13
PRAMUKA
A. KEPANDUAN MASA KOLONIAL
Penjajahan oleh bangsa Barat dimulai dengan kedatangan Bangsa Portugis, Inggris kemudian disusul oleh Belanda. Selama penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, banyak terjadi peperangan yang berlangsung lama dan tidak sedikit memakan korban jiwa. Rakyat Indonesia kemudian disadarkan perjuangan tanpa nasionalisme dan patriotisme tidak akan berhasil. Untuk itu perlu adanya usaha nyata yang kemudian memunculkan banyak organisasi berbasis politik, sosial, maupun pendidikan.
Bagi bangsa Indonesia tahun 1908 merupakan tahun istimewa, dimana tahun tersebut tepatnya 20 Mei telah berdiri sebuah organisasi modern pertama di Indonesia yaitu Budi Utomo. Saat itulah wacana baru bangsa Indonesia mulai terbuka. Corak baru yang diperkenalkan oleh Budi Utomo adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam bentuk organisasi modern dalam arti organisasi ini memiliki pimpinan, anggota dan ideologi yang jelas.1
Berdirinya Budi Utomo di tahun 1908 menjadi tonggak kebangkitan Indonesia bertekad untuk bangkit dari segala penindasan bangsa asing. Lahirnya Budi Utomo merupakan fase pertama tumbuhnya nasionalisme Indonesia. Di saat Budi Utomo menggobarkan semangat perjuangannya, tahun 1907 Mayor Jendral Baden Powell dari Inggris mencetuskan Ide Scouting yang berarti pedoman pokok
1 Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994), hlm 30
untuk pendidikan kepanduan di seluruh dunia, dimana pendidikan itu ada yang berwujud permainan dan keterampilan.
Di Belanda berkembang organisasi kepanduan berdasarkan ide pemikiran Baden Powell. Tak lepas dari pengaruh tersebut maka pada tahun 1912 tepatnya di Jakarta, berdirilah organisasi kepanduan bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Organisasi ini didirikan oleh P.Y Smits dan Majoor Yager.2 Organisasi ini didirikan atas anjuran dari perkumpulan pandu yang berada di negeri Belanda. Tujuan dari didirikannya organisasi kepanduan NPO ini adalah untuk remaja dan pemuda Belanda yang berada di Indonesia. Dalam waktu yang singkat, NPO berhasil berkembang dengan pesat di kota-kota besar di Indonesia.
Di sisi lain, Eropa sedang berkecamuk perang yang dikenal dengan nama Perang Dunia I. Perang ini berlangsung dari tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918. Perang yang terjadi di Eropa ternyata membawa dampak yang cukup besar bagi hubungan Indonesia dengan Belanda. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang paling dahsyat bagi kepanduan dunia. Oleh karena itu maka NPO diberikan kewenangan untuk berdiri sendiri dan membentuk kwartir besar sendiri. Maka, berdirilah organisasi-organisasi kepanduan berdasar aliran masing-masing. Namun pada tanggal 4 September 1914 organisasi-organisasi tersebut dipersatukan di bawah organisasi baru bernama De Nederlands Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).3
NIPV berbeda dengan NPO. Jika NPO hanya diperuntukkan bagi pemuda dan remaja Belanda, maka NIPV lebih terbuka dalam merekrut anggotanya.
2 NN, Patah Tumbuh Hilang Berganti 75 tahun Kepanduan dan Kepramukaan, (Jakarta : Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1987), hlm 13
3 Ahmaddani.G, Pemuda Indonesia dalam Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa, hlm 44
Artinya dalam NIPV juga terbuka bagi remaja dan pemuda Indonesia namun tetap hanya memperbolehkan remaja dan pemuda Indonesia tertentu dan terbatas untuk menjadi anggota NIPV sesuai dengan politik yang diterapkan Belanda. Hal tersebut membuat pemuda Indonesia berkenan masuk menjadi anggota NIPV.
Kebanyakan dari mereka memiliki landasan berpikir bahwa organisasi kepanduan ini dapat dijadikan alat untuk berjuang memperoleh kemerdekaan. Tetapi, ada juga diantara mereka yang masuk hanya karena orangtua mereka bekerja di bawah naungan pemerintah Hindia Belanda.
Seiring perkembangan organisasi bentukkan Belanda di Indonesia, di tahun 1916 atas prakarsa S.P Mangkunegara VII di Surakarta berdirilah organisasi kepanduan bumiputera pertama di Indonesia dengan nama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO), disusul dengan berdirinya organisasi Teruna Kembang di daerah Kasunanan di bawah pimpinan Pangeran Suryobroto. Perkembangan kepanduan di Indonesia sejalan dengan pergerakan nasional. Kepanduan dapat dijadikan alat untuk meningkatkan budi luhur, keterampilan dan kepribadian serta dapat memupuk bakat kepemimpinan. Semuanya berguna untuk meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pemuda. Maka dari itu, kepanduan tumbuh subur dalam berbagai organisasi kepemudaan. Yogyakarta, Bandung dan Jakarta tercatat sebagai tempat subur perkembangan organisasi kepanduan di Indonesia.
