• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM SEXUAL ADDICTION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN UMUM SEXUAL ADDICTION"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN UMUM SEXUAL ADDICTION

PENULIS:

Dr. LUH NYOMAN ALIT ARYANI, SpKJ (K)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1 PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN JIWA

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2018

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nya tinjauan pustaka ini dapat diselesaikan. Tinjauan pustaka ini disusun untuk terus belajar serta menambah ilmu pengetahuan yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi penulis maupun pembaca.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :.

1. Dr. Ni Ketut Putri Ariani, SpKJ selaku Kepala Departemen/KSM Psikiatri RSUP Sanglah, telah membimbing dan memotivasi untuk menyelesaikan tinjauan pustaka ini.

2. Seluruh Staff Pengajar Bagian/ SMF Psikiatri FK UNUD/ RSUP Sanglah yang sudah memberikan dukungan baik berupa ide, bahan referensi, dan dorongan semangat dalam penulisan tinjauan pustaka.

Akhir kata, penulis menyadari tinjauan pustaka ini jauh dari sempurna sehingga diperlukan tegur sapa, bimbingan, dan saran yang dapat membangun pembaca, untuk mana terlebih dahulu disampaikan banyak terima kasih.

Denpasar

Penulis

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR SINGKATAN ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Batasan Pembahasan ... 2

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Definisi ... 3

2.2 Epidemiologi ... 5

2.3 Tanda dan Gejala ... 6

2.4 Patofisiologi ... 8

2.5 Faktor Resiko ... 122

2.6 Skrining ... 122

2.7 Penatalakanaan ... 166

BAB III KESIMPULAN ... 19

DAFTAR PUSTAKA ... 213

(4)

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Patofisiologi sexual addiction yang sama dengan Mekanisme Adiksi lainnya . . ... 11

(5)

iv

DAFTAR SINGKATAN

VMPFC : Ventromedial Pre Frontal Cortex ACC : Anterior Cingalate Cortex

OFC : Orbito Frontal Cortex NAc : Nucleus Accumbens

DLPFC : dorsolateral prefrontal cortex

PCES : Pornography Consumption Effect Scale CSB : compulsive sexual behaviour

RT : Reality Therapy

DSM : Diagnostic & Statictical Manual of Mental Disorders

MRI : Magnetic Resonance Imaging

ADHD : Attention Deficit Hyperactivity Disorder

OCD : Obsessive Compulsive Disorder

DNA : Deoxyribonucleic Acid

(6)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sex addiction menjadi topik debat, dengan DSM-V kategori adiksi zat termasuk judi patologis, termasuk perilaku sex yang berlebihan mengundang banyak perhatian. Penelitian tentang sexual addiction masih terbatas karena seksual adalah masalah privacy dan tabu untuk dibicarakan. Petanda neurobiologi dan perilaku untuk mendiagnosis sexual addiction dapat mengurangi gejala, penderitaan, dan memberikan penanganan yang tepat (Reay B et all, 2013).

Pemeriksaan sex addiction adalah hal yang sensitive karena hal tersebut adalah privacy seseorang, pengalaman dan preferensi seksual seseorang. Privacy seksual adalah topik yang sulit untuk diperiksa. Padahal, sex merupakan kebutuhan primer manusia, insting dasar, untuk survival manusia itu sendiri. Moral, pilihan individu terhadap perilaku seksual dibicarakan dalam pemeriksaan adiksi seksual (Ley, 2012)

Dunia kesehatan mengidentifikasi sexual addiction sebagai masalah kesehatan mental yang penting, dan mengganggu kehidupan sosial baik untuk lokal, nasional, ataupun internasional. Edukasi kesehatan dan pencegahan, assessment dan penanganan (Perrin et all, 2018).

Adiksi adalah penyakit modern yang langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi semua fase dari siklus kehidupan seseorang. Sama halnya dengan adiksi alkohol dan rokok yang merupakan bentuk tertua dari penyalahgunaan zat

(7)

2

yang menjadi masalah besar pada orang muda. sexual addiction adalah adiksi yang sulit untuk ditegakkan dan diperlukan banyak studi untuk menghadapi masalah ini (Darshan, 2014). Melihat kondisi seperti ini, maka penting untuk lebih mengenal sexual addiction

1.2 Batasan Pembahasan

Tinjauan pustaka ini akan membahas tentang sexual addiction

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui gambaran umum sexual addiction diharapkan dapat membantu untuk mendeteksi lebih dini dan memberikan penanganan yang lebih tepat.

(8)

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sexual Addiction

Sexual addiction, masih dihiraukan oleh para psikiater sendiri, padahal suatu kondisi serius yang menyebabkan masalah psikososial untuk banyak orang.

Pada tahun 1812 perilaku seksual yang berlebihan secara klinis didomumentasikan oleh Rush, seorang psikolog dari Amerika Serikat. Konsep sexual addiction diperkenalkan pada pertengahan tahun 1970-an. Oxford lah yang pertama kali memperkenalkan konsep tersebut (Carnes et all, 2012)

Sexual addiction adalah pola perilaku seksual yang maladaptive, ketidakmampuan mengontrol perilaku seksualnya nonparaphilic. Sexual addiction adalah perilaku seksual yang berlebihan yang dihubungkan dengan akibat buruk, dapat dibandingkan dengan pecandu alkohol. Sexual addiction bentuknya dapat berupa masturbasi, intercourse dengan pasangan, ataupun oral sex (Garcia et all, 2010)

Adiksi didefinisikan sebagai keadaan individu yang merasa terdorong untuk menggunakan atau melakukan sesuatu agar mendapatkan atau memperoleh efek menyenangkan dari sesuatu yang dilakukan atau digunakan tersebut. Menurut R.

