• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNIKAHAN BEDA AGAMA (STUDI ANALISIS ILLAT DAN HIKMAH PERNIKAHAN BEDA AGAMA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERNIKAHAN BEDA AGAMA (STUDI ANALISIS ILLAT DAN HIKMAH PERNIKAHAN BEDA AGAMA)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERNIKAHAN BEDA AGAMA (STUDI ANALISIS ’ILLAT DAN HIKMAH PERNIKAHAN BEDA

AGAMA)

Singhan Makruf

Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo [email protected]

Abstract

The debate over interfaith marriage is still frequent. There are groups of groups that allow interfaith marriage, and there are some who reject and forbid it. Although in general, the groups that forbid existed first, and there were more of them.

The debate over interfaith marriages becomes interesting when legal studies are returned to the arguments of the Koran and the hadith of the Prophet which are the background for the emergence of interfaith marriage laws. The Koran and the hadiths strictly forbid marrying polytheists and infidels. On the other hand, the issue of tolerance and religious pluralism also contributed to the debate over interfaith marriages getting more exciting. Religious tolerance and pluralism are two things that must be understood by all religions, including Muslims. The Prophet Muhammad SAW., According to the views of the tolerant and pluralists, was the Prophet who was most tolerant of followers of other religions.

Illat analysis and wisdom regarding the proposition of the prohibition of religious marriage, can be an alternative solution to answer the ongoing debate polemic. With illat studies and wisdom, we can find out the message contained in the prohibition of religious marriage. Either from the content of the text of the will of God's word of God, or the content of the context behind it. In-depth study of illat and wisdom will provide a meeting point for the spirit of extremist and pluralist desire.

1. PENDAHULUAN

Secara umum syariat Islam bertujuan untuk menjaga lima aspek penting dalam kehidupan manusia. Kelima macam tersebut adalah hifẓu al-dīn (menjaga akidah/agama), hifẓu al-nafs (menjaga keselamatan jiwa), hifẓu aql (menjaga kesehatan akal), hifẓu al-māl (menjaga harta), hifdzu al-nasl (menjaga keturunan) [1], dan ada yang menambahkan lagi, yaitu hifẓu al-'irdh (menjag kehormatan). Semua aspek tersebut kemudian diformulasikan dalam satu bingkai maslahah.[2]

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka teks tentu harus mampu menyapa realitas yang terus bergerak. Bentangan jarak yang jauh antara teks dan konteks akan berakibat gagalnya syariat Islam itu sendiri. Pada akhirnya, teks hanya menjadi literatur 'mati' karena tidak pernah bergumul dengan realitas 'hidup'. Itulah sebabnya, mengkontekskan teks bisu agar sesuai dengan kebutuhan realitas menjadi sebuah keharusan yang tak bisa ditawar.

Hanya saja, dalam memahami teks Alquran dan hadis selalu bersifat relatif dan subjektif. Dalam konteks ini, perubahan hukum karena perbedaan ruang waktu menjadi perdebatan panjang dalam upaya taṭbīq al-ahkām (implementasi hukum). Pada gilirannya, muncullah defereseansi penafsiran di kalangan juris Islam. Persoalannya bukan hanya sekedar karena teks yang bersifat ẓanniy dan terbatasnya persediaan teks, tapi perbedaan interaksi sosial dan tingkat kemampuan manusia dalam menangkap makna dari sumber hukum juga menjadi bagian pemicunya.

Salah satu segmen penting yang sering bersinggungan antar teks dan realitas dalam rangka aplikasi hukum adalah latar belakang kultur yang berbeda-beda. Hal ini menimbulkan persoalan lebih mendalam dalam mengkonstruksi hukum Islam yang merupakan isi dari diktum-diktum ilmu fikih diperoleh dengan jalan ijtihad.[2] Seringkali pembacaan realitas suatu daerah tidak bisa Keywords: different religion, religious tolerance, interfaith marriage, ‘illat-hikmah

(2)

diterapkan dengan daerah lain yang memiliki latar budaya berbeda.

Karena itu, produk hukum tidak boleh serta merta mengabaikan setting turunnya ayat. Kalau setiap ayat ada konteksnya, maka setiap terminologi Alquran juga punya konteks sendiri. Menguak keuniversalan Alquran dianggap penting dalam mengkaji teks dan konteks di mana Alquran diturunkan. Karena proses turunnya Alquran bersapaan dengan sosio-kultural Arab yang telah sekian lama mentradisi. Sejarah teks Alquran sarat dengan muatan historis.[3]Ia sebagai bertuk kristalisasi bahasa mesti bertalian dengan sosio-kultur masyarakat Arab. Sebelum Alquran datang, orang-orang Arab memiliki budaya yang terpuji dan tercela. budaya Arab yang terpuji dilegalisasi oleh Alquran untuk tetap diabadikan dan diamalkan, sementara budaya yang tercela diluruskan dan dibenahi secara lambat laun.[3] Oleh karena itu ajakan Alquran tidak serta merta menerobos batas-batas budaya Arab waktu itu, karena tidak mungkin membongkar kebiasaan yang sudah membeku dalam benak mereka. Butuh waktu lama untuk merubah pola pikir, sikap, keyakinan bangsa Arab yang telah lama melembaga.

Selain persoalan multi kultur, teks juga sering bersinggungan dengan masalah multi agama yang saat ini mulai mencapai titik kulminasi. Teks tentu tidak boleh kaku dengan melakukan deskriminasi dalam label Islam dan non Islam. Karenanya, memahami teks secara komprehensif dan utuh mejadi sebuah keniscayaan untuk memahami pola dialog dan pokok ajaran yang berkenaan dengan pluralisme agama.[4]

Ketika teks berhadapan dengan persoalan multi budaya dan multi agama, pertanyaan yang muncul kemudian apakah teks masih akan bersikukuh pada sifatnya yang profan. Maka, disinilah penulis perlu menegaskan bahwa menemukan alternatif baru melalui pengintegrasian teks dengan perkembangan situasi masyarakat tanpa mengorbankan prinsip ajarannya menjadi langkah yang harus ditempuh.

Contoh nyata yang masih perlu telaah panjang adalah teks Alquran yang menjelaskan konsep pernikahan beda agama.

