• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Kontrak Karya Dalam Hukum

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 147-151)

Bab 5 KONTRAK KARYA (Contract of Work)

E. Kedudukan Kontrak Karya Dalam Hukum

Kontrak Karya

131

memiliki celah kesalahan yang minim, saling menguntungkan, adanya equilibrium, dan proporsionalitas, sedangkan di Indonesia kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya terbatas pada menyetujuinya dengan kekuatan pertimbangan bahwa kontrak yang salah satu pihak adalah negara yang diwakili pemerintah dianggap semua sudah terpenuhi syarat dan tidak bakal menimbul masalah dikemudian nanti.

memiliki sebuah rumah terserah kepada pemiliknya mau menjualnya, mengontrakkan, memodifi kasi, atau membongkar untuk mengosongkan tanahnya dll.

Konsep penguasaan di atas, bila dikaitkan dengan penguasaan negara terhadap pertambangan yang disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 maka hal itu menjadi dasar kuat untuk menyatakan bahwa penguasaan negara dalam pasal tersebut tidak menunjukkan kepemilikan negara, artinya menurut hukum administrasi negara hanya sebatas mengatur, mengontrol dan mengawasinya. Sedangkan dilihat dari hukum tata negara hal itu adalah bagian dari hak masyarakat yang harus negara lindungi.

Tri Hayati mengatakan bahwa konsep penguasaan negara dalam hal pengelolaan pertambangan dan peruntukan (de toestemming der mijnbouw) tidak boleh menyimpang dari Pasal 33 UUD 1945. Penguasaan negara dimaksud adalah dalam makna de staatsbeheer, bukan dalam makna pemilikan negara. Negara bukan pemelik (de eigenaar) tetapi beheerder atas nama rakyat banyak.40

Dalam memberikan pencerahan dan dasar yuridis terhadap makna

“penguasaan” dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 agar tidak menimbulkan perbedaan interpretasi dikalangan ahli hukum, maka Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia melalui Putusan No. 002/PUU-1/2003, tanggal 15 Desember 2003 dalam perkara pengujian UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi terhadap UUD 1945, berpendapat bahwa hak menguasai negara dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 bukan berarti memiliki, tetapi negara sebagai organisasi diberi kewenangan yang darinya dimungkinkan timbulnya hak-hak pengelolaan dan hak pengusahaan.

Hak mengusai negara kaitan dengan minyak dan gas bumi sebatas pada hak untuk mengatur dan menentukan status hukum pengelolaan dan pengusahaan atas minyak dan gas bumi.

Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap “penguasaan”di atas sudah fi nal dan secara yuridis tidak bisa diinterpretasi lain. Putusan itu tidak hanya berlaku terbatas pada minyak dan gas bumi saja melainkan semua sumber daya alam yang disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, termasuk pertambangan mineral dan batubara.

Penegasan Mahkamah Konstitusi yang intinya bahwa hak milik sumber daya alam tak terbarukan termasuk pertambangan mineral dan batubara adalah “masyarakat banyak.” Atas dasar ini, maka tentunya kontrak

40Tri Nurhayati, Era Baru Hukum Pertambangan Di Bawah Rezim UU No. 4 Tahun 2009, Cetakan Pertama (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), hlm. xviii

Kontrak Karya

133

karya dalam kedudukannya bukanlah sebagai hukum perdata melainkan termasuk hukum publik.

Dikatakan bukan hukum perdata karena syarat perjanjian yang di atur dalam Pasal 1320 KUHPerdata bahwa suatu perjanjian dikatakan sah apabila memenuhi syarat:

1. Syarat obyektif.

a. Kecakapan untuk membuat kontrak (dewasa dan tidak sakit ingatan);

b. Kesepakatan para pihak yang mengikatkan diri 2. Syarat subyektif

a. Suatu hal (objek) tertentu;

b. Sesuatu sebab yang halal.

