• Tidak ada hasil yang ditemukan

Celebes Health Journal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Celebes Health Journal"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

http://journal.lldikti9.id/CPHJ/index

Vol 2, No. 1, April 2020, pp 24-32 p-ISSN:2657-2281, e-ISSN : 2685-1970

DOI:https://doi.org/

Hubungan antara Umur Ibu dan Paritas dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Rumah Sakit Umum Daerah

Batara Siang Pangkep

Sitti Nur Intang

Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Salewangang Maros Email: [email protected]

Artikel info Artikel history:

Received; 25 Maret 2020 Revised:10 April 2020 Accepted; 31 April 2020

Keywords:

Low Birth Weight;

Age ; Parity

Kata Kunci:

BBLR;

Umur Paritas

Abstract. Low Birth Weight (LBW) is one of the health problems that require attention in various countries, especially in developing countries or countries with low socioeconomic. WHO (World Health Organization) defines LBW as a baby born weighing ≤ 2500 gr. WHO classifies LBW into 3 types, namely LBW (1500-2499 grams), BBLSR (1000-1499 grams), BBLER (<1000 grams. The purpose of this study is to determine the relationship between maternal age and parity with the incidence (LBW) in Batara Siang District Hospital in Pangkep in 2018, with a population of all mothers giving birth to normal babies and low birth weight babies (LBW) with a total of 2,107 but using the Sample Large Formula then the population obtained 336 and the number of samples 178. The sampling technique used purposive sampling and data analysis using a square test that is the value of the relationship between maternal age (LBW) significance p value = 0.02 (a <0.005), while the relationship of pariitas with (LBW) significance p value = 0.976 (a> 0.005). Then there is a relationship between maternal age, and there is no relationship between maternal parity and the incidence of low birth weight babies (LBW).

Abstrak. BBLR merupakan salah satu masalah kesehatan yang

memerlukan perhatian di berbagai negara terutama pada negara

berkembang atau negara dengan sosial ekonomi rendah. WHO (World

Health Organization) mendefinisikan BBLR sebagai bayi yang lahir

dengan berat ≤ 2500 gr. WHO mengelompokkan BBLR menjadi 3

macam, yaitu BBLR (1500–2499 gram), BBLSR (1000-1499 gram),

BBLER (< 1000 gram.Tujuan untuk mengetahui Hubungan antara

umur ibu dan paritas dengan kejadian (BBLR) Di RSUD Batara Siang

Kab.Pangkep Tahun 2018, dengan populasi seluruh ibu yang

melahirkan bayi normal dan bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan

jumlah 2.107 akan tetapi dengan menggunakan Rumus Besar Sampel

maka populasi yang di dapatkan 336 dan jumlah sampel 178. Tehnik

pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan analisis

data menggunakan uji-square yakni nilai Hubungan umur ibu dengan

(BBLR) kemaknaan p value = 0,02 (a <0,005), sedangkan Hubungan

(2)

pariitas dengan (BBLR) kemaknaan p value = 0,976 (a >0,005). Maka ada hubungan umur ibu, dan tidak ada hubungan paritas ibu dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

Coresponden author:

Email: [email protected] artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY -4.0

PENDAHULUAN

BBLR merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian di berbagai negara terutama pada negara berkembang atau negara dengan sosial ekonomi rendah. WHO (World Health Organization) mendefinisikan BBLR sebagai bayi yang lahir dengan berat ≤ 2500 gr. WHO mengelompokkan BBLR menjadi 3 macam, yaitu BBLR (1500–2499 gram), BBLSR (1000-1499 gram), BBLER (< 1000 gram). WHO juga mengatakan bahwa sebesar 60–

80% dari Angka Kematian Bayi (AKB) yang terjadi, disebabkan karena BBLR. BBLR memiliki risiko lebih besar untuk mengalami morbiditas dan mortalitas dari pada bayi lahir yang memiliki berat badan normal. Masa kehamilan yang kurang dari 37 minggu dapat menyebabkan terjadinya komplikasi pada bayi karena pertumbuhan organ-organ yang berada dalam tubuhnya kurang sempurna. Kemungkinan yang terjadi akan lebih buruk bila berat bayi semakin rendah.