Pada tahun 1918, berdirilah organisasi kepanduan Padvinder Muhammadiyah di bawah naungan Muhammadiyah yang dipelopori oleh K.H Ahmad Dahlan, Syiraj Dhlan, Sarbini, dan lainnya. Di tahun 1920 atas usul R.H.
Hajid nama Padvinder Muhammadiyah berubah menjadi Hizbul Wathon (HW).
Serikat Islam pun menyusul dengan mendirikan organisasi kepanduan bernama
Wira Tamtama yang dipimpin oleh A. Zarkasi. Tak mau kalah, organisai modern pertama di Indonesia yaitu Budi Utomo turut serta membentuk organisasi kepanduan bernama Nationale Padvinderij dipimpin oleh Daslan Adi Wasito.
Setelah para pelajar Indonesia yang bergabung dalam perkumpulan pemuda pelajar Indonesia mulai menaruh minat dan perhatian pada organisasi kepanduan, jumlah perkumpulan kepanduan di Indonesia berkembang sangat pesat.4
Bulan Juli 1921 Jong Java cabang Mataram / Yogyakarta yang dipimpin oleh Supardi memutuskan untuk mendirikan padvinderij atas usulan dari Rustiman dan Subiono. Pasukan padvinder dari Jong Java tersebut menjadi pasukan Jong Java Padvinderij di bawah pimpinan Suripto, Suratno Sastroamijoyo, Rustiman dan Subiono. Bendera pasukannya berwarna merah- putih (umbul-umbul gula kelapa) dan kacu lehernya juga sama warnanya.5 Dalam kongres Jong Java V yang diadakan di Solo tahun 1922 mengambil keputusan untuk memasukkan padvinderij dalam gerakan pemuda Jong Java dan diberi nama Jong Java Padvinderij yang disingkat JJP.
Cabang Jong Java Jakarta mengikuti mendirikan pasukan JJP yang dipelopori oleh Pirngadi, Muwardi dan Delian Sumodirjo. Di lain-lain tempat yang terdapat cabang Jong Java, banyak yang menyusul mendirikan pasukan JJP.
Pada umumnya para pemimpin JJP pertama adalah mereka yang pernah menjadi anggota pasukan NIPV. Pasukan JJP kemudian diorganisasikan menjadi satu organisasi kepanduan nasional dan Jakarta dipilih sebagai pusatnya. Pimpinan JJP pusat waktu itu adalah Muwardi, Suratno Sastroamidjoyo dan Sugandi.
4 Suhatno, Op.cit., hlm 8
5 NN, Op. cit., hlm 13
Dengan pertimbangan bahwa dengan adanya wadah bersama maka gerakan kebangsaan akan menjadi lebih kuat, makan para pelajar dan mahasiswa mulai bergabung dalam wadah bersama yaitu Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada tahun 1926.
Ide mempersatukan organisasi pemuda ini dilaksanakan dalam Kongres Pemuda I yang dlaksanakan 20 April – 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres Pemuda I ini memiliki tujuan untuk menanamkan semangat kerjasama antara perkumpulan pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar persatuan Indonesia dalam arti yang lebih luas. Terbentuklah Jong Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1926 yang memiliki tujuan untuk menanamkan dan mewujudkan cita-cita persatuan Indonesia.
Dalam rangka mempersatukan kepanduan nasional Indonesia maka NPO dan JIPO dilebur menjadi Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO) dibawah pimpinan Ir. Soekarno dan Mr. Sunaryo sedangkan anggota JIPO yang tidak masuk INPO mengganti nama JIPO menjadi Pandu Indonesia (PI).
Didorong oleh semangat persatuan yang semakin lama semakin kuat, pada tanggal 23 Mei 1928 di Jakarta diadakan pertemuan antara wakil-wakil kepanduan nasional Indonesia antara lain dr. Muwardi dari Pandu Kebangsaan (yang dulunya adalah JJP), Mr. Sunaryo dari INPO, Mr. Kasman Singodimejo dari NATIPIJ dan Ramelan dari SIAP. Dalam pertemuan tersebut berhasil dibentuk suatu badan federasi bernama “Persaudaran Antara Pandu Indonesia” (PAPI). Angoota PAPI saat itu adalah Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATPIJ dan PPS. Pengurus PAPI pertama adalah Mr. Suanryo dan Dr. Halim dari INPO, Dr. Muwardi dari
PK, Aruji Kartawinata dan Ramelan dari SIAP, serta Mr. Hom Rum dari NATIPIJ dengan memilih Jakarta sebagai pusat pimpinan PAPI.
