• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Latar belakang"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

Program Pembangunan Nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam undang- undang Nomor 25 tahun 2000 menyatakan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan yang dilakukan dalam berbagai program pembangunan lintas bidang dan juga sektor pembangunan rakyat meliputi antara lain usaha pertanian perkebunan (Larsito, 2005)

Pembangunan sektor pertanian khususnya dalam sektor perkebunan merupakan bagian dari pembangunan nasional, yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani.

Namun dalam menerapkan program pembangunan lintas bidang, pemerintah saat ini mengalami permasalahan yang terjadi pada petani tembakau yaitu gejolak penurunan harga di Indonesia yang mengalami penurunan sebesar 2,834 triliun untuk 16 provinsi untuk penghasil tembakau, hal ini sangat mempengaruhi kinerja petani maupun pendapatan petani, kemudian daripada itu yang menjadi faktor penurunan terjadinya kesejahteraan petani yaitu tingkat pendidikan dan umur petani, kedua faktor ini mampu menghambat usaha dalam meningkatkan taraf hidup petani (Larsito, 2005)

Untuk itu, pemerintah saat ini harus mulai secara serius memberikan perhatian terhadap masalah petani tembakau, melalui program pelatihan kewirausahaan untuk petani, guna untuk memberikan kesempatan belajar kepada mereka dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan (Setiyaningsih, 2017).

Pelatihan kewirausahaan adalah kunci pengembangan usaha agar mampu merencanakan, menciptakan, dan melaksanakan satu program kegiatan usaha (Setiyaningsih, 2014). Pelatihan kewirausahaan juga memberikan pengalaman dan memberikan pembelajaran yang sangat baik bagi pelaku terutama petani tembakau untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dijiwai oleh semangat wirausaha. Dalam semangat berwirausaha ada tiga komponen yang harus diperhatikan antara lain; kesiapan bekerja, berusaha, dan bermitra usaha. Sehigga dalam pengembangan usaha hal yang sangat dibutuhkan yaitu meningkatkan inovasi dan kreativitas serta pengetahuan dan ketrampilan (Setiyaningsih, 2014).

(2)

2

Adapun beberapa studi kasus yang pernah diteliti oleh Lasdi (2014), tentang model Pelatihan Keterampilan Usaha Terpadu Bagi Petani, berdasarkan hasil survei BPS (2003) menunjukkan bahwa dari 36.3 juta jiwa penduduk miskin lebih banyak di pelosok pedesaan yang hidup sebagai petani, padahal jika ditinjau kembali potensi sumber daya alam dan lingkungan yang tersedia sangat memugkinkan untuk dikembangkan, namun yang menjadi permasalahan keterbatasan untuk pedesaan yaitu minimnya sumber daya sekitar hutan yang menjadi hambatan akan meningkatkan kesejahteraan petani, dengan masalah tersebut maka, pemerintah menjadikan ini sebagai peluang untuk pembinaan kepada petani seperti pelatihan keterampilan.

Studi kasus yang kedua pernah diteliti oleh Ariesa (2013), tentang Pelaku Petani Tembakau yang merupakan pelaku utama dalam pengusahaan komoditas tembakau dan juga penyediaan sumber daya untuk industri hasil tembakau. Usaha tani tembakau ini memiliki keterkaitan yang sangat besar antara penyediaan sarana prasarana pertanian dan industri olahan. Sehingga dalam usaha tani, penyediaan sumber daya manusia yang kompeten sangat diperlukan. Menurut Setiawan (2015), kebanyakan petani saat ini belum mampu mengusahakan tembakau secara professional dikarenakan petani yang ada belum mampu mempertimbangkan pasar, modal, dan teknologi.

Petani tembakau saat ini belum sepenuhnya menguasai teknologi budidaya dan analisis usaha tani, sehingga motivasi yang dipunyai oleh petani tembakau hanya menanam dan menerima keuntungan dari hasil panen tersebut. Sehingga salah satu kunci dalam menjawab permasalahan petani tembakau saat ini adalah pengembangan sumber daya manusia pada era globalisasi. Saat ini, yang dibutuhkan petani pada era ini adalah bagaimana petani menyesuaikan perubahan lingkungan bisnis dan juga pola pikir yang didukung dengan pelatihan kewirausahaan, hal ini yang dapat membedakan petani wirausaha dengan petani biasa.

Petani wirausaha mempertimbangkan aspek pasar, memperhitungkan analisis usaha tani, mampu melihat dan mengelola peluang, serta memiliki 5 kemampuan manajeman.

Petani wirausaha mampu berpikir dan bertindak dalam mengembangkan hal- hal baik dari usaha saat ini sehingga diperoleh hasil yang lebih menguntungkan. Dalam Sadjudi (2009) menyatakan bahwa perkembangan lingkungan bisnis saat ini telah dituntut petani memiliki jiwa kewirausahaan sehingga diperoleh nilai tambah yang lebih besar dari produk pertanian.

(3)

3

Dengan begitu kebijakan pemerintah tentang petani tembakau di Provinsi Jawa Tengah telah diwujudkan dengan memberikan peningkatan SDM petani tembakau, melalui berbagai bentuk antara lain: penyuluhan, pelatihan, kursus, sekolah lapang, studi banding dan lain sebagainya. Kemudian tidak hanya bantuan melalui pendidikan non- formal namun juga bantuan sarana produksi berupa pupuk, alat mesin pertanian, sebagai upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas tembakau yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani tembakau dan juga lewat pelatihan kewirausahaan petani tembakau memiliki niat berwirausaha dalam bidang pertanian. Selain tembakau, ada pula yang menanam tanaman yang lain seperti kopi, sayur- sayuran organik dll.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini lebih berfokus pada Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Pola Pikir dan Niat Berwirausaha Pada Petani Tembakau di Jawa Tengah.

Rumusan Masalah Penelitian:

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1). Apakah Pelatihan kewirausahaan berpengaruh terhadap pola pikir? 2). Apakah pola pikir berpengaruh terhadap niat berwirausaha?

Tujuan Penelitian:

Tujuan penelitian ini adalah, untuk mengidentifikasi pengaruh pelatihan kewirausahaan terhadap pola pikir dan niat berwirausaha pada petani.

Manfaat Penelitian:

Manfaat penelitian ini adalah 1). Manfaat Teoritis Mendapatkan pengetahuan tentang pelaksanaan program pelatihan kewirausahaan bagi para petani di Jawa Tengah sebagai upaya pengembangan kemampuan diri dan memberikan pengalaman baru agar berguna bagi kemajuan diri sendiri khususnya dan masyarakat pada umumnya. 2). Manfaat Praktis yang meliputi: yang pertama bagi lembaga Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran dalam usaha-usaha yang mengarah pada peningkatan taraf hidup melalui program kewirausahaan. Yang kedua bagi Pemerintah diharapkan dapat memicu pemerintah untuk meningkatkan program pelatihan kewirausahaan atau sejenisnya dikalangan masyarakat baik formal maupun non formal guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Yang ketiga bagi petani, diharapkan melalui program pelatihan kewirausahaan petani semakin mempunyai wawasan dalam pengetahuan dan mampu mempraktekkan ilmu yang telah didapatkan.

(4)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pelatihan kewirausahaan.

Pengertian Pelatihan Kewirausahaan dalam penelitian ini adalah serangkaian upaya yang dilaksanakan dengan sengaja yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan usaha sehingga tujuan usaha dapat tercapai. Program pelatihan berusaha mengajarkan bagaimana melaksanakan aktivitas atau pekerjaan tertentu. Menurut Ranupandojo dan Hasan (2000 dalam Erlina Heriawati 2009:123) pelatihan adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan seseorang yang sangat berkaitan dengan aktiviats ekonomi.

