KAJI AN EKON OM I REGI ON AL
Pr ovin si Ja m bi
Kantor Bank Indonesia
Jambi
K A T A P E N G A N T A R
Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya sehingga Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Jambi triwulan I-2010 dapat diselesaikan dengan baik. KER merupakan salah satu terbitan periodik Bank Indonesia Jambi sebagai sarana untuk membangun komunikasi dua arah dalam pertukaran
data dan informasi baik dengan stakeholders internal maupun stakeholders eksternal.
Dengan demikian, para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan
terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) diharapkan dapat memperoleh masukan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi daerah. KER mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, inflasi daerah, perbankan, keuangan daerah, sistem pembayaran, ketenagakerjaan daerah dan kesejahteraan. Publikasi ini juga memuat perkiraan ekonomi dan inflasi daerah.
Berdasarkan asesmen atas data dan informasi, perekonomian Jambi pada triwulan I-2010 masih menunjukkan pertumbuhan namun mengalami perlambatan dibandingkan
triwulan IV-2009. Dari sisi harga, laju inflasi Kota Jambi (y-o-y) mengalami peningkatan
selama periode triwulan laporan. Perkembangan perbankan dari sisi aset dan penghimpunan dana mengalami penurunan namun penyaluran kredit masih menunjukkan
pertumbuhan. Menurunnya penghimpunan DPK menyebabkan meningkatnya Loan to
deposits ratio (LDR) perbankan menjadi 84,59%. Sementara itu, kualitas kredit terus
menunjukkan perbaikan, ditunjukkan oleh menurunnya angka Non Performing Loan (NPL)
menjadi 2,36%. Pembenahan sektor riil secara terus menerus diperlukan sebagai upaya akselerasi penyaluran kredit perbankan terutama dalam rangka meningkatkan investasi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan yang akan datang bergantung pada peningkatan konsumsi rumah tangga.
Dalam penyusunan KER triwulan I-2010 ini, kami banyak memperoleh support dari
dinas-dinas pemerintah daerah, instansi, perbankan, BUMN/BUMD dan pelaku usaha. Oleh karena itu, kami menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Semoga kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang.
Seiring dengan keterbatasan yang ada, kami mengharapkan kritik dan saran dalam meningkatkan kualitas KER ini agar dapat memberikan manfaat yang optimal, untuk kemakmuran masyarakat Jambi.
i
D
AFTAR
I
SI
Daftar Isi ... i
Daftar Tabel ... ii
Daftar Grafik ... iii
Ringkasan Eksekutif ... 1
BAB I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional ... 5
A. Umum ... 5
B. PDRB Sisi Produksi... 7
C. PDRB Sisi Pengeluaran... 21
Boks 1 : Menata dan Memperkuat Perbankan Indonesia, Menyongsong Pemulihan Ekonomi Dunia BAB II. Perkembangan Harga-Harga... 33
A. Kajian Umum ... 33
B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang ... 35
Boks 2 : Inflasi Kota Jambi dan Proyeksi Inflasi Tahun 2010 BAB III. Perkembangan Perbankan Daerah ... 45
A. Perkembangan Kelembagaan ... 45
B. Bank Umum ... 46
C. Bank Perkreditan Rakyat ... 55
BAB IV Keuangan Pemerintah Daerah ... 57
A. Anggaran Pendapatan Tahun 2010 ... 58
B. Anggaran Belanja Tahun 2010 ... 59
C. Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2009 ... 61
D. Realisasi Belanja Derah Tahun 2009 ... 62
E. Keuangan Pemerintah Daerah ... 62
BAB V Perkembangan Sistem Pembayaran ... 65
A. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai ... 65
B. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai ... 67
BAB VI Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan ... 69
A. Keternagakerjaan Daerah... 69
B. Kesejahteraan ... 71
C. Kemiskinanan ... 74
BAB VII Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah... 77
A. Pertumbuhan Ekonomi... 77
B. Proyeksi Inflasi... 82 Lampiran
D
AFTAR
T
ABEL
1.1 Laju Triwulanan (q-t-q) Pertumbuhan Provinsi Jambi Sisi Produksi dan Sisi
Penggunaan 7
2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 34
2.2 Perkembangan Inflasi Triwulanan (q-t-q) Tahunan (y-o-y) serta tahunan
Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa 36
2.3 Sumbangan Inflasi Bulanan (m-t-m) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi
Periode triwulan I-2009 37
3.1 Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi 47
3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik 48
3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Bank 49
3.4 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 50
3.5 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi 52
3.6 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum Provinsi
Jambi 53
4.1 Realisasi APBD Provinsi Jambi Tahun 2009 58
4.2 Pendapatan APBD Provinsi Jambi Tahun 2010 59
4.3 Belanja APBD Provinsi Jami tahun 2010 60
5.1 Perkembangan Sistem Pembayaran Provinsi Jambi 65
5.2 Perkembangan Transaksi RTGS 78
6.1 Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor (2007=100) 74
iii
D
AFTAR
G
RAFIK
1.1 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (q-t-q) 5
1.2 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (y-o-y) 6 1.3 Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi
Jambi (q-t-q) 7
1.4 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Triwulan I Tahun 2009 8
1.5 Luas Tanam Sektor Tabama triwulan IV Tahun 2009 9
1.6 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan I Tahun 2010 9
1.7 Luas Panen Sektor Tabama Trwulan IV Tahun 2009 9
1.8 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan I Tahun 2010 9
1.9 Perkembangan harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi 10 1.10 Pertumbuhan Indikator Produksi Sub Sektor Hortikultura dan Sub Sektor
Tanaman Perkebunan (%) 11
1.11 Pertumbuhan Indikator Produksi Sektor Peternakan dan Sub Sektor
Perikanan (%) 11
1.12 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi 11
1.13 Distribusi Jenis Pupuk 12
1.14 Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk 12
1.15 Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR 13
1.16 Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis 13
1.17 PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi 14
1.18 Lifting Minyak Bumi 15
1.19 Pertumbuhan Indeks Produksi Batubara dan Bahan Galian Gol. C (%) 15 1.20 Volume Penjualan Minyak Bakar dan Minyak Diesel 16 1.21 Perkembangan Total Pemakaian Listrik Sektor Industri 16 1.22 Perkembangan Indeks Produksi Industri Karet , CPO, Makanan dan
dan Minuman 16
1.23 Perkembangan Indeks Produksi Industri Barang dari Semen, Kayu dan
Batu Bata 16
1.24 Perkembangan Total Pemakaian Listrik 17
1.25 Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik 17
1.26 Perkembangan Total Konsumsi Air Kota Jambi 18 1.27 Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen 18 1.28 Perkembangan Sub Sektor Angkutan Udara dan Jumlah Konsumsi Avtur 19 1.29 Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang 19
1.30 Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang 19
1.31 Perkembangan Total Arus Peti Kemas 20
1.32 Perkembangan Total Arus Barang 20
1.33 Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan (q-t-q) 22 1.34 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran
Triwulan I tahun 2010 22
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 23
1.36 Konsumsi Listrik Rumah Tangga 23
1.37 Perkembangan Penjualan Premium 24
1.38 Perkembangan Penjualan Solar 24
1.39 Perkembangan Penjualan Minyak Tanah 24
1.40 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi 24
1.41 Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor 24
1.42 Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru 24
1.43 Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru 25
1.44 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi 25
1.45 Konsumsi Semen Provinsi Jambi 25
1.46 Pangsa Ekspor Provinsi Jambi triwulan I-2010 27
1.47 Pangsa Impor Provinsi Jambi triwulan I-2010 27
1.48 Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi 27
