BAB II
PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1 Gambaran Wilayah 2.1.1 Administrasi Wilayah
Posisi Geografis Kabupaten Malaka di daratan Pulau Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah di bagian paling selatan dan berbatasan langsung darat dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Kecamatan yang berbatasan darat adalah Kecamatan Kobalima Timur dengaan desanya yang berbatasan darat dengan RDTL, adalah Desa Alas Utara, Kota Biru, Alas, dan Alas Selatan.
Kecamatan yang berbatasan yang berbatasan dengan laut adalah Kecamatan Kobalima Timur, Kobalima, Malaka Tengah, Malaka Barat, dan Wewiku. Secara astronomi wilayah Kabupaten Malaka terletak antara koordinat : 9º 16’ 0” LS s/d 9º 48’ 0” LS dan 124º 36’ 0” BT s/d 125º 12’ 0” BT.
Kabupaten Malaka dimekarkan dari Kabupaten Belu sesuai dengan UU Nomor 3 Tahun 2013 dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Lawalutolus dan Desa Nanaenoe Kecamatan Naneut Duabesi; Desa Faturika, Desa Renrua, Desa Teun, Desa Mandeu Raimanus, dan Desa Tasain kecamatan Raimanuk kabupaten Belu;
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL);
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Laut Timor; dan
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Teba Timur, Desa Oerinbesi, Desa Oekkopa, dan Desa Teba Kecamatan Biboki Tan Pah; Desa Nansean, Desa Susulaku B, Desa Loeram, Desa Oenbit, dan Kelurahan Ainiut Kecamatan Insana; Desa Maurisu Selatan, Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU);
Desa Koloto, Desa Lotas, Desa Benahe, Desa Obaki, Desa Sapnala, dan Desa Niti Kecamatan Kokbaun; Desa Besnam dan Desa Nunfutu Kecamatan Fatukopa; Desa Bokong, Desa Tuataum, Desa
Toianas, Desa Skinu, dan Desa Lobus Kecamatan Toianas; Desa Meusin Kecamatan Boking Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Keadaan topografi Kabupaten Malaka bervariasi antara ketinggian 0 sampai dengan +806 m.dpal (meter di atas permukaan air laut). Variasi ketinggian rendah (0-269 m.dpal) mendominasi wilayah bagian selatan, yaitu kecamatan Wewiku, Malaka Barat, sebagian Malaka Tengah dan Kobalima.
Sementara pada bagian tengah wilayah ini terdiri dari area dengan dataran sedang (270-537 m.dpal), yaitu sebagian kecamatan Weliman, Malaka Tengah, Kobalima, dan Botin Loebele. Dataran tinggi (538- 806 m.dpal) di kabupten Malaka menempati kawasan bagian utara, yakni kecamatan Laenmanen, Io Kufeu, sebagian kecamatan Sasitamean, Malaka Timur dan Kobalima Timur.
Bentuk topografi wilayah Kabupaten Malaka merupakan daerah datar berbukit-bukit hingga pegunungan dengan sungai-sungai yang mengalir dari utara ke selatan mengikuti arah kemiringan lerengnya. Sungai-sungai yang ada di Kabupaten Malaka mengalir dari bagian utara dan bermuara di Laut Timor.
Secara administratif, Kabupaten Malaka yang memiliki luas wilayah mencapai 1.160,63km2, terbagi atas 12 kecamatan serta 127 Desa. Kecamatan dengan wilayah terluas adalah kecamatan Malaka Tengah dengan luas wilayah 168,69 km2 atau 14,53% dari luas wilayah Kabupaten Malaka.
Sedangkan yang terkecil adalah kecamatan Botin Loebele dengan luas wilayah 39,03 km2 atau 3,36%
dari luas wilayah Kabupaten Malaka. Wilayah kajian SSK merupakan seluruh wilayah administrasi Kabupaten Malaka (Lihat Peta 2.1 Peta Wilayah Kajian SSK Kabupaten Malaka dan Tabel 2.1 nama dan Luas Wilayah per-Kecamatan serta Jumlah Kelurahan)
Tabel 2.1
Nama dan Luas Wilayah per-Kecamatan serta jumlah Kecamatan
2.1.2 Kependudukan
Data menunjukan Jumlah Penduduk Kabupaten Malaka pada tahun 2015 sebanyak 174.668 yang tersebar di 12 Kecamatan. Kecamatan Malaka Tengah merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi, yakni mencapai 37. 265 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 9202 KK.
