Pernikahan Beda Agama
Fikih Kontemporer Pertemuan ke-3PENGERTIAN
•
Etimologi:
Pernikahan = Nikah (pengumpulan, berjalinan)
•
Terminologi:
Akad yang
menghalalkan pergaulan
suami
istri antara seorang laki-laki dan perempuan
yang bukan mahram yang memenuhi
persyaratan tertentu
yang berimplikasi pada
timbulnya
hak dan kewajiban
bagi
masing-masing demi
terwujudnya keluarga yang
sehat lahir dan batin
. (M. Bagir al-Habsyi,
2002: 3)
Masyarakat sering membedakan istilah
kawin dan nikah. Dalam istilah
hukum, kawin/perkawinan atau
nikah/pernikahan sebenarnya tak
dibedakan.
Lanjutan…
•
Pasal 2
– Perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk
mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.
•
Pasal 3
– Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Kompilasi Hukum Islam di Indonesia”,
Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam
Ditjen Pembinaan Kelembagaan Islam Departemen Agama, 2001).
LANDASAN
FILOSOFIS
•
Pernikahan sebagai mekanisme
“pertanggungjawaban” Tuhan atas penciptaan
manusia. Pernikahan adalah pintu lahirnya
manusia di muka bumi sehingga harus diatur
sedemikian rupa.
•
Pernikahan sebagai sarana untuk membentuk
khalifatullah di muka bumi.
•
Pernikahan sebagai mekanisme dalam
menghadirkan struktur nasab yang menjadi
struktur pertanggungjawaban manusia kepada
Allah SWT.
•
Bahwa nikah dalam Islam mempunyai tujuan
yang tinggi, mulia, dan visioner, termasuk dalam
urusan yang sangat penting.
•
Dalam Islam tak ada kesenangan dunia yang
sia-sia. Semuanya harus punya tujuan yang baik dan
berdasarkan aturan.
TUJUAN
•
Meraih ketenteraman hidup (QS.
ar-Rum [30]: 21), yaitu membina rumah
tangga SAMARA (sakinah, mawaddah,
warahmah)/BMW (barokah,
mawaddah, warrahmah) dalam rangka
meraih ridha Allah dan mengikuti
Sunah Rasul.
•
KHI BAB II DASAR-DASAR PERKAWINAN
–
Pasal 3
Perkawinan bertujuan untuk
mewujudkan kehidupan rumah
tangga yang sakinah, mawaddah,
dan rahmah.
HUKUM PERKAWINAN
•
Hukum asal dari perkawinan adalah Sunnah
Mustahabbah (sunnah yang dianjurkan)
ada beberapa Hukum dalam perkawinan jika melihat
kondisi dan tujuan pelaku :
1.
Mubah
2.
Wajib
3.
Sunnah
4.
Haram
PRINSIP PERKAWINAN
•
Prinsip utama pernikahan Islam pada
dasarnya monogami.
•
Nabi Muhammad tidak poligami selama
khadijah, istri pertama masih hidup.
•
Kecuali Aisyah, semua istri Nabi janda,
bahkan ada janda tua. Ini menandakan
bahwa poligami Nabi bukan atas dasar
nafsu.
•
Poligami tidak diperintahkan, hanya
diperbolehkan dengan syarat-syarat
tertentu. Jadi hukum poligami adalah
MUBAH (diperbolehkan)
•
Poligami bukan datang dari Islam, tapi
sudah ada jauh sebelum Islam datang.
Islam hanya mengaturnya.
•
Poligami dalam Islam adalah sebuah
solusi permasalahan, bukan sebagai
anjuran.