A. Davis menyatakan addiction (kecanduan) sebagai bentuk ketergantungan secara psikologis antara seseorang dengan suatu stimulus, yang biasanya tidak selalu berupa suatu benda atau zat (Darshan, 2014).

(9)

4

Dalam DSM IV tidak digunakan kata atau istilah addiction untuk menggambarkan penggunaan secara patologis atau berlebihan pada suatu stimulus.

DSM IV menggunakan istilah dependence untuk kecanduan pada suatu stimulus secara pathological, misalnya ketergantungan untuk berjudi (Darshan, 2014).

Adiksi didefinsikan juga sebagai penyakit yang kronis dari sistem reward otak, motivasi, memori dan sirkuit terkait. Disfungsi dalam rangkaian ini mengarah pada manifestasi biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang khas. Hal ini tercermin dalam individu yang secara patologis mengejar kepuasan dengan penggunaan zat dan perilaku lainnya (Love, 2015).

Perilaku seksual yang berlebihan tersebut, dapat dikategorikan ke dalam gangguan gangguan kecanduan seksual ditandai dengan perilaku yang berlebihan atau tidak terkontrol, mendesak, dimana akibatnya banyak waktu yang mereka gunakan untuk perilaku tersebut membuat mereka tidak peduli dengan kehidupannya (Rosenberg, 2014).

Adiksi Seksual didefinisikan sebagai sebuah sindrom ditandai dengan habisnya sejumlah waktu yang sangat banyak dalam perilaku seksual dan tidak mampu mengontrol perilaku seksualnya. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak melakukan aktivitas seksual (Rosenberg, 2014).

Sexual addiction secara konsep adalah sebuah gangguan impulsive dan compulsive spektrum, dari persepsi ini keduanya ada baik compulsive ataupun impulsive. Impulsive komponen adalah kesenangan, keinginan, ataupun untuk mendapatkan gratifikasi. Compulsive komponen menggerakkan perilaku yang

(10)

5

persisten. Sexual addiction telah ditemukan menyerupai pola dari drug addiction, Sexual addiction didefinisikan sebagai gejala secara klinik berupa keinginan, fantasi, perilaku seksual yang recurrent, menetap, dan mengganggu fungsi manusia tersebut. Gejala dari sexual addiction adalah tidak mampu mengontrol perilaku seksualnya, tidak mampu men-stop perilaku seksualnya, perilaku seksualnya mengundang resiko yang berbahaya, adanya keinginan untuk membtasi perilaku seksualnya, perilaku seksual menjadi coping utama, perubahan mood yang berat dihubungkan dengan aktivitas seksual, menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas seksualnya, penderitaan sosial, fisik, dan psikologis (Storholm at all, 2011)

2.2 Epidemiologi

Satu studi melaporkan bahwa 3 sampai 6 persen orang Amerika menderita adiksi seksual. Tidak ada laporan yang menunjukkan bagaimana data diperoleh. Presentase responden adiksi seksual yang sedikit lebih tinggi dilaporkan oleh orang Swedia yang menggunakan Internet untuk tujuan seksual, dan sebuah penelitian Kanada menemukan bahwa 5 dari 40 subjek masyarakat (12,5 persen) adalah pecandu seks (Karila L et all, 2014).

Sekitar 80 persen individu yang menggunakan perilaku seksual adiktif adalah laki-laki. Laki-laki cenderung lebih fokus pada kepuasan seksual fisik dan karena itu lebih sering terlibat dalam masturbasi, penggunaan pelacur, dan seks impersonal. Sementara itu, perempuan cenderung lebih fokus pada aspek emosional seksualitas dan karena itu lebih sering terlibat dalam hubungan

(11)

6

romantis. Adiksi seksual biasanya merupakan gangguan kronis, dengan remisi dan eksaserbasi (Kraus et all, 2016).

Penggunaan perilaku seksual yang adiktif biasanya dimulai pada remaja, mencapai puncak antara usia 20 dan 40, dan kemudian berangsur-angsur menurun.

Catatan riset menunjukkan adanya orang yang mengalami gejala adiksi,menurunnya kemampuan psikososial, dan berbagai problem perilaku yang lain (Leppink et all, 2016).

Prevalensi sexual addiction, 16,8 % dari 2450 populasi di Swedia dengan usia 18-21 tahun, laki-laki 12% dan perempuan 6,8%. Sebagian besar penelitian mengatakan 3% - 6% dari pupulasi dunua menderita sexual addiction. Penelitian mengatakan laki-laki memiliki potensi lebih tinggi untuk sexual addiction daripada perempuan, estimasinya 3 – 5 laki-laki diantara 1 perempuan (Kraus et all, 2016).

2.3 Tanda dan Gejala

Saat ini, hanya satu kecanduan non-zat (yaitu, perjudian patologis), telah diakui secara resmi dalam sistem diagnostik kejiwaan. Namun, selama dua dekade terakhir menjadi fokus yang jumlahnya semakin meningkat yang disebut kecanduan non-zat atau perilaku adiksi atau kecanduan. (Andreasen, 2013;

Kandiani, 2017).

