STRATEGI MENGAJAR GURU PAI DALAM PENGELOLAAN KELAS UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR
SISWA DI SMP NEGERI 1 TOMBARIRI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam ( PAI ) Program Studi Pendidikan Agama Islam pada
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado
Oleh:
SUMIATI TANAIYO NIM. 10.2.3.132
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) MANADO
ii
Agama Islam pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado menyatakan bahwa skripsi yang berjudul“Strategi Mengajar Guru PAI dalam pengelolaan Kelas Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SMP Negeri 1 Tombariri”benar adalah skripsi karya penyusun sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, apalagi tanpa izin yang mempunyai hak atau di buat orang lain secara keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya, batal demi hukum.
Manado, 18Juni 2015 penulis
iii
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul “(Strategi Mengajar Guru PAI Dalam Pengelolaan Kelas Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SMP Negeri 1
Tombariri)”,yang disusun oleh Sumiati Tanaiyo, NIM: 10.2.3.132 mahasiswi Program studi Pendidikan Agama Islam ( PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Manado, telah diuji dan dipertahankan dalam sidang munaqasyah yang diselenggarakan pada hari Kamis, 15 Oktober 2015, dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana S.Pd.i, Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam ( PAI ), dengan beberapa perbaikan.
Manado, 17 Nov 2015 02 Muharram 1437 H
DEWAN PENGUJI
Ketua : Dr.Muh.Idris. M.Ag (...) Sekretaris : Drs.Ishak Talibo.M.Pd.I (.………..………...) Munaqisy I : Drs.Ishak Talibo. M.Pd.I (………..) Munaqisy II : Dr.Hj.Nurhayati. M.Pd.I (...) Pembimbing I : Mustafa ,M.Pd.I, (...) Pembimbing II : Shinta Nento ,M.Pd. (...)
Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Manado
iii
dan menetapkan hukum untuk mereka. Memohon pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk kepadanya. Semoga Allah memberikan rahmat, berkah, dan keselamatan kepadaku, keluarga beserta orang-orang memperjuangkan agama Allah. Amin Ya Rabbal Alamin.
Salam dan salawat senantiasa kukirimkan buat baginda Muhammad SAW. Putra padang pasir yang membentangkan permadani-permadani kebenaran untuk melawan kebatilan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, berkah dan keselamatan baginya, keluarga beserta sahabat beliau.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimah kasih kepada:
1. Dr. Rukmina Gonibala, M.Si selaku Rektor IAIN Manado. 2. Dr. Yasin Jetta, selaku Wakil Rektor I bidang Administrasi.
3. Dr. Yusno Abdullah Otta, M.Ag selaku Wakil Rektor II bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga.
4. Dr. Evra William, M.Pd, selaku Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan 5. Dr. Muh. Idris, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah
iv
7. Elsje J. Johannis, S.Pd sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Tombariri dan semua teman-teman guru yang ada di SMP Negeri 1 Tombariri yang telah membantu dalam pengambilan data pada skripsi ini.
8. Para dosen yang tidak dapat disebut satu persatu oleh penulis yang telah memberikan ilmunya selama ini dan segenap Civitas akademika IAIN Manado. 9. Kepala perpustakaan IAIN Manado beserta seluruh pegawainya,yang telah
memberikan fasilitas kepada penulis terutama literatur-literatur yang berhubungan dengan skripsi ini.
10. Kedua orang tua tercinta, ayahanda Alm. Ibrahim Tanaiyo dan Ibu Kadikem serta Aba Hamka Naya yang tanpa pamrih telah memenuhi kebutuhan penulis sejak penulis lahir sampai sekarang ini ketika penulis awal studi sehingga menyelesaikan skripsi ini.
11. Adik-adikku serta semua saudara dan keluarga Jamila Tanaiyo, Asmar Tanaiyo, Atika Naya ,Ramla Huladu ,Amalia Pua , serta keluarga yang lainnya penulis tidak sempat sebutkan satu-persatu yang telah memberikan support sehingga penulis tetap bersemangat menyelesaikan studi di IAIN Manado.
Akhirnya penulis hanya bisa mendoakan semoga Allah membalas amal kebaikan semuanya dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan pembaca pada umumnya, Amin Ya Rabbal Alamin.
Manado, 18 Juni 2015 Penulis
vii
B. Strategi Guru dalam Pembelajaran ... 20
C. Komponen Strategi Pembelajaran... 26
D. Pengelolaan Kelas... 33
E. Pendekatan dan Prinsip Pengelolaan kelas... 35
1. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas... 35
2. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas ... 37
F. Minat Belajar Siswa……….. 43
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 44
B. Lokasi Penelitian... 44
C. Teknik Pengumpulan Data ... 45
D. Sumber Data ... 46
E. Pengecekan Keabsahan data... ... 47
F. Teknik Analisis Data... 48
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 49
viii
3. Kendala-Kendala yang dihadapi guru PAI dalam pengelolaan Kelas ... 55
4. Solusi-Solusi yang diberikan guru PAI dalam pengelolaan kelas... 60
5. Implikasi Penelitian ……….. 61
B. Pembahasan ……… 62
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 63
B. Saran-Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN-LAMPIRAN
ix
Tabel 1.4 Keadaan Sarana/Prasarana 45
Tabel 2.4 Keadaan Ruang Menurut Jenis dan Kondisi 45
Tabel 3.4 Laporan Keadaan Siswa 46
x ABSTRAK
NAMA : SUMIATI TANAIYO
NIM : 10.2.3.0
JURUSAN : TARBIYAH
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JUDUL : STRATEGI MENGAJAR GURU PAI DALAM
PENGELOLAAN KELAS UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 1 TOMBARIRI Skripsi ini adalah sebuah karya ilmiah dengan judul “Strategi Mengajar Guru PAI dalam Pengelolaan Kelas Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SMP Negeri Tombariri” alasan penulis mengangkat judul ini karena penulis melihat bahwa
pengelolaan kelas yang ada di SMP Negeri Tombariri yang dilakukan oleh guru PAI belum baik, sehingga penulis ingin lebih mengetahui seperti apa strategi yang digunakan untuk pengelolaan kelas untuk meningkatkan minat belajar siswa yang ada di SMP Negeri Tombariri.
