3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di hutan alam produksi lestari dan hutan alam produksi tidak lestari di wilayah Kalimantan. Pendekatan yang digunakan untuk hutan alam produksi lestari dalam penelitian ini adalah hutan alam produksi bersertifikat hutan lestari. Pada hutan alam produksi lestari diambil data sebelum memiliki sertifikat (A1) dan sesudah memiliki sertifikat (A2). Hutan alam produksi yang tidak bersertifikat mewakili hutan alam produksi yang pengelolaan hutannya tidak lestari (B). Hasil perhitungan perbedaan simpanan biomassa, karbon dan CO2 antara IUPHHK A2 dan IUPHHK A1 diberi simbol A2-1 dan hasil perbedaan simpanan biomassa, karbon dan CO2
3.2. Alur Pikir Penelitian
antara IUPHHK A2 dan IUPHHK B diberi simbol A2-B. Penelitian dilaksanakan selama enam (6) bulan, mulai dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2011.
Pengelolaan hutan lestari mampu mempertahankan kontinuitas produksi dan keseimbangan fungsi ekologis serta mampu membina hubungan sosial yang baik (Imai et al. 2009). Keutamaan hutan lestari dalam memperhatikan keseimbangan produksi, ekologis dan sosial (Bahruni 2011) memperoleh apresiasi pada COP XIII dengan memasukkan pengelolaan hutan lestari sebagai salah satu mekanisme reduksi emisi karbon dan memiliki peluang untuk memperoleh insentif finansial dari perdagangan karbon skema REDD+.
Menindak lanjuti peluang insentif yang ditawarkan dalam REDD+, perlu dipersiapkan data dan informasi yang menjadi unsur pokok dalam perdagangan karbon tersebut. Data karbon tersimpan dari pengelolaan hutan lestari merupakan informasi penting untuk dapat mengikuti REDD+. Selain data tentang simpanan karbon, kuantifikasi kehilangan keuntungan karena melakukan pengelolaan hutan alam produksi secara lestari juga perlu diketahui agar mempunyai gambaran besarnya biaya oportunitas. Sehubungan dengan insentif dari mekanisme REDD+ bagi pengelolaan hutan lestari, maka tambahan biaya transaksi untuk mengikuti REDD+ juga harus dipertimbangkan sehingga manfaat finansial dari mekanisme tersebut dapat diprediksi. Secara skematis, kerangka pikir penelitian tentang insentif finansial terhadap hutan alam produksi lestari dari perdagangan karbon skema REDD+ diringkas pada Gambar 2.
Sebelum Sertifikasi (A1) Setelah Sertifikasi (A2) Belum Sertifikasi (B)
Komparasi
Identifikasi Kegiatan Pengelolaan Hutan
IUPHHK A IUPHHK B
A2 >A1, B
A2 ≤ A1, B
A2 <A1,B A2 >A1, B
A2 ≤ A1, B
A2 >A1, B
A2 ≤ A1, B Produksi
IUPHHKA1, A2, B
Perlindungan Hutan IUPHHKA1, A2, B
Biaya produksi IUPHHKA1, A2, B Penanaman
IUPHHKA1, A2, B
Pendapatan IUPHHKA1, A2, B
Gambar 2 Diagram alir kerangka pikir penelitian
Kelayakan mengikuti REDD+
Upaya Perbaikan
Simpanan Karbon
Analisis Nilai Ekonomi Karbon
Analisis Ekonomi
Total Simpanan Karbon Simpanan Karbon Simpanan Karbon
A2 >A1, B
A2 ≤ A1, B A2 ≤ A1, B
3.3. Metode Penelitian
Data yang dikumpulkan meliputi data (1) Potensi tegakan (2) Pohon tersedia (3) Realisasi produksi (4) Penutupan lahan (5) Penanaman (6) Keuangan (7) Hasil penelitian yang relevan. Pengolahan data meliputi dua tahapan (1) Perhitungan simpanan biomassa, karbon dan karbondioksida (2) Perhitungan nilai ekonomi karbon.
3.3.1. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dibuat terdiri dari perhitungan biomassa, karbon, karbondioksida dan analisis ekonomi karbon. Fokus perhitungan simpanan biomassa, karbon dan karbondioksida berasal dari tiga kegiatan yaitu kegiatan produksi, kegiatan perlindungan hutan dan kegiatan penanaman.
Analisis ekonomi karbon diperoleh dari perbedaan keuntungan hutan bersertifikat dan hutan tidak bersertifikat (sebagai biaya oportunitas) dan biaya transaksi.
