Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sebutan negara swasembada pangan dulu sempat disematkan pada Indonesia. Julukan ini semakin memudar seiring menurunnya produksi pertanian karena rendahnya minat masyarakat pada sektor ini. Dilihat dari luas wilayahnya, Indonesia tentu tidak bisa dibandingkan dengan Vietnam atau Thailand. Namun, dua negara tersebut mampu memaksimalkan luas wilayahnya untuk memproduksi pertanian khususnya beras dan mendatangkan keuntungan dari kinerja ekspornya.
Lebih lanjut, untuk meningkatkan produksi pertanian pemerintah Indonesia semenjak dulu hingga sekarang mengeluarkan berbagai kebijakan guna tercapai tujuan tersebut. Berbagai kebijakan antara lain pembukaan lahan baru, diversifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap beras, teknologi baru, dan lain sebagainya. Namun nyatanya dalam perjalanan, swasembada yang diinginkan tidak pernah tercapai. Buktinya adalah pemerintah masih melakukan impor beras dari vietnam dan thailand. Ini menunjukan bahwa pemerintah setengah hati dalam melakukan program yang telah dicanangkan.
Belum selesai mengenai masalah tersebut, di satu sisi meningkatnya gaya hidup masyarakat membuat kebutuhan akan pangan pun semakin beragam. Hal ini akan meningkatkan produksi bahan pangan lain selain beras. Pemerintah yang awalnya hanya memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan akan beras, menjadi bertambah dengan kebutuhan bahan pangan pokok lainnya.
Lebih lanjut, dalam perjalanannya pemerintah membuat kebijakan seperti peningkatan produksi beras, kedelai, gula, jagung, dan daging. Target pemerintah untuk mewujudkan swasembada 5 komoditas strategis pada tahun 2014, sebagaimana yang tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian. Kebijakan ini mengindikasikan bahwa berarti kita harus mampu untuk mengadakan sendiri kebutuhan masyarakat meliputi bahan pangan tersebut.
realistiskah harus memenuhi semua kebutuhan kita dari produksi dalam negeri?. Selain itu, jika ditinjau dari segi si petani nya berbagai kebijakan tersebut membuat mereka bingung yaitu harus mengusahakan komoditi yang mana dan memberikan pendapatan yang memuaskan bagi mereka. Belum lagi keseriusan pemerintah dalam mencapai program yang masih perlu dipertanyakan dan berbagai kendala lainnya.
Dari gambaran tersebut maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai kebijakan swasembada 5 komoditi tersebut, kaitannya dengan kendala yang dihadapi, komoditi pertanian yang perlu dikembangkan dan kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana kendala pemerintah dalam mewujudkan swasembada 5 komoditi di Indonesia?
2. Kebijakan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia?
1.3. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui kendala pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.
2. Untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk mencapai swasembada pangan di Indonesia.
Bab II
Kerangka Teori
2.1. Swasembada Pangan
Swasembada pangan berarti kita mampu untuk mengadakan sendiri kebutuhan pangan dengan bermacam-macam kegiatan yang dapat menghasilkan kebutuhan yang sesuai diperlukan masyarakat Indonesia dengan kemampuan yang dimilki dan pengetauhan lebih yang dapat menjalankan kegiatan ekonomi tersebut terutama di bidang kebutuhan pangan.
Lebih lanjut, swasembada pangan merupakan capaian peningkatan ketersediaan pangan dengan wilayah nasional. Sampai saat ini di Indonesia, masih banyak kalangan praktisi dan birokrat kurang memahami pengertian swasembada pangan dengan ketahanan pangan. Akibat dari keadaan tersebut konsep ketahanan pangan seringkali diidentikkan dengan peningkatan produksi ataupun penyediaan pangan yang cukup. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti dan akademisi menyadari bahwa kerawanan pangan terjadi dimana situasi pangan tersedia tetapi tidak mampu diakses rumah tangga karena keterbatasan sumberdaya ekonomi yang dimiliki (pendapatan, kesempatan kerja, sumberdaya ekonomi lainnya).
Hal ini konsisten dengan pendapat Sen (1981) bahwa produksi pangan bukan determinan tunggal ketahanan pangan, melainkan hanyalah salah satu faktor penentu. Selain itu, yang kita ketahui Negara Indonesia sangat berlimpah dengan kekayaan sumber daya alam yang harusnya dapat menampung semua kebutuhan pangan masyarakat Indonesia salah satu cara yaitu dengan berbagai macam kegiatan yaitu:
Pembuatan UU & PP yg berpihak pada petani & lahan pertanian.
Pengadaan infra struktur tanaman pangan seperti: pengadaan daerah irigasi & jaringan irigasi, pencetakan lahan tanaman pangan khususnya padi, jagung, gandum, kedelai dll serta akses jalan ekonomi menuju lahan tsb.
Penyuluhan & pengembangan terus menerus untuk meningkatkan produksi, baik pengembangan bibit, obat-obatan, teknologi maupun sumber daya manusia petani.
diversifikasi di indonesia yg paling mungkin adalah sagu, gandum dan jagung (khususnya Indonesia timur).
