• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul : Pengaruh Corporate Social Responsibility, Preferensi Risiko Eksekutif, dan Capital Intensity

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Judul : Pengaruh Corporate Social Responsibility, Preferensi Risiko Eksekutif, dan Capital Intensity"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

vii

Judul : Pengaruh Corporate Social Responsibility, Preferensi Risiko Eksekutif, dan Capital Intensity pada Penghindaran Pajak

Nama : I Putu Putra Wiguna Nim : 1306305171

Abstrak

Realisasi penerimaan pajak tahun 2013-2015 dengan target yang ditetapkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Belum mampunya pemerintah mengoptimalkan penerimaan negara dari pajak diakibatkan karena dari sisi wajib pajak melakukan tindakan untuk meminimalkan beban pajaknya atau tindakan penghindaran pajak. Penghindaran pajak merupakan upaya yang dilakukan oleh wajib pajak (perusahaan) untuk mengurangi atau meminimalkan beban pajak perusahaan. Penghindaran pajak diproksikan dengan Effective Tax Rates (ETR). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh corporate social responsibility, preferensi risiko eksekutif, dan capital intensity pada penghindaran pajak.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Perusahaan yang tepilih menjadi sampel sebanyak 44 perusahaan setelah dikurangi kriteria penentuan sampel. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa corporate social responsibility berpengaruh positif pada penghindaran pajak, membuktikan bahwa semakin tinggi perusahaan mengungkapkan corporate social responsibility semakin tinggi pula perusahaan melakukan tindakan penghindaran pajak. Preferensi risiko eksekutif juga berpengaruh positif pada penghindaran pajak yang berarti semakin eksekutif bersifat risk taker semakin tinggi tindakan penghindaran pajak perusahaan. Variabel capital intensity tidak berpengaruh pada penghindaran pajak. Pemerintah khususnya Direktorat Jendral Pajak agar dapat meningkatkan pengawasannya terhadap praktik penghindaran pajak, karena perusahaan yang selama ini menyatakan bahwa telah melaksanakan aktifitas CSR ternyata tetap melakukan penghindaran pajak.

Kata Kunci: Penghindaran Pajak, Corporate Social Responsibility, Preferensi Risiko Eksekutif, Capital Intensity

(2)

viii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 13

1.4 Kegunaan Penelitian ... 13

1.5 Sistematika Penulisan ... 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 16

2.1 Landasan Teori dan Konsep ... 16

2.1.1 Teori Legitimasi ... 16

2.1.2 Teori Agensi ... 18

2.1.3 Definisi Pajak ... 21

2.1.4 Penghindaran Pajak ... 23

2.1.5 Corporate Social Rensponsibility (CSR) ... 25

2.1.6 CSR Disclosure ... 27

2.1.7 Preferensi Risiko Eksekutif ... 29

2.1.8 Capital Intensity ... 31

2.2 Hipotesis Penelitian ... 32

2.2.1 Hubungan Corporate Social Responsibility dengan Penghindaran Pajak ... 32

2.2.2 Hubungan Preferensi Risiko Eksekutif dengan Penghindaran Pajak ... 33

2.2.3 Hubungan Capital Intensity dengan Penghindaran Pajak ... 35

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

3.1 Desain Penelitian ... 37

3.2 Lokasi Penelitian ... 37

3.3 Objek Penelitian ... 38

3.4 Identifikasi Variabel ... 38

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 39

3.5.1 Variabel Dependen ... 39

(3)