1.49 Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi 28
1.50 Lima Komoditi Tertinggi Nilai Ekspor Provinsi Jambi 28 1.51 Perkembangan Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara
Tujuan 29
1.52 Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara
Tujuan 29
1.53 Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi 31
1.54 Lima Komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi 31 1.55 Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara
Penjual 32
1.56 Pangsa Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara
Penjual 32
2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 33
2.2 Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi 34
2.3 Perbandingan Inflasi (y-o-y) Kota Jambi dan Kota Sekitarnya 35
2.4 Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng 38
2.5 Perkembangan Harga Tepung Terigu 39
2.6 Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang 40
2.7 Perkembangan Harga Jagung 41
2.7 Perkembangan Harga Daging 41
2.9 Perkembangan Harga Beras 41
2.10 Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional i43 2.11 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 44
3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi 46
3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi 48 3.3 Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi 52 3.4 Loan to Deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Lokasi Proyek per
kabupaten/kota di Provinsi Jambi 53
3.5 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito
Bank Umum di Provinsi Jambi 54
4.1 APBD Provinsi Jambi 57
4.2 Perkembangan Belanja per Dinas 2009-2010 61
v
4.4 Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi 61
4.5 Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi 62
4.6 Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah di Provinsi Jambi 63 5.1 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi
Jambi 66
5.2 Perkembangan Nominal 67
5.3 Perkembangan Volume Kliring 67
6.1 Jumlah Pencari Kerja dan Pertumbuhannya di Provinsi Jambi 70 6.2 Jumlah Pencari Kerja per Jenjang Pendidikan di Provinsi Jambi 70 6.3 Grafik Nilai Saldo Ekspektasi Pengangguran dan Kondisi Pengangguran 71
6.4 Perkembangan Harga Beras 71
6.5 Perkembangan Harga Tepung Terigu 71
6.6 Perkembangan Harga Minyak Goreng 72
6.7 Perkembangan Harga Komoditas Lainnya 72
6.8 Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 75
7.1 Perkembangan Ekspektasi Ekonomi, Ekspektasi Pengangguran dan
Ekspektasi Penghasilan 78
7.2 Rencana Konsumsi dalam 6-12 Bulan yang akan datang 78 7.3 Saldo Bersih Ekspektasi Harga dalam 6-12 bulan yang akan datang 83 7.4 Perkembangan Inflasi Bulanan (m-t-m) Kota Jambi Periode Tahun
2006 s.d Maret 2010 serta Perkiraan April s.d Juni 2010 83 7.5 Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi Periode Tahun 2006
a. Inflasi dan PDRB
2010
Trw.III Trw.IV TRW.I TRW.II TRW.III TRW.IV TRW.I
MAKRO
Indeks Harga Konsumen Kota Jambi 114.9 114.68 114.98 114.15 116.86 117.54 119.34 Laju Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi 13.68 11.47 9.16 1.10 1.71 2.49 3.79 PDRB - Harga Konstan (Juta Rp)1) 3,898,058 3,943,926 3,965,750 4,027,901 4,111,755 4,166,853 4,201,156
- Pertanian 1,182,053 1,235,4881,205,603 1,243,970 1,256,515 1,262,809 1,279,436 - Pertambangan dan Penggalian 504,880 503,518 461,554 466,949 469,120 467,021 468,083 - Industri Pengolahan 522,112 519,819 524,604 528,115 547,324 558,241 560,557 - Listrik, Gas, dan Air Bersih 28,722 30,424 30,707 32,763 32,581 32,595 32,862 - Bangunan 180,183 185,235 191,514 193,824 197,188 199,949 201,493 - Perdagangan Hotel dan Restoran 643,712 655,068 657,881 679,789 702,015 716,906 723,880 - Pengangkutan dan Komunikasi 300,815 305,932 307,479 312,192 320,521 327,983 329,032 - Keuangan, Persewaan dan Jasa 197,934 196,554 208,813 217,632 228,191 234,883 236,652 - Jasa 337,646 341,773 347,711 352,666 358,301 366,468 369,161 Nilai Ekspor Non Migas (USD ribu) 2) 311,030 209,987 135,430 132,722 160,671 185,609 138,768 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 665,155 437,162 350,397 304,581 312,052 370,525 188,719 Nilai Impor Nonmigas (USD Ribu) 3) 29,826 21,592 24,146 23,329 17,661 21,486 18,155 Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 27,115 18,243 10,204 25,710 31,770 27,136,920 20,519,738 Catatan
1)
Angka sementara tahun dasar 2000
2009
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH
INDIKATOR
2)
Pengklasifikasian komoditi menggunakan 21 kelompok barang berdasarkan SITC 2 digit yang berlaku.Data Trw.I-2010 s.d Februari Trw.I-2010
3)
Pengklasifikasian komoditi dalam statistik impor menggunakan SITC 2 digit yang berlaku data Trw.I-2010
b. Perbankan
TAHUN 2010
Tw.I-09 Tw.II-09 Tw.III-09 Tw.IV-09 Tw.I-10
PERBANKAN A. Bank Umum 1):
a. Bank Umum Konvensional:
Total Aset (Rp Juta) 11,980,624 12,658,318 12,819,920 13,758,932 13,580,333 DPK(Rp Juta) 10,080,116 10,349,880 9,998,588 10,597,374 10,533,026 - Tabungan 2,325,515 4,909,160 5,002,675 5,904,495 5426593 - Giro 4,610,190 2,373,677 2,047,600 1,929,641 2318177 - Deposito 3,144,411 3,067,043 2,948,313 2,763,238 2788256
Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi proyek2) 10,235,363 11,066,183 11,450,631 11,835,042 11,626,744 - Modal Kerja 3,664,993 3,953,360 4,475,510 4,570,316 3858155 - Konsumsi 3,988,832 4,201,873 4,275,718 4,388,293 5450103 - Investasi 2,581,538 2,910,950 2,699,403 2,876,433 2318486 - Dana 10,256,857 10,460,659 10,200,831 10,269,077 9,952,250
- LDR 99.79 105.79 112.25 115.25 116.83
Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi kantor cabang 7,431,265 8,037,073 8,406,361 8,622,182 8,698,459
- Modal Kerja 2,796,879 3,042,475 3,237,796 3,379,032 2,604,545
- Konsumsi 3,244,468 3,545,072 3,577,231 3,549,838 1,538,550 - Investasi 1,389,918 1,449,526 1,591,334 1,693,312 4,555,364
- LDR (%) 73.72 77.65 84.08 81.36 82.58
b. Bank Umum Syariah:
Total Aset (Rp Juta) 353,385 394,006 427,719 456,827 465,464 DPK(Rp Juta) 201,046 214,609 232,860 245,135 253,477 - Tabungan 103,455 110,390 117,482 131,172 131,172 - Giro 50,230 48,821 53,782 54,778 54,778 - Deposito 47,361 55,398 61,596 59,185 62900
Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi kantor cabang 316,887 355,202 387,162 410,914 425,375 - Modal Kerja 171771 200,262 223,425 244,584 251786 - Konsumsi 81624 80,545 85,803 91,418 75468 - Investasi 63492 74,395 77,934 74,912 98121 - LDR 157.62 165.51 166.26 167.63 167.82
B. BPR :
Total Aset (Rp Juta) 217,933 218,360 233,877 244,249 244,144 DPK (Rp Juta) 162,982 163,937 177,803 49,487 208,402 - Tabungan (Rp Juta) 31,554 31,739 31,919 33,749 36,852 - Deposito (Rp Juta) 131,428 132,198 145,884 15,738 171,550 Kredit (Rp Juta) 165,514 172,440 177,708 183,445 191,507
- Modal Kerja 43,295 46,089 45,878 45,895 49,358 - Konsumsi 94,338 96,822 102,237 109,159 113,887 - Investasi 27,881 29,529 29,593 28,391 28,262 Kredit UMKM (Rp Juta) 165,514 172,440 177,708 183,445 191,507 Rasio NPL Gross (%) 8.26 8.13 8.54 7.88 7.38 - NPL Gross (Nominal) 13,668 14,022 15,184 14,454 14,136 - PPAP 4,707 4,373 4,607 4,757 7,677 Rasio NPL Net (%) 5.41 5.60 5.95 5.29 3.37 LDR (%) 101.55 105.19 99.95 370.69 91.89
Catatan :
1) Data s.d Bulan Februari 2010
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH
2)
Sumber: SEKDA Provinsi Jambi Edisi Maret 2010 Bab II.16
1
R
INGKASAN
E
KSEKUTIF
P
EREKONOMIAN
J
AMBI
I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan I-2010 menunjukkan
pertumbuhan sebesar 0,82% (q-t-q), menurun dibandingkan dengan
triwulan IV-2009 yang mencapai 1,34% (q-t-q). Namun demikian secara
tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi meningkat yaitu sebesar
5,94% (y-o-y) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar
5,57%. Pada triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi secara triwulanan
(q-t-q) dipicu oleh sektor pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran
(PHR).
Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan PDRB Provinsi Jambi pada
triwulan laporan terutama berasal dari meningkatnya pengeluaran
konsumsi rumah tangga dan konsumsi swasta. Meningkatnya konsumsi
swasta seiring dengan masa tutup buku anggaran yang biasanya pada
bulan Februari-April 2010.
II. Perkembangan Harga-Harga
Inflasi Kota Jambi pada triwulan I-2010 mencapai 1,53% (q-t-q),
meningkat dibandingkan triwulan IV-2009 yang mengalami inflasi sebesar
0,58% (q-t-q).
Pergerakan inflasi yang tercatat di bulan Januari, Februari dan Maret 2010
masing-masing sebesar 1,95%(m-t-m), minus 0,36%(m-t-m) dan minus
0,05%(m-t-m). Sementara itu, secara tahunan inflasi Kota Jambi
menunjukkan peningkatan yaitu dari 2,49% (y-o-y) pada Desember 2009
menjadi 3,79% (y-o-y). Inflasi tahunan Kota Jambi ini lebih tinggi
dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,43%.
Inflasi yang terjadi di Kota Jambi pada triwulan laporan berasal dari
meningkatnya laju inflasi dari kelompok bahan makanan diikuti dengan
kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Meningkatnya
harga sub kelompok sayur-sayuran dan sub kelompok daging dan
hasil-hasilnya selama periode triwulan laporan memberikan sumbangan inflasi
pada kelompok bahan makanan. Sementara itu, meningkatnya sub
Perekonomian Provinsi Jambi triwulan I- 2010 ditandai tumbuhnya laju pertumbuhan ekonomi sebesar 0,82% (q-t-q)...
Pada triwulan I- 2010, Provinsi jambi mengalami inflasi sebesar 3,79%
RINGKASAN EKSEKUTIF
kelompok makanan jadi, memicu inflasi pada kelompok makanan jadi,
minuman, rokok dan tembakau.
III. Perkembangan Perbankan Daerah
Kinerja perbankan pada triwulan I-2010 menunjukkan penurunan dari sisi
aset dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) namun penyaluran
kredit masih menunjukkan pertumbuhan. Menurunnya penghimpunan
DPK menyebabkan meningkatnya Loan to deposits ratio (LDR) perbankan
menjadi 84,59%. Sementara itu, kualitas kredit terus menunjukkan
perbaikan, ditunjukkan oleh menurunnya angka Non Performing Loan
(NPL) menjadi 2,36%.
Outstanding kredit bank umum meningkat sebesar 0,08% sehingga
menjadi sebesar Rp9,12 triliun sementara DPK turun sebesar 0,52%. Aset
perbankan pada triwulan laporan sebesar Rp14,05 triliun.
IV. Perkembangan Keuangan Daerah
APBD Provinsi Jambi (tidak termasuk anggaran pemerintah kota dan
kabupaten) tahun 2010 sebesar Rp1,50 triliun, turun 7,14% dari APBD
tahun lalu yang sebesar Rp 1,62 triliun. Dari sisi anggaran pendapatan,
jumlah anggaran pendapatan daerah Provinsi Jambi tahun 2010 sebesar
Rp1,30 triliun atau meningkat 3,82% dibandingkan anggaran
pendapatan tahun 2009 yang sebesar Rp1,26 triliun.1
Dari kondisi
tersebut, jumlah defisit anggaran selama tahun 2010 diperkirakan sebesar
Rp200,00 miliar yang akan dibiayai dari sisa lebih perhitungan anggaran
tahun sebelumnya. Sementara, simpanan pemerintah daerah di
perbankan Jambi di awal tahun ini meningkat 97,13% menjadi Rp1,33
triliun.2
1
APBD Provinsi Jambi tahun 2010 ini disahkan tanggal 5 Oktober 2009
2
Posisi bulan Februari 2010 dibandingkan dengan Desember 2009
Kinerja perbankan menurun ditandai dengan menurunnya jumlah aset dan penghimpunan dana namun kualitas kredit menunjukkan
perbaikan....
RINGKASAN EKSEKUTIF
3
V. Perkembangan Sistem PembayaranAktivitas pembayaran tunai dan serta pembayaran non tunai melalui
kliring di Jambi mengalami penurunan. Pada triwulan laporan, nilai
transaksi kliring turun sebesar 5,16%. Sementara itu, aliran kas keluar
menurun sejumlah Rp809,04 miliar sedangkan kas masuk menurun
sebesar Rp170,50 miliar. Namun demikian secara total aliran kas keluar
masih lebih besar dari aliran kas masuk sehingga pembayaran tunai di
Jambi menunjukkan net outflow.
VI. Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan
Pada periode triwulan laporan, hasil survei ekspektasi konsumen (SEK)
menunjukkan bahwa nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi
masyarakat terhadap kondisi pengangguran masih berada pada level
pesimis. Sementara, jumlah pencari kerja berdasarkan jenjang pendidikan
pada triwulan laporan menurun signifikan sebesar 70,41% jika
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan (posisi
bulan Februari 2010) mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan
sebelumnya (posisi Desember 2009). Upah minimum Provinsi (UMP) Jambi
pada tahun 2010 meningkat sebesar 12,50% dari sebesar Rp800.000,00
pada tahun 2009 menjadi Rp900.000,00 (tahun 2010). Sementara itu,
rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup layak
(KHL) pada triwulan I tahun 2010 menurun sebesar 1454 bps jika
dibandingkan triwulan IV tahun 2009.
VII. Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah
Laju pertumbuhan kuartalan (q-t-q) PDRB Provinsi Jambi pada triwulan
II-2010 diperkirakan masih mampu tumbuh positif dibandingkan triwulan
I-2010. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan
mendatang diperkirakan pada kisaran 5,3-6,3% (y-o-y).
Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pemerintah diperkirakan
menjadi kontributor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi
pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan
ekonomi Jambi masih dominan oleh sektor pertanian, sektor
perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa.
Di bidang sistem pembayaran, aktivitas pembayaran tunai maupun non tunai melalui kliring mengalami penurunan....
NTP Provinsi Jambi meningkat...
RINGKASAN EKSEKUTIF
Perkembangan harga-harga pada triwulan mendatang diperkirakan akan
lebih tinggi dibanding triwulan laporan (q-t-q). Dengan demikian, inflasi
tahunan (y-o-y) diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan laporan.
Inflasi Kota Jambi pada Triwulan II-2010 diperkirakan sebesar
5,00%-6,00%/y-o-y (skenario optimis) atau sebesar 6,00%-7,00%/y-o-y
(skenario pesimis)
Faktor-faktor yang berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama
triwulan mendatang antara lain: 1) Tingginya perputaran uang di
masyarakat dalam menjelang Pilkada Gubernur Jambi bulan Juni 2010, 2.)
Masa tahun ajaran baru direspon oleh institusi pendidikan dengan
meningkatkan biaya pendidikan, 3.) Meningkatnya tarif dasar listrik
sebesar 15% di bulan Juni diperkirakan akan meningkatkan angka inflasi
Jambi sebesar 0,50% secara langsung 4.) Kondisi infrastruktur (jalan,
jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan
transportasi barang dan jasa, serta 5) Potensi kenaikan harga minyak
mentah dunia yang diikuti pergerakan harga-harga komoditas
bahan-bahan pangan (kedelai, jagung, gandum), crude palm oil (CPO) di pasar
internasional. Beberapa hal tersebut diperkirakan akan memacu
meningkatnya angka inflasi pada periode triwulan II-2010.
B
AB
I
P
ERKEMBANGAN
E
KONOMI
M
AKRO
R
EGIONAL
A. Umum
Perkembangan perekonomian Jambi pada triwulan I-2010 masih
menunjukkan pertumbuhan walaupun melambat dibandingkan triwulan IV-2009.
Pertumbuhan ekonomi Jambi triwulan laporan 0,82% (q-t-q) menurun
dibandingkan triwulan IV-2009 yang mencapai 1,34% (q-t-q).
Grafik 1.1. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (q-t-q)
1.55 1.32
1.79 1.64
2.68
0.77 1.43
0.96 1.27
3.01 3.04
1.18
0.55 1.57
2.08
1.34
0.82
-0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50
0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 4,500
Persen Rp miliar
Nominal (aksis kiri) Pertumbuhan (aksis kanan)
Pada awal tahun, konsumsi masyarakat masih terbatas sementara
konsumsi pemerintah cenderung mengalami penurunan. Dari sisi produksi,
tingginya intensitas hujan cukup menghambat aktivitas ekonomi. Kondisi inilah
yang memicu terbatasnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan.
Pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan laporan dipicu oleh
meningkatnya sektor pertanian serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Musim panen sejak bulan Februari lalu memicu meningkatnya produksi pertanian
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
perdagangan baik perdagangan besar maupun eceran memicu pertumbuhan
sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Perkembangan dari sisi permintaan ditunjukkan oleh masih tumbuhnya
konsumsi masyarakat serta terakselerasinya konsumsi swasta. Meningkatnya
konsumsi swasta seiring dengan berakhirnya masa tutup buku anggaran pada
triwulan laporan.
Grafik 1.2. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (y-o-y)
5.13 4.93 5.86 6.06 6.06 6.73 6.74
5.84 6.21 6.30 6.25
5.27 4.53
4.08 4.16
5.43 5.70
5.81 5.745.58
6.44 7.64 7.05 6.68 5.96 4.50 6.82 8.51 8.75 7.98 6.47 5.485.65 5.94 3.00 5.00 7.00 9.00 Q1-06 Q2-06 Q3-06 Q1V-06 Q1-07 Q2-07 Q3-07 Q1V-07 Q1-08 Q2-08 Q3-08 Q1V-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q1V-09 Q1-010
Sumber: BPS (diolah)
^): Perkiraan berdasarkan Laporan Kebijakan Moneter (LKM) triwulan IV-2009 oleh Bank Indonesiaonesia
%
Indonesia Jambi
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi meningkat menjadi
sebesar 5,94% (y-o-y) dibandingkan dengan triwulan lalu yang sebesar 5,65%.
Pertumbuhan ekonomi Jambi juga masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka
nasional yang pada triwulan I-2010 diperkirakan berkisar 5,70%.3
3
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
7
Tabel 1.1. Laju Triwulanan (q-t-q) Pertumbuhan Provinsi JambiSisi Produksi dan Sisi Penggunaan
2010*** I II III IV I II iii IV I
2.20
2.04 1.60 1.99 2.48 0.69 1.01 0.50 1.32 Pertambangan dan Penggalian 2.06 11.70 13.50 (0.27) (8.33) 1.17 0.47 (0.45) 0.23 Industri Pengolahan 0.81 2.12 1.68 (0.44) 0.92 0.67 3.64 1.99 0.41 Listrik, Air dan Gas 1.14 3.95 (3.81) 5.93 0.93 6.70 (0.56) 0.04 0.82
1.58
1.34 0.54 2.80 3.39 1.21 1.74 1.40 0.77 Perdagangan, Hotel dan Restoran (0.26) 1.31 1.19 1.76 0.43 3.33 3.27 2.12 0.97 Pengangkutan dan Komunikasi 0.45 (0.40) 1.87 1.70 0.51 1.53 2.67 2.33 0.32 Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan 1.73 9.71 5.02 (0.70) 6.24 4.22 4.85 2.93 0.75
1.11
0.85 1.57 1.22 1.74 1.43 1.60 2.28 0.73
1.27
3.01 3.04 1.18 0.55 1.57 2.08 1.34 0.82
2010*** I II III IV I II iii IV I
Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0.66 3.01 3.56 1.25 (1.22) 1.18 3.75 0.93 0.47 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1.14 0.66 5.60 0.34 (3.86) 3.65 4.64 5.13 (1.32) Lembaga Swasta Nirlaba 0.16 2.76 1.03 9.24 5.59 3.44 1.91 1.95 16.98 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 0.54 1.42 1.07 5.60 (4.51) 1.04 1.72 4.82 (4.97) Perubahan Stok 0.78 3.55 3.38 2.53 1.14 0.83 1.93 0.74 (2.66)
-12.98 1.61 -7.53 -0.41 4.41 1.69 11.27 0.18 -10.12
-11.41 0.82 -4.89 1.01 -1.20 1.68 12.45 1.83 -10.56
1.27
3.01 3.04 1.18 0.55 1.57 2.08 1.34 0.82 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
JENIS PENGELUARAN 2008*
Ekspor Impor
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Pertanian
Bangunan
Jasa-Jasa
LAPANGAN USAHA 2008* 2009**
2009**
B. PDRB Sisi Produksi
Perkembangan PDRB Provinsi Jambi menunjukkan bahwa sektor-sektor
yang masih memberikan kontribusi cukup besar adalah sektor pertanian, serta
sektor perdagangan, hotel dan restoran (lihat grafik 1.3). Kontribusi terbesar
terhadap pertumbuhan disumbangkan oleh sektor pertanian sebesar 0,40%
(q-t-q), diikuti oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (0,17%/q-t-q).
Dari sisi distribusinya (share), pada periode triwulan laporan
menunjukkan bahwa sektor primer masih menjadi penyumbang terbesar yaitu
41,60% dari jumlah PDRB Provinsi Jambi, diikuti sektor jasa-jasa (tersier) 39,48%
dan sektor sekunder sebesar 18,92%.
Grafik 1.3. Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (q-t-q)
0.15 (0.05) 0.27 0.00 0.07 0.36 0.18 0.16 0.20 0.40 0.03 0.06 0.01 0.04 0.17 0.03 0.04 0.06
(0.40) (0.30) (0.20) (0.10) - 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60
Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Air dan Gas bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan Jasa-Jasa
Trw I-10
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Nominal PDRB Provinsi Jambi atas dasar harga berlaku tercatat sebesar
Rp11,68 triliun yang secara sektoral masih didominasi oleh sektor pertanian
sebesar 25,82%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 19,57%, serta
sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 15,27%. Dengan demikian,
struktur ekonomi regional dalam jangka pendek relatif tidak mengalami
perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.4).
Grafik 1.4. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan I Tahun 2010
Pertanian, Perkebunan,
Peternakan, Kehutanan & Perikanan
25.82%
Pertambangan dan Penggalian
19.57% Industri Pengolahan
11.63% Listrik dan Air bersih
0.81% Bangunan
4.72% Perdagangan, Hotel
dan restauran 15.27% Pengangkutan dan
Komunikasi 6.93%
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 5.20%
Jasa-jasa 10.05%
1. Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Pada triwulan laporan, sektor pertanian, perkebunan, peternakan,
kehutanan dan perikanan tumbuh sebesar 1,32% (q-t-q), meningkat
dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,50% (q-t-q).
Peningkatan laju pertumbuhan sektor ini berasal dari meningkatnya produksi
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
9
Grafik 1.5 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan IV tahun 2009 (ha)Grafik 1.6 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan I tahun 2010 (ha)
48,196 14,846
3,388
2,181 457 170 871 591
Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai
Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar
Grafik 1.5
33,553 3,491 1,925
2,202 460
104
851 621
Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai
Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar
Grafik 1.6
Grafik 1.7 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan IV tahun 2009 (ha) Grafik 1.8 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan I tahun 2010 (ha)
22,088 4,873
5,431 2,071
441 110 746 509
Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai
Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar
Grafik 1.7
29,251 17,416
1,354 1,356 404
103753 440
Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai
Grafik 1.8
Sumber: BPS Provinsi Jambi, 2010
Sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) mengalami pertumbuhan
menjadi 1,90% (q-t-q) setelah pada triwulan lalu mengalami penurunan sebesar
2,75%. Masuknya musim panen tanaman sejak bulan Februari lalu memicu
meningkatnya pertumbuhan nilai tambah sektor tabama. Pada triwulan laporan,
luas panen komoditas tanaman bahan makanan (tabama) meningkat sebesar
14,81 Kha menjadi sebesar 51,08 Kha. Peningkatan luas panen tersebut
disumbangkan oleh meningkatnya luas panen padi baik padi sawah maupun padi
ladang sementara komoditi lainnya seperti jagung, kedelai, kacang-kacangan dan
ubi-ubian mengalami penurunan. Sebaliknya, luas tanam komoditi tabama
mengalami penurunan yaitu dari 70,70 Kha menjadi 43,21 Kha (grafik 1.5-grafik
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Nilai Tukar Petani (NTP) (s.d. bulan Februari 2010), mengalami sedikit
peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.4
NTP Februari 2010
dibandingkan NTP Desember 2009 meningkat sebesar 0,34% menjadi 95,14. Hal
ini dikarenakan peningkatan indeks yang diterima petani (1,86%) lebih tinggi
dibandingkan indeks yang dibayarkan yang sebesar 1,53% (lihat grafik 1.12 dan
1.9). Namun demikian, Nilai Tukar Petani yang masih dibawah 100 menunjukkan
bahwa pendapatan petani Jambi masih lebih rendah dibanding harga-harga
kebutuhan hidup dan biaya bertani.
