SEBAGAI IBU RUMAH TANGGA DAN DUKUN URUT (PIJAT)
(Studi di Kampung Nagrog Desa Pengasinan Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh
SEVI NUR JANNAH 11170150000084
PROGRAM STUDI TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “Peran Ganda Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga dan Dukun Urut (Pijat)” disusun oleh Sevi Nur Jannah, NIM 11170150000084, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqosah pada tanggal 03 Februari 2022 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh Sarjana S1 (S.Pd.) dalam bidang Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial konsentrasi Sosiologi.
Sawangan, 3 Februari 2022 Panitia Ujian Munaqosah
LEMBAR PERNYATAAN UJIAN REFERENSI
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Sevi Nur Jannah
NIM : 11170150000084
Program Studi : Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial
Alamat : Kp. Cibarengkok Rt 01/03 No. 98 Pengasinan, Gunung Sindur, Kab. Bogor, Jawa Barat.
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa skripsi yang berjudul: Peran Ganda Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga Dan Dukun Urut (Pijat) di Kampung Nagrog Desa Pengasinan Kec.
Gunung Sindur Kab. Bogor adalah benar hasil karya sendiri dibawah bimbingan dosen:
Nama Pembimbing I : Dr. Muhammad Arif, M.Pd.
NIP : 19700606 199702 1 002
Nama Pembimbing II : Dr. H. Nurochim, MM.
NIP : 19590715 1984 03 1003
Sawangan, 19 Januari 2022
i
ABSTRAK
Sevi Nur Jannah (11170150000084), Peran Ganda Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga Dan Dukun Urut (Pijat) di Kampung Nagrog Desa Pengasinan Kec. Gunung Sindur Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Skripsi pada Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021.
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui latar belakang peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat), (2) untuk mengetahui gambaran peran ganda (aktivitas) yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat), dan (3) untuk mengetahui dampak peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
Jenis penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang mana peneliti berupaya untuk menggali gambaran pengalaman informan mengenai peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang perempuan menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) yaitu karena a) Faktor ekonomi, b) Faktor keturunan, c) bisa sambil mengurus keluarga/rumah. Peran ganda (kegiatan/aktivitas) yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) diantaranya yaitu meliputi a) perempuan sebagai ibu rumah tangga (domestik), seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan menyiapkan keperluan anak dan suami, b) perempuan sebagai dukun urut (pijat) (publik), seperti mengurut pasien, selain itu juga dapat mengerok, memandikan bayi, dan membuat ramuan (popol/sapih dan resep tradisional). Sedangkan dampak yang dialami oleh perempuan yang menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) yaitu a) dampak positif, meliputi dampak ekonomi yakni bertambahnya penghasilan keluarga, dampak sosial meliputi mudah dikenal di masyarakat , b) dampak negatif, meliputi dampaknya terhadap kesehatan yakni badan lebih rentan sakit, lelah, letih dan lesu, serta dampak terhadap beban kerja ganda yang ditanggung.
Kata Kunci: Peran Ganda, Perempuan, Ibu Rumah Tangga, Dukun Urut (Pijat).
ii
ABSTRACT
Sevi Nur Jannah (11170150000084), The Dual Role of Women as Housewives and Urut Shamans (Massage) in Kampung Nagrog, Pengasinan Village, Kec. Mount Sindur Kab. Bogor, West Java, Indonesia.
Undergraduate Thesis at the Tadris Department of Social Sciences, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, State Islamic University of Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021.
The purpose of this study was (1) to find out the background of the dual role of women as housewives and urut shamans (massage), (2) to find out the description of the dual roles (activities) undertaken by women as housewives and urut shamans (massage), and (3) to find out the impact of dual roles on women as housewives and urut shamans (massage).
This type of research was included in qualitative research with a phenomenological approach where researcher seeks to explore the description of the informants' experiences about the dual role of women as housewives and urut shamans (massage).
The results of this study show that women’s backgrounds undergo a dual roles as housewives and urut shamans (massage) are due to a) economic factors, b) hereditary factors, c) can while taking care of the family/home. The dual roles (activities/activities) undertaken by women as housewives and urut shamans (massage) include a) women as housewives (domestic), such as cooking, washing, cleaning the house, and preparing the needs of children and husbands, b) women as urut shamans (massage) (public), such as massaging patients, in addition can also slit, bathe babies, and make potions (popol/sapih and traditional recipes).
While the impacts experienced by women who carry out dual roles as housewives and urut shamans (massage) were a) the positive impacts, including the economic impacts of increasing family income, social impacts include easily known in the community, b) the negative impacts, including the impacts on health. namely the body is more susceptible to illness, fatigue, tiredness and lethargy, and the impact on the double workload borne bye the community
Keywords: Dual Roles, Women, Housewives, Urut Shamans (Massage).
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah indahnya hidup sehingga penulis dapat menyusun Skripsi dengan judul “Peran Ganda Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga Dan Dukun Urut (Pijat)”. Shalawat beserta salam juga di sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan syafaatnya kepada Nabi Muhammad dan kepada kita semua, Amin ya robbal’alamin.
Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada program Strata-1 di Program Studi Tadris IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam melakukan penyusunan Skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak terkait, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Hj. Amnay Burhanuddin Lubis, M.A., selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Sururin M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Irwan Purwanto, M.Pd, Kepala Jurusan Program Studi Tadris IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Andri Noor Ardiansyah, M.Si, Sekretaris Jurusan Program Studi Tadris IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Dr. Muhammad Arief, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing I yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran, saran, serta dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
iv
6. Bapak Dr. H. Nurochim, MM, selaku Dosen Pembimbing II yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran, saran, serta dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini
7. Seluruh dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Khususnya yang ada di jurusan Pendidikan IPS yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pemahaman kepada penuli selama menjalani proses perkuliahan.
8. Seluruh staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Staf Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan kemudahan dalam pembuatan surat-surat dan sertifikat.
9. Kepada orang tua penulis yang luar biasa yang selalu mendukung, sabar dan turut mendoakan untuk kemudahan anaknya beserta seluruh keluarga yang sangat aku cintai
10. Kakak-kakak penulis yang telah banyak memotivasi serta memberikan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini.
11. Para sepupu diantaranya mela, dini, egis, farid, aji dan saudara-saudara yang lain yang sudah sangat baik hati yang senantiasa membantu penulis melakukan penelitian dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Masyarakat Kampung Nagrog Desa Pengasinan yang telah membantu dan menyambut baik penulis dalam melakukan penelitian dan pengambilan data.
13. Teman-teman jurusan Sosiologi Pendidikan IPS yang senantiasa mendukung dan membantu penulis dan sangat terbuka terhadap penulis.
14. Anggota Himpunan Mahasiswa Receh yang senantiasa selalu mendukung dan menghibur penulis.
15. Teman-teman jurusan Pendidikan IPS Angkatan 2017, yang juga banyak memotivasi penulis dan juga membantu dalam berbagai hal.
16. Serta semua pihak yang telah tidak dapat disebutkan disini yang sudah membantu dan memberikan kemudahan serta kelancaran kepada penulis dalam menyusun penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tercapainya kesempurnaan dan perbaikan dalam Laporan Skripsi ini sehingga
v
akhirnya Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna di segala bidang, terutama dalam bidang pendidikan dan siapa saja yang membacanya.
