• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI KOTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI KOTA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI KOTA

Kabupaten Lombok Timur sebagai bagian dari kabupaten yang ada di Pulau Lombok terletak pada 116º – 117º Bujur Timur dan 8º – 9º Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah seperti terlihat pada tabel 1 dan gambar 1 Luas wilayah Kabupaten Lombok Timur 2.679,99 km2 yang terdiri dari daratan seluas 1.605,55 Km2 (59,91 % luas Lombok Timur) dan lautan seluas 1.074,33 Km2 (40,09 % luas Lombok Timur). Ketinggian topografi di Kabupaten Lombok Timur Cukup bervariasi mulai dari 0 meter diatas permukaan laut (mdpl) yang merupakan dataran pantai dibagian selatan Kabupaten Lombok Timur hingga 3.775 mdpl yang berupa areal pegunungan (kompleks Rinjani) di bagian utaranya. Sementara Ibu kota Kabupaten Lombok Timur yaitu Kota Selong memiliki ketinggian 148 meter dari permukaan laut.

Tabel 1 Batas Administrasi Kabupaten Lombok Timur

Sebelah Utara dengan : Laut Bali/Laut Jawa Sebelah Selatan dengan : Samudra Indonesia

Sebelah Barat dengan : Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara

Sebelah Timur dengan : Selat Alas (Pulau Sumbawa) Sumber: Perda RTRW Prov. NTB (2010); Raperda RTRW Kab. Lombok Timur (2011)

(2)
(3)

Berdasarkan data statistik dari Badan Meteorologi, temperatur maksimum pada tahun 2001 berkisar antara 30,9° – 32,1° C, dan temperatur minimum berkisar antara 20,6° - 24,5°C. Temperatur tertinggi terjadi pada bulan September dan terendah ada bulan November. Sebagai daerah tropis, NTB khususnya Kabupaten Lombok Timur mempunyai rata-rata kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara 48 - 95 %. Curah hujan di Kabupaten Lombok Timur umumnya terjadi antara bulan Desember - Maret dengan rata-rata jumlah hari hujan dalam sebulan berkisar antara 7,8 – 13,8 hari. Sementara rata-rata curah hujan pada bulan Desember – Maret yaitu sebesar 89,4 – 234,7 mm. Fluktuasi hujan baik jumlah hari dan besar curah hujan (mm) pada bulan Desember – Maret memiliki angka yang lebih besar dibandingkan dengan bulan lainnya, oleh karena itu, trend fluktuasi curah hujannya memiliki puncak pada bulan-bulan tersebut. Detail dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

Tabel 2 Rata-hujan di kabupaten Lombok Timur

Bulan Rata-rata curah Hujan

(mm) Rata-rata Hujan (hari)

Januari 234,7 13,8 Februari 202,8 12,8 Maret 93,9 7,8 April 27,7 2,2 Mei 44 5,5 Juni 7,7 0,3 Juli 2,2 0,5 Agustus 0 0 September 27,2 3 Oktober 29 2,3 November 19,3 2 Desember 89,4 7,8

Sumber: BPS Kab. Lombok Timur

2.1.Kondisi Umum sanitasi Kabupaten

Sektor sanitasi di Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan kemiskinan. Tidak memadainya sanitasi yang baik akan berdampak buruk terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan, sehingga yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat miskin. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah Kabupaten

(4)

Lombok Timur dalam upaya pencapaian target Millennium Development

Goals (MDGs) Indonesia Tahun 2015.

Secara umum akses sanitasi dasar masyarakat di Kabupaten Lombok Timur tergolong masih rendah. Hal ini tentunya berdampak pada masih tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, malaria, Chikungunya dan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sering menimbulkan KLB di Kabupaten Lombok Timur. Disamping itu akibat dari kurangnya sarana air bersih dan sanitasi, menjadi masalah besar terutama bagi wanita dan anak-anak karena waktunya banyak tersita untuk mengambil air dari jarak yang jauh demi kebutuhan untuk mencuci, memasak dan minum. Sampai tahun 2010 cakupan penduduk yang terlayani air bersih baru mencapai 73,93% dengan sumber air berupa sumur gali, perpipaan, sumur pompa tangan dan penampungan air hujan (PAH). Akses air bersih ini masih dibawah target Nasional yaitu 85%. Akses kepemilikan jamban, Sarana Pembuangan Limbah cair (SPAL) dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) juga masih rendah. Cakupan rumah tangga yang menggunakan jamban sampai tahun 2010 baru mencapai 62,83%, cakupan SPAL 45,96%, serta rumah tangga yang memiliki TPS 41,02%. Angka capaian ini masih jauh dibawah target MDGs tahun 2015 yaitu sebesar 65%

Selain itu sampah di Kabupaten Lombok Timur belum dikelola dengan baik. Hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat terlayani dengan mobil pengangkut sampah, sehingga sebagian besar masyarakat membuang sampah di sembarang tempat termasuk disungai, selokan atau drainase. Kondisi ini menyebabkan sungai ataupun drainase tersumbat dan akhirnya mengakibatkan terjadinya genangan ataupun banjir. Disamping itu sungai ataupun drainase juga dijadikan sebagai tempat buang air besar masyarakat. Sehingga sebagian besar sungai ataupun drainase yang ada, memiliki potensi untuk menyebabkan pencemaran terhadap sumber air masyarakat, bahkan tidak jarang penularan/penyebaran penyakit banyak dipengaruhi oleh air sungai, terutama penyakat diare yang sering menimbulkan Kejadian luar Biasa (KLB) di Kabupaten Lombok Timur.

2.1.1. Kesehatan Lingkungan

Isu lingkungan saat ini semakin menjadi perhatian karena besarnya dampak negatif yang dapat ditimbulkan akibat akumulasi beban

(5)

pencemaran yang tidak dapat terkontrol. Hal ini berakibat pada perubahan iklim yang saat ini dibicarakan dunia ”climate change”. Kondisi ini memiliki korelasi terhadap kejadian penyakit baik yang bersifat modern

risk maupun traditional risk serta banyak sektor lainnya. Untuk itu

diperlukan tekad Pemerintah untuk mengatasinya secara sungguh-sungguh.

Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar, Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan, Pengendalian dampak risiko lingkungan, Pengembangan wilayah sehat. Untuk mengimplementasikan dan mempercepat pencapaian tujuan dari keempat kegiatan pokok tersebut dilakukan dengan pendekatan yang bersifat strategis yaitu melalui penyelenggaraan Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan, Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat dan lain-lain melalui penyatuan persepsi dan konsep dalam mencari solusi yang sinergis antara pusat dan daerah serta mengutamakan pemberdayaan masyarakat sebagai motor penggerak pelaksanaan pembangunan.

Kondisi kesehatan lingkungan Kabupaten Lombok Timur dapat digambarkan sebagai berikut:

1) Pelayanan Air Minum

Jumlah rumah tangga yang terlayani air minum di Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2010 mencapai 73,93%. Kondisi ini meningkat bila dibandingkan dengan kondisi 4 tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2009 mencapai 69,9%, tahun 2008 mencapai 67,25%, tahun 2007 mencapai 64,42% dan tahun 2006 mencapai 61,76%. Jika dilihat dari target MDGs (Tahun 2015) sudah melebihi target yang ditetapkan sebesar 67 %. Namun dibandingkan dengan target Nasional 85%, capaian tersebut masih dibawah target.

Jenis sarana air minum yang digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Lombok Timur, sebagian besar menggunakan Sumur Gali (SGL) yaitu 46,70% dan hanya 22,53% menggunakan PP (Perpipaan), 0,73% menggunakan SPT (Sumur

(6)

Pompa Tangan) dan 0,03% menggunakan PAH (Penampungan Air Hujan).

2) Inspeksi Sanitasi

Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi yang dilaksanakan oleh sanitarian puskesmas tahun 2010 didapatkan bahwa 36,59% sarana air bersih masyarakat memiliki risiko pencemaran rendah, 28,58% risiko pencemaran sedang, 12,47% risiko pencemaran tinggi dan 22,36% memiliki risiko pencemaran amat tinggi.

3) Jamban Keluarga (JAGA)

Cakupan Rumah Tangga yang menggunakan Jamban di Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2010 baru mencapai 62,83%. Kondisi ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan kondisi 4 tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2006 hanya mencapai 39,41%, tahun 2007 sebesar 42,69%, tahun 2008 mencapai 48,51% dan tahun 2009 mencapai 58,52%. Namun dibanding dengan target MDGs Tahun 2015 masih belum dibawah target sebesar 65%.

Untuk meningkatkan akses kepemilikan jamban, di Kabupaten Lombok Timur juga dilakukan dengan gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya pilar Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).