Pertumbuhan penduduk Kabupaten Malaka setiap tahun mengalami peningkatan, baik yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk Kabupaten Malaka maupun disebabkan oleh adanya migrasi dari daerah sekitar Kabupaten Malaka. Pada dasarnya tingkat perkembangan jumlah penduduk dapat digunakan untuk mengestimasi perkiraan jumlah penduduk di masa yang akan datang. Proyeksi jumlah penduduk di masa yang akan datang dilakukan dengan pendekatan matematik dan menggunakan kecendrungan pertumbuhan penduduk 5 tahun terakhir. Metode proyeksi yang
Nama Kecamatan
Jumlah Kelurahan/
Desa
Luas Wilayah
Administrasi Terbangun
(Ha)
(%) Terhadap Total Administrasi
(Ha) (%) Terhadap Luas Adminitrasi
Malaka Barat 16 8741 7.53 3496 39.995
Rinhat 20 15172 13.07 6069 40.001
Wewiku 12 9790 8.44 3916 40.000
Weliman 14 8825 7.60 1765 20.000
Malaka Tengah 17 16869 14.53 6748 40.002
Sasita Mean 9 6548 5.64 1964 29.994
Io Kufeu 7 6779 5.84 678 10.001
Botin Leobale 5 3903 3.36 3285 84.166
Malaka Timur 6 8328 7.18 1666 20.005
Laen manen 9 9402 8.10 1880 19.996
Kobalima 8 12095 10.42 4838 40.000
Kobalima Timur 4 9611 8.28 3855 39.996
Total 127 116.063 100 40.689 35.058
Sumber: Kabupaten Malaka Dalam Angka Tahun 2015
digunakan adalah metode matematik dengan rumus geometeri. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Po : Jumlah penduduk tahun dasar
Pt : Jumlah penduduk akhir (tahun proyeksi) r : Laju pertumbuhan penduduk (%) t : Waktu (Tahun)
Kabupaten Malaka memiliki rata – rata pertumbuhan penduduk sebesar 0.304 % per tahun (Sumber : Dokumen RTRW Kabupaten Malaka Tahun 2016 – 2035). Proyeksi penduduk untuk 5 tahun ke depan tahun 2020 diprediksikan penduduk Kabupaten Malaka mencapai 177. 333 Jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 46. 607 KK, di mana setiap keluarga rata - rata memiliki anggota keluarga sebanyak 4 orang. Kecamatan Malaka Tengah memiliki jumlah penduduk terbesar di tahun 2020 yakni 37.835 jiwa sedangkan kecamatan Botin Leobele memiliki jumlah penduduk terendah yakni 4. 978 jiwa.
(Lihat Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Saat Ini dan Proyeksi untuk 5 Tahun dan Tabel 2.3 Jumlah Kepala Keluarga Saat ini dan Proyeksi untuk 5 Tahun)
Pt = Po (1 + r)
tPt/Po = (1 + r) t log Pt/Po = log (1 + r) t log Pt/Po = t log (1 + r) 1/t log Pt/Po = log (1 + r) Antilog 1/t log Pt/Po = (1 + r) Antilog 1/t log Pt/Po – 1 = r
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Saat Ini dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun
No Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk (orang) Total
Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020
1 Malaka Barat 0 0 0 0 0
20,492
20,554
20,617
20,680
20,742
20,492
20,554
20,617
20,680 20,742
2 Rinhat 0 0 0 0 0
14,879
14,924
14,970
15,015
15,061
14,879
14,924
14,970
15,015 15,061
3 Wewiku 0 0 0 0 0
18,239
18,295
18,350
18,406
18,462
18,239
18,295
18,350
18,406 18,462
4 Weliman 0 0 0 0 0
18,133
18,188
18,243
18,299
18,354
18,133
18,188
18,243
18,299 18,354
5 Malaka Tengah 18,019
18,073
18,128
18,183
18,239
19,360
19,419
19,478
19,537
19,596
37,378
37,492
37,606
37,720 37,835
6 Sasita Mean 0 0 0 0 0
8,508
8,534
8,560
8,586
8,612
8,508
8,534
8,560
8,586 8,612
7 Io Kufeu 0 0 0 0 0
7,785
7,808
7,832
7,856
7,880
7,785
7,808
7,832
7,856 7,880
8 Botin Leobele 0 0 0 0 0
4,918
4,933
4,948
4,963
4,978
4,918
4,933
4,948
4,963 4,978
9 Malaka Timur 0 0 0 0 0
9,504
9,533
9,562
9,591
9,620
9,504
9,533
9,562
9,591 9,620
10 Laen Manen 0 0 0 0 0
11,442
11,476
11,511
11,546
11,581
11,442
11,476
11,511
11,546 11,581
11 Kobalima 0 0 0 0 0
17,539
17,592
17,646
17,700
17,753
17,539
17,592
17,646
17,700 17,753
12 Kobalima Timur 0 0 0 0 0
6,376
6,396
6,415
6,435
6,454
6,376
6,396
6,415
6,435 6,454
Total
18,019
18,073
18,128
18,183
18,239
157,174
157,652
158,131
158,612
159,094
175,193
175,726
176,260
176,796 177,333
Sumber : Analisa Pokja Sanitasi Kabupaten Malaka Tahun 2016
Tabel 2.3 Jumlah Kepala Keluarga Saat Ini dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun
No Nama Kecamatan
Jumlah KK Total
Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020
1 Malaka Barat 0 0 0 0 0
5,384
5,401
5,417
5,434
5,450
5,384
5,401
5,417
5,434
5,450
2 Rinhat 0 0 0 0 0
4,091
4,104
4,116
4,129
4,141
4,091
4,104
4,116
4,129
4,141
3 Wewiku 0 0 0 0 0
5,246
5,262
5,278
5,294
5,310
5,246
5,262