Dalil yang selalu dijadikan dalih larangan adalah ayat 221 Surat al-Baqarah. Sebetulnya jika mau membuka kembali lembaran sejarah, ayat itu tak lebih sebagai respon terhadap permusuhan kaum musyrik yang saat itu dikhawatirkan akan menghancurkan harapan-harapan suci pernikahan yang biasa disebut sebagai mīṡāqan ghalīẓā (penambat yang kokoh). Selain belum menemukan problem pada kajian asbābun an-nuzūl, persoalan pernikahan beda agama juga masih juga belum final dalam rumusan tentang apa penyebab (’illat) dan tujuan agung (hikmah) dilarang atau bahkan dibolehkannya nikah lintas agama. Sebab, hingga saat ini alasan yang menjadi penghalang bolehnya nikah antar agama kurang lebih berkisar pada soal menjaga kelestarian agama atau akidah.

Sementara itu, kasus nikah beda agama malah menunjukkan fakta yang berkebalikan. Pernikahan lintas agama malah dapat melahirkan anak menjadi hidup beragama Islam. Data yang dilakukan oleh Drs. Nuryamin Aini, MA di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan pada tahun 1980, laki-laki muslim yang menikah dengan perempuan non-muslim, 50% dari anaknya menjadi muslim. Tapi bila ibunya muslim dan bapaknya non-muslim, angkanya lebih tinggi: sampai 77% akan menjadi muslim. Angka itu naik lagi pada tahun 1990 menjadi 79%. Jadi bisa dikatakan bahwa kemampuan perempuan muslim untuk mengislamkan anaknya ketika menikah dengan laki-laki nonmuslim jauh lebih tinggi dibandingkan laki-lakinya yang muslim. Dominasi figur ibu tak dapat dipisahkan dari peran nurturancei-nya dan intensitas waktu yang lebih banurturancei-nyak untuk berinteraksi dengan anak-anaknya.

Problem nikah beda agama bukan hanya berhenti sampai di situ, pada ranah lain ia justru menimbulkan problem baru yang cukup serius. Terutama bila akhirnya membawa keputusan yang melarang bolehnya nikah beda agama. Ternyata nikah beda agama yang tercatat lebih besar dibandingkan dengan nikah beda agama yang tidak tercatat di kantor catatan sipil. Ini berarti pasangan nikah beda agama mempunyai problem serius pada tingkat birokrasi pencatatan perkawinan. Banyak yang hipokrit, ambivalen

(3)

dan melakukan hīlah (manipulasi hukum) untuk “selamat” dari kesulitan birokrasi ini. Bahkan, tak sedikit yang pura-pura pindah agama sekedar untuk menggampangkan dalam mengurusi pencatatan nikah. Resistensi birokrasi bukannya menghapus kohabitasi pasangan beda agama, tapi justru memperbanyak kemunafikan.

Fakta itu menunjukkan bahwa disiplin fikih terlalu banyak mengandalkah hal-hal yang sifatnya hipotetis, pengandaian-pengandaian dan selalu bersandar pada gagasan-gagasan yang tidak teruji secara empiris. Bahkan, kita melihat fikih yang tidak empirik itu masih dijadikan acuan oleh masyarakat, dan oleh karena itu masyarakat selalu didikte oleh fikih seperti itu. Mestinya fikih itu selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Karena itu, perlu ada perubahan radikal kalau temuan ini hendak dijadikan acuan untuk menakar keberadaan fikih lama. Kalau dalam hukum fikih yang lama perempuan muslim tidak bisa menikah dengan laki-laki nonmuslim, dengan dalih anaknya tidak akan menjadi Islam, maka alasan itu tidak punya dasar empirik. Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fikih yang melandasi larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim.

2. KAJIAN LITERATUR

Dalam melangsungkan pernikahan, ada satu hal yang harus diperhatikan, disamping harus mencukupi rukun dan syarat, yaitu harus kufū’ (sepadan). Dalam konsep nikah, kesepadanan tersebut seringkali diukur pada aspek martabat, status sosial, akhlak, ekonomi dan lain-lain. Konsep kafaah ini masih diperselisihkan dikalangan ulama.

Pertama, Ibnu Hazm melontarkan pendapat yang cukup longgar. Menurut beliau, kafaah bukanlah sebuah keharusan dalam melangsungkan ikatan pernikahan. Yang penting sepasang kekasih yang akan merajut hubungan suami istri harus memiliki nilai keimanan dan ketakwaan. Pada akhirnya, Ibnu Hazm sampai pada titik kesimpulan bahwa dalam konsep kafaah tidak ditemukan komponen yang pasti untuk dijadikan syarat keabsahan nikah. Pendapat

beliau sealur dengan pemikiran Al-Ṡauri, Hasan Basri, Al-Karkhī (termasuk kelompok Hanafiyah) yang berpendapat bahwa kafaah bukanlah persyaratan baik syarat sah nikah ataupun syarat luzūm (syarat yang mesti dipenuhi). Jadi dapat digaris bawahi, kelompok ini tidak mensyaratkan kafaah secara mutlak.

Yang dijadikan dasar oleh mereka adalah Ayat yang artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa”. Sekalipun pengertian ekualitas sebenarnya menurut sebuah pendapat yang kurang setuju dengan pandangan kelompok pertama ini hanya berkisar dalam persamaan hak dan kewajiban tidak lainnya.[5]

Kedua, Mayoritas fukaha termasuk Mażāhib al-Arba’ah (Hanābilah, Syāfi'iyah, dan Mālikiyah) berpendapat bahwa kafaah merupakan syarat luzūm-nya pernikahan bukan merupakan syarat sah pernikahan. Argumen yang dijadikan alat legalitasnya, (1) Al-naqlu. Rasulullah bersabda kepada Ali Ra. :“Ada tiga hal yang tidak boleh diakhirkan; salat bila tiba waktunya sudah sampai, jenazah bila sudah hadir, dan perempuan bila sudah menemukan yang sepadan dengannya”(HR. Hakim dan Tirmiżi). (2) Al-Aqlu, bahwa aturan kemaslahatan suami istri biasanya tidak akan terwujud kecuali dengan adanya kesepadanan dari kedua belah pihak.[5]

Meskipun terdapat perbedaan tajam tentang keharusan kafaah, tetapi dalam konsep nikah, kafaah menjadi sangat penting karena mengingat pernikahan adalah mīṡāqan ghalīẓa yang harus dijalani dengan hati-hati. Itulah sebabnya, pendapat mayoritas ulama yang menjadikan kafaah sebagai syarat luzūm harus dikedepankan. Hanya saja, mengenai ketentuan unsur-unsur kafaah juga masih dipersilisihkan di kalangan ulama. Setidaknya ada dua aliran pemikiran dalam menjawab masalah ini.