Menurut Kenneth Robinson (1981), dalam Sudirman (2001) mengemukakan bahwa:

“Training, therefore we are seeking by any instructional or experiential means to develop a person behovior patterns in the areas of knowledge, skill or attitude in order to achievea disered standar” maka dapat dipahami bahwa pelatihan merupakan pendidikan untuk pengembangan sumber daya manusia dalam bidang pengetahuan, keterampilan agar dapat diberdayakan secara maksimal.

Bila dikaitkan dengan kewirausahaan maka pelatihan kewirausahaan ini adalah proses untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan dari sumber kepada penerima untuk meningkatkan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau upaya mencari, menciptakan, serta menerapkan cara kerja dalam suatu kegiatan usaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar (Purnomo, 2017).

Pola pikir.

Pola pikir atau orientasional merupakan sikap konstruktif seseorang di dalam menterjemahakan proses perceived dan niat untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam definisi kewirausahaan yang menjadi orientasi utama adalah keuntungan dan pertumbuhan nilai ekonomi usaha. Pola pikir yang demikian tercermin dalam bentuk setiap keputusan yang ditentukan dan kebijakan yang diambil pada situasional tertentu atas perjalanan unit bisnis. Para wirausaha harus sering membuat keputusan dalam lingkungan ketidakpastian, di mana taruhannya tinggi, tekanan waktu yang besar sekali, serta itulah dibutuhkan emosional yang cukup memadai (Hisrich, Peter’s dan Sepherd, 2017). Pola pikir wirausahaan ada tiga aspek utama yang perlu menjadi sorotan utama yaitu berorientasi kepada bisnis, tujuan (goal) dan strategi pencapaian tujuan.

(5)

5

 Orientasi Bisnis

Di dalam sebuah perusahaan memiliki orientasi berwirausaha menuju pertumbuhan, hal ini adalah sebuah keinginan besar untuk memperluas ukuran perusahaan secara pesat (Hisrich et al., 2017). Sasaran atau titik orientasi sebuah unit bisnis adalah pasar (market), karena pasar adalah pelanggan yang dapat menghasilkan nilai penjualan (lihat, strategi pemasaran). Pola pikir yang perlu dibangun di dalam orientasi fokus utamanya adalah sensitivitas hubungan antara unit bisnis dengan pasarnya. Sensitivitas hubungan tersebut dapat dikelola dengan berbagai pencaharian.

 Orientasi pada goal

Goal merupakan sebuah titik yang diperkirakan mampu dicapai oleh seseorang pada kurun waktu yang ditetapkan. Oleh sebab bahwa orientasi wirausahawan untuk meraih peluang. Peluang merupakan sebuah komitmen untuk bertindak atas setiap peluang yang potensial (Hisrich et al., 2017). Secara praktis sebuah tujuan di dapat dalam sebuah target- target pada peluang ke depan. Secara jangka pendek sebuah target dijabarkan dalam anggaran- anggaran dan untuk jangka panjang yang bisa dituangkan dalam forecast. Setiap pembaruan anggaran dan forecast selanjutnya dapat disusun berupa rancangan strategic agar sebuah goal dapat dicapai. Dengan demikian sebuah goal yang ditetapkan istilah bersifat SMART (Spesific, Meansureble, Accurate, Reasonable, Timetable).

 Orientasi strategik

Rancangan strategik merupakan bentuk keputusan dan kebijakan untuk mendukung setiap aktivitas dalam rangka mencapai sebuah goal. Sebuah strategi didesain sedemikian rupa sehingga berbagai kekuatan dan peluang dapat dikembangkan dan berbagai kelemahan dan ancaman dapat diberikan jalan pemecahannya. Di dalam perjalanannya, suatu strategi yang telah dirancang mungkin berubah. Perubahan tersebut berdasarkan pertimbangan, antara lain:

a. Terjadinya situasi eksternal di luar yang telah diprediksikan misalnya: Gejolak sosial- ekonomi, perubahan kebijakan pemerintah terhadap barang atau bahan tertentu atau insiden lainnya.

b. Munculnya pesaing baru yang tidak diprediksikan atau terjadi inovasi baru dari pesaing yang tidak diketahui sebelumnya.

c. Terjadinya pergeseran struktur pasar atau pola konsumsi konsumen yang disebabkan oleh isu pasar yang negatif.

(6)

6

Ketiga situasi tersebut merupakan faktor pengaruh dari pihak luar organisasi unit bisnis yang bersifat tidak dapat dikendalikan atau uncontrollable factors (Evans Dan Berman, 1992). Oleh karena itu, maka seorang wirausaha perlu memiliki jiwa kepimpinan yang orientasinya melalui pemikiran strategik. (Hisrich et al., 2017)

Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk pola pikir kewirausahaan untuk mempertahankan daya saing organisasi ekonomi. Pola pikir kewirausahaan menunjukkan pola pikir tentang bisnis dan peluang, guna menghadapi ketidakpastian (Dhliwayo dan Vuuren, 2007). Menurut Senges, (2007) pola pikir kewirausahaan itu menggambarkan pencarian pola yang bersifat inovatif dan energik, memanfaatkan peluang serta bertindak untuk mewujudkan peluang yang ada. Membentuk pola pikir kewirausahaan sangat penting untuk mempertahankan persaingan ekonomi (McGrath dan MacMillan, 2000).

Niat berwirausaha.

Niat berwirausaha merupakan kebulatan tekda seseorang untuk menjadi seorang wirausaha atau untuk berwirausaha. Tubbs & Ekeberg, (1991) menyatakan bahwa niat berwirausaha adalah representasi dari tindakan yang direncanakan untuk melakukan perilaku kewirausahaan, sebelum seseorang memulai suatu usaha dibutuhkan suatu komitmen yang kuat untuk mengawalinya.

Entrepreneurial intention atau niat kewirausahan dapat diartikan sebagai langkah awal dari suatu proses pendirian sebuah usaha yang umumnya bersifat jangka panjang (Lee &

Wong 2004). Menurut Krueger (1993), niat kewirausahaan dapat mencerminkan komitmen seseorang untuk memulai usaha baru dan juga merupakan isu sentral yang perlu diperhatikan dalam memahami proses kewirausahaan pendirian usaha baru.

Niat kewirausahaan akhir- akhir ini mulai mendapat perhatian untuk diteliti karena diyakini bahwa suatu niat yang berkaitan dengan perilaku terbukti dapat menjadi cerminan dari perilaku yang sesunguhnya. Dalam teori planned behoviar (Fishbien& Ajzen, 1985 dalam Tjahjono & Ardi, 2008) diyakini bahwa faktor- faktor seperti sikap dan norma subyektif mampu membentuk seseorang, oleh karena itu pemahaman tentang niat seseorang untuk berwirausaha akan dapat mencerminkan kecenderungan orang untuk mendirikan usaha secara nyata (Jenkins &Johnson,1997).

(7)

7

Pada dasarnya pembentukan jiwa kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal Priyanto (2008). Faktor internal yang berasal sari dalam diri kewirausahaan dapat berupa sifat- sifat personal, sikap, kemauan dan kemampuan individu yang dapat memberi kekuatan individu untuk berwirausaha. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri perilaku entrepreneure yang dapat berupa unsur dari lingkungan seperti lingkungan keluarga, lingkungan dunia usaha, lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi dan lain- lain.

