i
Modul Praktikum
PENCEMARAN LINGKUNGAN
TIM PENYUSUN
Program Studi S1 Ilmu Lingkungan
Dr. Prabang Setyono, M.Si Sapta Suhardono, S.Pd., M.Sc
Siti Rachmawati, SST., M.Si
Hashfi Hawali Abdul Matin, ST., M.Ling
2020-2021
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
*Hanya untuk kalangan sendiri, tidak untuk diperjual belikan
ii
1. Praktikum diikuti oleh mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta, peserta tambahan dalam praktikum diberikan izin sesuai dengan persetujuan dan kebijakan dosen pengampu praktikum serta sepenuhnya berada di bawah arahan asisten praktikum yang ditunjuk
2. Mahasiswa mengikuti praktikum berpakaian rapi dan santun, serta diwajibkan menggunakan sepatu. Tambahan aksesoris untuk kepentingan perlindungan akan disampaikan sesuai dengan kegiatan praktikum
3. Mahasiswa diwajibkan untuk hadir tepat pada waktunya (sesuai jadwal praktikum maupun jadwal perubahan yang telah disampaikan dan disetujui sebelumnya) dan mengisi lembar absen yang telah disediakan
4. Praktikum diawali dengan arahan singkat mengenai pelaksanaan praktikum dari dosen pengampu praktikum atau diwakili oleh asisten praktikum
5. Mahasiswa diwajibkan untuk mematuhi arahan dan instruksi dari dosen pembimbing maupun asisten praktikum
6. Mahasiswa diwajibkan untuk berperilaku sopan dan menjunjung tinggi norma, etika dan peraturan hukum yang berlaku selama berada di lokasi kegiatan maupun pada tahapan pelaksanaan kegiatan
7. Mahasiswa diwajibkan untuk menghadiri keseluruhan acara praktikum dan menyampaikan izin tertulis apabila terpaksa tidak dapat menghadiri kegiatan.
Syarat dan ketentuan minimum kehadiran mengacu aturan yang berlaku pada Universitas Sebelas Maret Surakarta.
8. Mahasiswa dilarang untuk meninggalkan lokasi praktikum tanpa seizin dari dosen pengampu dan selama tidak berada pada lokasi tidak menjadi tanggung jawab asisten maupun dosen praktikum
9. Mahasiswa wajib menyelesaikan penugasan praktikum sesuai dengan format yang telah ditentukan
iii Acara
ke- Kegiatan Lokasi Praktikum
I Asistensi Spada
II COD, BOD, pH, Suhu air limbah Kampus Kentingan
III Kadmium pada air limbah Kampus Kentingan
IV Amonia pada air limbah Kampus Kentingan
V Responsi Spada
VI Debu Partikulat Kampus Tirtomoyo
VII Kebisingan Kampus Tirtomoyo
VIII Gas CO Kampus Tirtomoyo
IX Gas SOx dan NOx Kampus Tirtomoyo
X Responsi Spada
XI dan XII
Kunjungan Virtual ke Industri Spada
XIII PRESENTASI KELOMPOK Spada
XIV REMIDI Spada
XII RESPONSI Spada
* LOGAM BERAT KADMIUM (Cd)*
A. Definisi
Logam berat merupakan unsur alam yang diperoleh dari laut, erosi batuan, vulkanisme dan sebagainya (Carlk, 1986). Logam berat tidak dapat dihancurkan secara alami dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan (Darmono, 1995). Logam berat menjadi berbahaya karena tidak dapat didegradasi oleh tubuh, memiliki sifat toksisitas (racun) pada makhluk hidup walaupun pada konsentrasi yang rendah dan dapat terakumulasi dalam jangka waktu tertentu (Buhani, 2009). Menurut Khasanah (2009), logam berat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu logam berat esensial dan non esensial. Logam berat esensial adalah logam yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup tapi dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Cu, Zn, Fe, CO, Mn, dan lain sebagainya. Sedangkan logam berat non esensial adalah logam yang keberadaannya dalam tubuh belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), khrom (Cr), dan lain-lain.
Logam kadmium (Cd) memiliki karakteristik berwarna putih keperakan seperti logam aluminium, tahan panas, tahan terhadap korosi. Kadmium (Cd) digunakan untuk elektrolisis, bahan pigmen untuk industri cat, enamel dan plastik. Logam kadmium (Cd) biasanya selalu dalam bentuk campuran dengan logam lain terutama dalam pertambangan timah hitam dan seng (Darmono 1995).
Unsur kadmium (Cd) dalam Sistem Periodik Unsur (SPU) terletak dalam golongan IIB dengan nomor atom 48, jari-jari ion 0,97 Å dan konfigurasi elektron [Kr]4d105s2. Kadmium (Cd) hampir selalu ditemukan pada tingkat valensi 2+. Kadmium (Cd) merupakan logam yang di alam biasanya bersama-sama dengan logam seng (Zn). Kadmium (Cd) merupakan logam berat yang paling banyak ditemukan pada lingkungan, khususnya lingkungan perairan, serta memiliki efek toksik yang tinggi, bahkan pada konsentrasi yang rendah (Almeida et al., 2009).
Logam kadmium (Cd) digunakan untuk elektrolisis, bahan pigmen untuk industri cat, enamel dan plastik. Logam kadmium (Cd) masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa cara seperti pernafasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit (Krisnawati dkk, 2013).
Kadmium (Cd) diketahui memiliki waktu paruh yang panjang dalam tubuh organisme hidup dan umumnya terakumulasi di dalam hepar dan ginjal (Flora, 2009). Pada manusia, kadmium (Cd) dapat bersifat karsinogenik, merusak kelenjar endokrin, sistem kardiovaskular dan juga terdapat pada sistem saraf yang memicu kerusakan neurologis dan berasosiasi dengan kanker
paru-paru, prostat, pankreas dan ginjal (Bobocea et al., 2008 & Flora, 2009). Pal (2006) menjelaskan bahwa pada konsentrasi yang tinggi, kadmium merupakan logam berat yang bersifat karsinogen, mutagenik dan teratogenik pada beberapa jenis hewan. Hal ini menunjukan bahwa logam berat kadmium memberikan efek terhadap proses genomic dan postgenomic pada liver, ginjal, paru-paru, dan otak. Sifat karsinogenik kadmium menyebabkan logam berat tersebut diurutkan sebagai peringkat pertama (Class 1) agen mutagenik bagi organisme hidup (Nordic, 2003 dan Flora et al., 2008).
Kadmium (Cd) memiliki sifat reaktif yang sangat tinggi dan dapat menginaktifkan berbagai macam aktivitas enzim yang diperlukan oleh sel. Setelah diadsorpsi, logam berat kadmium (Cd) akan terakumulasi di dalam organ target yang utamanya adalah ginjal kemudian menimbulkan toksisitas. Di dalam ginjal, akumulasi kadmium (Cd) terjadi umumnya di dalam tubulus proximal serta segmen-segmen nefron lainnya yang hanya terjadi pada akhir tahap intoksifikasi (Yokouchi et al., 2007). Selain itu, Ohta et al. (2000) melaporkan bahwa pemberian logam berat kadmium (Cd) terhadap tikus putih jantan (Male Wistar Rats) dapat menyebabkan osteoporosis serta umumnya terdeposit di dalam organ liver dan ginjal.
B. Dampak Kadmium (Cd)
Kadmium (Cd) masuk dalam tubuh manusia dan hewan melalui makanan, minuman dan pernapasan. Dalam tubuh, kadmium (Cd) dapat mengganti ion Ca2+ dalam tulang, sehingga tulang menjadi keropos. Kadmium (Cd) mempunyai waktu paruh 30 tahun sehingga dapat terakumulasi pada ginjal dan dapat menyebabkan disfungsi ginjal. Kadmium (Cd) juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan menimbulkan penyakit anemia karena kadmium (Cd) dapat menghambat kerja enzim –SH dalam protein (Darmono, 1995). Menurut badan dunia FAO/WHO, konsumsi per minggu yang ditoleransikan bagi manusia adalah 400 – 500 gram per orang atau 7 mg per kilogram berat badan. Kadmium (Cd) dalam tubuh manusia diperoleh melalui makanan, tembakau, air minum dan udara.
Keracunan oleh kadmium (Cd) menunjukkan gejala yang mirip dengan gejala penyakit akibat keracunan senyawa merkuri (Hg) atau penyakit Minamata. Berdasarkan baku mutu air minum yang dikeluarkan oleh WHO (1971), kadar kadmium maksimum dalam air minum yang dibolehkan yakni 0,01 mg/l sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.
492 Tahun 2010, kadar maksimum kadmium dalam air minum yang dibolehkan yakni 0,003 mg/l. Kadmium (Cd) juga dapat menginduksi kerusakan pada fungsi membran dengan merusak komposisi lipid pada membran sel.