Semakin rendah berat badan bayi, maka semakin penting untuk memantau perkembangannya di minggu-minggu setelah kelahiran. (Indri Hartiningrum,2018)

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Dahulu bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2,500 gram disebut prematur. Sedangkan Berat Badan Bayi Normal adalah berat bayi yang lahir dengan berat badan 2.500 gram sampai dengan 4000 gram (Annisa khoiriah,2017).

Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2013 hampir semua 98% dari 5 juta kematian neonatal terjadi di Negara berkembang Lebih dari 2/3 kematian pada bayi adalah dengan kejadian BBLR yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Prevalensi bayi berat lahir rendah BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%

- 38% dan sering terjadi di Negara-negara berkembang atau sosial ekonomi rendah. Angka

kematian bayi di Indonesia merupakan yang tertinggi dibanding Negara-negara ASEAN

lainnya. Angka kematian bayi di Indonesia berkisar 248 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan

Malaysia yang tercatat angka kematian bayi 41 bayi per 100.000 kelahiran hidup, Thailand

(3)

sebanyak 44 lahir mati per 100.000 kelahiran hidup dan philipina 170 per 100.000 kelahiran hidup (Sunendra, 2017).

Di tingkat Assosiation Of South East Asian Nation ( ASEAN ), angka kematian bayi di Indonesia tahun 2010 yaitu 31 per 1.000 kelahiran hidup .Angka itu 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia juga 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand. (Ardi alam jabir, 2016).

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi bayi dengan BBLR berkurang dari 11,1% tahun 2010 menjadi 10,2% tahun 2013. Variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara (7,2%) sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%). Untuk provinsi Sulawesi Tengah, meskipun terjadi penurunan kasus BLLR dari 17,6% pada tahun 2010 menjadi 16,9% pada tahun 2013, tetapi pada tahun 2013 menjadi provinsi dengan kejadian BBLR paling tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2013, kasus BBLR paling tinggi terjadi di Kota Palu dengan jumlah 231 kasus (3,2%) (Rosmala Nur,2016).

Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2015 menunjukkan jumlah bayi yang lahir sebanyak 148.929 dengan BBLR sebanyak 5956. Sampai saat ini angka BBLR di Provinsi Sulawesi Selatan masih menjadi polemik bagi masyarakat.

BBLR akan meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian bayi, BBLR merupakan individu manusia yang karena berat badan, usia kehamilan dan faktor penyebab kelahirannya kurang dari standar kelahiran bayi normal (Maryuni, 2013).

Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Kab. Pangkep terhitung mulai pada tahun 2017 jumlahnya 78 kasus BBLR dan di tahun 2018 semakin meningkat yaitu 178 kasus BBLR. Mengingat kasus BBLR dapat menimbulkan beranekaragam ancaman, maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara umur dan paritas ibu dengan kejadian BBLR di RSUD Batara Siang Kab. Pangkep.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan pendekatan cross sectional study yaitu suatu metode penelitian non eksperimental yang bersifat sederhana dimana data berkaitan dengan variabel dependent dan variabel independent didefinisikan untuk mendapatkan ada hubungan antara umur dan paritas dengan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi normal dan mengalami

bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan jumlah populasi 2.107 kasus, akan tetapi dengan

menggunakan rumus besaran sampel maka hasil populasi dari rumus besaran sampel yang di

(4)

dapatkan sebanyak 336 kasus, di Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep Tahun 2017-2018 .

Sampel pada penelitian ini adalah bagian dari jumlah populasi ibu yang mengalami bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan jumlah sampel 178 kasus Tahun 2017-2018. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah cara purposive sampling adalah tehnik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan variabel yang diteliti.

Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder, yaitu data yang didapatkan dari diagnosis dan catatan rekam medis tentang semua ibu yang melahirkan dan yang mengalami berat badan lahir rendah di Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep. Analisa Data untuk menentukan hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen melalui Chi-Square Tes.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1 Distribusi Populasi Hubungan Antara Umur Ibu Dan Paritas Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Kab. Pangkep

Bayi Berat Badan Lahir Rendah Frekuensi Presentase % Normal ( > 2500 gram ) 158 47,02 BBLR ( < 2500 gram ) 178 52,97 Total 336 100%

Sumber : Rekam medik RSUD Kab.Pangkep, 2017-2018.

Tabel 1 Menunjukkan bahwa dari 336, bayi berat lahir rendah terdapat 178 (5,2,97%) dengan berat (<2500 gram), bayi normal 158 (47,02%) dengan berat (> 2500 gram).

Distribusi Frekunesi Umur

Tabel 2 Distribusi Sampel Frekuensi Hubungan Antara Umur Ibu Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Kab. Pangkep

Umur Frekuensi (n) Presentase %

Risiko Rendah 71 39,8 %

Risiko Tinggi 107 60,1 %

Total 178 100 %

Sumber : Rekam medik RSUD Batara Siang Kab. Pangkep, 2017-2018.

(5)

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 178 kejadian BBLR yang memiliki Resiko Rendah sebanyak 71 (39,8%) , dan Risiko Tinggi sebanyak 107 (60,1%). Distribusi Frekuensi Status Umur Ibu berdasarkan kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

Distribusi Frekuensi Paritas

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 171 kejadian BBLR, yang meiliki Paritas Aman sebanyak 73(41,0%) , dan Paritas tidak aman sebanyak 105 (58,9%), Distribusi Frekuensi Umur ibu berdasrkan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR)

Tabel 3 Distribusi Sampel Paritas Frekuensi Hubungan Antara umur ibu dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Batara Siang Kab. Pangkep

Paritas Frekuensi (n) Presentase % Tidak aman 1>3 105 58,9 % Aman 2-3 kali 73 41,0 % Total 178 100 % Sumber : Rekam medic RSUD Batara Siang Kab. Pangkep 2017-2018.

Hubungan Umur ibu dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Tabel 4 Hubungan Umur ibu dengan Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Batara Siang Kab. Pangkep

Umur Ibu

Bayi Berat Badan Lahir Rendah

p- value

BBLR Bayi Normal

N % N %

20-35 71 39,8% 83 52,5%

<20->35 107 60,1% 75 47,4% p= 0.02

Total 178 100 158 100

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 336 kelahiran bayi terdapat 178 bayi BBLR dengan umur 20- 30 tahun sebanyak 71 (60,1%), dan umur <20 - >35 sebanyak 107 (39,8%), sedangkan bayi normal terdapat 158 bayi dengan umur 20-35 sebanyak 83 (53,1%), dan umur <20 - >35 sebanyak 74 (46,8%). Hasil dari analisa data dengan uji Chi-square diperoleh nilai p value

=0,02 ,berarti ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR).

Hubungan Paritas Ibu dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 336 kelahiran bayi terdapat 178 berat badan lahir rendah

(BBLR) dengan paritas 1>3 sebanyak 105(58,9%), dan paritas 2-3 kali sebanyak 73 (41,0%) ,

sedangkan bayi normal 158 dengan paritas 1>3 kali sebanyak 92(58,2%) dan paritas 2-3 kali

(6)

sebanyak 66 (41,7%). Hasil dari analisa data dengan uji Chi-square diperoleh nilai p value = 0,978 , berarti tidak ada hubungan paritas ibu dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR).

Tabel 5 Hubungan Paritas Ibu dengan Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Batara Siang Kab. Pangkep.

Paritas Ibu

Bayi Berat Badan Lahir Rendah

p- value

BBLR Bayi Normal

N % N %

1>3 105 58,9% 92 58,2%

p= 0.976

2-3 73 41,0% 66 41,7%

Total 178 100% 158 100%

Pembahasan

Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah

Hasil Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 366 bayi 178 bayi yang mengalami bayi BBLR, dengan umur 20-35 sebanyak 71 (39,8%), dan umur <20 – > 35 sebanyak 107 (60,1%), sedangkan 158 bayi normal dengan Umur 20-35 sebanyak 84 (53,1%), dan umur <20 - > 35 sebanyak 74 (46,8%). Hasil dari analisa data dengan uji Chi-square diperoleh nilai p value = 0.02, ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian bayi BBLR.