Syarat kontrak yang telah ditentukan dalam pasal 1320 KUHPerdata di atas apabila semua unsur sudah terpenuhi maka tinggal dilaksanakan, dan tidak ada hal lain yang menghalanginya. Hal tersebut diperjelas dan diperkuat dengan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata bahwa “Semua perjajian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi pembuatnya.”

Pasal 1330 KHUPerdata di atas mempertegas kekuatan berlaku sama dengan undang-undang, artinya di dalam yuridis tidak ada kekuatan lain melebihi undang-undang terkecuali dengan undang-undang. Hal tersebut dikatakan demikian karena terkandung di dalamnya tiga asas yaitu:

1. Asas konsensualisme, yaitu perjanjian itu dilakukan atas dasar konsensus antara para pihak yang melakukan kontrak;

2. Asas kebebasan berkontrak, yaitu seseorang bebas melakukan kontrak mengenai apa saja dan bentuk apa saja yang diinginkan;

3. Asas pacta sunt servanda, yaitu bahwa kontrak yang dilakukan para pihak itu sama kekuatan mengikatnya dengan undang-undang.

Atas dasar ketentuan yang diatur secara tegas pada hukum perdata tersebut maka kontrak karya menurut penulis bukanlah suatu kontrak hukum dalam rana perdata melainkan kontrak hukum publik.

Argumentasinya bahwa kedudukan para pihak tidak seimbang, karena satu pihak adalah corporate dan pihak yang lain adalah negara (pemerintah).

Bila suatu kontrak perdata dikatakan seimbang apabila memiliki kedudukan yang sama yaitu antara perusahaan dengan orang, orang dengan orang, dan/atau perusahaan dengan perusahaan. Perusahaan dalam kedudukannya dikatakan sebagai orang sesuai dengan teori fi ksi, dengan alasan itu maka perusahaan dapat digugat dan sebaliknya dapat menggugat.

Masuknya pemerintah sebagai satu pihak dalam kontrak karya menunjukkan bahwa kontrak tersebut bukan kontrak perdata karena ada ketentuan berdasarkan doktrin imunitas negara restriktif (the Doctrine of restrictive state immunity), yaitu bahwa negara itu memiliki kekebalan dalam hukum berkaitan dengan jure imperii atau kedaulatan (Government acts), tetapi kalau negara masuk dalam jure gestionis dalam artian komersial (Commercial acts) maka imunitasnya akan hilang. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu pihak dalam kontrak yaitu pemerintah memiliki imunitas sedangkan perusahaan tidakmemiliki imunitas.

Tri Hayati membandingkan kontrak perdata dan kontrak karya sebagai kontrak publik dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.41

No

HAL-HAL PEMBEDA

KONTRAK KARYA SEBAGAI KONTRAK

PUBLIK

KONTRAK PERDATA

1 Objek yang

diperjanjikan

Public Goods dan Public Ounership Goods

Private Goods

2 K e d u d u k a n para pihak

Seimbang pada saat penan- datanganan kontrak, setelah itu terjadi subordinasi

Seimbang

3 Kesepakatan

para pihak

Dilakukan di awal dan diiku- ti dengan Persetujuan Ment- eri (sebelum berkontrak)

Di awal dan langsung berkontrak

4 P e m b e r - lakuan kon- trak

Setelah kontrak dibuat, ma- sih perlu Pengesahan Pemer- intah dan Konsultasi ke DPR

Setelah berkontrak, langsung mengikat para pihak.

5 Isi kontrak Tunduk pada Persyaratan dan Pedoman Menteri

Kebebasan berkontrak

Pendapat yang disampaikan Tri Hayati melalui tabel di atas tidak berbeda dengan analis dilakukan penulis, dengan demikian maka kontrak karya yang digunakan dalam pertambangan jelas bukanlah kontrak perdata

41Ibid

Kontrak Karya

135

tetapi kontrak publik, hal ini dapat dilihat melalui (1) di awali harus ada persetujuan menteri, (2) tunduk pada persyaratan dan pedoman menteri, dan (3) butuh pengesahan Pemerintah dan Konsultasi ke DPR.

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 147-151)