• Tidak ada hasil yang ditemukan

20429 24461 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " 20429 24461 1 PB"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN :2301-9085

ANALISIS KESALAHAN SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA BERDASARKAN TAHAPAN NEWMAN SERTA UPAYA UNTUK

MENGATASINYA MENGGUNAKAN SCAFFOLDING

Anik Mega Putri

Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail [email protected]

Mega Teguh Budiarto

Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail megatbudiarto@ unesa .ac.id

Abstrak

Tujuan diberikannya matematika di sekolah yaitu untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Kemampuan tersebut dapat dilihat melalui soal cerita. Soal cerita matematika merupakan soal matematika yang diuraikan ke dalam bentuk cerita sesuai konteks kehidupan nyata. Dalam menyelesaikan soal cerita tidak jarang dijumpai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Kesulitan biasanya ditandai dengan adanya hambatan yang dialami siswa. Hambatan ini biasanya berupa siswa melakukan kesalahan ketika menyelesaikan soal. Hal ini merupakan tanda bahwa siswa sedang berada dalam Zone of Proximal Development (ZPD)nya. Oleh sebab itu, ketika siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita sebaiknya diberikan bantuan berupa bimbingan oleh seseorang yang lebih kompeten agar siswa tidak melakukan kesalahan lagi. Pemberian bantuan yang didasarkan pada teori Vygotsky ini sering disebut juga sebagai scaffolding. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 32 Surabaya tahun ajaran 2016/2017. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga siswa yang memiliki jumlah kesalahan terbanyak dan bervariasi. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode tes dengan pemberian tes diagnostik dan metode wawancara. Data dianalisis berdasarkan indikator kesalahan berdasarkan tahapan Newman dalam menyelesaikan soal cerita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa melakukan kesalahan pada tahap memahami (comprehenssion), transformasi (transformation) dan pada tahap keterampilan proses (process skill). Kesalahan yang dilakukan siswa yaitu dalam membuat pemodelan dan kurang teliti dalam melakukan perhitungan. Bentuk scaffolding yang diberikan pada siswa saat melakukan kesalahan pada tahap membaca (comprhenssion) yaitu mengulas kembali (reviewing). Kesalahan pada tahap transformasi (transformation), bentuk scaffolding yang diberikan yaitu mengulas kembali (reviewing), membagun pemahaman ulang (restructuring) dan membangun konsep (developing conceptual). Sedangkan pada tahapan keterampilan proses (process skill) bantuan scaffolding yang diberikan yaitu berupa mengulas kembali (reviewing) dan membangun ulang pemahaman (restructuring).

Kata Kunci: Analisis kesalahan, Newman, Scaffolding, Soal Cerita.

Abstract

One of purposes given mathematics teaching is to develop students ability in solving problem. Students ability in solving problem could be seen by mathematics word problem. Mathematics word problem is math problem which is written in real life story. In solving word problem are not rare the difficulties faced by the students. The difficulty is usually characterized by the presence of barriers that prevent students. These barriers are usually in the form of mistakes made by students in solving problems. Thus shown that students are in the Zone of Proximal Development (ZPD). Therefore, when students make mistakes in solving word problem should be given assistance in the form of guidance by someone more competent so that students do not make another mistake. The provision of assistance based on Vygotsky’s theory is often called as scaffolding.

This research was a qualitative descriptive research implemented in the nine grade of SMP Negeri 32 Surabaya of the school year 2016/2017. Subjects in this study consisted of three students who have the greatest number of errors and varied. Data collection method used is the method of testing by providing diagnostic tests and interview method. Data were analyzed by Newman error indicator based on stage in solving word problem. The results showed that students make mistakes at the stage of comprehenssion (C), transformation (T) and on-stage process skills (P). The mistake is created at mathematical model and careless in calculation . Then, the appropriate scaffolding to overcome those mistakes at the stage of transformation (transformation) is explaining, reviewing, restructuring and developing conceptual. While at the stage of the process skills (process skill), scaffolding given in the form of reviewing and restructuring.

