HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Kampung Teras Toyib Desa Kamaruton
Desa Kamaruton adalah salah satu bagian dari Kecamatan Lebak Wangi, yang berbatasan dengan desa Teras Bendung di sebelah utara dan Desa Jeruk Tipis di sebelah selatan serta kurang lebih berjarak 9 Km dari bibir pantai. Desa Kamaruton mempunyai sumber perairan yang cukup berlimpah yang dilintasi oleh sungai Ciujung dan mempunyai irigasi Sentul Jongjing yang cukup luas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
Sistem pemeliharaan itik Damiaking sangat tergantung pada musim tanam padi dan ketersediaan pakan di tempat pemeliharaan. Pada saat musim panen padi, ternak digembalakan pada pagi sampai sore hari jam 07.00-17.00 WIB, kemudian di kandangkan dan diberi pakan tambahan. Ternak digembalakan di area sawah sekitar kandang dekat kolam atau parit. Budidaya itik Damiaking dilakukan secara ekstensif dengan populasi 93 ekor. Terdiri dari 90 ekor betina dewasa dan 3 ekor jantan dewasa dengan sex ratio jantan:betina 1:30, bobot badan rata-rata 1,7-2,0 kg. Produksi telur rata-rata 44% dengan daya tetas 32%, produktivitas itik Damiaking ini tergolong rendah dalam satu tahun berkisar antara 160 - 165 butir/ekor/tahun (Mayunar, 2011). Umur itik Damiaking sekitar 18 bulan, dapat bertahan sampai umur 3 tahun, setelah itik tidak berproduksi maka itik akan dijual.
Populasi itik Damiaking tidak tercatat di Statistik Banten, tetapi sentra populasinya terdapat di Kabupaten Serang. Diduga populasi itik Damiaking mengalami penurunan disebabkan banyaknya peternak yang melakukan
persilangan itik Damiaking dengan itik lokal lain. Itik Damiaking biasanya disilangkan dengan itik Rambon atau lebih sering disebut itik merah oleh peternak dengan tujuan meningkatkan produktivitasnya (produksi telur, pertumbuhan dan berat badan).
Kandang itik dibangun sangat sederhana menggunakan pembatas bambu dan alas kandang dari jerami, lokasi kandang berada ditengah-tengah pesawahan dengan sistem pekarangan, yaitu kombinasi pemeliharaan sistem terkurung dan sistem lepas. Sistem pemberian pakan tidak terjadwal dan berubah setiap waktu sesuai musim tanam padi. Pada musim panen pemberian pakan hanya diberikan satu kali/hari yaitu berupa keong atau kepala udang dan nasi sisa pada sore hari dengan komposisi yang tidak ditentukan dan kebutuhan lainnya di penuhi dari lahan pangonan (sawah). Kandungan zat makanan dalam keong yang diberikan kepada itik Damiaking dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kandungan Zat Makanan dalam Keong Yang Diberikan pada Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Kandungan Nutrisi
Daging I II*
Cangkang**
Abu (%) 24 15,3 54,93
Protein Kasar (%) 51,8 52,7 2,94
Lemak Kasar (%) 13,61 3,20 0,12
Serat Kasar (%) 6,09 5,59 26,68
Kalsium (mg/100 gr) 7593,81 Fosfor (mg/100 gr) 1454,32
Sumber : Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak USU (2007), dalam Zainudin dan Syahruddin (2012)
*Julfereina dan Tarigan (2008)
**BPPT dalam Sulistiono (2007)
4.2 Bobot Telur Tetas Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif Deskripsi bobot telur Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif, dapat dilihat pada Tabel 6 dengan rincian berat telur secara keseluruhan disajikan pada Lampiran 1.
Tabel 6. Hasil Analisis Bobot Telur Tetas Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Nilai Itik Damiaking
Rata-rata (gram) 74,48
Minimal (gram) 66,10
Maksimal (gram) 81,90
Simpangan Baku (s) 3,63
Koefisien Variasi (%) 4,87
Pendugaan Interval µ (95%) ±1,03
Pendugaan Interval µ (99%) ±1,37
Berdasarkan Tabel 6 rata-rata bobot telur tetas itik Damiaking hasil pengamatan awal yaitu 74,48±3,63 gram dengan koefisien variasi 4,87%. Rata- rata bobot telur masih seragam karena keofisien variasinya kurang dari 10%.
