Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
C. Bentuk-Bentuk Penanaman Modal Asing
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
57
sampai sekarang skala prioritas masih tetap berada di Pulau Jawa dan belum merata di semua provinsi yang ada di republik ini.
Penanaman Modal Asing (PMA) sebagai upaya dalam mendorong pembangunan di bangsa ini, namun pada sisi lain dapat juga menimbulkan dampak negatif yang menurut M. Hawin meliputi:16
1. Dominasi asing atas ekonomi dan campur tangan dalam masalah- masalah politik negara tuan rumah;
2. Industri lokal dapat mati;
3. Pengenalan teknologi yang tidak cocok kepada negara tuan rumah;
4. Kerusakan lingkungan negara tuan rumah;
5. Dampak negatif terhadap cadangan devisa dan keseimbangan pembayaran (balance of payment);
6. Berkurangnya sumber penghasilan (resource) lokal;
7. Efek negatif sosial. Misalnya dengan pengenalan pola-pola konsumsi dan tingkah laku yang tidak baik.
perusahaan nasional hanya membutuhkan skill atau cara-cara bekerja yang baru, misalnya perusahaan yang bersangkutan akan memodernisir perusahaannya. Technical service ini dibayar oleh perusahaaan nasional dalam bentuk royalties atau pembayaran sejumlah uang yang diambil dari penjualan produk perusahaan tersebut.
Franchise and brand use agreements dipergunakan apabila suatu perusahaan nasional atau dalam negeri akan memproduksi barang yang telah punya merk dan nama yang terkenal, misalnya: Van Houten, Coca Cola, dan sebagainya. Sedangkan management contract sering dipergunakan dalam pembuatan hotel-hotel bertaraf internasional, seperti misalnya yang dilakukan oleh Hotel Indonesia dimana pada permulaannya mengenai manajemen diserahkan seluruhnya kepada perusahaan asing.
Di Indonesia berhubung masih lemahnya modal nasional, biasanya kontrak-kontrak semacam ini dikaitkan dengan kontrak penanaman modal asing seperti Production Sharing, Kontrak Karya (Working Contract) dan pembentukan Joint Enterprise.
2. Joint Enterprise.
Bentuk ini merupakan penanaman modal asing yang berbentuk kerjasama, yaitu antara modal asing dan modal nasional dimana mereka kemudian membentuk perusahaan baru di Indonesia yang berbentuk PT (Badan Hukum Indonesia). Kedua perusahaan yang menggunakan bentuk kerjasama tersebut hanya mempunyai satu bentuk Badan Hukum Indonesia (PT) yang pengelolaannya ditangani oleh kedua perusahaan tersebut dan risiko ditanggung bersama menurut perjanjiannya.
Bentuk kerjasama seperti ini juga menguntungkan pihak asing, karena dapat menggunakan mata uangnya sendiri yang bisa juga ditukar dengan nilai rupiah. Sehingga apabila pihak asing tidak menghendaki keuntungan yang didapatnya di transfer ke negaranya, maka keuntungan tersebut dapat ditukar dengan mata uang rupiah untuk kemudian ditanamkan kembali di Indonesia sebagai modal asing. Bentuk kerjasama joint interprise ini paling disenangi pemerintah maupun penanam modal asing karena:
a. Setiap usaha di Indonesia memerlukan uang rupiah, untuk pembayaran barang-barang yang lebih murah dan mudah di dapat di Indonesia. Disamping itu juga untuk pembayaran gaji pegawainya dan lain-lain pengeluaran, dimana penanam modal asing perlu uang dengan nilai rupiah;
b. Penanam modal asing tidak perlu menanamkan modalnya dalam bentuk valuta asing, tetapi modal asing tersebut dapat berbentuk
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
59
mesin-mesin atau hasil produksi yang lain. Sehingga penanam modal asing di Indonesia akan mendapatkan keuntungan tidak hanya keuntungan di masa yang akan datang, tetapi juga pada saat diizinkan untuk memasukkan mesin-mesinnya (modal asing) ke Indonesia dengan bebas bea masuk, yang berarti dia telah mengespor barang-barangnya ke Indonesia (luar negeri) tanpa dengan membayar pajak untuk itu;
c. Kerjasama yang dilakukan dengan pengusaha nasional apalagi yang telah berpengalaman lama, akan mengecilkan risiko bagi penanam modal asing. Sehingga penanaman modalnya di Indonesia lebih merupakan pemberian kredit daripada penanaman modal asing secara langsung. Akan tetapi kemungkinan untuk mengadakan joint interprise semacam ini sangat terbatas, karena para pengusaha Indonesia jarang yang memiliki modal besar.
3. Kontrak Karya (Working Contract)
Kerjasama dalam bentuk kontrak karya adalah bila pihak asing menanamkan modalnya di Indonesia dengan membentuk Badan Hukum Indonesia (PT) dan kerjasama tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan (berdasar kontrak), dan apabila waktunya telah habis maka kontrak tersebut berakhir. Kerjasama modal asing dengan modal nasional dalam bentuk Kontrak Karya terjadi apabila penanam modal asing membentuk Badan Hukum Indonesia. Badan hukum ini mengadakan kerjasama dengan suatu Badan Hukum yang mempergunakan modal nasional. Dalam kerjasama ini ada persatuan modal antara modal asing dan modal nasional dengan batas waktu tertentu untuk beberapa tahun.
Kerjasama ini dapat terjadi antara badan pemerintah dengan badan asing, namun untuk swasta nasional tidak diperbolehkan.
Selain tiga bentuk kerjasama yang dikemukan Ismail Suny di atas masih ada empat bentuk kerjasama, yaitu:18
a. Production Sharing
Bentuk kerjasama ini dilakuan dengan sistim bagi hasil antara perusahan negara dengan perusahaan asing yang sifatnya kontrak.
Apabila kontrak telah habis, maka mesin-mesin yang dibawa pihak asing tetap tinggal di Indonesia, Kerjasama dalam bentuk ini merupakan suatu kredit luar negeri dimana pembayarannya dilakukan dengan cara
18Soedjono Dirdjosisworo, Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal, di “Elips”, 1999., “Jual Beli Barang Secara Internasional (Seri Ekonomi 7) Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Mandung: Mandar Maju, 1998),hlm. 231-232.
bagi hasil terhadap produksi yang telah dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
b. Penanaman modal dengan DICS (Debt Investment Conversion Scheme) rupiah
Yang dimaksud dengan DICS (Debt Investment Conversion Scheme) adalah utang, khususnya tagihan-tagihan kreditur yang diubah menjadi investasi atau penanaman modal asing menurut PMA (foreign investment).
Pertimbangan diadakannya DICS ini adalah karena pada hakikatnya di Indonesia belum mampu untuk melakukan pembayaran atas utang-utangnya dalam waktu dekat, dan utang-utang ini tidak dijamin oleh pemerintah asing. Dengan adanya DICS ini maka berarti utang pada kreditur asing yang semula dalam mata uang atau valuta asing dapat dibayar dengan rupiah, berdasarkan kurs seperti yang ditetapkan dalam rangka UUPMA.
c. Kredit untuk proyek.
Kredit ini dalam bentuk modal berupa barang dan bukan berupa uang. Misalnya, mendatangkan alat-alat guna keperluan mendirikan pabrik, dengan kredit dari luar negeri. Kredit untuk proyek ini meliputi barang modal dan bahan baku.
d. Kredit investasi pemerintah kepada swasta nasional.
Pada kerjasama ini pemerintah mendapatkan kredit berupa devisa, kemudian kredit ini mengkreditkan lagi kepada pihak-pihak swasta nasional.