• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

6

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Entrepreneurship

• Menurut pendapat Rambat Lupiyoadi (Rambat Lupiyoadi, 2007, p1), entrepreneurship adalah sebuah fenomena penting bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia, bahkan menjadi pangkal dari pertumbuhan ekonomi.

• Sedangkan menurut Zimmerer dan Scarborough (2004, p2), entrepreneurship bermanfaat untuk berbagai peluang, yaitu peluang mengendalikan nasib sendiri, kesempatan melakukan perubahan, peluang menggunakan potensi seutuhnya, peluang untuk meraih keuntungan tanpa batas, peluang untuk berperan untuk masyarakat dan mendapatkan pengakuan atas usaha, dan peluang melakukan yang kita sukai.

• Sedangkan Andrias Harefa (www.pembelajar.com) mengutip pernyataan Anugerah Pekerti, mantan Direktur Utama Lembaga Manajemen PPM, yang mendefinisikan kewirausahaan sebagai tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif, dan inovatif.

2.1.1.1 Karakteristik Tingkah Laku Entrepreneur

Berdasarkan pendapat Rambat Lupioyadi (2007, pp7-10) dalam entrepreneurship

terdapat karakteristik tingkah laku yang sering ditemukan dalam penelitian-penelitian

terhadap entrepreneur :

(2)

1. Sifat Instrumental

Entrepreneur dalam berbagai situasi selalu memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk mencapai tujuan pribadi dalam berusaha. Hubungan interpersonal, kehadiran tokoh-tokoh masyarakat, maupun pakar dalam bidang tertentu . Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di lingkungannya dipandang sebagai alat instrument.

2. Sifat prestatif

Sifat prestatif sebagai karakteristik entrepreneur menunjukkan bahwa entrepreneur dalam segala situasi selalu tampil lebih baik, lebih efektif dibandingkan dengan hasil yang dicapai sebelumnya. Entrepreneur selalu membuat target yang lebih baik dan tinggi dari sebelumnya.

3. Sifat keluwesan bergaul

Sifat ini menunjukkan sifat yang selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi hubungan antar manusia. Selalu berusaha aktif bergaul, membina kenalan-kenalannya dan mencari kenalan baru serta berusaha untuk dapat terlibat dengan mereka yang ditemui dalam kegiatan sehari-hari.

Entrepreneur selalu menunjukkan wajah yang ramah, akomodatif terhadap berbagai ajakan untuk berdialog. Secara halus dapat menjadikan dirinya pusat perhatian dan merangsang orang lain untuk berdialog.

4. Sifat kerja keras

Sifat kerja keras menunjukkan bahwa entrepreneur selalu terlibat dalam situasi

kerja, tidak mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Entrepreneur

mengutamakan kerja dan mengisi waktu yang ada dengan perbuatan yang nyata

untuk mencapai tujuan. Keterlibatannya dalam kerja tidak semata-mata demi

hasil akhir, apakah itu kegagalan atau keberhasilan, tetapi yang lebih penting

(3)

dia tidak berpangku tangan saja dan lebih nyaman bila terlibat dalam pekerjaan nyata.

5. Sifat keyakinan diri

Sifat keyakinan diri sebagai karakteristik entrepreneur menunjukkan ia selalu percaya pada kemampuan diri, tidak ragu-ragu dalam bertindak, bahkan memiliki kecenderungan untuk melibatkan diri secara langsung dalam berbagai situasi.

Optimismenya menunjukkan keyakinan bahwa tindakannya akan membawa keberhasilan. Bersemangat tinggi dalam bekerja dan berusaha secara mandiri menemukan alternatif jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi.

6. Sifat pengambilan resiko

Sifat ini selalu memperhitungkan keberhasilan dan kegagalan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan berusaha. Entrepreneur akan mengambil langkah bila kemungkinan gagal tidak terlalu besar. Dengan keberanian mengambil resiko yang diperhitungkan, seorang entrepreneur tidak takut menghadapi situasi yang tidak menentu dimana tidak ada jaminan keberhasilan. Segala tindakannya diperhitungkan dengan cermat, selalu membuat antisipasi terhadap hambatan-hambatan yang dapat menyulitkan usahanya.

7. Sifat Swa Kendali

Sifat ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi berbagai situasi selalu mengacu pada kekuatan dan kelemahan pribadi, batas-batas kemampuan dalam berusaha.

Entrepreneur selalu menyadari benar bahwa melalui pengendalian diri maka

kegiatan-kegiatannya dapat lebih terarah pada pencapaian tujuan. Dengan

pengendalian diri menunjuk pada bahwa pribadi entrepreneur yang memutuskan

kapan harus bekerja lebih keras, kapan dia harus berhenti meminta bantuan dari

(4)

orang lain, dan kapan dia harus mengubah strategi dalam bekerja bila menghadapi hambatan.

8. Sifat Inovatif

Sifat inovatif menunjukkan bahwa entrepreneur selalu mendekati berbagai masalah dalam berusaha dengan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. Terbuka untuk gagasan, pandangan, dan penemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya. Tidak terpaku pada masa lalu, tetapi selalu berpandangan ke depan untuk mencari cara-cara yang biasa dilakukan orang lain untuk peningkatan kinerja. Cenderung untuk melakukan sesuatu dengan cara yang khas, unik dari hasil pemikirannya.

9. Sifat Kemandirian

Sifat mandiri menunjukkan entrepreneur selalu mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan merupakan konsekuensi pribadi entrepreneur. Ia mementingkan otonomi dalam bertindak, pengambilan keputusan dan pemilihan berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan.

Dia lebih senang bekerja sendiri, menentukan dan memilih cara kerja yang sesuai dengan dirinya. Keuntungan pada orang lain merupakan suatu yang bertentangan dengan kata hatinya. Ia dapat saja bekerja dalam kelompok selama mendapatkan kebebasan bertindak dalam pengambilan keputusan.