Untuk menjawab rumusan masalah tersebut maka penulis menggunakan metode penelitian lapangan yang bertitik tolak pada metode deskriptif kualitatif, di mana penulis berusaha melukiskan fenomena yang terjadi berdasarkan fakta/kenyataan yang ada berupa kata-kata dan bukan angka. Penggunaan strategi dalam menunjang dalam pengelolaan kelas untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah menggunakan sesuai dengan materi dan penggunaan strategi pembelajaran yaitu konstektual yang meliputi tujuh strategi yaitu: contructivisme (guru memberikan motivasi untuk membangun minat siswa dalam proses pembelajaran, inkuiri (siswa diberikan motivasi oleh guru supaya dapat menemukan sendiri materi/bahan pelajaran yang dimaksud, Questioning atau bertanya (siswa diwajibkan untuk bertanya setelah pelajaran telah selesai dijelaskan oleh guru), Learning Comunity atau masyarakat belajar (dengan belajar berkelompok dapat tercipta kooperatif dan dapat mengaplikasikan hasil belajar kepada teman, Autentik yaitu memberikan penilaian untuk menguji materi pelajaran yang sudah diajarkan, Refleksi yaitu siswa dapat merefleksi materi yang sudah diajarkan dalam kehidupan sehari-hari dan Modeling atau pemodalan (melalui pembelajaran siswa dapat menjadi model yang boleh merangsang siswa lain ataupun masyarakat baik keterampilan ataupun tingkah laku
1 A. Latar Belakang
Dalam suatu pembelajaran Guru di tuntut akan kaya ilmu mendidikan dan kaya akan strategi dalam belajar mengajar agar dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. Pendidikan disekolah merupakan lanjutan dari pendidikan yang terdapat dalam rumah tangga. Peserta didik sebelum masuk sekolah banyak pengalaman yang di terimah di rumah dari orang tua dan saudarahnya serta seluruh anggota keluarga.Karenanya, anak datang ke sekolah itu bermacam-macam.Merek mempunyai pembawaan sendiri-sendiri, mempunyai tingkah laku yang berbeda-beda, kondisi fisik yang berbeda-beda kemampuan berfikir yang berbeda-beda, dan mempunyai keluarga berbeda-beda.1
Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam kegiatan mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Metode pembelajaran merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghadapi masalah tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode yang efektif dan efisien, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran.
2
Maka dalam kegiatan pembelajaran di samping guru di tuntut kaya akan strategi yang akan di gunakan, guru harus juga memiliki kemampuan dasar (basic ability). Kemampuan dasar merupakan kemampuan yang dipilih sesuai dengan minat masing-masing tenaga kependidikan. Kemampuan tersebut adalah sebagai berikut:2
1. Memahami dan mampu mengidentifikasi anak luar biasa.
2. Memahami konsep dan mampu mengembangkan alat asesmen serta melakukan asesmen anak berkelainan.
3. Mampu merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran bagi anak berkelainan.
4. Mampu merancang, melaksanakan dan mengevaluasi program bimbingan dan konseling anak berkelainan.
5. Mampu mengembangkan kurikulum.
6. Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek medis dan implikasinya. 7. Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek psikologi dan implikasinya. 8. Mampu melakukan penelitian dan pengembangan.
9. Memiliki sikap dan perilaku empati terhadap anak berkelainan. 10. Memiliki sikap profesional.
Dari kemampuan dasar yang disebutkan di atas, kiranya sangatlah penting dimiliki oleh setiap guru yang ingin mengemban amanah sebagai pendidik juga
sebagai orang tua bagi peserta didik yang nantinya bahkan mengayomi terutama dalam masalah pembelajaran disekolah.
Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana disebutkan di atas, diperlukan dukungan metode pendidikan yang tepat, diharapkan dapat memperlancar keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga guru memerlukan beberapa tujuan untuk mencapainya, maka ia perlu mengenal dan menguasai dengan baik sifat-sifat dari setiap metode penyajian sehingga ia mampu pula mengkombinasikan penggunaan beberapa metode penyajian tersebut, sekaligus untuk mencapai beberapa tujuan yang telah dirumuskannya itu, dan tidak terasa kalau antara perubahan dari metode yang satu ke metode yang lain.3
Di dalam suatu proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah pendidik selalu dituntut untuk belajar dan membaca, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Falaq/96: 1-5, yang berbunyi:
Terjemahannya:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptkan, dialah telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah yang mengajar dengan kalam. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui.4
Dalam hal ini maka kelas adalah tempat anak didik belajar, sebagian besar waktu belajar formal dari anak berlangsung di dalam kelas.Agar kegiatan belajar berlangsung efektif dan efisien, maka kelas harus dikelola secara baik oleh guru. Dengan demikian, maka tugas guru yang paling utama adalah menciptakan
3Roestivah N.K., Strategi BelajarMengajar, (Jakarta: Rineka Cipta. 1991), h. 3.
4Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya(Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), h.
4
suasana kelas yang menunjang terlaksananya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, tanpa kemampuan dan keterampilan guru mengelola kelas, maka kegiatan pengajaran tidak akan berlangsung baik dan mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Kondisi belajar yang optimal hanya mungkin dicapai jika kedisiplinan belajar mengajar terlaksana dengan baik serta mampu mengatur siswa, sarana pengajaran, dan mengendalikan sarana itu dalam suasana yang menyenangkan untuk berlangsungnya kegiatan-kegiatan instruksional. Kondisi belajar yang menyenangkan akan memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang optimal pula. Dengan kata lain, kondisi belajar yang optimal merupakan syarat mutlak untuk berlangsungnya kegiatan belajar optimal untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan.
