PENGANTAR
ﻡﻳﺤﺮﻠﺍ ﻥﻤﺤﺮﻠﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺒ
Syukur alhamdulillah penulis haturkan ke hadirat Allah SWT., atas selesainya penyusunan bahan ajar “psikologi manusia” yang berorientasi keperawatan. Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana penunjang proses belajar-mengajar terutama pada materi-materi yang terkait dengan mata ajaran psikologi. Berdasarkan hal tersebut, penulis termotivasi untuk membantu mahasiswa, dosen atau pemerhati psikologi manusia. Banyak buku tentang psikologi manusia, tetapi yang membahas khusus psikologi berdasarkan kurikulum masih kurang sehingga tepat sekali keberadaan bahan ajar ini dapat memenuhi kebutuhan yang dimaksud.
Mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat turut pula mempengaruhi perubahan mutu bahan ajar, sehingga bahan ajar- bahan ajar yang dijadikan bahan rujukan mengajar selama ini perlu direvisi untuk disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan masyarakat. Bahan ajar ini disusun untuk kepentingan tersebut, dan oleh karena itu apabila di dalam bahan ajar ini ditemukan kelemahan-kelemahan, mohon saran dan pendapatnya agar menjadi bahan revisi dikemudian hari, terutama dari pengguna bahan ajar ini dalam rangka mendukung pelaksanaan kurikulum.
BAB I
SEJARAH DAN KONSEP PERKEMBANGAN PERILAKU MANUSIA
A. Sejarah Psikologi
Sebelum abad ke 19 atau SM studi tentang perilaku (psikologi) manusia hampir sepenuhnya merupakan daerah wewenang para ahli teologi (kerohanian), dan para ahli filsafat (Plato & Aristoteles). Maksudnya psikologi masih menginduk pada ilmu filsafat dan memang istilah psikologi masih ilmu jiwa. Juga ketika itu belum dipikirkan tentang makna jiwa ( jiwa dianggap memiliki daya- daya yang berdiri sendiri dan terpisah dari jasmani) sehingga lambat laun ilmu jiwa mengalami kesulitan untuk mencari dan mendeteksi kebenaran jiwa itu sendiri. Berkat penemuan Balico, Isaac Newton dan ilmuwan lain setelah mereka perhatikan tentang perilaku manusia sedikit demi sedikit bergeser dari tangan para teologi dan ahli filsafat ke tangan para ilmuwan.
Wilhelm Wundt (1832-1920) diakui sebagai pendiri psikologi ilmiah. Ia mendirikan laboratorium psikologi resmi pertama di kota Leipzig, Jerman Barat tahun (1875-1876), pada sumber lain mengatakan sampai tahun (1879) dan menerbitkan jurnal pertama di bidang psikologi eksperimental.
Widayatun, (1999) mengatakan bahwa psikologi sebagai ilmu yang otonom (beridri sendiri) atau telah memisahkan diri dari ilmu filsafat, harus memenuhi ketentuan sebagai ilmu yaitu:
1. Harus dapat menjawab pertanyaan 5 W dan 1 H.
2. Psikologi itu sebagai ilmu karena berobyek, bermetode, sistematika ilmunya ada, mempunyai istilah dan dapat diaplikasikan.
Penjelasan mengenai 5 W dan 1 H adalah sebagai berikut:
W 1, What (apa) psikologi itu?
W 2, Why (mengapa) perlu psikologi?
W 3, When (kapan) psikologi itu ada?
W4, Where (dimana) psikologi itu sebagai ilmu pertama kali dikumandangkan?
W 5, Who (oleh siapa) yang mempelopori psikologi itu?
1 H, How (bagaimana) psikologi itu. Bahwa dalam perkembangannya psikologi telah memiliki cabang ilmu antara lain psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi industri dan lain- lain.
Maslow (1954) menerbitkan buku yang berjudul “Motivation and Personality” dimana di dalamnya ada 2 teori besar yang berpengaruh dikalangan universitas di Amerika Serikat yang mana pembahasan perilaku manusia dengan jalan menelusuri sumber pemikiran lain Sigmund Freud (aliran Freudianism) atau dari John B. Watson (aliran behaviorism).
Sigmund Freud (1856-1939) menganggap bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh alam kesadaran dan alam ketidaksadaran. Perilaku yang disadari hanya merupakan sebagian kecil saja dari pada seluruh kehidupan psikis. Freud memisalkan psyche itu sebagai gunung es ditengah lautan. Yang ada di atas permukaan laut menggambarkan keadaan sadar (kesadaran), sedangkan yang di bawah merupakan air laut (yang merupakan bagian terbesar), menggambarkan ketidaksadaran. Di dalam ketidaksadaran itulah terdapat kekuatan dasar yang mendorong berperilaku tertentu. Karena itu menurut pandangan Freudianism, untuk memahami kepribadian manusia maka psikologi kesadaran (oleh Freud) disebut psikologi permukaan tidak mencukupi, dan orang harus menjelajahi lebih dalam ke daerah ketidak sadaran (oleh Freud) disebut psikologi dalam.
John B. Watson (1879-1958) adalah tokoh yang mempelopori pendekatan behaviorisme sebagai upaya memahami perilaku manusia. Kata “behaviorsm”
biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bidang psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu perilaku lainnya. Behaviorism memusatkan diri pada pendekatan “ilmiah” yang sungguh-sungguh objektif, dan menekankan pada proses belajar asosiatif atau proses belajar stimulus-respon sebagai penjelasan terpenting tentang perilaku manusia.
B. Pengertian Psikologi (Perilaku)
Menurut Depdiknas (2001) dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku.
Syah, (1995) mengatakan bahwa istilah psikologi berasal dari kata bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasan Greek (Yunani), yaitu: a) psyche yang berarti jiwa; b) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Syah, (1995) lebih lanjut mengatakan bahwa karena beberapa alasan tertentu (seperti timbulnya konotasi/arti lain yang menganggap psikologi sebagai ilmu yang langsung menyelidiki jiwa), sekurang-kurangnya selama dasawarsa terakhir ini istilah ilmu jiwa itu sudah sangat jarang dipakai orang. Lebih lanjut mengatakan kini, berbagai kalangan profesional baik yang berkecimpung dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia-dunia profesi lainnya yang menggunakan layanan “jasa kejiwaan” itu lebih terbiasa menyebut psikologi daripada ilmu jiwa.
Gerungan, (1977) memberikan pengertian perilaku pada aspek sosial yaitu merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa ia (manusia) mahluk hidup.
Haruman, (1993) memberikan pengertian bahwa istilah “perilaku” oleh banyak kalangan diganti dengan kata “tingkah laku”. Ada pendapat yang membedakan dua pengertian tersebut dan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata tingkah laku mempunyai pengertian yang sama dengan perilaku.
Pendapat yang membedakan pengertian tingkah laku dengan perilaku mengatakan bahwa “tingkah laku” adalah bentuk-bentuk perbuatan manusia yang mempunyai nilai negatif, sedangkan perilaku adalah perbuatan manusia yang positif. Lebih lanjut mengatakan bahwa tidak mempersoalkan perbedaan tersebut, artinya kedua istilah yang dimaksud mempunyai kesamaan pengertian antara kata tingkah laku dengan perilaku.
Purwanto, (1999) menjelaskan bahwa istilah psikologi sering disamakan dengan ilmu jiwa, arti kedua istilah tersebut menurut isinya sebenarnya sama, sebab kata psikologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari Psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Dengan demikian ilmu jiwa merupakan terjemahan dari psikologi. Perbedaan penggunaan kedua istilah tersebut adalah:
1. Ilmu jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari yang dikenal umum, sedangkan psikologi merupakan istilah ilmu pengetahuan sehingga digunakan secara ilmiah.
2. Ilmu jiwa digunakan lebih luas daripada psikologi. Ilmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khayalan dan spekulasi mengenai jiwa.
Sedangkan psikologi ialah pengetahuan yang diperoleh dengan sistematis melalui metode-metode ilmiah yang mengandung beberapa syarat yang telah dimufakati oleh para Sarjana Psikologi.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Purwanto (1999) membagi beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku manusia antara lain:
1. Keturunan
Keturunan diartikan sebagai pembawaan yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Keturunan sering disebut pula heredity. Teori tentang keturunan disampaikan oleh Gregor Mendel yang dikenal dengan hipotesa genetika. Teori mendel menyatakan bahwa:
a. Tiap sifat makhluk hidup dikendalikan oleh faktor keturunan.
b. Tiap pasangan merupakan penentu alternatif bagi keturunannya.
c. Pada waktu pembentukan sel kelamin, pasangan keturunan memisah dan menerima pasangan faktor keturunan.
