• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Penanaman Modal Asing

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 70-73)

Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)

B. Perkembangan Penanaman Modal Asing

domestik, misalnya kontrak tentang bantuan manajemen, lisensi (izin), dan agency (perwakilan).8

Metode penanaman modal asing (foreign investment) di atas sebenarnya suatu langkah yang sangat tepat yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, Apalagi kepercayaan pihak asing terhadap Indonesia setelah terjadi krisis ekonomi tahun 1998 semakin menipis. Ketidak percayaan itu sendiri didukung oleh fakta-fakta empiris seperti keamanan dan stabilitas politik yang tidak menentu, ketidak stabilan nilai tukar rupiah, korupsi, perubahan sistem pemerintahan setelah lahirnya UU. 22 Tahun 1999 dari sentralisasi ke desentralisasi, penyimpangan hukum secara besar-besaran yang dilakukan law enforcement offi cer (pejabat penegak hukum; polisi, jaksa, hakim), seperti banyak pelanggaran hukum (law breaking) yang dilakukan oknum dan institusi tertentu yang tidak dapat terselesaikan secara tuntas menurut hukum.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

55

Sekalipun dikatakan adanya kemajuan di bidang penanaman modal asing, namun bila dilihat dalam penempatan proyek tersebut prioritas utama masih terfokus di Pulau Jawa. Kenyataan ini terungkap melalui data nilai proyek dan persetujuan PMA tahun 1967 -1990, yang dikemukakan Pandji Anoraga, yaitu urutan pertama Provinsi Jawa Barat dengan nilai proyek sebesar US$ 12.321,0 juta, urutan kedua DKI Jakarta dengan nilai proyek sebesar US$ 6.593,0 juta, urutan ketiga Provinsi Sumatera Utara dengan nilai proyek sebesar US$ 3.560,7 juta, urutan keempat Provinsi Jawa Timur dengan nilai proyek sebesar US$ 2.743,3 juta, dan urutan kelima Jawa Tengah dengan nilai proyek sebesar US$ 2.305,2 juta.11

Data-data di atas menunjukkan bahwa para investor asing lebih tertarik menanamkan investasi di Pulau jawa karena sarana pendukungnya sangat memadai dibandingkan dengan daerah-daerah di luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian.

Persetujuan penanaman modal asing (foreign investment) berdasarkan sektor usaha dari tahun 1967 – 1990 yaitu “Industri kimia dengan nilai investasi sebesar sebesar US$ 8.659,5 juta, industri logam dasar sebesar US$

2.886,9 juta, industri kertas sebesar US$ 3.369,2 juta dan pertambangan sebesar US$ 3.269,8 juta.12

Beberapa sektor tersebut menjadi sasaran prioritas para investor asing karena tidak ada persaingan dengan para investor dalam negeri, dikatakan demikian karena para investor dalam negeri memiliki keterbatasan, terutama menyangkut masalah permodalan.

Untuk mengukur peringkat investasi negara-negara asing berdasarkan persetujuan pemerintah dari tahun 1967 – 1991 maka Jepang menempati urutan pertama dengan nilai investasi sebesar US$ 11.156,7 juta, peringkat kedua Hongkong dengan nilai investasi sebesar US$ 4.194,0 juta, peringkat ketiga Taiwan dengan nilai investasi sebesar US$ 3.373,1 juta, peringkat keempat Amerika Serikat dengan nilai investasi sebesar US$ 2.496,1 juta, dan disusul dengan Korea Selatan dengan nilai investasi sebesar US$ 2.216,9 juta.13

Jepang menempati urutan pertama dalam penanam modal di Indonesia dibandingkan dengan negara asing lainnya, karena negara tersebut sangat mengenal dekat dengan Indonesia, baik secara geografi s maupun budaya, hal ini dapat terjadi karena pernah menjajah bangasa Indonesia.

Untuk itu tidak ada rasa keraguan dalam menanamkan investasinya.

11Ibid.

12Ibid.

13Ibid.

Distribusi investasi selama kurun waktu 25 tahun pada PJPT I sangatlah menampakkan ketimpangan yang cukup menakutkan dan menimbulkan banyak kekecewaan daerah-daerah yang dipandang terkebelakang, khususnya kawasan timur Indonesia. Kenyataan ini yang pada akhirnya menimbulkan berbagai macam pandangan yang berbeda antara pemerintah pusat dan daerah.

Bila diamati secara mendalam, ada dua pandangan yang nampak sangat berbeda antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Bagi pemerintah pusat distribusi investasi diutamakan pada daerah-daerah pusat pertumbuhan (Pulau Jawa) karena ada skala prioritas pembangunan dengan jangka tertentu, sementara bagi pemerintah daerah dan masyarakat di daerah-daerah terkebelakang melihat perlakuan seperti itu adalah suatu strategi yang dimainkan pemerintah pusat agar daerah tetap bergantung, serta menjadi obyek bisnis pemerintah pusat.

Prioritas investasi asing hanya terfokus di pulau Jawa mengakibatkan manfaat hanya dinikmati dan menyebar di pulau Jawa tanpa keluar ke daerah-daerah lain. Manfaat tersebut menurut M. Hawin meliputi:14 1. Meningkatkan devisa (foreign exchange) dari hasil penjualan ekspor;

2. Meningkatnya jumlah lowongan kerja untuk penduduk lokal;

3. Kemungkinan adanya transfer of teknology;

4. Meningkatkan penghasilan publik melalui perpajakan;

5. Meningkatkan/ menciptakan hubungan-hubungan pada pasar internasional;

6. Pembangunan local resources;

7. Memperkuat industri lokal.”

Pandangan di atas sangat tepat bila dikaitkan dengan pendapat Indra Ismawan yang mengatakan bahwa ketimpangan distribusi investasi amat berpengaruh bagi perkembangan perekonomian daerah penerimanya.

Dalam aktivitas perekonomian, investasi merupakan faktor vital, hal ini didukung ekonomi aliran klasik dan neo-klasik yang menganggap investasi sebagai semacam injeksi yang mempercepat arus perputaran dan jasa. Percepatan arus komuditi otomatis menandakan tingginya tingkat kemakmuran suatu masyarakat.15

Sekalipun Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia dimulai sejak tahun 1967, yaitu dengan lahirnya UU No. 1 Tahun 1967 namun

14M. Hawin, op.cit, hlm. 1

15Panji Anoraga, op.cit, hlm. 78.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia

57

sampai sekarang skala prioritas masih tetap berada di Pulau Jawa dan belum merata di semua provinsi yang ada di republik ini.

Penanaman Modal Asing (PMA) sebagai upaya dalam mendorong pembangunan di bangsa ini, namun pada sisi lain dapat juga menimbulkan dampak negatif yang menurut M. Hawin meliputi:16

1. Dominasi asing atas ekonomi dan campur tangan dalam masalah- masalah politik negara tuan rumah;

2. Industri lokal dapat mati;

3. Pengenalan teknologi yang tidak cocok kepada negara tuan rumah;

4. Kerusakan lingkungan negara tuan rumah;

5. Dampak negatif terhadap cadangan devisa dan keseimbangan pembayaran (balance of payment);

6. Berkurangnya sumber penghasilan (resource) lokal;

7. Efek negatif sosial. Misalnya dengan pengenalan pola-pola konsumsi dan tingkah laku yang tidak baik.

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 70-73)