iii 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Sistematika Penulisan 2. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SKPD
2.1 Struktur organisasi
2.2 Susunan Kepegawaian dan Kelengkapan 2.3 Tupoksi
11 11 13 20 3. PROFIL KINERJA PELAYANAN SKPD
3.1 Kinerja Pelayanan Masa Kini 3.2 Identifikasi Permasalahan
3.3 Telaahaan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah 3.4 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi
3.5 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
3.6 Hasil Analisa terhadap KLHS 3.7 Isu-Isu Strategis 4. VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN STRATEGIS
DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi
4.2 Misi 4.3 Tujuan
4.4 Strategi dan Kebijakan
75
4.7 Indikator Kinerja 4.8 Kelompok 5. INDIKATOR KINERJA SASARAN 134
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pembangunan pertanian secara umum dan
pembangunan sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura telah memberikan sumbangan besar dalam
pembangunan daerah Provinsi Sumatera Barat baik
langsung seperti dalam pertumbuhan PDRB, penyerapan
tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan
penyediaan pangan, maupun tidak langsung melalui
peningkatan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi
pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan
sektor lain. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peranan
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dalam melaksanakan
koordinasi dan pemberian fasilitasi bagi pelaksana
pembangunan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat.
Potensi pengembangan ekonomi suatu daerah dari
sisi pembangunan sektoral ditentukan oleh Keuntungan
Komperatif yang dimiliki oleh daerah bersangkutan
dibandingkan dengan kinerja sektor yang sama secara
nasional. Tingkat Keuntungan Komperatif sektor dan
subsektor suatu daerah dapat diukur dengan Indek
Koefisien Lokasi (Location Quotient, LQ). Berdasarkan
2
RPJMD Provinsi Sumatera Barat tahun 2010-2015
menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan salah
satu potensi ekonomi wilayah yang cukup penting bagi
pembangunan daerah Provinsi Sumatera Barat. Kondisi ini
ditunjukkan oleh nilai LQ lebih besar dari satu yaitu 1,75
yang memperlihatkan bahwa sektor ini mempunyai
Keuntungan Komperatif yang cukup tinggi dibandingkan
dengan sektor yang sama secara rata-rata pada provinsi
lainnya di Indonesia. Di dalam sektor pertanian tersebut
terlihat pula bahwa subsetor tanaman pangan ternyata
merupakan potensi ekonomi utama Provinsi Sumatera
Barat. Kondisi ini terlihat dari nilai LQ yang cukup tinggi
yaitu rata-rata 1,78.
Dengan meningkatnya pendidikan dan
kesejahteraan masyarakat mendorong peningkatan
kemampuan daya beli dan preferensi permintaan
masyarakat terhadap komoditas tanaman pangan dan
hortikultura, dalam rangka diversifikasi komsumsi dan
peningkatan gizi. Pembangunan pertanian tanaman
pangan dan hortikultura sebagai bagian dari pembangunan
nasional adalah pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan yang bertujuan untuk
meningkatkan hasil dan mutu produksi, mengembangkan
usaha profesional yang efektif dan efisien serta mampu
bersaing di pasar bebas, baik di dalam negeri maupun luar
3
daerah. Berbagai usaha pertanian tanaman pangan dan
hortikultura baik secara aspek produksi, pengolahan
maupun pemasaran memiliki potensi besar sebagai sumber
percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Revitalisasi
pertanian menjadi penting tidak hanya dalam mendorong
percepatan pertumbuhan produksi, tetapi juga dalam
peningkatan nilai tambah produk lokal dengan
pengembangan agroindustri di pedesaan.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan mempunyai
tugas dan fungsi merumuskan kebijakan daerah, kebijakan
pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidang Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura. Renstra merupakan
acuan utama bagi jajaran lingkup Dinas Pertanian se
Sumatera Barat yang selanjutnya Renstra ini dijadikan
acuan pula dalam menyusun Rencana Kerja (Renja)
tahunan dalam pelaksanaan Pembangunan Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat ini merupakan
dokumen perencanaan yang berisikan arahan visi, misi,
tujuan, target, sasaran, kebijakan, strategi, program dan
kegiatan-kegiatan yang akan menjadi acuan bagi Dinas
lingkup Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
Provinsi dan kabupaten/Kota se Sumatera Barat, selama
4
Dokumen ini disusun berdasarkan analisis strategis
atas potensi, peluang, permasalahan mendasar dan
tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian
tanaman pangan dan hortikultura di Sumatera Barat.
Dokumen Renstra ini seyogyanya dijadikan acuan
dan arahan dalam melaksanakan pembangunan pertanian
tanaman pangan dan hortikultura periode 2011-2015
secara menyeluruh, terintegrasi, efisien dan sinergi baik di
dalam maupun antar sektor terkait.
Rencana strategis Dinas Pertanian Tanaman
Pangan disusun berdasarkan RPJMD Provinsi Sumatera
Barat Tahun 2010-2015, Renstra Kementerian Pertanian
Tahun 2010-2014, serta hasil evaluasi pelaksanaan
pembangunan sub sektor tanaman pangan dan
hortikultura yang sesuai dengan tugas dan kewenangan
dan aspirasi masyarakat.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Renstra (Rencana Strategis) Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat adalah
merupakan pedoman yang akan dijadikan acuan dalam
penyusunan perencanaan pembangunan pertanian
tanaman pangan dan hortikultura tahun 2011-2015 di
5
Tujuan penyusunan Renstra ini adalah untuk
mewujudkan sinergitas antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan
pembangunan pertanian khusus tanaman pangan dan
hortikultura antar wilayah, antar sektor pembangunan, dan
antar tingkat pemerintahan serta mewujudkan efisiensi
alokasi berbagai sumber daya dalam pembangunan
pertanian.
1.3 LANDASAN HUKUM
Dalam Penyusunan Rencana Strategis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat Tahun
2011-2015, peraturan perundang-undangan yang
dijadikan landasan hukum adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional;
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
6
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang
Pedoman Penyusunan dan Penetapan Standar
Pelayanan Minimal;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Organisasi Pemerintah Daerah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang
Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah
Daerah;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2010-2014
12. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 15/Permentan/
Rc.110/1/2010 Tentang Rencana Strategis
7
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah;
14. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7
Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah Provinsi SumaterA Barat Tahun
2005-2025;
15. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 4
tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah
Provinsi Sumatera Barat, Nomor 1 tahun 2003 tentang
Pembentukan Struktur Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat
16. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7
Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-
2025;
17. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 5
Tahun 2011 tentang RPJMD Provinsi Sumatera Barat
8
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Penyusunan Rencana Strategis Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat Tahun
2011-2015 disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut :
Bab 1 : PENDAHULUAN
Memuat latar belakang, landasan hukum,
maksud dan tujuan, serta sistematika Penulisan
Renstra Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2011-2015
Bab 2 : GAMBARAN PELAYANAN SKPD
Menyampaikan gambaran Tugas, Fungsi,
Struktur Organisasi, Sumberdaya SKPD (sumber
daya manusia dan sumberdaya institusi), Kinerja
Pelayanan, Tantangan dan Peluang
Pengembangan Pelayanan SKPD Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat.
