Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
A. Pengertian Penanaman Modal Asing dan
P
enanaman modal adalah suatu istilah dalam ilmu ekonomi yang diambil dari kata bahasa inggris investment.1 Dari sini kemudian muncul istilah Penanaman Modal Asing (PMA) atau investasi asing. Istilah investasi ini seringkali dipergunakan dalam arti yang berbeda-beda, perbedaan tersebut terletak pada cakupan dari makna yang dimaksudkan.Komaruddin memberikan pengertian investasi dalam tiga arti, yaitu:2 1. suatu tindakan untuk membeli saham, obligasi atau surat penyertaan
lainnya;
2. suatu tindakan membeli barang-barang modal;
3. pemanfaatan dana yang tersedia untuk produksi dengan pendapatan di masa yang akan datang.
Menurut Munir Fuady yang dimaksud dengan Penanaman Modal Asing (foreign Investment) atau sering disingkat PMA merupakan suatu tindakan dari orang asing atau badan hukum asing untuk melakukan investasi modal dengan motivasi untuk berbisnis dalam bentuk apa pun ke wilayah suatu negara lain.3
Pengertian di atas tampak bahwa di dalam penanaman modal asing karena di dalamnya terdapat dua unsur yaitu orang asing, atau badan hukum asing dan melakukan suatu investasi modal pada negara lain.
1I.P.M., Ranuhandoko, Terminologi Hukum (Jakarta: Sinar Grafi ka, 2000), hlm. 351.
2Panji Anoraga, Perusahaan Multinasional dan Penanaman Modal Asing (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1995), hlm. 47.
3Munir Fuady, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma Hukum Bisnis (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002 ), hlm. 67.
Bab 3
PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
DI INDONESIA
Di Indonesia, penanaman modal asing (foreign Investment) diatur dalam sebuah undang-undang khusus, yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 atau dikenal dengan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (Foreign Capital Investment). Pengertian penanaman modal asing (foreign Investment) tersebut pada pasal 1 disebutkan bahwa “Penanaman modal dalam undang-undang ini hanya meliputi penanaman modal asing (Foreign Invesment=FI) secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang ini dan digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung risiko dari penanaman modal tersebut.
Pengertian UU No. 1 Tahun 1967 pada pasal 1 tersebut ditanggapi oleh Ismail Suny bahwa pengertian tersebut mengandung 3 (tiga) unsur pokok, yaitu:4
1. penanaman modal secara langsung;
2. penanaman modal untuk menjalankan perusahaannya;
3. risiko langsung ditanggung oleh pemilik modal.
Konsep penanaman modal secara langsung dalam Pasal 1 tersebut sama seperti pengertian yang disepakati Organization for European Economic Cooperation, yaitu “Direct investment is meant acquisition of suffi cient interest in an undertaking to ensure its control by investor”. Pengertian
“direct investment” pada konsep tersebut dimaksudkan bahwa penanaman modal (investor) diberikan keleluasaan pengusahaan dan penyelenggaraan pimpinan dan perusahaan dimana modalnya ditanam, artinya penanam modal mempunyai penguasaan atas modal. Jadi penanaman modal langsung dalam pasal 1 tersebut dimaksudkan digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia.5
Penggunaan modal untuk menjalankan perusahaan, menurut Purwosutjipto, yaitu bila dalam melaksanakan pekerjaannya memperhitungkan laba rugi yang dapat diperkirakan dan mencatatnya dalam pembukuan.6
Untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dapat dilakukan dengan 2 (dua) macam cara, yaitu:
1. Perusahan itu berkedudukan di luar negeri dan menjalankan perusahaan di Indonesia, dengan hanya mempunyai kantor tertentu ataupun kantor cabang atau kuasa tertentu, tanpa mendirikan badan hukum menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
4 Panji Anoraga, op.cit, hlm. 48.
5Ibid
6Ibid.
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
53
2. Dengan mendirikan badan hukum di Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
Unsur risiko yang langsung ditanggung oleh pemilik modal, menurut Ismail Suny dapat dibedakan antara kredit dan penanaman modal dilihat dari penggunaannya, yaitu: Kredit penggunaannya adalah oleh peminjam maka risiko berada atau ditanggung oleh peminjam dan tidak oleh pemilik atau pemberi kredit, sedangkan penanaman modal asing (foreign Investment) karena penggunaannya oleh penanam/ pemilik modal asing, maka risiko berada atau ditanggung oleh penanam modal.7
Konkritnya, dalam unsur ketiga ini dari sisi hukum, pemilik atau pemberi kredit tidak menanggung risiko, sedangkan pada penanaman modal asing (foreign Investment) penanam modal lah yang menanggung risiko, dasar penanggungan risiko ini dilihat dari penggunaannya jadi bukan didasarkan pada kepemilikan modal. Pada penanaman modal asing (Foreign Investment) dikatakan dapat menanggung risiko karena penggunaan dapat dilakukan oleh penanam modal sendiri.
Pada penanaman modal asing (foreign investment) biasanya dilakukan dengan melalui empat cara, yaitu:
1. Penanaman modal asing (foreign investment) secara langsung. Pada bentuk ini pihak asing atau perusahaan asing membeli langsung saham perusahan nasional tanpa melalui pasar modal atau mendirikan perusahaan baru, baik lewat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau lewat departemen lainnya.
2. Penanaman modal asing (foreign investment) secara tidak langsung.
3. Model ini dilakukan oleh pihak asing dengan jalan membeli saham- saham perusahaan nasional melalui pasar modal (capital market), langkah-langkah ini dilakukan melalui bursa-bursa saham.
4. Penanaman modal asing (foreign investment) lewat pemberian pinjaman.
Pada bentuk ini dilakukan dengan melalui pemberian pinjaman secara langsung oleh pihak asing kepada perusahaan-perusahaan domestik dalam bentuk off shore loan (pinjaman luar negeri), bonds (surat-surat obligasi), notes (wesel atau promes), dan commercial paper (comersil surat-surat berharga).
5. Penanaman modal asing (foreign investment) kontraktual.
Pada bentuk ini ditempuh hanya dengan ikatan kontraktual, yaitu dengan cara diadakan kontrak antra pihak asing dengan perusahan
7Ibid.
domestik, misalnya kontrak tentang bantuan manajemen, lisensi (izin), dan agency (perwakilan).8
Metode penanaman modal asing (foreign investment) di atas sebenarnya suatu langkah yang sangat tepat yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, Apalagi kepercayaan pihak asing terhadap Indonesia setelah terjadi krisis ekonomi tahun 1998 semakin menipis. Ketidak percayaan itu sendiri didukung oleh fakta-fakta empiris seperti keamanan dan stabilitas politik yang tidak menentu, ketidak stabilan nilai tukar rupiah, korupsi, perubahan sistem pemerintahan setelah lahirnya UU. 22 Tahun 1999 dari sentralisasi ke desentralisasi, penyimpangan hukum secara besar-besaran yang dilakukan law enforcement offi cer (pejabat penegak hukum; polisi, jaksa, hakim), seperti banyak pelanggaran hukum (law breaking) yang dilakukan oknum dan institusi tertentu yang tidak dapat terselesaikan secara tuntas menurut hukum.