• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

29

1 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Neuman (2013, p. 108) mengatakan bahwa paradigma merupakan keseluruhan sistem berpikir. Menurutnya, paradigma berisikan kerangka penyusunan umum yang digunakan untuk teori dan penelitian yang mencakup asumsi dasar, persoalan inti, model dari penelitian kualitas, dan metode untuk menjawab pertanyaan.

Babbie (2010, p. 32) menjelaskan bahwa paradigma merupakan model atau kerangka kerja yang digunakan dalam observasi dan pemahaman yang membentuk apa yang kita lihat dan bagaimana kita memahaminya. Sedangkan menurut Schwandt (2001), paradigma merupakan pandangan dunia bersama yang mewakili keyakinan dan nilai- nilai dalam suatu disiplin dan membantu menyelesaikan masalah.

Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivisme untuk melihat bagaimana konsumsi berita dan news fatigue di era Covid19 dapat dipahami melalui perspektif gender yang berbeda di DKI Jakarta. Menurut Guba dan Lincoln (1994), paradigma post-positivisme hadir sebagai perbaikan dari paradigma yang sudah ada sebelumnya yaitu paradigma positivisme yang hanya bertumpu pada pengamatan langsung pada objek penelitian. Lebih lanjut, mereka mengatakan post-positivisme menganggap bahwa realitas tidak mungkin dapat dinilai secara benar jika peneliti

(2)

30

memberi jarak dengan objek. Menurut mereka, dalam post-positivisme realitas tidak bebas nilai. Peneliti dengan objek yang diteliti memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, harus tetap interaktif tetapi netral dengan meminimalkan subjektifitas (Guba & Lincoln, 1994). Sedangkan, Sentosa (2006, p. 35) dalam jurnalnya, mengatakan bahwa paradigma post-positivisme muncul karena metodologi eksperimental dengan observasi dianggap tidak cukup, sehingga harus dilengkapi dengan triangulasi, yaitu penggunaan beragam metode, sumber, data, periset, dan teori.

Post-positivisme berupaya untuk menekankan makna dan menjelaskan keprihatinan sosial (Henderson, 2011, p. 342). Ryan (2006) dalam Henderson (2011, p. 342) mengatakan bahwa post-positivisme memiliki beberapa karakteristik yaitu sebagai hal yang luas, menyatukan teori dan praktik, memungkinkan pengakuan dan dorongan untuk motivasi dan komitmen peneliti terhadap topik, dan mengakui bahwa banyak teknik koreksi yang dapat diterapkan untuk mengumpulkan dan menganalisis data.

Menurut Ryan (2006) dalam Henderson (2011, p. 342), post- positivisme juga mengakui bahwa kompleksitas adalah realitas dari semua pengalaman manusia. Henderson (2011, p. 343), menekankan bahwa post- positivisme memungkinkan peneliti untuk menggunakan metode campuran. Menurutnya, post-positivisme menawarkan pendekatan praktis untuk mengumpulkan data menggunakan lebih dari satu metode untuk menghasilkan penelitian yang lebih akurat, lengkap, dan menghindari bias.

(3)

31

Chilisa & Kawulich (2012) mengatakan bahwa objektivitas tetap dapat dicapai dengan menggunakan beberapa langkah pengamatan dan triangulasi data agar peneliti mendapatkan gambaran lebih jelas tentang apa yang terjadi dalam kenyataan.

Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivisme sebab penelitian ini netral dalam arti bebas nilai. Apa yang dipercaya oleh peneliti tidak akan mengintervensi jalannya penelitian. Untuk mencapai objektivitas, penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yang beragam yaitu studi dokumen dalam bentuk media diary sebagai metode pengumpulan data utama dan dilengkapi dengan wawancara mendalam.

3.2 Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk mempelajari suatu topik secara mendalam, termasuk juga hal-hal berdasarkan ketertarikan peneliti serta dalam kehidupan sehari-hari (Yin, 2011). Lebih lanjut, Yin mengatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang mempelajari makna kehidupan di bawah kehidupan nyata, mewakili pandangan manusia ke dalam suatu penelitian, mencakup kondisi yang lebih kontekstual tentang di mana kehidupan manusia tersebut, memberi ilmu pada konsep yang ada sehingga mampu memberikan penjelasan pada perilaku sosial, menggunakan banyak sumber bukti dan tidak hanya bergantung pada satu sumber.