Di lain tempat seperti Solo dan Yogyakarta yang memiliki lebih dari satu kepanduan dibentuk PAPI Daerah. Di Solo, badan ini diberi nama “Badan Persatuan Kepanduan Surakarta”, sedangkan di Yogyakarta diberi nama “Badan Persaudaraan Kepandua Mataram”. Adapun tujuan dari PAPI ini antara lain : (1) Mempererat persaudaraan diantara anggota PAPI. (2) Memudahkan kerjasama untuk meningkatkan nilai latihan kepanduannya masing-masing. Dengan terbentuknya PAPI ini adalah tahap pertama menuju penyatuan organisasi kepanduan di Indonesia sudah terlaksana.6
Berbagai usaha yang dilakukan para pemuda guna menghadapi kekuasaan pemerintah kolonial Belanda dan mencapai kemerdekaan Indonesia semakin kuat namun semakin berliku. Tidak kecil bahaya yang mereka hadapi dan tidak sedikit rintangan yang menghambatnya. Penderitaan ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda merupakan resiko perjuangan mereka namun semua itu tidak membuat jerah melainkan bertambah kegigihan mereka dalam mengobarkan semangat kesatuan dan persatuan. Maka, atas inisiatif PPPI dilangsungkanlah Kongres Pemuda II pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta.
Dalam Kongres Pemuda II itu tampillah seorang tokoh putera Indonesia bernama Wage Rudolf Supratman yang berjuang melawan penjajahan dengan menciptakan karya seni khususnya lagu-lagu perjuangan. Ia adalah pencipta lagu
“Indonesia Raya” yang dikumandangkan pertama kali saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Lagu ini pernah dilarang tetapi tetap berkumandang
6 Suhatno, Op.cit, hlm. 13
terutama di kalangan pemuda atau kepanduan Indonesia. Di dalam permulaan lagu Indonesia Raya, W.R Supratman menggunakan kata pandu dalam syairnya, yang berbunyi :
Indonesia Tanah Airku, Tanah tumpah darahku Disanalah Aku berdiri, jadi pandu ibuku
W.R Supratman menggunakan istilah “Pandu” dengan maksud agar setiap warga Indonesia berjiwa pandu, menjadi pelopor dalam perjuangan bangsa Indonesia.
W.R Supratman bukanlah anggota pandu, tetapi ia memiliki jiwa pandu yang tabah menerima cemoohan, rintangan dan ancaman dari pihak Belanda.
Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Kongres Pemuda II benar-benar menjiwai gerakan kepanduan nasional Indonesia untuk bergerak lebih maju dalam rangka konsolidasi kekuatan nasional. Satu tahun setelah PAPI terbentuk, pada tanggal 15 Desember 1929 PAPI mengadakan pertemuan kedua di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut muncul pendapat agar diadakan fusi dari semua organisasi kepanduan di Indonesia menjadi satu Organisasi Kepanduan Indonesia, akan tetapi dari peserta yang hadir dalam pertemuan tidak semuanya dapat menyetujui.
Hal ini disebabkan beberapa organisasi kepanduan memiliki azas yang berbeda- beda. Menanggapi hal tersebut agar organisasi kepanduan persaudaraan tetap terjaga maka disepakati untuk membentuk dua buah panitia. Tugas dari panitia tersebut adalah mempelajari penyelenggaran dan rencana pelaksanaannya bagi organisasi kepanduan yang berdasarkan pada azas kebangsaan semata-mata dan bagi yang mengutamakan dasar-dasar agama.7
7 Suhatno, Op.cit., hlm 15
Sama halnya dengan gerakan nasional bangsa Indonesia, gerakan kepanduan dicurigai dan dihalang-halangi aktivitasnya oleh pemerintah kolonial Belanda.
Kegiatan seperti peringatan hari wafatnya Pangeran Diponegoro dan lahirnya R.A. Kartini tidak boleh dilaksanakan bahkan para pemimpin pandu banyak yang ditangkap dan anggotanya diteror. Tidak hanya pemerintah kolonial Belanda yang merintangi gerakan kepanduan Indonesia tetapi Organisasi kepanduan Belanda ikut-ikutan meniadakan gerakan kepanduan Indonesia dengan tidak memperkenankan mereka untuk turut menyambut sehingga menyebabkan bertambah besarnya ketegangan hubungan antara kepanduan nasional Indonesia dengan NIPV.