SYARAT NIKAH
•
Mampu; siap lahir dan batin
•
Ada calon yang memenuhi
syarat
•
Cukup usia
•
Bukan mahram
•
Bukan non Muslim
•
Tidak Iddah
RUKUN NIKAH
•
Ada calon suami yang
memenuhi syarat
•
Ada calon istri yang memenuhi
syarat
•
Ada wali (wali nasab,; sesuai
tingkatannya, wali hakim)
•
Ada 2 orang saksi (berakal,
muslim, laki-laki)
•
Ada mahar (tidak
memberatkan, diterima calon
istri)
•
Ijab kabul (antara wali dan calon
pengantin pria)
Pernikahan Beda Agama
•
Banyak terjadi
perkawinan beda agama
•
Perdebatan diantara
sesama umat Islam
•
Keresahan masyarakat
•
Karena alasan HAM,
muncul pemikiran yang
membenarkan
perkawinan beda agama
TA’RIF
Perkawinan seorang laki-laki dengan seorang wanita yang masing-masing berbeda agamanya
Dasar Hukum
ولو ةكرشم نم ريخ ةنمؤم ةملأو نمؤي ىتح تكرشملا اوحكنت لاو نم ريخ نمؤم دبعلو اونمؤي ىتح نىيكرشملا اوحكنت لاو مكتبجعأ مكبجعأ ولو كرشم , ةنجلا ىلإ وعدي اللهو رانلا ىلإ نوعدي كئلوأ نوركذتي مهلعل سانلل هتاياء نيبيو هنذإب ةرفغملاو ( ةرقبلا : 221Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
(perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [QS. al-Baqarah (2): 221]
Perdebatan dumulai dengan merujuk Q.S. Al-Maidah ayat 5
AHLI KITAB YANG MANA
ََٰميِإِب ُمَلْعَأ ُ َّللَّٱ ۖ َّنُهوُنِحَتْمٱَف ٍت ََٰرِج ََٰهُم ُت ََٰنِم ْؤُمْلٱ ُمُكَءَٰٓاَج اَذِإ ۟ا َٰٓوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَََٰٰٓي ِهِن َََف ٍت ََٰنِم ْؤُم َّنُهوُمُتْمِلَع ْنِإَف ۖ َّن َلا َو ۚ ۟اوُقَفنَأ َٰٓاَّم مُهوُتاَء َو ۖ َّنُهَل َنوُّلِحَي ْمُه َلا َو ْمُهَّل ٌّلِح َّنُه َلا ۖ ِراَّفُكْلٱ ىَلِإ َّنُهوُعِج ْرَت َّنُهوُحِكنَت نَأ ْمُكْيَلَع َحاَنُج ۟اوُلَ ـْسَيْل َو ْمُتْقَفنَأ َٰٓاَم ۟اوُلَ ـْس َو ِرِفا َوَكْلٱ ِمَصِعِب ۟اوُكِسْمُت َلا َو ۚ َّنُهَروُجُأ َّنُهوُمُتْيَتاَء َٰٓاَذِإ َم ۖ ِ َّللَّٱ ُمْكُح ْمُكِل ََٰذ ۚ ۟اوُقَفنَأ َٰٓا ٌميِك َح ٌميِلَع ُ َّللَّٱ َو ۚ ْمُكَنْيَب ُمُك ْحَيHai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih
mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi oang-orang kafir itu
dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempua-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar, dan hendaklah mereka meminta
mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkannya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Qaidah Fiqhiyah
•
ِحِلاَصَمْلا ِبْلَج ىَلَع ٌمَّدَقُم ِد ِساَفَمْلا ُء ْرَد
•
Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan
(diutamakan) daripada menarik
Al Hadits
• Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (1) karena hartanya, (2) karena (asal-usul) keturunanannya, (3) karena kecantikannya, (4) karena
agamanya. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan wanita) yang memeluk agama Islam; (jika tidak), akan binasalah kedua
tanganmu
ٍعَب ْرَ ِلأ ُةَأ ْرَمْلا ُحَكْن ُُ
,
اَهِلاَمِل
,
اَهِبَسَنِل َو
,
اَهِلاَم َجِل َو
,
اَهِنْيِدِل َو
.