Perilaku ini ditandai keinginan atau kegiatan yang tidak terkendali;

kecenderungan meningkatkan frekuensi atau jumlah kegiatan dari waktu ke waktu;

ketergantungan psikologis pada efek yang menyenangkan dari kegiatan; dan, efek yang merugikan pada individu dan masyarakat . Beberapa penulis menunjuk

(12)

7

adanya kesamaan yang mencolok antara kecanduan zat dan perilaku (Kandiani, 2017).

DSM 5 memasukkan Gambling Internet atau gangguan perjudian sebagai gangguan ketergantungan nonsubstance terkait, disertakan dalam lampiran untuk pertimbangan dan studi lebih lanjut. Kriteria diagnosis Gambling Internet dikatakan secara umum memiliki kesamaan karakteristik umum dengan kecanduan zat, yaitu konsumsi kompulsif/ preokupasi, withdrawal, toleransi, usaha yang tidak berhasil untuk mengendalikan walaupun sudah mengganggu pekerjaan dan sosialnya.

Kriteria tersebut diperjelas lagi untuk sexual addiction antara lain: (1) preokupasi, (2) withdrawal, (3) toleransi, (4) upaya yang tidak berhasil untuk mengendalikan penggunaan, (5) terus dilakukan meski menimbulkan konsekuensi negatif, (6) digunakan untuk melarikan diri dari rasa tidak nyaman yang dialami (Rosenberg, 2014).

Kriteria sebagai indikator individu yang kecanduan sexual, antara lain (DSM V, 2013)

1. Kegagalan berulang untuk menghambat perilaku seksual.

2. Peningkatan sensasi secara tiba-tiba ketika melakukan perilaku seksual.

3. Perasaan senang atau lega setelah melakukan perilaku seksual.

4. Preokupasi terhadap perilaku seksual atau segala sesuatu yang memprasaranai perilaku seksual tersebut.

5. Adanya keinginan berulang untuk mengurangi, mengontrol, atau menghentikan perilaku seksual.

(13)

8

6. Menghabiskan banyak waktu untuk perilaku seksul tersebut.

7. Adanya gangguan dalam fungsi pekerjaan, sosial, penggunaan waktu luang karena perilaku seksual tersebut.

8. Melanjutkan perilaku seksual walaupun terus menerus menyebabkan gangguan fungsi sosial, ekonomi, psikologi, ataupun masalah kesehatan.

9. Semakin lama semakin membutuhkan intensitas dan frekuensi yang lebih tinggi dalam perilaku seksualnya.

10. Sedikitnya dalam kurun waktu 6 bulan memiliki perilaku seksual tersebut.

2.4 Patofisiologi Sexual Addiction

Pelepasan dopamin ke sistem reward ketika seseorang secara komparatif dan kronis perilaku seksual, merangsang perubahan neuroplastik yang menguatkan pengalaman. Perubahan neuroplastik ini membangun peta otak untuk kegembiraan seksual. Peta otak yang telah ada untuk seksualitas alami tidak dapat dibandingkan dengan peta otak baru yang dikembangkan dan diperkuat dengan melakukan aktivitas seksual yang kompulsif. Oleh karena itu individu mengalami kecanduan seksual berkembang lebih eksplisit, serta perilaku seksual tersebut dapat menjaga tingkat kegembiraan yang lebih tinggi (Love, 2015).

DNA dinyatakan berperan dalam kecanduan seksual. Hal ini didukung penelitian sebelumnya dimana DNA berperan pada perubahan neuroanatomis yang disebabkan oleh perilaku yang berlebihan, perubahan kepadatan reseptor dopamin, dan pengaruh perilaku berlebihan pada sistem reward (Hilton, 2011).

(14)

9

Studi first MRI (fMRI) fokus pada IPA dalam serangkaian studi di Universitas Cambridge menemukan aktivitas otak yang sama seperti yang terlihat pada pecandu narkoba dan pecandu alkohol. (Voon, 2014).

Pada studi MRI menyatakan bahwa putamen diaktifkan selama gairah seksual. Paparan rangsangan seksual menghasilkan respon downregulation saraf alami terhadap rangsangan seksual. Subjek yang mengkonsumsi lebih banyak materi seksual ditemukan memiliki sedikit konektivitas antara kaudal kanan dan dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC). Sementara DLPFC terkait dengan fungsi eksekutif. Gangguan di sirkuit ini berimplikasi pada kecanduan obat dan perilaku.

Secara khusus, konektivitas fungsional yang buruk antara DLPFC dan caudate terlibat dalam patofisiologi kecanduan terutama heroin (Kuhn, 2014).

Dalam perkembangan adiksi seksual, diasumsikan bahwa mengantisipasi dan menerima kepuasan memainkan peran penting, karena gairah seksual sangat kuat. Secara eksperimental, terlihat bahwa reaksi rangsangan seksual terkait dengan tingkat keparahan IPA pada pria heteroseksual dan perempuan serta pada laki-laki homoseksual dan pengguna IP (Love, 2015).

Penelitian selanjutnya menemukan disfungsi eksekutif yang dilaporkan lebih besar pada sampel pasien adiksi seksual. Beberapa penelitian lainnya melaporkan adanya gangguan pemrosesan isyarat seksual dan gairah seksual dengan fungsi eksekutif. Interferensi dengan kemampuan penghambatan menunjukkan bahwa individu dengan rangsangan seksual tinggi dan impulsif tinggi menunjukkan kinerja tugas yang buruk (Kagerer, 2014; Doornwaard, 2014).