Dalam suatu percobaan perkawinan akan menghasilkan generasi baru 50%
dan 25,25 sesuai induknya. Pengaruh faktor keturunan bagi perilaku diperlukan
pengembangan pada masa pertumbuhannya. Dalam keturunan terdapat beberapa azas yaitu:
a. Azas reproduksi yaitu kecakapan dari ayah atau ibu tidak dapat diturunkan kepada anaknya karena kecakapan merupakan hasil belajar tiap individu.
b. Azas variasi yaitu penurunan sifat dari orangtua pada keturunannya terdapat variasi baik kualitas maupun kuantitas.
c. Azas regresi fillial yaitu adanya penyusutan sifat-sifat orangtua yang diturunkan kepada anaknya.
d. Azas jenis menyilang yaitu apa yang diturunkan kepada anak mempunyai sasaran menyilang. Ibu akan menurunkan lebih banyak sifatnya pada anak laki-laki dan ayah akan menurunkan lebih banyak sifatnya pada anak perempuan.
e. Azas kompromitas yaitu setiap individu akan menyerupai ciri-ciri yang diturnkan oleh kelompok rasnya.
2. Lingkungan
Lingkungan sering disebut miliu, environment atau juga disebut nurture.
Lingkungan dalam pengertian psikologi adalah segala apa yang berpengaruh pada diri individu dalam berperilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia. Lingkungan dapat digolongkan:
a. Lingkungan manusia. Yang termasuk ke dalam lingkungan ini adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan, agama, taraf kehidupan dan sebagainya.
b. Lingkungan benda yaitu benda yang terdapat disekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia yang berada disekitarnya.
c. Lingkungan geografis. Latar geografis turut mempengaruhi corak kehidupan manusia. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai mempunyai keahlian, kegemaran dan kebudayaan yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah yang gersang
Lingkungan sosial manusia menerima, mempertahankan dan melanjutkan warisan hasil ciptaan manusia sebelumnya. Hasil ciptaan tersebut dinyatakan melalui lingkungan benda. Hasil ciptaan manusia dapat juga dinyatakan dalam bentuk adat, tari-tarian. Ini memberi warna pada jiwa manusia yang hidup di dalamnya. Lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh bagi pengembangan sifat dan perilaku individu mulai mengalami dan mengecap alam dan sekitarnya.
Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan. Oleh karena itu lingkungan selalu tersedia disekitar kita.
Pengaruh lingkungan pada individu meliputi dua sasaran yaitu: lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial dan lingkungan membuat wajah budaya bagi individu. Dengan lingkungan dapat pengaruh mempengaruhi perilaku manusia sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat pada tahun-tahun pertama perkembangan akan mengubah tabiat manusia sebagai manusia. Perubahan tabiat ini dalam arti manusia tidak akan mampu bergaul dan berperilaku sesamanya.
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan sebagai wajah budaya bagi individu berarti pula bahwa individu sendiri berperan sebagai pusat dari lingkungan tersebut. Dengan individu menjadi pusat lingkungan maka dalam berhadapan dengan lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya peranan lingkungan bagi individu sebagai berikut:
a. Lingkungan sebagai alat bagi individu: alat untuk kepentingan individu, alat untuk kelangsungan hidup individu dan alat untuk kepentingan dalam pergaulan sosial.
b. Lingkungan sebagai tantangan bagi individu. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu
harus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
c. Lingkungan sebagai sesuatu yang harus diikuti. Sifat manusia senantiasa ingin mengetahui sesuatu dalam batas-batas kemampuannya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. Individu peka akan perubahan lingkungan sehingga individu selalu berpartisipasi didalamnya.
d..Lingkungan objek penyesuaian diri bagi individu. Lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan tersebut. Usaha untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan terdapat dua bentuk yaitu autoplastis dan alloplastis. Penyesuaian diri dengan cara alloplastis berarti bahwa individu berusaha agar lingkungan sesuai dengan dirinya. Sedangkan autoplastis penyesuaian diri dimana individu berusaha agar dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang bersangkutan.
D. Pengaruh Keturunan dan Lingkungan Terhadap Ciri-Ciri Perilaku Individu Yang dimaksud individu adalah manusia sebagai kesatuan yang terbatas yaitu perseorangan, yang sering juga disebut orang. Manusia waktu dilahirkan tidak dapat berdaya sama sekali, dan dalam ketidakberdayaan memerlukan bantuan orang lain. Makin besar bayi tersebut makin berkembang sifat-sifat yang menunjukkan perbedaan dengan yang lain yang merupakan keunikan. Selain keunikan ini ternyata dalam kehidupannya manusia harus berusaha dan berjuang untuk mewujudkan apa yang diinginkan atau dicita-citakan.
Pembawaan dan lingkungan mempunyai pengaruh pada kehidupan manusia.
Para sarjana psikologi mendebatkan haltersebut. Ada yang berpendapat perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh pembawaan dari lahir. Jadi apakah seseorang itu akan menjadi penerbang, perawat, ustad atau ahli agama dan lain-lain, semua itu ditentukan sejak lahir (sesuai dengan pembawaannya).
Pendapat ini disebut aliran Nativisme dengan tokoh utamanya Schopenhauer.
Aliran ini juga menyebabkan muncul pendapat bahwa sifat dan nasib seseorang sudah ditentukan sejak lahir. Oleh sebab itu aliran nativisme disebut juga aliran Pesimisme. Aldof Hilter adalah juga penganut nativisme yang berpendapat bahwa Aria adalah bangsa yang paling superior di dunia sehingga harus dikuasai oleh Aria (Nasisme).
Di lain pihak ada pendapat bertentangan dengan aliran Nativisme yang mengemukakan bahwa perkembangan semata-mata tergantung pada faktor lingkungan dan tidak mengakui adanya pembawaan yang dibawa lahir. John Locke tokoh empirisme mengemukakan teori yang disebutnya Tabula Rasa yaitu jiwa manusia yang baru lahir itu adalah seperti meja atau papan lilin yang belum tergores. Akan menjadi apa bayi itu kelak sepenuhnya tergantung pada pengalaman-pengalaman apa yang memenuhi jiwa anak tersebut. Aliran ini disebut juga aliran Optimisme.
Kedua aliran ada benarnya, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan keduanya ada pengaruhnya terhadap perkembangan manusia. Yang tidak dapat diterima adalah pembawaan atau faktor lingkungan jadi salah satu mutlak menentukan perkembangan hidup manusia. William Stern mengenai kedua aliran diatas dengan teori konvergensi. Teori tersebut mengemukakan bahwa faktor pembawaan dan faktor lingkungan kedua-duanya turut menentukan perkembangan seseorang. Artinya perilaku, kepribadian seseorang dibentuk oleh kedua faktor tersebut.
E. Macam-Macam Perilaku Manusia
Tujuan perilaku manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga manusia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sumber- sumber yang mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia terdapat di lingkungannya oleh karena itu manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, maupun lingkungan biologis dan sosial.
Manusia dalam interaksinya dengan lingkungan memperoleh stimulus atau menurut John B. Watson (1879-1958) akan terjadi proses belajar asosiatif (proses belajar stimulus-respon) sehingga manusia berperilaku. Macam-macam perilaku manusia menurut Purwanto (1999) dapat dijelaskan sebagai berikut: a) perilaku refleks, b) perilaku refleks bersyarat, dan perilaku yang mempunyai tujuan. Ada sejumlah perilaku refleks yang dilakukan oleh manusia secara otomatik. Perilaku refleks di luar lapangan kemampuan manusia serta terjadi tanpa dipikir atau keinginan. Kadang-kadang terjadi tanpa disadari sama sekali seperti mengecilkan kelopak mata. Secara umum perilaku refleks mempunyai tujuan menghindari ancaman yang merusak keberadaan individu, sehingga individu dapat berperilaku dan berkembang normal.
Perilaku refleks bersyarat adalah merupakan perilaku yang muncul karena adanya perangsang tertentu. Reaksi ini wajar dan merupakan pembawaan manusia dan bisa dipelajari atau di dapat dari pengalaman. Aliran behaviorisme berpendapat bahwa manusia belajar atas dasar perilaku refleks bersyarat yang berarti membuat penafsiran perilaku yang kompleks atas dasar satuan-satuan masalah yang sederhana. Dengan demikian gerak refleks adalah kesatuan kelakuan dan berdasarkan kelakuan itu tersusunnya kelakuan manusia yang komplek dengan segala tingkatan. Apabila timbulnya perangsang secara berulang- ulang maka perilaku refleks bersyrat akan lemah.
Perilaku yang mempunyai tujuan disebut perilaku naluri. Menurut Spencer (cit. Purwanto, 1999) bahwa perilaku naluri adalah gerak refleks yang kompleks atau merupakan rangkaian tahap-tahap yang banyak, masing-masing tahap merupakan perilaku refleks yang sederhana. Akan tetapi pendapat ini dibantah bahwa perilaku refleks tanpa perasaan sedangkan perilaku naluri disertai dengan perasaan. Ada tiga gejala yang menyertai perilaku bertujuan yaitu: pengenalan, perasaan atau emosi, dorongan, keinginan atau motif.