Pengembangan model dan perumusan hipotesis:

Pelatihan kewirausahan dan pola pikir

Menurut Penelitian yang telah di lakukan Lasdi.kk, 2014 hasil temuan dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif, pelatihan dan pola pikir petani di dusun Kawedengan, dengan memberikan model pelatihan terpadu untuk meningkatkan kemampuan manajerial petani, selain itu upaya peningkatan kesejahteraan pada petani di dusun Kawedegan, didukung oleh praktek- praktek yang belum diterapkan di dusun tersebut.

H1: Pelatihan Kewirausahaan berpengaruh terhadap pola pikir

Pola pikir dan niat berwirausaha

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Ariesa (2013), dimana faktor kewirausahaan menemukan hasil tidaknya petani dalam menyesuaikan dengan perubahan lingkungan bisnis. Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh sifat individu dan faktor lingkungan yang terdiri dari lingkungan ekonomi, lingkungan sosial, lingkungan politik, dan lingkungan fisik. Selain itu mempengaruhi perilaku kewirausahaan, sifat individu dan lingkungan juga mempengaruhi kinerja usaha tani tembakau.

H2: Perubahan pola pikir yang berpengaruh terhadap niat berwirausaha Model Penelitian

Pelatihan Kewirausahaan Pola pikir Niat berwirausaha

(8)

8 BAB III

METODE PENELITIAN Jenis penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif karena dalam penelitian ini mendeskriptifkan keadaan yang terjadi pada saat sekarang secara sistematis dan faktual dengan tujuan untuk memaparkan serta menyelesaikan masalah yang diteliti.

Jika dilihat dari segi metode penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode survei. Sugiyono (2013:12) mengatakan bahwa metode survei adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan bauatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data dengan menggunakan menyebarkan kuesioner dan wawancara.

Populasi dan sampel

Populasi adalah keseluruhan karakteristik yang menjadi objek penelitian, karakteristik tersebut berkaitan dengan sekelompok orang, peristiwa atau benda yang menjadi pusat perhatian bagi peneliti (Sarjono & Julianita 2011). Karakteristik dari populasi penelitian ini adalah para petani tembakau yang mendapat pelatihan kewirausahaan di Jawa Tengah.

Untuk jumlah dalam populasi untuk penelitian ini 100- 150 orang yang sudah mengikuti pelatihan kewirausahaan. Kemudian penulis mempersempit populasi dengan menghitung sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling agar jumlahnya representative dari keseluruhan populasi.

Sampel adalah sebanyak populasi yang dipercaya dapat mewakili karakteristik populasi secara keseluruhan (Sarjono & Julianita 2011). Teknik yang digunakan dalam menentukan sampel adalah purposive sampling. Dengan kriteria yang ditentukan dalam penelitian ini, yakni responden merupakan petani tembakau yang mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Sampel penelitian sosial sebanyak 102 orang yang sudah cukup untuk mewakili suatu penelitian.

Lokasi penelitian

Lokasi penelitian bertempat di Provinsi Jawa Tengah Sejumlah variable yang digunakan

Variabel terkait (Y) yang digunakan dalam penelitian adalah pelatihan kewirausahaan, kemudian yang menjadi variabel X1 pada penelitian ini adalah Pola Pikir sedangkan yang menjadi variabel X2 penelitian ini adalah Niat Berwirausaha.

(9)

9 Skala Pengukuran Variabel

No Variabel Pengertian Pengukuran

1. Pelatihan Kewirausahaan (Purnomo,2017)

Pengertian Pelatihan Kewirausahaan dalam penelitian ini adalah serangkaian upaya yang bertujuan di laksanakan dengan semgaja yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan usaha sehingga tujuan usaha dapat tercapai.

Pelatihan

kewirausahaan yang di sesuaikan dengan:

 Materi yang disajikan,

 Tempat pelatihan.

 Pelatihan

 Praktek.

 Melakukan semua tugas atau praktek yang di oleh instuktur/

pembawa materi.

2. Pola Pikir (Harsono dkk, 2017)

Pola pikir atau orientasional merupakan sikap konstrukif seseorang di dalam menterjamahkan proses perceived dan niat untuk mencapai suatu tujuan.

 Ide kreatif

 Perubahan pola pikir

3. Niat berwirausaha ( Lieli Suharti & Hani

Sirine 2012)

Entrepreneurial intention atau niat kewirausahaan dapat diartikan sebagai langkah awal dari suatu proses pendirian sebuah usaha yang umunya bersifat jangka penjang (Lee &

Wong, 2004)

 Komitmen seseorang untuk memulai usaha baru

 Tantangan baru

(10)

10 Teknik pengumpulan data

Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang bersifat tertutup.

Kuesioner tersebut yang menggunakan skala likert dengan kategori jawaban yang terdiri dalam 5 tingkatan. Dalam penelitian skala likert yang digunakam adalah sebagai berikut:

SS: Diberikan Skore 5 S: Diberikan Skore 4 N: Diberikan Skore 3 TS: Diberikan Skore 2 STS: Diberikan Skore 1 Teknik Analisis Data

Uji Keandalan data Uji Validitas

Uji validitas dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana daftar pertanyaan/

kuesioner mampu menguak data sehingga mampu menjawab permasalahan. Suatu kuesioner yang mempunyai validitas tinggi apabila dapat menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukan pengukuran tersebut. Uji validitas diujikan terhadap 30 Responden, sehingga didapatkan n = 30 dan r tabel = 0,361 dengan tingkat kepercayaan 95% item pertanyaan dikatakan valid apabila r hitung lebih besar dari r tabel.

Menurut Suliyanto (2011: 18) uji validitas dapat dihitung dengan bantuan SPSS versi 20.0

Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukan sejauh mana alat pengukur yang digunakan dapat dipercaya atau dilakukan untuk megetahui konsistensi dan ketepatan pengukuran. Menurut Hair et al. (2006) pengujian reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien Alpha Croanbach dan dapat diolah dengan bantuan SPSS. 20.0

Uji Asumsi Klasik

Uji normalitas bertujuan untuk menguji model regresi, variabel sebagai penganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2016). Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal, maka diuji dengan metode Kolmogorov Smirnov, dengan ketentuan kriteria pengujian (1) jika angka Signifikansi, maka sig> 0,05 menunjukam data berdistribusi

(11)

11

normal. (2) Jika angka signifikansi, maka Sig. < 0,05 menunjukkan data tidak berdistribusi normal.

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi apakah menjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lainnya. Apabila varian dan residual dalam suatu pengamatan yang lain tetap sama maka disebut dengan homoskesdastisis (Ghozali, 2016). Uji yang akan digunakan untuk melihat ada tidaknya heteroskedastisitas dalam penelitian ini adalah uji gletjer dengan software SPSS, di mana kriteria pengujian: (1) Angka Signifikansi uji gletjer Sig > 0,05 menunjukkan model regresi tidak mengundang Heteroskedastisitas. (2) Angka Signifikansi uji gletjer Sig. < 0,05 menunjukkan model regresi mengandung heteroskedatisitas.

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah data dimiliki sesuai dengan garis linear atau tidak. Jadi peningkatan atau penurunan kuantitas disalah satu variabel yang akan diikuti secara linear oleh peningkatan atau penurunan kualitas divariabel lain (Sarjono &

Julianita, 2011). Pengujian ini akan dilakukan dengan menggunakan Test For Linerarity yang terdapat pada software SPSS, dengan kriteria pengujian: (1) Jika Sig. Atau signifikansi pada Deviation From Lineariity < 0.05 maka hubungan antar variabel adalah tidak linear

Uji multikorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi atau hubungan antara variabel independen. Untuk mengetahui ada dan tidaknya multikorelasi diantara variabel independen dapat dilihat melalui toleran maupun varian inflation factor (VIF), dengan kriteria pengambilan keputusan: (1) Jika nilai toleran > 0.10 atau nilai VIF <

10, maka tidak ada multikolerasi (2) jika nilai toleran ≤ 0.10 yang bernilai VIF ≥ 10, maka terdapat multikorelasi (Ghozali, 2016).

