PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RESOLUSI
KONFLIK BERBANTUAN MEDIA VIDEO CLIP
TERHADAP HASIL BELAJAR PKN
I Made Vicky Gusnawan
1, Ndara Tanggu Renda
2, Dewa Kade Tastra
31,2
Jurusan PGSD,
3Jurusan TP, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan model pembelajaran resolusi konflik berbantuan media video clip terhadap hasil belajar PKn siswa kelas V SD di Gugus II Majapahit Kecamatan Pekutatan tahun pelajaran 2016/2017 antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolusi konflik berbantuan media video clip dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini seluruh kelompok siswa kelas V SD di Gugus II Majapahit Kecamatan Pekutatan tahun pelajaran 2016/2017. Sampel penelitian ini adalah kelompok siswa kelas V SD Negeri 1 Gumbrih yang berjumlah 20 orang sebagai kelompok eksperimen dan kelompok siswa kelas V SD N Pangyangan yang berjumlah 20 orang sebagai kelompok kontrol. Data hasil belajar PKn siswa dikumpulkan dengan tes pilihan ganda. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh bahwa thit(3,191) > ttab(2,021). Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran resolusi
konflik berbantuan media video clip berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa kelas V SD di Gugus II Majapahit Kecamatan Pekutatan tahun pelajaran 2016/2017
Kata kunci:hasil belajar PKn, resolusi konflik, video clip
Abstract
This research aims to know the significant difference of 5th Grade students PKn learning result
between students group learn through resolution conflict learning model assisted by video clip media and students group learn through conventional learning model in Majapahit 2st Cluster Primary School
in Pekutatan District 2016/2017 Academic Year. This type of research is a quasi experimental research. The population of this research is all5th Grade students of Majapahit2st Cluster Primary
School in Pekutatan District 2016/2017 AcademicYear. The sample of this research is 5th Grade of
Gumbrih1st primary school amount to 20 students and 5th Grade of Pangyangan primary school
amount to 20 students. PKn learning result data were collected by objective test. Collected data analyzed by using descriptive and inferential statistical analysis (t-test). Based on the result of analyzed data, it is found that tcount (3,191)> ttab (2,021). So can be concluded resolution conflict
learning model assisted by video clip media influence on PKn learning result 5th Grade students of
Majapahit 2st Cluster Primary School in Pekutatan District 2016/2017 Academic Year.
PENDAHULUAN
Proses menemukan sebuah kebenaran ialah disebut dengan pendidikan. Dikatakan proses menemukan kebenaran karena pendidikan mampu mengungkapkan sesuatu yang belum diketahui oleh manusia.Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memiliki landasan tujuan yang kokoh dan jelas. Mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan, itulah tujuan pendidikan. Hal ini tercermin dalam tujuan pendidikan nasional pada pasal 3 ayat 1 UU No. 20 tahun 2003 yaitu, mengembangkan dan membentuk watak manusia serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tercapainya tujuan pendidikan harus diiringi dengan berbagai usaha. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional adalah menyelenggarakan kurikulum. Kurikulum merupakan jalan untuk menggapai tujuan pendidikan nasional. Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Pendidikan dasar khususnya di SD menjadi salah satu indikator tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pendidikan di SD memberikan kontribusi besar bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional Salah satu mata pelajaran di SD yang memberikan kontribusi cukup besar dalam menggapai tujuan pendidikan nasional adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa bisa belajar identitas bangsa Indonesia yaitu bahasa Indonesia. Bahasa
Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Mengajarkan identitas bangsa, mampu membuat siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan warga negara yang demokratis sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
“Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelek, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi” (Arini dkk., 2010:9). Bahasa juga merupakan alat interaksi dalam pendidikan. Pembelajaran bahasa merupakan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan belajar bahasa. Merupakan sebuah modal besar untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dalam pembelajaran. Dengan komunikasi dan interaksi, terjadi proses pertukaran ide dalam pembelajaran. Proses pertukaran ide antar siswa inilah yang membuat proses pembelajaran menjadi optimal dst.