(15)

10

Gairah seksual mengganggu fungsi kognitif namun kinerja tugasnya tidak

menurun karena adaptasi fungsional selama kinerja tugas, yang pada gilirannya dapat diintervensi dalam situasi keinginan yang mengalami kecanduan (Laier, 2014;

Schiebener, 2015).

Impulsif berati ketidakmampuan dalam menghentikan pikiran untuk melakukan sesuatu yang diatur pada sirkuit otak ventral striatum yang berhubungan ke talamus dan menuju ventromedial prefrontal cortex (VMPFC) dan anterior cingulate cortex (ACC). Kompulsif berarti ketidakmampuan untuk menghentikan tindakan yang diatur oleh sirkuit otak bagian dorsal striatum yang berhubungan dengan talamus dan orbitofrontal cortex (OFC). Tindakan impulsif seperti pikiran untuk melakukan perilaku seksual menjadi kompulsif dalam melakukan tindakan karena rangsangan terus menerus di ventral striatum berpindah ke bagian dorsal striatum (Stahl, 2013).

Neurotransmiter yang berperan adalah dopamin. Sistem dopamin melibatkan sejumlah besar hal yang berkaitan dengan perilaku termasuk proses reward dan motivasi. Dopamin yang meningkat saat memikirkan sex di daerah mesolimbik dan Nukleus accumbens (NAc).

Sexual addiction ini merupakan suatu keadaan learning dan conditioning, dimana jika terdapat stimulus, akan terjadi peningkatan dopamine di sistem limbic, yang meliputi amigdala dan cingulate anterior. Setelah otak mengenal hal ini, maka akan terjadi proses mekanisme learning dan terjadi perubahan perilaku adiksi untuk melakukan perilaku seksual tersebut. Kondisi learning dan conditioning ini adalah sebagai psikopatologi dari sexual addiction (Sadock & Sadock, 2015).

(16)

11

Gambar 1 Patofisiologi sexual yang sama dengan Mekanisme internet Adiksi lainnya (Sthal, 2013).

Ditinjau dari faktor neurokimia pada sexual addiction, neurotransmitter yang berperan paling besar adalah opioid, catecholamine (biasanya dopamin) dan sistem GABA. Neuron dopamin pada VTA sangat penting dalan terjadinya sexual addiction, karena neuron ini tujuannya ke korteks dan system limbic, terutama pada nuklues accumbens. Jalur ini memperlihatkan sensasi sistem reward dan mediator utama dari efek terjadinya adiksi. Locus ceroleus sebagai pusat neuron andrenergik yang besar juga terlibat dalam system reward ini (Stahl, 2013).

(17)

12

2.5 Faktor Resiko

Penggunaan berlebihan juga dikaitkan dengan adanya masalah psikologis.

Faktor resiko perilaku seksual yang berlebihan dan bermasalah antara lain: depresi, kecemasan sosial, harga diri yang rendah, dan stres yang tinggi, ADHD (Weir,2014).

Beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa tahun ini mengindikasikan, adiksi seksual dikaitkan dengan dampak yang negatif seperti depresi, cemas, gangguan atau kesulitan dalam bersosialisasi, masalah dalam pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan perilaku seksual yang beresiko. Sebagian besar pria dengan adiksi seksual memiliki masalah pada hampir seluruh kehidupannya antara lain psikologis/spiritual, perilaku (masalah dalam membina suatu hubungan, masalah dalam pekerjaan atau pendidikan), dan masalah sosial (Chad, 2012).

Adanya riwayat keluarga yang adiksi, contoh ayahnya adiksi napza, anaknya adiksi makan. Jadi, bentuk adiksi tersebut bisa sama atau berlainan.

Kecerdasan intrapersonal yang buruk (managemen diri yang buruk seperti waktu tidur, waktu belajar, waktu berolahraga, dll) adalah factor resiko seseorang untuk menjadi pecandu, khususnya dalam hal ini pecandu seksual (Derbyshire et all, 2015).

2.6 Sexual Addiction Screening Test (Carnes et all,2012)

1. Apakah pernah terkena abuse seksual sewaktu anak-anak atau remaja ? 2. Apakah orang tuamu memiliki masalah dengan perilaku seksualnya ?

(18)

13

3. Apakah pikiranmu sering terpaku (preokupasi) pada hal-hal tentang seksual saja ?

4. Apakah kau merasa bahwa perilaku seksualmu tidak normal ? 5. Apakah kamu merasa buruk dengan perilaku seksualmu ?

6. Apakah perilaku seksualmu menyebabkan masalah pada diri sendiri dan keluarga ?

7. Apakah dirimu pernah mencari bantuan karena perilaku seksualmu yang tidak kau senangi ?

8. Apakah seseorang terluka secara emosional karena perilaku seksualmu ? 9. Apakah perilaku seksualmu pernah sampai menyebabkan berurusan dengan

hokum ?

10. Apakah kamu membuat suatu usaha untuk keluar dari perilaku seksualmu tetapi gagal ?

11. Apakah kamu menyembunyikan perilaku seksualmu kepada orang lain ? 12. Apakah kamu pernah mencoba menghentikan perilaku seksualmu ?

13. Apakah kamu merasa bertambah buruk dengan perilaku seksualmu tersebut 14. Ketika kamu bercinta, apakah merasa sedih atau depresi setelahnya ? 15. Apakah kau merasa dikontrol oleh keinginan atau perilaku seksualmu ? 16. Apakah bagian penting dalam kehidupanmu seperti pekerjaan, keluarga

menjadi terlantar karena dirimu menghabiskan waktu yang banyak untuk sex ?