Haruman, (1993) mengelompokkan yang mendasari perilaku sebagai berikut:
1. perilaku motorik (psikomotor) perilaku dalam bentuk gerakan-gerakan baik yang disadari maupun tidak disadari, seperti; berjualan, duduk, berdiri dan lain-lain.
2. Perilaku kognitif adalah perilaku yang merupakan proses individu untuk mengenal lingkungannya, seperti; berpikir, mengingat, mengamati, mencipta dan lain-lain. Sedangkan menurut Stuart dan Sundeen (cit. Keliat, 1991) memberikan pengertian bahwa kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberi rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan.
Secara hierarkis kognitif dikategorikan atau dikelompokkan menjadi enam Bloom (cit. Suciati, 2001). Ke enam kategori ini mencakup kompetensi keterampilan intelektual dari yang sederhana (tingkat pengetahuan) sampai dengan yang paling kompleks (tingkat evaluasi) atau problem solving. Tujuan kognitif pada level yang tinggi dapat dicapai hanya apabila tujuan pada level yang lebih rendah telah dikuasai. Secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut:
Evaluasi Sintesis
Analisis Penerapan
Pemahaman Pengetahuan
Gambar 1. Kawasan Kognitif Menurut Bloom (cit. Suciati, 2001)
Level-level tujuan kognitif pada gambar 1 secara sistematis akan diuraikan berikut ini:
1. Pengetahuan, C1 (knowledge)
Yaitu mampu mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti misalnya: fakta, terminologi, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya. Contoh kata kerja yang mewakili pengetahuan, misalnya:
(1) mengidentifikasi, memilih, menyebutkan nama, dan membuat daftar.
Kotak 1. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “pengetahuan”:
2. Pemahaman, C2 (comprehension)
Yaitu berhubungan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan/informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.
Contoh kata kerja yang mewakili pemahaman, misalnya: (1) membedakan, menjelaskan, menyimpulkan, merangkumkan, dan memperkirakan.
Kotak 2. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “pengetahuan”:
3. Penerapan, C3 (applied).
Yaitu kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi atau konteks yang lain atau yang baru.
Contoh kata kerja yang mewakili penerapan, misalnya: (1) menghitung, mengembangkan, menggunakan, memodifikasi, dan mentransfer.
Kotak 3. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “Penerapan”:
1. Mahasiswa dapat menyebutkan langkah-langkah prosedur pengukuran tekanan darah.
2. Mahasiswa dapat memilih salah satu model konsep yang sesuai untuk diterapkan di dalam praktik keperawatan
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagian-bagian struktur tubuh manusia.
1. Mahasiswa dapat menjelaskan proses terjadinya demam.
2. Mahasiswa dapat menyimpulkan data hasil pengkajian pasien.
3. Mahasiswa dapat menguraikan fungsi setiap organ tubuh.
1. Mahasiswa akan dapat menggunakan formaf pengumpulan data ketika melakukan pengkajian pasien.
2. Mahasiswa akan dapat menghitung jumlah tetesan cairan infus per 24 jam.
3. Mahasiswa menghitung perbedaan skala pada termometer Farenheit dengan skala celcius.
4. Analisis, C4 (analysis)
Yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada-tidaknya kontradiksi. Contoh kata kerja yang mewakili analisa, misalnya: (1) membuat diagram, membedakan, menghubungkan, menjabarkan ke dalam bagian-bagian.
Kotak 4. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “Analisis”:
5. Sintesis, C5 (synthetic)
Yaitu kemampuan mengkombinasikan bagian atau elemen ke dalam satu kesatuan atau struktur yang lebih besar. Contoh kata kerja yang mewakili sintesis, misalnya: (1) menciptakan, mendesain, memformulasikan, membuat prediksi.
Kotak 5. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “sintesis”:
6. Evaluasi, C6 (evaluation)
Yaitu kemampuan membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.
Contoh kata kerja yang mewakili evaluasi, misalnya: (1) membuat kritik, membuat penilaian, membandingkan, membuat evaluasi.
1. Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan kompres dan dengan kompres hangat, dengan melihat efek dari kedua cara tersebut.
2. Mahasiswa akan dapat menjabarkan health education terhadap kecemasan klien pasca operasi laparatomi.
1. Mahasiswa mampu menciptakan prosedur perawatan luka bakar baru untuk pengendalian infeksi sekunder.
2. Mahasiswa mampu membuat bahan desinfektan yang efektif mencegah infeksi.
3. Mahasiswa mampu membuat prediksi tentang kemungkinan terjadinya keluhan baru dari pasien akibat malpraktik.
Kotak 6. Contoh tujuan kognitif pada kawasan “evaluasi”:
3. Perilaku konatif adalah kegiatan-kegiatan yang berupa dorongan-dorongan yang datang dari dalam diri individu, sehingga individu berperilaku seperti;
motif, sikap, keinginan, kemauan, nafsu dan lain-lain.
4. Perilaku afektif adalah kegiatan yang berupa emosi, perasaan, senang, sedih, benci, cinta, cemburu dan lain-lain.
F. Hubungan Perilaku dengan Kebiasaan
Rakhmat, (1985) mengatakan bahwa kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan atau reaksi khas yang diulangi oleh seseorang berkali-kali. Selanjutnya mengatakan setiap orang bertingkah laku sesuai dengan corak kebiasaannya yang berlainan dalam menanggapi rangsangan tertentu. Kebiasaan dapat memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan.
Dalam jenis-jenis kebutuhan manusia, terdapat diantara beberapa kebutuhan yang meminta cara dan alat pemenuhan yang sangat khusus misalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dengan cara bernafas atau menghirup udara yang berisi oksigen. Disamping itu terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan jalan dan alat yang tidak begitu khusus dan terbatas.
Kalau mengamati kehidupan suatu keluarga dan mengamati cara pergaulan anak dalam keluarga itu, akan nampak dengan meyakinkan bahwa lingkungan itulah yang banyak mengajarkan bagaimana memenuhi setiap jenis kebutuhan yang diterima oleh setiap anggota keluarga. Keluarga mencerminkan pengaruh norma yang terdapat dalam lingkungan sosio-kultural yang lebih luas. Norma itu menjadi kebiasaan dari tiap individu belajar sesuai dengan cara-cara dan norma lingkungan seperti di atas berlangsung melalui proses meniru dan sistem ganjaran 1. Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan mahasiswa dapat membuat
penilaian tentang efisiensi dan efektivitas suatu prosedur praktik keperawatan.
2. Mahasiswa mampu membuat kritik tentang kelengkapan suatu alat-alat praktik.
dan hukuman. Proses meniru terjadi bila anak melihat dan mengikuti apa yang dilaksanakan oleh orang tuanya.
Proses yang sama ini terjadi juga terhadap berbagai segi kehidupan yang lain. Hanya saja di bidang proses pembentukan aspek kepribadian proses itu akan menjadi lebih kompleks. Kebiasaan muncul didasarkan pada norma-norma yang ada dalam masyarakat. Norma sosial merupakan kebiasaan yang lazim dipergunakan oleh setiap anggota kelompok untuk berperilaku. Keadaan norma sosial ini sebagian diresmikan menjadi peraturan tetapi yang banyak merupakan kebiasaan yang tidak tertulis. Kebiasaan yang tidak tertulis mendapat sanksi dari masyarakat berupa penilaian negatif.
Kebiasaan juga muncul dalam kesatuan hidup masyarakat yang mempunyai perbedaan norma yang berlaku, misalnya sesuai dengan kedudukan seseorang di dalam struktur sosial dalam suatu lapisan masyarakat. Struktur serta stratifikasi sosial yang dipakai dalam hubungan ini menunjukkan kenyataan bahwa hampir semua masyarakat mengandung unsur perbedaan di mana anggota-anggota tertentu dipandang mempunyai gengsi dan kedudukan yang lebih tinggi dari anggota lainnya. Beberapa penelitian menemukan bahwa kebiasaan orang yang mempunyai kedudukan lebih kompleks dari pada anggota biasa dalam setiap hal.
G. Usaha-Usaha untuk Memperbaiki Perilaku Negatif
Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi perilaku negatif seseorang terutama bagi yang masih belum dewasa dapat dilakukan dengan:
1. Peningkatan peranan keluarga terhadap perkembangan dari kecil hingga dewasa. Pentingnya peran serta keluarga dalam perkembangan anak sebagai anggota keluarga dipandang dari berbagai faktor. Pertama, keluarga merupakan tempat individu memulai hubungan interpesonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan institusi pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku Clement dan Buchanan, (cit. Keliat, 1996). Kedua, jika keluarga dipandang
sebagai satu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat mempengaruhi seluruh sistem. Sebaliknya, disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebab terjadinya perilaku negatif pada anggotanya. Dengan demikian maka peranan keluarga terhadap pembentukan perilaku negatif anak cukup besar, dan hal ini sejalan dengan teori empirisme bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang dalam hal ini lingkungan keluarga.