C. Alat dan Bahan Bahan :
1. Air bebas mineral
2. Asam nitrat (HNO3) pekat p.a.
3. Logam kadmium (Cd) dengan kemurnian minimum 99,5 % 4. Gas asetilen (C2H2) HP dengan tekanan minimum 100 psi.
5. Larutan pengencer HNO3 0,05 M.
Larutkan 3,5 mL HNO3 pekat ke dalam 1000 mL air bebas mineral dalam gelas piala.
6. Larutan pencuci HNO3 5% (v/v). Tambahkan 50 mL asam nitrat pekat ke dalam 800 mL air bebas mineral ke dalam gelas piala 1000 mL, lalu tambahkan air bebas mineral hingga 1000 mL dan homogenkan. g) Udara tekan HP atau udara tekan dari kompresor
Peralatan :
1. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)-nyala.
2. Lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp /HCL) kadmium.
3. Gelas piala 100 mL dan 250 mL.
4. Pipet volumetrik 10,0 mL dan 50,0 mL.
5. Labu ukur 50,0 mL; 100,0 mL; dan 1000,0 mL.
6. Erlenmeyer 100 mL 7. Corong gelas.
8. Kaca arloji.
9. Pemanas listrik.
10. Seperangkat alat saring vakum
11. Saringan membran dengan ukuran pori 0,45 µm.
12. Timbangan analitik dengan ketelitian 0,0001 gram 13. Labu semprot
D. Cara Pengukuran
1. Persiapan contoh uji kadmium total
Siapkan contoh uji untuk pengujian kadmium total, dengan tahapan sebagai berikut:
a) Homogenkan contoh uji, pipet 50,0 mL contoh uji dan masukkan ke dalam gelas piala 100 mL atau Erlenmeyer 100 mL.
b) Tambahkan 5 mL HNO3 pekat, bila menggunakan gelas piala, tutup dengan kaca arloji dan bila dengan Erlenmeyer gunakan corong sebagai penutup.
c) Panaskan perlahan-lahan sampai sisa volumenya 15 mL sampai dengan 20 mL.
d) Jika destruksi belum sempurna (tidak jernih), maka tambahkan lagi 5 mL HNO3 pekat, kemudian tutup gelas piala dengan kaca arloji atau tutup Erlenmeyer dengan
corong dan panaskan lagi (tidak mendidih). Lakukan proses ini secara berulang sampai semua logam larut, yang terlihat dari warna endapan dalam contoh uji menjadi agak putih atau contoh uji menjadi jernih.
CATATAN Jika destruksi tidak sempurna, lihat Lampiran B.
e) Bilas kaca arloji dan masukkan air bilasannya ke dalam gelas piala
f) Pindahkan contoh uji ke dalam labu ukur 50,0 mL (saring bila perlu) dan tambahkan air bebas mineral sampai tepat tanda tera dan dihomogenkan.
g) Contoh uji siap diukur serapannya.
2. Pembuatan larutan induk logam kadmium 100 mg Cd/L
a) Timbang ± 0,100 g logam kadmium, masukkan ke dalam labu ukur 1000,0 mL.
Tambahkan 4 mL HNO3 pekat sampai larut (≈ 100 mg Cd/L).
b) Tambahkan 8 mL HNO3 pekat dan air bebas mineral hingga tepat tanda tera dan homogenkan.
c) Hitung kadar kadmium berdasarkan hasil penimbangan.
CATATAN Larutan ini dapat dibuat dari larutan standar 1000 mg Cd/L siap pakai 3. Pembuatan larutan baku logam kadmium 10 mg Cd/L
a) Pipet 10,0 mL larutan induk 100 mg Cd/L, masukkan ke dalam labu ukur 100,0 mL.
b) Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera dan homogenkan.
4. Pembuatan larutan kerja logam kadmium (Cd)
Buat deret larutan kerja dengan 1 (satu) blanko dan minimal 3 (tiga) kadar yang berbeda secara proporsional dan berada pada rentang pengukuran
E. Cara uji
Uji kadar kadmium dengan tahapan sebagai berikut:
a) Aspirasikan contoh uji ke dalam SSA-nyala dan ukur serapannya pada panjang gelombang 228,8 nm. Bila diperlukan, lakukan pengenceran.
b) Catat hasil pengukuran.
F. Perhitungan
Kadar logam kadmium (Cd) dihitung sebagai berikut:
Cd (mg/L) = C x fp Keterangan:
C adalah kadar yang didapat hasil pengukuran (mg/L).
fp adalah faktor pengenceran
* DEBU PARTIKULAT *
A. Definisi Debu
Debu adalah partikel-partikel zat padat yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan yang cepat, peledakan dan lain-lain dari bahan-bahan baik organik maupun anorganik, misalnya batu, kayu, arang batu, bijih logam dan sebagainya (Suma’mur, 2009).
B. Klasifikasi Debu
Depkes R.I., (1993) menyatakan bahwa secara garis besar debu dapat dibagi atas 3 macam yaitu:
1. Debu organik yaitu seperti debu kapur, debu daun-daunan dan sebagainya.
2. Debu mineral merupakan senyawa komplek seperti arang batu, SiO2, SiO3 dan sebagainya.
3. Debu metal seperti timah hitam, arsen, kadmium dan sebagainya.
C. Ukuran partikel debu
Debu merupakan partikel padat yang mempunyai ukuran diameter 0,1 - 50 mikron atau lebih. Partikel debu yang dapat dilihat oleh mata adalah yang berukuran lebih dari 50 mikron.
Sedang yang berukuran kurang dari 50 mikron hanya bisa dideteksi oleh mata biasa apabila terdapat pantulan cahaya yang kuat dari partikel debu tersebut. Untuk bisa melihat partikel debu yang berukuran kurang dari 10 mikron maka harus menggunakan suatu alat bantu seperti mikroskop (Pujiastuti, 2002).
D. Pengaruh debu terhadap kesehatan
Debu di dalam udara yang kadarnya melampaui batas, dapat menyebabkan sebagai berikut (Depnaker R.I., 1986):
1. Keracunan lokal
a) Debu penyebab fibrosis yaitu karena sifatnya yang tidak larut, masuk ke dalam nafas bersama-sama udara pernafasan, diendapkan di organ paru dan menyebabkan pengerasan jaringan. Contoh: kristal silika bebas, kapur dan asbes.
b) Debu inert adalah debu yang tidak berbahaya tetapi dapat mengganggu kenyamanan kerja. Contoh: tanah.
c) Debu alergen adalah debu penyebab alergi. Contoh: debu organik.
d) Debu iritan adalah debu yang dapat mengakibatkan luka secara lokal. Contoh: flour.
2. Infeksi saluran pernafasan atas.
Infeksi saluran pernapasan atas adalah suatu penyakit yang erat kaitannya dengan pencemaran yang diakibatkan oleh debu kapur. Partikel debu selain memiliki dampak
terhadap kesehatan juga dapat menyebabkan gangguan sebagai berikut:
a) Gangguan aestetik dan fisik seperti terganggunya pemandangan dan pelunturan warna bangunan dan pengotoran.
b) Merusak kehidupan tumbuhan yang terjadi akibat adanya penutupan pori-pori tumbuhan sehingga mengganggu jalannya fotosintesis.
c) Merubah iklim global.
d) Menganggu perhubungan/penerbangan yang akhirnya menganggu kegiatan sosial ekonomi di masyarakat.
e) Menganggu kesehatan manusia seperti timbulnya iritasi pada mata, alergi, gangguan pernafasan dan kanker pada paru.
Efek debu terhadap kesehatan sangat tergantung pada solubity (mudah larut), konsentrasi debu, dan ukuran partikel debu.
E. Ambang Batas Debu
Pujiastuti (2002) menyatakan bahwa ukuran debu sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit pada saluran pernafasan. Dari hasil penelitian ukuran tersebut dapat mencapai target organ sebagai berikut:
1. 5 - 10 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian atas.
2. 3 - 5 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian tengah.
3. 1 - 3 mikron sampai di permukaan alveoli.
4. 0,5 - 1 mikron hinggap di permukaan alveoli/selaput lendir sehingga menyebabkan fibrosis paru.
5. 0,1 - 0,5 mikron melayang dipermukaan alveoli.
WHO (1996) menyatakan bahwa ukuran debu partikel yang membahayakan adalah berukuran 0,1 - 5 mikron atau 10 mikron. Depkes (1996) mengisyaratkan bahwa ukuran debu yang membahayakan berkisar 0,1 sampai 10 mikron.
F. Alat dan Bahan Bahan :
1. Filter
Secara umum pemilihan filter bergantung terhadap kondisi lingkungan pengambilan contoh uji. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah penentuan seleksi dan pemakaian karakteristik filter. Adapun beberapa macam filter yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
a. Filter serat kaca (fiber glass);
b. filter serat kuarsa;
c. filter politetrafluoro etilena (PTFE) yang dilapisi serat kaca (fiber glass); dan
d. filter membran PTFE.
