AKUNTANSI LINGKUNGAN DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA
Natalia Paranoan
Abstract
Environment is part of the quality of life and we can’t be denied if the current environmental problems are increasingly being debated in regional, national, and international. This debate has mainly concerned the question whether the earth is already in a state of crisis or the earth is not currently in a state of crisis. If the earth in crisis condition so what can we do?If the nature of damage caused by the industry, each individual needs to reflect two ideas of Gray (1993), it is about efforts to save the earth through their concerns are: 1) allocate the costs for every natural resource is used and for every natural pollution caused due to the production process and 2) changing the attitude of industrialists to be more prudent to treat nature that become the foundation of their business.Accountants are required to change the paradigm of conventional accounting through a variety of development that may be, so composed a nuanced accounting information system environment. In the future, environmental accounting can be used as a means of accountability to various stakeholders with nature conservation, particularly in its application in Indonesia.
Keywords: environmental accounting, change of paradigm.
I. PENDAHULUAN
Kerusakan lingkungan begitu mencemaskan. Berita tentang dampak pemanasan global terus berkesinambungan. Mulai dari mencairnya salju di puncak Cartenz, Papua, rusaknya ekosistem laut hingga perubahan iklim yang membuat cuaca semakin tidak jelas. Bahkan ada kabar banyak kecelakaan pesawat terjadi karena dampak dari pemanasan global. Garis lintasan udara yang semula terpetakan aman, tiba-tiba bisa dipenuhi ruang hampa udara hingga menyebabkan turbulensi yang akhirnya membahayakan penerbangan.
Isu lingkungan bukan lagi merupakan suatu isu yang baru. Persoalan lingkungan semakin menarik untuk dikaji seiring dengan perkembangan teknologi dan ekonomi global dunia. Oleh karena itu, untuk menyikapi hal ini dibutuhkan akuntansi lingkungan bagi perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang dibuat bagi mereka yang memerlukan atau dapat menggunakannya. Keberhasilan akuntansi lingkungan tidak hanya tergantung pada ketepatan dalam menggolongkan semua biaya-biaya yang dibuat perusahaan. Akan tetapi, kemampuan dan keakuratan data akuntansi perusahaan dalam menekan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan. Tujuan lain dari pentingnya pengungkapan akuntansi lingkungan berkaitan dengan kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan oleh perusahaan maupun organisasi lainnya yaitu mencakup kepentingan organisasi publik dan perusahaan-perusahaan publik yang bersifat lokal.
Pengungkapan ini penting terutama bagi para stakeholders untuk dipahami, dievaluasi dan dianalisis hingga dapat memberi dukungan bagi usaha mereka. Oleh karena itu, akuntansi lingkungan selanjutnya menjadi bagian dari suatu sistem sosial perusahaan.
1.1 Definisi Akuntansi Lingkungan
Definisi Akuntansi lingkungan antara lain : 1. Adalah penggabungan informasi manfaat dan
biaya lingkungan ke dalam macam-macam praktek akuntansi.
2. Adalah identifikasi, prioritisasi, kuantifikasi, atau kualifikasi, dan penggabungan biaya lingkungan kedalam keputusan-keputusan bisnis.(Uno, 2004).
United States Environmet Protection
Agency (EPA) menyebutkan bahwa akuntansi lingkungan adalah untuk menggambarkan biaya- biaya lingkungan supaya diperhatikan oleh para stakeholder perusahaan yang mampu mendorong dalam pengidentifikasian cara-cara mengurangi atau menghindari biaya-biaya ketika pada waktu yang bersamaan sedang memperbaiki kualitas lingkungan.
Dalam Ikhsan 2008, akuntansi lingkungan didefinisikan sebagai pencegahan, pengurangan, dan atau penghindaran dampak terhadap lingkungan, bergerak dari beberapa kesempatan, dimulai dari beberapa perbaikan kembali kejadian-kejadian yang menimbulkan bencana atas kegiatan-kegiatan tersebut.
adalah proses pengurutan, pengukuran dan pengungkapan pengaruh yang kuat dari pertukaran ntara suatu perusahaan dan lingkungan sosialnya.
Menurut Hanifah dalam Rusmanto 2004,akuntansi sosial adalah ekspresi dari tanggungjawab sosial perusahaan melalui pengungkapan pelaporan aktivitas sosial perusahaan dapat menunjukkan apa yang telah dicapai dan penuhi dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial.