Tabel 4 memperlihatkan rancangan penelitian kegiatan produksi yang meliputi (1) kegiatan pemanenan (2) pengurangan kerusakan tegakan tinggal.
Tabel 5 Rancangan penelitian kegiatan produksi
No. Variabel Sumber Metode analisis Keluaran
1. Kegiatan pemanenan: Pohon tersedia dan pohon dipanen - Jumlah dan
volume pohon tersedia - Jumlah dan
volume pohon dipanen
LHC dan LHP Pengolahan data:
- Perhitungan biomassa (ton dan
%) pohon tersedia dan pohon dipanen
- Perhitungan beda biomassa (ton dan %) antara pohon tersedia dan pohon dipanen - Perbedaan biomassa tegakan
tinggal (A2 – A1, A2 – B)
- Simpanan biomassa A2-1 dan A2-B
2. Kerusakan Tegakan Tinggal - Jumlah, diameter
dan tinggi tingkat pohon, tiang, pancang
- Jumlah dan berat basah semai - Persentase
kerusakan tegakan tiap tingkat vegetasi
- Pengukuran lapangan - LHC - Hasil
penelitian Elias 2002
Pengolahan data:
- Perhitungan kerusakan pohon, tiang, pancang dan semai.
- Perhitungan biomassa yang hilang (tingkat pohon, tiang, pancang dan semai) akibat kerusakan
- Perbedaan biomassa yang hilang akibat kerusakan (A1– A2, B– A2)
- Simpanan biomassa kerusakan tegakan tinggal
3. Karbon dan karbondioksida pada kegiatan produksi Simpanan
biomassa kegiatan produksi
Pengolahan data:
- Karbon = B x 0,5 - CO2
Simpanan karbon pada A2-1 dan A2-B = C x 3,67
Kegiatan perlindungan hutan atau kegiatan yang berhubungan dengan upaya penurunan degradasi dilihat berdasarkan indikator penutupan hutan.
Rancangan penelitian kegiatan perlindungan hutan ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 6 Rancangan penelitian kegiatan perlindungan hutan
No. Variabel Sumber Metode analisis Keluaran
1. - Luas tutupan hutan - Potensi
tegakan
- Laporan tahunan perusahaan - Hasil pengukuran
lapangan
Pengolahan data:
- Menghitung potensi biomassa untuk setiap tutupan hutan
- Menghitung beda biomassa dari data perubahan tutupan hutan
- Perbedaan biomassa (A1– A2
- Simpanan biomassa kegiatan perlindungan hutan.
dan B - A2).
2. Simpanan biomassa perlindungan hutan
Pengolahan data - Karbon= B x 0,5 - CO2
Simpanan karbon kegiatan perlindungan hutan = C x 3,67
Simpanan biomassa atau karbon hutan alam produksi lestari pada kegiatan penanaman dilihat dari perbedaan jumlah penanaman yang dilakukan.
Rancangan penelitian kegiatan penanaman di ringkas pada Tabel 6.
Tabel 7 Rancangan penelitian kegiatan penanaman
No. Variabel data Sumber Data Metode analisis Keluaran 1. - Jumlah individu
- Luas penanaman - Jenis tanaman - Lokasi penanaman
- Laporan perusahaan - Hasil
pengukuran lapangan
Pengolahan Data:
- Perhitungan biomassa penanaman pada A1, A2 dan B
- Perbedaan biomassa penanaman (A1– A2
- Simpanan biomassa kegiatan penanaman.
dan B - A2) 2. Simpanan
biomassa penanaman
Pengolahan data - Karbon= B x 0,5 - CO2
Simpanan karbon kegiatan penanaman = C x 3,67
Total simpanan biomassa dan karbon diperoleh dari penjumlahan simpanan biomassa atau karbon pada kegiatan produksi, perlindungan hutan dan penanaman. Rancangan penelitian analisis ekonomi karbon untuk mengikuti perdagangan karbon skema REDD+ ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 8 Rancangan penelitian untuk analisis ekonomi karbon
No. Variabel Sumber Metode analisis Keluaran
1. - Biaya - Pendapatan - Keuntungan - Biaya transaksi - Harga karbon
- Laporan Keuangan - Hasil studi Antinori dan Sathaye 2007) - Hasil penelitian
Pirard (2005).
