Bab 3 PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
E. Prosedur Pelaksanaan Penanaman Modal Asing
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
71
c. Rencana Perjanjian usaha patungan dalam bahasa inggris dan bahasa Indonesia, diparaf oleh semua peserta usaha patungan, bagi PMA yang 100 % modalnya dimiliki oleh Badan Usaha Asing dan/
atau warga negara asing, rancangan perjanjian usaha patungan tidak diperlukan.
d. Surat Kuasa apabila penandatanganan permohonan bukan dilakukan oleh pemohon sendiri.
e. Kelengkapan persyaratan ketentuan sektor yang dikeluarkan oleh menteri teknis yang bersangkutan;
f. Bagi bidang usaha yang dipersyaratkan kemitraan:
1) Kesepakatan/ perjanjian kerjasama tertulis mengenai kesepakatan bermitra dengan Usaha Kecil, yang antara lain memuat nama dan alamat masing-masing pihak, dan bentuk pembinaan yang diberikan kepada usaha kecil;
2) Dalam naskah rancangan perjanjian usaha patungan telah tercantum Usaha Kecil sebagai pemegang saham, apabila kemitraan dalam bentuk penyertaan saham;
3) Surat pernyataan di atas meterai dari Usaha kecil yang menerangkan bahwa yang bersangkutan memenuhi kriteria Usaha Kecil.
2. Penilaian Permohonan.
Yang berkompoten melakukan penilaian terhadap permohonan yang diajukan oleh pemohon, baik yang nilai investasinya lebih besar dari US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat) maupun yang nilai investasinya sampai dengan US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat) adalah maninves/ Kepala BKPM.
Penilaian ini didasarkan pada substansi permohonan dan kelengkapan administrasinya.
3. Tahap Persetujuan.
Maninves/ Kepala BKPM berdasarkan hasil penilaian sebelumnya menyampaikan pertimbangan kepada Presiden untuk memperoleh keputusan, Pertimbangan yang dimintakan kepada Presiden tersebut hanya investasi yang bernilai lebih besar dari US$
100.000.000,- (Seratus juta dolar Amerika Serikat)
Atas dasar hasil pertimbangan BKPM tersebut, Presiden mengeluarkan Surat Pemberitahuan Persetujuan Presiden (SPPP) dalam rangka penanaman modal asing. SPPP ini dikeluarkan paling
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
73
lambat 20 hari setelah permohonan diterima. SPPP tersebut diserahkan kepada pemohon oleh Meninves/ Kepala BKPM dengan tembusan kepada:
a. Menteri Dalam Negeri;
b. Menteri yang membina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan;
c. Menteri Keuangan ;
d. Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN;
e. Menteri Negara Lingkungan Hidup/ Kepala Bapedal;
f. Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah (apabila ada kemitraan dengan Usaha Kecil);
g. Gubernur Kepala Daerah Tingkatk. I yang bersangkutan;
h. Direktur Jenderal Teknis Yang Bersangkutan;
i. Direktur Jenderal Pajak;
j. Direktur Jenderal Bea dan Cukai;
k. Direktur Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan;
l. Ketua BPMD yang bersangkutan;
m. Kedutaan/ Kantor Perwakilan RI di negara asal peserta asing; serta n. Kedutaan/ Kantor Perwakilan negara peserta asing di Jakarta.
Bagi investor yang nilai investasinya US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat) Maninves/ Kepala BKPM mengeluarkan Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing (SP-PMA). Persetujuan ini keluar lebih cepat, yaitu 10 hari kerja setelah permohonan diterima dengan tembusannya disampaikan kepada:
a. Maninves/ Kepala BKPM;
b. Menteri Dalam Negeri (Mendagri);
c. Direktur Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan;
d. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan;
e. Bank Indonesia setempat;
f. Kanwil Departemen Teknis;
g. Kanwil Direktorat Jenderal Pajak setempat;
h. Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai setempat;
i. Kanwil Badan Pertahanan Nasional;
j. Kanwil Departemen Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah setempat (apabila ada kemitraan dengan Usaha Kecil);
k. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah setempat;
l. Bupati/ Walikota lokasi kegiatan penanaman modal yang bersangkutan;
m. Kedutaan/ Kantor Perwakilan di negara asal peserta asing, serta;
n. Kedutaan/ Kantor Perwakilan negara peserta asing di Jakarta.