(4)

32

Menurut Mulyana dan Solatun (2013, p. 5), penelitian kualitatif bersifat interpretif karena menggunakan banyak metode dalam menelaah masalah penelitiannya. Banyaknya metode yang digunakan dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena yang diteliti. Lebih lanjut, mereka mengatakan penelitian kualitatif secara konvensional cenderung diasosiasikan dengan keinginan peneliti untuk menelaah makna, konteks, dan suatu pendekatan holistik terhadap fenomena.

Setidaknya ada 7 karakteristik penelitian kualitatif menurut (Taylor dan Bogdan, 1984); (Marshall dan Rossman, 1989); (Silverman, 1993) dalam Hendrarso (2011, p. 169). Pertama, penelitian kualitatif bersifat induktif, yaitu mendasarkan pada prosedur logika yang berawal dari proposisi khusus sebagai hasil pengamatan dan berakhir pada satu kesimpulan yang bersifat umum. Kedua, penelitian kualitatif melihat pada setting dan manusia sebagai suatu kesatuan, yaitu mempelajari manusia dalam konteks dan situasi di mana mereka berada. Ketiga, penelitian kualitatif memahami perilaku manusia dari sudut pandang mereka sendiri.

Keempat, penelitian kualitatif lebih mementingkan proses penelitian daripada hasil penelitian, yang dicari adalah pemahaman mendalam tentang kehidupan sosial. Kelima, penelitian kualitatif menekankan pada validitas data sehingga ditekankan pada dunia empiris. Penelitian yang dilakukan dirancang sedemikian rupa agar mencerminkan apa yang dilakukan dan dikatakan yang diteliti. Keenam, penelitian kualitatif bersifat humanistik, yaitu memahami secara pribadi orang yang diteliti dan

(5)

33

ikut mengalami apa yang dialami orang yang diteliti dalam kehidupan sehari-hari. Ketujuh, semua aspek kehidupan sosial dan manusia dianggap berharga dan penting untuk dipahami karena dianggap spesifik dan unik.

Sedangkan, Naderifar et al (2017, p. 2) mengatakan bahwa tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang suatu fenomena, bukan untuk menggeneralisasikan temuan.

Penelitian ini memiliki sifat deskriptif. Menurut Dantes (2012, p.

51), penelitian deskriptif diartikan sebagai suatu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu fenomena atau peristiwa secara sistematis sesuai dengan apa adanya. Penelitian deskriptif dilakukan untuk memperoleh informasi sebagaimana adanya pada waktu penelitian dilakukan.

Babbie (2010, p. 97) mengatakan bahwa penelitian deskriptif lebih menjawab pertanyaan apa, di mana, kapan, dan bagaimana. Babbie (2010, p. 96) mengatakan bahwa penelitian deksriptif memungkinkan peneliti untuk mengobservasi situasi atau kejadian kemudian mendeskripsikan situasi atau kejadian tersebut. Menurutnya, penelitian deskripsi biasanya lebih detil dan akurat Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan secara detil sekaligus menjawab pertanyaan bagaimana konsumsi berita dan news fatigue di era Covid19 dapat dipahami melalui perspektif gender di wilayah DKI Jakarta.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian case study atau studi kasus. Menurut Dantes (2012, p. 51), studi kasus merupakan suatu

(6)

34

penelitian intensif mengenai seseorang (bisa merujuk pada orang, tempat, maupun peristiwa). Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dalam studi kasus, peneliti berusaha untuk menyelidiki seseorang atau suatu satuan sosial secara mendalam. Menurut Mulyana (2013, p. 201), penelitian dengan metode studi kasus mengkaji sebanyak-banyaknya data untuk memperoleh hasil penelitian yang mendalam. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa studi kasus dapat dilakukan melalui metode wawancara mendalam, observasi, survei, menelaah dokumen, dan metode pengumpulan data lainnya untuk mendeskripsikan suatu kasus atau fenomena.

Rahardjo (2017, p. 10) mengatakan bahwa studi kasus dilakukan dalam latar alamiah, holistik dan mendalam. Lebih lanjut, Rahardjo menjelaskan bahwa alamiah artinya kegiatan pemerolehan data dilakukan dalam konteks kehidupan nyata (real-life events). Sedangkan, holistik artinya peneliti harus bisa memperoleh informasi yang akan menjadi data secara komprehensif sehingga tidak meninggalkan informasi yang tersisa.

