• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat dan Kelemahan Kontrak Joint Venture

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 112-115)

Bab 4 JOINT VENTURE

F. Manfaat dan Kelemahan Kontrak Joint Venture

venture atau kepada joint venture sendiri. Bagaimana pun juga, yang perlu diperhtikan disini ialah bahwa adanya kewajiban menawarkan sedemikian perlu diatur sebelumnya di dalam perjanjian.

11. Bentuk hukum dan pilihan hukum

Bentuk hukum dan pilihan hukum, merupakan unsur-unsur yang sangat perlu disebutkan di dalam perjanjian kerja sama. Kemungkinan bentuk hukum yang disepakati dapat, misalnya Perseroan Terbatas (PT), namun bukan tidak mungkin dalam bentuk persekutuan dengan fi rma.

12. Pemasukan oleh partner

Hal ini menyangkut permodalan atau pemasukan pada waktu pendirian.

Joint Venture

97

penanganan proyek-proyek besar yang tidak dapat ditangani oleh perusahaan partner secara sendiri. Dalam hal tertentu dapat lebih mudah memperoleh izin usaha.

Nampaknya keuntungan partner joint venture dengan penguasa ini menurut Raaijmakers “untuk memperoleh keuntungan, dan mengadakan pengawasan yang kuat terhadap tata ekonominya sendiri. Tetapi terciptanya kerja sama itu sebenarnya karena ada nya unsur pemaksaan”. Pada sisi lain partner seperti ini termasuk melakukan monopoli di dalam bidang perdagangan, artinya tidak memberikan peluang terhadap perusahaan (interprises) asing lain untuk mengimpor barang sejenisnya dalam negeri.

Sekalipun demikian, tetapi ada beberapa hal yang dapat dipandang sebagai keuntungan dalam bentuk kerja sama joint venture yang oleh kesimpulan Raaijmaker adalah:25

1. Pembatasan risiko

Melaksanakan suatu kegiatan yang penuh risiko dapat menimbulkan suatu kerja sama. Dengan bersatu, risiko dapat disebar kepada peserta- peserta.

2. Pembiayaan

Dengan kerja sama, usaha mendayagunakan modal dapat dilakukan dengan sederhana dengan menyatukan modal yang dibutuhkan.

3. Menghemat tenaga

Jika dilihat dari kekuatan tenaga kerja yang dibutuhkan bahwa dengan penanganan yang disatukan, akan mengurangi personalia yang dibutuhkan dibanding dengan kegiatan yang dilakukan sendiri oleh setiap perusahaan.

4. Rentabilitas

Dengan adanya joint venture, rentabilitas (hal yang menguntungkan atau merugikan) dari investasi-investasi yang ada dari para pihak dapat diperbaiki.

5. Kemungkinan optimasi know-how

Joint venture mampu menyatukan partner-partner yang tidak sejenis baik dalam negara maupun di luar negari. Perusahaan-perusahaan yang tidak sejenis usahanya mengadakan kerja sama sehingga dapat terjadi diversifi kasi usaha.

25Ibid.

6. Kemungkinanpembatasan kongkurensi (saling ketergantungan).

Adapun kelemahan joint venture dilakukan dengan partner pemerintah, oleh Raaijmaker dikatakan bahwa “Partner tidak bebas menentukan atau memutuskan hal-hal seperti penentuan laba, penggunaan laba, politik harga, dan pemilihan saluran distribusi”. Untuk itu dominan dalam menentukan semua itu adalah pemerintah.

A. Sejarah Singkat Kekayaan Pertambangan dan Lahirnya Kontrak Karya (Contract Of Work) di Indonesia.

I

ndonesia merupakan negara kepulauan yang terbentang di bawah garis khatulistiwa. Negeri yang memiliki pulau berderet ini bila dipandang dari angkasa laksana lukisan yang indah di atas kain kanfas. Negeri yang daratannya ditumbuhi pohon yang rindang sebagai rumah bagi berbagai jenis satwa mulai dari yang kecil sampai yang besar; laut yang bersih menumbuhkan terumbu karang dan menghidupkan jutaan macam satwa laut.

Kekayaan alam tidak cukup hanya disitu melainkan di dalam buminya tersimpan sumber daya alam tak terbarukan yang sekian banyak jumlahnya. Akar dari sinilah negeri ini penah di jajah oleh bangsa-bangsa barat dengan tujuan untuk mengeksploitasi sumber daya alam tersebut.