5,278
5,294
5,310
4 Weliman 0 0 0 0 0
5,171
5,186
5,202
5,218
5,234
5,171
5,186
5,202
5,218
5,234
5 Malaka Tengah 4,073
4,086
4,098
4,111
4,123
5,157
5,172
5,188
5,204
5,220
9,230
9,258
9,286
9,314
9,343
6 Sasita Mean 0 0 0 0 0
1,443
1,448
1,452
1,457
1,461
1,443
1,448
1,452
1,457
1,461
7 Io Kufeu 0 0 0 0 0
2,330
2,337
2,344
2,351
2,359
2,330
2,337
2,344
2,351
2,359
8 Botin Leobele 0 0 0 0 0
1,443
1,448
1,452
1,457
1,461
1,443
1,448
1,452
1,457
1,461
9 Malaka Timur 0 0 0 0 0
2,536
2,543
2,551
2,559
2,567
2,536
2,543
2,551
2,559
2,567
10 Laen Manen 0 0 0 0 0
3,226
3,236
3,245
3,255
3,265
3,226
3,236
3,245
3,255
3,265
11 Kobalima 0 0 0 0 0
4,214
4,227
4,239
4,252
4,265
4,214
4,227
4,239
4,252
4,265
12 Kobalima Timur 0 0 0 0 0
1,730
1,736
1,741
1,746
1,751
1,730
1,736
1,741
1,746
1,751
Total
4,073
4,086
4,098
4,111
4,123
41,971
42,099
42,227
42,355
42,484
46,045
46,185
46,325
46,466
46,607
Sumber : Analisa Pokja Sanitasi Kabupaten Malaka Tahun 2016
Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan penduduk, distribusi penduduk Kabupaten Malaka dapat dikatakan tidak tersebar secara merata untuk masing – masing kecamatan. Ditinjau dari tingkat kepadatan, penduduk terpadat tahun 2020 berada di Kecamatan Malaka Barat yakni 239 jiwa/ha dan yang paling rendah tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Kobalima Timur yakni 67 jiwa/ha.
Kepadatan penduduk diidasarkan atas kondisi distribusi penduduk yang berkaitan dengan jumlah penduduk yang menghuni suatu wilayah berdasarkan batasan wilayah terbangun. Jumlah penduduk yang terdistribusi pada suatu wilayah akan mempengaruhi tingkat konsentrasi pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan (Lihat Tabel 2.4 Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Saat Ini dan Proyeksi Untuk 5 Tahun).
Tabel 2.4 Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun
No Nama
Kecamatan
Tingkat Pertumbuhan (%) Kepadatan Penduduk (Orang/Ha)
Tahun Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020 1 Malaka Barat -0.04 -0.04 -0.04 -0.04 -0.04 235 235 236 237 238
2 Rinhat 0.55 0.55 0.56 0.56 0.56 98 99 99 99 99
3 Wewiku -0.13 -0.13 -0.13 -0.13 -0.13 187 187 188 188 189 4 Weliman -0.004 -0.004 -0.004 -0.004 -0.004 206 206 207 208 208 5 Malaka Tengah 2.10 2.10 2.11 2.12 2.12 222 222 223 224 224 6 Sasita Mean -0.03 -0.03 -0.03 -0.03 -0.03 130 131 131 132 132
7 Io Kufeu 0.29 0.29 0.29 0.29 0.29 114 115 115 115 116
8 Botin Leobele -0.38 -0.38 -0.38 -0.38 -0.39 126 127 127 128 128 9 Malaka Timur 1.30 1.31 1.31 1.32 1.32 114 115 115 115 116
10 Laen Manen 1.16 1.17 1.17 1.17 1.18 121 122 122 122 123
11 Kobalima 5.30 5.31 5.33 5.34 5.36 145 146 146 147 147
12 Kobalima Timur 1.62 1.63 1.63 1.64 1.64 66 66 67 67 67
Sumber : Analisa Pokja Sanitasi Kabupaten Malaka Tahun 2016
2.1.3 Jumlah penduduk Miskin
Menurunnya angka kemiskinan di Kabupaten Malaka adalah salah satu barometer komitmen pemerintah Kabupaten, pelaku usaha dan segenap unsur masyarakat yang peduli dalam upaya – upaya penanggulangan kemiskinan. Hal tersebut sesungguhnya merupakan Implementasi Undang – Undang Dasar 1945, pasal 27 yakni setiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Berdasarkan Data Statistik (Malaka Dalam angka 2015) di peroleh besaranan angka kemiskinan yakni 29. 131 jiwa (Lihat Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Miskin per – Kecamatan)
2.1.4 Keuangan dan Perekonomian Daerah
Perekonomian Kabupaten Malaka pada tahun 2014 mengalami perlambatan dibandingkan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Malaka tahun 2014 mencapai 5,47 persen, sedangkan tahun 2013 sebesar 5,63 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 7,88 persen. Sedangkan seluruh lapangan usaha ekonomi PDRB yang lain pada tahun 2014 mencatat pertumbuhan yang positif.
Adapun lapangan usaha-lapangan usaha lainnya berturut-turut mencatat pertumbuhan yang positif, di antaranya lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 7,88 persen; lapangan usaha Jasa Pendidikan dan lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum masing-masing sebesar 7,49 persen; lapangan usaha Real Estate sebesar 6,52 persen; lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 6,51 persen; lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 6,46 persen; lapangan usaha Jasa Keuangan dan
Tabel 2.5.