Kegiatan ini difasilitasi oleh sanitarian puskesmas dan fasililator kabupaten, bertujuan memberikan pengetahuan, motivasi dan kesadaran kepada masyarakat tentang manfaat Buang Air Besar (BAB) di jamban. Kegiatan ini lebih ditekankan kepada bagaimana menggugah kesadaran masyarakat melalui kalimat – kalimat yang merujuk pada ajaran agama ataupun alur penularan penyakit yang dapat merugikan masyarakat. Kegiatan ini terbukti cukup efektif dalam mempercepat peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak buang air besar secara sembarangan. Hasil kegiatan ini adalah tercapainya Open

(7)

tidak ada lagi yang buang air besar sembarangan. Sampai tahun 2010, pencapaian kegiatan ini adalah:

a) Pemicuan telah dilakukan di 91 desa dan 385 dusun b) Jumlah dusun yang sudah ODF sebanyak 121 dusun

c) Jumlah desa ODF sebanyak 18 desa, yaitu: Desa Kalijaga Timur, Rempung, Wanasaba, Jantuk, Mamben Daya, Kembang Kuning, Perian, Rensing, Selebung ketangga, Lendang Nangka, Aikmel, Sukamulia, Paok Pampang, Aikmel Utara, Lenek Pesiraman, Selong, Rarang, Rumbuk.

4) Saluran Pembuangan Limbah cair (SPAL) Rumah Tangga

Cakupan Rumah Tangga yang menggunakan Saluran Pembuangan Limbah cair (SPAL) pada tahun 2010 baru mencapai 45,96%. Kondisi ini meningkat dari tahun 2006 yang hanya mencapai 28,72%, tahun 2007 sebesar 30,21%, tahun 2008 sebesar 31,37% serta tahun 2009 mencapai 42,54%. Capaian ini masih dibawah target MDGs tahun 2015 sebesar 65%.

5) Tempat Pembuangan Sampah (TPS)

Rumah tangga yang memiliki TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di Kabupaten Lombok Timur pada Tahun 2010 baru mencapai 41,02%. Kondisi ini meningkat jika dibandingkan dengan kondisi 4 tahun sebelumnya, dimana tahun 2006 mencapai 28,72 kemudian tahun 2007 mencapai 35,76%, tahun 2008 sebesar 36,11% dan tahun 2009 sebesar 39,29%. Namun masih dibawah target MDGs tahun 2015 sebesar 65 %.

6) Perumahan Sehat

Cakupan rumah sehat di Kabupaten Lombok Timur tahun 2010 mencapai 61,46%. Dibanding dengan kondisi 4 tahun yang lalu, terjadi peningkatan dimana tahun 2006 yang hanya sebesar 54,54%, tahun 2007 sebesar 51,72%, tahun 2008 mencapai 55,02% dan tahun 2009 mencapai 56,67%.

(8)

2.1.2. Kesehatan dan Pola Hidup Masyarakat

Kondisi kesehatan masyarakat Kabupaten Kabupaten Lombok Timur dapat dilihat dari Angka Kematian dan Angka kesakitan, terutama penyakit menular akibat sanitasi buruk serta kondisi pola hidup masyarakat yang menyangkut sanitasi. Secara umum kesehatan masyarakat Lombok Timur dapat digambarkan sebagai berikut:

1) Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2006 adalah 78 per 1000 Kelahiran Hidup, angka ini menurun menjadi 76 per 1000 Kelahiran Hidup tahun 2007 dan turun lagi menjadi 24,3 per 1000 kelahiran hidup tahun 2008. Pada tahun 2009, Angka Kematian Bayi ini mengalami penurunan lagi menjadi 19,7 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup.

2) Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) Melahirkan di Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2008 sebanyak 60,6 per 100.000 Kelahiran Hidup. Pada tahun 2009, angka ini mengalami peningkatan menjadi 147,5 per 100.000 Kelahiran Hidup. Sedangkan tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 149 per 100.000 kelahiran hidup.

3) Kejadian Penyakit

Kejadian 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di Kabupaten Lombok Timur, dapat digambarkan seperti pada tabel 15. Dari tabel tersebut terlihat bahwa penyakit berbasis lingkungan masih mendominasi di masyarakat Lombok Timur seperti ISPA, Penyakit kulit, Diare dan Disentri. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan terutama buruknya kualitas lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap timbulnya penyakit di masyarakat Lombok Timur. Berdasarkan hasil survey PHBS tahun

(9)

2010, jumlah rumah tangga yang telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilihat dari 10 indikator PHBS baru mencapai 19,96%. Rendahnya angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Lombok Timur sebagian besar belum menerapkan dan membudayakan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-harinya.

Tabel 3 Sepuluh Penyakit Terbanyak di Kab. Lombok Timur

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Lombok Timur (2011)

2.1.3. Kuantitas dan Kualitas air

2.1.3.1. Kuantitas Air (Potensi Sumber Air Baku)

Air baku untuk air minum merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap orang, disamping untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, air juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan niaga dan industri. Terbatasnya fasilitas dan jangkauan pelayanan air yang dapat diberikan oleh PDAM, menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Lombok Timur belum mendapat layanan air minum sesuai kebutuhan. Sementara ini usaha untuk mendapatkan layanan air minum dilakukan sendiri oleh masyarakat, baik dengan sistem mengalirkan sendiri dari sumber mata air yang ada maupun dengan pemanfaatan air tanah melalui pembuatan sumur-sumur gali, namun demikian usaha ini menjadi kurang optimal baik ditinjau dari segi pemerataan pelayanan

(10)

maupun intensitas aliran air ke rumah-rumah penduduk, sehingga masyarakat melalui pengurus desa setempat mengajukan proposal untuk penyediaan air minum ke Pemerintah daerah. Hal tersebut menarik perhatian Pemerintah daerah untuk membantu masyarakat dalam penyediaan air minum, karena air minum merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat.

Pemerataan pelayanan untuk penyediaan air minum terkadang menjadi kendala bagi Pemerintah daerah, sebagai contoh misalnya pada desa tertentu meminta pelayanan air minum, namun di desanya tersebut tidak memiliki sumber mata air, sehingga untuk mendapatkan pelayanan air minum, harus diambilkan dari sumber mata air yang terdapat di desa lain. Kejadian tersebut merupakan contoh nyata yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat mengingat betapa pentingnya kebutuhan akan air minum.

Berbagai pendekatan dilakukan untuk dapat memberikan pelayanan air minum bagi masyarakat, agar tidak terjadi konflik kepentingan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Mata air mempunyai peranan yang sangat penting terhadap pemenuhan kebutuhan akan air berbagai sektor. Keberadaannya tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air minum tetapi beberapa mata air di Kabupaten Lombok Timur digunakan sebagai sumber air irigasi.

Keberadaan mata air di Kabupaten Lombok Timur lokasinya tersebar dan hampir dapat dijumpai pada masing-masing Sub Satuan Wilayah Sungai. Mata air tersebut mempunyai sifat, besaran dan karakter yang berbeda tergantung dari lokasi daerah tempat munculnya mata air. Pada lokasi dengan kondisi daerah tangkapan yang kritis, debit aliran mata air cenderung sangat kecil dan bahkan beberapa titik tidak ada aliran, sedangkan pada kondisi daerah tangkapan yang masih alamiah debit aliran cenderung besar dan konstan sepanjang tahun. Berikut ini nama-nama mata air yang ada di Kabupaten Lombok Timur pada masing-masing Daerah Aliran Sungai/Sub Daerah Aliran Sungai yang dirinci per kecamatan (tabel dibawah). Sementara detail mengenai karakteristik mata air, meliputi: Nama sumber mata air, lokasi, debit air dan pemanfaatannya.

(11)

Tabel 4 Jumlah Mata air per Kecamatan Tahun 2009

Sumber: Dinas PU Bidang Pengairan Kab. Lombok Timur dan PDAM (2010)

No Kecamatan Jumlah Mata Air

1. Selong 8 2. Labuhan Haji 11 3. Suralaga 13 4. Masbagik 16 5. Pringgasela 16 6. Sikur 17 7. Montong Gading 12 8. Suela 26 9. Sembalun 21 10. Keruak 1 11. Sakra 1 12. Wanasaba 13 13. Sambelia 14 14. Pringgabaya 12 15. Aikmel 25 Jumlah 206

(12)

Tabel 5 Sumber mata air (gravitasi) yang digunakan oleh PDAM

No. Nama Sumber Air

Kapasitas Kapasitas Kapasitas Kapasitas

Sumber (ltr/dtk) Terpasang (ltr/dtk) Produksi (ltr/dtk) Distribusi (ltr/dtk) 1 Otak Kokok 15,0 8,0 8,0 7,5 2 Duren Dua 20,0 10,0 10,0 7,5 3 Tojang 100,0 60,0 60,0 60,0 4 Gamang 20,0 20,0 20,0 15,0 5 Aik Ambung 25,0 10,0 10,0 10,3 6 Mencrit 100,0 60,0 60,0 60,0 7 Teminyak 1,5 1,5 1,0 1,0 8 Mualan 50,0 5,0 5,0 5,0 9 Benyer 15,0 - - - 10 Lemor 60,0 7,5 7,5 7,5 11 Tirpas 10,0 1,5 1,5 1,5 12 Merobot 10,0 5,0 5,0 3,4 13 Tibubunter 20,0 20,0 16,5 16,5 Sub Jumlah 446,5 208,5 204,5 195,2 14 SPL Sambelia 40,0 10,0 10,0 7,5 Sub Jumlah 40,0 10,0 10,0 7,5 15 Pompa Aikmel 50,0 7,5 7,5 7,5 16 Brangtapen 1 70,0 20,0 20,0 20,0 17 Brangtapen 2 20,0 20,0 20,0 18 Brangtapen 3 20,0 20,0 20,0 Sub Jumlah 120,0 27,5 27,5 27,5 19 Pompa Pancor 10,0 10,0 - - Sub Jumlah 10,0 10,0 - - Jumlah 616,5 256,0 242,0 230,2 50,0 15,0 15,0 Realisasi tahun 2010 306,0 257,0 245,2 Kapasitas sumber 19.441.944,0 m³ Kapasitas terpasang 8.073.216,0 m³ Kapasitas produksi 7.631.712,0 m³ Kapasitas distribusi 7.260.596,4 m³