Pengolahan data:
- Perbedaan keuntungan (A1,- A2, dan B - A2,
- Perhitungan biaya transaksi
)
- Total Biaya= Biaya oportunitas + Biaya transaksi
- Perbedaan biaya REDD+
dan kompensasi harga karbon
- Biaya REDD+ < harga karbon
- Biaya REDD+ ≥ harga karbon: simulasi harga kayu bersertifikat dan harga karbon
- Beda keuntungan
= Biaya oportunitas - Biaya transaksi - Total biaya REDD+
- Manfaat Finansial mengikuti REDD+
- Harga kayu bersertifikat yang layak dan kompensasi karbon
3.3.2. Perhitungan Biomassa, Karbon dan Karbondioksida 3.3.2.1. Perhitungan biomassa
a. Perhitungan biomassa kegiatan produksi.
Simpanan biomassa kegiatan produksi diperoleh dari kegiatan pemanenan dan pengurangan kerusakan tegakan tinggal.
- Simpanan biomassa kegiatan pemanenan
Simpanan biomassa kegiatan pemanenan dilihat dari indikator pohon tersedia dan pohon dipanen. Perhitungan biomassa menggunakan persamaan Brown dan Lugo (1992):
B = V x WD x BEF Keterangan:
V : Volume kayu (m3 WD : Kerapatan kayu (kg/cm
)
3
BEF : Biomass Expansion Factor (1,74)
) menurut jenis kayu
Tahapan perhitungan simpanan biomassa kegiatan pemanenan adalah (1) Menghitung biomassa pohon dipanen dan biomassa pohon tersedia pada A1, A2 dan B (2) Menghitung persentase biomassa pohon dipanen terhadap biomassa pohon tersedia (3) Perhitungan beda biomassa (ton dan %) pohon tersedia dan pohon dipanen (4) perbedaan biomassa (A1 - A2, B – A2). Simpanan biomassa hutan lestari diperoleh
dari perbedaan biomassa antara hutan yang dikelola tidak atau belum lestari dengan hutan yang dikelola secara lestari.
- Kerusakan tegakan tinggal
Perhitungan kerusakan tegakan tinggal menggunakan data potensi tegakan hasil pengukuran lapangan dan persentase kerusakan tegakan tinggal hasil studi Elias (2002). Metode yang digunakan dalam membuat plot pengukuran adalah metode nested sampling. Plot pengukuran dibuat 6 petak ukur yang didalam petak ukur tersebut dibuat sub petak ukur. Vegetasi yang diamati meliputi tingkat pohon, tiang, pancang dan semai. Plot ukur 20 m x 20 m digunakan untuk pengukuran diameter, tinggi dan jenis pohon. Selanjutnya dalam plot ukur 20 x 20 m tersebut, dibuat sub petak ukur ukuran 10 m x 10 m untuk pengukuran diameter, tinggi dan jenis tiang, 5 x 5 m untuk pengukuran diameter, tinggi dan jenis pancang dan 2 x 2 m untuk pengukuran jumlah dan jenis semai.
Perhitungan biomassa semai menggunakan metode secara langsung (destruktif). Bobot kering biomassa semai dihitung berdasarkan rumus:
Wk = Fk x Wb Fk = BKcontoh
BB
x 100%
Keterangan:
contoh
Wk = bobot kering biomassa (kg) Wb = bobot basah biomassa (kg)
Fk = faktor konversi bobot basah ke bobot kering (gr) BKcontoh
BB
= Berat kering contoh (gr)
contoh
Perhitungan biomassa yang hilang akibat kerusakan tegakan tinggal menggunakan persentase kerusakan tegakan tinggal pada pemanenan dengan metode konvensional dan RIL. IUPHHK yang tidak bersertifikat lestari (IUPHHK A1 dan IUPHHK B) merupakan IUPHHK yang melakukan pemanenan dengan metode konvensional dan IUPHHK bersertifikat lestari merupakan IUPHHK yang melakukan pemanenan dengan metode RIL.
= Berat basah contoh (gr)
Tabel 9 Persentase kerusakan tegakan tinggal
Tingkat perkembangan vegetasi Metode Pemanenan Kayu
(%) Konvensional RIL
- Anakan - Pancang
- Tiang dan pohon
33,47 34,93 40,42
17,65 19,59 19,08
Sumber: Elias, 2002
Biomassa yang hilang akibat kerusakan tegakan tinggal diperoleh dari perkalian persentase kerusakan tegakan tinggal dengan potensi biomassa pada IUPHHK A1, A2 dan B. Hasil perbedaan biomassa yang hilang setiap tingkatan vegetasi (A1 – A2 dan B – A2) merupakan simpanan biomassa dari pengurangan kerusakan tegakan tinggal.