Jumlah Penduduk Miskin Per-Kecamatan
No Nama
Kecamatan
Jumlah Keluarg Miskin (Rumah Tangga)
1 Malaka Barat 3190
2 Rinhat 2819
3 Wewiku 2828
4 Weliman 2599
5 Malaka Tengah 5193
6 Sasita Mean 1546
7 Io Kufeu 920
8 Botin Leobale 1774
9 Malaka Timur 2088
10 Laen manen 2466
11 Kobalima 2448
12 Kobalima Timur 1259
Total 29 131
Sumber : Malaka Dalam Angka Tahun 2015
Asuransi sebesar 6,01 persen; lapangan usaha Jasa Perusahaan sebesar 5,60 persen; lapangan usaha Konstruksi sebesar 5,55 persen; lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 5,30 persen; lapangan usaha Jasa Informasi dan Komunikasi mencatat sebesar 4,94 persen; lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 4,73 persen; lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 4,70 persen; lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 4,45 persen; lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 4,42; lapangan usaha Jasa Lainnya sebesar 4,06 persen; dan lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 3,53 persen.
2.1.5 Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Malaka
RTRW disusun sebagai acuan dalam penataan ruang untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah kabupaten/kota maupun dengan wilayah sekitarnya. RTRW merupakan acuan spasial dalam pembangunan kabupaten/kota. RTRW Kabupaten Malaka Tahun 2016-2035 dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Tujuan dan Kebijakan Penataan Ruang Kabupaten Malaka
Penyusunan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Malaka adalah menyerasikan berbagai kegiatan pembangunan sektor dan wilayah sehingga pemanfaatan ruang dan sumberdaya yang ada di dalamnya dapat optimal mendukung kegiatan kehidupan masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan wilayah yang diharapkan. Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional dengan :
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;
3. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang; serta
4. Mendayagunakan produk tata ruang sebagai alat penataan, penyusunan program pembangunan dan pengendalian secara optimal.
Penataan ruang Kabupaten Malaka bertujuan:
“Terwujudnya Kabupaten Malaka sebagai Kawasan Perbatasan negara yang aman, maju, mandiri dan sejahtera dengan didukung oleh pengembangan sektor pertanian dalam arti luas, pertambangan, kelautan dan perikanan serta pariwisata”.
Dengan demikian perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Malaka adalah akan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Manfaat dari penyusunan rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Malaka ini sendiri adalah untuk :
1. mewujudkan suatu ruang wilayah Kabupaten Malaka yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat
2. Menyiapkan suatu dokumen perencanaan yang memiliki kapabilitas sebagai alat untuk mensinergikan, sebagai pedoman pemanfaatan dan pengendalian ruang yang bersifat makro (skala kawasan) di Kabupaten Malaka untuk dasar perencanaan yang lebih rinci/ detail;
3. Mewujudkan suatu struktur dan pola ruang wilayah Kabupaten Malaka yang optimal, terstruktur, serta sesuai dengan karakteristik, daya dukung dan daya tampung wilayah serta didukung oleh teknologi yang bernilai positif; dan
4. Mendayagunakan produk tata ruang sebagai alat penataan, penyusunan program pembangunan dan pengendalian secara optimal
Adapun kebijakan pengembangan kawasan di Kabupaten Malaka diarahkan untuk:
a. Pengembangan dan peningkatan pusat-pusat pelayanan yang dapat mendorong pertumbuhan yang merata sesuai dengan hirarki dan skala pelayanannya;
b. Pengembangan dan peningkatan kualitas dan jangkauan jaringan transportasi, energi listrik, telekomunikasi, dan sumber daya air untuk meningkatkan pertumbuhan wilayah;
c. Pengembangan kegiatan unggulan pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan secara bijak dengan memperhatikan daya dukung lingkungan; dan
d. Pelestarian lingkungan hidup dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan daya dukung lingkungan demi kelangsungan di masa mendatang.
e. Pengembangan Kawasan Strategis Pertahanan dan Keamanan dengan memantapkan fungsi kawasan perbatasan yaitu di kawasan Motamasin Kecamatan Kobalima Timur sebagai penjaga pertahanan dan keamanan lingkungan serta wilayah kedaulatan Republik Indonesia.
f. Mengembangkan kegiatan pertahanan dan keamanan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan green belt (sabuk hijau) yang berupa steril area yang dikembangkan dengan membuat kawasan hutan pada sisi garis batas perbatasan negara darat RI - RDTL sebagai bentuk pertahanan alami.
g. Adanya rencana pembangunan pasar tradisional hasil kesepakatan bilateral ekonomi/perdagangan di Metamauk Kecamatan Kobalima Timur.
h. Pengembangan kawasan strategis untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi kawasan, dengan strategi pengembangan sistem agropolitan berbasis pertanian dan perkebunan yang diarahkan di kawasan agropolitan yaitu di Kawasan Agropolitan Weliman yang terdiri dari kecamatan Malaka Tengah, kecamatan Malaka Barat, kecamatan Weliman, kecamatan Wewiku, kecamatan Kobalima dan kecamatan Rinhat.
i. Mengembangkan kawasan pertambangan yang berbasis pada teknologi yang ramah lingkungan, dengan strategi pengembangan
j. Mengembangkan Kawasan Minapolitan dengan meningkatkan produk perikanan baik perikanan tangkap dan perikanan budidaya melalui sentra pengolah hasil perikanan pada kawasan minapolitan perikanan budidaya yang terdiri dari kecamatan Wewiku, kecamatan Malaka Tengah, kecamatan Kobalima, dan kecamatan Malaka Barat.