Menurut Sudjana (2005), bila koefisien variasi suatu pengamatan dibawah 10%
maka data tersebut dapat dikatakan seragam.
Bobot telur tetas itik Damiaking yang diperoleh dalam penelitian ini mempunyai nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan bobot telur itik lokal lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putraperdana, dkk. (2014) menunjukkan bahwa bobot telur itik Rambon populasi dasar memiliki rata-rata 69,28 gram, bobot telur itik Cihateup populasi dasar memiliki rata-rata 69,83 gram (Lestari, dkk. 2014), bobot telur itik Bali dengan kerabang putih memiliki rata-rata 66,77 gram dan bobot telur itik Bali dengan kerabang hijau kebiruan memiliki nilai rata-rata 67,27 gram (Prasetya, dkk. 2014), serta hasil penelitian
Mayel, dkk. (2013), bobot telur itik Magelang 70,96±5,39 gram, dan itik Pajajaran 64,77±5,31 gram.
Data hasil penelitian rata-rata bobot telur 74,48 gram, selanjutnya dianalisis menggunakan pendugaan parameter ( . Rataan interval pendugaan parameter dengan kepercayaan 95% menunjukkan bobot telur itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif memiliki interval antara batas bawah 73,45 gram dan batas atas 75,51 gram atau sebesar 1,03 gram, sedangkan rataan interval pendugaan parameter dengan kepercayaan 99% menunjukkan batas bawah 73,11 gram dan batas atas 75,86 gram atau sebesar 1,37 gram. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% rata-rata bobot telur seluruh populasi Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif antara 73,45 gram hingga 75,51 gram, dan untuk tingkat kepercayaaan 99% rata-rata bobot telur seluruh populasi antara 73,11 gram hingga 75,86 gram. Dari data tersebut terlihat bahwa, dengan tingkat kepercayaan 99% menunjukkan nilai interval pendugaan lebih luas dibandingkan tingkat kepercayaan 95%. Sesuai dengan pendapat Sudjana (2005) yang menyatakan bahwa makin besar jarak interval maka makin percaya tentang kebenaran penaksiran yang dilakukan. Berdasarkan pendugaan parameter telur tetas itik Damiaking menunjukkan bobot telur yang tinggi
Bobot telur yang tinggi pada itik Damiaking erat kaitannya dengan faktor keturunan, umur induk, bobot induk, sistem pemeliharaan dan pakan. Menurut Hardjosworo (1989), bobot telur merupakan sifat yang dipengaruhi oleh kebakaan (genetik) dan protein dalam pakan. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Listyowati dan Roospitasari (2005), berat telur dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah pakan, lingkungan kandang serta kualitas pakan.
Suwindra (1998) menyatakan bahwa dengan tingkat protein ransum minimal 16% itik mampu memproduksi satu butir telur, meningkatkan produktifitas telur dan berat telur. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Purnamasari, dkk. (2015) bahwa, dengan meningkatnya konsumsi protein akan meningkatkan bobot telur. Pakan tambahan berupa keong diberikan pada itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif mengandung protein 51,8% dengan energi metabolis 2094,98 Kkal/kg, kandungan protein yang diberikan sudah memenuhi untuk memproduksi satu butir telur, sehingga bobot telur itik damiaking yang dihasilkan pun memiliki rata-rata yang tinggi.
