belanda “ver bintenis”. Istilah perikatan lebih umum digunakan di Indonesia, perikatan dalam hal ini berarti; hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang lain.pengikat itu dapat berupa perbuatan, peristiwa atau keadaan, maka oleh pembentuk undang-undang atau oleh masyarakat sendiri diberi nama “akibat hukum”, dengan demikian perikatan yang terjadi antara orang satu dengan orang lain disebut hubungan hukum.
Sedangkan secara terminologi Hukum Perikatan adalah suatu hubungan hukum dalam lapangan harta antar dua orang atau lebih.
3.2 Jenis-jenis Perikatan
Berbicara tentang jenis-jenis hukum perikatan ada 7 bentuk perikatan yang bida dilakukan antar pihak, berikut ini penulis jelaskan secara terperinci; 1 Perikatan Bersyarat
Perikatan bersyarat (voorwaardelijk verbintenis) adalah perikatan yang digantungkan pada syarat. Syarat itu adalah suatu peristiwa yang masih akan terjadi dan belum pasti terjadi baik dalam menangguhkan pelaksanaan perikatan hingga terjadi peristowa maupun dengan membatalkan perikatan karena terjadi atau tidak terjadi peristiwa (pasal 1235 KUH Perdata).
Perikatan bersyarat dibagi menjadi 7 yaitu; a. Perikatan dengan Syarat Tangguh
Apabila perikatan itu terjadi, maka perikatan itu dilakasanakan (pasal 1263 KUH Perdata), sifat dalam pasal ini menangguhkan sesuatu perbuatan yang apabila dikakukan baru terkena hukum.
b. Perikatan dengan Syarat Batal
Disini justru perikatan yang sudah ada akan berakhir apabila peristiwa yang dimaksud akan terjadi (pasal 1265 KUH Perdata). Perikatan ini akan batal apabila perikatan sudah terjadi dengan syarat.
c. Perikatan dengan Ketetapan Waktu
Syarat perikatan ini adalah pelaksanaan perikatan tergantung pada waktu yang ditetapkan.
2 Perikatan Manasuka (Pilihan)
Dikatakan perikatan manasuka karena pihak objek bebas memilih yang ditawarkan oleh subjek denga syarat bahwa memilih salah satu dari dua objek perikatan. Apabila objek sudah memilih salah satu objek perikatan makan perikatan berakhir.
3 Perikatan Fakultatif
Perikatan fakultatif sifatnya hanya mensyaratkan subjek menentukan satu pilihan kepada objek. Apabila subjek tidak bisa memenuhi perjanjian awal maka dapat mengganti dengan sesuatu yang sejenis.
4 Perikatan Tanggung Menanggung
Suatu perikatan tanggung-menanggung atau perikatan tanggung renteng terjadi antara beberapa kreditur, jika dalam bukti persetujuan secara tegas kepada masing-masing diberikan hak untuk menuntut pemenuhan seluruh hutang, sedangkan pembayaran yang dilakukan kepada salah seorang di antara mereka, membebaskan debitur, meskipun perikat an itu menurut sifat nya dapat dipecah dan dibagi antara para kreditur tadi (pasal 1278 KUH Perdata ) untuk perikatan tanggung-menanggung pasif dapat dilihat pada pasal 1280 KUH Perdata.
5 Perikata Dapat Dibagi dan Tidak Dapat Dibagi
Suatu perikatan dapat dikatakan dapat dibagi atau tidak jika benda yang menjadi objek perikatan dapat atau tidak dapat dibagi menurut imbangan, lihat pada pasal 1296 KUH Perdata.
6 Perikatan dengan Ancaman Hukuman
Perikatan ini memuat suatu ancaman hukuman terhadap objek apabila ia lalau dalam melakukan kewajjibanya.