Sebagaimana diketahui bahwa disiplin merupakan hukuman, pengawasan dan latihan untuk membenarkan dan menguatkan tingkah laku.Namun dalam implikasinya pengertian disiplin itu bertujuan untuk menciptakan disiplin diri sendiri dan membuat setiap individu untuk dapat melakukan sendiri pengontrolan dan pengarahan diri sendiri.
masing-masing guru memiliki kemampuan khusus.Kemampuan adalah sebagai berikut.5
1. Mampu melakukan modifikasi perilaku.
2. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan penglihatan.
3. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan /kelainan pendengaran.
4. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan intelektual.
5. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan anggota tubuh dan gerakan.
6. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/perilaku dan sosial.
7. Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan kesulitan belajar.
Dari beberapa kemampuan khusus yang sudah disebutkan di atas, maka sebagai penulis kiranya sangatlah penting harus memiliki semua guru yang nantinya akan menjadi panutan bagi siswa tersebut bukan hanya di dalam sekolah saja tapi bagaimana berdampak di luar pergaulan anak dalam hal ini di lingkungan sosialnya. Itulah guru yang berhasil karna sampai di luar sekolah dirinya tetap di senangi karna perangainya dengan siswa sangat baik.
6
Penilain kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan menentukan kenaikan kelas. Banyak resep untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, dimana para peserta didik dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah ia menerima pengalaman pembelajaran. Sejumlah pengalaman yang diperoleh peserta didik mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran karena akan memberikan sebuah informasi kepada guru tentang kemajuan peserta didik dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui proses kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya setelah mendapat informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan peserta didik lebih lanjut baik untuk individu maupun kelompok belajar.6
Setiap proses belajar mengajar yang dilaksanakan senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Kalau guru sudah berusaha seoptimal mungkin menciptakan kondisi baik untuk belajar, tetapi hasil belajar yang diperoleh masih belum maksimal, hal itu disebabkan oleh proses itu
6E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005),
sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor yang otomatis berpengaruh pula terhadap aktivitas belajar siswa.7
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilatator dapat dilakukan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik.8
Sedangkan dalam penggunaan suatu metode pembelajaran harus memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Metode yang digunakan dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar murid.
2. Metode yang digunakan dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian murid.
3. Metode yang digunakan dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mewujudkan hasil karya.
4. Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut melakukan eksplorasi dan inovasi.
5. Metode yang digunakan dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh ilmu pengetahuan melalui usaha pribadi. 6. Metode yang digunakan dapat meniadakan penyajian yang bersifat
verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata dan bertujuan.
7
htt://id.shvoong.com/social-sciences/education/2249026-ciri-metode-pembelajaran-diakses pada tanggal 10 Februari pkl 09 wita tahun 2014
8
7. Metode yang digunakan dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai serta sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.9
Dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa suatu metode yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar bisa dikatakan baik jika metode itu bisa mengembangkam potensi peserta didik.
Salah satu tempat paling istimewa bagi seseorang untuk belajar tentang ilmu pengetahuan adalah sekolah, oleh sebab itu sekolah sering disebut sebagai tempat menimbah ilmu.Sekolah suatu kesatuan sistem organisasi yang terdiri dari beberapa kelas. Pengembangan sekolah sebagai suatu kesatuan organisasi sangat tergantung dari penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Di kelas, segala penyelenggaraan dan pengelolaan kelas terpadu dan berproses demi mencapai pendidikan yang maksimal terhadap peserta didik. Hal ini menjelaskan bahwa apabila pengelolaan kelas tidak terkelolah dengan baik maka peserta didik akan memiliki prestasi yang kurang baik pula, akan tetapi, bila sekolah atau kelas terkelolah dengan baik maka akan membawakan hasil yang baik pula.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam mengelola kelas itu sendiri.Banyak strategi yang bisa di gunakan oleh guru dalam masalah pembelajaran demi kelanggungan pembelajaran.
9http/www//strategi-guru-mengajar.com di akses pada 11 febuari pkl 13.00 wita tahun
Guru sadar tanpa mengelola kelas dengan baik, maka akan menghambat kegiatan belajar mengajarnya. Itu sama saja membiarkan jalannya pengajaran tanpa membawa hasil, yaitu mengantarkan anak didik dari tidak tahu menjadi tau, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak berilmu menjadi berilmu. Tentu tidak diragukan bahwa setiap kali masuk kelas guru selalu melaksanakan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan pengelolaan kelas produknya harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
10
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah dan membatasinya, rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana strategi mengajar guru PAI dalam melakukan pengelolaan kelas di SMP Negeri 1 Tombariri?
2. Bagaimana strategi guru PAI dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMP Negeri I Tombariri?
3. Apa saja hambatan dan solusi strategi mengajar guru PAI dalam pengelolaan kelas untuk meningkatkan minat belajar siswa di SMP Negeri I Tombariri?