Entrepreneur lebih senang memegang kendali kelompok kerja, menentukan tujuan kelompok serta memilih alternatif strategi dalam mencapai tujuan.

Anggota kelompok yang lain dilihat sebagai sarana yang diperlukan untuk

mencapai tujuan.

(5)

2.1.1.2 5 p’s Entrepreneur dalam Entrepreneurship

1. Purposeful, menetapkan tujuan dan mencapainya.

2. Persuasive, dapat mempengaruhi orang lain untuk membantunya dalam mencapai tujuan.

3. Persistent, mencapai tujuan secara bertahap, walau kadang melewati masa sulit.

Kegagalan dan kekecewaan tidak dapat menghalangi usahanya.

4. Presumptuous, berani bertindak sesuai keinginannya di saat orang lain masih ragu.

Berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan dalam melakukan pendekatan yang inovatif.

5. Perceptive, mampu mengerti kaitan antara serangkaian pilihan dalam pencapaian tujuan.

2.1.2 Kepemimpinan ( Leadership )

2.1.2.1 Pengertian Kepemimpinan

• Menurut Zenger & Folkman (2004, pix-xi), keterampilan kepemimpinan sangat penting di

dalam suatu perusahaan atau organisasi sejenisnya. Jika kepemimpinan selalu

dikembangkan, maka merupakan salah satu kunci untuk sukses. Kepemimpinan

mempengaruhi kinerja setiap orang yang bekerja dengan kita. Dengan tanggung jawab

yang besar, pemimpin harus belajar tanpa henti. Para pemimpin besar tidak ditentukan

oleh tidak adanya kelemahan, tetapi lebih oleh adanya kekuatan nyata. Kunci untuk

mengembangkan kepemimpinan besar dan efektif adalah membangun kekuatan.

(6)

2.1.2.2 Visi Kepemimpinan

Menurut (A.B.Susanto, 2007, pp5-10), sebuah visi berisi pernyataan yang singkat dan jelas mengenai tujuan organisasi dan bagaimana mencapainya pada suatu titik waktu di masa depan, sering dinyatakan dalam kata-kata atau istilah yang bersifat kompetitif. Visi adalah sebuah gambaran mengenai tujuan dan cita-cita di masa depan yang harus dimiliki organisasi sebelum disusun rencana bagaimana mencapainya. Visi tidak menerangkan secara spesifik mengenai cara-cara yang digunakan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Seorang pemimpin harus mengkomunikasikan angan-angan dan mimpinya yang dapat membangkitkan harapan, menyulut semangat agar beranjak dari situasi masa kini, yang kadangkala pahit dan getir. Seorang pemimpin harus menyampaikan sebuah visi yang membuka jendela masa depan.

Kepemimpinan yang memberikan semangat yang secara konsisten mengartikulasi visi, didukung oleh orang-orang seperti contohnya para karyawan yang bekerja dengannya, memotivasi orang-orang tersebut untuk dapat mencapai tujuan perusahaan.

Elemen-elemen dalam Visi :

ƒ Direction

Direction jika diterjemahkan memiliki pengertian yaitu arahan.

Hubungannya dengan visi dan pimpinan adalah, arah dari pimpinan membawa perusahaan.

ƒ Business competition

Business competition adalah kompetisi dalam bisnis yang mempengaruhi terealisasinya sebuah visi.

ƒ Resource utilization

(7)

Resource utilization adalah bagaimana seorang pimpinan mempertimbangkan sumber daya yang dimilikinya. Jadi dengan pertimbangan akan sumber daya, maka seorang pimpinan dapat menentukan hal-hal yang dibutuhkannya dalam melaksanakan visi.

ƒ Benefactor

Benefactor adalah pertimbangan dari pimpinan dalam melihat pihak mana yang diuntungkan, contohnya anggota organisasi dan stakeholders.

Manfaat dari visi yang jelas :

ƒ Pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi lingkungan di masa depan dimana perusahaan akan beroperasi.

ƒ Pemahaman yang lebih baik mengenai seperti apa seharusnya organisasi di masa depan dan meraih kesuksesan dalam lingkungan yang ada.

ƒ Tujuan dan mimpi bersama yang berfungsi sebagai alat untuk membangun kerjasama tim dan memecahkan konflik.

ƒ Fokus yang lebih jelas pada hal-hal yang dianggap penting. Ini dapat menghindarkan perusahaan dari menghabiskan waktu yang berharga karena melakukan terlalu banyak hal.

ƒ Sebuah visi yang komprehensif akan membantu organisasi

menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Selain dalam hal

pengambilan keputusan, visi juga dapat membantu membentuk,

mengarahkan dan mengkoordinasikan perilaku para anggota

organisasi atau perusahaan.

(8)

ƒ Visi dapat menjadi alat untuk mengukur kemajuan dan efektivitas bagi individu dan organisasi. Bagi individu, visi membantu membedakan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Bagi organisasi, visi memberikan kerangka kerja yang logis dimana setiap divisi atau pihak (contohnya para stakeholders) dapat menentukan sasaran.

2.1.2.3 Misi Kepemimpinan

Menurut (A.B.Susanto, 2007, pp71-76), pernyataan misi yang baik harus secara akurat menjelaskan mengapa organisasi perlu ada dan apa yang diharapkan di masa depan. Pernyataan misi mengartikulasikan sifat-sifat utama, nilai-nilai dan aktivitas perusahaan. Pernyataan juga harus mampu menumbuhkan keyakinan bagi para anggota organisasi, serta mampu pula mengekspresikan tujuan organisasi dengan cara yang dapat memberi inspirasi, komitmen, inovasi, dan keberanian.

Tujuan pernyataan misi :

ƒ Memastikan adanya kesamaan tujuan dalam organisasi.

ƒ Sebagai dasar untuk memotivasi pemanfaatan sumber daya perusahaan.