ix

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 42

3.6.1 Jenis Data ... 42

3.6.2 Sumber Data ... 42

3.7 Populasi, Sampel, dan Metode Penentuan Sampel ... 43

3.7.1 Populasi ... 43

3.7.2 Sampel ... 43

3.7.3 Metode Penentuan Sampel ... 43

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 44

3.9 Teknik Analisis Data ... 44

3.9.1 Uji Asumsi Klasik ... 45

3.9.2 Statistik Deskriptif ... 45

3.9.3 Uji Koefisien Determinasi ... 47

3.9.4 Uji Kelayakan Model (Uji F) ... 48

3.9.5 Uji Statistik t (Uji t) ... 48

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 50

4.1 Gambaran Umum Daerah atau Wilayah Penelitian ... 50

4.2 Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 51

4.2.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 51

4.2.2 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 53

4.2.3 Hasil Uji Hipotesis ... 56

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 61

4.3.1 Pengaruh Corporate Social Responsibilty pada Penghindaran Pajak ... 61

4.3.2 Pengaruh Preferensi Risiko Eksekutif pada Penghindaran Pajak ... 63

4.3.3 Pengaruh Capital Intensity pada Penghindaran Pajak ... 64

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 67

5.1. Simpulan ... 67

5.2. Saran ... 68

DAFTAR RUJUKAN ... 70

(4)

x

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman

1.1 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Tahun 2013 – 2016 ... 2

4.1 Hasil Seleksi Pemilihan Sampel ... 50

4.2 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 51

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 54

4.4 Tabel Durbin-Watson, α=5% ... 55

(5)

xi

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman

(6)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Halaman

1 Daftar Perusahaan Sampel ... 78

2 Indeks Pengungkapan CSR Berdasarkan Sembiring Tahun 2005 ... 80

3 Tabulasi Data Penelitian ... 83

4 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 87

5 Hasil Uji Normalitas ... 88

6 Hasil Uji Multikolinearitas ... 89

7 Hasil Uji Autokorelasi ... 90

8 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 91

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pajak merupakan sumber pendanaan penting bagi perekonomian Indonesia. Berawal dari pajaklah pemerintah dapat menjalankan program-programnya dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur, aset-aset publik, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini dilakukan demi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Ketentuan pungutan pajak telah diatur oleh Undang-Undang seperti yang dinyatakan dalam Pasal 23A Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen III. Pasal tersebut berbunyi “pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Pajak yang merupakan iuran wajib dari rakyat tersebut nantinya akan kembali kepada rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung karena pajak digunakan pemerintah untuk membangun fasilitas publik yang berguna bagi kepentingan umum. Pajak memiliki pengaruh besar dalam pembangunan nasional karena pajak menyumbang rata-rata lebih dari 70% dari keseluruhan pendapatan negara.

Penerimaan pajak di Indonesia sudah direncanakan sedemikian rupa supaya mencapai target yang diinginkan sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Data target dan realisasi penerimaan pajak tahun 2013-2016 disajikan dalam Tabel 1.1.

(8)

2 Tabel 1.1

Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Tahun 2013 – 2016 (Dalam Triliun Rupiah) 2013 2014 2015 2016 Target 1.148,4 1.246,1 1.489,3 1.539,2 Realisasi 1.077 1.146,9 1.240,4 1.094,2 Persentase 93,7 92,0 83,3 71,1 Sumber : www.kemenkeu.go.id

Tabel 1.1 menunjukkan bahwa realisasi penerimaan pajak dari tahun 2013 hingga 2015 menggambarkan kenaikan atau pertumbuhan, namun realisasi dengan target penerimaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Belum mampunya pemerintah merealisasikan penerimaan pajak secara maksimal menimbulkan pertanyaan apakah dari sisi wajib pajak terdapat beberapa tindakan yang dilakukan untuk meminimalkan pajaknya, ataukah memang pemungutan yang dilakukan belum mampu berjalan secara maksimal.

Pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun semakin gencar melakukan optimalisasi penerimaan pajak. Salah satu cara untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam pembiayaan pembangunan adalah dengan menggali sumber dana dari pajak. Demi meningkatkan perekonomian, pemerintah memberikan fasilitas perpajakan antara lain melalui penurunan tarif pajak badan yang ditetapkan oleh pemerintah yang sebelumnya diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (1) huruf b yang berisi tarif pajak bagi wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28% (dua puluh delapan persen). Kemudian pemerintah melakukan perubahan tarif pajak badan yang diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (2) huruf a yang berisi tarif

(9)

3

pajak penghasilan wajib pajak badan adalah sebesar 25% (dua puluh lima persen) yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010.