17. Apakah kamu merasa keinginan seksualmu lebih kuat daripada dirimu sendiri ?

(19)

14

18. Apakah sebagian besar dirimu selalu memikirkan tentang sex ?

19. Apakah sex atau fantasi romantic menjadi pelarian untuk menghindar dari masalahmu ?

20. Apakah sex menjadi bagian paling penting dalam kehidupanmu ?

21. Apakah kau mengalami krisis karena perilaku seksualmu yang berlebihan ? 22. Internet menyebabkan masalah seksual untuk saya

23. Aku menghabiskan terlalu banyak waktu online untuk kepentingan seksual 24. Aku menghabiskan banyak uang untuk online mencari tujuan erotic atau

untuk berkencan

25. Aku menghabiskan banyak waktu untuk membuat koneksi romantic atau seksual dengan seseorang secara online

26. Orang – orang di kehidupanku mencemaskan tentang aktvitas seksual onlineku

27. Aku berusaha menghentikan perilaku seksualku secara online

28. Aku menghabiskan banyak uang untuk berlangganan majalah, video, buku, porno.

29. Aku suka menjalin hubungan seksual dengan orang yang lebih di bawahku secara status sosial

30. Aku menghabiskan terlalu banyak uang dan waktu untuk club striptis dan semacamnya

31. Aku sering ke prostitusi untuk menyalurkan hasrat seksualku 32. Aku menhhabiskan banyak waktu untuk film porno

(20)

15

33. Aku punya majalah, video porno walaupun ada resiko ditangkap oleh anggota keluarga yang sudah mencemaskan perilakuku tersebut.

34. Aku berlangganan secara regular novel atau majalah porno.

35. Aku pernah menjalani hubungan di mana di situ terjadi mental abusive 36. Aku menghabiskan terlalu banyak uang untuk mendapatkan sex

37. Aku punya beberapa pasangan untuk romantis atau sex di waktu yang sama 38. Setelah perilaku seksual, terkadang aku menahan untuk tidak melakukannya

lagi di dalam periode yang dekat

39. Aku sering berada dalam hubungan sadomasokis

40. Aku mengunjungi prostitusi, sex club secara regular sebagai pemenuhan kebutuhan seksual.

41. Aku pernah berada dalam hubungan sex yang beresiko, padahal aku tahu itu dapat membahayakanku.

42. Aku menjelajah sex di area public seperti area parker, area istirahat, taman dengan orang baru.

43. Aku percaya bahwa casual sex dapat menjaga saya dari hubungan jangka panjang.

44. Perilaku seksualku dapat mnyebabkanku ditangkap polisi, terlibat hokum, atau masalah sosial yang besar.

45. Aku membayar untuk mendapatkn sex

SAST dijawab ya atau tidak, Score bila ya di atas 7 dari 45 pertanyaan tersebut maka ada indikasi sexual addiction.

(21)

16

2.7 Penatalakanaan Sexual Addiction

Penatalaksanaan untuk Sexual Addiction pada dasarnya intervensi dan strategi pengobatannya sama dengan gangguan penggunaan zat. Penelitian meta analisis tentang pengobatan secara farmakologi dan psikologi untuk adiksi sexual dari penelitian yang telah dilakukan, pendekatan ini dapat menurunkan perilaku adiksi seksual, khususnya lagi terjadi penurunan gejala depresi dan cemas (King, 2011; Winkler, 2013).

2.7.1 Penatalaksanaan Non Farmakologi

Pada penelitian pendahuluan yang dilakukan pada 114 pasien, diberikan psikoterapi khususnya CBT dengan 8 sesi untuk menangani keluhan-keluhan yang muncul, dan penanganan pada gejala selama 6 bulan dengan followup. Hasilnya cukup memuaskan dimana mereka sudah mulai bisa mengatur waktu dalam perilaku seksual, bisa menangani emosinya jauh lebih baik, tanda dan gejala adiksi seksual menurun. Terapi pasangan dan keluarga bisa juga dilakuan terutama pada kasus-kasus yang khusus (Rosenberg, 2014).

Adiksi seksual khususnya bisa ditangani dengan memberikan psikoterapi, salah satunya adalah cognitive behaviour therapy (CBT) yang fokus pada gejala yang muncul dengan mengikuti 12 sesi yang ada secara rutin. CBT dikatakan efektif untuk menangani gejala-gejala yang muncul pada adiksi seksual antara lain:

motivasi untuk berhenti, pengaturan waktu untuk perilaku seksual, isolasi diri, dan abstinen dari masalah seksual. Beberapa pasien menunjukkan kemajuan yang signifikan setelah mengikuti CBT (Darshan, 2014).

(22)

17

Ada beberapa startegi yang digunakan untuk penanganan dari adiksi seksual antara lain (George, 2018):

1. Cognitive Behavioural Therapy(CBT), melakukan restrukturisasi kognitif individu tentang perilaku seksual bila dilakukan terlalu sering, dan terapi perilaku yang diberikan memberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan positif lainnya selain sex.

2. Motivational Enhancement Therapy, terapis dan klien berkolaborasi membuat rencana apa saja yang akan dilakukan selama terapi dan membuat tujuan terapi yang diinginkan.

3. Psikoterapi psikodinamik, karena seorang adiksi khususnya adiksi seksual, di masa lalu memiliki painfull sehingga di masa sekarang berusaha menutupi painfull tersebut dengan pleasure berupa seksual.