Bab 3 : ISU-ISU STRATEGIS
Menjelaskan isu-isu strategis yang akan dihadapi
meliputi identifikasi permasalahan berdasarkan
tugas dan fungsi pelayanan, Telaahan Visi, Misi
dan Program Kepala Daerah, Telaahan Renstra
Kementerian Pertanian dan Renstra Provinsi
9
Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis,
dan penentuan isu-isu strategis terhadap
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera
Barat.
Bab 4 : VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI
DAN KEBIJAKAN
Merupakan gambaran Visi dan Misi Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera
Barat, Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah
Pembangunan Pertanian, serta Strategi dan
Kebijakan berdasarkan tugas pokok dan fungsi
dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi
Sumater Barat.
Bab 5 : RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR
KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN
INDIKATIF
Menjelaskan rencana program, rencana kegiatan,
indikator kinerja, kelompok sasaran dan rencana
pendanaan indikatif kegiatan Dinas Pertanian
10 BAB 6 : INDIKATOR KINERJA
Menjelaskan indikator kinerja Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat yang
mengacu kepada tujuan dan sasaran RPJMD
Provinsi Sumatera Barat
11
BAB 2
TUGAS POKOK DAN FUNGSI SKPD
2.1. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Provinsi Sumatera Barat terdiri dari :
1. Kepala Dinas.
2. Sekretariat terdiri dari :
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
b. Sub Bagian Keuangan.
c. Sub Bagian Progam.
3. Bidang Tanaman Pangan, terdiri dari.
a. Seksi PengembanganPadi.
b. Seksi Pengembangan Palawija.
c. Seksi Benih.
4. Bidang Hortikultura, terdiri dari:
a. Seksi Pengembangan Tanaman Buah.
b. Seksi Pengembangan Tanaman Sayuran &
Biofarmaka.
c. Seksi Pengembangan Tanaman Hias.
5. Bidang Pengulahan & Pemasaran hasil, Terdiri dari :
a. Seksi Pasca Panen.
b. Seksi Pembinaan Usaha & Pengembangan.
12
6. Bidang Sarana dan Prasaran Pertaian, terdiri dari.
a. Seksi Pengolahan Lahan dan Air.
b. Seksi Pengawasan Pupuk dan Pestisida.
c. Seksi Pengembangan Kelembagaan.
7. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) terdiri dari :
a. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan
Hortikltura (BPTPH) terdiri dari:
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Kelompok Jabatan Fungsional.
b. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman
Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH).
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Kelompok Jabatan Fungsional. c. Balai Diklat Pertanian (BDP).
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Kelompok Jabatan Fungsional.
d. Balai Benih Induk Tanaman Pangan dan
Hortikultura (BBI-TPH).
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Seksi Pembibitan dan Produksi.
13
e. Balai Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikltura (BMP-TPH).
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Kelompok Jabatan Fungsional.
f. Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri (SPPN)
- Kepala.
- Sub Bagian Tata Usaha.
- Kelompok Jabatan Fungsional
2.2. SUSUNAN KEPEGAWAIAN DAN KELENGKAPAN
2.2.1.SUMBERDAYA MANUSIA
Kondisi Sumberdaya Aparatur Organisasi Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat secara
keseluruhan dapat dilihat pada tabel data pegawai berikut
ini.
Tabel 1.
Jumlah Pegawai berdasarkan Kualifikasi Pangkat dan Golongan, dan Jenis Kelamin
15
Potensi pelayanan yang tersedia pada Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat
dengan sumberdaya manusia dan kelembagaan
merupakan kekuatan untuk dapat melaksanakan tugas -
tugas yang dibebankan terutama perannya sebagai
penanggung jawab dan simpul koordinasi pembangunan
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Selanjutnya
potensi pelayanan pembangunan pertanian TPH yang
berada pada Kabupaten/Kota akan dapat mendukung
upaya – upaya pembangunan beserta seluruh unit kerja
yang di Kecamatan/Balai Penyuluhan Pertanian dan para
penyuluh pertanian dengan segenap organisasii
kemasyarakat yang bergerak di bidang pertanian.
Untuk mendukung penerapan teknologi pertanian,
Provinsi Sumatera Barat memiliki Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP). Sedangkan pada unit kerja
Dinas Pertanian Tanaman Pangan didukung pula dengan
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yakni, Balai Proteksi
TPH, Balai Benih Induk TPH, Balai Pengawasan Sertifikasi
Benih, Balai Diklat Pertanian TPH, Balai Mekanisasi
16
2.2.2.SUMBERDAYA INSTITUSI
A. Balai Benih Induk
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian, Balai
Benih adalah merupakan institusi perbenihan yang
menangani fungsi produksi baik untuk benih sumber
maupun benih sebar sekaligus mendistribusikannya
kepada produsen. Peran Balai Benih sangat penting
dalam mempelopori perkembangan penggunaan benih
bermutu varietas unggul padi, palawija dan hortikultura
serta penyebar luasan varietas unggul tersebut kepada
masyarakat maupun penangkar.
Kegiatan perbenihan lebih ditujukan untuk
meningkatkan kinerja para pelaku sistem perbenihan
dalam memproduksi benih unggul bermutu, serta
bagaimana kemampuan mereka dalam menyediakan benih
unggul bermutu tersebut untuk menunjang program
pengembangan agribisnis.
B. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman
Pangan dan Hortikultura
Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih merupakan
institusi pengawas yang mempunyai tenaga profesional
dan terampil yang dapat mengikuti perkembangan industri
perbenihan. Sejalan dengan Undang-undang No. 22 tahun
17
No. 82 Tahun 2008 telah menetapkan Balai Pengawasan
dan Sertifikasi Benih sebagai Unit Pelaksana Tenis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat
dengan tugas pokok yaitu melaksanakan sebagian tugas
teknis operasional Dinas Pertanian Tanaman Pangan
terutama penyiapan varietas dan pengawasan mutu benih,
pengujian laboratorium serta mengawasi peredaran
perbenihan.
C. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan
Hortikultura
Peningkatan produksi dan produktivitas pangan,
pertanian, terus dilakukan untuk mendukung peningkatan
ketersediaan pangan dan bahan baku industri.
Meningkatnya penerapan budidaya tanaman yang baik
(Good Agricultural Practices- GAP), jaminan mutu produk
dan budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan
sesuai SOP (Standard Operational Procedure) merupakan
salah satu cara untuk peningkatan produktivitas.
Upaya peningkatan produktivitas tidak akan
berhasil jika tidak diiringi dengan upaya penekanan
kehilangan hasil akibat serangan Organisme Pengganggu
18
D. Balai Mekanisasi Pertanian
Balai Mekanisasi Pertanian mempunyai 3 kegiatan
utama yang tediri dari :
a. Pengembangan alat ; dilaksanakan dalam rangka
efisiensi alat mesin pertanian yang beredarkan
ditingkat petani
b. Pelayanan masyarakat Bengkel keliling Pembuatan Alat
Pembinaan bengkel pengrajin
Pelatihan untuk perbaikan dan perawatan bagi
operator.
Bengkel - bengkel pertanian yang telah lolos uji
sertifikasi telah dapat membuat atau menyediakan
peralatan yang dibutuhkan oleh pemerintah.
c. Pengujian Mutu Alsintan
Balai Mekanisasi Pertanian telah pula mendapat
sertifikasi untuk mengawasi bengkel-bengkel pertanian
yang ada dilapangan
E. SMKPP-N Padang
Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian
Pembangunan (SMKPP-N Padang adalah merupakan salah
19
Tanaman Pangan Sumatera Barat, yang berfungsi untuk
pendidikan formal dibidang pertanian dan setingkat
sekolah menengah atas.
Lokasi persekolahan yang berlokasi di Lubuk
Minturun merupakan pindahan dari tempat yang lama
yang berada di pusat kota Padang. Sejak tahun 2009
sampai saat ini, fasilitas sarana dan prasarana untuk
kelancaran proses belajar dan mengajar bagi siswa dan
guru pada SMK-PP terus dilengkapi.
Beberapa fasilitas yang telah dilengkapi tersebut
diantaranya adalah labor bahasa, labor kultur jaringan,
Ruang pratikum, lahan praktek baik untuk tanaman padi,
palawija, hortikultura, dan perkebunan, berbagai jenis
tanaman koleksi, asrama, ruang pertemuan serta berbagai
sarana olah raga lainya, dengan jumlah guru pengajar 19
orang yang terdiri dari 12 orang guru tetap dan 7 orang
guru tidak tetap.
F. Balai Diklat Pertanian
Peningkatan kualitas dan kemampuan SDM
pertanian yang profesional pada akhirnya akan mampu
menciptakan rumah tangga petani yang handal sebagai
pelaku usaha pertanian sekaligus juga sebagai pelaku
20
terus melakukan pelatihan bagi petugas dan petani baik
pelatihan teknis maupun pelatihan non teknis.
2.3. TUPOKSI
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera
Barat Nomor 4 tahun 2008 tentang Perubahan atas
Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat, Nomor 1 tahun
2003 tentang Pembentukan Struktur Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat, Organisasi
Dinas Pertanian Tanaman Pangan berkedudukan sebagai :
1. Dinas Pertanian Tanaman Pangan merupakan unsur
pelaksana pemerintah daerah di bidang Pertanian
Tanaman Pangan
2. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dipimpin oleh
seorang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah
dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui
Sekretaris Daerah.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Provinsi Sumatera Barat mempunyai tugas melaksanakan
urusan pemerintah daerah dibidang Pertanian Tanaman
Pangan dan tugas pembantuan dengan fungsi sebagai
21
1. Perumusan Kebijakan Teknis dibidang Pertanian
Tanaman Pangan .
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan
umum di bidang pertanian Tanaman Pangan.
3. Pembinaan dan pelaksanaan urusan di bidang
Pertanian Tanaman Pangan.
4. Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Dinas.
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan
Tugas dan fungsi masing-masing unit kerja pada
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat
adalah sebagai berikut :
1. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
perumusan kebijakan teknis, pembinaan,
pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara
terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan
dibidang program, keuangan, umum dan kepegawaian.
Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana
sekretariat mempunyai fungsi : a). Penyelenggaraan
koordinasi perencanaan dan program dinas; b).
Penyelenggaraan pengkajian perencanaan dan program
kesekretariatan; c). Penyelenggaraan pengelolaan
22
2. Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian
Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan
teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
Pengolahan lahan dan air, pengawasan pupuk dan
pestisida, serta pengembangan kelembagaan. Untuk
menyelenggarakan tugas, Bidang Sarana dan
Prasarana Pertanian mempunyai fungsi :a) Penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan dibidang Pengolahan lahan dan air; b).
Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengawasan
pupuk dan pestisida; c). Penyiapan bahan perumusan
kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang
pengembangan kelembagaan.
3. Bidang Tanaman Pangan
Bidang Tanaman Pangan mempunyai tugas
melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pengembangan
Padi, Pengembangan Palawija dan Benih Untuk
menyelenggarakan tugas pokok, Bidang Tanaman
Pangan mempunyai fungsi : a). Penyiapan bahan
perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan di bidang Pengembangan Padi; b).
23
pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pengembangan
Palawija; c). Penyiapan bahan perumusan kebijakan
teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang Benih;.
4. Bidang Hortikultura
Bidang Hortikultura mempunyai tugas melaksanakan
penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan di bidang Pengembangan tanaman buah,
Pengembangan tanaman sayur, dan Pengembangan
Tanaman Hias dan Biofarmaka. Untuk
menyelenggarakan tugas pokok, Bidang Hortikultura
mempunyai fungsi : a). Penyiapan bahan perumusan
kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di
bidang Pengembangan Tanaman Buah; b). Penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan di bidang Pengembangan Tanaman Sayur;
c). Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pengembangan
Tanaman Hias dan Biofarmaka.
5. Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan
teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pasca
panen, pembinaan usaha dan Pemasaran serta
24
menyelenggarakan tugas pokok, Bidang Pengolahan
dan Pemasaran Hasil mempunyai fungsi : a). Penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan di bidang Pasca panen; b). Penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
pelaksanaan di bidang pembinaan usaha dan
Pemasaran; c). Penyiapan bahan perumusan kebijakan
teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
Pembinaan standarisasi perizinan.
6. Unit Pelaksana Teknis Dinas
a. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan
Holtikutura
UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan
Holtikultura adalah mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional
dan/atau kegiatan teknis penunjang Dinas
Perlindungan Tanaman Pangan dan Holtikultura.
Untuk melaksanakan tugas UPTD Balai Perlindungan
Tanaman Pangan dan Holtikultura
menyelenggarakan fungsi :
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Perlindungan Tanaman Pangan dan
Holtikultura;
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasional
25
- Pengujian dan Persiapan Teknologi Perlindungan
Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Perlindungan
Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat dengan bidang Perlindungan
Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan
bidang Perlindungan Tanaman Pangan dan
Holtikultura;
b. Pengawasan dan Sertifikat Benih
UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikat Benih
mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
kegiatan teknis operasianal dan/atau kegiatan
teknis penunjang Dinas dibidang Pengawasan dan
Sertifikat Benih. Untuk melaksanakan tugas UPTD
Balai Pengawasan dan Sertifikat Benih
menyelenggarakan fungsi:
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Pengawasan dan Sertifikat Benih
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasianal
26
- Pengujian dan Persiapan Teknologi Pengawasan
dan Sertifikat Benih;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Pengawasan dan
Sertifikat Benih;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat dengan bidang Pengawasan dan
Sertifikat Benih;
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan bidang
Pengawasan dan Sertifikat Benih;
c. Balai Diklat Pertanian Tanaman dan
Holtikutura
UPTD Balai Diklat Pertanian Tanaman Pangan dan
Holtikultura mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian kegiatan teknis operasional dan/atau
kegiatan teknis penunjang Dinas di bidang Diklat
Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura. Untuk
melaksanakan tugas UPTD Balai Diklat Pertanian
Tanaman Pangan dan Holtikultura
menyelenggarakan fungsi :
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Diklat Pertanian Tanaman Pangan
27
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasional Diklat
Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pengujian dan Persiapan Teknologi Diklat
Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Diklat Pertanian
Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat dengan bidang Diklat Pertanian
Tanaman Pangan dan Holtikultura;
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan bidang
Diklat Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura.
d. Balai Benih Induk Tanaman Padi, Palawija dan
Holtikutura
UPTD Balai Benih Induk Tanaman Padi, Palawija dan
Holtikultura mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian kegiatan teknis operasional dan/atau
kegiatan teknis penunjang Dinas di bidang Benih
Induk Tanaman Padi, Palawija dan Holtikultura.
Untuk melaksanakan tugas UPTD Balai Benih Induk
Tanaman Padi, Palawija dan Hortikultura
28
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Benih Induk Tanaman Padi, Palawija
dan Hortikultura;
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasional Benih
Induk Tanaman Padi, Palawija dan Hortikultura;
- Pelaksanaan kebijakan Teknologi Benih Induk
Tanaman Padi, Palawija dan Holtikultura;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Benih Induk
Tanaman Padi, Palawija dan Hortikultura;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat sesuai dengan bidang Benih Induk
Tanaman Padi, Palawija dan Holtikultura
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan bidang
Benih Induk Tanaman Padi, Palawija dan
Hortikultura.
e. Balai Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan
dan Hortikutura
UPTD Balai Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan
dan Holtikultura mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional
dan/atau kegiatan teknis penunjang Dinas di bidang
Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan dan
29
Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura menyelenggarakan fungsi :
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Mekanisasi Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura;
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasional
Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura;
- Pelaksanaan kebijakan Teknologi Mekanisasi
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Mekanisasi
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat sesuai dengan bidang Mekanisasi
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura;
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan bidang
Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura
f. Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri
UPTD Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri
mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
kegiatan teknis operasianal dan/atau kegiatan
30
Pembangunan Negeri. Untuk melaksanakan tugas
UPTD Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri
menyelenggarakan fungsi:
- Penyusunan Rencana Pembangunan Teknis
Operasional Sekolah Pertanian Pembangunan
Negeri;
- Pengkajian dan Analisis Teknis Operasianal
Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri;
- Pengujian dan Persiapan Teknologi Sekolah
Pertanian Pembangunan Negeri;
- Pelaksanaan kebijakan teknis Sekolah Pertanian
Pembangunan Negeri;
- Pelaksanaan operasional pelayanan kepada
masyarakat dengan bidang Sekolah Pertanian
Pembangunan Negeri;
- Pelaksanaan operasional tugas teknis Dinas
Pertanian Tanaman Pangan sesuai dengan bidang
31
BAB 3
PROFIL KINERJA PELAYANAN SKPD
3.1. KINERJA PELAYANAN MASA KINI
Pembangunan pertanian memiliki peranan yang
cukup penting dalam pembangunan nasional dan regional
bukan saja terhadap ketahanan pangan, tetapi juga
terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),
kesempatan kerja, sumber pendapatan dan perekonomian
daerah. Sektor pertanian merupakan salah satu potensi
ekonomi utama Sumatera Barat yang dapat menggerakkan
perekonomian daerah dan peningkatan pendapatan
masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran
mengenai dampak pembangunan yang dilaksanakan.
Pertumbuhan tersebut merupakan laju pertumbuhan yang
dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi, yang
secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan
ekonomi yang terjadi.
3.1.1. Perkembangan Produksi Komoditas
Pertanian
Sumatera Barat adalah merupakan salah satu
provinsi penyangga beras nasional di wilayah Sumatera
selain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung,
32
produksi padi 2006-2010 telah menunjukan prestasi
sangat baik, yaitu peningkatan produksi padi dari
1.889.489 ton tahun 2006 menjadi 2.211.248 ton pada
tahun 2010, atau rata-rata laju pertumbuhan sebesar 4,03
%. Peningkatan produksi jagung juga cukup pesat, dengan
rata-rata laju pertumbuhan mencapai 17,63 % pertahun
yaitu dari 202.298 ton tahun 2006 menjadi 354.262 ton
tahun 2010.
Peningkatan produksi komoditas penting lainnya
selama periode 2006-2010 juga menunjukkan rata-rata
laju pertumbuhan yang menggembirakan yaitu : Cabe
sebesar 9,87 %, Kubis 2,89 %, Tomat 22,91 %, Jeruk
0,67 %, Pisang 27,99 %, dan Markisah 6,50%.
Melanjutkan kemajuan pembangunan pertanian
yang telah dicapai sebelumnya, selama periode 2006-2010
pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura
mencatat berbagai keberhasilan. Semua capaian
pembangunan pertanian ini merupakan bentuk nyata dari
hasil kerja keras dan kerjasama yang baik dan terus
menerus dari para pelaku pembangunan pertanian, yaitu
petani, penyuluh, pelaku usaha di bidang pertanian
bersama dengan Pemerintah Pusat dan Daerah (Provinsi
dan Kabupaten/Kota. Salah satu adalah meningkatnya
produksi beberapa komoditi unggulan nasional dan
33
capaian produksi komoditas pertanian, dan pencapaian
kinerja pertanian lainnya sebagai berikut ini.
Tabel 2.
Perkembangan Produksi Padi di Sumatera Barat Tahun 2006 s/d 2010
No. Komoditi Tahun LP
Perkembangan Produksi Sayuran Utama di Sumatera Barat Tahun 2006 s/d 2010
No. Komoditi Tahun LP di Sumatera Barat tahun 2006 s/d 2010
No. Komoditi Tahun LP 2006 2007 2008 2009 2010
1 Jeruk 37.722 20.488 24.555 24.780 31.615 0,67 2 Pisang 39.132 62.129 80.933 91.938 100.524 27,99 3 Markisah 94.286 91.066 118.118 100.702 114.930 6,42
3.1.2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan
Pertanian TPH.
34
Upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi
dengan penerapan program Padi Tanam Sabatang (PTS)
untuk efisiensi usahatani, telah tersosialisasi di kab/kota.
Program Padi Tanam Sabatang mampu mengangkat
produktivitas padi rata-rata 7,18 kw / ha.
Peningkatan produksi jagung disebabkan karena
peningkatan luas panen karena meningkatnya animo
petani dan peningkatan luas pertanaman terutama melalui
pemanfaatan lahan yang pengairannya tidak
memungkinkan untuk tanaman padi. Sedangkan
peningkatan produktivitas terutama disebabkan karena
meningkatnya penggunaan benih hybrida.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya
petani tidak hanya melalui peningkatan produktivitas padi
dan palawija saja, namun pengembangan komoditi
hortikultura (sayuran, buah-buahan dan tanaman hias)
juga mendapat perhatian yang lebih. Produk hortikultura
Sumatera Barat juga merupakan komoditi andalan karena
disamping untuk memenuhi kebutuhan lokal, Komoditi
hortikultura terutama sayuran dan buah-buahan telah di
pasarkan keluar Sumatera Barat. Dalam hal komoditi
hortikultura, Sumatera Barat salah satu sentra produksi
sayuran di samping Provinsi Sumatera Utara. Sumatera
Barat mempunyai dataran tinggi dan dataran rendah di
35
keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif. Untuk
dapat meningkatkan mutu dan daya saing telah
diupayakan dengan jalan penerapan GAP/SOP dan
registrasi kebun.