Pemerintah terus berupaya memperbaiki sistem perpajakan menjadi lebih baik dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari pajak. Pemerintah juga berupaya meningkatkan tax ratio secara bertahap untuk mengoptimalkan pemasukan dari pajak, karena rasio penerimaan perpajakan (tax ratio) Indonesia yang saat ini berada di kisaran 11% (sebelas persen) masih berada di bawah standar negara-negara ASEAN (Kemenkeu, 2016). Salah satu upaya pemerintah meningkatkan tax ratio adalah dengan kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong pengusaha dalam negeri berkembang dan memajukan usahanya. Salah satu kebijakan perpajakan yang mendorong pengusaha dalam negeri untuk giat mengembangkan usahanya adalah pemerintah memberikan insentif pajak berupa fasilitas PPh bagi WP badan dalam negeri yang berupa Perseroan Terbuka. Hal tersebut diatur oleh Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (2b) yang berbunyi:

“Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.”

Tidak hanya dengan insentif penurunan tarif pajak, pemerintah juga melakukan penyederhanaan perhitungan pajak dalam Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 yang berisi tentang penyederhanaan perhitungan pajak dimana wajib pajak badan yang memilki penghasilan dari usaha tidak lebih dari Rp 4,8 miliar dalam

(10)

4

setahun dikenakan tarif pajak sebesar 1%. Selain itu, upaya yang kini tengah dilakukan pemerintah yaitu dengan menerapkan program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Upaya optimalisasi penerimaan pajak oleh pemerintah ini berbeda dengan tujuan perusahaan sebagai wajib pajak. Perusahaan berusaha meminimalkan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh laba yang maksimal (Yoehana,2013). Pembayaran pajak yang sesuai dengan ketentuan tentunya akan berbeda dengan tujuan utama perusahaan, yaitu memaksimalkan keuntungan atau laba, sehingga perusahaan berusaha untuk meminimalkan beban pajak yang ditanggungnya (Nugraha, 2015).

Secara umum, dapat dikatakan bahwa penghindaran pajak merupakan segala jenis aktivitas dan transaksi yang dapat berdampak terhadap penurunan kewajiban pajak perusahaan (Hanlon dan Heitzmen, 2010). Penghindaran pajak didefinisikan oleh Dyreng et al. (2008) sebagai segala sesuatu yang dilakukan perusahaan dan berakibat pengurangan terhadap pajak perusahaan. Penghindaran pajak (tax avoidance) merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah pajak secara legal yang tidak melanggar peraturan perpajakan, berbeda dengan penggelapan pajak (tax evasion) yang menggunakan cara-cara yang melanggar hukum untuk mengurangi atau menghilangkan beban pajak sedangkan penghindaran pajak (tax avoidance) memanfaatkan celah (loopholes) yang terdapat dalam peraturan perpajakan untuk menghindari pembayaran pajak yang jumlahnya lebih besar.

(11)

5

Penghindaran pajak bersifat unik karena dari sisi perusahaan sah untuk dilakukan tetapi tidak selalu diinginkan dari sisi pemerintah (Maharani dan Suardana, 2014). Penghindaran pajak sebenarnya cukup banyak terjadi di Indonesia, misalnya kasus penggelapan pajak terbesar yang dilakukan oleh PT Asian Agri Tbk yang terbukti oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) merugikan negara triliunan rupiah sehingga dikenakan sangsi berupa denda yang sangat besar (Dharmasaputra, 2013). Kasus penghindaran pajak di Indonesia juga dilakukan oleh PT Bumi Resources Tbk yang merupakan salah satu perusahaan keluarga di Indonesia. Bahkan, diduga penghindaran pajak PT Bumi Resources dan anak usahanya yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia mencapai 2,1 triliun, atas kasus tersebut DJP telah menetapkan direktur keuangan PT Bumi Resources dan direktur PT Kaltim Prima Coal sebagai tersangka pidana penggelapan pajak (Tempo, 22 Maret 2010). Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) juga menyatakan sebanyak 2.000 perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia tidak membayar Pajak Penghasilan (PPh) Badan Pasal 25 dan Pasal 29 karena alasan merugi tetapi perusahaannya masih tetap eksis, tegas Ken Dwijugiasteadi selaku Direktur Jenderal Pajak, Jakarta (28 Maret 2016). Sebanyak 2.000 PMA (Penanaman Modal Asing) tersebut terdiri dari perusahaan di sektor perdagangan, dan sebagainya. Praktik penghindaran pajak ini dilakukan dengan modus mengalihkan keuntungan atau laba kena pajak dari Indonesia ke negara lain (liputan6.com, 28 Maret 2016).