Kegiatan pembelajaran bahasa tak akan pernah lepas dari kegiatan menulis. Setelah memikirkan ide dan gagasan, siswa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Tulisan inilah yang akan menjadi cerminan ide dan gagasan siswa. Semakin baik tulisan yang dibuat oleh siswa, maka semakin baik pula ide dan gagasan yang dia miliki. McCrimmon (dalam Saddhono dan Slamet, 2014:151) menyatakan, “menulis merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas”
Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang erat kaitannya dengan menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk karya tulis. Dalman (2016:3) mengutarakan, “menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis dalam tujuan, misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur”. Melalui kegiatan menulis, seseorang dapat menyerap berbagai pengetahuan.
Keterampilan menulis deskripsi termasuk dalam pembelajaran menulis lanjutan. Pembelajaran menulis lanjutan
dibelajarkan pada kelas IV, V, dan VI. Dalam pembelajaran menulis lanjutan, siswa membuat tulisan berdasarkan perasaan, pengalaman atau pengamatan. Salah satu contohnya, menulis laporan pengamatanatau kunjungan. Laporan pengamatan atau kunjungan ini dibelajarkan di kelas V. Dalam laporan pengamatan atau kunjungan, siswa membuat tulisan yang bertujuan untuk menggambarkan suatu peristiwa, tempat, atau benda.
Kenyataandi lapangan,
pembelajaran menulis masih menyisakan masalah yang serius. Rendahnya kemampuan menulis siswa menjadi salah satu alasannya. Siswa belum mampu menulis secara mandiri. Siswa merasa kesulitan untuk mengungkapkan idenya ke dalam tulisan. Siswa juga cepat merasa bosan dalam belajar menulis.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru-guru di SD
Gugus III Kecamatan
PekutatanKabupaten Buleleng, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh siswa dalam menulis deskripsi. Kendala-kendala yang dihadapi antara lain.
1) Siswa sulit menuangkan imajinasinya ke dalam tulisan yang dibuat.
2) Tidak memperhatikan tanda baca 3) Tidak bisa mengembangkan
jenis-jenis konjungsi.
4) Tidak bisa mengembangkan berbagai jenis kosa kata
5) Sulit untuk mengaitkan kalimat utama dengan kalimat pendukung. Kendala-kendala yang dialami siswa dalam menulis dikarenakan guru belum menemukan pendekatan, teknik atau metode yang efektif untuk pembelajaran menulis deskripsi. “Sampai saat ini masih banyak para guru mengajarkan menulis dengan menggunakan pendekatan gramatis sebagai pendekatan utamanya” (Abidin, 2012:191). Pendekatan gramatis yang dimaksud adalah terlalu banyak penekanan tata bahasa dalam menulis. Penggunaan pendekatan ini sebagai pendekatan utama, menyebabkan siswa enggan menulis, sebab ia terlebih dahulu harus banyak belajar tentang tata bahasa.
Solusi yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan pembelajaran keterampilan menulis deskripsi adalah menerapkan model pembelajaran resolution conflict. Model pembelajaran ini dikatakan sangat sesuai dengan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran menulis. Sesuai yang diungkapkan Shoimin (2014:212) bahwa, “resolution conflict merupakan suatu model pembelajaran untuk melatih keterampilan peserta didik dalam menulis”. Model pembelajaran resolution conflictmendorong siswa untuk berpikir, berbicara, dan kemudian menulis berkenaan dengan suatu topik. Kemampuan berpikir dan berbicara siswa diyakini dapat dilatih dengan model ini yang kemudian diungkapkan melalui tulisan.
Huda (2013:218) mengungkapkan, Think-Talk-Write (TTW) adalah strategi yang memfasilitasi latihan berbahasa secara lisan dan menulis bahasa tersebut dengan lancar. Strategi yang diperkenalkan pertama kali oleh Huinker dan Laughlin (1996:82) ini didasarkan pada pemahaman bahwa belajar adalah sebuah perilaku sosial. Strategi TTW mendorong siswa untuk berpikir, berbicara, dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu. Strategi ini digunakan untuk mengembangkan tulisan dengan lancar dan melatih bahasa sebelum
dituliskan. Strategi TTW
memperkenankan siswa untuk mempengaruhi dan manipulasi ide-ide sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ia juga membantu siswa dalam mengumpulkan dan mengembangkan ide-ide melalui percakapan terstruktur.