Sumber: PDAM Kab. Lombok Timur (2009)

Selanjutnya, dalam hal penyediaan air bersih oleh PDAM menunjukkan adanya peningkatan produksi, distribusi dan penjulan air bersih setiap tahunnya. Produksi air bersih tahun 2006 sebesar 5.569.707,60 M3 meningkat menjadi 7.253.113 M3 pada tahun 2010. Berikutnya untuk perkembangan distribusi dan penjualan air bersih juga menunjukkan perkembangan yang sama seperti terlihat pada tabel dibawah. Namun untuk tingkat kebocoran air yang terjadi masih tergolong tinggi, yaitu sekitar 26%. Meskipun secara umum besaran angka kebocoran tersebut secara umum mengalami penurunan setiap tahunnya dari

(13)

31,67% pada tahun 2006 menjadi 26,91% pada tahun 2010, angka tersebut masih tergolong tinggi dan perlu adanya upaya penanganan lebih lanjut dari PDAM untuk menjaga kuantitas air yang tersedia bagi masyarakat.

Tabel 6 Produksi, Distribusi, Penjualan dan Tingkat Kebocoran Air PDAM

Sumber: PDAM Kabupaten Lombok Timur (2011)

Gambar 2 Persentase Kebocoran air PDAM

2.1.3.2. Kualitas Air

Pengamatan terhadap kualitas air dilakukan terhadap air permukaan di beberapa aliran air sungai DAS Menanga yang meliputi: Sungai Tojang, Belimbing, Gading dan Rutus. Aliran sungai-sungai tersebut secara administrasi membelah beberapa kawasan padat penduduk di beberapa kecamatan seperti: Kecamatan Selong, Masbagik, Aikmel dan Kecamatan Terara.

2006 2007 2008 2009 2010 1 Produksi 5.569.707,60 5.937.229,44 6.115.519,60 6.725.985,95 7.235.113,00 2 Distribusi 5.514.010,52 5.877.857,15 6.053.746,70 6.658.726,09 7.162.761,87 3 Penjualan 3.767.977,00 4.164.445,00 4.479.449,00 4.986.481,00 5.235.548,00 4 Tingkat Kebocoran 1.746.033,52 1.713.412,15 1.574.297,70 1.672.245,09 1.927.213,87 5 Prosentase Kebocoran 31,67% 29,15% 26,01% 25,11% 26,91% 2,13% 2,52% 3,14% 0,89% -1,79% Prosentase Penurunan tiap

URAIAN NO.

(14)

Gambar 3 Lokasi Pengambilan sample kualitas air permukaan

Pengamatan terhadap kualitas air didasarkan pada komponen berupa: sifak fisik (suhu, DHL), sifak kimia (pH, DO, BOD, COD, kandungan detergen, logam terlarut, dll), sifat biologi (Total coliform dan

Ecoli). Pengamatan pada masing-masing sungai dilakukan pada bagian

hulu, tengah dan hilir dengan melakukan uji laboratorium terhadap sample air yang diambil kemudian disesuaikan dengan standar mutu baku air minum sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Uji laboratorium terhadap kualitas air tersebut dilakukan pada tahun 2008, 2009 dan 2010 meliputi 4 (empat) sungai dengan lokasi pengambilan sample air dilakukan pada bagian Hulu, Tengah dan Hilir dari masing-masing sungai yang dimaksud. Setiap sample tersebut diambil pada musim kemarau dan musim hujan dengan maksud untuk melihat perbandingan hasil kualitas air pada kedua musim tersebut sebagai dampak adanya pengaruh significant terhadap supply air permukaan yang masuk ke masing-masing sungai tersebut. Berikut

(15)

beberapa hasil uji laboratorium terhadap sample air sungai yang dimaksud.

Hasil uji laboratorium terhadap sample air S. Tojang menunjukkan bahwa sifat fisik dan kimia air menunjukkan kualitas airnya memenuhi standar air dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun untuk sifat biologi (Total Coliform dan Ecoli) pada bagian Tengah S. Tojang baik pada musim kemarau dan musim hujan menunjukkan kadar

Ecoli dan Total Coliform yang melebihi standar baku mutu air yaitu 2.000

MPN/100ml untuk Ecoli dan 10.000 MPN/100ml untuk Total Coliform. Sementara hasil laboratoriumnya menunjukkan kandungan Ecoli dalam airnya sebesar 92.000-540.000 MPN/100ml dan kandungan Total

Coliform nya sebesar 54.000-220.000 MPN/100ml.

Berikutnya hasil uji laboratorium pada S. Belimbing menunjukkan bahwa sifat fisik dan kimia air masih memenuhi standar mutu air dalam SNI. Namun untuk kandungan biologinya (Ecoli dan Total Coliform) menunjukkan angka melebihi standar baku air pada bagian Hulu, Tengah dan Hilir S. Belimbing. Pada bagian Hulu S. Belimbing, kandungan biologi melebihi standar terjadi pada musim kemarau saja dengan kandungan Ecoli sebesar 49.000 MPN/100ml dan Total Coliform sebesar 11.000 MPN/100ml. Pada bagian Tengah S. Belimbing kandungan biologi melebihi standar terjadi pada kedua musim kemarau dan musim hujan, dimana pada musim kemarau kandungan Ecoli sebesar 54.000 MPN/100ml dan musim hujan sebesar 28.000 MPN/100ml. Sedangkan kandungan Total Coliform nya sebesar 54.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 35.000 MPN/100ml pada musim hujan. Untuk bagian Hilir S. Belimbing juga menunjukkan hal yang sama, dimana baik pada musim kemarau dan hujan menunjukkan kandungan biologi yang melebihi standar juga. Kandungan Ecoli sebesar 92.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 28.000 MPN/100ml pada musim hujan, sedangkan kandungan Total Coliform nya sebesar 16.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 28.000 MPN/100ml pada musim hujan.

Selanjutnya hasi uji laboratorium terhadap S. Gading menunjukkan baik pada musim kemarau dan hujan untuk sifat fisik dan

(16)

kimia air menunjukkan masih memenuhi standar baku mutu air sesuai metode uji SNI. Namun untuk kandungan biologinya (Ecoli dan Total

Coliform) menunjukkan angka melebihi standar baku air pada bagian

Hulu, Tengah dan Hilir S. Gading. Pada bagian Hulu S. Gading, kandungan biologi melebihi standar terjadi pada musim hujan saja dengan dengan kandungan Ecoli sebesar 240.000 MPN/100ml dan

Total Coliform sebesar 240.000 MPN/100ml. Pada bagian Tengah S.

Gading kandungan biologi melebihi standar terjadi pada kedua musim kemarau dan musim hujan, dimana pada musim kemarau kandungan

Ecoli sebesar 14.000 MPN/100ml dan musim hujan sebesar 240.000

MPN/100ml. Sedangkan kandungan Total coliform nya sebesar 18.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 240.000 MPN/100ml pada musim hujan. Untuk bagian Hilir S. Gading juga menunjukkan hal yang sama, dimana baik pada musim kemarau dan hujan menunjukkan kandungan biologi yang melebihi standar juga. Kandungan Ecoli sebesar 22.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 240.000 MPN/100ml pada musim hujan, sedangkan kandungan Total Coliform nya sebesar 22.000 MPN/100ml pada musim kemarau dan 240.000 MPN/100ml pada musim hujan.

Terakhir, hasil pengamatan di sungai Rutus menunjukan bahwa kualitas air di tersebut secara fisik menunjukkan bahwa airnya memenuhi standar baku mutu air yang ditetapkan pemerintah. Secara kimia, secara umum juga menunjukkan memenuhi standar muku yang ditetapkan pemerintah, namun untuk kadar detergent dalam air sungainya melebihi standar baku air yaitu 0,02 mg/l, sementara hasil laboratoriumnya menunjukkan nilai sebesar 0, 13 mg/l (S. Rutus Tengah) dan 0,23 mg/l (S. Rutus hilir). Untuk sifat biologinya berdasarkan kandungan Total Coliform dan Ecoli menunjukkan bahwa kualitas airnya masin berada level memenuhi standar baku kualitas air yang ditetapkan pemerintah.

