1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Terdapat banyak UMKM yang terkenal di Kabupaten Sumedang salah satuya berada di Kecamatan Jatinangor yaitu Desa Cipacing. Desa Cipacing ini menghasilkan banyak produk kerajinan tangan.
Letak desa tersebut sangat strategis karena berada di jalur arteri yang dapat menghubungkan ke jalan antar provinsi. Selain itu desa Cipacing ini dekat dengan akses tol Cileunyi dan dekat dengan kawasan pendidikan seperti UNPAD, ITB, IPDN dan IKOPIN.
Mengingat letak desa Cipacing ini berada di jalur yang dapat menghubungkan antar provinsi dan sering dijadikan sebagai tempat peristirahatan bis, produk yang ditawarkan ini dapat dijadikan buah tangan atau oleh-oleh. Produk yang dijual variasinya beragam dan cukup banyak. Berikut contoh- contoh produk
Gambar 1.1 Gambar 1.2
2
Gambar 1.3 Gambar 1.4
Gambar jenis produk kerajinan tangan Sumber 1.2, 1.3, 1.4 dan 1.5 : Data Primer
Produk yang ditawarkan cukup beragam. Sebagian besar produknya berbahan baku kayu. Produk-produk tersebut diantaranya ada wayang golek dengan karakter-karakter khas sunda seperti cepot, berbagai hiasan untuk dekrasi rumah.
Adapun alat-alat musik perkusi misalnya jimbe dengan berbagai ukuran dan ukiran di jimbenya. Selain jimbe ada alat-alat marawis.
Berdasarkan kriteria UMKM menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 pemilik usaha kerajinan tangan di desa Cipacing ini termasuk kedalam usaha kecil.
Dalam kategori usaha kecil dijelaskan bahwa kriteria usaha kecil memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- dengan paling banyak 2.500.000.000,-
1.2 Latar Belakang
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan perekonomian. Keberadaan UMKM menjadi bagian terbesar dalam perekonomian nasional karena UMKM ini merupakan indikator tingkat partisipasi masyarakat dalam berbagai sektor kegiatan ekonomi. Jumlah UMKM di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
3 Tabel 1.1
Perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2012-2013
Indikator Satuan
Tahun2012 Tahun 2013 Perkembangan tahun 2012-2013
Jumlah Pangsa
%
Jumlah Pangsa
%
Jumlah %
Unit usaha (A+B)
Unit 56.539.560 57.900.787 1.361.227 2,41
Usaha Kecil dan menengah
(UMKM)
Unit 56.534.592 99,99 57.895.721 99,99 1.361.129 2,41
Usaha Mikro (UM)
Unit 55.856.176 98,78 57.189.393 98,77 1.333.217 2.39
Usaha Kecil (UK)
Unit 629.418 1,11 654.222 1,13 24.803 3.94
Usaha Menengah
(UM)
Unit 48.997 0,09 52.106 0,09 3.110 63.5
Usaha Besar (UB)
unit 4.968 0,01 5.066 0,01 98 1,97
Sumber : Kementrian Koperasi dan UKM tahun 2017
Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan jumlah Usaha Besar (UB) berbeda jauh. Jumlah UMKM pada tahun 2013 mencapai 57.895.721 dengan presentasi sebesar 99.99%
, Sedangkan UB hanya 5.066. peningkatan UMKM dari 2012 sampai dengan 2013 cukup signifikan, jumlah peningkatan UMKM pada tahun tersebut mencapai 1.361.129 unit dan penimgkatan untuk UB hanya 98 unit. Dengan adanya banyak
4
sektor UMKM manfaat yang dapat rasakan adalah terhadap penurunan tingkat pengangguran, masalah pengangguran ini dapat diselesaikan dengan cara berwirausaha dan mengubah pola pikir masyarakat atau mindset dari pencari kerja (job seeker) menjadi seseorang yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan (job creator). Peran UMKM dalam memerangi masalah pengangguran dengan cara menyerap tenaga kerja sesuai dengan yang di sampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM, Koperasi dan Ekonomi Kreatif, Erik Hidayat yang dikutip dari website www.cnnindonesia.com bahwa,