(12)

6

Penghindaran pajak di dunia internasional juga banyak terjadi. Setelah Amazon, Google dan beberapa perusahaan raksasa di Eropa tersandung masalah penghindaran pajak, kini giliran IKEA sebuah perusahaan raksasa yang bermarkas di Swedia. Sebagaimana dilaporkan media independen, perusahaan yang bergerak dibidang industri peralatan rumah tangga ini dikabarkan melakukan upaya penghindaran pajak dengan nilai lebih dari $ 1 milyar. Upaya penghindaran pajak dalam skala besar ini terjadi dalam kurun waktu 2009 hingga 2014. (Forum Pajak, 19 Februari 2016).

Landolf (2006) dalam Muzakki (2015) berpendapat bahwa kebijakan penghindaran pajak perusahaan mungkin berpengaruh negatif terhadap masyarakat. Perusahaan yang melakukan kebijakan penghindaran pajak dianggap tidak memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam rangka pembiayaan fasilitas publik. Penghindaran pajak perusahaan dinyatakan salah satu tindakan yang tidak bertanggung jawab secara sosial, karena salah satu tanggung jawab perusahaan adalah dimulai dengan memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui pemerintah dengan cara membayar pajak.

Corporate Social Responsibility (CSR) dapat didefinisikan dengan bagaimana perusahaan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dalam lingkup operasinya, memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugiannya (Pemerintah UK, 2004, hal. 3, dalam Lanis dan Richardson, 2012). Sementara Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna

(13)

7

meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.Lanis dan Richardson (2012), menjelaskan bahwa CSR merupakan faktor kunci kesuksesan dan kelangsungan hidup perusahaan. Beberapa perusahaan mulai memandang penting memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan lingkungan. Perusahaan perlu mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar dan juga masyarakat atau semacam legitimasi agar perusahaan tetap going concern.

Apabila perusahaan terbukti melakukan penghindaran pajak maka sudah dipastikan perusahaan tersebut akan kehilangan legitimasinya di mata stakeholder. Menarik untuk diamati apakah rasa tanggung jawab sosial perusahaan melalui aktivitas-aktivitas CSR ini berhubungan dengan rasa tanggung jawab sosial perusahaan melalui pembayaran pajak dengan benar. Pajak dan CSR memiliki kemiripan dalam hal keduanya memberikan kontribusi sosial kepada masyarakat. Apakah kemiripan ini dipandang sama oleh perusahaan sehingga terdapat pengaruh positif tingkat aktivitas CSR terhadap pembayaran pajak, atau apakah karena kemiripan ini membuat perusahaan-perusahaan dengan aktivitas CSR tinggi justru mengurangi beban pajaknya melalui aktivitas penghindaran pajak karena menganggap CSR sebagai beban. Jika perusahaan semakin menyadari pentingnya CSR, maka perusahaan akan semakin menyadari betapa pentingnya kontribusi perusahaan dalam membayar pajak bagi masyarakat umum (Yoehana, 2013).