ƒ Sebagai dasar atau standar bagi pengalokasian sumber daya organisasi.

ƒ Untuk membangun sebuah iklim bagi organisasi, misalnya untuk menentukan jenis operasi bisnis.

ƒ Sebagai titik fokal untuk menentukan siapa saja yang dapat

mengidentifikasikan tujuan dan arah organisasi dan siapa saja yang

tidak boleh melakukannya.

(9)

ƒ Sebagai fasilitas untuk menerjemahkan tujuan dan arah organisasi ke dalam struktur kerja yang melibatkan perlimpahan tugas dan tanggung jawab kepada elemen-elemen yang ada dalam organisasi.

ƒ Untuk menjelaskan secara spesifik tujuan dari organisasi dan penerjemahan tujuan tersebut ke dalam sasaran dalam sebuah cara dimana biaya, waktu, dan parameter kinerja dapat dinilai dan dikendalikan.

Proses pendefinisian misi perusahaan bagi sebuah bisnis yang berhubungan dengan kepemimpinan mencakup keyakinan entrepreneur sebagai berikut :

ƒ Produk dan jasa yang dihasilkan harus memberi manfaat, paling tidak seimbang dengan harganya.

ƒ Produk dan jasa yang dihasilkan harus mampu memberikan kepuasan pelanggan pada segmen pasar tertentu yang sampai saat ini masih kurang terpenuhi.

ƒ Teknologi yang digunakan dalam proses produksi harus menghasilkan produk berkualitas yang dapat bersaing di pasaran dengan biaya yang efisien.

ƒ Dengan kerja keras dan juga dukungan dari pihak lain, bisnis yang ada bukan hanya harus mampu bertahan, namun juga harus mampu bertumbuh dan menghasilkan keuntungan.

ƒ Filosofi manajemen mengenai bisnis yang dijalankan akan

menghasilkan gambaran publik (public image) yang baik dan

menguntungkan dan akan menghasilkan reward financial dan

psikologis bagi mereka yang bersedia menginvestasikan tenaga kerja

dan uang untuk membantu kesuksesan usaha.

(10)

ƒ Self concept yang dimiliki oleh para pendiri mengenai bisnis yang dijalankannya dapat dikomunikasikan dan diadaptasi oleh karyawan dan stakeholders.

2.1.3 Entrepreneurial Leadersip

2.1.3.1 Pemahaman Entrepreneurial Leadership

Entrepreneur yang memiliki visi dan misi dan melihat suatu peluang dalam

pasar, pada akhirnya dengan segala resiko yang telah diperhitungkan, memulai

suatu bisnis usahanya sendiri. Entrepreneurial berasal dari kegiatan

entrepreneurship, dimana kegiatan suatu usaha atau bisnis dimulai dari seorang

entrepreneur. Kepemimpinan berusaha untuk mempengaruhi manusia dalam

organisasi, maka entrepreneurial merupakan keberanian bertindak untuk

menetapkan pemikiran dalam bentuk konkrit yang dapat memberikan manfaat bagi

semua pihak yang berkepentingan yaitu stakeholders. Diperlukan keberanian untuk

melakukan hal-hal baru atau untuk melakukan sesuatu dengan cara-cara yang

berbeda. Kepemimpinan lebih fokus kepada pengembangan manusia dalam

organisasi, sedangkan entrepreneurship fokus kepada pengembangan produk atau

jasa yang kreatif dan inovatif. Sehingga untuk menunjang kelangsungan suatu usaha

dapat tercipta entrepreneurial leadership. Jadi, dengan pendekatan entrepreneurial

leadership, sebuah organisasi, terutama organisasi bisnis, harus memperhatikan

sumber daya manusia di dalam perusahaannya. Bahwa organisasi yang dikendalikan

oleh entrepreneurial leader akan menjadi organisasi bisnis yang mampu bertahan

dalam jangka panjang, karena kepedulian mereka terhadap masalah-masalah sosial-

ekonomi dan lingkungan hidup di sekitarnya. Dalam bukunya, (J.Winardi, 2008, p99)

(11)

menulis bahwa menurut Stevenson dan Gumpert, kultur entrepreneurial adalah kultur korporat yang memusatkan perhatian pada munculnya peluang-peluang baru, alat-alat untuk mengkapitalisasinya, dan pembentukan struktur yang tepat untuk melaksanakan upaya-upaya tersebut.

2.1.3.2. Pengertian Entrepreneurial Leadership

• Entrepreneurial leadership menurut Esiri (2002, p182), adalah kepemimpinan yang memimpin secara inovatif, terlibat penuh dalam bekerja, mampu melihat peluang dan memanfaatkannya menurut cara dan metodenya sendiri. Jadi, entrepreneurial leadership bukanlah kepemimpinan yang rumit, namun jelas timbul jika seseorang juga memiliki jiwa atau pemikiran entrepreneur. Maka fokus kepemimpinan seperti ini, cenderung terletak pada pemimpin perusahaan.

• Entrepreneurial leadership menurut Corbin (2007, p61) adalah gaya kepemimpinan yang mampu mendelegasikan, mampu membangun karyawan-karyawan berperilaku bertanggungjawab, mampu membuat dan menetapkan keputusan, dan bekerja secara independen. Dari pengertian ini, terlihat bahwa kepemimpinan terdapat pada orang-orang yang memiliki pengaruh positif kepada orang lain yang bekerjasama dengannya dan turut terlibat penuh dalam pekerjaan yang telah ia tetapkan dan keputusan yang dia ambil.

• Berdasarkan pendapat Andrias Harefa (www.pembelajar.com), entrepreneurial leadership timbul dari pergeseran harapan terhadap peran manajer dalam organisasi, baik organisasi bisnis maupun organisasi pemerintahan (terutama BUMN dan BHMN).