k. Mengembangkan Kawasan Usaha Peternakan dengan meningkatkan produk dan nilai tambah peternakan
l. Mengembangkan Kawasan Wisata Bahari Terpadu, dengan strategi pengembangan adalah dengan mengembangkan kawasan wisata bahari meliputi pantai selatan yaitu pantai di kecamatan Wewiku, kecamatan Malaka Barat, Malaka Tengah dan kecamatan Kobalima.
m. Mengembangkan kawasan strategis kabupaten untuk kepentingan sosial budaya, dengan strategi mengembangkan kawasan yang memiliki rumah adat, perkampungan adat dan peninggalan jaman penjajahan berupa benteng
n. Melakukan pengamanan terhadap kawasan atau melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu dengan membuat ketentuan-ketentuan yang perlu perhatian
o. Mengembangkan kawasan strategis penyelamatan lingkungan hidup di Kabupaten Malaka adalah hutan lindung, cagar alam dan suaka margasatwa
2. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Malaka
Sesuai dengan kebijakan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang kebijakan rencana struktur ruang Kabupaten Malaka meliputi :
a. Rencana sistem pusat permukiman yang terdiri dari sistem pusat permukiman perkotaan, adalah kawasan perkotaan yang merupakan pusat kegiatan sosial ekonomi masyarakat, baik pada kawasan perkotaan maupun pada kawasan perdesaan, Dalam sistem internal perkotaan, pusat permukiman adalah pusat pelayanan kegiatan perkotaan,
b. Rencana sistem jaringan prasarana, dimana sistem jaringan prasarana, antara lain, mencakup sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, sistem persampahan, sistem jaringan sanitasi, serta sistem jaringan drainase.
Kabupaten Malaka sebagai salah satu wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki posisi strategis dan dalam lingkup pengembangan wilayah merupakan salah satu potensi dasar yang sangat menguntungkan dari segi pengembangan ekonomi maupun pengembangan tata ruang wilayah di masa mendatang. Sesuai dengan peran dan fungsi wilayah Kabupaten Malaka, maka kebijakan pembangunan ekonomi wilayah diarahkan pada pengembangan potensi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata yang telah terbukti mampu menjadi salah satu penunjang perekonomian yang cukup besar kontribusinya untuk wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur dan berorientasi pada pengembangan industri pengolahan hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Malaka digambarkan dalam peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Malaka seperti ditampilkan pada Gambar 2.2.
A. Sistem Jaringan Transportasi 1. Transportasi Darat
Jaringan Jalan
Jaringan jalan di Kabupaten Malaka hakekatnya menghubungkan ke seluruh wilayah Kabupaten Malaka dengan kondisi dan wewenang pembinaan yang berbeda – beda. Jalan yang ada di Kabupaten Malaka terdiri dari jaringan jalan Arteri Primer, Kolektor Primer, Lokal Primer dan Jalan Desa/jalan Lingkungan.
Pola perangkutan
Pola Perangkutan jalan raya di Kabupaten Malaka dilayani oleh Bis AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) dan angkutan perdesaan. Jenis kendaraan yang digunakan sebagai moda angkutan adalah bis mini. Selain bis mini, kendaraan yang digunakan sehari – hari hanyalah ojek.
Terminal
Terminal yang ada di Kabupaten Malaka sampai saat ini hanyalah terminal Tipe C yang ada di Desa wehali Kecamatan Malaka Tengah.
Sistem Rute
Rute angkutan umum di Kabupaten Malaka adalah : a. Betun – Kupang
b. Betun - Besikama c. Betun – Atambua d. Betun - Halilulik 2. Transportasi Laut
Walaupun sebagian wilayah Kabupaten Malaka adalah daerah pantai dan berbatasan dengan laut, namun di Kabupaten Malaka tidak ada pelabuhan sebagai bagian dari system transportasi.
B. Sistem Jaringan Energi dan Kelistrikan
Pemenuhan kebutuhan daya listrik penduduk Kabupaten Malaka diperoleh dari : 1. PLN
Sebagian wilayah Kabupaten Malaka telah dipenuhi kebutuhan listriknya melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan jenis Pembangkit Listrik Tenaga Diesel. Tetapi karena daerah layanan dan
kapasitas yang cukup terbatas maka penggunaan daya listrik di Kabupaten Malaka masih sering terjadi gangguan. Oleh karena itu mulai tahun 2014 pelanggan PLN jenis ini diminta menggantinya dengan jenis Meteran Token (Pulsa Listrik) yang lebih efisien.
2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Pada umunya PLTS digunakan di daerah – daerah perdesaan. Tetapi banyak mengalami kerusakan terutama pada bagian Accu yang berfungsi sebagai media penyimpanan arus. Selain itu juga PLTS masih terbilang mahal harganya.
3. Sistem Jaringan Telekomunikasi
Di Kabupaten Malaka operator seluler yang telah menjangkau adalah Telkomsel. Namun keberadaan Operator ini masih belum menampung kebutuhan komunikasi. Hal ini dapat dilihat dari sering terganggunya komunikasi pada saat – saat tertentu.