Berkat keteguhan para pemimpin kepanduan Indonesia, maka segala upaya dari pihak Belanda untuk menghentikan dan mematikan kepanduan nasional Indonesia tidak berhasil. Sebaliknya, perhatian masyarakat bertambah besar kepada cara pendidikan kepanduan. Terbukti, tumbuh suburnya organisasi kepanduan Indonesia di berbagai kalangan dari akhir tahun 1928 sampai tahun 1935 tidak hanya KBI, gerakan kepanduan Indonesia diperkuat dengan lahirnya organisasi-organisasi kepanduan dengan asas yang berbeda seperti asas kebangsaan maupun agama. Contoh organisasi-organisasi kepanduan tersebut adalah :
1. Kepanduan berdasarkan Kebangsaan a. Pandu Indonesia (PI) di Bandung
b. Padvinders Organisatie Pasundan (POP) di Bandung c. Pandu Kesultanan (PK) di Yogyakarta
d. Sinar Pandu Kita di Solo
e. Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI) di Malang 2. Kepanduan berdasarkan Agama Islam
a. Pandu Anshor di Surabaya
b. Al Wathoni, Hisbul Islam, dan Kepanduan Islam Indonesia (KII) di Solo c. Islamitische Padvinders Organisatie (IPO) di Jakarta
3. Kepanduan berdasarkan Agama Kristen dan Katholik a. Tri Darma di Yogyakarta
b. Kepanduan Azas Katholik (KAKI) di Yogyakarta c. Kepanduan Masehi Indonesia (KMI) di Jakarta
B. KEPANDUAN MASA JEPANG
Suasana politik dunia mengalami perubahan akibat tindakan Jepang yang dengan frontal menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai.
Tak ada yang mengira bahwa kekuatan kolonial Belanda di Indonesia yang diperkuat oleh tentara sekutu dapat digulingkan oleh kekuatan tentara Jepang hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Jepang melakukan pendaratan di Jawa dan berhasil menduduki pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan Belanda.
Selanjutnya, Panglima Angkatan Bersenjata Belanda atas nama angkatan Perang Serikat di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 9 Maret 1942.
Menyerahnya Belanda terhadap Jepang di Kalijati menjadikan Indonesia berada di bawah kekuasaan tentara Jepang. Kedatangan pasukan Jepang di Indonesia mulanya diterima dengan gembira oleh rakyat kerena dianggap sebagai
penolong membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda.
Akan tetapi, perangai Jepang sebagai sosok penjajah perlahan muncul. Segala tindakan propaganda dan tindakan-tindakan simpatik lainnya berganti menjadi radikal dimana bendera Merah Putih yang dulu boleh berkibar dengan bebas mulai dilarang dan lagu Indonesia Raya yang dulu bebas bergema mulai dilarang.8
Jepang bermaksud untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan, maka dari itu untuk dapat mencapai maksudnya, Jepang memanfaatkan potensi bumi putera yang mempunyai pengaruh di masyarakat seperti para alim ulama, guru dan pamong praja. Tujuannya adalah menyebarkan paham Jepangnya kepada masyarakat Indonesia melalui para bumi putera itu. Melalui gerakan 3A dihimpun Barisan Pemuda Asia Raya dan membentuk komite dengan Dr. Slamet Sudibjo sebagai ketuanya. Di masa Jepang ini keadaan Indonesia sangat berubah dan tampak menyolok bagi organisasi kepemudaan dan kepanduan. Semua organisasi yang dibentuk pada masa Belanda dibubarkan termasuk kepanduan. Jepang memerintahkan agar pemuda yang pernah aktif di kepanduan, militer dan organisasi pemuda lainnya untuk menggalang disiplin guna persatuan dan patriotisme. Banyak bekas anggota pandu yang masuk dalam organisasi PETA, Heiho, Keibodan dan Seinendan.
Tanggal 7 Juli terpilih menjadi Hari Pemuda yang bercita-cita akan memerdekakan bangsa Asia dari kekuasaan Belanda maka diresmikan pendidikan San A Seinen Kunrensyo (Pendidikan Pemuda 3 A) di Jatinegara dengan Wakabayashi sebagai pemimpin dan dibantu oleh A. Latief. Di tempat itu dididik 38 orang pemuda berusia 14-18 tahun yang semuanya bekas anggota kepanduan
8 Yayasan Gedung-Gedung Bersejarah Jakarta, 45 tahun Sumpah Pemuda, (Jakarta : PT. Gunung Agung, 1975), hlm 110.
dan organisasi pemuda lainnya. Pembentukan Seinen Kunrensyo adalah untuk membentuk badan pemuda kelanjutannya, yaitu Seinendan. Dipilihlah pemuda berumur 14-25 tahun dan diajarkan baris berbaris secara militer Jepang dengan memanggul mokuju (senapan dari kayu). Selain baris berbaris, mereka juga diajarkan bahasa Jepang, displin Jepang, semangat Jepang, beternak atupun bercocok tanam. Setiap pagi para pemuda harus mengadakan penghormatan ke arah Istana di Tokyo dan mengucapkan sumpah Sinendan bersama-sama.
Meski demikian, usaha-usaha untuk tetap mendirikan dan memajukan organisasi gerakan kepanduan bangsa Indonesia tetap dijalankan. Tanggal 6 Februari 1943, pandu-pandu dari berbagai macam perkumpulan yang telah dibubarkan berhasil mengadakan Perkino II bertempat di Jakarta. Hal ini menunjukkan betapa besar arti kepanduan bagi bangsa Indonesia sehingga meskipun dilarang aktivitasnya oleh pemerintah Jepang, para pemimpin kepanduan tetap berani melaksanakan Perkino. Akan tetapi Jepang memiliki rencana sendiri untuk menghadapi aksi gerakan kepanduan tersebut. Gerakan kepanduan tersebut tidak boleh dilangsungkan, akan tetapi sebagai gantinya anak- anak dan pemuda Indonesia dimasukkan dalam Seinendan. Seinendan adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh pemerintah Jepang hanya untuk memenuhi kebutuhan angkatan perang Jepang.9
9 NN, Op.cit., hlm 27.
C. KEPANDUAN MASA REPUBLIK INDONESIA
1. Kepanduan tahun 1945-1950
Penjajahan Jepang di Indonesia tidak lama, hanya sekitar 3,5 tahun yang disebabkan serangan bom atom beruntun oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Akibatnya, Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah, terjadilah kekosongan kekuasaan di Indonesia yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para tokoh pemimpin bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan. Pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indoneisa ke seluruh penjuru dunia.
Sejak itu, bangsa Indonesia bukan lagi sebagai bangsa yang dijajah tetapi sudah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Setelah Indonesia merdeka, berkobarlah api revolusi di seluruh tanah air Indonesia. Rakyat bangkit mengangkat senjata melawan Sekutu yang digawangi oleh Belanda. Bangkit pula semangat kepanduan dan persatuan dikalangan bekas pemimpin pandu timbul cita-cita untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduan Indonesia dengan bentuk dan sifat yang disesuaikan dengan zamannya agar tidak ada perpecahan kembali. Akhir September 1945 di gedung Balai Mataram Yogyakarta diadakan pertemuan para pemimpin pandu dari KBI, HW, SIAP, NATIPIJ, Tri Darma, Kepanduan Azaz Katholik Indonesia dan Pandu Kasultanan. Diambillah beberapa keputusan dalam pertemuan tersebeut sebagai berikut :
1. Membentuk panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia
2. Menganjurkan pembentukan satu organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia
3. Membentuk suatu Panitia Kerja untuk melaksanakan organisasi itu 4. Mengadakan secepat mungkin Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia
Prakarsa Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia ini diperkuat dengan kedatangan tiga orang tokoh KBI, yaitu dr. Sutarman, Subagio, dan Kurnia dari Jakarta yang membawa amanat Ki Hajar Dewantara sebagai Menteri PP dan K agar para mantan pemimpin Kepanduan Indonesia menghidupkan kembali gerakan kepanduan. Diadakanlah pembagian kerja yaitu panitia di Yogyakarta membuat rencana pelaksanaan putusan panitia dan mengadakan hubungan dengan pandu-pandu di Surakarta, sementara panitia di Jakarta bertugas mengadakan kontak dengan pandu-pandu lainnya yang tersebar dan dengan instansi-instansi pemerintah serta masyarakat untuk meminta bantuan jika diperlukan.
Tanggal 27-29 Desember 1945 Kesatuan Kepanduan Indonesia mengadakan kongres di Surakarta dan memutuskan untuk membentuk suatu organisasi kesatuan kepanduan dengan nama Pandu Rakyat Indonesia, dengan dasar : (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Perikemanusiaan, (3) Kebangsaan, (4) Demokrasi/Kedaulatan rakyat, (5) Keadilan sosial. Kongres juga menutuskan bahwa mantan pimpinan KBI diangkat sebagai Pengurus Besar yang pertama. Jadi lahirnya Pandu Rakyat Indonesia betul-betul dijiwai semnagat Proklamasi. Pada upacara pelantikan Pandu Rakyat Indonesia dimpimpin oleh dr. Muwardi menyatakan ikrar yang bernama “Janji Ikatan Sakti” diakui oleh Pemerintah
Republik Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan Indonesia berdasar Keputusan Menteri PP dan K Nomor 93/Bag.A tertanggal 1 Februari 1947.10
Perkembangan Pandu Rakyat Indonesia mengalami hambatan dikarenakan Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947. Agresi Militer I menimbulkan reaksi hebat dari dunia internasional. Pemerintah India dan Australia mengajukan permintaan agar masalah Indonesia segera diselesaikan dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Pada tanggal 1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan kedua belah pihak untuk menghentikan tembak menembak. Pada tanggal 4 Agustus 1947 Republik Indonesia dan Belanda mengumumkan penghentian tembak menembak. Maka tanggal 4 Agustus 1947 resmi berakhirnya Agresi Militer Belanda I.11
Selama Agresi Militer Belanda I ini segala kegiatan Pandu Rakyat Indonesia terhenti. Namun setelah terjadi gencatan senjata pada tanggal 4 Agustus 1947 Pandu Rakyat Indonesia mulai bangkit lagi. Hal ini terbukti pada tanggal 22 Agustus 1947 Pandu Rakyat Indonesia membentuk Kwartir Besar Pandu Puteri dengan Ny. Suhariah sebagai Komisaris Besar Pandu Puteri. Kedudukan Kwartir Besar Pandu Puteri sejajar dengan Kwartir Besar Pandu Putera. Pada akhir Maret 1948 Ny. Suhariah mengundurkan diri yang kemudian digantikan oleh Ny.