Itik pada masa bertelur membutuhkan protein dan energi untuk hidup pokok, produksi telur dan pertumbuhan. Setelah kebutuhan hidup pokok terpenuhi maka energi dan protein yang dikonsumsi cenderung digunakan untuk produksi telur dan pertumbuhan. Selain itu bobot telur juga dipengaruhi oleh umur induk dan umur telur, bobot telur akan meningkat sesuai dengan peningkatan umur itik, bobot telur meningkat sampai induk mencapai umur dua bulan produksi, lalu konstan (Sarwono, 1994). Semakin lama umur telur maka bobot telur akan semangkin menyusut, ini sesuai dengan pernyataan Pestacore dan Jacob (2011), seiring dengan bertambahnya umur, telur akan kehilangan cairan dan isinya semakin menyusut. Telur tetas itik Damiaking yang digunakan merupakan telur segar berumur tiga hari sehingga memiliki bobot telur yang tinggi. Faktor lain yaitu sistem pemeliharaan, telur yang digunakan adalah telur itik Damiaking berasal dari induk yang dipelihara secara ekstensif, itik digembalakan sehingga kekurangan nutrisi dari pakan yang diberikan bisa terpenuhi dengan kandungan nutrisi pakan alam yang tersedia di tempat penggembalaan.
Bobot telur tetas dapat berpengaruh terhadap daya tetas dan hasil tetas, menurut Mahi, dkk. (2013) faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam penetasan telur dengan mesin tetas adalah bobot telur tetas, karena bobot telur tetas tidak hanya berpengaruh terhadap daya tetas saja tetapi juga sangat berpengaruh terhadap bobot tetas. Butcher and Miles (2004), menambahkan bahwa selain mempengaruhi daya tetas, bobot telur juga mempengaruhi bobot tetas, dimana bobot telur tetas tinggi akan menghasilkan bobot tetas yang tinggi dan sebaliknya.
Rataan sampel dan pendugaan parameter bobot telur tetas pada itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif sudah memenuhi standar Pedoman Pelaksanaan Pembibitan Non Ruminansia 2014 sesuai dengan keputusan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan nomor 1356/Kpts/TU.210/F/12/2013, karena telur itik yang ditetaskan menurut standar harus mempunyai berat minimal 60 gram per butir. Hal ini diperkuat dengan pendapat Srigandono (1997), bahwa rata-rata bobot tetas telur itik yang baik adalah 65-75 gram.
4.3 Bentuk (Shape Index) Telur Tetas Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Deskripsi bentuk telur Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif dapat dilihat pada Tabel 7, dengan rincian bentuk telur secara keseluruhan disajikan pada Lampiran 1.
Tabel 7. Hasil Analisis Bentuk Telur Tetas (Shape Index) Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Nilai Itik Damiaking
Rata-rata 79,10
Minimal 75,21
Maksimal 84,85
Simpangan Baku (s) 2,28
Koefisien Variasi (%) 2,89
Pendugaan Interval µ (95%) ±0,65
Pendugaan Interval µ (99%) ±0,86
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, rataan bentuk telur tetas itik Damiaking yang dipelihara Secara ekstensif hasil pengamatan awal yaitu 79,10±2,28 dengan koefisien variasinya 2,89. Rata-rata shape index telur tersebut masih seragam karena keofisien variasinya kurang dari 10%. Menurut Sudjana (2005), bila koefisien variasi suatu pengamatan dibawah 10% maka data tersebut dapat dikatakan hampir seragam. Berdasarkan hasil ini maka telur tetas itik Damiaking rata-rata mempunyai bentuk cenderung bulat. Shape Index yang diperoleh lebih rendah di banding Shape Index hasil penelitian Putraperdana, dkk.
(2014), pada itik Rambon populasi dasar yaitu 80,96, hasil penelitian Lestari, dkk.
(2014), pada itik Cihateup populasi dasar yaitu 81,40 dan penelitian Mayel, dkk.
(2013) pada itik Magelang dan Pajajaran yaitu bulat, dengan nilai shape indexnya 80,24±3.00 dan 80,10±3,22. Namun Shape Index itik Damiaking lebih besar dibanding itik Bali hasil Penelitian Prasetya, dkk. (2014), yang menyatakan bahwa Shape Index telur itik Bali kerabang putih memiliki rata-rata 77,93 dan telur itik Bali kerabang hijau kebiruan memiliki rata-rata 77,64.