4. Sistem Jaringan Persampahan
Sistem Persampahan di Kabupaten Malaka dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malaka. Tetapi pengelolaan ini hanya sebatas pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS). Sebagian sampah rumah tangga pun tidak di buang ke TPS tetapi langsung dibakar. Di Kabupaten Malaka belum ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
5. Sistem Jaringan Sanitasi
Sanitasi lingkungan di Kabupaten Malaka masih jauh dari yang diharapkan. Pembuangan air kotor umumnya dibuang begitu saja ke ruang terbuka dan bahkan saluran drainase pun dipergunakan sebagai tempat pembuangan air kotor masyarakat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Sistem drainase perkotaan yyang bermuara pada sawah – sawah tada hujan menimbulkan penumpukan sampah pada saluran – saluran yang ada sehingga gambaran kotor dan tidak terkelola akan system sanitasi adalah sangat jelas.
6. Sistem Jaringan Drainase
Jaringan drainase di Kabupaten Malaka masih banyak menggunakan saluran alami untuk pematusannya, drainase perkotaan di Kota Betun sebagai Ibukota Kabupaten Malaka masih jauh dari yang diharapkan.
Hal ini dimaklumi dengan baru berdirinya Kabupaten Malaka sebagai Daerah Otonom Baru berdasarkan Undang – Undang No 3 Tahun 2013.
3. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Malaka
Rencana pola ruang wilayah di Kabupaten Malaka dibagi menjadi dua jenis, yaitu kawasan lindung dan budidaya. Pola pemanfaatan ruang wilayah di Kabupaten Malaka diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara fungsi kawasan sebagai kawasan lindung dengan kawasan budidaya. Pemanfaatan kawasan lindung terdiri atas kawasan hutan lindung dan resapan air, kawasan perlindungan setempat, kawasan hutan mangrove dan sempadan pantai, kawasan suaka, serta kawasan rawan bencana. Adapun kawasan budidaya terdiri atas kawasan budidaya kehutanan, kawasan budidaya pertanian, kawasan budidaya perikanan, kawasan pertambangan, kawasan industri, kawasan pariwisata, serta kawasan permukiman.
A. Rencana Kawasan Lindung
Wilayah kawasan lindung yang telah dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya diarahkan untuk tetap direhabilitasi dan konservasi dalam program agroforestry.
B. Rencana Kawasan Budidaya Pertanian
Rencana pengembangan kawasan budidaya diarahkan pada kegiatan pertanian (utamanya perkebunan dan kehutanan) dan perikanan, Luas lahan yang paling besar adalah lahan budidaya untuk kehutanan, perkebunan dan pertanian tanaman pangan.
Rencana pola ruang Kabupaten Malaka sebagaimana terlihat pada gambar 2.3.
4. Struktur Organisasi Perangkat Daerah
Struktur organisasi Perangkat Daerah kabupaten Malaka sebagai Struktur organisasi Perangkat Daerah kabupaten Malaka sebagai berikut :
2.2 Kemajuan Pelaksanaan SSK a. Air Limbah Domestik
Dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Pati khususnya sektor air limbah sudah ada perkembangannya. Akan tetapi belum sesuai dengan apa yang telah direncakan dalam dokumen SSK dan MPS yang telah disusun. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 2.6
Tabel Kemajuan Pelaksanaan SSK untuk Air Limbah Domestik
SSK Tahun 2015 – Tahun 2020 SSK Tahun 2016
Tujuan Sasaran Data Dasar Status Saat Ini
1 2 3 4
Meningkatkan kualitas
lingkungan dengan pengelolaan limbah rumah tangga maupun limbah industry, tingkat kesejahteraan masyarakat dan PHBS
Terwujudnya tanki septic yang sesuai standar untuk jamban dan MCK tahun 2015
50 % rumah tangga memiliki tanki septic yang sesuai standar kesehatan
Tanki septic suspek aman sebesar 70 %
Meningkatkan PHBS melalui peran masyarakat (Rumah tangga dan sekolah)
PHBS pengelolaan air limbah sebesar 80 %
Status PHBS saat ini 80 %
Peningkatan pengelolaan air limbah melalui akses masyarakat terhadap informasi dan pelayanan pengelolaan air limbah permukaan
BABs sebesar 90 % akibat cakupan layanan air limbah
Berdasarkan hasil study EHRA masyarakat yang masih melakukan praktek BABs sebesar 80%
Tersedianya MasterPlan air limbah tingkat Kabupaten tahun 2015
Belum tersedia MasterPlan air limbah tingkat kabupaten
Belum tersedia MasterPlan air limbah tingkat kabupaten
Peningkatan jumlah pengolahan air limbah yang ramah lingkungan dan berbasis masyarakat
Pengendalia dan penanganan dampak pencemaran pada kawasan pemukiman padat penduduk
Belum ada IPAL Komunal Belum ada IP{AL Komunal
Menata pengembangan perencanaan, peraturan perundang – undangan, kelembagaan dan keuangan pengelolaan air limbah
Pengembangan perencanaan dan penataan peraturan perundang – undangan air limbah
Belum ada Perda yang
mengatur tentang
pengelolaan air limbah
Belum ada Perda yang mengatur tentang pengelolaan air limbah Peningkatan tata kelola
kelembagaan pemerintah dalam pengelolaan air limbah yang baik
Belum ada lembaga yang secara khusus menangani pengelolaan air limbah
Belum ada lembaga yang secara khusus menangani pengelolaan air limbah Sumber : Buku Putih Sanitasi Kabupaten Malaka Tahun 2015
b. Persampahan
Pada saat ini pengelolaan sampah di Kabupaten Malaka dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malaka. Tapi sebagian besar sampah masih dibuang secara langsung ke halaman rumah, saluran drainase, sungai, maupun dibakar. Untuk penanganan sampah baru mencakup Kecamatan yang terdekat dari Kabupaten yaitu Kecamatan Malaka Tengah, jumlah bak sampah yang ada sebanyak 6 buah dengan volume 1 m³ di desa Wehali dan Umanen Lawalu, tong sampah kapasitas 0.5 m3 sebanyak 29 buah di desa Wehali, container sebanyak 2 buah di desa wehali.