Pertama, menurut Mālikiyah, unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam konsep kafaah adalah ad-dīn wa al-hāl Yang dimaksud dengan ad-dīn adalah at-tadayyun yang berarti seorang muslim yang tidak fasik. Sedangkan yang dimaksud dengan al-hāl adalah bebas dari cacat (kekurangan) yang

(4)

bisa dijadikan suatu ukuran bolehnya khiyār (opsi) dari suami, seperti lepra, gila dan lain sebagainya.

Kedua, menurut Hanafiyah unsur kafaah adalah agama, Islam, merdeka (bukan budak), nasab, harta dan profesi. Ketiga, menurut Syāfi'iyah adalah Islam, iffah (terjaga agamanya), merdeka, nasab, selamat dari aib, dan profesi. Keempat, menurut Hanābilah, unsur kafaah adalah Islam, merdeka, nasab, harta dan profesi.[5]

Dari uraian di atas tampak pendapat para ulama yang sangat beragam dalam memasukkan unsur-unsur yang terdapat dalam kafaah. Mereka hanya sepakat dalam soal unsur agama, sedangkan untuk komponen yang lain masih belum ditemukan kata sepakat di antara mereka. Misalnya, masalah nasab, profesi dan kemerdekaan tampaknya mazhab yang berani tidak memasukkan unsur-unsur tersebut hanyalah kalangan Mālikiyah. Sementara ulama lainnya begitu mengikat kuat untuk menjadikan unsur tersebut sebagai bagian dari kafaah.

Berdasarkan alur inilah, maka unsur kesepadan dalam agama menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Kepentingannya tak lain adalah untuk melestarikan iman pasangan suami istri. Karena sesungguhnya semua perangkat Syariat dikerahklan untuk menjaga eksistensi iman dan Islam. Bahkan kalau perlu, nyawapun harus direlakan. Dalam Ushul Fikih, term ini disebut hifẓu al-dīn, yang merupakan maqāsidu al-tasyrī' (tujuan syariat) nomor satu.

Keseriusan Islam untuk membentengi ummatnya, tercermin dari sikap keras Nabi. Pada suatu kesempatan beliau bersabda:

ُه ْولُتُقاْ ف َ هُن ْيد َلَ د َب ْن َمَّ "Barang siapa pindah agama, bunuh saja."

Dalam hal ini, Allah secara tegas melarang menikahi kaum ateis (orang yang tidak bertuhan). Allah berfirman:

ْنوووووو ِم وووووْ َ ووووون ِمَ ْ ُم ْ ووووو َمَ َو َّن ِمَ َ ْووووو ُي َّأْ لَووووو َم ُِاىوووو وَِ ُِْا ْم موووووو ُح ِكر نْت َلَ َوَ َ

ِكوَِ ُِْا ْم مو ُح ِكر نْت ُ لَ َو ْمَ كُت َب َجْ عْأ ْوْ َو ٍ كَِ ُمْا دو ْد َبْ َو موون ِمُ ْ ُي َّأْ لَو َم

ْمك َد َجُ عْأ ْوْ َو ٍكَِ ُم ْن ِم ْا ْ ن ِمَ ْ ُمْ "Dan janganlah engkau menikah dengan wanita musyrik, sehingga mereka beriman. Sesungguhnya budak wanita mukmin lebih

baik ketimbang wanita musyrik, walaupun menarik simpati hatimu. Dan janganlah engkau menikahkan (wanita mukmin) dengan orang-orang musyrik, sampai mereka mau beriman. Sesungguhnya budak mukmin lebih baik ketimbang orang musyrik, sekalipun mereka membuat hatimu 'kesengsem'."

Jika menikahi kaum ateis jelas diharamkan, maka permasalahan yang muncul kemudian adalah kasus menikahi wanita ahli kitab. Karena pada prinsipnya, ahli kitab dan musyrik sama menyandang status kafir. Hal ini bisa dilihat pada firman Allah:

ِ اووووت ِكَ ْم ِ وووور ْ أ ْنوووو ِم مو ُ ووووأَك َني ِوووووْم ِنووووَ ك َن ْمووووُ ْ َ ووووكَ أَن ُم َ ْ ِكووو وَِ ُِْا ْم َور ُ

َ

ن ِّي َبْم ُم ُه َي ِتر أرت َّأَ لَ َم "Orang-orang kafir yang terdiri dari ahli kitab dan mussrik tidak akan meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata".

Ayat ini memberi informasi bahwa orang kafir ada dua macam. Yakni ahli kitab dan musyrik. Yang disebut ahli kitab adalah mereka yang berpedoman kepada agama samawi. Sejarah mengatakan yang tergolong agama samawi—yang tentunya mempunyai kitab samawi pula—adalah Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian, hanya mereka yang berhak menyandang gelar ahli kitab. Di luar itu termasuk musyrik.[6]

Untuk menjawab kasus nikah dengan ahli kitab, tampaknya ulama berlandas tumpu pada firman Allah yang berbunyi: ر

مووووووتوُ أ َني ِوووووُ ْم َنوووو ِم َ ُاُ نووووو َص ْح َُِ ْم َو ُِاوووور ن ِمَ ْ ُِْ ْم َنوووو ِم ر ُاُ نوووو َص ْح َُِ ْم َور ووووووت ِكَ ْمر َ ْ وووووو َ َ ِنوووووو ِصْح ُم َّن ُ َرووووووو ُيأ َّنُ ووووووو ُُِ ت ْيُ تن هَ ُ ُِ َ ْمُكِلْدووووووق نوووووو ِم َ َ ا

نمدَ ْأ ي ِو ِخت ُم َّ لا َو َ َ ِح ِفا َس ُم ”(dihalalkan bagimu) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.”

Perselisihan Ulama tentang menikahi ahli kitab dapat dipilah menjadi tiga kubu. Berikut ini akan diuraikan berkenaan dengan ulama yang memprakarsai beserta dalil yang dijadikan argumen.