Uji hipotesis

Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel narasi jalur adalah pelatihan kewirausahaan yang akan dilakukan pengujian hipotesis nalasi jalur dengan uji regresi liner berganda. Variabel narasi jalur yang disebut dengan variabel nalasi jalur jika variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Uji regresi linier berganda dilakukan dengan cara menguji pengaruh tidak langsung ke pola pikir (X1) ke variabel niat berwiarusaha (X2) melalui variabel nalasi jalur pelatihan kewiarusahaan (Y)

(12)

12 BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Responden

Dalam penelitian ini disebarkan kuesioner sejumlah 150, namun jumlah kuesioner yang diperoleh sampai akhir penelitian lapangan hanya berjumlah 102 kuesioner, dikarenakan responden dalam penelitian ini tidak berada ada dalam satu tempat, sehingga hanya 102 kuesioner yang digunakan analisis data. Adapun gambaran umum dari 102 responden yang diteliti antara lain:

Mayoritas petani tembakau di Jawa Tengah yang menjadi responden pada penelitian ini adalah pria yakni, sebanyak (100 %) dari total 102 petani tembakau yang di jadikan sampel. Berdasarkan pendidikan formal terakhir yang ditempuh, mayoritas responden memiliki pendidikan akhir hnaya sampai tingkat SMP (45 %) persen. Petani tembakau di Jawa Tengah yang menjadi responden dominasi oleh responden yang berumur 41-50 yaitu sebanyak (35.3%) hal ini menunjukakan bahwa mayoritas petani tembakau tersebut berada pada usia yang produktif. Dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Responden

Sumber data primer di olah (2019).

Keterangan Frequency Percent

Panel A. Jenis Kelamin Responden

laki- laki 102 100.0

Panel B. Jenis Pendidikan Terakhir Responden

SD 14 13.7

SMP 46 45.1

SMA 39 38.2

S1 3 2.9

Total 102 100.0

Panel C. Umur Responden

21-30 Tahun 13 12.7

31-40 Tahun 27 26.5

41-50 Tahun 36 35.3

51-60 Tahun 20 19.6

61-70 Tahun 6 5.9

Total 102 100.0

Panel D. Pekerjaan Responden

Petani 90 88.2

Wirausaha 8 7.8

Staff kelurahan 4 3.9

Total 102 100.0

(13)

13 UJI KEANDALAN DATA

Tabel berikut merupakan hasil uji validitas dan reabilitas. Nilai validitas ditunjukkan oleh nilai correlation yang apabila nilai tiap indikator penelitian lebih dari nilai r hitung yaitu 0. 25665 maka dinyatakan valid. Sedangkan variabel dinyatakan reliabel apabila nilai Cronbach Alpha’s lebih dari 0.60.

Dari hasil pengujian uji validitas dan reliabilitas ketiga variabel yaitu Pelatihan Kewirausahaan, Pola Pikir, Niat Berwirausaha dinyatakan reliabilitas dan valid ditunjukkan dari hasil pengujian Cronbach Alpha ketiga variabel lebih besar dari 0,60.

Uji Validitas

Berikut ini adalah hasil uji validitas setiap variabel

Tabel 2. Uji validitas Pelatihan Kewirausahaan Indikator

Penelitian Correlation Valid/ Tidak valid

Pelatihan 1 0.357 Valid

Instruktur 1 0.260 Valid

Perserta 1 0.332 Valid

perserta 2 0.393 Valid

Materi 1 0.367 Valid

Materi2 0.396 Valid

Metode 1 0.528 Valid

Metode 2 0.421 Valid

Tujuan 1 0.536 Valid

Tujuan 2 0.515 Valid

Lingkungan 1 0.358 Valid

Lingkungan 2 0.348 Valid

Waktu 1 0.345 Valid

Praktek 1 0,418 Valid

Praktek 2 0.266 Valid

(14)

14

Tabel 3. Uji validitas Variabel Pola Pikir

Indikator Penelitian Correlation Valid/ Tidak valid

Ide kreatif 1 0.418 Valid

Ide kreatif 2 0.438 Valid

Perubahan Pola Pikir 1 0.532 Valid Perubahan Pola Pikir 2 0.470 Valid Perubahan Pola Pikir 3 0.367 Valid Perubahan Pola Pikir 4 0.663 Valid Perubahan Pola Pikir 5 0.609 Valid Perubahan Pola Pikir 6 0.543 Valid

Tabel 4. Uji validilitas Niat Berwirausaha

Indikator Penelitian Correlation Valid/ Tidak valid

Tantangan Baru 1 0.611 Valid

Tantangan Baru 2 0.615 Valid

Tantangan Baru 3 0.537 Valid

Tantangan Baru 4 0.467 Valid

Tantangan Baru 5 0.446 Valid

Tantangan Baru 6 0.435 Valid

Inovasi 1 0.376 Valid

Inovasi 2 0.235 Valid

Berdasarkan tabel 2,3 dan 4 di atas dapat diketahui bahwa variabel pelatihan kewirausahaan dan pola pikir Valid dikarenakan nilai correlation untuk semua indikator Uji Realiabel

Tabel 5. Hasil Uji Realiabel

Variabel Cronbach Alpha Keterangan

Pelatihan Kewirausahaan 0.639 Realiable

Pola Pikir 0.707 Realiable

Niat Berwirausaha 0.681 Realiable

(15)

15

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa untuk semua variabel penelitian ini reliabel dikarenakan semua variabel memiliki nilai Cronbach Alpha’s lebih besar dari 0.60 Reliabilitas mencerminkan bahwa terdapat akurasi, konsistensi, dan ketepatan indikator untuk pengukuran konstruk.

UJI ASUMSI KLASIK Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji model regresi, variabel sebagai penganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2016). Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal, maka diuji dengan metode Kolmogorov Smirnov, dengan ketentuan kriteria pengujian: (1) Jika angka signifikansi, maka sig > 0,05 menunjukan data berdistribusi normal. (2) Jika angka siginifikansi, maka sig < 0,05 menunjukan data tidak berdistribusi normal.

(16)

16 Pelatihan kewirausahaan

Bentuk grafik histogram berikut menunjukan bahwa data terditribusi normal karena bentuk grafik normal dan tidak melenceng ke kanan atau ke kiri, dengan nilai signifikan sebesar 0.09 lebih besar dari 0.05

(17)

17 Pola pikir

Bentuk grafik histogram berikut menunjukan bahwa data terditribusi normal, namun terlihat realatis normal, dikarenakan grafik dalam histogram terlalu melenceng ke atas, dengan nilai signifikan sebesar 0,09 lebih dari 0.05.

(18)

18 Niat berwirausaha

Bentuk grafik histogram berikut menunjukkan bahwa data terdistribusi normal, namun terlihat realatis normal, dikarenakan grafik dalam histogram terlalu melenceng ke atas, dengan nilai signifikan sebesar 0,09 lebih dari 0.05.

(19)

19 Uji heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi apakah menjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lainnya. Apabila varian dan residual dalam suatu pengamatan yang lain tetap sama maka disebut dengan homoskesdastisis (Ghozali, 2016). Uji yang akan digunakan untuk melihat ada tidaknya heteroskedastisitas dalam penelitian ini adalah uji gletjer dengan software SPSS, di mana kriteria pengujian: (1) Angka Signifikansi uji gletjer Sig > 0,05 menunjukkan model regresi tidak mengundang Heteroskedastisitas. (2) Angka Signifikansi uji gletjer Sig. < 0,05 menunjukkan model regresi mengandung heteroskedatisitas.