Menurut Lee B.Parker et all, 1989;
decontraction and maintenance of organizational social information system design to evaluate an organization social impact aseses the effectiveness of it social program and report up on the over all discharge of it social responsibility.
Maksud dan tujuan dikembangkannya akuntansi lingkungan antara lain meliputi:
1. Akuntansi lingkungan merupakan sebuah alat manajemen lingkungan.
2. Akuntansi lingkungan sebagai alat komunikasi
dengan masyarakat.
Sebagai alat manajemen lingkungan, akuntansi lingkungan digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan konservasi berdasarkan ringkasan dan klasifikasi biaya konservasi lingkungan. Data akuntansi lingkungan juga digunakan untuk menentukan biaya fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya keseluruhan konservasi lingkungan dan juga investasi yang diperlukan untuk kegiatan pengelolaan lingkungan.
Selain itu, akuntansi lingkungan juga digunakan untuk menilai tingkat keluaran dan capaian tiap tahun untuk menjamin perbaikan kinerja lingkungan yang harus berlangsung terus menerus
1.2 Persoalan Lingkungan di Indonesia
Banyak perusahaan-perusahaan yang diberhentikan operasionalnya karena masalah
ADIWIDIA edisi SEPTEMBER 2010, No. 1
lingkungan yang dicemarkan perusahaan tersebut antara lain, isu pencemaran limbah oleh PT Indorayon di Porsea Sumatra Utara, perusahaan kertas di Riau yang mendapat protes dari masyarakat setempat sehubungan dengan permasalahan limbah industry dan pencemaran lingkungan. Persoalan lingkungan yang masih berlangsung sampai saat ini adalah PT Lapindo Brantas di Sidoarjo dengan lumpur yang tiada henti-hentinya mengakibatkan kerusakan lingkungan dengan menelantarkan ribuan masyarakat sekitar lokasi yang sampai saat ini belum juga terselesaikan.
Produksi limbah padat naik secara signifikan selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2000, untuk ibukota Jakarta saja menghasilkan 24.000m3 sampah per hari, yang diperkirakan akan berlipat ganda hingga tahun 2010 hanya sekitar 50% dari limbah padat yang dikumpulkan untuk dibuang ke tempat pembuangan. Daerah-daerah miskin di perkotaan secara umum dilayani secara setengah- setengah atau justru tidak dilayani sama sekali.
(Indonesia Environtment Monitor, 2006).
Di Indonesia, sekitar 15-20 % limbah dibuang secara baik dan tepat, sisanya dibuang di sungai dan kali, menciptakan masalah banjir. (Bank Dunia, 2003). Persoalan-persoalan selain limbah, juga masalah penebangan hutan/illegal logging yang telah berlangsung selama puluhan tahun yang membuat situasi hutan Indonesia saat ini mencapai tahap yang memprihatinkan. Dan mencapai titik kritis. Pada periode 1990 hingga 2001 laju deforestisasi (penebangan hutan) mencapai dua juta hektar pertahun. Angka ini meningkat dua kali lipat dibanding 1980-an. Akibatnya dalam 50 tahun terakhir, tutupan hutan di Indonesia berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar. Dengan laju deforestasi seperti itu, bukan tidak mungkin maka hutan Indonesia yang dianggap sebagai paru-paru dunia akan lenyap (Handoko, 2007)
1.3 Kapitalisme Global
Pertanyaannya, mengapa kerusakan lingkungan bisa begitu parah? Salah satu kunci jawabannya ialah pembangunan dengan gaya kapitalisme yang lebih mengutamakan keuntungan.
Bentuknya mulai dari pengutamaan kesempatan kerja, jaminan suplai barang, keuntungan perusahaan, hingga pendapatan negara dalam bentuk pajak yang dibayarkan perusahaan. Karena faktor- faktor itu, perusahaan penganut sistem kapitalisme bisa bergerak leluasa dan mendapat legitimasi pemerintah. Sistem bisnis kapitalis yang dibangun atas dasar mencari keuntungan sebesar-besarnya, menempatkan kelestarian lingkungan dalam prioritas nomor sekian. Padahal, sistem ini terbukti
mengeksploitasi alam. Data dari majalah Awake kian
mendukung fakta tersebut. Disebutkan, 25%
kawasan pegunungan di dunia terancam proyek pembangunan jalan, pertambangan, jalur pipa bendungan yang direncanakan untuk 30 tahun ke depan.