Kayatun.
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali menyerang dengan menduduki Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, serangan ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden
10 NN, Op.cit., hlm 36-38.
11 Ginanjar Kartasamita, dkk, 30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949, (Jakarta : PT Tira Pustaka, 1983), hlm 45.
Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Sebelum ditangkap Presiden Soekarno memerintahkan Mr. Sjarifuddin Prawiranegara di Bukittinggi untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Adanya Agresi Militer Belanda II mengakibatkan terputusnya hubungan Pandu Rakyat Indonesia (Kwartir Besar Putera dan Puteri) dengan cabang-cabang sehingga organisasi ini tidak berjalan dengan baik. Dalam keadaan demikian, para anggota Pandu Rakyat Indonesia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan mengusir penjajah dengan ikut berjuang membantu PMI dan Dapur Umum bahkan tidak sedikit anggota pandu yang gugur.
Pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1948 mengakhiri suatu periode dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia mengubah perjuangan senjata menjadi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi bentuk negara berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Masa RIS ini hubungan antara Kwartir Besar dengan cabang-cabang dan antar cabang mulai normal lagi. Tanggal 20-22 Januari 1950, Pandu Rakyat Indonesia mengadaka kongres II di Yogyakarta. Kongres tersebut bertujuan mengkaji eksistensi, loyalitas, kekompakan dan keutuhan seluruh anggota. Keputusan Kongres II Pandu Rakyat Indonesia antara lain :
1. Menerima konsepsi baru, yang memberi kesempatan kepada golongan, khusus untuk menghidupkan bekas organisasinya masing-masing.
2. Disamping mengadakan konsolidasi ke dalam, Pandu Rakyat Indonesia harus melangkah ke luar menuju pengakuan internasional.
3. Memperingati genap lima tahun tanggal 28 Desember 1950 Pandu Rakyat Indonesia dan menerbitkan buku kenang-kenangan “Panca Warsa”.
4. Perubahan gambar emblim Pandu Rakyat Indonesia dimana emblim lama untuk putera dan puteri sama, diganti dengan yang baru yaitu gambar bedor (ujung tombak) untuk putera dan gambar semanggi untuk puteri, ditengah- tengah terpampang motif.12
Negara RIS hanya berumur delapan bulan saja. Tanggal 17 Agustus 1950 bentuk negara kembali ke negara kesatuan lagi dengan menerapkan sistem demokrasi liberal atau demokrasi parlementer yang memberi kebebasan seluas- luasnya kepada perorangan atau golongan. Demokrasi ini menimbulkan pertentangan, percekcokan dan benturan lainnya di kalangan pemerintah dan masyarakat. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan partainya sehingga melupakan kepentingan orang lain. Di kalangan kepanduan tak luput dari dampak tersebut, dengan demikian prinsip untuk menyatukan seluruh kepanduan di Indonesia seperti yang dicita-citakan semula tidak sesuai dengan kenyataan.
Organisasi-organisasi Kepanduan yang dulu dilebur satu persatu menarik diri dan menghidupkan kembali kepanduan mereka sendiri. Pemerintah melalui Menteri PP dan K tanggal 6 Sepetember 1951 mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 23441/Kab tentang pencabutan pengakuan pemerintah tentang penetapan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya Kepanduan Indonesia.
2. Kepanduan tahun 1951-1960
Meskipun organisasi kepanduan Indonesia sudah bubar, namun hasrat untuk bersatu diantara organisai kepanduan tetap ada. Pada tanggal 16 September 1951 wakil-wakil kepanduan mengadakan konferensi kepanduan di Jakarta. Konferensi
12 NN, Op. Cit, hlm 43 dan 45.
ini dihadiri oleh perwakilan Pandu Rakyat Indonesia, HW, Al Irsyad, Pandu Islam Indonesia, Kepanduan Angkatan Muslimin Indonesia, Pandu Katholik, Perserikatan Kepanduan Tionghoa dan Perserikatan Pandu-Pandu. Konferens ini berhasil memutuskan berdirinya federasi kepanduan dengan nama Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO).13 Pada tanggal 12 Maret 1952 Menteri PP dan K mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 8977/Kab tentang pengesahan berdirinya IPINDO sebagai badan federasi kepanduan dan sebagai badan sementara dalam hubungannya dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian PP dan K.