Detail hasil uji laboratorium terhadap sample air pada masing-masing sungai tersebut dapat dilihat pada tabel halaman lampiran.

(17)

2.1.4. Limbah Cair Rumah Tangga

Kondisi umum limbah cair rumah tangga (tinja) di kabupaten Lombok Timur belum mendapat perlakuan untuk pengolahan sesuai standar yang berlaku, hal ini disebabkan karena limbah rumah tangga yang dihasilkan umumnya dialirkan di saluran-saluran drainase yang ada disekitar area permukiman. Dalam hal ini, peran pemerintah kabupaten Lombok Timur melalui Kantor Kebersihan dan Tata Kota masih sebatas menyediakan fasilitas jasa untuk penyedotan tinja sesuai peraturan Daerah No. 11 Tahun 2010 Tentang Retribuasi Golongan Jasa Umum. Limbah hasil penyedotan tersebut kemudian diangkut ke Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu (IPLT), namun tidak mendapat perlakuan/pengolahan terhadap limbah tersebut disebabkan IPLT tidak berfungsi.

Pelayanan terhadap jasa penyedotan tinja di kabupaten Lombok Timur melalui Kantor Kebersihan dan Tata Kota dilakukan dengan kendaran operasional pengangkut limbah cair dengan kapasitas tangki 2,5 m3. Jumlah kendaraan pengangkut yang tersedia sebanyak 2 buah dengan cakupan pelayanan masih sebatas areal perkotaan dengan rata-rata volume limbah terangkut sebanyak 15 – 17,5 m3 perbulannya (tabel dibawah).

Tabel 7 Data Sarana pengangkutan Limbah Cair

Sumber: Kantor Kebersihan dan Tata Kota Kabupaten Lombok Timur (2011)

2.1.5. Limbah Padat (Sampah)

Limbah padat (sampah) di Kabupaten Lombok Timur menunjukkan peningkatan setiap tahunnya dari 2.584,17 m3 pada tahun 2005 menjadi 2.763,96 m3 pada tahun 2010. Kapasitas Tangki ( M3 ) 1 Kendaran Elf 2,5 6 - 7 15 - 17,5 2 Kendaran Elf 2,5 6 - 7 15 - 17,5 Kendaraan

No Ritasi Penyedotan ( Kali ) Jumlah Perbulan ( M3

(18)

Tabel 8 Volume Sampah Tahun 2005 - 2010

Sumber: Kantor Kebersihan dan Tata Kota Kab. Lombok Timur (2011)

Gambar 4 Perkembangan Volume Sampah

2005 2006 2007 2008 2009 2010 KERUAK 111,16 113,97 115,48 116,94 118,51 119,75 JEROWARU 119,54 122,55 124,21 125,83 127,52 132,95 SAKRA 123,81 126,47 128,13 129,75 131,49 131,83 SAKRA BARAT 108,93 111,29 112,68 114,02 115,55 117,10 SAKRA TIMUR 95,85 97,93 100,75 103,53 104,92 102,27 TERARA 166,24 169,30 171,43 173,50 175,83 163,71 MONTONG GADING 88,42 90,06 91,32 92,54 93,77 101,51 SIKUR 163,55 166,31 168,47 170,57 172,86 168,88 MASBAGIK 217,62 221,19 224,06 226,85 229,90 234,98 PRINGGASELA 116,20 117,93 119,41 120,86 122,48 125,15 SUKAMULIA 70,86 71,94 72,86 73,75 74,75 75,93 SURALAGA 117,24 119,01 120,56 122,06 123,70 129,85 SELONG 177,16 180,00 182,39 184,72 187,21 206,57 LABUHAN HAJI 122,19 124,17 125,75 127,29 129,01 132,56 PRINGGABAYA 219,56 223,94 226,77 229,52 232,60 226,37 SUELA 89,50 91,30 92,55 93,77 95,03 93,60 AIKMEL 215,58 219,23 221,99 224,68 227,71 232,13 WANASABA 143,93 146,35 148,34 150,27 152,29 148,29 SEMBALUN 43,74 44,47 45,01 45,52 46,13 46,97 SAMBELIA 73,11 75,99 77,07 78,12 79,17 73,56 Total 2.584,17 2.633,37 2.669,18 2.704,08 2.740,41 2.763,96 Volume Sampah pertahun (M3)

(19)

2.1.6. Drainase Lingkungan

Menghadapi tantangan kerugian ekonomi yang ditimbulkan setiap tahun akibat genangan air dari sistem drainase yang kurang memadai, pemerintah bertindak cepat dengan memasukkan sistem drainase ke dalam salah satu program Bappenas yaitu Percepatan Pembangunan Sanitasi (PPSP) 2009 dengan target pengurangan genangan air di 100 kota/kawasan seluas 22.500 Ha.

Fenomena drainase sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Kerusakan drainase dan minimnya sarana saluran pembuangan air ini merupakan dampak yang dirasakan lebih pada masyarakat menengah kebawah. Ini juga membawa arti bahwa drainase sangat dekat dengan masyarakat miskin. Berbagai persoalan akan muncul jika kebutuhan sarana drainase diabaikan, ketika hujan turun, air akan meninggi menggenangi jalanan, air bersih dapat terkontaminasi dan sarat dengan penyakit, meningkatnya resiko banjir di daerah permukiman. Keluhan demi keluhan dari masyarakat terekam dalam pemberitaan media. Para warga tersebut sibuk dengan aksi protes terhadap kewajiban pemerintah yang menurut mereka sudah seharusnya menjadi tanggung jawab negara atas apa yang terjadi. Budaya masyarakat yang kurang merasa memiliki sarana umum juga menjadi kendala tersendiri.

Perkembangan perumahan dan permukiman yang sangat pesat sering kurang terkendali dan tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang maupun konsep pembangunan yang berkelanjutan, mengakibatkan banyak kawasan-kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air (retarding pond) dan bantaran sungai dihuni oleh penduduk. Kondisi ini akhirnya meningkatkan volume air permukaan yang masuk ke saluran drainase dan sungai.

Hal-hal tersebut di atas membawa dampak rendahnya kemampuan drainase mengeringkan kawasan terbangun, dan rendahnya kapasitas seluruh prasarana pengendali banjir (sungai, polder-polder, pompa-pompa, pintu-pintu pengatur) untuk mengalirkan air ke laut.

Beberapa hal yang ditempuh oleh kabupaten Lombok Timur untuk dapat mewujudkan penanganan drainase adalah:

a. Membina penyelenggaraan pelayanan prasarana dan sarana drainase untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat

(20)

b. Membina pelaksanaan pembangunan dan mengembangkan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan permukiman mendukung pencegahan pencemaran lingkungan

c. Mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat yang efektif dan efisien dan bertanggungjawab

d. Mendorong terciptanya pengaturan berdasarkan hukum yang dapat diterapkan pemerintah dan masyarakat untuk membangun pengelolaan pembangunan penyehatan lingkungan permukiman

e. Mendorong peningkatan kemampuan pembiayaan menuju ke arah kemandirian

f. Mendorong peran serta aktif masyarakat dalam proses pembangunan prasarana dan sarana drainase

g. Mendorong peningkatan peran dunia usaha, perguruan tinggi melalui penciptaan iklim kondusif bagi pengembangan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan permukiman

2.1.7. Pencemaran Udara

Secara umum pencemaran udara yang terjadi di kabupaten Lombok Timur masih berada pada ambang batas normal mengingat industri sebagai sumber pencemaran masih sedikit jumlahnya. Berdasarkan pengamatan dari SKPD terkait, sumber-sumber pencemaran udara umumnya berasal dari omprongan (Oven) tembakau mengingat kabupaten Lombok Timur sebagai salah satu produsen tembakau terbesar di Pulau Lombok. Omprongan Tembakau tersebut menggunakan bahan bakar seperti batubara, kayu, serabut sebagai media dalam proses pembakarannya.

Lokasi pengambilan sample pencemaran udara dari omprongan tembakau dilakukan di 2 lokasi yaitu: pada bagian tengah kabupaten Lombok Timur yang diwakili oleh Desa Rumbuk, Keselet dan Setanggor, dan pada bagian utara kabupaten Lombok Timur yang diwakili oleh desa Pringgajurang, Sukadana dan Montong Gading.

Hasil pengamatan di bagian Tengah kabupaten Lombok Timur menunjukkan hasil sebagai berikut: pengamatan terhadap pencemaran

(21)

udara yang dilakukan di desa Rumbuk sebanyak 3 lokasi, desa Setanggor 1 lokasi, dan desa Keselet sebanyak 1 lokasi. Pengamatan tersebut dilakukan pada komponen-komponen pencemaran udara meliputi; Partikulat (3 µ), Partikulat (5 µ), H2SO4, O2, LEL, CO, SiO2, dan Suara. Secara umum berdasarkan uji laboratorium terhadap 5 sample di 5 lokasi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di lokasi tersebut masih berada pada ambang batas normal, namun untuk tingkat kebisingan (pencemaran suara) yang terjadi melebihi ambang batas normal yaitu sebesar 55-80 db sementara batas normal yang dianjurkan sebesar 55 db. Hal ini terjadi karena adanya pengoperasian peralatan seperti Chain Saw (gergaji mesin) sebagai alat pemotong kayu untuk bahan bakar dalam proses pembakaran pada omprongan tembakau tersebut.