Umur yang beresiko (< 20 tahun dan ≥ 35 tahun) .Dalam penelitian ini, dapat dilihat dari uji statistik bahwa nilai p = < 0.005 Hasil penelitian umur ibu dengan nilai < 0.027 ada hubungan dengan kejadian BBLR. Umur yang beresiko merupakan ibu dengan usia < 20 tahun dan > 35 tahun, dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu mempunyai factor resiko melahirkan bayi < 2500 gram atau disebut BBLR. Hal ini disebabkan organ repsoduksi yang belum matang untuk dibuahi sehingga belum siap menerima kehamilan, sedangkan untuk umur > 35 tahun organ reproduksi sudah mengalami kemunduran sehingga daya tahan tubuh tidak maksimal lagi fungsinya (Manuaba, 2010).

Hal ini sejalan dengan (Muazizah,2012) Umur ibu saat melahirkan merupakan hitungan

secara kronologis dimana ibu hamil sampai melahirkan janin didalam kandungan. Umur saat ibu

hamil dan melahirkan sangatlah penting karena usia sangat mempengaruhi bagaimana kondisi

kesiapan Rahim dan penunjang lainnya,serta kesiapan ibu tersebut. Seorang ibu yang ingin

memiliki anak atau hamil sebaiknya antara umur 20-35 tahun,karena pada umur tersebut

merupakan masa yang aman untuk hamil .Pada umur 20 tahun Rahim dan bagian penunjang

lainnya telah siap untuk menerima kehamilan, dan telah siap untuk menjadi seorang ibu, jika

(7)

seorang ibu hamil >20 tahun Rahim dan penunjang lainnya yaitu panggul belum siap untuk menerima kehamilan, karena pada umur dibawah 20 tahun Rahim dan panggul belum berkembang dengan baik atau sempurna. Sedangkan jika seorang ibu hamil > 35 tahun maka akan sangat berisiko, karena kondisi Rahim yang sudah tidak baik dan kemungkinan dapat terjadi persalinan yang lama, pendarahan dan cacat bawaan.

Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

Dari Hasil data uji Chi-square yang diteliti dalam tabel 5 tidak ada hubungan paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR), maka hasil tidak berpendapat dengan teori (Dian rahayu ,2016) yang mengatakan bahwa Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami seorang ibu. Paritas mempengaruhi durasi persalinan dan insiden komplikasi. Ibu primipara (melahirkan bayi pertama kali) karena pengalaman melahirkan belum dan kurang informasi tentang persalinan maka dapat mempengaruhi proses persalinan dan meningkatkan kelainan dan komplikasi. Persalinan premature lebih sering terjadi pada kehamilan pertama.

Paritas dikatakan tinggi bilah seorang ibu/wanita melahirkan anak ke empat atau lebih karena kondisi kesehatan mulai menurun .Paritas lebih dari 4 berisiko mengalami komplikasi serius seperti perdarahan dan infeksi yang akan mengakibatkan kecenderungan bayi lahir dengan kondisi BBLR bahkan kematian ibu dan bayi.

Tidak adanya hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR, meskipun paritas ibu berisiko ,namun ibu secara teratur memeriksakan kehamilan ke tempat pelayanan kesehatan , dan di berikan konseling tentang Kb, Implant, Iud, untuk mencegah kehamilan agar jarak kehamilannya berjauhan meskipun paritas berisiko. Paritas bukan satu-satunya factor yang dapat mempengaruhi tentang Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), ada factor lain yang dapat mempengaruhinya yaitu factor ibu,factor janin dan factor lingkungan,sebab lainnya ibu yang merokok, peminum alcohol dan pecandu narkotik. Maka dari Hasil penelitian yang saya dapatkan paritas bukan factor terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

SIMPULAN

Terdapat hubungan bermakna antara umur ibu dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan tidak ada hubungan yang bermakna antara paritas ibu dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

SARAN

Diharapkan peneliti dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang

hubungan antara umur ibu dan paritas dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) serta

(8)

pengembangan diri melalui peneliti pemula . Dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan dengan variabel atau factor factor lain yang dapat mempengaruhi kejadian BBLR. Diharapkan Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep dapat memberikan informasi lebih luas tentang umur ibu dan paritas dengan kejadian BBLR .