2. Meningkatkan status sosial ekonomi keluarga.
3. Menjaga keutuhan keluarga.
4. Mempertahankan sikap dan kebiasaan orang tua sesuai dengan norma yang disepakati.
5. Pendidikan keluarga yang disesuaikan dengan status anak: anak tunggal, anak tiri dan lain-lain.
BAB II
PERKEMBANGAN INDIVIDU
A. Penegrtian dan Prinsip Perkembangan
Menurut Depdiknas (2001) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah
“perkembangan” berasal dari kata kembang atau kata benda “bunga”. Sedangkan perkembangan dimana kata ini sudah mendapat awalan per dan akhiran an, adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata “berkembang” telah berubah menjadi kata sifat yang artinya mekar terbuka atau membentang : menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, kata “berkembang” tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkret. Bahkan kalau dikaji secara mendalam tentang perkembangan arti tersebut, maka perkembangan dapat mencakup perubahan secara komprehensif.
Istilah perkembangan jika dicermati sesungguhnya terdiri dari dua kata yaitu tumbuh dan kembang. Bila ingin dijelaskan maka tumbuh kembang merupakan proses yang dinamik sepanjang rentang kehidupan manusia. Perubahan yang terjadi pada suatu fase perkembangan menjadi dasar perkembangan pada fase berikutnya. Artinya fiksasi atau hambatan perkembangan fase sebelumnya akan mendatangkan masalah pada fase-fase perkembangan selanjutnya. Pertumbuhan dan perkembangan yang paling mencolok terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja.
Tumbuh dijelaskan sebagai peningkatan dalam ukuran, seperti tinggi dan berat badan atau tiap bagian tubuh. Pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif dengan menggunakan satuan kilogram atau sentimeter. Pertumbuhan mulai terjadi sejak fase konsepsi yaitu sejak pertemuan antara sel telur dengan sperma.
Pertumbuhan individu sangat tergantung pada sifat genetik yang diturunkan.
Kendati potensi untuk tumbuh tergantung pada sifat, dan pola tumbuh kembang,
namun juga dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya pengaruh perhatian dan kasih sayang yang membantu meningkatkan kesehatan. Malnutrisi (kekurangan gizi) atau penganiayaan fisik atau emosional, sangat mempengaruhi pertumbuhan seseorang Berger & Williams, 1992 (cit. Hamid, 1999).
Kembang adalah peningkatan fungsi dan keterampilan yang bersifat kompleks. Perubahan yang terjadi bersifat kualitatif yaitu berupa perubahan psikososial, kognitif atau fungsi moral. Sebagai contoh, perubahan minat sosial anak dari keluarga ke dunia di luar lingkungan keluarga, pada dasarnya mencerminkan suatu perkembangan. Perkembangan lebih sulit diukur daripada mengukur pertumbuhan karena lebih kompleks dan abstrak. Maturasi (kematangan) juga sering digunakan untuk menguraikan perubahan kualitatif, walaupun maturasi dan pertumbuhan tidak sama, karena maturasi menggambarkan perbedaan atau peningkatan kopleksitas kemampuan yang bertambah sesuai dengan usia, sedangkan perkembangan menunjukkan perubahan bertahap dari kemampuan seseorang Berger & Williams, 1992 (cit. Hamid, 1999).
Menurut Mott, James, dan Sperhac, 1990 (cit. Hamid, 1999), ada beberapa prinsip tumbuh kembang yang berguna sebagai landasan dalam menafsirkan perubahan yang terjadi sejak lahir hingga lanjut usia (lansia). Prinsip tumbuh kembang yang perlu dipahami agar dapat menjalankan perannya atau tugas-tugas perkembangannya dengan baik adalah sebagai berikut:
1. Tumbuh kembang terjadi secara teratur dan berurutan
Proses maturasi dapat diramalkan dan mengikuti urutan perubahan yang universal. Pertumbuhan yang sangat pesat terjadi selama satu tahun pertama, kemudian menjadi lebih lambat selama pertengahan dan akhir masa kanak-kanak, gigi menjadi ompong pada pertengahan masa kanak-kanak, karakteristik seks sekunder berkembang lebih pesat pada awal masa remaja. Walaupun mulai, lama dan pengaruh setiap fase berbeda bagi setiap anak, tetapi urutan perkembangan pada dasarnya sama pada semua anak.
2. Tumbuh kembang dipengaruhi oleh lingkungan sosioekonomi
Keluarga, teman sebaya, dan masyarakat menciptakan suasana sosial dan emosional bagi anak. Struktur keluarga dan masyarakat berbeda pada satu tempat dan tempat lain, begitu pula adat istiadat, peraturan, institusi, ekonomi, nilai, harapan dan sumber. Perilaku yang dipelajari oleh anak berbeda karena perbedaan norma sosial dari satu tempat ke tempat lain.
3. Kecepatan tumbuh kembang spesifik
Walaupun tumbuh kembang berlangsung secara berkesinambungan, tetapi tidak terjadi secara bersamaan. Tiap sistem tubuh mempunyai ketentuan waktu untuk penambahan ukuran, berat, dan fungsi maturitas. Sebagai contoh sistem saraf dan kardiovaskuler berkembang lebih awal dari pada sistem reproduksi atau kekebalan tubuh. Begitu pula perubahan pada penampilan, perilaku, dan keterampilan tidak sama pada setiap individu. Oleh karena kecepatan tumbuh kembang tiap individu bersifat unik, maka kita perlu memperhatikan perilakunya secara menyeluruh dan tidak hanya terpusat pada satu aspek perkembangan atau pada keterampilan spesifik saja.
4. Tumbuh kembang terjadi dengan arah sefalokaudal dan proksimodistal
Daerah kepala berkembang lebih dulu dari pada bagian torso, kemudian diikuti perkembangan pada tungkai dan kaki. Sejak lahir kepala bayi tampak besar yaitu satu perempat dari panjang tubuh bayi. Gerakan terkendali dimulai dari daerah pusat tubuh hingga gerakan terkendali yang jauh dari sumbuh tubuh.
Bayi dapat berguling lebih dulu dari pada keterampilan memegang sesuatu dengan jarinya.
5. Tumbuh kembang makin dapat dibedakan
Dalam semua aspek perkembangan, kemajuan bergerak dari respons yang bersifat umum mengarah pada respons yang lebih spesifik. Respons dini bayi terhadap stimulus melibatkan kegiatan seluruh tubuh. Bayi yang baru lahir menangis dengan menggerakkan seluruh bagian tubuhnya. Anak yang lebih tua menangis hanya dengan mata dan wajahnya.
6. Tumbuh kembang makin terintegrasi dan berkesinambungan
Perilaku berkembang dari yang sederhana ke perilaku yang lebih kompleks sesuai dengan keterampilan baru dan terpadu dengan keterampilan yang dipelajari sebelumnya untuk mencapai tugas yang lebih sulit. Prinsip ini menekankan pada gambaran perkembangan menyeluruh sebagai suatu proses yang kompleks, multidimensional, dan berlangsung secara berkesinambungan.
B. Perkembangan Biopsikologi
Istilah biopsikologi terdiri dari dua kata yaitu biologis dan psikologis.
Keduanya saling berhubungan atau saling mempengaruhi. Perkembangan pada aspek fisik diikuti oleh perkembangan pada aspek psikologis sehingga sulit dipisahkan antara keduanya. Bahkan ketika usia manusia semakin meningkat, proses perkembangannyapun semakin mengarah ke perkembangan yang lebih kompleks (personal reference).
Beberapa istilah yang terkait dengan perkembangan, yaitu kematangan, proses belajar, pembawaan atau bakat. Pendapat para ahli (konsep/teori) dapat menjadi acuan untuk mengembangkan pernyataan di atas.
Purwanto, (1999) mengatakan bahwa kematangan berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam perilaku, terlepas ada atau tidak adanya proses belajar.
Perubahan-perubahan perilaku karena proses pematangan ini dapat diperhitungkan dan diperkirakan sejak semula. Misalnya, kita dapat memperhitungkan perkembangan seorang bayi yaitu mula-mula ia dapat telungkup, setelah itu merangkak, kemudian duduk, berdiri dan akhirnya berjalan.
Perkembangan ini ditentukan oleh proses pematangan organ-organ tubuh dan terjadi pada setiap bayi normal sehingga kita dapat memperhitungkan sebelumnya.