Tabel 6. Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 3.518E-15 5.706 .000 1.000

Pola_Pikir .000 .160 .000 .000 1.000

Niat_Berwirausaha .000 .106 .000 .000 1.000

a. Dependent Variable: Abs_RES

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai signikansi dari variabel Pola Pikir sebesar 1% dan Niat Berwirausaha sebesar 1 %nilai keduanya lebih dari 0,05 sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

(20)

20 Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah data dimiliki sesuai dengan garis linear atau tidak. Jadi peningkatan atau penurunan kuantitas disalah satu variabel yang akan diikuti secara linear oleh peningkatan atau penurunan kualitas divariabel lain (Sarjono &

Julianita, 2011). Pengujian ini akan dilakukan dengan menggunakan Test For Linerarity yang terdapat pada software SPSS, dengan kriteria pengujian: (1) Jika Sig. Atau signifikansi pada Deviation From Lineariity < 0.05 maka hubungan antar variabel adalah tidak linear

Dari output di atas diperoleh nilai Deviation from Linearity sig 0,065 lebih besar dari 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan linearitas secara signifikan antara variabel pola pikir dan niat berwirausaha dengan variabel pelatihan kewirausahaan.

Uji Multikolerasi

Uji multikorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi atau hubungan antara variabel independen. Untuk mengetahui ada dan tidaknya multikorelasi diantara variabel independen dapat dilihat melalui toleran maupun varian inflation factor (VIF), dengan kriteria pengambilan keputusan: (1) Jika nilai toleran > 0.10 atau nilai VIF < 10, maka tidak ada multikolerasi (2) jika nilai toleran ≤ 0.10 yang bernilai VIF ≥ 10,

Tabel 7. ANOVA Table Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig.

Pelatihan_Kewir ausahaan * Pola_Pikir

Between Groups

(Combined) 518.839 13 39.911 2.728 .003 Linearity 207.419 1 207.419 14.177 .000 Deviation from

Linearity 311.419 12 25.952 1.774 .065

Within Groups 1287.485 88 14.631

Total 1806.324 101

Tabel 8. Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardize d Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 49.767 5.706 8.723 .000

Pola_Pikir .455 .160 .268 2.842 .005 .931 1.074

Niat_Kewirausa

haan .304 .106 .271 2.877 .005 .931 1.074

a. Dependent Variable: Pelatihan_Kewirausahaan

(21)

21

Seperti terlihat pada 8 masing masing nilai VIF lebih kecil dari 10 yaitu sebesar 1,074 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,74 yaitu sebesar 0,931 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas dalam model penelitian ini.

DATA DESKRIPTIF VARIABEL

Berikut ini adalah tabel- tabel yang berisikan data deskriptif variabel. Data ini berisikan jawaban kuesioner dari masing- masing responden penelitian.

(22)

22

Tabel 9. Data statistika deskriptif variabel Pelatihan Kewirausahaan.

Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2019

Keterangan: SS: Sangat Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju, N: Netral, TS: Tidak Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju

Indikator SS S N TS STS Rata-Rata

Pelatihan

Program pelatihan kewirausahaan memberikan pemahaman dan praktik dengan mudah sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan saya.

28 68 6 0 0 3.54

Instruktur

Instruktur dapat menciptakan interaksi yang baik

dengan peserta. 41 55 6 0 0 4.34

Perserta:

Saya dapat memahami materi pelatihan yang

disampaikan. 27 65 10 0 0 4.16

Saya dapat merasakan maanfaat dari pelatihan. 40 55 7 0 0 4.28 Materi:

Materi yang diberikan sesuai dengan tujuan

pelatihan. 34 57 11 0 0 4.22

Pemaparan materi yang dibawakan oleh

instruktur dalam pelatihan mampu di pahami. 27 64 11 0 0 4.15 Metode:

Metode pelatihan yang digunakan sesuai dengan

tujuan pelatihan. 33 59 9 1 0 3.46

Metode yang digunakan mempermudah saya

memahami pelatihan yang dilaksanakan. 26 65 10 1 0 4.13 Tujuan:

Pelatihan yang dilaksanakan sesuai dengan

tujuan yang ingin dicapai. 29 55 15 3 0 4.61

Saya memahami tujuan dari pelatihan yang di

laksanakan. 21 59 20 2 0 3.97

Lingkungan yang menunjang dan fasilitas:

Saya merasa nyaman dengan tempat dan

suasana pelatihan. 27 66 8 1 0 4.16

Fasilitas yang disediakan sudah memadai

sehingga pelatihan berjalan dengan lancar. 27 62 12 1 0 4.12 Waktu:

Waktu penyampaian materi pelatihan

kewirausahaan cukup memadai. 26 60 13 3 0 4.06

Praktek:

Pelatihan memberikan praktik secara nyata

melalui perjalanan kunjungan. 41 47 13 1 0 4.24

Kegiatan perjalanan kunjungan membantu saya lebih memahami materi pelatihan

kewirausahaan.

52 44 6 0 0 4.45

(23)

23

Dari 102 responden dengan 15 pertanyaan pada variabel pelatihan kewirausahaan indikator- indikator yang memiliki pengaruh dalam variabel pelatihan kewirausahaan yaitu tujuan dari pelatihan 4.61% , kemudian praktek yang dilakukan selama pelatihan sebesar 4.45%, lalu keikutsertaan perserta pelatihan sebesar 4.28 sehingga yang memiliki nilai terkecil dari variabel pelatihan kewirausahaan yaitu metode pelatihan itu sendiri sebesar 3.46

%.

Tabel 10. Statistika Deskriptif Variabel Pola Pikir

Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2019

Keterangan: SS: Sangat Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju, N: Netral, TS: Tidak Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju.

Dari data statistika deskriptif variabel pola pikir terlihat jelas pertanyaan pada variabel pola pikir indikator yang memiliki pengaruh yaitu pada perubahan pola pikir sebesar 4.60 %, namun yang memiliki nilai terkecil dari variabel Pola pikir yaitu ide kreatif sebesar 4.07 %

Indikator SS S N TS TST Rata-Rata

Ide Kreatif:

Saya mempunyai imajinasi yang tinggi setelah

mengikuti pelatihan 34 64 3 1 0 4.25

Saya sudah mempunyai ide membuka usaha

setelah mengikuti pelatihan. 15 80 7 0 0 4.07

Perubahan Pola Pikir

Saya beranggapan bahwa berwirausaha merupakan alternatif yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan hidup saya.

38 51 12 1 0 4.32

Saya adalah seorang yang memiliki kemauan untuk mengambil inisiatif untuk membuka bisnis baru.

33 56 12 1 0 4.18

Pelatihan mengubah pola pikir saya. 29 67 6 0 0 4.28

Saya mampu merencanakan masa depan yang

baik setelah mengikuti pelatihan. 39 47 16 0 0 4.22

Saya termotivasi untuk membuka usaha baru. 42 53 7 0 0 4.34 Setelah pelatihan saya mampu berpikir ke depan. 53 44 4 1 0 4.60

(24)

24

Tabel 11. Statistik Deskriptif Variabel Niat Berwirausaha

Sumber: Data Primer Diolah Tahun 2019

Keterangan: SS: Sangat Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju, N: Netral, TS: Tidak Setuju, STS:

Sangat Tidak Setuju.