Sawangan, 19 Januari 2022
Penulis
vi
DAFTAR ISI
PERAN GANDA PEREMPUAN SEBAGAI IBU RUMAH TANGGA DAN DUKUN URUT (PIJAT)
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
LEMBAR PERNYATAAN UJIAN REFERENSI SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Perumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II ... 8
KAJIAN TEORI ... 8
A. Kajian Teori ... 8
1. Peran Ganda Perempuan ... 8
a. Pengertian Perempuan ... 8
b. Pengertian Peran Ganda pada Perempuan ... 8
c. Macam-Macam Peran Ganda pada Perempuan ... 10
vii
d. Faktor Penyebab Terjadinya Peran Ganda pada Perempuan ... 11
e. Dampak Atau Akibat Peran Ganda pada Perempuan ... 12
2. Dukun Urut (Pijat) ... 13
a. Pengertian Dukun ... 13
b. Sumber atau Asal Dukun ... 16
c. Perbedaan Dukun Dulu dan Sekarang ... 17
d. Dukun Urut (Pijat) ... 18
3. Teori Struktural Fungsional ... 22
B. Hasil Penelitian Relevan ... 27
C. Kerangka Berpikir ... 31
BAB III ... 33
METODOLOGI PENELITIAN ... 33
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33
B. Latar Penelitian (Setting) ... 35
C. Metode Penelitian ... 36
D. Fokus Penelitian ... 37
E. Subjek dan Objek Penelitian ... 38
F. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 39
G. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ... 45
H. Analisis Data ... 47
BAB IV ... 49
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 49
A. Deskripsi Data ... 49
1. Latar belakang peran ganda pada perempuan sebagai dukun urut (pijat) dan ibu rumah tangga ... 50
2. Peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) ... 57
3. Dampak peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) ... 66
B. Pembahasan ... 70
C. Keterbatasan Penelitian ... 81
viii
BAB V ... 82
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 82
A. Kesimpulan ... 82
B. Implikasi ... 83
C. Saran ... 84
DAFTAR PUSTAKA ... 85
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 90
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Relevan ... 27
Tabel 3.1. Waktu Penelitian ... 35
Tabel 3.2. Pedoman/Kisi-Kisi Wawancara ... 40
Tabel 3.3. Pedoman/Kisi-Kisi Observasi ... 44
Tabel 3.4. Kisi-Kisi/Pedoman Dokumentasi ... 45
Tabel 4.1 Rincian Narasumber ... 49
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir ... 32
Gambar 3.1. Peta Desa Pengasinan ... 33
Gambar 3.2. Data Kependudukan Kampung Nagrog Desa Pengasinan Tahun 2021 ... 34
Gambar 3.3. Wilayah Kampung Nagrog Desa Pengasinan berdasarkan Google Maps ... 36
Gambar 4.1. Hasil penelitian faktor/latar belakang perempuan menjalani peran ganda sebagai ibu rumah yang dan dukun urut (pijat) ... 51
Gambar 4.2. Hasil penelitian kegiatan/aktivitas perempuan yang menjalani peran ganda sebagai sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) ... 57
Gambar 4.3 foto ketika ibu Suhaenah sedang menyapu lantai ... 58
Gambar 4.4 foto ketika Ibu Eti sedang menjemur pakaian ... 59
Gambar 4.5 foto ketika Ibu Eneng sedang memasak di dapur ... 60
Gambar 4.6 foto ketika ibu Adah sedang mengepel lantai ... 61
Gambar 4.8 foto ketika ibu Suhaenah sedang memijat kaki pasien yang keseleo . 62 Gambar 4.9 foto ketika Ibu Eti mengurut dan mengerik pasien anak-anak ... 63
Gambar 4.10 foto ketika Ibu Eneng sedang mengurut balita ... 64
Gambar 4.11 foto ketika ibu Adah memijat kaki pasien ... 65
Gamber 4.7. Hasil penelitian dampak perempuan yang menjalani peran ganda sebagai ibu rumah yang dan dukun urut (pijat) ... 67
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Uji Referensi ... 91
Lampiran 2. Transkrip Wawancara ... 98
Lampiran 3. Lembar Observasi ... 124
Lampiran 4 Dokumentasi ... 129
Lampiran 5. Surat Bimbingan Skripsi ... 134
Lampiran 6. Surat Izin Penelitian... 135
Lampiran 7. Biografi Penulis ... 137
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu Negara dengan penduduk terbanyak serta memiliki budaya yang sangat beragam. Hal ini tentu saja dapat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, segala aktivitas manusia mengalami perubahan dan perkembangan, tidak terkecuali dalam bidang ekonomi, khususnya dalam sektor pekerjaan.
Kemajuan teknologi yang semakin pesat ini juga menyebabkan beberapa jenis pekerjaan berubah dan berkembang. Hal ini dikarenakan tingkat kreativitas dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terus berkembang dan beragam, sehingga dibutuhkan suatu inovasi atau perubahan yang dapat membantu masyarakat untuk dapat beradaptasi dan bertahan mengikuti perubahan zaman.
Banyak pekerjaan yang berubah dan digantikan oleh teknologi, sehingga melahirkan jenis pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya, namun banyak juga pekerjaan yang tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat nenek moyang. Hal ini juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakatnya.
Pada era modernisasi dan globalisasi seperti sekarang ini, perempuan senantiasa dapat aktif dan turut andil dalam berbagai bidang yang ada di masyarakat. Perempuan yang pada awalnya hanya dapat bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga, lambat laun berkembang dan berubah hingga dapat bekerja dan berkecimpung dalam dunia kerja, sejajar dengan laki-laki. Seiring dengan perkembangan zaman ini, terjadilah perubahan paradigma terhadap perempuan terkait peran dan tugasnya dalam keluarga sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja di dalam masyarakat. Hal itu menyebabkan perempuan memiliki dua peran sekaligus, yakni perempuan ibu rumah tangga (domestik)dan perempuan pekerja (publik).
Posisi perempuan yang saat ini semakin mendapat ruang dan tempat di dunia kerja, menyebabkan mulai banyaknya perempuan yang turun dan berkecimpung ke ranah publik. Peran dan pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga kemudian terus berubah dan berkembang, termasuk diantaranya dalam hal meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pada dasarnya, yang menjadi tulang punggung keluarga adalah suami atau laki-laki, namun seiring perkembangan zaman dan adanya kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, akhirnya perempuan dituntut untuk turut aktif dalam membantu perekonomian keluarganya. Namun demikian, peran dan tanggung jawab perempuan tidak dapat dilepaskan dari kodratnya sebagai seorang ibu rumah tangga, meskipun begitu perempuan dapat mandiri dan dianggap sebagai makhluk sosial budaya dapat memainkan perannya sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja di luar rumah. Hal ini biasa terjadi pada keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, dimana perempuan terdorong dan turut serta dalam meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga dengan bekerja, salah satunya sebagai Dukun Urut (Pijat).
Dukun merupakan salah satu jenis pekerjaan informal yang cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Dukun merupakan orang yang dapat menolong, mengobati dan memberi bantuan dengan cara memberi jampi atau ramuan tertentu yang dapat berasal dari alam dengan sedikit mantra (doa dan sebagainnya) yang diucapkan ketika proses menyembuhkan si pasien.1 Dukun ini terbagi menjadi dua, yakni dukun putih dan dukun hitam. Adapun berdasarkan pernyataan Geertz, dukun dalam masyarakat terbagi menjadi beberapa macam tergantung pada pembagian kerja, seperti : dukun beranak (bayi), dukun urut (pijat), dukun sihir, dukun jampi, dukun duduk, dukun calak (orang yang memiliki kemampuan atau ilmu untuk meng-khitan), dan sebagainya. Pembagian jenis dukun ini dilihat dari beberapa spesialis tertentu dan kemampuan tertentu. Terdapat dukun yang memiliki semua kemampuan atau spesialis, namun ada juga yang hanya dapat memiliki 1 keahlian atau spesialis saja. Sehingga, dukun dapat merangkap dan
1 Arwani Ilyas, Paradigma Masyarakat Tentang Dukun (Melacak Peran dan Posisi Dalam Struktur Sosial Politik dan Ekonomi Masyarakat), Jurnal Kontemplasi, 6, 2017, h. 310.
melakukan berbagai jenis pekerjaan, terkecuali dukun beranak (bayi). Karena spesialis atau kemampuan dukun beranak hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, khususnya perempuan dengan segala jenis pengetahuan dan kesabaran yang dimiliki yang kemudian diberikan kepada sang bayi dan ibunya.2 Namun, banyak juga perempuan yang memiliki kemampuan dan spesialis tertentu yang bekerja sebagai dukun urut (pijat).