2.7.2 Penatalaksanaan Farmakologi

Sebuah penelitian yang dilakukan di Korea, dimana anak-anak dengan adiksi video game, masturbasi, ADHD diberikan methyphenidate selama 8 minggu perawatan, dan setelah itu dilakukan pengukuran penggunaan internet. Hasilnya terjadi penurunan durasi yang signifikan dalam penggunaan internet, video game, dan peningkatan ini positif berkorelasi dengan peningkatan ukuran perhatian (Rosenberg, 2014).

Studi lain mengidentifikasi komorbiditas impulsif-kompulsif sexual addiction dengan OCD bisa ditangani dengan pemberian antidepresan golongan Serotonin Selektif Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti escitalopram dapat berguna

(23)

18

untuk pengobatan. Secara signifikan dapat menurunkan gejala pada fase pertama pengobatan (Rosenberg, 2014).

Bupropion dapat digunakan sebagai penghambat dopamin dan norepinefrin yang digunakan untuk mengobati ketergantungan nikotin dan zat, tetapi digunakan juga untuk pengobatan adiksi video game, internet. Setelah periode 6 minggu penggunaan bupropion SR, keinginan untuk video Internet bermain game, total waktu bermain game, dan aktivitas otak yang diinduksi oleh otak menurun. Studi selanjutnya menunjukkan bahwa bupropion dapat mengurangi kecanduan seksual.

(Han, 2012).

(24)

19

BAB III KESIMPULAN

Sexual addiction merupakan perilaku adiksi melihat konten atau materi sexual di mana saja dan kapan saja yang berdampak pada kesehatan psikologis individu dan kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya orang- orang yang mengalami gejala adiksi, menurunnya kemampuan psikososial, dan berbagai problem perilaku yang lain.

Tanda dan Gejala Adiksi seksual, antara lain kegagalan berulang untuk menghambat perilaku seksual, peningkatan sensasi secara tiba-tiba ketika melakukan perilaku seksual, perasaan senang atau lega setelah melakukan perilaku seksual, preokupasi terhadap perilaku seksual atau segala sesuatu yang memprasaranai perilaku seksual tersebut, adanya keinginan berulang untuk mengurangi, mengontrol, atau menghentikan perilaku seksual, menghabiskan banyak waktu untuk perilaku seksul tersebut, adanya gangguan dalam fungsi pekerjaan, sosial, penggunaan waktu luang karena perilaku seksual tersebut, Melanjutkan perilaku seksual walaupun terus menerus menyebabkan gangguan fungsi sosial, ekonomi, psikologi, ataupun masalah kesehatan, semakin lama semakin membutuhkan intensitas dan frekuensi yang lebih tinggi dalam perilaku seksualnya.

Faktor resiko penggunaan internet yang berlebihan dan bermasalah antara lain: depresi, kecemasan sosial, harga diri yang rendah, dan stres yang tinggi, dan factor genetic yaitu adanya anggota keluarga yang memiliki riwayat adiksi. Alat

(25)

20

ukur untuk skrining addiction sexual adalah SAST (Sexual Addiction Screening Test)

Penatalaksanaan untuk Sexual Addiction pada dasarnya intervensi dan strategi pengobatannya sama dengan gangguan penggunaan zat. Penatalaksanaan di bagi 2 non farmakologi dan farmakologi. Non farmakologi antara lain: cognitive behaviour therapy (CBT); Motivational Enhancement Therapy; terapi pasangan dan terapi keluarga. Farmakologi antara lain methyphenidate, antidepresan golongan Serotonin Selektif Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti escitalopram, bupropion.

(26)

21

Ilustrasi Kasus (Carnes et all, 2012)

Stan adalah bisnisman dan politikus, usia 50 tahun .Dia mengatakan bahwa dirinya heterosexual, dia seorang yg religius dengan belief homosexual adalah dosa.

Di usia 20-an dia sering ke bar gay untuk mencari waria. Dia menikmati bercinta dengan istriny, tetapi untuk ketertarikan sexual lebih nikmat pengalamannya dulu dengan seorang waria. Karena karirnya tergantung image publik, dia traveling ke kota atau negara lain untuk mencari waria. Polanya sama mencari waria di bar dan dibawa ke motel seperti di usia 20-an. Suatu ketika traveling di negara lain, dia mempunyai teman sekamar waria. Stan malang kurang beruntung terciduk oleh polisi di kamar karena waria tersebut membawa narkoba. Berita penangkapan segera ada di berita lokal atau koran lokal. Setelah itu karir Stan hancur, dan Stan menjadi Depresi.

Andrea adalah seorang pengacara berusia akhir 30-an yang keahliannya di bidang hukum membuat dia melakukan banyak perjalanan. Dia telah dirawat karena depresi dan bulimia nervosa saat berusia 20-an. Dia masih berolahraga tiap hari. Depresi kronisnya telah bergeser ke pergantian yang tidak teratur antara dysphoria yang gelisah dan mudah tersinggung dan kegemaran yang didorong yang menimbulkan hypomania. Setelah berada dalam serangkaian hubungan kasar dari remaja akhir - usia awal 30-an, Andrea memutuskan untuk tetap lajang, sebuah keputusan yang diperkuat oleh gaya hidup kelilingnya. Ketika dia bepergian untuk bisnis, pola khas Andrea adalah bekerja secara intensif di siang hari dan sampai malam hari, lalu pergi ke bar dan menjemput seorang pria. Dia menikmati perhatian, perasaan berkuasa, dan kebebasan untuk tidak pernah melihat pria itu

(27)

