BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Objek Penelitian

18 

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Berdasarkan Undang-Udang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 Ayat 1 tentang perbankan menyatakan bahwa Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya (www.bi.go.id). Sedangkan Menurut UU No. 3 Tahun 2004 tentang perubahan Undang-Undang No. 23 tahun 1999, yang dimaksud dengan Bank Sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan serta menjalankan fungsi sebagai lender of the last resort. Bank sentral yang dimaksud merupakan Bank Indonesia (Arifin dan Hadi W, 2009 : 140) .

UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999 dan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 6/2009. Menurut undang-undang tersebut Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia, dan merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang tersebut. Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kesetabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai tugas untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan mengatur dan mengawasi bank (www.ojk.go.id).

Sedangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga Negara yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan baik di sektor perbankan, pasar modal, dan sektor jasa keuangan non-bank seperti Asuransi, Dana Pensiun,

(2)

2 Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya. Secara lebih lengkap, OJK adalah lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 21 tersebut.

Tugas pengawasan industri keuangan non-bank dan pasar modal secara resmi beralih dari dari Kementrian Keuangan dan Bapepam-LK ke OJK pada 31 Desember 2012. Sedangkan pengawasan disektor perbankan beralih ke OJK pada 31 Desember 2013 dan Lembaga Keuangan Mikro pada 2015 (www.ojk.co.id)

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin memperoleh pelayanan perbankan tanpa melanggar ketentuan agama terkait bunga, bank syariah hadir untuk memenuhi kebutuhan mereka. Banyak anggapan yang salah di masyarakat terkait bank syariah seperti bank untuk ibadah haji, bank yang tidak berorientasi bisnis, atau menyamakan bank syariah dengan lembaga sosial. Semua anggapan tersebut salah karena bank syariah tidak hanya untuk ibadah haji, bank syariah juga memiliki orientasi laba serta bukan lembaga sosial. Bank syariah dalam beroperasi memiliki tujuan untuk memperoleh laba, namun dalam mencari laba bank syariah tidak menerapkan skema bunga seperti bank konvensional (Mahardika, 2015 : 125-126).

Menurut UU No. 21/2008 perbankan syariah merupakan segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Sedangkan, Unit Usaha Syariah adalah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan / atau unit syariah. (www.bi.go.id).

(3)

3 Rosman et. al (2014) menyatakan bahwa krisis keuangan yang terjadi di Amerika tahun 2008 dan 2009 menunjukkan kelemahan sistem perbankan konvensional. Menurut Chong dan Liu (2009) bank syariah dalam beberapa dekade terakhir tumbuh secara cepat dalam ukuran dan jumlah pemain. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti mengenai perbankan syariah di Indonesia.

Melihat statistik perbankan syariah di Indonesia dari tahun 2009-Juni 2015 pada www.bi.go.id perkembangan Bank Umum Syariah terbilang rendah bila dibandingkan dengan Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPR), dimana hingga Juni 2015 diketahui bahwa BUS hanya memiliki 12 unit saja, sedangkan UUS dan BPR masing-masing memiliki 22 dan 161 unit. Sehingga peneliti merasa penasaran dan tertarik untuk membahas lebih dalam mengenai Bank Umum Syariah dalam penelitian ini.

Berdasarkan situs resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id), 12 Bank Umum Syariah yang terdaftar untuk periode 2010-2014 antara lain :

1. Bank BCA Syariah 2. Bank BNI Syariah 3. Bank BRI Syariah

4. Bank Syariah Mega Indonesia 5. Bank Bukopin

6. Bank Panin Syariah 7. Bank Muamalat Syariah 8. Bank Syariah Mandiri 9. Bank Jawa Barat Syariah 10. BTPN Syariah

11. Maybak Syariah 12. Bank Victoria Syariah

Dari gambaran umum di atas, maka penulis mengambil objek penelitian berupa bank umum syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2010-2014.