Dukun urut (pijat) berbeda dengan terapis. Pada dasarnya dukun urut (pijat) ini banyak dilakukan dan dikerjakan oleh laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan perempuan juga dapat melakukannya. Contohnya terdapat pula beberapa perempuan yang bekerja sebagai dukun dan memiliki spesialis atau kemampuan khusus untuk menangani dan mengobati bayi.3 Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi perubahan paradigma terhadap perempuan terkait peran dan tugasnya dalam keluarga sebagai ibu rumah tangga maupun dalam masyarakat.
Sebenarnya, pada era globalisasi dan modernisasi ini cukup banyak perempuan yang bekerja di berbagai bidang yang digeluti oleh laki-laki.
Berdasarkan kenyataan tersebut, tidak ada lagi tempat dimana perempuan tidak dapat bekerja. Meskipun demikian, tidak banyak perempuan yang bekerja sebagai dukun, khususnya bekerja sebagai dukun urut (pijat). Terlebih perempuan yang menjalankan dua peran sekaligus, yakni sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai dukun urut (pijat). Tidak mudah bagi perempuan bekerja sebagai dukun urut (pijat), hal tersebut dikarenakan perlunya tenaga atau otot yang kuat serta ilmu/pengetahuan yang cukup dan kemampuan mengobati yang memumpuni untuk mengobati dan membantu pasien. Di samping itu juga dibutuhkan usaha yang konsisten dan ilmu yang mendukung untuk menjadi seorang dukun urut.
Ditambah dengan perannya sebagai ibu rumah tangga yang juga mengurus keluarga dan rumah serta perannya sebagai dukun urut (pijat) yang mengobati/mengurut pasien. Tidak menutup kemungkinan pula, terdapat dampak yang dihadapi dan diterima oleh perempuan yang menjalani dua peran sekaligus
2 Ibid.
3 Ibid.
tersebut, sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai dukun urut (pijat).
Meskipun demikian, cukup banyak perempuan yang bekerja sebagai dukun urut (pijat).
Adanya perempuan yang bekerja sebagai dukun urut (pijat) ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor dan kondisi yang mengharuskan mereka bekerja dan berprofesi sebagai seorang dukun urut (pijat). Adanya fenomena yang terjadi dan dialami oleh perempuan yang bekerja sebagai dukun, khususnya dukun urut (pijat) yang ada di Kampung Nagrog Desa Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor menyebabkan peneliti tertarik dan ingin membahas lebih dalam terkait fenomena tersebut. Peneliti juga melihat bahwa cukup banyaknya perempuan sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai dukun urut (pijat) di daerah ini, sehingga perlu adanya kajian dan pembahasan lebih lanjut.
B. Identifikasi Masalah
Berikut adalah beberapa masalah yang ditemui berdasarkan latar belakang masalah di atas, diantaranya yaitu:
1. Banyak jenis pekerjaan yang berubah dan berkembang di masyarakat seiring adanya perkembangan zaman.
2. Terjadi perubahan paradigma terhadap perempuan terkait peran dan tanggung jawabnya dalam keluarga sebagai ibu rumah tangga dalam masyarakat
3. Adanya partisipasi aktif perempuan baik di dalam rumah tangga (domestik) maupun di luar rumah tangga (publik)
4. Berkembangnya beban kerja ganda pada perempuan ibu rumah tangga 5. Terdapat perempuan yang bekerja sebagai dukun urut (pijat)
6. Adanya perempuan yang menjalani peran ganda sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus sebagai dukun urut (pijat) di Kampung Nagrog
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu:
1. Berkembangnya beban kerja ganda pada perempuan ibu rumah tangga 2. Terdapat perempuan yang bekerja sebagai dukun urut (pijat)
3. Adanya perempuan yang menjalani peran ganda sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus sebagai dukun urut (pijat) di Kampung Nagrog
D. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitiannya berdasarkan pembatasan masalah di atas adalah:
1. Apa yang melatarbelakangi terjadinya peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat)?
2. Bagaimana peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat)?
3. Apa saja dampak peran ganda yang terjadi pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat)?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui latar belakang perempuan menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
2. Untuk mengetahui peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
3. Untuk mengetahui dampak peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Untuk mengetahui dan menggambarkan peran ganda pada perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) yang nantinya diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi ilmu pengetahuan yang dapat berguna dan bermanfaat bagi mahasiswa, masyarakat maupun pihak terkait lainnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Lembaga Akademis/Pendidikan:
Menjadi bahan informasi dalam rangka pengembangan IPTEK serta sebagai sumbangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam rangka menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
b. Bagi Mahasiswa :
Diharapkan dapat menambah dan memperbanyak khazanah ilmu pengetahuan dan sebagai sumbangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat serta sebagai bahan literatur ataupun acuan untuk menambah wawasan bagi mahasiswa, khususnya terkait peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) bagi mahasiswa Jurusan Tadris IPS maupun yang lainnya.
c. Bagi Peneliti:
Sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan yang dimiliki peneliti dan sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam melakukan suatu kajian yang bersifat ilmiah yang diharapkan dapat memperbanyak khasanah ilmu pengetahauan bagi peneliti sendiri, khususnya yang berkaitan dengan peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat).
d. Bagi Masyarakat:
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi masyarakat, terutama mengenai peran ganda yang dijalani oleh perempuan sebagai ibu rumah tangga dan dukun urut (pijat) yang nantinya dapat
menambah wawasan dan sebagai bahan literature bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat Kampung Nagrog Desa Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Peran Ganda Perempuan a. Pengertian Perempuan
Perempuan memiliki akar kata tersendiri. Perempuan berasal dari kata per-empu-an yang memiliki arti ahli atau mampu.1 Perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui;.2 Kata perempuan cenderung digunakan dalam rangka melambangkan perempuan dalam menjalankan perannya yang tidak hanya berada di ranah domestik, namun juga di ranah publik. Sedangkan kata wanita, lebih banyak digunakan untuk melambangkan yang perannya berada di ranah domestik.3
Kata perempuan yang secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa, ataupun kepala, hulu, atau yang paling besar. Sudarti dan D. Jupriono juga menulis bahwa dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi—tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki.4 Jadi, perempuan merupakan individu atau manusia yang dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan
1 Atikah Nur Azzah Fauziyyah, Mengembalikan Makna Kata “Perempuan”, 2019,
(https://amanat.id/mengembalikan-makna-kata-perempuan/), diakses pada tanggal 7 Januari 2022 pukul 01:02 WIB.
2Kamus Besar Bahasa lndonesia (Online), (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/perempuan), Diakses pada 31 Desember 2021 pukul 15.05
3 Wahyu Septiani, Kata Mana yang Sebaiknya Digunakan: Wanita atau Perempuan?, 2021, (https://www.dewimagazine.com/news-art/kata-mana-yang-sebaiknya-digunakan-wanita-atau- perempuan), 7 Januari 2022 pukul 01:22 WIB.
4 Siti Parhani, Antara Wanita dan Perempuan, Apa Bedanya?, 2021,
((https://magdalene.co/story/antara-wanita-dan-perempuan-apa-bedanya), diakses pada tanggal 7 Januari 2022 pukul 01:05 WIB.
menyusui. Perempuan dalam rumah tangga biasanya identik dengan sebutan istri atau ibu.
b. Pengertian Peran Ganda
Peran adalah bagian yang dimainkan seseorang pada setiap keadaan dan cara bertingkah laku untuk menyelaraskan diri dengan keadaan (Tobing, 2009). Peran merupakan bagian yang dinamis dari kedudukan (status) seseorang.5 Peran diartikan sebagai salah satu kodrat yang melekat pada diri seseorang, khususnya pada diri seorang perempuan sejak dulu kala.
Dalam teori sosial Parson, peran sendiri didefinisikan sebagai harapan-harapan yang diorganisasi terkait dengan konteks interaksi tertentu yang membentuk orientasi motivasional individu terhadap yang lain.6 Dengan adanya pola-pola budaya ataupun contoh perilaku tersebut, seseorang belajar tentang siapa mereka dan bagaimana mereka bertindak terhadap orang lain (John Scott, 2011:228).7
Jadi, dapat disimpulkan bahwa peran merupakan aspek dinamis yang melekat pada seseorang dalam situasi sosial tertentu yang dilakukan cara menyesuaikan atau memposisikan dirinya dengan keadaan tersebut yang ada di masyarakat yang dipengaruhi oleh seperangkat harapan orang lain kepada yang bersangkutan.
Adapun pembagian peran menurut tujuannya yaitu:8
1) Peran domestik, merupakan kegiatan atau bagian yang dimainkan oleh seseorang yang dikhususkan di dalam rumah tangga yang tidak menghasilkan penghasilan, yang mana perannya hanya mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan rumah tangga saja.
2) Peran publik, merupakan kegiatan atau bagian yang dimainkan oleh seseorang yang dilakukan di luar rumah tangga yang tujuannya untuk mendapatkan atau memperoleh penghasilan.
5 Samsidar, Peran Ganda Wanita dalam Rumah Tangga, Jurnal An Nisa’, 12, 2019, h. 657.
6 Indah Ahdiah, Peran-Peran Perempuan Dalam Masyarakat, Jurnal Academica Fisip Untad, 05, 2013, h. 1087.
7 Ibid.
8 Ibid., h.658.
Sedangkan pembagian peran yang ada didalam masyarakat, diantaranya yaitu;9
1) Peran produktif, merupakan kegiatan kerja atau aktivitas yang dilakukan guna menghasilkan pendapatan dalam bentuk uang guna mencukupi kebutuhan hidup.
2) Peran reproduktif, merupakan kegiatan kerja yang dilakukan guna menghasilkan keturunan atau menjamin kelangsungan hidup manusia.
Menurut Michelle et al (Sisca Pratiwi, 2012:10) peran ganda disebutkan dengan konsep dualisme cultural 10yakni terkait adanya persepsi dalam lingkungan atau ruang domestik maupun publik. Artinya, perempuan yang berperan ganda (dualisme cultural) memiliki citra atau konsep dengan lingkungan domestic maupun public dalam masyarakat. Dimana peran domestik berkaitan dengan peran dan tugasnya sebagai seorang istri, ibu dan pengelola rumah tangga. Sedangkan peran publik berkaitan dengan peran dan tugasnya sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat maupun organisasi masyarakat. Dalam peran publik ini, perempuan turut aktif sebagai tenaga kerja dalam kegiatan perekonomian (pencari nafkah) di berbagai bidang dan kegiatan yang sesuai dengan keterampilan, pendidikan serta lapangan pekerjaan yang tersedia.
Peran ganda sendiri diartikan sebagai dua peran atau lebih yang dijalankan dan dikerjakan dalam waktu yang bersamaan (di ranah domestik maupun publik). Dimana dalam konteks ini, peran yang dimaksud adalah peran perempuan sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak- anaknya (domestik), maupun perannya sebagai perempuan didalam masyarakat yang bekerja di luar rumah tangga (publik). Peran ganda ini merupakan peran yang dijalani secara bersamaan dengan peran tradisional kaum perempuan sebagai istri dan ibu dalam keluarga, yang tugas dan perannya seperti menjadi rekan kerja ataupun teman bagi para suami dalam
9 Ibid.
10 Eka Puspitasari, “Peran Ganda Perempuan Pada Ibu Bekerja Di Desa Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta” skripsi pada program studi pendidikan luar sekolah Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2016, h. 14, tidak dipublikasi.
membina rumah tangga, dan menyediakan kebutuhan untuk rumah tangga, serta mengasuh dan mendidik anak-anak.11
Terjadinya peran ganda yang dialami oleh kaum perempuan, berasal dari adanya pembagian kerja yang didasarkan dari jenis kelamin yang dikenal dengan orientasi gender. Gender sendiri menyakinkan bahwa perbedaan yang ada pada laki-laki maupun perempuan diarahkan secara sosial dan kultural, oleh karenanya dikenal perbedaan ciri-ciri sifat laki-laki dan perempuan.
Dimana laki-laki memiliki ciri sifat yang maskulin dengan pembawaan yang kuat dan tegas. Sedangkan perempuan dicirikan dengan sifat yang feminim, emosional, penyayang dan lemah lembut. Jadi, berdasarkan paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peran ganda perempuan merupakan peran yang dilaksanakan dan dikerjakan oleh kaum perempuan sebagai suatu aktivitas yang beragam yang dilakukan secara bersamaan. Artinya, perempuan memiliki dualisme peran dalam kehidupan sehari-harinya yakni dalam ruang domestic dan publik, yang bukan hanya terdiri dari satu atau dua aktivitas saja, melainkan beberapa aktivitas yang dilakukan secara bersamaan.
c. Macam-Macam Peran Ganda Pada Perempuan
Pada dasarnya perempuan sendiri di dalam keluarga mempunyai beberapa peran, diantaranya yakni peran perempuan sebagai ibu rumah tangga (domestik) dan peran perempuan sebagai pencari nafkah (publik).12
1) Peran perempuan sebagai ibu rumah tangga (Domestik)
Peran Perempuan dalam keluarga merupakan peranan yang dilaksanakan karena posisinya sebagai istri dan ibu dari anak-anak yang ada didalam masyarakat. Adapun peran perempuan didalam keluarga sebagai ibu rumah tangga diantaranya yaitu : a) menjaga keluarganya agar tentram, bahagia, dan sejahterah, b) memasak, mengurus keperluan rumah
11 Mas Muhammad Ridwan. “Peran Ganda perempuan Dalam Keluarga Sebagai Buruh Pabrik Dan Ibu Rumah Tangga Di Desa Berbek Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo”. Skripsi Program Studi Sosiologi IAIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, 2012, h. 9, tidak dipublikasi.
12 Ibid.
tangga, mencuci, mengurus dan mendidik anak, serta melayani kebutuhan biologis suaminya.
2) Peran perempuan sebagai pencari nafkah (Publik)
Adapun peran perempuan sebagai pencari nafkah pada saat ini tidak hanya terbatas pada saat memasak, mengurus keperluan rumah tangga, mencuci, mengurus dan mendidik anak, serta melayani kebutuhan biologis suaminya dan lain sebagainnya, tetapi juga berperan dalam mencari nafkah. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi dan kebutuhan keluarga serta untuk mensejahterakan keluarganya.
