Bab 2 KONSEP DASAR ASAS DAN PENERAPANNYA
B. Filosofi dan Pentingnya Asas-Asas Perjanjian
Bertolak dari asas hukum sempit yang disampaikan Sudikno Mertokusumo dan ahli-ahli hukum lainnya, maka dalam kajian hukum perdata, khususnya dalam perjanjian atau kontrak baik dalam KUHPerdata maupun teori yang dibangun para ahli hukum masing-masing memiliki pandangan tersendiri.
Begitu pentingnya asas hukum, maka Peter Mahmud Marzuki mengatakan bahwa aturan-aturan hukum kontrak merupakan penjelmaan dari dasar-dasar fi losofi s yang terdapat pada asas-asas hukum yang bersifat sangat umum dan menjadi landasan berpikir atau dasar idiologis. Beberapa asas tersebut samar-samar, sehingga perlu upaya yang sangat keras untuk dapat memahami dan menjelaskannya. Asas hukum merupakan sumber bagi sistem hukum yang inspiratif mengenai nilai-nilai etis, moral dan sosial masyarakat. Dengan demikian, asas hukum sebagai landasan norma menjadi alat uji bagi norma hukum yang ada, dalam arti norma hukum tersebut pada akhirnya harus dapat dikembalikan pada asas hukum yang menjiwainya.12
Henry P. Panggabean menyatakan bahwa pengkajian asas-asas perjanjian memiliki peran penting untuk memahami berbagai undang- undang mengenai sahnya perjanjian. Perkembangan yang terjadi terhadap
10Artinya pengembalian kepada keadaan semula
11Artinya undang-undang yang baru melumpuhkan undang-undang yang lama; apabila undang-undang yang baru bertentangan dengan undang-undang yang lama yang mengatur materi yang sama, maka berlaku adalah undang-undang yang baru.
12Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak Memahami Dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik, dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan). Cetakan Ke Satu (Bandung:
Mandar Maju, 2014) hlm. 75.
suatu ketentuan undang-undang akan lebih mudah dipahami setelah mengetahui asas-asas yang berkaiatan dengan masalah tersebut.13
Nieuwenhuis menjelaskan hubungan fungsional antara asas dan ketentuan hukum (rechtsgels) sebagai berikut:14
1. Asas-asas hukum berfungsi sebagai pembangun sistem. Asas ini tidak hanya mempengaruhi hukum positip, tatapi juga dalam banyak hak menciptakan suatu sistem. Suatu sistem tidak akan ada tanpa adanya asas-asas;
2. Asas-asas hukum itu membentuk satu dengan lainnya suatu sistem check and balance. Asas ini sering menunjuk kea rah yang berlawanan, apa yang kiranya menjadi merupakan rintangan ketentuan-ketentuan hukum. Oleh karena menunjuk kearah yang berlawanan, maka asas- asas itu saling kekang mengekang, sehingga ada keseimbangan.
Menurut Sudikno Mertokusumo, pada umumnya asas hukum itu berubah mengikuti kaedah hukumnya, sedangkan kaedah hukum akan berubah mengikuti perkembangan masyarakat, jadi terpengaruh waktu dan tempat. Atas dasar demikian maka kemudian dikatakan bahwa asas hukum itu merupakan sebagian dari hidup kejiwaan manusia. Dalam setiap asas hukum manusia melihat suatu cita-cita yang hendak diraihnya. Pola pikir yang dibangun ini tidak lepas dari pertanyaan, bukankah tujuan hukum itu adalah kesempurnaan masyarakat, suatu cita-cita. Sebaliknya kaedah hukum itu sifatnya historis. Atas dasar inilah Scholten mengatakan bahwa dalam hubungan antara asas hukum dan kaedah hukum yang konkrit itulah terdapat sifat hukum.15
Hal penting dalam pola pikir yang disampaikan di atas bahwa setiap asas hukum manusia melihat suatu cita-cita yang hendak diraihnya. Filofi nya bahwa karena asas hukum itu berada dan terkemas dalam khayalan/abstrak yang kemudian dapat diketahuinya setelah disalurkan melalui ide dan bermuara pada peraturan perundang-undangan atau putusan hakim. Dari sini menunjukkan bahwa asas-asas hukum itu bukan suatu khayalan kosong melainkan penuh dengan nilai-nilai dan memiliki tujuan yang pasti.
13Ridwan Khairandy, Kebebasan Berkontrak dan Pacta Sunt Servanda Versus Iktikad Baik:
Sikap Yang Harus Diambil Pengadilan. Cetakan Pertama (Yogyakarta: FH UII Press, 2015) hlm.
15.
14Ibid.
15Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, op.cit, hlm. 35
Konsep Dasar Asas dan Penerapannya Dalam Hukum Perjanjian
41
C. Asas Hukum Perjanjian Dalam KUHPerdata dan Teori.
Hukum perdata Indonesia merupakan hukum perdata yang diadopsi dari BW yang kemudian dikodifi kasi menjadi KUHPerdata. Salah satu bagiannya adalah Perjanjian yang diatur melalui Buku III KUHPerdata dengan memiliki karakter atau sifat sebagai pelengkap (aanvullenrechts or optimal law). Sebagai pelengkap maka dapat digunakan atau diabaikan ketentuan yang termuat dalam Buku III KUHPerdata tersebut. Intinya bahwa dalam membuat suatu perjanjian para pihak diberikan kebebasan untuk mengatur sendiri tanpa harus tunduk pada Buku III KUHPerdata.
Dalam Pasal 1338 KUHPerdata ditegaskan berkaitan dengan kebebasan berkontrak yaitu:16
1. semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (alle wettiglick gemaakte overeenkomsten strekken dengenen die dezelve hebben aangegaan tot et);
2. perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan undang-undang yang dinyatakan cukup untuk itu (zij kunnen niet herroepen worden, en wet daartoe voldoende verklaard); dan
3. perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik (zij moeten te goeder truw worden ten uitvoer gebragt).
Asas-asas kontrak yang termuat dalam Pasal 1338 KUHPerdata ada empat yaitu:
1. asas konsensualisme;
2. asas pacta sunt servanda;
3. asas kebebasan berkontrak; dan 4. asas iktikad baik.
Sudikno Mertokusumo mengatakan bahwa dalam perjanjian itu di dalamnya mengandung tiga asas, yaitu:17
1. asas konsensualisme, yakni penyatuan kehendak para pihak. Asas ini berhubungan dengan lahirnya kontrak;
2. asas kekuatan mengikat berhubungan dengan akibat perjanjian; dan 3. asas kebebasan berkontrak yaitu berhubungan dengan isi perjanjian.
Keterkaitan dengan ketiga prinsip di atas, selanjutnya Sudikno Mertokusumo memberikan suatu hasil analisis bahwa perjanjian itu
16Ridwan Khairandy, Kebebasan Berkontrak, op.cit, hlm. 16- 17
17Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, loc.cit, hlm. 112
berisi kaedah tentang apa yang harus dilakukan kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian berupa hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan.
Jadi perjanjian hanyalah mengikat dan berlaku bagi pihak-pihak tertentu saja, tetapi mempunyai kecenderungan untuk menjadi hukum yang mengikat setiap orang secara umum. Sejarah membuktikan bahwa banyak peraturan-peraturan hukum yang timbul dari syarat-syarat yang dibuat dalam perjanjian.18
Menurut Ridwan Khairandy hukum perjanjian mengenal empat asas perjanjian yang saling kait mengait satu dengan lainnya. Keempat perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:19
1. asas konsensualisme (the principle of consensualism);
2. asas kekuatan mengikatnya kontrak (the legal binding of contract);
3. asas kebebasan berkontrak (the principle of freedom of contract); dan 4. asas iktikad baik (principle of good faith). Asas keempat ini disusul
kemudian pada buku lainnya.20
Bila menganalisis secara fi losofi s pendapat Sudikno Mertokusumo dan Ridwan Khairandy terhadap asas dalam perjanjian di atas, keduanya memiliki kesamaan pendapat dalam beberapa asas. Perbedaan pendapat keduanya, yaitu Ridwan Khairandy menambah dengan asas iktikad baik, sedangkan Sudikno tidak menyebutkan. Menurut penulis asas iktikad baik itu berada bersama dengan asas konsensualisme, karena konsensualisme itu bertolak dari asas iktikad baik. Ridwan Khairandy memisahkan keduannya ini adalah untuk menunjukkan tempat keberadaan asas tersebut, karena semua orang kurang memahaminya kalau berpikir hanya menggunakan logika positifi stik, sedangkan Sudikno Mertokusumo tanpa memisahkan karena menggunakan logika fi lsafat yang menganggap semua orang akan mengetahuinya.
Penyampaian asas-asas hukum oleh ahli hukum Sudikno Mertokusumo dengan Ridwan Khairandy di atas berbeda dengan disampaikan Niewwenhuis yaitu bahwa asas perjanjian itu ada tiga masing- masing:21
18Ibid.
19Ridwan Khairandy, Iktikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak . Cetakan Pertama (Jakarta:
Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hlm. 27.
20Lihat dalam buku Ridwan Khairandy, Kebebasan Berkontrak dan Pacta Sunt Servanda Versus..., op.cit, hlm. 17- 18.
21Henry P. Panggabean, Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheiden) Sebagai Alasan Baru Untuk Pembatalan Perjanjian (Berbagai Perkembangan Hukum di Belanda) (Yogyakarta: Liberty, 2001), hlm. 8
Konsep Dasar Asas dan Penerapannya Dalam Hukum Perjanjian
43
1. asas otonomi, asas ini dimaksudkan bahwa pilihan kewenangan mengadakan hubungan hukum terserah kepada para pihak yang melakukan perjanjian (asas kemauan bebas).
