Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 1 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 P U T U S A N
No. 124 K/Pdt.Sus/2011
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus (Kepailitan) dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:
PT JAIC INDONESIA, suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkedudukan di Wisma Nugra Santana, Lt. 10, Jl. Jendral Sudirman Kav. 7-8, Jakarta 10220, dalam hal ini memberi kuasa kepada: TONY BUDIDJAJA, SH., LL.M. dan kawan- kawan, Advokat berkantor di Jl. Tanah Abang II No. 38 Jakarta Pusat, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 20 September 2010;
Pemohon Kasasi dahulu Pemohon;
terhadap:
PT ISTAKA KARYA (Persero), suatu perseroan terbatas yang didirikan menurut hukum Negara Republik Indonesia, berkedudukan di Graha Iskandarsyah Raya No. 66, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan;
Termohon Kasasi dahulu Termohon;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Pemohon telah mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Termohon di muka persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada pokoknya atas dalil-dalil:
I. Termohon adalah debitor yang mempunyai lebih dari satu kreditor:
1. Bahwa selain menjadi debitor Pemohon, Termohon juga merupakan debitor dari lebih dari kreditor lain, antara lain:
a. PT Saeti Concretindo Wahana, suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkantor di Jalan Raya Cakung Cilincing, Kav. 49-50, Cakung, 13910, Jakarta Timur;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 2 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 b. PT Saeti Beton Pracetak, suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkantor di JI.
Banjaran Driyorejo Km 27, Surabaya;
c. PT Bank Syariah Mandiri, suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkantor di Gedung Bank Syariah Mandiri, JI. M. H. Thamrin No. 5, Jakarta Pusat;
d. PT Bank Bukopin, Tbk. suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkantor di JI. M. T.
Haryono Kav. 50-51, Jakarta Selatan; dan
e. PT Bank International Indonesia, Tbk. suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, berkantor di Plaza BII Tower 2, JI. M. H. Thamrin Kav. 2 No. 51 Wisma BII, Jakarta Pusat;
2. Dengan demikian, telah terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana, bahwa Termohon memiliki sekurang-kurangnya dua kreditur, sebagaimana dimaksud oleh Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran ("UU Kepailitan");
II. Termohon adalah debitor yang telah tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih:
1. Bahwa fakta atau keadaan tentang tidak dibayarnya utang Termohon kepada Pemohon yang telah jatuh tempo dan harus dibayar jelas terbukti dengan Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 1799 K/PDT/2008 tanggal 9 Februari 2009 dalam perkara antara Pemohon dengan Termohon sehubungan dengan 6 (enam) surat sanggup atas tunjuk (negotiable prommissory notes-bearer) senilai USD 5,500,000.- (lima juta lima ratus ribu dollar Amerika Serikat) yang diterbitkan oleh Termohon (vide bukti P1 s/d P- 6);
2. Untuk lebih jelasnya, amar putusan Mahkamah Agung (dalam pokok perkara) yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) (vide bukti P-7), berbunyi sebagai berikut:
Mengadili:
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT JAIC Indonesia tersebut;
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 366/Pdt/2007/
PT.DKI tanggal 3 Januari 2008 yang membatalkan putusan Pengadilan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 3 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 Negeri Jakarta Selatan No. 1097/PDT.G/2006/PN.Jak.Sel tanggal 6 Februari 2007;
Mengadili sendiri:
Dalam Eksepsi:
- Menolak eksepsi Tergugat untuk seluruhnya;
Dalam Provisi:
- Menolak permohonan provisi Penggugat untuk sebagian;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat (PT JAIC Indonesia) untuk sebagian;
2. Menyatakan Tergugat [PT Istaka Karya (Persero)] telah melakukan perbuatan wanprestasi terhadap Penggugat;
3. Menghukum Tergugat [PT Istaka Karya (Persero)) untuk segera melunasi total utang tertunggak dengan seketika dan sekaligus kepada Penggugat (JAIC Indonesia) sebesar US$ 7,645,000.- (tujuh juta enam ratus empat puluh lima ribu dollar Amerika Serikat);
4. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;
Menghukum Termohon Kasasi/Tergugat untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan yang dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)";
3. Fakta bahwa putusan Mahkamah Agung telah berkekuatan hukum dan dapat dieksekusi jelas terbukti berdasarkan:
a. Penetapan No. 1097/Pdt.G/2006/PN.Jkt.Sel tertanggal 29 Juli 2010 (vide bukti P-8);
b. Acara (sidang) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 18 Agustus 2010, dimana Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah memberikan tegoran/peringatan (aanmaning) kepada Termohon untuk melaksanakan isi putusan Mahkamah Agung secara sukarela;