Dari 102 responden dengan 8 pertanyaan pada variabel niat berwirausaha yang memiliki pengaruh terbesar yaitu pada inovasi sebesar 4.41 %, namun yang memiliki nilai terkecil dari variabel niat berwirausaha tantangan baru sebesar 4.06.

Indikator SS S N TS TST Rata-Rata

Tantangan Baru:

Saya berani menghadapi resiko atas keputusan

yang saya ambil. 30 65 7 0 0 4.22

Saya menjadi terdorong untuk membuka usaha

baru 28 71 3 0 0 4.06

Saya memiliki keinginan membuka usaha yang berbeda, dari sebelum- sebelumnya. (Tidak hanya menanam tembakau, melainkan diverifikasi usaha tanam saya).

39 54 9 0 0 4.29

Saya memiliki tekad kerja keras dalam upaya

pencapaian tujuan saya. 39 61 2 0 0 4.36

Saya memiliki keyakinan teguh dalam mencapai

tujuan saya. 47 51 4 0 0 4.42

Setelah saya mengikuti pelatihan kewirausahaa, saya merasa tertantang untuk membuka usaha baru.

38 59 5 0 0 4.32

Inovasi :

Setelah saya mengikuti pelatihan kewirausahaan saya menjadi tertarik dengan sesuatu yang bersifat kreatif dan inovatif.

47 51 3 1 0 4.41

Saya memiliki keyakinan bahwa saya mampu

menghadapi perubahan- perubahan yang terjadi. 51 45 6 0 0 4.14

(25)

25 PENGUJIAN HIPOTESIS

Untuk menguji hipotesis tentang pelatihan kewirausahaan terhadap pola pikir dan niat berwirausaha pada petani tembakau di Jawa Tengah digunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan menggunakan software SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 23.00. Hasil uji Regresi di sajikan dalam tabel 2.

H1: Pelatihan Kewirausahaan berpengaruh terhadap pola pikir Tabel 12. Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 50.037 5.445 9.189 .000

Pola_Pikir .497 .160 .298 3.116 .002

a. Dependent Variable: Pelatihan_Kewirausahaan

Nilai prob. t hitung dari variabel bebas pola pikir sebesar 0,002 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga variabel bebas pola pikir berpengaruh sigfinikan terhadap variabel terikat yaitu pelatihan kewirausahaan pada alpha 5% atau dengan kata lain, pola pikir berpengaruh sigfinikan terhadap pelatihan kewirausahaan jadi taraf keyakinan 95%.

Tabel 13. Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Change Statistics R Square

Change

F

Change df1 df2

Sig. F Change

1 .339a .115 .106 2.35367 .115 12.973 1 100 .000

a. Predictors: (Constant), Pelatihan_Kewirausahaan b. Dependent Variable: Pola_Pola_Pikir

Jika dilihat nilai R- Square yang besarnya 0.115 menunjukkan bahwa proposi pengaruh variabel pelatihan kewirausahaan terhadap pola pikir sebesar 115%. Artinya, pelatihan kewirausahaan berpengaruh terhadap pola pikir pada petani

(26)

26

Hasil uji F dapat di lihat pada tabel ANOVAa di bawah. Nilai prob.F hitung terakhir pada kolom terakhir (sig.)

Tabel 14. ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 154.701 1 154.701 9.710 .002b

Residual 1593.142 100 15.931

Total 1747.843 101

a. Dependent Variable: Pelatihan_Kewirausahaan b. Predictors: (Constant), Pola_Pikir

Nilai prob. F hitung (sig.) pada tabel di atas nilainya 0.002 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga dapaat di simpulkan bahwa model regresi linier yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh pelatihan kewirausahaan terhadap pola pikir pada petani Jawa Tengah.

H2: Pola Pikir berpengaruh terhadap niat berwirausaha.

Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel coeffcientsa seperti pada gambar dibawah ini:

Tabel 15. Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10.711 3.275 3.271 .001

Niat_Berwirausaha .675 .095 .581 7.137 .000

Nilai prob. t hitung dari variabel bebas pola pikir sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga variabel bebas pola pikir berpengaruh sigfinikan terhadap variabel terikat yaitu pelatihan kewirausahaan pada alpha 5% atau dengan kata lain, pola pikir berpengaruh sigfinikan terhadap pelatihan kewirausahaan jadi taraf keyakinan 95%.

(27)

27

Tabel 16. Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .581a .337 .331 2.03624 2.212

a. Predictors: (Constant), Niat_Berwirausaha b. Dependent Variable: Pola_Pikir

Jika dilihat nilai R- Square yang besarnya 0.337 menunjukkan bahwa proposi pengaruh variabel pelatihan kewirausahaan terhadap pola pikir sebesar 33.7%.

Hasil uji F dapat di lihat pada tabel ANOVAa di bawah. Nilai prob.F hitung terakhir pada kolom terakhir (sig.)

Nilai prob. F hitung (sig.) pada tabel di atas nilainya 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga dapaat di simpulkan bahwa model regresi linier yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Pola Pikir terhadap Niat Berwirausaha pada petani Jawa Tengah.

Tabel 17. ANOVAa

Model Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression 211.215 1 211.215 50.941 .000b

Residual 414.628 100 4.146

Total 625.843 101

a. Dependent Variable: Pola_Pikir

b. Predictors: (Constant), Niat_Berwirausaha

(28)

28 PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, dua hipotesisi dalam penelitian diterima, mayoritis responden setuju dengan hipotesis Pelatihan Kewirausahaan memiliki pengaruh yang sigfinikan terhadap pola pikir akan tetapi, kedua variabel memiliki pengaruh cukup lemah, dikarenakan pola pikir petani tembakau di Jawa Tengah telah terbentuk untuk mempunyai niat untuk berwirausaha. Kemudian daripada itu hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan (Lasdi, 2014) hasil temuan dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif, pelatihan dan pola pikir petani di dusun Kawedengan, dengan memberikan model pelatihan terpadu untuk meningkatkan kemampuan manajerial petani, selain itu upaya peningkatan kesejahteraan pada petani di dusun Kawedegan, didukung oleh praktek- praktek yang belum diterapkan di dusun tersebut.

Pelatihan kewirausahaan tersendiri memiliki serangkaian upaya yang dilaksanakan dengan sengaja yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan usaha sehingga tujuan usaha dapat tercapai melalui pelatihan, materi pelatihan dan praktek. Program pelatihan berusaha mengajarkan petani untuk beraktivitas atau pekerjaan tertentu. Daripada adanya interaksi yang dilakukan oleh Dinas Pertanian untuk memberikan informasi pelatihan kewirausahaan kepada petani guna untuk meningkatkan pengetahuan petani.

Selanjutnya, pada pengujian hipotesis kedua yang didapatkan bahwa variabel Pola Pikir memiliki pengaruh terhadap Niat Berwirausaha. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ariesta (2013), dimana faktor kewirausahaan menenukan hasil tidaknya petani dalam menyesuaikan dengan perubahan lingkungan bisnis.

Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh sifat individu dan faktor lingkungan yang terdiri dari lingkungan ekonomi, lingkungan sosial, lingkungan politik, dan lingkungan fisik. Selain itu mempengaruhi perilaku kewirausahaan, sifat individu dan lingkungan juga mempengaruhi kinerja usaha tani tembakau.

Perubahan pola pikir saat ini sangat dibutuh oleh para petani, dikarenakan pola pikir dapat mempengaruhi seseorang untuk memiliki usaha. Menurut Tubbs & Ekeberg, (1991) menyatakan bahwa niat berwirausaha adalah suatu tindakan yang direncanakan seseorang untuk mempunyai perilaku kewirausahaan. Sebelum seseorang memulai suatu usaha dibutuhkan suatu komitmen kuat dalam diri orang tersebut untuk mengawalinya yakni perubahan pola pikir.