CATATAN Gunakan filter PTFE untuk contoh uji dengan partikel yang mengandung banyak bahan organik.
2. Wadah penyimpan filter (filter jacket)
Wadah penyimpan filter pada umumnya terbuat dari kertas. Hindari penggunaan wadah plastik karena pengaruh elektrostatis dapat menarik partikel contoh uji dan menempel di wadah.
Peralatan
a. Peralatan HVAS
b. Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg
c. Barometer yang mampu mengukur hingga 0,1 kpa (1 mmHg)
d. Manometer diferensial yang mampu mengukur hingga 4 kPa (40 mmHg) e. Pencatat waktu terkalibrasi yang mampu membaca selama 24 jam
f. Pencatat laju alir dengan ketelitian 0,03 m3/menit (1,0 ft 3/menit) g. Termometer
h. Desikator.
G. Cara Pengukuran 1. Persiapan filter
a. Beri identitas (nomor contoh uji) pada filter;
b. Simpan filter pada ruangan yang sudah dikondisikan dengan temperatur 15 °C sampai dengan 35 °C dan kelembaban relatif ≤ 50 % serta biarkan selama 24 jam;
c. Timbang lembaran filter dengan timbangan analitik (W1);
Catatan Bila digunakan desikator, maka penimbangan filter dilakukan hingga didapatkan berat konstan, yaitu selisih penimbangan terakhir d an sebelumnya 4 % atau 0,5 mg.
d. simpan filter ke dalam wadah penyimpan filter dengan lembaran antara (glassine) kemudian bungkus dengan plastik selama tranportasi ke lapangan
2. Pengambilan contoh uji
a. Tempatkan alat uji di posisi dan lokasi pengukuran menurut metode penentuan lokasi pengambilan contoh uji pemantauan kualitas udara ambien sesuai SNI 19-7119.6
b. Tempatkan filter pada filter holder
c. Hubungkan alat HVAS dengan sumber catu daya.
d. Hidupkan alat pengambil contoh uji selama 24 jam ± 1 jam, pantau dan catat laju alir udara serta temperatur setiap jam, pastikan laju alir udara berada pada rentang 1,1 m3/menit sampai dengan 1,7 m3/menit.
e. Catat lokasi, tanggal, waktu, dan tekanan barometer.
CATATAN 1 Bila filter sudah penuh dengan partikel, ditandai dengan turunnya laju alir < 1,1 m3 /menit, ganti filter segera dan pengambilan contoh uji dilanjutkan.
CATATAN 2 Aerosol cair, seperti minyak dan partikel sisa pembakaran yang tertinggal di filterdapat menyebabkan filter yang digunakan menjadi basah dan rusak serta filtrasi tidak terjadidengan baik. Jika hal tersebut terjadi, segera ganti filter, filter lama tetap diperlakukan sebagai contoh uji.
CATATAN 3 Kemungkinan terjadinya kegagalan voltase atau padamnya listrik pada saat pengambilan contoh uji akan menyebabkan kesalahan, maka pencatatan laju alir dilakukan secara berkala.
CATATAN 4 Segera hentikan pengambilan contoh uji apabila kondisi cuaca hujan.
f. matikan alat HVAS, pindahkan filter secara hati-hati, jaga agar tidak ada partikel yang terlepas. Lipat filter dengan posisi contoh uji berada di bagian dalam lipatan.
g. Simpan filter tersebut ke dalam wadah penyimpan filter dan beri identitas.
3. Penimbangan contoh uji
a. Simpan filter pada ruangan yang sudah dikondisikan dengan temperatur 15 °C sampai dengan 35 °C dan kelembaban relatif ≤ 50 % serta biarkan selama 24 jam;
b. Timbang filter dan catat massanya (W2).
H. Perhitungan
1. Koreksi laju alir, dengan persamaan:
Qs= Qo[ 𝑇𝑠×𝑃𝑜𝑇𝑜×𝑃𝑠]1/2 Dimana:
Qs= laju alir volum dikoreksi pada kondisi standar (m3/menit)
Qo= laju alir volum uji (m3/menit), dengan batas bawah sebesar 1,1 m3/menit dan batas atas sebesar 1,7 m3/menit
Ts= temperatur standar , 298 K
To= temperatur absolut (293 + t ukur) dimana Qo0C ditentukan Ps= tekanan baromatik standar, 101,3 kPa (760 mmHg)
Po= tekanan baromatik dimana Qoditentukan
2. Konsentrasi partikel tersuspensi total dalam udara ambien C = (W2 – W1) x 106
Vstd Keterangan:
C = konsentrasi massa partikel tersuspensi (μg/Nm3);
W1= berat filter awal (g);
W2 = berat filter akhir (g);
Vstd = volume contoh uji udara dalam keadaan standar (Nm3);
106 = konversi gram (g) ke mikrogram (μg).
* KEBISINGAN *
1. Definisi
Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Permenaker No 13 Tahun 2011).
Kebisingan diakibatkan oleh bunyi atau suara yang didengar sebagai rangsangan pada sel saraf pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan getaran dari sumber bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau timbul di luar kemauan orang yang bersangkutan, maka bunyi-bunyian atau suara demikian dinyatakan sebagai kebisingan (Suma’mur, 2014).
2. Klasifikasi Kebisingan
Menurut Tigor (2005), di tempat kerja, kebisingan diklasifikasikan dalam dua jenis golongan besar, yaitu:
a. Kebisingan tetap (steady noise) dipisahkan lagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise) Kebisingan ini berupa “nada-nada” murni pada frekuensi yang beragam, contohnya suara mesin, suara kipas, dan sebagainya.
2) Broad band noise
Kebisingan dengan frekuensi terputus dan broad band noise sama- sama
digolongkan sebagai kebisingan tetap (steady noise). Perbedaan adalah broad band noise terjadi pada frekuensi yang lebih bervariasi (bukan “nada” murni).
b. Sementara itu, kebisingan tidak tetap (unsteady noise) dibagi lagi menjadi:
1) Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise)
Kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.
2) Intermittent noise
Sesuai dengan terjemahannya, Intermittent noise adalah kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah. Kebisingan semacam ini terjadi sewaktu-waktu dan terputus, misalnya suara pesawat terbang dan kereta api (Chandra, 2006).
3) Impulsive noise
Kebisingan Implusif dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya suara ledakan senjata api dan alat-alat sejenisnya.
3. Efek Kebisingan Kepada Pekerja
Kebisingan mempengaruhi daya kerja seseornag dan efek tersebut merugikan, baik ditinjau dari pelaksanaan kerja maupun dari hasil kerja. Pengaruh negatif dari kebisingan adalah sebagai berikut:
a. Kehilangan Daya Pendengaran
Pengaruh utama kebisingan terhadap kesehatan adalah kerusakan pada indra pendengar yang dapat menyebabkan ketulian progresif. Efek kebisingan pada pendengaran menurut Chandra (2006) biasanya bersifat :
1) Temporary Threshold Shift (TTS)
Temporary Threshold Shift atau kehilangan daya pendengaran sementara, yaitu berkurangnya kemampuan untuk mendengar suara yang lemah (Soedirman dan Suma’mur, 2014). Sementara pemulihan dari efek kebisingan ini dapat terjadi secara cepat.
2) Noise Induced Permanent Threshold Shift (NIPTS)
Noise Induced Permanent Threshold Shift atau kehilangan daya pendengaran menetap, yaitu berkurangnya kemampuan mendengar suara, yang tidak dapat pulih.
(Soedirman dan Suma’mur, 2014). Ini terjadi bila seseorang terus-menerus di tempat yang bising dan terpajan pada kebisingan itu. Ketulian biasanya dimulai pada frekuensi suara sekitar 4000 Hz yang kemudian meningkat dan meluas ke frekuensi di sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang digunakan untuk percakapan.
b. Gangguan Secara Umum
Terhadap kehidupan sehari-hari kebisingan dapat mengganggu konsentrasi dan menyebabkan pengalihan perhatian, sehingga tidak fokus pada masalah yang sedang dihadapi. Karena kebisingan, motivasi untuk berfikir dan bekerja mungkin di buat lemah atau bahkan hilang sama sekali. Kebisingan dapat mempengaruhi ketelitian seseorang dalam bertindak dan berbuat. Selain itu kebisingan juga dapat menyebabkan rasa terganggu yang merupakan reaksi psikologis seseorang. Kebisingan menyebabkan seseorang tidak tenang dalam beristirahat atau mengalami gangguan tidur, sehingga tubuh tidak dapat memulihkan kondisi fisik dan psikisnya (Suma’mur, 2014).
c. Efek Pada Pekerja
Demikian pula terganggunya pelaksanaan pencapaian hasil kerja oleh kebisingan dapat dikarenakan adanya perasaan terganggu atau melemahnya semangat kerja, dan masalah lainnya seperti kurang sempurnanya istirahat. Kesalahan-kesalahan dapat juga terjadi akibat dari terganggunya konsentrasi atau kurang fokusnya perhatian (Suma’mur, 2014).