Mereka yang menduduki posisi manajerial tidak lagi diharapkan sekadar menjalankan

fungsi-fungsi manajemen, karena itu saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan

(12)

organisasi di tengah arus perubahan yang semakin cepat. Mereka juga diharapkan memainkan peranan sebagai entrepreneur dalam skala dan intensitas tertentu. Meski pernah memikirkan kemungkinan matinya ilmu manajemen, namun belakangan ini manajemen (dalam arti birokrasi, aturan dan prosedur) tetap akan diperlukan dalam batas-batas tertentu. Manajemen itu ibarat tubuh manusia yang melaksanakan berbagai aktivitas sesuai dengan arahan akal sehat dan hati nuraninya. Tubuh penting, namun bukan yang terpenting. Kegagalan paradigma manajemen terletak pada dominasinya terhadap hal-hal yang tidak bisa dimanajemeni, yakni spirit manusia.

2.1.3.3 Elemen dalam Entrepreneurial Leadership

Menurut (J.Winardi, 2008, pp17-18), terdapat sejumlah elemen dari profil entrepreneurial, yaitu :

1. Tanggungjawab

Para entrepreneur memiliki tanggung jawab mendalam terhadap hasil usaha yang dibentuk mereka. Mereka sangat berkeinginan untuk mampu mengendalikan sumber-sumber daya mereka sendiri, dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan- tujuan yang ditetapkan mereka.

2. Preferensi untuk menghadapi risiko moderat

Entrepreneur merupakan pihak yang berani menerima resiko, namun resiko yang telah diperhitungkan secara matang (calculated risk takers). Orang lain mungkin beranggapan bahwa tujuan mereka terlalu tinggi, namun entrepreneur yakin bahwa tujuan-tujuan yang ingin dicapai mereka bersifat realistik.

3. Keyakinan dalam kemampuan mereka untuk meraih keberhasilan

(13)

Sikap ini adalah sifat yang optimistik, sehubungan dengan kemungkinan- kemungkinan mereka mencapai kesuksesan.

4. Keinginan untuk mencapai umpan balik

Para entrepreneur menikmati tantangan-tantangan sehubungan dengan upaya mengelola suatu bisnis, dan mereka ingin mengetahui bagaimana hasil yang dicapai mereka, dan secara konstan mencari informasi (umpan balik).

5. Energi tingkat tinggi

Entrepreneur bekerja lebih lama dan dengan energi yang tinggi, mereka juga bekerja dengan keras.

6. Orientasi ke depan

Para entrepreneur memilii naluri yang kuat untuk mencari serta menemukan peluang-peluang. Mereka melihat ke depan, dan mereka melihat potensi-potensi, dimana orang lain belum memperhatikan.

7. Toleransi terhadap ambiguitas

Para entrepreneur pada tingkat tertentu harus mengambil keputusan dalam kondisi baik mendapat informasi yang jelas ataupun tidak jelas. Entrepreneur juga menghadapi resiko dalam kaitan dengan usaha mencari nafkah. Keputusan entrepreneur mempengaruhi seluruh pihak yang bekerja dengannya, sehingga dalam waktu singkat keputusan harus diambil oleh seorang pimpinan perusahaan.

2.1.3.4. Dimensi Entrepreneurial Leadership

Dalam bukunya (J.Winardi, 2008, pp193-196) menyebutkan bahwa terdapat 5 dimensi di dalam perusahaan yang dijalankan dengan entrepreneurial leadership, yaitu :

1. Orientasi strategi yang didorong persepsi peluang

(14)

Seorang entrepreneur tergantung kepada persepsinya tentang peluang yang ada.

Entrepreneur menggunakan sistem-sistem perencanaan dan pengukuran kinerja guna mengendalikan sumber-sumber daya yang ada.

2. Komitmen terhadap peluang-peluang

Entrepreneur dengan jelas bersedia menerima resiko dari keputusun dan peluang- peluang yang diambilnya. Dan entrepreneur dengan teliti dan dalam jangka waktu singkat mampu melihat suatu peluang dan memanfaatkannya.

3. Komitmen sumber-sumber daya

Seorang entrepreneur terbiasa dengan kondisi di mana ia menyalurkan sumber- sumber daya dan memantaunya secara periodik.

4. Pengendalian sumber-sumber daya

Entrepreneur yang menyediakan sumber-sumber daya bagi perusahaan, juga ikut mengendalikan. Mereka disiplin dalam aturan mengendalikan sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan, sehingga bersikap kurang fleksibel, namun bukan pula memaksa. Terhadap pihak-pihak yang bekerja dengannya dalam perusahaan, seorang entrepreneur yang memimpin secara entrepreneurial akan senantiasa memberikan ide-ide kepada mereka. Ikut membantu mereka saat mengalami kesulitan dalam mencari suatu metode atau cara terbaik yang dapat ditempuh dalam perusahaan.

5. Visi yang realistik

Entrepreneur memang bersedia mengambil resiko yang telah diperhitungkan, hal ini

dikarenakan mereka memiliki visi yang realistik yang sudah mereka rencanakan akan

metode dalam pencapaian tujuan. Visi tersebut pun direalisasikan dengan

mendukung penuh orang-orang dalam perusahaannya.

(15)

2.1.4 Intervensi Retensi Karyawan

2.1.4.1 Pemahaman Intervensi Retensi Karyawan

Intervensi Retensi Karyawan merupakan usaha yang dilakukan suatu perusahaan untuk mengatur perputaran karyawannya. Intervensi dilakukan demi melindungi salah satu sumber daya yang penting di dalam perusahaan, dengan meminimalkan karyawan yang keluar dan masuk perusahaan, maka diharapkan karyawan dapat memberikan sumbangan berupa kinerja yang lebih ditingkatkan.

Perusahaan berusaha memberikan kondisi di mana harapan karyawan saat memasuki dan bekerja di perusahaan dapat tercapai.

Menurut Mathis (2006, pp141-143), beberapa langkah intervensi retensi karyawan oleh perusahaan adalah :

1. Kegiatan perekrutan

Rekrutmen adalah suatu proses untuk mencari calon atau kandidat pegawai, karyawan, buruh, manajer, atau tenaga kerja baru untuk memenuhi kebutuhan sdm oraganisasi atau perusahaan. Dalam tahapan ini diperluka analisis jabatan yang ada untuk membuat deskripsi pekerjaan atau job description dan juga spesifikasi pekerjaan atau job specification.

Pada saat perusahaan akan merekrut tenaga kerja, maka dari awal, pekerjaan harus diuraikan dengan jelas. Perekrutan didasari kepada GAT yaitu General Apitude Test yang kegiatannya adalah tes yang umum saat rekrutmen yaitu draft pertanyaan yang diisi pelamar, yang menyangkut perilakunya atau tes secara psikologis. Contohnya : etika kerja pelamar kerja, bagaimana visi yang dianutnya, bagaimana budaya kerja yang biasa dijalankan, dan sebagainya

2. Seleksi

(16)

Proses seleksi dilakukan agar dapat menyesuaikan para pelamar dengan pekerjaan dengan lebih baik. Sehingga jika karyawan berada di posisi yang tepat, maka diharapkan agar karyawan tersebut dapat bekerja dengan lebih baik.

Seleksi dilakukan dengan melakukan tes akademis. Tes kemampuan sesuai dengan posisi yang dilamar oleh pelamar kerja. Contohnya, bila posisinya yang berhubungan dengan sistem informasi komputer, maka tes yang diberikan juga yang menyangkut sistem informasi komputer.

3. Pelatihan

Hal ini untuk meningkatkan kinerja karyawan dengan memberi mereka orientasi dan praktek metode bekerja yang diterapkan perusahaan agar dapat bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan pegawai baru :

a. Magang / Apprenticeship Training

Magang adalah suatu pembekalan pegawa baru dengan cara belajar langsung dengan senior dan diawasi oleh para pakar atau ahlinya. Untuk mendapatkan skill yang sama dengan masternya dibutuhkan waktu yang relatif cukup lama.

b. Learning By Doing / On The Job Training (Bekerja Sambil Belajar)

On the job training adalah suatu bentuk pembekalan yang dapat mempercepat

proses pemindahan pengetahuan dan pengalaman kerja / transfer knowledge

dan para karyawan senior ke junior. Pelatihan ini langsung menerjunkan pegawai

baru bekerja sesuai dengan job description masing-masing di bawah supervisi

atau karyawan senior.

(17)

c. Vestibule Training

Vestibule training adalah memberikan pelatihan semacam kursus yang dijalankan di luar lingkungan kerja. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan pada kursus tersebut tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang nantinya akan digeluti oleh para peserta.

4. Kompensasi

Hal ini penting diperhatikan oleh perusahaan, karena sistem gaji yang kompetitif, adil, dan pantas dapat mengurangi perputaran karyawan, dengan begitu, karyawan berada dalam jangka waktu yang panjang dalam perusahaan, yang membuat kinerja mereka semakin meningkat.

Kompensasi yang baik akan memberi beberapa efek positif pada organisasi / perusahaan sebagai berikut di bawah ini :

a. Mendapatkan karyawan berkualitas baik

b. Memacu pekerja untuk bekerja lebih giat dan meraih prestasi gemilang c. Memikat pelamar kerja berkualitas dari lowongan kerja yang ada

d. Mudah dalam pelaksanaan dalam administrasi maupun aspek hukumnya e. Memiliki keunggulan lebih dari pesaing / kompetitor

5. Pengembangan karier

Karyawan juga melihat keuntungan yang mereka dapat selain kompensasi, yaitu

berkembang tidaknya mereka dalam perusahaan. Karyawan secara umun selalu

melihat peluang untuk kemajuan pengembangan karier.

(18)

6. Hubungan karyawan

Dalam hal ini yang diperhatikan adalah perlakuan adil atau diskriminatif dan pelaksanaan kebijakan perusahaan.

2.1.4.2 Retensi Karyawan

Baik para pemberi kerja maupun karyawan telah mengetahui bahwa beberapa

bidang umum memengaruhi retensi karyawan. Apabila komponen organisasional tertentu diberikan, faktor-faktor yang lain mungkin mempengaruhi retensi karyawan. Menurut Mathis (2006, pp128-136), faktor–faktor lain tersebut adalah :

1. Komponen Organisasional

Organisasi yang memiliki budaya dan nilai yang positif dan berbeda mengalami perputaran karyawan yang lebih rendah. Beberapa komponen organisasional yang dapat mempengaruhi retensi karyawan adalah :

a. Nilai dan budaya

Budaya organisasional adalah pola nilai dan keyakinan bersama yang memberikan arti dan peraturan perilaku bagi anggota organisasional. Menciptakan budaya yang menghargai orang memungkinkan beberapa perusahaan untuk menarik dan memelihara karyawan dengan baik. Nilai organisasional utama yang mempengaruhi keinginan karyawan untuk bertahan adalah kepercayaan.

b. Strategi dan Peluang

Komponen organisasional lain yang mempengaruhi retensi karyawan berhubungan

dengan strategi, peluang dan manajemen organisasi tersebut. Faktor yang

mempengaruhi bagaimana karyawan memandang organisasi mereka adalah kualitas

perencanaan masa depan dari kepemimpinan di dalam perusahaan. Sering kali visi

(19)

seperti itu ditunjukkan dengan memiliki rencana strategis yang diidentifikasi yang menuntun perusahaan pada perubahan.

2. Peluang Karier Organisasional

Organisasi menyampaikan peluang dan pengembangan karier dalam berbagai

cara. Usaha pengembangan karier organisasional dirancang untuk memenuhi harapan para karyawan bahwa para pemberi kerja mereka berkomitmen untuk mempertahankan pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuannya saat ini.

3. Penghargaan dan Retensi Karyawan

Penghargaan nyata yang diterima karyawan karena bekerja datang dalam

bentuk gaji, insentif, dan tunjangan. Gaji dan tunjangan harus kompetitif dan sesuai dengan kinerja karyawan. Kenyataannya, uang mungkin merupakan alasan beberapa karyawan pindah kerja, tetapi faktor-faktor yang lain merupakan alasan banyak orang untuk bertahan di perusahaan mereka. Para pemberi kerja juga mempelajari bahwa memiliki lebih sedikit fleksibilitas tunjangan membantu retensi karyawan.

Pengakuan karyawan sebagai bentuk penghargaan dapat nyata atau tidak nyata.

Nyata adalah seperti pemilihan karyawan terbaik setiap bulan, karyawan dengan absensi terbaik, dan lain-lain. Tidak nyata adalah memberi umpan balik yang positif seperti pujian bila karyawan bekerja sesuai dengan harapan perusahaan.

4. Rancangan Tugas dan Pekerjaan

Faktor mendasar yang mempengaruhi retensi karyawan adalah sifat dari

tugas dan pekerjaan yang dilakukan. Karena karyawan menghabiskan waktu yang

signifikan di tempat kerja, mereka berharap untuk bekerja dengan peralatan dan

teknologi modern serta memiliki kondisi kerja yang baik, mengingat sifat pekerjaan

tersebut. Karyawan juga menginginkan lingkungan kerja yang aman dimana resiko

kecelakaan dan luka diperhatikan. Hal ini khususnya benar bagi para pemberi kerja

(20)

dalam industri manufaktur, pertanian, peralatan sehari-hari, dan transportasi yang memiliki risiko keselamatan yang lebih tinggi daripada dalam banyak industri jasa dan lingkungan kantor.

5. Hubungan Karyawan

Kumpulan terakhir yang mempengaruhi retensi karyawan didasarkan pada

hubungan karyawan dalam organisasi. Bidang-bidang seperti kelayakan dari kebijakan sdm, keadilan dari tindakan disipliner, dan cara yang digunakan untuk memutuskan pemberian kerja dan peluang kerja, semuanya mempengaruhi retensi karyawan.

2.1.4.3 Tindakan intervensi pimpinan dalam mempertinggi retensi karyawan

Menurut Menurut Mathis (2006, p142), beberapa tindakan yang dapat dilakukan pemimpin untuk mempertinggi retensi karyawan:

1. Clarify expectations

Beri karyawan pemahaman yang jelas atas pekerjaan mereka, dan apa standar- standar yang mereka harapkan untuk mencapai baik "percepatan waktu dan penghindaran konflik. Sedikit konflik berarti bekerja dengan lebih bahagia, sehingga karyawan akan cenderung kerasan di perusahaan.

2. Know your workers

Pelajari hobi-hobi dan minat-minat karyawan, dan terutama tujuan-tujuan jangka panjang mereka. Hal itu akan membantu Anda memahami kebutuhan mereka, sekaligus memperlihatkan bahwa Anda peduli.

3. Give feedback

Selalu komentari apa yang sedang dikerjakan oleh karyawan. Tanamkan bahwa

mencintai pekerjaan itu penting, tapi juga tak kalah penting untuk memastikan

(21)

bahwa pekerjaan juga mencintai kita.

4. Create a team culture

Ciptakan budaya kerja sama di mana semua anggota tim mendukung satu sama lain.

5. Educate and train

Karyawan yang melihat bahwa pimpinan sedang melakukan investasi pada diri mereka, akan merasa lebih dihargai dan diapresiasi.

6. Offer incentives and rewards

Berbagai bentuk insentif dan reward bisa menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan dan penuh tanggung jawab, serta memperlihatkan kepekaan apresiasi yang lebih besar.

7. Empower employees

Biarkan karyawan mengambil keputusan sebanyak mungkin. Pemberdayaan merupakan sinyal yang akan dibaca oleh karyawan bahwa Anda percaya kepada mereka.

8. Evaluate regularly

Mulai dengan pujian, lalu diskusikan tantangan-tantangannya dan bergabunglah

untuk mengembangkan rencana untuk membantu mereka. Kemudian tutup dengan

catatan yang positif.

(22)

2.1.5 Manajemen Kinerja

2.1.5.1 Pengertian Manajemen Kinerja

• Menurut pendapat Barry Cushway (2002, p87) definisi manajemen kinerja adalah : suatu proses manajemen yang dirancang untuk menghubungkan tujuan organisasi dengan tujuan individu sedemikian rupa, sehingga baik tujuan individu maupun tujuan korporasi dapat bertemu. Ada asumsi yang perlu digarisbawahi, yaitu jika sesorang merasa puas karena tujuannya tercapai dan pada saat yang bersamaan ikut serta dalam pencapaian organisasi, maka dia akan benar-benar termotivasi dan akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar. Asumsi ini juga merupakan inti dari manajemen sumber daya manusia (MSDM).

• Manajemen kinerja yang dikutip oleh Payaman (2005,p1) adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut.

2.1.5.2 Proses Manajemen Kinerja

Berdasarkan pendapat Cushway (2002, p89-107) ada 4 langkah pokok dalam pengenalan terhadap proses manajemen kinerja yang luas:

1. Merencanakan kinerja

Harus ada komitmen yang kuat dari atasan dalam memperkenalkan proses ini, karena tanpa adanya komitmen ini akan sulit untuk mendapatkan bantuan dari eselon yang lebih rendah, dan sumber yang tersedia untuk mencapai hasil akan tidak mencukupi.

Tahap berikutnya dalam merancang proses manajemen kinerja adalah menetapkan

tujuan. Tujuan ini dikembangkan dari arah dan strategi organisasi secara

(23)

keseluruhan dan dari pernyataan yang mengandung maksud dan tujuan organisasi yang akan diproses secara bertahap – mengalir kebawah sampai dalam bentuk target individual. Hal ini dikenal dengan nama pendekatan dari atas ke bawah.

Alternatifnya adalah pendekatan dari bawah ke atas. Seperti namanya, maka prioritas dan target yang ditentukan oleh organisasi yang lebih rendah. Dalam beberapa hal sepertinya tidak logis, karena bertentangan dengan teori, yaitu keberadaan suatu pekerjaan adalah untuk maksud tersebut ditentukan oleh manajemen organisasi.

Jika pertimbangan diberikan untuk penentuan target individual, maka harus diingat bahwa individu-individu tersebut mempunyai tujuan yang tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan saja. Sebenarnya prioritas mereka pada hal-hal seperti prospek ada tidaknya promosi, upah, jati diri, cuti, gaya hidup, hubungannya dengan rekan sekerja dan atasan.

2. Mengelola Kinerja

Bila tujuan kinerja sudah ditetapkan dan rencana tindakan telah disetujui, langkah berikutnya dalam proses manajemen kinerja adalah memastikan bahwa rencana tersebut dilaksanakan dan hasil yang ditentukan dapat tercapai.

3. Meninjau Kinerja

Peninjauan kinerja merupakan bagian dari proses pengaturan kinerja. Namun,

dengan melihat pertimbangan khusus yang dapat diterapkan pada aspek proses,

maka akan lebih enak untuk memeriksanya sebagai bagian yang terpisah. Penilaian

kinerja, bila ada, biasanya terjadi pada saat wawancara yang diadakan sekali atau

dua kali dalam setahun antara pejabat dengan atasannya. Kadang-kadang hasil

wawancara ini berpengaruh langsung pada upah dan promosi, sedang dalam kasus

lain penekanan ada pada pelatihan dan pengembangan. Bagian yang penting dalam

(24)

penilaian kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan. Biasanya menilai hasil akhir lebih mudah daripada menilai kualitas hasil akhir tersebut, tetapi ini dapat saja jauh dari keterusterangan, walaupun pengukurannya sudah tampak jelas.

4. Imbalan Kinerja

Imbalan kinerja merupakan bagian dari proses manajemen kinerja yang mencoba memberikan kepada pegawai semacam imbalan atas pencapaian target mereka. Ini lebih luas dari sekedar imbalan dalam bentuk finansial dan meliputi hal-hal seperti pujian, kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan, dan promosi. Seringkali apa yang dicari oleh pekerja adalah pengakuan bahwa dia telah melakukan kerja yang bagus, misalnya, diungkapkan dalam bentuk bonus; acap kali pengakuanlah yang lebih penting daripada uang kontan. Hanya saja, ketika uang menjadi ukuran, maka imbalan kinerja menjadi sangat pelik, dan penekanan di sini tentu saja terletak pada aspek finansial. Orang sering melihat manajemen kinerja hanya dari sudut pembayaran sesuai dengan kinerja (performance related pay = PRP). Bila ada tekanan bisnis untuk meningkatkan kinerja, reaksi manajer yang paling umum adalah membayar sesuai hasil, meskipun mungkin saja organisasi tidak memiliki sistem manajemen kinerja yang luas.

2.1.5.3 Pembinaan Kinerja

Peningkatan kinerja dapat dilakukan antara lain dengan:

• Mendorong pekerja memahami uraian tugas dan uraian jabatannya, serta memahami tanggung jawabnya

• Mendorong pekerja memahami sasaran yang harus dicapai

(25)

• Membantu pekerja memahami bagaimana melakukan pekerjaan dengan menggunakan alat-alat kerja yang sesuai

• Memberdayakan pekerjaan melalui bimbingan, penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, rotasi penugasan, dan lain-lain.

• Menumbuhkan motivasi dan etos kerja

• Menciptakan iklim kerja yang kondusif

2.1.6. Kinerja Karyawan

Menurut Mathis (2006, pp113-114), kinerja para karyawan individual adalah faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi. Selain karyawan dapat menjadi keunggulan bersaing, mereka juga dapat menjadi liabilitas atau penghambat. Ketika karyawan terus menerus meninggalkan perusahaan dan ketika karyawan bekerja namun tidak efektif, maka sumber daya menempatkan organisasi dalam keaadaan merugi. Kinerja individu, motivasi, dan retensi karyawan merupakan faktor utama bagi organisasi untuk memaksimalkan efektivitas sumber daya manusia. Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi bagaimana karyawan bekerja, yaitu :

1. Kemampuan individual

Kemampuan individual karyawan ini mencakup bakat, minat dan faktor kepribadian.

Tingkat keterampilan, merupakan bahan mentah yang dimiliki seorang

karyawan berupa pengetahuan, pemahaman, kemampuan, kecakapan

interpersonal, dan kecakapan teknis. Dengan demikian, kemungkinan seorang

karyawan akan mempunyai kinerja yang baik, jika karyawan tersebut memiliki

tingkat keterampilan yang cukup maka akan menghasilkan kinerja yang baik.

(26)

2. Usaha yang dicurahkan

Usaha dari karyawan bagi perusahaan adalah etika kerja, kehadiran, dan motivasinya.

Tingkat upaya, merupakan gambaran motivasi yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Dari itu, kalaupun karyawan mempunyai tingkat keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan, akan tetapi tidak akan bekerja dengan baik jika hanya sedikit upaya. Hal ini berkaitan dengan perbedaan antara tingkat keterampilan dengan tingkat upaya. Tingkat keterampilan merupakan cermin dari apa yang dilakukan, sedangkan tingkat upaya merupakan cermin apa yang akan dilakukan.

3. Dukungan organisasional

Dalam dukungan organisasional, perusahaan yang menyediakan fasilitas bagi

karyawan berupa pelatihan dan pengembangan, peralatan dan teknologi, dan manajemen.

Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. Kinerja karyawan adalah apa yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada orang.

2.1.7 Korelasi Entrepreneurial Leadership dengan Kinerja Karyawan Korelasi Peranan Kepemimpinan terhadap Peningkatan Kinerja

Beberapa hasil penelitian di bawah ini, yang ditulis oleh John

westernan & Pauline Donoghue (2003,pp56-59), memperlihatkan pengaruh

atau hubungan antara pola kepemimpinan terhadap peningkatan kinerja

organisasi/ perusahaan:

(27)

1. Hasil penelitian Litwin dan Stringer menyimpulkan pola kepemimpinan yang otoriter, di mana pengambilan keputusan dilakukan secara terpusat (sentralisasi) dan perilaku pekerja diatur melalui prosedur yang baku, bukan hanya mengakibatkan rendahnya kinerja dan kreativitas bahkan tidak tercapainya sikap positif terhadap kelompok kerja. Sedangkan pola kepemimpinan yang afiliatif, di mana terdapat hubungan interpersonal yang baik di antara para pekerja dan pimpinan, menghasilkan tingkat kepuasan kerja yang tinggi dan tumbuhnya sikap positif terhadap kelompok kerja, walaupun kinerja mereka sedang-sedang saja.

2. Hasil penelitian Frederickson memperlihatkan bahwa pola kepemimpinan yang mampu menumbuhkan komunikasi terbuka, sikap saling mendukung di antara pekerja dan pimpinan, pengambilan keputusan yang tidak terpusat (desentralisasi), pada umumnya akan meningkatkan kinerja, menurunkan biaya produksi, dan mempersingkat waktu pekerjaan.

3. Hasil penelitian Litwin memperlihatkan bahwa pola kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi pekerja. Ia menyatakan, bahwa pola kepemimpinan tertentu mampu membentuk harapan-harapan dalam diri pekerja dan memperkuat motivasi mereka, sedangkan pola kepemimpinan lainnya justru dapat menghambat tumbuhnya motivasi untuk berprestasi.

Litwin juga menggambarkan hubungan antara pola kepemimpinan dengan

motivasi berdasarkan pengaruh masing-masing dimensinya terhadap

kebutihan akan berprestasi (Need for Achievement / n-Ach), kebutuhan

akan kekuasaan (Need for Power/ n-Pow), dan kebutuhan akan afiliasi

(Need for Affiliation / n-Aff). Standar dan kejelasan tugas, misalnya,

merupakan pendorong yang kuat terhadap timbulnya motivasi untuk

(28)

berkuasa, karena memberi kemungkinan untuk meningkatkan pengendalian. Komitmen dan tanggung-jawab merupakan pendorong yang kuat terhadap timbulnya motivasi untuk berafiliasi, karena berkaitan dengan kualitas hubungan antara individu.

Dari tiga hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa, pada prinsipnya, pola kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi/perusahaan sangat berpengaruh terhadap pencapaian kinerja perusahaan. Hal itu lebih dikarenakan, pola kepemimpinan merupakan sistem utama manajemen.

Artinya, pola kepemimpinan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan dan bentuk dari organisasi itu sendiri. Jika hal ini diterapkan, maka dengan sendirinya akan mendorong para pekerja untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi organisasi/perusahaan dan menumbuhkan perasaan berharga di dalam diri mereka.

2.1.8 Korelasi Intervensi Retensi Karyawan Oleh Perusahaan dengan Kinerja Karyawan

Menurut Mathis (2006,p130), intervensi retensi karyawan merupakan usaha yang dilakukan suatu perusahaan untuk mengatur perputaran karyawannya.

Intervensi dilakukan demi melindungi salah satu sumber daya yang penting di dalam

perusahaan, dengan meminimalkan karyawan yang keluar dan masuk perusahaan,

maka diharapkan karyawan dapat memberikan sumbangan berupa kinerja yang lebih

ditingkatkan. Perusahaan berusaha memberikan kondisi di mana harapan karyawan

saat memasuki dan bekerja di perusahaan dapat tercapai.

(29)

2.2 Kerangka Pemikiran

CV.ADISTIRA

ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP

• Orientasi Strategis

• Komitmen terhadap peluang

• Komitmen terhadap sumber- sumber daya

• Pengendalian sumber-sumber daya

• Visi yang realistis

• Perekrutan

• Seleksi

• Kompensasi

• Pengembangan karier

• Hubungan karyawan

Intervensi Retensi Karyawan Oleh Perusahaan

Kinerja Karyawan

(30)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran 2.3 Hipotesis

Ho : Tidak ada pengaruh antara entrepreneurial leadership dan intervensi retensi karyawan oleh perusahaan terhadap kinerja Karyawan.

H

1

: Ada pengaruh antara entrepreneurial leadership dan intervensi retensi karyawan

oleh perusahaan terhadap kinerja karyawan.

Referensi

Dokumen terkait

Terutama pada perencanaan kapasitas yang melibatkan perubahan besar pada tingkat kapasitas, seperti contohnya adalah perekrutan tenaga kerja baru untuk sementara waktu, staf atau

Dari pengertian kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan lebih yang dimiliki oleh seseorang (baik dalam organisasi atau tidak) untuk

Jika karyawan A keyakinan kuat bahwa kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya akan memudahkan ia mencari pekerjaan baru sementara karyawan B kurang yakin bisa diterima kerja

Real Managers mempunyai ciri – ciri kebutuhan akan kepemimpinan yang merupakan kemampuan mengambil keputusan dan mempengaruhi orang lain melalui komunikasi langsung maupun

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan perusahaan bisnis manajemen dan kepemimpinan dalam mengejar

Dalam penelitian ini yang di maksud dengan retensi karyawan adalah kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk mempertahankan karyawan potensial yang dimiliki

Ho = Variabel budaya organisasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel turnover intention melalui variabel kepuasan kerja karyawan dan variabel

Individu dengan normative commitment yang tinggi akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa adanya suatu kewajiban atau tugas yang memotivasi individu