(14)

8

Penelitian tentang hubungan antara penghindaran pajak dengan CSR sudah diteliti terlebih dahulu oleh beberapa peneliti dengan hasil yang berbeda-beda. Lanis dan Richardson (2012) menyusun sejumlah analisis empirik untuk mengetahui apakah pendekatan perusahaan untuk CSR berhubungan dengan tingkat penghindaran pajak. Penghindaran pajak diproksikan dengan ETR (Effective Tax Rates), hasil penelitian yang ditemukan menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR dari suatu perusahaan, semakin rendah tingkat penghindaran pajak perusahaan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Yoehana (2013), Nugraha (2015), yang mengaitkan antara CSR dengan penghindaran pajak mendapatkan hasil yang serupa. Namun, penelitian yang dilakukan Davis et al., (2013) menemukan bahwa pengukuran kualitas pelaporan akuntabilitas perusahaan dan indeks CSR berhubungan positif dengan aktivitas lobi untuk mengurangi pajaknya. Penelitian yang dilakukan Wahyudi (2015) juga meneliti tentang hubungan antara CSR dengan penghindaran pajak ditemukan bahwa dalam konteks Indonesia tingkat aktivitas CSR tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak.

Selain faktor CSR, faktor preferensi risiko eksekutif perusahaan juga dapat memengaruhi praktik penghindaran pajak. Risiko adalah akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi karena sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang dan sebagai segala sesuatu yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi (Mayangsari, 2015). Menurut Hanafi dan Harto (2014) bahwa preferensi risiko akan berpengaruh dalam pelaksanaan tugas eksekutif. Dampak dari suatu tindakan juga akan dianalisis oleh eksekutif

(15)

9

dengan tujuan untuk mendapatkan keputusan terbaik, termasuk dalam menentukan keputusan penghindaran pajak perusahaan. Penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan bukan merupakan suatu kebetulan, keputusan untuk melakukan penghindaran pajak merupakan hasil kebijakan perusahaan. Secara langsung, individu yang terlibat dalam pembuatan keputusan pajak adalah direktur pajak dan juga konsultan pajak perusahaan. Namun, eksekutif (direktur utama atau presiden direktur) sebagai pimpinan perusahaan secara langsung ataupun tidak langsung juga memiliki pengaruh terhadap segala keputusan yang terjadi dalam perusahaan, termasuk keputusan penghindaran pajak perusahaan.

Peranan eksekutif tidak hanya mampu menambah nilai perusahaan tetapi juga memiliki kecenderungan untuk mendukung penghindaran pajak. Pada awalnya, sulit untuk dibayangkan bagaimana top eksekutif dan top manajer lainnya memiliki peran dalam penghindaran pajak mengingat hampir tidak ada eksekutif yang benar-benar ahli dalam pajak atau bahkan memiliki latar belakang dalam bidang keuangan. Salah satu cara yang dilakukan eksekutif adalah dengan menempatkan orang kepercayaan yang memiliki keahlian untuk mengamati sekaligus membuat skema penghindaran pajak sesuai keinginan eksekutif (Dyreng et al., 2010).

Pernyataan bahwa eksekutif memegang peranan penting dalam menentukan skema penghindaran pajak perusahaan diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Budiman (2012) yang meneliti pengaruh karakter eksekutif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance), hasil dari penelitian tersebut menyatakan eksekutif yang memiliki karakter risk taker memiliki pengaruh yang

(16)

10

positif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Penelitian tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dyreng et al. (2010) serta Dewi dan Jati (2014). Namun, penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari (2015) mendapatkan hasil yang berbeda dimana preferensi risiko eksekutif tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak.