(2)

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang diberikan di setiap jenjang pendidikan. Soedjadi (2000) mengungkapkan sering dikatakan bahwa matematika sekolah merupakan bagian dari matematika yang berorientasi pada kepentingan pendidikan dan perkembangan IPTEK. Sedangkan matematika sekolah meninjau pada kebutuhan pendidikan seperti proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini menunjukkan adanya tujuan yang harus dicapai saat proses tersebut sedang berlangsung seperti mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. Pemecahan masalah di sekolah biasanya berupa soal cerita (Aulia, 2014).

Newman (dalam White, 2009) mengungkapkan lima tahapan yang harus dilalui siswa dalam menyelesaikan soal cerita yaitu tahapan membaca (reading), tahapan memahami (comprehenssion), tahapan transformasi (transformation), tahapan keterampilan proses (process skill) dan tahapan penulisan jawaban akhir (encoding). Penelitian ini menggunakan tahapan menyelesaikan soal cerita menurut Newman, karena dalam menyelesaikan soal cerita dibutuhkan kemampuan membaca yang berhubungan dengan keterampilan berpikir siswa. Penelitian Tuohimaa, Aunola dan Nurmi (2008) menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan membaca siswa mempengaruhi pemahaman siswa terhadap soal cerita, sehingga menyebabkan jawaban akhir yang kurang tepat dalam menyelesaikan soal cerita.

Ketika menyelesaikan soal cerita tidak jarang dijumpai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Kesulitan biasanya ditandai dengan adanya hambatan yang dialami siswa secara sadar ataupun tidak. Hambatan ini, merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran.

Menurut Vygotsky (dalam Nur, 1998: 30), setiap siswa memiliki suatu konsep yang dinamakan sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). Zone of Proximal Development atau lebih umum dikenal sebagai ZPD ini merupakan jarak antara tingkat perkembangan aktual dan potensial yang dimiliki siswa. Tingkat perkembangan aktual merupakan tingkatan dimana siswa mampu menyelesaikan tugas secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial merupakan tingkat pengetahuan tertinggi siswa yang dapat dicapai apabila mendapatkan bantuan atau bimbingan dari seseorang yang lebih mampu. Ketika siswa sedang memasuki ZPD, sebenarnya siswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan secara mandiri. Namun, adakalanya siswa merasa kesulitan sehingga menyebabkan siswa tidak mendapatkan hasil yang optimal dalam menyelesaikan tugas tersebut. Oleh sebab itu, ketika siswa mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan soal cerita sebaiknya diberikan bantuan berupa bimbingan oleh seseorang yang lebih kompeten agar siswa tidak merasa kesulitan lagi. Pemberian bantuan yang didasarkan pada teori Vygotsky ini sering disebut juga sebagai scaffolding.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di SMPN 32 Surabaya, siswa kelas IX masih banyak melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita. Salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa yaitu materi persamaan kuadrat. Menurut White (2009), dalam mendiagnosis kesulitan siswa dapat dilakukan dengan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita menggunakan analisis kesalahan newman.

Anghileri (2006), mengusulkan tiga hierarki penggunaan scaffolding dalam pembelajaran matematika. Terdapat tiga level scaffolding yaitu level 1 Enviromental Provisions yang berkaitan dengan lingkungan belajar siswa. Pada level 2 (Explaining, reviewing and restructuring) menunjukkan interaksi langsung antara guru dan siswa. Explaining, dengan meminta siswa menyampaikan konsep dalam menyelesaikan soal, kemudian meninjau ulang (reviewing) dengan memfokuskan kembali perhatian siswa yang teralihkan dan guru merestrukturasi (restructuring) dengan membantu mereka mendapatkan pemahaman mereka dari yang abstrak menjadi pengetahuan yang dapat diterima. Kemudian Pada level 3 (Developing Conceptual Thinking) berkaitan dengan pengembangan pemikiran konseptual siswa.

METODE

Penelitian ini berjenis deskriptif-kualitatif, sehingga peneliti disini berfungsi sebagai pengamat secara keseluruhan. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IX di SMP Negeri 32 Surabaya tahun ajaran 2016/2017. Data hasil tes digunakan sebagai data awal untuk menentukan subjek penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara terhadap tiga orang subjek penelitian dan diberikan scaffolding ketika subjek melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita.

Pada penelitian ini dilakukan observasi awal untuk mendapatkan data mengenai materi dan jenis-jenis soal yang masih sering dikerjakan secara salah oleh siswa. Selanjutnya setelah diperoleh data awal tersebut, kemudian ditentukan kelas penelitian.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu: 1. Tes Diagnostik

(3)

cerita. Tes diagnostik ini terdiri dari dua butir soal cerita dengan materi persamaan kuadrat. 2. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada subjek penelitian yang telah mengerjakan tes diagnostik. Wawancara digunakan untuk menggali lebih dalam tentang kesalahan siswa berdasarkan tahapan Newman Error Analysis. Hasil wawancara juga digunakan sebagai acuan untuk memberikan scaffolding dalam menyelesaikan soal ceita yang diberikan pada subjek berdasarkan level scaffolding oleh Anghileri (2006).

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Analisis data hasil tes diagnostik

Data yang diperoleh dari tes diagnostik dianalisis berdasarkan indikator kesalahan oleh Newman. Berikut merupakan indikator kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita.

Membaca (Reading) Siswa tidak menemukan kata kunci dalam soal. secara lengkap informasi apa yang diketahui dalam

g. Siswa menuliskan apa yang diketahui dalam bentuk

l. Siswa menuliskan apa yang ditanyakan dalam soal menggunakan simbol yang dibuat sendiri tanpa adanya keterangan. m.

n. Siswa menuliskan apa yang ditanyakan tidak sesuai dengan permintaan soal. menjelaskan metode yang akan digunakan dalam

(4)

2. Menganalisis Bentuk Scaffolding

Menentukan bentuk scaffolding yang diberikan kepada subjek berdasarkan kesalahan siswa dalam menyelesaikan tes diagnostik.

3. Analisis wawancara

Tahapan dalam analisis hasil wawancara antara lain:

a. Reduksi data

Penelitian ini, reduksi data dilakukan dengan cara mengurangi data-data yang tidak diperlukan.

b. Penyajian data

Penyajian data meliputi pengklasifikasian dan identifikasi data. Penyajian data dalam penelitian ini adalah pengklasifikasian kesalahan siswa berdasarkan tahapan Newman dan bentuk scaffolding-nya. c. Penarikan kesimpulan

Data yang sudah dipaparkan dan dibahas secara jelas kemudian ditarik kesimpulan dari data tersebut mengenai “Analisis Kesalahan Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Berdasarkan Tahapan Newman Serta Upaya Untuk Mengatasinya Menggunakan Scaffolding

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang diperoleh merupakan deskripsi kesalahan serta bentuk scaffolding berdasarkan kesalahan yang dilakukan siswa kelas IX SMP Negeri 32 Surabaya dalam menyelesaikan soal cerita. Berikut merupakan daftar siswa yang terpilih menjadi subjek penelitian.

