• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Mengikat Secara Yuridis Melalui Akta

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 173-181)

Bab 6 IMPLEMENTASI PMA DI BIDANG

A. Kekuatan Mengikat Secara Yuridis Melalui Akta

D

i dalam ketentuan foreign investmen di bidang pertambangan di Indonesia sesuai peraturan hukum yang di atur dalam Pasal 8 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1967 bahwa “Penanaman modal asing di bidang pertambangan di dasarkan pasa suatu kerjasama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.”

Ketegasan Pasal 8 ayat (1) di atas kemudian dalam penjelasannya dinyatakan bahwa untuk memperlancar pelaksanaan pembangunan ekonomi maka pemerintah menentukan bentuk-bentuk kerjasama antara modal asing dan modal nasional. Mungkin kerjasama ini berujud kontrak karya, joint venture atau bentuk lain.

Didasarkan pada ketentuan Pasal 8 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1967 tersebut kemudian pemerintah melahirkan peraturan hukum khusus (lex specialis) tentang pertambangan melalui UU No. 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Peraturan hukum ini mendesak semua pihak yang bercita-cita berbisnis di bidang pengelolaan pertambangan di Indonesia agar patuh dan tunduk terhadapnya.

Di dalam UU No. 11 Tahun 1967 dipertegas dengan jelas tanpa adanya blanket norm, artinya tidak ada interpretasi lain terkecuali tertulis dalam undang-undang dan penjelasannya, karena sudah jelas dengan perkataan kontrak karya atau perjanjian karya.

Bab 6

IMPLEMENTASI PMA DI BIDANG PERTAMBANGAN : KERJASAMA NEWCREST SINGAPORE HOLDINGS PTE LIMITED DENGAN PT ANEKA TAMBANG

(PERSERO) TBK INDONESIA

Ketentuan yang disampaikan melalui Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3) UU No. 11 Tahun 1967 yaitu:

1. Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah atau perusahaan negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan.

2. Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, instansi pemerintah atau perusahaan negara harus berpegang pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh menteri.

3. Perjanjian karya dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah disyahkan oleh pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila menyangkut golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam Pasal 13 Undang-undang ini dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing.

Ketentuan yang disampaikan Pasal 13 sesuai perintah Pasal 10 ayat (3) di atas yaitu bahwa “Dengan undang-undang ditentukan bahan- bahan galian yang harus diusahakan semata-mata oleh negara dan cara melaksanakan usaha tersebut.”

Dalam penjelasan Pasal 13 di atas dinyatakan bahwa “Pada saat ini yang sudah dilaksanakan ialah pengaturan tentang minyak dan gas bumi serta sejenisnya dan bahan radioaktif. Untuk itu sudah diundangkan undang- undangnya sebagai pelanjutan dari undang-undang pokok pertambangan ini.”

Adapun golongan a yang dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) UU No. 11 Tahun 1967 adalah penggolongan yang diatur melalui PP No. 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-Bahan Galian. Di dalam Pasal 11

1 b. golongan bahan yang vital adalah:

- besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;

- bauksit, tembaga, timabal, seng;

- emas, platina, peral, air raksa, intan;

- arsin, antimony, bismut;

- yttrium, rhutenium, cerium, dan logam-logam langka linnya;

- berilium, korundem, zircon, Kristal kwarsa;

- kriolit, fl uorspar, barit;

- yodium, brom, khlor, belerang;

c. golongan bahan galian yang tidak termasuk golongan a atau b adalah:

- nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);

- asbes, talk, mika, grafi t, magnesit;

Implementasi PMA Di bidang Pertambangan...

159

dinyatakan bahwa golongan a adalah golongan bahan galian yang strategis meliputi minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam; bitumen padat, aspal; antarasit, batubara, batubara muda; uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya; nikel, kobalt; timah.

Golongan a bahan galian dipandang paling penting sehingga di bahasakan sebagai bahan galian yang strategis karena kepentingan untuk pertahanan keamanan negara, sumber energi nasional seperti energi pembangkit tenaga listri dan lainnya, serta kepentingan sarana dan prasana nasional lainnya.