2.2. Kebijakan Pemerintah Dalam Swasembada Pangan
Masalah pangan sebenarnya telah diantisipasi oleh pemerintah melalui berbagai macam kebijakan. Sejarah telah menyebutkan pada awal kemerdekaan Indonesia pemerintahan Soekarno pernah mengeluarkan Progam Kesejahteraan Kasimo untuk mencapai swasembada beras. Pemerintahan Soekarno juga pernah mengeluarkan Progam Sentra padi untuk mencapai swasembada pangan. Namun akibat turbulensi politik dan disertai dengan pemberontakan maka pada masa itu terjadi krisis pangan yang cukup parah.
Indonesia sebenarnya memiliki sarana dan prasarana lengkap dan dapat diandalkan untuk mendukung swasembada beras. Terlebih bila memperhitungkan lahan pertanian padi yang masih potensial dan luas, di samping jumlah sumber daya manusia (petani) banyak, produksi pupuk dan benih memadai, serta sistem irigasi yang sudah terbentuk sejak lama.
Namun pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (pemda) serta seluruh pihak terkait malah terkesan memandang sebelah mata sektor pertanian tanaman pangan. Fakta paling gamblang tentang itu: lahan pesawahan – termasuk yang beririgasi teknis – terus menyusut secara signifikan akibat tergusur aneka kepentingan nonpertanian, terutama permukiman dan industri.
Maka jangan sesali kalau produksi beras nasional cenderung menurun. Bahkan kalaupun berbagai faktor amat menunjang – seperti iklim, pengendalian hama, juga penyediaan berbagai input – produksi beras nasional sulit sekali ditingkatkan lagi. Produksi beras nasional boleh dikatakan sudah stagnan di level 50-an juta ton per tahun. Padahal konsumsi nasional, sebagai konsekuensi pertambahan penduduk, terus meningkat pasti dan begitu signifikan.
Di lain pihak, negara-negara seperti Thailand dan Vietnam terus berupaya keras meningkatkan produksi beras secara intensif. Upaya mereka sungguh tak mengenal lelah, termasuk mengembangkan dan menerapkan inovasi pertanian. Target mereka bukan lagi sekadar mencapai swasembada, melainkan tampil menjadi negara produsen beras terbesar di dunia.
Untuk mendukung salah satu program revitalisasi pertanian tersebut, pemerintah seharusnya menyiapkan lebih banyak lagi bibit unggul untuk para petani, sehingga produksi pertanian dari tahun ke tahun akan semakin membaik. Untuk mewujudkan swasembada yang dimaksud, maka diperlukan peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton tahun 2007 dan peningkatan lima persen per tahun hingga tahun 2009.
Kunci keberhasilan peningkatan produksi padi, antara lain optimalisasi sumber daya pertanian, penerapan teknologi maju dan spesifik lokasi, dukungan sarana produksi dan permodalan, jaminan harga gabah yang memberikan insentif produksi serta dukungan penyuluhan pertanian dan pendampingan.
Sementara strategi yang dilakukan untuk mewujudkan keberhasilan itu, yakni dengan peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, pengamanan produksi, dan pemberdayaan kelembagaan pertanian serta dukungan pembiayaan usaha tani.
2.3. Kerangka Pikir
Optimalisasi 1 atau 2 Komoditi pada
lahan Dagin
g Kedelai Jagung Padi Gula
Swasembada komoditi
Kendala
lahan pemerintaAnggaran h Kendalan lainnya Surplus Impor bahan pangan lainnya Potensi Kebutuha n konsumsi Ketahanan Pangan
Lahan, merupakan faktor yang sangat fundamental dikarenakan merupakan tempat tumbuh bagi, kenaikan penggunaan lahan tanaman tertentu pastinya akan menurunkan luasan lahan untuk tanaman lainnya.
Keterkaintannya dengan hal tersebut, dalam teori ekonomi dikenal kurva kemungkinan produksi. Artinya kita harus memilih, tanaman mana yang ingin ditingkatkan produksinya untuk mencapai produksi yang maksimal. Produksi yang maksimal ini erat kaitannya dengan swasembada yang diprogramkan oleh pemerintah saat ini.
Hubungan dengan luasan lahan yang semakin berkurang, ditambah dengan kendalan anggaran dari sisi pemerintah maka pengfokusan pada beberapa komoditi untuk diswasembadakan merupakan hal yang sangat perlu dilakukan. Dengan kegiatan ini, luasan lahan yang ada benar-benar dimanfaatkan untuk satu atau dua komodias sehingga hasil yang diperoleh maksimal. Komoditas mana yang ingin diusahakan, dilihat berdasarkan potensi sumber daya alam dan kebutuhan masyarakat. Namun, untuk mencapai ini diperlukan keseriusan pemerintah dan petani.
Dengan hasil yang melimpah tersebut, digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik untuk diri sendiri atau domestik. Selain itu, kelebihan tersebut dapat digunakan untuk ekspor kepada negara lain yang membutuhkan. Surplus dari kelebihan produksi dalam negeri, dapat digunakan untuk impor komoditi lain yang tidak bisa dihasilkan di dalam negeri. Selain itu, menurut saya sebuah konsep swasembada absolut yang artinya bahwa semua komoditi harus dihasilkan dari dalam negeri juga perlu direvisi mengingat program ini selain berbiaya mahal dan dukungan pemerintah yang sangat kurang. Dengan demikian, meskipun kita melakukan impor dari negara luar, akan tetapi selama surplus dari produksi dalam negeri bisa menutupinya maka program ini layak untuk diterapkan. Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut dapat dilihat pada kerangka berpikir sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka Berpikir
BAB III PEMBAHASAN
faktor produksi yang tahan lama, sehingga tidak diadakan depresiasi atau penyusutan. Sebagai negara yang luas, indonesia memiliki luas daratan yang cukup besar bila dibandingkan dengan negara lain. Dengan potensi tersebut, tentunya pengembangan pertanian sangat cocok dilakukan.