Grafik 1.9. Perkembangan Harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi
6,373.1 6,790.0
2,678.3
3,717.2
1,290.71,403.8
0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3
2007 2008 2009 2010
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi
Harga (Rp)
CPO INTI TBS 10 TAHUN
Sub sektor perkebunan yang mempunyai share sebesar 11,99% dari PDRB
mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,15% (q-t-q), menurun dibandingkan
triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,98% (q-t-q). Melambatnya pertumbuhan
sub sektor ini antara lain didukung oleh menurunnya produksi karet dan pinang.
Hujan deras yang melanda Jambi di awal tahun ini menghambat aktivitas
ekonomi terutama terkait dengan panen hasil perkebunan.
Namun demikian, tren peningkatan harga komoditas perkebunan mampu
meningkatkan gairah para petani sehingga sektor perkebunan masih mampu
4
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
11
tumbuh positif. Harga tandan buah segar (TBS) serta CPO Jambi terus mengalami
peningkatan di triwulan laporan. Pada bulan Maret 2010, harga TBS 10 tahun
dan CPO masing-masing mencapai Rp1.404/kg dan Rp6.790/kg meningkat
masing-masing sebesar 8,76% dan 6,54% dibandingkan posisi Desember 2009.
Grafik 1.10 Pertumbuhan Indikator Produksi
Sub Sektor Hortikultura dan Sub Sektor Tanaman Perkebunan (%) Grafik 1.11 Pertumbuhan Indikator Produksi,
Sub Sektor Peternakan dan Sub Sektor Perikanan (%)
20.39
(12.64) 1.38 98.04
(32.56) (40)
(20) -20 40 60 80 100
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
Produksi Hortikultura Produksi Karet Produksi Kelapa Sawit
Produksi Kelapa Produksi Pinang
Grafik 1.10
3.64 20.04
(1.74)
(40) (20) -20 40 60 80 100 120
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
Produksi Telur Produksi Daging Produksi Perikanan
Grafik 1.11
Grafik 1.12 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi
111.84112.92 113.92 117.94 119.21 119.74
94.82 94.72 95.14
80 90 100 110 120 130
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2
2009 2010
indeks terima indeks bayar NTP
Sumber: BPS Provinsi Jambi,2009.
Meningkatnya pertumbuhan sub sektor perkebunan disumbangkan oleh
meningkatnya hasil perkebunan kelapa, holtikultura dan kelapa sawit.
Berdasarkan data prompt indikator sub sektor perkebunan selama periode
triwulan laporan, produksi kelapa meningkat 98,04%, produksi holtikultura
meningkat 20,39% dan produksi kelapa sawit meningkat 1,42%. (lihat grafik
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Realisasi penyaluran pupuk dalam menunjang proses produksi sub sektor
tanaman bahan makanan dan sub sektor tanaman perkebunan pada triwulan
laporan sebesar 19.372,3 ton.5
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Jambi, penyaluran pupuk bersubsidi sebagian besar
didominasi oleh pupuk Urea (62,78%), diikuti oleh pupuk NPK Phonska
(18,46%), SP-36 (14,47%), dan ZA (4,29%).
Grafik 1.13. Distribusi Jenis Pupuk
Grafik 1.14. Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk
0 5000 10000 15000 20000 25000 TW I
TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I
2008
2009
2010
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi
(Ton)
SP-36/Superphos ZA NPK PHONSKA Urea
Grafik 1.13
(40.00) (20.00) -20.00 40.00 60.00 80.00
0 5000 10000 15000 20000 25000
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I
2008 2009 2010
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi
Persen (%) Ton
Realisasi Pupuk (Ton) Pertumbuhan Realisasi Pupuk
Grafik 1.14
Pada triwulan laporan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya tumbuh
melambat yaitu sebesar 0,84% (q-t-q) setelah pada triwulan lalu tumbuh sebesar
2,35% (q-t-q). Setelah mengalami peningkatan permintaan hasil ternak saat
menjalani Hari Raya Kurban (Idul Adha) pada triwulan lalu, maka produksi
peternakan dan hasil-hasilnya kembali stabil di triwulan laporan. Sementara itu
sub sektor perikanan mengalami peningkatan sebesar 0,35% (q-t-q) setelah pada
triwulan sebelumnya mengalami penurunan sebesar 0,57% (q-t-q).
Sub sektor kehutanan mengalami pertumbuhan sebesar 0,14% (q-t-q),
sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar
0,12% (q-t-q). Sub sektor kehutanan yang sempat menjadi primadona bagi
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi mulai menurun kontribusinya semenjak
aparat keamanan mulai intensif dalam memberantas penebangan liar (illegal
logging).
5
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
13
2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Sektor perdagangan, hotel dan restoran masih mampu tumbuh sebesar
0,97% (q-t-q); melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya
sebesar 3,12% (q-t-q). Pelambatan ini terutama disebabkan oleh siklus musiman.
Periode triwulan IV-2009, sektor PHR mampu tumbuh lebih baik yang didorong
oleh aktivitas perdagangan selama Idul Adha 1430 H serta hari Natal dan Tahun
Baru.
Pada triwulan laporan, sub sektor perdagangan besar dan eceran masih
tumbuh sebesar 1,03% (q-t-q) melambat dari triwulan sebelumnya 2,18%/q-t-q).
Sub sektor hotel dan sub sektor restoran masing-masing tumbuh sebesar 0,42%
(q-t-q) serta 0,39% (q-t-q).
Terbatasnya konsumsi masyarakat pada triwulan laporan terutama untuk
kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sekunder mendorong melambatnya aktivitas
perdagangan pada periode triwulan laporan.
Grafik 1.15. Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR Grafik 1.16. Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis
(2.41) 32.34 10.46 21.21 (20) -20 40 60 80 100 120
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
(%) Persen
Harga Perdagangan Besar Harga Perdagangan Barang Konstruksi Perdagangan Kendaraan Bermotor Perdagangan Pulsa Tingkat Hunian Hotel Restorasi
* Perhitungan perdagangan kendaraan bermotor, perdagangan pulsa dan restorasi sejak tahun 2009
Grafik 1.16
(25.48) 5.61 4.88
22.41 (10.43) 4.43 (7.36) 8.99 (7.42) 19.27 (0.46) 12.96 (15.75) -30.0 -20.0 -10.0 0.0 10.0 20.0 30.0 -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PLN Jambi, 2008 (diolah)
KWH (dalam Ribuan)
Bisnis Pertumbuhan Bisnis
Grafik 1.17
Masih tumbuhnya sektor PHR pada triwulan laporan dikonfirmasi dengan
meningkatnya indeks produksi baik sub sektor perdagangan, restorasi dan tingkat
hunian hotel. Peningkatan yang cukup signifikan dialami oleh indeks
perdagangan pulsa dan indeks restorasi yaitu masing-masing sebesar 32,34%
dan 21,21%. (lihat grafik 1.16.).
Melambatnya pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
bisnis yang sempat meningkat pada triwulan lalu, saat ini mengalami penurunan
sebesar 15,75%. Sektor perdagangan, hotel dan restoran berdasarkan pangsanya
didominasi oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai
14,14% terhadap PDRB, diikuti oleh sub sektor restoran dan sub sektor hotel
masing-masing sebesar 0,93% dan 0,20%.
3. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan dan penggalian meningkat sebesar 0,23% (q-t-q)
jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun sebesar 0,45% (q-t-q). Kondisi
ini didorong oleh meningkatnya hasil pertambangan migas, non migas dan
penggalian masing-masing sebesar 0,18%; 0,14%; 0,69%. Sub sektor
pertambangan non migas dan penggalian yang mengalami penurunan pada
triwulan lalu kini dapat kembali meningkat. Di sisi lain, pertambangan migas
mengalami perlambatan pertumbuhan. Perlambatan produksi migas pada
triwulan laporan diperkiraan akibat menurunnya lifting migas.
Grafik 1.17. PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi Grafik 1.19. Lifting Minyak Bumi
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV* I
2005 2006 2007 2008 2009 2010
Ribu Barel
Keterangan: *) angka perkiraan Bank Indonesia Jambi untuk bulan Desember 2009.
Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi dan BPS Provinsi Jambi (diolah)
miliar rupiah
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
15
Grafik 1.18. Lifting Minyak Bumi(40.00) (30.00) (20.00) (10.00) -10.00 20.00 30.00 40.00
-2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I*
2006 2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi. *: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi untuk triwulan I 2010
BBTU
Lifting Gas Alam (BBTU), aksis kiri Pertumbuhan, aksis kanan
Meningkatnya hasil produksi penggalian salah satunya dipicu oleh
peningkatan produksi bahan galian gol. C. Hal ini dikonfirmasi dari meningkatnya
indeks produksi penggalian sebesar 1,39% pada triwulan laporan. Sementara itu
perkembangan produksi batu bara relatif belum menunjukkan perkembangan
yang menggembirakan. Salah satu kendala dalam pengembangan usaha batu
bara di Jambi adalah terkait dengan perizinan. Mudahnya proses izin usaha batu
bara diharapkan dapat semakin menggalakkan pengembangan sektor ini yang
berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah.
Grafik 1.19. Pertumbuhan Indeks Produksi Batubara dan Bahan Galian Gol. C (%)
(6.39) 1.39
(30) (20) (10) -10 20 30 40 50
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
4. Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 0,41% (q-t-q), melambat
bila dibandingkan angka triwulan sebelumnya 1,99% (q-t-q). Melambatnya
pertumbuhan pada sektor ini dipicu oleh melambatnya pertumbuhan baik sub
sektor industri migas ataupun tanpa migas yang masing-masing sebesar 0,62%
(q-t-q) dan 0,40% (q-t-q).
Grafik 1.20. Volume Penjualan Minyak Bakar dan Minyak Diesel Grafik 1.21. Perkembangan Total Pemakaian Listrik sektor industri
(100.0) (50.0) -50.0 100.0 150.0 200.0 250.0 -2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I
2006 2007 2008 2009 2010
(%)
Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang Kilo Liter
M. Bakar g.Myk. Bakar
Grafik 1.20 (1.48) 3.86 6.88 (10.46) (2.21) 4.69 (13.99) (0.16) 2.16 5.39 (3.61) 18.82 4.49 -20.0 -15.0 -10.0 -5.0 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 -2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo, 2009 (diolah)
KWH (dalam Ribuan)
Industri Pertumbuhan Industri
Grafik 1.21
Melambatnya sub sektor industri migas terlihat dari menurunnya
konumsi minyak bakar pada triwulan laporan. Sementara itu, konsumsi listrik
sektor industri pada triwulan laporan menunjukkan trend yang serupa yaitu
tumbuh melambat sebesar 4,49%.
Grafik 1.22. Perkembangan Indeks Produksi Industri Karet, CPO, Makanan dan Minuman Grafik 1.23. Perkembangan Indeks Produksi Industri Barang dari Semen, Kayu dan Batu Bata
0.18 (20.88) 163.79 73.22 46.80 (50) -50 100 150 200
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
Industri Karet Industri CPO
Industri Makanan Industri Minuman
Grafik 1.22 8.88 5.33 (150) (50) 50 150 250 350
Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2-09 Q3-09 Q4-09 Q1-10
Industri Barang dari Semen Industri Barang dari Kayu Industri Batu Bata
Grafik 1.23
Melambatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan tanpa migas
tercermin dari melambatnya bahkan menurunnya indeks produksi beberapa
industri pengolahan di Jambi. Industri CPO yang merupakan salah satu industri
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
17
perkebunan kelapa sawit pada triwulan laporan memicu turunnya hasil produksi
CPO. Sementara itu industri pengolahan karet mengalami peningkatan walaupun
sangat kecil yaitu sebesar 0,18%. Perkembangan industri yang masih cukup baik
adalah untuk industri primer seperti industri makanan.
5. Sektor-sektor Lain
Sektor listrik, gas, dan air (LGA) bersih tumbuh sebesar 0,82% (q-t-q)
pada triwulan laporan atau lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan triwulan
sebelumnya yang sebesar 0,04% (q-t-q). Meningkatnya pertumbuhan sektor ini
berasal dari tumbuhnya sub sektor listrik dan air bersih yaitu masing-masing
sebesar 0,86% (q-t-q) dan 0,56% (q-t-q).
Jumlah konsumsi listrik pada triwulan laporan mengalami penurunan
sebesar 0,05%. Penurunan konsumsi listrik ini dipicu oleh menurunnya konsumsi
sektor bisnis sebesar 15,75%. Namun demikian, terus meningkatnya konsumsi
listrik untuk sektor lainnya terutama rumah tangga dan lainnya membuat
penurunan konsumsi listrik secara total relatif kecil.
Grafik 1.24. Perkembangan Total Pemakaian Listrik Grafik 1.25. Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik
(2.25) 4.68
6.77 6.77
(2.64) 7.05 (1.80) 8.02 (3.49) 6.99 1.45 3.60 (0.05) -5.0 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 -50,000 100,000 150,000 200,000 250,000
I II III IV I II III IV I II III IV I 2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo, 2009 (diolah)
KWH (dalam Ribuan)
Total Pemakaian Pertumbuhan Total
Grafik 1.24
2.14
0.75 2.93
3.60 3.41
2.82
2.32 2.57
3.05
0.50 0.41 1.28 3.10 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 -50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo, 2009 (diolah) Pelanggan
Total Pelanggan Perumbuhan Pelanggan
Grafik 1.25
Sementara, sub sektor air bersih tumbuh sebesar 0,56% (q-t-q).
Konsumsi air bersih melalu PDAM Kota Jambi pada triwulan laporan sebesar 2,63
juta M² menurun sebesar 3,21% dari bulan lalu. Penurunan ini dipicu oleh
menurunnya konsumsi air oleh rumah tangga sebesar 3,40%. Namun demikian
konsumsi air oleh industri menunjukkan peningkatan sebesar 0,16% sehingga
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Grafik 1.26. Perkembangan Total Konsumsi Air Kota Jambi
-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000
400,000 450,000 500,000 550,000 600,000 650,000 700,000 750,000 800,000 850,000 900,000
4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
2008 2009 2010
m3
Sumber: PDAM Tirta Mayang Kota Jambi, 2009 m3
Rumah Tangga Industri
Sektor bangunan masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,77% (
q-t-q) walaupun melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya. Melambatnya
pertumbuhan sektor bangunan dikonfirmasi dengan menurunnya konsumsi
semen sebesar 3,58%. Hal yang senada juga ditunjukkan oleh indeks industri
batu bata yang turun sebesar 18,64% pada triwulan laporan.
Grafik 1.27. Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen
(30.00) (20.00) (10.00) -10.00 20.00 30.00 40.00
-50,000 100,000 150,000 200,000 250,000
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I
2007 2008 2009 2010
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia dan BPS Provinsi Jambi (diolah)
PDRB sektor Bangunan (juta Rp), aksis kiri Konsumsi Semen (ton), aksis kiri
Pert. Konsumsi Semen (%), aksis kanan Pert. PDRB Bangunan (%), aksis kanan
Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar
0,32% (q-t-q) pada triwulan laporan, melambat dari triwulan sebelumnya yang
tumbuh sebesar 2,33% (q-t-q). Melambatnya pertumbuhan sektor ini terutama
berasal melambatya pertumbuhan sub sektor pengangkutan yang tumbuh
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
19
Pasca hari besar keagamaan (Idul Adha, Tahun Baru Hijriah, Natal) serta
tahun baru 2010, aktivitas transportasi masyarakat cenderung mengalami
perlambatan. Aktivitas transportasi melalui angkutan darat seperti jasa bus antar
kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP) serta
penggunaan jasa travel dan sewa mobil tumbuh melambat. Relatif lebih stabilnya
demand akan moda transportasi ini menyebabkan moda transportasi ini masih
tumbuh dalam triwulan laporan.
Sementara itu, sektor angkutan udara mengalami penurunan 0,44%
(q-t-q). Hal ini tercermin dari jumlah lalu lintas penumpang di Bandar Udara Sultan
Thaha masih yang mengalami penurunan untuk kedatangan dan keberangkatan
masing-masing 3,36% dan 3,50%. Namun demikian, pada triwulan laporan
terdapat penambahan sebuah rute penerbangan baru yaitu Jambi-Kerinci.
Adanya penerbangan baru yang melayani dua kali seminggu ini diharapkan dapat
semakin mempermudah hubungan dan komunikasi antara Kota Jambi dengan
wilayah timur provinsi Jambi.
Grafik 1.28. PDRB Sub Sektor Angkutan Udara dan Jumlah Konsumsi Avtur
(30) (20) (10) -10 20 30 40 50 60
-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000
TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I*
2005 2006 2007 2008 2009 2010
Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Konsumsi bulan Maret 2010 merupakan angka perkiraan
PDRB sub sektor Angkutan Udara (juta Rp), aksis kiri Konsumsi Avtur (ratusan liter), aksis kiri
Pert. Konsumsi Avtur (%), aksis kanan
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Grafik 1.30. Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang
(15) (10) (5) -5 10 15 20 -20 40 60 80 100 120
I II III IV I II III IV I II III IV I 2007 2008 2009 2010
Persen (%)
T
hous
a
nds
Sumber: PT. Angkasa Pura II ribu orang
Kedatangan Penumpang (aksis kiri) Keberangkatan Penumpang (aksis kiri) Datang (aksis kanan) Berangkat (aksis kanan)
Grafik 1.29 (30) (20) (10) -10 20 30 40 50 60 -100 200 300 400 500 600 700 800 900 1,000
I II III IV I II III IV I II III IV I 2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PT.Angkasa Pura II ton
Jumlah Bongkar (aksis kiri) Jumlah Muat (aksis kiri) Pertumbuhan Bongkar (aksis kana) Pertumbuhan Muat (aksis kanan)
Grafik 1.30
Pada triwulan laporan, sub sektor angkutan laut tumbuh sebesar 0,18%.
Tumbuhnya sub sektor angkutan tercermin dari meningkatnya arus barang
sementara arus peti kemas mengalami penurunan. Total arus barang tercatat
sebanyak 1,62 juta ton, meningkat 8,96% dibandingkan triwulan sebelumnya.6
Sedangkan jumlah arus peti kemas berdasarkan perdagangan di Pelabuhan
Tungkal dan Pelabuhan Talang Dukuh sebesar 12.192 peti kemas, turun 15,35%
dibandingkan triwulan sebelumnya.7
Grafik 1.31. Perkembangan Total Arus Peti Kemas Grafik 1.32. Perkembangan Total Arus Barang
-40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
persen(%)
Sumber: Pelindo Jambi
ribu unit
Jumlah Total Arus Barang Pertumbuhan
Grafik 1.31 -100 -50 0 50 100 150 200 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
persen(%)
Sumber: Pelindo Jambi
ribu unit
Jumlah Arus Peti Kemas Pertumbuhan
Grafik 1.32
Perkembangan sub sektor telekomunikasi tercermin dari jasa pos dan
telekomunikasi serta jasa penunjang komunikasi masing-masing yang mengalami
pertumbuhan sebesar 2,18% (q-t-q) dan 1,79% (q-t-q), melambat dibandingkan
triwulan sebelumnya yang sebesar 2,32% (q-t-q) dan 2,07% (q-t-q).
6
Total arus barang yang dimaksud terdiri dari impor, ekspor, bongkar dan muat..
7
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
21
Sektor keuangan, persewaan, dan jasa-jasa perusahaan tumbuh sebesar
0,75% (q-t-q) pada triwulan laporan atau melambat dibandingkan triwulan
sebelumnya sebesar 2,93% (q-t-q). Pelambatan tersebut terutama disebabkan
oleh melambatnya pertumbuhan sub sektor bank yang memiliki pangsa cukup
besar pada sektor keuangan, persewaan dan jasa-jasa. Sub sektor bank tumbuh
melambat sebesar 0,81% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya yang
mampu mencapai 4,54% (q-t-q).
Sektor jasa-jasa pada triwulan laporan mengalami perlambatan dengan
tumbuh 0,73% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh
mencapai 2,28% (q-t-q). Pelambatan ini dipicu oleh melambatnya semua sub
sektor jasa-jasa. Setelah akselerasi realisasi pembangunan di akhir tahun lalu yang
dilakukan oleh pemerintah, jasa pemerintahan umum kini mengalami
perlambatan dengan tumbuh 0,83% (q-t-q) dari triwulan lalu yang tumbuh
0,73% (q-t-q).
C. PDRB Sisi Pengeluaran
Ditinjau dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada
triwulan laporan terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga
dan nirlaba. Perdagangan antar daerah dan luar negeri provinsi Jambi yang
tercermin dari angka ekspor dan impor mengalami penurunan. Sementara itu
lebih tingginya nilai impor (dari luar daerah dan luar negeri) dari pada ekspor (ke
luar daerah dan luar negeri) menyebabkan Provinsi Jambi mengalami net impor
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Grafik 1.33. Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran terhadap Pertumbuhan (q-t-q) 8
0.67 0.99 0.01
0.76 0.02
(1.12)
0.34 -0.26
0.10 -0.81
-0.08
1.55
-2.00 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00
Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Lembaga Swasta Nirlaba Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Perubahan Stok Net Ekspor/Impor
Trw I-10 Trw IV-09
Dari sisi distribusinya (share), konsumsi rumah tangga masih mempunyai
pangsa yang paling besar, yaitu mencapai 69,95% dari PDRB Jambi pada triwulan
I-2010 (lihat grafik 1.34). Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah dan
PMTDB juga memiliki pangsa yang relatif besar dengan masing-masing
sebesar 18,26% dan 16,75%. Sedangkan share perubahan stok sebesar 2,57%
dan lembaga swasta nirlaba sebesar 0,65%.
Grafik 1.34. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan I tahun 20109
Pengeluaran konsumsi rumah
tangga 63.95%
Pengeluaran Konsumsi pemerintah
18.26% Lembaga Swasta
Nirlaba 0.65%
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto
16.75%
Perubahan Stok
2,57% Net Impor2.18%
8
Yang dimaksud kontribusi ’net ekspor’ adalah nilai kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan dikurangkan dengan nilai kontribusi impor terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan. Jika
bernilai positif disebut net ekspor, sedangkan jika bernilai negatif disebut net impor.
9
Pangsa (share) net impor sebesar 9,67% merupakan pengurang dari total share PDRB sisi
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
23
1. Pengeluaran KonsumsiPertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga
konstan selama triwulan laporan sebesar 0,47% (q-t-q), melambat dibandingkan
triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,93% (q-t-q). Masih tumbuhnya konsumsi
masyarakat terlihat dari masih meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga
sebesar 1,15%. Hal ini didukung juga dengan meningkatnya indeks keyakinan
konsumen (IKK), indeks kondisi ekonomi (IKE) dan indeks ekspektasi konsumen
(IEK) dibandingkan triwulan sebelumnya.