Sejarah mengungkap bahwa Indonesia negeri sangat kaya akan sumber daya alam tak terbarukan. Dalam kitab periplous mengangkat...

suatu nama tempat yang namanya Cryse yaitu suatu negeri emas yang mungkin mengacu pada Sumatera...Kitab Jataka (Budha) yang menyebut sebuah negeri yang bernama Suvarnnabhumi artinya negeri emas...Kitab Ramayana menyebut ada negeri yang bernama Yawadwipa yaitu pulau ini adalah pulau emas dan perak yang kemudian hari disebut Pulau Sumatera...

sumber Barat zaman kuno kitab Periplous of the Red Sea (Periplous tes Erythras thalases). Kitab ini adalah pedoman untuk berlayar di laut Erytrasa (Samudra India) yang ditulis seorang nakhoda Yunani-Mesir pada sekitar awal abag masehi. Dalam salah satu pernayataannya menyebut orang India mengadakan hubungan dagang dengan suatu tempat yang bernama Chryse atau Pulau Emas sama dengan yang disebutkan Suvarnnabhumi.1

1Suwardono, Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 2- 3.

Bab 5

KONTRAK KARYA

(Contract of Work)

Sumber Barat Kuno lainya: Geographike Hyphegesis sumber petunjuk membuat peta yang ditulis Claudius Ptolomaeus orang Yunni di Iskandaria sekitar abad II di dalam kitab tersebut dituliskan nama-nama temapt berhubungan dengan logam mulia emas-perak. Tempat-tempat itu adalah Argyre Chora artinya negeri perak; Cryse Chora arinya negeri emas; Chryse Chersonnesos artinya semenanjung emas; dan nama Labudiou atau pulau jelai yaitu tidak lain Yawadwipa atau Pulau Jawa. Nama Jawa dengan istilah Yawa ditulis pada prasasti kota Kapur (686 M) dan Canggal (732 M).2

Sumber sejarah di atas kemudian dijadikan rujukan untuk melakukan penelitian lanjutan ternyata semua pulau-pulau yang ada di Indonesia hampiar semuanya memiliki sumber daya alam tak terbarukan. Sumber kekayaan ini termasuk pemicu timbulnya kolonialisasi di Indonesia.

Bukti lain menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam tak terbarukan hampir merata di semua tempat yaitu:3

1. Pada abad ke IV di Pulau Jawa sudah mengekspor timah, buktinya prasati persumpahan di Kota Kapur, sumbernya dari I.Tsing dalam pelayaran ke Shilifoshin (sebutan untuk Sriwijaya) dan Honglin (sebutan untuk Pulau Jawa);

2. Pada abad ke VIII dalam pelayaran Sinbad abad IV ketika menuju ke tanah Sunda dan mendarat di Pulau Serendib (Sumatera) melihat banyak masyarakat membuat lorong menambang timah, hal ini dilakukan pada abad VIII, sumber Ir. Hoving, 1952;

3. Pada abad ke X M. F. H. Perelaer mengatakan bahwa timah di Pulau Bangka ditambang abad ke X.

4. Pada abad XVII Corneles de Hotman datang pertama kali di Banten tahun 1569 awal terbentuknya VOC. Pada masa itu VOC sudah menjalin hubungan dagang dengan Palembang tahun 1649. Dari sini diasumsikan bahwa salah satu komuditasnya adalah timah; Tahun 1668 Jan de Harde komandan kapal perang VOC De Zandlooper dikirim menuju Bangka dan Belitung menyaksikan penggalian timah; dan tahun 1709, 1710, dan 1911 peneliti di zaman Belanda dipercaya sebagai tahun pertama ditemuka/digalinya tinah di Bangka dan ini merupakan penemuan timah pertama di Indonesia, sumber ini ditemukan melalui tulisan yang dimuat dalam Tijdscbrift voor Ned Indie VIII bagian 4 tahun 1846 halaman 144.

2Ibid.

3Sutejo Sujitno, Sejarah Penambanagan Timah di Indonesia, Penerbitan I (Jakarta: Timah, 2007),hlm. 10- 11.