(4)

4 1.2 Latar Belakang

Bank Syariah adalah lembaga intermediasi dan penyediaan jasa keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem nilai Islam yang mempunyai sifat khusus yakni bebas dari kegiatan spekulatif yang nonproduktif seperti perjudian, bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan, berprinsip pada keadilan dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal. Selain itu bank syariah didasari oleh larangan dalam agama Islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba. Bank syariah juga menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi dan beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam kegiatan produksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam melakukan transaksi keuangan.

Dengan adanya ketentuan-ketentuan baku yang harus ditaati oleh bank-bank yang menjalankan bisnis secara syariah, membuktikan bahwa bank syariah telah teruji keberadaanya pada saat krisis keuangan global. Inilah salah satu keunggulan yang dapat dibuktikan oleh keberedaan bank syariah. Secara spesifik, dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, perbankan syariah diharuskan telah memastikan dengan jelas transaksi yang akan dilakukan. Sistem keuangan syariah hanya membolehkan memberikan pembiayaan berdasarkan aset yang jelas dengan nilai pembiayaan yang wajar (Azmi, 2013).

Dikutip dari website resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id), pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres

(5)

5 perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan (www.bi.go.id).

Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 (sebagaimana diubah dengan UU No. 10/1998) tentang Perbankan, bank didefinisikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya. Berdasarkan UU No. 23/1999, struktur perbankan di Indonesia, terdiri atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan Unit Usaha Syariah (UUS) pada dasarnya sama dengan Bank Umum Syariah (BUS). Perbedaannya terletak pada status pendirian sistem syariahnya (www.bi.go.id).

Pada BUS statusnya independen dan tidak bernaung di bawah sistem perbankan konvensional. Sementara UUS statusnya tidak independen dan masih bernaung di bawah aturan manajemen perbankan konvensional, di mana bank konvensional masih menerapkan sistem riba (www.datacon.co.id). Selain itu, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (www.bi.go.id).

Berikut ini merupakan tabel Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia periode 2009 – Juni 2015 :

Tabel 1.1

Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

Tahun Bank Umum

Syariah Unit Usaha Syariah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 2009 6 25 138 (bersambung)

(6)

6 Tabel 1.1 (sambungan)

Tahun Bank Umum

Syariah Unit Usaha Syariah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 2010 11 23 150 2011 11 24 155 2012 11 24 158 2013 11 23 163 2014 12 22 163 Jun 2015 12 22 161

Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Juni 2015 (www.bi.go.id)

Berdasarkan data statistik perbankan syariah periode 2009-Juni 2015 yang ditunjukan pada tabel 1.1, perkembangan Bank umum syariah dari tahun 2009 hingga Januari 2015 mengalami kenaikan yang signifikan dimana Bank Umum Syariah hanya terdapat 6 unit pada tahun 2009, namun meningkat menjadi 11 unit pada 2010-2013, dan meningkat satu angka lagi menjadi 12 unit pada tahun 2014 - Juni 2015.

Lain halnya dengan Unit Usaha Syariah yang mengalami perkembangan yang fluktuatif, dimana pada tahun 2009 jumlah Unit Usaha Syariah sempat mencapai 25 unit, namun menurun menjadi 23 unit pada tahun 2010, dan kemudian mengalami kenaikan kembali menjadi 24 unit dalam dua tahun yaitu pada tahun 2011 dan 2012, tidak bertahan diangka tersebut UUS kembali mengalami penurunan menjadi 23 unit kembali ditahun 2013. Kemudian pada tahun 2014 - Juni 2015 kembali mengalami penurunan hingga 22 unit.