Secara umum, setelah menikah perempuan biasanya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga, namun jika terdapat pula perempuan yang bekerja untuk mencari nafkah. Adanya perempuan yang bekerja dalam keluarga bukan berarti perempuan tersebut lari dari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Seiring dengan adanya perkembangan zaman, banyak perempuan yang memiliki kompetensi dan kemampuan yang tinggi untuk bekerja sesuai dengan bidangnya. Hal tersebut dilakukan guna mensejahterakan keluarga, mencari nafkah ataupun mendorong perekonomian rumah tangga serta meningkatkan pendapatan keluarga dengan tetap menyesuaikan berbagai nilai-nilai dan norma yang dianut dan berlaku di masyarakat. Terlebih jika keluarga tersebut berada dalam ekonomi kelas menengah ke bawah, maka lazim ditemukan perempuan yang memiliki peran ganda.
d. Faktor Pendorong Terjadinya Peran Ganda Pada Perempuan
Adanya peran ganda yang dimiliki oleh seorang perempuan di dalam keluarga menyebabkan adanya tuntutan bahwa perempuan tersebut harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang mana seringkali menghadapi berbagai rintangan dan tekanan dari masyarakat. Herawati (Sisca Pratiwi, 2012:12) memaparkan bahwa semakin tinggi jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah (publik) dapat diakibatkan karena munculnya tuntutan ekonomi dalam keluarga, meningkatnya pendidikan, terbukanya kesempatan
kerja bagi perempuan dan teknologi yang semakin maju. Sedangkan Huzaemah T Yanggo (Heri Purwanto, 2010:29), motivasi yang mendorong perempuan terjun ke dunia kerja antara lain:13
1) Tingkat pendidikan
2) Keadaan dan kebutuhan yang mendesak 3) Kondisi perekonomian
4) Mencari kekayaan 5) Mengisi waktu luang
6) Mencari hiburan dan ketenangan
7) Mengembangkan kemampuan dan potensi (bakat).
Adapun beberapa faktor yang mendorong perempuan sebagai seorang ibu dan istri bekerja di luar rumah yakni :14
1) Kebutuhan finansial atau ekonomi 2) Kebutuhan sosial-rasional
3) Kebutuhan aktualisasi diri, seperti : Mengisi waktu luang, Mencari hiburan dan ketenangan, Mengembangkan kemampuan dan potensi (bakat).
e. Dampak atau Akibat Adanya Peran Ganda Pada Perempuan
Pada kenyataannya, menjadi seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai perempuan karir tidak mudah, mereka memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar. Perempuan sebagai seorang ibu rumah tangga harus menjalankan dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan keluarga, begitupun perempuan yang juga bekerja sebagai pekerja di luar rumah juga harus memenuhi dan menjalankan tugasnya sesuai dengan prosedur yang harus dikerjakan. Kedua hal tersebut harus dijalankan dengan seimbang. Apabila kedua hal tersebut tidak dapat berjalan dengan baik dan seimbang, maka akan berdampak bagi diri sendiri
13 Ibid., h.15-16.
14 Vivi Miranti, “Peran Ganda Ibu Rumah Tangga Pedagang Kue Tradisional di Pasar Doping Kelurahan Doping Kecamatan Penrang Kabupaten Wajo”, Skripsi pada program sarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, Makassar, 2019, h. 18-19, tidak dipublikasi.
maupun lingkungan sekitarnya (lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja).
2. Dukun Urut (Pijat) a. Pengertian Dukun
Dalam bahasa Arab, dukun disebut Al-kaahin, kemudian perbuatannya disebut sebagai Kahanah (perdukunan). Dalam bahasa Inggris dukun disebut dengan Clairvoyant (dukun/tabib) yang berarti penyembuh penyakit, hingga Psychic (cenayang/peramal) yang mana tergantung pada keahlian dan bidangnya masing-masing.15
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dukun diartikan sebagai orang yang dapat mengobati, menolong orang sakit ataupun memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna). Sedangkan menurut Heru S.P. Saputra dalam glosari buku Memuja Mantra, dukun memiliki arti sebagai orang yang mempunyi Ngelmu gaib yang didapatkan dengan cara laku mistik yang dimanfaatkan untuk membantu atau menolong orang yang membutuhkan bantuan.16
Dukun merupakan orang ahli yang mampu berhubungan dengan roh.
Adapun menurut Badruddin Hsubky, dukun diartikan sebagai orang yang membantu orang yang sedang berada dalam kesusahan, memudahkan urusan, meramal sesuatu atau nasib, mengobati orang yang sakit ataupun membantu orang bersalin.17 Jadi, dapat disimpulkan bahwa dukun merupakan orang yang memiliki ilmu dan kemampuan untuk membantu, menolong serta mengobati orang lain dengan memberi jampi (doa, mantra, maupun guna-guna) ataupun ramuan tertentu kepada orang yang membutuhkan.
15 Desi Kurnia Sari, “Pemahaman Masyarakat Muslim Tentang Perdukunan Di Kampung I Desa Tembung”, Skripsi pada program Sarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, 2018, h. 20, tidak dipublikasi.
16 Arwani Ilyas, op.cit., h. 311.
17 Liza Farlina, “Dukun Pengobatan di Kesamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci provisi Jambi”, Skripsi pada program Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2005, h. 12, tidak dipublikasi.
Dukun sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dulu kala. Dulu, dukun identic dengan pakaian hitam, kemenyan, serta tinggal di gubuk tengah hutan dengan mantra-mantranya. Namun seiring perkembangan zaman, lambat laun dukun di zaman modern tidak demikian.
Dukun bisa saja berpakaian putih ataupun bercelana jeans, tinggal di rumah mewah dan bagus bahkan juga bisa mengisi acara di televisi.18
Berdasarkan pada praktik dan penampilannya, dukun dibedakan menjadi 2 yaitu dukun putih dan dukun hitam. Dalam praktiknya, dukun putih digunakan untuk menolong orang, seperti melakukan penyembuhan atau pengobatan terhadap penyakit, mencari barang hilang dan sebagainnya.
Sedangkan untuk dukun hitam, dalam praktiknya yakni melakukan praktik- praktik atau kegiatan yang ditujukan untuk mencelakai orang, seperti dukun santet, dukun pele, gendam dan sebagainnya.19
Menurut Clifford Geertz dalam studinya terkait kebudayaan masyarakat jawa, dukun terbagi menjadi 12 jenis diantaranya yaitu20 : 1) dukun bayi (beranak), 2) dukun pijat (urut), 3) dukun prewangan (medium), 4) dukun calak (tukang khitan atau sunat), 5) dukun wiwit (orang yang ahli dalam upacara panen), 6) dukun temanten (orang yang ahli dalam upacara pernikahan atau perkawinan), 7) dukun petungan (orang yang ahli dalam meramal angka atau perhitungan), 8) dukun sihir (orang yang ahli dalam ilmu sihir), 9) dukun susuk (orang yang ahli dalam memasukkan dan menusukkan jarum emas di tubuh atau kulit), 10) dukun jampi (orang yang ahli dalam membuat ramuan dengan tumbuhan dan berbagai obat tradisional), 11) dukun siwer (orang yang ahli dalam membuang atau menunda kesialan alami), dan 12) dukun tiban (orang yang ahli dan memiliki kekuatan spiritual maupun temporer yang berasal dari masuk roh ke dalam tubuh).
18 Sodikin, Meski Beda Penampilan, Dukun Hitam Dan Dukun Putih Ternyata.., 2020, (https://www.islampos.com/meski-beda-penampilan-dukun-hitam-dan-dukun-putih-ternyata- 206865/), diakses pada tanggal 8 Januari 2020 pukul 08.46 WIB.