(5)

a. Golongan pertama, berpendirian bahwa menikahi perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) halal hukumnya. Termasuk dalam golongan ini adalah jumhur ulama. Pendirian golongan ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

1) Firman Allah Swt. dalam surat al-Maidah ayat 4: ُ ُان َص ْح َُِ ْم َو ُِار ن ِمَ ْ ُِْ ْم َن ِم ر ُاُ ن َص ْح َُِ ْم َور َن ِم َّن و ُُِ ت ْيُ تن هَ ُ ُِ َ ْمُكِلْدق ن ِم َ َ اَت ِكْم ر مور توُ أ َني ِوُ ْمَ ْ َ َ ِن ِصْح ُم َّن ُ َرو ُيأُ ي ِو ِخت ُم َّ لا َو َ َ ِح ِفا َس ُم نمدَ ْ أ ”(dihalalkan bagimu) wanita-wanita yang menjaga kehormatan(^) di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” 2) Selain dasar dalil naqli, ada kesaksian

sejarah yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah menikahi perempuan ahli kitab. Hal ini menunjukkan bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu halal hukumnya. Kemudian soal perbedaan agama ini tidak menutup kemungkinan suami bisa mengajak istrinya untuk masuk Islam di kemudian hari.

b. Golongan kedua berpendirian bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu hukumnya haram. Yang terkemuka dari kalangan sahabat dari golongan Syiah Imamiyah. Adapun dalil yang dipegang oleh golongan kedua ini adalah sebagai berikut:

1) Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 221:

َّن ِمْ ُي َّأْ لَ َم ُِاىَِ ُِْا ْم مو ُح ِكر نْت َلَ َوَ Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik hingga mereka beriman (al-Baqarah [2]: 221).

2) Firman Allah dalam surat al-Mutmainnah ayat 10:

ِ ِفمَو كرْم ِم َص ِبِب موك ِس ُِْ ت ُلَ َوَ Jangalah kamu pegang (yakni ceraikanlah)perempuan-perempuan kafir yang telah kamu nikahi.(al-Mutmainnah [60]: 10).

Kedua ayat di atas jelas melarang kita menikahi perempuan-perempuan kafir. Ahli kitab termasuk golongan orang kafir musyrik, karena orang Yahudi menuhankan Uzair dan mengkultuskan Haikal Sulaiman a.s. [7] serta orang nasrani menuhankan Isa Ibnu Maryam, sedangkan dosa syirik tidak diampuni oleh Allah SWT. Jika mereka tidak bertaubat kepada Allah SWT sebelum mereka mati. Hal ini sebagaimana yang dimaksudkan oleh ayat 48 dan 116 dalam surat al-Nisā`.

َ

وووو ُِْ َ نوَ د اوووو َم ُ وووو ِأُ غ َ َو ِهووووِب ْ كووو و ََ َ ُر نْا أ ُ وووو ِأغ َن ْ لا ََ للّم ه ن َُِّ ءاش َر ن َِ َِْ Sesungguhnya Allah tidak

mengampuni dosa syirik

(mempersekutukan sesuatu dengan Dia) dan Dia mengamipuni segala dosa selain dari (syirik)itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (al-Nisa`[4]: 48 & 116).

Di samping itu, orang musyrik adalah najis menurut ayat 28 surat al-Taubat:

س َجن َنوَ كَُِ ُِْا ْم ا َِر ن َُِّ ”.... sesungguhnya orang musyrik itu najis. (al-Taubat [9]: 28).

3) Ayat ( َ اووووت ِكَ ْم ر مووووور توُ أ َني ِوووووُ ْم َنوووو ِم َ ُاُ نوووو َص ْح َُِ ْم َو) ر menurut golongan ini diarahkan kepada perempuan ahli kitab yang telah masuk Islam, atau diarahkan pada pengertian bahwa kebolehan menikahi wanita ahli kitab itu adalah pada masa (keadaan) perempuan-perempuan Islam sedikit jumlahnya. Dengan kata lain sebagai rukhṣah. 4) Selain itu, secara psikis menikahi

perempuan ahli kitab akan berbahaya, karena dikhawatirkan kalau si suami akan terikat hatinya, apalagi setelah mereka memperolah keturunan

(6)

(anak). Sehingga sang suami dan anak masuk pada agama sang istri.

c. Golongan ketiga berpendirian bahwa menikahi perempuan Ahli kitab itu halal hukumnya. Pandangan demikian ini berdasarkan bahwa Sayidina Umar r.a. pernah berkata keapada para sahabat Nabi yang menikahi perempuan ahli kitab: ”ceraikanlah mereka itu”. Perintah Sayidina Umar ini dipatuhi oleh para Sahabat tersebut, kecuali Hużaifah. Karena itu, Sayidina Umar mengulangi lagi perintahnya agar Hużaifah menceraikan istrinya. Lantas Hużaifah berkata: ”maukah engkau menjadi saksi bahwa menikahi perempuan ahli kitab hukumnya haram?”, Sayidina Umar berkata: ”ia akan menjadi fitnah. Ceraikanlah!” kemudian Hużaifah berkata lagi:”maukah engkau menjadi saksi bahwa ia haram?”. Sayidina Umar menjawab lagi dengan singkat: ”ia adalah fitnah”. Hużaifah berkata: ”sesungguhnya aku tahu bahwa ia adalah fitnah, tetapi ia halal bagiku.” setelah Hużaifah meninggalkan sayidian Umar, barulah istrinya itu ditalaknya. Lantas Hużaifah ditanya orang : ”mengapa engkau tidak mentalak istrimu itu ketika diperintah oleh umar?”. Jawab Hużaifah: ”karena aku tidak ingin diketahui orang bahwa aku melakukan sesuatu yang tidak layak”.

Dari uraian panjang di atas, kita dapat memetik satu kesimpulan bahwa menikahi kaum musyrik hukumnya haram. Sedangkan menikahi ahli kitab masih menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama. Pada akhirnya belum ditemukan titik temu tetapi justru menampilkan hukum yang berbeda-beda. Permasalahan berikutnya yang perlu ditelaah lebih mendalam adalah siapakah sebenarnya ahli kitab? Hal ini penting dijabarkan, agar memperoleh gambaran jelas keberadan ahli kitab, terutama pada konteks saat ini.

Dalam Alquran ada tiga kelompok yang sering disebut kafir, musyrik dan ahli kitab. Ketiga kelompok tersebut perlu diuraikan secara panjang lebar agar ditemukan perbedaan secara jelas.[8]

a. Kafir

Secara literal, kata kafir berasal dari kata kaf, fa’, ra’ yang berarti menutupi. Dari pengertian demikian, muncul bebrapa ungkapan yang pada dasarnya dapat dikembalikan kepadanya. Misalnya malam disebut kafir, kaena ia menutupi siang. Petani disebut kafir karena pekerjaannya menutupi benih dengan tanah.

Term kufr dalam Alquran tidak selamanya menunjuk pada pengertian pengingkaran terhadap Tuhan dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, perilaku kafir tidak selamanya datang dari orang-orang ateis, musyrik, dan atau nonmuslim lainnya. Orang-orang yang mengaku muslim pun bisa terjerumus ke dalam perilaku kufr dalam pengertiannnya yang tertentu. Misalnya, kufr karena menutup-nutupi nikmat Allah atau tidak berterimakasih atas nikmat yang dianugrahkan kepadanya. Kufr dalam bentuk ini disebut kufr nikmat.

Secara termonologi, para ulama tidak sepakat dalam menetapkan batasan kufr, hal ini disebabkan adanya perbedaan tentang batasan iman. Salah satu batasan yang paling umum, khususnya di kalangan Asy’ariyah, iman diartikan sebagai pembenaran kepada Rasulullah berikut ajaran yang dibawanya. Sedangkan kufr adalah pendustaan terhadap Rasulullah dan ajaran-ajarannya. Dengan pengertian tersebut dapat dinyatakan seseorang diberikan kafir apabila mendustakan kerasulan Nabi Muhammad Saw. dan ajaran yang dibawanya.

Secara eksplisit, ahli kitab juga didentifikasi sebagai orang sebagaimana halnya orang musyrik (Qs. Al-Bayyinah,98/01). Term kufr dalam ayat tersebut menurut Wahbah Zuhailiy ialah orang-orang yang menentang kerasulan Muhammad Saw. kekafiran ahli kitab seperti yang ditunjuk ayat ini sangat jelas, sama halnya kekafiran orang-orang musyrik, yaitu sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

(7)

c. Musyrik

Term musyrik adalah isim fā’il dari asyraka, yusyriku isyrākan yang secara literal mengandung pengertian menjadikan seseorang/sesuatu sebagai sekutu. Sedangkan secara termonologi, syirik artinya membuat atau menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tambahan, obyek pemujaan, dan atau tempat menggantungkan harapan dan dambaan. Sedangkan pengertian syirik yang ada dalam Alquran banyak bermakna mensyarikatkan Allah.

Menurut para mufassir, antara lain Imam Fakhrur Razi, yang disebut dengan musyrik adalah mereka yang mengingkari wujudnya Tuhan (atheis), tidak percaya pada Nabi dan hari kiamat.[9] Sedang yang disebut musyrik adalah mereka yang tidak mengakui Tuhan, Nabi, hari akhir dan berbagai doktrin agama samawi. Dengan kata lain musyrik adalah mereka yang tidak bertuhan atau mereka masih mengakui tuhan akan tetapi tidak berdasarkan kitab samawi.[10]

Dalam kaitannya dengan pembahasan ahli kitab, term al-lażīna asyrakū (orang-orang yang berbuat syirik) ditemukan pada tiga ayat yang membedakan antara komunitas musyrik dari ahli kitab (Qs. Ali Imran/3:186. Qs. Maidah/5:82 Qs. Al-haj/22:17). Pada ayat-ayat tersebut mereka yang diidentifikan sebagai orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala, walaupun mungkin saja mereka mengakui keberadaan Allah.

Menurut Syekh Muhammad Rasyid Riḍa dengan menukil pendapat Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar (IV/187) berpendapat bahwa wanita musyrik yang dimaksud pada ayat adalah kalangan bangsa Arab karena tidak memiliki kitab suci saat Alquran turun. Pendapat ini juga mengutip penafsiran klasik jauh sebelumnya, yaitu tafsir dari Imam al-Ṭabri (225-310 H). Menurut pendapat ini, kaum Majusi (Zoroaster), Konghucu, Budha, dan Hindu sebagaimana dikemukakan oleh pembaru Islam Abdul A’la al-Maududi adalah tergolong ahli kitab karena mereka diduga

pada mulanya memiliki kitab suci. Sementara menurut jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan perempuan musyrik tersebut adalah semua wanita kafir selain Yahudi dan Nasrani baik dari bangsa Arab maupun bangsa non-Arab. Menurut pendapat ini bahwa semua wanita yang bukan Islam dan bukan pula Yahudi dan Kristen tidak boleh dikawini oleh pria muslim, apapun agama dan kepercayaannya, seperti wanita dari umat Budha, Hindu, Konghucu, Zoroaster, karena dikategorikan sebagai musyrik yang haram dinikahi.[7]

d. Ahli kitab

Seperti terlihat dalam uraian di atas, Alquran memberi predikat kafir kepada ahli kitab. Para Ulama sepakat kekafiran mereka dilihat dari segi akidah Islam. Tetapi mereka berselisih untuk memposisikan mereka dalam konteks syirik berikut implikasi hukumnya. Dalam masalah ini, al-Razi menyatakan para ulama berbeda pendapat tentang musyrik, apakah mencakup kepada orang kafir dari ahli kitab atau tidak. Sebagian ulama tidak memasukkan mereka ke dalam kategori musyrik, tetapi mayoritas ulama menyatakan bahwa term musyrik mencakup pula orang-orang dari ahli kitab. Pendapat yang terakhir ini dianut oleh al-Razi.

Dalam kaitan ini, al-Ṭabaṭaba’i menyatakan syrik pada dasarnya terbagi atas dua macam, yaitu syirik ẓāhir dan syirik khafī. Pembagian syirik tersebut didasarkan pada tingkat kejelasan terhadap prilaku syirik itu sendiri. Mereka yang menggap Tuhan itu berbilangaan, menjadikan patung sebagai sesembahan, adalah syirik terang-terangan, sedangkan syirik tersembunyi termasuk dalam hal ini, adalah prilaku ahli kitab yang mengingkar kenabian terutama karena menganggap Isa al-Masih adala putra Tuhan. Walaupun secara umum dinyatakan berbuat syirik tetapi mereka tidak secara tegas diberi predikat musyrik. Pendapat ini sejalan dengan Ibnu Taymiyah.

Pendapat serupa juga dikemukakan Abdul Hakim dengan mengecam

(8)

pendapat yang mempersamakan atara ahli kitab dengan orang-orang musyrik. Menurut beliau, ahli kitab berbeda dengan kaum musyrik. Karena ketika Alquran menyebutkan para pemeluk agama (Islam, Yahudi, Nasrani, Sābi’un, dan Majusi), Alquran menyebutkan orang musyrik dalam satu golongan tertentu dan ahli kitab dalam golongan yang lain. Dalam hal ini, ahli kitab tidak terdapat perbedaan yang terlalu jauh dari umat Islam, karena mereka juga beriman kepada Allah dan mengabdi kepadanya. Mereka juga beriman kepada nabi-nabi dan kehidupan akhirat serta hal-hal yang berkaitan dengan hari pembalasan.

Menurut Imam Syāfi’i, yang termasuk ahli kitab adalah wanita Yahudi dan Nasrani keturunan bangsa Israil, tidak temasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi atau Nasrani berdasarkna fakta-fakta sejarah bahwa Nabi Isan dan Nabi Musa hanya diutus untuk kalangan bangsa israil saja dan lafal min qablikum dalam surah al-Māidah di atas menunjukkan kepada dua kelompok Yahudi dan Nasrani. Imam Abu Hanīfah dan sebagian besar fukaha berpendapat bahwa yang dimaksud dengan perempuan ahli kitab adalah siapa saja yang mempercayai seorang nabi dan kitab yang pernah diturunkan Allah Swt. [7]

Dalam konteks negara kita, yang menjadi persoalan adalah status agama yang dianut penduduk Indonesia, semisal agama Hindu, Budha dan Konghucu masuk kategori ahli kitab. Sebetulnya, masalah ini dapat dengan mudah dijawab, bila patokan ahli kitab adalah memeluk agama samawi (Yahudi dan Nasrani), maka status mereka dapat dikatakan bukan ahli kitab, sebab mereka tidak berpatokan pada kitab samawi. Yang tentunya konsep ketuhanan berbeda jauh.

Sedang untuk Kristen Protestan dan Katolik ada kemungkinan. Disebut ada kemungkinan sebab ada ulama yang mensyaratkan nenek moyang mereka harus telah memeluk Kristen sebelum di-nasakh (dihapus).[11] Persyaratan ini

untuk konteks Indonesia sulit dilacak, kalau tidak dikatakan mustahil. Sebab agama Kristen baru datang belakangan. Sebelum itu warga Indonesia sudah memeluk Hindu, Budha, dan Islam. Dengan kata lain, wanita Kristen yang ada sekarang adalah keturunan mereka yang murtad dari Hindu, Budha dan Islam. Jika persyaratan ini bisa kita terima, peluang untuk menikah dengan orang Kristen Protestan dan Katolik tertutup rapat-rapat.

Jika kita mengikuti alur jumhur, peluang itu tetap ada. Sebab, menurut mereka, persyaratan ini tidak ditemukan dalam Alquran. Ayat kelima surat al-Mā`idah membolehkan nikah dengan ahli kitab dengan tanpa catatan. Bahkan, Syekh Nawawi menyitir pendapat yang mengatakan boleh menikah dengan ahli kitab, sekalipun nenek moyang mereka masuk Kristen dan Katolik setelah agama itu ditarik dari peredaran (di-nasakh).[12]

Namun keberadan orang Kristen dan Katolik dalam konteks sekarang masih diperdebatkan, apakah masih bisa dikategorikan sebagai ahli kitab atau tidak, sebab ada anggapan bahwa kitab mereka telah berubah. Implikasinya, jika otentitas kitab yang dianut menjadi persyaratan label ahli kitab, maka mereka tidaklah dinamakan ahli kitab. Kendati demikian, Yusuf Qarḍawi dengan tegas mengatakan bahwa hal itu tidak masalah. Artinya, meski kitab mereka mengalami perubahan, tetaplah dikatakan sebagai ahli kitab.[13]

3. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan mengkaji berbagai sumber kepustakaan yang relevan dengan pembahasan. Selain itu, persoalan penelitian hanya bisa dijawab lewat penelitian pustaka dan tidak mungkin mengharapkan datanya dari riset lapangan. B. Sumber Data

Sumber data dapat diperoleh dari dua macam tipe sumber, yaitu: (1) sumber primer; (2) sumber sekunder. Sumber primer adalah

(9)

sumber yang masih bersifat orisinil yang berasal dari hasil-hasil penelitian yang berupa jurnal ilmiah yang terkait dengan bidang penelitian. Sumber primer dapat berupa karya atau publikasi yang ditulis oleh penulis utama atau peneliti itu sendiri. Misalnya; jurnal ilmu pendidikan, jurnal pendidikan dan pembelajaran, the Journal Of Educational Research dan sebagainya. Sumber sekunder berupa sumber yang berasal dari karya seseorang yang ditulis oleh orang lain. Ketika tulisan tersebut dirujuk, maka rujukan itu bersumber dari sumber sekunder. Sumber sekunder dapat berupa buku, ensiklopedia, review penelitian dan sejenisnya.[14]

4. PEMBAHASAN

Dalam konteks larangan nikah beda agama, setidaknya dua sifat yang dimungkinkan bisa menjadi ’illat. Larangan nikah beda agama yang dimaksud di sini adalah pria muslim menikahi wanita musyrik atau ahli kitab. Dua kemungkinan tersebut adalah:

a. Kekufuran atau kemusyrikan

Kekufuran di sini meliputi wanita musyrik dan ahli kitab, karena sebagian ulama menilai wanita ahli kitab sama dengan musyrik. Sebagaimana diuraikan di atas bahwa, ahli kitab termasuk golongan orang kafir musyrik, sebab orang Yahudi menuhankan Uzair dan mengkultuskan Haikal Sulaiman a.s. serta orang nasrani menuhankan Isa Ibnu Maryam. Oleh karena itu, wanita ahli kitab juga haram dinikahi dengan dikiyaskan pada wanita musyrik, karena memiliki kesamaan ’illat berupa kekufuran.

b. Wanita musyrik dan ahli kitab dapat menggiring ke jalan Neraka.

Ketika ayat yang mengharamkan menikahi wanita musyrik diturunkan, Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firmannya:

ِرانْم َّ لَ ُِ نوَ عُد َن ْ ِئَ ْوأُ ”mereka mengajak ke jurang neraka”. Dalam kitab Tafsīr Fakhrur ar-Rāzi dijelaskan: ادوووووو انم ذووووووصوْم ناووووووىو موووووواحْم صووووووكوع ووووووكُ مُُ ذووووووصوْمو أ اوووو ْاف موووواحلْ هوووونأاف موووواحْم ْوووووْ وووولع ذووووصوْم ووووُْ ن لَُ نوعدوون نووهنَ ُاىوو اَِْم اووان ماكوولع مووم م م لاووق لَاووبت اوووهنوكب ووو وْم صووويوف وووكلاتكْم وووِلاق ووولبْم هوووو و راووونْم . م حم ”Sifat yang disebut setelah ketentuan hukum, dan sifat tersebut sesuai dengan syariat hukum tersebut, maka secara eksplisit sifat itu bisa dijadikan ‘illat bagi hukum tersebut. Seolah-olah, Allah berfirman:"Aku mengharamkan kamu menikahi wanita musyrikat, karena mereka mengiring ke jurang Neraka". Dan ‘illat ini juga ada pada wanita kitabiyah, maka wanita kitabiyah juga haram dinikahi.”

Orang-orang Yahudi dan Kristen memiliki ’illat yang sama dengan wanita musyrik, yaitu mengajak pada kekufuran (jalan neraka), maka bisa diambil sebuah konklusi bahwa mengawini wanita ahli kitab juga haram hukumnya, karena dikiyaskan dengan haramnya mengawini wanita musyrik. Dalam Ushul Fikih dikenal bahwa hukum berkisar bersama ’illat-nya. Konsekuensinya, apabila wanita ahli kitab tidak mengajak ke jurang neraka, merek boleh dinikahi. Hal ini selaras dengan pendapat sebagian ulama yang mengakatakan bahwa, wanita ahli kitab bukanlah musyrik, makanya boleh dinikahi. a. Hikmah larangan menikahi musyrik

Wanita musyrik tidak beriman pada kitab yang diturunkan Allah, dan mereka tidak memahami ajaran agama, bahkan permusuhan antara islam dan orang musyrik benar-benar membara, tak pernah reda kecuali mencurahkan upaya yang sungguh-sungguh. Selain itu, menikah dengan mereka tidak akan menciptakan keluarga yang sakinah, karena didasari dengan keyakinan tidak sama.

b. Hikmah larangan wanita muslimah menikah dengan lelaki nonmuslim

Wanita muslimah semestinya menjaga iman yang tertanam dalam hatinya. Jika mereka telah bersuami dengan lelaki non muslim, bagaiamapun ia mesti harus tunduk pada suami. Tidak mustahil ketundukan istri akan dimanfaatkan oleh suami untuk mengajaknya berpaling dari Islam. Ini merupakan musibah besar

(10)

sekaligus malapetaka terhadap eksistensi Islam.

Hikmah lain adalah pada umunya, sang anak baru mengikuji jejak ayah setelah dewasa. Kondisi ini seolah-olah sang ibu melahirkan anak anak untuk digiring pada jalan yang sesat dan kekufuran. Selain itu, ketika kasih sayang tumbuh pada pasangan suami istri bukan tidak mungkin sang suami dengan mudah menggiring istri pada agama dan mazhabnya.

c. Hikmah kebolehan menikahi ahli kitab Ahli kitab adalah orang-orang yang beragama dan memiliki kitab yang diturunkan oleh Allah. Mereka tentu lebih mungkin untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Tidak hanya itu, wanita ahli kitab yang terus merasakan pancaran cahaya iman, akan tampak di depannya secercah petunjuk ilahi, hingga akhirnya mereka akan masuk dalam golongan yang beruntung di dunia dan akhirat. Mereka akan mengikuti jejak sang suami untuk berteduh di bawah sejuknya agama Islam. Dan tidak perlu ada kekhawatiran terhadap agama sang anak, sebab ia akan mengikuti agama suami. Sudah cukup bagi kita teladan baginda nabi yang menikahi Mariyah Qibṭiyah.

d. Hikmah larangan menikahi ahli kitab Adanya hikmah di balik larangan menikahi ahli kitab tentu menurut persepsi ulama yang melarangnya. Hikmah larangan menikahi ahli kitab tentu tidak jauh beda dengan hikmah larangan menikahi wanita musyrik. Sebab, ahli kitab diposisikan seperti orang kafir dan orang musyrik yang juga kafir. Ahli kitab sama-sama tidak beriman pada kitab yang diturunkan Allah seperti wanita musyrik. Meski mereka memahami ajaran agama mereka sendiri, tetapi di lain pihak mereka jelas mengingkari dan menolak ajaran agama Islam. Menikahi mereka sempat dibolehkan, itupun karena kondisi darurat, karena saat itu wanita muslimah masih sedikit. Lalu ketika Islam telah menjadi besar dan wanita muslimah banyak serta ajaran Islam semakin terang benderang, mereka masih bersikukuh dengan ajaran mereka sendiri. Inilah yang

menjadi problem besar, sehingga menikahi ahli kitab tidak akan mendatangkan hikmah, sebaliknya menimbulkan bahaya yang lebih besar. Karena itu, demi keselamatan akidah menikahi ahli kitab haram hukumnya.

5. KESIMPULAN

Kasus pernikahan beda agama memiliki banyak ragam. Dalam kasus tertentu, ulama sepakat mengenai status hukumnya, tapi pada kasus yang berbeda, ulama berselisih pendapat. Persamaan dan perbedaan dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pria muslim menikahi wanita kafir atau musyrik. Semua ulama sepakat menghukumi haram model nikah seperti ini.

b. Wanita muslimah menikah dengan pria kafir atau musyrik atau ahli kitab. Pada kasus ini, para ulama juga sepakat terhadap keputusan haram.

c. Pria muslim menikahi wanita ahlul kitab. Menanggapi kasus ini, ulama terbelah menjadi dua aliran. Sebagian dari mereka membolehkan, sebagian lainnya mengharamkan. Termasuk dalam menentukan ahlul kitab, ulama juga berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang termasuk ahlul kitab adalah wanita Yahudi dan Nasrani keturunan bangsa Israil. Berarti semua wanita selain Yahudi dan Nasrani baik dari bangsa Arab maupun bangsa non-Arab, semisal wanita dari umat Budha, Hindu, Konghucu, Zoroaster adalah kafir dan musyrik. Tapi di kubu yang lain, ulama menilai bahwa yang dimaksud ahli kitab adalah siapa saja yang mempercayai seorang nabi dan kitab yang pernah diturunkan Allah Swt.

Adapun ’illat dan hikmah di balik pernikahan beda agama adalah:

a. Pria muslim menikahi wanita kafir atau musyrik. ’Illat-nya adalah perbedaan akidah. Hikmahnya antara lain terhindar dari kekafiran dan kehidupan keluarga yang tidak sakinah.

b. Wanita muslimah menikah dengan pria kafir atau musyrik atau ahli kitab. Kasus ini serumpun dengan kasus di atas. Jadi

(11)

’illat-nya adalah perbedaan akidah. Hikmahnya antara lain terhindar dari ajakan suami untuk pindah agama dan terhindar dari keretakan rumah tangga. Selain itu, untuk menyelamatkan anak keturuanan, karena pada umumnya ketika anak sudah dewasa akan ikut jejak sang ayah.

c. Pria muslim menikahi wanita ahli kitab. Dalam hal ini, ulama tentu berbeda pendapat dalam menentukan ’illat dan hikmahnya. Ulama yang melarang mengangap ’illat berupa kekufuran atau kemusyrikan juga melekat pada wanita ahli kitab. Sebaliknya, ulama yang membolehkan menengarai wanita ahli kitab tidaklah kafir dan bukanlah musyrik. Kemudian mengenai hikmahnya, menurut ulama yang membolehkan adalah bahwa ahli kitab adalah orang-orang yang beragama dan memiliki kitab yang diturunkan oleh Allah, sehingga sangat mudah untuk diajak masuk agama Islam. Menurut ulama yang mengharamkan juga ada hikmah di balik larangan tersebut, yaitu bahwa ahli kitab sama-sama tidak beriman pada kitab yang diturunkan Allah seperti wanita musyrik, maka demi menjaga keselamatan akidah, diharamkan menikahi mereka.

Dalam konteks sekarang, untuk menanggapi kasus pernikahan beda agama sebaiknya memilih pendapat yang haram. Kendatipun ada ulama yang membolehkan pernikahan dengan ahli kitab, tetapi untuk zaman sekarang sudah tidak berlaku. Alasan utamanya adalah ahli kitab yang dibolehkan

dinikahi hanyalah suatu generasi ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus.

6. REFERENSI

[1] I. ibn M. Al-Syāthibi, al-Muwāfaqāt fi Uṣūl al-Syarī’ah. Beirut: Dār al-Fikr. [2] A. Yazid, Islam Akomodatif: Rekonstruksi

Pemahaman Islam sebagai Agama Universal. Yogyakarta: LKiS, 2004.

[3] U. Shihab, Kontektualitas al-Qur’an. Jakarta: Penamadani, 2003.

[4] F. Rahman, Tema-Tema Pokok Al-Quran. Bandung: Penerbit Pustaka, 1983.

[5] W. Al-Zuhaily, Al-Fiqhu al-Islamiy Wa Adillatuhu. Suriah: Dār al-Fikr, 2004. [6] M. bin Y. S. Al-Andalusi, Baḥr

al-Muḥīṭ. Beirut: Dār al-Kutub al-’Ilmiyah, 1993.

[7] S. B. Utomo, Fikih Aktual. Jakarta Selatan: Gema Insani Pers, 2003.

[8] M. G. M, Ahlul kitab, Makna dan Cakupannya. Jakarta Selatan: Paramadina, 1998.

[9] F. Al-Rāzi, Mafātīḥu al-Ghaib. Beirut: Dār al-Kutub al-’Ilmiyah, 1990.

[10] W. Al-Zuhaily, Uṣūl al-Fiqh al-Islāmy. Damaskus: Dār al-Fikr, 1986.

[11] A. B. Al-Dimyāṭi, I’ānatu al-Ṭālibīn. Surabaya: Al-Haramain.

[12] W. Al-Zuhaily, Tafsīr Munīr fi al-’Aqīdah wa al-Syarī’ah wa al-Manhaj. Beirut: Dar al-Fikr.

[13] Y. Al-Qarḍawi, Ḥalāl wa Ḥarām fī al-Islām. Kairo: Maktabah Wahbah, 1997. [14] P. S. Sari, Metode Penelitian Pendidikan

& Pengembangan. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Pernikahan antara laki-laki muslim dan perempuan musyrik hukumnya adalah haram sebagaimana di dalam surat al- Baqarah ayat 221, dengan kemaslahatan yang kembali

Apakah objek hukum tersebut logis (ma'qul al-makna) sehingga dapat dicari 'illat dan hikmah hukumnya ataukah justeru transenden (ghair ma'qul al-makna atau ta'abbudiy) dan

Jika dalam Undang-Undang Mesir, perceraian terjadi jika suami murtad, karena perkawinan antara laki-laki Ahli kitab dengan wanita Muslim dilarang menurut

Imâm Al-Qurthubî pun menjelaskan dengan Surah Al-Baqarah ayat 221 yang menegaskan bahwa lebih baik menikahi wanita budak yang mukmin daripada wanita musyrik merdeka.. 7

Quraish Shihab yang menyatakan tidak mendukung adanya pernikahan laki-laki muslim dengan wanita Ahli Kitab dalam praktiknya karena dikhawatirkan tidak tercapainya

“Tujuan utama dalam menyusun kitab tafsir ini adalah mempererat hubungan antara seorang muslim dengan al-Qur’an berdasarkan ikatan akademik yang kuat, karena al-Qur’an

a) Perempuan ahl al-Kita>b tersebut diyakini betul-betul ahli kitab, yaitu mereka yang beriman kepada agama Yahudi dan Nasrani. Secara garis besar dia beriman kepada

Jika mu’amalah sang suami pria muslim bagus terhadap sang istri wanita Ahli Kitab, maka itu adalah pertanda bahwa agama yang dianut sang suami adalah agama yang mengajak kepada