4. Pengendalian Kebisingan
Pengendalian kebisingan dapat dilakukan dengan:
a. Pelaksanaan Waktu Paparan Bagi Intensitas di Atas NAB
Intensitas kebisingan yang melebihi NAB telah memiliki standar waktu paparan yang diperkenankan (tabel 2.1) sehingga masalahnya adalah pelaksann dari paparan waktu kerja sehingga memenuhi ketentuan standar (Suma’mur, 2014).
b. Identifikasi Bahaya
Kejadian atau aktivitas yang membuat pekerja harus berada dalam sebuah lingkungan yang mengandung kebisingan dengan intensitas cukup besar, misal dalam sebuah High Noise Areas, apalagi dalam durasi yang cukup lama, dapat mengakibatkan gangguan/kerusakan pendengaran pada pekerja. (Tigor, 2005).
c. Pengurangan Kebisingan Pada Sumbernya
Pengurangan kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan dengan memasang peredam pada mesin. Dapat dilakukan dengan menggunakan komponen-komponen non logam jika memungkinkan, seperti roda gigi plastik, bus karet pada penghubung, dan sebagainya. Ini bertujuan untuk menjaga agar komponen-komponen sumber selalu berada dalam keadaan baik melalui perencanaan yang berencana (Harrington dan Gill, 2003).
d. Penempatan Penghalang Pada Jalan Transmisi.
Isolasi tenaga kerja atau mesin atau unit operasi adalah upaya segera dan baik dalam upaya mengurangi kebisingan. Untuk itu perencanaan harus matang dan material yang dipakai untuk isolasi harus mampu menyerap suara. Penutup atau pintu ke ruang isolasi harus mempunyai bobot yang cukup berat, menutup pas betul lubang yang ada, dan lapisan dalamnya terbuat dari bahan yang menyerap suara agar tidak terjadi getaran yang lebih hebat sehingga merupakan sumber kebisingan (Suma’mur, 2014).
e. Penyerapan Bising
Penyerapan bising dapat dilakukan dengan material bangunan yang dapat menyerap bising, seperti pelapis dinding, panel-panel yang berdiri bebas di area kerja, dan tirai atau panel gantung (Harrington dan Gill, 2003).
f. Proteksi Dengan Sumbat Atau Tutup Telinga
Tutup telinga (ear muff) biasanya lebih efektif dari pada sumbat telinga (ear plug) dan dapat lebih besar menurunkan intensitas kebisingan yang sampai ke saraf pendengaran.
Alat pelindung diri tutup atau sumbat telinga harus diseleksi, sehingga dipilih yang tepat ukurannya bagi pemakainya. Alat-alat ini dapat mengurangi intensitas kebisingan sekitar
10-25 dB (Suma’mur, 2014).
g. Memisahkan Para Pekerja
Pekerja yang bekerja dengan paparan kebisingan yang tinggi dapat diletakkan pada kabin kedap bunyi atau ruangan pelindung bunyi dengan ventilasi yang mencukupi, dengan dilengkapi jendela
5. Pengukuran Kebisingan di Lingkungan
a. Dipilih titik yang dikehendaki, dengan mikropon diarahkan ke sumber bising yang paling dominan
b. Pengukuran dengn integrating sound level meter yang dapat mengukur Leq selama 10 menit setiap pengukuran
c. Leq = Equivalent Continous Noise Level atau tingkat kebisingan dari kebisingan yang berubah-ubah (fluktuatif) selama waktu tertentu, setara dengan tingkat kebisingan siang hari (Ls) selmaa 16 jam yaitu pada jam 06.00 – 22.00 dan pada malam hari (Lm) selama 8 jam yaitu jam 22.00- 06.00
d. Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan 3 waktu pengukuran pada malam hari, yaitu :
Siang hari :
L1 diambil pada jam 07.00 mewakili jam 06.00-09.00 (3 jam) L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00-14.00 (5 jam) L3 diambil pada jam 15.00 mewakili jam 14.00-17.00 (3 jam) L4 diambil pada jam 20.00 mewakili jam 17.00-22.00 (5 jam) Malam hari :
L5 diambil pada jam 23.00 mewakili jam 22.00-24.00 (2 jam) L6 diambil pada jam 01.00 mewakili jam 24.00-03.00 (3 jam) L7 diambil pada jam 04.00 mewakili jam 03.00-06.00 (3 jam) Tingkat kebisingan siang hari (Ls) dihitung dengan rumus sebagai berikut : Ls = 10 log (T1.100,1L1 + + T4.100,1L4) dB A
Dimana T = jumlah waktu yang terwakili (jam)
Tingkat kebisingan malam hari (Lm) dihitung denganr umus sebagai berikut : Lm = 10 log (T5.100,1L5 + ... + T7.100,1L7) dB A
Dimana T = jumlah waktu yang terwakili (jam)
Tingkat kebisingan siang hari (Lsm) dihitung dengan rumus sebagai berikut : Lsm = 10 log (16.100,1Ls + ... + 8.100,1Lm) dB A
e. Hasil dievaluasi dengan membandingkan Lsm dengan nilai baku tingkat kebisingan yang ditetapkan dengan toleransi + 3 dB A
6. Titik Ukur
a. Pada dasarnya pengukuran dilakukan di tempat dimana terdapat keluhan/dimana dilakukan pemantauan secara teratur. Tidak diizinkan untuk melakukan pengukuran di tempat dimana sehari-hari sama sekali tidak pernah ada orang lalu lalang.
b. Pengukuran harus dilakukan di tempat terbuka, berjarak 3 meter dari dinding-dinding untuk menghindari pantulan. Kalau hal ini tidak mungkin, maka diizinkan untuk melakukan pengukuran pada jarak 0,5 meter di depan jendela terbuka.
c. Tinggi alat ukur sekitar 1,2 meter di atas tanah, harus dipasang pada statif. Dalam keadaan apapun tidak diizinkan untuk memegang alat ukur terus menerus, kecuali pada saat mengubah control attenuator pada alat ukur. Jarak antara badan operator dan alat ukur harus cukup jauh agar tidak terjadi pantulan.
7. Teknik Pengukuran
a. Dalam pengukuran diperlukan 2 orang operator, satu untuk untuk membaca alat ukur dan satu untuk memberi aba-aba membaca dan mencatat hasil pengukuran.
b. Pengukuran dilakukan pada skala A. Sebelum pengukuran dilakukan, kalibrasi alat terlebih dahulu.
c. Pengukuran dilakukan dengan cara pengambilan sample serta dilakukan pada cuaca yang cerah, tidak hujan, da kecepatan angin tidak terlalu besar.
d. Sebagai pengaman, pada mikropon harus selalu dipasang pelindung angin (wind screen).
e. Apabila terjadi gangguan pada saat pengukuran maka harus diambil sampel baru lagi untuk mendapatkan validitas data.
f. Tulis hasil pengukuran pada format yang telah tersedia.
8. Alat
Alat untuk mengukur tingkat kebisingan adalah sound level meter (SLM). SLM memberikan respons kira-kira sama dengan respons telinga manusia dan memberikan pengukuran objektif serta dapat diulang-ulang untuk setiap tingkat kebisingan. Pada umumnya SLM mempunyai skala A, B, dan C. Untuk pengukuran tingkat kebisingan dipakai skala A.