Kontrak Karya

101

Fakta yang diungkap para ahli di atas menunjukkan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang di dalam buminya kaya akan sumber daya alam tak terbarukan, baik di darat maupun di laut. Tersimpannya sumber daya alam tak terbarukan itu mengakibatkan negara-negara besar dunia berupaya untuk menguasai baik masa lalu dengan jalan kolonialisasi, maupun sekarang dengan melalui jalan bisnis sehingga menempatkan korporasi-korporasi besarnya termasuk di bidang pertambangan untuk masuk sebagai pengelola.

Upaya pihak asing untuk menguasai pertambangan mineral dan batubara di Indonesia paling tidak ada dua cara (1) pada masa kolonial membuat aturan sendiri sesuai dengan target dan tujuan yang dicapainya, dan (2) berupaya mempengaruhi pembuatan aturan dengan cara menekan pemerintah dan melakukan jual beli pasal melalui lembaga legislatif dan eksekutif.

Langkah-langkah yang dilakukan pihak asing tersebut dapat dilihat melalui beberapa periode peraturan hukum sejak masa kolonial sampai sekarang yaitu:

1. Pertambangan Nusantara Periode Genggaman VOC.

VOC (Vereenigde Oost Compagnie) merupakan sebuah perusahaan dagang Belanda didirikan tahun 1619 dan berakhir tahun 1799. Di bawah Jan Peterzoon Coen mendirikan kota Batavia (Jakarta). Perusahaan raksas di bidang perdangan ini dapat menguasai hasil perkebunan di Nusantara, dengan cara menerapkan politik devide et impera yang membuat berkeping- kepingnya kerajaan kemudian merampas kekayaan-kekayaan rakyat berupa hasil perkebunan dengan cara monopoli dan perluasan tanah jajahan.

Politik VOC ini mengakibatkan kerajaan di Maluku: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo yang semula masyarakatnya makmur berbalik menjadi hancur karena cengkih dan pala sebagai sumber kesejahteraan masyarakat telah dimonopolinya.

Perkembangan VOC semakin pesat di tahun 1619-1799 tetapi kemudian terjadi korupsi, berlaku curang, pemborosan dan inefi siensi oleh pejabatnya menyebabkan manajemen korporasi tersebut menjadi rusak dan tidak mampu membayar utang-utangnya sehingga pailit dan dinyatakan bubar tanggal 1 Januari 1800.

Pakar pertambangan Pertama Indonesia, Soetaryo Sigit dalam pidato ilmiah penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di ITB dengan judul

“Potensi Sumber Daya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia”

mengatakan bahwa penyelidikan geologi cukup banyak dihasilkan pakar Belanda, tetapi pemerintah Belanda tidak mampu mengembangkan Hindia Belanda menjadi wilayah pertambangan terkemuka. Hal ini dapat terjadi karena Belanda sebelum memasuki era industri rakyatnya hidup dari pertanian dan perdagangan.4

Meskipun VOC tidak melakukan pengelolaan pertambangan, namun tetap terlibat dalam kegiatan perdagangan hasil-hasil tambang, hal demikian terungkap melalui surat Deputi Anum kepada Residen Palembang tertanggal 30 November 1717 yaitu bahwa timah yang dijual Sultan Palembang kepada VOC berasal dari Bangka. Asal timah di Bangka ini dirahasiakan bila ada yang membocorkan akan di hukum mati, padahal pembelian timah VOC ke Sultan Palembang sudah 115 tahun lamanya.

Dari fakta ini menurut para sejarawan bahwa timah di Bangka telah ditambang pada pertengahan abad ke 17.5

Data lain menunjukkan bahwa pada tahun 1640 telah terjadi perdagangan aktif antara Belitung dan Batavia namun tidak pernah disebut penjualan timah. Melalui Dagh-Register (registrasi perdagangan) di Batavia tertanggal 5 Oktober 1640 tercatat adanya hubungan dagang antara Belitung dengan VOC di Batavia.6

Fakta sejarah di atas menunjukkan bahwa pada masa VOC Belanda tidak melakukan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, keterlibatanya hanya sebatas perjulan, olehnya itu pada masa berkuasanya VOC belum ada hukum yang dibuat khusus (lex specialis) untuk pengelolaan pertambangan mineral dan batubara. Strategi yang dilakukan VOC ini menunjukkan bahwa tidak masuk langsung dalam pengelolaan pertambangan karena memakan waktu dan butuh dana yang besar, sementara kalau keterlibatannya di penjualan maka secara ekonomi dapat menerapkan sistem monopoli sehingga keuntungannya (benefi t) besar dengan risikonya (risk)dapat ditekan sekecil mungkin.