C. Pengertian Judul
Pengertian judul digunakan penulis, agar para pembaca tidak keliru juga dapat memahami secara jelas makna yang terkandung dalam variabel penelitian skripsi yang berjudul “Strategi Mengajar Guru PAI Dalam Pengelolaan Kelas Untuk Meningkatkan Minat Belajar SiswaDi SMP Negeri 1 Tombariri”untuk itu penulisan berupaya menjelaskan beberapa istilah, pengertian kata terminologi, dan pengertian berdasarkan definisi tokoh dan pakar pendidikan.10
1. Strategi adalah cara yang di gunakan oleh seseorang mencapai hasil yang di inginkan. Strategi belajar adalah metode yang di pakai oleh seorang
10S. Nasution, Metode Research: penelitian Ilmiah, (cet.II; Jakarta: Bumi Aksara, 1996),
guru dalam proses pembelajaran dengan memahami segala tingkah-laku peserta didik.11
2. Guru Agama Islam merupakan aparat fungsional yang secara langsung melaksanakan tugas mengajar mata pelajaran pendidikan agama islam di sekolah umum sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang telah di tetapkan.12
3. Guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengembangkan kepribadian siswa atau sekarang lebih dikenal dengan karakter siswa. Penguasaan kompetensi kepribadian yang memadai dari seorang guru akan sangat membantu upaya pengembangan karakter siswa. Dengan menampilkan sebagai sosok yang bisa di-gugu (dipercaya) dan ditiru, secara psikologis anak cenderung akan merasa yakin dengan apa yang sedang dibelajarkan gurunya. Misalkan, ketika guru hendak membelajarkan tentang kasih sayang kepada siswanya, tetapi di sisi lain secara disadari atau biasanya tanpa disadari, gurunya sendiri malah cenderung bersikap senonoh, mudah marah dan sering bertindak kasar, maka yang akan melekat pada siswanya bukanlah sikap kasih sayang, melainkan sikap tidak senonoh itulah yang lebih berkesan dan tertanam dalam sistem pikiran dan keyakinan siswanya.
11Ivor K Davis, pengelolaan belajar, (Jakarta: PT. CV Rajawali, 1991), h. 291
12Hardija Paraba, Wawasan Tugas Tenaga Guru dan pembina pendidikan Agama Islam,
12
4. Pengelolaan kelas adalah aktivitas yang dilakukan oleh guru yang dibekali beragam-ragam strategi yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar pada sekolah tertentu atau instansi yang di abdinya. 5. Minat Belajar :adalah .kecenderungan jiwa kepada sesuatu, karena kita
merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu, pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu.13
6. Siswa :Siswa adalah murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah14 atau orang atau sekelompok orang yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaan pada jalur pendidikan formal maupun nonformal pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Dari pengertian di atas maka penulis dapat mendefinisikan bahwa strategi mengajar guru pai dalam pengelolaan kelas untuk meningkatkan minat belajar siswa merupakan interaksi atau kontak antara individu. Di mana adanya interaksi ini sehinggah proses kegiatan belajar mengajar dapat berjalan denga lancar dan selalu tidak kehabisan strategi demi motivasi anak didik agar semangat dan dapat memahami pelajaran yang di sajika oleh guru itu sendiri dan suatu interaksi positif yang terjadi pada setiap guru yang nantinya akan di sebut guru profesional, karna mampu mengelola kelas dengan baik.
13http://nandangzulfikar9d.blogspot.com/p/pengertian-siswa.html, di akses pada
hari/tanggal, Kamis, 13 Februari 2014 pada jam 18.25.
14W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VIII; Jakarta: Balai
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui strategi guru PAI dalam pengelolaan kelas di SMP Negeri I Tombariri.
2. Untuk mengetahui strategi guru PAI dalam meningkatkan minat belajar siswa.
3. Untuk mengetahui kendala dan solusi yang dialami guru PAI dalam melakukan pengelolaan kelas di SMP Negeri I Tombariri.
E. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan yang dapat diperoleh dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan ilmiah yaitu dapat menjadi konstribusi bagi penelitian lanjutan yang ingin mengembangkan penelitian secara komprehensif.
14 BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Strategi, Metode dan Pendekatan dalam Pembelajaran
Sebelum lebih lanjut membahas tentang strategi pembelajaran maka terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang, startegi, metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Strategi berasal dari kata Yunani, strategia, yaitu ilmu perang atau panglima perang.Berdasarkan arti kata tersebut, strategi adalah suatu keterampilan mengatur kejadian atau peristiwa atau kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.1
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan maksud yang tidak selalu sama. Strategi dapat diartikan sebagai segala cara dan daya untuk menghadapi sasaran tertentu dalam kondisi tertentu agar memperoleh hasil secara maksimal.Strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.2
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
1Isriani Hardini dan Dewi Puspitasari, Strategi Pembelajaran Terpadu (Teori, Konsep dan Implementasi), (Cet. I: Yogyakarta: Familia, 2012), h. 11
2Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Cet. I; Jakarta: Kencana,
optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan yang menunjuk pada suatu perencanaan untuk mencapai sesuatu pembelajaran.3
Setiap guru harus mempersiapkan metode yang tepat sebelum melaksanakan proses pembelajaran karena tidak semua metode cocok digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Sedangkan pendekatan adalah Pendekatan (approach) memiliki pengetahuan yang berbeda dengan strategi. Pendekatan bersifat filosofis paradikmatik, yang mendasari aplikasi strategi dan metode.Pendekatan adalah pola/cara atau dasar pandangan terhadap sesuatu.
Pendekatan dapat dioptimalisasikan dalam sejumlah strategi.Sedangkan, strategi adalah pola umum pembuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.Strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode.4
Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Sedangkan strategi sendiri merupakan pola umum perbuatan guru peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran.
Pendekatan merupakan dasar penentuan strategi yang akan diwujudkan dengan penentuan metode sedangkan metode merupakan alat yang digunakan
3Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, Cet. I (Jakarta: Kencana,
2013), h. 205.
4http://zaifbio.wordpress.com/pendekatan-pembelajaran/diakses pada tanggal 10
16
dalam pelaksanaan strategi pembelajaran. Jadi, pendekatan lebih luas cakupannya dibandingkan strategi.
Kegiatan belajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan.Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan siswa.Guru yang mengajar dan siswa yang belajar dan menerima pelajaran dari guru.
Sedangkan istilah pembelajaran, dalam khazanah ilmu pendidikan, sering disebut juga dengan pengajaran atau proses belajar mengajar. Dalam bahasa inggris disebut dengan teaching atau teaching dan learning.5 Maka di bawah ini beberapa pengertian pembelajaran manurut para ahli, yaitu:
1. Manurut Syaiful Sagala, pembelajaran adalah membelajarkan siswa dengan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan dan merupakan komunikasi dua arah yaitu mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh pesera didik.