4. Sesuai dengan penjelasan Pasal 2 ayat 1 UU Kepailitan, yang dimaksud dengan "Utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih" adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan Pengadilan, Arbiter, atau Majelis arbitrase";
5. Bahwa berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti di atas, maka terbukti bahwa Termohon merupakan "Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 4 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 dapat ditagih" telah terbukti secara sederhan, bahkan secara sempurna dan meyakinkan, dan karenanya telah memenuhi unsur Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, sehingga Termohon harus dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga;
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon mohon Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar memberikan putusan sebagai berikut:
1. Menerima permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh Pemohon terhadap Termohon;
2. Menyatakan Termohon pailit dengan segala akibat hukumnya;
3. Mengangkat Hakim Pengawas untuk mengawasi pengurusan dan pemberasan harta pailit Termohon;
4. Mengangkat seorang kurator untuk menangani perkara kepailitan dan memutuskan biaya kurator sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan 5. Menghukum Termohon untuk membayar seluruh biaya yang berkaitan
dengan penyelesaian perkara ini;
Selain itu, mengingat adanya kekhawatiran bahwa Termohon akan menjual, menyewakan, mengagunkan atau dengan cara lain mengalihkan harta kekayaannya untuk menghindari kewajibannya kepada para krediturnya, termasuk Pemohon, maka berdasarkan Pasal 10 Ayat (1) UU Kepailitan, Pemohon mohon agar sebelum putusan atas permohonan pernyataan pailit ini dijatuhkan, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berkenan terlebih dahulu menjatuhkan putusan sebagai berikut:
- Meletakkan sita jaminan terhadap setiap dan semua harta kekayaan Termohon yang bergerak dan tidak bergerak dalam bentuk dan nama apapun, termasuk namun tidak terbatas, pada tanah, bangunan, mesin, perlengkapan/peralatan kantor, dan kendaraan, dimanapun berada;
Atau, apabila Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berpendapat lain, Pemohon mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Bahwa terhadap permohonan tersebut Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menjatuhkan putusan, yaitu putusan No. 73/PAILIT/2010/PN.JKT.PST tanggal 16 Desember 2010 yang amarnya sebagai berikut:
- Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 5 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 - Menghukum Pemohon untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini diperhitungkan sebesar Rp. 191.000,- (seratus sembilan puluh satu ribu rupiah);
Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut telah dijatuhkan dengan hadirnya Pemohon/
Pemohon Kasasi pada tanggal 16 Desember 2010 kemudian terhadapnya oleh Pemohon/Pemohon Kasasi dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 20 September 2010 diajukan permohonan kasasi secara lisan pada tanggal 23 Desember 2010 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi No. 85 Kas/Pailit/2010/PN.Niaga.Jkt.Pst. jo. No. 73/Pailit/
2010/PN.Niaga.Jkt.Pst. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, permohonan mana disertai dengan memori kasasi yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut pada tanggal 23 Desember 2010 itu juga;
Bahwa setelah itu, oleh Termohon/Termohon Kasasi yang pada tanggal 27 Desember 2010 telah diberitahu tentang memori kasasi dari Pemohon/Pemohon Kasasi diajukan jawaban memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 3 Januari 2011;
Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan- alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang- undang, maka oleh karena itu, permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima;
Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Pemohon dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya ialah:
1. Pengadilan Negeri telah salah menerapkan hukum yang berlaku dengan menilai Termohon Kasasi sebagai BUMN yang "Khusus" yang hanya bisa dimohonkan pailit oleh Menteri Keuangan;
1.1. Pengadilan Negeri telah salah menerapkan hukum, khususnya dalam memahami dan menerapkan ketentuan Pasal 2 ayat (5) UU No. 37/2004;
1.2. Termohon Kasasi tidak dapat diklasifikasikan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang kepentingan publik
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 6 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU No. 37/2004 dan penjelasannya;
1.3. Penjelasan Pasal 2 ayat (5) UU No. 37/2004 menyebutkan bahwa:
"...Yang dimaksud dengan "Badan usaha milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik" adalah badan usaha milik Negara yang seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham ...";