Menjelang tahun 1961 kepanduan di Indonesia terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan. Sebagaian dari organisasi itu terhimpun dalam tiga federasi kepanduan yaitu Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) berdiri tahun 1951, Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia (POPPINDO) berdiri tahun 1954, dan Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI) berdiri tahun 1954.
Keberadaan ketiga federasi kepanduan di Indonesia melemahkan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Menyadari kelemahan tersebut, timbullah keinginan untuk meleburkan diri menjadi satu. Akhirnya pada Mei 1960 IPINDO, POPPINDO, PKPI melebur menjadi satu federasi bernama Persatuan Kepanduan Indonesia (PERKINDO) yang bertugas menghimpun dan mempersatukan seluruh potensi kepanduan yang ada. Adapun yang diangkat sebagai Pimpinan Harian PERKINDO adalah Bapak Pandu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Tugas PERKINDO cukup sulit karena hanya 60 organisasi yang ikut dari 100 lebih disebabkan organisasi kepanduan yang berbeda di bawah onderbouw
13 Ibid, hlm 45 – 46.
organisasi politik atau organisasi massa yang berbeda paham tetap bermusuhan.14 Keadaan ini melemahkan kepanduan di Indonesia. Keadaan yang demikian kemudian dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk memaksa gerakan kepanduan Indonesia menjadi Gerakan Pioner Muda seperti di negara- negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila di PERKINDO menentangnya.
3. Gerakan Pandu Menjadi Gerakan Pramuka
Demi menyelamatkan gerakan kepanduan di Indonesia dari pengaruh PKI maka tanggal 9 Maret 1961 pukul 20.00 para tokoh dan pimpinan pandu yang mewakili organisasi kepanduan yang ada di Indonesia berkumpul di Istana Negara untuk mendengarkan amanat Presiden Sukarno. Dalam amanatnya Presiden Soekarno memutuskan untuk mengambil tindakan tegas membubarkan semua organisasi kepanduan untuk dilebur dalam satu organisasi baru yang bernama
“Gerakan Praja Muda Karana” (Gerakan Pramuka). Berdasarkan Keppres Nomor 238 tahun 1961, Gerakan Pramuka ini sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia.
Gerakan Pramuka sebenarnya barulah singkatan dari bahasa Sansekerta, karena nama selengkapnya adalah Gerakan Pendidikan Kepanduan Pradja Muda Karana. Dalam rangkaian kata tersebut memiliki arti masing-masing, yaitu : a. Gerakan
Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan yang didirikan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia dengan Seokarno sendiri sebagai Ketua dari Majelis Pimpinan Nasionalnya. Gerakan Pramuka merupkan gerakan yang
14 Kwartir Nasional Gerkan Pramuka, Kursus Orientasi Gerakan Pramuka, (Jakarta : Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1983), hlm 31.
diorganisasikan, artinya suatu gerakan yang terpimpin, teratur dan mempunyai tata tertib. Ia mempunyai tujuan dan tanggungjawab yang pasti, dengan cara-cara bergerak, lapangan bergerak, serta penggerak-penggerak maupun objek yang digerakkan tertentu. Gerakan mempunyai makna bahwa semua usahanya wajib digerakkan oleh segenap anggotanya. Anggota-anggotanya wajib bergerak secara terus menerus, baik sebagai anggota yang digerakkan maupun sebagai anggota yang menggerakkan, baik dengan instruksi dari pimpinan maupun atas prakarsa dan daya cipta sendiri serta swadaya, sesuai dengan salah satu landasan Mansuai Pancasila atau Manusia Sosialis Indonesia dalam batas-batas perarturan yang ada dan berlaku.
b. Pendidikan
Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan. Seluruh wadah dan isinya maupun segenap usaha serta hasilnya wajib diukur dengan norma-norma pendidikan dan hanya dipergunakan untuk tujuan pendidikan. Sebagai suatu gerakan pendidikan yang berdiri di samping lembaga-lembaga pendidikan lainnya, Gerakan Pramuka membatasi lapangan karya pendidikannya dalam batas- batas lingkungan putera-putera dan puteri-puteri Indonesia yang berusia antara 7- 21 tahun dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun lainnya.
Semua pelajaran dan latihan yang diberikan di dalam Gerakan Pramuka dimaksudkan pertama-tama dan terutama untuk mencapai nilai-nilai pendidikan dan kadar-kadarnya yang terkandung didalamnya. Adapun tujuan pendidikan dari Gerakan Pramuka sebagaimana yang tertera dalam Anggaran Dasar ialah membina anak-anak dan pemuda supaya :
1. Menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, yang cerdas, cakap, tangkas, terampil, rajin dan sehat jasmani serta rohani.