Atas dasar ketentuan foreigen investment di atas, maka untuk menganalisis keseimbanga kerjasama yang termuat pada Akta Pendirian Perseroan antara PT Aneka Tambang (Persero) dengan Newcrest Singapore Holdings PTE Limited dalam membangun PT Nusa Halmahera Minerals di bagi dalam dua bagian yaitu: 2

1. Subyek pendiri perseroan, jangka waktu perseroan, kegiatan usaha perseroan, Modal dasar perseroan, Modal yang telah ditempatkan, Jumlah saham, Besarnya pemegang saham masing-masing perusahaan.

Ketentuan hukum penanaman modal asing di bidang pengelolaan pertambangan mensyaratkan demikian, maka dalam Akta Notaris dinyatakan secara tertulis yang dipaparkan di bawah ini yaitu bahwa PT Aneka Tambang (Persero) yang anggaran dasar dan perubahannya telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal empat belas oktober seribu sembilan ratus delapan puluh enam (14- 10- 1986) Nomor 82, tambahan Nomor 1204, tempat kedudukan di Jakarta telah melakukan kerjasama dengan Newcrest Singapore Holdings PTE Limited, suatu perusahaan didirikan menurut hukum Singapore, tempat kedudukan perseroan: 8 Robinson Road, nomor 08- 00 Cosco Building, Singapore 048544.

- yarosit, leusit, tawas (alum), oker;

- batu permata, batu setengah permata;

- pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;

- batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);

- marmer, batu tulis;

- batu kapur, dolomite, kalsit;

- granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsure- unsur golongan a maupun golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

2Notaris H.M.Afdal Gazali, S.H. Sk. Men. Keh. R.I. C.7. HT. 03-02. Th. 1995 Tgl. 2 Jan 1995.

Kerjasama kedua perusahaan ini mendirikan Perseroan Terbatas (PT) melalui Akta Pendirian Perseroan (Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 12 UU No. 1/1995. (1) Nama perseroan: PT Nusa Halmahera Minerals, (2) Tempat kedudukan: Jakarta, (3) NPWP Perseroan (a) Nomor:

1.072.060.5.-052, (b) Kantor Pelayanan Pajak yang mengeluarkan: Kantor Pelayanan Pajak Penaman Modal Asing, (4) a) Status perseroan: Tertutup, b) Jenis Perseroan: Fasilitas PMA, Akta Pendirian Tanggal dan Nomor Akta Nama dan Tempat Kedudukan Notaris: Haji Muhammad Afdal Gazali, Sarjana Hukum, di Jakarta.

Nama dan jabatan penghadap pembuatan Akta adalah “Tuan Insinyur Harsojo Diharjo, lahir di Surabaya, pada tanggal 30 Nopember seribu Sembilan ratus empat puluh satu (30- 11-1941), satatus pekerjaan swasta, bertempat tinggal di Jakarta, Jalan Kompleks Mandala Nomor 2, Rukun Tetangga 001, Rukun Warga 009, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor 3501.29453/3011410003, Warga Negara Indonesia, selaku Direktur PT Aneka Tambang (Persero)” dengan “Tuan John Wallace Frisbie, lahir di Kanada, pada tanggal tujuh April seri Sembilan ratus tiga puluh sembilan (7- 4- 1939), status pekerjaan swasta, bertempat tinggal di Jakarta, Apartemen Taman Kemang Jaya nomor 1108, Jalan Kemang Selatan, pemegang paspor nomor z6470719, Warga Negara Amerika Serikat, bertindak berdasarkan suarat kuasa tertanggal Sembilan belas September seribu Sembilan ratus Sembilan puluh enam (19- 9- 1996) bermeterai cukup, selaku kuasa dari dan atas nama Newcrest Singapore Holdings PTE Limited.”

Perseroan ini didirikan untuk jangka waktu tidak terbatas lamanya, dengan ketentuan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU No. 1 Tahun 1967 juncto UU No. 11 Tahun 1967) berlaku bagi perseroan selama jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun, kecuali jika izin untuk penanaman modal asing diperbaharui oleh pihak yang berwenang.