2. Pertambangan Nusantara Di Bawah Kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda

Beralihnya VOC ke tangan Pemerintah Hindia Belanda akibat karena pailit tahun 1800, kemudian jatuhnya Hindia Belanda ketangan Inggris tahun 1811. Di masa ini belum ada perubahan pengelolaan di bidang

4Abrar Saleng, Hukum Pertambangan, Cetakan Pertama (Yogyakarta: UII Press, 2004), hlm.

62

5Sutejo Sujitno, Sejarah Penambanagan, op.cit, hlm. 11

6Ibid.

Kontrak Karya

103

pertambangan, sampai tahun 1816 saat tanah jajahan dikembalikan kepada pemerintah Hindia Belanda oleh Inggris baru terjadilah perubahan, yaitu dengan muncul minat pengusaha swasta dan perorangan Belanda masuk di sektor pertambangan timah dan batubara karena prospek pasarnya dinamis.

Memasuki tahun 1850 Pemerintah Hindia Belanda membentuk Komisi Khusus penyusun peraturan hukum pertambangan (mijnreglement) pertama, yang isinya memberikan hak atau konsesi (consessie)7 penambangan kepada warga negara Belanda untuk di luar Pulau Jawa.

Rancangan peraturan hukum pertambangan tidak menyentuh Pulau Jawa karena takut terjadi konfl ik antara hak pertambangan dan culturstelsel8 pada pertanian dan perkebunan yang diterapkan di Pulau Jawa. Begitu pentingnya peraturan hukum di bidang pertambangan maka tahun 1852 pemerintah mendirikan Dienst van het Mijnwezen atau Jawatan Pertambangan dengan tujuan eksplorasi geologi pertambangan untuk kebutuhan bisnis pemerintah Hindia Belanda.

Setelah mengoptimalkan tugas Dienst van het Mijnwezen melalui penelitian maka salah satu hasil yang ditemukan tahun 1866 adalah endapan Batubara Ombilin Sumatera Barat, yang selanjutnya dikelola pemerintah tahun 1891.9

Melihat lambatnya bisnis di bidang pertambangan, yang salah satu titik krusialnya adalah peraturan hukumnya, maka pada tahun 1899 pemerintah Hindia Belanda berhasil melahirkan Indische Mijnwet (Staatblad 1899-214) yang fokusnya, seperti disampaikan Soetaryo Sigit terbatas pada pengaturan penggolongan bahan galian dan penguasaan pertambangan.

7Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, Cetakan Pertama (Jakarta: Sinar Grafi ka, 2011), hlm.

81- 82. Bahwa concessie adalah hak pertambangan yang luas dan kuat dan pemegangnya langsung menjadi pemilik atas bahan galian yang diusahakan. Akibat kepemilikan dipandang sebagai hak kebendaan (property right) maka dapat dijadikan sebagai jaminan hipotek. Selanjutnya dikonkritkan bahwa konsesi (concessie) pertambangan ialah izin atau wewenang yang diberikan oleh pemerintah kepada badan hukum atau perorangan untuk melakukan usaha pertambangan berdasarkan asas domein beginsel (berasal milik negara) dengan disertai kewenangan dapat melakukan perjanjian dengan pihak lain yang bersifat campuran antara hukum public dan privat.

8https://id.m.wikipedia.org. Cultuurstelsel adalah sistem tanam paksa. Sistem ini dikeluarkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanam komuditi ekspor, khususnya tebu, kopi, tarum (nila) dan hasilnya dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Jenderal Johannes van den Bosch sebagai penggagas Cultuurstelsel maka dianugerahi gelar Graaf oleh Raja Belanda pada 25 Desember 1839.

Cultuurstelsel kemudian dihentikan dengan dikeluarkan UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870 sebagai awal era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.

9Soertaryo Sigit, Potensi Sumber Daya, op.cit, hlm. 8.

Keterbatasan Indische Mijnwet tersebut maka pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksanaan Mijnordonnantie dan diberlakukan tanggal 1 Mei 1907 sehingga pengaturan menjadi luas dengan dimasukkan Pengawasan Keselamatan Kerja (diatur di Pasal 356 sampai dengan Pasal 612). Pada tahun 1930 Mijnordonnantie 1907 dicabut dan diperbaharui dengan Mijnordonnantie 1930 sehingga Pengawasan Keselamatan Kerja tersebut di geser masuk pada Mijn Politie Reglement (Staatblad 1930 No. 341) yang hingga kini masih berlaku.10

Dalam perjalanan Indische Mijnwet 1899 dipandang kurang mendukung kegiatan swasta maka dilakukan amandemen sebanyak dua kali yaitu tahun 1910 dan tahun 1918. Dari sinilah pertambangan swasta mulai melaju hingga mencapai puncak 1930-an menjelang Perang Dunia II.11

Kegiatan pertambangan semasa pemerintahan Hindia Belanda di atas ditemukan melalui tulisan Ter Braake (1944), van Bemmelen (1949) dan laporan tahunan Jawatan Pertambangan Hindia Belanda (Jaarverslag Dienst van den Mijnbouw) tahun 1938- 1940.12

Pengusahaan tambang di Hindia Belanda dilaksanakan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Beberapa tambang besar yang dinilai sangat vital dimiliki dan diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri, seperti misalnya Tambang Batubara Ombilin, Tambang Batubara Bukit Asam, dan Tambang Timah Bangka. Sebagian lagi ada yang diusahakan secara patungan antara Pemerintah Hindia Belanda dan pihak swasta, seperti Tambang Timah Belitung dan Singkep. Ada pula yang kepemilikannya di tangan Pemerintah Hindia Belanda, tetapi pengusahaannya diserahkan kepada pihak swasta berdasarkan kontrak, seperti misalnya Tambang Belerang Kawah Putih Jawa Barat.13

Di masa Pemerintahan Hindia Belanda pihak swasta mengusahakan dan melaksanakan pertambangan atas dasar izin konsesi pertambangan sehingga pihak swasta memiliki keleluasaan besar. Sekalipun demikian tetapi ada beberapa proyek besar seperti pengembangan nikel di Sulawesi Tenggara diberikan hak penguasaan berdasarkan perjanjian yang dikenal dengan 5 a Contract, karena didasarkan pada ketentuan Pasal 5a Indische Mijnwet tambahan dari tahun 1910 yang sebelumnya Indische Mijnwet 1899. Isi Pasal 5 a Contract tersebut adalah:14

10Abrar Saleng, op.cit, hlm. 64.

11Ibid.

12Soetaryo Sigit, Sepenggal Sejarah Perkembangan Pertambangan Indonesia (Kumpulan Tulisan S. Sigit, 1967 – 2004) (Jakarta: Yayasan Minergy Informasi Indonesia, 2004), hlm. 99.

13Ibid.

14Ibid.

Kontrak Karya

105

1. Het Gouvernement is bevoegd opsporingen en ontginningen te doen plaats hebben, waar die niet in strijd komen met aan opspoorders of concessionarissen verleende rechten. (pemerintah berwenang untuk melakukan penyelidikan dan eksploitasi selama hal itu tidak bertentangan dengan hak-hak yang telah diberikan kepada penyelidik atau pemegang hak konsesi).

2. Het kan te dien einde of zelf opsporingen en ontginningen ondernemen, of met personen of vennootschappen, die voldoen aan het eerste lid van artikel 4 dezer wet, overeenkomsten aangaan, waarbij zij zich verbinden tot het ondernemen van ontginningen of van opsporingen en ontginningen.

(untuk hal itu, (Pemerintah) dapat melakukan sendiri penyelidikan dan eksploitasi itu, atau mengadakan perjanjian dengan perorangan atau perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada pasal 4 undang-undang ini, dan dalam perjanjian itu mereka diwajibkan melaksanakan eksploitasi ataupun penyelidikan yang dimaksud.

3. Zoodanige overeenkomsten worden niet gesloten dan nadat daartoe telkenmale bij de wet machtinging is verleend. (perjanjian demikian itu tidak akan dilaksanakan kecuali bila (hal tersebut) telah disahkan dengan undang-undang).