1.4. BUMN yang permohonan pernyataan pailitnya hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud oleh UU No.
37/2004 tersebut, jelas merujuk pada BUMN yang berbentuk Perusahaan Umum (PERUM), dimana seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham;
1.5. Pasal 1 butir 4 Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara ("UU BUMN") menyebutkan definisi BUMN berbentuk Perum sebagai berikut:
"Perusahaan umum yang selanjutnya disebut Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan";
1.6. Berbeda halnya dengan BUMN berbentuk Perum yang modalnya tidak terbagi atas saham dan bertujuan untuk kemanfaatan umum/publik, Termohon Kasasi adalah BUMN berbentuk Persero yang modalnya justru terbagi atas saham-saham dan melakukan kegiatan usaha sebagaimana normalnya perusahaan-perusahaan swasta yang tujuan utamanya adalah untuk mengejar keuntungan;
1.7. Ketentuan Pasal 1 butir 2 UU BUMN dengan jelas memberikan definisi BUMN Persero yang berbeda dengan Perum, sebagai berikut:
"Perusahaan perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan”;
1.8. Untuk lebih jelasnya, berikut perbedaan antara BUMN Perum dan BUMN Persero:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 7 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011
Perum Persero
(in casu Termohon Kasasi) Tidak tunduk pada ketentuan
undang-undang perseroan terbatas;
Semua ketentuan undang-undang perseroan terbatas berlaku bagi Persero;
Seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham;
Sebagian (paling sedikit 51%) atau seluruh modalnya dimiliki Negara dan terbagi atas saham;
Kekayaan Perum tidak terpisah dari kekayaan Negara;
Kekayaan Negara yang telah dijadikan penyertaan modal dalam Persero terpisah dari kekayaan Persero;
Organ Perum terdiri dari Dewan Pengawas, Menteri dan Direksi;
Organ Persero terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, dan Direksi;
Status kepegawaian: Pegawai negeri;
Status kepegawaian: Pegawai swasta;
1.9. Dalam perkara a quo, Pengadilan Negeri jelas salah memahami dan menerapkan teori hukum BUMN. Fakta hukum bahwa modal BUMN Persero terbagi atas saham-saham ini pun diakui oleh Termohon Kasasi, yang menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia cq.
Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara adalah pemegang seluruh saham-saham Termohon Kasasi:
"Dengan ditegaskan kembali bahwa pada saat keputusan ini ditetapkan: a) Susunan Pemegang saham perseroan sebagai berikut: "Negara RI memiliki seluruh saham perseroan yaitu sebanyak 50.000 (lima puluh ribu) saham atau seluruhnya sebesar Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh milyar)." [vide bukti TP-4, halaman 6 angka 4 huruf (a)];
1.10. Kekurangpahaman dan kesalahan Pengadilan Negeri terlihat dari pertimbangan-pertimbangannya yang tidak konsisten. Pengadilan Negeri menyatakan, bahwa "Seluruh modal PT Istaka Karya (Persero) [Termohon Kasasi] pada dasarnya tidak terbagi atas saham, oleh karena seluruh modalnya milik Negara" (???). [vide paragraf terakhir halaman 29 putusan Pengadilan Negeri];
1.11. Disatu sisi Pengadilan Negeri berpendapat, bahwa seluruh modal Termohon Kasasi pada dasarnya tidak terbagi atas saham, namun disisi lain Pengadilan Negeri-pun mengakui, bahwa kedudukan Negara cq. Kementerian BUMN dalam Istaka adalah sebagai
"Pemegang saham". Pemegang saham sudah jelas memiliki saham.
Sangatlah tidak masuk akal, jika Pengadilan Negeri kemudian
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 8 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 menyatakan bahwa modal Termohon Kasasi tidak terbagi atas saham;
1.12. Putusan Pengadilan Negeri juga menunjukkan kesalahan Pengadilan Negeri dalam memahami dan menerapkan hukum perbendaharaan Negara. Dalam pertimbangannya, Pengadilan Negeri menyatakan, bahwa berdasarkan Pasal 50 UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, "Pihak manapun dilarang melakukan penyitaan terhadap uang atau surat berharga milik Negara/daerah baik yang berada pada instansi Pemerintah maupun pada pihak ketiga";
1.13. Apabila Pengadilan Negeri jeli, Pengadilan Negeri seharusnya memahami bahwa Termohon Kasasi tidak dapat dikategorikan sebagai "Uang atau surat berharga milik Negara", karena penyertaan modal Negara dalam BUMN berasal dari kekayaan Negara yang telah dipisahkan;
Lebih jelasnya, Pasal 1 butir 1 UU BUMN menyatakan sebagai berikut:
"Badan usaha milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan”;
1.14. Lebih lanjut, Termohon Kasasi adalah BUMN berbentuk Persero yang terhadapnya berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas. Artinya, sesuai dengan konsep badan hukum perseroan terbatas, kekayaan Negara yang telah dijadikan penyertaan modal dalam BUMN Persero terpisah dari kekayaan perseroan itu sendiri (in casu Termohon Kasasi);