Menurut Rahardjo, penelitian studi kasus bersifat eksploratif. Ia menjelaskan bahwa sifat objek kajian yang sangat khusus menjadi bahan pertimbangan utama peneliti untuk mengelaborasi dengan cara mengeksplorasinya secara mendalam. Itu sebabnya salah satu teknik pengumpulan data studi kasus melalui wawancara mendalam.

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena peneliti mencoba untuk mengeksplorasi secara mendalam fenomena yang sedang terjadi di masyarakat (real-life event) yaitu news fatigue di era Covid 19 dilihat dari perspektif gender. Penelitian ini tidak hanya sekedar

(7)

35

mendeskripsikan pengalaman seperti yang dilakukan pada metode fenomenologi atau etnografi yang meneliti manusia dan budaya asalnya.

Dalam penelitian ini, secara khusus peneliti menggunakan metode studi kasus menurut Stake (1995). Stake dalam Yazan (2015) mengatakan bahwa studi kasus kualitatif adalah studi mengenai kekhususan dan kompleksitas dari sebuah kasus yang ditujukan untuk memahami kasus tersebut. Lebih lanjut, Stake dalam Yazan (2015, p. 139) membuat beberapa karakteristik penelitian kualitatif studi kasus yaitu Holictic, Empirical, Interpretative, dan Emphatic. Holistic yaitu penelitian studi kasus mempertimbangkan keterkaitan antara fenomena dan konteks.

Empirical yaitu penelitian studi kasus mendasarkan penelitian pada hasil temuan di lapangan. Interpretatif yaitu peneliti menggunakan intuisi dan melihat penelitian sebagai interaksi antara peneliti dan subjek penelitian.

Sedangkan Emphatic yaitu peneliti merefleksikan pengalaman subjek dalam perspektif emik.

Yazan (2015, p. 140) mengatakan bahwa studi kasus menurut Stake memungkinkan peneliti untuk membuat perubahan pada desain penelitian bahkan setelah melakukan penelitian. Satu-satunya desain awal yang menurut Stake diperlukan peneliti yaitu desain pertanyaan penelitian untuk membantu peneliti memahami masalah penelitian dan menyusun pengumpulan data. Lebih lanjut, Yazan (2015, p. 143) menyebutkan bahwa Stake merekomendasikan 3 cara pengumpuan data untuk studi kasus yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumen. Sejalan dengan yang dikatakan Yazan ini, penelitian ini menggunakan metode studi kasus

(8)

36

milik Stake karena menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan studi dokumen. Namun, sangat disayangkan bahwa penelitian ini tidak dapat menggunakan metode observasi seperti yang direkomendasikan Stake karena penelitian dilakukan saat pandemi sehingga tatap muka tidak mungkin dilakukan.

Stake dalam Prihatsanti (2018, p. 129) membagi studi kasus menjadi dua jenis yaitu intrinsik dan instrumental. Studi kasus intrinsik dilakukan untuk memahami lebih baik kasus khusus yang diteliti. Pada jenis ini studi kasus dilakukan karena kekhususan dan keserupaan kasus membuatnya jadi menarik. Sedangkan studi kasus instrumental dilakukan ketika penelitian dilakukan untuk memberi wawasan dan mengoreksi penelitian terdahulu. Pada studi kasus ini kasus dilihat secara mendalam, konteksya diteliti, dan kegiatannya dirinci (Prihatsanti, 2018, p. 129). Penelitian ini menggunakan studi kasus berjenis instrumental untuk melihat bagaimana pola konsumsi setiap gender dalam fenomena news fatigue di Jakarta pada era Covid19. Penelitian ini mengadopsi dari beberapa penelitian terdahulu mengenai news fatigue yang relevan, namun penelitian ini melihat news fatigue pada konteks yang berbeda yaitu pada era Covid 19.

3.4 Partisipan Penelitian

Semiawan (2010, p. 109) mengatakan bahwa partisipan adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam kasus atau fenomena dan memiliki segala informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Menurutnya,

(9)

37

partisipan juga bersedia dan memiliki kemampuan untuk memberikan informasi tersebut.