Pembangunan jalan di gunung secara teori lingkungan dapat menyebabkan erosi pada lereng- lereng terjal. Namun, tetap dibangun karena memudahkan para penebang masuk ke hutan dan melakukan lebih banyak kerusakan. Penambangan mengeruk sekitar 10 triliun ton bijih besi setiap tahunnya. Sekali lagi, kebanyakan berasal dari gunung. Ditambah lagi kerusakan akibat pengelolaan limbah yang tidak sesuai dengan standar.
Lanjutannya, terjadi polusi udara, sungai tercemar limbah racun pabrik, kebisingan, banjir, tsunami, dan gempa bumi yang disebabkan aktivitas korporasi yang mengeksploi-tasi bumi dengan cepat
dan tidak terencana.
Pengabaian faktor lingkungan dan pendekatan pada pertumbuhan ekonomi semata jelas menjadi penyebab. Dampak itu dalam ilmu ekonomi disebut externalities. Dampak externalities yang merusak lingkungan akhirnya akan membawa petaka pada masyarakat. Dari sini, muncullah kebutuhan kontrol sehingga social cost dan external diseconomy yang dimunculkan tidak semakin
membengkak. (Fujitsu, 2002)
Ilmu akuntansi lingkungan lahir dari kebutuhan kontrol tersebut. Akuntansi yang selama ini hanya memberikan informasi kegiatan perusahaan dengan pihak ketiga, kini juga menjalankan fungsi kontrol lingkungan.
Hubungan perusahaan dengan lingkungannya bersifat non-reciprocal, artinya transaksi itu tidak menimbulkan prestasi timbal balik dari pihak yang berhubungan. Ilmu akuntansi yang mencatat, mengukur, melaporkan externalities ini disebut socio economic
accounting (SEA). Istilah lain enviromental accounting dan social responsibility accounting.
II. PERAN AKUNTASI LINGKUNGAN DI INDONESIA
Konsep akuntansi lingkungan sebenarnya sudah dikembangkan sejak 1970-an di negeri-negeri Eropa. Konsep itu muncul akibat tekanan organisasi nonpemerintah (lembaga swadaya masyarakat) dan meningkatnya efisiensi pengelolaan lingkungan.
Artinya mulai dilakukan penghitungan dan penilaian lingkungan dari sudut biaya (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit).
Penerapan akuntansi lingkungan oleh berbagai perusahaan besar di dunia dimaksudkan
31
untuk menghasilkan penilaian yang objektif dan kuantitatif dari biaya dan dampak perlindungan lingkungan. Canon adalah perusahaan yang mulai menerapkan akuntansi lingkungan pada tahun 1983.
Hal ini berkaitan dengan keterbukaan perusahaan untuk mengungkapkan informasi lingkungan sebagai dampak dari kegiatan industry atau bisnis mereka.
Selanjutnya pada tahun 1998 jumlah perusahaan yang mulai menerapkapkan akuntansi lingkungan meningkat dari 10.4% menjadi 20.9% di tahun 1999 dan meningkat menjadi 27% di tahun 2000.
(Indonesia Expanding Horizon, 2003).
Jepang adalah salah satu negara dimana penerapan akuntansi lingkungan sudah banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan sesuai dengan peraturan perundangan dan petunjuk yang dikeluarkan oleh kementrian Lingkungan Hidup Jepang (Djogo, 2006).
Lalu bagaimana peran akuntansi lingkungan di Indonesia? Penulis menilai sedikit dan miskin sekali kajian dan diskusi bahkan informasi yang terkait dengan akuntansi lingkungan. Bahkan perusahaan-perusahaan yang menerapkan ini masih
terbilang langka.
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dengan Bank Indonesia merintis langkah dengan membuat nota kesepakatan (MoU) yang ditandatangani pada 2005. MoU itu sebenarnya sambungan atau tindak lanjut dari Peraturan Bank Indonesia nomor 72/PBI/2005 tentang Penetapan Peringkat Kualitas Aktivitas bagi Bank Umum.
Peraturan itu mengatur secara rinci aktiva produktif untuk kredit termasuk kualitas kredit. Aspek lingkungan menjadi salah satu hal yang penting dalam penilaian kredit (Tempo, 2005). Bank Indonesia sepakat menggunakan proper KLH, perangkat penilaian kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam membuat studi kelayakan kredit. Namun, pada tingkat pelaksanaan belum ada penerapan dan kontrol terhadap perusahaan-perusahaan yang berisiko besar dan punya andil besar merusak lingkungan. Padahal, perusahaan yang bergerak secara langsung dengan lingkungan, dengan bahan baku untuk proses produksi diambil langsung dari alam, sering kali terbukti memunculkan kerusakan besar pada alam.
PT Newmont Nusa Tenggara menggunakan teknologi yang berbahaya di laut, yaitu pembuangan tailing ke laut (submarine tailing disposal). Namun, toh tetap diperbolehkan, padahal teknologi itu terbukti telah mengakibatkan pencemaran di Teluk Buyat, Sulawesi Utara, oleh PT Newmont Minahasa Raya.
Survei KLH yang dilakukan di daerah Tonggo Sejorong, Benete, dan Lahar, Nusa Tengara Barat, menunjukkan sekitar 76%-100% responden
nelayan menyatakan bahwa pendapatan mereka menurun setelah Newmont membuang tailing-nya ke Teluk Senunu, yang besarnya mencapai 120.000 ton per hari atau 60 kali besar tailing Newmont di
Teluk Buyat (Walhi).
Banyak perusahaan di Indonesia yang berkala kecil maupun besar (data terakhir hanya sekitar 27% yang menerapkan akuntansi lingkungan) belum menerapkan standar akuntansi keuangan yang telah mengatur komponen tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dalam pelaporan keuangan Prinsip Standar Keuangan No 32 dan No 33. Itulah kelemahannya. Meski sudah sering diatur, belum dijadikan keharusan (mandatory). Sifatnya masih sukarela (voluntary).
Di beberapa negara seperti Jepang, pengungkapan tanggung jawab lingkungan menjadi suatu yang diwajibkan pada setiap perusahaan.
Namun, di Indonesia hal tersebut masih bersifat sukarela. Maka, sebaiknya agar Indonesia juga menerapkan prinsip keharusan bagi perusahaan untuk menerapkan akuntansi lingkungan. Cara itu setidaknya dapat membantu menekan kerusakan lingkungan.
Tentunya upaya itu harus didukung serius oleh pemerintah melalui kebijakan dan kontrol ketat (environmental auditing). Kontrol bisa dilakukan Departemen Lingkungan Hidup, Departemen Kehutanan dan LSM lingkungan. Peran masyarakat di sekitar pabrik juga perlu ditingkatkan untuk ikut serta mengawasi tingkat pencemaran yang dibuat perusahaan-perusahaan.
Masyarakat setempat memiliki cara sendiri dengan kearifan lokalnya, bagaimana mengelola dan menjaga alam agar tidak dirusak oleh kepentingan pengusaha dan pelaku ekonomi.
Seperti yang dikatakan Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB, "Setiap orang berkepentingan untuk memastikan bahwa kawasan pegunungan dunia (alamnya) terus menyediakan kekayaan bagi generasi mendatang."
2.1 Biaya Lingkungan
Biaya lingkungan adalah dampak, baik moneter atau non-moneter terjadi oleh hasil aktifitas perusahaan yang berpengaruh pada kualitas
lingkungan. (Ikhsan, 2007)
Bagaimana perusahaan menjelaskan biaya lingkungan tergantung pada bagaimana perusahaan menggunakan informasi biaya tersebut (alokasi biaya, penganggaran modal, disain proses/produk, keputusan manajemen lain), dan skala atau cakupan aplikasinya. Tidak selalu jelas apakah biaya itu masuk lingkungan atau tidak, beberapa masuk zona abu -abu atau mungkin diklasifikasikan sebagian
lingkungan sebagian lagi tidak.
ADIWIDIA edisi SEPTEMBER 2010, No. 1
Terminologi akuntansi lingkungan menggunakan ungkapan seperti full, total, true, dan life cycle untuk menegaskan bahwa pendekatan tradisional adalah tidak lengkap cakupannya karena mereka mengabaikan biaya lingkungan penting (serta pendapatan dan penghematan biaya).
Praktek-praktek akuntansi tradisional seringkali melihat biaya lingkungan sebagai biaya mengoperasikan bisnis, meskipun biaya-biaya
tersebut signifikan, meliputi :
Biaya sumberdaya, yaitu mereka yang secara langsung berhubungan dengan produksi dan mereka yang terlibat dalam operasi bisnis umum, pengolahan limbah, dan biaya pembuangan.
- Biaya reputasi lingkungan, dan biaya membayar premi asuransi resiko lingkungan.
Dalam banyak kasus, biaya-biaya lingkungan seperti yang berkaitan dengan sumberdaya alam (energi, udara, air) dimasukkan ke dalam satu jalur
‘biaya operasi’atau ‘biaya administrasi’ yang diperlakukan independen dengan proses produksi.
Juga biaya lingkungan sering didefinisikan secara sempit sebagai biaya yang terjadi dalam upaya pemenuhan dengan atau kaitan dengan hukum atau peraturan lingkungan. Hal ini karena sistem akunting cenderung berfokus pada biaya bisnis yang teridentifikasi secara jelas, bukan pada biaya dan manfaat pilihan alternatif.
Akuntansi lingkungan adalah mengenai secara spesifik mendefinisikan dan menggabungkan semua biaya lingkungan ke dalam laporan keuangan perusahaan. Bila biaya-biaya tersebut secara jelas teridentifikasi, perusahaan akan cenderung mengambil keuntungan dari peluang-peluang untuk
mengurangi dampak lingkungan.
Manfaat - manfaat dari mengadopsi akuntansi lingkungan dapat meliputi :
1. Perkiraan yang lebih baik dari biaya sebenarnya pada perusahaan untuk memproduksi produk atau jasa. Ini bermuara memperbaiki harga dan profitabilitas
2. Mengidentifikasi biaya-biaya sebenarnya dari produk, proses, sistem, atau fasilitas dan menjabarkan biaya-biaya tersebut pada tanggungjawab manajer
3. Membantu manajer untuk menargetkan area operasi bagi pengurangan biaya dan perbaikan dalam ukuran lingkungan dan kualitas
4. Membantu dengan penanganan keefektifan biaya lingkungan atau ukuran perbaikan Kualitas.
5. Memotivasi staf untuk mencari cara yang kreatif untuk mengurangi biaya-biaya lingkungan.
6. Mendorong perubahan dalam proses untuk mengurangi penggunaan sumberdaya dan mengurangi, mendaur ulang, atau mengidentifikasi pasar bagi limbah
7. Meningkatkan kepedulian staf terhadap isu – isu lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja
8. Meningkatkan penerimaan konsumen pada produk atau jasa perusahaan dan sekaligus meningkatkan daya kompetitif.
Sistem akuntansi konvensional biasanya mengklasifikasi biaya sebagai :
a. Biaya langsung material dan buruh
b. Biaya pabrik manufaktur atau factory overhead atau termasuk biaya tidak langsung biaya operasi selain biaya langsung buruh dan material, seperti depresiasi modal, sewa, pajak bangunan, asuransi, pasokan, utilitas, pemeliharaan dan perbaikan, dan biaya operasi pabrik).
c. Penjualan
d. Biaya umum dan administratif (General &
Administrative)
e. Biaya riset dan pengembangan (R&D)
Panduan GEMI dan EPA menjelaskan klasifikasi biaya lingkungan :
1. Biaya konvensional --> biaya penggunaan a. material, utilitas, benda modal, dan
pasokan.
2. Biaya berpotensi tersembunyi -->
b. Biaya ‘upfront’: yang terjadi karena operasi proses, sistem, atau fasilitas
c. Biaya ‘backend’: biaya prospektif, yang akan terjadi tidak tentu dimasa depan.
d. Biaya pemenuhan peraturan atau setelah pemenuhan (voluntary, beyond
compliance), yaitu biaya yang terjadi dalam operasi proses, sistem, fasilitas, umumnya dianggap biaya overhead
3. Biaya tergantung (contingent) --> biaya yang mungkin terjadi di masa depan dijelaskan dalam bentuk probabilistic.
4. Biaya imej dan hubungan (image and relationship) --> seperti biaya pelaporan dan
aktifitas hubungan masyarakat.
Dalam skala berbeda, mikroekonomis atau tingkat perusahaan, akuntansi lingkungan digunakan dalam kerangka akuntansi keuangan dan akuntansi manajerial. Akuntansi keuangan menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan pada pengamat eksternal (seperti pemegang saham).
Kebutuhan pelaporan menurut aturan Securities and Exchange Comission (SEC Amerika), dimana mencakup kebutuhan pemaparan pertanggungan
33
lingkungan dan biaya-biaya lingkungan tertentu.
Akuntansi manajerial menyediakan informasi ke penentu keputusan internal dalam rangka mendukung keputusan-keputusan manajemen internal. Berbeda dengan akuntansi keuangan, akuntansi manajerial berstruktur bebas dan tidak
diatur dalam peraturan tertentu.
Akuntansi Lingkungan mendukung pembuatan keputusan di perusahaan dalam hal :
1. Penganggaran modal - capital budgeting adalah proses menganalisa alternatif investasi dan membutuhkan investasi mana untuk digunakan menggunakan standar keuangan standar (seperti ROI, periode pengembalian, dan IRR) yang mana mempertimbangkan aliran pendapatan dan biaya2 dihasilkan dari sepanjang waktu investasi.
2. Pemilihan produk - perusahaan secara rutin membuat keputusan mengenai produk mana untuk didapatkan didasarkan pada pertimbangan biaya mereka. Biaya-biaya termasuk tidak hanya biaya pembelian, namun biaya yang terjadi karena menggunakan dan membuang produk pada akhir masa penggunaannya. Mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan diasosiasikan dengan siklus hidup produk - pemilikan, penggunaan, dan pembuangan - dapat membantu manajer material dalam memilih mproduk dengan biaya siklus hidup terendah.
3. Manajemen limbah - perusahaan menghasilkan sejumlah besar limbah yang pilihan pengolahan dan pembuangannya ditentukan oleh komposisi aliran limbah. Karena biaya-biaya pembuangan adalah biaya-biaya lingkungan, mencoba untuk meminimalkan biaya-biaya ini akan mendapat manfaat dari akuntansi lingkungan.
Adapun hambatan dalam penerapan akuntansi lingkungan adalah informasi yang kurang / tidak cukup sistem pendukung akuntansi.
Informasi mengenai biaya lingkungan sangat kurang. Sistem akuntansi - idealnya informasi sumber biaya - umumnya tidak cukup untuk kebutuhan EA, yaitu manfaat-manfaat dari memisahkan biaya-biaya lingkungan dari pos overhead dalam rangka untuk menelusuri biaya ke produk atau aktifitas yang menyebabkan biaya tersebut. Dalam kelangkaan tekanan untuk
mengontrol biaya-biaya,
Informasi yang kurang mengenai biaya-biaya lingkungan mengarah pada :
- Fokus yang sempit pada reduksi harga pembelian unit -Fokus pada perubahan-perubahan tersebut biasanya tidak berhubungan dengan biaya- biaya
lingkungan - dimana informasi tersedia, dan dimana penghematan dipersepsikan tinggi.
2.2 Keterlibatan Akuntan dalam Akuntansi Lingkungan
Pada akuntansi lingkungan tidak lepas dari peran akuntan yang mana pada tingkat pragmatis, ada dua alasan yang mendorong akuntan terlibat pada masalah lingkungan yaitu:
1. Masalah lingkungan pada dasarnya merupakan masalah bisnis. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, perubahan pasar tentu akan membawa dampak pada dunia bisnis dan akuntan dituntut untuk memberikan perhatian dan berperan serta mulai dari penentuan biaya, penetapan nilai asset sampai dengan penghitungan tingkat resiko yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan bisnis.
2. Masalah lingkungan membutuhkan kegiatan audit (dalam bahasa teknis akuntansi audit antara lain diatikan sebagai prosedur pemeriksaan laporan keuangan, mulai dari pengkajian dokumen sampai dengan pemberian rekomendasi). Melalui kegiatan audit ini para akuntan akan menemukan wilayah tertentu untuk terlibat kedalam masalah lingkungan, meskipun istilah audit dalam hal ini tentu tidak sama persis dengan prosedur audit untuk laporan keuangan suatu perusahaan.
Dalam akuntansi lingkungan mencakup tujuh hal berikut ini:
1. Akuntansi untuk risiko
2. Akuntansi untuk penilaian kembali aset dan proyeksi modal
3. Analisis biaya terutama untuk area kunci (key areas) seperti energi, limbah, dan perlindungan lingkungan
4. Investasi yang didalamnya menyangkut faktor lingkungan
5. Pengembangan sistem informasi akuntansi (SIA) baru
6. Mengukur costs and benefits terhadap program-program pengembangan lingkungan
7. Pengembangan teknik-teknik akuntansi yang mengekspresikan harta, utang dan biaya yang benuansa ekologi
ADIWIDIA edisi SEPTEMBER 2010, No. 1
Dengan memperhatikan lingkup pekerjaan akuntan tersebut membawa konsekuensi perubahan bagi tugas akuntan yaitu:
Akuntan Keuangan
1. Menyusun neraca yang didalamnya mencakup akun penetapan nilai asset, hutang, biaya tak terduga dan provisi 2. Menyusun laporan keuangan yang
didalamnya mencakup biaya-biaya yang berkaitann dengan pengelolaan limbah/
sampah dan kebersihan lingkungan
3. Menyusun laporan tahunan yang mencakup gambaran kinerja perusahaan untuk lingkungan
4. Menyusun laporan kerjasama dengan bank, manajer lembaga keuangan, dan lembaga asuransi
Akuntan Manajemen
1. Menyusun rencana bisnis termasuk munculnya biaya-biaya baru yang menyangkut masalah lingkungan
2. Membuat costs and benefits analysis dengan adanya pengembangan lingkungan 3. Menyusun analisis biaya dan efisiensi
dengan adanya program-program pengembangan lingkungan
Akuntan Sistem
1. Merencanakan berbagai perubahan pada sistem informasi manajemen (MIS)
2. Merencanakan berbagai perubahan pada sistem pelaporan keuangan
III. SIMPULAN
Tujuan dari akuntansi lingkungan adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang dibuat bagi mereka yang memerlukan atau dapat menggunakannya. Secara garis besar keutamaan penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan adalah kemampuan untuk meminimalisasikan persoalan-persoalan lingkungan yang dihadapinya.
Kasus-kasus yang selama ini terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia karena masih mengabaikan pentingnya permasalahan lingkungan.
Oleh karena itu, diharapka di masa mendatang perusahaan-perusahaan mulai menempatkan masalah lingkungan menjadi masalah yang utama dan memberikan pertanggungjawaban dan pengungkapan lingkungan dalam laporan keuangan
mereka sehingga dapat ditarik benang merah antara perusahaan, stakeholder dan masyarakat.
Pemerintah hendaknya mewajibkan setiap perusahaan yang beroperasi di Indonesia untuk menerapkannya akuntansi lingkungan karena selama ini hal tersebut baru merupakan wacana himbauan yang bersifat sukarela. Pemerintah juga perlu melakukan pengawasan yang menyangkut pengawasan terjadinya polusi.
DAFTAR PUSTAKA
Belkoui, Ahmed. 1998. Accounting Theory.
International edition. Hardcourt Brace and Company.
Djogo, Tony. 2006.
Akuntansi Lingkungan . 7 Februari.
Fujitsu Group. 2002. Environmental Report.
Handoko, Rudy, 2007. Deforestasi, Rusaknya Lingkungan dan Lemahnya Supremasi Hukum, Refleksi kasus Pembalakan hutan Kalbar, Agustus.
Herwidayatmo, 2000.
Media Akuntansi, Edisi ke-10, Juni.
Ikhsan, Arfan, 2008. Akuntansi Lingkungan dan Pengungkapannya. Edisi pertama.
Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta.
Indonesia Expanding Horizon, 2003. Bank Dunia:
Mengelola Lingkungan Hidup.
Institute of Chatered Acountant in Australia:
Environmental management Accounting, a case study forAMP. 2002.
Kompas, 2004. Biaya Kesehatan Membengkak Akibat Polusi. 10 Juni.
Ministry of The Environment Japan, 2002.
Introduction to Environmental Accounting Guidelines,
Ministry of The Environment Japan, 2005.
Environmental Accounting Guidelines, February.
Peter, Lee.B, et all.1989. Accounting for Social Impact: Accounting For The Human Sector. Prentice Hall.
Rusmanto.T. 2004. Social Reporting Disclosure sebagai Implementasi dari Corporate Social Responsibility. Jurnal ekonomi STIE.
Tempo Interaktif. 2005. “Penilaian KLH Pengaruhi Kualitas Kredit Perusahaan”, Tempo Interaktif,, 8 April.
35
Unites States Environmental Protection Agency (EPA), 1995. An Introduction to Environmental Accounting as a business management tool: key concepts and Terms. June.
Uno, Kimio dan Bartelmus, Peter. 2004.
Environmental Accounting in Theory
and Practice. Kluwer Publisher.
Sudarmanto, Gunawan. 2004. Akuntansi Lingkungan Berbasis Moral. Jurnal Ekonomi.