Selanjutnya, pengamatan pada bagian utara Kabupaten Lombok Timur dengan lokasi sample di desa Pringgajurang (1 lokasi), Sukadana (2 lokasi) dan Montong gading (1 lokasi) menunjukkan bahwa secara umum kualitas udaranya masih berada pada ambang batas normal. Namun untuk komponen Partikulat (3 µ) menunjukkan angka melebihi ambang batas normal (1 sample di desa Sukadana dan 1 sample di Montong gading) yaitu sebesar 549 mg/m3 dari 300 mg/m3 yang dianjurkan.

Detail mengenai hasil pengamatan sample pencemaran udara di lokasi-lokasi yang tersebut diatas dapat dilihat pada tabel halaman lampiran.

2.1.8. Limbah Industri

Industri yang ada di Kabupaten Lombok Timur umumnya berupa industri rumah tangga, industri skala kecil dan menengah. Industri-industri tersebut meskipun berskala kecil namun tetap memiliki potensi sebagai agen pencemaran di areal sekitarnya. Berdasarkan data dari Dinas ESDM dan Perindustrian perdagangan Kabupaten Lombok Timur tahun 2010, industri-industri yang memungkinkan sebagai agen pencemaran tersebut berupa: industri pembuatan air Accu, Konveksi, Pencucian kendaraan, Vulkanisir Ban, Cat, Pembuatan Tahu, Tempe, Tembakau Rakyat, Tembakau Garangan, Terasi udang dan Pemotongan hewan.

(22)

Hingga BPS ini disusun, data-data tersebut sebatas jenis industry yang ada serta produktivitasnya, sedangkan data yang menunjukkan besaran, volume, penyebaran limbah industri yang dihasilkan tidak tersedia.

Tabel 9 Industri-Industri yang ada di Kabupaten Lombok Timur

No. Industri Kapasitas Produksi Limbah

1 Pembuatan air Accu 80.000 liter

Data tidak tersedia

2 Konveksi 27.600 buah

3 Pencucian kendaraan 232 buah

4 Vulkanisir Ban 1.800 buah

5 Cat 3.500 kg

6 Pembuatan Tempe 4.964 ton

7 Pembuatan Tahu 125 ton

8 Tembakau Rakyat 475 ton

9 Tembakau Garangan 485 ton

10 Terasi udang 6.000 kg

11 Agro (Pemotongan

hewan) 676 ton

Sumber: diolah dari data Dinas ESDM dan Perindag. Kab. Lombok Timur

2.1.9. Limbah Medis

Limbah cair rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari hasil proses seluruh kegiatan rumah sakit yang melputi limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian, Limbah cair klinik yakni limbah cair yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian luka, cucian darah dan lain-lain, limbah cair laboratorium, dan lainnya. Air buangan domestik maupun limbah klinis umumnya mengandung senyawa polutan organik yang cukup tinggi dan dapat dapat diolah melalui pengolahan secara biologis.

Sistem pengolahan limbah cair terbagi atas bak pengurai anaerob dan aerob dengan menggunakan biofilter tercelup (berisi media dari bahan PVC sheet berbentuk sarang tawon). Dengan aliran dari bawah ke atas. Biofilter berfungsi sebagai pembiakan mikro organism yang akan menguraikan senyawa pelutan yang terkandung di dalam limbah cair.adapun Proses pengolahan limbah cair adalah sebagai berikut:

(23)

1. Pengolahan pendahuluan

Limbah cair yang dihasilkan dari proses kegiatan rumah sakitdikumpulkan kemudian diairkan melalu saluran limbah cair, kemudian dialirkan ke bak kontrol untuk memisahkan kotoran padat. Fungsi bak kontrol adalah. Untuk mencegah sampah padat, misalnya plastik,kaleng,kayu Agar tidak masuk kedalam nit pengolahan limbah, serta mencegah padatan yang tidak bias terurai misalnya lumpur, pasir, abu gosok, dan lainnya agar tidak masuk kedalam unit pengolahan limbah.

2. Bak ekualisasi (Tangki Aliran Rata-rata)

Aliran yang masuk ke unit ini fluktuatif untuk itu perlu dirata-rataka. Fungsi utama bak ini adalah menyeragamkan/merata-ratakan aliran ke unit selanjutnya. Selain itu fungsi penunjang lainnya adalah menghindari shock loading yang berlebihan sebagai pengendapan padatan kasar.

3. Proses anaerob

Limbah cair dari bak ekuasisidialirkan ke bak pengurai anaerob. Di dalam bak pengurai anaerob terebut polutan organik yang ada didalam limbah cair diuraikan oleh mikroorganisme secara anaerob, menghasilkan gas metan dan H2S. Dengan proses tahap pertama konsentrasi COD dalam limbah cair dapat diturunkan sampai kira-kira 400-500 ppm efisiensi pengolahan ± 50-70 %).

Bak pengurai anaerob diisi media biofilter tercelup dengan pola aliran dari bawah keatas (up flow). Air limpasan dari bak pengurai anaerob selanjutnya dialirkan ke unit pengolahan lanjut, yang terdiri dari beberapa buah ruangan yang berisi media biofilter juga yang terbuat dari bahan PVC bentuk sarang tawon untuk pembiakan mikroorganisme yang akan menguraikan senyawa polutan yang ada didalam limbah cair.

4. Clarifier (pengendapan)

Proses ini bertujuan untuk mengendapkan partikel zat-zat organic terlarut yang terbawa/lolos dari proses sebelumnya.

(24)

Pengendapan zat-zat organik tersebut diendapkan secara gravitasi. Bak ini sebagai bak pengendap awal.

5. Proses anaerob-aerob

Pengolahan ini dengan proses biofilter anaerob-aerob terdiri dari beberapa bagian yakni bak pengendap awal, biofilter anaerob, biofilter aerob, bak pengendap akhir. Air limpasan dari bak pengendap awal selajutnya dialirkan ke bak kontraktor anaerob dengan arah aliran dari ats ke bawahdan dari bawah keatas. Didalam bak kontraktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan PVC

sheet. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam limbah cair

dilakukan dengan bakteri anaerobic atau facultative aerobic.

Air limpasan dari kontraktor anaerob dialirkan ke bak kontraktor aerob yang diisi dengan media dari bahan PVC sheet, sambil diaerasi atau dihembuskan dengan udara yang dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik serta mempercepat proses nitrifikasi sehingga efisiensi penghilangan animinia menjadi lebih besar. Dari bak aerasi dialirkan ke bak pengedap akhir. Didalam bak pengendap akhir ini lumpur aktif yang mengadung massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali kebagian bak pengedap awal dengan pompa sirkulasi lumpur.

6. Proses desinfeksi

Air limpasan dari proses anaerob-aerob dialirkan ke bak khlorinasi. Dalam proses ini terjadi penambahan zat desinfektan berupa larutan kaporit/NaCl 60% dan pengadukan untuk menghasilkan tekanan osmosis yang kuat dengan mesin pengaduk yang bertujuan untuk mengurangi dan membunuh mikroorganisme

pathogen yang ada dalam limbah cair.

2.2. Visi dan Misi Kabupaten Lombok Timur 2.2.1. Visi

Sebagaimana ditetapkan di dalam Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 2009, bahwa Visi pembangunan Kabupaten Lombok Timur 2008– 2013, adalah:

(25)

“Mewujudkan masyarakat Lombok Timur yang adil dalam kesejahteraan dan sejahtera dalam keadilan dalam lindungan Allah SWT”.

Visi tersebut tidak terlepas dari keinginan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk melaksanakan berbagai program dalam rangka mencapai “Millenium Development Goals” (MDG’s) sampai tahun 2015, yaitu: Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, Menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk seluruh penduduk, Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, Menurunkan angka kematian anak, Meningkatkan kesehatan ibu, Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, dan Membangun kemitraan global dalam pembangunan

Visi Pembangunan Kabupaten Lombok Timur tersebut memiliki makna sebagai berikut:

1) Masyarakat Lombok Timur yang adil dalam kesejahteraan, yakni untuk menciptakan kondisi yang menunjang tercapainya kesejahteraan masyarakat ditegakkan nilai-nilai kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab serta diwujudkan penegakan hukum tanpa kecuali dalam kehidupan masyarakat.

2) Masyarakat Lombok Timur yang Sejahtera dalam Keadilan, yakni masyarakat Lombok Timur yang terpenuhi kebutuhan dasarnya baik ekonomi maupun sosial secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Lombok Timur tanpa kecuali.

