• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORDA - Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "FORDA - Jurnal"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

451

DEFOLIATOR PADA TEGAKAN JABON (Anthocephalus cadamba Miq.)

(Pest Attack and Defoliation Level on Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.)*

Oleh/By: Avry Pribadi

Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat Kuok

Jl. Raya Bangkinang – Kuok Km. 9 Bangkinang 28401, Kotak Pos 4/BKN – Riau Telp : (0762) 71000121, Fax : (0762) 71000122, 21370

*Diterima : 29 Maret 2010; Disetujui : 20 Oktober 2010

s ABSTRACT

Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.), as one of the alternative tree species for pulp and paper industry, may have a problem in the plantation. One of the problem is pest attack that can reduce the quality of stand. The aim of this research was to obtain information on the incidence of pest attacks and the damage level caused by defoliators on A. cadamba Miq.. The study was carried out at three locations, i.e. industrial plantation (HTI) Baserah sector, HTI Pelalawan sector, and smallholder plantation (HR). Five observation plots were established in each site (except for HTI Pelalawan sector with only two plots). Up to 100 trees were observed in each plot.. The results showed that on average the highest level of incidence of pest attacks occurred in HTI Baserah sector with the pests attacked were Arthochista hilaralis, Cosmoleptrus sumatranus, and bagworm (Pychidae). In HTI Pelalawan sector, the pests attacked were A. hilaralis, Coptotermes sp., and bagworm (Psychidae), whereas in HR the pests attacked were A. hilaralis, Cosmoleptrus sumatranus, and Dysdercus cingulatus. The highest level of damage caused by defoliators occurred in the Baserah sector (92.88%) and the lowest level was found in Pelalawan sector (40.5%). In HR the level of damage was 55.67%.

Keywords: Anthocephalus cadamba Miq., incidence level,severity level

ABSTRAK

Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) sebagai salah satu jenis tanaman alternatif untuk hutan tanaman industri pulp dan kertas memiliki beberapa kelemahan antara lain serangan hama yang dapat mengurangi kualitas tegakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang besarnya tingkat kejadian serangan oleh berbagai hama dan tingkat kerusakan oleh serangan defoliator pada tiga lokasi penelitian yaitu HTI sektor Baserah, HTI sektor Pelalawan, dan Hutan Rakyat (HR). Penentuan plot tiap lokasi dilakukan secara systematic sampling dengan jumlah sampel maksimal 100 pohon tiap plot dan ada lima plot tiap lokasinya (kecuali HTI sektor Pelalawan hanya dua plot). Hasil menunjukkan bahwa rata-rata kejadian serangan tertinggi terjadi pada HTI sektor Baserah dengan tingkat serangan hama yang menyerang berturut-turut adalah Arthochista hilaralis, Cosmoleptrus sumatranus, dan ulat kantong (Pychidae). Pada sektor Pelalawan, tingkat serangan hama berturut-turut adalah A. hilaralis, Coptotermes sp., dan ulat kantong (Psychidae), sedangkan hama pada HR berturut-turut adalah A. hilaralis, Cosmoleptrus sumatranus, dan Dysdercus cingulatus. Tingkat kerusakan akibat serangan hama defoliator tertinggi terjadi pada kawasan HTI sektor Baserah (92,88%) dan terendah terdapat pada HTI sektor Pelalawan (40,5%), sedangkan pada HR sebesar 55,67%.

Kata kunci: Anthocephalus cadamba Miq., kejadian serangan, intensitas kerusakan daun

I. PENDAHULUAN

Jenis Acacia dan Eucalyptus yang se-lama ini dikembangkan oleh banyak per-usahaan Hutan Tanaman Industri (HTI)

pulp dan kertas dalam pengelolaannya

yang monokultur dimungkinkan akan mengalami banyak permasalahan. Salah satunya adalah serangan hama yang dapat

menurunkan kualitas tegakan. Serangan hama ini bahkan menunjukkan kecende-rungan yang meningkat setiap rotasinya. Nair (2001) melaporkan bahwa serangan hama Coptotermes curvighatus dapat me-nurunkan tegakan sebesar 10-50%.

Permasalahan yang dialami Acacia

(2)

solusi-452

nya adalah mengganti dengan tanaman alternatif. Jabon (Anthocephalus cadam-ba Miq.) sebagai salah satu jenis tanaman alternatif telah memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai bahan pulp dan kertas, antara lain adalah cepat tumbuh

(fast growing), panjang serat 1,561 µm,

diameter serat 23,95 µm, dan tebal din-ding serat 2,78 µm (Aprianis, 2007). Na-mun demikian, sebagai suatu ekosistem yang monokultur, jabon rentan terhadap serangan hama terutama jika serangan ha-ma tersebut mengalami blooming sebagai akibat sedikitnya jumlah organisme pre-dator dan melimpahnya makanan (karena populasi tanaman yang sejenis).

Hama yang menyerang suatu popula-si hutan tanaman akan dapat berpopula-sifat sa-ngat merusak terutama hama-hama dari kelompok defoliator. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh hama ini cukup bervariasi bergantung dari jenis spesies maupun faktor abiotiknya. Salah satu contoh adalah serangan hama Spodoptera

sp. pada lokasi persemaian Acacia

crassi-carpa yang dapat mengalami fluktuasi

populasi sebagai akibat dari beberapa perubahan faktor abiotik (Tjahjono,

ko-munilasi pribadi, 2009).

Kajian terhadap kejadian dan tingkat serangan oleh berbagai hama yang me-nyerang tanaman jabon dapat digunakan untuk mengetahui jenis hama apa yang berpotensi tinggi merusak tegakan. Tuju-an penelitiTuju-an ini adalah untuk memper-oleh informasi tentang besarnya tingkat kejadian serangan dan tingkat kerusakan oleh hama defoliator yang menyerang ja-bon (A. cadamba). Hal ini diperlukan se-bagai informasi dasar untuk pengambilan keputusan dalam usaha pengendalian se-rangan hama terpadu.

II. BAHAN DAN METODE

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di dua tem-pat, yaitu kawasan HTI milik PT RAPP (sektor Pelalawan dan Baserah) dan areal

HR (Hutan Rakyat) di Kabupaten Kam-par, Riau. Penelitian ini berlangsung sela-ma delapan bulan mulai bulan Januari 2009 sampai bulan Agustus 2009.

B. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alkohol 70%, formalin 4%, tally sheet, pita penanda pohon, spidol, kertas label, dan pensil. Peralatan yang digunakan adalah botol sampel, kotak penampung serangga, ja-ring penangkap serangga, dan teropong.

C. Rancangan Penelitian

Plot pengamatan untuk masing-ma-sing lokasi ditentukan dengan metode

systematic sampling. Setiap lokasi

terda-pat lima plot pengamatan dan tiap plot terdiri atas 100 pohon (kecuali HTI sek-tor Pelalawan terdiri atas dua plot dengan jumlah 72 pohon). Sebaran plot peng-amatan tiap lokasi ditempatkan pada po-jok lokasi dan tengah lokasi (metode bujur sangkar) seperti tertera pada Gam-bar 1.

Gambar (Figure) 1. Penentuan plot pengamatan

untuk tiap lokasi (Observation plots for each lo-cation)

Pengamatan dilakukan atas kejadian serangan oleh berbagai jenis hama dan tingkat serangan hama defoliator. Berda-sarkan pengamatan di lapangan, hama dari kelompok defoliator ada dua jenis, yaitu Arthochista hilaralis (Gambar 2)

dan Daphnis hyphotous (Gambar 3).

(3)

453

Gambar (Figure) 2. A. hilaralis (sebelah kiri fase dewasa dan kanan fase larva) (Imago of A. hilaralis on the left and larvae on the right)

Gambar (Figure) 3. D. hypothous (sebelah kiri fase dewasa dan kanan fase larva) (Imago of D. hypothous on the left and larvae on the right)

D. Penentuan Kejadian Serangan Ha-ma

Penghitungan kejadian serangan ha-ma dilakukan dengan menggunakan ru-mus oleh Tulung (2000):

x100% N

n K

Keterangan:

K = Kejadian serangan oleh hama tertentu n = Jumlah tanaman yang terserang oleh hama tertentu

N = Jumlah tanaman dalam satu plot

E. Penentuan Tingkat Kerusakan Ha-ma

Tingkat kerusakan akibat serangan hama defoliator ditentukan dengan rumus Kilmaskossu dan Nerokouw (1993):

x100% N.V

ni.Vi

I

Keterangan:

I : Tingkat kerusakan per tanaman ni : Jumlah tanaman dengan skor ke-i Vi : Nilai skor serangan

N : Jumlah tanaman yang diamati V : Skor tertinggi

Tingkat skor yang digunakan adalah: 0 : sehat

1 : Sangat ringan (1-20%) 2 : Ringan (21-40) 3 : Sedang (41-60%) 4 : Berat (61-80%)

5 : Sangat berat (81-100%).

F. Analisis Data

Analisa data dilakukan secara des-kriptif kuantitatif terhadap kejadian rangan dan tingkat kerusakan akibat se-rangan defoliator serta dilakukan kompa-rasi antara lokasi penelitian (HTI PT RAPP dan HR).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kejadian Serangan Tiap Lokasi

(4)

454

Persentase tingkat kejadian serangan hama (Pest incidence level)(%) A.

hila-Keterangan (Remark): tanggal pengamatan 23 Juli 2009 (observation date on July 23, 2009)

Pada Tabel 1 terlihat bahwa persenta-se kejadian persenta-serangan tertinggi dilakukan oleh A. hilaralis. Nair (2000) melaporkan bahwa A. hilaralis pernah menyerang ja-bon di Kalimantan Timur dan menyebab-kan kerusamenyebab-kan yang serius. Berdasarmenyebab-kan pengamatan di lapangan, kejadian serang-an hama ini bervariasi serang-antara 59% hingga 88%. Hama C. sumatranus merupakan je-nis hama kedua tertinggi yang menyerang pada waktu pengamatan. Hama ini berti-pe berti-penghisap cairan tumbuhan, terutama pada jaringan muda tanaman (pucuk dan daun muda). Hama terbanyak ketiga yang menyerang jabon adalah ulat kantong

(

Psychidae) (2-9%).

Persentase kejadian serangan hama pada tanaman jabon (A. cadamba) di lo-kasi HTI PT RAPP sektor Pelalawan da-pat dilihat pada Tabel 2. Berbeda dengan sektor Baserah yang memiliki tipe tanah mineral (podsolik merah kuning), jenis tanah pada sektor Pelalawan ini memiliki tipe tanah organik. Persentase kejadian serangan tertinggi dilakukan oleh A.

hila-ralis. Berdasarkan pengamatan di

lapang-an, tingkat kejadian serangannya berva-riasi antara 15% sampai 21,4%. Hama

Coptotermes sp. merupakan hama kedua

tertinggi yang menyerang jabon dengan tingkat kejadian serangan bervariasi an-tara 3,5% sampai 9,1%. Hama ini meru-pakan hama yang umum ada pada lahan gambut. Menurut Anonim (2008), pada ekosistem hutan Coptotermes memiliki preferensi yang tinggi terhadap tanah yang mengandung bahan organik yang tinggi. Pertumbuhan populasi tertinggi

berturut turut terdapat pada tanah gam-but, serasah daun, serbuk gergaji, sedang-kan pada tanah mineral dan pasir pertum-buhan populasinya lebih rendah. Peng-amatan di lapangan, Coptotermes memu-lai aktivitas serangannya pada bagian akar kemudian mulai membentuk tero-wongan pasir di sepanjang batang.

Hama terbanyak ketiga yang menye-rang jabon adalah ulat kantong (2,2%). Keberadaan ulat kantong pada dua lokasi (sektor Pelalawan dan Baserah) diduga karena cekaman yang dialami oleh ta-naman. Hal ini diduga karena lokasi yang digunakan untuk penanaman jabon ini termasuk pada jenis tanah kurang subur (jenis tanah gambut di sektor Pelalawan dan tanah podsolik merah kuning di sek-tor Baserah). Hasil analisis tanah peneli-tian terdahulu oleh Aprianis (2009) me-nyatakan bahwa kandungan C organik di tanah gambut termasuk tinggi (45,17%). Tingginya kandungan bahan organik dan rendahnya nutrisi tanah dapat menjadi ce-kaman bagi tanaman.

Dugaan cekaman lain adalah penga-ruh musim kemarau yang menjadikan ja-bon kehilangan turgorsitas sehingga mu-dah terserang oleh hama dan penyakit. Kedua pengaruh tersebut akan dapat me-nurunkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Menurut Kalshoven (1981), serangan ulat kantong terjadi apa-bila tanaman sedang mengalami stres atau sedang mengalami cekaman sebagai akibat dari rendahnya nutrisi.

(5)

455 pada lokasi HTR/HR di Pantai Cermin,

Kabupaten Kampar dapat dilihat pada Ta-bel 3. Persentase tingkat kejadian serang-an tertinggi dilakukserang-an oleh A. hilaralis.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ke-jadian serangan hama berkisar antara 25% sampai 33%. Cosmoleptrus

suma-tranus merupakan hama tertinggi kedua

yang menyerang jabon pada waktu peng-amatan dengan tingkat kejadian serangan antara 6% sampai 21%. Hama terbanyak ketiga yang menyerang jabon adalah D.

cingulatus dengan tingkat kejadian

se-rangan berkisar antara 2% sampai 16%. Hama ini merupakan hama yang bertipe penghisap dan umumnya menyerang ta-naman dari suku Malvaceae (kapuk ran-du) (Kalshoven, 1981).

Beberapa serangga hama yang berha-sil ditemukan pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

B. Tingkat Kerusakan Daun oleh Ha-ma Defoliator

Pada Tabel 4, tingkat kerusakan akibat serangan defoliator tertinggi ter-dapat pada HTI sektor Baserah (92,88%) dan termasuk dalam kategori kerusakan sangat berat (Gambar 7). Di antara dua hama defoliator yang menyebabkan keru-sakan pada daun, jenis A. hilaralis meru-pakan hama yang menimbulkan tingkat kerusakan tertinggi. Fase yang merusak adalah ketika hama ini mencapai tingkat

Tabel (Table) 2. Persentase tingkat kejadian serangan hama yang menyerang jabon pada lokasi HTI sektor Pelalawan (Percentage of pest incidence level that attack jabon on industrial plantation in Pelalawan sector)

Plot (Plot)

Jumlah pohon (Number of tree)

Persentase tingkat kejadian serangan hama (Pest incidence level)(%) A.

hila-Keterangan (Remark): tanggal pengamatan 20 Juli 2009 (observation date on July 20, 2009)

Tabel (Table) 3. Persentase tingkat kejadian serangan hama yang menyerang jabon pada lokasi HR di Pantai cermin, Kabupaten Kampar (Percentage of pest incidence level that attack jabon on Community Forest in Pantai Cermin, Kampar)

Plot (Plot)

Jumlah pohon (Number of tree)

Persentase tingkat kejadian serangan hama (Pest incidence level)(%) A.

hila-Keterangan (Remark): tanggal pengamatan 25 Mei 2009 (observation date on May 25, 2009)

Gambar (Figure) 4. A. Cosmoleptrus sumatranus dewasa (Imago of C. sumatranus); B. Zeuzera sp. dewasa (Imago of Zeuzera sp.); C. Coptotermes sp.

(6)

456

larva. Pada instar pertama dan kedua, ulat hanya memakan jaringan lunak (epi-dermis) daun dengan dilapisi oleh

sema-cam silky web. Serangan hama ini dapat

menghambat pertumbuhan tanaman dan jika hama ini menyerang tanaman pada tingkat persemaian maka dapat mengaki-batkan kematian karena tanaman tersebut kehilangan daun. Mereka memakan daun yang masih muda pada waktu pagi dan si-ang hari, sedsi-angkan fase dewasanya aktif pada malam hari. Ngengat A. hilaralis

pada fase dewasa memiliki warna hijau kebiruan dengan panjang tubuh mencapai 34 mm. Larva memiliki warna hijau be-ning dengan warna coklat hitam pada ba-gian kepala dan memiliki panjang menca-pai 25 mm.

Tingginya tingkat kerusakan pada ja-bon di lahan ini diduga ada hubungannya dengan kematian gulma (pada lahan ini baru dilakukan penyemprotan satu ming-gu sebelumnya). Kematian ming-gulma diduga dapat menyebabkan beberapa serangga hama mengalihkan inangnya ke tanaman jabon. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tjahjono (komunikasi pribadi) bahwa ada pengaruh vegetasi tumbuhan di bawah te-gakan terhadap keberadaan serangga ha-ma. Dugaan lain adalah pengaruh dari faktor lingkungan. Temperatur di lokasi ini berkisar antara 32-36oC dengan ke-lembaban sekitar 70%. Temperatur tidak hanya berpengaruh terhadap tanaman te-tapi juga berpengaruh terhadap metabo-lisme serangga hama. Hal ini dikarenakan serangga hama termasuk hewan poikilo-term membutuhkan panas dari lingkung-an untuk memulai metabolismenya. Me-nurut Yunafsi (2007), kehidupan hama

atau serangga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biotik, maupun makanan. Di kawasan hu-tan, faktor-faktor iklim ini akan dimodifi-kasi dan membentuk iklim mikro yang akan mempengaruhi kehidupan serangga di dalam hutan.

Tegakan jabon pada HTI sektor Pela-lawan menunjukkan tingkat kerusakan yang terendah (40,50%) dan termasuk da-lam kategori tingkat kerusakan ringan. Hal ini diduga karena temperatur di lahan gambut yang dapat mencapai 40oC de-ngan kelembaban rendah (kurang dari 60%). Akibatnya dapat menghambat per-kembangan serangga hama karena berpe-ngaruh negatif terhadap metabolisme se-rangga hama tersebut. Gogoi et al. (2000) menyatakan bahwa parameter meteorolo-gi berpengaruh terhadap perkembangan serangga hama.

Dugaan lain adalah pertumbuhan gulma (terutama Acacia crassicarapa) pada lahan HTI gambut yang melebihi pertumbuhan jabon itu sendiri. Kerapatan gulma yang tinggi dapat menjadi habitat yang sesuai bagi hama untuk tumbuh dan berkembang karena memiliki banyak pi-lihan inang untuk berkembangbiak. Ke-beradaan gulma ini diduga mengalihkan serangan serangga hama defoliator yang dapat menyerang tanaman jabon.

Hutan Rakyat memiliki tingkat keru-sakan 55,67% dan termasuk dalam kate-gori sedang. Hal ini diduga karena pada HR dilakukan pemeliharaan secara inten-sif berbeda dengan tehnik silvikultur yang umum dilakukan di HTI (HTI menggunakan jarak tanam 2 m x 2,5 m dan pemeliharaan hanya dilakukan pada

(7)

457

tahun pertama saja sedangkan HR meng-gunakan 4 m x 5 m). Menurut Arif et al.

(2006), populasi hama menurun seban-ding dengan penambahan jarak tanam.

Gambar (Figure) 7. Kerusakan jabon yang

dise-babkan oleh serangan A. hilaralis (Damage on jabon caused by A. Hilaralis attack)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Rata-rata kejadian serangan hama tertinggi terjadi pada HTI (sektor Baserah maupun Pelalawan) berturut-turut adalah

Arthochista hilaralis, Cosmoleptrus

su-matranus, Coptotermes, dan ulat kantong

(Physidae). Hama yang banyak menye-rang Hutan Rakyat berturut-turut adalah

A. hilaralis, C. sumatranus, dan

Dysder-cus cingulatus. Tingkat kerusakan akibat

serangan hama defoliator tertinggi terjadi pada areal HTI sektor Baserah (92,88%) dan terendah terdapat pada HTI sektor Pelalawan (40,5%), sedangkan pada Hu-tan Rakyat Pantai Cermin, tingkat keru-sakannya mencapai 55,67%.

B. Saran

Tingkat kerusakan oleh serangan

ha-ma defoliator pada tegakan jabon yang

dapat mencapai kategori sangat berat

se-baiknya dilakukan usaha pengendalian dengan menggunakan insektisida. Peng-gunaan insektisida bertujuan untuk mem-basmi hama defoliator secara cepat dan massal. Untuk usaha pengendalian se-rangan hama defoliator yang berkelan-jutan perlu diperhatikan fungsi dari ve-getasi yang berada di bawah tegakan ja-bon. Vegetasi yang berada di bawah te-gakan tersebut dapat berfungsi sebagai inang bagi serangga parasitoid yang akan memangsa kelompok hama defoliator

dan sebagai inang alternatif bagi kelom-pok hama defoliator. Namun masih perlu dilakukan beberapa penelitian lanjutan mengenai pengaruh keberadaan vegetasi di bawah tegakan jabon tersebut sebagai inang alternative bagi kelompok hama

defoliator tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Kajian Aspek Biologi

Co-ptotermes curvignathus Holmgren

sebagai Dasar Pengendalian Rayap pada Pertanaman Kelapa Sawit. http://library.usu.ac.id. Diakses tanggal 13 Oktober 2009.

Aprianis, Y. 2007. Eksplorasi Jenis-Jenis Kayu yang Berpotensi sebagai Ta-naman Pulp Alternatif. Laporan Hasil Penelitian. Loka Litbang Kuok, Kuok.

Aprianis. 2009. Evalusi Kandungan Bio-massa dan Dekomposisi Serasah. Laporan Hasil Penelitian. Balai Pe-nelitian Hutan Penghasil Serat, Kuok.

Arif, J. M, D.M. Gogi, M. Mirza, K. Zia, and F. Hafeez. 2006. Impact of Plant Spacing and Abiotic Factors on Population Dynamics of Sucking Insect Pests of Cotton. Pa-kistan Journal Biological Sciences 9 (7): 1364-1369. Islamabad

(8)

458

Kalshoven, I.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru, Jakarta. Kilmaskossu, S.T.E.M and J.P. Nero-kouw. 1993. Inventory of Forest Damage at Faperta Uncen Experi-ment Gardens in Manokwari Irian Jaya Indonesia. Proceedings of the Symphosium on Biotechnological and environmental Approaches to Forest and Disease Management. SEAMEO, Bogor.

Nair, K.S.S. 2000. Insect Pest and Di-seases in Indonesian Forest: An Assesment of the Major Threats, Reserach Efforts and Literature. CIFOR, Bogor.

Nair, K.S.S. 2001. Pest Outbreaks in Tro-pical Forest Plantation: Is there a Greater Risk for Exotic Tree Spe-cies. CIFOR, Bogor.

Tulung, M. 2000. Study of Cacoa Moth

(Conopomorpha cramerella)

Con-trol in North Sulawesi. Eugenia 6 (4): 294-299

Gambar

Gambar (Figure) 1. Penentuan plot pengamatan untuk tiap lokasi (Observation plots for each lo-cation)
Gambar (Figure) 2. A. hilaralis (sebelah kiri fase dewasa dan kanan fase larva) (Imago of A
Tabel (Table) 1. Persentase tingkat kejadian serangan hama yang menyerang jabon pada lokasi HTI sektor Baserah (Percentage of pest incidence level that attack jabon on industrial plantation in Baserah sector)
Gambar (Figure) 4. A. Cosmoleptrus sumatranus dewasa (Imago of C. sumatranus); B. Zeuzera sp
+2

Referensi

Dokumen terkait

Komunikasi dengan pengelola fasilitas media pembelajaran modern ini akan menuntut aktivitas pengelola untuk memeriksa berbagai fasilitas media pembelajaran modern yang

Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan sebenarnya (sebab musabab, duduk

pekerja.Postur kerja tidak alamiah misalnya postur kerja yang selalu berdiri, jongkok, dan membungkuk, dalam waktu lama yang menyebabkan ketidaknyamanan dan

dan Islahudin, (2008) Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap nilai perusahaan dengan Prosentase Kepemilikan Manajerial sebagai variabel moderating Variabel

Kesimpulan: Nilai Karnofsky pasien pada pasien dengan penyakit tulang metastasis setelah tindakan operatif memiliki rerata lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tindakan

Abstrak:Pondok pesantren memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna daerah terutama pedesaan. Ia

Dengan dilakukannya Jual beli hak atas tanah tersebut, yang dijual itu belum berpindah kepada pihak pembeli, melainkan masih harus dilakukan perbuatan hukum lain

rantai pasok dari klaster produk turunan kelapa sawit terpilih berdasarkan hasil. simulasi di Kabupaten