Undang-undang tidak menentukan apa yang dimaksud dengan perikatan wajar (natuurlijke verbintenis, natural obligation). Dalam undang undang hanya dijumpai pasal 1359 ayat (2) KUH Perdata.5
3.3 Syarat Sah Hukum Perikatan 1 Obyeknya Harus Tentu
Syarat ini diperlukan hanya terhadap perikatan yang timbul dari perjanjian. 2 Obyeknya Harus Diperbolehkan
Artinya tidak bertentangan dengan undang-undang , ketertiban umum. 3 Obyeknya dapat Dinilai dengan Uang
Seperti yang dijelaskan dalam definisi perikatan. 4 Obyeknya Harus Mungkin
Yaitu yang mungkin sanggup dilaksanakan dan bukan sesuatu yang mustahil.6 3.4 Asas dalam Hukum Perikatan
1 Asas Kepercayaan
Asas kepercayaan menngandung pengertian bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian akan memenuhi setiap prestasi (hak dan kewaiban) yang diadakan diantara mereka dibelakang hari.
2 Asas Persamaan Hukum
Mengandung aksud bahwa subjek hukum yang mengadakan perjanjian mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hukum. Mereka tidak boleh dibeda-bedakan antara satu sama lainya, walaupun subjek hukum itu berbeda warna, kulit, agama dan ras.
3 Asas Keseimbangan
Adalah asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian, kreditur mempunyai kekuatan untuk memenuhi prestasi dan jika diperlukan dapat menuntut pelunasan prestasi melalui kekayaan debitur, namun debitur memikul pula kewajiban untuk melaksanakan perjanjian itu dengan itikad baik.
4 Asas Kepastian Hukum
Perjanjian sebagai figur hukum mengandung kepastiann hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikatnya perjanjian, yaitu sebagai undang-undang bagi yang membuatanya.
5 Asas Moralitas
5 Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bandung, Bina Cipta, 2001. Hal. 36
Asas moral ini terikat dalam perikatan yang wajar, yaitu suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak dapat menuntut hak baginya untuk menggugat prestasi dari pihak debitur hal ini terlihat dalam zaakwarneming, yaitu seseorang melakukan perbuatan sukarela (moral). Yang bersangkutan mempunyai kewajiban hukum untuk meneruskan dan menyelesaikan perbutanya. Salah satu faktor yang memberikan motivasi yang bersangkutan melakukan perbuatan hukum itu adalah didasarkan pada kesusilaan (moral) sebagai panggilan hati nurani.
6 Asas Kepatutan
Asas kepatutan tertuang dalam KUH Perdata pasal 1339. Asas ini berkaitan dengan ketentuan menganai isi perjanjian yang diharuskan oleh kepatutan berdasarkan sifat perjanjian.
7 Asas Kebiasaan
Asas ini dipandang sebagai bagian dari perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk apa yang secara tegas diatur, akan tetapi juga hal-hal yang menurut kebiasaan lazim diikuti.
8 Asas Perlindungan
Asas perlindungan mengandung pengertian bahwa antar kreditur dan debitur harus dilindungi oleh hukum.7
3.5 Sistem dan Syarat-syarat Hukum Perikatan
Sistem hukum perikatan adalah terbuka. Artinya, KUH Perdata memberikan kemungkinan bagi setiap orang mengadakan bentuk perjanjian apapun, baik yang telah di atur dalam undang-undang, peraturan khusus maupun perjanjian baru yang belum ada ketentuannya. Sepanjang tidak bertentangan dengan Pasal 1320 KUH Perdata. Akibat hukumnya adalah, jika ketentuan bagian umum berte ntangan dengan ketentuan khusus , maka yang di pakai adalah ketentuan yang khusus, misal: perjanjian kos-kosan, perjanjian kredit.
Mengenai syarat-syarat hukum perikatan diterangkan dalam pasal 1320 KUH Perdata.