Ketentuan Pasal 5a Indische Mijnwet di atas memberi wewenang bagi Pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan penyelidikan dan penambangan sendiri sepanjang tidak bertentangan dengan hak penyelidikan atau hak konsesi yang telah diberikan kepada pihak lain.

Setelah kewenangan penyelidikan dan penambangan diberikan juga kepada pemerintah Hindia Belanda, maka untuk dasar hukumnya tahun 1918 diadakan amandemen lagi terhadap ayat 3 Pasal 5a Indische Mijnwet, yaitu bahwa perjanjian/kontrak yang hanya mencakup eksplorasi saja, tidak perlu harus disahkan dengan undang-undang.

Adanya perbaikan Pasal 5a Indische Mijnwet dapat membawa dampak besar tehadap produksi bahan tambang tahun 1938- 1941. Angka produksi tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3 Produksi bahan tambang utama Indonesia 1938- 1941.15

Nama Mineral dan Batubara

Berat Tahun 1938 Tahun 1939 Tahun 1940 Tahun 1941 Timah Ton 27.737 28.340 43.890 54.170 Bauksit Ton 243.350 230.670 275.220 180.190 Bijih Nikel Ton 20.000 23.540 55.540 55.570 Emas Kg 2.370 2.525 2.801 2.562 Perak Kg 18.018 19.233 46.641 56.933 Bijih Mangan Ton 9.469 12.074 11.570 13.880 Batubara Ton 1.456.650 1.780.632 2.000.000 2.028.875 Aspal Alam Ton 6.224 5.383 740 8.000

Selain itu jumlah konsesi dan perizinan seperti disampaikan Ter Braake (1944), pada akhir tahun 1938 jumlahnya secara keseluruhan tidak kurang dari 471 buah. Dilihat dari jenisnya, 268 berupa konsesi yang bersangkutan dengan bahan-bahan galian yang tercantum dalam Indische Mijnwet, yaitu mencakup bahan galian bukan logam yang dianggap kurang penting; 14 izin eksplorasi dalam rangka “5a Contract,” 34 izin eksplorasi dan eksploitasi dalam rangka “5a Contract,” 2 izin penambangan oleh usaha patungan pemerintah dengan swasta; 2 izin penambangan oleh swasta yang bekerja sebagai kontraktor pemerintah; dan 3 izin penambangan badan usaha milik negara pemerintah.16

Dengan demikian, penilaian teradap pentingnya kedudukan pertambangan Indonesia semasa Pemerintahan Hindia Belanda seperti disampaikan pakar geologi dan pertambangan van Bemmelen (1941) adalah

...Uit dit staatje blijkt dat Nederlandsch-Indie slechts een bescheiden producent van delfstoff en is. De eenige troefkaarten op de wereldmarkt zijn aardolie en tin, terwijl bauxite en nikkelertsen special voor delfstoff en verhoudingen in Oost-Azie van beteekenis zijn...17 (artinya: “...Dari daftar ini ternyata bahwa Hindia Belanda hanya merupakan penghasil bahan galian berukuran kecil saja. Yang merupakan unggulan di pasar dunia hanyalah minyak bumi dan timah, sedangkan bauksit dan bijih nikel sekedar berarti dalam ukuran perbandingan potensi bahan galian di wilayah Asia Timur saja...”).

15Ibid

16Ibid.

17Ibid.

Kontrak Karya

107

3. Peraturan Hukum Pertambangan Masa Berkuasanya Jepang

Tahun 1942-1949 negara berada pada dua dimensi politik yang tidak menentu, karena satu sisi politik Jepang sebagai negara yang memiliki kekuatan di Asia Selatan mulai meyebarkan sayapnya dan merapas tanah- tanah jajahan negara-negara barat termasuk Indonesia sebagai tanah Hindia Belanda. Menanggapi tindakan Jepang yang begitu brutal maka memicu lahirlah Perang Dunia II.

Masuknya Jepang ke Tanah Hindia Belanda dan mengusir Belanda keluar dari tanah jajahannya, dinamika di bidang pertambangan tetap statis karena tidak ada kemajuan tercuali ada bagian-bagian tambang yang dianggap untuk kepentingan Jepang tetap dipertahankan dan diawasinya.

Data pertambangan masa periode Jepang menunjukkan adanya fragmentaris karena wilayah Hindia Belanda semula merupakan suatu kesatuan kini dibagi menjadi bagian-bagian. Adanya sistem yang baru dibangun ini membuat administrasi menjadi tidak termenej lagi.