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis bersyukur atas terselesaikan hasil penelitian maka dari itu penulis juga mengucapkan banyak berterima kasih kepada ketua STIKes Salewangang Maros atas bantuan dan dorongannya sehingga terciptalah penelitian yang sangat berguna bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Atikah Proverawati, SKM,MPH. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Yogyakarta: Nuha Medika, 2010.

Eka Prawitasari1, Anafrin Yugistyowati2, Dyah Kartika Sari3,. "Penyebab Terjadinya Ruptur Perineum pada Persalinan Normal." Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia Vol. 3, No.

2, 2015: Hal 77- 81.

Fauziah, Sudarti - Afroh. Asuhan Neinatus Risiko Tinggi dan Kegawatan. Yogyakarta: Nuha Medika, 2013.

Hartinigrum, Indri. "Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Jawa Timur Tahun 2012- 2016." Jurnal Biometrikan dan Kependudukan Vol,7, 2018: Hal 97-104.

Deslidel, Zuchrah Hasan, Rully Hervrialni, & Yan Sartika. Buku Ajar Asuhan Neonatis,Bayi,

& Balita.. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2012.

Ika Pantiawati, S.Si.T. BAYI dengan BBLR. Yogyakarta: Nuha Medika, 2010.

Indiarti. 2015. Kehamilan Persalinan Perawatan Bayi. Yogyakarta: Indoliterasi:

Khoiriah, Aninisa. "Hubungan Antara Usia dan Paritas Ibu Bersalin dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang." Jurnal Kesehatan Vol.

8, 2017: Hal 310-314.

Manuaba. Ilmu kebidanan penyakit kandungan, dan kb untuk pendidikan kebidanan. Jakarta:

EGC, 2010.

Maryuni, Anik. Asuhan Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Jakarta Timur: CV.

TRANS INFO MEDIA, 2013.

Nasla, U. Evi. "Analisi Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)." Jurnal Kesehatan Prima

Vol 12, No.1,, 2018: Halaman : 61 - 72.

(9)

Nur, Rosmala. "Analisis Faktor Risiko Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Antapura Palu." Jurnal Preventif,Vol.7 No 1, 2016: Hal 1-64.

Proverawati, A. Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta: Nuha Medika, 2010.

Sudarti, Incesmi Sukarni. Patologi Kehamilan, Persalinan , Nifas dan Neonatus Resiko Tinggi.

Yogyakarta: Nuha Medika, 2014.

Sugeng Djitowiyono. 2010. Asuhan Keperawatan Neonatus dan Anak. Yogyakarta: Nuha

Medika, 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini maka dapat penulis simpulkan bahwasanya pola pengembangan pembelajaran pendidikan Agama Islam adalah semua pengetahuan, aktifitas serta pengalaman-pengalaman

WBS difinalisasi dengan menetapkan akun control untuk paket pekerjaan dan identitas yang unik dari sebuah kode akun. Identitas ini menyediakan struktur untuk simpulan

Pengamatan dilakukan pada 7 hari setelah aplikasi dengan cara mengoleksi bahan tanaman yang terserang penggerek batang lada dan diamati di laboratorium untuk memastikan

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks pembangunan manusia pada kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, sedangkan untuk variabel

Krisis dalam bencana adalah suatu kejadian, secara alami, maupun karena ulah manusia, terjadi secara mendadak atau berangsur-angsur, menimbulkan akibat yang merugikan,

Observasi ini dikukan di Laboratorium ICT Terpadu, Unit 7 Lantai 4, Universitas Budi Luhur. Kegiatan ini dilakukan untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin yang

(2) Dalam hal NPOP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah dari pada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak

‘You see, sometimes I think that those people on that planet were right and that one day, because of that glass or whatever it is, something terrible is going to happen to