- Total simpanan biomassa dari kegiatan produksi diperoleh dari simpanan biomassa kegiatan pemanenan dan simpanan biomassa dari pengurangan kerusakan tegakan tinggal.
b. Kegiatan perlindungan hutan
Data yang digunakan untuk perhitungan simpanan biomassa kegiatan perlindungan hutan adalah luas tutupan lahan IUPHHK A1, IUPHHK A2 dan IUPHHK B pada beberapa tahun yang berbeda. Berdasarkan data penutupan lahan dan potensi biomassa tiap tutupan lahan dihitung (1) biomassa tiap tutupan lahan pada tahun yang berbeda (2) penurunan biomassa tiap tahun (3) perbedaan penurunan biomassa (A1 – A2 dan B – A2). Perbedaan penurunan biomassa hutan alam produksi lestari dan hutan alam produksi tidak lestari merupakan simpanan biomassa kegiatan perlindungan hutan.
c. Simpanan biomassa pada kegiatan penanaman diperoleh dari perhitungan beda biomassa penanaman A2-1 dan A2-B. Perhitungan biomassa pada kegiatan penanaman menggunakan pendekatan rata-rata biomassa dari hasil pengukuran di lapangan.
3.3.2.2. Perhitungan simpanan karbon dan karbondioksida
Estimasi jumlah C tersimpan pda kegiatan produksi, perlindungan hutan dan penanaman dapat dihitung dengan mengalikan total berat massanya dengan konsentrasi C (Brown 1997).
C = Biomassa x 0,5 CO2 = C x 3,67
3.3.3. Perhitungan Nilai Ekonomi Karbon
Biaya yang harus ditanggung untuk mengikuti REDD+ adalah biaya oportunitas dan biaya transaksi. Tahapan perhitungan nilai ekonomi karbon yang dilakukan sebagai berikut:
3.3.3.1. Perhitungan Keuntungan Pengelolaan Hutan
Keuntungan yang diperoleh pengelola hutan alam produksi A1, A2 dan B merupakan selisih antara pendapatan dan biaya pengelolaan hutan. Secara matematis perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari hutan A1, A2
3.3.3.2. Biaya Oportunitas dan Biaya Transaksi dalam Perdagangan Karbon Skema REDD+
dan B sebagai berikut:
Biaya yang dikorbankan untuk mengikuti REDD+ terdiri atas biaya oportunitas dan biaya transaksi. Biaya oportunitas dihitung berdasarkan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan karena melakukan pengelolaan hutan lestari.
Biaya Oportunitas = Keuntungan A2
Pendekatan yang digunakan untuk perhitungan besarnya biaya transaksi adalah berdasarkan besarnya transaksi CO
– Keuntungan A1 atau B
2 yang dilakukan yaitu $0,03 dan
$1,23 serta rata-ratanya sebesar $ 0,63 per ton CO2
Total Biaya REDD+ = Biaya oportunitas + Biaya transaksi
(Antinori dan Sathaye 2007). Total biaya mengikuti REDD+ adalah penjumlahan dari biaya oportunitas dan biaya transaksi.
3.3.3.3. Manfaat finansial pengelolaan hutan alam produksi lestari dari REDD+
Manfaat finansial mengikuti REDD+ diperoleh dengan membandingkan total biaya dalam mekanisme REDD+ dengan kompensasi harga CO2. Dalam penelitian ini, pendekatan harga karbon berdasarkan harga hipotetik menurut Pirard (2005) yaitu US$ 6, US$ 9 dan US$ 12/tCO2. Kemungkinan hasil yang diperoleh:
Biaya total < harga karbon maka diperoleh insentif berupa manfaat finansial pengelolaan hutan lestari yang mengikuti REDD+.
Biaya total ≥ harga karbon maka manfaat finansial dari skema REDD+ belum dapat diperoleh pengelola hutan alam produksi lestari.
3.3.4. Perhitungan harga kayu bersertifikat dan kompensasi harga karbon Jika biaya yang dikorbankan untuk mengikuti REDD+ lebih besar atau sama dengan harga karbon berarti hutan alam produksi lestari belum memperoleh tambahan insentif dari skema REDD+. Berdasarkan hal tersebut, strategi yang dapat dilakukan agar pengelola hutan lestari dapat memperoleh tambahan insentif antara lain (1) meningkatkan harga jual kayu bersertifikat (2) meningkatkan standar harga CO2. Penentuan harga yang layak untuk kayu bersertifikat dan kompensasi karbon menggunakan teknik simulasi.