Maksud dan tujuan perseroan yang didirikan antara kedua perusahaann ini yaitu untuk menjalankan usaha di bidang pertambangan, dengan kegiatan usaha:

a. Mengawasi, berperan serta dan melakukan berbagai kegiatan eksplorasi, evaluasi, pertambangan dan pengolahan dalam masing-masing tahap, atas bahan galian, logam, mineral serta produk mineral;

b. Untuk memasarkan dan menjual hasil produksi dan hasil dari kegiatan- kegiatan yang tercamtum dalam ayat 1 pasal ini termasuk mengekspor produk tersebut, tanpa mengurangi izin-izin yang disyaratkan oleh pihak yang berwenang;

Implementasi PMA Di bidang Pertambangan...

161

c. Untuk mengimpor peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di atas, tanpa mengurangi izin-izin yang disyaratkan oleh pihak yang berwenang.

Khusus untuk modal (a) modal dasar perseroan sebesar Rp.

60.450.000.000,- enam puluh milyar empat ratus lima puluh juta rupiah (US$. 25, 000,000,- dua puluh lima juta Dolar Amerika Serikat); (b) Rp.

15.112.500.000,- lima belas milyar seratus dua belas juta lima ratus ribu rupiah (US$. 6,250,000,- enam juta dua ratus lima puluh ribu Dolar Amerika Serikat); (c) modal yang telah disetor sebesar Rp. 15.112.500.000,- lima belas milyar seratus dua belas juta lima ratus ribu rupiah (US$. 6,250,000.- enam juta dua ratus lima puluh ribu Dolar Amerika Serikat)

Selain pengaturan modal ditegaskan juga tentang saham. Jumlah saham sebanyak 25.000.000 (dua puluh lima juta) saham dengan nilai nominal setiap saham Rp. 2. 418,- dua ribu empat ratus delapan belas rupiah (US$. 1.- satu Dolar Amerika Serikat).

Besarnya pemegang saham untuk kedua perusahaan memiliki jumlah yang berbeda, yaitu. (1) PT Aneka Tambang (Persero) memiliki 625.000 (enam ratus dua puluh lima ribu) saham, dengan nilai nominal tiap-tiap saham sebesar Rp. 2.418,- dua ribu empat ratus delapan belas rupiah (US$. 1. –satu Dolar Amerika Serikat), jumlah yang disetor sebesar Rp. 1. 511.259.000,- satu milyar lima ratus sebelas juta dua ratus lima puluh Sembilan ribu rupiah (US$. 625,000.- enam ratus dua puluh lima ribu Dolar Amerika Serikat); dan (2) Newcrest Singapore Holdings PTE Limited memiliki 5.625.000 (lima juta enam ratus dua puluh lima ribu) saham dengan nilai nominal tiap-tiap saham sebesar Rp.2.418,- dua ribu empat ratus delapan belas rupiah (US$.1.- satu Dolar Amerika Serikat), jumlah yang disetor sebesar Rp. 13.601.250.000,- tiga belas milyar enam ratus satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah (US$.5,625,000.- lima juta enam ratus dua puluh lima ribu Dolar Amerika Serikat).

Hasil analis terhadap beberapa hal yang dikategorikan pada bagian 1 (satu) yang tertuang di dalam Akta Pendirian tersebut menunjukkan:

a. Subyek pendiri perseroan.

Bahwa para pihak pendirian perseroan ini sudah sesuai dengan ketentuan hukum penanaman modal asing yang berlaku (UU No. 1 tahun 1967 dan UU No. 11 tahun 1967) yaitu satu pihak dari perseroan Indonesia dan pihak yang lainnya dari peseroan asing yang berdomisili di Singapore. Para pendiri tersebut masing-masing berkedudukan sebagai Direktur, untuk itu bila dilihat dari sisi hukum perjanjian perbuatan hukum kontrak ini sudah sesuai dengan asas keseimbangan.

b. Jangka waktu perseroan.

Bahwa ketentuan lama operasinya perseroan merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dengan tidak keluar dari ketentuan yang ditetapkan melalui UU No. 1 tahun 1967 dan UU No. 11 Tahun 1967 yaitu selama 30 (tiga puluh tahun), dan/atau berubah jika terjadi perubahan pada peraturan hukum. Perbuatan hukum antara kedua perseroan ini benar-benar dilakukan atas dasar kesepakatan para pihak berdasarkan asas keseimbangan.

c. kegiatan usaha perseroan.