“ Di Indonesia, UMKM selain berperan dalam pertumbuhan Pembangunan dan ekonomi, juga memiliki kontribusi yang pending dalam mengatasi masalah pengangguran”
Gambar 1.5 Grafik Proporsi Jumlah Tenaga Kerja UMKM dan UB tahun 2010-2011
Sumber : Statistik Usaha Mikro Kecil Menengah
Data lain yang terdapat dalam buku Statistik Usaha Kecil Mikro Menengah 2010-2011 yang di terbitkan di website Kementrian Koperasi dan Usaha dan Menengah menyatakan bahwa, pada tahun 2011 UMKM menyerap tenaga kerja sebesar 101.722.458 orang atau 97,24 persen dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, jumlah ini meningkat sebesar 2,33 persen dari tahun sebelumnya pada tahun 2010 yaitu 97,22% atau 2.320.683 orang. Penyerapan tenaga kerja oleh UMKM ini jelas lebih tinggi jika dibandingkan oleh Usaha Besar (UB) yang hanya memiliki presentasi sebesar 2,76%, jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar
90.98 90.77
3.55 3.75
2.7 2.72
2.78 2.76
86%
88%
90%
92%
94%
96%
98%
100%
2010 2011
UMI UK UM UB
5
0,2% dari tahun sebelumnya yaitu 2010. (Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Statistik Usaha Mikro Kecil Menengah, 2011).
Sumber lain dari www.liputan6.com yang diakses 24 September 2017 menyatakan bahwa sebanyak 111,68 juta orang menjadi tenaga kerja di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk 250 juta jiwa. Sebanyak 98,8 persen diantaranya bekerja di sektor UMKM yang menyumbang 60,34 persen untuk Produk Domestik Bruto.
Gambar 1.6 Grafik kontribusi UMKM dan UB terhadap PDB Nasional tahun 2010-2011 Menurut Harga Berlaku
Sumber : Statistik Usaha Mikro Kecil Menengah
UMKM memiliki peran lain selain menyerap tenaga kerja yaitu peran terhadap kontribusi Pendapatan Domestik Bruto nasional atau PDB. Dalam laporan statistik UMKM menyatakan bahwa kontribusi UMKM terhadap pendapatan domestik bruto pada tahun 2010 sampai dengan 2011 menurut harga belaku mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 total presentasinya 57,12% atau Rp.
3.466,4 triliun dan pada tahun 2011 presentasinya meningkat menjadi 57,94% atau sebesar Rp. 4.303,6 triliun . Sedangkan untuk kontribusi Usaha Besar atau UB mengalami penurunan pada tahun 2010 yaitu 42,88% menjadi 42,06% atau sama dengan Rp. 3.123,5 triliun (Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Statistik Usaha Mikro Kecil Menengah, 2011).
33.81 34.73
9.85 9.72
13.46 13.49
42.88 42.06
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2010 UMI UK UM UB 2011
6
Contoh UMKM yang memberikan kontribusi kepada perekonomian di Indonesia yaitu UMKM yang bergerak di industri ekonomi kreatif. Artikel dalam www.kompas.com yang diakses pada tanggal 6 Oktober 2017 menyatakan bahwa, diantara UMKM, industri ekonomi kreatif juga tercatat berkembang positif dengan pertumbuhan 5,6 persen antara 2010-2013. Industri ini menyumbang 7,1 persen terhadap PDB dan berhasil menyerap sekitar 12 juta tenaga kerja, menjadikannya salah satu ranah andalan untuk mendorong peningkatan pendapatan masyarakat serta berperan strategis dalam memerangi pengangguran dan kemiskinan.
