Bab 5 KONTRAK KARYA (Contract of Work)
D. Ketertarikan PMA Terhadap Kontrak Karya
Kontrak Karya yang secara lex specialis diatur dalam UU No. 11 Tahun 1967 di Indonesia merupakan suatu kontrak yang paling seksi terhadap investor. Dikatakan menjadi daya tarik tersendiri karena banyak memberikan kemudahan-kemudahan terutama berkaitan dengan royalty dan kontribusi lainnya terhadap negara sehingga keuntungan diperoleh cukup besar.
Kontrak Karya
127
Ketertarikan cepat masuknya investor asing di bidang pertambangan melalui kontrak karya ini karena melihat ada celah hukum yang cukup besar yang bakal dapat memberikan keuntungan yang tidak tangguh-tangguh besarnya. Hal demikian seperti ditunjukkan Freeport pada Kontrak Karya Generasi I tahun 1967 dengan areal eksplorasi yang diberikan negara di wilayah Irian Jaya sebesar 10.908 hektar selama 30 puluh tahun sehingga dapat merugikan negara yang cukup besar yaitu:36
1. Perusahaan yang digunakan adalah Freeport Indonesia Incorporated yakni sebuah perusahaan yang terdaftar di Delaware, Amerika Serikat, dan tunduk pada hukum Amerika Serikat. Artinya perusahaan ini adalah perusahaan asing yang tidak tundukpada hukum Indonsia.
2. Dalam kontrak tidak ada kewajiban mengenai lingkungan hidup, karena pada waktu penandatangan kontrak karya pada tahun 1967 di Indonesia belum ada undang-undang tentang lingkungan hidup.
Tanpa ketentuan aturan hukum ini menyebabkan sejak awal Freeport membuang tailingnya ke Sungai Aikawa mengakibatkan terjadi pencemaran lingkungan.
3. Pengaturan perpajakan sama sekali tidak sesuai dengan pengaturan dalam undang-undang perpanjangan yang berlaku, baik jenis pajak maupun strukturnya, demikian juga dengan pengaturan dan tariff depresiasi yang diberlakukan. Misalnya Freeport tidak wajib membayar PBB atau PPN.
4. Tidak sesuainya struktur pajak maupun tarif pajak yang diberlakukan dalam kontrak karya generasi I dirasakan sebagai pelanggaran terhadap keadilan, baik terhadap perusahaan lain, maupun terhadap daerah.
Freeport pada waktu itu tidak wajib membayar selain PBB juga, land rent, bea balik nama kendaraan, dan lain-lain pajak yang menjadi pemasukan bagi daerah.
5. Tidak ada kewajiban bagi Freeport untuk melakukan community development. Akibatnya, keberadaan Freeport di Irian Jaya tidak memberi dampak positif secara langsung terhadap masyarakat setempat.
Pada waktu itu, pertambangan tembaga di Pulau Bougenville harus dihentikan operasinya karena gejolak sosial.
6. Freeport diberikan kebebasan dalam pengaturan manajemen dan operas, serta kebebasan dalam transaksi dalam devisa asing. Freeport juga memperoleh kelonggaran fi skal, antara lain tax holiday selama 3 tahun pertama setelah mulai produksi. Untuk tahun berikutnya selama
36Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, Cetakan Pertama (Jakarta: Sinar Grafi ka, 2011), hlm.
163- 164.
7 tahun, Freeport hanya dikenakan pajak sebesar 35%. Setelah itu pajak yang dikenakan meningkat menjadi sekitar 41,75%. Freeport juga dibebaskan dari segala jenis pajak lainnya dari pembayaran royalti atas atas penjualan tembaga dan emas kecuali pajak penjualannya hanya 5%.
Realita di atas menunjukkan bahwa cost & benefi t yang diterima Indonesia sebagai negara pemilik tambang, cost nya lebih besar dari benefi t yang diterimanya. Hal demikian terungkap melalui status hukum pendiriannya, tanggung jawab terhadap lingkungan, pembayaran PBB atau PPN, land rent, bea balik nama kendaraan, kebebasan dalam manajemen dan operasi serta devisa, tax holiday dan pembayaran royalti.
Kontrak karya di Indonesia yang dalam terminologi bahasa Inggris disebut Contract of Work (CoW) selalu dipandang merugikan ini berbeda dengan istilah yang digunakan dan diterapkan pada pertambangan di negara tetangga Australia, seperti ditulis oleh Crommelin 1981, Mc.
Namara 1982, Warnick 1988, dan Sony Rospita Simanjuntak 2000 yaitu Work of Contract atau lazim disebut indenture, franchise agreement, state agreement of government agreement dipandang para investor yang menanamkan investasinya cukup disenangi sebab ada beberapa faktor dianggap menguntungkan yaitu:37
1. Memerlukan lahan yang luas. Obyek yang besar ini dibutuhkan karena proses penambangan merupakan proyek skala besar dengan membutuhkan pembangunan infrastruktur yang cukup dan lengkap.
Sistem kontrak tersebut dikhususkan pada proyek-proyek yang letak lokasi dan syaratnya: (a) di daerah frontier, dengan penegasan prasarana fi sik berupa listrik, air dan jalan harus dibangun; (b) membangun prasarana sosial diperkotaan berupa sekolah, dan rumah sakit. Saling tukar kepentingan ini, corporate meminta agar pemerintah mengeluarkan suatu peraturan hukum khusus untuk pemegang hak atas tanah agar melepaskan haknya untuk usaha pertambangan sejak eksplorasi sampai produksi.
2. Sisi permodalan dapat menjamin kenyamanan bagi pemegang saham dan lenders.
3. Jangka waktu menambang yang diberikan cukup panjang.
Ketegasan pemerintah di atas, pihak corporate tidak menerima begitu saja, tetapi untuk keseimbanganya pihak corporate pertambangan meminta pemerintah menjamin beberapa hal:38
37Salim HS, Hukum Pertambangan Indonesia, Cetakan Kelima (Jakarta: PT Raja Grafi ndo Persada, 2010), hlm. 138- 140.
38Ibid.
Kontrak Karya
129
1. Menjamin terciptanya kerjasama yang baik antara pemerintah daerah tempat terdapatnya lokasi pertambangan dengan badan-badan pemerintahan yang lainnya;
2. Pemegang hak khusus atas air bawah tanah, karena air sangat dibutuhkan dalam proses pemurnian mineral. Dahulu ditetapkan standar dan prosedur tentang lingkungan hidup, tetapi sekarang sudah ada peraturan khusus tentang lingkungan yang melarangnya;
3. Permintaan penerapan tariff khusus atas royalty dan pajak;
4. Ketetapan khusus mengenai pengamanan fi sik lokasi tambang;
5. Adanya penyelesaian hak adat (native law) atas tanah, bahan galian, dan tempat suci yang baik;
6. Hanya ada satu point of contract saja, biasanya departemen yang membawahi sektor pertambangan, yang akan mengordinasikan semua pihak terkait diberbagai departemen dan badan-badan sebagai wakil pemerintah.
Untuk dipenuhi semua permintaan investor di atas dapat dituangkan dalam/dan ditandatangan melalui State Agreement dengan pemerintah.
Hal tersebut menjadi daya tari bagi para ahli hukum di Australia karena membutuhkan ratifi kasi parlemen. Hal tersebut dapat terlihat dari nama kontraknya yaitu “Th e Broken Hill Proprietary Company,s Indenture Act 1937- 1940” (SA). Adanya ketegasan dilakukan ratifi kasi oleh parlemen karena beberapa hal:39
1. Ratifi kasi untuk pemberian kekuatan hukum bagi pemerintah sebagai eksekutif untuk meningkatkan diri secara sah dalam suatu perjanjian.
Oleh karena itu, yang bermain disini tidak hanya hukum kontrak dan hukum administrasi saja, tetapi juga hukum tata negara. Hal tersebut terlebih-lebih mengingat sering-seringnya ketentuan dalam perjanjian menyimpang dari ketentuan umum yang diatur oleh undang-undang (misalnya tidak sama dengan ditetapkan oleh hukum tata ruang, peraturan sumber daya air, atau hukum pajak).
2. Ratifi kasi membawa arti bahwa pemerintah sebagai salah satu pihak dalam berkontrak dapat dituntut ke pengadilan apabila terbukti melakukan wanprestasi.
Kontrak karya (indenture) yang diterapkan di pertambangan Australia bila dibandingkan dengan kontrak karya (contract of work) yang dianut di Indonesia. Indenture itu memberikan dampak keuntungan nilai ekonomi yang tinggi dan efektif, sedangkan contract of work di Indonesia dampak kerugiannya yang cukup memprihatinkan.
39Ibid.
Menurut penulis, kenyataan penerapannya di kedua negara menunjukkan demikian karena di dukung oleh 7 (tujuh) hal:
1. Australia merupakan suatu negara power yang memiliki kekuatan untuk melakukan penetrasi terhadap corporate agar jujur dan tetap tunduk pada kekuatan negara sebagai pemilik hak pertambangan, sedangkan Indonesia sebagai negara berkembang yang sekalipun berdaulat tetapi memiliki kekuatan terbatas terhadap corporate asing;
2. Australia memiliki pengalaman pengelolaan yang cukup di bidang pertambangan, sedangkan Indonesia minim pengalaman karena pengelolaan tersebut baru dilakukan setelah keluarnya UU No. 1 Tahun 1967 dan UU No. 11 Tahun 1967.
3. Australia memiliki sumber daya manusia di bidang pertambangan yang handal, berprestasi dan mampu berkompetisi ditingkat dunia, sedangkan sumber daya manusia Indonesia di bidang pertambangan masih kurang dan rendah.
4. Australia memiliki kemampuan ekonomi sehingga jika terjadi sengketa dengan corporate berkaitan, misalnya nilai saham maka negara cepat memenuhinya, dan bila terjadi perselisihan dengan negara berkaitan dengan hal tersebut maka negara bisa memberikan ganti rugi dan membatalkan kontrak, sedangkan Indonesia memiliki kemampuan ekonomi masih terbatas sehingga tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.
5. Empat corporate pertambangan besar tingkat dunia PT Inco, PT Newcrest, PT Newmont, dan PT Freeport. Keempat perusahaan ini, salah satu diantaranya berdomisili di Australia yaitu PT Newcrest.
Empat raksasa pengeruk perut bumi ini sebenarnya mendapat dukungan dari negara domisilinya, negara-negara Barat penghasil tambang dan Amerika AS sehingga ada kesepakatan secara politik saling melindungi, sementara Indonesia tidak memiliki dukungan kekuatan politik semacam itu.
6. Australi memiliki pengalaman pembuatan kontrak di bidang pertambangan karena perusahaan-perusahaan raksasanya di bidang pengelolaan tambang sudah masuk kategori level satu pada tingkat dunia, sedangkan kemampuan ahli hukum kontrak di bidang pertambangan Indonesia masih memiliki kemampuan terbatas dan berada pada tingkat standar.
7. Sesuai ketentuan Australia, Parlemen bisa meratifi kasi kontrak karya (indenture) yang telah di buat antara pemerintah dengan corporate.
Untuk itu maka kontrak yang dibuat benar-benar berkualitas,
Kontrak Karya
131
memiliki celah kesalahan yang minim, saling menguntungkan, adanya equilibrium, dan proporsionalitas, sedangkan di Indonesia kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya terbatas pada menyetujuinya dengan kekuatan pertimbangan bahwa kontrak yang salah satu pihak adalah negara yang diwakili pemerintah dianggap semua sudah terpenuhi syarat dan tidak bakal menimbul masalah dikemudian nanti.