Akibat dari penerapan sistem baru ini Sumatera dikelompokkan satu wilayah administrasi dengan Malaya; Jawa dan Kalimantan dimasukkan dalam wilayah kekuasaan Angkatan Darat (Rikugun), sedangkan Sulawesi dan Bagian Timur Indonesia lainnya masuk Angkatan Laut (Kaigun) Jepang.

Pembagian perwilayahan ini merupakan strategi Jepang untuk mempertahankan kekutannya di wilyah Hindia Belanda, sekaligus mengatur sumber daya alam terbarukan (renewable) dan tak terbarukan (un renewable) di wilayahnya masing-masing sesuai dengan petunjuk yang tertuang dalam administrasi yang dibuatnya.

Politik perang Jepang di saat itu, perusahaan tambang yang dianggap penting atau perlu untuk perang tidak dibumi hangus kan, misalnya disampaikan Lasut yaitu minyak bumi, tembaga, batu bara, bijih besi (Fe) , mangan (Mn), dan air raksa. Masa pendudukan Jepangan hanya tiga setengah tahun (1942-1945) kegiatan yang dicapai dalam eksplorasi mineral, diantara melalui perusahaan Ishihara Sankyo, Mitsui Kozan, Nippon Chisso dan Mitsubishi Kabushiki Kaisha. 18

Pada masa berkuasanya Jepang, batubara juga memiliki tempat yang sama seperti minyak bumi, karena digunakan untuk menggerakkan mesin perang. Olehnya itu mempertahankan dan melanjutkan pengelolaan tambang batubara di Ombilin dan bukit asam. Selain itu di Sumatera juga dibuka tambang baru di Logas. Untuk mengatasi bahan bakar Kereta

18Ibid.

Api di Pulau Jawa agar tidak lagi mendatangkan batubara dari Sumatera, langkah diambil Jepang adalah melakukan penambangan di Biyah, Cisaat, dan Ngandang. Keperluan Jepang terhadap batubara ini tidak hanya bahan Kereta Api melainkan juga untuk pembuatan kokas bagi industri besi dan baja di Kalimantan Selatan yaitu di Pulau Laut dan menggali bijih besi di Batukora.19

Selain dari penambangan batubara, Jepang juga melakukan eksploitasi terhadap tembaga di daerah Sangkorapi Sulawesi Selatan, Timbulum di Sumatera Barat, Tirtomoyo Jawa Tengah, mangan di Pulau Doi Maluku Utara, nikel di Pomala Sulawesi Tenggara, bahkan di Pomala telah dibangun sebuah pabrik nikel kasar (nickel matte).

Hasil eksplorasi Jepang dapat menemukan endapan mangan di Pulau Doi Maluku Utara, endapan bijih besi magnetit-hematit di Gunung Tanalang Kalimantan Selatan, endapan bijih nikel di Gebe Maluku Utara.

Eksplorasi ini dilakukan untuk kepentingan “dana perang.” Hasil produksi tambang yang dicapai Jepang selama tahun 1942- 1944 adalah:20

Tabel 4 Produksi bahan tambang di Indonesia tahun 1942- 1944 Mineral dan

Batubara

Berat Tahun

1942

Tahun 1943 Tahun 1944

Batubara Ton ? 1.038.000 753.000

Timah Long ton 10.000 15.133 6.069

Bauksit Ton 250.000 300.000 200.000

Nikel Ton 27.812 77.532 58.462

Catatan penting di masa tahun 1942- 1949 adalah bahwa wilayah Hindia Belanda diambil oleh Jepang, kemudian diambil kembali lagi oleh Belanda akibat Jepang kalah perang dengan sekutu. Sementara Indonesia menyatakan kemerdekaan 17 Agustus 1945, namun wilayah kekuasaan hanya terbatas di Pulau Jawa dan Sumatera dan bagian lain Indonesia dikuasai kembali Th e Nederlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.

Pembagian porsi wilayah antara Indonesia dan NICA itu membuat lahirnya perang baru. Sekalipun demikian tidak mengurangi semangat Indonesia untuk membangun Kantor Pusat Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia sebagai pengganti dari Dienst van den Mijnbouw yang

19Ibid.

20Ibid.

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 112-115)