan berpikir tingkat tinggi

3. Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkatan berpikir taksonomi hasil revisi Anderson dan Krathwohl. Penelitian ini akan menitik beratkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaiakan masalah matematika. Oleh sebab itu, penelitian ini akan hanya membahas lebih lanjut mengenai

(24)

kemampuan berpikir tingkat tinggi. Adapun indikator yang dikembangkan oleh Anderson untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu menanalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

4. Bangun Ruang

Bangun ruang adalah bangun dalam matematika yang memiliki volume/isi. Bangun ruang disusun oleh tiga komponen, yaitu sisi, rusuk, dan titik sudut. Bangun ruang disebut juga sebagai bangun tiga dimensi.

Bangun ruang digolongkan menjadi dua bagian, yaitu bangun ruang sisi datar dan bangun ruang sisi lengkung. Adapun materi yang di kembangkan dalam penelitian ini ialah bangun ruang sisi datar dimana bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang memiliki sisi berbentuk datar (bukan sisi lengkung). Bangun ruang sisi datar meliputi kubus, balok, limas, dan prisma.

(25)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Analisis

Secara umum, arti analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditafsirkan maknanya.

Analisis dapat juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan atau menguraikan suatu materi atau informasi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil sehingga lebih mudah dipahami. Yaitu usaha dalam mengamati sesuatu secara mendetail dengan cara menguraikan komponen pembentuknya atau menyusun sebuah komponen untuk kemudian dikaji lebih mendalam.

Komaruddin (Amelia,2013) Pengertian analisis adalah kegiatan berpikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen sehinga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama lain dan fungsi masing-masing dalam satu keseluruhan yang terpadu. Sedangkan menurut Harahap (Riadi,2016) analisis adalah memecahkan atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit.

(26)

Analisis ini dilakukan untuk melihat kemapuan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Analisis kemampuan pemecahan sangat dibutuhkan agar siswa dapat menyelesaikan suatu masalah . Dengan analisis ini dapat membantu guru dalam mengevaluasi kemampuan belajar siswa.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa analisis adalah suatu proses menguraikan sesuatu ke dalam komponen- komponen yang saling terhubung satu dan sama lain

B. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

Berpikir merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir adalah suatu kegiatan yang melibatkan kerja otak untuk mempertimbangkan sesuatu

Menurut Solso (2008;402) berpikir ialah proses yang membentuk representasi mental baru melalui transformasi informasi terkait interaksi kompleks dari atribusi mental yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecahan masalah, pembentukan konsep, kreativitas dan kecerdasan.

Sedangkan berpikir menurut Santrock (2008) ialah melibatkan kegiatan memanipulasi dan mentransofrmasi informasi kedalam memori.

Proses berpikir menurut Solso (2008;402) terdiri atas tiga dasar, yaitu:

a. Berpikir ialah aktivitas kognitif yang terjadi di dalam mental atau pikiran dari seseorang dan dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang nampak.

(27)

b. Berpikir ialah suatu proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan di dalam sistem kognitif

c. Aktivitas berpikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah.

Menurut Suriyana (Hamidah, 2018:46) thingking skill is an ability in using mind of find a meaning and comprehension on something, eksploration of ideas, making decision, problem solving with best consideration and revision on the previous thingking proses. Suatu kemampuan berpikir merupakan sebuah kemampuan dalam menggunakan pikiran untuk mencari makna dan pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi ide, mengambil keputusan, memikirkan pemecahan dengan pertimbangan terbaik dan merevisi permasalahan yang ada pada proses berpikir sebelumnya.

Lewis dan Smith (Hamidah, 2018: 89) mendefinisikan kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai kemampuan berpikir yang terjadi ketika mengambil informasi baru dan informasi yang sudah tersimpan dalam ingatan, selanjutnya menghubungkan informasi tersebut dan menyampaikannya untuk mencapai tujuan dan jawaban yang dibutuhkan.

Sedangkan menurut Thomas & Thorne, HOTS merupakan cara berpikir yang lebih tinggi daripada menghafalkan fakta, mengemukakan fakta, atau menerapkan peraturan, rumus, dan prosedur. Hal ini sedana dengan pendapat Onosko & Newman, HOTS didefinisikan sebagai potensi penggunaan pikiran untuk menghadapi tantangan baru (Nugroho, 2018:16).

(28)

Brookart (Nugroho, 2018:17) memaparkan jenis HOTS didasarkan pada tujuan pembelajaran dikelas, salah satunya HOTS sebagai pemecahan masalah (HOTS as problem solving). HOTS sebagai pemecahan masalah didefinisikan sebagai keterampilan mengidentifikasi dan menyelesaiakn masalah. Menurut Bloom (Sani, 2019:3) Higher Order Thingking (HOT) merupakan kemampuan abstrak yang berada pada ranah kognitif dari taksonomi sasaran pendidikan yakni mencakup analisis, evaluasi dan menkreasi. Kemudian menurut Hamidah (2018:79) kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir dan bernalar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan atau memecahkan suatu kasus atau masalah.

Gunawan (2003:171) menjabarkan kemampuan berpikir tingkat tinggi ialah arah berfikir yang membawa siswa untuk memanipulasi data yang ada dengan cara tertentu yang memberikan mereka pengertian dan implikasi baru. Contoh, ketika siswa menggabungkan realita dalam proses mensintesis, melakukan generalisasi, menjelaskan, melakukan hipotesis serta menganalisis, hingga siswa dapat memperoleh suatu kesimpulan.