Berdasarkanpemaparan
di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: apakah terdapat perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas V yang signifikan di SD Gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflictdan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional tahun pelajaran 2016/2017.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas V yang signifikan di SD Gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflictdan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional tahun pelajaran 2016/2017.
METODE
Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SD Gugus III Kecamatan Tejakula. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada semester II, tahun pelajaran 2016/2017 pada tanggal 16 Februari - 19 Mei 2017. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang bertujuan untuk menguji keefektifan suatu teori/konsep/model dengan cara menerapkan (treatment) pada satu kelompok subjek penelitian dengan menggunakan kelompok pembanding yang biasa disebut kelompok kontrol (Agung, 2011). Dalam penelitian ini unit eksperimennya berupa kelas, sehingga penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Dalam penelitian ini subyek penelitian diberikan perlakuan dengan di terapkannya pembelajaran dengan model pembelajaran resolution conflictdan model pembelajaran konvensional terhadap keterampilan menulis deskripsi.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Non
Equivalent Post-test Only Control Group
Design
. Rancangan penelitiannya dapatdisajikan sebagai berikut:
Eksperimen X1 O1
Kontrol X2 O2
Gambar 1. post-test only control group design
(Agung, 2014:53) Menurut Koyan (2012:30) Populasi adalah himpunan dari unsur-unsur yang sejenis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di Gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng
pada tahun pelajaran 2016/2017. Gugus ini terdiri dari delapan sekolah, sehingga terdapat delapan kelas dengan jumlah seluruh siswanya sebanyak 171 siswa.
Dalam pemilihan sampel untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, digunakan teknik group random sampling. “Teknik group random sampling merupakan suatu cara pengambilan sampel secara acak, dimana sampel diambil berdasarkan kelas bukan individu, setiap anggota populasi atau bagian dari populasi tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel” (Soewarno dalam Agung, 2014:164). Teknik group random sampling ini dilakukan dengan cara undian. Delapan SD yang ada di Gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng yang telah dinyatakan setara dan diundi untuk diambil dua kelas yang akan dijadikan sampel penelitian.
Kedua SD tersebut diundi kembali untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil dari pengundian tersebut yaitu SD Negeri 6 Pekutatansebagai kelompok eksperimen dan SD Negeri 3 Pekutatansebagai kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran resolution conflict dan kelompok kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajarankonvensional.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil penelitian adalah validitas internal. Menurut Setyosari (2015) “validitas internal bersumber dari pelaksanaan penelitian itu sendiri yang berkaitan dengan perlakuan yang diberikan apakah perlakuan yang diberikan benar-benar menyebabkan hasil yang diobservasi dalam penelitian”. Validitas internal dalam penelitian ini yaitu, sejarah, kematangan, pemberian pretest , regresi statistik, mortalitas, dan seleksi kelompok.
Selain faktor internal, ada faktor lain yang bersifat eksternal yang memiliki pengaruh pada hasil penelitiannya yaitu validitas eksternal. Menurut Setyosari (2015:192) menyatakan “validitas eksternal merujuk pada generalisasi dan berkenaan dengan seberapa jauh kita
dapat mengeneralisasi hasil penelitian di luar latar penelitian”.Beberapa ancaman yang berkaitan dengan validitas eksternal ini meliputi: interaksi antara perlakuan dan orang, interaksi antara perlakuan dan latar, dan interaksi antara perlakuan dan waktu.
Adapun cara untuk mengontrol validitas eksternal yaitu (1) kesahihan populasi dan (2) kesahihan ekologi. Dalam penelitian ini, populasi dikontrol dengan cara memilih sampel sesuai dengan karakteristik populasi, yaitu melakukan randomisasi pada saat menentukan kelompok yang dikenai pengambilan atau penelitian. Untuk kesahihan ekologi dikontrol dengan cara: (1) tidak memberitahukan kepada siswa bahwa mereka sedang menjadi subjek penelitian, (2) penelitian mengikuti jadwal pembelajaran yang berlaku di sekolah, (3) pembelajaran dilakukan oleh guru, (4) pemantauan terhadap pelaksanaan pengambilan data oleh peneliti tidak dilakukan secara terang-terangan, melainkan secara samar melalui pengamatan, observasi dan diskusi dengan anak dan guru diluar jam pelajaran.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data keterampilan menulis deskripsi siswa kelas V di kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan tes. Metode tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah cara memperoleh data berbentuk suatu tugas yang dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang atau kelompok yang dites (testee) dan menghasilkan suatu data berupa skor (interval). Tes dilakukan pada akhir pembelajaran yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa.