Pada Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) terdapat perubahan yang fluktuatif, dimana terdapat 138 unit pada tahun 2009, naik menjadi 150 unit pada tahun 2010, naik kembali hingga 155 unit ditahun 2011, pada 2012 pun mengalami kenaikan menjadi 158 unit, sempat mencapai 163 unit pada tahun 2013 dan 2014, namun kembali turun menjadi 161 unit pada Juni 2015. Sehingga terlihat bahwa BPR mengalami kenaikan yang cukup pesat, UUS berada di posisi kedua, dan BUS berada pada posisi terakhir

(7)

7 Berikut ini merupakan tabel Indikator Utama Perbankan Syariah periode 2009 -Juni 2015, meliputi Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), Pembiayaan, Non Performing Financing (NPF) :

Tabel 1.2

Indikator Utama Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah (dalam miliar rupiah)

Tahun Aset Dana Pihak

Ketiga (DPK) Pembiayaan Non performing Finance (NPF) 2009 66.090 4.537.565 686.535 4.01% 2010 97.519 6.053.658 865.920 3.02% 2011 14.467 8.187.428 1.399.330 2.52% 2012 195.018 10.847.862 2.512.295 2.22% 2013 242.276 12.724.187 3.479.979 2.62% 2014 272.343 14.225.486 3.770.629 4.33% Jun 2015 272.389 14.810.700 3.660.900 4.73% Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Juni 2015 (www.bi.go.id)

Tabel 1.2 menunjukan perkembangan indikator utama Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Aset pada tahun 2009 tercatat Rp. 66.090 miliar, mengalami kenaikan menjadi Rp. 97.519 miliar pada tahun 2010, kemudian mengalami penurunan yang signifikan menjadi Rp. 14.467 miliar pada tahun 2011, setelah itu kembali mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp. 195.018 miliar pada tahun 2012, pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp. 242.276 miliar, pada tahun 2014 pun indikator aset kembali mengalami kenaikan mencapai Rp. 272.343 miliar, pada Juni 2015 meningkat mencapai Rp. 272.389 miliar.

(8)

8 Dana Pihak Ketiga (DPK) pada tahun 2009 tercatat Rp. 5.537.565 miliar, mengalami kenaikan sepanjang tahun. Pada 2010 DPK meningkat mencapai angka Rp. 6.053.658 miliar, kemudian ditahun 2011 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp. 8.187.428 miliar, tidak berhenti disitu pada tahun 2012 pun kembali mengalami peningkatan hingga mencapai Rp. 10.847.862 miliar, pada 2013 - 2014 pun tetap saja DPK mengalami kenaikan , masing-masing Rp. 12.724.187 miliar dan Rp. 14.225.486 miliar, Hingga pada Juni 2015 jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp. 14.810.700 miliar.

Data Bank Indonesia juga menunjukan peningkatan dari tahun ke tahun pada indikator pembiayaan dari tahun 2009 sebesar Rp.686.535 miliar, Pada 2010 Pembiayaan meningkat mencapai angka Rp. 865.920 miliar, kemudian ditahun 2011 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp. 1.399.330 miliar, tidak berhenti disitu pada tahun 2012 pun kembali mengalami peningkatan yang hingga mencapai Rp. 2.512.295 miliar, pada 2013-2014 pun tetap saja pembiayaan mengalami kenaikan masing-masing Rp. 3.479.979 dan Rp. 3.770.629 miliar, Hingga pada Juni 2015 jumlah pembiayaan tercatat sebesar Rp. 3.660.900 miliar.

Non performing Financing (NPF) perbankan syariah dari tahun 2009 sampai Januari 2015 mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 tercatat 4.01 persen , kemudian turun menjadi 3.02 persen di tahun 2010, tahun 2011 kembali turun menjadi 2.52 persen, dan kembali turun menjadi 2.22 persen di tahun 2012. Pada tahun 2013 mengalami sedikit kenaikan sebesar 2.62 persen. Di tahun 2014 dan Juni 2015 masing-masing 4.33 persen dan 4.73 persen. Angka NPF diatas menunjukan kondisi dimana perbankan syariah dalam keadaan sehat karena angka NPF masih dibawah 5 persen.

Salah satu kegiatan operasional perbankan syariah adalah memberikan pembiayaan-pembiayaan yang dapat membantu masyarakat dalam menjalankan kegiatan usahanya. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan Syariah mendefinisiskan pengertian mengenai pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah yaitu penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah

(9)

9 muntahiya bittamlik; transaksi jual beli dalam bentuk piutang qardh; dan transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah (Azmi, 2013).