3) Dalam Lindungan Allah SWT. yakni terciptanya keadilan dalam kesejahteraan dan sejahtera dalam keadilan tetap dalam naungan dan lindungan Allah SWT.

2.2.2. Misi

Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menetapkan beberapa misi pembangunan daerah sebagai berikut:

a) Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Lombok Timur dan di semua sektor prioritas yaitu sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.

(26)

b) Mewujudkan pembangunan nyata ekonomi kerakyatan berbasis agriindustri dan bahari yang berwawasan lingkungan.

c) Mendorong reformasi birokrasi dengan sungguh-sungguh untuk mencairkan kebekuan birokrasi menuju aparatur yang bersih, berorientasi pada pelayanan publik dan penggunaan anggaran yang pro-publik.

d) Memperkuat pemberdayaan perempuan dalam pembangunan sosial politik, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga dan perlindungan terhadap anak.

e) Menyuguhkan kehidupan beragama dan kehidupan antar kelompok, yang rukun, toleran dan penuh kesejukan dengan tetap memelihara dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal. f) Menumbuhkan iklim investasi dalam dan luar negeri untuk

membuka lapangan kerja yang secara langsung mampu mengangkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

g) Meningkatkan kualitas domokrasi melalui pendidikan politik dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan politik.

Dari beberapa misi tersebut, misi pertama kedua dan keempat memiliki keterkaitan langsung dengan masalah sanitasi. Pada misi pertama, misi tersebut dilaksanakan salah satunya dalam rangka pemerataan pembangunan di bidang kesehatan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang bermuara pada terwujudnya kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata di seluruh wilayah. Sedangkan pada misi kedua, terkandung makna pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dengan tetap mempertahankan kelestarian daya dukung sumberdaya alam mengingat sebagian besar penduduk menggantungkan mata pencaharian dalam sektor pertanian, perikanan dan kelautan.

Misi lainnya yaitu misi keempat Terkait dengan itu bahwa misi ini bertujuan untuk memperkuat upaya pemberdayaan perempuan dalam pembangunan. Termasuk di dalamnya pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan sanitasi.

(27)

2.2.3. Visi Sanitasi Kabupaten Lombok Timur

Visi Sanitasi Kabupaten Lombok Timur 2011, tidak terlepas dari visi yang telah ditetapkan dalam (RPJPD) 2005–2025 dan RPJMD Kabupaten Lombok Timur tahun 2008-2013. Selain itu, visi tersebut juga tidak terlepas dari keinginan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk melaksanakan berbagai program dalam rangka mencapai MDG’s sampai tahun 2015, terutama untuk: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, Menurunkan angka kematian anak, Meningkatkan kesehatan ibu, Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, dan Membangun kemitraan global dalam pembangunan

Oleh karena itu, melihat kondisi yang ada di Kabupaten Lombok Timur baik permasalahan yang dihadapi seperti: tingginya angka kemiskinan, tingginya mortalitas, morbiditas, kesetaran gender, dll. Untuk itu dalam rangka mengayomi aspirasi para stakeholders, maka ditetapkan Visi Sanitasi Kabupaten Lombok Timur Tahun 2011 yaitu:

“Mewujudkan sanitasi Gumi Patuh Karya yang lebih baik dan berkelanjutan”.

Makna yang terkandung dalam visi sanitasi Kabupaten Lombok Timur tersebut, antara lain:

1. Sanitasi Gumi Patuh Karya yang lebih baik memiliki harapan agar kuantitas dan kualitas sanitasi di Kabupaten Lombok Timur dapat menunjukkan peningkatan kearah yang lebih baik setiap tahunnya. Peningkatan ini mencakup multisektor tidak hanya hanya dari sektor sanitasi itu sendiri melainkan juga sektor lainnnya yang secara langsung dan tidak langsung menunjang sanitasi tersebut. 2. Berkelanjutan, memiliki makna agar sanitasi di Kabupaten Lombok

Timur tersebut dapat memiliki kesinambungan satu dengan yang lainnya, dan terintegrasi dengan sektor lainnya agar dapat menunjang tercapainya visi tersebut, maupun visi kabupaten Lombok Timur yang terkait dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Lombok Timur.

(28)

2.2.4. Misi Sanitasi Kabupaten Lombok Timur

Dalam rangka mewujudkan visi sanitasi Kabupaten Lombok Timur tersebut, maka ditetapkanlah beberapa misi-misi sanitasi kabupaten Lombok Timur yang meliputi:

1) Meningkatkan akses air bersih masyarakat Gumi Patuh Karya; 2) Meningkatkan pengelolaan limbah RT di lingkungan permukiman

masyarakat Gumi Patuh Karya;

3) Meningkatkan akses pengelolaan sampah di permukiman masyarakat Gumi Patuh Karya;

4) Meningkatkan akses drainase di lingkungan Gumi Patuh Karya; 5) Peningkatan Perilaku hidup bersih dan sehat di Gumi Patuh

Karya;

6) Mewujudkan Gumi Patuh Karya bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS);

7) Meningkatkan keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam penanganan sanitasi.

2.2.5. Strategi Penanganan Sanitasi Kabupaten

Strategi penanganan sanitasi kabupaten Lombok Timur yang dilakukan, antara lain: Strategi penyediaan air bersih, penanganan limbah cair dan padat, penanganan drainase, PHBS. Detail mengenai strategi penanganan sanitasi dapat dilihat pada tabel dibawah.

(29)

Tabel 10 Visi, Misi, Strategi dan Rencana Pengembangan Sanitasi

Visi Misi Strategi Rencana Program

Pengembangan Sanitasi Mewujudkan

sanitasi Gumi Patuh Karya yang lebih baik dan berkelanjutan 1. Meningkatkan akses air bersih masyarakat Gumi Patuh Karya; 1) Menyusun dokumen induk/master plan tentang air bersih PDAM dan bisnis plan PDAM

Kabupaten Lombok Timur tahun 2010-2014 yang memuat kondisi eksisting, isu strategi serta

rencana penanganan air bersih ditingkat kabupaten;

Program pengembangan santasi berikutnya: Pembangunan sarana dan prasarana sambungan rumah perpipaan Meningkatkan kualitas kelembagaan PDAM

Meningkatkan kinerja keuangan PDAM 2) Pembangunan sarana dan prasarana untuk mendukung upaya peningkatan cakupan layanan air bersih PDAM kepada masyarakat yang dalam hal ini PDAM dalam 5 tahun kedepan berupaya dengan meningkatkan sambungan rumah perpipaan sebanyak 22.000 SR di tahun 2014; 3) Meningkatkan kualitas kelembagaan PDAM Kabupaten Lombok Timur agar menjadi lembaga yang profesional dalam melayani masyarakat Kabupaten Lombok Timur dan dapat berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah, serta; 4) Meningkatkan kinerja keuangan perusahaan agar menjadi PDAM yang lebih sehat 2. Meningkatkan pengelolaan limbah RT di 1) Rehabilitasi dan pembangunan sarana dan Program MCK+++ di wilayah kecamatan Sakra, Pringgabaya dan Aikmel.dan Sanitasi

(30)

Visi Misi Strategi Rencana Program Pengembangan Sanitasi lingkungan permukiman masyarakat Gumi Patuh Karya; prasarana penanganan limbah cair dan padat seperti: MCK +++ yang akan

dilaksanakan tidak hanya di perkotaan saja melainkan juga akan dilakukan di wilayah perdesaan pada beberapa desa di kecamatan (Sakra, Aikmel, Suela, Pringgabaya, Suralaga, Sikur dan Sakra Barat); 2) Pembangunan sarana penunjang penanganan limbah cair; 3) Sosialisasi/kampany e kepada masyarakat tentang pengelolaan limbah cair. Lingkungan Berbasis

Masyarakat (SLBM) ini meliputi: kecamatan Masbagik, Suralaga, Terara, Sikur, Sakra Timur, dan kecamatan Sakra Barat

3. Meningkatkan akses pengelolaan sampah di permukiman masyarakat Gumi Patuh Karya; 1) Pembangunan sarana penunjang penanganan limbah padat seperti peningkatan kinerja TPA Ijobalit dan pembuatan TPS. 2) Pembangunan sistem informasi persampahan yang akan menjadi 3) Sosialisasi/kampaye kepada masyarakat tentang limbah padat

Kegiatan yang direncankan meliputi: Peningkatan kinerja TPA, Revitalisasi kawasan penyangga TPA, Sistem informasi persampahan, Pembangunan TPS dan sosialisasi potensi reduksi sampah (3R). 4. Meningkatkan akses drainase di lingkungan Gumi Patuh Karya; 1) Rehabilitasi dan pembangunan saluran drainase perkotaan dan perdesaan (drainase perdesaan) yang rencananya akan dilakukan di beberapa desa di kecamatan yang meliputi: kecamatan Aikmel, Masbagik, Sukamulia, Jerowaru, dan Suralaga.