Rosnawati (2013:3) juga menjelaskan bahwa kemampuan dalam berpikir tingkat tinggi bisa terjadi jika seseorang menghubungkan antara data yang yang baru diperoleh dengan data yang sudah ada lalu menata ulang dan mengembangkan data tersebut sehingga tercapai suatu penyelesaian dari keadaan yang sukar dijelaskan.

Higher Order ThingkingSkill (HOTS) merupakan keterampilan berpikir yang lebih dari sekedar menghapal fakta dan konsep, akan tetapi

(29)

mengharuskan siswa melakukan sesuatu dengan fakta tersebut. Siswa harus memahaminya, menganalisis fakta yang ada, mengkategorikannya, memanipualasinya dan menerapkannya yang bertujuan untuk mencari solusi dari kondisi yang baru. (Riadi,2006).

Berpikir tingkat tinggi adalah berpikir dalam tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan sekedar mengingat fakta atau memberi suatu informasi kepada seseorang (Heong, dkk,2011).

Menurut Dewanto (Amalia,2013) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah suatu pemikiran diatas data yang ada, dengan pemikiran yang kritis untuk mengevaluasi,mempunyai kesadaran serta memiliki kapasitas pemecahan masalah.

Karesteristik dari Kemampuan berpikir tingkat tinggi yang di ungkapkan oleh Resnick (1987) ialah non algoritmik, bersifat kompleks, mempunyai banyak solusi, melibatkan macam-macam metode mengambil keputusan, penerapan kriteria ganda dan bersifat effortfull (membutuhkan usaha).

Conklin (2012) menyatakan karakteristik HOTS sebagai berikut:

“characteristics of higher-order think-ing skills: higher-order thinking skills encom-pass both critical thinking and creative thinking”

artinya,karakteristik keterampilan berpikir tingkat tinggi mencakup berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis dan kreatif merupakan dua kemampuan manusia yang sangat mendasar karena keduanya dapat mendorong seseorang untuk senantiasa memandang setiap permasalahan yang dihadapi secara kritis serta mencoba mencari jawabannya secara

(30)

kreatif sehingga diperoleh suatu hal baru yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupannya.

Menurut Krathwohl (2002), indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi :

a) Menganalisa b) Mengevaluasi c) Mengkreasikan

Taksonomi Bloom menjelaskan bahwa kemampuan melibatkan analisis, evaluasi dan berkreasi dianggap berpikir tingkat tinggi (Pohl, 2000).

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan memecahkan masalah dengan berpikir kritis dan kreatif untuk menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan pemecahan masalah yang baru.

C. Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Kata taksonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu tassein yang mengandung arti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan.

Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki (bertingkat) yang mengidentifikasikan keterampilan berpikir mulai dari jenjang rendah hingga yang tinggi.

Menurut Bowler (Kuswana, 2018:2) taksonomi terdiri dari kelompok (taksa) Materi pelajaran diurutkan menurut persamaan dan perbedaan.

Kerangka kerja untuk mengategorikan tujuan pendidikan, fokus perhatian pada domain taksonomi Bloom (1956), sejalan dengan perkembangan

(31)

kemajuan dalam ilmu pengetahuan sejak dipublikasikan sampai saat ini masih menjadi perhatian. Oleh karena itu, telah dilakukan revisi atas dasar umpan balik pandangan para ahli internasional terhadap pemikiran Bloom, bersama-sama dengan beberapa tim penulisnya, memberikan kontribusi dalam karya besar.

Semua kategori dalam karya asli telah ditetapkan sebagai kemmapuan dan keterampilan; masing-masing pengetahuan dianggap prasyarat dan dianggap merupakan kumulatif hierarki, yaitu setiap kategori yang dikandung sebagai kerangka struktur yang sesuai dengan perkembangan teori berpikir kritis. Anderson dan Krathwohl (2001) (Hamidah, 2018:49), mempertahankan kategori enam proses kognitif;

mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan.

Tingkatan mengingat, seseorang akan berusaha mengenali (recognizing) atau mendapatkan kembali (recalling) pengetahuan dari memori jangka panjang yang sesuai dengan sesuatu yang dihadirkan dalam benaknya. Mengenali merupakan upaya mengidentifikasi informasi yang dihadirkan. Dalam proses mengenali, siswa menelusuri ingatan yang dimiliki untuk sebuah bagian informasi yang memiliki kesamaan dengan informasi yang dihadirkan. Sedangkan dalam proses memanggil kembali, siswa menelusuri memori jangka panjang untuk mencari suatu bagian informasi dan membawa bagian informasi tersebut ke dalam memori kerja dimana semua informasi itu diproses.

(32)

Memahami, siswa dapat dikatakan memahami terhadap sesuatu jika mampu membangun arti dari sesuatu tersebut, baik secara lisan, tulisan/gambar maupun komunikasi yang sebenarnya Proses kognitif dalam kategori memahami mencakup berikut ini ; a) mengiterpretasikan (interpreting), ketika siswa telah mampu mengubah informasi dari suatu gambaran menjadi gambaran lain, maka dia telah menginterpretasikan informasi tersebut. Menginterpretasikan merupakan kegiatan mengubah kata menjadi kata lain, gambaran menjadi kata atau sebaliknya, angka menjadi kata atau sebaliknya dan seterusnya; b) Menerangkan dengan contoh (exemplifying), terjadi ketika siswa mampu memberikan suatu gambaran yang merupakan contoh atau perumpamaan dari suatu konsep atau prinsip tertentu.