Pengelolaan sampah di Kabupaten Malaka, dilakukan dengan proses berikut :
1. Proses Pengumpulan Sampah
Proses pengumpulan sampah dilakukan baik secara individual maupun secara komunal melalui bak-bak penampungan yang di sediakan di setiap unit lingkungan perumahan maupun pada unit kegiatan komersial dan perkantoran. Namun proses ini tidak berjalan dengan baik karena masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan sampah pada tempat – tempat yang telah disediakan.
Masih banyak rumah tangga yang membuang begitu saja sampah rumah tangganya di halaman rumah tempat mereka tinggal.
2. Proses Pengangkutan Sampah ke TPS
Proses pengangkutan sampah dilakukan dari bak-bak penampungan ke Tempat Pembuangan Sementara atau TPS, selanjutnya diangkut dengan menggunakan truck/dump truck dan motor sampah menuju TPA. Akan tetapi Kabupaten Malaka belum memiliki TPA, sehingga setelah di angkut oleh alat angkutan maka selanjutnya dibuang begitu saja di kawasan hutan.
Secara umum sarana dan prasarana penanganan sampah dikelompokkan sesuai prosedurnya, dimulai dari tahap pengumpulan, pengangkutan (transportasi), pembuangan akhir, pendaur ulangan (recycling).
Tabel 2.7
Tabel Kemajuan Pelaksanaan SSK untuk Persampahan
SSK Tahun 2015 – Tahun 2020 SSK Tahun 2016
Tujuan Sasaran Data Dasar Status Saat Ini
1 2 3 4
Meningkatkan jumlah sarana prasarana pengelolaan sampah
Terwujudnya jumlah TPS Adanya penambahan TPS yakni 10 Bak sampah dan 20 buah tong/drum sampah
Belum ada penambahan jumlah TPS
Terwujudnya semua sarana prasarana pengangkutan sampah yang memadai
Sarana prasarana
pengangkutan sampah yang memadai terdiri dari 2 truk sampah dan 3 motor sampah
Belum ada penambahan jumlah sarana prasarana pengangkutan sampah
Peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah
Masyarakat mampu
mengelola sampah dengan benar
Sebagian masyarakat mengelola sampah dengan cara di bakar
Sebagian masyarakat mengelola sampah dengan cara di bakar
Meningkatkan peran masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah rumah tangga
Pemilahan sampah rumah tangga belum dilakukan
Pemilahan sampah rumah tangga belum dilakukan
Penanganan persampahan di Kabupaten Malaka melalui melalui pengelolaan sampah secara terpadu
Pemberlakuan peraturan daerah yang dapat menunjang keberhasilan dalam pengelolaan sampah
Belum ada peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan sampah
Belum ada peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan sampah
Penanganan system
pembuangan akhir sampah yang tidak mencemari lingkungan sekitar dengan upaya efisiensi lahan dan pemanfaatan sisa sampah agar lebih berguna dengan metode tepat guna
Penetapan lokasi dan
kebutuhan lahan
pembuangan akhir sampah sesuaii dengan criteria dan peraturan menyangkut TPA
Sudah ada penatapan lokasi TPA yang sesuai dengan criteria dan aturan tetapi belum ada pembangunan
Sudah ada penatapan lokasi TPA yang sesuai dengan criteria dan aturan tetapi belum ada pembangunan
Meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah
Meningkatkan potensi investasi dunia usaha /swasta
Ada pihak swasta yang berperan dalam pengumpulan sampah tetapi khusus hanya untuk sampah plastic
Ada pihak swasta yang
berperan dalam
pengumpulan sampah tetapi khusus hanya untuk sampah plastik
c. Drainase
Dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Malaka khususnya pada sektor Drainase
perkotaan sudah ada perkembangannya. Akan tetapi belum
sesuai dengan apa yang telah direncakan dalam dokumen SSK dan MPS yang telah disusun. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabal dibawah ini :
Tabel 2.8
Tabel Kemajuan Pelaksanaan SSK untuk Drainase Perkotaan
SSK Tahun 2015 – Tahun 2020 SSK Tahun 2016
Tujuan Sasaran Data Dasar Status Saat Ini
1 2 3 4
Mengatasi dan mengurangi genangan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang ada
Tersedianyan masternplan drainase tingkat Kabupaten tahun 2015
Sudah ada MasterPlan drainase tingkat Kabupaten tahun 2015
Sudah ada MasterPlan drainase tingkat Kabupaten tahun 2015
Meningkatkan sarana prasarana fisik perkotaan
Berkurangnya jumlah genangan di salam kota Betun
Luas genangan di kota Betun Mengoptimalkan system
drainase yang ada dalam pengelolaan drainase
Drainase yang sudah ada berfungsi sesuai dengan peruntukannya dan bebas dari sampah perkotaan
Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di saluran drainase
Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di saluran drainase
2.3 Profil Sanitasi Saat Ini a. Air Limbah Domestik 1. Sistem dan Infrastruktur
Sistem pengolahan air limbah domestik masih dikelola secara on-site system (setempat) yang artinya limbah yang ada ditampung pada suatu wadah yang disebut dengan tangki septic dan terjadi penguraian oleh bakteri pengurai. Dari penguraian ini menghasilkan limpahan tangki septik yang dimasukkan ke dalam sumur resapan dan langsung meresap ke dalam air tanah, selain itu juga menghasilkan endapan lumpur yang mengendap di dasar tangki. Untuk pengolahan lumpur tinja tidak bisa dilakukan karena tidak ditunjang dengan sarana yang memadai dalam hal ini Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), IPAL Komunal maupun alat penyedot lumpur tinja.