Karakteristik sebuah perusahaan juga merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi perusahaan dalam melakukan praktik penghindaran pajak. Salah satu karakteristik perusahaan yaitu capital intensity ratio atau rasio intensitas modal (Muzakki, 2015). Rasio intensitas modal adalah seberapa besar perusahaan menginvestasikan asetnya pada aset tetap. Menurut Rodriguez dan Arias (2012) aset tetap yang dimiliki perusahaan memungkinkan perusahaan memotong pajak akibat dari penyusutan aset tetap perusahaan setiap tahunnya. Hampir seluruh aset tetap akan mengalami penyusutan yang akan menjadi biaya penyusutan dalam laporan keuangan perusahaan. Sementara biaya penyusutan ini adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan dalam perhitungan pajak perusahaan. Artinya semakin besar biaya penyusutan akan semakin kecil tingkat pajak yang harus dibayarkan perusahaan. Hal tersebut berdampak pada perusahaan dengan tingkat rasio intensitas modal yang besar menunjukan tingkat pajak efektif yang rendah, dengan tingkat pajak efektif yang rendah mengindikasikan perusahaan melakukan praktik penghindaran pajak.

Penelitian yang menghubungkan antara intensitas aset tetap dengan penghindaran pajak adalah penelitian yang dilakukan oleh Noor et al., (2010) dan Lanis dan Richardson (2007), menemukan hasil bahwa intensitas aset tetap

(17)

11

berpengaruh negatif terhadap ETR, berarti semakin tinggi tingkat intensitas aset tetap semakin tinggi pula tingkat penghindaran pajaknya. Namun penelitian yang dikemukakan oleh Delgado et al. (2014) menyatakan bahwa capital intensity ratio mempunyai pengaruh positif terhadap ETR. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmadi dan Zulaikha (2013) di Indonesia yang menghubungkan capital intensity dengan ETR. Penelitian tersebut menggunakan ETR sebagai alat ukur variabel dependennya yaitu manajemen pajak. Variabel independen dalam penelitian tersebut adalah ukuran perusahaan, tingkat hutang, profitabilitas, intensitas persediaan, intensitas aset tetap, fasilitas perpajakan. Hasil dari penelitian tersebut adalah intensitas aset tetap dan intensitas persediaan memiliki pengaruh negatif terhadap manajemen pajak. Penelitian yang dilakukan oleh Putra dan Merkusiwati (2016) yang menghubungkan capital intensity ratio dengan tax avoidance mendapatkan hasil capital intensity ratio tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

Penelitian ini merupakan modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi (2015) yang meneliti mengenai pengaruh aktifitas corporate social responsibility (CSR) terhadap penghindaran pajak di Indonesia. Variabel independen dalam penelitian tersebut yaitu corporate social responsibility sedangkan variabel dependenya penghindaran pajak yang diproksikan dengan Effective Tax Rates (ETR). Penelitian ini kembali meneliti tentang pengaruh corporate social responsibility pada penghindaran pajak yang diproksikan juga dengan Effective Tax Rates (ETR) dengan menambahkan variabel preferensi risiko eksekutif dan capital intensity sebagai variabel independen. Penelitian

(18)

12

Wahyudi menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 saja. Penelitian ini termotivasi untuk menguji kembali variabel corporate social responsibility pada perusahaan manufaktur dengan menambah rentang waktu perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015.

Objek penelitian ini menggunakan Wajib Pajak Badan yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015. Perusahaan manufaktur dipilih sebagai objek penelitian karena perusahaan yang terdapat di dalam industri manufaktur adalah yang jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan industri lain serta untuk menghindari bias efek industri. Perusahaan manufaktur merupakan penyumbang pendapatan pajak negara terbesar selain industri pertambangan, keuangan dan perkebunan serta perusahaan manufaktur beberapa kali masuk sebagai wajib pajak yang difokuskan dalam daftar pemeriksaan Direktorat Jendral Pajak (Mulyani dan Endang, 2014). Masih terdapatnya ketidakkonsintenan pada penelitian sebelumnya menjadi motivasi dalam penelitian ini untuk menguji kembali pengaruh corporate social responsibility, preferensi risiko eksekutif, dan capital intensity pada penghindaran pajak.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(19)

13

1) Bagaimana pengaruh corporate social responsibility pada penghindaran pajak?

2) Bagaimana pengaruh preferensi risiko eksekutif pada penghindaran pajak?

3) Bagaimana pengaruh capital intensity pada penghindaran pajak?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Untuk menguji dan menganalisis pengaruh corporate social responsibility pada penghindaran pajak.