(29)

29

Oleh karena itu, dengan adanya penelitian mengenai Pelatihan Kewirausahaan dan Pola Pikir Terhadap Niat berwirausaha bagi petani saat ini, menjadikan petani semakin memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola sebuah usaha melalui hasil pertanian yang mereka punya. Kita bisa lihat dari beberapa petani yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan dan mampu mengimplementasikan lewat usaha yang mereka rintis saat ini.

1. Bapak Joko

Bapak joko awalnya salah satu karangtaruna di wilayah Selo dan juga seorang petani tembakau, namun pada bulan Agustus pak Joko mengikuti pelatihan kewirausahaan di Temanggung sehingga pulang dari pelatihan tersebut bapak Joko mencoba memulai usaha Café De Argo pada bulan Agustus dengan maksud untuk memberikan edukasi tentang kopi di masyarakat Selo, tujuan mengikuti pelatihan mau mengangkat kopi, dan mensejahterakan para ibu- ibu di wilayah Selo, sebab awalnya kopi hanya dipetik dan biarkan. Untuk menjadi menarik tentang bagimana kopi disajikan untuk para pelanggan, maka bapak Joko juga membaca tentang kopi lewat situs- situs yang ada di dunia maya.

Sekarang tidak hanya café yang dimilik oleh bapak joko namun juga sekarang bapak joko telah membuat kalung dari biji kopi dan gelang dari biji kopi

Kesan setelah mengikuti pelatihan:

 mendapatkan ilmu

 Mendapatkan teman untuk sharing tentang pertanian

 Mendapatkan pengalaman Foto dokumentasi wawancara:

(30)

30 Foto Café De Argo milik bapak joko:

Foto kalung dan gelang dari biji kopi:

2. Bapak wates (Deplongan, Getasan)

Bapak Wates adalah seorang petani tembakau di Kopeng, dalam kesehariannya dia seorang petani biasa, namun pada tahun kemarin bapak Wates mengikuti pelatihan kewirausahaan di Temanggung dengan tujuan bapak Wates mengikuti pelatihan untuk mengangkat derajat petani melalui ilmu yang didapatkan.

Ketika Bapak Wates mengikuti pelatihan sangat kagum dengan pembawaan materi yang disampaikan oleh Ibu Lieli Suharti, Bapak Wates mengatakan” Ibu Lieli menyampaikan materi pelatihan saya bisa paham dan mengerti”. Sepulang dari pelatihan tersebut bapak Wates mencoba mempraktekan yang didapatkan dari pelatihan yang awalnya hanya menaman tembakau saja namun sekarang, bapak Wates telah menanam tanam lain seperti sayur- sayuran.

Sekarang Bapak Wates telah mencoba menjual sayur tersebut tidak hanya di pasar namun juga melalui via online, sehingga saat ini bapak Wates tidak hanya menerima pesanan untuk pasar saja, melainkan untuk pengawai desa di wilayah Kopeng dan Getasan.

(31)

31 BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI TEORI, KETERBATASAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat di ambil dari penelitian yaitu kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima (1) Pelatihan kewirausahaan berpengaruh langsung pola pikir, (2) Pola Pikir berpengaruh langsung terhadap niat berwirausaha, hal ini menunjukkan bahwa semakin para petani mengikuti pelatihan kewirausahaan, maka akan meningkatkan pengetahuan para petani sehingga mampu mempengaruhi pola pikir mereka untuk memiliki niat berwirausaha.

Implikasi Teori

Penelitian ini memberikan implikasi teoritis maupun manajerial. Implikasi teoritis bagi dunia akademik adalah untuk menguatkan model penelitian ini dengan menambahkan beberapa variabel seperti soft skill, umur petani, maupun pendidikan petani, sehingga penelitian ini terlihat menarik. Selain itu, penelitian ini memberikan impilkasi manajerial bagi pemerintahan, khususnya kepada Dinas Pertanian untuk memberikan pelatihan- pelatihan ataupun penyuluhan kepada petani di Provinsi Jawa Tengah, guna untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani.

Implikasi Terapan

Pelatihan kewirausahaan berpengaruh terhadap pola pikir petani tembakau di Jawa Tengah, sehingga diharapkan pelatihan kewirausahaan menjadi salah kunci untuk para petani tembakau yang sejahtera, kemudian pola pikir juga mampu memberikan pengaruh positif terhadap niat berwirausaha pada petani tembakau di Jawa Tengah, dengan harapan lewat pelatihan kewirausahaan para petani mampu mengubah pola pikir mereka, sampai memiliki niat, sehingga kesejahteraan petani membaik.

Keterbatasan Penelitian dan Saran

Penelitian ini telah diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur ilmiah, namun demikian masih memiliki keterbatasan yaitu: Faktor- faktor yang mempengaruhi pelatihan kewirausahaan dalam penelitian ini hanya terdiri dari 2 variabel yaitu pola pikir dan niat berwirausaha, namun bisa dilanjutkan dengan meneliti sampai ke sukses merintis usaha tersebut. Kemudian adanya keterbatasan dalam penelitian: 1). pada skala pengukuran pola pikir tidak menggunakan pengukuran dari buku melainkan dari sumber lain.

(32)

32

DAFTAR PUSTAKA

Andriyanto, 2013. Perbedaan Pola Pikir Kewirausahaan Dan Adversity Quotient Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang Yang Berorientasi Terhadap Pencipta Lapangan Kerja Dan Pencari Kerja, karya ilmiah. Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Diakses 16 juli 2018.

Ariesa, 2013. Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Terhadap Kinerja Usaha Tani Tembakau Virginia di Jawa Timur. Karya ilmiah. Sekolah Pascasarjana Institut Bogor.

Arifin, J. 2013. Tembakau di Persimpangan Jalan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Surabaya.

Dhliwayo, S. & Van Vuuren, J.J. 2007. The strategic entrepreneurial thinking imperative. Acta Commercii: 123-134.

Dumasari. 2014. Kewirausahaan Petani dalam Pelaksanaan Bisnis Mikro di Pedesaan. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 3 (3): 196-202. Diakses pada 11 Juli 2018.

Elitan L., Ladi, L., dan Hartono, A.S. 2013. Model Pelatihan Ketrampilan Usaha Terpadu Bagi Petani pengarap Lahan Perhutani di Dusun Kawedegan, Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat.

Journal & Procedding FEB UNSOED. http://jp.feb.unsoed.ac.id/index.php/sca- 1/acticle/view/285/290.diakses 16 juli 2018.

Evans, J.R. and B. Berman, 1992. Marketing. Macmillan Publishing Company, New York, USA.

Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPS 23. Semarang:

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hair, J.F. JR., R.E, Tatham, R.L., & Black, W.C. 2006. Multivariate Data Analysis. Six Edition. New Jersey: Pearson.

Herminingsih, 2014. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Perilaku Petani Tembakau di Kabupaten Jember.Jurnal Matematika, Saint &Teknolgi. Volume. Nomor 1 maret 2014, 42-45.

Hisrich R. D., M.P. Peters and D. A. Sepherd, 2017. Entrepreneurship, Mcgraw- Hill Education, New York, USA.

http://distanpangan.magelangkab.go.id di akses pada 25 juli 2018, jam 18:19 wib).

Ihsan. 2006. Dasar-dasar Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Jenkins, M. & Johnson, G. 1997. Entrepreneurial Intentions and Outcomes: A Comparative Causal Mapping Study. Journal Management Studies, 34, 895–920.