Selain itu dalam website Kementrian Perindustrian Republik Indonesia (KEMENPERIN), Euis Saedah Direktur Jendral Industri Kecil dan Menengah (IIKM) Kementrian Perindustrian mengatakan bahwa, Keseriusan pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif telah di terbitkan dalam Intruksi Presiden (INPRES) Nomor 6 tahun 2009 tentang ekonomi kreatif sebagai dasar bagi pemangku kepentingan dalam mengembangkan 12 sektor ekonomi kreatif
“kontribusi fashion dan kerajinan jauh mengugguli kontribusi jenis industi kecil lainnya. Baik dalam nilai tambah, tenaga kerja, jumlah perusahaan maupun ekspornya. .
Salah satu daerah yang memiliki UMKM yang bergerak di sektor industri ekonomi kreatif adalah Kabupaten Sumedang yaitu kecamatan Jatinangor. Di kecamatan Jatinangor ini terdapat banyak UMKM, dari sekian banyak jenis UMKM salah satunya terdapat UMKM yang bergerak di bidang industri ekonomi kreatif. Berikut data UMKM yang ada di kecamatan Jatinangor :
7 Tabel 1.2
Data UMKM Kecamatan Jatinangor Tahun 2015
No Nama Desa Jumlah Jenis Produksi
1 Cibeusi 13 Layangan, gelasan, ukiran kayu, finishing, peti jenazah.
2 Cikeruh 6 Bubut, senapan angin, olahan cemilan.
3 Cilayung 12 Panah, olahan cemilan
4 Cileles 25 Olahan cemilan, bengkel sepeda motor, senapan angina, kursi, patung.
5 Cintamulya 16 Olahan cemilan, batu akik.
6 Cisempur 5 Olah cemilan
7 Jatiroke 8 Olahan cemilan, senapan
8 Cipacing 79 Panah, tanimar, alat musik. Sumpit, congkak, senapan angina dan gas, pisau,
kursi, sandal jepit
9 Jatimukti 7 Alat dapur
10 Hegarmanah 20 Olahan cemilan, senapan, gelasan
11 Mekargalih 14 Kelontongan, olah cemilan
12 Sayang 176 Warung kelontong, olahan cemilan, warteg
Sumber : Irma Siti, 2016
8
Dari data diatas salah satu desa yang ada di kecamatan Jatinangor yang bergerak di industri ekonomi kreatif adalah desa Cipacing. Desa tersebut menghasilkan banyak jenis kerajinan tangan diantaranya ada ukirin kayu, wayang, alat musik, mainan dan yang lain-lain. Desa Cipacing ini berada di tempat strategis dekat dengan akses tol, dari sejumlah hasil karya dari kerajinan tangannya diantaranya memiliki ciri khas Jawa Barat.
Permasalahan lain dari UMKM yang bersumber dari website Jatinangorku (2012) hasil karya dari pengrajin ini sudah dapat menembus pasar mancanegara masuk pasaran ekspor seperti jerman dan Amerika Serikat, namun pengrajin tidak dapat langsung mengekspor ke negara tersebut melainkan melalui kota lain seperti Bali dan Jogjakarta. Hal ini terjadi karena Kabupaten Sumedang belum menjadi tujuan utama wisata di Indonesia seperti Bali dan Jogjakarta. Harga yang ditawarkan ketika dijual ke Bali dan Jogjakarta menjadi lebih murah. Kepala Pusat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Institut Manajemen Koperasi di Indonesia (IKOPIN), Dedi Supriadi mengatakan bahwa :
“selama ini Bali dan Jogjakarta dikenal sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Banyak turis dari mancanegara yang mendatangi dua kota tujuan wisata itu. Untuk memudahkan pemasaran, terpaksa produk perajini dari jatinangor harus dijual dan diekspor melalui dua kota itu”
Dilihat dari permasalahan yang dirasakan oleh pengrajin di desa Cipacing adalah mengenai pertumbuhan bisnisnya yang cukup lambat. Pengrajin di desa Cipacing telah menjalan bisnisnya sangat lama, meski sudah lama ada di dalam bisnis tersebut para pengrajin tetap merasakan sulitnya melakukan pemasaran dari produk yang dihasilkan. Selain itu pengrajin di desa Cipacing masih menganut manajemen lama. Permasalahan lain seperti pemasaran, sumber daya manusia mempengaruhi kinerja bisnisnya baik secara finansial maupun secara non-finansial.
9 1.3 Perumusan Masalah
Jatinangor merupakan salah satu kecamatan yang memiliki sektor industri ekonomi kreatif bagi Kabupaten Sumedang karena banyaknya UMKM yang menghasilkan ragam kerajinan, salah satunya berada di desa Cipacing. Desa tersebut menghasilkan banyak kerajinan tangan salah satunya kerajinan dari bahan kayu seperti patung ukiran, alat musik, mainan, aksesoris hingga dekorasi untuk rumah.
Letak desa Cipacing yang strategis salah satunya dekat dengan kawasan pendidikan yang dapat menjadi potensi untuk lebih berkembang dikarenakan kondisi pembangunan di sekiranya terus meningkat. Kebutuhan akan hiasan atau untuk dekorasi akan menigkat karena akan bermunculan café, rumah kost hingga appartement yang akan menjadikan hal tersebut sebagai peluang bagi para pengrajin.
Sayangnya potensi tersebut tidak di perhatikan, baik oleh pemerintah ataupun oleh pemiliknya sendiri. Potensi yang ada di desa Cipacing ini tidak menjadikan UMKM disini berkembang dengan cepat, pasalnya Walaupun UMKM menjadi pelaku ekonomi yang memberikan kontribusi pada perekonomian Indonesia tetapi untuk UMKM yang di Cipacing ini kurang perhatian dari pemerintah. Dikutip dari www.sumedangekspres.com yang diakses pada tanggal 4 Oktober 2017, Eman Khoeruman salah satu pengrajin di desa Cipacing mengatakan bahwa, beliau belajar secara otodidak, tidak tahu bagaimana cara pemasaran seperti apa selain itu beliau tidak mendapatkan bimbingan dari pemerintah hingga saat ini.
Jadi mereka hanya mengandalakan naluri untuk berdagang dengan cara door to door. Penyebab lain yang ada di UMKM ini adalah banyaknya pengelolaannya cenderung tradisional karena, diantara pemiliki usaha tersebut ada yang menjalan usahanya sudah berpuluh-puluh tahun, namun manajemen yang anutnya tidak ada perubahan meskipun sudah berganti zaman. Salah satunya adalah kemampuan sumber daya manusia. Selain itu bisnis kerajinan tangan ini Pertumbuhan bisnisnya serta kinerja bisnisnya banyak mengalami hambatan, baik secara finansial atau secara non finansial. Secara finansial ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti omset, profit dan penjualan sedangkan secara non finansial masalah yang
10
dihadapi sebagai contohnya seperti kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, loyalitas dan turn over.
Dari hasil wawancara pada 27 Oktober 2017, dengan salah satu pemilik usaha kerajinan tangan di desa Cipacing ini adalah Ibu Popon, beliau mengatakan telah menjalan bisnisnya dari tahun 80. Selama menjalankan bisnis ini, beliau pernah mendapatkan pelatihan dari pemerintah berupa pelatihan pemasaran namun pelatihan tersebut dirasa belum cukup pasalanya hambatan yang paling dirasakan adalah proses pemasaran yang berdampak kepada jumlah penjualan, profit serta omset yang didapatkan. Ibu Popon juga mengatakan bahwa pernah diikutsertakan kedalam pameran oleh pemerintah dan cukup berdampak baik, hanya pameran tersebut waktunya jarang hanya beberapakali dalam satu tahun. Keterbatasan yang dimiliki beliau untuk mencoba pemasaran online akhirnya dilakukan oleh anaknya melalui media sosial facebook namun untuk saat ini belum ada dampak yang signifikan.