22

lagi. Dia melakukan hubungan intim tanpa bentuk kontrasepsi apapun, yang menyebabkan empat kehamilan yang diakhiri dengan aborsi (pertama saat dia remaja), dan dia berhasil menghindari pernah diuji untuk human immunodeficiency virus (HIV). Andrea pernah sekali dirampok oleh pria yang dia angkut, Andrea memutuskan untuk berhenti mengambil kesempatan seperti itu. Untuk empat perjalanan bisnis berikutnya, dia tidak melakukan petualangan seksual apa pun, meskipun dia merasa sangat tegang dan gelisah di malam hari sehingga dia mengira akan meledak. Pada perjalanan kelima, dia tidak tahan lagi menahan ketegangan, dan dia melanjutkan pola hidupnya, di lain waktu berikutnya dia dirampok dan kemudian diperkosa. Dia tidak pergi ke polisi, menduga mereka akan menyalahkannya karena telah mengundang pria itu ke kamarnya. Baru setelah kejadian buruk berikutnya, di mana dia dipukuli begitu parah sehingga dia memerlukan beberapa hari perawatan di rumah sakit dan akibatnya dia tidak dapat memenuhi komitmen kerjanya.

Diskusi

DSM dalam edisi ke-5 termasuk gangguan perjudian sebagai gangguan ketergantungan nonsubstance terkait. Kriteria untuk mendiagnosis kecanduan judi dimodelkan dengan karakteristik umum kecanduan zat, yaitu konsumsi kompulsif, penarikan, toleransi, tidak dapat mengurangi bahkan terjadi gangguan sosial- pekerjaan. Namun, itu menahan diri dari menambahkan gangguan perilaku seksual karena tidak ada literatur yang cukup untuk menetapkan kriteria diagnostik untuk hypersexuality. Sebuah studi pencitraan resonansi magnetik fungsional pria yang mencari pengobatan untuk seksual bermasalah ( PPU) Gola et al. menemukan

(28)

23

peningkatan aktivasi dari sebuah sistem reward di otak (ventral striatum) khusus untuk gambar erotis daripada untuk keuntungan moneter. Aktivasi otak ini disertai dengan peningkatan motivasi perilaku untuk melihat gambar erotis ("keinginan"

yang lebih tinggi). Reaktivitas striatal ventral berhubungan secara signifikan dengan tingkat keparahan PPU, jumlah penggunaan pornografi per minggu dan jumlah masturbasi mingguan. Ini mirip dengan penggunaan narkoba dan gangguan perjudian. Temuan ini menunjukkan bahwa PPU dapat mewakili kecanduan perilaku menyarankan sehingga intervensi dalam menargetkan kecanduan perilaku dan zat dapat membantu pria dengan PPU. Studi juga menunjukkan bahwa perilaku pengambilan risiko penjudi memiliki penyebab neurologis yang mendasari, yaitu, konsentrasi 3-hidroksifenilglikol (MHPG) subnormal dalam plasma dan peningkatan konsentrasi MHPG dalam cairan serebrospinal. Ada juga bukti yang menunjukkan disfungsi regulasi serotonergik pada penjudi patologis. Oleh karena itu, kegunaan SSRI dalam kasus-kasus seperti kecanduan internet yang mirip dengan gangguan perjudian adalah bermanfaat, dan kami merasa berguna dalam kasus kami untuk mematahkan keengganan awalnya untuk menerima bantuan profesional.

Keengganan pasien dalam menerima bantuan profesional di awal dan kemudian ada keinginan, intervensi dan kerjasama pasangannya yang tepat waktu, membantu kasus ini memperbaiki gejala untuk memulihkan kehidupan keluarganya.

Kriteria untuk menyebut kasus kami sebagai kecanduan pornografi tampaknya memenuhi kriteria umum untuk kecanduan perilaku. Dalam hal itu, ia

(29)

24

memiliki toleransi, penarikan, arti-penting, dan kerusakan sosial terkait dengan perilaku seksual.

Kesimpulan

Adiksi seksual seperti halnya adiksi alkohol, game, judi dalam kriteria penegakannya. Seorang pasien adiksi seksual memiliki psikodinamika yang hampir sama yaitu adanya painfull di masa lalu, yang menyebabkan pencarian pleasure di masa sekarang. Faktor resiko dari adiksi seksual tersebut berupa cemas, depresi, dan juga adanya riwayat genetik dari keluarga. Pentingnya kerjasama antara psikiater, pasien, keluarga, ataupun pasangan dari pasien dalam terapi.

(30)

25

DAFTAR PUSTAKA

Carnes PJ, Green BA, Merlo LJ, Polles A, Carnes S, Gold MS. PATHOS: a brief screening application for assessing sexual addiction. J Addict Med 2012; 6(1):

29-34.

Chad, T., Wetterneck., Angela, J., Burgess., Mary, B., Short., Angela, H., Smith., Maritza, E,. Cervantes. 2012. The Role of Sexual Compulsivity , Impulsivity , and Experiential Avoidance in Internet Pornography Use. The Psychological Record, 2012, 62, 3–18

Darshan, M.S., Sathyanarayana, Rao, T.S., Manickam, S., Tandon, A., Ram, D.

2014. A case report of pornography addiction with Dhat syndrome. Indian J Psychiatry;56:385‑7.

Derbyshire KL, Grant JE. Compulsive sexual behavior: a review of the literature. J Behav Addict. 2015; 4(2):37-43

Diagnostic and statistical manual of mental disorders (2013) (5th edtn.). American Psychiatric Association, Washington, DC, USA.