Ketentuan sanksi terhadap perusahaan yang tidak melakukan kegitaan selama 1 tahun, terhitung mulai tanggal diterbitkan Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing (SP-PMA) atau SPPP akan batal dengan sendirinya.
Penanaman modal asing khusus di bidang pertambangan atau diluar minyak dan gas bumi diatur berdasarkan Keputusan Menteri Negara Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 30/ SK/1998 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal. Ketentuan tersebut secara tegas dinyatakan dalam Pasal 10 bahwa:
a. Permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMA di bidang usaha pertambangan di luar minyak dan gas bumi dilaksanakan dalam bentuk kontrak karya atau perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara antara calon penanam modal dengan Pemerintah Republik Indonesia.
b. Rancangan kontrak karya atau perjanjian karya disiapkan oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Departemen Pertambangan dan Energi bersama calon penanam modal;
c. Rancangan kontrak karya atau perjanjian karya yang telah disetujui oleh pihak-pihak disampaikan oleh Menteri Pertambangan dan Energi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Meninves/ Ketua BKPM.
d. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Meninves/
Ketua BKPM menyampaikan pendapat kepada Presiden atas rancangan kontrak karya.
e. Berdasarkan pendapat tersebut maka Presiden dapat menyetujui atau menolak rancangan kontrak karya tersebut.
f. Apabila Presiden menyetujui substansi rancangan kontrak karya tersebut maka Menteri Pertambangan dan Energi menandatangani kontrak karya tersebut dengan penanam modal.
Dari prosedur dan syarat penanaman modal asing yang dikeluarkan pemerintah tersebut tampaknya berbeda bentuk, hal ini dilihat melalui bentuk persetujuannya, yaitu:
Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia
75
1. Investasi yang nilainya lebih besar dari US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat), maka persetujuannya dalam bentuk Surat Pemberitahuan Persetujuan Presiden (SPPP) dalam rangka penanaman modal asing, dan dikeluarkan langsung oleh Presiden.
2. Investasi yang nilainya sebatas US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat), maka bentuk surat penanaman modalnya adalah bentuk Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing (SP-PMA), dan yang mengeluarkan surat persetujuan tersebut adalah Meninves/ Kepala BKPM.
3. Bagi penanam modal baru dalam rangka PMA di bidang usaha pertambangan di luar minyak dan gas bumi dilaksanakan dalam bentuk kontrak karya atau perjanjian karya. Kontrak karya atau perjanjian karya tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertambangan dan Energi, dan Para pihak.
Dari prosedur tersebut tampaknya bahwa kewenangan dalam memberikan perizinan dalam rangka penanaman modal asing (foreign investmen) tergantung kepada nilai investasinya, artinya kalau nilainya di atas US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika Serikat) maka yang berhak memberikan persetujuan adalah Presiden, akan tetapi jika nilainya US$ 100.000.000,- (seratus juta dolar Amerika) ke bawah maka yang memberikan persetujuan adalah Maninves/ Kepala BKPM, dan bagi penanam modal baru dalam rangka PMA di bidang pertambangan diluar minyak dan gas bumi kewenangan berada pada Menteri pertambangan dan energi dan para pihak yang melakukan kontrak. Dari sini menunjukkan bahwa untuk penanaman modal asing khusus di bidang pertambangan diluar minyak dan gas bumi diberikan kemudahan karena tingkat persetujuannya hanya pada tingkat menteri.