Data hasil penelitian rata-rata shape index 79,10, selanjutnya dianalisis menggunakan pendugaan parameter ( . Rataan interval pendugaan parameter dengan kepercayaan 95% menunjukkan shape index telur itik Damiaking yang
dipelihara secara ekstensif memiliki interval antara batas bawah 78,45 dan batas atas 79,75 atau sebesar 0,65, sedangkan rataan interval pendugaan parameter dengan kepercayaan 99% menunjukkan batas bawah 78,23 dan batas atas 79,96 atau sebesar 0,86. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95%
rata-rata shape index telur seluruh populasi Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif antara 78,45 hingga 79,75, dan untuk tingkat kepercayaaan 99% rata- rata shape index telur seluruh populasi antara 78,24 hingga 79,96. Dari data terlihat bahwa, dengan tingkat kepercayaan 99% menunjukkan nilai interval pendugaan lebih luas dibandingkan tingkat kepercayaan 95%. Sesuai dengan pendapat Sudjana (2005) yang menyatakan bahwa makin besar jarak interval maka makin percaya tentang kebenaran penaksiran yang dilakukan. Berdasarkan pendugaan parameter telur tetas itik Damiaking menunjukkan bentuk cenderung bulat.
Shape index mencerminkan bentuk telur, dan dipengaruhi oleh genetik,
bangsa serta proses selama pembentukan telur. Bentuk telur yang berbeda-beda secara umum disebabkan bentuk dan besar kecilnya alat reproduksi itik, sehingga hal ini akan berpengaruh pula terhadap panjang dan lebar telur yang dihasilkan.
Oleh karena itu, bentuk telur yang bulat seperti halnya pada itik Damiaking erat hubungannya dengan saluran reproduksi yang mempunyai isthmus berdiameter lebar. Hal ini sesuai dengan pendapat Septiawan (2007), semakin lebar diameter isthmus maka bentuk telur yang dihasilkan cenderung bulat dan apabila diameter isthmus sempit, maka telur yang dihasilkan akan berbentuk lonjong. Pendapat ini dipertegas oleh Jull (1977), bahwa faktor yang berperan dalam memberikan bentuk telur adalah : jumlah albumen yang disekresikan dalam oviduk, ukuran isthmus, aktivitas serta kekuatan otot dinding isthmus dan bagian-bagian lain yang
dilalui telur. Selain itu umur induk juga mempengaruhi bentuk telur, telur tetas itik Damiking yang digunakan berasal dari induk yang berumur 18 bulan sehingga rata-rata telur tetas itik damiking berbentuk bulat. Pernyatan ini sesuai dengan pendapat Suharno (2009) bahwa, bentuk telur berhubungan erat dengan usia itik yang memproduksinya. Itik usia muda kebanyakan menghasilkan telur berbentuk lonjong, sedangkan itik tua menghasilkan telur yang cenderung lebih bulat.
Menurut MacLaury (1973), bentuk telur normal shape indexnya 69-77, maka nilai index yang lebih besar dari 77 akan berpenampilan bulat dan apabila lebih kecil dari 69 akan berpenampilan lonjong. Ratan sampel dan pendugaan parameter telur tetas itik Damiaking mempunyai bentuk yang bulat sedangkan menurut Pedoman Pelaksanaan Pembibitan Ternak Non Ruminansia 2014 telur yang bagus untuk ditetaskan mempunyai bentuk oval, karena telur dengan bentuk bulat akan mempunyai daya tetas yang lebih rendah (Sudaryani, 1996).
4.4 Specific Gravity Telur Tetas Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Hasil penelitian specific gravity telur tetas Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif dapat dilihat pada Tabel 8, dengan rincian specific gravity secara keseluruhan disajikan pada Lampiran 1.
Tabel 8. Hasil Analisis Specific Grafity Telur Tetas Itik Damiaking yang Dipelihara Secara Ekstensif
Nilai Itik Damiaking
Rata-rata 1,086
Minimal 1,075
Maksimal 1,095
Simpangan Baku (s) 0,006
Koefisien Variasi (%) 0,574
Pendugaan Interval µ (95%) ±0,002
Pendugaan Interval µ (99%) ±0,002
Berdasarkan hasil penelitian, telur tetas Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif hasil pengamatan awal mempunyai rata-rata specific gravity 1,086±0,006 dengan koefisien variasi 0,574%. Rata-rata specific gravity telur tersebut masih seragam karena keofisien variasinya kurang dari 10%. Menurut Sudjana (2005), bila koefisien variasi suatu pengamatan dibawah 10% maka data tersebut dapat dikatakan hampir seragam. Hasil penelitian spesific gravity pada telur tetas itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif, menunjukan nilai lebih tinggi dibanding dengan hasil penelitian Putraperdana, dkk. (2014), pada itik Rambon populasi dasar yaitu 1,083 dan hasil penelitian Lestari, dkk. (2014), pada itik Cihateup populasi dasar yaitu 1,084. Semakin tinggi nilai specific gravity yang didapat kondisi telur semakin bagus dan segar.