Johnson, Elaine B. 2009. Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan belajar mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung: Mizan Learning Center

(33)

33

Krueger, N. 1993. The Impact of Prior Entrepreneurial Exposure on Perceptions of New Venture Feasibility and Desirability. Entrepreneurial Theory Practice. 18(1): 5–21.

Kurniawan. 2007. AnalisisProfitabilitas sebelum dan sesudah pemenuhanCorporate Governance pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Jakarta.Jurnal MAKS I7 (3).

Larsito, 2005. Analisis Keuntungan Usahatani Tembakau Rakyat dan Efisiensi Ekonomi Relatif Menurut Skala Luas Lahan Garapan. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.

Lasdi, 2014. Business Dynamics toward Competitive Economic Region of ASEAN.

Proceeding Seminar & Call For Papers. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Salatiga 2014.

Lee, S.H. & Wong, P.K. 2004. An Exploratory Study of Technopreneurial Intentions: A Career Anchor Perspective. Journal of Business Venturing. 19(1): 7-28.

Mcgrath, R. G. and I. MacMillan.2000.The Entrepreneurial Mindset. Boston USA: Harvard Business school Press.

Nuswantari, D. (Ed). 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC

Priyanto S.H. 2008. Di dalam Jiwa ada Jiwa: The Backbone and the Social Construction of Entrepreneurships. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Kristen Satya Wacana.

Purnomo, R.2017. Efektivitas Pelatihan Kewirausahaan Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Motivasi Berwirausaha Pada Penyandang Tunarungu. Ekspektra, Jurnal Manajemen dan Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Hal. 21-30

Rudi Wibowo, 2007. Revitalisasi Komoditas Unggulan Perkebunan Jawa Timur. Jakarta PERHEPI

Sadjudi.2009. Pengaruh Kewirausahaan Terhadap Kinerja Usahatani Tembakau di Kecamatan Gantiwarno Kabupaten Klaten. Jurnal Aplikasi Manajemen. 7(2): 401-410.

Sardiman, 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja GrafindoPersada. 224 hlmn

Sarjono, H., & Julianita, W. 2011. Spss vs Lisrel ; Sebuah Pengantar Aplikasi untuk Riset.

Jakarta: Salemba Empat.

Setiawan A. 2015. Permasalahan Agribisnis Tembakau di Tingkat Petani. Malang (ID): Balai Penelitian Tembakau dan Serat.

Setiyaningsih.2014.Pelaksanaan Pelatihan Kewirausahaan Ternak Kambing Di Dusun Nglembu Desa Panjangrejo Kabupaten Bantul, karya ilmiah. Fakultas Ilmu Pendidikan.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D . Bandung: Alfabeta.

Suliyanto. 2011. Ekonometrika Terapan: Teori dan Aplikasi dengan SPSS. Yogyakarta: ANDI

(34)

34

Tariningsih. D, 2017. Strategi Tanaman Tembakau di Subak Abian Geluwung, Kabupaten Karangasem Bali. Agrimeta Vol. 17. No 13. April 2017 ISBN: 2088-2521.

Tjahjono, H.K. & Ardi, H. 2008. Kajian Niat Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk Menjadi Wirausaha. Utilitas Jurnal Manajemen dan Bisnis, 16(1): 46-63

Trihatmoko, A, S.E. dan Harsono M. S.E 2017. Kewirausahaan. UPP STIM YKPN.

Yogjakarta.

(35)

35 Kepada Yth

Bapak/ Ibu/ Saudara/i

Dengan hormat.

Sehubungan untuk memenuhi kelengkapan penyusunan skripsi, saya bermaksud mengadakan penelitian pada bapak/ Ibu/ saudara/i, yang mengikuti pelatihan kewirausahaan dengan judul Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Pola Pikir dan Niat Berwirausaha Pada Petani. Kegiatan ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian sarjana di Universitas Kristen Satya Wacana. Maka dengan segala kerendahan hati saya, memohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk meluangkan waktu dalam mengisi kuesioner yang telah di lampirkan.

Penelitian ini bersifat ilmiah, dan hanya dipergunakan untuk keperluan penyusunan skripsi. Disamping itu juga, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pelatihan kewirausahaan.

Saya memohon kesediaan Bapak/ Ibu/ Saudara/i, untuk menjawab semua pertanyaan yang ada secara jujur dan terbuka.

Atas segala bantuan dan partisipasi yang Bapak/ Ibu/Saudara/i berikan, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Felicia Kolong

Email: [email protected] No Hp: 081215368179

(36)

36

DATA RESPONDEN

Ket; Untuk mengisi data responden, berilah tanda centang (√) pada kotak yang sudah disediakan.

1. Nama:

2. Umur:

3. Jenis kelamin

Laki- laki Perempuan 4. Pendidikan Terakhir:

SD S1/ Akademik SMP ≥ S1

SMA

5. Jenis pekerjaan sampingan:

PNS Dan lain-lain, Sebutkan………

Wirausaha

(37)

37

Kuesioner Penelitian

Petunjuk Pengisian Kuesioner:

1. Berilah tanda (√) pada salah satu jawaban yang menurut anda sesuai dengan diri anda.

2. Apabila Anda ingin mengganti jawaban, beri tanda sama dengan (=) pada jawaban yang lama, kemudian beri tanda silang (X) atau cek (√) pada jawaban pengganti.

3. Keterangan skor:

SS: Sangat Setuju Diberikan Skore 5

S: Setuju Diberikan Skore 4

N: Netral Diberikan Skore 3 TS: Tidak Setuju Diberikan Skore 2 STS: Sangat Tidak Setuju Diberikan Skore 1

Contoh:

Apabila pernyataan di bawah ini sangat sesuai dengan dengan anda maka berilah tanda cek (√) pada pilihan pernyataan sangat sejutu sesuai (SS)

No. Pertanyaan SS S N TS STS

1 Saudara merasa senang dengan adanya pelatihan kewirausahaan.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Responden
Tabel  berikut  merupakan  hasil  uji  validitas  dan  reabilitas.  Nilai  validitas  ditunjukkan oleh nilai correlation yang apabila nilai tiap indikator penelitian lebih dari nilai r  hitung yaitu 0
Tabel 3. Uji validitas Variabel Pola Pikir
Tabel 6. Coefficients a Model  Unstandardized Coefficients  Standardized Coefficients  T  Sig
+7

Referensi

Dokumen terkait

Para informan dalam studi kasus ini adalah wanita yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, menganut agama Islam dan melakukan perkawinan dengan

Pada sub bab ini menyajikan capaian kinerja Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah untuk setiap pernyataan kinerja sasaran

Balai Energi dan Sumber Daya Mineral (Balai ESDM) merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah yang

Dalam mewujudkan pembangunan ketahanan pangan di Jawa Tengah dilaksanakan dilaksanakan melalui 3 program yaitu : (1) Peningkatan Ketahanan Pangan; (2) Pengembangan

Kebijakan dari pemerintah setempat kurang mengakomodir petani KJA, karena dinilai masih belum berkontribusi pada petani ikan KJA, yaitu kebijakan mengenai kuantitas

Arah kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Timur menekankan keberpihakkanya (affirmativeness) pada Wong Cilik sebagaimana akan diusung hingga tahun 2019. Rancangan RKPD

Berdasarkan uraian tersebut diatas, peneliti sangat tertarik dengan pola kebijakan yang dilakukan pemerintah di bidang penetapan tariff cukai dan harga jual eceran hasil tembakau

Implementasi kebijakan ini memang membutuhkan dana investasi yang sangat besar pada tahap awal, baik untuk pengadaan perangkat komputer, peningkatan mutu SDM pelaksana