Berbagai program dan kegiatan terus dilakukan
untuk meningkatkan produksi sayuran dan buah-buahan di
Sumatera Barat antara lain adalah :
1. Memantapkan pengembangan kawasan sentra
produksi
2. Memfasilitasi berkembangnya usaha agribisnis
komoditi unggulan
3. Mengembangkan sistem dan industri perbenihan
4. Penguasaan dan penerapan teknologi spesifik lokasi
dan ramah lingkungan
5. Pembinaan/Penerapan GAP, SOP, GHP/GMP dan
lain-lain.
6. Pengembangan pembibitan buah-buahan untuk
pengembangan buah-buahan dipekarangan rumah
petani.
7. Memperkuat kelembagaan usaha dan kemitraan
agribisnis
8. Memfasiltasi pemasaran produk melalui penyediaan
36
b. Pengembangan Pertanian Organik
Upaya meningkatkan kualitas produk pertanian
yang aman dan ramah lingkungan yang sesuai dengan
tuntutan pasar, pertanian organik merupakan jawaban
yang harus diupayakan pengembangannya. Pada tahun
2006-2010 telah dilakukan pembinaan penumbuhan dan
pengembangan kawasan pertanian organik dalam bentuk :
demplot-demplot, peningkatan penggunaan kompos
jerami, pengembangan Kawasan Pertanian Organik di
beberapa Kabupaten antara lain Kabupaten Tanah Datar,
Solok, Agam, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, dan Padang
Panjang, serta pelaksanaan magang Pertanian Organik.
Aktivitas dan operasional yang dilakukan dalam
rangka pengembangan kawasan / sentra produksi
pertanian organik meliputi Insentif Petani Produksi Pangan
Organik, pengembangan kawasan agribisnis sayuran
organik, pelatihan petugas, Sekolah Lapang Pertanian
Organik (SLAPO), magang petani dalam rangka
pengendalian mutu dan fasilitasi Outlet untuk pemasaran
produk pangan organik. Pengembangan pertanian organik
tidak hanya terfokus pada komoditi hortikultura, melainkan
juga diterapkan pada komoditi tanaman pangan terutama
padi.
37
Pembangunan pertanian diwujudkan dalam rangka
peningkatan kesejahteraan petani. Indikator yang dapat
digunakan untuk menggambarkan kesejahteraan petani,
antara lain meningkatnya pendapatan, tingkat upah dan
daya beli yang diukur dengan nilai tukar petani (NTP),
serta terbukanya akses bagi setiap pelaku usaha pertanian
terhadap sumberdaya produktif pertanian (modal,
informasi, teknologi, lahan dan air).
Pemberdayaan petani secara langsung dilakukan
melalui pelatihan, sekolah lapang, pembuatan demplot
percontohan, kegiatan magang dan pelatihan penyuluh
swakarsa, sedangkan pemberdayaan tidak langsung
berupa penyebaran informasi (poster, leaflet, brosur, VCD,
dan tabloid), kerjasama dengan Radio/Televisi dan
pembinaan kelembagaan. Realisasi kegiatan ini meningkat
setiap tahun karena diyakini melalui pemberdayaan petani
akan dapat dicapai perbaikan, peningkatan produksi yang
berimplikasi peningkatan pendapatan petani.
d. Perluasan Areal Tanam dan Perbaikan
Infrastruktur Pertanian
Perluasan areal tanam merupakan salah satu upaya
38
yakni melalui penambahan luas baku lahan, peningkatan
luas tanam pada lahan-lahan yang berpotensi untuk
ditingkatkan IP-nya, optimalisasi lahan-lahan terlantar
serta rehabilitasi dan konservasi lahan. Disamping itu
untuk mendukung peningkatan produksi telah dilakukan
perbaikan dan pembangunan infrastruktur pertanian yang
menunjang usaha pertanaman dan perbaikan mutu
produksi, perbaikan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani
(JITUT), perbaikan irigasi Desa (JIDES), pembuatan
embung, pengembangan irigasi permukaan, optimalisasi
lahan, dan cetak sawah.
e. Peningkatan Efisiensi Usaha Tani, Mutu Produksi
dan Nilai Tambah
Efisiensi usaha tani dilakukan dengan
melaksanakan input teknologi yang tepat guna dan murah,
sehingga mereduksi biaya produksi, menekan kehilangan
hasil dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Perbaikan mutu produksi perlu dilakukan mulai dari pra
panen sampai dengan pasca panen, antara lain perbaikan
mutu benih, perbaikan input teknologi, perbaikan cara
panen dan penangan pengolahan hasil yang berkaitan
dengan mutu produksi sehingga meningkatkan daya saing.
Disamping itu untuk mencari nilai tambah produksi
dilakukan pembinaan kelembagaan UP3HP (Unit
39
f. Revitalisasi Penyuluhan Pertanian
Pendekatan Penyuluhan pertanian dan
pendampingan terhadap petani sangat penting dalam
pengembangan pertanian di Sumatera Barat, khususnya
mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha
pertanian. Penyuluhan mendukung peningkatan usaha
tani, berbisnis usahatani yang lebih baik, organisasi yang
lebih efektif serta sarana dialog yang produktif untuk
pemberdayaan petani.
Atas dasar itulah Dinas Pertanian Tanaman Pangan,
sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab dalam
pelaksanaan pembangunan pertanian untuk mencapai
tujuan yang telah digariskan, akan dapat diukur dengan
beberapa indikator : (a) Pertumbuhan PDRB pertanian
tanaman pangan dan hortikultura, (b) Perkembangan
produksi komoditas pertanian, (c) Peranan kelembagaan
tani (d) Berkembangnya pertanian organik dan LEISA, dan
(e) Meningkatnya jumlah tenaga kerja usaha dibidang
tanaman pangan dan hortikultura.
3.1.2. Dukungan Anggaran
Penganggaran berbasis kinerja adalah suatu sistem
anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian keluaran
40
Output (keluaran) menunjukkan barang atau jasa yang
dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan input
yang digunakan. Input (masukan) adalah besarnya sumber
dana, sumber daya manusia, material, waktu dan
teknologi yang digunakan untuk melaksanakan suatu
program atau kegiatan. Dalam anggaran berbasis kinerja,
setiap penggunaan sumber daya yang direncanakan harus
dapat dikaitkan dengan produk berupa barang atau jasa
yang akan dihasilkan.
Alokasi anggaran fasilitasi pada Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006–
2010 adalah sebagai berikut :
Tabel 5.
Alokasi Anggaran Dan Realisasi Pendanaan 2006 – 2010
Sumber Anggaran
Realisasi Anggaran Pada Tahun ke (x1000)
2006 2007 2008 2009 2010
APBN Dinas
Provinsi 32.703.995,00 38.863.761,00 41.101.024,00 17.384.124,00 37.054.586,00
APBD Diperta
Sumbar 2.490.195,40 3.330.953,50 3.651.793,46 9.680.135,.45 33.704.526,00
APBN Dinas
Kab/Kota 48.131.936,00 63.755.050,00 48.926.990,00 50.667.346,00 17.872.175,00
3.2. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
Fokus pembangunan pertanian tanaman pangan
dan hortikultura adalah peningkatan pendapatan dan
41
rakyat, yang bersumber bukan hanya dari kegiatan usaha
tani (on - farm) saja, tetapi justru sebagian besar dari
kegiatan di luar usaha tani (off – farm). Beberapa
permasalahan dalam pembangunan pertanian tanaman
pangan dan hortikultura antara lain adalah :
a. Rendahnya Kesadaran Masyarakat Terhadap
Konservasi Lahan
Dari tahun ke tahun terlihat bahwa tingkat
kesuburan lahan sawah di Indonesia dan di Sumatera
Barat khususnya semakin menurun. Berdasarkan hasil
penelitian Badan Litbang Pertanian, dari luas lahan sawah
beririgasi di Indonesia sekitar 5 juta hektar, sekitar 65%
diantarannya mempunyai kandungan bahan organik
rendah sampai sedang (kurang dari 2%), sedangkan
dalam kondisi normal lahan sawah subur mengandung
bahan organik minimal 3%.