1.15. Hal ini juga dikuatkan oleh Fatwa Mahkamah Agung No. WKMA/
Yud/20/VIII/2006 dalam kasus kredit macet pada Bank BUMN Persero (Bank Mandiri), bahwa aset BUMN Persero merupakan asset/kekayaan perseroan sebagai badan hukum, bukan merupakan aset/kekayaan Negara;
1.16. Kami percaya Majelis Hakim Agung yang terhormat memahami, bahwa berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mahkamah Agung tahun 2010, disimpulkan bahwa kekayaan Negara yang telah disertakan sebagai modal ke BUMN bisa disita oleh Pengadilan, karena kekayaan itu bukan lagi milik Negara melainkan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 9 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 sudah menjadi harta milik BUMN;
1.17. Mengingat kepailitan merupakan suatu sita umum atas semua harta kekayaan debitor, maka hal ini juga membuktikan bahwa BUMN Persero dapat dimohonkan pailit;
Pasal 1 angka 1 UU No. 37/2004 menyebutkan bahwa:
"Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang- undang ini";
1.18 Pada praktiknya, Mahkamah Agung-pun telah mengabulkan permohonan pernyataan pailit terhadap BUMN Persero. Dalam putusan Mahkamah Agung No. 397 K/Pdt.Sus/2009, Mahkamah Agung mengabulkan permohonan pernyataan pailit terhadap BUMN Persero PT Iglass (Persero) di Surabaya yang diajukan oleh PT Intercheem Plasagro Jaya dengan pertimbangan, bahwa PT Iglas (Persero) bukanlah BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik dan kepemilikannya terbagi atas saham;
1.19. Dengan demikian, tidak ada keraguan lagi, bahwa sebagai BUMN Persero yang modalnya terbagi atas saham-saham dan melakukan kegiatan usaha sebagaimana normalnya perusahaan-perusahaan swasta yang tujuan utamanya adalah untuk mengejar keuntungan, Termohon Kasasi jelas dapat dimohonkan pailit oleh Pemohon Kasasi;
2. Pengadilan Negeri telah melanggar hukum pembuktian:
2.1. Putusan Pengadilan Negeri terutama didasarkan pada surat keterangan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) No. S-357/MBU.3/ 2010 tanggal 24 November 2010 [bukti TP-12];
2.2. Surat yang dijadikan "Alat bukti" tersebut, adalah surat dari Kementerian BUMN yang notabene adalah pemegang saham Termohon Kasasi. Dalam hal ini, Pemohon Kasasi berpendapat, bahwa Pengadilan Negeri telah salah memahami kedudukan Kementerian BUMN dalam perkara a quo;
2.3. Surat keterangan Kementerian BUMN ini, terutama pernyataan, bahwa "PT Istaka Karya (Persero) adalah perusahaan potensial yang memberikan kontribusi positif kepada Republik Indonesia ..." tidak dapat diangap begitu saja sebagai suatu kebenaran. Pernyataan- pernyataan yang termuat di sana adalah pernyataan yang sangat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 10 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 subyektif, yang dimaksudkan sebagai argumen pembelaan Termohon Kasasi;
2.4. Mohon dipahami, bahwa dalam perkara a quo, kedudukan Kementerian BUMN sama dengan subyek hukum lainnya dalam lapangan hukum keperdataan. Surat yang dikirimkan oleh pemegang saham perseroan kepada Majelis Hakim, menurut hukum tidak dapat diterima sebagai alat bukti yang sah untuk menolak permohonan pernyataan pailit perseroan tersebut;
3. Semua syarat permohonan pernyataan pailit yang ditentukan oleh UU No. 37/2004 telah dipenuhi:
3.1. Permohonan pernyataan pailit terhadap Termohon Kasasi telah memenuhi unsur Pasal 2 ayat (1) UU No. 37/2004, yakni bahwa Termohon Kasasi merupakan "Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”;
3.2. Termohon Kasasi telah mengakui sendiri, bahwa Termohon Kasasi memang memiliki beberapa kreditor selain Pemohon Kasasi, di
antaranya PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Bukopin, Tbk., PT Bank International Indonesia, Tbk., PT Putra Binaswadaya
Perkasa, PT Saeti Concretindo Wahana, dan PT Sumeda Masel (vide bukti Pemohon Kasasi P-9 s/d P-12);
3.3. Fakta tentang adanya kreditor lain telah secara tegas diakui sendiri oleh Termohon Kasasi (vide butir 1 halaman 9 tanggapan Termohon Kasasi tertanggal 16 November 2010);
3.4. Pengadilan Negeri juga telah mengakui sebagai fakta hukum, bahwa Termohon Kasasi memiliki utang kepada Pemohon Kasasi yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih yang timbul dari putusan Mahkamah Agung No. 1799 K/Pdt/2008 tanggal 9 Februari 2009 (vide bukti Pemohon Kasasi P-7 dan halaman 27 putusan Pengadilan Negeri);
3.5. Sesuai dengan penjelasan Pasal 2 ayat 1 UU No. 37/2004, yang dimaksud dengan "Utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih"
adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan Pengadilan, Arbiter, atau Majelis arbitrase";
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 11 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 3.6. Mengingat terdapat fakta atau keadaan yang telah terbukti secara sederhana, bahkan secara sempurna dan meyakinkan, bahwa permohonan pernyataan pailit terhadap Termohon Kasasi telah memenuhi unsur-unsur Pasal 2 Ayat (1) UU No. 37/2004, maka Termohon Kasasi harus dinyatakan pailit;
Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan kasasi tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
Mengenai alasan-alasan ke 1 s/d ke 3:
Bahwa alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena putusan Judex Facti/Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa sesuai dengan bunyi pasal 2 ayat (5) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang dapat mengajukan kepailitan terhadap BUMN adalah hanya menteri keuangan;
- Bahwa dalam BUMN terdapat 2 (dua) badan hukum yaitu Persero dan Perum;
- Bahwa penjelasan pasal 2 ayat (5) Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tersebut menegaskan bahwa yang dimaksud dengan BUMN disini adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham;
- Bahwa BUMN yang seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham adalah Perum (pasal 1 ayat 4 Undang-Undang No. 19 Tahun 2003);
- Bahwa karena itu Persero tidak termasuk pada pasal 2 ayat (5) Undang- Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;
- Bahwa Termohon adalah “Persero” atas saham yang dimiliki Negara.
Karena itu, Pemohon berhak menuntut kepailitan terhadap Termohon;
- Bahwa in casu ada dua kreditur atau lebih (bukti P-9), dan hutang sudah jatuh tempo, karena adanya putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap dan Termohon sudah ditegur, sudah lewat 8 hari setelah tegoran;
- Bahwa peninjauan kembali tidak menunda eksekusi, artinya tidak berpengaruh terhadap permohonan kepailitan;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 12 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, dengan tidak mempertimbangkan alasan-alasan kasasi lainnya, menurut pendapat Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT JAIC INDONESIA tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 73/PAILIT/2010/PN.JKT.PST tanggal 16 Desember 2010 sehingga amar selengkapnya sebagaimana disebutkan di bawah ini;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Pemohon dikabulkan, dan Termohon Kasasi/Termohon dipihak yang kalah, maka harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Undang-Undang No. 48 Tahun 2009, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
M E N G A D I L I :
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT JAIC INDONESIA tersebut;
Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 73/PAILIT/2010/PN.JKT.PST tanggal 16 Desember 2010;
MENGADILI SENDIRI:
1. Menerima permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh Pemohon terhadap Termohon;
2. Menyatakan Termohon PT ISTIKA KARYA (Persero) pailit dengan segala akibat hukumnya;
3. Mengangkat Hakim Pengawas pada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang akan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Niaga tersebut untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit Termohon;
4. Mengangkat Dr. Andrey Sitanggang, SH., MH., SE. dan Jimmy Simanjuntak, SH., MH. sebagai kurator untuk menangani perkara kepailitan dan memutuskan biaya kurator sesuai dengan peraturan yang berlaku;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 13 dari 13 hal. Put. No. 124 K/Pdt.Sus/2011 Menghukum Termohon Kasasi/Termohon untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan yang dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Selasa, tanggal 22 Maret 2011 tanggal oleh H. Atja Sondjaja, SH. Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, I Made Tara, SH. dan Dirwoto, SH. Hakim Agung masing-masing sebagai Hakim Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis, dengan dihadiri oleh Hakim- Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Bongbongan Silaban, SH., LL.M.
Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.
Hakim-Hakim Anggota: K e t u a :
ttd/H. Atja Sondjaja, SH.
ttd/I Made Tara, SH.
ttd/Dirwoto, SH.
Panitera Pengganti:
ttd/Bongbongan Silaban, SH., LL.M.
Biaya-biaya:
1. M e t e r a i ... Rp. 6.000,- 2. R e d a k s i ... Rp. 5.000,- 3. Administrasi kasasi Rp. 4.989.000,- J u m l a h ... Rp. 5.000.000,- ============
Untuk Salinan:
Mahkamah Agung RI a.n. Panitera
Panitera Muda Perdata Khusus,
RAHMI MULYATI, SH.MH.
Nip. 040049629
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13