9. Cara Pengukuran
a. Pengukuran Kebisingan lingkungan dan atau di tempat kerja Alat : Sound Level Meter
Merk/Type : Extech 407750/KIT
Fungsi : untuk mengukur kebisingan lingkungan dan atau di tempat kerja
a
l
m
n g
Gambar 1. Alat Sound Level Meter
Gambar 2. Sound Level Calibrator b
d
c e
f h
i k
j
Keterangan fungsi alat :
1) Microphone : untuk menangkap sumber bising
2) Display : untuk menunjukkan hasil pengukuran kebisingan 3) Tombol On/Off : untuk menghidupkan dan mematikan alat
4) Tombol record : untuk merekam hasil pengukuran
5) Tombol Max Hold : untuk menahan hasil pengukuran supaya berhenti 6) Tombol Weighting network : untuk menentukan weighting network yang digunakan
A/C
7) Tombol BA Mode : BA Mode (Background Noise Absorber Mode) digunakan untuk menghilangkan background noise 8) Tombol F/S : untuk menentukan respon yang akan digunakan
(Fast/Slow)
9) Tombol Down : untuk menurunkan skala kebisingan yang ada ditunjukkan di display
10) Tombol Backlight : untuk menghidupkan lampu display
11) Tombol Upper : untuk menaikkan skala kebisingan yang ada ditunjukkan di display
12) Input : untuk tempat memasukkan mikrophone
13) Tombol On/Off : menghidupkan alat sesuai intensitas kebisingan yang ada di sound calibrator (94 dB atau 114 dB)
14) Indikator Baterai : untuk menunjukkan baterai masih ada atau tidak b. Cara Kerja Alat :
1) Pasang baterai 2) Kalibrasi
Kalibrasi alat SLM menggunakan Sound Calibrator
Pasang baterai dalam sound calibrator
Sambungkan sound calibrator dengan alat SLM
Hidupkan alat SLM setelah itu hidupkan sound calibrator pada range 94 dB dan 114 dB
Lihat hasil pada layar SLM dan sesuaikan hasilnya dengan sound calibrator (94 dB atau 114 dB)
Jika hasilnya belum sesuai maka putarlah lubang “Cal” pada alat SLM sampai hasilnya sesuai
Matikan alat
c. Pengukuran
1) Hidupkan alat dengan menekan tombol “on/off”
2) Pilih Frequency Weighting dengan menekan tombol A/C
Fungsi : mengubah signal yang terukur sesuai cara serupa seperti mekanisme pendengaran manusia
Weighting Net Work “A”:
Respon manusia untuk tingkat suara yang rendah (Human response for low levels), untuk pengukuran kebisingan lingkungan, tempat kerja, dll
Weighting Net Work C:
Respon manusia untuk tingkat suara yang tinggi ( Human response for high sound levels ), untuk diagnosis kerusakan pada perangkat listrik, elektronik dan mekanik 3) Pilih FAST atau SLOW dengan menekan tombol F/S
“FAST” (125 ms response) atau “SLOW” (1 second response). “FAST” digunakan untuk bising yang impulsive, “SLOW” digunakan untuk bising yang continue
4) Tekan tombol “REC” untuk merekam hasil pengukuran. Tekan tombol “REC” lagi untuk melihat nilai “MAX” atau nilai tertinggi saat pengukuran dilakukan.
5) Tekan tombol “REC” lagi untuk melihat nilai “MIN” atau nilai terendah saat pengukuran dilakukan. Untuk menghentikan perekaman, tekan tomnol “REC” sampai indikator “REC” di layar hilang. catatan : setiap lokasi pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit, dengan 6 kali pengamatan. Hasil pengukuran adalah nilai tertinggi yang ditunjukkan pada monitor.
6) Catat hasil pengukuran
7) BA (Background Noise Absorber) Mode
Jika menginginkan hasil yang akurat bisa menggunakan BA Mode. BA Mode bisa
“menghilangkan background noise. Untuk mengoperasikan BA Mode sebagai berikut:
Tekan tomobl MAXHLD (ikon MAX HOLD akan muncul di layar)
Tekan tombol BA (“F” akan muncul di layar)
Tekan tombol MAXHLD lagi (MAX HOLD akan muncul kembali di layar)
Di layar akan menunjukkan hasil background noise
Jika angka hail pengukuran berubah, maka itu adalah hasil pengukuran dari alat. Tapi jika hasil pengukuran tidak berubah, berarti hasil kebisingan dari mesin hampir sama atau lebih rendah dari background noise
d. Pengukuran kebisingan personal 1) Alat : Sound Level Meter 2) Merk/Type : Extech 407750/KIT
3) Fungsi : untuk mengukur kebisingan lingkungan dan atau di tempat kerja 4) Cara Kerja Alat
a) Pemakaian Alat
Nyalakan alat dengan menekan tombol power
Jika telah menyala, tekan tombol MODE untuk memilih jenis operasi yang dikehendaki
Untuk operasi sound level meter (SLM) maka display tampil dBA
Range SLM : type 2.70 – 140 dB b) Kalibrasi
Set alat pada mode SLM
Set respon time pada slow mode
Masukkan sensor SLM pada alat kalibrasi
Nyalakan kalibrator pada 94 dB, lalu stel crew calibrasi hingga penunjukkan di 94 dB
Kalibrasi sebaiknya dilakukan saat alat akan digunakan c) Data Logging
Saat mode SLM, alat ini bisa melakukan perekaman data
Tekan tombol RUN untuk mengaktifkan operasi ini. Display akan tampil icon MEM yang berkedip
Untuk mengehentikan perekaman data tekan kembali tombol RUN
Pembacaan data dapat dilakukan melalui PC dengan software yang disertakan d) Operasi dosimeter
Tekan tombol MODE, lalu pilih %DOSE
Pilih lokasi penyimpanan data (E1-E5) dengan tombol EVENT
Pasang alat di ikat pinggang atau saku, letakkan mic di dekat telinga
Tekan RUN dan akan tampil icon JAM pada display
Jika akan melakukan jeda pada saat pengukuran tekan tomobl PAUSE dan untuk memulai pengukuran tekan RUN kembali
Untuk megakhiri operasi ini tekan tombol RUN selama 3 detik
Pembacaan data dapat dilakukan melalui PC dengan software yang telah disertakan
10. Hasil
Berikut contoh data hasil pengukuran tingkat kebisingan Lingkungan di Kota Denpasar :
Tabel 3. Contoh Data Hasil Pengukuran Kebisingan Lingkungan No Lokasi Titik
Pengukuran
Hasil Pengukur
an (dB)
Baku Mutu (dB)
Kawasan Peruntukan 1. Prumnas
Monang Maning
Tegal kerta 63,71 55 Perumahan
Tegal Harum 64,27 2. Carrefour Jalan
Carik
Gelogor 64,24 65 Perdagangan 3. Teuku Umar Teuku Umar 1 63,88 70 Perdagangan
dan Jasa Teuku Umar 2 63,71
4. Terminal Kreneng
Utara terminal 61,76 70 Fasilitas Umum Selatan
terminal
62,69 5. RS
Wangaya
Dalam Poliklinik
55,05 55
Rumah Sakit
Di Sal 47,89
6. Taman kota Lumintang
Depan SD 17 Dangin Puri
63,29 55 Ruang terbuka Hijau
Utara lapangan 65,58 7. SMP
Denpasar
1 Jl Agung
Kapten 68,72 55 Sekolah
Jl Surapati 60,89 8. Pasar
Kreneng
Jl Kamboja 72,90 70 Fasilitas
Umum Dalam Pasar 59,45
11. Analisis
a. Analisis dari contoh hasil pengukuran tingkat kebisingan di perkotaan adalah :
Baku mutu tingkat kebisingan yang dipergunakan adalah Keputusan Menteri LH No.
48 Tahun 1996, yaitu : 55 dBA (untuk pemukiman), 55 dBA (untuk rumah sakit), 55 dBA (untuk sekolah), 55 dBA (untuk ruang terbuka hijau), dan 65 dBA (untuk daerah perkantoran/perdagangan), serta 70 dBA (untuk tempat-tempat umum). Berdasarkan peraturan tersebut, dapat dinyatakan bahwa :
1) Untuk kawasan perumahan, tingkat kebisingan yang terjadi sudah melebihi baku mutu lingkungan yang diperbolehkan.
2) Untuk kawasan Perdagangan/perdagangan dan jasa tingkat kebisingan yang terjadi masih di bawah baku mutu tingkat kebisingan.
3) Untuk kawasan fasilitas umum (terminal) dan RS tingkat kebisingan yang terjadi masih di bawah baku mutu tingkat kebisingan.
Untuk kawasan fasilitas umum (pasar), sekolah, dan ruang terbuka hijau tingkat kebisingan yang terjadi sudah melebihi baku mutu lingkungan yang diperbolehkan.
b. Analisis dari contoh hasil pengukuran tingkat kebisingan di tempat kerja adalah : 1) Hasil pengukuran kebisingan tersebut dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas
(NAB) Kebisingan berdasarkan Permenaker No. 13 tahun 2011, dimana NAB kebisingan selama 8 jam kerja/hari adalah 85 dB. Sedangkan untuk mengetahui berapa intensitas kebisingan dalam ruangan tersebut dengan hasil pengukuran kebisingan yang berubah-ubah maka kita bisa menggunakan rumus Leq.
2) Membuat peta kebisingan
* GAS SOx *
A. Definisi
Menurut Wardhana (2004) SOx terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau minyak bumi. Ada 2 macam gas belerang oksida (SOx) yaitu SO2 dan SO3. Dalam hal pembakaran akan menghasilkan gas SO2 lebih besar daripada SO3. Walaupun gas SO2 yang lebih dominan akan tetapi pertemuannya dengan udara yang mengandung oksigen akan menghasilkan gas SO3 karena terjadinya reaksi berikut:
2SO2 + O2 (dari udara) 2SO3
Adanya uap air (H2O) dalam udara akan mengakibatkan terjadinya reaksi pembentukan asam sulfit maupun asam sulfat. Reaksinya adalah sebagai berikut:
SO2 + H2O H2SO3 SO3 + H2O H2SO4
Apabila asam sulfit maupun asam sulfat tersebut ikut terkondensasi di udara dan kemudian jatuh bersama dengan air hujan menyebabkan terjadinya hujan asam. Hujan asam ini dapat merusak tanaman, terkecuali tanaman hutan. Kerusakan hutan akan mengakibatkan terjadinya pengikisan lapisan tanah yang subur.