Data hasil penelitian rata-rata specific gravity 1,086 selanjutnya dianalisis menggunakan pendugaan parameter. Rataan interval dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan specific gravity telur itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif memiliki interval antara batas bawah 1,084 dan batas atas 1,087 atau sebesar 0,002, sedangkan rataan interval pendugaan parameter dengan tingkat kepercayaan 99% menunjukkan batas bawah 1,083 dan batas atas 1,088 atau sebesar 0,002. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95%
rata-rata specific gravity telur seluruh populasi Itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif antara 1,084 hingga 1,087, dan untuk tingkat kepercayaaan 99%
rata-rata specific gravity telur seluruh populasi antara 1,083 hingga 1,088. Dari data terlihat bahwa, dengan tingkat kepercayaan 99% menunjukkan nilai interval pendugaan lebih luas dibandingkan tingkat kepercayaan 95%. Sesuai dengan pendapat Sudjana (2005) yang menyatakan bahwa makin besar jarak interval maka makin percaya tentang kebenaran penaksiran yang dilakukan. Berdasarkan
pendugaan parameter telur itik Damiaking menunjukkan nilai specific gravity yang tinggi.
Tingginya nilai specific gravity pada telur itik Damiaking dipengaruhi oleh umur telur, telur segar memiliki nilai specific gravity yang lebih tinggi dibandingkan telur yang sudah tersimpan lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani (1996), bahwa sejalan dengan waktu pengumpulan telur yang lebih lama, Specific gravity akan mempunyai ukuran yang semakin rendah karena terjadi penguapan air dan gas dari dalam telur. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Pestacore dan Jacob (2011), seiring dengan bertambahnya umur, telur akan kehilangan cairan dan isinya semakin menyusut sehingga memperbesar rongga udara dan menurunkan kualitas telur. Penomena ini juga dipengaruhi oleh manajemen dan sistem pemeliharaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Suprapti (2002), bahwa sistem pemeliharaan antara lain berkaitan dengan kebersihan atau sanitasi kandang akan mempengaruhi kualitas telur. Sanitasi yang baik akan menghasilkan telur yang baik pula, dalam hal ini specific gravity yang dihasilkan tinggi.
Selain itu nilai specific gravity juga dipengaruhi oleh tebal dan keutuhan kerabang, seperti yang diinterpretasikan oleh Butcher dan Miles (2004), bahwa specific gravity dan ketebalan kerabang sangat berkorelasi positif. Tebal kerang
yang baik berkisar antara 0,31-0,36mm (Romanoff dan Romanoff, 1963).
Kerabang yang tipis akan mudah retak dan memiliki pori-pori yang lebih banyak dan lebar, tebal kerabang yang ideal akan menghasilkan specific gravity yang tinggi. Jika angka specific gravity menurun, maka jumlah retak pada kerabang umumnya meningkat. Specific gravity memberikan gambaran tentang kemungkinan telur yang retak selama penanganan. Selain itu, specific gravity
dapat mempengaruhi daya tetas telur. Hasil penelitian Moyle, dkk. (2009), menunjukkan bahwa telur tetas yang memiliki nilai specific gravity lebih dari 1,070 memiliki daya tetas yang lebih baik dibandingkan dengan nilai specific gravity kurang dari 1,065.
Rataan sampel dan pendugaan parameter specific gravity telur tetas itik Damiaking yang dipelihara secara ekstensif sudah memenuhi standar kualitas telur tetas itik yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Romanoff dan Romanoff (1963), bahwa telur itik yang baik mempunyai rata-rata specific gravity diatas 1,083.