Tabel 2 daftar subjek penelitian

No. Kode Nama Siswa

Jumlah kesalahan Soal

nomor 1

Soal nomor 2

1. NWPD 2 4

2. RATP 1 2

3. MS 2 3

1. Analisis bentuk kesalahan subjek penelitian dalam menyelesaikan soal cerita.

a. Analisis hasil tes diagnostik NW

Kesalahan yang dilakukan subjek NW pada soal nomor 1 terletak pada tahap transformasi dan keterampilan proses. Hal ini dapat dilihat melalui kesalahan subjek dalam menentukan strategi yang digunakan dalam menyelesaikan soal. Selain itu subjek juga melakukan kesalahan pada tahapan perhitungan. Sedangkan pada soal nomor 2, subjek melakukan kesalahan pada tahap memahami, transformasi, keterampilan

proses dan jawaban akhir. Kesalahan yang dilakukan subjek tampak ketika subjek menuliskan informasi yang diketahui dan ditanya dalam soal. Selain itu kesalahan lain yang dilakukan subjek yaitu membuat pemodelan dan tahapan perhitungan. Sehingga menyebabkan subjek juga melakukan kesalahan dalam mendapatkan hasil akhir.

b. Analisis hasil tes diagnostik RA

Berdasarkan hasil tes diagnostik pada soal nomor 1 subjek RA menunjukkan bahwa kesalahan yang dilakukan terletak pada tahap transformasi. Kesalahan yang dilakukan yaitu subjek RA menggunakan metode yang tidak tepat dalam menyelesaikan soal. pada soal nomor 2 Kesalahan yang dilakukan subjek RA terletak pada tahap memahami dan transformasi. Subjek kurang memahami isi soal sehingga menyebabkan subjek kesulitan dalam membuat pemodelan soal yang tepat.

c. Analisis hasil tes diagnostik MS

Pada soal nomor 1 subjek MS melakukan kesalahan pada tahap transformasi dan menuliskan jawaban akhir. Kesalahan yang dilakukan subjek MS tampak ketika ia menentukan model matematika yang dibuat. Subjek MS juga menuliskan hasil akhir yang tidak tepat, karena subjek MS menuliskan jawaban akhir sebagai informasi yang diketahui. Sedangkan pada soal nomor 2 kesalahan terletak pada tahap memahami, transformasi dan keterampilan proses. Kesalahan yang dilakukan subjek tampak ketika subjek menuliskan informasi yang ada dalam soal, strategi penyelesaian dan tahapan perhitungan yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan subjek juga melakukan kesalahan dalam mendapatkan hasil akhir.

2. Bentuk scaffolding yang diberikan kepada subjek penelitian

a. Pemberian scaffolding kepada subjek NW Tabel 3 bentuk scaffolding untuk mengatasi

kesalahan subjek NW

Soal Letak kesalahan Keterangan

1 Transformasi

Reviewing Restructuring Developing

conceptual thinking Keterampilan

(5)

2

Transformasi

Reviewing Restructuring Developing

conceptual thinking Keterampilan

proses ReviewingRestructuring Jawaban akhir Reviewing b. Pemberian scaffolding kepada subjek RA

Tabel 4 bentuk scaffolding untuk mengatasi kesalahan subjek RA

Soal Letak kesalahan Keterangan

1 Transformasi Reviewing

2 Memahami

Reviewing Restructuring Transformasi Restructuring c. Pemberian scaffolding kepada subjek MS

Tabel 5 bentuk scaffolding untuk mengatasi kesalahan subjek MS

Soal Letak kesalahan Keterangan

1 Transformasi

Reviewing Restructuring Developing

conceptual thinking Menuliskan

jawaban akhir Reviewing

2

Memahami Reviewing

Transformasi

Restructuring Developing

conceptual thinking Keterampilan

proses Restructuring

Penelitian ini mendeskripsikan upaya untuk membantu siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita matematika menggunakan scaffolding dengan acuan tahapan Newman. Pemberian scaffolding diberikan untuk mengatasi kesalahan yang dilakukan siswa. Peneliti mengaitkan tiga level dalam pemberian scaffolding oleh Anghileri (2006). Namun tidak semua level digunakan dalam pemberian bantuan mengingat kondisi siswa dan bentuk kesalahan yang dilakukan siswa. Tingkatan scaffolding yang diberikan bergantung pada materi yang dibahas dalam penelitian ini.

Pada penelitian ini pembahasan yang pertama yaitu kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika terkait pada materi persamaan kuadrat menurut tahapan Newman yaitu: (1) membaca (reading), (2) memahami (comprehension), (3) transformasi (transformation), (4) penulisan jawaban akhir (encoding).

Pada tahap membaca (reading), menurut Jha (2012), siswa dikatakan telah melalui tahap ini apabila siswa dapat membaca soal dengan jelas serta dapat menemukan kata kunci dalam soal. Selain itu siswa dapat memahami makna kalimat dalam soal juga termasuk dalam tahap membaca. Penelitian Tuohimaa, Aunola dan Nurmi (2008) menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan membaca siswa mempengaruhi pemahaman siswa terhadap soal cerita, sehingga menyebabkan jawaban akhir yang kurang tepat dalam menyelesaikan soal cerita. Siswa dikatakan melakukan kesalahan pada tahap ini jika siswa mengalami kesulitan dalam memahami kalimat atau kata dalam soal serta tidak bisa membaca sebuah simbol tertentu dalam soal.

Dalam penelitian ini, siswa melakukan kesalahan membaca pada soal nomor 2. Siswa kurang memahami makna soal “Mereka dapat membersihkan kelas bersama-sama dalam waktu 18 menit”. Selain itu siswa terpaku pada kata “waktu Ana” yang belum diketahui, sehingga menyebabkan siswa tidak dapat melanjutkan penyelesaian pada tahapan selanjutnya. Bentuk scaffolding yang diberikan berupa bimbingan kepada siswa yang melakukan kesalahan. Menurut Anghileri (2006) terdapat tiga tingkatan dalam pemberian scaffolding. Pada tahap membaca bantuan yang diberikan berupa mengulas ulang (reviewing) yaitu dengan meminta siswa membaca soal dengan teliti.

(6)

Sedangkan pada soal nomor 2, siswa melakukan kesalahan dalam menuliskan informasi yang diketahui dalam soal.

Bentuk scaffolding yang diberikan kepada siswa berada pada tingkatan kedua. Pada tingkatan ini, bentuk bantuan yang diberikan berupa mengulas ulang (reviewing) yaitu dengan memfokuskan kembali perhatian siswa kepada soal.

Siswa dikatakan melalui tahap transformasi (transformation) menurut Jha (2012), ditandai dengan kemampuan siswa dalam menentukan strategi penyelesaian soal dengan tepat. Apabila siswa tidak dapat menentukan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal, maka siswa dikatakan melakukan kesalahan pada tahap transformasi. Selain itu jika siswa menentukan strategi yang kurang tepat juga dapat dikategorikan sebagai kesalahan pada tahap transformasi.

Pada tahapan ini siswa banyak melakukan kesalahan berupa salah dalam menyusun persamaan. Kesalahan siswa dalam memilih metode penyelesaian juga dikategorikan dalam kesalahan transformasi (Transformation error (t)), serta salah dalam membuat pemisalan sehingga menyebabkan siswa salah dalam membuat pemodelan. Kesalahan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah dalam membuat pemodelan dan memilih strategi penyelesaian. Kesalahan yang dilakukan siswa pada tahap ini diawali dengan penentuan variabel yang kurang tepat sehingga menyebabkan siswa salah dalam membuat pemodelan. Siswa lebih banyak menggunakan strategi mencoba-coba dalam menyelesaikan soal.

Bentuk scaffolding yang diberikan untuk mengatasi kesalahan siswa pada tahap ini menggunakan level kedua dan ketiga yaitu mengulas kembali (reviewing), membangun pemahaman ulang (restructuring) dan pengembangan pemikiran (developing conceptual thinking). Bentuk bantuan reviewing berupa pengecekan ulang maksud soal, restructuring berupa memberikan contoh yang sederhana terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa. Bentuk bantuan reviewing berulang kali diberikan kepada siswa untuk mengulas kembali hasil pekerjaan siswa agar di kemudian hari siswa terbiasa untuk teliti dalam menyelesaikan soal cerita. Selain itu, bentuk bantuan pada level ketiga yaitu developing conceptual thinking berupa mengembangkan pemikiran siswa dalam membuat pemisalan.

Jha (2012) menjelaskan bahwa jika siswa dapat melakukan proses perhitungan dengan tepat berdasarkan strategi yang dipilih, maka siswa dikatakan dapat melalui tahap keterampilan proses (process skill). Kesalahan terjadi jika siswa tidak dapat menentukan tahapan-tahapan yang benar dan tidak dapat melakukan perhitungan

dengan tepat dalam mendapatkan hasil akhir. Setelah siswa diberikan scaffolding dalam membuat pemodelan saat wawancara, apabila siswa dapat melakukan tahapan penyelesaian dengan tepat maka tidak perlu diberikan lagi scaffolding pada tahapan keterampilan proses (process skill). Namun, pada kenyataannya siswa pada tahap ini masih ada yang melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan siswa adalah kurang teliti dalam melakukan perhitungan dan mengalami kesulitan dalam memfaktorkan persamaan kuadrat.

Bentuk scaffolding yang diberikan berupa merestrukturisasi (restructuring) yaitu dengan mengaitkan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki siswa mengenai materi prasyarat yaitu aljabar dan sifat distributif pada perkalian dalam memproses bilangan pecahan yang bervariabel. Selain itu, bentuk scaffolding yang diberikan pada tahap ini yaitu mengulas kembali (reviewing) hasil pekerjaan siswa agar tidak terjadi kesalahan kembali.

Penulisan jawaban akhir merupakan tahapan paling akhir dalam menyelesaikan soal cerita. Pada tahapan ini menurut Jha (2012) siswa dikatakan melalui tahapan ini jika siswa dapat menuliskan jawaban secara tepat sesuai dengan permintaan soal. Oleh karena itu, siswa dikatakan melakukan kesalahan dalam tahapan ini apabila siswa tidak menuliskan jawaban dengan diberikan keterangan-keterangan sesuai dengan permintaan soal.

Berdasarkan hasil tes terdapat beberapa siswa yang tidak menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaan soal. Siswa terkadang tidak menuliskan satuan dalam jawaban akhir. Kesalahan yang dilakukan siswa disebabkan karena siswa terburu-buru. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang menyatakan bahwa setelah siswa melalui tahapan penyelesaian siswa mengaku lupa untuk menuliskan kembali jawaban akhir. Maka bentuk scaffolding yang diberikan apabila siswa melakukan kesalahan pada tahapan ini yaitu mengulas kembali (reviewing) , yaitu dengan meminta siswa mengecek ulang hasil pekerjaannya apakah sudah sesuai dengan permintaan soal.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa SMPN 32 Surabaya kelas IX-C dalam menyelesaikan soal cerita terkait materi persamaan kuadrat:

(7)

keterampilan proses (Process Skill), siswa melakukan kesalahan dalam memfaktorkan persamaan kuadrat.

2. Bentuk scaffolding yang sesuai diberikan berdasarkan kesalahan siswa yaitu:

a. Pada tahap memahami (comprehension) bentuk scaffolding yang digunakan terletak pada level 2 reviewing (mengulas ulang), yaitu dengan memfokuskan kembali perhatian siswa kepada soal. b. Pada tahap transformasi (transformation) bentuk scaffolding yang digunakan terletak pada level 2 reviewing yaitu berupa pengecekan ulang maksud soal, restructuring berupa pemberian contoh sederhana yang mirip dengan permasalahan yang dihadapi siswa. Bentuk bantuan reviewing berulang kali diberikan kepada siswa untuk mengulas kembali hasil pekerjaan siswa agar di kemudian hari siswa terbiasa untuk teliti dalam melakukan perhitungan. Selain itu, bentuk bantuan pada level 3 developing conceptual thinking berupa pengembangan pemikiran siswa dalam membuat pemisalan.

c. Pada tahap keterampilan proses (Process Skill) bentuk scaffolding yang diberikan adalah dengan meminta siswa meneliti kembali hasil pekerjaan (reviewing), dan membangun pemahaman ulang apabila siswa tidak memahami konsep (restructuring)

Saran

Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan yaitu bagi guru disarankan dapat menerapkan metode Newman dalam pembelajaran untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa. Guru juga dapat menerapkan bentuk scaffolding sebagai salah satu upaya perbaikan dalam pembelajaran. Pemberian scaffolding ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam zona perkembangan terdekatnya sehingga dapat membantu siswa terbiasa dalam menyelesaikan permasalahan secara mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, TL. 2003. Reading Mathematics: More than words can say. The reading Teacher, 56(8), 787 – 795

Anghileri, J. Scaffolding Practices that Enhance Mathematics Learning. Journal of Mathematics Teacher Education, 9: 33-52

Arafiq, Rasyid.2015. Analisis Kesalahan Siswa MTs Dalam Memecahkan Soal Cerita Bangun Ruang Sisi Datar Ditinjau Berdasarkan Gaya Belajar. Tesis tidak diterbitkan : Universitas Negeri Surabaya

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Bumiaksara

Aulia, Kharitsa .2014. Identifikasi Ketidakpahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Aljabar. Skripsi tidak diterbitakan: Universitas Negeri Surabaya

Bokar, Anthony Joseph. 2013. Solving And Reflecting On Real-Word Problems : Their Influences On Mathematical Literacy And Engagement in The Eight Mathematical Practices.Reasearch Project : Ohio University

Degeng, I Nyoman. 1993. Buku Pegangan Teknologi Pendidikan : Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Universitas Terbuka. Jakarta : Dirjen Dikti

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang no.20 tahun 2003. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pembelajaran Ketuntasan. Jakarta.

Ellerton, Nerida and Clements. 1992. Implications Of Newman Research For The Isssue Of “What Is Basic In School Mathematics?”. Educational Studies In Mathematics

Fadhilah, Nurul. 2015 .Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Yang Berhubungan Dengan Teorema Phytagoras Berdasarkan Taksonomi Solo Pada Kelas VIII. Skripsi tidak diterbitakan: Universitas Negeri Surabaya Fitria, Titis Nur. 2013. Analisis Kesalahan Siswa Dalam

Menyelesaikan Soal Cerita Berbahasa Inggris Pada Materi Persamaan Linear Satu Variabel.Skripsi tidak diterbitkan : Unesa Gasco, Javier. 2013. The Motivation of Secondary School

Students in Mathematical Word Problem Solving, Electronic Journal of Research in Educational Psychology, 12(1), 83-106. ISSN: 1696-2095. 2013, no. 32

Hanifah, Nur Agustin. 2014. Penggunaan Scaffolding untuk mengatasi kesalahan siswa kelas VII H SMP Negeri 2 Mojokerto Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pada Materi Persamaan Linear Satu Variabel. Skripsi tidak diterbitkan : Universitas Negeri Surabaya Hughes, A.G and Hughes E.H. 2012.Learning &

(8)

Jha, Sio Kumar. (2012). “Mathematics Performance of Primary School Students in Assam (India): An Analysis Using Newman Procedure” International Journal of Computer Applications in Engineering Science (Vol. II, Issue I, March 2012).

Kamus besar bahasa Indonesia.2016.kategori : analisis, (online),http://kbbi.web.id/analisis,diakses tanggal 22 Januari 2016)

Minarti.2013. Analisis Tingkat Kemampuan Siswa SMPN 2 Buduran, Sidoarjo Dalam Memecahkan Masalah Berbentuk Soal Cerita Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Skripsi tidak diterbitkan : Universitas Negeri Surabaya

Mulyadi, H. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.