Belajar berarti mengubah atau mempelajari perilaku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungan. Pada manusia penting sekali belajar melalui kontak lingkungan/sosial agar manusia dapat hidup dalam masyarakat dengan struktur kebudayaan yang rumit. Ada perilaku yang ditentukan semata- mata oleh pematangan seperti halnya dengan berjalan, ada pula perilaku yang lebih dipengaruhi oleh proses belajar misalnya beremosi, tetapi kebanyakan perilaku manusia ditentukan oleh keduanya. Kemampuan berbicara misalnya, ditentukan baik oleh proses pematangan maupun oleh proses belajar. Seorang anak baru bisa belajar bicara kalau organ-organ tubuhnya sudah matang untuk itu, sedang bahasa yang digunakan untuk berbicara didapatkannya dari mendengar dan meniru (latihan dan belajar) dari orang lain. Latihan yang diberikan sebelum taraf kematangan tertentu tercapai, tidak akan memberikan hasil, atau paling banyak hanya akan memberikan hasil sementara. Misalnya, seorang anak yang belum matang untuk diajar membaca, tidak akan dapat diajari membaca. Latihan- latihan yang diberikan terlalu awal seperti itu, kalau gagal akan lebih mengecewakan anak yang bersangkutan. Anak yang dipaksa belajar membaca sedangkan ia belum cukup matang untuk itu akan mengerahkan energinya lebih banyak dari pada semestinya, dan kalau gagal frustasinya lebih besar, di samping banyak energi terbuang percuma.
Bakat adalah semua kesanggupan-kesanggupan yang dapat diwujudkan.
Bakat ada juga yang menyebut pembawaan. Para sarjana berpendapat bahwa seluruh kehidupan manusia ditentukan perkembangan potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Namun dalam perekmbangan berikutnya antara bakat dan lingkungan sama-sama menentukan kepribadian manusia.
Untuk memahami perkembangan pada manusia yang meliputi aspek fisik, psikososial dan moral spiritual, perlu dipelajari tentang tahap-tahapnya/macam- macamnya mulai neonatus sampai remaja yaitu:
1. Neonatus (infancy atau babyhood) lahir-4 minggu
Tumbuh kembang fisik neonatus ditandai dengan menangis, bernafas dengan cepat dan tidak teratur, tonus otot kuat dan bereaksi terhadap stimulasi, warna kulit pink. Kepala tampak besar dibanding dengan badan, wajah bulat dengan tumpukan lemak pada pipi, dan rahang bawah, dada berbentuk silinder dengan kaki yang tampak pendek jika diperhatikan dalam proporsi tubuh secara keseluruhan. Selama empat minggu pertama kehidupan, berat badan neonatus bertambah 0,5-0,7 kg dengan panjang badan bertambah lebih kurang 2,5 cm dari ukuran ketika baru lahir.
Perkembangan psikososial neonatus walaupun pada dasarnya bersifat unik, tetapi secara umum ditandai dengan ketergantungan pemenuhan kebutuhan yang sangat tinggi terhadap kasih sayang, kehangatan, kebersihan, makan minum, danperlindungan. Karena neonatus tergantung pada orang lain bukan saja untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi juga tergantung pada orang lain untuk menafsirkan kebutuhannya. Neonatus juga membangkitkan perilaku kasih sayang orangtua, sehingga terjalin hubungan saling membutuhkan. Rasa keterikatan emosional dipengaruhi oleh kondisi kesehatan neonatus dan orangtua, kemampuan sensorimotorik dan respons, harapan sosialbudaya, harapan orang tua, keadaan ekonomi, dan kemampuan serta kesediaan orangtua untuk menentukan kebutuhan dan isyarat yang dikirimkan neonatus merangsang respons yang sesuai dari orang lain. Perkembangan kognitif neonatus pada dasarnya masih bersifat sensorimotorik yaitu gerakan, seperti mengisap dan memegang sesuatu.
2. Bayi (1-12 bulan)
Tumbuh kembang tercepat terjadi pada masa bayi yang terlihat melalui peningkatan kendali motorik yang mengikuti prinsip tumbuh kembang yaitu pola sefalokaudal dan proksimodistal. Bayi dapat mengendalikan kepalanya pada usia 3 bulan,mengendalikan torso usia 6 bulan. Koordinasi mata tangan sehingga bayi dapat mengambil dan memegang sesuatu pada usia 6 bulan, begitu juga pada usia
yang sama sudah dapat berguling, selanjutnya secara bertahap belajar berjalan pada usia sekitar 12 bulan.
Perkembangan psikososial pada bayi melibatkan semua aspek utama perkembangan yang penting untuk proses maturasi pada tahap yang lebih lanjut, yaitu perkembangan emosi, kognitif, dan moral. Perkembangan emosional merupakan kelanjutan pembinaan rasa percaya versus rasa tidak percaya yang telah dimulai sejak masa neonatus. Penyelesaian tahap ini sangat menentukan bagaimana individu menyelesaikan tahap tumbuh kembang selanjutnya. Pada tahun pertama kehidupannya, bayi tergantung pada orangtua dalam pemenuhan kebutuhan fisiologik maupun psikologiknya. Pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut diperlukan bayi untuk mengembangkan perasaan percaya melalui sikap orang tua yang: 1) secara konsisten berespon terhadap kebutuhan bayi; 2) membuat lingkungan yang aman melalui rutinitas; dan 3) peka terhadap kebutuhan bayi dan pemenuhan kebutuhan secara terampil dan sesegera mungkin.
Pada usia 7 hingga 9 bulan, bayi mulai menyadari bahwa dirinya merupakan bagian terpisah dari orangtuanya. Bayi akan menangis apabila dipisahkan dari orang tua atau pengasuhnya.Harga diri terbentuk melalui kegiatan fisik dan reaksi orang lain terhadap bayi.
3. Toddler (1-3 tahun)
Pada masa ini, anak mulai mengembangkan kemandiriannya dengan lebih memahirkan keterampilan yang telah dipelajarinya ketika masih bayi, seperti berjalan, berbicara dan menyuap makanan sendiri. Keseimbangan tubuh sudah lebih berkembang terutama dalam berjalan yang sangat diperlukan untuk menguatkan rasa otonomi untuk mengendalikan kemauannya sendiri. Tumbuh kembang yang paling nyata pada tahap ini adalah kemauan untuk mengeksplor dan memanipulasi lingkungan tanpa tergantung pada orang lain. Tampak saling keterkaitan antara perkembangan dan pertumbuhan fisik dengan psikososial.
Tubuh anak tampak berbeda dibanding waktu masih bayi. Bayi mempunyai torso tubuh yang lebih panjang daripada anggota tubuh, sedangkan toddler mempunyai
tungkai yang lebih panjang. Berat badan biasanya naik secara perlahan. Toddler juga belajar mengendalikan buang air besar dan kecil menjelang usia tiga tahun.
Sangat penting memberikan kesempatan pada mereka untuk mengembangkan keterampilan motorik seperti mencoba untuk minum dari gelas atau menggunakan sendok untuk makan yang diperlukan untuk mendukung kemandirian anak.
Perkembangan aspek sosial dan emosional ditekankan pada pengembangan pola otonomi versus malu dan ragu-ragu. Toddler meniru perilaku orang dewasa yang menjadi contoh perannya. Sebagai orangtua kita harus cukup fleksibel dan rasa percaya diri untuk memberikan kebebasan dalam batasan yang aman bagi anak untuk mengeksplor dan mengujicobakan perilaku yang diperlukan untuk meningkatkan kemandirian anak. Toddler juga belajar mentoleransi frustrasi sampai batas tertentu, dan biasanya masih mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan kegiatan. Mereka juga sudah dapat mengidentifikasi dirinya sebagai anak laki-laki atau wanita dan meniru perilaku orangtua sejenis.
Perkembangan kognitif ditunjukkan melalui rasa ingin tahu tentang diri mereka sendiri. Kebiasaan dan rutinitas menimbulkan rasa aman bagi anak, kemampuan berbahasa juga menjadi lebih baik dan mulai mengerti konsep waktu dan berespons jika disuruh menunggu. Anak mulai mengerti baik dan buruk dan mencoba untuk mematuhi orang tua untuk mendapatkan persetujuan dan menghindari hukuman.
4. Anak pra-sekolah (3-5 tahun)
Anak pra-sekolah telah menguasai keterampilan motorik kasar dan halus, seperti mampu duduk tanpa bantuan, mampu untuk mengangkat kakinya mampu mencapai objek, mampu menggenggam tangan, serta mengembangkan kemampuan berkemunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Selama tahap ini, anak terus menghaluskan keterampilannya dan belajar keterampilan lain dalam persiapannya agar dapat meluaskan dunianya ke lingkungan tetangga dan sekolah. Anak pra-sekolah memfokuskan pengembangan kemampuan motorik halus melalui gerakan seperti menggunakan pensil, dan menggambar. Bermain
bersama teman sebaya merupakan media pengembangan keterampilan fisik dan sosial yang paling baik bagi anak pra-sekolah.
Menurut teori Erikson, pada tahap pra-sekolah, anak mengembangkan inisiatif versus rasa bersalah setelah berhasil menanamkan rasa percaya dan otonomi yang berkembang pada tahap sebelumnya. Inisiatif dapat berkembang jika anak merasa aman psikososial melalui interaksi yang sesuai dengan orang tuanya. Karena rasa ingin tahu yang besar, anak cenderung bertanya mengapa dan merasa lebih yakin akan kemampuannya mentoleransi perpisahan dengan orangtuanya. Anak lebih mampu bersosialisasi dan lebih stabil ambang perasaannya (mood). Anak pada masa ini tidak mampu membedakan antara kenyataan dengan fantasi dalam semua situasi. Hal ini sangat penting diketahui karena jika anak berperilaku tidak baik, orang tua perlu menekankan pada anak bahwa perilaku mereka yang tidak disukai bukan dirinya. Jika tidak, maka anak akan mempersepsikan bahwa karena meraka melakukan sesuatu yang tidak baik, maka diri mereka juga berarti tidak baik. Permainan yang memfasilitasi interaksi sangat penting untuk mengembangkan kemampuan bermain bersama, rasa toleransi dan menanamkan sifat-sifat baik.
Kemampuan kognitif terlihat melalui pemikiran magik dan cara berpikir yang konkrit. Anak pra-sekolah masih terbatas kemampuan menentukan ukuran, bentuk, volume, usia dan waktu. Mereka biasanya mengulangi perilaku yang memuaskan dirinya dan orang yang berarti bagi dirinya, serta sudah tidak terlalu tergantung pada orangtua untuk membatasi perilakunya.
5. Usia sekolah (5-12 tahun)
Anak usia sekolah sudah mengembangkan kekuatan internal dan tingkat kematangan yang memungkinkan mereka untuk bergaul di luar rumah. Tugas perkembangan utama pada tahap ini adalah menanamkan interaksi yang sesuai dengan teman sebaya dan orang lain, meningkatkan keterampilan intelektual khususnya di sekolah, meningkatkan keterampilan motorik halus, dan ekspansi keterampilan motorik kasar. Pertumbuhan fisik dengan pesat mulai melambat
pada usia 10 hingga 12 tahun. Bentuk wajah berubah karena tulang muka tumbuh lebih cepat dari pada tulang kepala. Anak usia sekolah menjadi lebih kurus, kakinya lebih panjang. Koordinasi neuromotorik lebih berkembang. Gigi tetap mulai tumbuh. Keterampilan bersepeda, memainkan alat musik, menggambar/melukis, serta keterampilan lain yang diperlukan untuk kegiatan kelompok serta kegiatan hidup sehari-hari sudah berkembang. Untuk perkembangan emosional dan sosial, anak usia sekolah perlu diberikan kesempatan untuk belajar menerapkan peraturan dalam berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga. Anak juga mengamati bahwa tidak semua keluarga berinteraksi dengan cara atau sikap yang sama, bahwa tiap keluarga mempunyai perbedaan norma tentang perilaku yang diterima atau tidak diterima. Oleh karena itu, perlu bagi anak untuk mengembangkan kesadaran dan penghargaan terhadap perbedaan tiap keluarga, sehingga dapat berhubungan dengan orang lain secara efektif. Menurut Erikson, tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengembangkan pola industri (produktif) versus inferioritas (rendah diri). Orang tua perlu mendukung dan menjadi contoh peran bagi anak untuk merangsang anak agar produktif. Perkembangan seksual dan citra diri tidak hanya berhubungan dengan aspek fisiologis tetapi juga perasaan kompeten, penerimaan dan penghargaan. Perasaan berhasil melakukan sesuatu menjadi sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak usia sekolah. Mereka juga telah memahami konsep jender, bahwa anak laki akan menjadi bapak, dan anak wanita akan menjadi ibu kalau sudah dewasa.
Perkembangan kognitif terjadi cukup pesat pada masa ini, yaitu menerapkan keterampilan merasionalisasikan pemahaman tentang ide atau konsep. Mereka dapat menghubungkan antara konsep waktu dan ruang, mampu mengingat, serta keterampilan mengumpulkan benda yang sejenis. Anak usia sekolah juga telah belajar pentingnya memperhatikan norma di rumah, sekolah, agama dan menghargai tokoh otoriter seperti orangtua atau guru.
6. Masa remaja (12-18 tahun)
Pertumbuhan fisik terjadi dalam waktu yang sangat singkat yaitu dalam 18 hingga 36 bulan, dan selesai selama masa pubertas. Remaja putri tingginya bertambah 5 sampai 20 cm dan berat bertambah 7 hingga 25 kg yang dialami 2 tahun lebih awal daripada remaja putra. Pengaruh hormonal pada pertumbuhan dan perubahan fisik remaja sangat nyata terutama pada fungsi seksual atau karakteristik seks sekunder. Pertumbuhan reproduktif berakhir pada usia 17 tahun.
Kelompok sebaya memberikan pengaruh utama dalam kehidupan remaja.
Remaja menjadi lebih mandiri dan seringkali merasa bingung dengan perilaku orang tuanya. Tugas psikososial pada masa ini adalah mengembangkan identitas kelompok dan rasa identitas pribadi dan menjalin hubungan personal yang akrab baik dengan teman pria maupun teman wanita yang disebut oleh Erikson sebagai identitas versus kerancuan identitas.
Biasanya remaja dipenuhi oleh pertanyaan tentang arti kehidupan dan masa depan. Proses pengembangan identitas diri merupakan fenomena yang kompleks yang mencerminkan keturunan, nilai keluarga, pengalaman kehidupan masa lalu, keyakinan dan harapan untuk masa depan, serta persepsi mereka tentang tuntutan dan harapan orang yang berarti dalam kehidupannya.
Memberikan kesempatan untuk berperilaku seperti orang dewasa antara lain mengasuh, berpacaran atau meninggalkan rumah untuk sekolah di luar kota memungkinkan remaja untuk menelaah tanggung jawab dan peran orang dewasa.
Pengarahan orang tua dalam menentukan alternatif dan membuat keputusan yang logik dalam menyelesaikan masalah, sangat penting bagi remaja. Orangtua perlu memahami konflik yang pada umumnya dialami remaja yaitu konflik antara keinginan untuk menunjukkan identitas dirinya melalui kemandirian dengan perasaan masih tergantung pada orangtua. Dalam hal ini komunikasi yang terbuka antara remaja dengan orangtua menjadi sangat penting.
Dalam perkembangan kognitifnya, remaja mampu untuk berpikir tentang cara mengubah masa depan dan mampu mengantisipasi konsekuensi dari tiap
perilaku mereka, serta dapat melihat hubungan abstrak antara diri mereka dengan lingkungannya. Dari segi moral, remaja biasanya mulai menentang nilai-nilai tradisional dan mencoba mengkajinya secara logik
Masa remaja (adolescence) menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub- sub masa perkembangan. Salah satu pembagian yang dilakukan oleh Stolz adalah sebagai berikut :
a. Masa prapuber, satu atau dua tahun sebelum masa remaja yang sesungguhnya. Anak menjadi gemuk, pertumbuhan tinggi badan terhambat sementara.
b. Masa puber atau masa remaja, perubahan-perubahan sangat nyata dan cepat.
Anak wanita lebih cepat memasuki masa ini daripada pria. Masa ini lamanya berkisar anatara 2,5 – 3,5 tahun.
c. Masa postpuber, pertumbuhan yang cepat sudah berlalu, tetapi perubahan- perubahan masih tetap berlangsung pada beberapa bagian organ tubuh tertentu.
d. Masa akhir puber, melanjutkan perkembangan sampai mencapai tanda-tanda kedewasaan.
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12 –21 tahun pada wanita dan usia 13 – 22 tahun pada pria. Masa perkembangan remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja yang sendiri, tetapi juga bagi para orang tua, guru, dan masyarakat sekitarnya. Bahkan seringkali para penegak hukum dan aparat keamanan pun turut direpotkan oleh ulah dan tindak-tanduknya yang dipandang menyimpang.
Mengapa demikian ?, secara singkat jawabannya ialah karena individu remaja sedang berada dipersimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa. Masa ini merupakan masa transisi, yang seringkali menimbulkan gejolak, goncangan, dan benturan yang kadang-kadang berakibat sangat buruk sampai fatal. Situasi ini membingungkan karena di satu pihak ia masih kanak-kanak,
tetapi di lain pihak ia harus berperilaku seperti orang dewasa. Situasi-situasi konflik seperti ini, sering menyebabkan perilaku-perilaku aneh, canggung dan kalau tidak terkontrol dapat menyebabkan kenakalan remaja.
Perubahan-perubahan sekunder juga terjadi, badan bertambah tinggi dan cepat. Pada anak pria suara membesar, timbul jakun dan otot-otot mulai tumbuh.
Pada anak wanita dada dan pinggul membesar. Pada kedua jenis kelamin mulai tumbuh rambut pubis. Perkembangan yang cepat menuntut penyesuaian perilaku yang cepat pula. Tetapi umumnya penyesuaian perilaku tidak dapat mengikuti cepatnya pertumbuhan. Karena itu sering kita jumpai remaja tingkah lakunya serba canggung, badannya sudah besar tetapi perbuatan seperti anak kecil.
7. Dewasa
Masa dewasa awal (early adulthood) ialah fase perkembangan saat seorang remaja mulai memasuki masa dewasa, yakni 21 – 40 tahun. Sebelum memasuki masa ini seorang remaja terlebih dahulu berada pada tahap ambang dewasa (late adolescence) atau masa remaja akhir yang lazimnya berlangsung 21 atau 22 tahun. Namun, menurut pengamatan para ahli, pada masa post puber proses perkembangan organ-organ jasmaniah tertentu, meskipun sudah sangat lamban, masih terus berlangsung hingga kira-kira usia 24 tahun.
Tidak ada satu periodepun dalam perkembangan yang tidak ada problemnya, demikianlah pula masa dewasa. Memasuki alam kedewasaan, seorang laki-laki harus mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan menghidupi keluarganya. Ia harus mulai bekerja untuk mencari nafkah dan membina karir.
Kaum wanita juga harus mempersiapkan diri untuk berumah tangga, menjadi isteri, dan menjadi seorang ibu, dimana menuntut tanggungjawab untuk melakukan peran ini. Dalam karir seseorang, biasanya terjadi saat-saat prestasi orang mencapai puncaknya, untuk kemudian prestasi itu mulai merosot lagi. Saat- saat yang paling produktif pada masa hidup seseorang adalah berbeda-beda, bergantung pada jenis pekerjaan dan individu yang bersangkutan, kecepatan dan kecermatan gerak, usia yang paling produktif adalah sekitar 25-29 tahun.
Untuk lapangan-lapangan pekerjaan lain seperti ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan kesenian usia yang paling produktif adalah sekitar 30–40 tahun, hal mana masih bergantung pula pada lapangan pekerjaanya dan keadaan budayanya. Sesuai dengan kondisi kebudayaan dan lingkungan pula, maka pada beberapa orang tertentu baik pria maupun wanita terdapat gejala khusus pada waktu usia 40 tahun tercapai atau terlewati.
8. Setengah Baya
Masa setengah baya (middle age) adalah masa yang berlangsung antara usia 40 sampai 60 tahun. Konon, dikalangan tertentu, pria dan wanita yang sudah menginjak 40 tahun keatas sering dijuluki sebagai orang yang sudah mengalami masa pubertas kedua. Julukan ini timbul karena mereka senang lagi bersolek, suka bersikap dan berbuat emosional/mudah marah, dan bahkan jatuh cinta lagi. Semua ini menunjukan bahwa usia 40 tahunan merupakan masa krisis bagi sebagian orang.
Pada beberapa pria gejala itu nampak seperti perilaku remaja kembali, sehingga oleh orang awam pria seperti ini dijuluki remaja ke dua. Pada wanita kelihatan depresi (murung), mudah marah (cepat tersinggung), biasanya diikuti perasaan cemas karena kuatir akan hilang kasih sayang anak-anak yang sudah mulai menanjak dewasa, kehilangan kasih sayang suami. Selain itu, wanita setengah baya juga acapkali cemas akan kehilangan suami karena menopause (berhenti menstruasi) yang pada umumnya diiringi dengan timbulnya tanda-tanda atau garis-garis ketuaan dibagian tertentu pada tubuhnya.
Akan tetapi, sebagaimana halnya dengan krisis masa remaja, hanya satu-dua orang saja yang tidak dapat melampaui dengan baik. Sebagian besar orang atau pada umumnya dapat mengatasi masalah-masalah pada periode krisis ini.
9. Usia Tua
Masa tua (old age) adalah fase terakhir kehidupan manusia. Masa ini berlangsung antara usia 60 sampai berhembusnya nafas terakhir (akhir hayat).
Mereka yang sudah menginjak usia 60 tahun ke atas yang dalam istilah psikologi disebut “ senescence ” (masa tua) biasanya ditandai oleh perubahan-perubahan kemampuan motorik yang semakin merosot.
Diantara perubahan-perubahan tersebut adalah menurunnya kekuatan otot- otot tangan dan otot-otot yang menyangkut seluruh tubuh. Oleh karena itu pada umumnya orang tua lebih cepat merasa lelah, dan untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya dari kelelahan itu, ia memerlukan waktu yang lebih lama dari pada ketika ia masih berusia muda.
Problem utama pada orangtua adalah rasa kesepian dan kesendirian. Mereka sudah biasa melewatkan hari-harinya dengan kesibukan-kesibukan pekerjaan yang sekaligus juga merupakan pegangan hidup dan dapat memberikan rasa aman dan rasa harga diri. Pada saat pensiun, hilanglah kesibukan, sekaligus mulai tidak diperlukan lagi. Bertepatan dengan itu, anak-anak mulai menikah dan meninggalkan rumah. Badan mulai lemah dan tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Sebagai akibatnya, semangat mulai menurun, mudah dihinggapi penyakit dan segera akan mengalami kemunduran-kemunduran mental. Hal ini disebabkan oleh mundurnya fungsi-fungsi otak, seperti sering lupa, daya konsentrasi berkurang yang juga disebut kemunduran senil.
Karena umumnya pada waktu masa pensiun tiba, orang yang bersangkutan masih cukup kuat, maka harus diusahakan agar kesibukan-kesibukannya tidak terhenti dengan tiba-tiba. Beberapa cara untuk menghindari penghentian kegiatan secara mendadak antara lain :
a. Memberikan masa bebas tugas sebelum pensiun.
b. Memberikan pekerjaan yang lebih ringan sebelum pensiun.
c. Mencari pekerjaan lain dalam masa pensiun.
d. Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat kegemaran dalam pensiun tersebut.
C. Proses Sensorik Motorik
1. Pengertian Proses Sensorik
Purwanto, (1999) menyatakan bahwa proses sensorik adalah proses mengenal dunia luar yang dimulai dengan pengamatan, kemudian tanggapan dan dilanjutkan dengan ingatan, dengan mengunakan indra yaitu penglihatan, pendengaran, pembau, perasa atau pengecap, peraba. Jadi proses sensorik pada dasarnya adalah mekanisasi persarafan yang ada hubungannya dengan sensor untuk ke 5 indra kita (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan perasa dengan lidah). Dengan demikian, maka indra adalah gerbang jiwa sebab dengan pengamatan itu, maka jiwa kita berkembang, bertambah kaya dan bertambah luas isi wawasan. Dan satu-satunya jalan untuk hal ini hanyalah dengan indra.
Mengenal dunia luar dengan:
(Purwanto, 1999) membagi proses pengamatan sebagai berikut:
a. Proses pengamatan
Pengamatan terjadi melalui :
1) Saat mengalami yaitu saat indera manusia menerima perangsang dari luar.
2) Saat jasmani yaitu saat perangsang itu diteruskan oleh saraf sensorik ke otak.
3) Saat rohani yaitu saat sampainya perangsang ke otak, manusia menyadari perangsang itu dan bertindak.
Adapun syarat-syarat terjadinya proses pengamatan ialah : 1) Ada perhatian manusia kepada perangsang.
2) Ada perangsang yang mengenai alat indera manusia.
3) Saraf sensorik harus meneruskan perangsang ke otak.
4) Manusia menyadari adanya perangsang.
b. Peroses tanggapan :
Setelah melalui pengamatan dilanjutkan pada tanggapan. Tanggapan adalah gambaran pengamatan yang tertinggal di dalam kesadaran manusia sesudah selesai pengamatan.
Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan adalah :
1). Pengamatan memerlukan perangsang sedangkan tanggapan tidak.
2). Pengamatan memerlukan waktu dan tempat tertentu, tanggapan tidak.
3). Pengamatan lebih jelas dari tanggapan.
Sedangkan persamaan antara keduanya adalah :
Berlangsung selama masih ada perhatian dan bersifat perseorang.
Ada kalanya antara pengamatan dan tanggapan sama jelasnya. Ini disebut dengan eidetis, gejalanya disebut eidetik dan terdapat pada wanita, anak-anak dan seniman. Penyebab dari gejala eidetik disebabkan oleh dua faktor yaitu geologis dan faktor jasmani.
Tiap orang mempunyai tipe sendiri-sendiri dalam menerima tanggapan dan bukan berarti indera yang lain tidak bekerja, hanya pada tipe tertentu seseorang mempunyai keistimewaan dalam menerima perangsang.
Tipe tanggapan dapat digolongkan menjadi :
1). Tipe visual artinya manusia yang punya tanggapan baik dari apa yang dilihat.
2). Tipe auditif artinya manusia dapat tanggapan baik sekali dari apa yang didengar.
3). Tipe motorik artinya manusia mempunyai tanggapan baik sekali dari apa yang digerakkan.
4). Tipe taktil artinya orang mempunyai tanggapan baik sekali dari apa yang diraba.
5). Tipe campuran artinya kekuatan tiap indera mempunyai kekuatan yang sama pada sesuatu yang pernah diindera.
c. Proses ingatan :
Melalui pengamatan dan tanggapan dilanjutkan pada ingatan yaitu daya jiwa untuk menerima, menyimpan dan mereprodukai pengertian-pengertian atau tanggapan-tanggapan. Keberadaan ingatan manusia sangat dipengaruhi oleh sifat seseorang, keadaan di luar jiwa dan umur. Pada umur 10-15 tahun baik sekali untuk ingatan mekanis, umur 16-50 tahun baik untuk ingatan logis. Pada umur 50 tahun keatas sulit adanya ingatan bahkan akan sering lupa.
Hal-hal yang mempermudah ingatan manusia adalah : 1). Sesuai dengan perasaan.
2). Dialami sebaik-baiknya.
3). Menimbulkan minat dan perhatian.
4). Mengandung arti, berirama dan tidak terlalu panjang.
Kelainan proses sensorik umumnya berkaitan dengan bagian-bagian yang memproses sensorik dari luar. Bekerjanya indera dalam proses sensorik adalah sebagai berikut :
1). Indera penglihat :
Menerima perangsang dalam bentuk cahaya dan bekerjanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu menurut adanya cahaya (terang dan gelap) serta menurut warna (merah, jingga, hijau, biru, kuning, ungu, hitam, putih dan abu-abu). Warna- warna yang diluar warna itu tidak dapat diamati oleh indera. Menurut ukurannya indera penglihatan ada besar, bentuk dan jarak.
2). Indera pendengaran :
Merangsang dari getar udara yang dibedakan atas, nada, desah dan kerdum.
3). Indera pembau :
Menerima perangsang dalam bentuk gas. Menurut W. Henning ada enam bau pokok yaitu bau busuk, bau bunga, bau buah, bau akar, bau sangit dan bau getah.
4). Indera perasa (pengecap) :
Menerima perangsang dalam bentuk zat cair. Yang menerima perangsang adalah lidah dan langit-langit sebelah atas. Ada empat rasa pokok yaitu manis, asam, asin dan pahit.
5). Indera peraba :
Menerima perangsang dari tekanan atau suhu. Penginderaan ini letaknya pada seluruh tubuh, kecuali pada rambut, kuku dan gigi. Yang menerima perangsang adalah bagian bawah kulit.
Keistimewaan-keistimewaan indera diatas itu adalah kelemahan salah satu indera indera, tentu menjadikan istimewa indera lainnya. Orang yang tak dapat membedakan warna disebut buta warna. Buta warna ada dua macam yaitu buta warna sebagian yaitu orang yang hanya dapat melihat warna merah, hijau atau kuning dan ungu dan buta warna seluruhnya yang hanya dapat melihat warna putih, hitam dan abu-abu. Biasanya orang buta warna ini dapat menggambarkan dengan bagus, orang buta dapat diajar membaca dan menulis dengan abjad braille.
Hellen Killer adalah orang buta, tuli dan bisu yang dapat juga mencapai perguruan tinggi dan menulis riwayat hidupnya sehingga mendapat gelar doktor.
Anak yang tuli sejak lahir tentu bisu, sebab telinganya tidak pernah merasa perangsang getar udara, anak semacam ini dapat diajar dengan bibir (Jerman) atau jari (Perancis). Orang yang tak dapat membedakan tinggi rendahnya nada disebut tuli nada.
2. Faktor yang Mempengaruhi Proses Sensorik
1). Perhatian : biasanya rangsangan tidak dapat ditanggkap sekaligus, tetapi difokuskan pada satu dan dua obyek saja. Perbedaan fokus antara satu orang dengan orang lainnya menyebabkan perbedaan dan proses sensorik antar orang.
2). Set : adalah harapan seseorang terhadap rangsangan yang akan timbul.
Bila ada harapan yang disampaikan akan tercapailah proses sensorik dengan baik dan lancar. Set ini merupakan kesiapan dari seseorang dalam menjalani proses sensorik.
3). Kebutuhan : kebutuhan yang sementara maupun menetap akan mempengaruhi proses sensorik seseorang. Kebutuhan yang berbeda-beda menyebabkan proses sensorik seseorang juga berbeda.
4). Ciri kepribadian : proses sensorik dipengaruhi oleh ciri kepribadian masing-masing orang dari berbagai temperamen yang dimiliki.
Kepribadian yang berlainan menyebabkan adanya perbedaan dari proses sensorik. Misalnya ada beberapa tipe indera menerima perangsang.
5). Gangguan kejiwaan menyebabkan adanya kesalahan proses sensorik : misalnya dalam pengamatan gangguan kejiwaan yaitu :
(1). Osilasi :
Peristiwa berubah-ubahnya benda karena indera penglihatan, sikap dan cara mengamati dan perhatian yang berubah-ubah.
(2). Ilusi:
Peristiwa terjadinya kesadaran akan sesuatu yang berlainan dengan perangsang yang terjadi.
(3). Halusinasi :
Peristiwa terjadinya kesadaran akan sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa-apa, misalnya pengaruh sakit panas, mabuk.
(4). Sinestesi :
Peristiwa adanya kesadaran akan sesuatu yang tidak melalui indera yang sebenarnya.
(5). Adaptasi :
Peristiwa penyesuaian diri dengan dunia luar.
6). Gangguan karena kekurangan garam-garam mineral bumi : hal ini menyebabkan terganggunya kelenjar tertentu. Pada manusia yang kelenjar perisainya terganggu akan mengalami basedoide dengan sifat- sifat selalu gembira, wajah mudah berubah dan mudah bergaul. Sedang apabila kelenjar tambahaan perisainya terganggu disebut sakit Tetanoide dengan sifat-sifat, tanggapan tetap, tangapan warna dengan komplemen, pendiam, pesimis, selalu curiga, wajah pucat dan selalu bersedih.
7). Gangguan yang ditimbulkan oleh ingatan adalah:
(a). Lupa adalah peristiwa tidak dapat memproduksi tanggapan yang ada sedangkan kondisi manusia dalam keadaan sehat.
(b). Amnesti ialah peristiwa tidak dapatnya mereproduksi tanggapan karena ingatan yang tidak sehat.
(c). Deyavu ialah peristiwa seolah-olah sudah mengenal suatu hal padahal belum.
(d). Jamais vu ialah peristiwa seolah-olah belum kenal sesuatu padahal sudah.
3. Hubungan Proses Sensorik Dengan Perilaku
Proses sensoris menyebabkan manusia mengenal alam di luar dirinya yang berguna untuk mengembangkan dirinya sebagai makhluk sosial. Akibat dari proses sensoris manusia dapat berperilaku dalam bentuk:
1). Fantasi
Pengertian fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru. Menurut terjadinya fantasi dapat dibagi dua yaitu fantasi yang disadari dan fantasi yang tidak disadari. Fantasi disadari dipimpin oleh akal dan kemauan (fantasi aktif), sedangkan fantasi tidak disadari tidak dipimpin oleh akal dan kemauan (fantasi pasif). Kegunaan dari fantasi adalah:
(a). Menciptakan sesuatu yang baru.
(b). Dapat bersimpati sesama manusia walaupun jauh.
(c). Dapat mengikuti perjalanan sejarah, walau masa lalu.
(d). Dapat menghilangkan duka ke dunia yang indah.
Sedangkan bahaya dari fantasi adalah:
(a). Akan sering menghadapi kesulitan hidup.
(b). Lebih sering berdusta, lebih-lebih pada anak-anak.
(c). Mudah tergelincir ke dunia yang berlebihan.
(d). Mudah sekali tergelincir ke dunia yang berlebihan.
2). Berpikir
Pengertian berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menghubungkan pengetahuan yang dimiliki manusia. Berpikir merupakan proses Tanya jawab antara pengetahuan yang dimiliki manusia dengan apa yang baru dengan menggunakan akal. Hubungan dapat terjadi sebagai sebab akibat, hubungan tempat, hubungan perbandingan dan hubungan waktu. Proses yang dilalui dalam berpikir adalah:
(a). Pembentukan pengertian, artinya manusia menyisakan pengertian walau hanya sedikit.
(b). Pembentukan pengertian, artinya manusia menggabungkan beberapa pendapat.
(c). Pembentukan kesimpulan, artinya manusia membuat keputusan dari berbagai alternatif keputusan.
Perkembangan berpikir pada anak sesuai dengan tahap perkembangan dibagi menjadi:
(a). Taraf kongkrit, sesuatu dapat dipikirkan apabila berbentuk nyata.
(b). Taraf bagan, sesuatu dapat dipikirkan walau hanya berwujud bagan.
(c). Taraf abstrak, sudah dapat berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
3). Perasaan
Pengertian perasaan adalah pernyataan jiwa yang dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut rasa senang atau tidak senang. Jadi sifat perasaan adalah pernyataan jiwa yang diwujudkan dalam bentuk senang-tidak senang, sedih-gembira dan lain-lain. Perasaan manusia dibagi menjadi 2 yaitu:
(a). Golongan eukoloi yaitu orang yang selalu merasa gembira dan optimis.
(b). Golongan diskoloi yaitu orang merasa tidak senang, murung dan posimis.