Berikut merupakan tabel Komposisi Pembiayaan yang Diberikan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah periode 2009-Juni 2015 :

Tabel 1.3

Komposisi Pembiayaan BUS dan UUS (Dalam Miliar Rupiah)

Akad 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Juni 2015 Mudharabah 6.597 8.631 10.229 12.023 13.625 14.354 14.906 Musyarakah 10.412 14.624 18.960 27.667 39.874 49.387 54.033 Murabahah 26.321 37.508 56.365 88.004 110.565 117.371 117.777 Salam 0 0 0 0 0 0 0 Istishna 423 347 326 376 582 633 678 Ijarah 1.305 2.341 3.839 7.345 10.481 11.620 11.561 Qardh 1.829 4.731 12.937 12.090 8.995 5.965 4.938 Lainya 0 0 0 0 0 0 0

Sumber : Statistik perbankan syariah, 2014 (www.bi.go.id)

Berdasarkan tabel 1.3 diatas dapat kita lihat bahwan pembiayaan pada Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) didominasi oleh akad mudharabah, musyarakah, dan murabahah. Komposisi pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Juni 2015 masing-masing sebesar 14.906 miliar dan 54.033 miliar dari total pembiayaan. Sedangkan, komposisi pembiayaan murabahah pada Juni 2015 yaitu sebesar 117.777 miliar dari total pembiayaan. Terlihat bahwa

(10)

10 pembiayaan berbasis bagi hasil yang dikombinasi oleh pembiayaan mudharabah dan musyarakah memiliki selisih angka yang cukup signifikan lebih rendah bila dibandingkan dengan pembiayaan murabahah. Hal ini mungkin saja terjadi karena adanya beberapa faktor mempengaruhi volume pembiayaan berbasis bagi hasil pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Memperhatikan fungsi pokok perbankan sebagai lembaga yang mempunyai fungsi intermediasi keuangan/dana, dan manfaat yang besar bagi masyarakat, pembiayaan merupakan indikator utama untuk mengukur perkembangan atau pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah nasional. Sehingga perlu dikaji faktor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi besarnya jumlah pembiayaan yang disalurkan ke masyarakat oleh perbankan syariah (Azmi,2013).

Dilihat dari berbagai jurnal penelitian mengenai pembiayaan berbasis bagi hasil ada beberapa faktor yang kerap kali dijadikan sebagai bahan penelitian oleh para peneliti terdahulu, faktor - faktor tersebut antara lain Simpanan Capital Adequacy Ratio (CAR), Non performing Financing (NPF), dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Jurnal penelitian tersebut antara lain disusun oleh Zulfikar dan Agustina (2014); Havidz & Setiawan (2015); Citra Fitriyanti, Azib, Nurdin (2014); Wida Purwidianti dan Arini Hidayah (2014); Puji Hidayati (2013) ; Nur Gilang Gianini (2013); Dita Andraeny (2011); Anastasia Sri, Ratna Anggraini, Etty Gurendrawati, dan Nurmalia Hasanah (2013); serta Dhea Rachmadita, Marsellisa Nindito, dan Nurmalia Hasanah (2013). Ketiga variabel diatas dijadikan sebagai variabel penelitian oleh para peneliti tersebut. Oleh sebab itu peneliti akan membahas lebih dalam mengenai ketiga faktor tersebut dalam pengaruhnya terhadap jumlah pembiayaan berbasis bagi hasil dan menjadikan jurnal penelitian terdahulu diatas menjadi referensi dalam menyusun penilitian ini. Faktor pertama yang akan dibahas yaitu yaitu CAR (Capital Adequacy Ratio), Menurut Umam (2013:250-342) Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal bank atau merupakan kemampuan bank dalam permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian di dalam perkreditan atau dalam perdagangan surat berharga. Kecukupan modal merupakan faktor yang penting bagi bank dalam rangka mengembangkan usaha dan menampung risiko kerugian.

(11)

11 Sehingga hal ini juga dapat mempengaruhi pada tingkat pembiayaan yang diberikan berdasarkan kecukupan modal yang dimiliki bank syariah. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/21/PBI/2001 bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko.