Sebagian besar SO2 di udara dapat mengalami oksida lanjut dalam proses pembakaran, membentuk sulfur trioksida dan akhirnya dapat bereaksi dengan uap air di udara membentuk sulfat aerosol. SO2 di udara mempunyai pengaruh yang langsung terhadap manusia terutama karena sifat iritasi dari gas SO2. Lebih dari 95% dari SO2 dengan kadar tinggi yang dihirup melalui saluran pernapasan akan diserap oleh bagian atas saluran pernapasan, prosentase ini akan menurun menjadi 50% untuk kadar SO2 yang lebih rendah sebesar 0,1 ppm. SO2 berbentuk gas, sehingga cara pemajanan yang paling berpengaruh adalah inhalasi (Kristanto, 2001).
B. Dampak Gas SOx
Udara yang tercemar SOx menyebabkan manusia akan mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran nafas yang lain sampai ke organ paru. Serangan gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena. Daya iritasi SO2 pada setiap orang tidak sama, terdapat orang yang sensitif dan sudah akan mengalami iritasi apabila terkena SO2 berkonsentrasi 2 ppm, namun ada pula seseorang baru akan mengalami iritasi tenggorokan apabila terkena SO2 berkonsentrasi 6 ppm. Gas SO2 merupakan bahan pencemar yang berbahaya bagi anak-anak, orang tua
dan orang yang menderita penyakit pernafasan kronis dan penyakit kardiovaskuler. Otot saluran pernafasan dapat mengalami kejang (spasme) bila teriritasi SO2 dan spasme akan lebih berat bila konsentrasi SO2 lebih tinggi sementara suhu udara rendah. Apabila waktu paparan dengan gas SO2 cukup lama maka akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti oleh paralysis cilia (kelumpuhan sistem pernafasan), kerusakan lapisan ephitelium yang pada akhirnya diikuti dengan kematian. Apabila konsentrasi SO2 relatif masih rendah, sekitar 6 – 12 ppm, waktu paparan pendek namun berulang-ulang, maka gas tersebut akan menyebabkan terjadinya hyperplasia dan metaplasia sel-sel apitel. Kalau hal ini terjadi maka mengakibatkan kanker (Wardhana, 2004).
Sunu (2001) menyatakan bahwa adanya hubungan langsung antara tinggi bahan pencemar SO2, partikel debu dengan penderita bronkhitis dan emfisema. Semakin tinggi kadar bahan partikel debu biasanya diikuti dengan semakin tinggi gas SO2, sehingga sulit membedakan efek dari kedua bahan tersebut. Dapat dikatakan bahwa kedua bahan tersebut bekerja secara sinergi untuk menghambat pergerakan silia, sehingga mendorong bahan partikel lebih banyak masuk ke paru. Konsentrasi partikulat di atas 300 μg/m3 bersama-sama dengan konsentrasi SO2 menyebabkan gangguan pernapasan.
Hasil penelitian di Jepang, Iwasawa S et al., (2009) menyatakan bahwa SO2 mempunyai hubungan terhadap gejala gangguan pernapasan. Penelitian dilakukan pada warga Miyake, dampak pernapasan dievaluasi oleh kuesioner untuk gejala pernapasan dan spirometri. Dalam pelaksanaannya SO2 dipantau terus-menerus pada 7 titik sampling dari daerah berpenghuni.
SO2 dalam bentuk gas maupun asam yang terjadi karena larutnya SO2 dalam air yang terkandung di udara dapat menyebabkan gangguan sistem respirasi manusia.
Keluhan yang sering dikeluhkan adalah batuk dan iritasi saluran napas karena adanya sifat gas yang merangsang syaraf di hidung, tenggorok dan jalan napas. Rangsangan ini dapat berlanjut menjadi sesak napas dan penyempitan jalan napas, terutama pada penderita asma dan penyakit pernapasan kronik yang saluran napasnya sering mengalami peradangan dan lebih sensitif terhadap rangsangan (Kementrian Lingkungan Hidup, 2002).
Peningkatan mortalitas, morbiditas dan penurunan kapasitas vital paru sangat berhubungan dengan SO2 dan partikulat. SO2 dapat menyebabkan bronchitis dan trachetis, jika keterpajanannya cukup lama akan mengakibatkan bronchitis kronik (Nukman, 2005). SO2 menimbulkan efek cepat terhadap fungsi paru penderita asma.
Respon nyata berlangsung dalam dua menit pertama dan respon maksimal terjadi 5 – 10 menit pasca paparan (Setiono, 2000).
C. Alat dan Bahan Bahan
1. air suling
2. merkuri (II) klorida (HgCl2) 3. kalium klorida (KCl)
4. EDTA, (HOCOCH2)2N(CH2)2 N(CH2COONa)2. 2H2O 5. natrium metabisulfit (Na2S2O5) atau natrium sulfit (Na2SO3) 6. iod (I2)
7. kalium iodida (KI) 8. indikator kanji
9. merkuri (II) iodida (HgI2) 10. asam klorida (HCl)
11. natrium tiosulfat (Na2S2O3.5H2O) 12. natrium karbonat (Na2CO3)
13. asam sulfamat (NH2SO3H) 14. asam fosfat (H3PO4)
15. pararosanilin hidroklorida (C19H17N3.HCl) 16. natrium asetat trihidrat (NaC2H5O2.3H2O) 17. asetat glasial (CH3COOH)
18. formaldehida (HCHO) Peralatan
1. labu ukur 50 mL; 100 mL; 250 mL; 500 mL dan 1000 mL 2. pipet volumetrik 1 mL; 2 mL; 5 mL dan 50 mL
3. gelas ukur 100 mL
4. gelas piala 100 mL; 250 mL; 500 mL dan 1000 mL 5. tabung uji 25 mL
6. spektrofotometer UV-Vis dilengkapi kuvet 7. timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg 8. buret 50 mL
9. labu erlenmeyer asah bertutup 250 mL 10. oven
11. kaca arloji
12. termometer 13. barometer.
14. pengaduk; dan 15. botol pereaksi D. Cara Pengukuran
E. Perhitungan
1. Volum contoh uji udara yang diambil
Volum contoh uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (25oC, 760mmHg) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
V = F1+F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760 Keterangan :
V adalah volum udara yang dihisap (L) F1 adalah laju alir awal (L/menit) F2 adalah laju alir akhir (L/menit)
t adalah durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta adalah temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)
298 adalah temperatur pada kondisi normal 25oC (K) 760 adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg) 2. Konsentrasi sulfur dioksida (SO2) di udara ambien
a. Konsentrasi SO2 dalam contoh uji untuk pengambilan contoh uji selama 1 jam dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
C = a x 1000 V
Keterangan :
C adalah konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)
a adalah jumlah SO2 dari contoh uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg) V adalah volum udara pada kondisi normal (L)
1000 adalah konversi liter (L) ke m3
b. Konsentrasi SO2 dalam contoh uji untuk pengambilan contoh uji selama 24 jam dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
C = a x 1000 x 50 V 5 Keterangan :
C adalah konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)
a adalah jumlah SO2 dari contoh uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg) V adalah volum udara pada kondisi normal (L)
50 adalah jumlah total larutan penjerap yang dipakai untuk pengambilan contoh uji 24 jam
5 adalah volum yang dipipet untuk dianalisis dengan spektrofotometer
* GAS NOx *
A. Definisi
Gas nitrogen oksida (NOx) ada dua macam, yaitu gas nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida (NO2). Kedua macam gas tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda dan keduanya berbahaya bagi kesehatan. Gas NO yang mencemari udara secara visual sulit diamati karena gas tersebut tidak bewarna dan tidak berbau. Sedangkan gas NO2 apabila mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat dan warnanya coklat kemerahan. Sifat racun (toksisitas) gas NO2 empat kali lebih kuat daripada toksisitas gas NO. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran gas NO2 adalah organ paru. Paru yang terkontaminasi gas NO2 akan membengkak sehingga penderita sulit bernapas yang dapat mengakibatkan kematian. Udara yang mengandung gas NO dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan sistem syaraf yang mengakibatkan kejang-kejang, apabila keracunan ini berlanjut akan menyebabkan kelumpuhan. Pengaruh gas NOx terhadap tanaman antara lain timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Pada konsentrasi yang lebih tinggi gas tersebut dapat menyebabkan nekrosis atau kerusakan pada jaringan daun (Wardhana, 2004).
Konsentrasi NOx di udara pada daerah perkotaan biasanya 10 – 100 kali lebih tinggi daripada udara di daerah pedesaan. Konsentrasi NOx di udara di daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm. Sebagaimana halnya CO, emisi NO dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi dan konsumsi energi serta pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx
yang dibuat manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas alam dan bensin (Kristanto, 2001).