2. asas kepercayaan, adanya asas kepercayaan yang ditimbulkan dalam perjanjian itu (asas melindungi pihak beriktikad baik)
3. asas kausa, yaitu adanya saling ketergantungan (keterikatan) bagi suatu perjanjian untuk tunduk pada ketentuan hukum (rechtsregel) yang telah ada, walaupun kebebasan berkontrak.
Realitas adanya perbedaan pendapat para ahli hukum tentang unsur- unsur asas-asas perjanjian tersebut, Niewwenhuis memberikan suatu titik terang melalui penjelasannya yaitu:22
1. hubungan antara kebebasan berkontrak dan asas otonomi berada dalam keadaan bahwa asas otonomi mensyaratkan adanya kebebasan mengikat perjanjian; dan
2. perbedaannya adalah menyangkut pembenaran dari keterikatan kontraktual, asas otonomi memainkan peran dalam pembenaran mengenai ada tidaknya keterikatan kontraktual. Suatu kekurangan dalam otonomi (tiadanya persetujuan (toesteming), misbruik omtandigheinden) digunakan sebagai dasar untuk pembenaran ketiadaan dan keterikatan kontraktual.
Herlien Budiono mengatakan bahwa di dalam perjanjian ada tiga asas dasariah yang disebut sebagai asas-asas dasar (grondbeginselen) yaitu: 23 1. asas konsensualisme. Bahwa perjanjian terbentuk karena adanya
perjumpaan kehendak (consensus) dari pihak-pihak. Perjanjian pada pokoknya dapat dibuat bebas tidak terkait bentuk dan tercapai tidak secara formil, tetapi tercapai melalui konsensus belaka. Asas ini latar belakangnya berkaitan dengan Dekret Paus Gregorius IX “Pacta quantumcumque nuda servanda sunt” (kesepakatan, betapa pun tanpa dikukuhkan dengan sumpah, harus dipenuhi).
2. Asas kekuatan mengikat perjanjian (verbindende kracht der overeenkomst).
Bahwa para pihak harus memenuhi apa yang mereka sepakati dalam perjanjian yang mereka buat.
3. Asas kebebasan berkontrak (contractsvrijheid). Bahwa para pihak menurut kehendak bebasnya masing-masing dapat membuat perjanjian dan setiap orang bebas mengikatkan diri dengan siapapun yang ia
22Ibid.
23Herlien Budiono, Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 95-96.
kehendaki. Pihak-pihak juga dapat bebas menentukan cakupan isi serta persyaratan dari suatu perjanjian dengan ketentuan bahwa perjanjian tersebut tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang bersifat memaksa, baik ketertiban umum ataupun kesusilaan.
Sekian banyak pendapat tentang asas-asas kontrak yang disampaikan ahli-ahli hukum di atas, belum menunjukkan suatu kesempurnaan. Dengan itu maka Mariam Darus Badrulzaman mengemukakan asas-asas kontrak yang jumlahnya melebihi pendapat ahli-ahli sebelumnya yaitu:24
1. asas kebebasan berkontrak;
2. asas konsensualisme;
3. asas kepercayaan;
4. asas kekuatan mengikat;
5. asas persamaan hukum;
6. asas keseimbangan;
7. asas kepastian hukum;
8. asas moral; dan 9. asas kepatutan.
Mencermati pendapat para ahli tentang asas-asas perjanjian di atas menurut penulis masih banyak asas yang belum terintroduser dalam pendapat-pendapat tersebut, diantaranya adalah (1) asas menghormati, artinya keputusan yang dibuat dalam perjanjian harus dihormati sebagai sesuatu yang benar, dan (2) asas menghargai, artinya dengan adanya keputusun bersama itu harus dihargai sebagai hasil dari ide dan pikiran cerdas yang lahir dari kedua belah pihak.
Mencermati buah pikiran fi losuf hukum tersebut Henry P.
Panggabean mengatakan bahwa perkembangan hukum perjanjian, misalnya dapat dilihat dari berbagai ketentuan BW (Baru) Belanda. Perkembangan itu justeru menyangkut penerapan asas-asas hukum perjanjian yang dikaitkan dengan praktik peradilan.
Pandangan ahli-ahli hukum di atas tentang asas-asas perjanjian terbagi dalam tiga titik fokus, yaitu (1) dikaji menggunakan pisau pembedahan fi lsafat dengan bahasa sebagai petunjuk untuk menemukan dan menyampaikan asas tersebut, (2) dikaji melalui peraturan hukum positistik, dan (3) dikaji melalui melalui praktik peradilan. Dari temuan
24Mariam Darus Badrulzaman, et.al, Kompilasi Hukum Perikatan (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 83 – 89.
Konsep Dasar Asas dan Penerapannya Dalam Hukum Perjanjian
45
titik fokus yang berbeda ini tidak menunjukan pertentangan tetapi saling melengkapi.