Menerangkan dengan contoh terkait dengan melukiskan ciri-ciri dari suatu konsep atau prinsip tersebut dan menggunakan ciri-ciri tersebut untuk nenyeleksi atau membangun sebuah contoh yang spesifik; c) Menggolongkan (classifying), terjadi ketika siswa mampu mengenali sesuatu untuk masuk kedalam kategori tertentu. Menggolongkan terkait dengan mendeteksi ciri-ciri atau polayang ada sehingga tergolong dalam kategori tertentu; d) Meringkas (summarizing), terjadi ketika siswa mampu membuat rangkuman atau intisari yang dapat menunjukkan gambaran dari informasi yang dihadirkan; e) Menduga (inferring), terjadi ketika siswa mampu memperkirakan sesuatu setlah menentukan intisari dari suatu konsep. Menduga terkait dengan menemukan suatu pola dari sebuah rangkaian contoh atau perumpamaan dan menggunakan pola tersebut untuk

(33)

menentukan rangkaian contoh atau perumpamaan; selanjutnya f) Membandingkan (comparing),terjadi ketika siswa mampu mendeteksi perbedaan dan persamaan.

Siswa mampu mendeteksi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek, kejadian, ide, masalah, atau situasi, seperti mendeteksi bagaimana sebuah kejadian terkenal seperti suatu kejadian yang biasa terjadi; Menjelaskan (explaining), terjadi ketika siswa mampu membangun dan menggunakan model/bentuk yang menunjukkan sebab dan akibat dari suatu sistem.

Menerapkan, terkait dengan memainkan penggunaan prosedur dalam memecahkan masalah. Sehingga, dalam menerapkan harus memenuhi persyaratan mendasar yakni memahami pengetahuan dari suatu prosedur.

Suatu latihan adalah tugas yang telah diketahui prosedur yang tepat untuk digunakan, sedangkan suatu masalah adalah tugas yang pada awalnya tidak tahu prosedur apa yang harus digunakan, sehingga siswa hars menemukan suatu prosedur untuk memecahkan masalah tersebut. Sehingga kategori menerapkan dari sua jenis tugas di atas adalah melaksanakan (executing) – ketika tugas adalah suatu latihan yang dikenal dan mengimplementasikan (implementing)−ketika tugas masalah yang tidak dikenal.

Menganalisis, terjadi ketika siswa mampu memisahkan materi menjadi bagian-bagian penyusunannya dan mendeteksi bagaimana suatu bagian berhubungan dengan satu bagian yang lain, meliputi; a) Membedakan (differentiating), terjadi ketika siswa membedakan bagian yang tidak relevan dan yang relevan atau dari bagian yang penting ke bagian

(34)

yang tidak penting dari suatu materi yang diberikan; b) Mengorganisasikan (organizing), menentukan bagaimana suatu bagian elemen tersebut cocok dan dapat berfungsi bersama-sama di dalam suatu struktur; c) Menghubungkan (attributing), terjadi ketika siswa dapat menentukan inti atau menggarisbawahi suatu materi yang diberikan.

Mengevaluasi, yaitu membuat keputusan berdasarkan kriteria yang strandar, seperti mengecek dan mengkritik, meliputi; a) mengecek (checking), terjadi ketika siswa melacak ketidak konsistenan suatu proses atau hasil, menentukan proses atau hasil yang memiliki kekonsistenan internal atau mendeteksi keefektifan suatu prosedur yang sedang diterapkan; b)mengkritisi (critiquing), terjadi ketika siswa mendeteksi ketidak konsistenan antara hasil dan beberapa kriteria luar atau keputusan yang sesuai dengan prosedur masalah yang diberikan.

Proses mencipta, yaitu menempatkan elemen bersama-sama untuk membentuk suatu keseluruhan yang koheren atau membuat hasil yang asli, seperti; a) Menyusun (generating), melibatkan penemuan hipotesis berdasarkan kriteria yang diberikan; b) merencanakan (planning), suatu cara untuk membuat rancangan untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan;

c) menghasilkan (producing), siswa diberikan deskripsi dari suatu hasil dan harus menciptakan produk yang sesuai dengan desktipsi yang diberikan.

Semua kategori-kategori tersebut dihubungkan dengan dua atau lebih proses kognitif, jumlah semuanya adalah 19, juga digambarkan dalam bentuk –bentuk kata kerja. Perbedaan proses kognitif dari keenam kategori

(35)

tersebut, proses kognitif mengambil bentuk kata benda yang dibentuk dari kata bahasa Inggris ditambah –ing.

Dahulu kita mengenal penjabaran secara hirarki terhadap ranah kognitif Bloom menjadi enam tingkatan, mulai dari C1 sampai C6.

Penjabaran hirarkhis tersebut saat ini masih digunakan lagi dalam revisi taksonomi bloom akan tetapi dalam bentuk yang sedikit berbeda.

Tabel 2.1. Perbedaan taksonomi bloom sebelum dan sesudah revisi (Patrisia Senita, 2019;26)

TAKSON OMI BLOOM

C1 C2 C3 C4 C5 C6

SEBELUM REVISI

Pengetahuan Pemahaman Aplikasi Analisis Sintesis Evaluasi

SESUDAH REVISI

Mengingat Memahami Mengapli kasikan

Mengana lisis

Menge valuasi

Mencipta

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa terdapat tiga dimensi kognitif dari taksonomi bloom yang direvisi oleh (Anderson dan Krathwohl 2018:96) yang menjadi bagian sebagai indikator keterampilan berpikir tingkat tinggi ialah: Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta. Sedangkan ketiga proses kognitif dalam ranah sebelumnya yakni keterampilan mengingat, memahami, dan mengaplikasikan merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah.