Degradasi lahan sawah terutama makin
menurunnya kandungan bahan organik disebabkan oleh
kesalahan dalam pengelolaan lahan dan pencemaran
lingkungan. Faktor penyebab degradasi lahan antara lain
adalah pencemaran oleh bahan kimia secara berlebihan
terutama pupuk dan pestisida kimia sintetis, kebiasaan
petani mengangkut ke luar lahan atau membakar jerami,
rendahnya penggunaan pupuk organik seperti kompos
42
degaradasi lahan tersebut akar permasalahannya adalah
rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat
khususnya petani terhadap konservasi lahan pertanian.
b. Kurang Optimalnya Pemanfaatan Lahan
Optimalisasi pemanfaatan lahan belum membudaya
dikalangan petani. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya
lahan kosong, indek pertanaman yang rendah, belum
dimanfaatkannya lahan pekarangan dan sistim budidaya
polikultur yang belum banyak diterapkan petani. Kondisi ini
selain tidak dapat meningkatkan nilai guna lahan juga
dapat menggganggu upaya konservasi lahan.
c. Terbatasnya ketersediaan infrastruktur serta
prasarana lahan dan air
Salah satu prasarana pertanian yang saat ini
keberadaanya sangat memprihatinkan adalah ketersediaan
irigasi. Banyaknya jaringan irigasi yang rusak
mengakibatkan daya dukung irigasi bagi pertanian tidak
mencukupi. Kerusakan ini terutama diakibatkan banjir,
kerusakan sumberdaya alam di daerah aliran sungai,
bencana alam serta kurangnya pemeliharaan jaringan
irigasi hingga ke tingkat usaha tani.
Prasarana usahatani lain yang sangat dibutuhkan
masyarakat dan pedagang komoditas pertanian namun
43
jalan produksi, balai-balai penyuluhan serta pasar-pasar
yang spesifik bagi komoditas.
d. Diversifikasi Usaha Tani Yang Rendah
Keluarga miskin di Sumatera Barat masih
didominasi oleh Rumah Tangga Petani (RTP), dimana dari
312.600 KK terdapat 115.215 KK (36,65%) adalah RTP
yang menggantungkan kehidupan pada subsektor tanaman
pangan. Salah satu penyebab utama dari keadaan diatas
adalah rendahnya jam kerja efektif RTP yang pada giliran
menyebabkan rendahnya pendapatan petani setiap priode
usaha. Rendahnya jam kerja efektif RTP sangat berkaitan
erat dengan tingkat diversifikasi usaha tani, dimana saat
ini indeks pekerjaan petani baru mencapai 1,8 yang
artinya tiap RTP masih belum mempunyai jenis 2 jenis
usaha tani.
e. Belum Tercapainya Efisiensi yang Lebih dari
Kegiatan Usaha Tani
Pendekatan program yang hanya berorientasi
terhadap uapaya peningkatan produksi cenderung
menyebabkan ekploitasi sumber daya alam yang
44
Kondisi ini menyebabkan tidak tercapainya efisiensi usaha
tani yang pada gilirannya menyebabkan rendahnya
keuntungan yang diterima petani.
f. Lemahnya Kelembagaan Petani
Salah satu strategi dalam menggerakkan petani
dalam pembangunan pertanian adalah melalui
pemberdayaan kelembagaan tani. Kelembagaan tani
berperan sebagai jembatan antara petani dan pemerintah
serta dapat menjadi wadah advokasi dan penyampaian
aspirasi petani. Kelembagaan tani yang kuat dan mandiri
dapat menjadi mitra pemerintah dalam melaksanakan
pembangunan pertanian yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian petani.
Namun pada saat ini kelembagaan petani belum kuat dan
mandiri, sehingga belum dapat berperan secara optimal
sebagai mitra pemerintah dan penyalur aspirasi petani.
g. Belum Kuatnya Sistim Penyuluhan
Sistim penyuluham pertanian dibangun oleh
subsistim sumberdaya personil, subsistim kelembagaan,
subsistim sarana dan subsistim metode penyuluhan.
45
kuat, sehingga belum mampu secara optimal untuk
melakukan pemberdayaan petani dan kelembagaan petani.
Faktor penyebab belum kuatnya sistim penyuluhan adalah
keterbatasan penyuluh baik dari segi jumlah maupun
kompotensi, kelembagaan penyuluhan yang belum mandiri
dan inovatif, kurangnya sarana serta metode yang belum
sesuai dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat
petani.
h. Tingginya Kehilangan Hasil Pertanian
Upaya peningkatan produktivitas tidak akan
berhasil jika tidak diiringi dengan upaya penekanan
kehilangan hasil. Dalam proses produksi, panen dan pasca
panen serta pengolahan hasil terjafi kehilangan hasil yang
cukup tinggi (10,09%). Kondisi ini belum termasuk akibat
serangan oranisme pengganggu tanaman (OPT) dan
kerusakan akibat bencana alam.
i. Rendahnya Peningkatan Nilai Tambah Produk
Pertanian
Salah satu strategi untuk meningkatkan
pendapatan petani adalah melalui peningkatan nilai
46
peningkatan nilai tambah produk pertanian masih rendah.
Rendahnya peningkatan nilai tambah produk pertanian
disebabkan oleh belum tersedianya peralatan yang
memadai dan penguasaan teknologi oleh petani.
j. Sistim Bantuan Benih yang Tidak Memihak
Petani
Benih merupakan salah satu faktor penentu dalam
keberhasilan usaha tani. Ketersediaan benih unggul dan
bermutu belum dapat memenuhi kebutuhan petani baik
dari aspek jumlah dan waktu yang sesuai dengan kegiatan
usaha tani. Walaupun pemerintah telah memberikan
bantuan benih melalui berbagai kegiatan, namun sistim
pemberian bantuan belum memihak kepada petani,
sehingga bantuan tersebut kurang tepat guna dan bernilai
guna.
k. Subsidi Pupuk Organik yang Tidak Tepat Sasaran
Upaya memperbaiki atau meningkatkan kualitas
kesuburan lahan dapat dilakukan melalui pemberian bahan
organik. Bahan organik yang dgunakan berasal dari
kompos yang menggunakan bahan baku utama limbah
pertanian atau pupuk kandang dari limbah ternak. Salah
satu strategi untuk mendorong penggunaan bahan organik
dalam memperbaiki kesuburan lahan adalah dengan
47
subsidi pupuk organik belum tepat. Saat ini subsidi pupuk
organik diberikan kepada swasta/produsen. Idealnya
subsidi pupuk organik adalah untuk petani, karena pupuk
organik dapat dibuat oleh petani dan untuk keperluan
petani.
l. Masih Lemahnya Permodalan Petani
Salah satu persoalan dalam meningkatkan
pendapatan petani adalah lemahnya permodalan dan
akses petani ke lembaga permodalan. Masalah ini cukup
serius yang perlu mendapat perhatian khusus. Untuk
mengatasi persolan tersebut perlu dilakukan penguatan
permodalan dan meningkatkan akses petani ke lembaga
keuangan, baik di Propinsi maupun di kabupaten/kota.
m. Lemahnya Koordinasi Antar Lembaga Terkait dan
Birokrasi
Kinerja pembangunan pertanian Tanaman Pangan
Hortikultura sangat ditentukan oleh keterpaduan diantara
subsistem pendukungnya, yaitu mulai dari subsistem hulu,
subsistem budidaya usaha tani (on-farm) subsistem hilir
(pengolahan dan pemasaran) dan subsistem pendukung
(keuangan pendidikan dan transportasi). Keterkaitan antar
subsistem sangat erat namun penanganannya terkait
dengan kebijakan berbagai sektor. Sementara Dinas
48
kewenangan dalam aspek budidaya/usahatani. Lemahnya
koordinasi terjadi juga antara pemerintah provinsi daerah
(provinsi dengan kabupaten/kota) serta antara pemerintah
Kabupaten/Kota.
Berdasarkan identifikasi permasalahan dalam tugas
dan fungsi pelayanan Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Provinsi Sumatera Barat di atas, maka faktor kunci
keberhasilan dapat diuraikan sebagai berikut:
3.1.2.1. Peningkatan mutu sumber daya pertanian
(Sumber Daya Manusia, dan Sumber Daya Alam).
4. Perbaikan infrastruktur pertanian (jalan usaha tani,
jaringan irigasi).
5. Peningkatan penerapan teknologi pertanian.
6. Peningkatan produksi, produktivitas, mutu dan
keamanan pangan produk pertanian.
7. Peningkatan peran/kompetensi petugas lapang (POPT,
Penyuluh, PBT, dan PIP) dan petani/kelompok tani.
8. Penumbuhan dan penguatan kelembagaan usaha tani.
9. Peningkatan mutu hasil pertanian yang memenuhi
standar dan berdaya saing.
10. Penumbuhan kemitraan dan pemanfaatan peluang
49
11. Peningkatan akses petani/kelompok tani ke sumber
pembiayaan.
12. Peningkatan koordinasi dan sinergitas antar unit kerja
lingkup Dinas Pertanian Tanaman Pangan.
3.3. TELAAHAN VISI, MISI, DAN PROGRAM KEPALA
DAERAH
Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber
daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan,
kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap
pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun
peningkatan indeks pembangunan manusia.
Visi pembangunan jangka panjang daerah Provinsi Sumatera Barat untuk Tahun 2025 adalah ”Menjadi Provinsi Terkemuka Berbasis Sumberdaya Manusia Yang Agamais Pada Tahun 2025”.
RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-2015
merupakan Penjabaran Visi, Misi, dan Program Gubernur
kedalam strategi pembangunan daerah, kebijakan umum,
program prioritas Gubernur dan arah kebijakan keuangan
daerah, dengan mempertimbangkan RPJPD Sumatera
50
Dengan mempertimbangkan potensi, kondisi,
permasalahan dan memperhatikan prioritas nasional, serta
mengakomodir visi, misi, program kepala daerah terpilih,
maka visi pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2010-2015 adalah : Terwujudnya Masyarakat
Sumatera Barat Madani yang Adil, Sejahtera dan
Bermartabat.
Masyarakat Madani yang dimaksudkan disini adalah suatu masyarakat berperadaban tinggi dan maju
yang berbasis pada nilai-nilai, norma hukum, moral yang
ditopang oleh keimanan.
Adil yang dimaksudkan disini adalah suatu kondisi masyarakat yang dapat menjaga kebutuhan, kepentingan
dan hak seluruh anggota masyarakat sesuai dengan azas
kepatutan dan kewajaran.
Sejahtera dalam hal ini dimaksudkan adalah suatu kondisi masyarakat yang sudah cukup makmur yang
ditandai oleh pendapatan masyarakat yang sudah dapat
memenuhi kebutuhan yang diperlukan, tingkat
pengangguran dan kemiskinan sudah sangat rendah,
pendidikan yang sudah cukup tinggi dan berbadan sehat
dan kuat.
51
terjamin dengan baik, bebas dari tekanan dan rasa takut
dan mendapat perlindungan hukum yang cukup dari
negara.
Misi pembangunan jangka menengah daerah
Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut:
1. Mewujudkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat, dan berbudaya berdasarkan falsafah ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”;
2. Mewujudkan tata-pemerintahan yang baik, bersih dan
profesional;
3. Mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat,
beriman, dan berkualitas tinggi;
4. Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh,
produktif, berbasis kerakyatan, berdayasaing regional
dan global;
5. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-2015, adalah rencana
pelaksanaan tahap ke dua dari pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sumatera
Barat Tahun 2005-2025. Penekanan dan skala prioritas
pembangunan pada RPJM ke 2 ini secara umum ditujukan
52
dengan penekanan kepada peningkatan kualitas sumber
daya manusia dan pemanfaatan teknologi maju di bidang
pertanian, perdagangan dan jasa.
Sesuai dengan RPJMD Sumatera Barat tahun 2010-
2015, maka dari 5 misi pembangunan jangka menengah
Sumatera Barat, terdapat 1 (satu) misi yang merupakan
sasaran yang harus dicapai Dinas Pertanian Tanaman
Pangan yaitu pada Misi 4 : “Mewujudkan ekonomi
masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan,
berdayasaing regional dan global” dengan beberapa
sasaran utama yang terkait dengan pembangunan
pertanian adalah sebagai berikut :
1. Meningkatnya kualitas dan produktivitas berbagai
komoditi pertanian
2. Meningkatnya jumlah dan luas kawasan sentra
produksi komoditi unggulan bidang pertanian
3. Berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian
(Agroindustri)
4. Meningkatnya kesejahteraan petani
5. Meningkatnya pengelolaan sumberdaya air
Strategi yang ditempuh untuk mencapai Misi 4
pada prioritas pengembangan pertanian berbasis komoditi
kawasan dan komoditi unggulan, adalah sebagai berikut :
53
komoditi unggulan pertanian, mengembangkan sentra
produksi komoditi pertanian unggulan bidang pertanian,
perkebunan, peternakan dan perikanan, mengembangkan
industri pengolahan hasil pertanian (agro-industri),
memperkuat manajemen untuk mengelola resiko usaha
pertanian, mengembangkan pembinaan untuk menerapkan
pertanian maju, dan menambah jam kerja petani dengan
usaha pertanian lain.
3.4. TELAAHAN RENSTRA K/L DAN RENSTRA
PROVINSI
Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014
merupakan acuan dan arahan pembangunan pertanian
untuk memposisikan kembali pertanian sebagai motor
penggerak pembangunan nasional melalui pencapaian 4
Target Utama pembangunan pertanian ke depan, yaitu:
1. Pencapaian Swasembada dan Swasembada
Berkelanjutan.
2. Peningkatan Diversifikasi Pangan.
3. Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, dan Ekspor.
4. Peningkatan Kesejahteraan Petani
Upaya mencapai target utama pembagunan
pertanian tersebut dihadapkan pada kondisi permasalahan
dan tantangan pembangunan pertanian yang tidak ringan,
54
internasional, regional dan lokal yang semakin kompleks.
Untuk menghadapi kondisi tersebut Kementerian Pertanian
akan menerapkan Strategi 7 GEMA Revitalisasi yaitu :
1. Revitalisasi lahan
2. Revitalisasi perbenihan dan perbibitan
3. Revitalisasi infrastruktur dan sarana
4. Revitalisasi sumber daya manusia
5. Revitalisasi pembiayaan petani
6. Revitalisasi kelembagaan petani
7. Revitalisasi teknologi dan industri hilir.
Dalam implementasi 7 GEMA Revitalisasi ini di
lapangan membutuhkan kerjasama dan komitmen oleh
para pelaku pembangunan pertanian di berbagai jenjang
pemerintahan yang disesuaikan dengan karakteristik
prospek dan potensi yang ada di masing-masing daerah.
Visi Kementerian Pertanian “Terwujudnya Pertanian
Industrial Unggul Berkelanjutan Yang Berbasis
Sumberdaya Lokal Untuk Meningkatkan Kemandirian
Pangan, Nilai Tambah, Daya Saing, Ekspor dan
Kesejahteraan Petani”. Untuk mewujudkan visi tersebut
maka misi Kementerian Pertanian adalah :
12.1.1.1. Mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan
yang efisien, berbasis iptek dan sumberdaya lokal,
serta berwawasan lingkungan melalui pendekatan
55
12.1.1.2. Menciptakan keseimbangan ekosistem
pertanian yang mendukung keberlanjutan peningkatan
produksi dan produktivitas untuk meningkatkan
kemandirian pangan.
12.1.1.3. Mengamankan plasma-nutfah dan
meningkatkan pendayagunaannya untuk mendukung
diversifikasi dan ketahanan pangan.
12.1.1.4. Menjadikan petani yang kreatif, inovatif, dan
mandiri serta mampu memanfaatkan iptek dan
sumberdaya lokal untuk menghasilkan produk
pertanian berdaya saing tinggi.
12.1.1.5. Meningkatkan produk pangan segar dan olahan
yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) dikonsumsi.
12.1.1.6. Meningkatkan produksi dan mutu produk
pertanian sebagai bahan baku industri.
12.1.1.7. Mewujudkan usaha pertanian yang terintegrasi
secara vertikal dan horisontal guna menumbuhkan
usaha ekonomi produktif dan menciptakan lapangan
kerja di pedesaan.
12.1.1.8. Mengembangkan industri hilir pertanian yang
terintegrasi dengan sumberdaya lokal untuk memenuhi
56
12.1.1.9. Mendorong terwujudnya sistem kemitraan
usaha dan perdagangan komoditas pertanian yang
sehat, jujur dan berkeadilan.
12.1.1.10. Meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan
aparatur pemerintah bidang pertanian yang amanah
dan professional
Kementerian Pertanian menetapkan 5 (lima) tujuan
pembangunan pertanian yaitu :
1. Mewujudkan sistem pertanian industrial unggul
berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal.
2. Meningkatkan dan memantapkan swasembada
berkelanjutan.
3. Menumbuhkembangkan ketahanan pangan dan gizi
termasuk diversifikasi pangan.
4. Meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor
produk pertanian.
5. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Sejalan dengan semangat reformasi dan
penyelengaraan pemerintah yang baik (good governance)
oleh pemerintah yang bersih (clean goverment) maka
selayaknya pula semangat reformasi dijadikan sebagai ruh
(semangat) di dalam pelaksanaan pembangunan oleh
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat.
57
sesuatu Pemerintah yang bersih di harapkan dapat
menghasilkan pembangunan khususnya di subsektor
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yang
bermanfaat dan dipergunakan sebesar besarnya untuk
kepentingan dan kesejahteraan rakyat (petani).
Adanya ruh yang merupakan suatu nilai (value)
dan jiwa (spirit) akan mampu dijadikan dasar yang kuat
agar tidak terjadinya penyimpangan pencapaian tujuan
yang telah dituangkan dalam rencana pembangunan
selama 5 (lima) tahun, hal ini disebabkan karena bagi
pembangunan sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura yang objeknya benda hidup yakni keluarga
petani (manusia) tanaman dan lingkungannya (human
activity system) justru karena itu ruh pembangunan
sangat diperlukan. Dengan adanya ruh pembanguan
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura tidak bersifat
ekploitasi dan merusak kelestarian lingkungan dari objek
pembangunan.
Diharapkan kondisi dalam melakukan
pembangunan yang dirancang melalui Renstra 2011-2015
akan mempunyai ruh yang bersih dan peduli dengan
pengabdian yang bersih dan bebas dari KKN (Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme), amanah transparan dan akuntabel
serta peduli dengan arti bahwa terlaksananya upaya
58
perlindungan, pembekalan, pemberdayaan dan
keberpihakan terhadap kepentingan umum (keluarga
petani) di atas kepentingan pribadi dan golongan
(demokratis) dan aspiratif.
Bagian alur penyusunan Renstra Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Sumatera Barat adalah sebagai berikut:
Gambar 1.
Dari kondisi yang dicapai tahun 2006 – 2010 maka
perlu dilakukan upaya - upaya untuk 5 (lima) tahun
kedepan melalui peningkatan produktifitas tenaga kerja
rumah tangga petani dengan pengembangan usaha secara
vertikal dan horizontal, sasaran tenaga kerja adalah pada
umur < 30 th, dan umur petani 31 - 40 th. Sehingga
tenaga kerja yang produktif akan mampu meningkatkan
TUGAS POKOK
DAN FUNGSI
FALSAFAH
Visi Misi Tujuan Sasaran Strategi
* Kebijakan * Program * Kegiatan pokok
Analisis Strategis Kondisi Saat Ini
Potensi, Permasalahan dan Tantangan
Kondisi Yang Diingikan Mandat :
59
nilai tambah produksi dan daya saing. Adapun kondisi
yang diinginkan adalah:
a. Meningkatnya produksi dan mutu hasil tanaman
pangan dan hortikultura melalui pengembangan
komoditi unggulan nasional dan unggulan daerah
berbasis nagari dan kawasan yang pada akhir mampu
memenuhi permintaan dan persaingan pasar.
Peningkatan produksi dan produktivitas pangan,
pertanian, terus dilakukan untuk mendukung
peningkatan ketersediaan pangan dan bahan baku
industri.
Meningkatnya penerapan budidaya tanaman yang baik
(Good Agricultural Practices- GAP) untuk peningkatan
produktivitas, jaminan mutu produk dan budidaya
yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sesuai SOP
(Standard Operational Procedure).
Tuntutan masyarakat akan produk yang bermutu telah
menjadi hal yang mutlak untuk diperhatikan baik
untuk produk jadi maupun produk bahan
baku/setengah jadi. penerapan Good Handling
Practices (GHP) adalah salah satu persyaratan yang
harus dilakukan dalam penerapan system jaminan
mutu dan keamanan pangan.
b. Mantapnya sistem kelembagaan melalui pendekatan