Garcia FD, Thibaut F. Sexual addictions. Am J Drug Alcohol Abuse 2010; 36(5):

254-60.

George, M., Maheshwari, S., Chandran, S., Rao, S.S., Shivanand, M.J., Sathyanarayana, Rao, T.S. 2018. Psychosocial intervention for sexual addiction.IndianJPsychiatry.;60:5103.doi:10.4103/psychiatry.IndianJPsychi atry_38_18

Han, D.H., Renshaw, P.F. 2012. Buupropion in the treatment of problematic online game play in patient with major depressive disorder. J Psychopharmacol. doi:

10.1177/0269881111400647

Kadiani, A., Goyal, E., Devabhaktuni, S., Saldanha, B.D., Chaudhari, B. 2017.

Pornographic addiction: Is It a distinct entity?. Case Report. doi :10.4103/MJDRDYPU.MJDRDYPU_303_16

Kagerer, S., Wehrum, S., Klucken, T., Walter, B., Vaitl, D., Stark, R. 2014. Sex attracts: Investigating individual differences in attentional bias to sexual stimuli. PLoS ONE, 9, e107795.

(31)

26

Karila L, Wéry A, Weinstein A, Cottencin O, Petit A, Reynaud M, et al. Sexual addiction or hypersexual disorder: Different terms for the same problem? A review of the literature. Curr Pharm Des. 2014; 20(25):4012-20.

King, D.L. 2011. Assessing Clinical Trials of Internet Addiction Treatment : a systematic review and CONSORT evaluation. ClinPsychol

Kraus SW, Voon V, Potenza MN. Should compulsive sexual behavior be considered an addiction? Addiction. 2016; 111(12):2097-106.

Laier, C., Pawlikowski, M., Brand, M. 2014. Sexual picture processing interferes with decision making under ambiguity. Arch. Sex. Behav, 43, 473–482. 299.

Leppink EW, Grant JE. Behavioral and pharmacological treatment of compulsive sexual behavior/Problematic hypersexuality. Curr Addict Rep. 2016; 3:406.

Ley DJ (2012) The myth of sex addiction. Rowman& Little Publishers Inc., Plymouth, United Kingdom.

Love, T., Laier, C., Brand, M., Hatch, L. & Hajela, R. 2015. Neuroscience of Internet pornography addiction: A review and update. Behavioral Sciences, 5(3), 388–433.

Perrin PC, Madanat HN, Barnes MD, Carolan A, Clark RB, et al. (2008) Health education’s role in framing pornography as a public health issue: Local and national strategies with international implications. Promot Educ 15: 11-18.

Reay B, Attwood N, Gooder C (2013) Inventing sex: The short history of sex addiction. Sex Cult. 17:1-19.

Rosenberg, K. P., Feder, L.C. 2014. Behavioral Addictions Criteria, Evidence, And Treatment. Elsevier. United States of America

Sadock B.J. & Sadock V.A. 2015. Synopsis of Psychiatry. Edisi 11. Wolters Kluwer. Philadephia, USA. Hal 832.

Schiebener, J., Laier, C., Brand, M. 2015. Getting stuck with pornography ? Overuse or neglect of cybersex cues in a multitasking situation is related to symptoms of cybersex addiction. J. Behav. Addict, 4, 14–21.

Stahl, S. M. 2013. Stahl’s Essential Psychopharmacology Neuroscientific Basis and Practical Application fourth edition. Obsessive and compulsive disorder.

New York. Cambrige Medicine Press.

Storholm ED, Fisher DG, Napper LE, Reynolds GL, Halkitis PN. Proposing a tentative cut point for the Compulsive Sexual Behavior Inventory. Arch Sex Behav 2011; 40(6): 1301-8.

(32)

27

Voon, V., Mole, T.B., Banca, P., Porter, L., Morris, L., Mitchell, S., Lapa, T.R., Karr, J., Harrison, N.A., Potenza, M.N., Irvine, M. 2014. Neural Correlates of Sexual Cue Reactivity in Individuals with and without Compulsive Sexual Behaviours.

PLoS ONE , 9, e102419. 263.

Weir, K. 2014. Is Pornography Addictive?. American Psychological Association.

Vol 45. No 4

(33)

28

Gambar

Gambar 1 Patofisiologi sexual yang sama dengan Mekanisme internet Adiksi  lainnya (Sthal, 2013)

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian, menyatakan ketentuan Pasal 38 juncto Pasal 55 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi atau Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

drop atau tidak digunakan. Soal yang valid adalah sebanyak 22 soal dan drop 8 soal dari. total 30 butir soal dengan tingkat

Sinyal CH 1 pada osiloskop menampilkan hasil pengukuran sinyal tegangan pada tahanan 50 kΩ , dimana tegangan pada tahanan ini digunakan untuk mengukur arus maka

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar mahasiswa di Prodi Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas PGRI Semarang sudah memenuhi kriteria

Domain kognitif Bloom yang selama ini digunakan oleh semua guru, pensyarah dan tenaga pengajar dalam mengukur pencapaian pelajar akan tercapai kerana tahap pengetahuan dan

TELAH DISEMAK DAN

merencanakan proses pembelajaran dengan mengembangkan berbagai teknik dan media pembelajaran yang lebih inovatif di dalam metode belajar yang diterapkan, sehingga siswa

Perusahaan memiliki pengalaman dengan instalasi serupa (meskipun dalam skala yang lebih kecil) dan yakin bahwa bisa mendapatkan sistem untuk bekerja dalam jangka waktu yang