• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Penanaman Modal Asing

N/A
N/A
Yuyun Astuti, A.Md.

Academic year: 2024

Membagikan "Hukum Penanaman Modal Asing "

Copied!
242
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/

atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, menge- darkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, sebagaimana dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/

atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupi- ah)

(3)

U I I P r e s s

DR. Drs. Amin Bendar, S.H., M.Hum.

(4)

di Indonesia; -- Yogyakarta: UII Press, 2018 xvi + 226 hlm. ; 16 x 23 cm.

ISBN 978-602-6215-36-9

Cetakan Pertama: Januari 2018 Cover - Layout : UII Press Yogyakarta

Penerbit : UII Press Yogyakarta (Anggota IKAPI) Jl. Cik Di Tiro No.1, Yogyakarta - 55223

Tel. (0274) 547865 (Hotline); Fax. (0274) 547864 E-mail : [email protected]; b: UII Press

Hak cipta © 2018 pada UII Press dilindungi undang-undang (all rights reserved)

(5)

Kata Pengantar

Prof. M. Hawin, S.H.,LL.M.,Ph.D Guru Besar Fakultas Hukum UGM Yogyakarta

Sejarah menunjukkan bahwa di Indonesia pada zaman Hindia Belanda dahulu modal asing telah menjadikan negara ini di bawah kontrol orang asing melalui processing untuk ekspor sehingga dapat menjauhkan kemungkinan untuk mendapat mata uang asing yang memadai. Para investor asing tidak hanya melakukan kontrol terhadap penggilingan padi tetapi juga terhadap pertambangan, seperti perdagangan timah di wilayah Palembang.

Pena sejarah menuliskan begitu terang pertambangan di Indonesia masa lalu dan membocorkan rahasia liciknya VOC yang menjaga ketat dan merahasiakan Palembang sebagai penghasil timah, bahkan mengancam akan menghukum mati kepada orang yang membocorkan asal usul penambangan timah tersebut. Semua ini dilakukan VOC untuk memonopoli perdagangan pertambangan di Indonesia.

Atas pengalaman yang dihadapi Indonesia masa lalu itu maka pemerintah Orde Lama di bawah pimpinan Presiden Ir. Sukarno menghentikan sistem pengelolaan pertambangan melalui konsesi (consessie) yang diatur melalui Indische Mijnwet 1899 dan menggantinya dengan Undang-Undang Nomor 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan (LN.

No. 119 Tahun 1960) atas dasar Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Sekalipun sudah ada peraturan hukum (lex specialis) baru di bidang pertambangan tersebut tetapi tidak dapat mendorong penanaman modal asing masuk ke dalam bisnis pertambangan karena dibatasi melalui Pasal 3 Undang- Undang Nomor 78 Tahun 1958 tentang Penanaman Modal Asing, yaitu bahwa “Perusahaan-perusahaan pertambangan bahan-bahan vital tertutup bagi modal asing.”

Mengantisipasi agar terjadi percepatan penanaman modal asing maka Pemerintah mengeluarkan lagi Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 1963

(6)

tentang Pemberian Fasilitas Bagi Proyek-proyek dengan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing Contract (PSC) di bidang Pertambangan non migas tetapi tidak menarik bagi investor asing.

Memasuki bulan Juli 1966 terjadi babak baru politik di Indonesia dengan lahirlnya Orde Baru dan negara dipimpin oleh Presiden Suharto.

Mengantisipasi mandeknya pembangunan bangsa maka dikeluarkan Ketetapan MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaruan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan yang pada intinya memuat tiga hal penting yaitu (1) kekayaan potensial yang terdapat dalam alam Indonesia perlu digali dan diolah agar dapat dijadikan kekuatan ekonomi riil; (2) potensi modal, teknologi dan keahlian dari luar negeri dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan Indonesia; dan (3) dengan mengingat terbatasnya modal di dalam negeri, maka guna dapat memanfaatkan modal dari luar negeri, perlu segera ditetapkan undang-undang mengenai modal asing dan modal domestik.

Ketetapan MPRS tersebut mendorong lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan disusul dengan lahirnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pertambangan. Dengan adanya kedua undang-undang ini sebagai kunci pembuka masuknya penanaman modal asing di bidang pertambangan karena di dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 ditegaskan bahwa “Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan atas suatu kerjasama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.”

Ketegasan di atas selanjutnya secara lex specialis diimplementasi melalui Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 yang intinya, bahwa (1) Menteri menunjuk kontraktor apabila ada pekerjaan yang tidak mampu dilaksanakan Instansi pemerintah pemegang kuasa pertambangan, (2) dalam melakukan perjanjian karya Instansi Pemerintah dan Perusahaan Negara mengikuti pedoman, petunjuk dan syarat dari Menteri, dan (3) perjanjian karya dapat berlakau setelah disahkan Pemerintah atas konsultasi dengan DPR apabila bekaitan dengan golongan a.

Atas dasar peraturan hukum di atas, maka penanaman modal di bidang pertambangan terbuka untuk investor asing, dengan ketentuan melalui joint venture berbentuk badan hukum setelah itu baru dilakukan

(7)

Kata Pengantar Guru Besar Fk. Hukum UGM

vii

Kontrak Karya (Contract Of Work) seperti yang dilakukan Newcrest Singapore Holding PTE Limited dengan PT Aneka Tambang (Persero) kemudian mendirikan PT Nusa Halmahera Minerals dan selanjutnya melakukan Kontrak Karya untuk mengeksploitasi Emas dan Logam Dasar di Pulau Halamahera.

Saya memandang kehadairan buku ini sebagai kunci untuk memahami kontrak berkaitan dengan foreign investment secara umum dan khusus di bidang pertambangan karena mengurai persoalan tersebut dengan sistematis, untuk itu layak dijadikan referensi dan buku ajar bagi akademisi.

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada penulis, semoga ke depan semakin termotivasi dalam menuangkan pikiran barunya melalui penulisan buku.

Yogyakarta, 31 Oktober 2017

Prof. M. Hawin, S.H.,LL.M.,Ph.D Guru Besar Fakultas Hukum UGM Yogyakarta

yakarta, 31 Oktkober

M H i S H LL M

(8)
(9)

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

َﻼَﻓ ُﷲ ِﻩِﺪْ َﳞ ْﻦَﻣ ﺎَﻨِـﺴُﻔْﻧَا ِر ْوُ ُﴎ ْﻦِﻣ ِ ِبا ُذْﻮُﻌَﻧَو ُﻩُﺮِﻔْﻐَﺘْـﺴَﻧَو ُﻪُﻨْﯿِﻌَﺘْـﺴَﻧ ِ ِلله ُﺪْﻤَﺤْﻟَا

ُﻩ ُﺪْﺒَﻋ اًﺪَّﻤَﺤُﻣ َّنَا ُﺪَﻬ ْﺷَاَو ُﷲ َّﻻِا َ َلهِاَﻻ ْنَا ُﺪَﻬ ْﺷَاَو ُ َله َيِدَﺎﻫ َﻼَﻓ ِﻞِﻠ ْﻀُﯾ ْﻦَﻣ َو ُ َله َّﻞ ِﻀُﻣ

ْﺪَﻘَﻓ ُ َله ْﻮ ُﺳ َرَو ُﷲ ِﻊْﯿ ِﻄُﯾ ْﻦَﻣ َﺔَﻋﺎ َّﺴﻟا ِّي َﺪَﯾ َ ْﲔَﺑ اًﺮْﻳِﺬَﻧَو اً ْﲑ ِﺸَﺑ ِّﻖَﺤْﻟ ِبا ُ َله َﺳْرَا ُ ُله ْﻮ ُﺳ َرَو .ﺎًﺌْﻴ َﺷ َﱃﺎَﻌَﺗ ُﷲ ُّ ُﴬَﯾ َﻻَو ُﻪ َﺴْﻔَﻧ َّﻻِا ُّ ُﴬَﯾ َﻻ ُﻪَّﻧِﺎَﻓ ﺎَﻤُﻬ ِﺼْﻌَﯾ ْﻦَﻣَو َﺪ َﺷَر

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat sang khaliq-Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Nikmat-Nya berupa kesehatan, dan kesempatan sehingga dapat menuangkan hasil pemikiran melalui buku ini.

Shalawat dan salam tak lupa disampaikan kepada Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW sebagai penutup bagi semua nabi dan rasul di muka bumi ini, yang atas pengorbanannya menyampaikan perintah Allah dengan tanpa mengenal lelah, tidak merasa takut, santun dan bijaksana sehingga dapat merubah budaya masyarakat yang tidak berperadaban menjadi berperadaban. Semua ini dilakukan untuk tegaknya dinul Islam agar manusia terbebas dari kegelapan, dan selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Buku ini dihadirkan untuk menjelaskan sebagian problem hukum ditengah percaturan bisnis berkaitan dengan perjanjian atau kontrak (overeenkomst or contract), khususnya Joint Venture (JV) dan Contract Of Work (COW). Statistik pertumbuhan manusia semakin menanjak membuat manusia terdorong berinovasi untuk menutupi kebutuhan, dan negara dituntut agar meletakkan dasar pengaturannya. Berhubungan dengan itu sumber daya alam tak terbarukan (unrenewable) yang tersimpan rapi di dalam bumi kini mulai tergerak hati para investor di semua kawasan bumi untuk mengeksploitasinya dan negara dibuatnya sampai-sampai seperti hilang akan imunitasnya.

(10)

Di Indonesia, sumber daya alam terbarukan dan sumber daya alam tak terbarukan (unrenewable) secara hirarki di atur dalam hukum yang paling tinggi yaitu UUD 1945. Dalam Pasal 33 ayat (3) dinyatakan bahwa

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Atas dasar inilah mendesak pemerintah melahirkan UU No. 78 Tahun 1958 tentang PMA dan disusul dengan lahirnya UU No. 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan.

Sekalipun ada dua peraturan hukum di bawah UUD 1945 yang secara lex specialis mengatur foreign investment dan penelolaan pertambangan, tetapi tidak mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi, karena terbentur dengan Pasal 3 UU No. 78 Tahun 1958 tentang Penanaman Modal Asing yaitu bahwa “Perusahaan-perusahaan pertambangan bahan-bahan vital tertutup bagi modal asing.”

Terhalang dengan larangan di bidang pertambangan di atas maka pemerintah membuka jalan dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 1963 tentang Pemberian fasilitas Bagi Proyek-proyek dengan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing Contract (PSC) di bidang Pertambangan non migas. Dasar hukum ini tidak mampu mendorong masuknya investor asing sebab secara hirarki dipandang tidak memiliki kekutan hukum karena berada di bawah undang-undang.

Problema yang dihadapi negara di bidang pertambangan tersebut kemudian pemerintah mengambil langkah dengan merekonstruksi peraturan tersebut dengan mengeluarkan Ketetapan MPRS No. XXIII/

MPRS/1996. Atas dasar itu dilahirkannya UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pertambangan. Dari sinilah investor asing mulai masuk kebisnis pertambangan melalui kerjasama joint venture dengan sistem pengelolaan Kontrak Karya (Contrak Of Work).

Melalui buku ini juga penulis tak lupa mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang ikut memotivasi dan men-support, terutama yang tercinta ayahanda H. Bendar Hasan (almarhum) dan ibunda Hj. Salami (almarhumah), serta Kak Hj. Taiba dengan begitu penuh semagat mendidik, mendorong dengan tanpa mengenal lelah serta tidak pernah berhenti mendoakan penulis di setiap detik waktu. Semoga, kebaikan yang ikhlas ini nanti Allah membalas dengan menempatkan mereka di dalam syurga Nya, amin. Hal yang sama disampaikan juga kepada yang tercinta mertua ayahanda Bujang Sulain dan ibunda Nudariah.

(11)

Kata Pengantar Penulis

xi

Dalam deretan kata-kata yang tersusun rapih pada buku ini, tak lupa saya sampaikan terima kasih kepada istri Selvi Wulandari, S.Pd.,M.

Pd., Ananda Adwa Salsabila dan Gayda Najla Gassania yang dengan penuh semangat dan perhatian dalam mendukung penulisan buku ini sekalipun terkadang tersita waktunya akibat dari kesibukan dan aktifi tas menyebabkan sebagian hak-nya terabaikan. Semoga dengan keikhlasan- mu wahai istriku dan kedua putriku Allah SWT akan membalasnya, dan khusus untuk kedua putriku semoga Allah SWT akan menggantikan hak- mu yang terabaikan itu dengan menurunkan nur iman dan Islam serta nur ilmu pengetahuan kepada-mu, agar kelak menjadi ilmuan besar di bumi ini yang shaleha, berbakti kepada kedua orang tua, menegakkan kebenaran- keadilan, mensejahterakan umat manusia, dan berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Tidak dapat dipungkiri bahwa isi buku ini masih jauh dari yang diharapkan karena keterbatasan pemikiran sebagai manusia biasa. Dengan itu dibutuhkan saran dan kririk yang bermanfaat untuk kesempurnaan, karena yang sempurna itu hanya dari Allah SWT. Semoga buku ini dijadikan referensi dan bermanfaat, menambah wawasan serta menjadi amal baik yang diridai Allah SWT.

“Non in legendo sed in intelligendo legis consistent”

Adanya hukum bukan hanya untuk dibaca tetapi untuk dimengerti.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yogyakarta, 23 Oktober 2017

DR. Drs. Amin Bendar, S.H.,M.Hum

(12)
(13)

Daftar Isi

Kata Pengantar Prof. M. Hawin, S.H.,LL.M.,Ph.D

Guru Besar Fakultas Hukum UGM Yogyakarta

... v

Kata Pengantar Penulis ... ix

Daftar Isi ... xiii

PENDAHULUAN ... 1

1. Th e Product Cycle Th eory (Teori Siklus Produk). ... 3

2. The Industrial Organization Theory of Vertical Integration (Teori Organisasi Industri Integrasi Vertikal). ... 3

Bab 1 PERJANJIAN DALAM KONTEKS TEORI DAN UNDANG-UNDANG ... 17

A. Perjanjian Dalam Konteks Bahasa, Hukum Perdata dan Teori Hukum. ... 17

B. Teori- teori Perjanjian. ... 18

C. Perjanjian Dalam Konteks Hukum Perdata Indonesia... 20

D. Perjanjian Dalam Konteks Hukum Islam. ... 21

E. Jenis-jenis Perjanjian ... 30

F. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian. ... 33

Bab 2 KONSEP DASAR ASAS DAN PENERAPANNYA DALAM HUKUM PERJANJIAN ... 37

A. Konsep Dasar Asas Hukum. ... 37

B. Filosofi dan Pentingnya Asas-Asas Perjanjian. ... 39

(14)

C. Asas Hukum Perjanjian Dalam KUHPerdata dan

Teori. ... 41

D. Asas Hukum Perjanjian Dalam Hukum Islam. ... 45

Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA) DI INDONESIA ... 51

A. Pengertian Penanaman Modal Asing dan Sejarah Perkembangannya. ... 51

B. Perkembangan Penanaman Modal Asing di Indonesia. ... 54

C. Bentuk-Bentuk Penanaman Modal Asing ... 57

1. Joint Venture. ... 57

2. Joint Enterprise. ... 58

3. Kontrak Karya (Working Contract) ... 59

D. Tata Cara Penanaman Modal Asing ... 60

1. Bentuk Perusahaan Modal Asing. ... 67

2. Tenaga Kerja. ... 68

3. Peraturan Pajak Terhadap Perusahaan Asing. 69 4. Pemakaian Tanah. ... 70

E. Prosedur Pelaksanaan Penanaman Modal Asing. .... 71

1. Tahap permohonan. ... 71

2. Penilaian Permohonan. ... 72

3. Tahap Persetujuan... 72

F. Motivasi Penanaman Modal Asing Masuk Ke Indonesia... 75

Bab 4 JOINT VENTURE ... 83

A. Pengertian Joint Venture dan Kontrak Joint Venture. ... 83

1. Pengertian Joint Venture. ... 83

2. Pengertian Kontrak Joint Venture. ... 85

(15)

DaŌ ar Isi

xv

B. Dasar Pengaturan Kontrak Joint Venture. ... 88

C. Jenis-jenis Kontrak Joint Venture. ... 91

D. Dasar Pembentukan Joint Venture ... 92

E. Perjanjian Joint Venture. ... 93

F. Manfaat dan Kelemahan Kontrak Joint Venture. ... 96

Bab 5 KONTRAK KARYA (Contract of Work) ... 99

A. Sejarah Singkat Kekayaan Pertambangan dan Lahirnya Kontrak Karya (Contract Of Work) di Indonesia. ... 99

1. Pertambangan Nusantara Periode Genggaman VOC. ... 101

2. Pertambangan Nusantara Di Bawah Kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda ... 102

3. Peraturan Hukum Pertambangan Masa Berkuasanya Jepang ... 107

4. Perbaikan Hukum Pertambangan Sejak Orde Lama Sampai Awal Orde Baru. ... 109

5. Pengelolaan Pertambangan Periode Tahun 1966. ... 113

6. Pijakan Pengelolaan Pertambangan Periode Tahun 1967. ... 114

B. Pengertian Kontrak Karya ... 123

C. Dasar Hukum Kontrak Karya ... 125

D. Ketertarikan PMA Terhadap Kontrak Karya di Indonesia. ... 126

E. Kedudukan Kontrak Karya Dalam Hukum. ... 131

F. Persyaratan dan Prosedur Kontrak Karya ... 135

1. Persyaratan ... 135

2. Prosedur Kontrak Karya. ... 136

(16)

G. Ketentuan-Ketentuan Pokok Kontrak Karya dan

Aspek Pendukung Lainnya. ... 137

H. Genetika Kontrak Karya. ... 142

I. Sengketa Hukum Dalam Kontrak Karya. ... 147

Bab 6 IMPLEMENTASI PMA DI BIDANG PERTAMBANGAN : KERJASAMA NEWCREST SINGAPORE HOLDINGS PTE LIMITED DENGAN PT ANEKA TAMBANG (PERSERO) TBK INDONESIA ... 157

A. Kekuatan Mengikat Secara Yuridis Melalui Akta Pendirian PT Nusa Halmahera Minerals. ... 157

B. Hubungan Hukum Newcrest Singapore Holdings PTE Limited dengan PT Aneka Tambang (Persero). 165 1. Adanya kesepakatan antara ke dua belah pihak untuk mengikatkan diri. ... 170

2. Adanya kecakapan untuk para pihak dalam membuat perjanjian (om eene verbintenis aan te gaan). ... 172

3. Adanya suatu hal tertentu (een bepaald onderwrp). ... 175

4. Adanya suatu sebab yang halal ... 176

C. Perimbangan Hak dan Kewajiban Newcrest Singapore Holdings PTE. Limited dan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk Indonesia. ... 177

Bab 7 KESIMPULAN ... 217

DAFTAR PUSTAKA ... 219

TENTANG PENULIS ... 225

(17)

T

ercatat dalam sejarah menurut Tim Pengkajian hukum ekonomi yang diketuai oleh Erman Rajagukguk1 semenjak abab ke 17 sampai sekarang telah terjadi tiga gelombang investasi. Dalam periode awal dikenal dengan “kolonialisme kuno” antara abad ke 17 dan abad ke 18, perusahaan- perusahaan spanyol, Belanda dan Inggris mendirikan tambang-tambang dan perkebunan-perkebunan di beberapa negara jajahan di asia, dengan cara merampas dan mengeksploitasi sumber-sumber alam dan kekayaan penduduk jajahan. Periode kedua yang dekenal dengan istilah periode

“imperealisme baru”, yang terjadi pada akhir abad ke 19, negara-negara di Afrika dan di Asia tenggara serta di beberapa negara lainnya terbelenggu dalam sistem penjajahan. Investasi negara-negara Eropa di beberapa fasilitas pelabuhan jalan-jalan dan pusat-pusat kota pada waktu itu telah menciptakan suatu infrastruktur yang penting bagi negara-negara jajahan tersebut, Periode ketiga atau gelombang terakhir mulai terjadi pada tahun 1960-an, ketika negara-negara yang sedang berkembang memperkenalkan strategi subtitusi impor sebagai cara yang dianggap tercepat untuk menuju industrialisasi, melalui penerapan halangan/rintangan perdagangan (trade barries) yang ketat dan kebijakan pajak, negara-negara tersebut “memaksa”

perusahaan-perusahaan multinasional Amerika Serikat dan negara- negara maju lainnya mendirikan cabang-cabang perusahaan-perusahaan manufaktur di negara-negara yang sedang berkembang tersebut, disamping mendirikan cabang-cabang perusahaan di beberapa negara industri baru untuk produksi komponen-komponen dan dalam rangka pemenuhan ekspor negara-negara maju.

1Erman Rajagukguk, Kajian Bahan Ajar Magister Hukum Tahun 1995, hlm. 1

PENDAHULUAN

(18)

Perjalanan panjang arus investasi melalui tiga gelombang di atas membawa perubahan besar terhadap perekonomian di negara-negara berkembang, meskipun di satu sisi merupakan strategi untuk melakukan pengeksploitasian dan perampasan kekayaan secara besar-besaran negara- negara maju terhadapa negara-negara dunia ketiga (negara-negara berkembang-miskin).

Indonesia juga sebagai negara berkembang yang pernah merasakan getir pahitnya penjajahan dan pengeksploitasian tehadap sumber daya alamnya, bahkan lebih dari itu ketika ditinggalkan setelah kemerdekaan dalam keadaan sembraut dan keterblakangan sumber daya manusia, sehingga sumber daya alam yang melimpah dan terbengkalai tidak dapat di rapikan kembali dan diberdayakannya. Pengalaman inilah kemudian menjadi dasar untuk membangun kembali bangsa dengan salah satu cara diantaranya melalui Penaman Modal Asing (foreign investment).

Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia setelah kemerdekaan, kurun waktu 1950-1965 telah menunjukkan dengan jelas betapa miskinnya bangsa ini karena sulitnya mengembangkan potensi mineral akibat keterbatasan modal. Realita ini kemudian melahirkan ketetapan MPRS No.

XXIII/MPRS/1966 yang menyatakan perlunya pemanfaatan modal dari luar negeri, kemudian secara rinci tertuang dalam program kerja pemerintah sebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden Kabinet Ampera, tanggal 15 Agustus 1966. Untuk Bidang pertambangan ditetapkan diantaranya sasaran sebagai berikut:

1. Mengembalikan pihak asing (yang berpartisipasi dalam kontrak karya) dalam bonafi ditas pemerintah;

2. Membuka kesempatan bagi kontraktor/pihak asing untuk mengeksploitasi endapan minyak bumi dan mineral serta menanam modalnya dalam usaha patungan atau usaha atas dasar bagi hasil.2

Motivasi negara-negara maju menanamkan modalnya di negara- negara berkembang berangkat dari dua teori, yang dikemukakan oleh Stephan Hymer dan Charles Kindleberger yaitu:3

2Soetaryo Sigit, Sepenggal Sejarah Perkembangan Pertambangan Indonesia (Kumpulan Tulisan Soetaryo Sigit, 1967 – 2004) (Jakarta: Yayasan Minergy Informasi Indonesia, 2004), hlm. 58- 60)

3M. Hawin, Hukum Investasi (Penanaman Modal Asing) untuk Kalangan Sendiri (Yogyakarta:

Magister Hukum Bisnis dan Kenegaraan Fakul Hukum UGM Bolaksumur), hlm. 57- 60.

(19)

Pendahuluan

3

1. Th e Product Cycle Th eory (Teori Siklus Produk).

Teori ini dikembangkan oleh Raymond Vernon tahun 1966. Dalam teori ini dikatakan bahwa setiap teknologi atau produk berevolusi melalui tiga fase, yaitu Fase permulaan atau inovasi; Fase perkembangan proses; dan Fase pematangan atau fase standarisasi. Teori ini sangat tragis (menyedihkan) diterapkan pada investasi secara langsung (foreign direct investment) dalam bidang manufacturing, yang merupakan usaha ekspansi awal perusahaan- perusahaan Amerika, atau disebut juga investasi horizontally integrated, yakni pendirian pabrik-pabrik untuk membuat barang-barang yang sama atau serupa dimana-mana.

Pada fase permulaan ini cenderung bertempat di negara industri paling maju, seperti Britania Raya pada abad ke 19, Amerika serikat di awal pasca perang Dunia, dan Jepang pada akhir abad ke 20.

Pada fase ke dua, karena permintaan pasar luar negeri akan barang- barang meningkat mengakibatkan ekspor pun menigkat pula. Dengan pengaruh penyebaran barang-barang inilah mengakibatkan terjadinya penyebaran teknologi ke negara-negara pesaing yang potensial, untuk itu terjadinya rintangan-rintangan dagang yang meningkat memaksa diadakannya usaha produksi barang-barang yang sama di luar negeri.

Pada fase ketiga atau terakhir, yaitu adanya standarisasi proses manufakturing memungkinkan peralihan lokasi-lokasi produksi ke negara- negara yang sedang berkembang, terutama ke negara-negara industri baru (Newly Industrializing Coutries), yang mempunyai keunggulan komparatif berupa tingkat upah buruh yang rendah. Produk-produk dari negara-negara berkembang ini pun diekspor ke pasar global. Dengan adanya kombinasi antara produk-produk yang distandarisir, teknik-teknik produksi dengan kehadiran tenaga kerja yang murah membuat negara-negara industri baru tersebut menjadi negara-negara sumber produk dan komponen industri yang sangat penting.

2. Th e Industrial Organization Th eory of Vertical Integration (Teori Organisasi Industri Integrasi Vertikal).

Teori ini mengatakan bahwa investasi dilakukan dengan cara integrasi secara vertikal, yakni dengan menempatkan beberapa tahapan produksi di beberapa lokasi yang berbeda-beda di seluruh dunia. Motivasi utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan berupa biaya produksi yang rendah, manfaat kebijaksanaan pajak lokal dan lain-lain. Disamping itu motivasi yang lain adalah untuk membuat “rintangan perdagangan” bagi perusahaan-perusahaan yang lain, artinya dengan investasinya di luar negeri

(20)

ini berarti perusahaan-perusahaan multinasional tersebut telah merintangi kedatangan pesaing-pesaing dari negara-negara lain, sehingga monopoli dapat dipertahankan.

Ke dua teori di atas membuka pikiran bagi negara-negara maju sehingga menginvestasikan modalnya di negara-negara berkembang, sebab semakin keterkebelakangnya ekonomi di suatu negara, berarti kebutuhan pembangunan semakin besar dan pula membutuhkan modal yang cukup besar pula.

Kesulitan modal akibat keterbelakangan ini juga pernah dialami bangsa Indonesia, setelah kemerdekaan tahun 1945. Disinilah membuat para pendiri negara (the fouding fathers) mengambil berbagai kebijakan untuk mengatasinya termasuk salah satu adalah melalui investasi, yaitu membuka peluang untuk masuknya investor asing kedalam negeri (PMA).

Sebenarnya hal ini disadari pemerintah indonesia bahwa penanaman modal asing di salah satu sisi sangat merugikan bangsa, seperti menggunakan buruh dalam negeri dengan harga yang murah. Tetapi selain dari itu strategi pemerintah adalah ingin mendapatkan modal yang besar demi membangun bangsa.

Disinilah kenyataan Menurut Hill dalam Bambang Kustituanto Istikomah4 bahwa Pada pertengahan tahun 1960 aliran masuk modal asing ke Indonesia praktis tidak ada. Keterlibatan asing dibatasi hingga yang kecil pada sektor migas dan pembagian produksi patungan dengan negara dari blok sosialis, dimana sebagian besar diperkirakan disebabkan oleh inspirasi, kebijakan yang baru dalam usahanya memenuhi kebutuhan akan modal asing dan teknologi, akan tetapi reputasi negara kurang baik di mata kalangan investor asing, sehingga Indonesia tidak mempunyai jalan lain kecuali melakukan perombakan yang radikal.

Dari sini menunjukan bahwa pemerintah Indonesia pernah mengalami kesulitan dalam membangun bangsa ini, akibat keterbatasan dana. Risikonya Indonesia mengalami ketertinggalan di bidang ekonomi dibandingkan dengan negara-negra ASEAN lainnya. Kenyataan ini berjalan sejak kemerdekaan sampai memasuki pelita pertama sekalipun undang- undang tentang Penanaman Modal Asing (PMA) sudah ada sejak tahun 1967.

Realita tersebut menunjukkan bahwa pada awal tahap pembangunan I (Repelita I), Indonesia sangat tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Pendapatan nasional Indonesia sebesar US$ 80 per kapita

4Bambang Konstituanto, JEBI. Vol. 14, No.2, 1999: 1

(21)

Pendahuluan

5

pada tahun 1971, sedangkan negara-negara ASEAN sudah mencapai US$

200 per kapita lebih. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1960- 1970 kurang dari 4 % per tahun. Tingkat pembentukan modal domestik juga sangat rendah (kurang dari 8 % dari PDB), dan tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.5

Setelah tiba era globalisasi dengan didukung oleh sistem informasi dan transportasi seakan membuat dunia tampak kecil karena jarak yang sebelumnya dipandang jauh menjadi semakin dekat, sehingga mudah dan cepat dijangkau serta dapat berkomunikasi secara langsung. Disinilah Indonesia sebagai negara berkembang mulai membuka diri dengan spirit baru demi membangun bangsa. Spirit ini ditunjukkan dengan melakukan berbagai negosiasi-negosiasi dengan negara-negara maju. Semua ini dilakukan untuk memperbaiki ekonomi bangsa yang sangat terkebelakang di mata Internasional.

Menurut Paingut Rambe Manalu6 Globalisasi di abad XX ditandai dengan perubahan berbagai tata kehidupan masyarakat dunia ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang elektronik, telekomunikasi dan transportasi memungkinkan berbagai informasi berlangsung sangat cepat, akurat, efi sien, dan efektif. Mobilisasi angkutan, baik manusia maupun barang dapat berlangsung dengan cepat pula dan dengan jumlah yang besar. Di bidang ekonomi terbuka kesempatan seluas-luasnya bagi arus perdagangan barang dan jasa menembus batas-batas antar negara. Hal ini dapat mempengaruhi juga perkembangan hukum, baik nasional maupun internasional.

Globalisasi pada satu sisi dapat dipandang sebagai suatu kemajuan besar bagi masyarakat dunia karena dapat mempertemukan visi misi antar negara, yaitu menyatukan semua visi misi negara-negara yang ada di dunia agar tetap bersatu padu dan rasa solidaritas sehingga semua pertikaian di berbagai sisi di bumi akan diakhiri. Hal ini diinginkan terjadi juga dalam dunia ekonomi, yaitu dengan cara dapat membuka pikiran para pengusaha di setiap negara untuk bersaing pada pasar internasional, baik di bidang barang maupun jasa dengan sehat dan terkendali. Walaupun demikian ternyata cita-cita ini belum terealisasi karena yang masih nampak sekarang adalah, dengan adanya persaingan inilah masih dapat menimbulkan adanya kecenderungan proteksionisme dan diskriminasi negara-negara ekonomi kuat terhadap negara-negara berkembang.

5Ibid

6Paingot Rambe Manalu, Hukum Dagang Internasional (Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri, 2000), hlm. 33)

(22)

Dampak adanya globalisasi terhadap perekonomian negara-negara berkembang ini, dari sisi positifnya yaitu dengan mudahnya arus barang luar negeri mengalir ke pasar dalam negeri, sementara sisi negatifnya barang- barang dalam negeri sulit menembus pasar internasional, karena kualitas barang yang diproduknya masih rendah.

Untuk mengantisipasi globalisasi tersebut, pemerintah Indonesia di masa orde baru telah memacu pertumbuhan ekonomi dengan menggalakkan sektor swasta, antara lain dengan menarik investor asing, disamping upaya penyederhanaan dari prosedur-prosedur perizinan, melalui tindakan kebijaksanaan deregulasi yang menyebar di segala bidang ekonomi dan/

atau bidang bisnis.7

Upaya pemerintah menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia selain dilakukan melalui penyederhanaan dan prosedur perizinan, menurut Paingot Rambe Manalu8 atas penelitiannya terhadap PT. Dua Candol di Gunung Putri Bogor ditemukan bahwa motivasi perusahaan penanaman modal asing milik Korea Selatan yang memproduksi jaket musim dingin ini untuk berinvestasi di Indonesia yaitu karena pertimbangan biaya produksi yang lebih kecil, terutama gaji pekerja kasar (unskilled labour).

Dalam mengikuti perkembangan perekonomian dunia yang mengglobal dan ditunjang dengan arus informasi yang cepat ini, ada kemungkinan terjadi gesekan-gesekan, baik diantara para pihak penanam modal, atau para penanam modal dengan para pekerja. Untuk itu diperlukan suatu perangkat hukum yang jelas dan memberikan perlindungan yang pasti. Selain itu menurut Paingot Rambe Manalu9 “perlu adanya harmonisasi hukum antara negara-negara di dunia. Harmonisasi hukum ini bertujuan menciptakan peran hukum untuk menjaga stabilitas (stability), memberikan prediktibilitas (predictibility), dan untuk menciptakan keadilan (fairnes) di dalam hubungan perdagangan dan bisnis antar negara”.

Langkah pemerintah Indonesia tersebut di atas tidak lepas dari Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Pada Pasal 33, yang intinya menumbuhkan perekonomian bangsa dalam rangka mensejahterakan masyarakat.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia selama ini merasa sangat sulit dalam membangun bangsa ini, karena pembangunan tersebut membutuhkan

7Sumantoro, Hukum Ekonomi (Jakarta: UI Press, 1990), hlm. 170.

8Paingot Rambe Manalu, op.cit, hlm. 38.

9Ibid.

(23)

Pendahuluan

7

biaya cukup besar sementara dana pemerintah dan masyarakat tersebut sangat terbatas. olehnya itu, maka pemerintah berupaya semaksimalnya dengan menarik investor asing untuk menanamkan investasinya ke dalam negeri.

Adapun penanaman investasi asing ke dalam negeri tersebut dilakukan dalam bentuk mendirikan, dan membeli total atau mengakuisisi enterprises (perusahaan). Penanaman modal asing juga dapat membawa dampak yang sangat positif karena mengatasi pengangguran dengan jalan merekrut tenaga kerja, terjadinya transfer of technology (alih teknologi), dan alih keterampilan manajemen.

Pada Pasal 2 Undang-Undang Penanaman Modala Asing (UUPMA) berkaitan dengan teknologi disebutkan: “Modal Asing tidak hanya berbentuk valuta asing, tetapi meliputi pula alat-alat perlengkapan tetap yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan-perusahaan di Indonesia, penemuan-penemuan milik orang/badan asing yang diperlukan dalam perusahaan di Indonesia dan keuntungan yang boleh di transfer keluar negeri tetapi dipergunakan kembali di Indonesia”.

Modal asing dengan teknologi yang dibawanya, merupakan paket modal yang tidak dipisahkan. Apalagi dengan semakin meningkatnya program pembangunan industri, peranan teknologi semakin penting dan menjadi komuditi yang semakin langka.10

Terikutnya teknologi ke dalam modal asing ini, negara menjadi sangat diuntungkan karena dapat memperoleh sumbangan besar yaitu secara langsung dapat mengajarkan masyarakat cara penggunaan/ mengoperasikan teknologi tinggi sehingga dapat merubah sistem ketradisionalan yang dimilikinya. Transfer of technology ini dilakukan dalam bentuk inverstment langsung berupa barang modal.

Penanman modal asing di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama diaturnya, yaitu sejak dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). Kemudian undang-undang tersebut tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, mengalami perubahan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA).

Atas dasar Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) inilah dapat menarik investor asing masuk ke

10Sumantoro, op.cit, hlm. 127.

(24)

Indonesia. Pelaksanaan undang-undang tersebut disahkan Presiden Republik Indonesia tanggal 10 Januari 1967, dan kemudian diundangkan dalam Lembaran Negara No.1 Tahun 1967. Sekalipun undang-undang ini sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, namun karena perkembangan ekonomi dunia, utamanya di bidang foreign investment selalu mengalami perubahan dan ditambah lagi dengan adanya perubahan dalam Ordonansi Pajak Perseroan 1925 di Indonesia, maka langkah yang diambil pemerintah pun di adaptasikannya. Adapun Perubahan dan tambahan dalam Undang- Undang No. 11 Tahun 1970 adalah sebagai berikut:

Dalam Pasal 1 UU No. 11/ 1970 dinyatakan bahwa UU No. 1/

1967 (UUPMA) diubah dan ditambah sebagai berikut:

1. Pasal 15 diubah seluruhnya, hingga berbunyi sebagai berikut: Kepada perusahaan-perusahaan modal asing bergerak di bidang-bidang usaha termaksud dalam Pasal 5 UUPMA, diberikan kelonggaran-kelonggaran perpajakan seperti: (1) Bea Meterai Modal, (2) Bea masuk dan pajak penjualan, (3) Bea balik nama, (4) Pajak perseroan, (5) Pajak deviden.

2. Pasal 16 di ubah seluruhnya, hingga berbunyi sebagai berikut:

a. Kepada badan-badan baru yang menanam modalnya di bidang produksi yang mendapat prioritas dari pemerintah, Menteri keuangan berwenang memberikan pembebasan pajak perseroan untuk jangka waktu dua tahun terhitung dari saat perusahaan tersebut mulai berproduksi.

b. Menteri keuangan dapat memperpanjang jangka waktu masa bebas pajak tersebut apabila dipenuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana berikut:

1) Apabila penanaman modal tersebut dapat menambah dan menghemat devisa negara secara berarti, diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.

2) Apabila tambahan masa bebas pajak ini bagi penanaman modal yang berlokasi di luar Jawa, maka diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.

3) Apabila penanaman modal tersebut memerlukan modal yang sangat besar untuk membangun prasarana atau mungkin menghadapi risiko yang lebih berat dari yang sewajarnya, maka dapat diberi tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.

4) Dalam hal-hal yang oleh pemerintah diprioritaskan secara khusus, maka diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.

(25)

Pendahuluan

9

5) Pasal 17 diubah seluruhnya, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Mengenai pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan Pasal 15 dan Pasal 16 ayat (1) dan (2), ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Untuk penanaman-penanaman yang telah mendapatkan fasilitas-fasilitas perpajakan menurut Pasal 16 ayat (2), dapat diadakan peninjauan kembali secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan-ketentuan baru apabila untuk itu diajukan permohonan oleh yang bersangkutan, yang disetujui berdasarkan Instruksi Presiden No. 18 tahun 1968 mengenai usaha-usaha pertambangan.

Adapun ketentuan lain bagi perkembangan investasi di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 tentang pemilikan saham dalam enterprises (perusahaan) yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA). Bagi investasi dalam negeri diatur melalui Undang- Undang No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Realisasi pelaksanaan terbaru terhadap investasi asing dan investasi dalam negeri tersebut diatur berdasarkan kepada Keputusan Menteri Negara Investasi/ Kepala Koordinasi Penanaman Modal No. 38/ SK/ 1999, yaitu pedoman dan tata cara penanaman modal yang didirikan sebagai upaya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).

Visi dasar dilahirkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UUPMA) adalah:

1. Kekuatan ekonomi potensial yang dengan karunia Tuhan Yang Maha Esa terdapat banyak diseluruh wilayah tanah air yang belum diolah untuk dijadikan ketentuan ekonomi riil, yang antara lain disebabkan oleh karena ketiadaan modal, pengalaman dan teknologi;

2. Pancasila adalah landasan idiil dalam membina sistem ekonomi Indonesia dan senantiasa harus tercermin dalam setiap kebijaksanaan ekonomi;

3. Pembangunan ekonomi berarti pengolahan kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, penambahan berorganisasi, dan manajemen;

4. Penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan lebih lanjut dari potensi ekonomi harus didasarkan kepada kemampuan serta kesanggupan rakyat Indonesia sendiri;

(26)

5. Dalam pada itu asas untuk mendasarkan kepada kemampuan serta kesanggupan sendiri tidak boleh menimbulkan keseganan untuk memanfaatkan potensi-potensi modal, teknologi dan skill yang tersedia dari luar negeri, selama segala sesuatu diabadikan kepada kepentingan ekonomi rakyat tanpa mengakibatkan ketergantungan terhadap luar negeri;

6. Penggunaan modal asing perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia serta digunakan dalam bidang-bidang dan sektor-sektor yang dalam waktu dekat belum dan atau tidak dapat dilaksanakan oleh modal Indonesia sendiri. Berhubung dengan itu dirasa perlu mengadakan ketentuan-ketentuan yang jelas untuk memenuhi kebutuhan akan modal guna pembangunan nasional, disamping menghindarkan keragu-raguan dari pihak asing.11

Salah satu bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia adalah joint venture, Menurut Ismail suny, bentuk ini merupakan kerja sama antar pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional, semata-mata berdasarkan suatu perjanjian belaka. Kerja sama ini tidak membentuk suatu badan hukum baru, sehingga kerja sama ini bersifat kontraktuil (cooperatif).

Dalam kerja sama ini sifatnya tidak mencari untung belaka, melainkan juga untuk memberikan pengalaman kerja bagi pihak nasional.12

Peraturan investasi hampir di semua negara yang ada di dunia ini memotivasi atau lebih tegas lagi mengharuskan kerja sama enterprises (perusahaan) Penanaman Modal Asing (PMA) dengan investor lokal swasta atau pemerintah, realita ini seperti yang terjadi pada Penanaman Modal Asing berupa joint venture. Dalam status, joint venture bisa berbadan hukum atau bukan berbadan hukum. Di Indonesia kedudukan joint venture berbentuk badan hukum yaitu Perseroan Terbatas (PT).13

Joint Venture merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai bentuk kerja sama antara penanaman modal nasional dengan (mitra usahanya) penanam modal asing, konkritnya kerja sama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional semata-mata berdasarkan suatu perjanjian/kontraktuil.14

11C.S.T Kansil, Hukum Perusahaan Indonesia (Aspek Hukum Dalam Bisnis Bagian I) Edisi Revisi (Jakarta: PT.Pradnya Paramita, 2001) hlm. 389- 390.

12R.T. Sutantya R. Hadhikusuma dan Sumatoro, Pengertian Pokok Hukum Perusahaan (Jakarta: Rajawali Pers, 1996) hlm. 212.

13M. Hawin, op.cit, hlm. 5.

14Sunaryati Hartono, Aspek-aspek Transnasional Dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia (Bandung: Bina Cipta, 1972), hlm. 127.

(27)

Pendahuluan

11

Syarat Joint Venture bervariasi pada setiap negara, di sebagian negara syaratnya adalah mutlak untuk semua bidang investasi dan memberikan ketentuan terhadap pihak asing untuk dapat memiliki modal hanya terbatas yaitu sebesar 49 %, sedangkan pada negara-negara lain kebijkannya tidak sekeras itu, artinya jumlah maksimal equity asing (modal asing) akan tergantung kepada sektor ekonomi yang terlibat, misalnya untuk sektor- sektor tertentu maksimal partisipasi asing sebesar 40 % dan pada sektor- sektor lain lagi maksimalnya 60 % atau sebagian sektor sama sekali tertutup untuk investor asing (PMA).

Pemikiran para ahli tentang joint venture selalu berbeda, namun menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak bahwa ada satu hal yang memiliki persamaan yaitu salah satu bentuk kerja sama yang dikenal dalam dunia usaha. Kerja sama itu bisa sebagian atau parsial di antara perusahan yang secara yuridis dan ekonomis masih tetap berdiri sendiri.

Kerja sama dalam joint venture pada setiap enterprises (perusahaan) selalu berbeda. Menurut Smith bahwa kerja sama bisa terjadi atas dasar suatu kontrak, bisa juga sebagai partner, atau bisa saja melalui saham.15

Dikatakan melalui saham tersebut di atas menurut Abdurrachman adalah suatu bagian dalam kepemilikan suatu enterprises (perusahaan) atau suatu modal yang ditanam dalam suatu perusahaan seperti yang diwakili oleh bagian-bagian dari modal itu yang dimiliki oleh individu masing- masing dalam bentuk sertifi kat saham.16

Kebebasan joint venture dalam undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) tidak diatur secara tegas kepada siapa harus dilakukan dengannya, untuk itu yang terjadi sekarang ini bisa dilakuan antara pengusaha dengan pengusaha atau bisa saja pengusaha dengan pemerintah, hanya saja melakukan joint venture dengan pemerintah dimungkinkan untuk memperoleh keuntungan atau dapat pula menimbulkan kerugian.

Keuntungan dan kerugian yang diperoleh jika pemerintah (penguasa) sebagai partner dalam kerja sama bentuk joint venture menurut Raaymakers adalah:17

1. Dengan adanya hubungan baik dengan penguasa, maka dapat diperoleh fasilitas-fasilitas yang menguntungkan. Sebagai misal, penguasaan dapat mengeluarkan peraturan di bidang perpajakan yang meringankan

15Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Perusahaan Kelompok (Group Kompany/Concern) (Yogyakarta: Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum UGM, 1994), hlm. 23.

16Munir Fuady, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma Hukum Bisnis (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997), hlm. 35.

17Emmy Pangaribuan Simanjuntak, op.cit, hlm. 23-24.

(28)

atau menetapkan bahwa produk dari perusahaan joint venture itulah yang harus dipasarkan di dalam negeri dan tidak boleh barang sejenis diimpor.

2. Perusahaan joint venture itu dapat memperoleh fasilitas di dalam bentuk pinjaman atau sarana pembiayaan dengan cara yang relatif murah. Dengan demikian, perusahaan joint venture dapat membiayai penanganan proyek-proyek besar yang tidak dapat ditangani oleh perusahaan partner secara sendiri. Dalam hal tertentu dapat lebih mudah memperoleh izin usaha.

Adapun kelemahan-kelemahannya adalah:

1. Partner tidak kuasa secara bebas menentukan atau memutuskan hal-hal tertentu, seperti penentuan laba, penggunaan laba, politik harga dan pemilihan saluran distrubusi.

2. Penguasa lebih dominan menentukan suatu kebijakan perusahan.

Sebenarnya kerjasama joint venture penguasa denganpengusaha,

Bila dilihat dari sisi hukum dapat mengakibatkan jatuhnya wibawa pemerintah, karena penguasa yang fungsinya menjalankan pengontrol dan menjalankan roda pemerintahan serta menegakkan hukum dapat secara langsung melakukan keberpihakan demi untuk sukses perusahaannya (corporate), atau sekalipun ada sesuatu perbuatan hukum yang semata- mata merugikan negara tetapi dipandang menguntungkan perusahan maka pemerintah tidak dapat menegakkan hukum terhadapnya. Jadi tindakan pemerintah hanya sebatas menegurnya.

Setiap kerja sama melaui joint venture Menurut Raaymakers ada beberapa keuntungan yang diperolehnya, yaitu:

1. Pembatasan risiko, artinya karena dengan kerjasama maka risiko disebarkan ke semua peserta.

2. Pembiayaan; Dengan kerjasama maka kesulitan modal teratasi dengan jalan menyatukannya atau modal diatasi secara bersama.

3. Menghemat tenaga, artinya dengan kerjasama tersebut maka mengurangi personalia yang dibutuhkan dibandingan dengan kegiatan yang dilakukan sendiri oleh setiap perusahaan.

4. Rentabilitas, artinya hal menguntungkan atau merugikan dari investasi- investasi yang ada dari para pihak dapat diperbaiki.

5. Kemungkinan optimasi know-how, artinya mampu menyatukan partner-partner yang tidak sejenis baik dalam negeri maupun luar negeri. Perusahaan-perusahaan yang tidak sejenis usahanya mengadakan

(29)

Pendahuluan

13

kerjasama sehingga dapat terjadi diversifi kasi (membuatnya beragam) usaha.

6. Kemungkinan pembatasan konkurensi (persaingan).18

Jelasnya kerjasama melalui jonit venture ini dilihat dari sisi hukum sangatlah menguntungkan karena dapat menghindarkan pertikaian antar perusahaan, artinya persaingan yang terjadi sangat ketat antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya bila perusahaan-perusahaan tersebut bendiri sendiri, tetapi jika adanya kerjasama melalui joint venture maka pertikaian tersebut tidak akan dapat terjadi, karena pihak-pihak yang bergerak dalam bidang usaha yang sama terhimpun dalam satu wadah.

Secara rinci keuntungan yang di peroleh negara lewat joint venture sejak keluarnya UU No. 1 Tahun 1967 walaupun belum maksimal seperti yang dicita-citakan negara, namun minimalnya sudah ada tujuan- tujuan tertentu yang dicapainya, yaitu:

1. lebih mudah terjadinya transfer of teknology dan management skill, 2. berkurangnya risiko dominasi asing,

3. lebih mudah terintegrasi keadaan ekonomi lokal. Lebih memungkinkan bagi host country (tuan rumah) untuk mengambil seluruh proyek, 4. memfasilitasi akses kepada jaringan pasar internasional partner asing, 5. lebih responsive kepada kebijakan-kebijakan pemerintah dan lebih bisa

beroperasi untuk kepentingan lokal.19

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia memang sudah cukup lama karena diatur melalui undang-undang setelah 23 tahun dari kemerdekaannya. Sekalipun dipandang sudah cukup lama tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara “Macan Asia” lainnya seperti Korea Selatan dan Taiwan maka Indonesia digolongkan sangat muda, karena negara-negara tersebut saat itu saja sudah termasuk New Industrialized Country (NIC) atau Negara Industri Baru (NIB).

Dikatakan Penanaman Modal Asing (foreign investment) dalam arti yang luas terdiri dari penanaman modal melalui empat metode, yaitu:

1. Penanaman Modal Asing (foreign investment) secara langsung. Bentuk ini merupakan penanaman modal asing dalam arti sempit, artinya pihak asing atau perusahan asing membeli langsung (tanpa lewat pasar modal) saham perusahan nasional atau mendirikan perusaha baru, baik lewat Badan Koodinasi Penanaman Modal (BKPM) atau

18Ibid.

19M. Hawin, loc.cit, hlm. 6.

(30)

lewat departemen lain. Istilah PMA semacam inilah sering digunakan dan diartikan dalam praktek.

2. Penanaman Modal Asing (foreign investment) secara tidak langsung.

Model ini dilakukan dengan jalan membeli saham-saham perusahan nasional oleh pihak asing, melalui pasar modal (capital market), yaitu melalui bursa-bursa saham.

3. Penanaman Modal Asing (foreign investment) lewat pemberian pinjaman.

Bentuk ini hanya dilakukan dengan cara memberikan pinjaman modal oleh pihak asing kepada perusahan-perusahan domestik dalam bentuk pinjaman luar negeri (off shore loan), obligasi (bonds), wesel atau promes (notes), dan komersil dokumen (commercial papers).

4. Penanaman Modal Asing (foreign investment) Kontraktual. Cara ini hanya dilakukan dengan melalui ikatan kontraktual, artinya pihak asing mengadakan kontrak dengan pihak perusahaan domestik misalnya lisensi (surat izin barang dagangan) dan agency (keagenan).20

Berdasar pada pengertian secara global di atas dikaitkan dengan kedua perusahaan masing-masing Newcrest Singapore Holdings PTE. Ltd sebagai anak perusahaan dari Newcrest Australia yang didirikan di bawah hukum 1999308153 (Singapura) dan kantornya beralamat di 8 Robinson Rd # 08-00 Cosco Building, Singapore 048544 dan PT. Aneka Tambang (persero) Tbk Indonesia, badan hukum Indonesia yang didirikan dengan Akte Notaris Nomor 320 tanggal 30 Desember 1974, dibuat dihadapan Imas Fatimah, Notaris di Jakarta, Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-377 HT.01.04 Th .85 tanggal 25 Januari 1985, yang beralamat di Jl.

Letjen. TB Simatupang, Jakarta Selatan Indonesia yang mengolah emas dan perak di Kecamatan Malifut dan Kecamatan Kao, tepatnya di Tabobo, Ruait, Gosowong dan Toguraci Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara maka kegiatan kedua Perusahaan tersebut termasuk kerjasama joint venture sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam Joint Venture Agreement.

Atas dasar kerja sama joint venture kedua perusahaan (corporate) yang dituangkan melalui Joint Venture Agreement, secara tegas dinyatakan kerja sama melalui saham yang besarnya dinyatakan secara tegas dan disepakati dalam dokumen

Kemudian dengan besar saham tersebut pada tanggal, 11 April 1997 para pihak melalui Akta Notaris yang dibuat H.M. Afdal Gazali, SH mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama PT. Nusa Halmahera

20Munir Fuady, op.cit, hlm. 67- 68.

(31)

Pendahuluan

15

Minerals (NHM). Dasar pendirian perusahaan tersebut berdasarkan UU No.

1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, yang ditetapkan pada tanggal 7 Maret 1995 dan diundangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor:

13. Dengan berdirinya PT. Nusa Halmahera Minerals (NHM) kemudian melakukan Contract of Work (Kontrak Karya) dengan Pemerintah Republik Indonesia untuk menagani kegiatan usaha atau mengelola pertambangan emas-perak di wilayah atau di kawasan Kecamatan Malifut dan Kecamatan Kao Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara.

(32)
(33)

A. Perjanjian Dalam Konteks Bahasa, Hukum Perdata dan Teori Hukum.

I

stilah “perjanjian” sudah sejak lama dikenal manusia dan diterapkan hampir di semua kegitan. Pelaksanaannya melibatkan lebih dari satu orang, atau lebih dari satu badan hukum, atau dengan kata lain unsurnya lebih dari satu orang atau lebih dari satu badan hukum. Pelaksanaan perjanjian tersebut biasanya untuk kebaikan tetapi terkadang salah digunakan sehingga diterapkan juga untuk kejahatan, contoh perjanjian yang diterapkan untuk kebaikan yaitu perjanjian yang dilakukan antara dua orang atau lebih dalam hal perdagangan, atau perjanjian yang dilakukan antara seorang pria dengan seorang wanita untuk menikah. Sedangkan contoh perjanjian yang digunakan untuk kejahatan, misalnya perjanjian antara seorang pengusaha dengan seorang preman untuk melakukan pembunuhan terhadap pesaing bisnisnya. Karena lingkupnya cukup luas dan diterapkan sesuai dengan kepentingan pada setiap bidang kegiatan, baik itu untuk kejahatan atau kebaikan sehingga pengertiannnya selalu disesuaikan dan dikaitkan dengan perbuatan tersebut.

Walaupun perjanjian sudah lama dikenal dikalangan masyarakat, baik masyarakat primitif maupun masyarakat modern, akan tetapi masih terdapat perbedaan dalam hal pengertiannya. Untuk itu pengertian perjanjian dalam pembahasan ini hanya dibatasi pada dimensi hukum saja.

Pengertian “perjanjian” dalam bahasa Indonesia adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing berjanji akan menaati apa yang tersebut dipersetujuan itu.1 Pengertian tersebut identik dengan “Contrat (Bahasa Perancis),”2

1Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

2Paryatun, Kamus Besar Bahasa Perancis Cetakan Pertama (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2013)

Bab 1

PERJANJIAN DALAM KONTEKS TEORI

DAN UNDANG-UNDANG

(34)

Overeen’komst (Bahasa Belanda),”3 dan “Contract (Bahasa Inggris)”4 karena hukum perdata Indonesia diadopsi dari Burgerlijke Wetboek-BW (hukum Perdata Eropa Kontinental) dan dalam perkembangannya dipengaruhi hukum Anglo Saxon (Anglo Saksis).

B. Teori- teori Perjanjian.

Sudikno Mertokusumo mendefenisikan “perjanjian sebagai suatu hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat hukum.”5

Menurut Subekti “Perjanjian adalah suatu peristiwa seorang berjanji kepada seorang lain atau dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”6

Peristiwa perjanjian melahirkan suatu hubungan antara kedua pihak yang dinamakan “perikatan”. Perikatan dimaksud menurut R. Setiawan adalah suatu hubungan hukum, sedangkan menurut Subekti “perikatan”

dimaksud adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.7

Titik sentrum pandangan antara R. Setiawan dan Subekti yaitu bahwa R. Setiawan menitik berat pada hubungan para pihak, sedangkan Subekti menambahkan tuntutan berkaitan dengan hak dan kewajiban para pihak. Dari pandangan kedua ahli menunjukkan tidak ada perbedaan substantif, yang ada hanyalah saling melengkapi.

Atas dasar pemikiran para ahli hukum bahwa perjanjian dapat melahirkan perikatan karena dapat memenuhi beberapa kriteria. Dasar berpikir tersebut maka dalam hukum bisnis Mariam Darus Badrulzaman menyatakan ada empat kriteria, yaitu: (1) adanya hubungan hukum, (2) adanya kekayaan, (3) danya para pihak, (4) adanya prestasi. 8

3S. Wojowarsito, Kamus Umum Belanda Indonesia, (Jakarta: PT Ictiar Baru van Hoeve, 2000).

4John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia Cetakan XX (Jakarta: PT Gramedia, 1992)

5Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Edisi Keempat (Yogyakarta:

Liberty, 2002) hlm. 110

6R. Subekti, Aneka Perjanjian (Bandung: Citra Aditya, 1997) hlm. 98.

7Ibid.

8Mariam Darus Badurulzaman, Kumpulan Tulisan Dalam Rangka Menyambut Masa Purna Bakti Usia 70 Tahun Mariam Darus Badurulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan (Bandaung:

Citra Aditya Bakti, 2001) hlm. 3

(35)

Perjanjian Dalam Konteks Teori dan Undang-Undang

19

Hubungannya dengan bisnis Prodjodikoro menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu hubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak dalam mana satu pihak berjanji untuk melakukan suatu hal, sedangkan pihak yang berhak untuk menuntut perjanjian itu.

Calamari and Perillo menyatakan “A Contract is promise, or set of promises, for breach of which the law gives a remedy the perfomance of wich the law in some way recognizes as a duty”. (Artinya: Kontrak adalah janji atau seperangkat janji yang pelanggarannya membutuhkan hukum untuk memberikan kepada kinerja dari padanya hukum dapat melahirkn suatu kewajiban).

Konsep tentang perjanjian yang dikemukan para ahli di atas satu sama lainnya saling berbeda, ada yang menyebut perjanjian sebagai peristiwa, ada juga menyebut sebagai perbuatan, dan yang lainnya menyebut sebagai hubungan. Dalam teori klasik perjanjian tidak hanya dipandang sebagai sutu perbuatan, tetapi lebih konkrit lagi adalah suatu perbuatan hukum yang bersisi dua, artinya satu sisi sebagai penawaran dan sisi yang lain sebagai penerimaan. Setelah terjadinya perkembangan-perkembangan di berbagai macam bidang dan khususnya pada dunia bisnis maka perjanjian tidak lagi dianggap sebagai suatu perbuatan hukum yang bersisi dua, tetapi perjanjian merupakan dua perbuatan hukum yang masing-masing bersisi satu. Dua perbuatan hukum tersebut adalah penawaran dan penerimaan masing-masing menimbulkan akibat hukum, olehnya itu maka dikatakan perjanjian merupakan dua perbuatan hukum yang-masing bersisi satu.

Dengan demikian, dari rumusan perjanjian di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan pandangan dalam memberikan pengertian perjanjian dapat membuka pemikiran para ahli hukum untuk mengkaji lebih jauh guna mencari titik temu yang tepat dengan tanpa meninggalkan unsur- unsurnya.

Menurut Sudikno Mertokusumo unsur-unsur tersebut adalah unsur mutlak (essentialia), unsur naturalia, dan unsur accidentali.9 Untuk dipahami secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Unsur mutlak (essentialia) meliputi:

a. kata sepakat atau persesuaian kehendak, yaitu bahwa para pihak yang melakukan perjanjian mencapai kata sepakat atau Konsensus.

b. kecakapan para pihak, yaitu bahwa orang yang melakukan perjanjian harus mampu dalam artian dewasa menurut hukum dan tidak pikun atau sakit ingatan.

9Sudikno Mertokusumo, op.cit, hlm. 110-111

(36)

c. obyek tertentu dan causa atau dasar yang halal, yaitu bahwa harus ada obyek yang nyata, pasti dan halal.

2. Unsur- unsur yang lazim melekat pada perjanjian yang disebut unsur naturalia yaitu tanpa dimuat dalam perjanjian secara tegas tetapi dianggap ada karena merupakan pembawaan atau melekat pada perjanjian. Misalnya, dalam perjanjian jual beli penjual harus menjamin pembeli terhadap cacad-cacad yang tersembunyi.

3. Unsur yang harus dimuat atau disebut secara tegas dalam perjanjian yang dinamakan accidentalia. Unsur ini harus secara tegas diperjanjikan, misalnya mengenai tempat tinggal yang dipilih.

Atas dasar teori yang dikemukakan di atas kemudian dalam implementasinya P.N.H. Simanjuntak10 menyatakan bahwa suatu perjanjian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut yaitu (1) ada para pihak, (b) ada persetujuan para pihak, (3) ada tujuan yang akan dicapai, (4) ada prestasi yang akan dilaksanakan, (5) ada bentuk tertentu, baik lisan maupun tulisan, (6) Ada syarat-syarat tertentu.

C. Perjanjian Dalam Konteks Hukum Perdata Indonesia.

Perjanjian merupakan bagian dari hukum perdata. Di Indonesia diatur melalui Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang dalam defenisinya dinyatakan bahwa “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”

Bila dilihat pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata tersebut di atas nampaknya sangat umum, artinya tidak memberikan batasannya atau tidak menjelaskan secara konkrit berkaitan dengan hal apa., Akibatnya timbul berbagai interpretasi yang berbeda dikalangan pakar- pakar hukum. Berdasar pada pengertian yang dipandang sangat umum di atas maka dapat diterapkan pada berbagai perbuatan hukum, baik dalam hal jual beli, kontrak, sewa menyewa maupun perkawinan atau berkaitan dengan perbuatan hukum baik yang diatur dalam peraturan hukum/

undang-undang maupun di luar dari ketentuan itu.

Perbuatan hukum menurut Sudikno Mertokusumo adalah perbuatan subyek hukum yang ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum yang sengaja dikehendaki oleh subyek hukum. Pada asasnya akibat hukum ini ditentukan juga oleh hukum. Unsur-unsur perbuatan hukum adalah kehendak yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum.11

10P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia (Jakarta: Jambatan, 1999) hlm. 332.

11Sudikno Mertokusumo, loc.cit, hlm. 51.

(37)

Perjanjian Dalam Konteks Teori dan Undang-Undang

21

Perbuatan hukum dapat bersifat aktif maupun pasif. Meskipun seseorang tidak berbuat, tetapi kalau dari sikapnya yang pasif itu dapat ditafsirkan mengandung pernyataan kehendak untuk menimbulkan akibat hukum, maka perbuatan yang pasif itupun merupakan perbuatan hukum.

Perbuatan menjadi perbuatan hukum, karena dalam keadaan tertentu mempunyai arti. Misalnya, kalau seorang menuju ke sebuah becak yang sedang mangkal ditepi jalan dan kemudian duduk didalamnya akan dianggap bahwa meminta kapada tukang becak untuk mengantarnya ke suatu tempat.12

Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa “perbuatan menjadi perbuatan hukum,” dapat dipahami penulis bahwa tidak semua perbuatan adalah perbuatan hukum karena dikatakan perbuatan hukum adalah akibat dari suatu kesengajaan dari subyek hukum terhadap suatu kehendak dan pernyataan kehendak.

Beranjak dari konsep perbuatan hukum yang dibangunnya kemudian selanjutnya Sudikno Mertokusumo membaginya menjadi dua, yaitu:

(1) Perbuatan hukum sepihak, yaitu hanya memerlukan kehendak untuk menimbulkan akibat hukum dan satu subyek hukum saja, seperti hibah (schenking) dan wasiat yang pada saat pernyataan kehendak itu timbul calon penerimaya tidak mengetahuinya. Jadi perbutan hukum sepihak tidak membutuhkan kerja sama pihak yang menerima pernyataan kehendak;

(2) Perbuatan hukum ganda, yaitu perbuatan hukum yang memerlukan kehendak dan pernyataan kehendak dari sekurang-kurangnya dua subyek hukum yang ditujukan kepada akibat hukum yang sama. Termasuk dalam perbuatan hukum ganda adalah perjanjian dan perbuatan hukum ganda lainnya, seperti pendirian Perseroan Terbatas (PT).

Konklusinya terhadap Pasal 1313 KUH Perdata bahwa karena pengertian yang telah diberikan bersifat umum, maka tidak bisa diklaim bahwa hanya terbatas pada perjanjian/kontrak sesuai dengan undang- undang/peraturan hukum melainkan terbuka untuk semua, baik melalui akta tertulis maupun tidak tertulis.

D. Perjanjian Dalam Konteks Hukum Islam.

Hukum Islam merupakan suatu sistem hukum yang salah satu sisinya sama dengan sistem hukum lainnya. Di dunia ini terdapat beberapa sistem hukum, diantaranya sistem hukum Sipil atau Eropa Kontinental

12Ibid.

(38)

(civil law),13 sistem hukum Anglo Saxon atau Anglo Saksis (Common Law),14 sistem Hukum Agama,15 sistem hukum adat (adat recht),16 dan sistem hukum negara Blok Timur Sosialis,17 akan tetapi pada sisi yang lain memiliki perbedaan yang fundamental, karena sistem hukum Islam sumber

13H. Juhaya S. Praja, Teori Hukum dan Aplikasinya Cetakan Pertama (Bandung: CV Pustaka Stia, 2011) hlm. 64-65. Sistem Hukum Civil Law dikenal dengan Romano Germanic Legal System merupakan sistem hukum yang berkembang di daratan Eropa. Ciri sistem hukum ini adalah penggunaan peraturan hukum tertulis. Sistem hukum ini berkembang di dataran Eropa dan daerah-daerah jajahannya. Sistem hukum Eropa Kontinental terbagi dua yaitu hukum publik yang negara sebagai subyek/obyek dan hukum privat yang negara bertindak sebagai wasit. Negara- negara penganut sistem hukum Eropa Kontinental adalah: Albania, Autria, Belanda, Belgium, Bulgaria, Brasil, Chili, Republik Cheko, Denmark, Republik Dominica, Ekuador, Estonia, Finlandia, Guatemala, Haiti, Hongaria, Italia (didasarkan pada sistem hukum Romawi yang dikodifi kasikan dengan unsure-unsur dari kode hukum Napoleon). Jepang (mengikuti sistem hukum Eropa, dengan pengaruh Inggris-Amerika), Jerman, Colombia, Kroasi, Latvia (umumnya dipengaruhi Jerman, sebagian pengaruh sistem hukum Rusia dan Soviet), Luxembourg, Makau (didasarkan pada sistem hukum Portugal yang didasarkan pada tradisi daratan Eropa, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh Jerman, juga dipengaruhi sistem hukum RRT), Malta (mulanya didasarkan pada Hukum Romawi dan akhirnya berkembang menjadi Kode Hukum Rohan, Codex Napoleon dengan pengaruh dari sistem Hukum Italia. Common Law Britania juga merupakan sumber dari sistem hukum Malta, yaitu hukum publik), Meksiko, Norwegia, Panama, Perancis, Peru, Polandia, Portugal, Rusia, Slowakia, Spanyol, Swedia, Swiss, Thailand, Republik Rakyat Tiongkok (didasarkan pada sistem hukum sipil; diambil dari prinsip-prinsip hukum sipil Soviet dari daratan Eropa), Vietnam (teori hukum komunis dan hukum sipil Perancis), Yunani (didasarkan pada sistem hukum Romawi yang dikodifi kasikan). Sistem hukum Eropa Kontinental dianut hampir 60% dari populasi dunia.

14Ibid. Ciri sitem hukum Anglo Saxon atau Common Law ini didasarkan pada yurisprudensi.

Penganut sistem ini adalah Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec), dan Amerika Serikat (Louisiana mempergunakan sistem hukum campuran dengan sistem Eropa Kontinental Napoleon). Beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo Saxon campuran, misalnya Pakistan, India, dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo Saxon, tetapi memberlakukan juga hukum adat dan hukum agama.

15Ibid. Sistem Hukum Agama ini diterapkan di negara Arab Saudi, Iran, Sudan, dan Suriah (menggunakan sistem Hukum Islam) dan Vatikan (menggunakan sistem Hukum Agama Kristen).

16 Ibid. Sistem Hukum Adat diterapkan di daerah-daerah terpencil yaitu di Mongolia, Sri Lanka, dan Indonesia.

17Ibid. dikutip dari Budiono Kusumohamidjoyo, Filsafat Hukum Problematika Ketertiban yang Adil (Jakarta: Raja Grasindo, 2005) hlm. 94 dan 102: Sistem Hukum Sosialis dipergunakan di negara Uni Soviet dan hilang setelah pembubaran negara tersebut. Sistem hukum ini berlaku sejak masa Revolusi Rusia tahun 1917 dan diperkuat dengan berdirinya Partai Komunis Rusia tahun 1921 dengan menerapkan konsep Karl Max yaitu pelucutan tuan-tuan tanah dari kekuasaan feodal atas 150 juta hektar tanah dan didirikannya Partai Komunis yang berakibat pada dilarangnya segala bentuk oposisi. Pada tanggal 15 September 1991 Gorbachev menandatangani dekrit organ kekuasaan negara, pembentukan negara persemakmuran menjadi awal kehancuran Uni Soviet dengan hancurnya sistem politik dan tata negara, maka sistem Hukum Sosialis pun menjadi hancur.

(39)

Perjanjian Dalam Konteks Teori dan Undang-Undang

23

utamanya Al-Qur’an, atau dengan kata lain kalau di bedah menggunakan teori stufen bau theory Hans Kelsen (hirarki) yang disusun seperti kerucut yang diurut dari ujung kerucut ke bawah maka kedudukan tertinggi adalah Al-Qur’an – Hadits – Ijma – Qiyas, dan Al-Qur’an berasal dari Allah SWT yang tidak berubah sejak lahirnya sampai hari kiamat, sedangkan hadits adalah apa yang diriwayatkan oleh Nabi besar Muhammad Rasulullah SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (taqrir), sementara sistem hukum Eropa Kontinental dan sistem hukum Anglo Saxon (Anglo Saksis) berasal dari pikiran fi lsuf dan fi losof yang dapat bertahan atau berubah tergantung dari politik negara penganutnya.

Hukum Islam18 sebagai sistem hukum yang mencakup hubungan pada dua dimensi berbeda yaitu hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan Allah (hablum minannas). Pada dimensi manusia dengan Allah dapat mengatur hak dan kewajiban melalui perintah kewajiban dan janji akan diterimanya hak disuatu saat nanti, sementara pada dimensi manusia dengan manusia sebagai alat pengontrol, petunjuk, dan pengatur tatanan hidup dalam rangka ketertiban, kemanfaatan, dan keadilan untuk mewujudkan kesejahteraan.

Begitu luas cakupan dan sempurnanya hukum Islam maka setiap permasalahan yang muncul mampu mengatasinya. Berkaitan dengan perjanjian atau kontrak sistem hukum Islam juga memiliki konsep tersendiri, yaitu dalam Hukum Islam disebut dengan al-aqd.

Menurut Ahmad Abu al-Fath bahwa al-aqd merupakan akar dari akad artinya mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt) yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “perjanjian.”19

18Ibid. Pada masa kolonialisasi di Indonesia berkaitan dengan hukum Islam lahirlah Teori Receptie in Complexu dari Gibb yang didukung Lodewijek Willem Cristian van den Berg (1845 – 1927) isinya bahwa “Bagi orang Islam berlaku penuh hukum Islam sebab dia telah memeluk Islam walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat penyimpangan-penyimpangan.” Unsur- unsur dari teori Receptie in Complexu ini adalah: (1) hukum Islam dapat berlaku di Indonesia bagi pemeluk Islam, (2) umat Islam harus taat pada ajaran Islam, (3) hukum Islam berlaku universal pada berbagai bidang ekonomi, hukum pidana, dan hukum perdata. Berkaitan dengan

Gambar

Tabel 2: Perbandingan sebelum dan sesudah Deregulasi, Pemilikan Saham  Asing  Pada PMA
Tabel 3 Produksi bahan tambang utama Indonesia 1938- 1941. 15
Tabel 6 Produksi Bahan Tambang Utama Indonesia. 29 Mineral dan

Referensi

Dokumen terkait

Kewajiban orang yang meminjamkan dalam hukum perdata (BW) diatur dalam Pasal ..... Sifat perjanjian penanggungan merupakan

Undang-undang (KUH Perdata) hanya menetukan bahwa orang- orang tertentu tidak cakap untuk membuat perjanjian sebagaimana di atur dalam Pasal 1330 KUH Perdata. Oleh karena itu,

Terkait dengan perjanjian ruilslag, pada hakikatnya pranata hukum ruilslag dilihat dari aspek hukum perdata merupakan hubungan hukum perdata biasa, yakni perjanjian

Kemudian Pasal 1702 KUH Perdata menyatakan , jika penitipan dilakukan oleh seorang yang berhak kepada seorang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian, maka pihak yang menitipkan

Syarat batal dari perjanjian menurut pasal 1446 KUH Perdata adalah, pembatalan atas perjanjian yang telah dibuat antara kedua belah pihak yang melakukan perjanjian, dapat

Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut

Implikasi Yuridis Terhadap Status Kepemilikan Tanah Warga Negara Asing Melalui Perjanjian Nominee Berdasarkan Konsep Kepastian Hukum Kitab Udang-Undang Hukum Perdata KUH Perdata

Berlakunya asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian Indonesia antara lain dapat disimpulkan dari Pasal 1329 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang menentukan bahwa setiap orang