2. Menurut Corey, pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
3. Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.6
Dengan demikianpembelajaran adalah suatu proses interaksi antara guru dan siswa yang berisi berbagai kegiatan yang bertujuan agar terjadi proses belajar
5Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran dari Desain sampai Implementasi
(Cet. I; Yogyakarta: PT. Pustaka Insani Madani, 2012), h. 7
(perubahan tingkah laku) pada diri siswa yang mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas yang diberikan oleh guru.
Strategi pembelajaran adalah rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa pengertian dari strategi pembelajaran menurut pendapat ahli, yaitu:
a. Menurut Kemp; strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.
b. Menurut Kozma; startegi pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dipilih, yaitu dapat memberikan fasilitas dan bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
c. Menurut Gerlach dan Ely; startegi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.
d. Menurut Dick dan Caret; strategi pembelajaran merupakan seluruh komponen materi dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.7
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang didesain oleh guru termasuk di dalamnya pemilihan metode, materi, dan pemanfaatan berbagai sumber daya/media dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
7Zainal Arifin dan Adhie Setiyawan, Pengembangan Pembelajaran Aktif dengan ICT
18
Ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yang meliputi hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi serta menerapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian siswa sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan pembelajaran berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilam sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.8
Strategi belajar digambarkan sebagai sifat, tingkah laku yang tidak teramati, atau langkah nyata yang dapat diamati karena strategi merupakan suatu rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu tujuan dalam proses pembelajaran.
Pemahaman dan penguasaan tentang strategi pembelajaran penting bagi guru karena sangat membantu dalam melaksanakan tugasnya.Kegiatan
8Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Cet. I; Jakarta: Rineke Cipta,
pembelajaran yang dilakukan tanpa strategi, berarti melakukan kegiatan tanpa pedoman dan arah yang jelas, yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang pada gilirannya tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Dalam konteks pembelajaran, maka strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan siswa dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Ahmad Sabri mengemukakan, bahwa dalam konteks pembelajaran, strategi diartikan sebagai upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan belajar yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan efektif.9
Seorang guru hendaknya memahami bahwa mengajar adalah tugas atau pekerjaan yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan sehingga tidak dapat dilakukan dengan baik oleh siapapun guru tanpa persiapan sekalipun telah perpengalaman bertahun-bertahun.Salah satu diantara persiapan yang dimaksud itu adalah menentukan strategi yang digunakan dalam pelaksanakan pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya. Guru diharapkan mengembangkan atau mencari strategi lain yang dipandang lebih tepat. Sebab, pada dasarnya tidak ada strategi yang paling ideal. Masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri.Hal ini sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai.
9Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching (Cet. I; Jakarta: Ciputat
20
Mengingat belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri, maka kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif yaitu mengamati, bertanya dan menjelaskan.
B. Strategi Guru dalam Pembelajaran
Di dalam konteks belajar-mengajar strategi pembelajaran sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan. Strategi pada intinya adalah langkah-langkah terencana dan bermakna luas dan mendalam yang dihasilkan dari sebuah proses pemikiran dan perenungan yang mendalam berdasrkan pada teori dan pengalaman tertentu.
Kriteria atau bentuk strategi pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 5 yaitu: Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction), Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (inderect instruction), Strategi Pembelajaran Interaktif (interactive instruction), Strategi Pembelajaran Melalui Pengalaman (experiental learning), Strategi Pembelajaran Mandiri (inpendent learning).10 Oleh karena itu, guru dapat memilih strategi pembelajaran antara lain sebagai berikut:
10http://zaifbio.wordpress.com/konsep dasar-strategi pembelajaran, diakses pada
1. Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction)
Startegi pembelajaran langsung merupakan strategi yang berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan.Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran ekspilit, praktik dan latihan, serta demonstrasi.Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah.Disini tampak kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru.Peserta didik lebih banyak menyimak, memperhatikan aktifitas guru.11
Strategi pembelajaran langsung ini dirancang untuk mengenalkan siswa terhadap mata pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang mereka berpikir. Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru.Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap.
Strategi pembelajaran langsung melalui berbagai pendekatan secara aktif merupakan cara untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru dapat menggunakannya untuk menilai tingkat pengetahuan siswa sambil melakukan kegiatan pembentukan tim.12
Kelebihan strategi pembelajaran langsung adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang
11Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas (Cet. I; Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010), h. 39.
12Suryanti, dkk, Model-Model Pembelajaran Inovatif (Cet. I; Surabaya: Unesa, 2008), h.
22
diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, startegi pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.
2. Strategi Pembelajaran tidak Langsung (inderect instruction)
Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person). Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.Di sini siswa tampak lebih aktif dan lebih komunikatif.
Kelebihan dari strategi ini antara lain: (a) mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik, (b) menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah, (c) mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang lain, (d) pemahan yang lebih baik, (e) mengekspresikan pemahaman. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang dan tidak cocok apabila siswa perlu mengingat materi dengan cepat.13
13http://zaifbio.wordpress.com/konsep dasar-strategi pembelajaran, diakses pada
Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi siswa dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis.
3. Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara siswa. Diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dan berpikir. Strategi pembelajaran interaktif melibatkan proses pembelajaran antara guru dan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan lingkungan sekitar. Guru harus mampu membangun suasana kelas dari berbagai arah yang meningkatkan minat siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.14
Dalam pembelajaran interaktif guru mengarahkan siswa untuk selalu aktif. Guru dituntut tidak hanya menguasai secara mendalam materi pembelajaran, tapi juga harus mengikuti perkembangan informasi agar pada saat proses pembelajaran berlangsung ketika ada siswa bertanya guru mampu menjawabnya dengan jawaban yang dapat dimengerti siswa.
Kelebihan strategi ini antara lain: (a) siswa dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, (b) mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional.
14Rudi Hartono, Ragam Model Mengajar yang Mudah Diterima Murid (Cet.I;
24
Sedangkan kekurangannya adalah sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.15
Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif. Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama siswa secara perpasangan.
