• Tidak ada hasil yang ditemukan

Variasi Berat Labur Perekat Phenol Formaldehida Terhadap Kualitas Papan Lamina dari Batang Kelapa Sawit dengan Pemadatan Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Variasi Berat Labur Perekat Phenol Formaldehida Terhadap Kualitas Papan Lamina dari Batang Kelapa Sawit dengan Pemadatan Chapter III V"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

METODOLOGI

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2013.

Persiapan bahan baku dan pembuatan papan laminasi dilakukan di Workshop

Kehutanan dan pengujian sifat mekanis dilaksanakan di UPT Biomaterial

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Bogor. Pengujian sifat

fisis dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang kelapa sawit

(BKS) dan perekat phenol formaldehida (PF). Alat yang digunakan adalah

chainsaw, gergaji, UTM (Universal Testing Machine), alat tulis, timbangan, cetakan papan ukuran 45 cm x 5 cm x 1 cm, kalkulator, oven, kalifer, kertas

amplas, kuas, kempa panas dan kamera digital.

Prosedur Penelitian

1. Penyiapan bahan baku

Persiapan bahan yang dilakukan adalah dengan memilih batang kelapa sawit

yang tidak produktif dan ditebang dengan chainsaw. Batang kelapa sawit

(2)

meter dan dibersihkan bagian kulitnya serta dibentuk menjadi balok. Kemudian

balok tersebut dikeringkan secara alami selama 1 bulan untuk mengurangi

kadar air yang terdapat pada balok tersebut. Balok dari batang kelapa sawit

kemudian dipotong menjadi 2 bagian, yaitu bagian batang kelapa sawit yang

keras (bagian tepi) dengan ukuran 45 cm x 5 cm x 1 cm dengan jumlah 24

papan, bagian dalam (lunak) ukuran 45 cm x 5 cm x 2 cm dengan jumlah 12

papan.

2. Pemadatan Papan

Pemadatan lamina dilakukan dengan mesin kempa panas dengan suhu 120 °C

selama 30 menit. Pemadatan ini dilakukan pada papan BKS bagian tengah

(lunak) dari batang kelapa sawit. Papan pada awalnya berukuran 45 cm x 5 cm

x 2 cm dipadatkan menjadi ukuran 45 cm x 5 cm x 1 cm.

3. Penyiapan Perekat

Penelitian ini menggunakan perekat phenol formaldehida dengan variasi berat

labur 240, 260, 280 dan 300 g/m². Setiap papan memerlukan perekat

tergantung dari variasi berat labur. Kebutuhan perekat tersebut dapat dihitung

dengan rumus berikut :

Jumlah perekat (g) =Luas permukaan (cm

2)x Berat labur (g/m²) 10.000

berat labur 240 g/m² memerlukan perekat 10,8 g, berat labur 260 g/m² perekat

yang diperlukan 11,7 g, berat labur 280 g/m² diperlukan perekat sebanyak 12,6

g sedangkan berat labur 300 g/m² memerlukan perekat sebanyak 13,5 g.

Kebutuhan perekat untuk masing-masing berat labur disajikan pada lampiran 1.

(3)

Papan BKS tersebut dilaburi dengan perekat PF dengan variasi berat labur

antara 240 g/m², 260 g/m², 280 g/m² dan 300 g/cm². Dikombinasikan dengan

papan BKS bagian tepi dan bagian tengah yang sudah dipadatkan sebagai

bagian inti dari papan lamina. Pelaburan tersebut menggunakan kuas cat dan

sistem pelaburan menggunakan sistem pelaburan dua sisi (double spread).

5. Penyusunan Lamina

Papan yang sudah dilaburi dengan perekat PF tersebut disusun menjadi tiga

lapis yaitu lapisan bagian luar (face and back) merupakan bagian keras dari

BKS sedangkan BKS bagian dalam digunakan sebagai bagian inti. Adapun tipe

penyusunan papan lamina disajikan pada Gambar 1.

Papan BKS

Papan BKS

Papan BKS

Gambar 1. Tipe penyusunan papan lamina

6. Pengempaan panas (Hot Pressing)

Pengempaan dilakukan dengan menggunakan mesin kempa panas, pada

suhu1500C selama15 menit.

7. Pengkondisian(conditioning)

Papan lamina yangbaru dikempa didinginkanterlebihdahulusebelum

ditumpuk.Penumpukan papan laminasi pada kondisi panas akan menghambat

proses pendinginannya dan memberikan efek negatif terhadap papan itu

sendiri, seperti pewarnaan dan menurunkan kekuatan. Pengkondisian

dilakukan untuk menghilangkan papan laminasi mencapai kesetimbangan dan 3

45

(4)

tegangan sisa yang terbentuk selama proses pengempaan panas.

Pengkondisian dilakukan selama 1 minggu pada suhu kamar.

8. Pemotongan Contoh Uji

Papan laminasi yang telah mengalami conditioning kemudian dipotongsesuai

dengan tujuan pengujian yang dilakukan. Ukuran contoh uji disesuaikandengan

standar pengujian ASTM D143-94 yang dimodifikasi tentang papan laminasi.

Polapemotongan untuk pengujian seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Pola pemotongan permukaan contoh uji untuk pengujian

Keterangan:

A. contoh uji MOE dan MOR (45 cm x 3 cm)

B. contoh uji pengembangan tebal dan daya serap air (2 cm x 3 cm)

C. contoh uji kerapatan (2 cm x 3 cm)

D. contoh uji kadar air (2 cm x 3 cm)

E. contoh uji delaminasi (2 cm x 10 cm)

3 cm

45 cm

5 cm

A

(5)

Bagan alir penelitian disajikan pada Gambar 3.