Dari data statistik menunjukan bahwa di Jawa luas kepemilikan hanya 0,3 hektar per KK dan sementara di luar Jawa hanya 1 hektar. Padahal menurut hasil analisis ekonomi sederhana, luas kepemilikan lahan yang ekonomis minimal 2 hektar di Jawa dan lebih dari 10 hektar untuk luar Jawa. Melihat kepemilikan lahan yang kecil tersebut mampukah petani kita berproduksi dengan maksimal atau memenuhi target pemerintah untuk swasembada pangan. Untuk lebih mengenai kepemilikan lahan di Indonesia, dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Sebaran Rumah Tangga Menurut Luas Lahan Yang Dikuasai di Indonesia Tahun 2003 dan Tahun 2013.
Golongan Luas Lahan (m2) Tahun
2003 2013
< 1.000 9.380.300 4.338.847
1.000 - 1.999 3.602.348 3.550.185
2.000 - 4.999 6.816.943 6.733.364
5.000 - 9.999 4.782.812 4.555.075
10.000 - 19.999 3.661.529 3.725.865
20.000 - 29.999 1.678.356 1.623.434
≥ 30.000 1.309.896 1.608.699
Jumlah 31.232.184 26.135.469
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa rata-rata lahan yang dikuasai oleh petani di Indonesia dominan berada pada interval 2000 sampai 4999 m2. Data ini menunjukan bahwa petani Indonesia merupakan petani dengan penguasaan lahan yang kecil. Berdasarkan hal tersebut, menurut perhitungan sederhana tersebut, petani di Indonesia belum bisa untuk mencapai skala usaha secara ekonomis, jika dilihat dari kepimilikan lahan tersebut.
Suatu hal yang ingin perlu dipertanyakan adalah bagaimana dampak kebijakan land reform yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini. Apakah program tersebut hanyalah sebuah tulisan semata. Dengan demikian, melihat fakta ini maka masih
mampukah kita melakukan swasembada beras atau bahkan yang lebih besar lagi swasembada untuk beberapa komoditi yang telah dicanangkan.
Apriantono (2008) dalam tulisannya mengenai lahan pertanian di Indonesia menjelaskan bahwa dengan lahan pertanian yang semakin menurun dan jumlah penduduk indonesia yang semakin bertambah apakah cukupkah lahan pertanian kita untuk memenuhi seluruh kebutuhan beras, jagung, kedelai, daging sapi, gula, sayuran, dan buah- buahan? Sebagai pembanding, kita bisa melihat profil lahan pertanian di Brasil. Luas lahan pertanian Indonesia keseluruhan yang sekitar 21 juta hektar itu hanya sama dengan luas lahan kedelai yang ada di Brasil yang penduduknya lebih kecil dari Indonesia, luas sawah Indonesia sama dengan luas lahan tebu di Brasil, sementara luas ladang penggembalaan sapi di Brasil (220 juta hektar) lebih luas dari seluruh daratan di Indonesia (190 juta hektar).
Dengan kondisi yang demikian ini haruskah Indonesia memenuhi semua kebutuhan kita dari produksi dalam negeri? Di mana kita menanam kedelai, padi, jagung, tebu dan bagaimana pembagian luasananya. Lalu bagaimana dengan kompetisi penggunaan lahan yang terjadi? Kompetisi penggunaan lahan itu sudah terjadi antara jagung dengan padi, kedelai, tebu di Jawa. Petani tentu akan memilih komoditas yang paling menguntungkan, risikonya kecil, biaya produksinya terjangkau, dan pasarnya menjanjikan.
Kaitannnya dengan teori ekonomi mikro, maka kaitannya dengan kurva kemungkinan produksi. Pendekatan yang dikemukakan oleh G. Harberlel ini menggambarkan bahwa berbagai kemungkinan kombinasi maksimum output yang dapat dihasilkan. Hubungannya dengan luas lahan yang ada di Indonesia, maka kebijakan pemerintah mengenai swasembada kedelai, gula, jagung, dan daging harusnya perlu direvisi lagi. Sebab, jika kita peningkatan produksi pada komoditi padi, bagaimana dengan komoditi lainnya. Pada hal lahan yang digunakan adalah sama, apalagi kebijakan tersebut dilakukan pada daerah yang sama pula.