Bahwa selama penjejakan para pihak terhadap usaha yang akan di bangun adalah usaha di bidang pertambangan, maka sama-sama melimpahkan kewenangan berupa kewajiban terhadap perseroan yang didirikan untuk mengawasi semua kegiatan mulai dari proses , memasarkan dan menjual hasil produksi, serta mengimpor peralatan- peralatan yang diperlukan. Dengan itu, maka kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan ini sesuai dengan asas keseimbangan.

d. Modal dasar perseroan dan Modal yang telah ditempatkan.

Bahwa modal dasar perseroan bila dilihat dari nilai ekonomi cukup besar, begitu juga modal yang telah ditempatkan dan disetornya tetapi hal ini dilakukan tidak secara mendadak, akan tetapi dilakukan atas dasar kajian sebelumnya. Untuk itu penetapan besarnya itu sudah sesuai dengan asas keseimbangan antara para pihak.

e. Jumlah saham dan Besarnya pemegang saham masing-masing perusahaan.

Bahwa jumlah saham dan nominal harganya disepakati berdasarkan atas hasil kajian yang dilakukan sebelumnya. Untuk nilai nominal didasarkan pada nilai tukar dolar, karena perkembangan bisnis internasional didasarkan pada nilai standar dolar. Dalam poin ini jumlah nilai uang dikeluarkan tentu Newcrest Singapore Holdings PTE Limited lebih besar dibandingkan PT Aneka Tambang (Persero), dengan itu maka bila dilihat tentu tidak sesuai dengan asas keseimbangan dalam hukum perjanjian, tetapi hal itu dapat dilakukan karena Newcrest Singapore Holdings PTE Limited memahami minimnya modal dalam negeri, dan ingin mencapai tujuannya yaitu menjalankan usahanya di bidanga pertambangan.

Implementasi PMA Di bidang Pertambangan...

163

2. Permasalahan Direksi dan Komesaris.

a. Syarat pengangkatan Direksi dinyatakan warga Negara Asing dan Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diangkat RUPS dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun, dengan jumlah anggota Direksi 5 orang terdiri dari 1 Direktur Utama dan 4 (empat) orang Direktur.

b. Syarat pengangkatan Direksi dinyatakan warga Negara Asing dan Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diangkat RUPS dalam jangka waktu 2 (tiga) tahun, dengan jumlah anggota komisaris 5 (tiga) orang terdiri dari 1 Komisaris Utama dan 2 (dua) orang komisaris.

Dilihat ketentuan yang diatur berkaitan dengan Direktur dan Komisasris, baik syarat, jumlah dan jangka waktu jabatannya merupakan suatu kesepakatan yang benar-benar diatur secara demokratis, akan tetapi dalam penempatan personil Direktur dan Komisaris tidak menggunakan asas keseimbangan, karena pada Direktur perbandingannya 3 : 2 dari 5 (lima) kursi, yaitu 1 Direktur Utama dan 2 (dua) Direktur ditempati pihak Newcrest, artinya 3 (tiga) kursi ditempati pihak Newcrest sedangkan PT Aneka Tambang hanya mendapat 2 (dua) kursi. Begitu juga pada pembagian kursi pada Direksi 2 : 1, yaitu dari 3 (tiga) kuri Newcrest mendapat 2 (dua) kursi sedangkan PT Aneka Tambang (Persero) hanya mendapat 1 (satu) kursi.

Penempatan jumlah Direktur dan Direksi dalam Akta Pendirian di atas menurut penulis cenderung berpihak pada pihak asing dalam hal ini adalah Newcrest Singapore Holdings PTE Limited di dasarkan pada jumlah saham yang disetor pada awal pendirian perseroan dan dalam perkembangannya. Hal itu terbukti melalui ketentuan dalam Pasal tentang pengangkatan Direktur3dan Komisaris.4 Atas fakta ini menunjukkan bahwa

3Pasal 10 ayat (2) bahwa Direksi terdiri atas 5 (lima) anggota, 1 (satu) diantaranya diangkat sebagai Direktur Utama. Setiap pemegang saham pihak asing dan pemegang saham pihak Indonesia dapat mencalonkan beberapa orang yang akan diangkat sebagai Direktur sesuai dengan persentase kepemilikan saham dari waktu ke waktu.