Batang kelapa sawit

Pengulitan dan pembersihan

Pemotongan

Bagian luar yang keras Bagian luar yang lunak

Dikeringkan secara alami

Dikeringkan secara alami

Dipotong dengan ukuran

45 x 5 x 1 Dipotong dengan ukuran

(6)

Gambar 3. Bagan alir penelitian

Pengujian Sifat Fisis Papan Lamina

Pengujian ini meliputi pengujian kerapatan, kadar air, pengembangan tebal

dan deliminasi.

a. Kerapatan

Pengujian kerapatan papan laminadilakukan pada kondisi kering udara dan

volume kering udara. Contoh uji berukuran 2 cm x 3 cm x 3 cm, ditimbang berat Dipadatkan menjadi

ukuran 45 x 5 x 1 Penyiapan perekat PF dengan

variasi berat labur 240, 260, 280 dan 300 g/cm²

Penyusunan papan menjadi 3 lapis

Pengempaan papan dengan suhu 150 °C dengan waktu 15 menit

Pengkondisian selama 1 minggu

Pengujian sifat fisis yaitu :

Kerapatan,Kadarair,Pengembangan tebal, daya serap air dan delaminasi

Pengujian sifat mekanis yaitu : MOE, MOR.

(7)

awal (B) dari contoh uji kemudian diukur panjang, lebar dan tebal untuk

menentukan volume (V). Nilai kerapatan papan laminasi dihitung denganrumus:

Keterangan:

ρ = kerapatan (g/cm3)

B = berat contoh uji kering udara (g)

V = volume contoh uji kering udara (cm3)

b. Kadar air

Contoh uji ukuran 2 cm x 3 cm x 3 cm yang digunakan adalah contoh uji

yang sama dengan kerapatan. Kadar air papan laminasi dihitung berdasarkan berat

awal (BA) dan berat kering oven (BKO) sampai berat konstan selama 24 jam pada

suhu 103 ± 2°C. Nilai kadar air dihitung menggunakan persamaan:

Keterangan:

KA = kadar air (%)

B0 = berat awal (g)

B1 = berat kering oven (g)

c. Daya Serap Air

�= � �

KA (%) =

1 1 0

B

B

B

(8)

Contoh uji berukuran 2 cm x 3 cm x 3 cm ditimbang berat awalnya,

kemudian direndam dalam air dingin selama 2 jam dan hasilnya dihitung setelah

perendaman. Kemudian direndam lagi selama 22 jam dengan contoh uji yang

sama dengan persamaan:

B1 = berat sebelum perendaman (g)

B2 = berat setelah perendaman (g)

d. Pengembangan Tebal

Perhitungan pengembangan tebal didasarkan pada selisih tebal sebelum

perendaman (T1) dan setelah perendaman (T2) dengan air dingin selama 2 jam

dan 22 jam dengan contoh uji yang sama. Contoh uji berukuran 3 cm x 3 cm x 3

cm dan dihitung dengan rumus :

Keterangan:

TS = pengembangan tebal (%)

T1 = tebal sebelum perendaman (g)

T2 = tebal setelah perendaman (g)

e. Uji Deliminasi

Disiapkan 3 contoh uji dengan panjang 80 mm pada penampang ujung

kiridari setiap papan laminasi. Contoh uji setelah direndam dalam air pada suhu

kamar (100–250C) selama 6 jam kemudian dikeringkan selama 18 jam dan harus

diperhatikan agar tidak terlalu lembab selama dalam pengeringan dan kadar air

(9)

adalah panjang deliminasi tidak kurang dari 3 mm pada kedua ujung dan rasio

deliminasi pada kedua ujung tidak lebih dari 10% dan panjang deliminasi garis

perekat lain tidak lebih dari 1/3 panjang garis perekat.

Deliminasi Ratio =Jumlah panjang deliminasi pada kedua ujung

Panjang total garis perekat pada kedua ujungx100%

Pengujian Sifat Mekanis Papan Lamina

a. Modulus Lentur atau Modulus of Elasticity (MOE)

Pengujian MOE dilakukan bersama-sama dengan pengujian modulus

patah (MOR), sehingga contoh ujinya adalah sama yaitu berukuran 45 cm x 3 cm

x 3 cm. Pengujian dilakukan pada kondisi kering udara dibentangkan dengan

pembebanan dilakukan di tengah-tengah jarak sangga. Kecepatan pembebanan

sebesar 10 mm/menit, Padapengujian MOE, diukur besarnya beban yang dapat

ditahan oleh contoh uji tersebut sampai batas proporsi, pola pembebanan dalam

pengujian disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Pengujian MOE dan MOR

Keterangan :

P = beban maksimum(kg)

½ L ½ L

L P

h

(10)

L = panjang bentangan contoh uji (cm) b = lebar contoh uji (cm)

h = tebal contoh uji (cm)

Nilai MOE dihitung dengan rumus berikut:

MOE =

MOE = modulus of elasticity atau modulus lentur (kg/cm2)

ΔP = perubahan beban yang digunakan (kg) L = jarak sangga (cm)

Δy = perubahan defleksi setiap perubahan beban (cm) b = lebar contoh uji (cm)

h = tebal contoh uji (cm)

b. Modulus patah atau Modulus of Rupture (MOR)

Pengujian modulus patah menggunakan contoh uji yang sama dengan

contoh uji pengujian modulus elastisitas, namun pengujian di lakukan sampai

contoh uji mengalami kerusakan atau patah. Contoh pengujian MOR dapat dilihat

pada Gambar 4. Nilai MOR dihitung dengan rumus berikut:

MOR =

Pengujian sifat fisis dan mekanis papan lamina meliputi kerapatan, kadar

air, daya serap air, pengembangan tebal dan uji delaminasi, MOE dan

MORmengacu pada ketetapan Japanese Agricultural Standar 243:2003 seperti

(11)

Tabel 2. Standar Mutu Sifat Fisis dan Mekanis Papan Laminal Berdasarkan JAS 243:2003

No Sifat Fisis dan Mekanis JAS 243:2003

1 Kerapatan (g/cm3) -

2 Kadar air (%) ≤ 15

3 Daya serap air (%) -

4 Pengembangan tebal (%) ≤ 14

5 MOR (kg/cm2) ≥ 75.000

6 MOE (kg/cm2) ≥ 300

7 Uji delaminasi (%) ≥10

AnalisisData

Analisis datayangdigunakan dalam penelitian ini

adalahanalisisragamRancanganAcak Lengkap(RAL)sederhana.

Model statistik dari rancangan percobaan ini adalah:

Yij = μ + τi + εij

Keterangan :

Yij = Pengamatan pada berat labur ke-i dan ulangan ke-j

μ = Rataan umum

τi = Pengaruh berat labur ke-i

εij = Pengaruh acak (galat) pada berat labur ke-i ulangan ke-j i,j = 1, 2, 3, 4,..

Hipotesis yang akan digunakan adalah:

Pengaruh utama kadar perekat

(12)

H1 = berta labur berpengaruh terhadap kualitas papan lamina.

Pengaruh dari faktor perlakuan yang dicoba dapat diketahui dengan

melakukan analisis keragaman dengan kriteria uji:

jika F hitung ≤F tabel, maka H0 diterima dan

jika F hitung >F tabel, maka H0 ditolak.

Apabila hasil analisis sidik ragam berpengaruh nyata maka dilanjutkan

dengan uji wilayah Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji metode Duncan

dilakukan untuk mengetahui pengaruh kadar utama perekat berpengaruh nyata

(13)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat-sifat papan lamina batang kelapa sawit (BKS) yang diuji meliputi

sifat fisis dan sifat mekanis. Sifat fisis terdiri dari atas kerapatan, kadar air, daya

serap air, pengembangan tebal dan rasio delaminnasi. Sifat mekanis terdiri atas

modulus patah (MOR) dan Modulus elastisitas (MOE).

Sifat Fisis Papan Lamina

Kerapatan

Hasil penelitian menunjukkan nilai kerapatan papan lamina dari BKS

dengan perekat PF berkisar antara 0,46-0,52 g/cm³. Hasil rata-rata kerapatan

papan lamina disajikan pada Gambar 5 dan data selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 2.

Gambar 5. Grafik rata-rata kerapatan papan lamina dengan pemadatan

Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa nilai kerapatan papan lamina paling

tinggi adalah 0,52 g/cm³ diperoleh pada perlakuan berat labur 240 g/m² sedangkan

(14)

nilai kerapatan paling rendah adalah 0,46 g/cm³ pada berat labur 260 g/m². Nilai

kerapatan papan lamina yang dihasilkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan

kerapatan awal BKS yang berkisar antara 0,34-0,40 g/cm³. Hal ini berarti

kerapatan BKS pada penelitian ini sudah mengalami peningkatan.

Peningkatan kerapatan papan lamina pada penelitian ini dipengaruhi

beberapa faktor diantaranya bentuk penyusunan lamina. Penyusunan papan

lamina pada penelitian ini disusun dengan cara bagian luar (face and back) berasal

dari BKS bagian luar yang keras sedangkan bagian inti (core) berasal dari bagian

dalam yang lunak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Risnasari et al., (2012)

bahwa papan yang berkerapatan rendah ketika digabungkan dengan papan

berkerapatan sedang akan menghasilkan papan lamina dengan kerapatan yang

lebih tinggi.

Selain faktor penyusunan, faktor lain yang membuat peningkatan

kerapatan pada penelitian ini yaitu faktor pemadatan. Pemadatan bagian dalam

lamina dari tebal 2 cm menjadi 1 cm akan menyebabkan dimensi (volume)

mengalami penyusutan, sedangkan berat lamina tidak mengalami perubahaan. Hal

ini akan menyebabkan kerapatan papan lamina semakin meningkat. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Amin & Dwianto (2006) bahwa kayu yang berkerapatan

rendah akan meningkat kerapatanya jika dipadatkan.

Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa perlakuan pemadatan dapat

meningkatkan nilai kerapatan kayu yang berkerapatan rendah Sulistyono et al.,

(2003) kerapatan kayu agatis dari 0,43-0,46 g/cm³ pada kayu solid menjadi

(15)

kerapatan 0,40-0,57 g/cm³ menjadi 0,42-0,69 g/cm³ dengan rataan 0,53 g/cm³ atau

terjadi kenaikan kerapatan berkisar 4,43-27,21% (Wardhani, 2003).

Nilai kerapatan papan lamina pada penelitian ini masih lebih rendah bila

dibandingkan dengan kerapatan balok laminasi dari kayu Eucalyptus grandis

yaitu 0,62-0,65 g/cm³ (Pasaribu, 2011) dan kayu kemiri kerapatanya berkisar

antara 0,62-0,65 g/cm³ Risnasari et al., (2011). Rendahnya nilai kerapatan yang

dihasilkan ini dikarenakan bahan baku penyusun lamina dari BKS memiliki

kerapatan rendah. Pada penelitian ini menggunakan bagian tepi BKS dengan

kerapatan 0,36-0,4 g/cm³ dan bagian tengah BKS dengan kerapatan 0,26-0,28

g/cm³. Sedangkan kayu Eucalyptus grandis memiliki kerapatan 0,35-0,65 g/cm³

(Pasaribu, 2011), kayu kelapa berkerapatan 0,4-0,5 g/cm³ (Wardhani, 2003) dan

kayu kemiri berkerapatan 0,31-0,44 g/cm³ (Risnasari et al., 2011). Kerapatan

bahan baku yang tinggi akan menghasilkan kerapatan papan lamina yang tinggi

juga.

Selain itu, faktor yang menentukan nilai kerapatan papan lamina adalah

berat labur. Pada penelitian ini berat labur yang digunakan berkisar 240-300 g/m².

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat kerapatan yang dihasilkan dari variasi berat

labur tidak jauh berbeda sehingga disimpulkan bahwa variasi berat labur tidak

mempengaruhi nilai kerapatan papan lamina dari BKS. Nilai kerapatan papan

lamina pada penelitian ini diduga lebih dipengaruhi oleh faktor pemadatan dan

penyusunan papan lamina. Secara umum dengan meningkatnya berat labur maka

kerapatan juga akan mengalami peningkatan.

Hasil analisis ragam pada papan lamina juga menunjukan bahwa variasi

(16)

karena kerapatan yang diperoleh pada penelitian ini tidak jauh berbeda. Hal ini

berarti bahwa berat labur tidak memberikan pengaruh terhadap nilai kerapatan

(Lampiran 5).

Kadar Air

Hasil penelitian kadar air papan lamina menunjukan bahwa nilai kadar air

papan lamina dari BKS dengan perekat PF berkisar antara 8,03-9,21%. Hasil

rata-rata nilai KA disajikan pada Gambar 6 dan data selengkapnya disajikan pada

Lampiran 2.

Gambar 6. Grafik rata-rata kadar air papan lamina dengan pemadatan

Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa kadar air paling tinggi pada berat

labur 300 g/m² dengan kadar air 9,21% dan paling rendah pada berat labur 260

g/m² dengan kadar air 8,03%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi

penurunan dari berat labur 240 g/m² ke berat labur 260 g/m² dan kemudian

mengalami peningkatan pada berat labur 280 g/m² dan 300 g/m². Berdasarkan

JAS 243:2003, nilai kadar air papan lamina dengan menggunakan berat labur dan

pemadatan memenuhi standar yang mensyaratkan nilai kadar air papan lamina

(17)

Kadar air yang dihasilkan pada penelitian ini tergolong rendah yaitu

8,55-9,21% bila dibandingkan dengan kadar air papan lamina kombinasi mahoni dan

sawit yaitu 11,30-11,90% (Ginting, 2012) dan lamina dari kayu mangium yaitu

12,2-12,8% (Herawati et al., 2008). Hal ini karena proses pengempaan dalam

penelitian ini menggunakan kempa panas.

Penggunaan suhu kempa panas yang digunakan adalah 150 °C selama 15

menit untuk pematangan perekat. Akibat dari perlakuan panas ini, kadar air papan

lamina turun menjadi kadar air 8,55-9,21%. Sedangkan penelitian sebelumnya

(Ginting, 2012) dan Herawati et al., (2008) menggunakan kempa dingin.

Selain faktor pemadatan dan proses pematangan perekat, nilai kadar air

juga dipengaruhi berat labur. Cahyadi et al., (2012) menyatakan bahwa semakin

banyak kadar perekat maka papan yang dihasilkan akan semakin kedap air.

Sehingga papan yang dihasilkan tidak banyak menyerap uap air dari udara setelah

pengempaan dan pengkondisian (conditioning)papan lamina mencapai kondisi

kadar air kesetimbangan. Tetapi pernyataan Cahyadi et al., (2012) tersebut

berbanding terbalik dengan hasil pada penelitian ini. Gambar 6 menunjukan dari

berat labur 280 ke berat labur 300 g/m² mengalami peningkatan dan berat labur

300 g/m² nilai kadar airnya paling tinggi. Hal senada juga disampaikan oleh Oka

(2005) bahwa nilai kadar air balok laminasi bambu petung perekat UF dengan

sistem kempa dingin yaitu mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya

jumlah perekat yang digunakan. Namun kadar air penelitian ini lebih rendah bila

dibandingkan dengan penelitian Oka (2005) dengan kadar air berkisar antara

10,78-10,96% dan penelitian Cahyadi et al., (2012) dengan kadar air berkisar

(18)

Dari keempat variasi berat labur tersebut, berat labur yang optimal yaitu

berat labur 260 g/m² karena memiliki nilai kadar air paling rendah. Hasil analisis

ragam juga menunjukan bahwa variasi berat labur tidak mempengaruhi nilai kadar

air papan lamina (Lampiran 6). Hal ini berarti variasi berat labur tidak

memberikan pengaruh nyata terhadap nilai kadar air.

Daya Serap Air

Hasil pengujian daya serap air papan lamina menunjukan bahwa nilai daya

serap air papan lamina dari batang kelapa sawit (BKS) dengan perekat PF berkisar

antara 79,38-88,05%. Hasil rata-rata nilai daya serap air papan lamina BKS

disajikan pada Gambar 7 dan data selengkapnya disajikan pada Lampiran 2.

Gambar 7. Grafik rata-rata daya serap air papan lamina dengan pemadatan

Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa nilai daya serap air papan lamina

paling tinggi terdapat pada berat labur 300 g/m² yaitu 88,05% dan yang paling

rendah pada berat labur 260 g/m² yaitu 79,38%. Nilai daya serap air mengalami

penurunan dari berat labur 240 g/m² ke berat labur 260 g/m² dan mengalami

peningkatan ke berat labur 280 g/m² dan 300 g/m².

(19)

Berdasarkan JAS 243:2003 tidak mensyaratkan nilai daya serap air, akan

tetapi uji daya serap air perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bahan baku

mempunyai sifat menyerap air atau tidak sehingga untuk menentukan aplikasi

penggunaan papan lamina ini, apakah layak digunakan pada eksterior.

Daya serap air papan lamina yang diperoleh cukup tinggi. Hal ini

disebabkan karena bahan baku yang digunakan pada pembuatan papan lamina

terbuat dari batang kelapa sawit. Menurut Bakar (2003) salah satu masalah serius

dalam pemanfaatan batang kelapa sawit adalah kadar air yang tinggi yang terdapat

pada batang kelapa sawit mencapai 156-365%. Hal ini juga didukung oleh

pernyataan Balfas (1998) yang menyatakan bahwa salah satu masalah serius dari

pemanfaatan BKS adalah sifat higroskopis yang berlebihan sehingga faktor

tersebut menyebabkan papan lamina yang dihasilkan menyerap air sangat banyak.

Kerapatan bahan baku BKS yang rendah menunjukan bahwa jaringan parenkim

lebih banyak dibandingkan dengan jaringan vascular bundles.

Selain faktor bahan baku dan perekat, daya serap air pada penelitian ini

juga dipengaruhi berat labur. Cahyadi et al., (2012) menyatakan bahwa semakin

banyak kadar perekat yang digunakan maka papan yang dihasilkan semakin kedap

air. Hasil nilai daya serap air pada penelitian ini berbanding terbalik dengan

pernyataan Cahyadi et al., (2012) tersebut. Gambar 6 menunjukan semakin tinggi

berat laburnya maka semakin tinggi nilai daya serap airnya dan daya serap air

tertinggi dihasilkan pada berat labur 300 g/m². Hal ini diduga terjadi karena pada

saat pelaburan terjadi pengentalan dan pengerasan sehingga kurangnya ikatan

antara perekat dan lamina. Hal ini sesuai dengan pernyataan Blass et

(20)

kerusakan. Pizzi (1983) juga menambahkan berat labur yang terlalu tinggi akan

mengurangi kekuatan rekat, karena akan memberikan penebalan pada garis rekat

yang matang.

Berdasarkan analisis ragam daya serap air papan lamina menunjukan

bahwa pengaruh berat labur tidak berpengaruh nyata pada nilai daya serap air

papan lamina yang dihasilkan (Lampiran 7). Hal ini berarti bahwa nilai daya serap

air tidak dipengaruhi oleh berat labur yang digunakan.

Pengembangan Tebal

Pengembangan tebal adalah besaran yang menyatakan pertambahan tebal

contoh uji dalam persen terhadap tebal awalnya setelah contoh uji direndam

dalam air dingin selama 24 jam. Rata-rata nilai pengembangan tebal papan lamina

dari batang kelapa sawit dengan perekat PF adalah pada Gambar 8 dan data

selengkapnya. Lampiran 2.

Gambar 8. Grafik rata-rata pengembangan tebal papan lamina dengan pemadatan

Pada Gambar 8 dapat dilihat bahwa nilai pengembangan tebal papan

lamina antara 8.36-13,20%. Berdasarkan JAS 243: 2003 nilai pengembangan tebal

yang diisyaratkan maksimal 14% maka semua papan memenuhi standar. Dari

(21)

hasil pengembangan tebal diatas nilai terendah terdapat pada berat labur 280 g/m²

dan nilai tertinggi terdapat pada berat labur 240 g/m². Nilai pengembangan tebal

yang dihasilkan pada berat labur 240 g/m² cukup besar. Hal ini diduga karena

garis rekat yang terlalu tipis masih bisa dilewati air. Dari hasil tersebut berarti

stabilitas dimensinya baik, sehingga memungkinkan untuk penggunaan eksterior.

Dari hasil penelitian yang dilakukan nilai pengembangan tebal tersebut

termasuk rendah walaupun bahan pembuatan papan lamina terbuat dari batang

kelapa sawit yang memiliki daya serap air yang cukup tinggi. Salah satu faktor

pengembangan tebal papan lamina ini rendah yaitu faktor perekat, dimana perekat

yang digunakan dalam pembuatan papan lamina ini adalah perekat PF. Perekat ini

tahan terhadap perlakuan air, tahan terhadap kelembapan dan temperatur tinggi,

tahan terhadap bakteri, jamur, rayap dan mikroorganisme serta tahan terhadap

bahan kimia, seperti minyak, basa, dan pengawet kayu (Ruhendi et al., 2007).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nilai pengembangan tebal

papan lamina dari batang kelapa sawit dengan menggunakan perekat PF. Nilai

terbaik yang dihasilkan adalah pada variasi berat labur 260 g/m². Hal ini berarti

bahwa berat labur tersebut yang digunakan tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu

banyak, sehingga pada saat pengempaan perekat tersebut lebih matang dan

menyebar ke seluruh permukaan papan tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Cahyadi et al., (2012) yang menyatakan bahwa semakin banyak berat labur maka

semakin rendah pula pengembangan tebalnya karena papan tersebut akan semakin

kedap air karena lapisan perekat menyebar ke seluruh permukaan papan.

Pada berat labur 240 g/m² nilai pengembangan tebal yang didapat cukup

(22)

pada saat pengempaan perekat tidak menyebar ke semua permukaan. Sedangkan

berat labur 300 g/m² nilai pengembangan tebal yang didapat juga terlalu tinggi ini

disebabkan karena terlalu banyak perekat yang digunakan sehingga pada saat

perekatan dan pengempaan banyak perekat yang mengental dan mengeras. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Blass et al., (1995) mengatakan bahwa garis rekat yang

lebih dari 0,1 mm akan mengalami keretakan.

Hasil analisis ragam pengembangan tebal (Lampiran 8) papan lamina

menjelaskan bahwa berat labur memberikan pengaruh nyata terhadap

pengembangan papan lamina tersebut. Hal ini berarti bahwa perlakuan berat labur

memberikan respon terhadap pengembangan tebal. Berdasarkan hasil uji Duncan

memperlihatkan bahwa berat labur 260, 280 dan 300 g/m² tidak berbeda nyata,

namun berbeda nyata dengan berat labur 240 g/m² (Lampiran 9). Hal ini berarti

berat labur terbaik pada penelitian ini adalah berat labur 260 g/m² karena

pengembangan tebalnya paling rendah.

Uji Deliminasi

Delaminasi merupakan kerusakan pada bidang rekat papan laminasi.

Penyebab terjadinya delaminasi diakibatkan perendaman air dan kurangnya

pengempaan terhadap papan lamina. Adapun nilai rata-rata rasio deliminasi

adalah 0% . Hasil dari rata-rata ratio deliminasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai rasio papan lamina

Berat labur (g/m²) Nilai rata-rata ratio deliminasi (%)

240 0

260 0

(23)

300 0

Berdasarkan hasil penelitian, nilai rata-rata dari delaminasi ratio adalah

0%. Menurut standar JAS 243: 2003 mensyaratkan nilai rasio delimanasi tidak

lebih dari 10%. Hal ini menunjukan bahwa nilai ratio deliminasi pada penelitian

ini memenuhi standar.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yang nilai deliminasi memenuhi

standar yaitu jenis perekat. Perekat yang digunakan dalam penelitian ini adalah

perekat PF yang memiliki keunggulan tahan terhadap air dan temperatur tinggi

sesuai dengan pernyataan Ruhendi et al., (2007). Achmadi (1990) menambahkan

bahwa kelebihan perekat PF adalah viskositas resin yang cukup rendah yang

memungkinkan penetrasi ke dalam pori-pori kayu sehingga kekuatan kohesif dari

resin melebihi kekuatan resin dari kayu dan membentuk ikatan perekatan yang

baik pada papan yang dihasilkan.

Selain faktor perekat, faktor pelaburan perekat juga berpengaruh terhadap

nilai ratio delaminasi yang dihasilkan. Pada penelitian ini pelaburan perekat

menggunakan pelaburan perekat dua sisi (double spread) sehingga menghasilkan

ikatan yang baik antara perekat dan papan lamina dari BKS. Selbo (1975) dalam

Prayitno (1996) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan ikatan yang baik antar

perekat dengan papan maka sebaiknya digunakan pelaburan perekat pada kedua

sisi permukaan (double spread).

Dari hasil penelitian ini berarti perekat PF telah mampu bertahan dalam

(24)

delaminasi merupakan indikator ketahanan perekat terhadap adanya tekanan

pengembangan dan penyusunan akibat kelembapan dan panas yang tinggi.

Faktor lain yang mempengaruhi rasio delaminasi pada penelitian ini

adalah berat labur. Perlakuan berat labur 240 g/m², 260 g/m², 280 g/m² dan 300

g/m² menghasilkan nilai delaminasi yang sama yaitu 0%. Hal ini diduga karena

berat labur perekat yang digunakan menutupi bagian yang dilaburi dan menembus

struktur kayu sehingga pada saat pengempaan kekuatan rekatnya matang dan tidak

mengalami kerusakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Vick (1999) yang

mengatakan bahwa perekat harus memiliki sifat keterbasahan yang tinggi dan

viscositas yang akan menghasilkan aliran kapiler untuk menembus struktur kayu.

Perlakuan berat labur dalam penelitian ini sangat baik dengan uji

delaminasi 0%. Hal ini berarti perekat yang digunakan dengan berbagai macam

berat labur tidak menyebabkan perenggangan diantara lapisan papan lamina. Hasil

ini menunjukan bahwa perekat PF dapat digunakan untuk keadaan yang ekstrim

atau digunakan untuk eskterior.

Sifat Mekanis Papan Laminasi

(25)

Hasil pengujian modulus of elasticity(MOE) papan lamina menunjukan

bahwa nilai MOE papan laminasi dari batang kelapa sawit dengan perekat PF

berkisar antara 32.661-49.041 kg/cm². Hasil rata-rata MOE papan lamina dapat

dilihat pada Gambar 9 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.

Gambar 9. Grafik rata-rata MOE papan laminasi dengan pemadatan

Pada Gambar 9 terlihat bahwa nilai MOE tertinggi diperoleh pada

perlakuan berat labur 240 g/m² yaitu 49.041 kg/cm² dan nilai MOE terendah pada

perlakuan berat labur 280 g/m² yaitu 32.661 kg/cm². Selain itu, terlihat juga

bahwa seluruh nilai MOE papan lamina tidak memenuhi standar JAS 243:2003

yang mensyaratkan 75.000 kg/cm2.

Nilai MOE yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan papan lamina dari

kayu mangium dengan nilai MOE 84.100-136.700 kg/cm² (Herawati, 2008) dan

karakteristik glulam dari dua jenis kayu pinus dan jabon nilai MOE berkisar

antara 75.677-79.412 kg/m² (Sari, 2011). Salah satu faktor yang diduga

menyebabkan nilai MOE rendah pada penelitian ini yaitu karena faktor bahan

(26)

baku, dimana kerapatan awal BKS umur 25 tahun adalah 0,34-0,4 g/cm³ bagian

tepi dan 0,26-0,28 g/m³ bagian tengah.Sedangkan kayu mangium memiliki

kerapatan 0,43-0,66 g/cm³, jabon memiliki kerapatan 0,53-0,61 g/cm³ dan kayu

pinus berkerapatan 0,41-0,5 g/cm³ (PIKA, 1979). Walker (1993) menyatakan

faktor yang mempengaruhi kekuatan kayu adalah kerapatan. Kayu yang

berkerapatan tinggi mempunyai kekuatan yang lebih besar.

Herawati (2008) menyatakan bahwa nilai MOE tidak dipengaruhi oleh

ukuran lebar lamina tetapi lebih pada kondisi lamina terutama adanya cacat mata

kayu atau serat miring. Selain dipengaruhi oleh sifat-sifat kayunya, kualitas

perekatan pada penelitian juga dipengaruhi oleh proses pengempaan.