Masalah ketersediaan lahan menjadi kendala utama pencapaian swasembada pangan. Untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, pemerintah menetapkan peningkatan produksi jagung sebesar 10 persen per tahun, kedelai 20 persen, daging sapi 7,93 persen, gula 17,56 persen, dan beras 3,2 persen per tahun. Untuk mencapai target ini, diperlukan peningkatan areal pertanaman. Kondisi ini menjadikan satu lahan pertanian terpaksa dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas tanaman pangan secara bergantian. Akibatnya, Indonesia selalu menghadapi persoalan dilematis dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman. Jika menggenjot produksi kedelai, misalnya, maka produksi jagung akan turun. Ini karena lahan yang ada dimanfaatkan untuk kedelai dan sebaliknya. Sebenarnya Badan Pertanahan Nasional telah menjanjikan lahan 2 juta ha dari total lahan yang telantar 7,3 juta ha untuk areal penanaman pangan. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan soal lahan tersebut
Selain faktor kepemilikan luas lahan yang kecil, kemerosotan luas lahan yang ada di indonesia disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi. Saat ini, konversi lahan pertanian telah mencapai 100.000 ha per tahun, sedangkan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lahan baru hanya maksimal 30.000 ha, sehingga setiap tahun justru terjadi pengurangan lahan pertanian. Salah satu kegagalan pemerintah dalam bidang pertanian adalah masih menjadikan pulau jawa sebagai sentra pengembangan komoditi unggulan seperti padi, gula, dan komoditi lainnya. Harus diakui bahwa pulau jawa merupakan pulau dengan tingkat kesuburan lahan paling baik bila dibandingkan dengan pulau lainnya di Indonesia. Namun, jika dilihat dari tingkat kepadatan penduduk di Indonesia maka pulau jawa merupakan pulau dengan tingkat kepadatan tertinggi. Inilah yang akan menjadi bumerang bagi pengembangan pertanian indonesia ke depannya.
Lebih lanjut, dengan tingkat kepadatan tersebut maka lahan pertanian pastinya akan berkurang atau dengan kata lain terjadi alih fungsi lahan yang cukup besar. Secara langsung dampak yang diberikan akan menurunkan hasil pertanian. Hasil penelitian yang dilakukan Li Jianga, Xiang zheng Deng, Karen C. Seto (2013) mengenai ‘The impact of urban expansion on agricultural land useintensity in China’ menunjukan bahwa urbanisasi di China telah mengakibatkan perubahan signifikan dan penggunaan lahan pertanian. Selain itu, konversi lahan pertanian ke industri china ternyata juga menurunkan indeks pertanaman campuran yang dilakukan oleh petani di China. Hasil
lain dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara lahan pertanian dan ekspansi perkotaan. Untuk itu, saran dari penelitian ini yaitu tanpa perluasan produksi pertanian di daerah lain, total produksi pertanian di dalam negeri cenderung menurun karena penurunan intensitas lahan pertanian.
Sejalan, dengan penelitian itu sudah seharusnya pemerintah mengkonsentrasikan pertanian ke luar pulau jawa sebaga salah satu alternatifnya. Data statistik menunjukan mencatat produksi pada tahun 2011 luas panen di Jawa turun 47.887 hektare, sedangkan di luar Jawa naik 136.901 ha. Lahan rawa dan gambut di luar Jawa dapat menjadi lumbung pangan masa depan. Selain itu, potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 20 juta ha tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Sumatera, sedangkan potensi untuk pertanian 9 juta Ha sebagian sudah dimanfaatkan untuk pertanian. Meskipun lahan rawa sendiri produktivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan lahan sawah, namun setidaknya dapat memberikan kontribusi bagi produksi pertanian di Indonesia.
Selain mengenai pengalihan pertanian ke luar jawa sumberdaya pemerintah juga seharusnya membatasi konversi lahan pertanian ke non pertanian. Pemerintah sedikit terlambat mengeluarkan peraturan mengenai informasi lahan pertanian pangan berkelanjutan. Di saat luasan lahan pertanian di pulau jawa sudah tergerus, baru pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut.
Pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana memenuhi target swasembada jagung, kedelai, daging sapi, gula dengan situasi alih fungsi dan kompetisi penggunaan lahan yang luar biasa ini? Intensifikasi, diversifikasi, tumpang sari, dan ekstensifikasi yang dirancang menggunakan format baru merupakan solusinya. Selain itu, tentu saja harus ada upaya pencegahan alih fungsi lahan subur.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemikiran ke depannya atau dalam jangka panjang sudah selayaknya menjadi suatu pertimbangan. Dengan alasan bahwa, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pengurangan lahan pertanian yang drastis menjadi penyebabnya. Suatu kebijakan oleh pemerintah yang tepat perlu diambil ke depannya mengenai penggunaan lahan pertanian, baik mengenai alih fungsinya dan pemanfaatannya.
3.2. Swasembada, Dilema Kepentingan Petani dan Negara.
Pada tahun 2005, melalui UU No.11/2005 pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional Hak Ekonomi Sosial Budaya (Kovenan Ekosob). Kovenan ini antara lain berisi tentang tanggung jawab negara dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas pangan bagi rakyatnya. Dengan kata lain, masalah pangan merupakan hak asasi manusia yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara.
Sebagai suatu negara yang berdaulat sudah seharusnya pemerintah menyediakan kebutuhan akan pangan bagi rakyatnya. Naiknya gaya hidup masyarakat, membuat kebutuhan suatu bangsa semakin beragam. Di sini, terlihat bahwa kebutuhan akan bahan hasil pertanian semakin tinggi, sehingga kedudukan pelaku usahatani juga seharusnya semakin penting. Namun, salah satu kekeliruan pembangunan pertanian yang kita lakoni selama ini adalah karena ketidakjelasan ideologi pembangunan pertanian yang kita anut. Dibandingkan dengan negara-negara maju atau negara berkembang lainnya, ternyata negara kita kurang memiliki keberpihakan yang jelas dan tegas dalam membangun pertanian dan juga membangun petani nya (Suara Rakyat, 21 April 2012).
Lebih lanjut, Uni Eropa dan Amerika Serikat, telah memposisikan pertanian secara khusus dan unik. Mereka tetap menjaga sektor pertaniannya, dlindungi dan dipandang sebagai sumber kebudayaan yang tidak boleh hilang dari kehidupan nya. Penghargaan terhadap pertanian, bukan hanya dibuktikan lewat kemauan politiknya yang kuat, namun juga didukung oleh anggaran yang memadai.
Melihat fakta tersebut bila dibandingkan dengan kondisi pertanian Indonesia, maka akan terlihat sangat berbeda nyata. Program pemeritah untuk mencapai swasembada pangan seolah-olah hanya untuk hanya niatan belaka tanpa ada pelaksanaannya. Data statisitik menunjukan anggaran pemerintah hanya sebesar 2,6 persen dari APBN. Kecilnya persentase tersebut mengindikasikan ketidakseriusan
pemerintah untuk mencapai swasembada pangan. Dengan anggaran sekecil tersebut apa yang dapat kita lakukan untuk pembangunan pertanian di Indonesia. Padahal kebutuhan akan pangan merupakan kebutuhan yang wajib bagi setiap orang bahkan lebih dari sebuah keamanan nasional.
Hal tersebut baru sebuah potret di tingkat makro untuk pertanian di Indonesia. Jika ditelaah lebih lanjut maka pada tataran mikro untuk penyaluran kredit, hal yang sama juga terjadi pada pertanian di Indonesia.
Hasil penelitian yang dilakukan Catherine & Stephen (2008) menunjukan bahwa kredit sangat berperan dalam peningkatan produktivitas pertanian dan hasil yang diperoleh. Dengan demikian sudah selayaknya, dengan tujuan mencapai swasembada petani kita untuk diperhatikan. Lebih lanjut, mengenai penelitian tersebut akses petani untuk mengenai sangat ditentukan oleh kendala yang dihadapinya yaitu pembatasan, dan resiko dari usahatani. Semua kendala tersebut, bermuara pada kepemilikan lahan dan adanya prosedur yang berbelit. Potret petani dengan lahan yang sempit membuat jaminan untuk memperoleh kredit sangat membatasi mereka. Lebih lanjut, Untuk lebih jelasnya mengenai alokasi kredit dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Alokasi Kredit Menurut Sektor Tahun 2006 – 2008 (Triliun).
Sektor Tahun
2004 2005 2006
Pertanian 33,14 37,17 43,21
Pertambangan 7,81 8,12 11,15
Perindustrian 144,91 171,28 180,28
Listrik, gas, dan air 5,98 5,36 5,22
Konstruksi 19,97 26,98 33,82
Perdagangan, restoran, dan hotel 113,07 135,83 156,93 Pengangkutan, pergudangan, dan komunikasi 17,66 19,82 26,41
Jasa dunia usaha 56,35 72,62 74,99
Jasa sosial/masyarakat 8,04 10,02 10,28
Lain-lain 152,49 208,37 224,73
Sumber: Tambunan (2008), (Data Bank Indonesia)
kenyataannya bahwa keberpihakan pemerintah terhadap petani di rasa kurang, maka swasembada terhadap beberapa pangan utama sangat tidak mungkin untuk terjadi. Untuk itu, menurut saya pemerintah harus menfokuskan pada salah satu komoditi untuk tingkatkan produksinya (swasembada).
Selain itu, pemerintah selama ini hanya memberikan subsidi 60 trilyun dan sebagian besar untuk pupuk (80%), sisanya untuk kredit, bibit, irigasi. Padahal menurut ini sangat tidak efektif karena yang menikmati hasil tersebut bukanlah petani kecil yang dominan dalam pertanian kita namun sebagian besar dinikmati oleh petani dengan lahan besar yang mempunyai kekuasaan. Seharusnya anggaran tersebut direalokasi pada pemberdayaan kemampuan petani, peningkatan teknologi, fasilitas industrialisasi pedesaan. Subsidi seyogyanya lebih diarahkan ke petani untuk meningkatkan produktivitas, kualitas sehingga pada akhirnya kesejahteraan bisa petani bisa tercapai.
3.3. Antara Kebijakan Pemerintah dan Prioritas Komoditi Yang Perlu Di Swasembadakan.
Keinginan pemerintah untuk swasembada pada beberapa komoditi sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan. Ketergantungan pada impor salah satu penyebabnya. Pemerintah diyakini tidak mampu mewujudkan swasembada pangan, terutama di komoditas padi, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Sebab, pada kenyataannya pemerintah masih tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan lima komoditas pokok tersebut. Selanjutnya, kondisi ini diperparah oleh ketidakseriusan pemerintah untuk membangun pertanian. Akibatnya, masyarakat Indonesia yang mayoritas petani berada di bawah garis kemiskinan.
Niatan pemerintah untuk melakukan swasembada tersebut, akhirnya pudar oleh kebijakan yang dibuat sendiri. Petani yang awalnya bersemangat untuk menanam jenis tanaman tertentu misalnya kedelai akhirnya ‘malas’ untuk menanam jenis tanaman yang diprogramkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan dengan adanya impor, maka produksi yang dihasilkan oleh petani indonesia menjadi tidak terserap. Selain itu, fakta menunjukan bahwa kecenderugan harga komoditi impor yang lebih murah dibandingkan komoditi domestik Indonesia.
Lebih lanjut, murahnya komoditi impor dikarenakan areal pertanian yang diusahakan sangat besar oleh negara-negara tersebut. Dengan produksi yang melimpah, maka dengan harga jual yang murah dapat menutupi biaya yang dikeluarkan oleh petani. Berdasarkan gambaran tersebut, menurut saya pemerintah harus menitikberatkan pada salah satu, atau dua komoditi yang menjadi unggulan untuk dikembangkan. Misalnya saja, jika pemerintah ingin fokus pada swasembada beras dan jagung, maka dua komoditi inillah yang perlu ditingkatkan produksinya. Pemerintah juga perlu melihat komoditi yang kemungkinan bersubstitusi dalam penggunaan lahan yang sama. Misalnya saja, karakteristik antara tanaman kedelai dan jagung yang menghendaki pada wilayah kering jika tanaman kedelai yang diprioritaskan makan produksi dari tanaman jagung sudah pastinya akan menurun. Dengan demikian, pemerintah harus memprioritaskan salah komoditi dengan karakteristik yang hampir sama.
Dengan kondisi anggaran yang minim, sudah seharusnya pemerintah menfokuskan pada satu atau dua komoditi untuk diswasembadakan. Melihat kondisi bahwa pangan utama masyarakat indonesia sebagian besar adalah beras, maka menurut saya komoditi yang paling layak dan harus untuk ditingkatkan adalah padi, tanaman yang lainnya yaitu jagung. Potret dari negara vietnam, mengapa swasembada beras berhasil dilakukan adalah karena kemampuan pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras per kapita. Akan tetapi, bagi masyarakat indonesia hal ini sulit dilakukan karena masih adanya anggapan bahwa kita belum makan kalau belum mengkonsumsi beras.
Selain itu, dengan pendapatan per kapita yang rendah membuat sulit masyarakat indonesia untuk mencari alternatif pangan lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan tingkat pendapatan yang membuat penduduk kurang mampu untuk mendapatkan berbagai jenis makanan pengganti nasi (barang substitusi untuk nasi) yang pada umumnya harganya relatif sama atau bahkan lebih mahal dibandingkan nasi.
konsumsi beras dapat digantikan oleh jagung sebagai bahan makanan pokok. Hal ini dikarenakan di beberapa daerah masih menjadikan jagung sebagai pangan utama selain beras.
Secara historis, beras merupakan komoditas yang memegang posisi strategis karena menguasai hajat hidup rakyat Indonesia. Selain 90 persen penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokoknya, beras juga menjadi industri yang strategis bagi perekonomian nasional. Beras juga penting sebagai instrumen untuk menjaga kestabilan pangan keamanan pangan rakyat indonesia. Dengan demikiann, secara historis komoditas beras tidak semata-mata hanya komoditas ekonomi, melainkan juga sebagai komoditas sosial politik yang strategis. Kegagalan dalam penyediaan beras sebagai pangan utama akan bisa menimbulkan implikasi sosial politik yang sangat mahal.
Selanjutnya, jagung juga merupakan salah satu komoditi potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini, mempunyai adaptasi yang luas dan relatif mudah dibudidayakan, sehingga komoditas ini ditanam oleh petani di Indonesia pada lingkungan fisik dan sosial-ekonomi yang sangat beragam. Pengembangan wilayah timur indonesia sebagai basis komoditi ini sangat diperlukan. Data menunjukan bahwa, ketersediaan lahan untuk pengembangan jagung masih sangat besar yaitu sebesar 43,10 persen dari lahan yang cocok belum digunakan. Potensi lahan tersebut sebagian besar berada pada Kalimantan dan wilayah timur Indonesia. Dengan kedua wilayah yang berbeda ini diharapkan produksi yang dihasilkan akan maksimal dikarenakan penggunaan lahan yang berbeda tempat.
Mengenai swasembada daging di Indonesia, berdasarkan data statistik menunjukan bahwa konsumsi daging masyarakat Indonesia tercatat lebih rendah dibandingkan dua negara lain di ASEAN, yakni Malaysia dan Filipina. Indonesia cuma mengkonsumsi 1,8 kilogram (kg) per kapita, Malaysia sebesar 15 kg dan Filipina 7 kg per tahun. Dengan kebutuhan konsumsi yang kecil tersebut, apakah program swasembada daging masih perlukan dilakukan oleh pemerintah. Jika dilihat, kebutuhan makan daging sapi di Indonesia hanya menjadi kebutuhan sekunder bahkan tersier, yang berarti tidak makan daging pun tidak menjadi masalah, sehingga menurut saya tanpa swasembada daging pun tak menjadi masalah.
Berbeda dengan komoditi beras yang menjadi bahan pangan utama, konsumsi daging bagi setiap rumah tangga frekuensi sangat kecil bila dibandingkan dengan beras atau komoditi lainnya. Tingginya kebutuhan daging di Indonesia, relatif disebabkan oleh permintaan oleh masyarakat dengan golongan pendapatan menengah ke atas, perhotelan atau pada hari-hari raya keagamaan tertentu saja. Sedangkan kita tahu bahwa sebagian besar penduduk indonesia mayoritas penduduk dengan golongan pendapatan yang rendah, sehingga bagi mereka mengkonsumsi daging masih termasuk barang merah. Untuk lebih jelas mengenai konsumsi beberapa komoditi di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Konsumsi Rata-rata per Kapita Setahun Beberapa Bahan Makanan di Indonesia, 2009-2013 (Kg).
Komoditi Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
Beras 91.302 90.155 89.477 87.235 85.514 Jagung 1.825 1.564 1.199 1.512 1.304 Daging sapi 0.313 0.365 0.417 0.365 0.261 Daging ayam 3.076 3.546 3.65 3.494 3.65
Tempe 7.039 6.935 7.3 7.091 7.091
Gula 79.049 76.911 73.834 64.761 66.482 Sumber: BPS Nasional, 2014.
Dengan mencermati kondisi yang demikian ini, kebijakan untuk swasembada daging perlu untuk dicermati kembali. Dengan melihat data tersebut, apakah kebutuhan akan daging benar-benar sangat mutlak harus dipenuhi? Dengan demikian, menurut saya seharusnya kita memenuhi komoditi yang menjadi kebutuhan utama atau yang paling mendesak saja.
3.4. Swasembada Absolut Vs Impor
Lebih lanjut, bila dikaitkan dengan konsep ketahanan pangan, maka Singapura dengan luas negara yang kecil mampu memenuhi ketahanan pangannya. Dengan ketersediaan lahan yang terbatas, Singapura menggunakan konsep swasembada yang kedua yaitu pemenuhan kebutuhan yang sulit melalui produksi maka impor merupakan jalan keluarnya.
Jika ditelaah lebih lanjut, ternyata swasembada absolut kurang memberi dampak positif. Selain karena berbiaya mahal, ia juga mengekang hak-hak petani untuk menanam tanaman pilihannya. Ketersediaan anggaran pemerintah untuk bidang pertanian yang minim maka sudah seharusnya fokus pada satu atau dua jenis komoditi saja. Dengan demikian produksi pertanian yang diperoleh akan maksimal.
Penelitian yang dilakukan Gao (2010) yang berjudul ‘Discussion on Issues of Food Security Based on Basic Domestic Self-Sufficiency’ menunjukan bahwa ketahanan pangan adalah jaminan dasar bagi keamanan nasional. Untuk China, sebuah negara yang memegang populasi terbesar di dunia, keamanan pangan lebih jelas masalah penting yang menyangkut dengan nasional keamanan, perbaikan ekonomi, kebahagiaan nasional dan jaminan sosial.
Namun, di bawah kondisi globalisasi ekonomi, ada argumen yang berbeda mengenai apakah ketahanan pangan China harus didasarkan pada dasar negeri swasembada atau harus diganti dengan impor. Makalah ini akan menyatakan bahwa kepatuhan terhadap strategi ketahanan pangan " memuaskan dasar negeri swasembada " adalah pilihan yang diperlukan, oleh mengambil situasi serius dari krisis pangan global yang telah terjadi dalam dua sampai tiga tahun terakhir sebagai latar belakang dan dari tiga perspektif tentang pentingnya dan khusus barang makanan, situasi serius pasokan makanan internasional dan situasi nasional khusus Cina. Sementara itu, ia akan mengajukan dasar pikiran dan kebijakan untuk memastikan dasar swasembada makanan itu.
Berdasarkan temuan tersebut, selama pemerintah indonesia belum bisa membangun pertanian secara keseluruhan dengan baik. Maka salah satu solusinya adalah dengan fokus pada beberapa komoditi yang ingin dikembangkan (unggulan dan potensi) dan impor terhadap komoditi yang belum bisa dikembangkan secara optimal. Dengan tulisan ini bukan berarti saya mendukung impor, akan tetapi dengan fokus pada komoditi tertentu maka hasil yang diperoleh dapat menutupi kekurangan (impor)
tersebut. Di mana, hasil maksimal yang diperoleh akan dipergunakan untuk menutupi biaya yang dikeluarkan untuk impor komoditi lainnya.
Lebih lanjut, namun dalam perjalannya bukan berarti kita harus mengimpor bahan pangan yang belum bisa diproduksi dengan baik di dalam negeri. Pemerintah dan petani juga harus berusaha terus menerus untuk mengembangkan teknologi dan sarana prasarana yang mendukung guna mengatasi kendala lahan dan lainnya. Temuan oleh Ezedinma (2013) menjelaskan bahwa Negara Nigeria harus mendukung perdagangan bebas tetapi hanya di daerah yang tidak bisa mengembangkan kapasitas domestik. Dalam kasus impor beras, kebijakan negara harus pelindung sampai keuntungan ekonomi dari penjualan, efisiensi dan kemandirian dalam negeri produksi.
Hasil tersebut, menjelaskan bahwa kebijakan impor dilakukan hanya berlaku jika produksi dalam negeri belum mampu untuk mencukupi kebutuhan, dan diikuti dengan pengembangan teknologi guna memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu, intervensi kebijakan harus fokus pada intensifikasi produksi dan meningkatkan on- farm yield untuk mengurangi biaya produksi.
Penelitian yang dilakukan oleh Jalal Salem dan Mojtaba Mojaverian (2013) yang berjudul ‘The Study of Food Import Capacity Effects on Rural Households' Food Security in Iran’ menjelaskan bahwa penggunaan sumberdaya potensial untuk menutupi sangat bermanfaat untuk menutupi impor akan suatu komoditi. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa pendapatan Iran yang tinggi dari sumber daya minyak dan gas (migas) digunakan untuk menutupi impor bahan pangan di negera tersebut. Dengan demikian, ekspor produktif dialokasikan untuk impor makanan, terus-menerus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat pedesaan di jangka panjang.
Berdasarkan penelitian tersebut, seharusnya Indonesia bisa mencontoh terhadap apa yang dilakukan oleh Negara Iran. Jelas memang bahwa nilai dari potensi yang didapat dari minyak dan gas cukup berbeda dengan hasil pertanian. Namun, apa salahnya dengan memusatkan pada salah satu atau dua komoditi, dapat memberikan hasil yang maksimal, sehingga dengan nantinya surplus yang diperoleh akan menutupi impor bahan pangan lainnya.
ditopang oleh dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dibarengi dengan pemilihab metode yang tepat, pencapaian swasembada jelas tinggal menunggu waktu untuk diwujudkan.
Bab IV
Simpulan dan Saran
4.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Swasembada pangan memang perlu karena bertujuan memenuhi kebutuhan
pangan secara mandiri dan tidak ketergantungan dari pihak lain (luar negeri), akan tetapi melihat kendala keterbatasan lahan dan berbagai faktor lainnya sekarang ini swasembada akan beberapa bahan pangan tersebut menjadi sangat tidak mungkin untuk dilakukan ke depannya.
2. Kebijakan yang perlu dimabil oleh pemerintah yaitu dengan pemfokusan pada satu atau dua komoditi yang ingin diswasembadakan sangat perlu dilakukan. Dengan memanfaatkan kendala yang ada, maka akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal guna tercapai swasembada akan bahan pangan tertentu.
4.2. Saran
1. Perlu meninjau kembali kebijakan kembali mengenai program swasembada pangan terhadap beberapa bahan pangan tersebut dikarenakan swasembada absolut tidak mutlak harus dilakukan oleh pemerintah.
2. Untuk mewujudkan swasembada suatu komoditi, diperlukan adanya kerjasama antara pemerintah dan petani dalam hal ini ketersediaan sarana dan prarasarana yang mendukung, dan kebijakan yang mendukung petani.
DAFTAR PUSTAKA
Apriyantono, Anton. 2008. Cukupkah Lahan Pertanian Kita.
http://mediatani.wordpress.com/2008/04/09/cukupkah-lahan-pertanian-kita/. Dipublikasi 9 April 2008, diakses 16 April 2014.
Badan Pusat Statistik Nasional. 2014. Data Konsumsi dan Pengeluran. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?
kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=05¬ab=4. Diakses 18 Mei 2014
Badan Pusat Statistik Nasional. 2014. Pengunaa Lahan.
http://st2013.bps.go.id/dev/st2013/index.php. Diakses 18 Mei 2014
Ezedinma, Chuma. 2013. Impact of Trade on Domestic Rice Production and the challenge of Selfsufficiency In Nigeria.
http://www.warda.cgiar.org/workshop/ricepolicy/chuma.e/chuma.e.nigeria.paper.pd f
Fiki Ariyanti. 2013. Konsumsi Daging RI Cuma 18 Kg Kalah Dari Malaysia dan Filipina. http://bisnis.liputan6.com/read/623106/konsumsi-daging-ri-cuma-18-kg-kalah-dari-malaysia-dan-filipina. Dipublikasi 26 Jun 2013, diakses 18 Mei 2014.
Gao, Shutao. 2010. Discussion on Issues of Food Security Based on Basic Domestic Self-Sufficiency. Asian Social Science, Vol 6, No 11 (2010). From http://ccsenet.org/journal/index.php/ass/article/view/7982.
Guirkinger, Catherine dan Stephen R. Boucher. 2008. Credit constraints and productivity in Peruvian agriculture. Agricultural Economics 39 (2008) 295–308. From onlinelibrary.wiley.com, Agricultural Economics › Vol 39 Issue 3
Jiang, Li, Xiangzheng Deng, Karen C. Seto. 2013. The impact of urban expansion on agricultural land use intensity in China. Elsivier, Land Use Policy 35 (2013) 33-39. From http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0264837713000744
Salem, Jalal, Mojtaba Mojaverian. 2013. The Study of Food Import Capacity Effects on Rural Households' Food Security in Iran. International journal of Agronomy and Plant Production, Vol 4 (6), 1234 - 1240, 2013. From
http://ijappjournal.com/wp-content/uploads/2013/05/1234-1240.doc.pdf.
Smith, Pete dkk. 2010. Competition for land. Royal society publishing. From http://rstb.royalsocietypublishing.org/content/365/1554/2941.full.pdf
Suara Rakyat. 21 April 2012. Kepentingan Petani Vs Kepentingan Negara?
Tambunan. 2008. Ketahanan Pangan Di Indonesia, Mengidentifikasi Beberapa Penyebab. http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-3024-01082008.pdf. Dipublikasi Agustus 2008, diakses 19 Mei 2014.