Hendrarso (2011, p. 171) mengatakan bahwa pada penelitian kualitatif, subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja. Ia menjelaskan subjek penelitian ini akan menjadi partisipan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan merekrut partisipan menggunakan teknik snowball sampling atau chain samlping. Menurut O Hara dan Beck dalam Naderifar et al (2017, p. 2), metode ini efisien untuk mengakses partisipan yang sulit ditemukan. Dalam metode ini, peneliti meminta partisipan pertama, yang biasanya dipilih melalui convenience sampling (bagian populasi yang tersedia untuk peneliti), untuk merekomendasikan setidaknya satu partisipan lain dengan pandangan atau situasi yang sama dengan dirinya untuk mengambil bagian dalam penelitian. Jadi, partisipan akan menghubungkan peneliti pada partisipan lainnya, dengan begitu partisipan akan terus bertambah seperti bola salju (Ahmadzadehasl dan Ariasepehr dalam Naderifar et al, 2017, p. 2).

Metode bola salju tidak hanya membutuhkan sedikit waktu tetapi juga memberikan peneliti kesempatan untuk berkomunikasi lebih baik dengan partisipan karena peneliti telah mengenal partisipan sebelumnya yang sudah terhubung dengan peneliti (O Hara dan Beck dalam Naderifar

(10)

38

et al, 2017, p. 2). Pada penelitian ini, pemilihan partisipan didasari oleh beberapa kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kriteria Partisipan

Gender Generasi Pekerjaan

Pria X (lahir antara tahun 1965-1980)

Formal

Wanita Y (lahir antara tahun 1981 - 1996)

Informal

Berdasarkan kriteria tabel di atas, peneliti akan memiliki 8 orang partisipan dalam penelitian ini. PEW Research Center tahun 2018 mendefinisikan bahwa generasi X merupakan mereka yang lahir tahun 1965 sampai dengan 1980. Sedangkan, generasi milenial atau generasi Y merupakan mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai dengan tahun 1996 (Dimock, 2019). Partisipan dipilih berdasarkan variasi pekerjaan yaitu pekerja sektor formal dan pekerja sektor informal.

Menurut Kevin (2019), yang membedakan antara tenaga kerja formal dan informal yaitu terkait pembayaran pajak ke pemerintah. Ia menjelaskan bahwa tenaga kerja formal yaitu mereka yang membayarkan pajak kepada pemerintah. Biasanya, tenaga kerja formal merupakan seorang profesional seperti guru, dosen, dokter, wartawan, dan Aparatur Sipil Negara (ASN).

(11)

39

Lebih lanjut, Kevin (2019) mengatakan bahwa tenaga kerja informal tidak membayarkan pajak kepada pemerintah, walaupun penghasilannya masuk dalam kategori yang dikenakan pajak penghasilan (PPh). Tenaga kerja informal biasanya dikaitkan dengan tenaga kerja yang lebih mengandalkan kekuatan fisik (blue collar) seperti pedagang, kuli bangunan, dan tukang ojek.

Sedangkan, buku pedoman Survei Sektor Informal Tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menuliskan bahwa pekerjaan informal dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu usaha sendiri informal dan pekerjaan upahan informal yang dipekerjakan di usaha formal atau informal yang mencakup karyawan tanpa kontrak resmi, tanpa jaminan ketenagakerjaan atau perlindungan sosial. Pembedaan ini menyarankan agar pekerja informal dibagi dalam seluruh kategori status pekerja:

pengusaha, buruh, berusaha sendiri, pekerja keluarga tidak dibayar dan anggota koperasi/kemitraan produksi informal (Survei Sektor Informal Tahun 2014, 2014, p. 4).

Lebih lanjut, Karena penelitian ini mengenai News Fatigue di Jakarta, maka setiap partisipan harus merupakan individu yang masuk dalam kategori heavy online news users dan berdomisili di Jakarta.

Menurut Kurtulus (2008, p. 18), yang termasuk dalam kategori heavy online news users adalah mereka yang mengonsumsi online newspaper/news websites lebih dari 2 jam per hari. Setiap partisipan yang setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian nantinya akan diberikan informed consent.

(12)

40

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen melalui media diary sebagai metode pengumpulan data utama dan dilengkapi dengan wawancara mendalam.

Oetomo (2011, p. 186) mengatakan bahwa studi dokumen dilakukan dengan menelaah dokumen tertulis. Menurutnya, data yang diperoleh dari metode ini dapat berupa kutipan, cuplikan atau penggalan-penggalan dari catatan-catatan organisasi, klinis, atau program; terbitan dan laporan resmi;

buku harian pibadi; memorandum dan korespondensi; dan jawaban tertulis seperti kuesioner dan survei.