4. Strategi Pembelajaran Melalui Pengalaman
Strategi pembelajaran melalui pengalaman menggunakan bentuk induktif yang berpusat pada siswa, dan beriorentasi pada aktivitas. Penekanan dalam strategi pembelajaran ini melalui pengalaman adalah proses belajar, dan bukan hasil belajar. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik dan efektif.16
Kelebihan dari strategi ini antara lain: (a) meningkatkan partisipasi peserta didik, (b) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (c) meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.17
15Ibid, h. 29.
16Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Perencanaan Sistem Pembelajaran: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Cet. II (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 117.
Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.
5. Strategi Pembelajaran Mandiri
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri.Strategi pembelajaran mandiri merujuk kepada penggunaan metode-metode pembelajaran yang tujuannya adalah mempercepat pengembangan inisiatif individu siswa, percaya diri, dan perbaikan diri.Fokus strategi belajar mandiri ini adalah merencanakan belajar mandiri siswa di bawah bimbingan atau supervisi guru.Belajar mandiri menuntut peserta didik untuk bertanggungjawab dalam merencanakan dan menetukan kecepatan belajarnya.
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggungjawab. Sedangkan kekurangnnya adalah peserta dalam proses belajar dalam hal ini adalah siswa yang belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.18
Pembelajaran mandiri pada siswa sangat membantu guru dalam proses pembelajaran yang berlangsung dalam kelas karena dengan adanya materi yang diberikan atau tugas siswa bisa mengerjakannya tepat waktu karena sifat mandiri dimilikinya.
18http://zaifbio.wordpress.com/konsep dasar-strategi pembelajaran, diakses pada
26
C. Komponen Strategi Pembelajaran
Ciri utama dari pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi yang terjadi antara siswa dengan lingkungan belajarnya, baik itu guru, teman, alat, media pembelajaran, dan sumber-sumber belajar yang lain. Sebagai suatu sistem, masing-masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh.Masing-masing komponen saling berinteraksi yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi.19
Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengaju pada seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain : guru, peserta didik, tujuan, bahan, metode, situasi dan evaluasi.20Dari keseluruhan komponen strategi pembelajaran di atas seorang guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan dan evaluasi saja, tetapi guru harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan. Maka komponen-komponen strategi pembelajaran akan dijelaskan satu persatu di bawah ini, yaitu:
19Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer: Mengembangkan Profesionalisme Guru Abad 21, Cet. II (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 118.
1. Guru
Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di dalam kelas yang bertanggung jawab dalam membantu anak didik mencapai kedewasaan masing-masing.21
Guru bukan hanya sekedar orang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pengetahuan (mata pelajaran) tertentu, akan tetapi guru adalah anggota masyarakat yang harus ikut dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.
2. Peserta didik
Peserta didik merupakan raw material (bahan mentah) di dalam proses transformasi yang disebut pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu dan merupakan orang yang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis yang merupakan ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.22 Peserta didik adalah komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.23
21Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul, Cet. I (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2009), h.
142-143.
22H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 77.
28
Dalam suatu pendidikan komponen yang paling penting adalah peserta didik. Tanpa peserta didik maka seorang guru tidak akan bisa menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di butuhkan peserta didik.
3. Tujuan
Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran.Untuk itu, dalam strategi pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajaran merupakan target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran.
Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan pembelajaran dengan sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik sehingga dengan nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosial, baik di sekolah maupun di luar sekolah.24
Dalam mencapai tujuan, maka kita harus benar-benar memperhatiakn kesinambungan setiap jenjang pendidikan dan pengajarnya. Oleh karena itu, guru dalam melakukan pengajaran, sekalipun hanya berupa beberapa materi bahan ajar, tidak boleh terlepas dari konteks tujuan yang akan di capai.
4. Bahan
Bahan merupakan sesuatu yang memiliki pesan untuk tujuan pengajaran yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan alat penampilan, seperti buku paket, audio-tape, peta, bola dunia dan grafik.25
Dalam proses pembelajaran seorang guru harus menyiapkan bahan pelajaran sebelum memulai materi pembelajaran di dalam kelas agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
5. Metode
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan yang menunjuk pada suatu perencanaan untuk mencapai sesuatu pembelajaran.26
Setiap guru harus mempersiapkan metode yang tepat sebelum melaksanakan proses pembelajaran karena tidak semua metode cocok digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu tindakan atau proses menentukan nilai-nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam
25Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Cet. II (Jakarta:
Kencana, 2009), h. 297.
26Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, Cet. I (Jakarta: Kencana,
30
dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.27
Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah ditetapkan.
7. Media pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif.28
Media pengajaran dapat membantu proses interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajar dan sebagai alat bantu bagi guru untuk menunjang penggunaan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Komponen-komponen pembelajaran adalah penentu dari keberhasilan proses pembelajaran. Komponen-komponen tersebut merupakan suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran
Komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran. Untuk lebih mempermudah menganalisa faktor yang berpengaruh terhadap strategi
27Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami (Cet. I; Jakarta: Refika Aditama, 2009), h. 17.
28Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, Cet. I (Jakarta:
pembelajaran, komponen startegi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : peserta didik sebagai raw input, entering behavior peserta didik, dan instrumental input atau sasaran. Maka akan dijelaskan satu-persatu di bawah ini :
a. Peserta didik sebagai raw input
Strategi pembelajaran digunakan dalam rangka membelajarkan peserta didik.Untuk itu dalam pembelajaran seorang guru harus memperhatikan siapa yang dihadapi. Peserta didik pada tingkat sekolah yang sama cenderung memiliki umur yang sama, sehingga perkembangan intelektual pada umumnya adalah sama. Di pandang dari kesamaan ini, maka seorang guru dapat menggunakan metode atau teknik yang sama dalam membelajarkan peserta didik. Namun demikian di samping persamaan tersebut, peserta masih mempunyai perbedaan-perbedaan walaupun pada umur yang relatif sama.29
Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-berbeda dilihat dari sisi pendengaran, penglihatan, kondisi fisik, bakat, minat, motivasi yang bisa mempengaruhi proses belajar siswa. sehingga diharapkan seorang guru dapat mempertimbangkan strategi yang akan digunakan sebelum memulai proses belajar mengajar.
b. Entering behavior peserta didik
Seorang pendidik untuk dapat menentukan strategi pembelajaran yang sesuai terlebih dahulu harus mengetahui perubahan perilaku, baik secara material, subtansial, struktural-fungsional, maupun secara behavior peserta didik. Guru
32
harus mengetahui tentang karakteristik perilaku peserta didik saat mereka mau masuk sekolah dan saat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku peserta didik yang dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar-mengajar.30
Penerimaan materi oleh siswa yang disampaikan oleh seorang guru tidaklah mudah, karena dilihat dari segi karakteristik yang berbeda-beda dalam menerima pelajaran. Terkadang ada siswa yang begitu cepat menangkap materi yang diberikan akan tetapi, ada juga yang susah untuk menangkap materi yang diberikan oleh seorang guru.
c. Instrumen Input atau sasaran
Instrumental input menunjukkan kualifikasi serta kelengkapan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pembelajaran. yang selanjutnya termasuk dalam instrumental input antara lain guru, kurikulum, bahan/sumber, metode dan media.31
Strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru akan selalu bergantung pada sasaran atau tujuan dan berhasilnya suatu proses pembelajaran oleh guru dan peserta didik itu sendiri.
30Ibid., h. 34.
D. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadi proses belajar mengajar. Yang termasuk dalam hal ini adalah, penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa atau penetapan norma kelompok yang produktif.32
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran.
32Syaiful Bahri Djamarah dan Aswin Zain, Strategi Belajar Mengajar (Cet. IV; Jakarta:
34
Ada beberapa pengertian pengelolaan kelas menurut para ahli, yaitu: 1. Menurut Suharsimi Arikunto; pengelolaan kelas adalah
pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan.33
2. Menurut Oemar Hamilik, pengelolaan kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru.34
3. Menurut Sudirman; pengelolan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.35
4. Menurut Hadari Nawawi; pengelolaan kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.36
Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran dan merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran dan mempertahankan ketertiban kelas. Dalam hal ini guru menciptakan, mempertahankan dan memelihara sistem/organisasi kelas.Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat dan energinya pada tugas-tugas individual.
33Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif (Cet.
II; Jakarta: Rajawali Press, 2000), h. 2
34Oemar Hamalik, Pendekatan Baru Strategi Belajar-Mengajar Berdasarkan CBSA (Cet.
I; Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 311
35Sudirman N, dkk, Ilmu Pendidikan (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h.
310.
36Hadar Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas (Cet. III; Jakarta:
Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan.Karena tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas, walaupun terkadang kelelahan fisik maupun pikiran dirasakan.Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah tergantung dalam tujuan pendidikan.Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasaan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.37
Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap siswa di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien.Setiap siswa terus bekerja artinya tidak ada siswa yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Sehingga seorang guru sangat diharapkan dalam membantu proses belajar siswanya di dalam kelas.
E. Pendekatan dan Prinsi-Prinsip Pengelolaan Kelas 1. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan siswa adalah faktor utama yang terkait langsung, karena pengelolaan kelas yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan belajar siswa baik secara berkelompok maupun secara
36
individual. Kaharmonisan hubungan guru dengan siswa, tingginya kerja sama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.38 Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
a. Pendekatan Kekuasaan; pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Peran guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
b. Pendekatan Ancaman; pengelolaan kelas adalah suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku siswa dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran dan memaksa.
c. Pendekatan Kebebasan; pengelolaan kelas diartikan suatu proses untuk membantu siswa agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.
d. Pendekatan Pengajaran; pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku siswa yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
e. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku; pendekatan ini menekankan pada peruban tingkah laku siswa. Peranan guru adalah
mengembangkan tingkah laku siswa yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
f. Pendekatan Proses Kelompok; pengelolaan kelas diartikan sebagai proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, dimana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peran guru adalah mengusahakan agar perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif.39
Dari pendekatan di atas seorang guru dapat memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannya untuk pengelolaan kelas sehingga kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efesien.
2. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Masalah pengelolaan kelas bukanlah merupakan tugas yang ringan.Berbagai faktorlah yang menyebabkan kerumitan itu.Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstrn.Faktor intern siwa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran dan perilaku.Kepribadian siswa dengan ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya secara individual.Sedangkan faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana
38
lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokkan siswa dan jumlah siswa di kelas.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat digunakan. Maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang akan diuraikan sebagai berikut:
a. Hangat dan Antusias; guru yang hangat dan akrab dengan siswa selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktiviatsnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan; penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c. Bervariasi; penggunaan alat bantu atau media, gaya mengajar guru yang bervariasi merupakan pola interaksi antara guru dan siswa akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa sehingga pengelolaan kelas dapat berjalan dengan efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan; keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
guru sebaiknya selalu mendorong siswa untuk melaksnakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.40
Dari prinsip-prinsip di atas diharapkan seorang bisa menggunakannya dengan baik apabila mengalami kesulitan dalam pengelolaan kelas. Guru harus disiplin dalam segala hal sehingga siswa dapat menirunya. Sehingga masalah-masalah yang terjadi dalam kelas bisa teratasi dengan baik sesuai harapan guru.
Keharmonisan hubungan guru dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas.Guru yang apatis terhadap siswa membuat siswa menjauhinya.Siswa lebih banyak menolak kehadiran guru.Rasa benci yang tertanam di dalam diri siswa menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima dengan baik.Kecenderungan sikap siswa yang negatif lebih dominan.