Masing masing indikator akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut :

(36)

Tabel 2.2. Dimensi Proses Kognitif (Kuswana, 2014:143)

Kategori dan

Proses Kognitif Nama Lain Definsi

1. Mengingat:

Pengetahuan yang relevan dari memori yang panjang

1.1 Mengenal Mengidentifikasi

Penempatan pengetahuan dalam memori yang panjang secara konsisten dengan materi yang dipersembahkan

1.2 Mengingat kembali Mendapatkan kembali

Mendapatkan kembali pengetahuan yang relevan dari materi yang lama

2. Memahami:

Membangun pengertian dari pesan pembelajaran, meliputi oral, tulisan dan komunikasi grafik

2.1 Mengartikan

Klasifikasi, menguraikan dengan kata-kata sendiri, menggmbarkan,

menerjemahkan

Mengubah dari satu bentuk gambaran (numerik) ke bentuk yang lain (verbal)

2.2

Memberikan

contoh Ilustrasi

Menemukan contoh khusus atau ilustrasi konsep atau prinsip

2.3 Mengklasifikasi Mengategorikan, menggolongkan

Menentukan sesuatu ke dalam kategori

2.4 Menyimpulkan Meringkas,

menggeneralisasikan

Meringkas tema umum atau khusus

2.5 Menduga

Menyimpukan,

meramalkan, menyisipkan, memprediksi

Menggambarkan kesimpulan logika dari informasi yang ada

2.6 Membandingkan Membedakan, memetakan, mencocokkan

Mendeteksi korespondensi antara dua ide, objek, dan semacamnya

2.7 Menjelaskan Menciptakan model

Menciptakan sistem model penyebab dan pengaruh

3. Menerapkan:Menerapkan/menggunakan prosedur dalam situasi yang diberikan

3.1 Menjalankan Membawa

Menerapkan prosedur ke tugas yang umum

(37)

3.2 Melaksanakan Menggunakan

Menerapkan prosedur menjadi tugas yang tidak umum

4. Menganalisis:Menerapkana atau menggunakan prosedur dalam situasi yang diberikan atau yang dihadapi

4.1 Membedakan

Mendiskriminasikan, memusatkan, menyeleksi, mengkaji,

membandingkan, mengkontraskan,

melakukan deskriminasi, memisahkan, menguji, melakukan ekperimen, mempertanyakan, mengelompokkan

Membedakan bahan-bahan yang relevan atau tidak rekevan atau yang penting dengan yang tidak penting

4.2 Mengatur

Menemukan hubungan, integrasi, meringkas, menguraikan, menyusun, mmebagi informasi

Menetapkan bagaimana elemen-elemen cocok atau berfungsi dalam sebuah struktur

4.3 Menghubungkan

Mendekontruksi, Membangun, mengenali hubungan

Menetapkan pandangan, gangguan, nilai-nilai atau maksud yang mendasari materi

5. Menilai:Membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standarisasi

5.1 Memeriksa

Mengoordinasi,

mendeteksi, mengawasi, menilai, menyelidiki, memberi argumentasi, mempertahankan, menyatakan, memilih, melakukan evaluasi, mengkritik, melakukan pengujian

Mendeteksi

ketidakkonsekuenan atau buah pikiran yang keliru dalam sebuah proses atau hasil, menetapkan proses atau hasil yang masuk akal, mendeteksi

ketidakefektifan prosedur sebagai hasil yang sudah dilaksanakan

5.2

Mengupas

Menilai, memberi dukungan, membuat hipotesis

Mendeteksi

ketidakkonsekuenan antara hasil dan kriteria eksternal, menetapkan hasil yang memiliki konsistensi eksternal, mendeteksi

ketidaktepatan prosedur

(38)

dalam memberikan kesesuaian

6. Menciptakan:Menaruh bagian-bagian dalam keseluruhan fungsi menjadi sebuah pola atau struktur yang baru

6.1 Menghasilkan Membentuk struktur baru

Alternatif hipotesis berdasarkan kriteria

6.2 Merencanakan Merancang, merakit

Melengkapi prosedur untuk menyempurnakan beberapa tugas

6.3 Mengeluarkan

Menghasilkan, membangun, mendirikan, merumuskan

Menciptakan sebuah produk

1) Indikator Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

Anderson dan Krathwohl membagi tingkat kemampuan berpikir menjadi keemapuan berpikir tingkat rendah atau lower order thinking skill (LOTS) dan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skill (HOTS). LOTS terdiri atas kemampuan mengingat(C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), sedangkan HOTS terdiri atas kemampaun menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

Menurut Krathwohl (Purbaningrum, 2017:41), indikator dalamr mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi menganalisis(C4), mengevaluasi(C5), dan mencipta(C6).

Berdasarkan penjelasan diatas dalam penilitian ini teori yang digunakan adalah teori Anderson dan Krathwohl. Oleh sebab itu dalam penilitian kali ini akan fokus pada kemampuan peserta didik pada tahap menganalisis(C4), mengevaluasi(C5), dan mencipta(C6). Indikator dalam mengukur kemampuan tingkat tinggi meliputi:

(39)

Tabel 2.3 Indikator Ukuran Kemampuan Tingkat Tinggi

INDIKATOR

PROSES KOGNITIF

DESKRIPSI

C4

Menganalisis 1. Menganalisis data yang ada dan membagi data kedalam bagian yang lebih kecil untuk

mengetahui pola atau hubungannya

2. Mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dari akibat sebuah masalah yang rumit

3. Mengidentifikasi/merumuskan pertanyaan

C5

Mengevaluasi 1. Memberikan penilaian terhadap sebuah solusi atau

gagasan dengan

menggunakan unsur-unsur yang ada untuk memastikan nilai ke efektifitasnya

2. Membuat hipotesis, mengkritik dan melakukan sebuah riset.

3. Menerima ataukah menolak suatu pertanyaan berdasarkan unsur-unsur yang telah ada.

C6

Mencipta 1. Membuat suatu cara pandang atau ide terhadap suatu masalah

2. Merancang suatu tindakan untuk menyelesaikan masalah 3. Mengorganisasikan suatu kriteria menjadi struktur baru yang belum pernah ada.

Pada tahap menganalisis, siswa menganalisis informasi yang masuk dan membagi – bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih sederhana untuk mengenali pola atau hubungan yang ada, mampu mengenali dan membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah scenario yang rumit, dan mengidentifikasi / merumuskan pertanyaan.

(40)

Pada tahap mengevaluasi, siswa memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, dan metodologi dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya, membuat hipotesis, mengkritik dan melakukan pengujian, serta menerima atau menolak sesuatu pernyataan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Sedangkan pada tahap mencipta, siswa membuat generalisasi suatu ide atau cara pandang terhadap sesuatu, Merancang suatu cara untuk menyelesaikan masalah, dan mengorganisasikan unsur-unsur atau bagian-bagian menjadi struktur baru yang belum pernah ada.

D. Bangun Ruang

1. Pengertian Bangun Ruang

Bangun Ruang merupakan suatu bangunan tiga dimensi yang memiliki isi atau volume dan juga sisi-sisi yang membatasinya. Secara garis besar, bangun ruang bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1) bangun ruang, 2) bangun ruang sisi lengkung.

Yang termasuk dalam bangun ruang sisi datar yaitu: (1) Kubus, (2) Balok, (3) Prisma, (4) Limas. Sementara yang masuk dalam bangun ruang sisi lengkung, yaitu: (1) Kerucut, (2) Tabung, (3) Bola.

Adapun materi yang akan di bahas dalam penelitian ini ialah bangun ruang sisi datar, hal ini disebabkan pada pembalajaran program studi matematika kelas VIII, hanya membahas terkait dengan materi bangun ruang sisi datar.

(41)

2. Bangun Ruang Sisi Datar

Bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang memiliki sisi datar, yang memiliki bagian-bagian: (1) Sisi (Bidang), (2) Rusuk, (3) Titik Sudut, (4) Diagonal bidang, (5) Diagonal Ruang, (6) Bidang Diagonal.

Yang termasuk dalam bangun raung sisi datar meliputi:

Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh 6 buah sisi yang berbentuk persegi. Bangun ruang ini mempunyai 6 buah sisi, 12 buah rusuk, dan 8 buah titik sudut.

Balok adalah bangun ruang yang memiliki tiga pasang sisi segi empat (total 6 buah) dimana sisi – sisi yang berhadapan memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Berbeda dengan kubus yang semua sisinya berbentuk persegi yang sama besar, balok sisi yang sama besar hanya sisi yang berhadapan dan tidak semuanya berbentuk persegi, kebanyakan bentuknya merupakan persegi panjang.

Limas adalah bangun ruang dengan alas berbentuk segi banyak (bisa

segitiga, segi empat, segi lima, dst) dan bidang sisi tegaknya berbentuk segitiga yang berpotongan pada satu titik puncak.

Prisma merupakan bangun ruang yang memiliki bidang alas dan

bidang atas yang sejajar dan kongruen berbentuk segi – n. Sisi – sisi tegak dalam prisma memiliki beberapa bentuk, diantaranya merupakan persegi, persegi panjang, atau jajargenjang.

(42)

E. Penelitian Yang Relevan

Adapun penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peniliti ialah

1. Yullida Feri Anjani (2017) dengan judul penelitian “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Menurut Teori Anderson dan Krathwohl Pada Peserta Didik kelas IX Bilingual Class System MAN 2 Kudus Pada Pokok Bahasan Program Linear”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada tahap menganalisis hanya terdapat dua peserta didik dari 31 peserta didik yang mampu menyelesaikan soal. Sedangkan pada tahap mengevaluasi sebanyak 21 peserta didik dari 31 peserta didik sudah mampu menjawab soal dengan benar. Adapun faktor yang menyebabkan peserta didik kesulitan menetukan variabel keputusan, fungsi kendala, dan fungsi tujuan adalah peserta didik belum dikenalkan dengan istilah tersebut dan peserta didik masih kesulitan membuat model matematika.

Perbedaan yang terdapat pada penelitian ini, terdapat pada perbedaan lokasi dan jenjang pendidikan serta perbedaan pokok bahasan atau materi yang diteliti. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dilaksanakan di kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro dengan materi bangun ruang.

2. Nur Atikah Khairun Nisa (2018) dengan penelitian

“Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh skor tinggi mampu mencapai tingkat berpikir mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), hingga

(43)

menganalisis (C4). Hal tersebut berarti siswa telah mampu untuk memilah bahan-bahan menjadi bagian-bagian sehingga memahami susunan sistematisnya untuk menyelesaikan permasalahan.

Sedangkan pada tingkat mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) seluruh siswa tidak dapat mencapainya. Sedangkan siswa yang memperoleh skor rendah hanya mampu mencapai level memahami (C2) hingga menerapkan (C3). Terdapat berbagai kesalahan pemahaman konsep yang dilakukan siswa dan kemampuan penerapan suatu konsep matematika yang kurang terampil.

Perbedaan yang terdapat pada penlitian ini terletak pada jenis penelitian dan tujuan penelitian dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi berdasarkan tingkatan berpikir taksonomi bloom.

3. Dian Novianti (2014) dengan penelitian “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Dengan Gaya Belajar Tipe Investigatif dalam pemecahan masalah matematika kelas VIII di SMPN 10 Kota Jambi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa siswa tipe investigative pertama pada kategori sangat rendah yaitu 30%, karena siswa tipe investigative pertama tidak memenuhi 2 indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu mengkreasi dan evaluasi. Sedangkan, siswa tipe investigative kedua berada pada kategori sedang yaitu 70%, karena siswa tipe investigative kedua tidak memenuhi 1 indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu

(44)

evaluasi. Siswa dengan gaya belajar tipe investigatif mengalami kesalahan dan hambatan dalam pemecahan masalah matematika dikarenakan karena ketidakcermatan dalam berpikir, faktor kelemahan siswa dalam menganalisis masalah dan faktor kekurang gigihan siswa tersebut. Perbedaan yang terdapat dalam penilitian ini dengan penilitian yang telah telah dilakukan terdapat pada letak dan fokus. Letak penilitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bungoro Kabupaten Pangkep serta fokus penilitian ini ialah menganalisis kemampuan berpikir tingkat tinggi berdasarkan tingkatan berpikir taksonomi bloom pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro. Bungoro

F. Kerangka Pikir

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat membuat seorang individu menafsirkan, menganalisis atau memanipulasi informasi. Dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, peserta didik dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, mampu memecahkan masalah, berargumentasi dengan baik, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.

Berpikir tingkat tinggi juga dapat diartikan sebagai berpikir pada tingkat lebih tinggi daripada sekedar menghafalkan fakta atau menyatakan sesuatu kepada seseorang persis seperti sesuatu itu dikomunikasikan kepada kita.

Namun, saat ini masih banyak guru yang menerapkan pembelajaran konvensional, diketahui bersama bahwa guru merupakan pemberi informasi, hal ini berdampak pada rendahnya motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran,

(45)

khususnya pembelajaran matematika. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami masalah matematika dan juga kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa berdasarkan tingkatan taksonomi bloom pada level menganalisis, mengevaluasi dan mencipta

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan berpikir taksonomi bloom pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bungoro.

(46)

30 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penilitian kulitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6).

Hal yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaiakan soal bangun ruang berdasarkan tingkatan berpikir taksonomi bloom level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6).

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Bungoro, Kab. Pangkep.

2. Subjek dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan berpikir tinggi siswa., subjek penelitian dipilih berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir tingkat tinggi. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan puposive sampling dimana teknik pengambilan sampel berdasar pada beberapa pertimbangan (Sugiyono, 2011:208).

Langkah awal dalam penentuan subjek dalam penelitian ini ialah : 1. Menetapkan kelas tempat melakukan penelitian, yaitu kelas VIII

SMP Negeri 1 Bungoro.

(47)

2. Memilih 1 kelas untuk diberikan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan tetap melalui pertimbangan guru mata pelajaran matematika.

3. Melakukan tes soal kemampuan berpikir tingkat tinggi kepada seluruh siswa kelas yang telah dipilih. Berdasarkan hasil tes tersebut dipilih 3 siswa dengan kriteria yaitu: (1) 1 siswa dengan nilai tertinggi, 1 siswa dengan nilai sedang, 1 siswa dengan hasil terendah, (2) Subjek yang dipilih merupakan siswa yang mampu berkomunikasi dengan baik dan dapat menyampaikan hasil pemikirannya, bersedia untuk mengikuti selama proses penelitian, dan juga tetap disertai dengan pertimbangan dari guru mata pelajaran matematika.

Berdasarkan langkah awal diatas maka selanjutnya siswa akan dibagi kedalam 3 kelompok kategori dimana kategori tersebut terdiri dari siswa kategori berkemampuan tinggi, siswa dari kategori kemampuan sedang dan siswa dari kategori kemampuan rendah, maka akan terpilih 3 subjek dalam penelitian.

Sebelum penentuan subjek penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melakukan pengelompokan siswa berdasarkan SD atau biasa disebut Standart Deviasi dalam menentukan batas tingkat kemampuan yang dimiliki siswa. Menurut Arikunto (2012: 299-230) terdapat dua cara dalam menentukan batas kemampuan siswa dengan menggunakan SD ialah : (1) Pengelompokan 3 rangking, (2) Pengelompokan 11 rangking.

(48)

Dalam penelitian ini hanya terbagi kedalam 3 kategori, maka langkah yang akan digunakan adalah :

1. Menjumlahkan semua hasil siswa

2. Mencari nilai rata-rata (Mean), dan simpangan baku (Standar Deviasi) 3. Menentukan batas-batas kelompok

maka batas tingkat kemampuan berpikir siswa dapat dijabarkan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1.Hasil Perhitungan Standar Deviasi ( SD ) Sebagai Penentu Kategori Tingkatan Kemampuan Siswa

No. Interval Tingkat Kemampuan Siswa

1. Skor ≥ SD + Mean = Skor ≥ 81 Tinggi 2. SD - Mean ≤ Skor < SD + Mean

= 59 ≤ Skor < 82 Sedang

3. Skor < SD - Mean = Skor < 59 Rendah

Dari Tabel 3.1.maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa dapat di kategorikan sebagai berikut :

Tabel 3.2 Kategori Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa

NO Inisial Siswa L/P Kode Subjek Kategori Skor

1. A.A.S L S-01 Sedang 62

2. A.A L S-02 Sedang 73

3. A.K.S L S-03 Sedang 69

4. A.R L S-04 Sedang 73

5. A L S-05 Rendah 46

6. M.F L S-06 Sedang 63

7. N.A.R L S-07 Sedang 73

8. R L S-08 Rendah 54

9. Y.A.F L S-09 Tinggi 85

10. F.C.K P S-10 Rendah 58

11. F.S P S-11 Rendah 58

12. I.S P S-12 Sedang 73

13. J P S-13 Sedang 69

14. N.S P S-14 Sedang 73

(49)

15. N.S P S-15 Tinggi 85

16. N.I.M P S-16 Sedang 73

17. P.N.A.P P S-17 Sedang 73

18. P.A.A.M P S-18 Tinggi 85

19. R.A.D P S-19 Tinggi 92

a. Kategori tinggi

Peserta didik dari kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro yang mempunyai skor 81 ke atas sebanyak 4 orang.

b. Kategori Sedang

Peserta didik dari kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro yang mempunyai skor antara 59 dan 82 sebanyak 11 orang.

c. Kategori Rendah

Peserta didik dari kelas VIII D SMP Negeri 1 Bungoro yang mempunyai skor kurang dari 59 sebanyak 4 orang.

Dari data yang ada diatas menunjukkan bahwa persentase banyaknya peserta didik yang mempunyai nilai pada kategori berkemampuan tinggi yaitu 21,05%, sedangkan 57,90% peserta didik mempunyai nilai pada kategori sedang dan 21,05% peserta didik berada pada nilai kategori rendah.

Dengan begitu, dalam penelitian ini peneliti memilih 3 subjek penelitian dengan berdasarkan klasifikasi (1) subjek bersedia untuk di wawancara, (2) subjek bersedia untuk proses pengambilan data selama penelitian berlangsung. Masing- masing terdiri dari satu siswa kategori tinggi, satu siswa kategori sedang, dan satu siswa kategori rendah.

Subjek yang terpilih tidak disebutkan namanya akan tetapi peneliti memberikan inisial dan kode sebagaimana yang terdapat dalam tabel berikut:

(50)

Tabel 3.3. Subjek Terpilih serta Pengkodean

NO INISIAL SISWA KODE SKOR KATEGORI

1 R.A.D ST 92 TINGGI

2 J SS 69 SEDANG

3 A SR 46 RENDAH

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini berpusat pada kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa dalam mengerjakan soal materi bangun ruang yang berfokus pada kemampuan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Peneliti memusatkan penilitian berdasarkan pertimbangan yaitu: (1) Tingkat kepentingan, (2) Urgensi, (3) Fisabilitas.

D. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

a. Melakukan observasi awal b. Membuat surat izin

c. Mengantar surat izin dan bertemu dengan Kepala SMP Negeri 1 Bungoro.

d. Bertemu dengan guru mata pelajaran sekaligus mengedintifikasi kelas yang akan dijadikan subjek penelitian.

e. Membuat instrumen yang diperlukan dalam penelitian.

f. Melakukan validasi instrumen penelitian.

2. Tahap pelaksanaan

a. Menetapkan jadwal tes di sekolah tempat penelitian dilaksanakan.

b. Melaksanakan tes sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

(51)

c. Memeriksa jawaban hasil masing-masing siswa dan mengidentifikasi kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa.

d. Menetapkan jadwal wawancara .

e. Melaksanakan wawancara untuk mengetahui kemampuan berfikir tingkat tinggi pada siswa

3. Tahap Analisis

Kegiatan yang dilaksanakan pada saat data yang terkumpul dapat mengidentifikasi kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa.

E. Instrumen Penelitian

Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, pada penelitian ini menggunakan instrumen. Instrumen utama yaitu peneliti sendiri yang perlu bersifat objektif dan netral. Selain instrumen utama tersebut, pada penelitian ini juga digunakan instrumen pendukung, yaitu:

a. Tes Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi

Tes Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi dalam penelitian ini merupakan tes tertulis yang terdiri dari 3 soal kemampuan berfikir tingkat pada materi bangun ruang. Dengan kisi-kisi soal yang digunakan yaitu soal yang dibuat berdasarkan indikator berfikir tingkat tinggi dari revisi taksonomi Bloom yaitu tingkat berfikir C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), C6 (mencipta). Lembar tes tersebut telah di konsultasikan dengan guru bidang studi matematika SMP Negeri 1 Bungoro dan juga telah di validasi oleh validator.

b. Pedoman Wawancara

(52)