19 Ibid.
20 Arwani Ilyas, op.cit., h. 310-311
Geertz menjelaskan lebih jauh terkait profesi seorang dukun yang terbagi ke dalam 3 jenis, yakni21 :
1) Dukun priyayi, merupakan sosok dukun yang lebih dikenal dengan sebutan paranormal, yang mana dukun priyayi dapat membantu tokoh- tokoh priyayi dalam menjalankan roda pemerintahan, misalnya dengan menggunakan jimat yang senantiasa harus dibawa dan ditaruh ditempat yang diinginkan oleh pelaku.
2) Dukun santri, dikenal dengan sebutan kyai. Dukun santri ini sering menggunakan kalimat-kalimat maupun huruf yang ada dalam al-Qur’an, sebab dipercaya memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membantu dan menolong penggunanya. Sehingga segala cara dan teknik yang digunakan oleh dukun santri ini tidak berseberangan dengan ajaran maupun akidah Islam.
3) Dukun abangan, dun abangan memang dikenal sebagai dukun, dikarenakan orang yang berprofesi atau bekerja sebagai dukun abngan ini menggunakan prewangan sebagai alat bantu, serta melakukan puasa untuk mensucikan diri agar mendapatkan ilmu serta masih banyak lagi.
Di samping penjelasan di atas, terdapat pula dukun yang dapat menyakiti atau bahkan membunuh orang lain. Dukun ini ada dikarenakan adanya permintaan atau keinginan seseorang untuk melakukan hal tersebut, misalnya karena adanya dendam ataupun karena adanya keinginan untuk menghancurkan orang lain. Keberadaan dukun tersebut memang ada dan benar adanya, namun terlepas dari hal dukun merupakan ‘Orang Pintar’ yang keberadaannya masih ada dan dibutuhkan masyarakat.
Dukun merupakan profesi yang digeluti oleh seseorang yang berilmu yang diperoleh dengan cara belajar atau melakukan beberapa ritual seperti puasa, berguru ataupun bekerjasama dengan hal gaib seperti jin. Dukun pada dasarnya tidak memiliki tempat atau posisi yang tepat di masyarakat, sehingga ada yang menjadikan profesi atau pekerjaan ini sebagai sampingan namun ada juga yang menjadikannya sebagai profesi utama, hal ini dikarenakan orang
21 Ibid.
tersebut tidak memiliki keahlian lain ataupun pekerjaan lain sehingga menggantungkan dirinya sebagai seorang dukun.
Geertz menjelaskan dalam bukunya yang berjudul ‘Santri, Abangan Priyayi’, bahwa dukun tidak memiliki posisi yang jelas di masyarakat bahkan dengan beberapa stigma jelek yang mungkin oleh sebagian orang di diberikan kepadanya, dukun semakin tidak memiliki peran maupun posisi.22 Sehingga profesi dukun akan hilang dan digantikan oleh kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Namun pada kenyataanya, hal tersebut berbanding terbalik. Dukun memiliki eksistensi dan tempat tersendiri di dalam masyarakat. Sehingga dukun semakin menjamur dan memiliki posisi yang sentral di dalam masyarakat.
b. Sumber atau Asal Dukun
Beberapa hal yang membuat seseorang tertarik dan belajar untuk menggeluti dunia dari ilmu perdukunan antara lain23 :
1) Adanya warisan dari nenek moyang atau sesepuh secara turun temurun, 2) Adanya kemampuan yang diperoleh berupa Kasyaf, Ilham, Wangsit, atau
Renungan,
3) Adanya kemampuan yang diperoleh dan bersumber dari benda-benda pusaka yang keramat,
4) Adanya ketertarikan dan keinginan untuk menjalani ritual pemujaan kepada setan dan penyerahan tumbal demi sesuatu yang diinginkan,
5) Adanya ketertarikan dan keinginan untuk mengikuti kegiatan dan praktik perdukunan untuk mencari sesuatu atau manfaat tertentu,
6) Adanya dorongan atau kemampuan untuk mempelajari dan menjalani kemampuan sebagai seorang dukun untuk memenuhi kebutuhan hidup.
22 Ibid., h. 313.
23 Desi Kurnia Sari, Op.Cit., h. 39-40.
c. Perbedaan Dukun Dulu dan Sekarang
Dulu, dukun identic dengan pakaian hitam, kemenyan, serta tinggal di gubuk tengah hutan dengan mantra-mantranya. Namun seiring perkembangan zaman, lambat laun dukun di zaman modern tidak demikian.
Dukun bisa saja berpakaian putih ataupun bercelana jeans, tinggal di rumah mewah dan bagus bahkan juga bisa mengisi acara di televisi. 24
Perdukunan zaman dahulu berbeda dengan perdukunan zaman modern sekarang ini, dimana umumnya dukun zaman dahulu lebih banyak beroperasi di daerah pedalaman yang minim ilmu pengetahuan serta kurangnya pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Umumnya masyarakat yang mendatangi dukun adalah golongan yang tidak berilmu dan bertempat tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan atau kurangnya biaya untuk berobat ke pusat kesehatan. Bukan hanya itu, dukun zaman dahulu sangat mudah dikenali dengan penampilannya yang secara fisik atau zhahir berbeda, yang mana mereka tidak menerima imbalan atau tarif yang tinggi atau menerima sekedarnya tanpa ketentuan tarif atau harga. Bukan hanya itu saja, dukun zaman dulu tidak menjadikan profesi dukun sebagai mata pencaharian utama, mereka sangat memperhatikan dan menghargai norma dan nilai-nilai yang ada dalam praktek perdukunan.25
Sedangkan dukun zaman sekarang bekerja dan melakukan kegiatan perdukunan di kota-kota besar. Para pasiennya pun sebagian besar orang- orang yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas dan juga berpendidikan. Sebagian besar, tujuan mendatangi dukun adalah beragam dan untuk hal-hal yang menguntungkan diri sendiri, seperti memperoleh kekayaan, ketenaran, jabatan, kecantikan, dan sebagainya, sehingga dukun di zaman modern tidak hanya sebatas untuk berobat. Dukun zaman modern cukup sulit dikenali karena baik secara fisik maupun zhahirnya. Bahkan, dukun di zaman modern ini menetapkan tarif tertentu yang terkadang cukup memberatkan
24 Sodikin, Op.cit.
25 Desi Kurnia Sari, Op.cit., h. 40.
pasiennya. Dukun di era ini banyak menjadikan profesi dukun sebagai mata pencaharian atau penghasilan utama.26
d. Dukun Urut (Pijat)
Dukun yang menjadi fokus utama dalam kajian ini yaitu Dukun Urut (Pijat). Menurut Rismi menyatakan bahwa pijat sudah ada di Indonesia sejak zaman kerajaan dan perkembangan agama-agama yang mengurangi ajaran- ajaran animisme.27 Adapun menurut kursusrefleksi.com mengatakan bahwa banyak masyarakat yang mempercayai bahwa pijat tradisional merupakan suatu cara alami yang dilakukan untuk menyegarkan tubuh dari rasa lelah berlebih. Dan salah satu teknik yang digunakan adalah pijat tangan. Pijat jenis ini berasal dari zaman dahulu yang dibuktikan dengan adanya lukisan pijatan tangan dan kaki dari seorang dokter Mesir pada tahun 2330 SM (sebelum masehi).28 Pijat sendiri sering kali dikaitkan dengan istilah urut, sedangkan pelaku atau orangnya disebut dukun urut, tukang urut ataupun paraji yang melakukan pijatan untuk menyembuhkan penyakit.29 Urut atau pijat merupakan suatu aktivitas yang memberi tekanan pada anggota tubuh, terutama kulit, otot, dan juga urat dengan menggunakan beberapa teknik maupun metode tertentu.30 Sejak dahulu, pijat tradisional digunakan sebagai suatu terapi pilihan rakyat untuk mengatasi segala keluhan sakit dan nyeri yang diderita masyarakat.31
26 Ibid., h. 42.
27 Muhammad Fahmi Garna, Perancangan Media Melalui Buku Informasi Manfaat Pijat
Tradisional Untuk Kesehatan, 2016, ( https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/706/jbptunikompp-gdl- muhammadfa-35272-10-unikom_m-i.pdf), diakses pada tanggal 8 Januari 2022 pukul 09.56.
28 Ibid.
29 Anonim, Pijat Bayi di Tukan Urut, Boleh Engga Sih?, 2019,
(https://kumparan.com/kumparanmom/pijat-bayi-di-tukang-urut-boleh-enggak-sih- 1qr2eBbP63w/full), Diakses pada tanggal 7 Januari 2022 pada pukul 02.00 WIB.
30 Agnesia Aisha, Dr. Zaidul Akbar Jelaskan Manfaat bagi yang Menyukai Urut dan Pijat, 2021, (https://portaljember.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-162787105/dr-zaidul-akbar-jelaskan- manfaat-bagi-yang-menyukai-urut-dan-pijat), diakses pada tanggal 8 januari 2022 pukul 09.37 WIB.
31 Matsani, dkk., Pengaruh Pijat Urut Tradisional Indonesia (Relaksasi), dan Peregangan (Stretching) Terhadap Nyeri Punggung Bawah (LBP) yang Disebabkan Spasme Otot, Jurnal DhammavicayaI, 5, 2021, h.22.
Adapun tujuan dari urut adalah lebih merujuk kepada penyembuhan suatu penyakit. Sebagian dukun urut (pijat) dikenal juga dengan istilah tukang pijat (urut) atau paraji.32 Dimana, urut (pijat) ini merupakan aktivitas yang dilakukan guna melemaskan dan memperbaiki otot atau badan agar peredaran darah menjadi lancar dan tubuh menjadi rileks sehingga badan kembali fit atau bugar. Pada umumnya, masyarakat akan mendatangi ahli pijat atau urut tradisional, untuk membantu masalah yang dideritanya. Sampai saat ini pijat urut tradisional masih digunakan dan mudah ditemukan di manapun.
Adapun dukun urut (Pijat) adalah dukun yang membuka praktik pijat dengan cara-cara asusila, bahkan di banyak daerah dukun pijat atau tukang kusuk menggunakan jasa jin dalam praktiknya sehingga ia dapat memijat atau mengurut dari jarak jauh. Jika seseorang melakukan pijat murni tanpa ada unsur mistik, maka tidak baik disebut dukun. Sebab, pengobatan kusuk atau pijat murni boleh dilakukan.33 Jadi, dapat dikatakan bahwa Dukun Urut (Pijat) merupakan profesi yang digeluti atau dikerjakan oleh orang yang memiliki ilmu atau kemampuan untuk memijat atau mengurut. Dukun urut (pijat) merupakan alternatif lain yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat sebagai media pengobatan tradisional jika masyarakat tidak ingin pergi ke dokter.
Dukun urut (pijat) menggunakan beberapa cara dalam proses pengobatan atau penyembuhan pasien, diantaranya yakni dengan memberikan pijatan dan jampi (doa ataupun mantra) bahkan ramuan yang berasal dari bahan-bahan alami atau tradisional. Dukun urut (pijat) berbeda dengan terapis.
Pada dasarnya dukun urut (pijat) ini banyak digeluti dan dikerjakan oleh laki-laki, namun ada juga perempuan yang berprofesi sebagai Dukun Urut (Pijat). Meskipun begitu, tidak begitu banyak perempuan yang bekerja sebagai dukun, khususnya bekerja sebagai dukun urut (pijat). Hal tersebut dikarenakan perlunya tenaga atau otot yang kuat ilmu yang cukup dan kemampuan mengobati yang memumpuni untuk mengobati dan membantu pasien. Di samping itu juga dibutuhkan usaha yang konsisten dan ilmu yang
32 Anonim, Op.cit.
33 Desi Kurnia Sari, Op.Cit.h. 46-47.
mendukung untuk menjadi seorang dukun, termasuk dukun urut (pijat).
Meskipun demikian, cukup banyak perempuan yang bekerja sebagai Dukun, khususnya dukun urut (pijat).
Adanya dukun urut (pijat) perempuan di tengah masyarakat modern, menyebabkan dukun urut (pijat) harus bisa bertahan dan eksis di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih. Dukun Urut (Pijat) perempuan pada dasarnya cukup eksis, di beberapa daerah yang wilayahnya masih asri dengan adat dan istiadat setempat. Sehingga, dukun urut (pijat) memiliki ruang atau tempat tersendiri di hati masyarakat. Pasien yang datang mengunjungi dukun urut (pijat) pun beragam dan memiliki tujuan yang berbeda-beda, diantaraya yaitu : memijat badan/tubuh agar menjadi lebih rilex, mengobati bagian tubuh yang keseleo, membuat ramuan obat-obatan tradisional dengan memanfaatkan alam sekitar, menjampe (memberikan mantra/doa pada tubuh dan sebagainnya), bahkan ada juga yang meminta Dukun Urut (Pijat) untuk melakukan ritual seperti : tujuh bulanan, sunat perempuan, mandiin bayi, dan lain sebagainnya.
Adanya kebutuhan masyarakat akan sosok dukun urut (pijat) menjadikan profesi dukun urut (pijat) perempuan cukup dihargai dan dibutuhkan di tengah masyarakat, selain dapat melakukan pekerjaan sebagai tukang urut/pijat, mereka juga dapat melakukan beberapa hal ataupun pekerjaan lain yang dibutuhkan masyarakat. Meskipun demikian, tidak mudah menjadi seorang dukun urut (pijat), terutama bagi perempuan. Disamping harus menjaga kodratnya sebagai seorang perempuan, dukun urut (pijat) juga harus dapat menguasai berbagai ilmu dan ajian yang dapat mendukung dan membantunya dalam menjalankan pekerjaannya sebagai seorang dukun. Di antara ilmu, ritual ataupun ajian yang biasanya dilakukan oleh dukun urut (pijat) perempuan dalam mendukung profesinya yakni : dengan melakukan puasa mutih, menjalankan puasa sunnah, dan lain sebagainnya.
Bahkan, pada sebagian besar perempuan yang bekerja sebagai dukun urut (pijat) juga memiliki peran dan tanggung jawab lain, yakni sebagai ibu rumah tangga. Adanya ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai dukun
urut (pijat) yakni dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. Bukan hanya itu, perempuan, khususnya ibu rumah tangga yang menjalankan peran ganda sebagai sebagai dukun urut (pijat) juga dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, yakni adanya kebutuhan keluarga yang kian meningkat sedangkan suami sebagai seorang pencari nafkah tidak dapat memenuhi perannya secara penuh. Bahkan, saat ini di dalam keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah, muncul tuntutan bagi perempuan untuk bekerja dan sebagai seorang istri yang harus berperan ganda dan menjalani dualism peran.
3. Teori Struktural Fungsional
Durkheim adalah seorang sosiolog pertama yang menggunakan gagasan fungsionalis. Fungsionalis penting lainnya yaitu para antropolog sosial Inggris pada masa antara tahun 1920 dan 1960. Dalam sosiologi abad keduapuluh, tak diragukan bahwa terdapat tokoh terkemuka (dari tahun 1930-an hingga akhir 1950-an) yakni fungsionalis Amerika Talcott Parsons (1902-79), selain itu tokoh lain seperti R.K.Merton (1910-) dan Kingley Davis (1908-97) juga cukup penting.34
Teori Struktural fungsional ini membahas tentang perilaku manusia dalam masyarakat dan bagaimana perilaku manusia itu berada dalam kondisi yang seimbang dalam suatu organisasi atau masyarakat. Tokoh utama dalam teori struktural fungsional ini adalah seorang sosiolog Amerika, yaitu Talcott Parsons.
Talcott Parsons lahir di Colorado Springs, California pada tanggal 13 Desember 1902. Ayahnya adalah seorang anggota parlemen yang aktif dalam gerakan reformasi social. Talcott Parsons memperoleh gelar sarjana nya di Amherst College dengan fokus kajian Biologi, Leisure and Tourism, dan juga filsafat.
Bahkan Parson pernah belajar pula ke London School of Economics (LSE).
Kecerdasan intelektualnya dan posisi yang sering berseberangan dengan dosennya
34 Pip Jones, dkk., Buku Pengantar Teori-teori Sosial, Terj. dari IntroducingSocial Theory, Second Edition oleh Achmad Fedyani Saifuddin, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016), h.
91.
menyebabkan Parsons belajar sosiologi. Kemudian, pada tahun 1949, Parsons terpilih menjadi presiden The American Sociological Association. Parson mengajar di Harvard University serta menjadi dosen tamu di Cambridge.35
Parsons merupakan seorang sosiolog kontemporer Amerika yang menggunakan pendekatan teori struktural fungsional dalam melihat dan memandangi masyarakat sebagai sistem sosial. Parson beranggapan bahwa masyarakat tercipta dari sistem dan struktur yang berfungsi secara otonom dan inheren.36 Bahasa terkait fungsionalisme struktural parsons ini dimulai dengan empat fungsi penting untuk semua sistem “tindakan” (action sistem). Keempat fungsi ini dikenal dengan skema AGIL. AGIL, Suatu fungsi (function) adalah
“kumpulan kegiatan yang ditujukan ke arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem” (Rocher, 1975:40).37 Menurut Parsons, masyarakat sebagai sistem sosial harus memiliki empat fungsi imperatif yang sekaligus dikatakan sebagai suatu sistem. Adapun keempat fungsi imperatif tersebut yaitu (A) untuk adaptation, (G) untuk goal attainment, (I) untuk integration, dan (L) untuk latency.38 Keempat fungsi ini dibutuhkan agar dapat bertahan dalam organisasi atau masyarakat.
Adapun penjelasan lebih rinci terkait keempat fungsi imperatif ini, yakni39 :
a) Adaptation (Fungsi Adaptasi)
Adaptasi merupakan sistem yang ditujukan untuk mempertahankan sumber-sumber penting yang ada dalam system untuk menghadapi situasi eksternal yang gawat. Yang mana sistem tersebut harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhannya. Artinya, fungsi ini merupakan kemampuan masyarakat untuk
35 Sindung Haryanto, Spektrum Teori Sosial: Dari Klasik Hingga Post Modern, (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012), h. 20.
36 Nurul Fadlianti, “Peran perempuan buruh tani merica dalam meningkatkan ekonomi keluarga di Desa Wawondula Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur”, Skripsi pada Program sarjana Sosiologi Universitas Negeri Makassar, 2019, tidak dipublikasi.
37 George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern Edisi Ke-6, Terj. dari Modern Sociological Theory 6th Edition oleh Alimandan, (Jakarta: Kencana, 2010), h.121.
38 Sindung Haryanto.loc.cit.
39 Ibid.
dapat berinteraksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya termasuk lingkungan alam yang di dalamnya mencakup segala hal termasuk mengumpulkan sumber kehidupan, komoditas maupun redistribusi social.
Contohnya adalah dalam ekonomi, ekonomi sendiri adalah subsistem yang melaksanakan fungsi di masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui tenaga kerja, produksi, dan alokasi. Melalui pekerjaan, ekonomi menyesuaikan diri dengan lingkungan kebutuhan masyarakat dan membantu masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan realitas eksternal.40 b) Goal Attainment (Fungsi Pencapaian Tujuan)
Merupakan fungsi yang mana ketika suatu sistem mengutamakan tujuan dan memobilisasi sumber daya yang untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, sistem harus dapat mengartikan dan mencapai tujuan utamanya.
Artinya,menggerakkan seluruh sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utama. Contohnya adalah dalam Pemerintah (polity) (atau sistem politik), yang melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan mengejar tujuan-tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor dan sumber daya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.41
c) Integration (Fungsi Integrasi);
Merupakan fungsi yang dimana sistemnya melakukan proses-proses yang terjadi di dalam sistem itu sendiri yang berguna untuk mengkoordinasi hubungan internal yang ada diberbagai subsistem atau unit-unit sistem. Fungsi integrasi ini berguna untuk mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya, dimana sebuah sistem dari fungsi integrasi ini harus dapat mengelola hubungan antar ketiga fungsi lainnya, yakni adaptation, goal attainment dan latency. Contohnya adalah fungsi integrasi yang dilaksanakan oleh komunitas kemasyarakatan (contoh, hukum), yang mengkoordinasikan berbagai komponen masyarakat (Parsons dan Platt, 1973).42
d) Latency (Fungsi Latensi atau Pemeliharaan Pola)
40 George Ritzer & Douglas J. Goodman, Op.cit.,h. 127.
41 Ibid., h. 127-128.
42 Ibid., h. 128.
Merupakan proses dimana sistem memelihara motivasi dan kesepakatan sosial dengan menggunakan control social. Yang mana sistem dari fungsi ini harus dapat melengkapi, memelihara maupun memperbaiki motivasi individualnya ataupun pola-pola budayanya yang dapat mewujudkan dan mendukung motivasi. Artinya, norma-norma dan nilai-nilai (seperti budaya, bahasa, norma, nilai, aturan, dan sebagainya) yang ada dibuat untuk memotivasi individu berbuat sesuatu. Contohnya adalah Sistem fiduciary (misalnya, di sekolah, keluarga) yang menangani fungsi pemeliharaan pola (latensi) dengan menyebarkan kultur (norma dan nilai) kepada aktor sehingga aktor menginternalisasikan kultur itu.43
Jadi, berdasarkan paparan tersebut, parson menekankan pada hirarki yang jelas dan terstruktur, dimulai dari tingkatan yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Kemudian pada tingkat integrasi terjadi dengan dua cara menurut Parsons44, yakni 1) masing-masing tingkatan yang lebih rendah menyediakan suatu kondisi ataupun kekuatan yang mana diperlukan oleh tingkatan yang lebih tinggi, 2) tingkatan yang lebih tinggi dapat mengendalikan segala sesuatu yang disediakan atau terdapat di tingkatan yang lebih rendah.
Parsons menggunakan status-peran sebagai unit dasar dari sistem.
Konsep tersebut bukan merupakan satu aspek yang berasal dari aktor atau aspek interaksi, melainkan lebih kepada komponen struktural dari sistem sosial. Status di atas mengacu kepada posisi structural yang ada didalam sistem sosial, dan peran adalah apa yang dilakukan oleh actor dalam posisinya tersebut yang dilihat dalam konteks signifikansi fungsional untuk sistem yang lebih luas.45 Di samping sebagai seorang strukturalis, parson juga seorang fungsionalis. Parsons memaparkan sejumlah persyaratan fungsional dari sistem sosial, diantaranya yaitu:
a) Pertama, sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya.
43 Ibid.
44 Akhmad Rizqi Turama, Formulasi Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons, jurnal Eufoni, 2, 2020, h. 66-67.
45 George Ritzer & Douglas J. Goodman, Op.cit. h.124.