B. Dampak Gas NOx
Paparan NO2 dapat meningkatkan kemungkinan infeksi yang dihubungkan dengan gangguan sekresi mukus kerusakan silia, gangguan fungsi makrofag alveolar dan imunitas humoral (Aditama, 1992). Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran gas NO2 adalah paru. Paru yang terkontaminasi oleh gas NO2 akan membengkak sehingga penderita sulit bernapas yang dapat mengakibatkan kematian. Pengaruhnya terhadap kesehatan yaitu terganggunya sistem pernapasan dan dapat menjadi emfisema, bila kondisinya kronis dapat berpotensi menjadi bronkhitis serta akan terjadi penimbunan NO2 dan dapat merupakan sumber karsinogenik (Sunu, 2001).
C. Alat dan Bahan Bahan
1. hablur asam sulfanilat (H2 NC6H4SO3H) 2. larutan asam asetat-air bebas mineral 3. natrium nitrit (NaNO2)
4. larutan induk N-(1-naftil)
5. etilendiamin dihidroklorida (NEDA, C12 H16Cl2 N2) 6. aseton (C3H6O)
7. larutan penjerap Griess-Saltzman 8. Larutan Induk Nitrit (NO2) 2000 μg/ml Peralatan
1. Seperangkat peralatan impinger 2. Labu ukur 25 ml, 100 ml, 1000 ml 3. Gelas piala 100 ml, 500 ml dan 1000 ml 4. Pipet mikro
5. Spektrofotometer 6. Neraca analitik 7. Oven
8. Botol berwarna gelap 9. Barometer
10. Thermometer
11. Desikator dan gelas arloji D. Cara Pengukuran
1. Sebelum melakukan pengambilan contoh gas NO2, kita harus menyiapkan larutan penjerap gas NO2, sebagai berikut :
a. Larutkan 5 gram asam sulfanilat anhidrat atau 5.5 gram asam sulfanilatmonohidrat dalam gelas piala 1000 mL dengan 140 mL asam asetat glasial, aduk secara hati hati dengan stirrer sambil ditambahkan dengan air bebas mineral hingga + 800 mL.
b. Pindahkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 1000 mL
c. Tambahkan 20 mL larutan induk NEDA dan 10 mL aseton, tambahkan air bebas mineral hingga tanda tera lalu homogenkan.
Pembuatan larutan penjerap ini tidak boleh terlalu lama kontak dengan udara dan harus disimpan dalam botol berwarna gelap. Larutan ini stabil selama dua bulan.
2. Sedangkan metode pengujian gas NO2 dalam udara ambient setelah dijerap dalam larutan penjerap adalah sebagai berikut :
a. Masukkan larutan contoh uji ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer, lalu ukur intensitas warna merah muda yang terbentuk pada panjang gelombang 550 nm
b. Baca serapan contoh uji kemudian hitung konsnetrasi dengan menggunakan kurva kalibrasi
c. Lakukan langkah a sampai b pada larutan penjerap dan diukur sebagai larutan blanko E. Perhitungan
1. Volum contoh uji udara yang diambil
Volum contoh uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (25oC, 760mmHg) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
V = F1+F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760
Keterangan :
V adalah volum udara yang dihisap (L) F1 adalah laju alir awal (L/menit) F2 adalah laju alir akhir (L/menit)
t adalah durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg) Ta adalah temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)
298 adalah temperatur pada kondisi normal 25oC (K) 760 adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg) 2. Kosentrasi NO2 di udara ambien
C = b x 50 x 1000 V 25
Keterangan :
C adalah kosentrasi NO2 di udara (μg/Nm3)
b adalah jumlah NO2 dari contoh uji hasil perhitungan kurva kalibrasi (μg) V adalah volum udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi normal 25oC, 760 mmHg 10/25 adalah faktor pengenceran 1000 adalah konversi liter ke m3.
SISTEMATIKA PENULISAN
Komponen utama dan sistematika laporan Praktikum adalah sebagai berikut:
SAMPUL DEPAN DAN HALAMAN JUDUL
Baris Pertama : Tulisan “Laporan Praktikum” diletakkan 4 cm dari tepi atas
Baris Kedua : Judul Laporan Praktikum, diketik dengan
huruf kapital, mulai dari kurang lebih 5,5 cm tepi atas Baris Ketiga : Lambang Universitas Sebelas Maret ukuran
diameter 5 cm, titik tengahnya berjarak 12 cm dari tepi atas
Baris Keempat : Nama Mahasiswa/Kelompok dengan NIM, 18 cm dari tepi atas
Baris Kelima : Program Sarjana (sesuai jurusan), 24 cm dari tepi atas
Baris Keenam : FMIPA Universitas Sebelas Maret
Baris Ketujuh : Surakarta
Baris Kedelapan : Tahun Praktikum diselesaikan HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN
Merupakan halaman yang menegaskan bahwa telah memeperoleh pengesahan dengan ditandatangani oleh Dosen Pengampu dan Pembimbing Praktikum
DAFTAR ISI
memuat isi laporan secara menyeluruh :
Bab : dengan angka romawi besar (I, II, III, ... dst) Pasal : dengan huruf besar (A, B, C, ... dst)
Ayat : dengan angka (1, 2, 3, ... dst)
Pembagian lebih lanjut dengan : a, b, c, ...dst dan 1), 2), 3), ... dst
Nomor halaman pada bagian awal (halaman judul sampai dengan daftar isi) ditulis menggunakan angka romawi kecil (i, ii, iii, iv, ... dst).
Nomor halaman pada bagian utama (Pendahuluan sampai dengan Simpulan/Saran) ditulis menggunakan angka (1, 2, 3, ... dst). daftar isi boleh diketik 1 spasi.
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang (Hal-hal yang melatarbelakangi sesuai topik Praktikum) b. Tujuan
c. Manfaat (Bagi Praktikan dan Bagi Program Diploma sesuai jurusan ) BAB II LANDASAN TEORI
Tinjauan Pustaka (Menjelaskan teori-teori/standar/perundangan-undangan yang jelas sesuai dengan topik praktikum dengan sumber referensi yang jelas)
BAB III HASIL
a. Gambar Alat, Cara Kerja, Prosedur Pengukuran 1) Gambar Alat
Gambar semua peralatan yang digunakan dalam praktikum dengan menjelaskan keterangan gambar dan fungsinya
2) Cara Kerja
Menjelaskan cara kerja alat dalam praktikum 3) Prosedur pengukuran
b. Hasil praktikum dan perhitungan BAB IV PEMBAHASAN
Merupakan bab yang menuliskan tentang analisis terhadap hasil yaitu dengan membandingkan hasil yang diperoleh dengan peraturan perundangan dari Undang- undang sampai peraturan daerah yang sesuai, Standar-standar baik standar internasional maupun standar nasional, buku-buku dan literatur lain yang dapat dipertanggung jawabakan secara akademik.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN a. Simpulan :
Rumusan jawaban terhadap pertanyaan/masalah/temuan baik positif maupun negatif berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada bab pembahasan dan mempunyai keruntutan dengan tujuan dan hasil.
b. Saran :
Usulan langkah operasional sebagai tindak lanjut dari temuan negatif yang telah disimpulkan dan bisa berdasar pada hirarki pengendalian.
Daftar Pustaka
Menggunakan sistem Harvard
a. Diurutkan berdasarkan abjad, Spasi 1 b. Untuk Buku. Urutan penulisannya :
1) Nama pengarang (Penanggung Jawab/Penerbit).
2) Tahun penerbitan.
3) Judul buku (digaris bawah/miring/tebal).
4) Nama kota penerbit.
5) Nama Penerbit.
6) Halaman Buku (p untuk satu halaman dan pp untuk lebih dari satu halaman) Contoh :
Guyton A.C. 1971. Texbook of Medical Phycology. 5th ed. Philadelphia : WB Sauders, pp:25-9.
c. Untuk Jurnal, Majalah atau Gambar. Urutan penulisannya :
1) Nama Pengarang (Penanggung jawab/Penerbit). (Ditulis tanpa gelar).
2) Tahun penerbitan, tanggal dan bulan penerbitan (Jika ada).
3) Judul tulisan diletakkan diantara tanda petik.
4) Nama Jurnal/Majalah digaris bawah.
5) Nomor penerbitan (Jika ada).
6) Nomor halaman.
7) Nama kota penerbit.
8) Nama penerbit.
Contoh :
Baldwin K.M, Winder W.W, Terjung RI. 1973. Glycotic enzyme in defferent types of skeletal musde : adaptasi to exercise. Am J physiol. 255:962- 6
d. Dari Internet, Contoh :
Blackmore N.J. 2001. Young Children and Complementary Feeding in the USA.
http://www.fao.org/nutr/paper002341.htm. (12 Februari 2006) e. Nama Pengarang tanpa gelar
Indonesia : apa adanya
Asing : nama keluarga (family name).