Proses pemadatan yang meningkatkan kerapatan BKS belum mampu

meningkatkan nilai MOE pada penelitian ini. Hal ini terjadi karena BKS yang

dipadatkan mempunyai kerapatan rendah berkisar antara 0,26-0,28 g/cm³ yang

diambil dari bagian lunak BKS. Killman dan Koh (1998) menyatakan bahwa kayu

yang banyak mengandung sel parenkim dan rongga akan mempunyai kekuatan

patah yang rendah (rapuh). Di sisi lain, perbedaan struktur sel parenkim

menyebabkan kerusakan pada sel parenkim akibat pemadatan.

Selain faktor pemadatan, bahan baku nilai MOE pada penelitian ini juga

dipengaruhi oleh berat labur. Berdasarkan Gambar 9 menunjukan bahwa semakin

tinggi berat laburnya maka nilai MOE-nya semakin rendah. Hal ini berbanding

terbalik dengan penelitian Oka (2005) analisis perekat terlabur pada pembuatan

balok laminasi bambu petung, Didalam penelitian tersebut semakin tinggi berat

laburnya maka semakin tinggi nilai MOE-nya. Hal yang sama juga terjadi pada

(27)

based polymer isocyanate yang diencerkan dengan metanol nilai MOE-nya meningkat seiring dengan bertambahnya kadar perekat yang digunakan.

Berat labur 240 g/m² merupakan berat labur terendah pada penelitian ini

tetapi nilai MOE-nya paling tinggi, hal ini diduga perekat mampu melaburi

permukaan lamina dan perekat mampu menembus struktur kayu dan tidak

mengalami kerusakan pada saat pengempaan panas sehingga menigkatkan

kekuatan MOE-nya. Berbeda dengan berat labur 260 g/m², 280 g/m² dan 300

g/m², pada berat labur tersebut nilai MOE yang dihasilkan hampir sama yaitu

berkisar antara 33.380-34.155 kg/cm². Rendahnya nilai MOE pada berat labur

tersebut diduga pada saat pelaburan perekat tidak mampu melaburi semua

permukaan karena terjadi pengentalan. Sari (2008) mengatakan bahwa pada saat

perekat tidak dapat membasahi permukaan kayu yang direkat maka akan terjadi

perekatan yang lemah sehingga persentase kerusakan juga akan semakin besar.

Hal ini juga didukung Pizzi (1983) mengatakan bahwa semakin banyak kadar

perekat yang digunakan akan mengurangi kekuatan rekat pada lamina.

Berdasarkan hasil analisis ragam kekuatan lentur, diketahui bahwa semua

perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap keteguhan lentur (Lampiran 10). Hal

ini berarti bahwa berat labur tidak memberikan pengaruh pada nilai MOE.

Modulus of Rupture (MOR)

Berdasarkan hasil pengujian Modulus of Rupture (MOR) papan lamina

(28)

perekat PF berkisar antara 176,81-312,87 kg/cm². Hasil rata-rata MOR papan

lamina dapat dilihat pada Gambar 10 dan data selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 4.

Gambar 10. Grafik rata-rata MOR papan laminasi dengan pemadatan

Pada Gambar 10 terlihat bahwa nilai MOR tertinggi diperoleh pada berat

labur 240 g/m² yaitu 312.87 kg/cm², sedangkan nilai MOR terendah adalah pada

berat labur 280 g/m² yaitu 176.81 kg/cm². Papan lamina yang memenuhi standar

JAS 243:2003 yang mensyaratkan nilai MOR papan lamina minimal 300 kg/cm²

adalah papan lamina dengan berat labur 240 g/m² dengan nilai MOR 312,87

kg/cm². Papan lamina yang tidak memenuhi syarat nilai MOR adalah perlakuan

berat labur 260, 280 dan 300 g/m².

Hasil nilai MOR pada penelitian ini cukup rendah bila dibandingkan

dengan penelitian Ginting (2012) yang menggunakan kombinasi BKS dan mahoni

menjadi papan laminasi dengan perekat isosianat dengan nilai MOR rata-rata 385

kg/cm², papan laminasi dari eukaliptus dengan nilai MOR sebesar420

(29)

kg/cm2(SinagadanHadjib,1989) dan karakteristik balok laminasi dari kayu

mangium (Acasia mangium) nilai MOR sebesar 516-687 kg/cm² (Herawati et al.,

2008).

Rendahnya nilai MOR pada penelitian ini bila dibandingkan dengan

penelitian lain karena penelitian lain bahan baku pembuatan lamina kerapatannya

lebih tinggi dibandingkan BKS. Kerapatan BKS bagian tepi pada penelitian ini

berkisar antara 0,34-0,4 g/cm³ sedangkan bagian tengah 0,26-0,28 g/cm².

Sedangkan kayu mahoni mempunyai kerapatan 0,53-0,72 g/cm³ (Ginting, 2012),

kayu eucalyptus 0,35-0,65 g/cm³ (Pasaribu, 2011) dan Acasia mangium

kerapatanya 0,43-0,66 g/cm³ (Herawati et al., 2008). Hal ini sesuai dengan

Tsoumis (1991) dalam Herawati et al., (2008) yang menyatakan kayu yang

memiliki kerapatan lebih tinggi akan memiliki kekuatan yang lebih tinggi

dibandingkan dengan kayu yang kerapatanya lebih rendah. Menurut PKKI NI-5

1961 dalam Setiawan (2011) terdapat hubungan antara jenis, berat kayu dan

kekuatan sehingga semakin berat kayu maka kekuatan kayu tersebut mengalami

peningkatan.

Perbedaan nilai MOR yang dihasilkan terutama karena karakteristik bahan

bakunya. Penyusunan lamina dari BKS yang digunakan berkerapatan rendah.