Lain halnya dengan guru yang selalu memperhatikan siswa, selalu terbuka, selalu tanggap terhadap keluhan siswa, selalu mau mendengarkan saran dan kritikan dari siswa adalah guru yang disenangi oleh siswa. Siswa rindu akan kehadirannya, siswa senang mendengarkan nasihatnya, siswa merasa aman disisinya, siswa senang belajar bersamanya dan siswa merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari diri guru tersebut. Figur seorang guru yang baik akan kurang menemui dalam mengelola kelas.
Bila begitu pengelolaan kelas yang efektif, maka itu berarti tugas yang berat guru adalah berusaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-permasalahan yang terkait dengan semua problem pengelolaan kelas, seperti
40
kurangnya kesatuan, tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, moral rendah dan kekeliruan yang sering terjadi antar sesama siswa. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari seorang guru agar bisa menciptakan suasana kelas bisa menjadi kondusif.
F. Minat Belajar Siswa
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.41
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas.Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar subjek tertentu.
Penelitian ini menyangkut masalah minat remaja.Ekspresi dari pada minat adalah munculnya sikap perilaku seseoranng.Dalam hal minat belajar, berarti sikap atau perilaku seseorang terhadap belajar, apakah perilaku individu itu positif dalam artian mau belajar, atau sebaliknya perilaku individu itu negative dalam artian tidak mau atau tidak tertarik belajar.
Pada bagian ini penelitian akan mengemukakan beberapa pengertian minat yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan dan ahli psikologi, antara lain:
41Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi (Cet. VI; Jakarta: Rineka
Ahmad D. Marimba, dalam bukunya yang berjudul “ Filsafat Pendidikan Islam”
mengemukakan, bahwa “minat adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu, pada umumnya disertai perasaan
senang akan sesuatu itu”42
H.C Witherington dalam bukunya Psychologi Pendidikan mengemukakan
bahwa “Minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek atau suatu situasi
mengandung atau tersangkut paut dengan dirinya”.43
A. Mursel H. M. Tahir mengemukakan bahwa “Minat adalah perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan”.44
Dimyati Mahmud, salah seorang dosen FIP IKIP Yokyakarta, perpendapat bahwa minat dapat ditafsirkan kepada dua alternatif yaitu:
1. Minat sebagai sebab, yakni kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian-perhatian pada seseorang, situasi atau aktivitas tertentu dan bukan pada yang lain, atau
2. Minat sebagai akibat, yaitu pengalaman yang efektif yang stimulus oleh hadirnya seseorang atau suatu objek atau karena berpartisipasi dalam suatu aktivitas.45
Memperhatikan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat itu merupakan suatu proses kejiwaan seseorang secara sadar dan aktif yang mendorong timbulnya sikap untuk melakukan suatu tindakan atau untuk tujuan-tujuan tertentu.
42Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Cet. IV; Bandung: PT.
Al-Ma’rif, 1980), h.88
43H. C. Witherington, Psychologi Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1978), h. 124.
44Murshel H. M Tahir, Kamus Ilmu Jiwa Pendidikan, (Jakarta; CV. Majelis Indah, 1977),
h. 88.
42
Minat pada dasarnya merupakan suatu kemampuan psikhis manusia, sehinggah Plato seperti dikutip oleh A. Murshel H.M Tahir, menyelidiki kemampuan pshikis manusia membagi 3 kemampuan yang lazim disebut
“Trichotomi”, yaitu; (1) Pikiran (logos) yang berkedudukan di kepala, (2) kemampuan (thumos) yang berkedudukan di dada, dan (3) hasrat (ethumid) yang berkedudukan diperut.46
Hal tersebut sejalan dengan trichotomi yang dikemukakan oleh seorang ahli ilmu jiwa social Inggeris, Mac. Douglas yang dikutip oleh Sumardi
Soeryabrata, mengatakan bahwa: “ manusia memiliki tiga kemampuan psikkhis
yaitu, kognisi ( pengamatan), konasi (kehendak),dan emosi (perasan).47
Ketiga unsur tersebut diatas harus merupakan kesatuan yang utuh, karena apabila satu diantaranya diabaikan, maka minat akan sulit dibentuk. Kemudian minat baru dapat terbentuk apabila di dalam obyek yang diamati terdapat kepentingan-kepentingan yang jelas hubungannya dengan diri.Obyek-obyek yang demikian perlu disajikan dalam setiap kesempatan, agar minat senantiasa dapat terbentuk secara utuh dan baik.
Minat siswa menempati posisi yang sangat penting dalam setiap aktivitas pembelajaran, karena tanpa adanya minat untuk melakukan aktivitas belajar maka sudah dapat dipastikan bahwa hasil yang direncanakan tidak akan berhasil sepenuhnya, sedangkan minat itu sendiri berfungsi sebagai pendorong bagi seseorang untuk berbuat, di mana dorongan itu bertujuan memenuhi dan mencapai
46Ibid.
47Soemadi Soeryabrata, Pcyhcologi Kepribadian, jilid I; (Yokyakarta: Rake Press, 1966),
tujuan yang diinginkan. Kalau minat ada, maka guru cukup menyajikan dan menyediakan bahan pelajaran dan siswalah yang mengolah dan mencerna sendiri sesuai kemampuan dan kemauannya sendiri.
44 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif adalah menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.1
Sedangkan pemilihan jenis penelitian dan pendekatannya bersifat kualitatif yang dilakukan penulis dalam menelusuri data-data di lapangan yang dimaksudkan untuk mengemukakan keadaan nyata, yang sebenarnya, yang alamiah dari objek dan subjek yang diteliti.mengumpulkan data berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.
B. Lokasi Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian salah satu faktor yang sangat diperlukan adalah tempat penelitian.Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti sekaligus pelaksanaan penelitian yang makin terarah pada sasaran yang ingin dicapai. Adapun lokasi penelitian bertempat di SMP Negeri I Tombariri, disebabkan
1Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Cet. XX; Bandung :