1.4 Pertanyaan Penelitian
dari uraian pada sub bab diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagi berikut :
1. Bagaimana kinerja usaha skala kecil di desa Cipacing terkait dengan aspek finansial, profit, omset dan penjualan?
2. Bagaiamana kinerja usaha skala kecil di desa Cipacing terkait dengan aspek non finansial, kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, motivasi dan turn over?
1.5 Tujuan Penelitian
sesuai dengan deskripsi fenomena pada perumasan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kinerja usaha skala kecil di desa Cipacing dari aspek finansial dilihat dari profit, omset dan penjualan.
11
2. Untuk mengetahui kinerja usaha skala kecil di desa Cipacing dari aspek non finansial dilihat dari kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, motivasi dan turn over.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memebrikan manfaat secara langsung mapun tidak langsung kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Yang dapat dilihat dari dua aspek, sebagai berikut :
1.6.1 Aspek Teoritis a. Ilmu pengetahuan
Penelitian ini menggunakan alat ukur kinerja usaha secara kualitatif yang dapat menentukan kinerja usaha skala kecil berdasarkan baik atau tidaknya kinerja usaha tersebut secara finansial dan non finansial, instrument ini diharapkan dapat dijadikan alat ukur untuk mengevaluasi kinerja usaha di UMKM.
b. Penelitian selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan rujukan atau acuan bagi peneliti lain terkait pengukuruan kinerja usaha bagi UMKM.
1.6.2 Aspek Praktis a. Pemerintah
Dengan adanya peningkatan dari kinerja usaha UMKM, maka diharapkan dapat berdapak pada peningkatan ekonomi bangsa. Hal ini dapat terwujud dengan semakin tingginya penciptaan pekerjaan. selain itu penelitian dapat dijadikan acuan oleh pemerintah atau institusi dalam memberikan pembelajaran, materi atau pelatihan mengenai kewirausahaan sehingga mampu meningkatkan kualitas pengetahuan para pelaku usaha.
b. UMKM kerajinan tangan desa Cipacing
Dengan mengetahui bagaimana kinerja usaha dari kerajinan tangan di desa Cipacing dihapkan para pelaku usaha tersebut dapat menyusun tujuan,
12
strategi yang akan dilakukan oleh pemilik usaha kerajinan tangan di desa Cipacing untuk meningkatkan kinerja usahanya.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mempunyai batasan – batasan tertentu agar penelitian lebih fokus, batasan – batasan tersebut diantaranya :
1. Objek penelitian adalah UMKM kerajinan tangan yang telah menjalankan bisnisnya kurang lebih seama 5 tahun.
2. Lokasi penelitian berada pada desa Cipacing.
3. Waktu penelitian berawal dari bulan September 2017 sampai dengan Desember 2018.
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Bab 1 Pendahuluan
Bab ini berisi tentang, gambaran umum objek penelitian, latar belakang, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian , manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini diuraikan mengenai kajian pustaka dari penelitian-penelitian terdahulu sehingga dapat menemukan kesenjangan penelitian dan menentukan posisi penelitiannya. Dalam bab ini juga membahas proses pembentukan kerangka pemikiran dari penelitian ini.
Bab III Metodologi Penelitian
Pada bab ini diuraikan mengenai jenis penelitian, operasional variabel, tahapan penelitian, situasi sosial, pengumpulan data berserta sumber data, validitas dan reliabilitas, serta teknik analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini berisi analisis dan simulasi dari hasil perancangan yang telah diperhitungkan pada bab-bab sebelumnya.
13 Bab V Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini diuraikan kesimpulan dari hasil penelitian dan usulan saran dalam aspek teoritis dan praktis.