Bagian luar lamina berkerapatan 0,34-0,4 g/cm³ sedangkan bagian dalam yang

dipadatkan berkerapatan 0,26-0,28 g/cm³. Selain itu, struktur penyusunan BKS

terdiri dari Vascular bundle dan parenkim. Kerapatan vascular bundle menurun

dari bagian tepi kearah pusat batang, sebaliknya kerapatan parenkim meningkat

(30)

menyebabkan kerapatan BKS menjadi rendah. Hal ini yang menyebabkan nilai

MOR papan lamina BKS rendah.

Selain itu, faktor yang mempengaruhi nilai MOR adalah berat labur. Pada

penelitian ini berat labur terendah yaitu 240 g/m² memiliki nilai MORnya paling

tinggi. Hal ini diduga karena berat labur 240 g/m² mampu melaburi permukaan

lamina dan perekat mampu masuk ke dalam struktur kayu karena garis rekatnya

tidak terlalu tebal dan tidak mengalami pengentalan pada saat pelaburan maupun

pengempaan. Sedangkan berat labur 260 g/m², 280 g/m² dan 300 g/m² nilai

MORnya relatif seragam antara 176,81-181,30 kg/cm². Nilai MOR tersebut

rendah diduga karena perekat hanya mampu melaburi permukaan lamina dan

tidak mampu masuk ke dalam struktur kayu akibat terjadi pengentalan dan

kelebihan garis rekat akibat banyaknya kadar perekat yang digunakan. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Pizzi (1983) yang mengatakan berat labur yang tinggi

akan mengurangi kekuatan rekat. Sari (2008) mengatakan bahwa pada saat

perekat tidak dapat membasahi permukaan kayu yang direkat maka akan terjadi

perekatan yang lemah sehingga persentase kerusakan juga akan semakin besar.

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa berat labur terbaik pada

penelitian ini yaitu berat labur 240 g/m² karena telah memenuhi standar dan lebih

efisien dalam penggunaan perekat.Berdasarkan hasil dari analisis ragam juga

menunjukkan bahwa berat labur pada penelitian ini tidak memberikan pengaruh

nyata terhadap kekuatan MOR papan lamina dalam penelitian ini. (Lampiran 11).

(31)

Berdasarkan hasil pengujian sifat fisis dan mekanis papan lamina dari

BKS diperoleh rekapitulasi kualitas papan lamina seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi kualitas papan lamina BKS berdasarkan JAS 243:2003

Berat Labur

ts = tidak disyaratkan JAS 243:2003

KA = kadar air

DSA = daya serap air

PT = pengembangan tebal

D = delaminasi

MOE = modulus of elasticity

MOR = modulus of rupture

Berdasarkan pada Tabel 3 dapat diketahui hasil pengujian kualitas papan

lamina BKS untuk pengujian kadar air, pengembangan tebal dan rasio delaminasi

telah memenuhi standar JAS 243:2003 sedangkan untuk nilai kerapatan, daya

serap air tidak disyaratkan pada standar JAS 243:2003. Nilai MOE tidak satupun

contoh uji yang memenuhi standar JAS 243:2003 sedangkan nilai MOR yang

memenuhi standar hanya pada berat labur 240 g/m². Berdasarkan pada Tabel 3

dapat juga dilihat bahwa kualitas papan lamina yang paling baik secara

(32)

Rendahnya kualitas papan lamina yang didapat terutama pada sifat

mekanis diduga karena bahan baku BKS memiliki kekuatan yang rendah.

(33)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Variasi berat labur perekat PF papan lamina hanya mempengaruhi sifat fisis

untuk pengembangan tebal.

2. Variasi berat labur perekat PF papan lamina tidak mempengaruhi sifat

mekanis papan lamina.

3. Berat labur terbaik keseluruhan pada penelitian ini yaitu pada berat berat

labur 240 g/m².

Saran

Penggunaan limbah BKS yang mengandung pati sebagai bahan baku

pembuatan papan lamina dapat menjadi kendala terhadap beberapa sifat fisis dan

mekanis. Sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk meningkatkan sifat

Gambar

Gambar 2. Pola pemotongan permukaan contoh uji untuk pengujian
Gambar 3. Bagan alir penelitian
Gambar 4. Pengujian MOE dan MOR
Tabel 2. Standar Mutu Sifat Fisis dan Mekanis Papan Laminal Berdasarkan JAS 243:2003 No Sifat Fisis dan Mekanis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal itu maka dilakukan penelitian GHQJDQ MXGXO ³9DULDVL 3HODSLV /XDU GDQ %HUDW /DEXU Perekat Phenol Formaldehida terhadap Kualitas Papan /DPLQD GHQJDQ ,QWL

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berat labur perekat urea formaldehida terhadap sifat fisis dan mekanis papan lamina dari limbah batang kelapa sawit

Hasil nilai kadar air (KA), kerapatan, pengembangan tebal (PT), daya serap air (DSA) dan delaminasi... Hasil nilai modulus of elasticity (MOE) dan modulus of rupture

Pada pembuatan papan lamina, salah satu perekat yang biasa digunakan.. phenol

berat jenis batang kelapa sawit termasuk kelas kuat IV pada bagian tepi dan kelas.. kuat V pada bagian tengah dan pusat batang

Sifat fisis mekanis balok laminasi dari kayu ( Eucalyptus grandis ) [skripsi].. Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas

bahwa berat labur adalah banyaknya perekat yang diberikan pada permukaan. kayu, berat labur yang terlalu tinggi selain dapat menaikkan biaya

penelitian Ginting (2014) pada papan lamina dari BKS dengan perekat UF yang menyatakan jika semakin tinggi berat labur maka nilai pengembangan tebal papan lamina