2) Untuk menguji dan menganalisis pengaruh preferensi risiko eksekutif pada penghindaran pajak.

3) Untuk menguji dan menganalisis pengaruh capital intensity pada penghindaran pajak.

1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris teori legitimasi dan teori keagenan mengenai pengaruh corporate social responsibility, preferensi risiko eksekutif, dan capital intensity pada penghindaran

(20)

14

pajak. Penelitiaan ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan yang terkait dengan praktik penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan dengan beberapa variabel yang mempengaruhinya yaitu corporate social responsibility, preferensi risiko eksekutif, dan capital intensity.

2) Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah

Bagi pemerintah dalam hal ini Direktorat Jendral Pajak diharapkan dapat meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan kewajiban perpajakan perusahaan untuk mengurangi kesempatan perusahaan dalam melakukan penghindaran pajak.

b. Bagi Perusahaan

Bagi perusahaan diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan mengenai tindakan penghindaran pajak agar tidak tergolong penggelapan pajak dan terhindar dari sanksi administrasi pajak.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini disusun dalam beberapa bab secara sistematis sebagai berikut.

Bab I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah mengenai penghindaran pajak serta faktor-faktor yang memengaruhinya, pokok

(21)

15

rumusan masalah variabel yang diteliti, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Kajian Pustaka dan Hipotesis Penelitian

Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang relevan sebagai acuan dalam skripsi seperti teori legitimasi, teori agensi, landasan dalam memecahkan permasalahan penelitian, pembahasan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan skripsi ini serta rumusan hipotesis penelitian.

Bab III : Metode Penelitian

Bab ini memaparkan mengenai metode penelitian yang meliputi desain penelitian, objek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, metode penentuan sampel, menjelaskan populasi, sampel dan metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.

Bab IV : Pembahasan Hasil Penelitian

Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, deskripsi data hasil penelitian serta pembahasan hasil penelitian berdasarkan output SPSS.

Bab V : Simpulan dan Saran

Bab ini menguraikan tentang simpulan yang dibuat berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, disamping itu disertakan pula beberapa saran yang nantinya diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pembaca maupun penelitian berikutnya.

Gambar

Tabel  1.1  menunjukkan  bahwa  realisasi  penerimaan  pajak  dari  tahun  2013  hingga  2015  menggambarkan  kenaikan  atau  pertumbuhan,  namun  realisasi  dengan  target  penerimaan  tidak  sesuai  dengan  yang  diharapkan

Referensi

Dokumen terkait

Kalo ada produk baru dari masjid, speaker buat masjid, jadi yang kita undang orang-orang masjid kayak pengurus-pengurus masjid gitu.. Terus kalo TOA mengadakan

perhitungan dengan menggunakan teori strip atau dengan beberapa penelitian lain mengenai gerakan heaving yang telah dipublikasikan!. Sedangkan

Menurut Sugiyono (2013: 275) analisis regresi linier berganda digunakan untuk meramalkan keadaan (naik turunnya) variabel dependen, jika dua atau lebih variabel

a) Handout, yaitu bahan tertulis yang disiapkan guru untuk memperkaya pengetahuan siswa. Handout dapat diambil dari beberapa literatur yang relevan dengan materi

Penelitian ini menunjukan bahwa konseling kelompok dengan teknik positive reinforcement efektif dalam meningkatkan disiplin sekolah peserta didik kelas VII MTS Al-hikmah

Dengan memindahkan proses kalsinasi batu kapur ini ke dalam kalsiner, tinggal sekitar 10% saja proses kalsinasi terjadi di dalam kiln sehingga ruangan yang tersedia dapat

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh perkumpulan Nefrologi Canada dinyatakan bahwa dari perspektif fisiologi, intradialytic exercise dapat meningkatkan aliran

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menguji dan menganalisis apakah variabel Kemasan Produk dan Saluran Distribusi secara bersama-sama berpengaruh signifikan