َكاَدَي ْتَب ِرَت ِنْيِّدلا ِتاَذِب ْرَفْظاَف
قفتم
يبأ نع هيلع
ةريره
Fatwa MUI
• Fatwa MUI Tahun 1980 tentang Perkawinan Campuran MEMUTUSKAN Memfatwakan :
• 1. Perkawinan wanita muslimah dengan laki-laki non muslim adalah haram hukumnya.
• 2. Seorang laki-laki muslim diharamkan mengawini wanita bukan muslim. Tentang perkawinan antara laki-laki muslim dengan wanita Ahlul Kitab terdapat perbedaan pendapat. Setelah mempertimbangkan mafsadatnya lebih besar dari maslahatnya, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram
• 3. Fatwa MUI Tahun 2005 tentang Perkawinan Beda Agama MEMUTUSKAN Menetapkan :
• 4. Perkawinan Beda Agama adalah haram dan tidak sah.
• 5. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlul Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.
Putusan Majelis Tarjih
• Fatwa Tarjih Muhammadiyah(2006) • Majelis Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah juga telah menetapkan fatwa tentang penikahan beda agama. Secara tegas, ulama Muhammadiyah menyatakan bahwa seorang wanita Muslim dilarang menikah dengan pria non-Muslim. Hal itu sesuai dengan surat al-Baqarah ayat 221.
• Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah haram menikah
dengan selain laki-laki muslim. Mereka juga sepakat bahwa seorang laki-laki muslim haram menikahi wanita musyrik (yang tidak beragama dan atau yang beragama bukan ahli kitab: seperti Hindu, Buda, Konghuchu dan lainnya).
Yang berbeda pendapat
• bolehkah seorang laki-laki muslim menikahi seorang wanita ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)? Sebagian ulama membolehkandengan dalil surat al-Maidah (5) ayat 5 di atas, Sebagian lagi melarang
(mengharamkan) menikah dengan ahli kitab dengan alasan bahwa ahli kitab yang ada sekarang tidak seperti ahli kitab pada zaman Nabi Muhammad saw. Ahli kitab sekarang telah musyrik (menyekutukan Allah) dengan mengatakan Nabi Isa dan ’Uzair itu anak Allah. Mereka juga telah menyelewengkan kitab Taurat dan Injil. Pendapat ini lebih kuat, karena beberapa alasan lain antara lain; menikah dengan yang seagama itu lebih baik untuk menjaga iman anakanak yang akan dilahirkan, dan kita -kaum muslimin- alhamdulillah tidak kekurangan wanita muslimah. Bahkan realitasnya, jumlah kaum wanita kita lebih banyak dari kaum laki- lakinya, jadi mengapa menikah dengan selain mereka?
Kompilasi Hukum Islam
(Dihasilkan th. 1988)
• BAB VI : LARANGAN KAWIN Pasal 44 Seorang wanita Islam dilarang
melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam (Terkait larangan perkawinan, hanya ada diktum ini)
• Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah haram menikah dengan selain laki-laki muslim.
Mereka juga sepakat bahwa seorang laki-laki muslim haram menikahi
wanita musyrik (yang tidak beragama dan atau yang beragama bukan ahli kitab: seperti Hindu, Buda,
kasus
• Meski hukum positif di Indonesia tidak memberikan ruang untuk melakukan pernikahan beda agama, menurut Siti Baroroh sebagai Ketua Pengadilan Agama Bantul, dalam praktiknya terdapat
beberapa pasangan yang tetap
melangsungkan pernikahan beda agama tersebut. Dengan dalih cinta ataupun hak asasi manusia, dan umumnya mereka akan menempuh salah satu dari empat cara
yang populer dilakukan.
• “Seperti meminta penetapan pengadilan, pernikahan dilakukan menurut masing-masing agama, penundukan sementara
pada salah satu hukum agama, dan terakhir menikah di luar negeri,” paparnya.