Grafik 1.35. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
Grafik 1.36. Konsumsi Listrik Rumah Tangga
0 20 40 60 80 100 120 140 160
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2009
Indeks
Indeks Kondisi Ekonomi Indeks Ekspektasi Konsumen
Indeks Keyakinan Konsumen
Grafik 1.35 (0.55) 1.75 7.87 6.51 (2.87) 6.73 0.64 8.29 (1.94) 4.98 4.25
0.40 1.15
-4.0 -2.0 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 -20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen (%)
Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo, 2009 (diolah) KWH (dalam Ribuan)
Rumah Tangga Pertumbuhan RT
Grafik 1.36
Namun demikian, pelambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga
pada triwulan laporan masih ditopang oleh meningkatnya daya beli masyarakat
terhadap pembelian kendaraan bermotor. Penjualan kendaraan bermotor pada
triwulan laporan meningkat sebesar 8,18% yang didorong oleh meningkatnya
penjualan penjualan sedan, jeep dan minibus (118,52%), minibus/combi/micro
sebesar 20,59%, penjualan truck/pick up (9,52%), serta penjualan sepeda motor
(7,83%). Hal ini mencerminkan bahwa konsumsi masyarakat terhadap kendaraan
bermotor terus membaik setelah sempat mengalami penurunan pertumbuhan
semenjak semenjak triwulan III-2008 sampai dengan triwulan I-2009.
Pada periode triwulan laporan, pengeluaran konsumsi pemerintah
mengalami penurunan sebesar 1,32% (q-t-q), dari triwulan sebelumnya yang
mampu tumbuh mencapai 5,13% (q-t-q). Pada triwulan laporan, belanja
pemerintah belum terealisasi secara optimal dimana realisasi belanja baru yang
bersifat administratif. Sementara, pengeluaran konsumsi lembaga nirlaba tumbuh
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
sebesar 1,95% (q-t-q). Masa akhir tahun perusahaan swasta yang berakhir di
bulan Februari-April memicu tingginya pengeluaran swasta di triwulan laporan.
Grafik 1.37. Perkembangan Penjualan Premium Grafik 1.38. Perkembangan Penjualan Solar Grafik 1.39. Perkembangan Penjualan Minyak Tanah
Grafik 1.40. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi Grafik 1.41. Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor
Grafik 1.42. Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru
(10.0) (5.0) -5.0 10.0 15.0 20.0 -10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I
2006 2007 2008 2009 2010 (%)
Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang Kilo Liter Premium g.Premium Grafik 1.37. (30.0) (20.0) (10.0) -10.0 20.0 30.0 40.0 -20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I
2006 2007 2008 2009 2010
(%)
Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang Kilo Liter
M. Solar g.M. Solar
Grafik 1.38. (20.0) (15.0) (10.0) (5.0) -5.0 10.0 -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000
II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I
2006 2007 2008 2009 2010 (%)
Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang Kilo Liter M.Tanah g.M.Tanah Grafik 1.39. 7.03 1.87 3.80 3.60 3.33 12.68 11.96 5.24 8.38 10.9811.71 2.43 5.48 9.01 1.77 -0.42 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 16
TW I TW II TW III TW IV
TW I TW II TW III TW IV
TW I TW II TW III TW IV
TW I TW II TW III TW IV
2006 2007 2008 2009
Kredit Konsumsi (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan Kredit Konsumsi (%),aksis kiri
Grafik 1.40.
(14.21) 21.56 26.81
9.78 23.64
1.61 (1.58)
(32.52) (33.43) 8.22
43.83
3.99 8.18
(50) (40) (30) (20) (10) -10 20 30 40 50 -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen(%)
Sumber: Dispenda Provinsi Jambi
unit KENDARAAN BERMOTOR Pertumbuhan
Grafik 1.41.
(15.19) 21.26 26.81
10.01 23.49
1.05 (1.04)
(32.73) (34.04) 9.33 44.35 4.06 7.83 (50) (40) (30) (20) (10) -10 20 30 40 50 -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen(%)
Sumber: Dispenda Provinsi Jambi unit
SEPEDA MOTOR Pertumbuhan
Grafik 1.42.
2. Investasi
Pada triwulan laporan, pembentukan modal tetap domestik bruto
(PMTDB) mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) menurun sebesar 4,97% (
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
25
investasi yang meningkat di akhir tahun kini menunjukkan penurunan di awal
tahun ini.
Grafik 1.43. Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru
Grafik 1.44. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi Grafik 1.45. Konsumsi Semen Provinsi Jambi
(60) (40) (20) -20 40 60 -200 400 600 800 1,000 1,200 1,400
I II III IV I II III IV I II III IV I
2007 2008 2009 2010
Persen(%)
Sumber: Dispenda Provinsi Jambi unit
TRUCK/PICK UP Pertumbuhan
Grafik 1.43.
3.261.60 14.28 16.65 16.18 11.78 10.28 1.21 -0.11 4.85 9.65 5.92 0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 1,600,000 1,800,000 2,000,000 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV
2007 2008 2009
Kredit Investasi (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan Kredit Investasi (%),aksis kiri
Grafik 1.44.
(60.0) (40.0) (20.0) -20.0 40.0 60.0 80.0 -10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
2008 2009 2010
(%)
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia (ASI), diolah
Ton
Konsumsi Semen Pertumbuhan
Grafik 1.45.
Sementara itu, dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) terlihat
situasi bisnis masih cukup baik pada triwulan laporan, tercermin dari nilai saldo
bersih situasi bisnis dunia usaha sebesar 18,75. Masih relatif baiknya situasi bisnis
dunia usaha juga berdampak pada masih tumbuhnya kredit investasi sebesar
5,92% atau sebesar Rp98,94 miliar pada triwulan laporan. Hal ini juga tercermin
dari prompt indikator investasi yaitu meningkatnya penjualan kendaraan
truck/pick up sebesar 1,76% serta meningkatnya konsumsi semen sebesar
30,86% pada triwulan laporan.
Perubahan stok pada triwulan I-2010 mengalami penurunan sebesar
2,66% (q-t-q) dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,74% (q-t-q).
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
3. Perdagangan Eksternal10
Perkembangan ekspor dan impor Provinsi Jambi (ke/dari luar daerah
maupun ke/dari luar negeri) mengalami penurunan. Ekspor provinsi Jambi barang
(dari luar provinsi maupun luar negeri) turun 10,12% (q-t-q) dibandingkan
triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,18% (q-t-q). Sementara impor barang (dari
luar provinsi maupun luar negeri) mengalami penurunan mencapai 10,56% jika
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,83% (q-t-q). Pada
triwulan laporan, impor Provinsi Jambi mencapai Rp5,51 triliun, lebih tinggi
dibandingkan ekspor yang hanya mencapai Rp5,3 triliun
3.1. Ekspor Impor Antar Daerah
Dilihat karakteristiknya, ketergantungan Provinsi Jambi dari daerah
(provinsi lain) cukuplah besar. Hal ini dapat dilihat dari pangsa impor yang relatif
lebih besar dibandingkan ekspor. Sekitar 95,45% impor Provinsi Jambi berasal
dari daerah lain, hanya sekitar 4,55% yang berasal dari luar negeri. Sejalan
dengan hal tersebut, perkembangan ekspor juga didominasi oleh ekspor ke luar
daerah (provinsi lain) yang mencapai 62,54% dari total ekspor Provinsi Jambi.
Penurunan ekspor dan impor pada triwulan laporan terutama dipicu dari
turunnya ekspor dan impor ke/dari luar daerah (provinsi lain). Ekspor Provinsi
Jambi ke luar daerah (provinsi lain) menurun sebesar 12,31% (q-t-q) sementara
impor Provinsi Jambi dari daerah (provinsi) lain turun 10,20% (q-t-q).
Grafik 1.46. Pangsa Ekspor Provinsi Jambi triwulan I-2010 Grafik 1.47. Pangsa Impor Provinsi Jambi triwulan I-2010
Ekspor Luar Negeri
26.45%
Ekspor Antar Daerah
73.55%
Grafik 1.46
Impor Luar Negeri
2.33%
Impor Antar Daerah
97.67%
Grafik 1.47
10
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
27
3.2. Ekspor Impor Luar NegeriPerkembangan ekspor impor luar negeri Provinsi Jambi masih mengalami
perkembangan yang baik. Berdasarkan dokumen pemberitahuan ekspor barang
(PEB), ekspor Provinsi Jambi sebesar USD 138,77 juta sedangkan impor sebesar
USD 18,15 juta pada triwulan laporan.11
Dengan ko