Pasal 10 ayat (3) bahwa dengan tunduk pada ketentuan pada ayat (2) di atas, para anggota Direksi diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham sebagai berikut:

1) Direktur Utama dan 3 (tiga) Direktur diangkat dari calon-calon yang diajukan oleh pemegang saham pihak asing, namun dengan ketentuan bahwa jika Direksi terdiri dari 6 (enam) anggota atau lebih, 2 (dua) dari mereka akan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham dari calon-calon yang diajukan oleh Pemegang Saham pihak Indonesia dan selebihnya akan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham dari calon-calon yang diajukan oleh pemegang saham pihak asing;

2) 1 (satu) Direktur diangkat dari calon-calon yang diajukan oleh pemegang saham pihak Indonesia.

4Pasal 13 ayat (4) Anggota Komisaris diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham sebagai

PT Aneka Tambang (Persero) sebagai perusahaan negara dalam kerjasama tersebut menunjukkan posisinya lemah yaitu:

a. Pada korum rapat dan persyaratan sahnya keputusan, karena sesuai ketentuan yang disepakati sekurang-kurang 51% dari jumlah seluruh saham.

b. RUPS untuk Pengubahan Anggaran Dasar RUPS, ditentukan berdasarkan 2/3 suara pemegang saham.

c. RUPS untuk mengalihkan/menjaminkan sebagian besar atau seluruh kekayaan perseroan dihadiri atau diwakili suara para pemegang saham yang memiliki 3/4 (tiga per empat) dari seluruh saham.

d. RUPS untuk penggabungan/peleburan/pengambilalihan diwakili suara para pemegang saham yang memiliki 3/4 (tiga per empat) dari seluruh saham.

Dengan demikian, dalam pertimbangan penempatan Direktur dan Direksi tidak seharusnya hanya berdasar kepada besarnya saham yang ditanamkan oleh PT Aneka Tambang (Persero) dengan Newcrest Singapore Holdings PTE Limited dalam mendirikan perseroan PT Nusa Halmahera Minerals, tetapi juga seharusnya menjadi bahan pertimbangan adalah kedudukan PT Aneka Tambang (Persero) sebagai perusahaan negara yang nanti dalam perkembangan pelaksanaan usahanya mendapat kemudahan- kemudahan dari pemerintah.

Menurut pendapat penulis pembagian kekuasaan pada perseroan di atas kalau dilihat dari sisi teori tidaklah adil, sebab dalam pembuatan suatu perjanjian harus beranjak dari makna asas proporsionalitas yang keluar berupa konsep dari fi lsuf dan fi losof. Aristoteles menyatakan bahwa “Justice consists in treating equals equally and unequals unequally, in proportion to their inequality” (prinsip bahwa yang sama diperlakukan yang sama, dan tidak sama juga diperlakukan yang tidak sama secara proporsional). Ulpianus menggambarkan keadilan sebagai “justitia est constans et perpetua voluntas ius suum cuique tribuendi” (keadilan adalah kehendak yang terus menerus dan tetap memberikan kepada masing-masing apa yang menjadi haknya “to give everybody his own”), artinya keadilan dapat terwujud apabila sesuatu yang diberikan kepada seseorang sebanding dengan yang seharusnya ia terima (praeter proportionem dignitas ipsius). Pada hakekatnya gagasan

berikut:

1) 1 (satu) Komisaris Utama diangkat dari calon-calon yang diajukan oleh (para) pemegang saham pihak Indonesia; dan

2) 2 (dua) Komisaris diangkat dari calon-calon yang diajukan oleh (para) pemegang saham pihak asing.

Implementasi PMA Di bidang Pertambangan...

165

tersebut merupakan titik tolak bagi pemaknaan asas proporsionalitas dalam hubungan kontraktual para pihak. 5

B. Hubungan Hukum Newcrest Singapore Holdings PTE

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal Asing (Halaman 173-181)