Pada penelitian ini, peneliti akan meminta partisipan untuk membuat buku harian yang berisikan beberapa aspek seperti aktivitas sehari-hari atau kesibukan partisipan, kebiasaan konsumsi berita (kapan, berapa lama, berita apa saja yang diakses, berita apa saja yang dihindari, dan sumber berita), alasan mengakses berita, perasaan/pemikiran apa yang timbul saat terpapar dan/atau mengonsumsi banyaknya berita Covid19, refleksi kenapa perasaan/pemikiran tersebut muncul, dan keputusan apa yang dilakukan selanjutnya setelah perasaan/pemikiran tersebut muncul.

Partisipan nantinya akan membuat media diary ini setiap hari secara online melalui Google Docs selama 2 minggu. Peneliti kemudian akan melakukan studi dokumen pada media diary (buku harian pribadi) tiap partisipan dan mencocokkannya dengan data yang diperoleh dari wawancara mendalam. Media diary ini berfungsi sebagai data utama

(13)

41

dalam penelitian untuk melihat bagaimana pola konsumsi dan news fatigue partisipan berdasarkan gender di era Covid19 ini. Media diary dibuat dalam bentuk refleksi bebas sehingga berisikan data kualitatif. Keuntungan dari metode media diary ini yaitu data dikumpulkan dalam periode waktu tertentu sehingga memungkinkan respons lebih kaya dan reflektif (Gulyas, O Hara, & Eilenberg, 2018, p. 6). Metode ini juga memungkinkan fenomena untuk diteliti dekat dengan waktu dan di mana peristiwa terjadi, meminimalkan penundaan antara terjadinya suatu peristiwa dan waktu peristiwa tersebut dicatat, serta membatasi pengaruh peneliti (Bartlett dan Milligan, 2015 dalam Gul as, O Hara, & Eilenberg, 2018, p. 6).

Patton dalam Semiawan (2010, p. 110) mengatakan bahwa teknik wawancara merupakan teknik pertama yang dapat digunakan peneliti untuk memperoleh data akurat. Patton mengatakan wawancara dapat dilakukan secara mendalam dengan menggunakan pertanyaan terbuka.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa hasil wawancara dapat berupa pengetahuan, persepsi, dan perasaan dari partisipan.

Sedangkan, Mashud (2011, p. 69) mengatakan bahwa wawancara dimaksudkan untuk memperoleh pendirian, keterangan, atau pendapat secara lisan dari responden dengan berbicara langsung dengan orang tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara mendalam setelah mengkaji media diary setiap partisipan. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang lebih rinci mengenai pandangan partisipan sekaligus sebagai bentuk klarifikasi dan memastikan tidak ada data relevan lainnya yang terlewat.

(14)

42

Wawancara mendalam akan peneliti lakukan secara online dengan menggunakan aplikasi video call WhatsApp. Peneliti akan merekam seluruh proses wawancara dan membuat transkrip untuk kemudian dianalisis. Untuk mengakomodir persepsi yang berbeda mengenai berita, peneliti memberikan gambaran terlebih dahulu pada partisipan mengenai apa yang dimaksud dengan berita dalam penelitian ini. Baik data media diary maupun data wawancara mendalam, peneliti kumpulkan antara 6 April 2020 sampai 25 April 2020.

3.6 Keabsahan Data

Menurut Mulyana (2013, p. 15), dalam penelitian kuantitatif, konsistensi antar peneliti memang sangat diharapkan. Lebih lanjut, menurutnya jika dua peneliti memperoleh kesimpulan yang berbeda atau bahkan bertentangan dalam penelitian mereka atas fenomena yang sama, atau peneliti yang sama memperoleh kesimpulan yang berbeda, dari penelitian atau fenomena yang sama dengan waktu berbeda, pastilah salah satu penelitian atau keduanya keliru. Mulyana mengatakan alih-alih bersandar pada konsep reliabilitas (keandalan), yakni kesesuaian antara beberapa pengamatan yang dilakukan para peneliti independen, penelitian kualitatif menggunakan konsep kealamiahan (kecermatan, kelengkapan, atau orisinalitas) data, yakni kesesuaian antara apa yang mereka rekam sebagai data dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Menurutnya, dengan hal ini, dua peneliti independen dapat memperoleh temuan yang berbeda dan kedua hasilnya dapat diandalkan. Lebih lanjut ia mengatakan,

(15)

43

kritik atas kecermatan atau orisinalitas data dapat diajukan jika kedua peneliti memperoleh hasil yang bertentangan.

Menurut Oetomo (2011, p. 186), validitas dan reliabilitas data kualitatif banyak bergantung pada keterampilan metodologis, kepekaan, kemampuan, kecermatan, dan integritas peneliti. Mulyana (2013, p. 5) mengatakan bahwa triangulasi adalah penggunaan banyak metode dalam menelaah masalah penelitian. Penggunaan berbagai metode ini dimaksudkan agar peneliti memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang ia teliti.

Neuman (2013, p. 186) mengatakan bahwa dalam penelitian sosial, triangulasi dapat digunakan untuk melihat suatu hal dari berbagai sisi, sehingga keakuratan penelitian lebih tinggi. Ia menjabarkan triangulasi menjadi empat jenis yaitu triangulasi ukuran, triangulasi pengamat, triangulasi teori, dan triangulasi metode.

Menurut Neuman (2013, p. 186), triangulasi ukuran berarti peneliti menggunakan beberapa pengukuran untuk memperoleh data atas fenomena yang sama. Pengukuran ini bisa dalam bentuk wawancara, observasi, studi dokumen, dan sebagainya. Menurut Neuman, penelitian akan lebih akurat apabila dilakukan dengan menggunakan beberapa pengukuran dibandingkan hanya mengandalkan satu pengukuran, terlebih jika setiap pengukuran hanya memberikan gambaran yang serupa.

Neuman (2013, p. 187) mengatakan bahwa triangulasi pengamat merupakan variasi dari triangulasi ukuran. Lebih lanjut ia menjelaskan

(16)

44

bahwa dalam penelitian biasanya peneliti melakukan wawancara atau menjadi pengamat tunggal. Keterbatasan mungkin muncul ketika menjadi pengamat tunggal dalam penelitian. Ia mengatakan penelitian yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dianggap dapat memberikan gambaran penelitian yang lebih lengkap, daripada hanya mengandalkan satu orang pengamat saja.

Neuman (2013, p. 187) menjelaskan bahwa triangulasi teori membutuhkan penggunaan perspektif teoretis majemuk untuk merencanakan penelitian atau menginterpretasikan data. Menurutnya, setiap perspektif teoretis memiliki asumsi dan konsep yang digunakan sebagai lensa untuk melihat dunia. Lebih lanjut, setiap perspektif memandu penelitian dengan mengidentifikasi data yang relevan, menyediakan serangkaian konsep, dan membantu untuk menafsirkan arti dan signifikansi data. Sedangkan triangulasi metode menurut Neuman yaitu dengan membaurkan pendekatan dan data penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ia mengatakan kedua pendekatan ini memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Neuman juga menegaskan bahwa penelitian yang menggabungkan keduanya cenderung lebih kaya dan komprehensif.

Menurutnya, ini bisa dilakukan dengan cara membaurkan analisis statistik data kuantitatif dengan wawancara dan analisis dokumen.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi ukuran menurut Neuman untuk menilai keabsahan data. Peneliti menggunakan beberapa pengukuran studi dokumen dan wawancara mendalam untuk memperoleh data yang lebih akurat serta objektif dalam penelitian.

(17)

45

3.7 Teknik Analisis Data

Menurut Neuman (2013, p. 561), ketika melakukan penelitian kualitatif, peneliti mulai mencari pola atau hubungan di awal proses penelitian saat masih mengumpulkan data. Jadi hasil analisis data awal digunakan untuk memandu peneliti mengumpulkan data selanjutnya.

Dalam teknik analisis data, Strauss (1987) dalam Neuman (2013, p. 563) membagi 3 tahapan pengkodean penelitian kualitatif yang digunakan untuk menganalisis data yaitu sebagai berikut.

1. Open Coding : pada bagian ini peneliti secara teliti membaca dan meninjau kembali seluruh data. Kemudian peneliti menciptakan dan memberikan kode dalam bentuk label atau nomor pada ide, proses, atau tema dalam data. Open coding mengharuskan peneliti memberikan kode pada data mentah yang sudah diperoleh. Ini merupakan langkah pertama peneliti untuk meringkas data mentah yang banyak tersebut menjadi kategori analitik. Peneliti dalam open coding dapat memeriksa catatan lapangan, sumber historis, atau data lain untuk mencari istilah kritis, peristiwa penting, atau tema bersama.

Dalam proses ini, peneliti harus tetap terbuka untuk membuat tema baru dan mengubah kode awal dalam analisis selanjutnya.

2. Axial Coding : pada bagian ini peneliti lebih fokus pada kumpulan kode dan konsep awal atau tema awal yang sudah ditandai dalam open coding. Pada bagian kedua ini, peneliti lebih fokus pada konsep dan tema awal daripada pada data mentah. Peneliti juga dapat terus

(18)

46

meninjau data dan menambahkan konsep dan tema baru. Peneliti pada bagian ini mengidentifikasi koneksi antara masing-masing kode yang saling berhubungan yang sudah dibuat di open coding. Peneliti mengatur semua kode yang dibuat selama open coding ke dalam struktur dengan memisahkannya ke dalam level mayor atau minor dan menunjukkan hubungan antar kode.

3. Selective Coding : pada bagian ini peneliti meninjau kembali kode yang sudah terstruktur di axial coding dengan kode yang ada dalam catatan data asli untuk memilih ilustrasi terbaik untuk kemudian dimasukkan ke dalam laporan akhir. Pada bagian ini peneliti mungkin sudah mengidentifikasi tema mayor untuk penelitian. Peneliti secara selektif mencari beberapa contoh yang kuat dalam data yang menawarkan dukungan yang jelas untuk setiap konsep dan tema.

Peneliti pada bagian ini mencari data untuk membandingkan dan menguraikan konsep dan tema utama. Peneliti diharapkan mampu menjelaskan hubungan antar kode secara komprehensif.

Babbie (2010, p. 430) mengatakan bahwa proses pengkodean melibatkan lebih dari sekadar mengategorikan potongan teks. Menurutnya, saat mengode data, peneliti juga harus menggunakan teknik memoing - menulis memo atau catatan untuk diri sendiri dan orang lain yang terlibat dalam proyek. Ia menegaskan bahwa memoing ini berguna karena beberapa dari apa yang ditulis selama analisis mungkin berakhir di laporan

(19)

47

akhir; sebagian besar setidaknya menstimulasi ingatan tentang apa yang ditulis.

Selain memoing, concept mapping juga dapat dilakukan untuk menganalisis data kualitatif. Dalam Babbie (2010, p. 430), concept mapping dapat digunakan untuk menghubungkan relasi antar konsep penelitian secara lebih jelas dengan cara menempatkan konsep dalam format grafik. Lebih lanjut, Babbie mengatakan concept mapping membantu peneliti dalam merumuskan teori. Setelah teori sudah dirumuskan, peneliti dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu narasi.

Menurut Babbie, dalam tahap ini peneliti menarasikan hasil penelitiannya secara komprehensif dan menarasikan teori yang telah dirumuskan.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang dirasakan oleh siswa kelas VI di SDN 2 Blahbatuh dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya pada pelajaran IPA adalah terlalu monotonnya pelaksanaan proses

Mereka mempersiapkan diri dan mengantisipasi problem-problem yang mungkin akan timbul; mereka mengkonfirmasi peluang yang ada, dan apa yang diperlukan untuk meraih keberhasilan;

Para pemangku kepentingan ini adalah (a) perempuan yang dirugikan, dikucilkan, ditangkap, ditahan dan/atau dihukum karena dianggap melanggar kebijakan daerah, (b) legislatif, (c)

Dan ini tentunya juga membutuhkan biaya budget yang juga harus diperhitungkan dengan menentukan nilai harga dari produk itu sendiri yang sangat diharapkan dan

Data yang di peroleh dari penelitian ini adlah hasil belajar biologi pada materi tumbuhan berbiji (Spermatophyta)di kelas X SMA Swasta Eria Medan Tahun Pembelajaran

Satu hal penting yang bisa saya pelajari dari perbuatan-perbuatan Yesus pada hari Sabat, adalah bahwa dalam mewartakan kasih Allah kita tidak boleh terbatasi

Analisis situasi disini dilakukan dengan memperhatikan faktor SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan threads) yang ada pada situasi sebelum menentukan strategi

Pada tanaman kelapa sawit muda, jumlah bunga jantan lebih sedikit dibandingkan dengan bunga betina, tetapi perbandingan tersebut akan berubah sesuai dengan