1 Adanya kesepakatan (toeste ming/izin) kedua belah pihak
Yang dimaksud kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antar satu orang atau lebih dengan pihak lain. Tentang kapan terjadinya persesuaian pernyataan ada 4 teori, yakni;
a. Teori Ucapan (ultingsheorie), kesepakatan (toesteming) terjadi pada saat pihak yang menerima penawaran itu menyatakan bahwa ia menerima penawaran.
b. Teori Pengiriman (verzendtheorie), kesepakatan terjadi apabila pihak yang menerima penawaran menerima telegram.
c. Teori Pengetahuan (vernemingstheorie), kesepakatan terjadi apabila pihak yang menerima menawarkan itu mengetahui adanya acceptatie, tetapi penerimaan itu belum diterimanya, (tidak diketahhui secara langsung). d. Teori Penerimaan (ontvangstheorie), kesepakatan terjadi saat pihak yang
menawarkan menerima langsung jawaban dari pihak lawan. 2 Kecakapan Bertindak
Adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum. Orang yang akan mengadakan perjanjian haruslah orang-orang yang cakap dan wenang untuk melakukan perbuatan hukum sebagaimana yang ditetapkan oleh UU yaitu orang yang sudah dewasa dengan ukuran umum 21 Tahun dan atau sudah kawin (Pasal 1330 KUH Perdata).
3 Adanya Objek Perjanjian (onderwerp der overeenskomst)
Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian). Prestasi adalah apa yang menjadi kewajiban kreditor dan hak kreditor (pasal 1234 KUHPerdata).
4 Adanya Kausa yang Halal (geoorloofde oorzaak)
Apabila suatu perjanjian yang mengandung cacat pada subjeknya yaitu syarat: 1). Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya dan 2). Kecakapan untuk bertindak, tidak selalu menjadikan perjanjian tersebut menjadi batal dengan sendirinya (nietig) tetapi seringkali hanya memberikan kemungkinan untuk dibatalkan (vernietigbaar), sedang perjanjian yang cacad dari segi objeknya yaitu mengenai, 3). Segi “suatu hal tertentu” atau 4). “suatu sebab yang halal” adalah batal demi hukum.
Artinya adalah apabila jika dalam satu perjanjian syarat 1 dan 2 dilanggar baru dapat dibatalkan perjanjian tersebut setelah ada pihak yang dirugikan mengajukan tuntutan permohonan pembatalan ke pengadilan. Dengan demikian perjanjian menjadi tidak sah.
Lain jika syarat 3 dan 4 dilanggar maka otomatis perjanjian tersebut menjadi batal demi hukum walaupun tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Maka dapat disimpulkan suatu perjanjian dapat terjadi pembatalan karena:
1 Dapat dibatalkan, karena diminta oleh pihak untuk dibatalkan dengan alasan melanggar syarat 1 dan 2 pasal 1230 KUH Perdata.
2 Batal demi hukum, karena melanggar syarat 3 dan 4 pasal 1320 KUH Perdata. 8
Lebih luas lagi pembatalan perikatan bisa dilihat dalam KUH Perdata pasal 1381.9
3.6 Sumber Hukum Perikatan
Sumber Hukum Perikatan di Indonesia ada 2, pertama, Perjanjian, kedua,Undang-undang. Hal ini ditegaskan dalam pasal 1233 KUH Perdata
8 Subekti, Hukum Perikat an, PT Intermasa, 2005, hlm. 45.
“Perikatan, lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang” perjanjian adalah sumber perikatan paling penting.
Undang-undang sebagai sumber perikatan dibedakan lagi menjadi 2 (dua), undang-undang semata dan undang-undang yang kaitanya dengan perbuatan orang. Perikatan yang lahir dari undang-undang semata adalah perikatan yang kewajiban didalamnya langsung diperintahkan oleh undang-undang. Seperti hak dan kewajiban yang timbul antar ayah dan anak dalam hal nafkah, selanjutnya berhubungan dengan perikatan yang lahir dari UU semata dapat dilihat pada KUH Perdata pasal 625, 385, 409, 321. Sedang undang-undang yang lahir dari undang-undang-undang-undang akibat perbuatan orang adalah suatu perikatan yang timbul karena adanya perbuatan yang dilakukan seseorang dan kemudian undang-undang menetapkan adanya hak dan kewajiban yang timbul, dari perbuatan tersebut. Perbedaan itu dibagi menjadi 2 macam : (1) perbuatan sesuai hukum (rechtmaltige daad), dan (2) perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad).10