Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
D. Tata Cara Penanaman Modal Asing
bagi hasil terhadap produksi yang telah dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
b. Penanaman modal dengan DICS (Debt Investment Conversion Scheme) rupiah
Yang dimaksud dengan DICS (Debt Investment Conversion Scheme) adalah utang, khususnya tagihan-tagihan kreditur yang diubah menjadi investasi atau penanaman modal asing menurut PMA (foreign investment).
Pertimbangan diadakannya DICS ini adalah karena pada hakikatnya di Indonesia belum mampu untuk melakukan pembayaran atas utang-utangnya dalam waktu dekat, dan utang-utang ini tidak dijamin oleh pemerintah asing. Dengan adanya DICS ini maka berarti utang pada kreditur asing yang semula dalam mata uang atau valuta asing dapat dibayar dengan rupiah, berdasarkan kurs seperti yang ditetapkan dalam rangka UUPMA.
c. Kredit untuk proyek.
Kredit ini dalam bentuk modal berupa barang dan bukan berupa uang. Misalnya, mendatangkan alat-alat guna keperluan mendirikan pabrik, dengan kredit dari luar negeri. Kredit untuk proyek ini meliputi barang modal dan bahan baku.
d. Kredit investasi pemerintah kepada swasta nasional.
Pada kerjasama ini pemerintah mendapatkan kredit berupa devisa, kemudian kredit ini mengkreditkan lagi kepada pihak-pihak swasta nasional.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
61
1. Kekuatan ekonomi potensial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia belum diolah menjadi ketentuan ekonomi riil karena kekurangan modal, pengalaman, dan teknologi.
2. Pembangunan ekonomi merupakan pengolahan kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan dan peningkatan pengetahuan, keterampilan, organisasi manajemen berdasarkan Pancasila.
3. Penanggulangan masalah ekonomi dan pembangunan lebih lanjut potensi ekonomi harus berdasarkan kemampuan dan kesanggupan rakyat Indonesia sendiri.
4. Untuk meningkatkan kemampuan dan kesanggupan sendiri tidak perlu segan memanfaatkan potensi modal, teknologi dan skill dari luar negeri untuk kepentingan ekonomi rakyat, sepanjang tidak mengakibatkan ketergantungan.
5. Pemanfaatan modal secara maksimal diperlukan guna mempercepat pembangunan ekonomi dalam bidang-bidang dan sektor-sektor yang dalam waktu dekat belum atau tidak dapat dilaksanakan oleh modal Indonesia sendiri.
Sekalipun undang-undang penanaman modal asing tersebut sewaktu dirancangnya dipandang sudah sempurna, akan tetapi karena perkembangan dunia selalu mengalami perubahan kearah progresif dan selalu berdampak juga terhadap ekonomi dunia secara global, maka untuk menyesuaikan perkembangan-perkembangan tersebut, UU No. 1 Tahun 1967 terpaksa diubah dan ditambah oleh pemerintah yang kemudian disahkan menjadi UU No. 11 Tahun 1970. Perubahan tersebut termuat pada Pasal 1 UU No. 11 Tahun 1970 yang dinyatakan bahwa UU No. 1 Tahun 1967 tentang Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) diubah dan ditambah sebagai berikut:
1. Pasal 15 yang semula berbunyi “Kepada perusahaan-perusahaan modal asing diberikan kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutan lainnya sebagai berikut:
a. Pembebasan dari:
1) Pajak perseroan atas keuntungan untuk jangka waktu tertentu yang tidak melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung dari saat usaha tersebut mulai berproduksi.
2) Pajak deviden atas bagian laba yang dibayarkan kepada pemegang saham, sejauh laba tersebut diperoleh dalam jangka waktu yang tidak melebihi waktu 5 (lima) tahun dan saat usaha tersebut mulai berproduksi.
3) Pajak perseroan atas keuntungan termaksud dalam pasal 19 sub a, yang ditanam kembali dalam perusahaan bersangkutan di Indonesia, untuk jangka waktu tertentu yang tidak melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung dari saat penanaman kembali.
4) Bea masuk pada waktu pemasukan barang-barang perlengkapan tetap ke dalam wilayah Indonesia, seperti mesin-mesin, alat-alat kerja atau pesawat-pesawat yang diperlukan untuk menjalankan perusahan itu.
5) Bea Meterai Modal atas penempatan modal yang berasal dari penanaman modal asing.
b. Keringanan:
1) Atas pengenaan pajak perseroan dengan suatu tarif yang proporsionil setinggi-tingginya lima puluh perseratus untuk jangka waktu yang tidak melebihi 5 (lima) tahun sesudah jangka waktu pembebasan sebagai yang dimaksud dalam ada angka 1 tersebut diatas.
2) Dengan cara memperhitungkan kerugian yang diderita selama jangka waktu pembebasan yang dimaksud pada huruf a angka 1, dengan keuntungan yang dikenakan pajak setelah jangka waktu tersebut di atas.
3) Dengan mengizinkan penyusutan yang dipercepat atas alat- alat perlengkapan tetap.
Perubahan Pasal 15 ini kemudian berubah secara total, sehingga pasal tersebut dapat berbunyi sebagai berikut, yaitu bahwa kepada perusahaan-perusahaan modal asing yang bergerak di bidang-bidang usaha termaksud dalam Pasal 5 UUPMA, diberikan kelonggaran- kelonggaran perpajakan seperti:
a. Bea Meterai Modal
b. Bea masuk dan pajak penjualan c. Bea balik nama
d. Pajak perseroan e. Pajak deviden
2. Pasal 16 yang semula berbunyi :
a. Pemberian kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutan- pungutan lain tersebut dalam pasal 15 dilakukan dengan mengingat prioritas mengenai bidang-bidang usaha sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 5.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
63
b. Selain kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutan- pungutan lain tersebut dalam ayat (1) pasal ini maka dengan Peraturan Pemerintah dapat diberikan tambahan kelonggaran- kelonggaran itu kepada sesuatau perusahaan modal asing yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan ekonomi.
Perubahan pasal 16 ini kemudian diubah seluruhnya sehingga isi pasal tersebut berbunyi sebagai berikut, yaitu:
a. Kepada badan-badan baru yang menanam modalnya di bidang produksi yang mendapat prioritas dari pemerintah, Menteri keuangan berwenang memberikan pembebasan pajak perseroan untuk jangka waktu dua tahun terhitung dari saat perusahaan tersebut mulai berproduksi.
b. Menteri keuangan dapat memperpanjang waktu masa bebas pajak tersebut apabila dipenuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana berikut:
1) Apabila penanaman modal tersebut dapat menambah dan menghemat devisa negara secara berarti, diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.
2) Apabila tambahan masa bebas pajak ini bagi penanaman modal yang berlokasi di luar Jawa, maka diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.
3) Apabila penanaman modal tersebut memerlukan modal yang sangat besar untuk membangun prasarana atau mungkin menghadapi risiko yang lebih berat dari yang sewajarnya, maka dapat diberi tambahan masa bebas pajak selama satu tahun 4) Dalam hal-hal yang oleh pemerintah diprioritaskan secara
khusus, maka diberikan tambahan masa bebas pajak selama satu tahun.
c. Pasal 17 yang semulanya berbunyi: “Pelaksanaan ketentuan- ketentuan dalam pasal 15 dan 16 ditetapkan oleh pemerintah”.
Pada Pasal 17 ini diubah seluruhnya, sehingga pasal tersebut dapat berbunyi sebagai berikut, yaitu bahwa ”Mengenai pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan Pasal 15 dan Pasal 16 ayat (1), dan (2) ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Untuk penanaman-penanaman modal yang telah mendapat fasilitas-fasilitas perpajakan menurut Pasal 16 ayat (2) dapat diadakan peninjauan kembali secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan- ketentuan baru apabila untuk itu diajukan permohonan oleh yang bersangkutan, yang disetujui berdasarkan Intruksi Presiden No. 18 Tahun 1968 mengenai usaha-usaha pertambangan”.
Selain undang-undang tersebut, dalam mengantisipasi perkembangan investasi asing di Indonesia pemerintah masih menganggap belum cukup, untuk itu masih mengantisipasinya dengan melalui Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 tentang pemilikan saham dalam perusahaan (enterprises) yang didirikan dalam rangka penanaman modal asing (foreign investment), Pada Kenyataan yang lain, karena penanaman modal asing dipandang sangat penting maka dalam undang-undang juga diatur secara terpisah dengan undang penanaman modal dalam negeri, yaitu khusus investasi asing diatur melalui Undang Undang No. 1 Tahun 1967 dan Perubahannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970, sedangkan investasi dalam negeri diatur melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sekalipun payung hukum antara Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berbeda, namun aturan pelaksanaannya dapat disatukan dalam satu peraturan, yaitu Keputusan Menteri Negara Investasi/ Kepala Koordinasi Penanaman Modal Nomor 38/ SK/ 1999 tentang Pedoman dan Tata Cara Penanaman Modal .
Sebenarnya aturan hukum penanaman modal asing di Indonesia secara formal diatur cukup jelas, melalui undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden dan keputusan menteri. Dilihat dari sisi aturan menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia sangat serius peduli terhadap investor asing dalam menanamkan modalnya di Indonesia, karena dengan hadirnya investasi asing dapat membuat perubahan dengan cepat bagi masyarakat, terutama di bidang trans of teknology dan majemen.
Dikatakan keseriusan pemerintah dalam menangani penanaman modal ini seperti terlihat dalam ketentuan dasar mengenai tata cara penanaman modal asing lewat Kepres RI No. 54 Tahun 1977 yang dengan jelas diatur secara terpisah dengan penanaman dalam negeri, yaitu:
1. Calon penanam modal yang akan mengadakan usaha dalam rangka UU No. 1 Tahun 1967 jo UU No. 11 tahun 1970 mempelajari terlebih dahulu Daftar Skala Prioritas (DSP) yang berlaku dan apabila perlu penjelasan lebih lanjut dapat menghubung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
2. Setelah diadakan penelitian yang cukup tentang bidang usaha yang terbuka, lokasi proyek, tingkat prioritas dan ketentuan-ketentuan lain, calon penanam modal mengajukan permohonan kepada BKPM dengan mempergunakan formolir permohonan yang telah ditetapkan oleh BKPM.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
65
3. Apabila permohonan tersebut sesuai dengan peraturan perunundang- undangan, ketentuan dan persyaratan penanaman modal asing yang berlaku, maka ketua BKPM mengeluarkan Surat Persetujuan Sementara yang merupakan persetujuan prinsip untuk penanaman modal asing.
4. Ketua BKPM menyampaikan tembusan Surat Persetujuan Sementara kepada:
a. Departemen Pembina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan
b. Departemen Keuangan
c. Pemerintah Daerah c.q. Badan Koordinasi Penaman Modal Daerah (BKPMD) yang bersangkutan.
5. Setelah memperoleh Surat Persetujuan Sementara (PSD) dari BKPM, maka calon penanam modal dalam waktu yang ditetapkan menyampaikan kelengkapan data yang diperlukan oleh BKPM.
6. Berdasarkan penilaian atas permohonan penanam modal dan kelengkapan semua data tersebut, maka ketua BKPM menyampaikan permohonan itu kepada Presiden dengan disertai pertimbangan- pertimbangan guna memperoleh Keputusan Presiden.
7. Ketua BKPM menyampaikan tembusan permohonan dan pertimbangan tersebut kepada:
a. Departemen pembina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan
b. Departemen Keuangan.
c. Pemerintah Daerah yang bersangkutan
8. Keputusan Presiden tentang permohonan penanaman modal disampaikan kepada ketua BKPM.
9. Ketua BKPM menyampaikan pemberitahuan mengenai Keputusan Presiden ini kepada calon penanam modal, yang memungkinkan calon penanam modal melaksanakan rencananya.
10. Ketua BKPM menyampaikan tembusan Surat Persetujuan Tetap kepada:
a. Departemen yang membina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan
b. Departemen Keuangan
c. Pemerintah Daerak c.q Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) yang bersangkutan guna penyelesaian izin lokasi, HGB, Hak Pengelolaan, Hak Pakai, izin Bangunan dan izin Undang-Undang Gangguan atau Hinder Ordinantie (H.O)
11. Setelah penanam modal mendapat Keputusan Presiden, maka:
a. Ketua BKPM atas nama Menteri yang bersangkutan mengeluarkan:
1) Izin usaha (sementara dan tetap);
2) Izin pengusahaan bahan baku;
3) Angka pengenal importir/ eksportir terbatas;
4) Izin pembelian dalam negeri terbatas;
5) Izin usaha perdagangan terbatas hasil produksi barang/ jasa;
6) Keputusan pemberian fasilitas/ keringan pajak dan bea masuk;
7) Izin kerja bagi tenga asing yang diperlukan;
8) Surat keputusan pemberian Hak Guna Bangunan apabila diperlukan
b. Gubernur Kepala Daerah atau Ketua BKPMD atas nama Gubernut/
Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah mengeluarkan:
1) Persetujuan lokasi;
2) HGB, Hak Pengelolaan atau Hak Pakai;
3) Izin Bangunan;
4) Izin Undang-Undang Gangguan atau Hinder Ordonantie (H.O)
12. Dalam waktu yang telah ditetapkan, sesudah mendapat pemberitahuan Keputusan Presiden dari Ketua BKPM maka penanam modal menyampaikan Daftar Induk Barang-barang Modal serta bahan baku dan penolong yang akan diimpor sebagai pelaksana rencananya yang disampaikan kepada BKPM.
13. Berdasar penilaian terhadap Daftar Induk tersebut, Ketua BKPM mengeluarkan ketetapan mengenai fasilitas dan keringanan Bea Masuk serta pungutan lainnya bagi barang-barang yang diimpor.
14. Permohonan atas perubahan rencana penanaman modal yang telah mendapat persetujuan Presiden termasuk juga perubahan untuk perluasan proyek , disampaikan penanam modal kepada Ketua BKPM untuk mendapatkan persetujuannya, dengan menggunakan formolir yang telah ditetapkan oleh Ketua BKPM.
Penanaman Modal Asing (foreign investment) Selain mempunyai ketentuan dasar rincian Tata Cara Penanaman Modal yang diatur berdasarkan Kepres No. 54 Tahun 1978, juga mempunyai prosedur yang diatur tersendiri dalam UUPMA No. 1 Tahun 1967, prosedur-prosedur berdasarkan undang-undang tersebut adalah:
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
67
1. Bentuk Perusahaan Modal Asing.
Setiap perusahaan asing yang ingin melakukan penanaman modal di Indonesia, atau perusahaan dalam rangka penanaman modal asing dituntut harus berbentuk Badan Hukum (PT) yang tunduk pada hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia. Ketegasan undang-undang tersebut menunjukkan bahwa negara (pemerintah) tidak mengizinkan investor-investor asing untuk menanamkan modalnya secara pribadi (perorangan), artinya setiap investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia hanya diperbolehkan dengan melalui Badan hukum, dan selain dari badan hukum tidak dibenarkan oleh undang- undang. Larangan investor asing tersebut dalam menanamkan modalnya di Indonesia dengan secara pribadi telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1967.
Dinyatakan dalam pasal 3 ayat (1), yaitu:
“Perusahan PMA yang dijalankan untuk seluruhnya atau sebagian terbesar di Indonesia sebagai kesatuan perusahaan tersendiri harus berbentuk Badan Hukum menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia”
Pendirian badan hukum dalam rangka penanaman modal asing (foreign investment) tersebut juga dituntut oleh pemerintah untuk memenuhi syarat-syarat perdiriannya, yang meliputi pembuatan Akta Pendirian di Notaris, disahkan oleh Menteri Kehakiman. Untuk memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman, prosedur yang dilalui adalah para pihak pendiri secara bersama-sama atau melalui kuasa hukumnya mengajukan permohonan secara tertulis kepada Menteri Kehakiman dengan menyertakan daftar pendirian perseroan. Setelah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman, selanjutnya berdasarkan Pasal 8 Keputusahan Menteri Perindustrian Nomor: 288/M/SK/10/1989 yang menyatakan bahwa Pelimpahan wewenang dalam pemberian Izin Usaha Industri (IUI) dari Menteri kepada Ketua BKPM bagi industri yang penanaman modalnya dilakukan dalam rangka UU No. 1 Tahun 1967 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 11 Tahun 1970 tentang PMA dan UU No. 6 Tahun 1968 yang telah diubah dengan UU No. 12 Tahun 1970 tentang PMDN ditetapkan tersendiri dengan Keputusan Menteri, maka Menteri Perindustrian dengan kewenangannya mengeluarkan Izin Usaha Industrinya (IUI) yang kemudian secara yuridis PT tersebut adalah sah dan siap dioperasikannya.
Keabsahan PT tersebut dinyatakan sebagai Badan Hukum, yaitu didasarkan pada tanggal ketetapan pengesahan oleh Menteri Kehakiman.
Dalam memberikan pengesahan tersebut Menteri Kehakiman sebagai pemerintah harus memperhatikan tiga hal, yaitu:
a. Tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.
b. Tidak ada keberatan lain yang penting (geen gewichtige bedenking) terhadap pendirian ataupun perubahan Anggaran Dasar (AD) PT 2. Tenaga Kerja.
Dalam penanaman modal asing terdapat dua subyek hukum yang berlainan negara, karena ada dua pihak pemilik modal maka dalam menetapkan pengurus/ Direksi harus disepakati secara bersama, sebagai upaya menghindar dari segala macam bentuk diskriminasi yang bakal melahirkan pertikaian diantara para pihak dikemudian hari. Penentuan Direksi dengan melalui kesepkatan kedua belah pihak bukan hanya insiatif para investor sendiri, akan tetapi didasarkan UUPMA No. 1 Tahun 1967 pada pasal 9 bahwa “Pemilik modal mempunyai wewenang sepenuhnya untuk menentukan direksi perusahaan-perusahaan dimana modalnya ditanam”.
Dari petunjuk Undang-undang di atas menunjukkan bahwa dalam pengangkatan direksi/ karyawan dilarang campur tangan pihak luar, terutama pemerintah yang berkedudukan sebagai penguasa dalam negara, dan tidak ada petunjuk yang tegas bahwa yang berhak menduduki direksi adalah investor yang memiliki investasi besar, tetapi semuanya ditetapkan berdasarkan negosiasi secara interen antara para investor atau pihak-pihak yang melakukan kontrak.
Pada pelaksanaan penanaman modal asing tersebut, karena terlibat sebagai karyawan juga orang asing maka dituntut harus memiliki izin bekerja di Indonesia secara tertulis yang dikeluarkan oleh Menteri Tenaga Kerja. Izin ini bisa diperpanjang sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan Menteri Tenaga Kerja, yaitu membuat permohonan kepada Menteri Tenaga Kerja yang kedudukannya sebagai pemerintah setelah habis berlaku masa izinnya
Dengan turut bekerjanya orang asing bersama-sama dengan tenaga kerja nasional , secara tidak langsung (indirec) terjadi suatu proses pemindahan ilmu (transfer of teknology) dan pemindahan pengalaman dan keterampilan dari tenaga kerja asing kepada tenaga kerja nasional, sehingga mempercepat kualitas sumberdaya manusia di bidang ketenaga kerjaan.
Langkah yang diambil pemerintah ini sangatlah tepat, sebagai upaya dalam memperbaiki sumber daya manusia dalam rangka menghadapai era globalisasi yang sangat dikhawatirkan semua bangsa dimasa mendatang, terutama negara-negara berkembang.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
69
Keterkaitan dengan langkah yang ditempuh pemerintah dalam peningkatan sumberdaya tenaga kerja nasional tidak lepas dari perintah UUD 1945, pada Pasal 27 “Tiap-tiap warga negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”
Dari sini menunjukkan bahwa pekerjaan setiap warga negara merupakan tanggung jawab negara karena negara sebagai organisasi yang mempunyai kewajiban, untuk itu tidak ada alasan untuk membiarkan warga negara menjadi terlantar dan tetap berada dalam keadaan miskin.
Tanggung jawab negara terhadap warga negara dalam peningkatan di bidang ekonomi berdasarkan undang-undng tersebut diimplementasikan lewat penanaman modal asing (foreign investment) yang secara tegas dinyatakan dalam UU PMA. Pada pasal 12 “Perusahan-perusahan modal asing berkewajiban menyelenggarakan dan/ atau menyediakan fasilitas- fasilitas pelatihan dan pendidikan di dalam dan/ atau di luar negara secara teratur dan terarah bagi warga negara Indonesia dengan tujuan agar berangsur-angsur tenaga-tenaga warga negara asing dapat diganti oleh tenaga-tenaga warga negara Indonesia.”
3. Peraturan Pajak Terhadap Perusahaan Asing.
Salah satu kesulitan yang biasanya dihadapi dalam dunia bisnis adalah masalah pajak dan pungutan-pungutan lainnya, hal yang sama ini juga dapat dirasakan dalam penanaman modal asing (foreign investment).
Untuk itu maka upaya pemerintah dalam rangka menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia dengan cara memberikan kelongaran-kelonggaran di bidang perpajakan melalui fase-fase tertentu, misalnya pada fase pertama diberi kelongaran yang cukup besar sehingga investor asing tersebut termotivasi, kemudian pada fase kedua juga masih diberi kelonggaran-kelonggaran berupa keringanan-keringan dalam jangka waktu tertentu.
Antisipasi berupa kelonggaran ini dilakukan karena pemerintah memahami betapa sulitnya perusahaan-perusahaan asing yang bergerak di Indonesia yang pada masa awalnya mengeluarkan cost (biaya) yang cukup besar. Sekalipun kelonggaran yang diberikan, tetapi tingakat kelonggran tidak merata pada semua perusahan. Langkah yang diambil pemerintah ini sebagai kompensasi sehingga investor asing merasa tidak terlalu terbebani dalam melaksanakan kewajibannya.
Realita seperti ini akhirnya perusahaan-perusahaan asing berpacu dalam meningkatkan produk serta cepat untuk dipasarkannya. Kelonggaran- kelonggaran perpajakan dan pungutan-pungutan lain ini diatur dengan
Undang-Undang Penanaman Modal Asing Nomor 1 Tahun 1967 yang secara tegas pada Pasal 15, yang kemudian terjadi penyempurnaan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970.
4. Pemakaian Tanah.
Salah satu pasal di dalam UUPMA adalah mengatur tentang pemakaian tanah bagi investor asing, penggunan tanah ini diatur melalui pasal karena semua usaha memerlukan tempat untuk didrikan usaha, untuk itu memerlukan jaminan hukum yang pasti.
Di dalam UUPMA, pada Pasal 14 disebutkan bahwa”Untuk keperluan perusahaan modal asing dapat diberikan tanah dengan Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Pakai menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Ketegasan undang-undang ini sebagai kekuatan hukum terhadap perusahaan modal asing untuk diberikan tanah baik Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Pakai.
Hak Guna Bangunan (HGB) yang dimaksudkan adalah, Hak Guna Bangunan yang terdapat di dalam UUPA pada Pasal 35 ayat (1), yaitu “Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan- bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu 30 tahun”. Ketentuan jangka waktu 30 tahun ini sesuai dengan lanjutan pada ayat (2) bisa diperpanjang sampai 20 tahun, tetapi UUPMA pada Pasal 18 menyatakan bahwa “ Dalam setiap izin penanaman modal asing ditentukan jangka waktu berlakunya tidak melebihi 30 tahun”. Untuk itu maka batas sesuai ketentuan di dalam undang-undang ini tidak dapat diperpanjang lagi.
Hak Guna Usaha (HGU) adalah seperti dijelaskan dalam UUPA pada Pasal 28 ayat (1) yaitu “Hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu 25 tahun, atau 35 tahun bagi usaha pertanian, peternakan atau perikanan”. Sekalipun pada Pasal 29 ayat (2) membolehkan untuk usaha pada bidang pertanian, peternakan atau perikanan untuk jangka waktu 35 tahun tetapi karena ketentuan UUPMA pada Pasal 18 membatasi hanya 30 tahun maka foreign investment tetap tunduk pada UUPMA tersebut.
Hak Pakai yang dimaksudkan adalah sesuai dengan Hak Pakai dalam UUPA pada Pasal 41 ayat (1) yaitu “Hak untuk menggunakan dan/ atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain”.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia