• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Gambaran Umum Responden dan Sampel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Gambaran Umum Responden dan Sampel"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Responden dan Sampel

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemilik Hotel dan Restoran di Kabupaten Tabanan. Untuk hotel dan restoran yang kepemilikannya ditentukan oleh jumlah saham yang dimiliki maka yang menjadi respondennya adalah Direktur Keuangan atau Direktur Akunting. Jumlah responden yang diminta mengisi kuesioner sebanyak 76 yang ditetapkan dengan menggunakan rumus Slovin dan ditentukan secara acak dari 310 hotel dan restoran yang ada di Kabupaten Tabanan. Penyebaran kuesioner dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai dengan bulan Pebruari 2015. Kuesioner langsung diantar kepada masing- masing hotel dan restoran. Semua kuesioner kembali dari 76 kuesioner yang disebarkan. Namun delapan buah data responden tidak dipakai dalam analisis karena tidak lengkap, sehingga hanya 68 data yang diolah. Unit analisis penelitian ini adalah hotel dan restoran. Sampel penelitian ini terdiri dari hotel bintang lima (BV), hotel melati III (MIII), hotel melati II (MII), hotel melati I (MI), pondok wisata (PW), restoran dan rumah makan.

Profil dari 68 sampel dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 5.1.

40

(2)

Tabel 5.1 Profil Sampel

Kategori Jumlah Prosentase

Hotel dan Restoran 14 20,59%

Hotel 28 41,17%

Restoran 26 38,24%

68 100,00%

Hotel dan Restoran

BV 3 21,43%

MIII 4 28,57%

MII 2 14,27%

MI 3 21,43%

PW 2 14,27%

14 100,00%

Hotel

BV 1 3,57%

MIII 4 14,29%

MII 2 7,14%

MI 2 7,14%

PW 19 67,86%

28 100,00%

Restoran

Restoran 9 34,62%

Rumah Makan 17 65,38%

26 100,00%

Sumber : data diolah, 2015

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 68 sampel yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 14 (20,59%) sampel termasuk kategori hotel dan restoran, 28

(3)

(41,17%) sampel merupakan kategori hotel dan sebanyak 26 (38,24%) sampel merupakan kategori restoran.

5.1.1 Kategori Hotel dan Restoran

Sampel dengan kategori hotel dan restoran yaitu sampel dengan satu Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) membayar pajak hotel dan restoran sekaligus. Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa sampel dengan kategori hotel dan restoran terdiri dari hotel restoran bintang V sebanyak 3 (21,43%) sampel, melati III sebanyak 4 (28,57%) sampel, melati II sebanyak 2 (14,27%) sampel, melati I sebanyak 3 (21,43%) sampel dan pondok wisata sebanyak 2 (14,27%) sampel.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sampel dengan kategori hotel dan restoran didominasi oleh hotel melati. Kabupaten Tabanan merupakan daerah yang sedikit memiliki fasilitas hotel dan restoran dengan peringkat bintang lima.

5.1.2 Kategori Hotel

Hotel yang digunakan sebagai sampel sebanyak 28 hotel. Tabel 5.1 menunjukkan bahwa sampel kategori hotel terdiri dari hotel bintang V sebanyak 1 (3,57%) sampel, hotel melati III sebanyak 4 (14,29%) sampel, hotel melati II sebanyak 2 (7,14%) sampel, hotel melati I sebanyak 2 (7,14%) sampel dan pondok wisata sebanyak 19 (67,86%) sampel. Kondisi ini menunjukkan pondok wisata mendominasi anggota sampel dari kategori hotel.

(4)

5.1.3 Kategori Restoran

Jumlah sampel dari kategori restoran sebanyak 26 sampel. Sampel berupa restoran sebanyak 9 (34,62%) sampel dan rumah makan sebanyak 17 (65,38%) sampel.

5.2 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian diuji dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas berfungsi untuk mengukur validitas kuesioner yang dipakai dengan cara menguji korelasi antara skor tiap-tiap butir pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Suatu kuesioner dikatakan valid jika koefisien korelasi antar skor dimana korelasinya harus positif dan bernilai > 0,3 dan signifikan pada 0,05. Dari perhitungan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) diperoleh hasil masing-masing variabel adalah sebagai berikut : 1) Hasil uji validitas variabel keadilan distributif (X1) dapat diketahui bahwa

masing-masing item pertanyaan pada variabel keadilan distributif mempunyai koefisien korelasi dari 0,512 s.d. 0,867 yang nilainya lebih besar dari 0,3 dan signifikan pada 0,05. Sehingga dapat dikatakan semua item pertanyaan valid atau lolos uji validitas.

2) Hasil uji validitas variabel penegakan sanksi (X2) dapat diketahui bahwa masing-masing item pertanyaan pada variabel penegakan sanksi mempunyai koefisien korelasi dari 0,739 s.d. 0,836 yang nilainya lebih besar dari 0,3 dan signifikan pada 0,05. Sehingga dapat dikatakan semua item pertanyaan dinyatakan valid atau lolos uji validitas.

(5)

3) Hasil uji validitas variabel kepuasan wajib pajak (X3) dapat diketahui bahwa semua pertanyaan terkait variabel kepuasan wajib pajak mempunyai koefisien korelasi dari 0,494 s.d. 0,882 yang nilainya lebih besar dari 0,3 dan signifikan pada 0,05. Sehingga dapat dikatakan valid atau lolos uji validitas.

4) Hasil uji validitas variabel kepatuhan wajib pajak (Y) dapat diketahui bahwa pertanyaan terkait variabel kepatuhan wajib pajak mempunyai koefisien korelasi dari 0,245 s.d. 0,840. Terdapat dua item pertanyaan pada variabel kepatuhan wajib pajak yang memiliki nilai koefisien korelasi lebih kecil dari 0,3 dan tidak signifikan pada 0,05 yaitu item pertanyaan Y2 dan Y10, sehingga dua pertanyaan ini tidak dipakai dalam mengumpulkan data pada responden berikutnya. Sedangkan delapan item pertanyaan lain yang memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,3 dan signifikan pada 0,05 sehingga dikatakan valid atau lolos uji validitas.

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien Cronbach s Alpha variabel keadilan distributif = 0,682, penegakan sanksi = 0,802, kepuasan wajib pajak = 0,676, dan kepatuhan wajib pajak = 0,694. Semua nilai tersebut lebih besar dari 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan terkait variabel penelitian ini reliabel. Hasil uji validitas dan reliabilitas ini disajikan pada Tabel 5.2 berikut :

(6)

Tabel 5.2

Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Variabel Indikator

Uji Validitas Uji

Reliabilitas Koefisien

Korelasi (r)

Nilai Signifikansi

Cronbach's Alpha

Keadilan Distributif (X1)

X1.1 0,867 0,000

0,682

X1.2 0,829 0,000

X1.3 0,583 0,001

X1.4 0,512 0,004

X1.5 0,520 0,003

Penegakan Sanksi (X2)

X2.1 0,739 0,000

0,802

X2.2 0,836 0,000

X2.3 0,760 0,000

X2.4 0,831 0,000

Kepuasan Wajib Pajak (X3)

X3.1 0,835 0,000

0,676

X3.2 0,494 0,006

X3.3 0,882 0,000

X3.4 0,639 0,000

Kepatuhan Wajib Pajak (Y)

Y1 0,766 0,000

0,694

Y2 0,245 0,193

Y3 0,541 0,002

Y4 0,787 0,000

Y5 0,840 0,000

Y6 0,398 0,029

Y7 0,542 0,002

Y8 0,654 0,000

Y9 0,614 0,000

Y10 0,245 0,193

Sumber : Data diolah (Lampiran 5 dan 6), 2015

5.3 Pengujian Asumsi Klasik

Analisis regresi yang menggunakan teknik Ordinary Least Square (OLS) memerlukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah uji normalitas, multikolinearitas, dan heterokedastisitas.

(7)

Pengujian ini dilakukan untuk memperoleh keyakinan model regresi yang diperoleh memiliki kemampuan memprediksi dalam pengambilan keputusan.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa Asymp. Sig. (2-tailed) dalam One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test adalah 0,840. Nilai ini lebih besar dari signifikansi 0,05, sehingga H0 diterima yang berarti data yang diuji terdistribusi normal.

2) Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model yang baik tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Hasil uji multikolineraritas disajikan pada tabel berikut :

Tabel 5.3

Hasil Uji Multikolinearitas

No Variabel Tolerance VIF

1 2 3

Keadilan Distributif (X1) Penegakan Sanksi (X2) Kepuasan Wajib Pajak (X3)

0,872 0,832 0,755

1,146 1,203 1,325 Sumber : Data diolah (Lampiran 8), 2015

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa ketiga variabel independen memiliki nilai tolerance > 0,10 dan nilai variance inflation factor (VIF) < 10.

(8)

Ini menandakan bahwa persamaan regresi ini memenuhi syarat uji multikolinearitas.

3) Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali, 2013). Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser yakni dengan cara meregresi nilai absolute residual dari model yang diestimasi terhadap variabel independen. Hasil uji heterokedastisitas disajikan pada tabel 5.4 di bawah ini.

Tabel 5.4

Hasil Uji Heterokedastisitas

No Variabel t Sig.

1 2 3

Keadilan Distributif (X1) Penegakan Sanksi (X2) Kepuasan Wajib Pajak (X3)

0,216 -0,466 0,646

0,830 0,643 0,521 Sumber : Data diolah (Lampiran 10), 2015

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Absolut Residual. Dapat dilihat dari nilai signifikansinya sebesar 0,830 untuk variabel keadilan distributif, sebesar 0,643 untuk variabel penegakan sanksi dan sebesar 0,521 untuk variabel kepuasan wajib pajak. Semua nilai tersebut lebih besar dari alpha (α = 0,05), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi ini memenuhi syarat uji heterokedastisitas.

(9)

5.4 Analisis Deskriptif Statistik dan Persamaan Regresi

Statistik deskriptif disajikan dalam memberikan informasi tentang karakteristik variabel penelitian. Ringkasan hasil statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut :

Tabel 5.5

Statistik Deskriptif Data Uji Descriptive Statistics

N Min Max Mean Median Std. Deviation

Keadilan Distributif 68 1,83 4,50 3,2072 3,165 0,586

Penegakan Sanksi 68 1,59 4,42 3,1752 3,005 0,762

Kepuasan WP 68 1,17 4,00 2,7696 2,585 0,692

Kepatuhan WP 68 2,00 4,53 3,0816 3,265 0,647

Valid N (listwise) 68

Sumber : Data diolah (Lampiran 7), 2015

Tabel 5.5 menunjukkan jumlah responden (N) adalah 68. Nilai minimum variabel keadilan distributif sebesar 1,83 dan nilai maksimumnya 4,50 dengan nilai rata-rata 3,2072. Variabel penegakan sanksi memiliki nilai minimum 1,59 dan nilai maksimum 4,42 dengan nilai rata-rata 3,1752. Nilai minimum variabel kepuasan wajib pajak 1,17 dan nilai maksimumnya 4 dengan nilai rata-rata 2,7696. Sedangkan nilai minimum variabel kepatuhan wajib pajak 2 dan nilai maksimumnya 4,53 dengan nilai rata-rata 3,0816.

Tahap berikutnya peneliti melakukan pemetaan pada masing-masing variabel penelitian. Pemetaan variabel penelitian diperlukan untuk mengetahui secara lebih mendetail persepsi jawaban wajib pajak hotel dan restoran. Pemetaan variabel dilaksanakan dengan melakukan tahapan sebagai berikut :

(10)

1) Menghitung Jangkauan (J)

Tabel 5.6 Jangkauan Data Penelitian

Variabel Data Terkecil Data Terbesar Jangkauan (J)

Keadilan Distributif (X1) 1,83 4,50 2,67

Penegakan Sanksi (X2) 1,59 4,42 2,83

Kepuasan WP (X3) 1,17 4,00 2,83

Kepatuhan WP (Y) 2,00 4,53 2,53

Sumber : Data diolah (lampiran 7), 2015

Tabel diatas menunjukkan, dari data terbesar dan terkecil pada masing- masing variabel diperoleh nilai jangkauan (selisih nilai data terbesar dengan data terkecil) yaitu untuk nilai jangkauan variabel keadilan distributif sebesar 2,67, nilai jangkauan variabel penegakan sanksi 2,83, nilai jangkauan variabel kepuasan wajib pajak 2,83 dan nilai jangkauan variabel kepatuhan wajib pajak adalah 2,53.

2) Setiap variabel dibagi dalam kelas interval masing-masing sebanyak 10 kelas interval. Langkah ini dilakukan untuk melihat posisi nilai rata-rata jawaban responden pada masing-masing variabel. Masing-masing kelas interval diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Untuk variabel keadilan distributif adalah sangat tidak adil, cenderung sangat tidak adil, tidak adil, cenderung tidak adil, kurang adil, cukup adil, cenderung adil, adil, cenderung sangat adil dan sangat adil.

b. Untuk variabel penegakan sanksi adalah sangat tidak baik, cenderung sangat tidak baik, tidak baik, cenderung tidak baik, kurang baik, cukup baik, cenderung baik, baik, cenderung sangat baik dan sangat baik.

(11)

c. Untuk variabel kepuasan wajib pajak yaitu sangat tidak puas, cenderung sangat tidak puas, tidak puas, cenderung tidak puas, kurang puas, cukup puas, cenderung puas, puas, cenderung sangat puas dan sangat puas.

d. Untuk variabel kepatuhan wajib pajak yaitu sangat tidak patuh, cenderung sangat tidak patuh, tidak patuh, cenderung tidak patuh, kurang patuh, cukup patuh, cenderung patuh, patuh, cenderung sangat patuh dan sangat patuh.

3) Panjang kelas interval

Panjang kelas interval diperoleh melalui pembagian jangkauan dengan jumlah kelas yang hasilnya sebagai berikut :

Tabel 5.7 Panjang Kelas Interval Data

Variabel Jangkauan Jml Kelas Panjang Kelas Interval

Keadilan Distributif (X1) 2,67 10 0,267

Penegakan Sanksi (X2) 2,83 10 0,283

Kepuasan WP (X3) 2,83 10 0,283

Kepatuhan WP (Y) 2,53 10 0,253

Sumber : Data diolah, 2015

Tabel diatas menunjukkan bahwa dengan jangkauan 2,67 dan jumlah kelas terdapat 10 kelas interval, variabel keadilan distributif memiliki panjang kelas interval 0,267. Panjang kelas interval variabel penegakan sanksi 0,283, variabel kepuasan wajib pajak 0,283 dan variabel kepatuhan wajib pajak sebesar 0,253.

4) Berdasarkan nilai minimum dan nilai maksimum jawaban responden serta panjang kelas interval diatas maka masing-masing variabel penelitian dapat diklasifikasi sebagai berikut :

(12)

a. Klasifikasi Variabel Keadilan Distributif

Tabel 5.8 Klasifikasi Variabel Keadilan Distributif

Rentang Klasifikasi Klasifikasi Rata-Rata

Data Respon 1,830 ≤ Keadilan Distributif < 2,097 Sangat tidak adil

2,097 ≤ Keadilan Distributif < 2,364 Cenderung Sangat tidak adil 2,364 ≤ Keadilan Distributif < 2,631 Tidak adil

2,631 ≤ Keadilan Distributif < 2,898 Cenderung tidak adil 2,898 ≤ Keadilan Distributif < 3,165 Kurang adil

3,165 ≤ Keadilan Distributif < 3,432 Cukup adil 3,2072 3,432 ≤ Keadilan Distributif < 3,699 Cenderung adil

3,699 ≤ Keadilan Distributif < 3,966 Adil

3,966 ≤ Keadilan Distributif < 4,233 Cenderung sangat adil 4,233 ≤ Keadilan Distributif < 4,500 Sangat adil

Sumber : Data diolah, 2015

Rata-rata jawaban responden untuk variabel keadilan distributif sebesar 3,2072. Nilai ini masuk dalam klasifikasi keadilan distributif cukup adil. Ini menandakan bahwa persepsi wajib pajak tentang keadilan distributif yang diterimanya masih dalam kategori masih kurang sehingga perlu ditingkatkan lagi sehingga diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran.

b. Klasifikasi Variabel Penegakan Sanksi

Rata-rata jawaban responden untuk variabel penegakan sanksi sebesar 3,1752 (lihat tabel 5.9). Nilai ini termasuk cukup baik dalam klasifikasi, yang berarti persepsi responden cukup mendukung penegakan sanksi yang dilakukan oleh Dispenda. Untuk dapat memperoleh klasifikasi sangat baik,

(13)

penegakan sanksi perlu lebih ditingkatkan sehingga persepsi wajib pajak pada penegakan sanksi semakin baik.

Tabel 5.9 Klasifikasi Variabel Penegakan Sanksi

Rentang Klasifikasi Klasifikasi Rata-Rata

Data Respon 1,590 ≤ Penegakan Sanksi < 1,873 Sangat tidak baik

1,873 ≤ Penegakan Sanksi < 2,156 Cenderung Sangat tidak baik 2,156 ≤ Penegakan Sanksi < 2,439 Tidak baik

2,439 ≤ Penegakan Sanksi < 2,722 Cenderung tidak baik 2,722 ≤ Penegakan Sanksi < 3,005 Kurang baik

3,005 ≤ Penegakan Sanksi < 3,288 Cukup baik 3,1752 3,288 ≤ Penegakan Sanksi < 3,571 Cenderung baik

3,571 ≤ Penegakan Sanksi < 3,854 Baik

3,854 ≤ Penegakan Sanksi < 4,137 Cenderung sangat baik 4,137 ≤ Penegakan Sanksi < 4,420 Sangat baik

Sumber : Data diolah, 2015 c. Klasifikasi Variabel Kepuasan Wajib Pajak

Tabel 5.10 Klasifikasi Variabel Kepuasan Wajib Pajak

Rentang Klasifikasi Klasifikasi Rata-Rata Data Respon 1,170 ≤ Kepuasan WP < 1,453 Sangat tidak puas

1,453 ≤ Kepuasan WP < 1,736 Cenderung Sangat tidak puas 1,736 ≤ Kepuasan WP < 2,019 Tidak puas

2,019 ≤ Kepuasan WP < 2,302 Cenderung tidak puas 2,302 ≤ Kepuasan WP < 2,585 Kurang puas

2,585 ≤ Kepuasan WP < 2,868 Cukup puas 2,7696 2,868 ≤ Kepuasan WP < 3,151 Cenderung puas

3,151 ≤ Kepuasan WP < 3,434 Puas

3,434 ≤ Kepuasan WP < 3,717 Cenderung sangat puas 3,717 ≤ Kepuasan WP < 4,000 Sangat Puas

Sumber : Data diolah, 2015

(14)

Rata-rata jawaban responden untuk variabel kepuasan wajib pajak sebesar 2,7696 dan termasuk dalam klasifikasi cukup puas. Persepsi wajib pajak tentang pelayanan Dispenda khususnya dimensi responsiveness perlu ditingkatkan sehingga meningkat ke level yang lebih tinggi.

d. Klasifikasi Variabel Kepatuhan Wajib Pajak

Rata-rata jawaban responden untuk variabel kepatuhan wajib pajak sebesar 3,0816. Nilai ini termasuk dalam klasifikasi kurang patuh. Persepsi kepatuhan wajib pajak yang ditunjukkan tentang wajib pajak masih dapat ditingkatkan kembali sehingga menjadi patuh atau sangat patuh.

Tabel 5.11 Klasifikasi Variabel Kepatuhan Wajib Pajak Rentang Klasifikasi Klasifikasi Rata-Rata

Data Respon 2,000 ≤ Kepatuhan WP < 2,253 Sangat tidak patuh

2,253 ≤ Kepatuhan WP < 2,506 Cenderung Sangat tidak patuh 2,506 ≤ Kepatuhan WP < 2,759 Tidak patuh

2,759 ≤ Kepatuhan WP < 3,012 Cenderung tidak patuh

3,012 ≤ Kepatuhan WP < 3,265 Kurang patuh 3,0816 3,265 ≤ Kepatuhan WP < 3,518 Cukup patuh

3,518 ≤ Kepatuhan WP < 3,771 Cenderung patuh 3,771 ≤ Kepatuhan WP < 4,024 Patuh

4,024 ≤ Kepatuhan WP < 4,277 Cenderung sangat patuh 4,277 ≤ Kepatuhan WP < 4,530 Sangat Patuh

Sumber : Data diolah, 2015

Setelah data dipetakan kemudian data diolah mengunakan analisis regresi.

Hasil analisis regresi berganda dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows menunjukkan ketiga variabel bebas keadilan distributif, penegakan sanksi dan

(15)

kepuasan wajib pajak masing-masing berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Hasil selengkapnya ditunjukkan pada tabel 5.12 berikut ini.

Tabel 5.12

Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Variabel

Unstandardized

Coefficients Standardized Coefficients

Beta

t Sig.

B Std.

Error

(Constant) 0,154 0,316 0,487 0,628

Keadilan Distributif (X1) 0,262 0,089 0,237 2,951 0,004 Penegakan Sanksi (X2) 0,217 0,070 0,255 3,102 0,003

Kepuasan WP (X3) 0,505 0,081 0,540 6,242 0,000

Sumber: Data diolah (Lampiran 8), 2015

Berdasarkan tabel diatas dapat diringkas model persamaan regresi pengaruh keadilan distributif, penegakan sanksi dan kepuasan wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak sebagai berikut :

Y = 0,154 + 0,262X1+ 0,217X2+ 0,505X3+ e

Berdasarkan model persamaan regresi tersebut dapat diungkap informasi yaitu :

1) Nilai konstanta atau α = 0,154 artinya pengaruh minimal variabel keadilan distributif, penegakan sanksi, dan kepuasan wajib pajak pada variabel kepatuhan wajib pajak sebesar 0,154 satuan.

2) Nilai koefisien regresi keadilan distributif atau β1 = 0,262 artinya apabila variabel keadilan distributif meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,262 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

(16)

3) Nilai koefisien regresi penegakan sanksi atau β2 = 0,217 artinya apabila variabel penegakan sanksi meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,217 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

4) Nilai koefisien regresi kepuasan wajib pajak atau β3 = 0,505 artinya apabila variabel kepuasan wajib pajak meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,505 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

Selanjutnya hasil regresi moderasian dengan menggunakan uji nilai selisih mutlak dapat dilihat pada tabel 5.13 berikut ini.

Tabel 5.13

Hasil Analisis Moderasi Uji Nilai Selisih Mutlak

Variabel

Unstandardized

Coefficients Standardized

Coefficients Beta t Sig.

B Std. Error

(Constant) 2,926 0,091 32,027 0,000

ZX1 0,153 0,052 0,236 2,930 0,005

ZX2 0,197 0,054 0,305 3,649 0,001

ZX3 0,333 0,055 0,514 6,030 0,000

|ZX1 - ZX3| 0,050 0,065 0,059 0,778 0,440

|ZX2 - ZX3| 0,143 0,067 0,163 2,124 0,038

Sumber: Data diolah (Lampiran11), 2015

Mengacu pada tabel diatas dapat diketahui model persamaan regresi sebagai berikut ini.

Y = 2,926 + 0,153ZX1+ 0,197ZX2+ 0,333ZX3+ 0,143|ZX2 - ZX3 | + e

Berdasarkan model persamaan regresi tersebut dapat diungkap informasi sebagai berikut :

(17)

1) Nilai konstanta atau α = 2,926 artinya pengaruh minimal variabel keadilan distributif, penegakan sanksi, kepuasan wajib pajak dan interaksi antar variabel independen (X1.X3, X2.X3) pada variabel kepatuhan wajib pajak sebesar 2,926 satuan.

2) Nilai koefisien regresi keadilan distributif atau β1 = 0,153 artinya apabila variabel keadilan distributif meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,153 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

3) Nilai koefisien regresi penegakan sanksi atau β2 = 0,197 artinya apabila variabel penegakan sanksi meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,197 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

4) Nilai koefisien regresi kepuasan wajib pajak atau β3 = 0,333 artinya apabila variabel kepuasan wajib pajak meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak meningkat 0,333 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

5) Nilai koefisien regresi |ZX2 - ZX3 | atau β5 = 0,143 artinya apabila interaksi variabel penegakan sanksi dan kepuasan wajib pajak (X2.X3) meningkat sebesar 1 satuan maka variabel kepatuhan wajib pajak akan meningkat sebesar 0,143 satuan dengan asumsi variabel lainnya konstan.

(18)

5.5 Uji Kelayakan Model (Uji F) dan Koefisien Determinasi

Kelayakan model regresi menganalisis untuk menguji pengaruh variabel independen pada variabel dependen dilakukan dengan melakukan pengujian kelayakan model (Uji F). Hasil uji kelayakan model disajikan pada tabel 5.14.

Tabel 5.14

Hasil Uji Kelayakan Model ANOVAa

Model Sum of

Squares

df Mean

Square

F Sig.

1

Regression 18.667 5 3.733 24.675 .000b

Residual 9.381 62 .151

Total 28.048 67

a. Dependent Variable: Kepatuhan WP (Y)

b. Predictors: (Constant), AbsZX2_X3, AbsZX1_X3, Zscore: Kepuasan WP(X3), Zscore: Keadilan Distributif(X1), Zscore: Penegakan Sanksi(X2)

Sumber : Lampiran 11

Berdasarkan tabel 5.14 dapat diketahui bahwa uji F menghasilkan nilai Fhitung sebesar 24,675 dengan signifikansi 0,000, nilai tersebut lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan α = 0,05 (α = 5 persen).

Koefisien determinasi menggambarkan sejauhmana variabel independen dalam model, mampu menjelaskan variabilitas variabel dependennya (Ghozali,2013). Indikator koefisien determinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Adjusted R2 . Besarnya koefisien determinasi Adjusted R2 ditunjukkan pada tabel 5.15.

(19)

Tabel 5.15 Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .816a .666 .639 .38898

a. Predictors: (Constant), AbsZX2_X3, AbsZX1_X3, Zscore: Kepuasan WP(X3), Zscore: Keadilan Disributif(X1), Zscore: Penegakan Sanksi(X2) b. Dependent Variable: Kepatuhan WP (Y)

Sumber : Lampiran 11

Berdasarkan tabel 5.15 dapat diketahui koefisien determinasi Adjusted R2 adalah sebesar 0,639. Ini berarti variabilitas variabel kepatuhan wajib pajak dapat dijelaskan oleh variabel keadilan distributif, penegakan sanksi, dan kepuasan wajib pajak sebesar 63,9% sedangkan sisanya sebesar 36,1% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Hasil uji F yang signifikan dan koefisien determinasi yang mendekati satu menunjukkan model regresi sudah fit sehingga dapat dilanjutkan dengan pembuktian hipotesis.

5.6 Uji Hipotesis Parsial dan Moderated Regression Analysis (MRA)

Uji t dipergunakan untuk menunjukkan pengaruh variabel independen dan variabel moderasi pada variasi variabel dependen secara individual. Uji t dilakukan dengan membandingkan hasil nilai signifikansi p-value pengaruh variabel independen dan interaksi variabel pada variabel dependen dengan α = 0,05. Jika p-value lebih kecil sama dengan α = 0,05 maka variabel independen berpengaruh pada variabel dependen dan sebaliknya jika p-value lebih besar dari α = 0,05 maka variabel independen tidak berpengaruh pada variabel dependen.

(20)

5.6.1 Persamaan Regresi Berganda dan Hasil Uji Hipotesis 1, 2 dan 3

Berdasarkan tabel 5.12 sebelumnya diperoleh hasil uji regresi pengaruh parsial variabel independen keadilan distributif, penegakan sanksi dan kepuasan wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak dengan rincian sebagai berikut :

1) Uji regresi variabel keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak diperoleh hasil koefisien β = 0,262 dengan p-value sebesar = 0,004/2 = 0,002 (uji satu sisi) yang lebih kecil dari α = 0,05. Ini berarti bahwa keadilan distributif berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak. Dengan demikian hasil uji hipotesis ini menerima hipotesis H1 yang menyatakan bahwa keadilan distributif berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak.

2) Uji regresi variabel penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak diperoleh hasil koefisien β = 0,217 dengan p-value sebesar = 0,003/2 = 0,0015 (uji satu sisi) yang lebih kecil dari α = 0,05. Ini berarti bahwa penegakan sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak, sehingga hasil ini menerima hipotesis H2 yang menyatakan bahwa penegakan sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak.

3) Uji regresi variabel kepuasan wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak diperoleh hasil koefisien β = 0,505 dengan p-value sebesar 0,000 yang jauh lebih kecil dari α = 0,05. Ini berarti bahwa kepuasan wajib pajak berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak. Dengan demikian hasil uji hipotesis ini menerima hipotesis H3 yang menyatakan kepuasan wajib pajak berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak.

(21)

5.6.2 Persamaan Regresi Berganda dan Hasil Uji Hipotesis 4 dan 5

Uji hipotesis pengaruh interaksi kepuasan wajib pajak dengan keadilan distributif dan penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows. Berdasarkan tabel 5.13 diperoleh hasil uji dengan rincian sebagai berikut :

1) Uji regresi kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak diperoleh koefisien β4X1.X3 sebesar 0,050 dengan p-value sebesar = 0,440/2 = 0,220 (uji satu sisi), yang lebih besar dari α = 0,05. Ini menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak tidak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran, sehingga hasil ini menolak hipotesis H4.

2) Uji regresi kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak diperoleh koefisien β5X2.X3 sebesar 0,143 dengan p-value sebesar = 0,038/2 = 0,019 (uji satu sisi), yang lebih kecil dari α = 0,05.

Ini menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran, sehingga hasil ini menerima hipotesis H5 yaitu kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran.

(22)

5.7 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis

5.7.1 Pengaruh Keadilan Distributif, Penegakan Sanksi, dan Kepuasan Wajib Pajak pada Kepatuhan Wajib Pajak Hotel dan Restoran

Berdasarkan hasil uji regresi dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows diperoleh pengaruh parsial keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak memiliki koefisien β = 0,262 dengan p-value sebesar = 0,004/2 = 0,002 (uji satu sisi) yang lebih kecil dari α = 0,05. Hasil ini membuktikan bahwa keadilan distributif berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Ini berarti bahwa semakin tinggi keadilan distributif yang diterima wajib pajak, akan cenderung mendorong wajib pajak hotel dan restoran untuk patuh dengan kewajiban membayar pajaknya. Temuan ini mendukung penelitian oleh Albari (2008), yang menemukan keadilan distributif berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak. Hasil ini mendukung teori keadilan yang dikemukakan oleh Robbins (2008) yang menyebutkan bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan. Keadilan distributif yang dirasakan wajib pajak mendorong kepatuhan wajib pajak.

Hasil uji regresi dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows menunjukkan pengaruh parsial penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak memiliki koefisien β =0,217 dengan p-value sebesar = 0,003/2 = 0,0015 (uji satu sisi) yang lebih kecil dari α = 0,05. Hasil ini mendukung hipotesis H2, sehingga penelitian ini berhasil membuktikan bahwa penegakan sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Berdasarkan kajian teoritis dari Teori Atribusi yang menyebutkan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang

(23)

disebabkan oleh faktor eksternal yaitu perilaku yang dipengaruhi dari luar, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena situasi. Wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya dengan mempertimbangkan sanksi yang diberikan akan memperberat wajib pajak dalam melunasi kewajiban perpajakannya. Hasil ini konsisten dengan penelitian dan pendapat Suyatmin (2004), dan lebih lanjut dijelaskan bahwa Undang-Undang dan peraturan secara garis besar berisikan hak dan kewajiban, tindakan yang diperkenankan dan tidak diperkenankan oleh masyarakat. Agar undang-undang dan peraturan tersebut dipatuhi, maka harus ada sanksi bagi pelanggarnya, demikian halnya untuk hukum pajak, sehingga sanksi perpajakan akan mendorong wajib pajak untuk patuh. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian dari Jatmiko,(2006) dan Koentarto (2011) yang menemukan bahwa sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak.

Berdasarkan hasil uji regresi dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows diperoleh pengaruh parsial kepuasan wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak memiliki koefisien β=0,505 dengan p-value sebesar 0,000 yang jauh lebih kecil dari α = 0,05. Hasil ini membuktikan bahwa kepuasan wajib pajak berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Kepuasan wajib pajak merupakan faktor internal wajib pajak dalam melakukan kepatuhan pada kewajiban pajak hotel dan restoran. Teori Atribusi menyatakan untuk dapat berperilaku tertentu seseorang/ wajib pajak didorong oleh faktor internal wajib pajak itu sendiri. Penelitian ini mendukung hasil penelitian yang ditemukan oleh Widodo (2012) menemukan bahwa kepuasan wajib pajak mempunyai pengaruh

(24)

yang signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Simokerto.

5.7.2 Pengaruh Interaksi Kepuasan Wajib Pajak dengan Keadilan Distributif dan Penegakan Sanksi pada Kepatuhan Wajib Pajak Hotel dan Restoran

Berdasarkan hasil uji regresi dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows, pengaruh interaksi kepuasan wajib pajak dengan keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak memiliki koefisien β 0,050. Koefisien β yang bernilai positif menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak. Pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak akan lebih kuat jika wajib pajak puas dengan respon layanan yang diberikan oleh Dispenda. Nilai p-valuenya sebesar = 0,440/2 = 0,220 (uji satu sisi) yang lebih besar dari α = 0,05 menunjukkan hasil ini tidak signifikan, sehingga menolak hipotesis H4 yang menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak tidak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran, meskipun secara langsung kepuasan wajib pajak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian ini dapat dijustifikasi bahwa pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak sudah tinggi sehingga tidak dapat diperkuat lagi oleh kepuasan wajib pajak. Dari tinjauan teori atribusi, faktor eksternal keadilan distributif sudah tinggi sehingga kepuasan wajib pajak yang merupakan faktor internal tidak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran.

(25)

Berdasarkan hasil uji regresi dengan bantuan program SPSS ver.21 for windows, pengaruh interaksi kepuasan wajib pajak dengan penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak memiliki koefisien β 0,143. Koefisien β yang bernilai positif menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak. Penegakan sanksi merupakan salah satu cara untuk memperoleh kepatuhan wajib pajak. Namun meskipun sanksi ditegakkan, wajib pajak akan tetap berusaha untuk mencari celah untuk menghindari pajak. Penegakan sanksi harus diikuti dengan layanan dari Dispenda yang baik terhadap permintaan pelayanan dari wajib pajak sehingga wajib pajak mematuhi kewajibannya. Nilai p-value interaksi ini sebesar = 0,038/2 = 0,019 (uji satu sisi), yang lebih kecil dari α = 0,05. Hasil ini menerima hipotesis H5 yang menunjukkan bahwa kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Hubungan moderasi positif ini dapat dijelaskan bahwa kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajak hotel dan restoran sebagai pengaruh dari penegakan sanksi perpajakan akan lebih terjamin jika disertai dengan kepuasan wajib pajak. Wajib pajak yang puas akan pelayanan Dispenda tidak akan keberatan dengan penegakan sanksi yang baik dan akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Kotler (2003), menyebutkan kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesan terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya. Sehingga semakin tinggi kepuasan wajib pajak yang dirasakan akan memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak.

(26)

5.8 Keterbatasan Penelitian

Konsep berpikir penelitian ini pada dasarnya mempertimbangkan bahwa kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal dari wajib pajak hotel dan restoran. Pergeseran metode pencegahan ketidakpatuhan wajib pajak saat ini tidak hanya mementingkan pengaruh dari faktor eksternal, tetapi juga mempertimbangkan faktor internal, seperti yang ditemukan oleh Verboon dan Goslinga (2009) untuk membentuk kepatuhan wajib pajak, disamping perlu memperhatikan variabel pencegahan seperti kemungkinan diperiksa dan sanksi yang berat juga terdapat unsur pribadi yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak seperti norma pribadi dan perasaan senang atau tidak pada pelayanan pajak. Pada model penelitian ini peneliti masih menggabungkan antara faktor eksternal dan iternal yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Hal ini menyebabkan justifikasi hasil penelitian lebih sulit, sehingga kedepan dalam mengambil topik kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran dapat dipertimbangkan dari salah satu faktor esternal saja atau internal saja.

Model penelitian yang digunakan penulis saat ini belum dapat memberikan bukti pengaruh interaksi kepuasan wajib pajak dengan keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran. Keterbatasan ini salah satunya dapat disebabkan karena responden penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan pemilik dan direktur keuangan/ akunting sebagai responden. Dengan perbedaan responden ini dan terkadang adanya penugasan kepada staf dalam pengisian kuesioner akan menghasilkan data yang kurang baik. Penelitian selanjutnya dapat

(27)

mempertegas dalam instrumen penelitian bahwa yang berhak mengisi kuesioner adalah pemilik hotel dan restoran.

Pajak hotel dan restoran yang dibayarkan oleh wajib pajak hakekatnya adalah pajak yang dibayarkan oleh konsumen kepada daerah dan wajib pajak yaitu hotel dan restoran hanya sebagai pemungut. Sehingga terkait dengan kepuasan sebenarnya juga menyangkut dengan kepuasan konsumen. Untuk menghindari hal ini, peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan untuk menggunakan jenis pajak daerah yang lain dalam melakukan penelitian. Melihat hasil regresi pengaruh langsung kepuasan wajib pajak dan interaksinya dengan variabel pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran yang menunjukkan hasil yang signifikan pada pengaruh langsungnya dan tidak signifikan pada saat interaksi dapat dipahami kepuasan wajib pajak kemungkinan sebagai prediktor atau variabel bebas. Peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan model yang lain yaitu kepuasan wajib pajak sebagai prediktor atau mengambil variabel lain sebagai variabel moderasi.

(28)

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1) Keadilan distributif berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran ;

2) Penegakan sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran ;

3) Kepuasan wajib pajak berpengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran;

4) Meskipun kepuasan wajib pajak secara langsung mempengaruhi kepatuhan wajib pajak namun kepuasan wajib pajak tidak memperkuat pengaruh keadilan distributif pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran yang disebabkan wajib pajak masih belum puas yang dapat dilihat dari rata-rata jawaban responden yang baru menyatakan cukup puas.

5) Kepuasan wajib pajak memperkuat pengaruh penegakan sanksi pada kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran.

6.2 Saran

Berdasarkan pembahasan dan telaah jawaban responden dapat disarankan sebagai berikut :

67

(29)

1) Pemerintah Kabupaten Tabanan perlu memperhatikan keadilan dan kepuasan wajib pajak hotel dan restoran dengan meningkatkan kualitas pelayanan perpajakan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas program pembangunan yang menyentuh langsung pelaku bisnis hotel dan restoran.

2) Penegakan sanksi perpajakan perlu ditingkatkan karena penegakan sanksi terbukti secara signifikan berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak.

Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pendapatan dan Pesedahan Agung perlu melakukan sosialisasi tentang peraturan perpajakan dan lebih menerapkan sanksi bagi yang tidak patuh.

3) Peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan model yang lain dengan memisahkan faktor internal dan faktor eksternal sebagai variabel yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak hotel dan restoran, memposisikan variabel kepuasan wajib pajak sebagai prediktor atau mengambil variabel lain sebagai variabel moderasi. Penelitian selanjutnya dapat mempertegas dalam instrumen penelitian bahwa yang berhak mengisi kuesioner adalah pemilik hotel dan restoran serta dapat menggunakan jenis pajak daerah yang lain sebagai objek penelitian.

(30)

DAFTAR RUJUKAN

Albari. 2008. Pengaruh Keadilan terhadap Kepuasan dan Kepatuhan Wajib Pajak.

Jurnal UNISIA. Vol. XXXI No. 69 September 2008. Hal : 280-293.

Allingham, M. G. dan Sandmo, A. 1972. Income Tax Evasion: A Theoretical Analysis. Journal Of Public Economics 1. Hal : 323-338.

Ancok, D. 2004. Psikologi Terapan. Yogyakarta : Darussalam.

Andreoni, J., Erard, B., dan Feinstein, J. 1998. Tax compliance. Journal of Economic Literature. 36. Hal : 818-860.

Benk, S., Budak, T. dan Cakmak, A.F. 2012. Tax Professionals Perceptions Of Tax Fairness: Survey Evidence In Turkey. International Journal of Busines and Sosial Science.Vol 3 No 2. Hal : 112-117.

Blerkom, M. L. V. 2009. Measurement and Statistics for Teachers. New York : Routledge 270 Madison Ave.

Blumenthal, M., Christian, C. dan Slemrod, J. 2001. Do Normative Appeals Affect Tax Compliance? Evidence from a Controlled Experiment in Minnesota.

National Tax Journal. Vol 54 No1. Hal :125-138.

Bobek, D.D., Hageman, A.M. dan Kelliher, C.F. 2013. Analyzing the Role of Sosial Norms in Tax Compliance Behavior. Journal of Business Ethics. 115. Hal : 451-468.

Chung, J. dan Trivedi, V.U. 2003. The effect of friendly persuasion and gender on tax compliance behavior. Journal of Business Ethics.Volume 47. Hal :133.

Dharmawan, F. 2012. Pengaruh Keadilan Pajak Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi, Studi Pada KPP Pratama Malang Selatan (tesis). Malang : Universitas Brawijaya. Dipublikasikan.

Dharmayanti, D. 2006. Analisis Dampak Service Performance dan Kepuasan Sebagai Moderating Variable Terhadap Loyalitas Nasabah. Jurnal Manajemen Pemasaran. Vol 1 No 1. Hal : 35-43.

Feld, L .P. dan Frey, B.S. 2002. Deterrence and Morale in Taxation : An Empirical Analysis. Cesifo Working Paper No. 760. Kategori 1 : Public Finance.

Agustus 2002.

69

(31)

Feld, L.P. dan Larsen, C. 2012. Self-perceptions, Government Policies and Tax Compliance in Germany. International Tax Public Finance. 19. Hal : 78-103.

Franzoni, L. A. 1999. Tax Evasion And Tax Compliance. Encyclopedia of Law and Economics. Vol. 4. Hal : 51-94.

Ghozali, I. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21.

Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gunadi. 2005. Akuntansi Pajak. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana.

Huang, J.H. dan Lin, C.Y. 2005. The Explanation Effects on Costumer Perceived Justice, Satisfaction and Loyalty Improvement: An Exploratory Study. The Journal of American Academy of Business.Vol 7 No 2. Hal : 212-218.

Irawan, H. 2008. Sepuluh Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta : Penerbit Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Jatmiko, A.N. 2006. Pengaruh Sikap Wajib Pajak Pada Pelaksanaan Sanksi Denda, Pelayanan Fiskus Dan Kesadaran Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (tesis). Semarang : Universitas Diponegoro.

Jogiyanto. 2004. Metode Penelitian Bisnis : Salah Kaprah dan Pengalaman- Pengalaman. Cetakan Pertama. Yogyakarta : BPFE.

Koentarto, I. 2011.Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan masyarakat Dalam Melakukan Pembayaran Pajak Bumi Dan Bangunan.

Sosioscientia, Jurnal Ilmu-ilmu Sosial.Vol 3. No 2 : 243-258.

Kotler, P. 2003. Marketing Management. 11th Edition. New Jersey : Prentice Hall Int l.

Lubis, I. 2010. Menggali Potensi Pajak Perusahaan dan Bisnis dengan Pelaksanaan Hukum. Jakarta : Gramedia.

Manurung, S. 2013. Kompleksitas Kepatuhan Pajak. Available from : URL:

http://www.pajak.go.id/content/article/kompleksitas-kepatuhan-pajak. [cited 2014 Oct. 24].

Mardiasmo. 2011. Perpajakan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi.

Maryati, E. 2014. Pengaruh Sanksi Pajak, Motivasi dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Pada Wilayah Kantor Prlayanan Pajak Pratama Bintan) . Artikel. Tanjungpinang : Universitas Maritim Raja Ali Haji.

(32)

Mc Mahon, C. 2001. Collective Rationality and Collective Reasoning. Cambridge : Cambridge University Press.

Menteri Keuangan. 2007. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/Pmk.03/2007 tentang Tata Cara Penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu Dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak.

Mustikasari, E. 2007. Kajian Empiris Tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan di Perusahaan Industri Pengolahan di Surabaya. Simposium Nasional Akuntansi X.

Makasar.

Novelia, K. R. 2009. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Wajib Pajak (Suatu Studi untuk Pajak Kendaraan Bermotor di Satuan Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap Kota Depok) . (skripsi). Jakarta : Universitas Indonesia.

OECD. 2001. General Administrative Principles - GAP004 Compliance Measurement. Tax guidance series. Centre for Tax Policy and Administration.

Pemerintah Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 28 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Pemerintah Kabupaten Tabanan. 2011. Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 23 tentang Pajak Restoran.

Pemerintah Kabupaten Tabanan. 2011. Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 24 tentang Pajak Hotel.

Robbins, S. P. dan Timothy, A. J. 2008. Perilaku Organisasi (Organizational Behavior). Buku 1. Jakarta : Salemba Empat.

Rosdiana, H dan Tarigan, R. 2005. Perpajakan : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, I. P. A. P. 2014. Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral dan Sanksi Perpajakan Pada Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Hotel. E- Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.1. Halaman : 207-222.

Sarwono, J. 2013. Statistik Multivariat Aplikasi Untuk Riset Skripsi. Yogyakarta : ANDI.

Sevilla, Consuelo G. 2007. Research Methods. Quezon City : Rex Printing Company.

(33)

Simamora, P. 2006. Pengaruh Kepuasan Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak : Pada Kantor Pelayanan Pajak Bogor . (tesis). Jakarta : Universitas Indonesia.

Suartana, W. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Teori dan Implementasi. Yogyakarta : ANDI.

Subroto, G. 2014. Melebarkan Ruang Fiskal. Available from : URL:

http://www.pajak.go.id/content/article/melebarkan-ruang-fiskal. [cited 2014 Oct.

24].

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Keenam Belas. Bandung : Alfabeta.

Suyatmin. 2004. Pengaruh Sikap Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan : Studi Empiris di Wilayah KP PBB Surakarta (tesis). Semarang : Universitas Diponegoro. Tidak Dipublikasikan.

Tjahyono, H. K. 2008. Pengaruh Keadilan Keorganisasian pada Kepuasan Individu dan Komitmen Keorganisasian dengan Modal Sosial sebagai Variabel Moderator. (disertasi). Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada. Available from : URL:http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=Penel itianDetail&act=view&typ=html&buku_id=49263&obyek_id=4. [cited 2015 Jun.

15].

Ulupui, I.G.K. 2005. Pengaruh Partisipasi Anggaran, Persepsi Keadilan Distributif, Keadilan Prosedural dan Goal Commitment terhadap Kinerja Dinas.

Jurnal Bisnis dan Ekonomi. Vol. 9. No. 2. Hal : 98-112.

Van den Bos, K.,Wilke, H.A.M., dan Lind, E.A. 1998. When do we need procedural fairness? The role of trust in authority. Journal of Personality and Social Psychology. 75. Hal : 1449-1458.

Varma, K. N., dan Doob, A. N. 1998. Deterring economic crimes: The case of tax evasion. Canadian Journal of Criminology. 40. Hal: 165-184.

Verboon, P. dan Dijke, M.V. 2007. A Self-Interest Analysis of Justice and Tax Compliance: How Distributive Justice Moderates the Effect of Outcome Favorability. Journal of Economic Psychology. Hal : 704 727.

Verboon, P. dan Goslinga, S. 2009. The Role Of Fairness In Tax Compliance.

Netherlands Journal of Psychology. 65. Hal : 136-145.

(34)

Wenzel, M. 2002. The Impact of Outcome Orientation and Justice Concerns on Tax Compliance: The Role of Taxpayers Identity. Journal of Applied Psychology. 87. Hal : 629-645.

Widodo, P. R. 2012. Pengaruh Persepsi Wajib Pajak Mengenai Petugas Pajak, Kepercayaan Wajib Pajak Dan Kepuasan Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Kasus Pada KPP Pratama Surabaya Simokerto) (skripsi). Jawa Timur : UPN Veteran.

Zeithaml, V.A., Bitner, M.J. dan Gremler, D.D. 2006. Service Marketing:

Integrating Customer Focus Across the Firm. 4th ed. Singapore: McGraw-Hill Companies,Inc.

Zeithaml, V. A. dan Bitner, M.J. 2003. Service Marketing. New York : McGraw Hill Inc, Int l Edition.

(35)

Lampiran 1

KUESIONER PENELITIAN

Dengan hormat,

Saya adalah mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar yang sedang mengadakan penelitian mengenai Pengaruh Keadilan Distributif dan Penegakan Sanksi pada Kepatuhan Wajib Pajak Hotel dan Pajak Restoran dengan Kepuasan Wajib Pajak sebagai Pemoderasi .

Nama : I Wayan Budhiarsana

NIM : 1391661041

Konsentrasi : Akuntansi Keuangan Sektor Publik

Pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner ini berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan. Kuesioner ini hanya semata-mata untuk kepentingan akademik dan kerahasiaanya dijamin. Mohon partisipasi dan kesediaan Bapak/ Ibu/ Saudara/ Saudari untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner ini dengan lengkap, jujur sesuai dengan kenyataannya.

Atas kerjasama dan partisipasinya, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya

Penulis

(36)

Lampiran 1 (Lanjutan) I. Identitas Responden

Mohon Bapak/ Ibu/ Saudara/ Saudari bersedia mengisi daftar isian berikut dengan cara memberikan jawaban yang sesuai.

No Responden : .. ..(diisi penulis)

Nama Wajib Pajak : ..

Alamat Wajib Pajak : ..

Kriteria Hotel/ Restoran : ..

(37)

Lampiran 1 (Lanjutan)

II. Kuesioner Pengaruh Keadilan Distributif dan Penegakan Sanksi pada Kepatuhan Wajib Pajak Hotel dan Pajak Restoran dengan Kepuasan Wajib Pajak sebagai Pemoderasi

Berikut ini adalah berbagai pernyataan mengenai variabel penelitian.

Mohon memberikan jawaban yang sebenarnya dengan memberikan tanda (√) pada angka yang tertera pada kolom yang sesuai dengan pendapat anda.

No Pernyataan Tanggapan

Keadilan Distributif Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju 1 Dibandingkan dengan pajak yang

saya bayar, saya terlalu sedikit menerima manfaat dari pemerintah.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 Sekelompok masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar dari sistem pajak, dibandingkan yang saya terima.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

3 Tidak adil jika beberapa orang yang membayar pajak lebih kecil dari saya, menerima manfaat yang lebih besar.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4 Saya terlalu banyak membayar pajak. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

5 Sistem pajak hotel dan restoran sudah adil.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

No Pernyataan Tanggapan

Penegakan Sanksi Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju 1 Saya merasa bahwa sudah

sepantasnya keterlambatan membayar pajak tidak diampuni dan harus dikenakan bunga.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 Denda sebesar 2% per bulan adalah wajar.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

3 Pelaksanaan sanksi denda terhadap Wajib Pajak yang lalai oleh petugas pajak tepat pada waktunya.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4 Sudah sepantasnya pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Daerah dikenakan kurungan maksimal 6 bulan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

(38)

Lampiran 1 (Lanjutan)

No Pernyataan Tanggapan

Kepuasan Wajib Pajak Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju 1 Saya merasa puas atas pelayanan

cepat pajak hotel dan pajak restoran (PHR) dari Dispenda.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 Saya merasa puas atas respon komplain terkait PHR.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

3 Saya merasa puas atas respon permintaan informasi terkait PHR.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4 Saya merasa puas atas layanan pembayaran PHR.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

No Pernyataan Tanggapan

Kepatuhan Wajib Pajak Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju 1 Saya memiliki keinginan membayar

pajak lebih kecil dari seharusnya yang ditentukan oleh peraturan pajak hotel dan restoran.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 Saya selalu menghitung pajak dengan jumlah yang benar.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

3 Saya selalu membayar pajak tepat pada waktunya.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4 Saya membentuk dana cadangan untuk pemeriksaan pajak.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

5 Saya mematuhi peraturan pajak hotel dan pajak restoran karena kemungkinan akan diperiksa pihak fiskus

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

6 Saya mematuhi peraturan pajak hotel dan pajak restoran karena

kemungkinan akan dikenai sanksi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

7 Saya selalu melaporkan pajak tepat pada waktunya

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

8 Saya tidak merasa bersalah ketika saya tidak menyerahkan surat

pemberitahuan Pajak daerah (SPTPD)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

9 Saya selalu mengisi formulir pajak dengan benar dan menyerahkannya tepat waktu

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

10 Menurut saya ketidakpatuhan pajak merupakan tindakan yang tidak melanggar prinsip hidup saya

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

(39)

Penelitian 1 Albari (2008)