Tabel 1.4

Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

Tahun 2010-2014

2010 2011 2012 2013 2014 Capital Adequacy Ratio

(CAR) 16,25% 16,63% 14,13% 14,42% 16,10% Pembiayaan Bagi Hasil:

1. Akad Mudharabah 2. Akad Musyarakah 23.255 8.631 14.624 29.189 10.229 18.960 39.690 12.023 27.667 53.499 13.625 39.874 63.741 14.354 49.387 Sumber: Statistik Perbankan Syariah, 2014 (www.bi.go.id)

Data rasio keuangan Capital Adequacy Ratio (CAR) pada tabel 1.3 menunjukkan rasio CAR yang fluktuatif selama tahun 2010-2014, sedangkan pembiayaan bagi hasil selama 2010-2014 konsisten mengalami peningkatan.

Menanggapi fenomena diatas peneliti beranggapan bahwa semakin tinggi prosentase CAR seharusnya semakin meningkatkan pula pembiayaan berbasis bagi hasil, namun dari data di atas terlihat bahwa terjadi penurunan prosentase CAR pada tahun 2012 dan 2013, tetapi terlihat bahwa pembiayaan bagi hasil selama periode 2010-2014 konsisten meningkat walau presentase CAR menurun. Menurut Giannini (2013), secara parsial CAR mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah. Sedangkan menurut Fitriyanti Azib, dan Nurdin (2014), secara parsial CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan bagi hasil.

(12)

12 Faktor kedua yang mempengaruhi pembiayaan mudharabah yaitu Non Performing Financing (NPF). Menurut Darmawi (2011:126) Non Performing Financing (NPF) meliputi kredit di mana peminjam tidak dapat melaksanakan persyaratan perjanjian kredit yang telah ditandatanganinya, yang disebabkan oleh berbagai hal sehingga perlu ditinjau kembali atau perubahan perjanjian. Dengan demikian, ada kemungkinan risiko kredit bisa bertambah tinggi. Menurut Suhardjono (2004:252) dalam Faizal dan Prabawa (2013) mengemukakan bahwa kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh kewajibanya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan dalam perjanjian kredit. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/PBI/2009, menetapkan batas maksimum NPF bagi Bank umum syariah sebesar 5%.

Tabel 1.5

Rasio Non Performing Financing (NPF) Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

Tahun 2010-2014

dalam Miliar Rupiah 2010 2011 2012 2013 2014 Non Performing Financing

(NPF) 3,02% 2,52% 2,22% 2,62% 4,33%

Pembiayaan Bagi Hasil: 1. Akad Mudharabah 2. Akad Musyarakah 23.255 8.631 14.624 29.189 10.229 18.960 39.690 12.023 27.667 53.499 13.625 39.874 63.741 14.354 49.387 Sumber: Statistik Perbankan Syariah, 2014 (www.bi.go.id)

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa rasio Non Performing Financing mengalami fluktuasi sejak tahun 2010-2014, NPF tertinggi berada ditahun 2014 mencapai angka 4,33%. Sedangkan pembiayaan bagi hasil pun sama-sama memiliki pergerakan yang fluktuatif, dengan pembiayaan terbesar berada ditahun 2014 sebesar 63.741 triliun.

(13)

13 Menanggapi fenomena di atas peneliti beranggapan bahwa semakin tinggi rasio NPF yang dimiliki bank, memperlihatkan semakin besar risiko pembiayaan yang ditanggung oleh bank, oleh sebab itu bank akan lebih selektif dalam menyalurkan dana, karena menghindari pembiayaan yang tidak tertagih, sehingga pembiayaan yang disalurkan pun akan lebih rendah, namun data di atas tidak mencerminkan pernyataan tersebut, pada tahun 2011 ketika rasio NPF 2,52% pembiayaan bagi hasil hanya sebesar Rp 29,189 triliun, namun pada tahun 2014 ketika NPF sebesar 4,33% pembiayaan bagi hasil yang disalurkan malah mencapai 63,741 triliun.

Penelitian mengenai pengaruh NPF terhadap pembiayaan pernah dilakukan oleh Gianinni (2013) dengan hasil penelitian NPF tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwidianti dan Hidayah (2014) mengatakan bahwa NPF berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah.

Faktor ketiga yang akan dibahas antara lain pengaruh Simpanan DPK, simpanan DPK merupakan sumber likuiditas untuk memperlancar pembiayaan yang terdapat pada sisi aktiva neraca bank. Sehingga semakin banyak DPK yang berhasil dihimpun oleh bank, maka akan semakin banyak pula pembiayaan yang dapat disalurkan oleh bank tersebut (Zulfikar dan Agustina, 2014). Namun ditemukan dimana tingkat pertumbuhan DPK yang dirasa belum optimal, seperti dilansir oleh Henri Amir pada www.sindonews.com edisi 19 Maret 2014 disampaikan bahwa penyaluran pembiayaan perbankan syariah di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada posisi Januari 2014 tumbuh 26,82 persen melebihi pertumbuhan Dana Pihak ketiga (DPK). “Posisi Januari, pembiayaan yang berhasil disalurkan sebesar Rp5,623 triliun. Sementara untuk periode yang sama tahun lalu hanya Rp4,434 triliun,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia regional I Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua) Suhaedi, Rabu (19/3/2014).

Dia memaparkan, dari sisi penggunaan, penyaluran pembiayaan investasi tercatat tumbuh paling tinggi sebesar 61,54 persen, diikuti pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 37,31 persen dan pembiayaan komsumsi tumbuh

(14)

14 sebesar 14,85 persen. Menurut Suhaedi, peningkatan pertumbuhan pembiayaan yang jauh melebihi peningkatan DPK pasti berdampak kepada peningkatan Finance to Deposit Ratio (FDR) perbankan umum syariah Sulsel. Di mana posisi januari, DPK yang berhasil dihimpun hanya Rp2,801 triliun.

Pada fenomena di atas dikatakan bahwa penyaluran pembiayaan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah DPK yang terhimpun, sehingga peneliti merasa fenomena di atas bertolak belakang dengan teori yang seharusnya, dimana jumlah DPK yang terhimpun seharusnya mempengaruhi tinggi/rendahnya pembiayaan yang disalurkan. Dari DPK lah bank memperoleh dana yang kemudian digunakan untuk penyaluran pembiayaan.

Pada penelitian sebelumnya Wardiantika dan Kusumaningtias (2014) menyatakan bahwa DPK memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan. Sehingga apabila DPK meningkat maka pembiayaan pun juga akan meningkat. Namun hasil dari penelitian tersebut bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawanti dan Zulfikar (2014) menyatakan bahwa DPK tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembiayaan berbasis bagi hasil.

Berdasarkan fenomena serta kesimpulan dari penelitian terdahulu yang telah dibahas di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia (Studi Kasus pada Bank Umum Syariah Yang Terdaftar di BEI)”.

1.3 Perumusan Masalah

Sesuai dengan prinsip syariah, yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional yaitu sistem bagi hasil yang dilakukan oleh bank syariah. Namun pertumbuhan pembiayaan berbasis bagi hasil dirasa lebih lambat apabila dibandingkan dengan sistem pembiayaan berbasis jual beli (Murabahah). Sistem bagi hasil kurang diminati oleh masyarakat. Hal tersebut mungkin saja terjadi akibat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Dalam hal ini faktor-faktor yang dianggap memiliki pengaruh terhadap pembiayaan tersebut antara lain Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing

(15)

15 Financing (NPF), serta Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK). Oleh sebab itu, peneliti merasa perlu untuk mengidentifikasi lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan berbasis bagi hasil pada bank umum syariah tersebut.

1.4 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi pertanyaan penelitian yang akan dijawab. Pertanyaan penelitian tersebut adalah:

1) Bagaimana Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), serta Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014?

2) Bagaiamana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), serta Dana Pihak Ketiga (DPK), secara simultan terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014?