Tes yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar adalah tes tertulis. Tes tertulis merupakan
tes yang diberikan kepada tester dalam bentuk pertanyaan dan dijawab dengan cara tertulis” (Sudijono, 2011:75).Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini digunakan tes uraian berjumlah 1 butir soal. Soal tersebut terlebih dahulu akan diujicobakan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai kelayakan tes tersebut dipergunakan sebagai instrumen penelitian. Hasil uji coba dianalisis untuk mengetahui tingkat validitas.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Teknik analisis deskriptif yang digunakan adalah rata-rata (M), median (Md), modus (Mo), standar deviasi (SD) dan varians (s2). Uji prasyarat juga sangat penting untuk mengetahui apakah analisis data untuk pengujian hipotesis dapat dilanjutkan atau tidak. Uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Karena n1 = n2 dan hasil perhitungan varians menyatakan homogen, maka dalam pengujian hipotesis digunakan rumus separated varians, dengan db = n1 + n2 – 2 dan kriteria H0 ditolak jika thit< ttab dan H1diterimajika thit> ttab.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya kualitas dari keterampilan menulis deskripsi siswa, baik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran resolution conflictmaupun yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Rekapitulasi perhitungan skor keterampilan menulis deskripsi siswa tersedia pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Perhitungan Skor keterampilan menulis deskripsi Siswa Data
Statistik
keterampilan menulis deskripsi
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Mean 86,3 58,87
Modus 91,16 54,5 Varians 73,10 62 Standar Deviasi 8,55 7,87 Skor minimum 65 45 Skor maksimum 100 80 Rentangan 35 35
Bedasarkan tabel di atas dapat dideskripsikan mean (M), median (Md), modus (Mo), varians, dan standar deviasi (s) dari data keterampilan menulis deskripsi kelompok eksperimen, yaitu: mean (M) = 86,3, median (Md) = 88,5, modus (Mo) = 91,16, varians (s2) = 73,10, dan standar deviasi (s) = 8,55. Pada kelompok eksperimen diketahui bahwa modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo > Md > M), sehingga kurva yang terbentuk adalah adalah kurva juling negatif yang artinya skor cenderung tinggi. Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif. Rata-rata keterampilan menulis deskripsi kelompok eksperimen berada pada interval 83 – 88 dengan frekuensi absolut 6. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 20% siswa memperoleh skor di sekitar rata-rata, sebanyak 49,99% siswa memperoleh skor di atas rata-rata, dan sebanyak 29,99% siswa memperoleh skor di bawah rata-rata. Grafik data hasil belajar eksperimen dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Grafik Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Sedangkan pada kelompok kontrol dapat dideskripsikan mean (M), median (Md), modus (Mo), varians, dan standar
deviasi (s) dari data keterampilan menulis deskripsi kelompok kontrol, yaitu: mean (M) = 58,87, median (Md) = 56,74 modus (Mo) = 54,5, varians (s2) = 62, dan standar deIIIasi (s) = 7,87. Data hasil belajar kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam grafik data hasil belajar kelompok control
Gambar 3. Grafik Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Berdasarkan grafik polygon di atas, maka dapat diketahui modus lebih kecil dari median dan median lebih kecil dari mean (Mo < Md < M), sehingga kurva di atas adalah kurva juling positif yang artinya skor cenderung tinggi. Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif. Rata-rata keterampilan menulis deskripsi kelompok kontrol berada pada interval 57 - 62 dengan frekuensi absolut 7. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 24,13% siswa memperoleh skor di sekitar rata-rata, sebanyak 27,57% siswa memperoleh skor di atas rata-rata, dan sebanyak 48,27% siswa memperoleh skor di bawah rata-rata.
Dengan kata lain, model pembelajaran resolution conflictmemiliki rata-rata skor keterampilan menulis deskripsi lebih tinggi dibandingkan yang dibelajarkan dengan model pembelajaran 0 2 4 6 8 10 12 65-70 71-76 77-82 83-88 89-94 95-100 Fr e ku e n si Interval 0 2 4 6 8 10 12 45-50 51-56 57-62 63-68 69-74 75-80 Fr e ku e n si Interval
konvensional Sebelum melakukan uji hipotesis maka harus dilakukan beberapa uji prasyarat, uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas dan uji homogentias varians.
Uji normalitas sebaran data dilakukan terhadap data keterampilan menulis deskripsi kelompok eksperimen dan kontrol. Normalitas sebaran data diuji dengan menggunakan rumus Chi-Square ( χ2 ) dengan kriteria pengujian data berdistribusi normal jika χ2
hitung< χ2tabel pada taraf signifikansi 5% dan derajat kekebasan dk=(jumlah kelas - parameter - 1). Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh χ2
hitung keterampilan menulis deskripsi kelompok eksperimen adalah 5,19 dan χ2
tabel = 7,82. Hal ini berarti, χ2
hitung hasil belajar kelompok eksperimen lebih kecil dari χ2
tabel ( χ2hitung ˂ χ2tabel), sehingga data hasil belajar kelompok eksperimen berdistribusi normal.
Sedangkan, χ2
hitung keterampilan menulis deskripsi kelompok kontrol adalah 3,32 dan χ2
tabel adalah 7,82. Hal ini berarti, χ2
hitung hasil belajar kelompok kontrol lebih kecil dari χ2
tabel ( χ2hitung ˂ χ2tabel) sehingga data hasil belajar kelompok kontrol berdistribusi normal.
Setelah melakukan uji normalitas, maka dilanjutnya dengan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok homogen atau tidak. Uji homogenitas dihitung dengan cara
membagi varians terbesar dengan varians terkecil. Data dinyatakan homogen apabila Fhitung< Ftabel dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fhitung sebesar 1,18 sedangkan Ftabel dengan db pembilang = 28, db penyebut = 29, pada taraf signifikansi 5% adalah 1,86. Hal ini berarti Fhitung lebih kecil dari Ftabel (1,18 < 1,86) sehingga dapat dinyatakan bahwa varians data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Setelah melakukan analisis deskripsi dan uji prasyarat, maka dilanjutkan dengan melakukan uji hipotesis. Hipotesis penelitian yang diuji adalah terdapat perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa V yang signifikan di SD gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional semester genap tahun pelajaran 2016/2017.
Karena n1 ≠ n2 dan hasil perhitungan varians menyatakan homogen, maka dalam pengujian digunakan rumus polled varians, dengan db = (n1 + n2) - 2 dan kriteria tolak H0 jika thit> ttab dan terima H0 jika thit< ttab. Rangkuman hasil perhitungan uji-t antar kelompok eksperimen dan kontrol Dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rangkuman Hasil Perhitungan Uji-t
Data Kelompok N X s2 t hit ttab (t.s. 5%) Hasil Belajar Eksperimen 30 86,3 73,10 12,46 2,00 Kontrol 29 58,87 62
Berdasarkan tabel hasil perhitungan uji-t di atas, diperoleh thit sebesar 12,46 sedangkan, ttab dengan db = (30+29) - 2 dan taraf signifikansi 5% adalah 2,00. Hal ini berarti, thit lebih besar dari ttab (thit> ttab), sehingga H0ditolak dan H1diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa V yang signifikan di SD gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara
kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional tahun pelajaran 2016/2017.
Pembahasan
Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran resolution conflictmemiliki
keterampilan menulis deskripsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Tinjauan ini didasarkan pada rata-rata nilaiketerampilan menulis deskripsi siswa. Rata-rata nilaiketerampilan menulis deskripsi siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran resolution conflictadalah 86,3 dan rata-rata nilaiketerampilan menulis deskripsi siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional58,87.
Berdasarkan analisis data menggunakan uji-t, diketahui thit = 12,46 dan ttab db=(30+29)-2 dan taraf signifikansi 5%) adalah 2,00. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thit lebih besar dari ttab (thit> ttab), sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa V yang signifikan di SD gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional semester genap tahun pelajaran 2016/2017.
Perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa V yang signifikan di SD gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional disebabkan karena perbedaan perlakuan pada langkah-langkah pembelajaran dan proses penyampaian materi.
Langkah pertama yaitu think, siswa memikirkan jawaban dari permasalahan yang diajukan, membuat catatan kecil dengan bahasa sendiri. Langkah ini membuat siswa mampu berpikir mandiri dan mempunyai konsep tersendiri terhadap pemecahan masalah. Langkah kedua (talk) ditandai dengan adanya diskusi kelompok untuk membicarakan hasil penyelidikan dan pemikiran. Pada langkah ini, siswa merefleksikan, menyusun, dan menguji ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Langkah
terakhir yaitu write, hasil diskusi kelompok dituangkan ke dalam tulisan. Tulisan ini berisi landasan konsep yang telah digunakan, keterkaitan dengan materi sebelumnya, dan strategi penyelesaian masalah (Huda, 2013:218).
Ketiga tahap tersebut mampu membantu siswa merealisasikan pengetahuan yang telah diperoleh untuk diterapkan pada situasi baru, proses ini menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan baru dan menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari. Kegiatan belajar menjadi berpusat pada siswa (student centered). Serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jano Ariasa (2015) yang menyatakan model pembelajaran resolution conflict menggunakan langkah-langkah penyelesaian yang urut dan mudah dipahami siswa serta selama proses pembelajaran dengan model ini, usaha para siswa untuk belajar terwujud dengan baik.
Berbeda halnya dalam pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional yang bercirikan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered). Pada model pembelajaran konvensional guru lebih banyak mendominasi kegiatan pembelajaran. Informasi dalam pembelajaran konvensional kebanyakan diperoleh dari pengetahuan guru. Hal itu menyebabkan guru memegang kendali pemikiran dalam pembelajaran konvensional (Coleman dalam Santyasa, 2005:36). Informasi itu disampaikan dengan berbagai teknik pembelajaran ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh kelas. Hal tersebut membuat siswa cenderung pasif dan hanya mencatat, mendengarkan sesuai perintah guru tanpa berupaya untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari. Siswa berperan sebagai pendengar dan mengerjakan apa yang diperintah guru serta melakukannya sesuai dengan yang dicontohkan. Pembelajaran yang demikian kurang memberikan pengalaman dan tantangan baru bagi siswa sehingga siswa
cepat merasa bosan, serta mengurangi motivasi dan minat siswa untuk belajar. Pada akhirnya akan mengakibatkan keterampilan menulis deskripsi siswa menjadi kurang masksimal.
Temuan di atas diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Tri Ariani (2012) bahwa keterampilan menulis puisi siswa mengalami peningkatan dengan penerapan model pembelajaran resolution conflict. Peningkatan hasil dan aktivitas keterampilan menulis puisi siswa dikarenakan model pembelajaran resolution conflict yang diterapkan dapat mengubah situasi belajar yang tadinya masih berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru saja melainkan juga berpusat pada siswa. Siswa dapat lebih leluasa untuk belajar dengan memikirkan permasalahan yang dibahas secara mandiri terlebih dahulu kemudian mendiskusikan pemikiran dengan kelompok dan akhirnya dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Penelitian yang dilakukan oleh Yeni Sugiarti (2013) mendapatkan kesimpulan bahwa, model pembelajaran resolution conflict memberikan kontribusi positif terhadap keterampilan menulis bahasa Indonesia siswa kelas V dengan nilai thitung = 4,4018 dan ttab = 2,000. Senada dengan penelitian Murni Lestari (2014) yang mengungkapkan, terdapat terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional tahun ajaran 2014 dengan nilai thitung = 3,94 dan ttab = 2,000. Penelitian oleh Supriyono (2011) mengungkapkan strategi resolution conflictmampu mengembangkan perangkat pembelajaran matematika.
Perbedaan pembelajaran antara model pembelajaran resolution conflict dan model pembelajaran konvensional tentunya akan memberikan dampak yang berbeda pula terhadap keterampilan menulis deskripsi siswa. Penerapan model pembelajaran resolution conflict dalam pembelajaran menjadikan siswa
untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran, memperoleh pengetahuan baru dan menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari tanpa harus selalu tergantung pada guru, mampu mengembangkan kreatifitasnya dalam hal menulis. Siswa menjadi lebih tertantang untuk belajar memperkaya ide dan membiasakan diri untuk terlatih dalam membuat tulisan deskripsi. Dengan demikian, keterampilan menulis deskripsi siswa yang diajar dengan model pembelajaran resolution conflict akan lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan analisis hipotesis serta pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas V yang signifikan di SD gugus III Kecamatan PekutatanKabupaten Buleleng antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran resolution conflict dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran konvensional.
Dari rata-rata (X ) hitung, diketahui X kelompok eksperimen adalah 86,3 dan X kelompok kontrol adalah 58,87. Hal ini berarti, X eksperimen >X kontrol. Berdasarkan hasil temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran resolution conflictberpengaruh positif terhadap keterampilan menulis deskripsi siswa kelas V di Gugus III Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan antara lain: (1) Siswa-siswa di SD agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan terus mengembangkan pemahaman, keterampilan serta pengetahuan yang telah dimiliki melalui kegiatan menulis dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. (2) Guru yang menemukan permasalahan yang sama dengan penelitian ini khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia disarankan agar menggunakan
model pembelajaran resolution conflict untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa.(3) Kepala sekolah agar menyarankan kepada guru menggunakan model pembelajaran resolution conflict untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa serta meningkatkan pengelolaan pembelajaran di sekolah dasar.(4) Peneliti lain yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran resolution conflict agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami, diantaranya masalah waktu pelaksanaan penelitian dan biaya yang digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: PT Refika Aditama.
Agung, A.A. Gede. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Singaraja: Aditya Media Publishing.
Arini, dkk. 2006. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Singaraja: Undiksha.
Arini, dkk. 2010. Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Singaraja: Undiksha.
Candiasa, I Made. 2010. Pengujian Instrumen Penelitian Disertai Aplikasi Iteman dan Bigsteps. Singaraja: Unit Penerbitan Universitas Pendidikan Ganesha. Dalman.2016. Keterampilan Menulis.
Jakarta: Rajawali Press.
Dibia, dkk. 2007. Pendidikan Bahasa Indonesia. Singaraja: Undiksha. Huda, Miftahul. 2013. Model-Model
Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jano Ariasa, I Gede. 2015. Pengaruh
Model TTW Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa SD Kelas IV. Jurnal Ilmiah PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD Volume : 3 No : 1 Tahun 2015.
Koyan, I Wayan. 2011. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Singaraja: Undiksha Press.
Koyan. I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Singaraja: Undiksha Press.
Murni Lestari, Dewa Ayu. 2014. Pengaruh Penerapan Model pembelajaran TTW Terhadap Hasil Belajar Bahasa. Jurnal Ilmiah PGSD Universitas PendidikanGanesha Jurusan PGSD Volume : 2 No : 1 Tahun 2014.
Saddhono, Kundharu dan Slamet. 2014: Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Santyasa, I Wayan. 2005. Belajar dan Pembelajaran. IKIP: Singaraja Setyosari, Punaji. 2015. Metode Penelitian
Pendidikan. Jakarta: Kencana. Shoimin, Aris. 2014. 68 Model
Pembelajaran Inovatif dalam
Kurikulum 2013.
Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press
Supriyono. 2011. Developing Mathematical Learning Device Using Ttw (Think-
TalkWrite) Strategy Assisted By Learning Cd To Foster Mathematical Communication. Tersedia pada http://uny.ac.id/932/1/P%20-%208.pdf (diakses tanggal 26 maret 2017).
Tri Ariani, Ni Putu. 2013. Pengaruh Strategi Pembelajaran resolution conflict Terhadap Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V Semester II SD Di Gugus IX. Jurnal Ilmiah PGSD Universitas Pendidikan
Ganesha Jurusan PGSD Volume : 1 Tahun 2013.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tersedia padahttp://sindikker.dikti.go.id/dok/ UU/UU20-2003-Sisdiknas.pdf.
(diakses tanggal 3 januari 2017).
Yeni Sugiarta, Ni Luh Putu. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran TTW (resolution conflict) Berbantuan Media Gambar Berseri Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus 1 Kecamatan Kediri. Jurnal Ilmiah PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD Volume : 2 No : 1 Tahun 2014.