Penggunaan Bahasa
a. Bahasa Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
b. Asing / selain bahasa Indonesia cetak miring.
Format
Diketik pada :
a) Kertas HVS : 80 gr
b) Ukuran : A4S
c) Tinta Hitam yang jelas.
Tabel, grafik juga gambar bila mungkin 1 halaman.
Penyajian Naskah a. Pengetikan :
1) 1,5 spasi
2) Huruf : Time New Roman (font 12)
3) Pencetakan naskah dengan mesin/printer yang sama.
4) Lambang, huruf yang tidak ada di mesin/komputer ditulis rapi (hitam).
5) Sub BAB Anak dan Sub BAB dicetak tebal (Bold)
6) Penulisan awal kata pada BAB dan Sub BAB huruf kapital, selanjutnya ditulis huruf kecil semua
7) Pengetikan setelah tanda baca, dispasi 1 (Contoh : dalam hal ini, dapat disimpulkan)
b. Jarak tepi : 1) Atas : 4 cm 2) Bawah : 3 cm 3) kiri : 4 cm
4) kanan : 3 cm c. Nomor halaman :
1) Halaman BAB di bawah, 2 cm dari bawah, tengah 2) Halaman lain 3 cm dari kanan, 2 cm dari atas, kanan.
d. Tabel dan gambar
Nama tabel : nomor urut (di atas sebelah kiri tabel).
Nama gambar : nomor urut (di bawah gambar, cetak tengah).
DAFTAR PUSTAKA
Arief, L.M. 2103. Mentoring Lingkungan Kerja Tekanan Panas/Heat Stress. Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat. Peminatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Univ. Esa Unggul.
Baumann, Cosmetic Dermatology. Second Edition. New York: Mc Graw Hill.
Baumann, L., & Saghari, S. 2009. Basic Science Of The Dermis.
Buchari. 2007. Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program. USU Repository.
Budiono, Sugeng. 2003. Bunga Rampai Hiperkes Dan Kesehatan Kerja. Semarang : Badan Penerbit Undip
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Linkgungan. Jakarta : Egc.
Darmanto Djojodibroto. 1995. Kesehatan Kerja di Perusahaan. Jakarta : EGC.
Disnakertrans DIY. Kumpulan Materi Praktek Laboratorium Hiperkes. Yogyakarta : Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja
Fisher, G.J., 2002. Mechanism Of Photoaging And Chronological Aging. Arch:
Gabriel, J. F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC.
Harrington Jm Dan Gill Fs. 2003. Buku Saku Kesehatan Kerja. Jakarta : Egc.
Kementerian Lingkungan Hidup No 49 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Getaran Padmanaba.2006.Pengaruh Penerangan Dalam Ruang Terhadap Produktivitas Kerja
Mahasiswa Desain Interior. Majalah Dimensi Interior.Edisi Desember
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja
Soedirman. 2011. Higiene Perusahaan. Bogor : El Musa Press
Suma’mur, P.K . 2014. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) Edisi 2.
Jakarta: Cv Sagung Seto.
Susanto, Arif. 2006. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. HSE club Indonesia.
Tarwaka, Dkk. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja Dan.
Produktivitas. Uniba Press
Tigor, Sihar, 2005. Kebisingan Di Tempat Kerja (Occupational Noise). Yogyakarta : CV
Andi Offset.
Wijaya, C. 1995. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Jakarta : EGC.
SNI 7119–7:2017 Tentang Cara uji kadar sulfur dioksida (SO2) dengan metoda pararosanilin menggunakan spektrofotometer
SNI 7119–3:2017 Tentang Cara uji partikel tersuspensi total menggunakan peralatan High Volume Air Sampler (HVAS) dengan metoda gravimetric.
SNI 7119–2:2017 Tentang Cara uji kadar nitogen oksida (NO2) dengan metoda Griess Saltman menggunakan spektrofotometer
SNI 8427:2017 Tentang Pengukuran Tingkat Kebisingan Lingkungan
Lampiran 1
PERATURAN PRAKTIKUM
1. Semua mahasiswa wajib mengikuti rangkaian kegiatan praktikum: Asistensian, Praktikum dan Penyusunan Laporan dalam setiap Kompetensi Dasar sesuai jadwal praktikum yang telah dijadwalkan sebelumnya.
2. Apabila mahasiswa tidak bisa mengikuti rangkaian kegiatan praktikum, maka harus ada pemberitahuan secara lisan maupun tertulis serta wajib mengikuti di luar jadwal praktikum setelah menyelesaikan tugas yang diberikan sebelumnya.
3. Setiap rangkaian kegiatan praktikum, semua mahasiswa wajib membawa kartu praktikum dan menandatangani daftar hadir sebagai bukti keikutsertaan.
4. Berpakaian rapi, sopan (baju berkrah dan sepatu tertutup) dan datang tepat waktu.
5. Laporan wajib dikumpulkan maksimal 1 minggu setelah praktikum.
6. Dilarang melakukan hal-hal yang mengganggu suasana ketika praktikum berlangsung dan merusak peralatan praktikum.
7. Kerusakan alat yang disebabkan mahasiswa atau kelompok, maka harus memperbaiki/mengganti alat tersebut.
8. Peraturan yang belum ditetapkan akan diatur dikemudian hari.
9. Bagi pelanggar peraturan diatas akan dikenakan SANKSI yang berhubungan dengan nilai praktikum.
10. Peraturan akan tetap berlaku sampai adanya peraturan baru.
Surakarta, Agustus 2020
Kepala Prodi S1 Ilmu Lingkungan
Dr. Prabang Setyono, M.Si NIP.
Lampiran 2
PEDOMAN K3 UNTUK KEGIATAN PRAKTIKUM
A. PENDAHULUAN
Pada prinsipnya, untuk mewujudkan praktikum yang aman diperlukan partisipasi seluruh praktikan dan asisten pada praktikum yang bersangkutan. Dengan demikian, kepatuhan setiap praktikan terhadap uraian panduan pada bagian ini akan sangat membantu mewujudkan praktikum yang aman.
B. PEDOMAN K3 DI LABORATORIUM 1. Potensi Bahaya
a. Bahaya Listrik
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan :
1) Perhatikan dan pelajari tempat-tempat sumber listrik (stop kontak dan circuit breaker) dan cara menyala-matikannya. Jika melihat ada kerusakan yang berpotensi menimbulkan bahaya, laporkan pada asisten 2) Hindari daerah atau benda yang berpotensi menimbulkan bahaya listrik (sengatan listrik/ strum) secara tidak disengaja, misalnya kabel jala-jala yang terkelupas dll.
3) Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya listrik pada diri sendiri atau orang lain
4) Keringkan bagian tubuh yang basah karena, misalnya, keringat atau sisa air wudhu
5) Selalu waspada terhadap bahaya listrik pada setiap aktivitas praktikum Penanganan Jika terjadi Kecelakaan Akibat Bahaya Listrik
Kecelakaan akibat bahaya listrik yang sering terjadi adalah tersengat arus listrik. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diikuti praktikan jika hal itu terjadi:
1) Jangan panik
2) Matikan semua peralatan elektronik dan sumber listrik di meja masing-masing dan di meja praktikan yang tersengat arus listrik 3) Bantu praktikan yang tersengat arus listrik untuk melepaskan diri dari
sumber listrik
4) Beritahukan dan minta bantuan asisten, praktikan lain dan orang di sekitar anda tentang terjadinya kecelakaan akibat bahaya listrik b. Bahaya Api Atau Panas Berlebih
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan :
1) Jangan membawa benda-benda mudah terbakar (korek api, gas dll.) ke dalam ruang praktikum bila tidak disyaratkan dalam modul praktikum 2) Jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan api, percikan api
atau panas yang berlebihan
3) Jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya api atau panas berlebih pada diri sendiri atau orang lain
4) Selalu waspada terhadap bahaya api atau panas berlebih pada setiap aktivitas praktikum
Penanganan Jika Terjadi Bahaya Api atau Panas Berlebih
Berikut ini adalah hal-hal yang harus diikuti praktikan jika menghadapi bahaya api atau panas berlebih :
1) Jangan panik
2) Beritahukan dan minta bantuan asisten, praktikan lain dan orang di sekitar anda tentang terjadinya bahaya api atau panas berlebih 3) Matikan semua peralatan elektronik dan sumber listrik di meja
masing-masing
4) Menjauh dari ruang praktikum c. Bahaya Benda Tajam Dan Logam
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan :
1) Dilarang membawa benda tajam (pisau, gunting dan sejenisnya) ke ruang praktikum bila tidak diperlukan untuk pelaksanaan percobaan 2) Dilarang memakai perhiasan dari logam misalnya cincin, kalung,
gelang dll.
3) Hindari daerah, benda atau logam yang memiliki bagian tajam dan dapat melukai
4) Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan luka pada diri sendiri atau orang lain