3) Bagaiamana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), serta Dana Pihak Ketiga (DPK), secara parsial terhadap pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014?

a) Bagaimana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) secara parsial terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014? b) Bagaimana pengaruh Non Performing Financing (NPF) secara parsial

terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014? c) Bagaimana pengaruh Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara parsial

terhadap pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014? 1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Untuk mengetahui Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), serta Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014.

(16)

16 2) Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014. 3) Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non

Performing Financing (NPF), Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014. a) Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) secara

parsial terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014.

b) Untuk mengetahui pengaruh Non Performing Financing (NPF) secara parsial terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014

c) Untuk mengetahui pengaruh Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara parsial terhadap jumlah pembiayaan berbasis Bagi Hasil periode 2010-2014.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca maupun peneliti selanjutnya, baik secara aspek teoritis maupun praktis.

1.6.1 Manfaat Teoritis

a. Sebagai bahan referensi untuk mengetahui sejauh mana hubungan faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap pembiayaan berbasis bagi hasil pada perbangkan syariah di Indonesia.

b. Memberikan rangsangan dalam melakukan penelitian tindak lanjut mengenai faktor penentu pembiayaan pada bank syariah terutama pembiayaan berbasis bagi hasil.

1.6.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Bank Syariah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan bagi hasil tersebut, sehingga bank dapat mengoptimalkan pembiayaan bagi

(17)

17 hasil yang disalurkan agar dapat meningkatkan margin keuntungan bagi bank .

b. Bagi nasabah deposan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas bagi para nasabah yang ingin berinvestasi atau dikelola dananya oleh bank.

c. Bagi nasabah pembiayaan, penelitian ini diharapkan dapat membantu nasabah mempermudah memperoleh persetujuan pembiayaan dengan nominal yang besar untuk meningkatkan produktivitas usaha.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian

1.7.1 Objek Penelitian

Yang menjadi objek dalam penelitian ini merupakan Bank umum syariah yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014. Waktu penelitian dimulai sejak Januari - Juni 2016.

1.7.2 Variabel

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah pembiayaan berbasis bagi hasil pada perbankan syariah di Indonesia. Pada penelitian ini terdapat tiga buah variabel independen, dan satu buah variabel dependen. Yang merupakan variabel X dalam penelitian ini antara lain : Capital Adequacy Ration (CAR), Non Performing Financing (NPF), serta Simpanan Dana Pihak Ketiga (DPK), sedangkan variable Y dalam penelitian ini adalah Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil pada bank umum syariah di indonesia.

1.7.3 Lokasi

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupkan data sekunder yang diperoleh tidak langsung dari sumbernya. Data diambil melalui www.bi.go.iddan www.ojk.go.id .

(18)

18 1.8 Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang penelitian ini maka disusunlah sistematika penulisan yang berisi mengenai materi, informasi, dan data lainya yang berhubungan dengan penelitian ini. Adapun sistematika penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

Bab I : PENDAHULUAN

Bab pertama merupakan bab pendahuluan yang mengemukakan latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab kedua membahas mengenai landasan teori-teori terkait penelitian dan penelitian terdahulu, pengembangan kerangka pemikiran teoritis, serta hipotesis penelitian.

Bab III : METODE PENELITIAN

Bab ini menegaskan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat menjawab atau menjelaskan masalah penelitian, meliputi uraian tentang karakteristik penelitian, alat pengumpulan data, tahapan penelitian, populasi dan sampel, serta teknik analisis data dan pengujian hipotesis.

Bab IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan yang diuraikan secara kronologis dan sistematis sesuai perumusan masalah serta tujuan penelitian. Sistimatika pembahasan ini akan lebih tampak jelas luas cakupan, batasan, dan benang merahnya apabila disajikan dalam sub judul tersendiri.

Bab V : KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi penjelasan mengenai kesimpulan dari hasil yang diperoleh setelah dilakukan penelitian. Selain itu, disajikan keterbatasan serta saran yang dapat menjadi pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :