• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivasi Penanaman Modal Asing Masuk Ke

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 91-99)

Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)

F. Motivasi Penanaman Modal Asing Masuk Ke

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

75

1. Investasi yang nilainya lebih besar dari US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat), maka persetujuannya dalam bentuk Surat Pemberitahuan Persetujuan Presiden (SPPP) dalam rangka penanaman modal asing, dan dikeluarkan langsung oleh Presiden.

2. Investasi yang nilainya sebatas US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat), maka bentuk surat penanaman modalnya adalah bentuk Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing (SP-PMA), dan yang mengeluarkan surat persetujuan tersebut adalah Meninves/ Kepala BKPM.

3. Bagi penanam modal baru dalam rangka PMA di bidang usaha pertambangan di luar minyak dan gas bumi dilaksanakan dalam bentuk kontrak karya atau perjanjian karya. Kontrak karya atau perjanjian karya tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertambangan dan Energi, dan Para pihak.

Dari prosedur tersebut tampaknya bahwa kewenangan dalam memberikan perizinan dalam rangka penanaman modal asing (foreign investmen) tergantung kepada nilai investasinya, artinya kalau nilainya di atas US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat) maka yang berhak memberikan persetujuan adalah Presiden, akan tetapi jika nilainya US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika) ke bawah maka yang memberikan persetujuan adalah Maninves/ Kepala BKPM, dan bagi penanam modal baru dalam rangka PMA di bidang pertambangan diluar minyak dan gas bumi kewenangan berada pada Menteri pertambangan dan energi dan para pihak yang melakukan kontrak. Dari sini menunjukkan bahwa untuk penanaman modal asing khusus di bidang pertambangan diluar minyak dan gas bumi diberikan kemudahan karena tingkat persetujuannya hanya pada tingkat menteri.

Sekalipun tiga faktor di atas dapat mendesak, tetapi banyak faktor yang menentukan tingkat aliran modal untuk ketiga faktor tersebut, yaitu (1) Iklim penanaman modal; dan (2) Prospek pengembangan usaha di negara penerima modal. Menurut Hawain dilihat dari kedua faktor di atas ternyata arus penanaman modal asing justru lebih banyak mengalir ke negara maju dibandingkan ke negara berkembang.19

Terhambatnya arus modal asing masuk ke negara berkembang karena dipengaruhi beberapa faktor:

1. Tingkat perkembangan ekonomi di negara penerima modal;

2. Stabilitas politik yang memadai;

3. Tersedianya prasarana dan sarana yang diperlukan oleh pemodal; dan 4. Aliran modal cenderung mengalir kepada negara dengan tingkat

pendapatan nasional per kapita yang tinggi.20

5. Tersedianya bahan baku, tenaga kerja yang relative murah dan besarnya pasar dalam negara tersebut.

Adapun motivasi dari negara maju untuk berinvestasi dapat dikemukakan secara analogi dari hasil penelitian Edward K.Y. Chen sebagai berikut:21

1. Lower cost and rent;

2. Lower labour cost;

3. Diversivication of risk;

4. to make fuller use af the technical and production know-how developed or adopted by investee;

5. to avoid or reduce the pressure of competition from other corporation in investee countries;

6. to make use of outdated machinery used in the investee corporation;

7. higher rates of profi ts;

8. availability of higher levels of technology;

9. Lower capital cost;

10. defending the existing market by directly investing there;

11. to bulid up a vertically integrated structure;

12. to circumvent tariff s and quotas imposed by develop countries;

13. estabilishing a subsidiary overseas is similar to investing in vinancial market overseas;

19Hawin, op.cit, hlm. 60-61

20Ibid.

21Ibid.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

77

14. availability of technical and skilled labour force;

15. availability of management manpower;

16. to open up new markets by directly investing there;

17. availability of raw materials and/or intermediate products.

Perlakuan negara-negara maju yang menguasai modal, teknologi dan skil yang memadai tersebut semakin dominan, akibatnya negara- negara berkembang semakin terpuruk karena motivasi untuk melakukan perubahan itu sangat tinggi tetapi tidak cukup dukungan kemampuan yang ada, sementara pemilik modal yang berada di negara-negara maju membuat celah untuk ketergantungan kepadanya. Di Indonesia, contoh paling konkrit adalah usaha di bidang pertambangan mineral dan batubara, dimana sistem kontrak karya yang sengaja ditawarkan penanam modal asing (PT Freeport) padahal jelas-jelas kontrak itu merugikan negara karena dapat menghilangkan imunitas negara.

Fakta di atas memperlihatkan bahwa hubungan antara pemodal asing dengan negara tidak seimbang, tetapi negara tetap menerima sekalipun dengan terpaksa karena membutuhkan demi pembangunan. Hubungan tidak seimbang itu diperlihatkan Streeton sebagai berikut:22

1. bahwa pemodal asing (swasta) selalu beroreantasi untuk mencari keuntungan (profi t oreanted), sedangkan negara penerima modal mengharapkan modal asing dapat membantu mencapai tujuan pembangunan nasional;

2. bahwa pemodal asing memiliki posisi yang lebih kuat sehingga mereka mempunyai kemampuan berusaha dan kemampuan berunding yang mantap, dimana dalam pelaksanaan usahanya dapat bertentangan dengan kepentingan negara penerima modal;

3. bahwa pemodal asing biasanya memiliki jaringan usaha yang kuat dan luas (biasanya berbentuk multinational corporate) yang tergabung dalam induk perusahaan, melayani kepentingan negara dan pemilik saham di negara asal, sehingga sangat sulit untuk mampu melayani kepentingan negara penerima modal.

Menanggapi permasalahan di atas menurut M. Hawin, upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasinya adalah:

1. bagaimana negara penerima modal dapat mengakomodir motif mencari keuntungan (profi t oriented) dari pemodal asing dengan sebaik-baiknya, sehingga falsafah kebijakan mengundang modal asing yang bersifat

22Ibid.

sebagai pelengkap dan tidak menimbulkan ketergantungan dapat terlaksana;

2. bagaimana mengupayakan agar hubungan antara pemodal asing dengan negara penerima modal tidak beroreantasi pada pertentangan tetapi diarahkan pada kerjasama yang saling membangun, sehingga sumber luar negeri dan pinjaman luar negeri dapat dimanfaatkan bagi pembangunan;

3. negara penerima modal harus mengembangkan potensi ekonomi secara mantap dan mampu menjaring informasi yang seluas-luasnya mengenai kegiatan dana pemodal asing. Hal ini akan meningkatkan kemampuan dan posisi berundingnya.

Hasil kajian umum di atas menunjukkan bahwa sekarang investor asing berebut masuk di negara-negara berkembang. Hal ini dilakukan karena melihat peluang besar berupa kebutuhan dana untuk pembangunan ekonomi, yang dikhususkan pada ekonomi riil.

Ketertarikan investor asing melakukan investasinya di suatu negara, pada umumnya mengharapkan beberapa hal sebagai jaminan agar aman dan nyaman dalam operasinya, hal tersebut adalah:

1. peraturan-peraturan kebijaksanaan yang tetap/ konsisten yang tidak terlalu cepat berubah dan dapat menjamin adanya suatu kepastian hukum, karena ketiadaan kepastian hukum akan menyulitkan perencanaan jangka panjang usahanya;

2. prosedur jaminan yang tidak berbelit-belit. Mengharapkan perizinan diberikan satu atap (one stop service), dimana koordinasi antara instansi pusat dengan daerah secara vertikal dan koordinasi antara instansi secara horisontal dilakukan oleh suatu instansi yang berwenang, sehingga waktu yang diperlukan dan biaya yang dikeluarkan relatif singkat dan tidak memerlukan biaya tinggi. Izin tersebut antara lain meliputi pemberian izin untuk menanamkan modalnya maupun pemberian izin penggunaan tenaga kerja ahli yang diperlukan investor.

3. Jaminan terhadap investasinya serta proteksi hukum hak atas intelektual milik investor.

4. Sarana dan prasaran yang dapat menunjang terlaksananya investasinya dengan baik, antara lain meliputi komunikasi, pengangkutan, perbankan dan perasuransian.

Empat hal yang dipandang investor asing sebagai penghambat tersebut, maka langkah yang diambil pemerintah Indonesia adalah mengeluarkan peraturan-peraturan hukum, diantaranya adalah undang-

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

79

undang PMA dan peraturan hukum teknisnya, serta kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengannya. Tindak lanjut cepat yang dilakukan pemerintah termasuk mengeluarkan Pakto (Paket 23 Oktober) 1993 yang meliputi lima bidang yaitu (1) bidang eksport-import; (2) bidang penanaman modal; (3) bidang perizinan untuk investasi; (4) bidang kesehatan.

Dampak kebijakan-kebijakan di bidang PMA yang dikeluarkan pemerintah tersebut dapat dilihat di bawah ini:

Tabel 2: Perbandingan sebelum dan sesudah Deregulasi, Pemilikan Saham Asing Pada PMA.23

KETERANGAN SEBELUM SESUDAH

A. lokasi di kawasan Ber- ikat atau di EPTE (Entrepot Produsen Tujuan Eksport)

Pemilikan saham asing boleh 100% selama 5 tahun pertama sejak pro- duksi komersial kemu- dian mulai tahun ke VI harus ada penyertaan modal saham Indonesia minimum 5% dengan ketentuan bahwa 100%

produknya untuk ekspor.

Cara penyertaan modal saham Indonesia han- ya melalui kepemilikan langsung.

Pemilikan saham asing boleh 100% selama 10 tahun pertama sejak produksi komersial kemu- dian tahun ke IX harus mulai penyertaan modal saham Indo- nesia yang pada tahun ke XX menjadi 20%. Cara penyertaan modal saham Indonesia boleh melalui pemilikan langsung maupun melalui pasar modal.

23Sumber data Kompas: Senin, 25 Oktober 1993

A. Lokasi di 15 Provinsi (Bengkulu, Jambi, Ka- limantan dan Kawasan Timur Indonesia) atau di salah satu kawasan yang akan dikembang- kan dalam rangka ker- jasama ekonomi antara pemerintah RI dengan negara lain

Pemilikan saham asing boleh 100% selama 5 ta- hun pertama, kemudian mulai tahun ke-6 harus ada penyertaan modal saham Indonesia mini- mum 5% dan meningkat menjadi 20% setelah 20 tahun.

Pemilikan saham asing boleh 100% selama 10 tahun perta- ma sejak produksi komersial, kemudian mulai tahun ke-11 harus mulai ada penyertaan modal saham Indonesia yang meningkat menjadi 51% pada tahun ke-20. Cara penyertaan modal saham Indonesia boleh melalui pemilikan langsung maupun melalui pasar modal.

B. Perusahaan yang menghasilkan bahan baku, atau bahan pe- nolong atau barang setengah jadi atau komponen untuk me- menuhi industri lain

Belum diatur Pemilikan saham asing boleh 100% selama 10 tahun perta- ma sejak produksi komersial, kemudian mulai tahun ke-11 harus mulai ada penyertaan modal saham Indonesia yang meningkat menjadi 51% pada tahun ke-20, dengan ketentu- an bahwa modal disetor seku- rang-kurangnya 2 juta dolar dan bidang usahanya khusus bagi industri-industri penun- jang, yaitu memproduksi bahan baku/ bahan penolong/ kom- ponen/ barang setengah jadi yang selama ini masih diimpor.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

81

Cara penyertaan modal saham Indonesia boleh melalui pemi- likan langsung maupun melalui pasar modal.

C. Investasi besar, lokasi di seluruh Indonesia.

Investasi besar dengan modal disetor seku- rang-kurangnya 50 juta dolar dapat dilakukan dengan pemilikan sa- ham asing 100% selama 5 tahun pertama sejak produksi komersial, kemudian tahun ke-6 harus menyertakan mod- al saham Indonesia sebe- sar 5% dan meningkat menjadi 20% pada tahun ke-20

Investasi besar dengan mod- al disetor sekurang-kurangnya 50 juta dolar dapat dilakukan dengan pemilikan saham asing 100% selama 10 tahun perta- ma sejak produksi komersial, kemudian mulai tahun ke-11 harus ada penyertaan modal sa- ham Indonesia yang meningkat menjadi 51% pada tahun ke-20 dengan ketentuan bahwa lokasi bisa di seluruh Indonesia dan bidang usaha tidak dibatasi.

Cara penyertaan modal saham Indonesia boleh melalui pemi- likan langsung maupun melalui pasar modal.

Setelah dikeluarkan paket Deregulasi Oktober tahun 1993 ini mendapat tanggapan positif investor asing antara lain Korea Selatan dan Jepang. Paket ini juga dapat mendorong peningkatan 54% dibandingkan periode yang sama tahun anggaran 1992/1993.24

Selain keunggulan dukungan UU No. 1 Tahun 1967 dan Paket Deregulasi Oktober tahun 1993, juga keunggulan lain yang dimiliki Indonesia adalah jumlah tenaga kerja yang relatif besar dengan tingkat

24Harian Ekonomi Neraca, 20 September 1993.

upah yang rendah dakontrol terhadap buruh yang lebih efektif. Keunggulan tersebut diakui oleh investor Korea dengan menyatakan bahwa tidak ada negara lain yang lebih baik dari Indonesia yang memiliki faktor tersebut.25Sedangkan negara Taiwan, Indonesia dinilainya masih memiliki keunggulan dalam stabilitas politik dan kebijaksanaan regim devisa bebas di banding Cina.26

Faktor lain yang dimiliki Indonesia yang juga menarik minat investor asing, yaitu sumber-sumber kekayaan alam tak terbarukan yang banyak dimiliki Indonesia, antara lain: minyak bumi, logam-logam, mineral dan batubara dan hasil-hasil tambang lainnya. Dengan demikian atas dasar itulah dapat disimpulkan bahwa investor asing tertarik menanamkan modalnya di Indonesia karena faktor-faktor sebagai berikut:27

1. adanya peraturan/kebijaksanaan yang mendukung investor asing menanamkan modal di Indonesia;

2. tenaga kerja yang besar dengan upah yang relative rendah;

3. pasar produksi yang luas karena jumlah penduduk Indonesia yang besar;

4. sumber-sumber kekayaan yang tersedia.

5. Stabilitas politik Indonesia yang mantap.

Dasar berpikir yang disampaikan dengan berdasar pada teori dan data riil di atas, sebagai pisau pembedahan untuk mengkaji permasalahan penanaman modal asing di Indonesia, terutama di bidang pertambangan mineral dan batubara maka tampak jelas yaitu bahwa dasar berpikir negara dengan pemodal asing jauh berbeda, karena negara berharap masuknya modal asing yang banyak untuk pembangunan bangsa, sedangkan pemodal asing hanya berpikir sebatas mencari keuntungan (profi t oriented) semata.

25Harian Ekonomi Negaraca, 25 Juli 1992.

26Republika, Kamis 11 Nopember 1993.

27M. Hawin, loc.cit, hlm. 72- 73.

A. Pengertian Joint Venture dan Kontrak Joint Venture.

1. Pengertian Joint Venture.

I

stilah joint venture dalam konteks ekonomi adalah suatu persetujuan di antara dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama dalam suatu kegiatan di bidang bisnis. Pengertian tersebut kemudian dipertegas secara terperinci oleh Smith et. al. bahwa kerja sama bisa terjadi atas dasar suatu kontrak, bisa juga sebagai partner, atau bisa saja melalui saham.1

Joint venture adalah kerjasama beberapa pihak untuk menyelenggarakan usaha bersama dalam jangka tertentu. Biasanya kerjasama berakhir setelah tujuan tercapai atau pekerjaan selesai. Perbedaan antara joint venture dengan persekutuan fi rma (CV) adalah umur joint venture lebih pendek dari pada umur persekutuan yang biasa.2

In European law, the term joint venture (or joint undertaking) is an elusive legal concept, batter defi ned under the rules of company law. In France, the term “joint venture” is variously translated “association d’interprises,”

“enterprise conjointe,” “cointreprise” or enterprise commune.” In Germany,

“joint venture” is better represented as a “combination of companies” (konzern) (artinya: dalam hukum Eropa, istilah usaha patungan (usaha bersama) adalah konsep hukum yang sulit dipahami, lebih baik didefenisikan berdasarkan hukum perusahaan. Di Perancis, istilah “usaha patungan”

diterjemahkan beragam “association d’interprises,” “enterprise conjointe,”

“cointreprise” or enterprise commune.” Di Jerman, “usaha patungan” lebih baik diwakili sebagai “kombinasi perusahaan” (konzern).3

1Emmy Pangaribuan Simanjuntak, loc.cit, hlm. 23.

2Blogspot.co.id

3https://en.m.wikipedia.org

Bab 4

JOINT VENTURE

Berdasar pada pengertian di atas, kemudian dalam pelaksanaan diberikan batasan-batasan menurut aturan. Di Indonesia istilah joint venture ini hanya terbatas pada kerjasa sama pihak asing dengan pihak nasional menyangkut dengan modal usaha. Untuk itu maka menurut Sunaryati Hartono istilah “joint venture itu digunakan untuk berbagai macam bentuk kerja sama antara penanam modal nasional dengan (mitra usahanya) penanam modal asing.”4 Konkritnya kerja sama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional semata-mata berdasarkan suatu perjanjian.

Dari pengertian di atas bila diakaitkan dengan bisnis yang terjadi di era globalisasi ini maka bisa diartikan sebagai suatu kegiatan di bidang ekonomi yang menggabungkan antara dua pihak, satu pihak adalah pengusaha nasional dan satu pihak lagi adalah pengusaha asing, dengan tujuan menarik modal asing masuk kedalam negeri, mendatangkan teknologi asing untuk peningkatan sumberdaya manusia, dan perbaikan menejmen di bidang bisnis lewat keberadaan sumber daya asing yang telah ada.

Joint venture dari sisi pengertian menurut Fridman dapat dibedakan dalam dua macam bentuk, yaitu (1) dilakukan dengan tidak melaksanakan penggabungan modal sehingga kerja sama tersebut hanya terbatas pada know how semata. Di dalam know how itu mencakup technical service agreement, franchise and brand use agreement, construction and other job performance contract, manajemen contract and rental agreements, dan (2) dilakukan dengan partisipasi modal. Dalam membedakan kedua bentuk tersebut, Fridman menyebut jenis pertama dengan joint venture dan jenis kedua dengan equity joint venture.5

Joint venture yang biasanya dinyatakan juga dengan istilah Foreign Collaboration, atau International Interprise ini, menurut Amiruddin Ilmar dalam menanggapai pendapat Friedman dengan mengemukakan beberapa ciri dari suatu kerja sama (joint venture) adalah sebagai berikut:6

1. suatu perusahan baru atau badan hukum baru yang didirikan baik oleh perorangan maupun badan hukum swasta asing dengan pihak modal nasional.

2. modal perusahaan joint venture terdiri dari know how dalam modal saham yang disediadakan oleh para pihak, dengan kekuasaan baik

4Sunaryati Hartono, Aspek-aspek Transnasional Dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia, (Bandung: Bina Cipta, 1972), hlm. 127.

5B. Napitupulu, Joint Ventures di Indonesia (Jakarta: Erlangga, 1986), hlm. 24.

6Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 59.

Joint Venture

85

manajemen maupun pengambilan keputusan sesuai dengan banyaknya saham yng ditanam.

3. para pihak yang mendirikan perusahaan tersebut tetap memiliki eksistensi dan kemerdekaan masing-masing.

4. khusus untuk Indonesia seperti yang dikenal sekarang ini merupakan kerja sama antara modal asing dengan modal nasional.

Dikatakan joint venture melalui saham menurut Abdurrachman adalah suatu bagian dalam kepemilikan suatu enterprise (perusahaan) atau suatu modal yang ditanam dalam suatu perusahaan seperti yang diwakili oleh bagian-bagian dari modal itu yang dimiliki oleh individu masing- masing dalam bentuk sertifi kat saham.7

Pemikiran para ahli tentang joint venture tersebut selalu berbeda, namun perbedaan ini tidak keluar dari substansinya, artinya apapun perbedaannya namun tetap berada dalam lingkup kerjasama antara perusahaan asing dengan perusahaan nasional.

Dasar kesamaan titik sentrum di atas maka menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak8 bahwa suatu hal yang memiliki persamaan yaitu salah satu bentuk kerja sama yang dikenal dalam dunia usaha. Kerja sama itu bisa sebagian atau parsial diantara perusahaan yang secara yuridis dan ekonomis masih tetap berdiri sendiri. Konkritnya menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Joint venture merupakan salah satu bentuk kerja sama yang dikenal di dalam dunia usaha.

2. Pengertian Kontrak Joint Venture.

Kontrak joint venture merupkan suatu istilah yang diambil dari istilah bahasa inggris “joint venture contract” atau “joint venture agreement.”9 yang kemudian diartikan sebagai Kontrak Patungan antara pihak asing dengan pihak interprises nasional untuk melakukan kegiatan bisnis di wilayah negara Repulik Indonesia.

A joint venture (JV) is a business entity created by two or more patries, generally characterized by shared awnership, shared returns and risks, and shared governance.10 (artinya: Sebuah perusahaan patungan (JV) adalah badan usaha yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, umumnya ditandai dengan kepemilikan bersama, berbagai hasil dan risiko, dan tata kelola bersama)

7Munir Fuady, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma, loc.cit, hlm, 35.

8Emmy Pangaribuan Simanjuntak, op.cit, hlm. 23.

9Salim H.S.,Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia (Jakarta: Sinar Grafi ka, 2003), hlm. 51.

10https://en.m.wikipedia.org

Key elements of a joint venture’s design include: 1) the number of patries, 2) the geographic, product, technology and value-chain scope within which the join venture will operate, 3) the contributions of the parties, 4)the structural from (eachcountry has specifi c options, e.g. in the U.S.the main options are a C Corporation or an LLC/Partnership structure); 5) the valuation of initial contribution and ownership split among the parties; 6) the economic arrangements , post-deal (e.g. is the joint venture intended to general profi ts vs.

operate as cost-sharing of production-sharing venture; if a for-profi t entity, will the parties share profi ts in proportion to equity ounership, or some other way

?); 7) governance and control; 8) talent/HR model (will the Jv have its own staff on own payroll vs. second staff from the parent companies); 9) contractual arrangements with the parent companies for imputs, outputs or services; 10) exit and and evalutions provisions.11 (artinya: Elemen kunci dari desain joint venture meliputi: 1) jumlah partai; 2) lingkup geografi s, produk, teknologi dan ran tai nilai dimana JV akan beroperasi; 3) kontribusi para pihak;

4) bentuk struktural (masing-masing negara memiliki pilihan spesifi k, misalnya A.S. pilihan utamanya adalah C Corporation atau struktur LLC/

kemitraan); 5) penilaian kontribusi awal pemisahaan kepemilikan diantara para pihak; 6) pengaturan ekonomi, kesepakatan pasca (misalnya apakah usaha patungan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan umum vs.

beroperasi sebagai usaha bagi hasil; jika sebuah keuntungan entitas , akan pihak berbagi keuntungan secara proporsional dengan ekuitas kepemilikan, atau cara lain)?; 7) tata kelola dan pengendalian; 8) model talent/HR (apakah JV memiliki staf sendiri dalam gaji sendiri staf kedua dari perusahaan induk;

9) pengaturan kontrak dengan perusahaan induk untuk input, output atau layanan; 10) keluar dari ketentuan evolusi ?).

Companies typically pursue joint ventures for one of four reasons: to access a new market, particularly emerging markets; to gain scale effi ciencies by combining assets nd operations; to share risk for major investments or projects;

or to access skills and capabilities12 (artinya: perusahaan biasanya mengejar usaha patungan untuk satu dari empat alasan: untuk mengakses pasar baru, terutama usaha pasar negara berkembang; untuk mendapatkan efi siensi skala dengan menggabungkan asset dan operasi; untuk berbagi risiko untuk investasi besar atau proyek; atau untuk mengakses keterampilan dan kemampuan).

Peter Mahmud Marzuki mendefenisikan contract joint venture merupakan “Suatu kontrak antara dua perusahaan untuk membentuk

11 https://en.m.wikipedia.org

12https://en.m.wikipedia.org

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 91-99)