Nasution. S. 2006. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara Newman, A. (1977). Newman Promt, (online),

(http://www.curriculumsupport.education.nsw. gov.au/Secondary/mathematics/numeracy/new man/index.html diakses pada 20 Januari 2016) Nur, Mohamad & Wikandari, Prima Retno. 1998. Pendekatan-Pendekatan Konstruktivis Dalam Pembelajaran. Surabaya : IKIP Surabaya Nurmi, Tuhimaa and Aunola. (2008). “The association

between mathematical word problems and reading comprehension” Educational Psychology, Vol. 28, No.4,409426.

OECD.2013. PISA 2012 results in focus :What 15-year-olds know and what they can do whit what

they know (online),

(http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf diakses pada 17 Februari 2016)

Palm, T. 2009. Theory of authentic task situations. In L Verschaffel, B Greer, W Van Dooren, S Mukhopadhyay (Eds.), Words and Worlds: Modelling verbal descriptions of situations. Netherlands: Sense Publishers, pp. 3-19. Prakitipong, Natcha and Nakamura, Satoshi. (2006).

“Analysis of Mathematics Performance of Grade Five Students in Thailand Using Newman Procedure” CICE Hiroshima University, Journal of International Cooperation in Education, Vol.9, No.1, (2006) pp.111 122

Rosenshine, Barak and Meister, Carla. 1992. The Use of Scaffolding for Teaching Higher-Level Cognitive Strategies. Bureau : The Association for supervision and curriculum Development

Santrock, John W. 2014. Psikologi Pendidikan (Educational Psychology, Ed) Edisi 5 Buku 1.Jakarta : salemba humanika

Setiadi, Hari, dkk. 2012. Kemampuan Matematika Siswa SMP Indonesia Menurut Benchmark Internsional TIMSS 2011.Jakarta : Puspendik Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di

Indonesia. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Thalib, Syamsul Bachri. 2013. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif (Edisi Revisi). Jakarta : Kencana Prenadamedia Group

Triwardani,Riski Ayu. 2015. Profil Pemecahan Masalah Aljabar PISA Pada Siswa SMP Ditinjau Dari Adversity Quotient. Skripsi tidak diterbitkan: Universitas Negeri Surabaya

Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran.Jakarta : Bumi Aksara

White, Allan L. 2010. “Numeracy,Literacy and Newman’s Error Analysis”.Journal of Science and Mathematics Education in Southeast Asia 2010, Vol. 33 No.2, 129-148

Gambar

Tabel  1  Indikator  kesalahan  dalam
Tabel 2 daftar subjek penelitian
Tabel 4 bentuk scaffolding untuk mengatasi

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tabulasi Silang Kontribusi Lemak pada Makanan Siap Saji Terhadap Konsumsi Sehari Berdasarkan Kejadian Obesitas pada Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014..

Sebagai efek dari data tersebut adalah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 telah menggulirkan block grand rintisan untuk 160 sekolah penyelenggara pendidikan

atas segala nikmat iman dan ilmu serta rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Karakteristik Edible Film Berbasis Pati Biji

Pada masa replesi, kelompok yang sebelumnya merupakan kelompok deplesi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif (KP), kontrol negatif (KN), dan kelompok

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan judul

Apabila sesuai dengan yang tercantum pada Lembar Data Kualifikasi (LDK) maka diberikan nilai penuh, apabila tidak sesuai maka tidak dinilai. Untuk Perusahaan yang bermitra,

Metode wawancara ini dilakukan oleh penulis guna mencari informasi mengenai data produk, visi misi dan kelebihan perusahaan yang mendukung proses desain logo dan buku

Kajian Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan Berdasarkan hasil kajian yang relevan mengenai pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia PMRI yang telah dilakukan