Pengaruh Keadilan terhadap Kepuasan

dan Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan, Kepuasan, Keadilan

166 WP

perseorangan teknik convenience sampling

rata-rata hitung, analisis jalur dan analisis regresi

Penelitian ini berhasil membuktikan adanya pengaruh positif dan langsung maupun

tidak langsung dari keadilan terhadap kepatuhan melalui variabel antara 2 Dharmawan, F. (2012)

Pengaruh Keadilan Pajak Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi,Studi Pada KPP Pratama Malang Selatan

keadilan secara umum (general fairness), timbal balik yang diterima

pemerintah (exchanges with government), kepentingan pribadi (self interest), ketentuanketentuan yang diberlakukan secara khusus (special provisions), dan struktur tarif pajak (tax rate structures) terhadap kepatuhan Wajib Pajak

100 WP Orang Pribadi

teknik convenience sampling

Regresi Berganda Berdasarkan hasil analisis ditemukan bukti bahwa tingkat keadilan secara umum (general fairness), timbal balik yang diterima pemerintah (exchanges with government), kepentingan pribadi (self interest), ketentuan

diberlakukan secara khusus (speci

provisions), dan struktur tarif pajak (tax rate structures) secara simultan maupun

parsial berpengaruh signifikan terhadap perilaku kepatuhan Wajib Pajak Pribadi.

3 Dharmayanti, D. (2006).

Analisis Dampak Service Performance dan Kepuasan Sebagai Moderating Variable Terhadap Loyalitas Nasabah.

Service Performance, Kepuasan, Loyalitas Nasabah

275 Nasabah Moderation Regression Analysis

Service performance

loyalitas nasabah, kepuasan nasabah mampu memoderasi pengaruh performance

loyalitas nasabah.

78

(40)

Pajak.

5 Koentarto, I.

(2011).Analisis Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan masyarakat Dalam Melakukan Pembayaran Pajak Bumi Dan Bangunan.

Kepatuhan masyarakat membayar PBB,

WP PBB Analisis regresi

berganda

Hasil penelitian menunjukkan 1) faktor SPPT, sanksi, pelayanan pajak dan wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan.

berdasarkan regresi ganda menganalisis bahwa layanan pajak memiliki pengaruh dominan

lakukan Bangunan dan Bumi pembayaran pajak

6 Maryati, Eka. (2014).

Pengaruh Sanksi Pajak, Motivasi Dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Sanksi Pajak, Motivasi, Tingkat Pendidikan, dan Kepatuhan Wajib Pajak

100 wajib pajak orang pribadi di wilayahh Bintan.

Analisis regresi berganda

Secara parsial sanksi pajak tidak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak Secara parsi

pendidikan berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak

Semua variabel secara simultan berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak

7 Mustikasari, Elia (2007) Kajian Empiris Tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan di Perusahaan Industri Pengolahan di Surabaya.

Niat tax professional berperilaku tidak patuh, Ketidakpatuhan pajak badan, Sikap terhadap

ketidakpatuhan pajak, Norma subyektif, Kewajiban moral,

Kontrol keperilakuan yang dipersepsikan,

tax profesional Structural Equation Modeling (SEM)

Pengaruh:

1.Sikap tidak patuh pada niat tax profesional positif signifikan.

2.Norma subjektif pada niat tax profesional negative signifikan.

3. Kewajiban moral pada niat tax profesional negatif signifikan.

4.Kontrol keperilakuan yang dipersepsikan pada niat tax profesional positif signifikan.

79

(41)

8.Persepsi tentang fasilitas perusahaan pada ketidakpatuhan badan negative signifikan.

9.Persepsi tentang Iklim Organisas ketidakpatuhan badan negatif signifikan.

8 Novelia, K. R. (2009).

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Wajib Pajak (Suatu Studi untuk Pajak Kendaraan Bermotor di Satuan Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap Kota Depok).

Kualitas Pelayanan, Kepuasan Wajib Pajak

100 Pengguna layanan samsat Kota Depok

Importance- performance analysis dengan regresi.

Kualitas pelayanan berpengaruh pada kepuasan wajib pajak

9 Sanjaya, I.P.A.P. (2014).

Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral Dan Sanksi

Perpajakan Pada Kepatuhan Wajib Pajak Dalam

Membayar Pajak Hotel

Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral, Sanksi Perpajakan dan Kepatuhan Wajib Pajak

Staf accounting dan pajak yang bekerja di hotel

Analisis regresi berganda

kualitas pelayanan, kewajiban sanksi perpajakan berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak

10 Simamora, P. (2006).

Pengaruh Kepuasan Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak : Pada Kantor Pelayanan Pajak Bogor.

Kepuasan Wajib Pajak, Kepatuhan Wajib pajak

186 wajib pajak pengguna layanan kantor pelayanan pajak Bogor

Regresi berganda Kepuasan wajib pajak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak

80

(42)

Wajib Pajak (Studi Kasus Pada KPP Pratama Surabaya Simokerto).

pajak mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

12 Allingham, M. G. dan Sandmo, A. (1972)Income Tax Evasion: A Theoretical Analysis

Tax Evasion. Pegawai swasta Analisis teoritis Peluang tax evasion lebih besar terjadi pada pajak penghasilan.

dalam mengurangi tax evasion struktur tarif pajak, be

investigasi yang menentukan kemungkinan terdeteksi

13 Benk, Serkan et.al (2012) Tax Professionals Perceptions Of Tax Fairness: Survey Evidence In Turkey

Dimensi keadilan pajak WP Analisis faktor

dan analisis reliabilitas

keadilan umum,

pangsa pajak, dan beban pajak, pertukaran dengan pemerintah, struktur tarif pajak, ketentuan khusus, sistem pajak kesetaraan dan ketidaksetaraan. Sementara penelitian sebelumnya menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam persepsi k

negara-negara, penelitian ini hanya berfokus pada Negara Turki

14 Blumenthal, M., Christian, C. dan Slemrod, J. (2001).

Do Normative Appeals Affect Tax Compliance?

Evidence from a Controlled Experiment in Minnesota.

Pemberitahuan Normatif dan Kepatuhan Wajib Pajak

15.615 WP dengan letter1, 15.536 WP dengan letter2 dan 15.624 WP sebagai Control

Regresi Berganda dengan Dumy, menggunakan metode eksperimen

Pemberitahuan secara Normatif tidak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak

81

Referensi

Dokumen terkait

Terjadinya Kesurupan Faktor Internal : Stres, trauma, tubuh lemah, melamun, kebiasaan hidup yang salah, kepribadian, keyakinan Faktor Eksternal : Lokasi &amp; Waktu Pra

Akan tetapi dari sebelas faktor yang ada dan beserta dengan alasan-alasanya, ternyata juga muncul faktor yang terpenting atau faktor yang paling penting

Walaupun tidak terdapat hubungan yang signifikan antar gaji penyadap dengan tingkat kepuasan, hal ini diduga ada faktor lain yang mempengaruhi faktor kepuasan eksternal

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi eksternal dan motivasi internal terhadap kinerja karyawan unit commercial passenger marketing kantor pusat PT.

Apakah Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Perpajakan, Pemahaman Peraturan Perpajakan dan Akuntabilitas Pelayanan Publik memiliki pengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

- Berdasarkan kajian pustaka 5 jurnal yang dijadikan sebagai bahan kajian mendapat hasil bahwa sisa makanan yang disebabkan oleh faktor eksternal (warna makanan,

Besarnya pengaruh yang diberikan Penetapan Tarif Pajak dan Pemahaman Sanksi Pajak secara bersama-sama terhadap Tindakan Tax Evasion (Penggelapan Pajak) yang dilihat dari nilai

Penentuan lokasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama) merupakan salah satu faktor terpenting dalam memberikan kemudahan pelayanan kepada Wajib Pajak.Kantor Pelayanan