Berdasarkan hasil studi EHRA tahun 2015, sistem ini meliputi tangki septik sebesar 56.3 %, pipa sewer 12.5 % dan cubluk 31.4 % selebihnya dibuang disungai atau hutan/kebun. Berkaitan dengan tangki septik, hasil kajian EHRA 80.9 % menunjukkan tangki septik masuk dalam kategori suspek aman (Lihat Peta 2.4. Peta Cakupan Layanan Air Limbah Domestik, Gambar 2.1. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik dan Tabel 2.9. Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini Di Kabupaten Malaka)
Gambar 2.10 Diagram Sistem Sanitasi Air Limbah Domestik Diagram Sistem Sanitasi : AIR LIMBAH DOMESTIK
Produk Input (A)
User Interface
(B) Pengumpulan dan Penampungan/Pengolahan
Awal
(C)
Pengangkutan/Pengaliran
(D)
(Semi) Pengolahan Akhir Terpusat
(E) Daur Ulang dan/atau
pembuangan Akhir
JAMBAN CEMPLUNG
JAMBAN PLENGSENGAN
KM & JAMBAN LEHER ANGSA
MCK KOMUNAL
TANKI SEPTIK
TANKI SEPTIK
B I D A N G R E S A P A N
HUTAN/SUNGAI
AIR LI M BA H DO ME STI K
BLACK W AT
TANA H
Tabel 2.11
Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini di Kabupaten Malaka
No Kec
Jumla h Pend uduk (KK)
Akses Layak (KK) Akses dasar (KK)
On - Site Off-site
Tanki septic Indivi
dual
Tanki septic Komun al (≥10
KK)
MCK Komunal
Tanki septic Komunal (≥10 KK)
IPAL Komunal
IPAL Kawasan
IPAL Kota
Tanki Septik Individual
Belum aman
Cubluk BABs (KK)
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x) (xi) (xii) (xiii)
1 Malaka Barat 5368 1473 0 0 0 0 0 0 1462 239 1313
2 Rinhat 4079 750 0 0 0 0 0 0 3272 1760 2409
3 Wewiku 5230 878 0 5 0 0 0 0 1225 145 2494
4 Weliman 5155 731 0 5 0 0 0 0 1457 688 2451
5 Sasita Mean 1439 1265 0 0 0 0 0 0 1232 473 585
6 Io Kufeu 2323 1451 0 0 0 0 0 0 425 150 129
7 Botin Leobale 1439 482 0 0 0 0 0 0 934 643 478
8 Malaka Timur 2528 1292 0 0 0 0 0 0 1561 823 498
9 Laen manen 3216 1430 0 0 0 0 0 0 794 54 864
10 Kobalima 4201 1849 0 5 0 0 0 0 4444 1120 289
11 Kobalima Timur 1725 634 0 0 0 0 0 0 1231 374 611
12 Malaka Tengah 9202 2931 0 42 0 0 0 0 3674 498 2303
Sumber : Kabupaten Malaka Dalam Angka Tahun 2015 dan Dinas Kesehatan Tahun 2015
Tabel 2.12
Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan AirLimbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/
Kapasitas
Kondisi
Keterangan Berfungsi Tidak
Berfungsi
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii)
SPAL Setempat (Sistem Onsite)
1 Berbasis Komunal
- MCK Komunal unit 57 57 0 Baik
2 Truk Tinja unit 0 0 0 Tidak ada
3 IPLT: kapasitas M3/hari 0 0 0 Tidak ada
SPAL Terpusat (Sistem Offsite)
1 Berbasis Komunal - Tangki Septik
Komunal >10KK Unit 0 0 0 Tidak ada
- IPAL Komunal Unit 0 0 0 Tidak ada
2 IPAL
Kawasan/Terpusat
- Kapasitas M3/hari 0 0 0 Tidak ada
- Sistem - 0 0 0 Tidak ada
Sumber : Dinas PU Cipta Karya Tahun 2015