Wawancara dilakukan kepada subjek penilitian yang bertujuan untuk memperoleh data secara langsung dari subjek penelitian. Adapun teknik yang digunakan adalah wawancara tak terstruktur. Dalam menyusun pedoman wawancara, akan divalidasi oleh tim validator dan juga dosen pembimbing. Setelah melakukan tahap validasi, maka tim validator membuat kesimpulan dimana pedoman wawancara telah memenuhi validitas item-item karena kejelasan dari jenis wawancara dan pertanyaan- pertanyaan yang ada sesuai dengan jenis wawancara yang akan dilakukan, dan juga menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunakan 2 fase dalam mengumpulkan data, yaitu:

1. Tes Tertulis

Tes tertulis bertujuan untuk mengetahui kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal tes kemampuan berfikir tingkat tinggi pada materi bangun ruang dan sebagai bahan acuan menyeleksi siswa guna dijadikan subjek penelitian. Dalam pelaksanaanya, siswa diberikan lembaran tes yang berisi soal-soal tes kemampuan berfikir tingkat tinggi pada materi bangun ruang untuk dikerjakan secara sendiri- sendiri (individu)

2. Wawancara

Teknik kedua yang dilakukan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara. Untuk mendapatkan informasi atau data yang tidak diperoleh dari hasil tes tertulis maka perlu adanya proses wawancara

(53)

dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada subjek. Proses wawancara dalam penelitian ini dilakukan secara idividu atau satu- persatu kepada siswa secara bergantian, sehingga peneliti lebih mudah mendapatkan kesimupulan tentang kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa dalam mengerjakan soal bangun ruang berdasarkan Revisi taksonomi bloom.

G. Keabsahan Data

Pada Penilitian ini, untuk memperoleh data yang dapat dipercaya atau kredibel maka dilakukanlah triangulasi data. Triangulasi pada hakekatnya ialah pendekatan yang dilakukan saat mengumpulkan dan pada saat menganalisis data, terdapat tiga triangulasi data yaitu:

(1) Triangulasi sumber

Untuk menguji keabsahan data yang dilakukan dengan cara memeriksa data yang telah didapatkan melalui beberapa sumber.

(2) Triangulasi Teknik

Untuk menguji keabsahan data dengan cara memeriksa data yang telah didapatkan kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda (3) Triangulasi Waktu

Untuk menguji keabsahan data maka melakukan pengumpulan dan pengujian data dalam kondisi dan waktu yang berbeda

Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini ialah triangulasi teknik, dimana selain pengumpulan data melalui lembar jawaban siswa, peniliti juga memeriksa data yang dikumpulkan melalui wawancara.

(54)

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengalisa data yang telah diperoleh dari tes soal kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal bangun ruang.

Analisis data kualitatif yang diperoleh dari wawancara secara mendalam kepada subjek penelitian. Miles dan Huberman (Sugiyono, 2018:337) menjelaskan bahwa kegiatan dalam menganalisa data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus hingga memperoleh data hingga tuntas. Analisis data yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian melalui tes dan wawancara. Dalam penelitian ini menggunakan soal tes untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang sedangkan teknik wawancara digunakan untuk membuktikan dan menulusuri lebih jauh terkait hasil tes soal kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal bangun ruang.

b. Reduksi data

Reduksi data merupakan tahapan dimana peneliti melakukan pemilihan dan pemusatan perhatian dengan tujuan penyederhanaan, abstraksi dan juga transformasi data mentah yang telah didapatkan. Data yang didapatkan di lapangan jumlahnya cukup banyak, maka dari itu perlu untuk dicatat secara teliti dan terperinci. Untuk itu, pentingnya dilakukan analisis data melalui reduksi data. Pada penelitian ini data yang akan

Gambar

Tabel  1.1  Hasil  Ulangan  Harian  Siswa  kelas  VIII  D  SMP  Negeri  1  Bungoro
Tabel 2.1. Perbedaan taksonomi bloom sebelum dan sesudah revisi (Patrisia  Senita, 2019;26)  TAKSON OMI  BLOOM  C1  C2  C3  C4  C5  C6  SEBELUM  REVISI
Tabel 2.2. Dimensi Proses Kognitif (Kuswana, 2014:143)
Tabel 2.3 Indikator Ukuran Kemampuan Tingkat Tinggi  INDIKATOR  PROSES  KOGNITIF  DESKRIPSI  C4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membuat paving blok bermutu rendah, dapat digunakan lebih sedikit semen dan lebih banyak pasir sungai yang bersih pada adukan beton (misalnya 1 bagian.. Paving blok bermutu

Kandungan nutrisi tepung kombinasi kakao dan ubi kayu dengan beberapa variasi terjadi peningkatan, khususnya kadar abu, karbohidrat, protein, dan lemak dengan penambahan

 Cyclical normal goods adalah produk yang memiliki permintaan yang sangat dipengaruhi oleh perubahan pendapatan. Misalnya mobil, rumah dan perjalanan wisata. Elastisitas

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui penetrasi kulit oleh larva filariorm yang ada di tanah. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8

Meskipun tingkat pertumbuhan yang rendah diproyeksikan dalam jangka menengah untuk Afrika sub-daerah tersebut karena efek sisa dari krisis keuangan

dasar yang digunakan dalam kalkulus, dalam banyak keperluan.  Penerapan integral : menghitung luas dan.. volume-volume benda putar.. Dasar

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2015) yang mengatakan bahwa non performing financing berpengaruh negatif dan signifikan

(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memberikan informasi dan/atau melaporkan adanya tindak kekerasan, upaya perdagangan, dan eksploitasi