Rehabilitasi dan pembangunan saluran drainase di perkotaan dan perdesaan

(31)

Visi Misi Strategi Rencana Program Pengembangan Sanitasi 5. Peningkatan Perilaku hidup bersih dan sehat di Gumi Patuh Karya; 1) Peningkatan kesadaran masyarakat berperilaku hudup bersih dan sehat (PHBS)

1. Penyuluhan PHBS pada kelompok-kelompok potensial seperti; Majelis taklim, Kelompok arisan, dll 2. Pengadaan media

penyuluhan seperti; Poster, Leaflet, Media dan alat simulasi PHBS

3. Pembentukan dan

pembinaan keluarga PHBS 4. Pelatihan dan pembinaan

Dokter kecil pada sekolah SD/MI

5. Penjaringan/screening kesehatan anak sekolah 6. Pembentukan dan pelatihan

Kader kesehatan remaja pada anak usia sekolah SMP/MTS dan SMA/MA 7. Pembentukan dan pelatihan

Saka Bakti 8. Pengembangan

pengelolaan Bank sampah di masyarakat

9. Pelatihan dan pembinaan kerajinan rumah tangga bahan baku

sampah/pemanfaatan sampah kembali 10. Pembinaan dan

pengawasan kualitas air minum pada

pengelolaan/penyediaan air minum

11. Penyuluhan/simulasi CTPS pada anak usia sekolah 12. Penyuluhan dan simulasi

CTPS di Posyandu dan kelompok Karang Lansia 13. Sosialisasi STBM tingkat

kecamatan dan desa 6. Mewujudkan

Gumi Patuh Karya bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS); 1) Peningkatan cakupan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

1. Pelatihan Tim Pemicu sanitasi kecamatan dan desa

2. Pemicu sanitasi dan monitoring di masyarakat untuk mencapai desa bebas dari buang air besar sembarangan/open defecation free

3. Pengembangan sentra produksi sanitasi dengan model Sanitation Marketing Plan

(32)

Visi Misi Strategi Rencana Program Pengembangan Sanitasi 4. Rehabilitasi sarana air

minum masyarakat resiko pencemaran tinggi-amat tinggi (inspeksi sanitasi SAB)

5. Pengadaan/pembangunan tempat sampah (TPS) komunal

6. Pembangunan MCK komunal pada lokasi rawan sanitasi dan air bersih 7. Stimulan untuk rehabilitasi

rumah tidak layak huni 8. Pembangunan dan

rehabilitasi sarana limbah cair rumah tangga dan drainase umum 7. Meningkatkan keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam penanganan sanitasi 1) Menginisiasi sistem komunikasi yang terbuka dan memberikan kesempatan bagi masyarakat dan swasta untuk terlibat dalam penanganan sanitasi 2) Menjalin kerjasama dengan pihak swasta dan LSM dalam rangka peningkatan jangkauan pelayanan sanitasi

2.3. Kebijakan Umum dan Strategi Sanitasi Kabupaten tahun 2008-2013

Pada bagian ini menjelaskan secara komprehensif kebijakan dan Strategi Sektor Sanitasi Kabupaten yang sedang berlangsung, mencakup: limbah cair, persampahan, air bersih dan drainase kabupaten. Kebijakan yang digunakan sesuai dengan RPJMD Kabupaten Lombok Timur tahun 2008 – 2013.

2.3.1. Strategi penanganan Limbah Cair

Strategi penanganan limbah cair di Kabupaten Lombok Timur, dilakukan dengan cara:

1) Meningkatkan kesehatan lingkungan dengan tidak ada lagi yang melakukan BABS, melalui: Penyuluhan/sosialisasi dan pemberdayaan

(33)

masyarakat, dan Pengutan kelembagaan institusi pengelola limbah cair,

2) Meningkatkan cakupan pelayanan limbah cair kepada masyarakat melalui; Penyediaan sanitasi dasar, Pengembangan perumahan dan Penyusunan dokumen perencanaan limbah cair.

3) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah cair, melalui: Penyadaran publik kepada masyarakat terkait dengan limbah cair.

4) Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam upaya pengelolaan limbah cair di Kota Selong, melalui; Menyisipkan pengelolaan libah cair dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok), pelibatan pihak swasta. 5) Penegakan hukum terhadap pelanggaran dalam pengelolaan limbah

cair, melalui; Penyusunan regulasi terkait limbah cair, advokasi hokum terhadap institusi pengelola limbah cair, serta monitoring dan evaluasi tentang penegakan peraturan limbah cair.

2.3.2. Strategi penanganan Persampahan

Strategi penanganan persampahan di Kabupaten Lombok Timur, dilakukan dengan cara:

1) Meningkatkan pengelolaan sampah, melalui; Peningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitar, Pengorganisasisan pengelola sampah 2) Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan

pengelolaan sampah, melalui; Pengembangan kapasitas kelembagaan dan pemberdayaan di masing-masing kelurahan untuk pengelolaan sampah 3R

3) Meningkatkan kebersihan kota,melalui pengelolaan sampah terpadu 4) Memenuhi kebutuhan minimal sarana dan prasarana pengelolaan

sampah, melalui; Peningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pengelolaan persampahan

5) Penguatan kelembagaan masyarakat dalam rangka pelaksanaan pilot

project pengelolaan sampah

6) Memenuhi kebutuhan akan alat angkut operasional persampahan untuk 9 kelurahan dan 25 desa penyangga kota Selong

7) Melakukan survey lokasi kebutuhan alat angkut dengan wilayah pelayanan dan mengoptimalkan sarana alat angkut tersebut

(34)

9) Meningkatkan budaya hidup bersih dan sehat dalam pemilihan dan pemanfaatan sampah secara 3R

10) Meningkatkan kepedulian seluruh masyarakat Kabupaten Lombok Timur dalam pengelolaan sampah secara 3R, melalui pembentukan forum yang melibatkan tokoh masyarkat untuk membangun peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah 3R

11) Meningkatkan peran aktif swasta dalam pengelolaan sampah

12) Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penegakan hukum pengelolaan persampahan

2.3.3. Strategi penanganan Air Bersih

Strategi penanganan drainase di Kabupaten Lombok Timur, dilakukan dengan cara:

1) Meningkatkan cakupan air bersih masyarakat, melalui; Peningkatkan jangkauan sistem pelayanan air bersih, dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam pengelolaan sumber air bersih secara swadaya 2) Meningkatkan prasarana air bersih untuk masyarakat, melalui;

Menguatkan dukungan perencanaan dan anggaran (APBN, APBD I, APBD II), dan pembuatan penawaran pada perusahan-perusahan, membangun kesepahaman (MOU) dan membuat perjanjian kerjasama dalam penyiapan air baku/air bersih

3) Meningkatnya perilaku masyarakat dalam pemanfaatan air bersih, melalui; Peningkatan pengetahuan, dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi air sehat

2.3.4. Strategi penanganan Drainase

Strategi penanganan drainase di Kabupaten Lombok Timur, dilakukan dengan cara:

1) Meningkatkan cakupan layanan drainase, melalui; Pembangunan drainase/gorong-gorong, Review masterplan drainase, Pembangunan drainase dan gorong-gorong sesuai prioritas masterplan dan review

masterplan

2) Pembangunan drainase di daerah rawan banjir/genangan melalui; dukungan pendanaan pembangunan drainase di daerah rawan banjir dan genangan, peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di drainase, Penguatan kelembagaan teknis dan

(35)

membangun sinergitas dalam perencanaan, pelaksana dan pengendalian antara SKPD, stekholder dan masyarakat, dan Optimalisasi Rencana Tata Ruang untuk alokasi lahan saluran baru dan bangunan pengendali banjir

3) Meningkatkan budaya hidup bersih dan sehat melalui pengelolaan dan pemanfaatan drainase dengan benar, melalui; peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaaan dan pemanfaatan drainase dan Pemberian penghargaan tingkat RT untuk pengelolaan drainase yang baik.

4) Meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap peraturan pengelolaan dan pemanfaatan drainase, melalui; Sosialisasi peraturan pengelolaan dan pemanfaatan drainase dan Koordinasi institusi (formal dan informal/LSM dan swasta) dalam perencanaan dan pelaksanaan pengawasan dan penegakan peraturan pengelolaan dan pemanfaatan drainase

2.4. Tujuan dan Sasaran Sanitasi dan Arahan Pentahapan Pencapaian

Tujuan umum pembangunan sektor sanitasi Kabupaten LombokTimur tahun 2010 – 2015 adalah untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan arah dan tujuan pembangunan Kabupaten Lombok Timur sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD Kabupaten LombokTimur 2008-2013.

a. Tujuan Sektor Sanitasi Kabupaten Lombok Timur, antara lain:

 Mewujudkan cakupan pelayanan limbah cair rumah tangga yang lebih baik dan berkelanjutan di Gumi Patuh Karya tahun 2015

 Mewujdkan cakupan/akses pengelolaan sampah di Gumi Patuh Karya yang lebih baik dan berkelanjutan pada tahun 2015

 Mewujudkan akses drainase di lingkungan Gumi Patuh Karya yang lebih baik dan berkelanjutan pada tahun 2015

 Mewujudkan cakupan pelayanan air bersih yang berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat di tahun 2015

 Mewujudkan masyarakat Kabupaten Lombok Timur sehat lahir bathin melalui budaya PHBS dalam kehidupan sehari hari

(36)

b. Sasaran sektor sanitasi kabupaten Lombok Timur yaitu:

 Tersedianya perencanaan pengelolaan sanitasi skala kabupaten yang mencakup komponen seperti; air bersih, limbah cair, persampahan dan drainase yang terintegrasi dan berkelanjutan.

 Meningkatnya cakupan layanan sektor sanitasi (air bersih, limbah cair, persampahan, dan drainase) melalui peningkatan sarana prasarana sanitasi yang memadai.

 Meningkatnya partisipasi masyarakat dan jender dalam pengelolaan sektor sanitasi yang lebih baik dan berkelanjutan.

 Terjalinnya koordinasi dan integrasi kegiatan pembangunan sanitasi di Kabupaten Lombok Timur.

 Meningkatnya peran serta masyarakat dan SKPD terkait dalam pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di tingkat kabupaten.

c. Arahan pentahapan pencapaian sektor sanitasi

 Arahan penyusunan tahapan capaian pembangunan sektor sanitasi disusun berdasarkan pilihan sistem dan penetapan zona sanitasi dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti:

 Arah pengembangan kabupaten yang merupakan perwujudan dari visi dan misi Kabupaten LombokTimur dalam jangka panjang  Kepadatan penduduk Kabupaten Lombok Timur

 Kawasan beresiko sanitasi

 Kondisi fisik wilayah (morfologi dan geologi)

c.1. Sektor limbah cair

Perkembangan kabupaten Lombok Timur yang terus meningkat setiap tahunnya memicu terjadinya pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin pesat. Hal ini tentunya berdampak negatif khususnya pada sektor sanitasi, seperti meningkatnya volume pencemar yang berasal dari buangan rumah tangga (domestik), baik berupa; air limbah cucian dan kamar mandi (grey

water), dan limbah WC (black water). Volume pencemar tersebut

bertambah setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, oleh karena itu, diperlukan suatu pengelolaan air limbah yang baik dan berkelanjutan untuk mendukung pembangunan sanitasi di Kabupaten Lombok Timur.

(37)

Dalam SSK ini telah dilakukan penentuan wilayah prioritas pengembangan sistem pengelolaan air limbah (apakah on site maupun off site) secara umum. Beberapa kriteria telah digunakan dalam penentuan prioritas tersebut, yaitu: kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (perkotaan atau perdesaan), karakteristik tata guna lahan/Center of Business Development (CBD) (komersial atau rumah tangga), serta resiko kesehatan lingkungan.

Berdasarkan kriteria tersebut dihasilkan suatu peta yang menggambarkan kebutuhan sistem pengelolaan air limbah untuk perencanaan pengembangan sistem. Peta tersebut terbagi dalam beberapa zonasi, dimana zona tersebut sekaligus merupakan dasar dalam merencanakan pembangunan jangka panjang pengelolaan limbah cair Kabupaten Lombok Timur.

Rencana pengembangan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area dengan tingkat resiko sangat tinggi-tinggi karena merupakan kawasan berpenduduk padat, CBD, dll. Dalam jangka menengah harus diatasi dengan pilihan sistem terpusat (Offsite Medium). Zona ini mencakup 12 kecamatan, meliputi; Terara, Sikur, Masbagik, Pringgasela, Selong, Labuhan Haji, Sakra, Sakra Timur, Keruak, Aikmel, Suralaga, dan Kecamatan Pringabaya. Dalam peta diberi warna Merah tua.

 Zona 2, merupakan area dengan tingkat resiko tinggi. Membutuhkan penanganan dengan system setempat (onsite) berbasis rumah tangga-masyarakat/komunal. Zona ini meliputi 4 kecamatan, yaitu; Kecamatan; Montong Gading, Sakra Barat Wanasaba dan Kecamatan Sambelia. Dalam peta diberi warna Merah muda.

 Zona 3, merupakan area dengan tingkat resiko tinggi dan membutuhkan penanganan dengan sistem setempat (onsite) berbasis rumah tangga. Zona ini mencakup 4 kecamatan, meliputi: Kecamatan Sukamulia, Suela, Sembalun dan Kecamatan Sambelia. Dalam peta diberi warna Hijau muda.

(38)
(39)

c.2. Sektor Persampahan

Berdasarkan kriteria yang ada dalam Standar Pelayanan Minimun (SPM), wilayah pengembangan pelayanan persampahan dapat diidentifikasi, terdapat 2 (dua) kriteria utama dalam penetapan prioritas penanganan persampahan saat ini yaitu tata guna lahan/klasifikasi wilayah (komersial/CBD, permukiman, fasilitas umum, terminal, dsb) dan kepadatan penduduk. Hasil dari penentuan wilayah dan kebutuhan pelayanan persampahan Kabupaten Lombok Timur, terdapat 3 (tiga) zona yang dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area yang harus terlayani penuh 100% (full coverage) dalam jangka waktu pendek dengan sistem layanan langsung dari sumber ke TPA. Terdapat di 8 kecamatan yang masuk dalam zona ini, yaitu: Kecamatan Selong, Labuhan Haji, Masbagik, Terara, Sakra, Keruak, Aikmel dan Kecamatan Pringgabaya. Dalam peta diberi warna Ungu cerah.

 Zona 2, merupakan area yang harus terlayani penuh 100% (full coverage) dalam jangka waktu menengah dengan sistem layanan langsung dari sumber ke TPA. Terdapat di 10 kecamatan yang masuk dalam zona ini, yaitu: Kecamatan Sukamulia, Suralaga, Sakra Barat, Sakra Timur, Montong Gading, Sikur, Pringgasela, Wanasaba, Suela, dan Kecamatan Sambelia. Dalam peta diberi warna Hijau muda.

Zona 3, merupakan area yang harus terlayani dengan sistem tidak langsung yakni dari rumah tangga ke Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) baru ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Minimal 70% cakupan layanan harus diatasi dalam jangka menengah (5 tahun) ke depan. Terdapat di 2 kecamatan, yaitu; Kecamatan Jerowaru dan Sembalun. Dalam peta diberi warna Merah muda.

(40)
(41)

c.3. Sektor Drainase

Dalam menentukan wilayah pengembangan saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat kecamatan, maka disusun prioritas pengembangan sistem drainase. Penentuan daerah prioritas ini disusun berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi yang mengacu ke SPM, yaitu kepadatan penduduk, tata guna lahan (perdagangan, jasa, maupun permukiman), daerah genangan air hujan, serta tingkat resiko kesehatan. Perencanaan penanganan ke depan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, merupakan area dengan tingkat resiko relatif tinggi karena merupakan kawasan padat dan kawasan bisnis (Central Business District/CBD) yang harus diatasi dalam jangka pendek. Zona ini mencakup 14 kecamatan, meliputi: Kecamatan Masbagik, Selong, Sakra, Sakra Timur, Sakra Barat, Terara, Montong Gading, Sikur, Pringgasela, Aikmel, Wanasaba, Suralaga, Labuhan Haji dan Kecamatan Pringgabaya. Dalam peta diberi warna Merah muda.

 Zona 2, merupakan area dengan tingkat resiko menengah yang dapat diatasi dalam jangka menengah dan panjang. Area yang masuk dalam zona sebanyak 6 kecamatan, meliputi: Kecamatan Sukamulia, Keruak, Jerowaru, Suela, Sembalun dan Sambelia. Dalam peta diberi warna Hijau muda.

(42)

Referensi

Dokumen terkait

1) Pengembangan perangkat lunak ajar persamaan non linier dengan metode newton raphson telah dilakukan melalui enam tahap, yaitu: (1) melakukan analisis kebutuhan, (2)

Tugas Akhir ini akan mengaplikasikan Sistem Pendukung Keputusan dengan menggunakan Metode Fuzzy Multi Criteria Decision Making (FMCDM) untuk menentukan pilihan minat Perguruan

TENTANG PENETAPAN HASIL PENILAIAN KEMAMPUAN DAN KEPATUTAN BAGI DIREKTUR PT BATAVIA PROSPERINDO FINANCE, TBK ATAS NAMA HADY

Akan diperlihatkan dari contoh (3.1) bahwa masalah program linear bilangan bulat yang sudah diperoleh penyelesaian optimum dapat dikerjakan kembali dengan metode bidang pemotong

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Persaudaraan Setia Hati Terate telah menyelenggarakan Parapatan Luhur 2016 yang menghasilkan penyempurnaan Anggaran

PERUBAHAN PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP) TAHUN PAJAK

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan, peneliti menyimpulkan aktualisasi dakwah Afrizal Luthfi Lisdianta: musik rock sebagai media dakwah terdapat

Tapi, justru segmen consumer health yang mencatat kenaikan pendapatan 9% yoy menjadi Rp 1,83 triliun dari sebelumnya Rp 1,68 triliun.. Kenaikan ini hampir menyamai kenaikan pada