2. Menjadi warga negara yang ber-Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang berpikir dan bertindak atas dasar landasan Manusia Sosialis Indonesia sehingga anak-anak dan pemuda dapat menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan Amanat Penderitaan Rakyat.
Jelas dan tegaslah bahwa tujuan pendidikan Gerakan Pramuka adalah untuk bangsa dan masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai aparatur utamanya dan bukannya untuk salah satu golongan ataupun untuk aparatur dan salah satu golongan yang ada dalam bagian bangsa dan masyarakat.
c. Kepanduan
Kepanduan memiliki arti dan makna yang tertentu dalam dunia kepanduan Nasional Indonesia yang senantiasa ikut memberikan dharmabaktinya dalam pembinaan bangsa dan penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dalam dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Arti dan makna kepanduan sebagai metodik pendidikan adalah cara mendidik anak-anak dan pemuda dalam lingkungannya sendiri disamping pendidikannya dalam lingkungan keluarga dan sekolah, yang dipakai Gerakan Pramuka adalah arti dan makna yang merupakan kristalisasi daripada pengertian kepanduan yang ada dan sudah berakar dalam dunia kepanduan nasional.
Pengertian yang telah disimpulkan dan dirumuskan oleh Seminar Kepanduan Nasional Indonesia dan sudah diterapkan dalam Anggaran Dasar
Gerakan Pramuka ialah bahwa kepanduan adalah badan pendidikan yang beisikan : (a) Kesukarelaan, (b) Janji dan ketentuan moral, (c) Sistem kerukunan, (d) Sistem tanda kecakapan, (e) Permainan yang mengandung pendidikan, (f) Penyesuaian dengan perkembangan rohani dan jasmani anak-anak maupun pemuda, (g) Keprasahajaan hidup, dan (h) Swadaya.
Kepanduan sebagai metodik pendidikan adalah alat untuk mencapai tujuan.
Metodik atau cara mengajar harus dikuasai supaya dapat dilaksanakan dengan tepat dan mendapat hasil yang bermanfaat. Dalam pendidikan kepanduan terdapat pula unsur-unsur yang bersifat rohani sehingga kecakapan melaksanakan metodik saja tidak cukup untuk mendidik, harus ada jiwa yang menghayatinya. Sebagai Pramuka, jiwa dan semangat yang tepat untuk mengahayati pelaksanaan metodik pendidikan kepanduan dalam Gerakan Pramuka adalah jiwa pandu ibuku, jiwa yang diperuntukkan bagi Ibu Pertiwi, jiwa pandu bagi Ibu Indonesia yang berdasar atas lirik lagu Indonesia Raya karangan W.R Supratman.15
d. Praja
Kata praja berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti rakyat atau warga negara.
e. Muda
Kata muda berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya berjiwa muda atau masih muda apabila dilihat dari segi usia.
f. Karana
Kata karana berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pembuatan, penghasilan, pertunjukan, perbuatam, aksi, tindakan, upacara perusahaan, alat
15 Majalah Pemimpin Pramuka, No.1 tahun 1962, Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
pengertian, badan pesawat. Dalam nama Gerakan Pendidikan Praja Muda Karana, mkaa arti karana harus diartikan sebagai kesanggupan dan kemampuan berkarya untuk dapat ikut serta membangun masyarakat adil dan makmur.16
Jika lahirnya Gerakan Pramuka di runtut maka akan terlihat bahwa proses ini melibatkan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan, yaitu :
a. Pidato Presiden atau Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret di Istana Negara. Peristiwa ini dinamakan “Hari Tunas Gerakan Pramuka”.
b. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjlankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ketiga. Peristiwa ini disebut “Hari Permulaan Tahun Kerja”.
c. Pada tanggal 30 Juli 1961 para wakil organisasi kepanduan berkumpul di Istana Olahraga Senayan Jakarta, dengan membawa bendera organisasinya masing-masing. Mereka dengan sukarela meleburkan diri ke dalam satu organisasi kepanduan yang bernama Gerakan Pramuka. Mereka akan patuh
16 Ibid, hlm. 19
dan setia mengabdikan diri bagi kepentingan anak-anak dan pemuda Indonesia melalui Gerakan Pramuka. Peristiwa ini dinamakan “Hari Ikrar Gerakan Pramuka”.
d. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarni di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka sebagai lambang perjuangan untuk dijunjung tinggi dan dipertahankan kemuliaannnya dalam segala lapangan. Semua ini terjadi pada tanggal 14 Agustus 1961 yang disebut dengan “Hari Pramuka”.